New Savior : Rise Of Hell Boy

.

Title : Naruto : New Savior : Rise Of Hell Boy

Genre: Adventure,

Disclaimer: Our Highness, Mr. Masashi Kishimoto

Rating : M

Pair : Naruto x ?

Warning : Kurang nyambung, OC, OOC, Typo(pasti), ect.

.

Back to Home and Reaction

.

Konohagakure No Sato

Pagi hari yang indah di Konohagakure No sato. Desa terkuat dari lima desa lainnya. Terliahat penjaga gerbang immortal Kotsetsu dan Izumo tengah menikmati hari mereka, bermalas-malasan di pos penjagaan Gerbang utama. Kedua Chunin abadi ini memilih untuk mengabdikan diri mereka menjadi penjaga Gerbang dibandingkan misi yang akan membahayakan nyawa mereka.

"Guaahhhhhhh….. padahal semalam tidurku cukup panjang, tapi kenapa aku masih merasa mengantuk" gumam Izumo, membuka mulutnya lebar, menguap di pagi Hari.

Disisi lain, rekannya terlihat kurang fit, menempelkan dagunya keatas meja "Aku bahkan hampir tidak bisa tidur setelah bermain kartu bersama Chunin lainnya semalaman. Kupikir tidak akan ada hal besar yang terjadi hari ini dan kita bisa bersantai sejanak" komen rekan abadinya Kotsetsu.

"Jadi apa yang mereka bicarakan semalam apa masih tentang Naruto yang mengalahkan Orochimaru? " Tanya Izumo penasaran, meski dengan nada malasnya.

"Aku juga masih kurang mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku datang terlambat semalam. Mereka membicarakan seseorang bernama King yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir" jawab Kotsetsu. Selalu ada pertemuan para Chunin, seperti Chunin longuage

"king? Nama jenis apa itu? Aku bahkan belum pernah mendengar kata seperti itu sebelumnya" gumam Izumo, mencoba memikirkan arti nama baru yang muncul di dunia Shinobi ini.

Ekspresi kotsetesu tidak banyak berubah, malah semakin malas "si King ini menurut kabar, mengambil dua desa sekaligus, Oto dan Kusa setelah Orochimaru mengabaikannya. Kabarnya juga ia melindungi desa itu dan mengatas namakan dirinya sebagai pemimpin tertiggi di atas Kage" jelasnya secara singkat. Paling tidak semalam ia mengikuti percakapan para Chunin, atau lebih tepatnya gosip para Chunin.

"Bisa di bilang seperti Daimyo…" komen Izumo, menatap rekannya penasaran

Chunin lain mengangguk pelan, "Mungkin seperti itu… aku juga belum mengerti betul apa topic pembicaraan mereka. Meskipun begitu itu kabar tentang 'King' masih kabar burung yang beredar. Mungkin saja itu permainan Orochimaru, untuk memunculkan pihak baru" ungkap Analitis Kotsetsu.

"yah.. mungkin saja…" jawab Izumo. Mata hitamnya kemudian tertuju ke seorang yang melangkah mendekati Konoha dari kejauhan. Seorang dengan jubah melambai-lambai dimainkan semilirnya hempasan angin kala itu . "Hoi Kotsetsu.. sebaiknya kau bersiap, ada yang datang mendekat" ia bahkan tidak menatap rekannya itu, semakin fokus pada temuannya.

Kotsetsu yang kebetulan membelakangi, membalikan wajahnya, menatap ke maksud rekannya. Jaraknya masih sekitar 100 meter dan memang masih belum tampak dengan jelas. "sepertinya perkiraanku salah… aku khawatir kalau yang datang adalah musuh…" gumam Izumo serius.

Beberapa saat kemudian.

Sosok berjubah hitam, mengenakan penutup kepala, menyembunyikan wajahnya kini semakin mendekat. Ia melangkah memasuki desa, melewati gerbang utama yang terbuka lebar. Ia terus melangkah dengan tenangnya, seolah menganggap kedua penjaga gerbang itu hanyalah sebuah pajangan tak memiliki nyawa.

"Berhenti di sana… katakan maksud dan tujuanmu ke Konoha" ungkap Izumo yang sudah berada di samping sosok itu, menghentikan langkah si misterius.

"Pulang… " jawab sosok itu sangat singkat dan begitu sulit untuk dimengerti. Apa itu perintah atau jawaban? Atau malah pertanyaan.

"Eh.. apa maksudmu pulang?" Tanya Kotsetsu berada di sisi lain sosok itu, waspada jika hal buruk terjadi. Ia juga berpindah menggunakan cara sama seperti rekannya, via Shunshin.

"Apa kalian tidak mendengar perkataanku? Aku menjawab pertanyaan kalian dan kalian mengabaikanku" jawab berbelit sosok itu.

"Sebaiknya kau menjawabnya dengan serius, atau kau akan menyesal.." ancam Izumo. Keterampilan dalam menekan suara harus dimiliki penjaga ini. Paling tidak untuk menegaskan posisi mereka sebagai koordinator siapa saja yang masuk keluar desa.

Tangan Sosok itu bergerak, kedua penjaga gerbang, bergerak bersamaan, mengambil kunai dan melompat ke hadapan sosok itu, bersiap untuk melakukan serangan. Sosok itu hanya membuka jubah penutup kepalanya, membiarkan wajahnya di lihat oleh kedua penjaga. Alhsil, kedua penjaga immortal itu hanya bisa melebarkan kedua mata mereka, mengenali sosokl di hadapan mereka. Rambut merah dengan sepasang mata Sharingan berkibar menghiasi bola mata.

.

"Aku bersyukur kalau kita tidak jadi menyerangnya" gumam Izumo, mendapatkan respon anggukan dari rekannya. Mereka berdua berdua berdiri, membelakangi gerbang, menatap ke sosok yang tadi mereka tahan, melangkah menuju desa.

"Aku akan melaporkan hal ini ke Yondaime-sama. Beliau pasti akan senang menerima berita yang telah lama ia nantikan ini" ucap Kotsetsu, sambil melompat menuju kantor Hokage.

"Paling tidak aku memiliki bahan pembicaraan hebat Nanti malam" gumam Izumo bahagia, menemukan gossip baru.

.

.

.

"HAHAHA…. KEJAR AKU MENMA.. AKU YAKIN KALAU KAU TIDAK AKAN BISA MENYUSULKU, MESKI KAU MELAKUKAN LATIHAN BERSAMA SEORANG SANNIN" suara seorang remaja yang menungangi seekor Anjing putih besar terdengar di jalanan Konoha saat itu. Mereka terlihat sangat bahagia, seperti bermain kejar-kejaran. Ia baru saja menjaili Hinata dan Menma yang tengah asik bermesraan.

"JANGAN KABUR KAU KIBA…. AKU AKAN MENGULITIMU HIDUP-HIDUP" teriak Menma keras berlari mengejar Inuzuka bersama anjingnya. Menma tumbuh sempurna dengan penampilan mini Yondaime. Ia mengenakan jaket Chunin dengan lengan panjang seperti ayahnya. Rambutnya juga mirip, bisa di bilang bagaikan pinang di belah dua, jika saja wajahnya tidak sesdikit bulat. Di belakang ada Hinata dengan pakaian lavendernya, berlari pelan menyusul kedua rekannya.

"Menma-kun.. Kiba-kun hanya bercanda… jangan marah padanya" ucapnya lembut sambil berlari.

Di tengah pempatan, Kiba tidak sengaja berpapasan dengan seorang gadis berpakaian warna merah, berambut pink yang tengah membawa plastic penuh di keuda tangannya dari arah berbeda. Keduanya tertutup pagar pembatas jalan, sehingga tidak saling melihat satu sama lainnya. Hasilnya, ketika keduanya saling berbelok,….

"GAAAAHHHHHHHH" Teriak sakura terkejut, tidak menyangka Kiba akan muncul secara tiba-tiba. Ia mengangkat kedua lengannya merespon kejadian itu, melemparkan kedua plastic di kedua tangannya, sehingga semua isinya berserkan. Sedangkan kiba dengan mata melebar, melompat bersama anjingya kearah lainnya, dan mendarat pada sebatang pohon.

"KIBA….. KAU AKAN MATI…" teriak sakura dengan suara Horor bak Shinigami yang akan melahap jiwa seorang pendosa. Tampang dan ekspresi mengerikan raut wajahnya juga ikut mendukung, menambah suasana menjadi semakin Horor. Ia melangah Horor mendekati Kiba dan Akamar yang tergeletak mengerikan di atas tanah.

"oh… tidak…" gumam Kiba ketakutan melihat perwujudan Shinigami di depadannya, semakin mendekatinya.

Bruk.. brak… brokk..brek….

"Itulah yang terjadi jika kau menghalangi jalanku" ucap Sakura lega, mengipas-ngipas kedua telapak tangannya membersihkannya dari pebuatan yang baru saja ia lakukan.

"GAHAHAHAHAHAHHA….. KAU MENDAPATKAN BALASAN YANG SETIMPA DENGAN PERBUATANMU, KIBA…. TERIMA ITU…" tawa Menma mengejek, melihat tampang babak belur Kiba bersama Akamaru tergeletak di atas tanah.

"Jangan bilang kalau kau juga terlibat dalam kejadian ini, Menma... Chan.." Ucap Sakura Horor, memukulkan kepalang tangannya ke telapak tangannya sendiri, sambil menatap si Namikaze.

Tawa Menma saat itu juga langsung menghilang di gantikan tampang Horor, ketakutan melihat rekannya itu. "Te-tentu saja ti-tidak Sakura-chan... Eto.. Aku dan Hinata-chan tadi um..." Gumamnya mencoba mencari alasan.

"HAI SAKURA... KAU JANGAN BERANI-BERANI MENYENTUH MENMA KUN ATAU KAU AKAN MENYESAL.." Teriak seorang Konoichi berambut blonde dari kejauhan, arah belakang Sakura.

"Oh man.. Kenapa wanita selalu saja berisik "gumam Malas seorang remaja seumuran mereka berambut model nanas, melangkah santai sambil memasukkan kedua tangannya di dalam sakunya.

"Apa kau mengatakan sesuatu, anak Mami.." Komen dingin wanita blonde lainnya di samping kiri sosok itu, sedang ino di samping kanannya.

"Hum.. Merepotkan..." Gumam Si pemilik rambut nanas.

"Apa tidak ada kata lain selain Merepotkan... " Gumam kembali si blonde kuncir empat, dengan kipas panjang tergulung di belakangnya.

"Kau bisa menggunakan kata barbekyu atau sosis dan semacamnya..itu akan lebih indah" tambah remaja berbadan besar di samping Ino. Si rambut blonde panjang Yamanaka hanya bisa menghela napas melihat kelakuan timnya.

'Oh ino.. Jika aku menjadi dirimu, aku sudah lama akan bunuh diri melihat rekan seperti mereka' pikir blonde lainnya meratapi nasib Ino.

"Oh.. Hey Ino Pig.. Apa kalian baru saja menyelesaikan misi?" Tanya Sakura ramah. Hubungannya dan Ino, disamping menjadi Rival, mereka juga adalah sahabat dekat.

Ino berhenti melangkah bersama dengan timnya dan seorang Wanita blonde kuncir empat. "Hey.. Sepertinya aku pernah melihatmu, tapi dimana yah.." Komen Menma menunjuk blonde kuncir empat itu.

"Apa kau melupakannya juga Menma-San? Aku tidak heran karena ada juga yang mengalami nasib sepertiku." Suara baru, seorang remaja terdengar saat itu. Ia membantu kiba Berdiri, bersama Hinata rekan timnya, lalu melangkah ke kerumunan rekannya.

"HEY.. AKU TIDAK MENGENALIMU SAAT ITU KARENA KAU TERLIHAT SANGAT ANEH, SHINO.. PERUBAHANMU TERLALU BANYAK" teriak Menma protes. Pada saat pertama kali ia kembali, Shino adalah orang yang tidak ia kenali, dibandingkan dengan para Roki lainnya.

"Yeah.. Yeah.. Aku tau kalau itu cuma alasan saja" tambah Kiba memanas-manasi Menma.

"HEY.. KAU JANGAN MEMOMPA KEADAAN KIBA..." Ungkap Menma kesal mengarahkan telunjuknya ke Kiba yang hanya menyeringai bahagia, melihat aksinya berhasil.

"Kalian memiliki hubungan pertemanan yang aneh.." Gumam Si blonde kuncir empat, sedikit berbisik ke Shikamaru.

"Yeah... Pertemanan yang sangat merepotkan.. Tapi aku senang memiliki mereka" jawab si Nara itu tersenyum melihat Kiba dan Menma yang kini saking berhadapan satu sama lainnya untuk bertarung mulut.

Plank... Plank...

"Bisakah kalian berdua diam..." Ungkap sakura kesal, setelah menghadiahi keduanya sebuah jitakan di kepala keduanya. Al hasil, sebuah benjolan muncul di atas kepala kedua Chunin itu.

"Menma-kun.. Kiba-kun.. Apa kalian tidak apa-apa?" Komen Hinata khawatir.

"HEY.. SUDAH KUBILANG KAU JANGAN MEMUKUL MENMA-KUN FOREHAED..." Teriak Ino kesal. Sakura ingin membalas teriakan itu, tapi sebelumnya ia berhenti karena mendengar langkah sepatu mendekati mereka.

'Perasaan ini... ' Pikirnya.

DEG

'Chakra ini... ' Suara monster terdengar dari dalam tubuh Menma. 'Begitu yah.. Jadi kau memutuskan untuk kembali ke desa ini.. Gaki..' sepasang mata merah membuka, disertai sedikit seringain evil khas monster ini.

Sakura membalikkan wajahnya ke belakang, menatap ke sosok yang tengah melangkah mendekati mereka sosok yang sama, yang berhasil mengejutkan Izumo dan Kotsetsu di gerbang tadi, seorang dengan jubah hitam. Perbedaannya adalah, ia kini membuka penutup kepalanya, membiarkan rambut merahnya terlihat jelas. Ke 8 roki menyipitkan kedua mata mereka, penasaran tentang sosok itu.

'Siapa dia? Kenapa aku merasa kalau aku pernah melihatnya?' Pikir Menma.

'Baunya tidak kukenali, tapi sepertinya aku mengenalinya' pikir Kiba, memegangi dagunya, memasang pose berpikir sekeras yang ia bisa lakukan untuk mengingat siapa sosok ini.

'Dia bukan orang biasa... Seranggaku takut mendekatinya' Pikir Shino. Paling tidak dia sedikit realistis

Disisi lain, sang putri Hyūga melebarkan kedua matanya, sangat terkejut. 'Di-dia... Ke-kembali...' Pikir Hinata yang langsung memerah, menunduk dan memainkan kedua jari telunjuknya, di depan dadanya.

'Siapapun dia, dia memiliki gaya rambut yang kerena.. Wajahnya juga... KYAA... KUMIS KUCINGNYA MEMBUATNYA SEMAKIN SEK.- tunggu dulu.. Kumis kucing?' Pikir Ino menyadari sesuatu pada wajah remaja seumuran mereka yang melangkah terus, mengabaikan mereka seperti patung.

"Akhirnya kau kembali juga setelah menghilang begitu lama.." Shikamaru membuka suara, menghentikan langkah sosok yang kini membelakangi mereka sekitar dua meter.

"Selalu Jenius seperti biasanya, Nara..." Komen sosok itu berhenti melangkah diantara para generasi muda Konoha ini.

"Shikamaru.. Apa maksudmu akhirnya kembali juga? Siapa dia?" Tanya Kiba penasaran, masih belum tau siapa sosok ini.

Shikamaru diam sejenak, menatap serius punggung orang itu. "Dia adalah orang yang menghilang ketika kita membutuhkannya tiga tahun yang lalu, ketika misi mencari Sasuke... " Semua mata para Roki melebar,sedangkan sosok itu menggerakkan bola mata kanannya ke samping bagian pojok kanan. "Uzumaki.. Uchiha... Naruto.."Lanjut Shikamaru mengungkap identitas Naruto.

Ekspresi yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, si keluarkan oleh para roki. Menma menundukkan wajahnya sambil menggenggam erat kepalang tangannya kesal. Begitu juga Kiba yang menggeram, merapatkan gigi atas dan bawahnya. Para Roki mengecam Naruto yang telah menjadi kegagalan mereka saat misi itu, karena ia menghilang dan tidak membantu mereka. Jika saja ia ikut waktu itu, maka Sasuke tidak akan lolos, mengingat kemampuannya.

Shikamaru langsung mengenali Naruto karena memang beberapa bulan yang lalu ia bertemu dengannya. Ia masih mengingat kejadian itu karena itu adalah misi pertamanya sebagai seorang ketua kelompok dan merupakan kegagalan terbesarnya, sehingga menyebabkan semua anggotanya terluka parah. Jika saja tanpa bantuan ninja Suna, mereka tidak akan ada sekarang ini.

'Dia... Naruto Uzumaki...? Dia terlihat sangat berbeda' pikir sang Konouchi dari suna, berkepang empat. Ia terus mengamati Naruto, entah apa ada sesuatu didalam pikirannya atau tidak.

"Kenapa? kau menyalahkanku karena ketidak becusanmu sendiri menjadi pemimpin, Nara?" komen Naruto, berbalik dan menatap datar si rambut nanas itu.

"Kenapa kau kembali? Tidak ada yang menginginkanmu atau membutuhkanmu di desa ini..." Komen Shikamaru kesal, terpancing emosi. Tidak seperti biasanya ia bersikap dingin seperti itu.

Naruto hanya tertawa tipis, mengejek si Nara dengan tawa itu. "Aku tidak melihat adanya larangan bagiku memasuki desa ini. Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Kenapa kau menyalahkan orang lain sementara itu adalah kesalahanmu?" Tanya balik Naruto, datar. Tatapan datar dan tawa mengejek semakin menambah suasan panas diantara keduanya.

"KARENA KAU YANG BERSALAH... " Teriak Kiba sudah sangat kesal langsung melompat menggunakan cakarnya menyerang Naruto. Ia masih mengingat betul bagaimana sadisnya luka yang di alami Akamaru saat itu, luka yang hampir membunuhnya.

Cukup cepat pergerakan Kiba sampai tidak bisa di cegat oleh Menma. Naruto hanya menggerakan tubuhnya ke bagian kiri dengan mudahnya, membiarkan serangan itu melewatinya, lalu mengankat lutut kanannya, di tempelkan di perut si Inuzuka.

"UHUKK... " Rintih Kiba kesakitan merasakan sesuatu yang luar biasa perih di perutnya.

"KIBA..." Teriak Menma, melompat menolong temannya. Naruto menurunkan lututnya, membiarkan kiba berdiri membungkukkan badannya memegangi perutnya yang kesakitan, dengan kedua bola mata melebar. Menma muncul dibelakangnya menopang tubuh temannya itu.

"KENAPA KAU MENYERANG KIBA BANGSAT... " Teriaknya kesal.

"Apa kau buta... Sudah jelas-jelas dia yang melompat ke arahku dan menyerangku. Aku hanya melakukan tindakan pertahanan diri saja" jawab Naruto datar. Tidak ada rasa bersalah didalam dirinya

'Gerakannya sangat akurat. Caranya menghindar tadi bukanlah cara yang bisa dilakukan oleh Ninja biasa.' Pikir si Konoichi dari Suna. 'Tidak salah jika Gaara percaya kalau ia benar-benar bisa mengalahkan Orochimaru' lanjutnya.

"Tapi tidak perlu kau memukulnya sekeras itu." Ungkap Shikamaru kesal. Sakura melangkah ke arah Kiba, melakunan Ninjutsu medic pada rekannya itu.

"Itu adalah murni kesalahannya. Dia menyerang orang yang salah tanpa berpikir panjang siapa yang ia lawan. Kepercayaan dirinya terlalu tinggi untuk yakin kalau ia bisa mengalahkanku. Sangat bodoh tidak mengetahui informasi tentang musuh sebelum menyerangnya. Kupikir kau mengerti apa maksudku, Shikamaru Nara. Kesalahan yang sama sepertimu dengan terlalu percaya diri kalau mampu melakukan misi yang memang tidak untuk sekumpulan Genin" jelas Naruto datar.

Shikamaru tidak bisa menjawab apa-apa keculi mengeratkan kepalang tangannya. Ia tau kalau kemampuannya tidak akan bisa menyamai Naruto yang bahkan sudah memukul mundur Orochimaru. Levelnya belum bisa sejauh itu, dan juga tidak wajar menyerang Ninja dengan asal yang sama.

"Hello, Hinata-Sama... Dari semua orang yang ada di sini, anda adalah satu-satunya yang tidak geram padaku. Aku bersyukur kalau masih ada yang mengerti posisiku" sapa Naruto, di akhiri sebuah senyuman. Hinata luar biasa kemarahan, menerima sapaan menakjubkan itu.

"Bu-bukan begitu.. Na-Naruto..Ku- san." Ucap Hinata gagap mengoreksi perkataannya. Ketika mendapatkan sorotan dari rekan-rekannya, terutama dari Menma.

"Meski seperti itu, aku tetap merasa senang masih ada yang menggunakan kepala dingin di sini" ucap Naruto. Ia kemudian menatap Si ninja Suna. "Namamu Temari no Sabaku bukan? Kakak Gaara"

'Di-dia mengenaliku?' Pikir Temari canggung. Lalu ia menjawab dengan anggukkan pelan

"Katakan kalau aku mengatakan hallo ke Gaara. Aku akan segera menemuinya nanti, menyelesaikan janji yang telah kami sepakati bersama" ucapnya. Ia kemudian kembali menatap Hinata, lalu membungkukkan wajahnya. "Aku hampir saja melupakannya. Sasuke mengucapakan Hau untuk kalian para Roki... " dan dengan itu menghilang dengan kilatan api, meninggalkan rasa terkejut dari semua Roki.

'Janji bersama...' Pikir Temari penasaran.

'Sasuke... Apa ia bertemu Sasuke?' Pikir semuanya serentak, terkejut akan pernyataan terakhir Naruto sebelum menghilang Via Shunshinnya.

.

.

.

"Home sweet Home" Gumam Naruto yang kini melangkah masuk ke dalam rumah yang telah ia tinggalkan selama kurang lebih 3 tahun terakhir. Ia membuat beberapa bunshin yang langsung bergegas membersihkan seluruh bagian ruangan, terlihat sedikit kotor memang kediamannya itu. Perlahan ia melangkah ke ruang tengah, mebuka jubbah hitamnya, shingga yang terlihat hanyalah celana panjangnya seperti biasa dan kaos dalam Shinobi berbentuk jaring berwarna hitam.

Ia memasukkan lengan kanannya ke dalam saku celana Shinobinya, mengambil sebuh gulungan kecil berwarna putuih. Ia membuka gulungan itu, terlihat beberapa ukiran kanji membentuk lingkaran dengan sebuah kata di dalam lingkaran itu bertuliskan 'fuin'. Setelah itu, gumpalan asap cukkup besar muncul dari gulungan itu. Terllihatlah sebuah gulungan besar muncul.

"Inilah kenapa aku sangat menyukai fuinjutsu. Membawa banyak barang sangat praktis" gumamnya tersenyum. Gulungan itu adalah harta karunnya yang ia dapatkan dari hasil latihannya dan kunjungannya ke Uzushio. Ia pun melanjutkan aktivitasnya, melangkah ke arah tempat tidurnya.

"Man….. aku sangat merindukan ruanganku ini" gumamnya setelah memasuki ruangannya. Ia langsung merbahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya. Ia menyampingkan wajanya, menatap ke sebuah bingkai Foto yang tertutup di sampingnya. ia menggerakkan tangannya meraih bingkai itu, membalikknya. Terlihatlah Foto Uzumaki Kushina yang tersenyum dengan posisi jari peace. Disana Kushina mengenakan celemek, dengan perutnya yang tengah hamil.

"Kuharap Kaa-chan bisa berada di sini saat ini" gumammnya. Ia kemudian memeluk foto itu, lalu memejamkan kedua matanya. Ia cukup lelah untuk melakukan kegiatan lainnya saat ini. Meskipun ada jutaan jadwal yang telah di rangkum di memorinya untuk ia lakukan, tapi menikmati waktu santai seperti sekarang ini adalah prioritas utamanya.

.

.

.

Kantor Hokage.

Minato tengah asik bersama paperwork, musuh besar seorang Kage sejak zaman Hashirama sapai kini dia menjadi Yondaime. Pekeerjaan yang terus saja meningkat setiap harinya, dan tidak pernah menipis. Yah memang duduk di balik meja, mengawasi sebuah desa bukanlah hal mudah yang bisa di lakukan oleh semua orang.

"Maaf mengganggu waktu anda, Minato-sama" Ucap Kotsetsu langsung berutut di depan meja kerja Minato. Ia muncul menggunakan via Shunhin, terlihat memang agak terburu-buru.

"Ada apa Kotsetsu ?" Tanya Minato serius. Ia tau kalau seseorang yang tidak menggunakan pintu masuk saat ingin melaporkan sesuatu, pastilah sangat pening.

"Ini tentang Naruto Uzumaki, Yondaime-sama". Saat itu Minato menghentikan pekerjaannya seketika, lalu menatap serius penjaga Gerbang konoha itu.

"Jadi dia sudah kembali?"Tanya si Yondaime, menebak apa yang akan di laporkan oleh penjaga gerbangnya.

"Hai…. Dia baru saja memasuki desa. " jawab Kotsetsu membenarkan pernyataan Minato.

'skarang tinggal menunggu saatnya saja, ia akan melapor padaku.' Pikir Minato. "Kau bisa kembali sekarang Kotsetsu.. " lanjutnya. Sang Chunin mengangguk, kemudian langsung menghilang mengunakan shunshinnya.

Minato diam sejenak, memikirkan langkah apa yang akan ia lakukan berikutnya untuk menghadapi masalah yang satu ini. Ia harus mempersiapan segala sesuatunya untuk menghadapi berbagai macam komentar dari para anggota council, merngingat keputusan tenang Naruto akan di putuskan nanti. Ia hanya berharap agar ia mampu menyelesaikan semunya sebelum para council mengetahuinya.

Sementara di balik bayangan, seorang Anbu berambut panjang, dengan topeng Neko (kucing) sedikit gundah gulana mendengarkan kabar itu. 'Dia sudah kembali…. Dia sudah kembali… dia benar- benar sudah kembali. Apa yang harus kulakukan sekarang?' pikirnya bingung akan perasaannya.

.

.

.

Sementara itu di tempat lainnnya, di sebuah markas bawah tanah masih sekiran wilayah Konoha, terlihat seorang Anbu muncul di bailik bayangan, melpor pada seorng yang duduk di kursi megah ruangan itu bak seorang raja yang di muliakan. Anbu itu langsung berlutut di hadapannya.

"lapor Danzo-Sama" ungkap Anbu itu.

"Ada apa, Kinoe?" Tanya Danzo datar seperti biasanya.

"Uzumuaki Naruto telah kembali ke desa beberapa saat yang lalu" mata Danzo sedikit menyiit menedengarkan laporan Anbu terseut.

"Begitu yah…. Jadi dimana dia sekarang?" Tanya Danzo

"Dia kembali ke kediaman lamanya di tempat Uzumaki." Jawab Anbu itu singkat.

"Tetap awasi dia, dan jika ada kemungkinan untuk menyelinap masuk, maka segera lakukan" perintah Danzo.

"hai… " jawab si Anbu lalu menghilang menggunakan Shunshin-nya.

'Akhirnya aku bisa membuat sesuatu yang akan membuatmu merasa seperti sampah Minato. Sejak awal kau tidaklah pantas menjadi seorang Hokage. Aku adalah satu-satunya yang bisa menjabat sebagai pemimpin desa ini' piker Danzo sambil menyeringai. 'tapi sepertinya aku harus melakukan sesuatu tentang rumah Uzumaki itu. Satu-satunya yang tidak dapat ku sentuh di Konoha hanyalah tempat itu' lanjutnya serius.

Sudah sejak lalma Danzo ingin memngambil alih tempat itu, dan di manfaatkan untuk Konoha seperti yang selalu ia ikrarkan. Semua council mendukung akan hal itu, mengingat Danzo adalah orang yang paling berbakat dalam memanfaatkan sesuatu. Ia mengincar gulungan fuinjutsu yang ada dalam bangunan itu, bangunan turun temurun dari Uzumaki Mito yang mengerikan karena Fuinjutsunya.

Namun hal itu tidak bisa ia dapatkan sesuai perkiraannya. Tempat itu memiliki perlingungan ototmatis yang tidak bisa di anggap sebagai perlindungan biasa. Ia telah mencoba berbagai hal untuk menghancurkan atau membuka kunci untuk mengaskes ruangan itu, namun tidak ada satu cara yang berhasil. Kini Naruto dengan seenak hatinya masuk dan keluar tempat itu, tentu membuatnya tidak suka. Apalagi Naruto adalah pemilik yang sah dari tempat itu, membuatnya semakin berat.

.

.

.

Pagi Hari pun menjelang. Malam berganti pagi, sang mentari telah muncul menggantikan bulan dan bintang. Matahari pagi menyorot langsung ke wajah para kage yang megah berada di bukit tinggi belakang Konoha. Bebarapa burung beterbangan menghiasi langit cerah pagi itu. Warga juga mulai bergerak meninggalkan ranjang mereka memulai aktivitas mereka seperti biasanya.

Sepasang mata Saringan membuka, mata yang langsung menatap lurus ke arah hamparan hutan luas Negara api. Hamparan hutan seolah tak berujung, membentang bagai samudra luas, berwarna hijau. 'sudah lama aku tidak menikmati pemandangan seperti ini, Tebayou…' pikir Naruto. Ia kini duduk bersila di atas lambang Naga atap rumahnya, baru saja selesai melakukan meditasinya.

'Mereka benar-benar tidak pernah meninggalkan tempat itu semalaman. Apa mereka tidak memiliki rasa bosan mengawasiku setelah sekian lama?' lanjutnya menatap kearah yang lainnya. Di luar gerbang, tepatnya pada dahan pohon, terlihat dua Anbu Ne tengah berdiri mengawasi gerbang yang belum juga terbuka.

'Cukup bodoh jika mereka berpikir kalau aku tidak mengetahuinya, dan menganggap mereka bisa mengikutiku, tebayou' pikirnya sambil menyeringai, kemudian menghilang via Hiraishin-nya.

Ia muncul di dalam ruangan kamarnya, langsung membuka pakaian ketat yang ia kenakan untuk latihan, memperlihatan tubuh sportisnya. Ia kemudian melangkah menuju kamar mandi, untuk melakukan rutinitas mandi pagi. Selang beberapa menit, ia keluar dengan hanya mengenakan handuk menutup dari perut sampai lututnya. Rambut lembabnya di biarkan terurai agak berantakan, tapi terlihat sangat sempurna baginya. Ia berhenti di hadapan sebuah lemari kayu, berukuran dua meteran, lalu membuka kedua pintu bersamaan.

Matanya langsung tertuju pada sebuah rompi Jōnin dengan Hita-Itae bertali merah terang di atas lipatan rompi itu. Outfit yang selalu di kenakan oleh Kushina sewaktu ia hidup dulu. Ia mengambil perlengkapan itu, sedikit tersenyum mengingat bagaimana ia menjadi Jōnin sejak usianya 14 tahun. Tangannya yang lain, meraih sepasang pakaian Shinobi yang menggantung, berwarna hitam kemerahan. Pada bagian kerak berwarna Orange gelap. Dan juga ada dua garis pada lengan pakaian itu, berwarna yang sama. Pada bagian lipatan jahitan kain baju itu, berwarna orange juga.

"Ini terlihat sempurna" gumammnya menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin di hadapannya. Pakaian yang telah ia siapkan sejak dulu. Sebenarnya ia tidak ingin mengenakan Rompi Jōnin, namun karena itu adalah milik ibunya, jadi dia mengenakannya. Terakhir, ia memasang Hita-Itae di keningnya. Ada yang berbeda kali ini pada rambutnya. Ia tidak lagi membiarkan poninya turun, melainkan di ikat kebelakang, di atas bgian kepalanya. Ia ingin menirukan penampilan ibunya, itulah salah satu alasanya ia sengaja membiarkan rambutnya panjang.

Jika saja rambutnya sudah sangat panjang, maka ia akan terlihat seperti Kushina. Naruto hanya memiliki rambut sebahu saja, dan di kuncir di atas, seperti gaya ibunya, tapi membiarakan rambut bagian belakangnya terurai, tidak mengikat semuanya. Rambutnya tidak seperti kushina yang lurus, ia sedikit jabrik, jadi terlihat elegan dengan gaya seperti ini.

Ia mengeluarkan sepasang bang di samping kiri dan kanan pelipisnya, juga sama seperti ibunya. Hanya saja ia mengikatnya pada bagian bawah, menggunakan kain berwarna Putih. (mirip ikatan Ashura). Ia hanya tersenyum saat itu. Mengambil katana yang menggantung di balik pintu, menggunakan kemampuannya mengendalikan grafitasi. Terakhir, ia menyelipkan katana itu di bagian belakangnya seperti biasa. Ia mengguakan ikat pinggangnya untuk menyelipkan senjata kesayangannya itu.

"Sempurna…" gumamnya, menatap mini Kushina lahir krmbali dalam dirinya. Perbedaannya hanya pada sepatu saja, dimana Naruto mengenankan sapatu yang memperlihatkan ujung jari kaki. (mirip akatsuki). Akhirnya ia menghilang menggunakan Hiraishin-nya meninggalkan tempat itu.

.

.

.

Komplek Sarutobi.

"Man… ini sangat membosankan… tidak ada misi yang hebat di berikan oleh Blonde-Kage itu" suara bosan terdengar dari seorang bocah 12 atau 13 tahunan dari teras bangunan Japanese kediaman klan Sarutobi itu. Terlihat di sana tiga bocah tengah asyik menikmati pagi mereka, duduk diatas lantai. Dua orang bocah dan seorang konoichi. Dari kelihataannya, mereka sepertinya adalah Genin desa itu.

"Ayolah Konohamaru-kun.. sensei memberikan kita minggu tenng Karen kita akan megikuti Ujian Chunin di Suna minggu depan. Bukankah wajar jika kita diberikan misi?" komen Konoichi pemilik rambut emas membentuk seperti ijuk di ikat keatas itu, dan di jawab anggukan rekannya yang lain, dengan sebuah cairan lengket keluar dar hidungnya.

"Ahh… paling tidak kita harus di berikan latihan special sebagai persiapan sebelum mengikuti ujian." Runtuk bocah dengan syal panjang membentang di lantai, perlahan merebahkan tubuhnya diatas lantai, "dari pada harus berdiam seperti ini" lanjutnya malas.

"Tapi bukannya kita sudah melakukan latihan sejak subuh tadi? Apa itu belum cukup juga?" komen Gadis itu sedikit menggerutu kesal. Rekannya yang lain, lagi – lagi hanya mengangguk setuju. Sepertinya ia adalah orang yang hanya mengikuti arus saja. "lagi pula sensei bilang kalau kau sudah kuat, mungkin terkuat diantara para Genin"

"Tapi aku ingin kuat… aku ingin menjadi lebih kuat lagi dan ingin menjadi Jōnin lebih cepat sepertinya" jawab Konohamaru, menutup kedua matanya, mengingat kembali wajah Naruto ketika ia menjadi Genin.

"Apa tidak ada yang lain di dalam kepalamu selain ingin menjadi kuat?" Tanya gadis itu kesal, melipat kedua tangan di depan dada mininya, kemudian membalikan wajahnya.

"Tentu saja aku ingin menjadi kuat." Jawab Konohamaru, langsung melopat dan berdiri dengan semangatnya. "Aku ingin sesegera mungkin menjadi Hokage" lanjutnya. Kedua matanya membara oleh api semangatnya.

Kedua rekannya hanya bisa menghela napas panjang, mendengarkan kemballi untuk ke sekian juta kalinya, Konohamaru mengikrarkan keinginannya untuk menjadi seorang Hokage. Cita-cita yang telah ada sejak ia mengenal nama Shinobi dan penyemangatnya dalam setiap latihan dan misi yang ia lalui.

"Baka…." Suara baru terdengar di sekitar mereka. Konohamaru langsung melebarkan kedua matanya, mendengar seseorang yang baru saja menghinanya. Begitu juga rekannya yang langsung mencari pemilik suara itu. "Kau pikir kau akan menjadi Hokage, baka.." suara itu semakin terdengar jelas. Lalu terlihatlah langkah kaki mendekati mereka dari arah luar.

"HEY… SIAPA KAU, BERANI SEKALI MENGATAIKU BAKA… " teriak Konohamaru, menunjuk ke sosok yang baru saja muncul. Kedua rekannya dengan cepat berdiri, mendampingi Konohamaru pada sisi kiri dan kanannya.

"Kau tidak akan menjadi Hokage jika kau hanya bermalas-malasan seperti itu baka. Kau harus menjadi kuat dulu, lalu membuktikan kalau kau mampu menyandang gelar itu" komen pria itu. "Lagi pula cukup bodoh bagimu untuk bisa menjadi kuat dan menjadi Hokage." Lanjutunya dengan nada meremehkan dan sedikit seringai.

'rambut merah, tanda whisker di pipi…' pikir rekan konoichi Konohamaru, sedikit memerah ketika menatap wajah sosok yang baru saja muncul itu.

"KAU….. " Tegas Konohamaru, bersiap akan melompar, menyerang Sosok itu. "AKAN KUBUKTIKAN KALAU AKU AKAN MEN''- belum sempat Konohamaru bergerak tiga langkah. Ia sudah terjtuh dengan tidak elitenya, mendart menggunkan wajahnya di atas permukaan lantai. Rupa-rupanya syalnya di injak oleh rekannya. Rekannya itu kemudian langsung melepaskan tekanan kakinya dari syal itu.

Sebuah tawa tipis di berikan oleh sosok itu, duduk menjongkok di depan Konohamaru, membelai lembut rambut bocah itu. "Kau tidak berubah sedikitpun… Kono.." gumam sosok itu.

Konohamaru mengedipkan matanya, kemudian membukanya dengan jelas memperhatikan sosok yang ada di depannya itu. Nama kecil yang ia dengarkan adalah nama panggilan yang sudah lama ia tidak pernah dengarkan lagi. Sapaan lembut dari seseorang yang begitu dekat dengannya. Perlahan wajah Konohamaru bergetar, sepertinya akan mewek. Kedua bibirnya ingin mengatakan sesuatu, tapi ia tidak bisa. Terlebih ia melihat senyuman dari sosok itu, sosok yang ia anggap lebih dari apapun di dunia ini.

"N-Ni-Ni-san…" gumamamnya, menjatuhkan butiran air mata, langung melompat memeluk sosok itu.

Naruto hanya bisa menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, Karena pengaruh tekanan dari sosok yang ia anggap adik kecilnya itu. Perlahan ia tersenyum, kemudian memeluk balik Konohamaru. Ia kemudian tersenyum, lalu melamaikan tangannya ke kedua rekan Konohamaru, menyapa mereka berdua.

"Nah.. nah.. lepaskan pelukanmu itu, Kono.. di sana ada seorang gadis yang tengah melihatmu. Apa kau tidak malu menangis di hadapan seorang wanita?" ucap Naruto pelan sambil melepaskan pelukan Konohamaru. Terlihat rekannya sedikit meronah, ketika Naruto menyebutnya seorang gadis.

Konohamaru perlahan melepaskan pelukannya, lalu melangkah kebelakang. "Yosh… kapan Nii-san kembali? Kenapa menghilang selama ini…?" Tanya Konohamaru semangat.

"Aku kembali kemarin sore.. maaf pergi tanpa meninggalkan pesan padamu yah.." jawab Naruto sambil berdiri, lalu memberantkan rambut Konohamaru yang hanya tersipu malu. "hohoh.. kau sudah menjadi seorang Genin sekarang"

"Tentu saja Nisan.." jawab bocah itu semangat, mengangkat jempolnya ke Naruto. "Sekarang aku bisa menghajarmu dengan mudah.." lanjutnya, langsung menurunkan jempolnya ke arah bawah.

"Sungguh.. " respon Naruto, dengan nada meremehkan bocah itu. "Lalu kenapa aku hanya melihatmu seperti seorang genin biasa saja." Lanjutnya.

"HEH… AKU BISA MENGALAHKAN NI-SAN HANYA DENGAN SATU JARI SAJA" teriak Konohamru tidak terima, sambil mengangkat jari telunjuknya, memperlihatkannya ke Naruto.

'Konohamaru terlalu bersemangat tebayou..' pikir Naruto sedikit mengela napas, di sertai sebuah sweet drop agak panjang. "kudengar tadi kalau kau akan mengikuti ujian Chunin di Sunagakure minggu depan.. apa itu benar?" Tanyanya.

Konohamaru yang tadinya kesal langsung berubah, melupakan masalah itu. "Yeah dan aku akan langsung menjadi seorang Jōnin sepertimu dulu" jawab Konohamaru penuh semangat.

"Sungguh? Kenapa aku tidak merasa yakin akan hal itu." Gumam Naruto, memegangi dagunua menggunkan tangan kanannya.

"Tentu saja aku akan mampu Ni-San.. aku ini adalah Konohamaru sarutobi" perlahan Konohamaru menggerakan kedua tangan dan kakinya, memperlihatkan bagaimana ia berpose ketika akan memperkenalkan diri.

'Oh… tidak lagi..' pikir udon.

'Kenapa Naruto-Ni-san menanyakan itu' pikir kedua tim Konohamaru dengan eksprsi penuh penyesalan. Mereka telah kenyang akan perkenalan itu, karena Konohamaru menjadikan itu makanan pokok mereka setiap harinya.

"Orang yang akan menjadi hokage terkuat, melebihi para pedahulu Konoha" ungkap Konohamaru semangat, menyudahi perkenalannya.

"Kau sangat bersemangat Kono… jadi siapa yang menjadi sensei kalian?" Tanya Naruto mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya.

"Ebisu, sensei kami adalah ebisu" jawab rekan konoichi Konohamaru.

Naruto mengalihkan perhatiannya ke gadis belia itu. " Ebisu… si mesum itu menjadi seorang Jōnin sensei…" gumam Naruto sedikit tidak percaya.

"Yeah.. setiap hari kami hanya di ajari tentang kiat-kiat untuk menjadi Shinobi, sedang ia sibuk membaca buku orange anehnya" kali ini Udon yang menjawabnya.

"Huh.. kiat-kiat mejadi shinobi yang hebat?" gumam Naruto bingung.

"seperti cara singkat untuk menjadi seorang Hokage" jawab Konohamaru.

Naruto menaikkan alisnya, mendengar adanya cara ringkas untuk menjadi seorang Kage. "Lalu dimana dia sekarang, kenapa ia tidak ada di sini, melatih kalian sebelum kalian mengikuti ujian Chunin?" Tanya Naruto.

"Sensei bilang kalau ia memberikan kami minggu tenang dengan tidak melaksanakan misi atau latihan keras, sebagai persiapan kami. Katanya itu akan membuat kami tenang" jawab Konohamaru.

"begitu yah… cara mengajar yang aneh.." komen Naruto. Ia kemudian menatap Konohamaru yang hanya menganggukan keplanya setuju. " berapa usiamu saat ini?"

"Aku sudah berusia 13 tahun.. kenapa ni-san ingin mengetahuinya?" Tanya Konohamaru penasaran.

"Hanya ingin memastikan kalau kau sudah siap untuk menerima warisan jiji untukmu" jawab Naruto serius.

"Warisan pak tua? Apa ia ia meninggalkan sesuatu untukku Ni-san?" Tanya Konohamaru penasaran.

"Hai… mana mungkin ia tidak meniggalkan sesuatu untuk cucu satu-satunya yang ia miiliki" jawab Naruto, sedikit tersenyum pada bocah yang kini mmerah di hadapannya.

"apa itu ni-san? Apa jutsu super keren yang bisa mengalhkan siapapun? " Tanya Konohamaru semangat.

"Bisa di bilang seperti itu" jawab Naruto, membuat bocah itu semakin semangat.

"Yosh, tunggu apa lagi Nii-san.. ayo tunjukan padaku sekarang, aku bisa mempelajarinya" ungkap konohamaru semangat.

"Menguasai sesuatu yang kuat itu, bukan menggunakan kiat-kiat atau cara singkat baka. Kau harus berusaha sekut tenaga yang kau miliki untuk menggapainya" ucap Naruto serius.

"lalu aku akan berusaha sekuat mungkin. aku juga igin kuat seperti Ni-san" ungkap Konohamaru semangat.

"Kenapa kau ingin kuat?" Tanya Naruto penasaran.

"Tentu saja agar aku bisa menjadi seorang Hokage dengan cepat" teriak konohamaru semngat, menjawab pertanyaan itu.

"Kalau begitu, maka kau tidak akan menjadi kuat" Konohamaru diam, meski sedikit terkejut akan sangghan Naruto. "jiji selalu mengatakan kalau kau ingin menjadi kuat, maka temukanlah orang terdekatmu dan jadilah kuat untuk melindunginya. Seorang Hokage, menjadi kuat bukan karena ingin menjadi Hokage saja, tapi karena mereka harus kuat untuk bisa melindungi desa dan seluruh yang ada di dalamnya, ingat itu" tegas Naruto, memberikan ceramah singkat.

"hai Ni-san… jadi apa kita akan segera memulai latihannya?" Tanya Konohamaru penasaran.

"bukan sekarang, karena aku ada urusan" jawab Naruto, melirik ke belakangnya, di mana seorang Anbu wanita berambut ungu muncul via shunshin.

"Uzumaki Naruto, kau diminta untuk mengahdiri rapat council sekarang juga" ungkap Anbu itu.

Naruto menarik napas panjang 'aku tau ini akan segera terjadi….' Sebentar lagi, rapat council akan dimulai dan tidak ada kemudahan dalam rapat itu, terlebih setelah apa yang ia lakukan untuk waktu kurang lebih tiga tahunnya, menghilang tanpa jejak.

T

B

C

So sorry, chapnya harus berakhir sampai sini dulu… nanti lanjut lagi di chap berikutnya…kkwkwk (rasa penasaran kalian adalah emas, bukan tpi berlian bagiku) -_-