Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Author teringat akan princess hours setelah membaca salah satu review reader, author akan mencoba membuat fic dengan tema film korea yang keren itu.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

Don't like Don't Read

.

.

~ To Be A Princess ~

[ Chapter 52 ]

.

.

Warning : Chapter ini mengandung unsur 18+

.

Jarang bertemu dan jarang melakukannya, Sasuke meminta 'jatahnya', menatapnya, wajah itu, Sasuke benar-benar terlihat menggoda dan sangat tampan, memeluknya dan merapatkan tubuh kami, gerakan di bawahnya terasa melambat, apa yang Sasuke lakukan? Aku sudah tidak tahan. Apa meminta lebih cepat? Tapi itu sangat membuatku malu, memeluknya lebih erat, mungkin aku lebih cepat mencapai klimaks dari pada Sasuke, suasana ini begitu nyaman meskipun sedikit panas, Sasuke menutupi tubuh bawah kami dengan selimut, hari masih sore, suasana di kediaman masih ramai dengan para dayang dan para pengawal yang berlalu lalang, aku harus menjerit perlahan, jika aku berteriak lebih keras, aku yakin semua dayang dan para pengawal akan mendengarnya, kamar kami sama sekali tidak dekap suara, apapun yang kami lakukan akan terdengar.

Tok tok tok.

Ketukan dari arah pintu.

"Yang mulia putri, saya dayang yang di utus Yang mulai permaisuri, beliau ingin bertemu dengan anda sekarang." Ucap seorang dayang dari arah depan pintu.

Aku mendengarnya dan Sasuke seperti tuli, dia hanya terfokus pada apa yang sedang di nikmatinya.

"Su-suamiku." Ucapku, aku sampai kesulitan memanggilnya.

Sasuke sama sekali tidak mendengarnya.

"Kau bisa memanggil namaku, istriku." Ucap Sasuke, dia bahkan tidak berhenti dan membenamkan wajahnya pada perpotongan leherku, kau salah paham suamiku.

"Bu-bukan, uhhkk...~ bukan itu, dayang, di aahh..~ luarrrr, suamiku..~" Ucapku, aku benar-benar kesulitan berbicara.

Sasuke berhenti dan menatap ke arah pintu.

"Siapa di luar!" Teriaknya, kesal.

"Sa-saya dayang yang di utus Yang mulai permaisuri, beliau ingin bertemu dengan Yang mulai putri Sakura." Ucap dayang itu dan kini nada suaranya terdengar takut, aku yakin mereka mendengar nada marah Sasuke.

Sasuke menatapku dan mendecak kesal.

"Ki-kita bisa melakukannya nanti." Ucapku, wajahku jadi malu dan melihat Sasuke yang terlihat tidak terima.

"Tidak," Ucap Sasuke, dia sampai membuatku menjerit dan terlalu cepat menggoyangkan tubuhnya.

Sasuke bodoh! Apa kau lupa ada dayang di depan pintu!

Aku tidak peduli lagi, membiarkan Sasuke menuntaskan keinginannya. Suaraku cukup keras, aku tidak bisa menahan suaraku sendiri.

Setelahnya.

Memakai kimono dan menatap Sasuke, dia duduk di sisi ranjang dan selimut menutupi tubuhnya yang masih tanpa busana, wajah Sasuke jadi terkesan lucu, kenapa seperti anak kecil yang sedang ngambek? Tangannya bergerak memanggilku. Menghampirinya, Sasuke menarikku dan membuat kami saling berhadapan, sebuah ciuman yang dalam dan terakhir kecupan untuk mengakhiri ciuman yang cukup panas itu.

"Cepatlah kembali setelah ibu permaisuri menceramahimu." Ucapnya.

Menahan tawaku dan mengangguk pada Sasuke.

Membuka pintu dan menundukkan wajahku, para dayangku yang bersama dayang milik ibu permaisuri terlihat tersenyum malu, mereka lebih jelas mendengarnya, aku sangat malu! Benar-benar malu! Uhk! Ini gara-gara Sasuke, aku sudah mengatakannya untuk melakukannya saat malam hari saja.

.

.

"Ada apa ibu permaisuri memanggilku?" Ucapku, masih berdiri.

Beliau sedang duduk dan seperti sedang sibuk dengan ponselnya, wah, aku pikir dia tipe wanita kuno, ternyata ibu permaisuri juga bisa menggunakan ponsel dengan baik, kegiatannya terhenti dan memintaku duduk di hadapannya.

"Aku yakin kau sudah mendengar tentang perjodohan pangeran Izuna dan putri Seon, aku mencari informasi keduanya, sayangnya pangeran Izuna tidak begitu menyukai putri Seon, aku ingin kau membantuku membujuk pangeran Izuna, buat dia bisa menerima putri Seon, aku tahu jika kalian pun dekat." Ucapnya.

Menatapnya, dia benar-benar punya telinga dan mata dimana-mana, dia tahu segalanya, sekarang dia membebaniku sebuah amanah, kenapa harus aku yang melakukannya? Aku tidak ingin membujuk pangeran Izuna, tapi aku ingin ikut membantunya menolak perjodohan yang bodoh ini.

"A-aku bisa apa ibu? Pangeran Izuna tidak akan mendengarkanku." Alasanku, aku ingin menolaknya.

"Aku yakin dia akan mendengarmu putri, kau harus tahu pangeran Izuna dulunya ada calon suamimu, dia begitu menantimu setiap harinya, namun setelah amanah itu berpindah, dia dan pangeran Sasuke jadi memiliki hubungan yang buruk, sekarang buatlah hal ini menjadi lebih baik, kau tidak ingin merasa bersalah seumur hidupmu bukan?"

Luar biasa sekali, apa-apaan ini? Kenapa malah aku yang menjadi sumber masalah? Aku tidak tahu apa-apa? Amanah itu benar-benar konyol, aku masih mendapat masalah lain sekarang.

"Ada apa putri?"

"Ibu permaisuri, maaf jika aku sangat-sangat lancang berbicara pada anda seperti ini, aku aku benar-benar tidak bisa membujuk pangeran Izuna, aku ingin dia lah yang menentukan jodohnya sendiri, bukannya ini sebuah paksaan?"

Braak!

Ibu permaisuri sampai menepuk keras meja di sebelahnya.

"Berani-beraninya kau mengucapkan hal itu padaku putri! Ingatlah posisimu! Kau bisa saja aku usir sekarang juga." Marah ibu permaisuri.

Oh my god! Apa yang sudah aku lakukan! Sekarang ibu permaisuri benar-benar marah besar, mulut bodoh! kenapa kau tidak bisa bertahan sebentar saja? Mengutuk diriku yang tidak bisa menahan diri.

Terdiam seribu bahasa, segera bersujud dan meminta maaf padanya.

"A-a-aku sungguh minta maaf, ibu." Panikku.

"Aku sangat kecewa akan ucapanmu, bagaimana kau belajar denganku selama ini? Sekarang aku akan lebih memberimu pelajaran tentang berbicara sopan santun, kegiatanmu akan semakin padat putr- ahhk, kepalaku."

Segera bangun dan melihat kondisi ibu permaisuri, dia memegang belakang kepalanya, apa dia punya riwayat hypertensi (darah tinggi).

"I-ibu kau baik-baik saja?" Aku jadi semakin panik.

"Kau harus mendengar ucapanku, lakukan apa yang aku inginkan." Ucapnya dan terlihat menahan sakit.

"Ba-baik, aku akan membujuk pageran Izuna." Ucapku, tidak ada pilihan lain.

Segera berteriak memanggil dayang miliknya, aku tidak tahu harus berbuat apa, mereka lah yang lebih memahami ibu permaisuri.

Semenjak hal itu terjadi, aku jadi tidak berani membuatnya marah, bukan karena aku takut padanya, tapi dia benar-benar punya penyakit hypertensi, ibu permaisuri tidak bisa meninggikan suaranya lagi dan menyuruhku kembali ke kamarku.

Hampir saja, aku bisa menjadi tersangka yang membuat ibu permaisuri celaka.

"Aku tidak tahu jika ibu permaisuri punya penyakit hypertensi." Ucap Sasuke, aku sudah kembali ke kamarku.

"Apa? Sungguh!" Ucapku, aku tidak tahu, apa dia sedang mengerjaiku? Apa ibu permaisuri sengaja agar aku mendengar permintaannya?

"Beliau sangat menjaga kesehatan, dari makanan dan pola hidup." Tambah Sasuke.

Hanya bisa mengigit jari, aku sudah terlanjur mengatakan akan membantunya.

"Apa yang di katakan ibu permaisuri padamu?" Tanyanya.

"Aku harus bisa membujuk pangeran Izuna agar mau menikah dengan putri Seon." Ucapku, aku sedang sial apa yaa.

"Ini berita bagus, aku penasaran bagaimana kau bisa membujuknya." Ucap Sasuke dan menatap kesal padanya.

"Aku pikir kau akan membantuku menolong pangeran Izuna, bukannya kita harus ikut menolak." Ucapku, aku lupa satu hal, ucapan putri Seon saat kami bertemu di acara minum teh bersama, aku juga belum mendengar apa-apa dari pangeran Izuna, apa benar seperti yang di katakan putri menyebalkan itu? Apa pangeran setuju dengan perjodohan ini? Awalnya dia juga mengatakan jika tidak suka pada putri Seon dan dia sangat tahu watak asli gadis itu. haa..~ ini membuatku, eh? "Suamiku!" Tegurku dan mendorong kepala Sasuke agar menjauh dari leherku.

"Kenapa? Aku pikir kita akan melanjutkannya lagi."

Blusshh..~

"Bu-bukan saatnya melanjutkannya, suamiku! Kita harus membahas hal ini terlebih dahulu." Ucapku, marah.

"Bagaimana jika bertemu pageran Izuna besoknya, apa kau punya waktu?"

Mengingat jadwal untuk besok. "Aku akan bebas dua jam saat jam 3, bagaimana?" Ucapku.

"Baiklah, aku akan mengosongkan jadwal jam 3 besok, aku akan mengirim tempat kita bertemu dan kau bisa mengajak pangeran Izuna." Ucap Sasuke.

.

.

TBC

.

.


udah tanggal 12, sesuai janji author akan update hari ini, padahal tadi hampir nggak ingat mau update fanfic lagi,

tapi tetap saja pekerjaan author memang sedang banyak-banyaknya dan fic ini akan mulai update tidak beraturan, nggak update tiap hari lagi seperti sebelum-sebelumnya *sorry* wordnya akan tetap sama tidak ada penambahan word di chapter baru atau chapter depannya hingga fic ini tamat.

awal update langsung adegan ena-ena, wkwkwkwkw.

terima kasih untuk tetap menunggu fic ini,

fic gadis kuil juga telah update, kalau fic sweet blood belum bisa di update, author mau kelarin gadis kuil dulu dan fic ini baru akan kelarin sweet blood, author kapok untuk membuat fic TBC =_=

waktu mulai terasa sedikit ketika kau sedang sibuk bekerja, tapiiiiiiiii tetap saja ini hoby ini yang paling menyenangkan, hahaha walaupun emang kau nggak dapat apa-apa, di gaji fanfic aja nggk, hahaha, XD tapi senang ada yang mau baca karyamu, itu udah cukup.

sudah, ini jadi kepanjangan ngomong nggk jelas.

.

.

See you next chapter, (nggak ada tetapan waktu lagi* sibukk *hikss*)