ASTAGANAGABONARJADIDUA... Setelah sampe sejauh ini, barulah saya menyadari bahwa saya melakukan kesalahan besar. Begini, selama ini kan saya nyebut Stone Sentinel Maze dengan Pinyin Chinanya, yaitu Ba Shi Du. Sesudah saya cek2 lagi, ternyata Pinyin yang bener tuh bukan Ba Shi Du tapi Ba Zhen Du... Maaf semua... *kowtow 10000x* mulai sekarang saya akan mengganti Ba Shi Du menjadi Ba Zhen Du...
Wokey... reply review dulu~
Kaien-Aerknard: WOAAAH~ begitu, ya... Hohoho~ kalo gitu harusnya saya singset bin langsing, donk~ kan saya authornya~~~ hohohoho~ (tapi masalah sampe sekarang saya masih gembrotus maksimus prospertus... *gantung diri*) *pasang gaya ANCIENT ALIEN* 'ZHANG BAO'
Psycho Childish: o.O Ini Ru? Ganti pen-name, ya? Hohoho... Nggak, kok... saya juga baru aja mempelajari Tai Xuan... SEEEPPPPP~ saya baca, ya! *lempar kembang api* DEMI TUHAAAANNNNN? Sumpeh lo? saya malah naik 5 kilo... *lebay*
Saika Tsuruhime: Errr... mungkin maksudnya 3 You yang lain kali, ya... :) Hehehe... Wah, kalo saya sih emang nge-fans Zhang Bao tapi dari suaranya yang super unyu di Chara Image Songnya (PROMOSI MODE: ON). Tenang aja... hohohoho... Ma Chao nggak akan selamanya galau, kok~
zeyyens: Hai, zeyyens! Salam kenal! *dihajar gara2 sok akrab* Makasih... udah baca cerita saya yang ancur ini :) tenang aja... pasukan yang besar itu pasti nyampe tepat waktu, kok :)
shouta-warrior: Ahaha... nggak apa2... :) kalo nggak salah anda lagi sibuk persiapan masuk sekolah, ya? CIAYOOOOUUU, yaaaa :) WOOOAAAAHHHHH kalo saya sih udah jatuh cinta ama Wu sejak pertama kali maen DW *dibacok* ZHANG BAO EMANG BIKIN GEMES SANGKING UNYUUUUUUU! Ke asrama? HWATIIIIIIIIIING :D saya dukung segenap hari dari Surabaya *digampar* Nggak apa2, kok... ehehehe...
abi. imut. 35: Makanya review, donk~ hehehe... *dibanting*
aldaluxun: (WOAH ada Lu Xun-nya! :O *dibacok sangking nggak penting*) Inilah chap selanjutnya~ Neeway, salah kenal! :)
Karena banyak yang menyebut2 soal surat Ma Chao, maka saya akan kasih tau sekarang aja... Ehehehe... *BEWARE! SPOILER STARTS HERE!* Emang bener bahwa yang nulis surat itu bukan Liu Bei, tapi Lao Zucong AKA Ibusuri*SPOILER ENDS HERE* Demikian...
Oh iya... sekali lagi saya mau mengingatkan bagi anda, anda, dan anda yang belum punya map zaman Three Kingdoms, silahkan cek di profile page saya dan cari link gambar Three Kingdoms map... ehehe... soalnya map tersebut lumayan dibutuhkan... wkwkw...
Untuk chap ini, idenya dari Silvermoonarisato. Thanks for the idea! :D
Di sini akan muncul 2 orang OC baru yang sekarang belum di-reveal... Hohoho... jadi mungkin anda mesti menebak2 kali, ya... Ehehehe... Yang pasti, 2 OC ini adalah punyanya salah seorang reviewer yang bermurah hati Ocnya boleh saya pinjem. Plus, mari kita berjumpa dengan chara2 yang udah lama nggak kelihatan batang hidungnya.
HERE COMES CHAP 54!
"Tidak... tidak... tidak...! Lebih baik kau masuk lewat Gunung Ding Jin saja! Baru sesudah itu ke Cheng Du!"
"Apa maksudmu memberi saran sesat seperti itu? Lebih baik masuk lewat Bai Di Cheng-Istana Bai Di saja! Katanya bagian itu tidak dijaga dengan ketat!"
"APA?! Masuk lewat Bai Di Cheng-Istana Bai Di?! Memangnya ada orang yang pernah lewat Bai Di Cheng-Istana Bai Di hidup-hidup?"
"Setidaknya lebih baik daripada langsung tertangkap prajurit Shu!"
Cao Pi dan Zhang He jadi bingung sendiri. Kedua pembesar Wei yang tengah menyamar itu hanya bisa menonton pertengkaran kedua Gaibang di depan mata mereka dengan perasaan kagok bukan buatan. Bahkan Pangeran Wei yang biasanya dingin dan kaku itu, melihat kehidupan rakyat jelata, sampai-sampai mengalami sedikit shock! Apalagi suara kedua orang yang tengah bertengkar itu benar-benar keras, menarik perhatian seluruh isi kedai!
Ya, Pangeran Wei dan jendralnya itu kini tengah berada di sebuah kota di Kota Qing Ni, yang juga merupakan kota perbatasan. Sebenarnya perjalanan mereka dari Desa Lu Shi ke Kota Qing Ni sangat amat dekat sekali. Sayangnya, sampai detik ini mereka tak juga meninggalkan kota Qing Ni. Alasannya? Pertama adalah musim dingin yang baru saja tiba. Kedua, dan yang terutama dan di atas segalanya adalah, mereka tidak tahu jalan yang harus mereka tempuh!
Yang kedua pembesar Wei ini tahu hanyalah mereka dapat memilih jalan dari Kota Qing Ni. Jika mereka memutuskan lewat barat, mereka akan masuk Shu melalui perbatasan dekat Gunung Ding Jun. Pilihan kedua adalah lewat selatan yang menghantar mereka melalui Bai Di Cheng-Istana Bai Di. Seharusnya, ini bisa menjadi pilihan yang sangat mudah mengingat jarak Kota Qing Ni ke Gunung Ding Jun jauh lebih panjang daripada Kota Qing Ni ke Bai Di Cheng-Istana Bai Di yang berada di Kota Yong An. Namun, karena mereka mendapat info di Desa Lu Shi dari seorang Gaibang bernama Min An bahwa perbatasan Shu dijaga dengan sangat ketat, mereka harus benar-benar hati-hati dalam memilih rute selanjutnya!
Gunung Ding Jun atau Bai Di Cheng-Istana Bai Di? Itulah pertanyaannya. Jangan sampai mereka sudah sejauh ini, lantas ditangkap oleh prajurit Shu. Apalagi, mengingat keduanya punya logat utara yang luar biasa kental, pasti orang-orang Shu itu akan mencurigai mereka.
Jadi, inilah yang mereka lakukan. Bertanya.
Sayang sekali, mereka sudah berputar-putar sepanjang Kota Qing Ni mencari info yang bisa dipercaya, tetap saja tidak ada yang bisa memberikan jawaban pasti. Sudah hampir seminggu mereka menghabiskan waktu dengan sangat sia-sia di tempat ini. Semua orang yang mereka tanyai entah jawabannya ngawur, ragu-ragu, atau lebih parah lagi mengatakan 'tidak tahu'. Bahkan ada juga yang berani mengatakan, 'di masa-masa seperti ini kalian ingin ke Shu? Pulanglah anak-anak muda, sebelum kalian mati di negri orang...'
Masalahnya, Cao Pi dan Zhang He sama sekali tidak mau tahu. Apapun yang terjadi, mereka harus bisa masuk ke Shu dan menemukan Sang Phoenix itu, tak peduli apapun hambatannya. Dan harus cepat! Kalau memang informasi dari Min An benar, maka keadaan Sang Phoenix itu sedang benar-benar dalam bahaya. Mereka harus menemukannya sebelum orang-orang Shu itu menangkapnya!
Dan kelihatannya, informasi dari Min An memang benar. Mereka sudah mengumpulkan informasi dari tempat perkumpulan Gaibang. Dan benarlah itu. Berita yang terhangat di Shu adalah bahwa seluruh prajurit dikerahkan untuk menangkap seorang mata-mata dari Wu yang telah mengaku-ngaku dirinya Sang Phoenix.
Saat ini di depan mata mereka terjadi suatu pertengkaran yang pastinya akan menghabiskan waktu mereka.
"Nggg... terima kasih banyak atas informasinya, xiansheng." Sahut Zhang He tiba-tiba, menghentikan pertengkaran kedua Gaibang itu. "Memang tidak mudah menemukan jalan mana yang teraman untuk masuk Shu di masa-masa seperti sekarang ini. Namun aku dan kawanku sangat berterima kasih atas bantuan xiansheng berdua."
Baik Cao Pi dan Zhang He langsung bersoja penuh rasa terima kasih pada kedua Gaibang itu. Tentu saja ini membuat mereka jadi merasa bersalah dan minta maaf karena tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Dengan kecewa, Cao Pi dan Zhang He keluar dari kedai guna mencari sumber informasi lain yang lebih bisa dipercaya.
"Aku tak menyangka. Masuk Shu saja sulitnya seperti mengeringkan Sungai Chang Jiang." Gumam Cao Pi tiba-tiba sementara mereka menyusuri jalanan kota yang ramai. Meskipun sudah musim dingin, namun Kota Qing Ni tetap aktif seperti biasanya. Para penduduk masih saja bekerja dengan sangat giat menafkahi keluarga mereka, sungguh berbeda dengan binatang-binatang di hutan yang biasanya akan memilih untuk memulai tidur panjangnya.
Zhang He menepuk bahu Cao Pi. "Jangan menyerah. Kita pasti akan bisa masuk ke Shu."
Keduanya terus berjalan, sesekali bertanya pada sembarang orang dimana ada kedai yang biasanya dikunjungi pengelana dan pengembara. Biasanya di kedai-kedai seperti itulah mereka dapat memanen informasi. Cao Pi dan Zhang He masuk dari satu kedai ke kedai lain seperti orang limbung, kadang kala masuk ke kedai yang sudah mereka kunjungi kemarin.
Hasilnya? Nol besar.
Cao Pi mendengus kesal. Seumur hidupnya, baru kali ini ia tahu susahnya jadi rakyat jelata! Untuk tahu bagaimana cara masuk ke Shu saja sulit sekali! Kalau ia masih berada di Istana Wei enak-enakkan, tentu dia akan memilih mengirim ribuan tentara dan menyerang perbatasan Shu agar bisa masuk. Sayang sekali Cao Pi enggan menggunakan cara seperti itu sekarang. "Kita hanya buang-buang waktu saja di sini."
"Yahhh... apa lagi yang bisa kita lakukan? Lebih baik kita sedikit membuang waktu di sini dan mencari informasi yang benar, daripada kalau kita sudah sampai di perbatasan dan harus berbalik. Lebih parah lagi kalau sampai kita tertangkap prajurit Shu." Jawab Zhang He sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
Keduanya duduk berhadapan di kedai tersebut setelah kenyang bertanya satu pengunjung demi pengunjung lainnya. Rasanya sampai punah pun mereka akan tetap di Kota Qing Ni dan bertanya-tanya mana jalan yang aman yang bisa dilalui. Padahal mereka juga tidak punya banyak waktu.
Cao Pi mengangkat cangkir dari mejanya dan perlahan menghabiskan teh di dalamnya. Ia sedikit pun tak mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya. Bukan, bukan tentang dirinya sendiri melainkan tentang Sang Phoenix yang dicarinya itu. Bodoh sekali jika Sang Phoenix bisa sampai terjerat dalam situasi ini. Apa yang memaksanya datang ke Shu? Ia tidak pernah tahu. Seolah-olah Phoenix itu memang datang cuma untuk difitnah dan ditolak saja...
Bagaimana kalau seandainya apa yang dikatakan ayahnya mengenai ramalan Sancai-Tembikar Tiga Warna memang benar? Bagaimana kalau Phoenix itu benar-benar akan dihabisi dengan cara demikian? Dibakar hingga tubuhnya habis menjadi abu?
Tunggu!
Tiba-tiba sebuah kesadaran menghantam kepala Cao Pi. Ini aneh! Benar-benar aneh! Lu Xun adalah Sang Phoenix, kan? Jendral Xiahou Dun dan Xiahou Yuan pernah berkata padaku dulu bahwa, ketika Lu Xun masih kecil, saat mereka menjatuhkannya ke dalam api, tubuhnya tidak terbakar! Saat itu Wei sangat menginginkan kekuatan Phoenix(1). Ya, begitu kata mereka! Bahkan aku juga mendengar rumor dari Istana Dinasti Han di Chang An bahwa ia masuk ke Paoluo yang terbakar, namun tubuhnya utuh(2)!
Apa artinya ini...?
Tatapan Pangeran Wei itu menajam. Satu tangan di bawah dagunya, berpikir keras.
Lu Xun adalah Sang Phoenix. Tubuhnya tidak akan hancur dan hangus oleh api. Memang benar ia akan merasakan kesakitan dari rasa panas seperti manusia pada umumnya. Tapi dia itu juga Phoenix! Tubuhnya tidak akan terbakar! Api tidak berkuasa apa-apa atas tubuhnya! Dari situlah orang akan tahu bahwa dia adalah Sang Phoenix!
Tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri, Zhang He memanggilnya. "Yang Mulia Pange... ehm, maksudku... Cao Pi." Panggilnya. "Kenapa kau tiba-tiba serius seperti itu? Apa yang sedang kau pikirkan."
Cao Pi tak lantas menjawab. Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya membuka mulutnya. "Tidak, aku hanya memikirkan..."
"WHOOOAAAAA! Cepat lari, Xiahou Ba!"
"T-t-tunggu aku, Sima Zhao! AAAAHHHHHH!"
Sebenarnya tidak hanya mereka berdua, seisi kedai langsung terkejut mendengar suara heboh dua orang anak kecil. Namun, bisa dikatakan bahwa kekagetan Cao Pi dan Zhang He adalah sepuluh kali kekagetan orang-orang yang lain. Apalagi, saat mereka menoleh ke sumber suara itu, rupanya dugaan mereka benar! Itu adalah dua orang anak kecil yang sangat tidak asing di mata mereka semasa mereka berada di Istana Wei dulu. Kedua anak laki-laki berambut coklat itu tidak lain dan tidak bukan adalah putra dari Sima Yi dan Xiahou Yuan!
Dan yang lebih mengagetkan lagi, kedua bocah tak tahu aturan itu kini sedang berlari-lari di dalam kedai seolah mereka dikejar setan! Di tangan mereka ada sebuah kotak berwarna merah teratai yang entah isinya apa...
Benar-benar... lari mereka yang secepat kilat membuat kedua pembesar Wei itu tidak tahu harus bagaimana!
Dan belum habis kekagetan mereka, suara yang lain terdengar.
"HEEEEIIIIII! Kembalikan kotak itu!"
Seorang wanita muda masuk dengan langkah tergopoh-gopoh mengejar keduanya. Tambah heranlah seisi kedai, seolah-olah langit runtuh menimpa kepala mereka! Wanita muda itu mengenakan baju berwarna senada dengan kotak yang dipegang kedua anak itu, merah muda teratai yang indah dan agak mencolok di tempat tersebut.
"Tidak! Tidak! Tidak! Nanti bibi akan menjahit mulut kami dengan ini!" Teriak Sima Zhao. Namun bocah itu sudah terpojok! Si wanita muda tadi telah menyudutkannya dan siap mengambil apa yang menjadi miliknya.
"Tidak akan! Cepat kembalikan!" Perintahnya.
"TIDAK!" Masih dengan bandel dan ngotot, Sima Zhao membalas. Melihat sebuah celah dari kepungan ketat yang dihadapinya, segera dilemparkannya kotak berwarna merah muda tersebut ke arah kawannya. "Xiahou Ba! Tangkap ini!"
Kotak itu pun melayang. Xiahou Ba tentu akan menangkapnya... kalau Sima Zhao tidak melempar dengan begitu tinggi! Xiahou Ba yang gagal menangkapnya hanya bisa menoleh dan berusaha mengejar arah jatuh kotak tersebut. Benda itu melesat secepat angin, melewati puluhan kepala di bawahnya...
... sampai akhirnya mengenai kepala Zhang He!
"CELAKAAAAAAAAAA!" Dengan satu kalimat itu, Xiahou Ba dan Sima Zhao langsung lari, naik ke lantai dua dari kedai itu yang rupanya digunakan sebagai penginapan. Kedua bocah nakal itu lari tunggang-langgang ke atas meninggalkan wanita muda malang yang serba salah harus melakukan apa, termasuk Zhang He yang menjadi korban dari lemparan tersebut.
Zhang He, sangking terkejut tapi juga kesakitan, hanya bisa mengurut-urut dahinya yang kejatuhan kotak. "Ya Tian..."
Cao Pi sendiri hanya membungkuk sangking tidak tahu harus apa, kemudian memungut kotak tersebut. Rupanya kotak tersebut adalah kotak berisi peralatan jahit-menjahit. Mulailah Pangeran Wei itu berpikir. Baju merah muda yang begitu mencolok, peralatan jahit, dan kedua bocah nakal itu yang memanggilnya 'bibi'...
"A-ahhh... terima kasih, xiansheng!" Si wanita muda itu berlari-lari menghampiri Cao Pi yang memegang kotaknya. Dengan cepat ia membungkukkan badan berkali-kali meminta maaf. "Maafkan aku dan kedua anak itu, xiansheng! Lain kali aku akan mendidik mereka dengan baik supaya kejadian ini tidak akan terjadi lagi." Dengan itu, ia hendak mengambil kotaknya yang telah disodorkan Cao Pi.
Tapi...
Mata wanita muda itu kemudian bersirobok dengan mata Cao Pi. Maka sadarlah wanita muda itu siapa yang ada di depannya. Begitu pula Cao Pi!
"Eh?" Pangeran Wei itu terlihat seperti orang tolol sesaat.
Tepat sekali. Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Ying Fang.
Ying Fang yang melihat Cao Pi di tempat seperti ini, serasa telah melihat hantu! Ia memekik cepat dan membuat seisi kedai makin gaduh. Lalu dalam waktu sepersekian detik saja, ia sudah menghilang dan melarikan diri mengikuti Sima Zhao dan Xiahou Ba.
Cao Pi dan Zhang He jadi kagok sendiri...
"Hei, Zhang He. Tadi itu kok seperti..."
"Benar..." Zhang He, masih mengerjap-ngerjap dan mematung, menjawab. "Tadi itu memang Nyonya Muda Ying Fang, penjahit istana. Kedua anak itu adalah Xiahou Ba anak dari Jendral Xiahou Yuan dan Sima Zhao anak dari Penasihat Sima Yi..."
Kedua orang itu saling bertukar pandang beberapa saat. Orang-orang di sekeliling mereka sudah duduk dengan manis dan tenang, seolah pekara tadi tak pernah terjadi di dunia. Maka keduanya pun mengangkat bahu, sebelum duduk dan kembali pada aktifitas semua. Yah, meski susah mereka tetap memaksakan diri berpikir bahwa mereka tadi cuma mimpi, atau salah orang.
Sayangnya, tadi itu bukan mimpi. Dan mereka juga bukan salah orang. Sebab sesudah itu mereka mendengar dua suara yang sangat familiar sekali.
"Lho? Pangeran Cao Pi? Jendral Zhang He?"
"WAAAAAAAAAAAA! BUKAN! BUKAN! BUKAN!"
Zhang He panik sendiri sementara Cao Pi nyaris menyemburkan teh dari mulutnya. Dikiranya, orang biasa siapa yang kenal mereka? Saat keduanya berbalik, dilihatnya sepasang figur yang sangat familiar sekali. Sama seperti mereka, kedua orang itu juga pastinya menyamar, sama pula halnya dengan Ying Fang, Sima Zhao, dan Xiahou Ba. Tapi, mereka tahu pasti siapa mereka. Yang satunya berambut pirang, sementara yang satunya berambut pendek ikal.
"Penasihat Guo Jia? Jendral Li Dian?"
Sesudah pertemuan yang sangat aneh dan penuh kecanggungan, keempat pengembara bohongan itu akhirnya berhasil memulihkan diri dari shock mereka. Syukurlah kalimat-kalimat tadi tidak diucapkan dengan keras sehingga tidak ada pengunjung yang mendengar. Jika sampai seisi kedai mengetahui siapa mereka sebenarnya, maka pastilah bumi akan terbalik dan langit runtuh!
Mereka berempat duduk di meja yang paling pojok dari ruangan itu sehingga dapat berbicara dengan lebih leluasa. Awalnya percakapan mereka dimulai dari masing-masing menceritakan pengalaman perjalannya. Cao Pi menceritakan bagaimana ia dan Zhang He sampai di Kota Qing Ni seminggu yang lalu dan bahwa sebelumnya mereka mendapat kabar buruk di Lu Shi bahwa perbatasan Shu dijaga ketat. Itulah yang menyebabkan mereka lama di Qing Ni, yaitu bahwa mereka masih bingung memilih jalan mana yang harus ditempuh. Cao Pi juga memberitahukan kabar buruk yang ia dengar dari Gaibang bernama Min An mengenai keadaan di Shu, yaitu mengenai seorang Wu yang tengah menjadi buronan karena mengaku-ngaku dirinya Phoenix. Itulah sebabnya seluruh perbatasan Shu dijaga dengan luar biasa ketat. Guo Jia dan Li Dian yang mendengar kisah itu, tidak bisa tidak terkejut bukan buatan.
"Dan kalian?" Tanya Cao Pi menyudahi penuturannya. "Apa yang membuat kalian ada di sini?"
Baik Guo Jia dan Li Dian saling berpandang-pandangan. "Sebenarnya kami penasaran dengan kepergian anda yang sangat tiba-tiba untuk mencari Sang Phoenix." Jawab Guo Jia dengan tegas. "Karena itu kami berdua berangkat untuk memulai perjalanan mencari Sang Phoenix, juga guna membawa anda kembali ke Istana Wei. Siapa nyana rupanya di tengah jalan kita telah bertemu!"
"Tapi itu tidak berarti kami akan pulang." Imbuh Li Dian. "Kami berdua juga berharap dapat bertemu dengan Sang Phoenix. Apalagi mendengar kabar dari anda tentang Sang Phoenix yang tengah dikejar-kejar seperti penjahat di Shu. Kurasa kita harus cepat sebelum terlambat."
Zhang He mengangguk perlahan. "Kami juga tidak bermaksud pulang sebelum menemukan Sang Phoenix. Sayang benar perjalanan kami berhenti di sini karena belum menemukan informasi jalan mana yang aman. Apakah lewat selatan dan tiba di Kota Yong An, atau lewat barat dan tiba di Gunung Ding Jun." Penjelasan itu diakhiri dengan sebuah desahan. Semuanya kelihatan berpikir keras.
"Kelihatannya situasi di Shu benar-benar kacau..." Gumam Guo Jia sambil menyandarkan punggung di kursinya. "Bagaimana mungkin Kaisar Liu Bei yang dikenal sangat baik dan berbudi luhur kini melakukan hal segila ini? Dan dimana Perdana Mentri Zhuge Liang? Lagipula, bukankah Shu adalah kerajaan yang paling menanti-nantikan Sang Phoenix? Kenapa sekarang hal ini seperti ini malah terjadi di Shu?"
Tidak ada yang menjawab, karena memang tidak ada yang tahu jawabannya. Keempatnya berpikir keras mengenai semua kabar-kabar aneh yang mereka dengar. Dan tentunya juga berpikir bagaimana mereka bisa masuk ke Shu dengan aman?
Sampai lama mereka tak menemukan jalan keluar. Penasihat Wei berambut pirang itu mengeluarkan sesuatu. Sebuah map Tiga Kerajaan Wei, Wu, dan Shu, lengkap dengan segala kota dan kondisi geografisnya. Ketiga orang yang lainnya memperhatikan sembari Guo Jia menjelaskan.
"Aku punya usul. Sebaiknya kita mengambil jalan yang berbeda." Ia memulai. "Pangeran Cao Pi dan Jendral Zhang He, anda berdua sebaiknya mengambil jalan lewat barat lewat Gunung Ding Jun. Aku dan Li Dian akan mengambil jalan selatan lewat kota Yong An dan Bai Di Cheng-Istana Bai Di. Sesudah itu, anda dapat melakukan pencarian di daerah barat Shu, mulai dari Kotaraja Cheng Du. Sementara kami akan memulai dari sebelah timur(3). Dengan demikian, kita tidak akan membuang waktu. Semisalkan satu tertangkap, yang lain mungkin akan selamat."
Untuk sesaat Cao Pi dan Zhang He menukar pandangan, memikirkan usulan Guo Jia yang terdengar sempurna itu. Dengan sedikit perasaan curiga, Cao Pi bertanya pada penasihat Wei itu. "Aku hanya ingin bertanya sesuatu, Penasihat Guo Jia. Kenapa anda memilih rute selatan lewat Kota Yong An? Apakah ada sesuatu yang membuat anda tertarik dengan rute ini?"
Guo Jia hening sejenak. "Tentu saja ada. Pangeran Cao Pi, anda tentu tidak mengerti mengenai konstruksi dan keunikan luar biasa dari Bai Di Cheng-Istana Bai Di di Kota Yong An. Bai Di Cheng-Istana Bai Di, sama seperti halnya Ba Zhen Du, adalah buatan dari Perdana Mentri Zhuge Liang yang jenius luar biasa. Bagian dalam Bai Di Cheng-Istana Bai Di dirancang sedemikian rupa sehingga berbentuk seperti labirin(4). Kudengar, banyak orang yang mencoba masuk ke dalamnya tidak pernah keluar lagi. Tepatnya, aku tak pernah mendengar ada orang yang berhasil menaklukkan istana itu." Jelasnya panjang lebar dengan suara yang perlahan tetapi tegas. Dari suaranya tersirat rasa penasaran sekaligus curiga yang mendalam.
"Hmmm..." Pangeran Wei itu berpangku dagu. "Jadi maksudmu rute itu lebih berbahaya? Dan kau tidak mau aku masuk ke istana itu?"
Daripada menjawab langsung, Guo Jia memulainya dengan penjelasan lain. "Ba Zhen Du, labirin buatan Perdana Mentri Zhuge Liang, menurut rumor sama berbahayanya dengan seratus ribu pasukan berkuda. Beigut pula dengan Bai Di Cheng-Istana Bai Di. Dalam hal ini, jika Pangeran Cao Pi menempuh jalan Gunung Ding Jun, sekuat apapun penjagaan mereka, tentu tidak akan sampai seratus ribu, bukan? Jauh lebih mudah bagi anda lewat Gunung Ding Jun daripada Bai Di Cheng-Istana Bai Di."
"Apa yang dikatakan Guo Jia sangat tepat sekali, Pangeran Cao Pi." Sambung Li Dian. "Biarlah Pangeran Cao Pi saja yang lewat Gunung Ding Jun. Ini adalah rute yang teraman untuk saat ini jika dibandingkan dengan Bai Di Cheng-Istana Bai Di. Lagipula, jarak antara Bai Di Cheng-Istana Bai Di ke Kotaraja Cheng Du dan Gunung Ding Jun ke Kotaraja Cheng Du, jauh lebih dekat dari Gunung Ding Jun. Begitu anda berdua sampai di Gunung Ding Jun, sebisa mungkin anda langsung menuju ke Kotaraja Cheng Du."
Cao Pi menimbang-nimbang usulannya. Itu bukan pilihan yang jelek jika ia mengambil jalan lewat Gunung Ding Jun. Lagipula, ia ingin memastikan kabar dari Min An. Liu Yan Lu, putri Shu itu, dan Jiang Wei, ahli strategi muda murid dari Perdana Mentri Zhuge Liang, katanya dibunuh karena telah melakukan pengkhianatan. Selain itu, salah satu jendral Wu Hu Jiang bernama Zhao Yun juga diasingkan karena melakukan hal yang sama. Apakah itu benar? Jika ia ke Cheng Du, tentu ia akan mengetahui jawabannya.
Namun, ada sesuatu yang membuatnya enggan memilih jalan tersebut. Ia mengambil jalan yang mudah sementara Guo Jia dan Li Dian mengambil jalan yang sulit. Ada sesuatu yang membuatnya menolak keputusan itu, meski itu untuk keselamatannya sendiri. Apakah itu ego? Mungkin saja. Cao Pi sendiri tidak tahu perasaan apa itu.
"Tapi aku tetap tidak bisa mengambil jalan ini. Apalagi kalian mengambil jalan yang sulit demi keselamatanku." Kata Cao Pi, agak dingin tetapi pada saat yang sama mengandung wibawa.
Penasihat Wei itu menggeleng. "Jangan berpikiran seperti itu, Pangeran Cao Pi. Karena tindakan anda yang sama sekali tidak memikirkan keselamatan sendiri dan nekat mencari Sang Phoenix, itulah yang mendorong kami untuk memulai perjalanan ini juga."
Satu perkataan ini membuat Cao Pi terdiam.
"Benar!" Li Dian menyahut dengan penuh semangat. Ia bersoja dalam-dalam di depan pangerannya. "Kami sungguh bangga dengan anda, Pangeran Cao Pi! Kalau bukan karena anda, pasti kami sekarang masih tidak melakukan apa-apa yang berguna di Istana Wei! Memang benar kami semua ingin bertemu dengan Sang Phoenix. Namun keinginan anda lebih mendesak dan lebih penting dari keinginan kami. Kami pergi dengan keinginan pribadi kami masing-masing. Tapi anda pergi demi seluruh Wei!"
Kata-kata Li Dian menembus ke dalam pikiran Cao Pi, membuatnya tertegun sesaat. Sedikit pun tak pernah terbayangkan bahwa suatu saat ia akan menjadi motivasi bagi bawahannya. Selama ini ketika masih berada di Wei dan memerintah dengan semena-mena, apanya yang dapat dibanggakan darinya? Ia telah menyebabkan perpecahan dari semua pejabat dan bangsawan Wei.
Namun saat ini semuanya berbeda. Li Dian dan Guo Jia memandangnya dengan penuh kebanggan, sekarang percaya sepenuhnya padanya. Bagaimana ia bisa berubah sedemikian drastis, hanya langit yang tahu.
"Mereka benar, Pangeran Cao Pi." Kata Zhang He, menutup seluruh penuturan kedua orang itu. "Jika Sang Phoenix itu bertemu dengan anda, orang yang dulu telah mencelakakannya sedemikian rupa, kini telah berubah seratus delapan puluh derajat, tentu ia akan bahagia sekali. Dengan sepenuh keyakinan aku percaya Sang Phoenix itu menunggu anda dengan sangat. Ya, dia menunggu waktunya dapat bertemu dengan anda dan berkata bahwa ia telah memaafkan seluruh kesalahan anda, dan tidak perlu merasa bersalah lagi."
Seluruh perkataan itu telah terserap masuk ke kepala Cao Pi. Pangeran Wei itu terpejam sejenak, sebelum ia akhirnya membuat keputusannya.
"Baiklah." Katanya dengan yakin. "Aku akan mengambil jalan lewat Gunung Ding Jun."
Keputusan itu telah dibuat. Semuanya mengangguk dengan penuh keyakinan. Dengan demikian, mereka sudah tahu jalan mana yang harus mereka tempuh. Mereka siap untuk berangkat kapanpun angin menghantar mereka pergi.
"Jika sudah diputuskan, aku dan Zhang He akan berangkat hari ini juga." Kata Cao Pi sambil bangkit dari kursinya, diikuti Zhang He.
Keduanya siap untuk segera meninggalkan kedai itu, sampai akhirnya Cao Pi teringat sesuatu yang perlu ia sampaikan.
Jadi Pangeran Wei itu berbalik, menemukan Li Dian dan Guo Jia yang masih menikmati teh di sore hari musim dingin ini. "Oh iya, Penasihat Guo Jia." Katanya. "Anda tidak bersama-sama dengan istri anda?"
"Tentu saja tidak." Jawab Guo Jia enteng sambil meniupi teh panas di cangkirnya. Sama sekali tidak peduli dengan pertanyaan aneh itu. "Tidak mungkin aku mengizinkan istriku pergi. Perjalanan ini terlalu berbahaya untuknya. Apalagi tubuhnya memang sedikit lemah."
Cao Pi mangut-mangut mengerti. "Oh begitu..." Masih dengan suara cuek seperti biasa, Pangeran Wei itu melanjutkan. "Tadi aku sempat melihatnya di kedai ini, bersama-sama dengan Xiahou Ba dan Sima Zhao. Kupikir kau tahu tentang ini, Penasihat Guo Jia. Tetapi jika tidak, kurasa tidak masalah."
Detik itu juga, waktu bagai terhenti untuk Guo Jia dan Li Dian. Perbedaannya adalah Guo Jia jauh lebih tenang. Li Dian sudah menyemburkan tehnya dan panik bukan buatan. Benar-benar seolah langit telah runtuh di atas kepalanya! Tapi Guo Jia... memang tak salah jika ia dikatakan sebagai penasihat paling luar biasa di Wei. Bahkan mendengar kabar begini mengerikan tentang istrinya, ia masih saja tenang.
"Ya sudah." Jawab penasihat itu tenang sekali, sambil perlahan menandaskan isi cangkirnya.
Cao Pi, Zhang He, dan Li Dian langsung diam. Bingung dan serba salah.
Benarkah ini Guo Jia, penasihat Wei yang sangat amat sayang pada istrinya? Kalau benar, kenapa sepertinya dia kelihatan sama sekali tidak peduli? Apakah Guo Jia hanya berpura-pura tidak peduli padahal sebenarnya sedang kalut dalam hati? Tapi... ah! Sehebat-hebatnya seorang penasihat, pasti dia akan panik juga kalau tahu istrinya sedang berada di tempat asing, dan tengah menyamar pula!
Tapi ini Guo Jia, dan dia bukan cuma penasihat pada umumnya...
"Hei, Jendral Li Dian." Panggil Cao Pi. "Cepat beritahu kawanmu itu, jangan-jangan ia salah menangkap maksudku. Istrinya ada di sini dan dia hanya bilang 'ya sudah'."
Li Dian, ragu-ragu dan bingung, hanya bisa menggaruk kepalanya dan menyampaikan pesan itu. "Uhhh... baiklah, Pangeran Cao Pi." Katanya. "Hei, Guo Jia. Nyonya Muda Ying Fang ada di sini."
Sekali lagi, masih dengan tenang Guo Jia membalas. "Aku bilang 'ya sudah', ya 'ya sudah'."
Mau tak mau, Li Dian jadi mendongkol bukan buatan. Ini masalah serius, dan Guo Jia hanya bilang 'ya sudah'? Baiklah, dia sendiri juga sering melafalkan dua kata keramat itu. Tapi tidak di kondisi seperti ini! Jengkel dan dongkol bukan main, Li Dian membentak, entah kepada Guo Jia atau pada Cao Pi. "Aku sudah memberitahu Guo Jia, dan dia bilang 'ya sudah'. Ya sudah!"
Cao Pi sendiri juga kumat cueknya. Sambil menirukan Li Dian, ia menukas. "Aku sudah memberitahu kalian bahwa Nyonya Muda Ying Fang ada di sini, dan kalian bilang 'ya sudah'. Ya sudah!"
Satu-satunya yang masih terlihat bingung dan belum buka mulut sedari tadi adalah Zhang He. Benar-benar serba salah sekali jendral satu ini! Ia memandangi ketiga pembesar Wei di hadapannya dengan tatapan tak percaya. "Jangan 'ya sudah', 'ya sudah' saja!" Bentaknya frustrasi karena kecuekkan mereka. Belum lagi virus 'ya sudah', 'ya sudah' dari Li Dian telah menyebar luas. Jika virus itu menyebar dan menulari Guo Jia, ya sudah! Tapi kenapa sekarang juga menulari Pangeran Cao Pi? "Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa pada Nyonya Muda Ying Fang dan kedua anak itu?"
Atas pertanyaan ini, jendral yang malang itu menerima jawaban berupa sebuah bentakan sengit dari Guo Jia, Li Dian, dan Cao Pi. "YA SUDAAAAAHHHH!"
Zhang He mendengus kesal. Satu-satunya pilihan jendral itu sekarang adalah mengikuti pangerannya. Mereka keluar dari kedai untuk melanjutkan perjalanan keluar dari Kota Qing Ni dan masuk ke Shu melalui jaur barat, yaitu lewat Gunung Ding Jun.
Sementara itu, kedua pengembara jejadian yang ditinggalkan masih berada di tempat itu. Benar-benar terlihat seolah mereka tidak punya masa depan. Guo Jia masih dengan tenang menghabiskan isi cangkirnya, padahal Li Dian sudah pucat seperti kertas sangking bingung.
"Hei, Guo Jia! Kau gila?! Istrimu beserta dua anak nakal itu ternyata mengikuti kita!" Sekali lagi Li Dian mengulangi sambil mengguncang-guncang tubuh Guo Jia. "Apa yang harus kita lakukan?!"
Atas pertanyaan Li Dian, penasihat Wei itu tidak mengatakan apapun. Sesudah menandaskan isi cangkirnya, ia menggenggam benda itu dan memandangi meja dengan tatapan yang sama sekali tidak terbaca! Li Dian pasti sudah akan menghajar Guo Jia habis-habisan kalau ia tidak terlebih dahulu melihat sebuah keanehan. Atau tepatnya... mendengar sebuah keanehan.
Jendral Wei itu mendengar sesuatu seperti bunyi retakan porselain.
Dan... alangkah kagetnya ia saat menemukan... cangkir yang digenggam Guo Jia perlahan retak dan akhirnya pecah!
"YA TIAAAAANNNNN!"
Belum habis keterkejutan Li Dian, dilihatnya kawannya sudah berdiri dari kursinya dengan kecepatan kilat! Penasihat yang sudah murka itu berjalan dengan langkah yang lebar dan cepat tanda gusar, menuju ke sebuah meja yang letaknya agak jauh di ujung lain kedai itu. Li Dian lari mengikutinya dari belakang. Maunya sih untuk menghentikan Guo Jia. Apa mau sebelum cita-citanya tercapai, Guo Jia sudah terlebih dahulu dengan tanpa peringatan menarik lengan orang yang duduk di meja itu dengan keras!
"Kau sudah puas main gila?!" Bentak Guo Jia. Sekali lagi mereka bikin heboh seluruh kedai! "Aku sudah bilang agar kau kembali ke Luo Yang! Apa maksudmu mengikutiku sampai kemari, Ying Fang?!"
Entah apakah itu keajaiban atau memang Guo Jia sangat peka. Orang yang ia tarik dari meja itu memang adalah Ying Fang!
"F-fujun...!" Seketika istri muda itu langsung pucat pasi, takut melihat kemarahan suaminya. "Maaf, aku tidak bermaksud melawanmu. Tapi..."
"Tapi kau ingin bertemu dengan Sang Phoenix dan mengucapkan terima kasih padanya. Benar begitu, kan?" Bentak Guo Jia masih dengan penuh kemarahan. Rasanya ingin ia memaki Ying Fang yang begitu ceroboh! Bukan, ia bukan benci pada istrinya. Sebaliknya, ia setengah mati mengkhawatirkannya dan tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya. Makanya ia begitu gusar melihat ini.
Namun saat melihat wajah istrinya yang penuh kesedihan, penyesalan, dan rasa takut, Guo Jia perlahan mulai mengendurkan pegangannya. Dilepaskannya tangan istrinya. Ia diam, menyaksikan Ying Fang menunduk dalam-dalam sambil berusaha menahan airmata yang akan segera tumpah.
Penasihat Wei itu menghela nafas panjang. "Kurasa, aku tidak akan bisa menghentikanmu."
Ying Fang mengangkat wajahnya yang memerah. Matanya mengerjap-ngerjap keheranan. "F-fujun?"
Guo Jia berbalik, memandangi istrinya. Tatapan dan suaranya melembut, menenangkan hati istrinya. "Kalau kau memang berniat mencari Sang Phoenix, kurasa aku tidak punya hak untuk melarangmu." Katanya. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya.
Tidak ada yang tahu, bahkan mungkin Ying Fang sendiri, bahwa ia sangat mencintai istrinya. Namun ia bukanlah manusia sempurna yang dapat mencintai dengan cara yang sempurna pula. Seluruh tindakannya yang terlampau keras dan memperlihatkan seolah ia tak memperhatikan istrinya, justru ia melakukannya karena tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Dari kejadian ini ia tahu satu hal. Mungkin Ying Fang tidak selemah yang ada di pikirannya. Mungkin tak selamanya perempuan harus dilindungi oleh laki-laki. Kalau tidak, tidak mungkin perempuan diciptakan sebagai penolong laki-laki, kan?
Hari ini Guo Jia belajar satu hal. Ying Fang lebih memilih menempuh perjalanan yang berbahaya bersamanya, daripada diam di tempat yang aman tapi tidak bersama-sama dengannya. Dan inilah yang justru akan membuat mereka makin saling mencintai.
"Yang bisa kulakukan hanya..." Lanjut penasihat Wei itu. "... menjagamu. Sampai kita berdua menemukannya."
Sepasang mata Ying Fang melebar. Kali ini butiran-butiran airmata jatuh, membasahi bajunya. Ini bukan airmata kesedihan atau ketakutan lagi. Ini adalah airmata bahagia. Dengan penuh rasa terima kasih, ia berlari dan memeluk suaminya dengan hangat.
"Fujun... terima kasih..." Bisik Ying Fang. Pelan namun tulus.
Guo Jia balas memeluk erat istrinya. Li Dian berikut seisi kedai, meski tidak tahu apa yang terjadi, mereka yang melihat pemandangan itu juga tersenyum. Xiahou Ba dan Sima Zhao yaung sedari tadi menonton dari atas juga bersorak kegirangan. Ini tandanya mereka dapat melanjutkan perjalanan! Apalagi dengan jendral favorit mereka, Li Dian! Kalau sudah begini, rasanya tidak ada sungai yang terlalu dalam untuk mereka sebrangi atau gunung yang terlalu tinggi untuk mereka gapai!
Di tengah musim dingin, sepasang kekasih itu melepaskan pelukan hangat. Inilah awal perjalanan mereka.
Jauh dari tempat itu...
Tiga orang berkumpul di sebuah ruangan. Tidak terlalu besar, hanya seperti ruang rapat saja. Ruangan yang tidak istimewa itu terletak di salah satu bangunan pemerintahan di Kota Yong An, dimana Bai Di Cheng-Istana Bai Di berada. Ya, Bai Di Cheng-Istana Bai Di adalah sebuah bangunan yang sangat luar biasa yang terletak di tengah-tengah Kota Yong An yang sangat biasa.
Begitu juga dengan ketiga orang itu. Mereka berada di ruangan yang sangat biasa, meski mereka bukanlah orang sembarangan.
Guan Ping, satu dari tiga orang tersebut, duduk menghadap kedua lawan bicaranya. Yang seorang adalah jendral wanita berumur sekitar dua puluh tahun, dengan rambut depan yang panjang melebihi bahu tetapi belakangnya pendek. Sama sepertinya, gadis itu juga tengah duduk di sebuah kursi. Sebuah meja yang panjang memisahkan mereka. Di sebelah jendral wanita itu berdiri seorang jendral lain. Seorang pemuda yang berusia delapan belas tahun dan masih sangat muda. Mata coklat pemuda itu memandangnya dengan tajam dan penuh kecurigaan.
"Hmmm... aku masih belum mengerti, Jendral Guan Ping." Kata jendral wanita itu sesudah keheningan yang cukup lama. "Apa yang telah anda sampaikan sangat berbeda dengan apa yang selama ini dimandatkan. Maaf, tetapi aku tidak bisa membuka gerbang Bai Di Cheng-Istana Bai Di dan tidak bisa mengizinkan siapapun, termasuk anda, untuk masuk ke sana." Setiap kata dipilihnya dengan hati-hati dan diucapkan dengan tegas. "Selain itu, ini sangat tidak masuk akal. Kenapa Kaisar Liu Bei harus susah-susah mengirim anda dari Kotaraja Cheng Du kemari untuk menangkap mata-mata Wu itu di sini dan bukan kami?"
Guan Ping tak lantas menjawab. Ia hanya mengeluarkan sesuatu. Secarik surat. Diberikannya surat itu pada lawan bicaranya. "Sebagai tambahan, jendral, mungkin ini dapat meyakinkan anda."
Kedua jendral itu membuka surat yang diserahkan Guan Ping, kemudian membacanya. Rupanya, benarlah segala cerita Guan Ping mengenai kabar dari Kotaraja Cheng Du. Di surat itu jelas memberitahukan mereka perihal semua yang telah diceritakan Guan Ping. Mengenai mata-mata Wu yang telah mengaku-ngaku dirinya Phoenix, mengenai salah seorang Wu Hu Jiang yaitu Zhao Yun yang berkhianat dan melarikan diri, mengenai Yan Lu dan Jiang Wei yang dibunuh atas hukuman karena telah melakukan persekongkolan dengannya, dan sekarang mengenai mata-mata Wu itu berusaha melarikan diri dari Shu dengan melewati Bai Di Cheng-Istana Bai Di.
Dan tidak hanya itu. Sesudah mengabarkan segala berita yang dapat membuat siapapun menahan napas itu, di bawah surat itu terdapat pesan berupa mandat untuk mereka. Mandat itu adalah agar mereka membuka gerbang Bai Di Cheng-Istana Bai Di dan mengizinkan Guan Ping masuk guna menjebak mata-mata Wu itu. Bahkan, lebih mengejutkan lagi, surat itu juga memberi mereka perintah untuk membantu Guan Ping dalam menjebak buronan itu!
Kedua jendral itu saling bertukar pandang. Yang lebih muda sekilas memandangi Guan Ping, kemudian menggeleng tanpa mengucapkan apapun.
Jendral wanita itu melipat surat pemberian Guan Ping dan meletakknya di atas meja. Tatapan matanya memandang lurus pada lawan bicaranya. "Kurasa jika Kaisar Liu Bei telah memberi mandat demikian, kami tidak punya pilihan selain menurut." Katanya tanpa menunjukkan penyesalan atau ketakutan sedikitpun. "Hanya saja, aku tidak mengerti. Kenapa anda begitu cepat menyimpulkan orang ini adalah penyeranah yang hendak mengacaukan Shu? Bagaimana jika seandainya dia benar-benar adalah Sang Phoenix yang telah kita nanti-nantikan?"
Guan Ping nyaris mendengus kalau tidak terlebih dahulu mengingatkan dirinya bahwa ini adalah jendral-jendral yang baru pertama kali ia lihat. Bahkan ia tidak pernah mendengar tentang mereka sebelumnya. Tidak ada gunanya bicara dengan mereka mengenai hal-hal seperi Phoenix.
"Apakah anda tidak mengerti apa-apa, jendral?" Tanya Guan Ping balik. "Kurasa sudah jelas bahwa Sang Phoenix tidak mungkin berasal dari Wu. Ia pasti berasal dari Shu. Dari situ saja kita sudah tahu siapa orang ini sebenarnya."
Kaget, kali ini gantian jendral yang lebih muda yang berbicara. "Ini benar-benar aneh, Jendral Guan Ping. Aku tidak tahu kalau ada ramalan leluhur yang mengatakan bahwa Sang Phoenix akan berasal dari Shu. Namun dikatakan dengan sangat jelas bahwa Sang Phoenix akan lahir bagaikan matahari yang terbit, yaitu di timur. Bukankah ini jelas-jelas menunjukkan bahwa orang Wu itu kemungkinan besar adalah Sang Phoenix?" Tanya jendral muda itu dengan dahi berkerut.
"Jadi maksud anda, Sang Phoenix akan datang ke tempat yang penuh dengan manusia barbar rendahan dan tidak berpendidikan?" Guan Ping menyahut dengan tajam. Kemarahan sedikit tersirat dalam suaranya. "Itu adalah penghinaan terbesar bagi Sang Phoenix!"
Satu kalimat itu membuat lawan bicaranya, jendral wanita itu, nyaris berdiri dan membanting meja. Syukurlah yang lebih muda telah menenangkannya.
"Oh, aku baru tahu ingat, jendral, bahwa anda lahir di Wu." Tukas Guan Ping dengan cepat sambil menyilangkan lengan. "Tidak heran anda tidak dapat menerima hal ini."
"Sebaiknya anda tidak berbicara macam-macam mengenai Wu, Jendral Guan Ping." Jendral wanita itu setengah menggeram.
Guan Ping mengangkat bahu. "Aku hanya mengatakan kenyataan, jendral. Dengan segala hormat, meskipun ini akan sangat menyinggung, tapi bandingkan ini baik-baik." Katanya. "Siapakah kaisar dari Shu? Yang Mulia Kaisar Liu Bei adalah keturunan dari keluarga kerajaan Dinasti Han Agung. Sementara keluarga Sun? Mereka itu siapa? Apa hak mereka memimpin Wu? Selain itu, lihat saja Kerajaan Wu yang begitu kecil dan nyaris tanpa kekuatan militer. Bahkan tanah Kerajaan Timur sangat tandus dan tidak cocok untuk pertanian apapun. Mereka hanya dapat mengandalkan hasil laut saja. Jendral-jendral mereka pun kudengar adalah mantan bajak laut dan perompak, bahkan mantan jendral dari musuh-musuh keluarga Sun." Tuturnya yang makin membuat lawan bicaranya panas hati. "Bukankah Shu adalah kebalikannya? Meski tidak sebesar Wei, namun kita memiliki tanah yang subur. Jendral-jendral kita pun jauh lebih terdidik dari mereka. Dan yang terutama, apakah orang-orang Wu memiliki tempat seperti Gerbang Yan Lu, Bai Di Cheng-Istana Bai Di, dan FengHuang Xian-Kota FengHuang? Tentu saja tidak, karena hanya Shu-lah yang paling pantas melihat Sang Phoenix."
Untuk menutup penuturannya yang panjang ini, Guan Ping bertanya. "Dengan segala hal ini, apakah anda masih berpikir Sang Phoenix akan memijakkan kakinya di tempat seperti itu?"
Dibutuhkan segenap daya juangnya untuk jendral wanita itu dapat menahan diri dari amarah. Ia hanya mengertakkan gigi. Syukurlah bawahannya, jendral yang lebih muda itu, berbicara untuknya.
"Jendral Guan Ping, Sang Phoenix datang bukan untuk membawa kedamaian bagi Shu saja. Ia datang untuk memberi kedamaian bagi seluruh China yang tak pernah berhenti melihat perang sejak beribu-ribu tahun lalu." Katanya dengan nada bijak, sebijak yang ia bisa. "Mengagung-agungkan Shu begitu rupa dan merendahkan kerajaan lain, tentu ini tidak akan sesuai dengan keinginan Sang Phoenix."
Guan Ping menggeleng perlahan. Bukan sebagai jawaban. "Sulit berbicara dengan anda berdua. Dan anda sendiri, wakil jendral, bukankah anda berasal dari Wei? Kerajaan yang penuh dengan kekejaman dan tiran seperti itu, jika Sang Phoenix memberikan kedamaian padanya juga, tidakkah terasa janggal?"
Gantian jendral yang lebih muda itu yang gusar bukan buatan.
"Maaf, tapi perintah dari Yang Mulia Kaisar Liu Bei tidak dapat menerima protes. Protes, berarti anda adalah pengkhianat kerajaan." Ucap Guan Ping tegas dan lantang, menyimpulkan segala percakapan mereka. "Anda berdua belum pernah melihat bajingan Wu itu. Jika anda melihatnya, tentu anda akan berpikiran sama dengan kami."
Sebenarnya kedua orang itu sudah ingin keluar dari tempat itu dan menghentikan percakapan yang hanya membuat mereka panas hati. Namun apa mau Guan Ping adalah utusan dari Kaisar Liu Bei sendiri, dan tentulah pangkatnya lebih tinggi dari mereka. Mereka tidak punya pilihan lain selain diam dan meladeninya. "Memangnya seperti apa orang itu?" Tanya si jendral wanita, berusaha menutupi kemarahan dalam suaranya.
"Dia berpakaian Gaibang. Tidak ada satupun yang luar biasa darinya. Jika ia melintas, tidak akan ada orang yang memalingkan wajah padanya sangking biasanya ia. Tidak ada bedanya dengan manusia biasa." Guan Ping memulai, sambil mengingat-ingat mantan sahabatnya itu dalam kepalanya. "Jangankan untuk menurunkan api dari langit dan menghanguskan, untuk melawan jika ia ditekan saja ia tidak sanggup." Dalam suara Guan Ping, terdengar nada merendahkan yang sangat kentara. Kedua jendral itu hanya mendengarkan namun tak lantas memberi komentar apapun.
Kedua jendral itu kembali menukar pandangan dan pikiran melalui sorot mata mereka. "Baiklah. Kurasa aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah dari Kaisar Liu Bei, Jendral Guan Ping." Katanya pada akhirnya. "Sebagai jendral yang bertugas menjaga Kota Yong An, akan kubukakan gerbang Bai Di Cheng-Istana Bai Di pada pintu Kai-Buka. Namun jika aku mendengar ada orang yang masuk ke dalam dan hilang, aku tidak bertanggung jawab."
"Aku meminta suatu hal lagi." Balas Guan Ping cepat. "Bai Di Cheng-Istana Bai Di mempunyai pintu yang terbuka ke arah Shu, sementara pintu seberangnya ke Wu. Yang aku ingin kalian buka adalah pintu yang menghadap ke Wu."
Jendral wanita itu membelalakkan mata, sekali lagi ia membentak dengan sengit. "Membuka pintu yang menghubungkan ke Wu?! Lalu anda masuk melalui pintu itu? Itu berarti kami harus menarik penjagaan di garis perbatasan demi anda bisa masuk! Memangnya kenapa anda harus masuk melalui pintu yang di Wu?!" Serunya dengan nafas memburu. "Yang benar saja! Mana mungkin Kaisar Liu Bei mengganti mandatnya untuk menguatkan penjagaannya hanya dalam sekejap dan..."
Namun perkataannya tidak akan pernah ia selesaikan. Jendral yang lebih muda menepuk bahunya dan menjawab Guan Ping. "Baiklah, kami akan membuka kedua pintu baik yang Shu maupun yang Wu." Ucapnya, yang seketika membuat Guan Ping tersenyum puas. "Tapi kami menolak membantu." Sambungnya, dengan suara yang dingin dan rendah.
Mendengar hal ini, api kemarahan tersulut dalam hati Guan Ping. Kalau ia tidak sedang berhadapan dengan sua orang jendral asing, tentu ia sudah akan melawan mereka. Namun ini adalah jendral yang ia sendiri tidak kenal. Lagipula, untuk sementara ia membutuhkan kunci Bai Di Cheng-Istana Bai Di untuk dapat menunaikan tugasnya. Maka, daripada bertengkar, ia lebih memilih untuk berdiri dan menyudahi pembicaraan itu.
"Memang aku tidak mengharapkan bantuan kalian juga." Kata Guan Ping, sekali lagi dengan nada arogan yang merendahkan dua orang itu. "Aku tidak butuh bantuan dari orang-orang Wu dan Wei seperti kalian."
Kali ini, tanpa bisa menahan emosi, jendral wanita itu berdiri dan menggebrak meja dengan tangannya. "JENDRAL GUAN PING! KAU...!"
"Ini kenyataan, jendral. Maaf saja. Anda tahu kenapa anda ditempatkan di sini, di Kota Yong An, dan bukan di Cheng Du sebagai jendral-jendral kelas atas?" Tanya Guan Ping sambil berbalik. Matanya bertemu dengan kedua pasang mata yang memandangnya dengan penuh kemarahan seperti tatapan hewan terluka. "Sebab anda bukan berasal dari Shu. Anda tidak dapat dipercaya karena memang anda bukan orang Shu. Buktinya, kenapa sampai sekarang Kota Yong An ini miskin dan tidak berkembang? Tentu karena anda, yang satu orang Wu dan satu orang Wei, tidak kompeten dalam melaksanakan tugas anda."
"Sekali lagi kau sebut-sebut 'Wu dan Wei', 'Wu dan Wei', aku akan mengunci Bai Di Cheng-Istana Bai Di selamanya!" Seru jendral wanita itu memperingatkan. Satu jari telunjuk teracung lurus pada Guan Ping.
Namun jendral yang lebih muda itu dapat menahan emosinya lebih baik. Dengan pikiran dingin ia menjawab Guan Ping. "Maaf jika apa yang tampak di depan mata adalah demikian, Jendral Guan Ping. Namun kenapa anda tidak menyalahkan para shifu dari FengHuang Xian-Kota FengHuang? Kota ini paling dekat dengan FengHuang Xian-Kota FengHuang sehingga mereka selalu datang kemari dan meminta upeti. Bahkan mereka memeras rakyat secara langsung. Setiap kali kami akan mengusirnya, mereka akan mengeluarkan maklumat Kaisar, bahkan mengatakan bahwa menolak mereka sama seperti menolak Sang Phoenix sendiri!" Jelasnya dengan berapi-api, penuh dengan angkara murka. "Dengan semua itu, bagaimana anda bisa berharap banyak dari Kota Yong An?"
"Cih! Kalian berdua tidak perlu mengkambing-hitamkan FengHuang Xian-Kota FengHuang!" Bentak Guan Ping sengit bukan main. "FengHuang Xian-Kota FengHuang adalah permata Shu, tidak ada satupun kerajaan yang memiliki kota seperti itu kecuali Shu! Kelak jika Phoenix itu datang, ia tentu akan datang di FengHuang Xian-Kota FengHuang!"
Dengan sebaris kalimat itu, Guan Ping meninggalkan ruangan dengan langkah lebar dan cepat. Dibantingnya pintu ruangan itu keras-keras. Ia sudah tidak peduli bagaimana pandangan kedua jendral itu tentangnya. Yang pasti, kedua jendral itu telah setuju untuk membukakan gerbang Bai Di Cheng-Istana Bai Di. Dan itulah yang paling penting untuk menyelesaikan tugasnya.
Guan Ping menggeram dengan tangan terkepal.
"Aku menunggumu, Lu Xun..."
(1) Baca "Phoenix FORM: Gentle Flame" chapter 3 & 4 (Tragedy of Wujun) kalo udah lupa~
(2) Baca "Phoenix FORM: Unbroken Thread" chapter 17 (Death Sentence) kalo lupa~
(3) Nggak ngerti? Makanya... sudah saya bilang... lihatlah peta *dibacok sangking nggak penting*
(4) Basically, BAI DI CASTLE DI FANFIC INI BERBEDA DENGAN DI DYNASTY WARRIORS. Bentuk Bai Di Castle di sini agak menyerupai Liuhe Pagoda. Saya udah membuat 3D model Bai Di Castle versi Phoenix FORM Series (sok arsitek...) yang sekarang sedang dalam proses penyempurnaan... :) Well, alasan kenapa saya bikin 3D model untuk Bai Di Castle adalah, karena bentuk bangunannya sangat berhubungan dengan plot cerita (WELCOME TO ARCHITECTURE...), jadi saya rasa sodara perlu liat biar lebih jelas getu... Nanti kalo semisalkan sudah tanggal mainnya, gambarnya akan saya tunjukkin... Ehehehe...
Yups... 2 OC itu adalah jendral dan wakil jendral di Kota Yong An... Hohoho... Siapakah mereka? Tunggu tanggal mainnya...
PENGUMUMAN!
Begini... saya mengerti dan memaklumi mungkin ada beberapa dari sodara yang belum pernah melihat Gaibang itu seperti apa. Dan selama ini saya cuma menjelaskan (yang mana penjelasannya copas dari Wikipedia *dihajar*) Kebetulan saya baru aja ketemu sebuah game online dari China yang ada job Gaibang-nya...
Nah, bagi sodara yang selama ini nggak tau Gaibang seperti apa, sodara bisa cek di profile page saya, kemudian cari link yang akan membawa sodara ke gambar character design untuk job Gaibang dari game tersebut. Di sana ada beberapa jenis pakaian Gaibang yang jujur saya suka semua... Semoga membantu!
Mengenai pakaian Zhao Yun, Lu Xun, Yangmei, Zhou Ying seperti apa detailnya, itu TERSERAH sodara... Ehehehe... sodara bebas mengimajinasikan penampilan mereka seperti apa sesudah nyamar jadi Gaibang :) saya cuma memberi refrensi tentang bagaimana pakaian seorang Gaibang... hehehe...
NOTE: ingat... berhubung Yangmei nyamar jadi cowo, jadi baju Gaibangnya pun yang cowo. Plus, di cerita ini, yang nyamari jadi Gaibang ya cuma 4 You itu aja. Jiang Wei, Yan Lu, Cao Pi, Zhang He, Guo Jia, Li Dian, Ying Fang, Xiahou Ba, Sima Zhao nyamar jadi rakyat jelata tapi bukan Gaibang...
That's all for today's chap! Kalo nggak keberatan dan ada waktu, silahkan me-review! :) Updatenya minggu depan di hari yang sama!
Zai Jian...
