~~~Reply Review~~~
IXA Cross: Yahhh~ saya nggak mau Perdana Mentri Zhuge Kongming 'Sleeping Dragon' menjadi OOC di cerita saya... jadi ya saya bikin aja kayak getu~
Fang2: XDDDDD jelas, duonk~~~ Wah, makasih~~~ *meluk Fang2 balik dan juga habis itu langsung dihajar*
Bos: Puas? Puas? *niru2 Too-cool (Baca: Tukul) Arwana*
Fei Qi: Makasih... Yap ini saya lanjutkan ceritanya~
Putri: Lha emangnya lagi masak? XDDDDD WADOH! Asli saya bingung napa kalo kata2nya kayak getu selalu ditafsirkan demikian~~~ ==a Padahal belum tentu juga artinya kayak getu~
Mocca-Marocchi: Wadoh~ Lha jangan langsung narik kesimpulan getu, donk~ XDDDD WOGH O.o dulu saya pernah bilang getu? o.O Astaga sungguhan saya lupa! *dihajar masa* Ampunilah hamba~~~ *berkowtow 1000x*
Fansy Fan: Ahhh... yes... I think I'm just too cruel of an author... T-T Poor him... and plus forgive me... *kowtow 1000x*
WOKEY! Jadi ini adalah chapter terakhir dari Cheng Du arc! Sesudah ini kita akan masuk arc baru *coret*yang belum saja tentukan judul arcnya*coret* Yang pasti, saya menjanjikan bahwa cerita gaje yang maha mbuletisasi ini sebentar lagi akan menemui titik baliknya~~~ Jadi, kita nggak perlu bergaje2 ria kelamaan lagi~~~
Udah... saya nggak mau banyak cing-cong lagi~ saya belum selesai desain rumah saya buat tugas saya sebagai seorang arsitek *coret*yang autis*coret*
Gongzhu: Putri
Xiansheng: Mr. / Mister
Jiang Wei
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Sudah tiga minggu sejak Lu Xun, dengan nama itu Phoenix itu dipanggil, tiba di kediaman Perdana Mentri. Aku juga tinggal bersama dengan Perdana Mentri sehingga walhasil, setiap hari aku bersama dengannya! Sungguh menyenangkan bisa menghabiskan hari-hariku bersama dengannya! Yang lebih menyenangkan lagi, Perdana Mentri berkata bahwa sebenarnya ketika berada di Wu dulu, Lu Xun adalah seorang ahli strategi! Jadi, kami berdua sering belajar bersama.
Perdana Mentri sendiri berusaha melakukan segala upaya untuk dapat membebaskan Lu Xun. Tetapi apa mau Jendral Guan Yu dan Jendral Zhang Fei melarang hal itu berdasarkan surat keputusan yang dibuat oleh Yang Mulia Kaisar. Jadilah setiap hari Perdana Mentri harus bolak-balik ke istana Cheng Du hanya untuk berunding mengenai masalah ini.
Pagi ini, aku terbangun lebih pagi dari biasanya. Kulihat keluar jendela, rupanya cahaya matahari baru samar-samar menerangi langit pagi ini. Hmmm... Perdana Mentri pasti masih tidur. Lu Xun juga. Apa sebaiknya aku tidur lagi, ya? Tetapi, rasanya lebih baik aku bangun saja. Tidak ada salahnya bangun lebih pagi dari biasanya.
Aku segera mandi, kemudian berganti pakaian dan menyambar tombak berujung dua yang diletakkan di ujung ruangan. Senjata ini memang selalu kubawa kemana-mana. Sesudah itu semua, aku beranjak keluar dari kamar ini, dan belum-belum langsung disapa oleh angin pagi yang membuatku menggigil seketika. Untung saja baju yang kukenakan tidak begitu tipis.
Kakiku berjalan tanpa arah tujuan, dan tahu-tahu aku sudah berada di taman pohon Dao! Seolah-olah memang kedua kakiku sedang menuntunku ke tempat ini. Ya sudah. Aku di sini saja. Lagipula memandangi taman buah Dao di pagi hari juga menyenangkan, kok. Membuatku rasanya tentram sekali.
Sambil melihat-lihat dahan-dahan yang sudah nyaris tak berdaun karena telah melewati musim gugur, kakiku masuk semakin dalam ke dalam taman itu. Wah, ini sih sudah bukan taman lagi. Tempat ini rasanya seperti menjadi hutan buah Dao kecil yang rindang dan asri. Taman Perdana Mentri bagus sekali, ya?
Eh?
Nggg... apa itu ya?
Saat memalingkan kepalaku ke sebelah kanan, aku melihat sebuah cahaya yang terang dari balik sebuah deretan pohon. Cahaya yang benar-benar luar biasa! Rasanya bisa membutakan mata siapapun yang melihatnya! Sungguh, cahaya seperti ini belum pernah kulihat sebelumnya seumur hidupku! Eh, tunggu. Aku merasa... aku pernah melihatnya meski cuma sekali!
Tapi... kapan?
Kepalaku mulai pening. Tiba-tiba saja sebuah pemandangan muncul begitu saja di otakku. H-hei... kenapa aku melihat sebuah penjara? Sebenarnya, apa yang sedang ditunjukkan oleh ingatanku? D-dan... di ujung lorong penjara yang panjang itu, pintu terbuka. Apa itu? Cahaya terang... cahaya terang yang sama dengan yang terjadi saat ini! Lalu, dari pintu itu, seseorang masuk. Rupanya, orang itulah sumber cahayanya!
D-dan... orang itu...
Segera aku memalingkan wajahku lagi. Mungkinkah... mungkinkah di balik pepohonan itu...
"Lu Xun!"
Ya Tian! Apa yang sedang terjadi? Aku benar-benar takjub, tetapi luar biasa senangnya! Kurasa sebentar lagi aku diizinkan melihat sesuatu yang luar biasa! Tanpa menunggu disuruh dua kali, aku segera berlari ke arah cahaya itu dan mengintip dari balik pepohonan. Sebuah... sebuah pemandangan yang mungkin hanya aku saja yang dapat melihatnya, dan yang mungkin hanya dapat terjadi sekali seumur hidupku!
Segala perasaan bercampur aduk di kepalaku. Rasa takjub, heran, kagum, penasaran, senang, keingintahuan, tetapi juga ketakutan dan kegentaran yang bukan main membajiri batinku saat aku melihatnya. Apakah aku... sedang melihat sesuatu yang tidak boleh kulihat? Ahhh... Tidak, kan? Sebab, sekali melihatnya, aku tidak ingin melepaskan pandangan mataku lagi! Sungguh, aku benar-benar gagal bahkan untuk mengerti perasaanku sendiri saat melihat pemandangan yang bagaikan sebuah lukisan mahakarya ini!
Di tempat itu, di antara deretan pohon Dao itu, seseorang yang tidak lain dan tidah bukan adalah Phoenix itu sendiri sedang berdiri. Kedua tangannya di sisi tubuhnya terbuka sedikit. Matanya tertutup. Kulihat hembusan angin yang kuat menerpa rambutnya. Dan seperti yang kuduga, tubuhnya dilingkupi cahaya putih yang begitu indah dan megahnya tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Sebuah pilar cahaya yang keluar dari tubuhnya seperti menghubungkan antara langit dan bumi. Aku jadi tersadar kembali, Lu Xun yang selama ini berada bersamaku bukan cuma Gaibang, bukan cuma seorang ahli strategi Wu, bukan cuma seorang Pangeran Kelima Wei atau apalah itu! Bukan cuma manusia biasa!
Phoenix itu, dengan segala keindahan dan kemegahan cahayanya, berada di hadapanku sekarang!
Kedua lututku sampai tidak kuat menahan tubuhku lagi. Aku terjatuh ke tanah. Kepalaku masih menengadah melihat semua itu.
Lalu, aku mendengar sebuah suara. Suara Lu Xun.
"Baiklah, Tai Yang..." Yang kudengar adalah suaranya yang biasa. Namun kali ini terdengar sangat berbeda. Suaranya dipenuhi dengan suatu perasaan yang tidak bisa aku gambarkan. Dan sedang berbicara kepada siapa dia sebenarnya, aku juga tidak tahu. "Aku akan melakukan apapun yang kau mau."
Seraya mengatakan hal itu, Lu Xun berlutut. Dan tepat ketika dia berlutut, aku melihat cahaya yang lain lagi! Kali ini cahaya yang lebih kuat! Bahkan... aku sampai harus menutup mataku sendiri kalau tidak ingin menjadi buta! Rasanya seolah aku melihat matahari di depan mataku sendiri, menghantamku dengan cahayanya yang tak terkatakan lagi! Secara tak sadar, kakiku mulai bergerak mundur, berusaha menjauh dari tempat itu.
Sekali lagi aku mendengar suara. Suara yang terdengar sangat jauh sekali. Jauh dan sama sekali tidak aku tahu apa artinya. Tetapi jelas. Suara itu terdengar seperti suara Lu Xun. Tetapi... aku tahu pasti itu bukan suaranya. Aku tahu pasti itu bukan suara manusia!
Sungguh yang kualami ini adalah sebuah hal yang sangat di luar pikiranku. Aku tidak menyangka bahwa kejadian yang seperti telah menyatukan Langit dan Bumi ini terjadi saat ini, detik ini, di sebuah hari yang biasa. Di kerajaan Shu, di Cheng Du, di kediaman Perdana Mentri, di depan mataku! Aku bagaikan seorang anak kecil yang bodoh dan tidak tahu apa-apa yang menemukan suatu harta karun terpendam, dan sekarang benar-benar bingung dan tidak tahu apa yang harus kulakukan.
Jantungku tidak mau tenang tidak peduli berapa kalipun aku memaksanya untuk tenang. Bahkan, nafasku rasanya seperti tertahan saat aku melihat seluruh pemandangan ini! Tubuhku seperti lumpuh, benar-benar tidak bisa kugerakkan meskipun kepalaku yang kacau ini dengan gila-gilaannya memerintahkanku untuk melakukan lari, untuk berteriak, untuk melihat lagi, untuk apapun!
Ya Tian...
Apa yang membuatku begitu beruntung sampai bisa melihat ini?
...
Entah sudah berapa lama waktu berlalu dengan aku hanya menutup mataku. Akhirnya sensasi itu perlahan menghilang. Tapi, aku masih tidak berani membuka mata, takut jika melihat cahaya itu lagi maka aku akan benar-benar kehilangan pengelihatanku. Satu hal yang pasti adalah, aku akan membayar apapun demi bisa melihat pemandangan itu lagi, bahkan kalau seandainya aku harus mati sesudah itu.
Tiba-tiba pundakku ditepuk dengan lembut oleh seseorang.
"Jiang Wei, bukalah matamu."
Itu suara Lu Xun.
Perlahan, aku mengikuti keinginannya. Tanganku yang masih menyembunyikan wajahku ini perlahan turun, masih dengan bergetar. Kelopak mataku terbuka perlahan-lahan untuk menemukan, aku tidak kehilangan pengelihatanku. Tempat itu juga kembali menjadi hutan pohon Dao milik Perdana Mentri yang biasa. Dan Phoenix di depanku juga kembali menjadi laki-laki muda biasa.
Lu Xun kini terlihat tak berbeda dari sebelumnya. Ya, seperti manusia biasa saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Padahal, baru saja beberapa menit yang lalu aku melihatnya dalam keadaan yang jauh berbeda.
"Lu Xun..." Kedua tanganku yang masih bergetar mendarat di bahunya. "A-apa itu... tadi? Kenapa... bisa? Siapa itu... Tai Yang?" Tanyaku bertubi-tubi tanpa aku sendiri mengerti apa yang sedang kutanyakan sebenarnya. Suaraku yang terputus-putus pasti terdengar tidak jelas.
Perlahan Lu Xun membantuku untuk berdiri. Sial... kakiku masih bergetar hebat. Susah sekali untuk dipaksa tegak! Pada akhirnya, Lu Xun-lah yang membantuku berjalan, menuntunku ke luar dari hutan Dao kecil itu. Dia mendudukkanku di sebuah kursi batu berhadapan dengan sebuah meja batu dimana terdapat papan xiangqi di atasnya. Tanpa mengatakan apapun, dia masuk ke dalam dapur dekat taman itu dan kembali dengan sepoci teh yang masih hangat. Sesudah menuangkan teh dan memberikan satu gelas padaku, dia duduk di kursi yang berhadapan denganku dan baru menjawab pertanyaanku.
"Tadi aku baru saja bertemu dengan Tai Yang..." Jawabnya dengan senyuman yang sangat lembut.
Sambil menenangkan diri dan menyeruput teh hangat itu, aku bertanya. "Tai Yang itu siapa?" Aku memang penasaran. Bukan sekedar bertanya untuk basa-basi saja! Tai Yang itu... bukankah kalau tidak salah artinya matahari? Kalau begitu, pantas saja cahaya yang terang itu tidak dapat kulihat!
"Tai Yang itu diriku yang seorang lagi." Jawabnya sambil menunjuk pada dirinya sendiri, tanpa menawarkan penjelasan lebih lanjut.
"Dirimu... yang seorang lagi?" Aku jadi bingung mendengarnya. Mataku menyipit. "Siapa dia? Kenapa aku tidak bisa melihatnya?"
Lu Xun cuma tertawa kecil, seolah pertanyaanku adalah pertanyaan anak kecil yang akan dengan mudah dapat dijawabnya. "Bisa, kok." Jawabnya. "Aku kan? Aku ini adalah Tai Yang yang bisa terlihat olemu." Dia kemudian menatap jauh ke atas langit sambil menerawang. Heran, saat melihat matahari kenapa dia tidak silau? "Sama seperti matahari, kau tidak pernah bisa melihatnya. Kau cuma melihat cahayanya saja."
Hah? Tentu ini membuatku heran bukan buatan! Aku tentu mana bisa mengerti semua hal ini? Bahkan dia sedang bicara apa saja, aku sama sekali tidak tahu!
Tapi... hei, bukankah yang penting adalah apa yang ingin disampaikannya? Melalui kejadian itu, benar-benar bisa melihat bahwa Lu Xun yang di depan mataku ini memang sepenuhnya Phoenix! Dan dirinya yang seorang lagi... ah, meskipun untuk saat ini aku tidak mengerti apa maksudnya, aku menerima saja.
Tanpa sadar, aku menggenggam tangannya.
"Jiang Wei?" Tanyanya dengan alis terangkat. "Kenapa?"
Aku tak lantas menjawabnya. Tangan Lu Xun ini... bukan sebuah tangan yang istimewa. Benar-benar tangan biasa saja seperti yang dimiliki orang-orang lain pada umumnya. Kulit telapak tangannya agak kasar, mungkin karena hidupnya sebagai Gaibang dan juga bahwa dia bertarung menggunakan pedang. Jari-jarinya yang panjang dan lembut seperti milik ahli strategi pada umumnya. Yah, tangan Perdana Mentri juga seperti ini. Rambutnya berwarna coklat tanah, bukan suatu warna yang luar biasa. Satu-satunya hal yang berbeda darinya hanya dua bola matanya yang berwarna emas itu saja.
Tapi... aku jadi merinding sendiri membayangkan, tangan ini yang telah memusnahkan berpuluh-puluh Yaoguai, memadamkan api yang berkobar-kobar, juga yang satu-satunya tangan yang bisa menggunakan senjata kepunyaan Phoenix saja. Betapa anehnya...
"Jiang Wei..." Panggilannya membuyarkan lamunanku. Kulihat sekarang Lu Xun yang sekarang kelihatan gugup. Wajahnya sedikit memerah. "Ada apa dengan tanganku?"
Ups! Benar juga! Sedari tadi aku terus-menerus menggenggam pergelangan tangannya sampai tangannya memutih. Ya Tian! Apa yang kulakukan? "Ah! Tidak ada apa-apa!" Jawabku sambil cepat-cepat melepaskan tangannya. Kemudian aku membungkuk berkali-kali sambil meminta maaf. Dia sendiri jadi salah tingkah melihatnya.
"Maaf! Maaf! Aku... aku tidak sengaja!" Padahal, dilihat bagaimanapun aku sudah jelas-jelas sengaja melakukannya.
Lu Xun cuma menggaruk kepala saja, jadi serba salah bukan main. "Tidak apa-apa... tidak apa-apa..."
Untuk menghilangkan suasana yang sangat tidak nyaman dan kelewat aneh ini, aku bertanya lagi. "Hmmm... ngomong-ngomong, Lu Xun," Kulihat dia juga sedang menyeruput tehnya. "Kenapa kau memanggilnya Tai Yang? Apa karena memang dia bisa mengeluarkan cahaya yang seterang itu sampai rasanya membuat mata jadi buta?" Tanyaku. "Oh, tapi kau hebat benar bisa tetap membuka mata!"
Dia mengerjap-ngerjapkan mata karena bingung. "Cahaya apa?" Balik bertanyalah ia. "Apanya yang membutakan? Tai Yang memang selalu seperti itu, tetapi melihatnya biasa saja, kok." Nah, gantian aku yang memasang tampang bertanya-tanya. Lu Xun meletakkan satu tangan di bawah dagunya, berpikir keras. "Ohhh... mungkin itu sebabnya Tai Yang memang tidak bisa dilihat orang lain. Dan juga itu sebabnya dia tidak ingin orang lain melihatnya..."
Yah... terserah lah. Aku juga jadi bingung sendiri dengan segala keajaiban ini.
"Oh, dan kalau kau bertanya kenapa aku memanggilnya Tai Yang..." Lanjutnya. "... sebenarnya aku juga bingung kenapa..."
Malaku melotot dengan mulut menganga lebar. Rahangku rasanya sampai jatuh menyentuh tanah. HEEEEEHHHH? Bagaimana bisa tidak terperanjat sekali mendengar jawabannya? Lu Xun cuma tersipu malu sambil tertawa kecil melihatku yang heran bukan buatan. "Yang benar saja, Lu Xun..." Ujarku sambil menghela nafas panjang. "Melakukan sesuatu tanpa sebab dan alasan yang jelas rasanya tidak seperti kau."
"Hmmm..." Sekali lagi Lu Xun kelihatan berpikir keras, kemudian menoleh ke segala arah seolah mencari jawaban yang tepat. Akhirnya, matanya berhenti saat melihat matahari yang menggantung di atas langit, yang dengan megahnya mencurahkan dataran China ini dengan cahayanya yang hangat meski tengah musim salju. "Hei, lihat itu, Jiang Wei!" Serunya sambil menunjuk pada bola cahaya besar di langit itu.
"Matahari..." Gumamku. "Memangnya kenapa?"
"Yahhh... mungkin karena Tai Yang memang seperti itu... seperti matahari..." Jawabnya dengan suara yang pelan dan lembut. "Hangat sekali rasanya... Kalau melihat matahari itu, rasanya pasti semua akan baik-baik saja, kan? Setiap hari selalu tersenyum dan memberikan cahayanya untuk menerangi hari. Cahaya dan kehangatan matahari itu, sama seperti Tai Yang juga, rasanya dekat sekali seperti seorang ayah. Benar-benar nyaman dan tenang sekali kalau bisa bersama-sama dengan Tai Yang!"
Penuturannya yang panjang itu memang masuk ke otakku. Tetapi yang lebih membuatku berkesan bukanlah penuturannya, melainkan wajah dan air mukanya saat mengatakannya. Dia kelihatan begitu senang, begitu bahagia sekali. Meskipun aku masih tidak mengerti tentang Lu Xun dan dirinya yang seorang lagi itu, aku tahu bahwa keduanya pasti memiliki hubungan yang benar-benar indah sekali, benar-benar dekat.
Benar-benar... tidak bisa dipisahkan.
Sekali lagi kulihat dia masih dengan senyum cerah yang sama memandangi matahari yang menggantung di atas langit biru. Semakin lama matahari semakin tinggi. Wajahnya yang tertimpa cahaya putih itu seolah kelihatan bersinar, terutama kedua mata emasnya yang bening dan jernih seperti air.
Betapa beruntungnya aku bisa melihat semua ini...
Kami berdua tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Lama sekali. Tak terasa teh dalam poci di tengah meja semakin lama semakin berkurang, hingga menyisakan ampasnya saja. Pantas saja Perdana Mentri bisa berada di taman pohon Dao ini lama sekali. Memang benar tempat ini sangat menenangkan, rasanya siapapun yang ada di sini bisa masuk ke dalam dunia khayalannya masing-masing. Aku juga. Tak henti-hentinya aku tercengang-cengang jika mengingat semua hal yang telah terjadi padaku. Sejak kanak-kanak aku sudah mendengar berbagai hal tentang Phoenix, yang kalau datang akan membawa kedamaian di seluruh China ini. Tak kusangka-sangka, Phoenix yang selalu kudengar semasa kecil itu ada di depanku sekarang!
Hmmm... aku jadi tertawa kecil membayangkan. Bagaimana masa kecil Lu Xun, ya? Kira-kira apa yang ada di pikirannya ketika dia mendengar kisah tentang Phoenix yang akan membawa kedamaian itu? Mungkin dia akan tersenyum-senyum sendiri sambil dalam hati tertawa kecil dan berseru 'itu aku! Itu aku!' tetapi terus menutup mulut dan bersabar sambil mengingatkan dirinya sendiri belum saatnya mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya. Benar juga... masa kecil Lu Xun seperti apa, ya? Apa masa kecil yang sangat menyenangkan?
Mungkin dia adalah seorang anak kecil dengan pikiran yang sangat sederhana dan polos, yang kalau musim semi tiba suka bermain-main di taman dan mengejar kupu-kupu. Yang senang menerima tanghulu pada saat musim salju. Di musim gugur akan suka berjalan-jalan melihat daun berguguran sementara orang-orang melaluinya dan tidak menyadari siapa dia sebenarnya. Kalau di musim panas, dia akan tiduran di atas rumput yang tebal sambil memandang burung layang-layang yang beterbangan di langit.
Atau mungkin... sebaliknya? Apa masa kecilnya dilalui dengan penuh kesedihan?
Aku tidak tahu, dan kupikir bukan hakku untuk tahu.
Yang pasti, ketika dia sedang sendirian, aku yakin burung-burung di langit tidak akan takut terbang mendekatinya. Karena mereka semua tahu dia adalah Phoenix, sahabat semua makhluk. Setiap bangun pagi, tentu dia akan disapa oleh matahari yang tersenyum memandang mata emasnya yang indah itu.
"Jiang Wei..."
Seandainya saja... aku mengenalnya sejak kecil...
"Jiang Wei, kau mendengarku?"
... tentu menyenangkan sekali, ya?
"Kau baik-baik saja? Jiang Wei!"
"Whoa!" Seketika itu juga aku tersadar dari lamunan panjangku! Ya Tian, panggilan Lu Xun membuatku kaget bukan buatan sampai jantungku copot rasanya! Astaga... memalukan benar aku ini, di pagi ini saja sudah dua kali aku melamun di depan Lu Xun! "Maaf! Aku tidak mendengarmu, Lu Xun."
Dia cuma melemparkan senyum saja. "Daripada kita diam-diam saja tidak jelas di sini, bagaimana kalau kita main ini?" Katanya sambil mengangkat dua buah keping bidak xiangqi (1).
"Boleh juga!" Aku langsung bersemangat menyambut tantangannya. Jadi, segera kuambil bidak berwarna hitam sementara dia mengambil yang berwarna merah. Kami pun menyusunnya di atas papan kayu itu.
Lu Xun memasang wajah dan senyum meremehkan. "Aku ingin tahu kehebatanmu, Jiang Wei."
"Jangan remehkan aku!" Balasku. Sejujurnya, tampangnya yang seperti itu sangat tidak Lu Xun sekali. Malah wajahnya jadi benar-benar lucu dengan ekspresi seperti itu.
Maka, kami pun memulai permainan.
-o-o-o-o-o-o-
Luar biasa! Baru kali ini aku bermain luar biasa seru seperti ini!
Biasanya, lawan mainku adalah para jendral saja atau Perdana Mentri. Tetapi, berkat kebolehanku dalam strategi, aku bisa menang dari para jendral itu dengan cukup mudah. Sementara melawan Perdana Mentri, tentu saja aku yang dengan mudah dapat dikalahkan olehnya. Nah, melawan Lu Xun, aku seperti akhirnya menemukan lawan yang sepantaran denganku! Kami berdua bergelut dengan masing-masing enam belas bidak milik kami.
Yah, bagaimanapun, aku tidak mau kalah dari seorang ahli strategi Wu! Apalagi, dia cuma lebih tua setahun dariku. Kalau cuma xiangqi, aku juga ingin menunjukkan kebolehanku! Benar-benar tidak terasa berjam-jam sudah berlalu, padahal baru saja kami bermain satu kali! Sayangnya, pada permainan pertama, aku kalah. Dia dengan pandainya memainkan bidak bing-prajurit, hingga berhasil melewati sungai dan masuk dalam bentengku! Ada-ada saja. Dia sukanya menggunakan prajuritnya untuk menahan pergerakan ma-kudaku.
Tak terasa matahari sudah mulai condong ke barat. Sekarang kami berada dalam permainan yang kedua, yang juga sebentar lagi akan selesai. Tetapi kali ini hasilnya berbeda. Sesudah permainan pertama, aku jadi tahu dia suka sekali menggunakan bidak yang sepertinya tidak berguna, bidak bing itu. Ini benar-benar sangat mengecohku yang biasanya menganggap bidak itu tidak ada gunanya. Makanya aku segera memakannya terlebih dahulu sebelum mengacaukan keadaan. Dan benarlah itu, dia posisinya sekarang terjepit.
Yah, sekarang shuai-panglimanya sudah terkepung. Dia kelihatannya sedang berpikir keras bagaimana cara memutar balik situasi ini. Aku sudah zhao jiang-menangkap panglimanya (2). Pilihannya sekarang hanya diam atau berjalan maju. Kalau dia menggerakkan bidak shuai-nya ke depan, aku akan memakannya dengan bidak bing-ku. Tetapi jika dia diam saja, bidak pao-meriamku lah akan memakannya.
"Ah! Tidak bisa!" Lu Xun mendengus. "Jiang shi (3)! Kau yang menang, Jiang Wei!"
"Ha! Rupanya aku tidak buruk-buruk juga, ya!" Seruku girang.
Dia tertawa. "Ya, sekarang kita berimbang!"
Baru saja akan melanjutkan permainan lagi, tiba-tiba dua orang muncul dari dalam rumah. Yan Lu dan Perdana Mentri Zhuge Liang rupanya memperhatikan permainan kami sedari tadi!
"Permainan yang menyenangkan sekali!" Seru Yan Lu seraya berlari dan duduk di kursi itu juga, mengelilingi meja tempat papan xiangqi itu diletakkan. "Sekali-sekali aku juga ingin memainkannya!"
Aku tertawa hangat. "Memangnya kau bisa, Yan Lu? Permainan ini susah dan banyak aturannya, lho!"
"Hmph! Kau jangan meremehkanku." Ujar Yan Lu memasang tampang sombong yang pura-pura sambil menyilangkan lengannya. "Kalau kau saja sudah kewalahan begitu melawan Lu Xun, kujamin kau tidak akan menang melawanku!"
Lu Xun pun ikut tertawa kecil, sementara tawaku makin keras saja. "Kau? Jangan bercanda!"
Perdana Mentri Zhuge Liang ikut duduk di sebelah kami sambil mengipasi dirinya dengan kipas bulu berwarna putih miliknya itu. "Kau jangan meremehkan gongzhu Yan Lu begitu hanya karena kau belum pernah melawannya, Jiang Wei." Sahut Perdana Mentri sambil tersenyum lebar. "Kemampuan Yan Lu hampir sama denganku."
"Apa?" Mataku terbelalak lebar, menatap tidak percaya. "Boleh! Boleh! Coba main denganku!"
Baru saja Lu Xun akan berpindah, Yan Lu sudah menghentikannya. "Hei! Hei! Aku tidak berkunjung kemari hanya untuk bermain xiangqi!" Tukasnya sambil menyuruh Lu Xun duduk kembali. Kini dia sibuk sekali meletakkan kertas-kertas yang dibawanya di atas meja. "Aku kemari untuk memberitahukan pada kalian sesuatu yang sangat penting."
Nada suara Yan Lu yang serius bukan main itu membuat kami semua jadi tegang sendiri. Aku mengerutkan dahi sambil menatap putri Shu itu dalam-dalam. Sesekali kupandangi kertas-kertas yang berserakan di depannya itu.
"Kau ingin memberitahukan apa, gongzhu?" Tanya Lu Xun dengan nada yang kelewat sopan.
Yan Lu terhening sejenak sebelum menjawab. "Mulai sekarang, tolong panggil aku 'Yan Lu' saja, Lu xiansheng."
"Kalau begitu, kau juga panggilah aku 'Lu Xun' saja." Balasnya dengan sopan. Ah iya. Aku lupa memberi tahu Lu Xun bahwa Yan Lu sangat tidak suka dipanggil 'gongzhu', entah apa alasannya. Dia lebih suka dipanggil dengan namanya. Ngomong-ngomong tentang itu. Kira-kira Lu Xun sudah tahu arti nama Yan Lu tidak, ya?
Tanpa banyak berbasa-basi lagi, Yan Lu langsung memulai dengan mengutak-atik kertas-kertas yang sepertinya adalah catatannya itu. "Selama tiga minggu ini aku sudah menyelidiki siapa yang telah memeras dan menyiksa Lu Xun untuk mendapatkan pernyataan itu." Ungkap Yan Lu sambil memandang kami bertiga. Mataku langsung terbuka lebar karena keterkejutan dan kegembiraan. Anehnya, pada saat yang sama kulihat Lu Xun terhentak karena terkejut, tetapi tidak menunjukkan kesenangan melainkan kegugupan. Sementara Perdana Mentri masih santai mengipasi dirinya, sepertinya sama sekali tidak kaget.
"Aku sudah menemukannya." Lanjut Yan Lu.
"Benarkah? Siapa?" Tanyaku langsung.
"Sayang sekali. Sangat tidak disangka-sangka pelakunya justru adalah para pengawal yang ditugasi menjaga Wenchangdian sendiri." Mendengar ini, aku benar-benar terkejut! Dasar sial! Pengkhianat mereka semua! "Pagi-pagi benar hari itu, mereka menyeret Lu Xun ke penjara istana dan menyiksanya di sana."
"Tunggu sebentar." Lu Xun menyela dengan suara yang sangat tenang. "Bagaimana kau bisa tahu bahwa itu mereka, Yan Lu?"
Yan Lu menunjukkan kertas-kertas yang telah dibawanya. "Aku mencatat siapa saja orang-orang yang bertugas jaga pada hari itu. Dan akhirnya kutemukan bahwa malam sebelum kau dijemput, Lu Xun, pengawal-pengawal yang berjaga adalah orang-orang ini. Tetapi anehnya, karena suatu sebab yang tidak diketahui, mereka mendapat perintah dari 'atasan' untuk meninggalkan wilayah Wenchangdian." Lu Xun mengangguk mengerti dan tetap mendengarkan penjelasan Yan Lu. "Yang lebih menarik, dayang-dayang itu juga mendapat perintah untuk membersihkan Wanyuandian. Seorang dayang mengaku, ketika dia akan mengunci pintu kamarmu dari dalam, pengawal-pengawal yang bertugas mengatakan tidak perlu karena esok pagi-pagi sekali kau akan dijemput."
Aku mengangguk pelan. "Luar biasa! Bagaimana kau bisa menemukan informasi sebanyak ini?"
"Sangat sulit." Yan Lu mengaku. "Tidak ada satupun di antara mereka yang bisa diajak bekerja sama. Selain itu, aku melakukan penyelidikan ini diam-diam dan tanpa diketahui siapapun." Jelasnya panjang lebar. "Usut punya usut. Akhirnya aku tahu kenapa mereka tidak berani mengatakan apapun pada awalnya."
"Kenapa?" Tanyaku dan Lu Xun bersamaan.
"Karena yang mengatur rencana ini semua adalah..." Yan Lu menjawab dengan suara rendah sambil menggertakkan gigi. "... dua jendral yang paling berpengaruh di Shu. Jendral Guan Yu dan Jendral Zhang Fei."
Rasanya... aku benar-benar tidak percaya pada pendengaranku! Kedua jendral itu... melakukan hal ini pada Lu Xun? Benarkan? Kupandangi Lu Xun yang tidak mengatakan apapun selain menundukkan kepalanya dan menatap rerumputan yang tumbuh di bawah kakinya. Aneh juga! Kenapa baik Lu Xun maupun Perdana Mentri sepertinya tidak terkejut akan hal ini?
"Yan Lu? Kau serius?"
Dia mengangguk mantap. "Bahkan sebelum memulai penyelidikan, aku sudah bisa menebak siapa pelakunya. Tetapi tanpa pemeriksaan, bukti, dan saksi yang jelas, aku tidak berani menyimpulkan seenaknya. Sekarang bukti ada. Pengawal-pengawal itu sendiri yang sudah memberikan kesaksian."
APA? Jadi... di antara kami berempat... hanya aku yang sama sekali tidak tahu apa-apa? Lu Xun sepertinya sudah tahu, begitu juga Perdana Mentri. Dan baru saja Yan Lu menyatakan hal yang sama! Ini benar-benar... sebuah kabar yang luar bisa mengejutkannya untukku! Tak kusangka, kebencian kedua jendral itu pada Lu Xun seperti ini! Mereka... orang-orang yang mengerikan!
Aku menggebrak meja itu kuat-kuat, sampai membuat mereka bertiga kaget. Kesal sekali rasanya! Rupanya orang-orang saudara angkat Kaisar sendirilah yang melakukannya! "Sial!" Seruku penuh rasa frustasi. "Kalau begini, kita tidak bisa melakukan apa-apa! Jendral-jendral itu punya pengaruh besar!"
"Tetapi bagaimanapun kebenaran harus ditegakkan!" Balas Yan Lu mantap. "Asal kita punya semua bukti ini, kita dapat membuktikan bahwa mereka bersalah!"
Yang bisa kulakukan hanya mendengus kuat-kuat. "Yan Lu, Yang Mulia Kaisar tentu akan membela adik angkatnya lebih dari kita semua!"
"Yan Lu, Jiang Wei. Kalian berdua tenanglah." Mendengar perkataan Perdana Mentri, kami kembali duduk di kursi, meski perasaan kami berdua masih bergejolak. "Memang kemungkinan besar Yang Mulia Kaisar lebih membela Jendral Guan Yu dan Jendral Zhang Fei. Tetapi tindakan mereka kali ini sangat keterlaluan. Kurasa asal kita bisa menyatakan kebenaran ini, Yang Mulia Kaisar tentu akan mendengarkan kita."
"Benar!" Yan Lu sekali lagi mengangguk, sebelum tatapan tajam mata hijaunya mengarah padaku. "Kerajaan Shu ini berusaha bagaimanapun caranya untuk menghindari penganiyayaan, berbeda dengan Kerajaan Wei! Sampai ketahuan ada kejadian seperti ini, tentu pelakuknya akan dihukum berat! Apalagi jika melakukan penganiyaan kepada..." Yan Lu terdiam sejenak. Pandangan matanya itu melembut dan makin sayu, terarah pada Lu Xun. Aku sendiri sekarang memandang ke arah Lu Xun yang masih tertunduk. "... seorang Phoenix."
Aku mengangguk mengerti. Satu tanganku memangku dagu kemudian memalingkan wajah ke arah Perdana Mentri. "Bagaimana menurut Perdana Mentri? Perlukah kita melaporkan hal ini pada Yang Mulia?"
Perdana Mentri Zhuge Liang masih mengipasi dirinya. "Sebaiknya kau tidak bertanya padaku, Jiang Wei." Jawabnya. "Tanyakan pada sang Phoenix sendiri."
Sekarang tiga pasang mata memandang Lu Xun. Lu Xun sendiri agak terkejut dipandangi begitu. Dia berpikir sejenak, mendesah, dan baru sesudah itu menjawab. "Perkara ini..." Katanya. "... disimpan saja. Tidak perlu dikatakan pada siapapun."
Tentu saja ini membuat siapapun tidak puas! Jangan Yan Lu yang bekerja keras mati-matian meringkus kasus ini, aku yang hanya mendengarnya saja kesal bukan main! Putri itu, yang memiliki jiwa keadilan serta kebenaran berkobar-kobar dalam dirinya, langsung membentak dengan sengit bukan buatan. "Tidak bisa begitu, Lu Xun! Kasus ini tidak bisa dibiarkan begitu saja!"
Lu Xun hanya menjawabnya dengan tenang dan lembut, seperti biasa. "Aku bukannya tidak menghargai usaha kerasmu, Yan Lu. Tetapi dengarkan baik-baik." Katanya. "Anggap saja mereka sudah mendapat hukuman dengan kita berempat sudah tahu tentang kejahan mereka, bukan?"
Aku membuang nafas keras-keras. Ya, ya, ya! Aku tahu Phoenix itu juga memiliki sebuah unsur jin-pengampunan yang sangat kuat. Tapi ini kan sangat keterlaluan? Kalau hukum tidak ditegakkan, mau jadi apa kedua jendral itu? Mentang-mentang mereka paling berkuasa lalu dapat berbuat seenaknya? Tidak bisa jadi! "Tapi hukum harus dijalankan, Lu Xun! Yang mereka lakukan adalah kejahatan juga!"
"Ya, tapi pada akhirnya kan aku tidak menandatangani surat itu?" Tanyanya balik. "Sudahlah... anggap saja kasus ini sudah selesai."
Yan Lu mendengus kesal, kelihatan sekali kalau dia jengkel bukan buatan. "Kami ini ingin membelamu! Kenapa kau bukannya setuju malah menolak usul kami?"
"Kau tidak perlu melindungi mereka, Lu Xun!" Imbuhku juga.
Pada akhirnya, yang bisa dilakukan Lu Xun cuma diam dan menghela nafas panjang. Bahunya turun karena menyerah. "Baiklah, akan kuberi tahu alasannya." Jawab Lu Xun dengan nada yang aku tahu pasti sedang memaksakan kesabaran luar biasa. "Tentunya kalian berdua tahu bukan bahwa Jendral Guan Yu dan Jendral Zhang Fei termasuk dari segala orang-orang yang berjuang demi Kerajaan Shu ini?" Tanyanya, yang segera kami berdua balas dengan anggukan. "Di antara mereka semua, ada yang menjadi tubuh dan jiwa kerajaan, yang lain bertarung menjadi taring dan cakarnya, yang lain lagi menjadi dasar kerajaan yang teguh. Semuanya sangat penting dan merekalah yang menjadi sandaran kerajaan! (4)"
Perkataan Lu Xun membuatku dan Yan Lu saling berpandang-pandangan. Perdana Mentri mendengarnya sambil mangut-mangut dan tersenyum, masih asyik mengipasi dirinya.
"Sekarang dengarkan baik-baik." Lu Xun melanjutkan. "Dengan melaporkan hal itu, apa yang akan didapat? Jika benar Yang Mulia mendengarkan kita, maka kemungkinan besar kedua jendral itu akan dihukum, entah hukuman ringan atau berat. Tetapi jika Yang Mulia menolak, kedua jendral itu tentu akan tetap menyimpan dendam kepadaku, kepada Perdana Mentri dan kau, Jiang Wei, dan juga Yan Lu yang adalah keponakan angkatnya sendiri!"
Apa yang Lu Xun ucapkan memang benar dan logis sekali. Memang benar sih mereka pantas menerima hukuman atas kejahatan mereka. Tapi kalau mendengar perkataan Lu Xun...
Lu Xun terdiam sejenak, kemudian membuka mulutnya lagi melihat tidak ada seorang pun yang berbicara. "Aku ini memang orang asing, orang Wu. Tapi aku tahu benar, adalah taktik yang licik dan kotor jika aku membuat orang-orang di dalam satu kerajaan berperang satu sama lain. Meskipun aku seorang ahli strategi, aku sangat-sangat tidak suka dengan cara seperti itu! Setidaknya itulah yang kupelajari di Wu! Kalau sampai ini terjadi, bukan hanya aku akan memecahkan persatuan Shu, aku juga akan mempermalukan Wu!" Satu kalimat yang tegas itu mengakhiri pidato singkatnya. Tentunya semua itu membuat kami semua tercenung-cenung, diam dalam pikiran yang mendalam.
Aku dan Yan Lu masih tidak mengatakan apapun.
Karena itulah, pada akhirnya Perdana Mentri yang buka mulut. "Jadi menurutmu, apa yang harus kita lakukan, Lu Xun?"
Sebuah senyum mulai kentara di wajah Lu Xun, meski hanya sebuah senyum kecil."Ren e ren pa tian bu pa, ren shan ren qi tian bu qi-orang jahat ditakuti manusia tetapi tidak oleh Langit, orang baik dijahati manusia tetapi tidak oleh Langit." Hanya sebuah jawaban itu saja yang diberikan oleh Lu Xun. Tetapi Perdana Mentri, Yan Lu, dan aku langsung mengerti maksudnya. Yah, kurasa karena itu keinginan Lu Xun sendiri, aku tidak bisa melakukan apapun.
Kulihat pada akhirnya Yan Lu cuma bisa mendesah menyimpan kekesalannya. "Ya sudah. Kurasa aku akan menyimpan rahasia ini." Katanya pada akhirnya, membuat senyuman di bibir Lu Xun semakin lebar. "Tetapi jika kedua jendral itu melakukan hal ini sekali lagi, aku tidak akan tinggal diam!"
"Nah, begitu lebih baik!" Ujar Lu Xun sambil sekali lagi melemparkan senyum.
Pikir-pikir, kalau Lu Xun sendiri yang menjadi korban sudah mengatakan hal itu, sebaiknya aku tidak sok jagoan lagi meski aku masih tidak terima. Tapi... benar-benar mengagumkan sekali Lu Xun ini. Maksudku, memangnya apa dampaknya bagi dia jika sampai kami bermusuhan dengan Jendral Guan Yu dan Jendral Zhang Fei? Dia kan orang Wu dan bukan orang Shu? Tetapi, dia tahu benar untuk tidak membawa permusuhan di kerajaan lain. Malah sebaiknya, dia mencoba mendamaikan.
Kedamaian...
Ah, pantas saja. Dia memang Phoenix...
Hmmm? Kenapa tiba-tiba suasananya jadi hening dan terasa aneh sekali, ya? Perdana Mentri hanya mengipasi dirinya sambil memandangi pohon buah Dao satu per satu, Yan Lu membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas meja, sementara Lu Xun cuma menunduk dan menatap tanah dengan tatapan kosong. Rasanya, jadi cangung sekali... tidak enak kalau begini terus...
Kurasa, aku harus mencari sesuatu untuk menjadi topik pembicaraan...
"Yah, kalau begitu masalah ini bisa dianggap selesai!" Seruku dengan suara keras mengagetkan semuanya. "Sebaiknya, kita bicarakan hal yang lain saja!"
"Mau membicarakan apa?" Tanya Yan Lu. "Urusanku di sini sudah selesai. Sebaiknya aku kembali ke Istana."
Aku menepuk bahu Yan Lu. "Jangan! Jangan! Zhuge furen sudah menyiapkan makan malam untukmu juga! Jangan lekas pulang! Tinggalah di sini lebih lama." Akhirnya, Yan Lu kembali duduk di kursinya, sementara aku malah jadi bingung sendiri harus membicarakan apa! Hmmm...
"Oh, iya, Perdana Mentri..." Aku baru ingat ada sesuatu yang sampai sekarang masih mengganggu pikiranku. "Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Apa itu?"
Yan Lu dan Lu Xun keduanya memandangku sambil mengerjap-ngerjapkan mata, sementara Perdana Mentri memandangku seolah ia sudah tahu apa yang ada di pikiranku. Pada akhirnya, pertanyaan ini keluar juga dari mulutku. "Begini, Perdana Mentri, memang tidak penting, sih. Tapi aku sangat amat penasaran..." Gumamku sebelum melantangkan suaraku. "Di kamar tamu tempat Lu Xun tidur, aku melihat ada sesuatu yang aneh..."
"Apakah yang kau maksudkan itu..." Perdana Mentri masih mengipasi dirinya dengan tenang. "... sebuah lukisan yang terlihat janggal tetapi menyedihkan?"
Astaga! Perdana Mentri benar-benar tahu apa yang ada dalam pikiranku! "B-benar, Perdana Mentri!"
"Lukisan?" Yan Lu memandangku dengan bingung, kemudian beralih pada Perdana Mentri. "Lukisan apa?"
Lu Xun menyahut. "Oh, lukisan itu! Sebenarnya aku pun penasaran melihatnya..." Ujarnya. "Lukisan yang... entah kenapa kalau dilihat... rasanya..."
"Ingin menangis."
Semua mata menatap Perdana Mentri. Separuh wajahnya sekarang tertutup oleh kipas bulunya yang berwarna putih, membuatnya kelihatan sangat misterius dan penuh rahasia.
"Memang... lukisan apa itu?" Tanya Yan Lu yang sama sekali tidak tahu apa-apa. "Hei, Jiang Wei?"
"Lukisan yang sebenarnya cukup sederhana." Jawabku. "Jika dilihat sekilas, lukisan itu hanya bergambar seekor burung yang bertengger di atas pohon sedang mengembangkan sayapnya seolah akan terbang. Tetapi sebenarnya gambar itu ingin mengatakan sesuatu yang lebih..."
"Sesuatu... yang lebih?"
Aku mengangguk perlahan. "Benar. Jika kau melihat lukisan itu lurus atau dari atas, kau memang akan melihat burung itu sedang mengembangkan sayap untuk terbang. Tetapi kalau melihatnya dari bawah sambil menengadah, maka yang kelihatan adalah..."
"Apa?" Tanya Putri Shu itu tidak sabaran.
Dengan sendirinya aku menelan ludah, sementara Yan Lu sudah menunggu apa yang akan kukatakan. "Burung itu sebenarnya tidak sedang terbang. Sayap burung itu mengembang bukan karena ia akan terbang, tetapi karena pohon tempatnya bertengger menggunakan rantingnya untuk menusuk sepasang sayap burung itu. Selain itu, kalau kau memperhatikannya lebih baik lagi dari bawah, kau akan menemukan bahwa sebagian ranting pohon itu bukanlah ranting, tetapi ular pohon."
Yan Lu mengerutkan keningnya. "Benar-benar lukisan yang aneh... Aku ingin melihatnya!"
Jadi, begitulah pada akhirnya kami berempat menuju ke kamar tamu yang ditinggali Lu Xun. Sesampainya di sana kami langsung naik ke lantai dua dan menemukan lukisan itu. Benar seperti yang kukatakan, jika dilihat dari sini lukisan itu hanya menggambarkan seekor burung yang bertengger di atas pohon sedang mengembangkan sayapnya untuk terbang.
Perdana Mentri maju selangkah. "Lukisan ini dilukis oleh seorang anak laki-laki yang dulu bekerja padaku (5)." Jelasnya sambil menatap lukisan itu dalam-dalam. "Suatu saat, aku mengajaknya pergi ke Gunung Ding Jun untuk melihat daerah tersebut. Selama berada di tempat itu, dia terlihat aneh sekali. Sukanya berjalan sambil mengamati tempat itu seolah mencari sesuatu, bahkan sampai turun ke tebingnya dan masuk ke dalam hutan di sana. Sesampainya di rumah, ia langsung mengurung diri dan melukis lukisan ini."
Aku hanya mengangguk mengerti. Kudengar Lu Xun langsung menyahut dengan sebuah pertanyaan. "Jika aku boleh tau, dimana anak itu berada, Perdana Mentri?"
"Dia sudah tidak di sini lagi." Jawabnya. "Sesudah aku memutuskan untuk bekerja pada Yang Mulia Kaisar Liu Bei, anak itu izin untuk pergi merantau."
Pada akhirnya, Lu Xun hanya mangut-mangut mengerti.
"Lalu..." Yan Lu, masih dengan tatapan tajam melihat lukisan itu. "... bagaimana dengan lukisan ini jika dilihat dari bawah akan menampakkan gambar yang lain?"
"Ayo kemari, Yan Lu." Ajak Perdana Mentri sementara kami bertiga mengikutinya turun kembali ke lantai satu. Di sini, kami bisa melihat sampai ke lantai dua karena memang lantai dua tidak dibuat penuh menutupi lantai satu (6).
Dan dari sini, sekali lagi aku bisa melihat lukisan yang aneh tetapi sangat indah itu.
Tidak kelihatan jauh berbeda. Tetapi sekarang burung itu tidak terlihat sedang berbangga dengan mengembangkan sayapnya. Sebaliknya, dari sini aku melihat burung itu terlihat lemah sekali, dengan seluruh kebebasannya dikunci oleh kedua ranting yang menusuk sayapnya, dan beberapa ular pohon yang melilit tubuhnya.
Aneh sekali... meskipun terlihat menyedihkan, entah kenapa lukisan ini justru terlihat lebih bagus ketika dilihat dari bawah...
"Jadi..." Yan Lu mengerjap-ngerjapkan mata karena kagum. "...Inikah lukisan itu? Sungguh mengagumkan..." Komentarnya. "Tekniknya tidak terlalu rumit, gambarnya pun tidak begitu mendetail. Tetapi bisa menciptakan lukisan yang berbeda jika dilihat dari atas dan dari bawah sungguh sangat luar biasa..."
Aku menoleh ke arah Perdana Mentri. "Perdana Mentri, apakah Perdana Mentri tahu apa maksud lukisan ini? Lukisan yang ketika dilihat dari atas dan dari bawah berbeda? Jika Perdana Mentri tahu, bisakah katakan padaku?"
Perdana Mentri tak lantas menjawab, padahal aku dan Yan Lu sudah memasang wajah memohon padanya untuk menjelaskan. Sebaliknya, yang Perdana Mentri lakukan hanya balas menatap kami berdua bergantian, dengan tatapan seolah membaca pikiran kami.
Lalu ia menoleh ke belakang.
Baru aku sadar, di belakang kami masih ada Lu Xun. Dia masih dengan mata lebarnya karena penasaran dengan gambar itu, tetapi juga sedikit bergidik ngeri. Sama sekali tidak disadarinya bahwa Perdana Mentri terus melihatnya dengan tatapan tajam.
"Kau akan tahu maksud gambar ini sebentar lagi." Jawab Perdana Mentri dengan suara rendah. Tatapan matanya masih belum berpindah dari Lu Xun. "... dan kenapa kau selalu ingin menangis jika melihatnya..."
Perkataan Perdana Mentri... entah kenapa membuatku bergidik. Tatapan mataku sekarang mengikuti tatapan mata Perdana Mentri yang tetap mengarah pada Lu Xun. Dari wajahnya aku bisa melihatnya sedang memendam suatu emosi yang tak terbendung. Aku sama sekali tidak tahu apa itu. Sama sekali tidak...
Kenapa, aku jadi tidak tahu apa-apa?
Kenapa semuanya menjadi gelap dan misterius begini?
"Hei, kalian berempat! Kalian kucari dimana-mana, rupanya ada di sini!" Kudengar sebuah suara dari luar. Rupanya suara Zhuge furen. "Sebentar lagi malam siap! Ayo nikmati bersama!"
Pada akhirnya, sambil berusaha menutupi kecurigaan dan rasa penasaranku yang masih menggunung ini, aku mengikuti Perdana Mentri, Yan Lu, dan Lu Xun menuju ke ruang makan dan menikmati makanan yang telah disediakan. Tapi, syukurlah. Bagaimanapun lukisan itu masih terbayang-bayang di pikiranku, acara makan malam yang meriah dan hangat ini bisa membuatku kembali tertawa sambil menyantap makanan dengan nikmati.
-o-o-o-o-o-o-
Yangmei
Ohhh... jadi ini kediaman Perdana Mentri Shu itu? Menyenangkan juga...
Wah, benar-benar aku tidak menyangka. Sejak Lu Xun tiba di tempat ini, Shu menjadi tempat yang jauh berbeda sepertinya. Kulihat orang-orang yang dulunya murung, mulai perlahan menampakkan senyumnya. Yahhh... benar juga, sih. Selama ini kan, sebelum tiba di Cheng Du, Lu Xun sudah melakukan segala hal untuk membasmi Yaoguai-yaoguai yang mendatangkan kesedihan pada orang-orang Shu ini? Dan lagi, memang dia sudah ditunggu-tunggu?
Dari sini aku bisa melihat malam itu, Lu Xun, Perdana Mentri serta istri dan muridnya, ditambah putri Shu yang beruntung itu sedang menikmati makan malam dengan tenang. Hufff... rasanya mengesalkan sekali kalau melihat mereka semua bisa tertawa gembira, apalagi dengan ditambah seorang Lu Xun itu! Bisa-bisanya dia tertawa bersama-sama dengan orang-orang Shu yang bukan orang kerajaannya sendiri! Mereka semua itu musuh! Betapa jengkelnya aku melihat, sepertinya Lu Xun menganggap mereka semua teman. Aku jadi tambah kesal saat mengingat, bisa-bisanya dia lolos dari tuduhan membunuh Permaisuri! Sialan!
Ah, sudahlah... Yang penting aku sudah berhasil membunuh Permaisuri itu. Rasanya senang sekali!
Hmmm... rupanya membunuh orang-orang yang berkuasa dan berpangkat tinggi jauh lebih seru daripada membunuh orang biasa! Lebih banyak orang yang akan menangisi kepergian mereka, kan? Coba kulihat. Di tempat ini, kira-kira siapa ya yang bisa kubunuh lagi? Hmmm...
Bagaimana kalau Perdana Mentri dan istrinya itu? Kudengar Perdana Mentri bernama Zhuge Liang itu terdengar sangat bijaksana, dan katanya karena dialah pemerintahan di Shu ini dapat berjalan dengan sangat baik. Istrinya yang juga sepadan dengannya itu selalu mendukungnya. Wah, aku jadi penasaran. Bagaimana ya reaksi orang-orang Shu kalau sebulan sesudah kematian permaisurinya, Perdana Mentri dan istrinya juga mati? Tentu akan sangat mengasyikkan mengetahuinya!
Dan satu hal lagi yang lebih menyenangkan, Lu Xun kan ada di sini! Kalau terjadi pembunuhan lagi, tentu yang akan menjadi tersangka utama adalah dia, bukan? Coba kita lihat sekarang... kalau tidak ada Perdana Mentri itu, apa Lu Xun masih bisa selamat dari tuduhan?
Jadi, sementara mereka menikmati makan malam, aku juga sedang menyusun rencana untuk penyeranganku nanti malam.
Namun, tiba-tiba saja seseorang datang dari kegelapan.
"Yangmei..."
Aku menoleh. "Oh, kau, T'an Mo. Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa." Jawabnya santai, dengan senyum liciknya yang sudah terlihat biasa untukku itu. "Jadi, apa rencanamu sekarang?"
Aku tersenyum licik sambil tertawa terkekeh-kekeh. "Lihat Perdana Mentri Shu itu. Hari ini aku akan membunuhnya."
"Oh, menarik..."
Tetapi, meski berkata begitu, T'an Mo sama sekali tidak terlihat tertarik. Aku mengernyitkan dahi karena bingung. Kenapa dia sepertinya tidak ingin tahu begitu? Malah sebaliknya, matanya dengan tajam menatap Lu Xun... hei. Tunggu sebentar. Tatapan matanya memang tajam dan penuh kebencian, kelihatannya memang dia jauh lebih membenci Lu Xun daripada aku membencinya. Tapi yang berbeda sekarang adalah, sepertinya dalam tatapan matanya itu ada sebuah ketakutan. Aneh...
"Hei," Tanyaku sambil melambaikan tangan di depannya. "Kau kenapa?"
Kulihat tangan T'an Mo yang mengepal kuat-kuat, giginya yang menggertak penuh amarah. "Dia... makhluk itu...!" Wajahnya dengan cepat dipalingkan ke arahku. Melihat matanya yang berwarna merah, benar-benar seperti orang haus darah itu, aku jadi kaget juga. "Yangmei, makhluk itu harus mati!"
Entah sudah berapa kali aku mendengar itu dari T'an Mo. Berkali-kali dia mengatakan bahwa Lu Xun itu harus mati. Lu Xun itu cuma manusia biasa dan tidak pantas ada di dunia ini. Tetapi alasannya kenapa dia sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat membenci Lu Xun, aku sendiri tidak tahu.
"Sampai sekarang, kau masih tidak bisa membunuhnya, Yangmei? Sesulit itu? Padahal kau kan kesayangannya?"
Pertanyaan inilah yang membuatku kesal setengah mati! Iya, entah kenapa selalu saja aku gagal membunuhnya! Bahkan kudengar Yaoguai-yaoguai teratas sudah berhasil dikalahkan semua olehnya! Ini membuatku mendesis kesal karena marah. "Dia terlalu sulit dikalahkan. Aku terpaksa harus menggunakan tangan orang lain untuk membunuhnya."
Ya, aku mengakuinya. Memang susah sekali memusnahkan seorang Lu Xun saja. Cara biasa gagal, maka terpaksalah aku memakai cara membunuh Permaisuri segala supaya dia yang dituduh dan dihukum mati! Tetapi tidak kusangka dia berhasil meloloskan diri!
"Ngomong-ngomong, T'an Mo." Tanyaku. "Kenapa kau bisa sebenci itu pada Lu Xun?"
Kurasa, aku melakukan kesalahan besar menanyakan hal itu! Sebab gara-gara itu, aku melihat T'an Mo yang sudah mengerikan itu menjadi makin mengerikan saja! Aura-aura kegelapan muncul keluar dari tubuhnya. Meski aku sudah terbiasa dengan semua ini, melihat murka dan amukannya tentu saja tetap tidak pernah gagal membuatku bergidik takut.
"Kau tak perlu banyak bertanya!" Bentaknya dengan suara keras. "Aku benci padanya, karena dia adalah makhluk rendahan yang tak pantas ada!"
Aku jadi makin heran. Lalu? Memangnya kenapa kalau Lu Xun adalah makhluk rendahan yang tidak pantas ada? Kalau cuma itu, rasanya aneh sekali jika T'an Mo sampai mati-matian ingin membunuhnya dan kebenciannya tidak terkatakan lagi. Kurasa, sebenarnya T'an Mo sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Tetapi apa itu, aku tidak tahu. Sial! Padahal aku benar-benar penasaran bukan main!
"Yangmei, kau kerjakan baik-baik tugasmu!" Serunya dengan nada memerintah. Hei! Hei! Hei! Kalau begini, aku jadi kesal juga! Memang benar sih dia yang memberiku kekuatan kegelapan ini. Tapi aku menolak kalau dibilang menjadi salah satu dari bawahan-bawahannya yang bagai kerbau dicocok hidung! Enak saja main perintah saja! "Pokoknya kau harus membunuhnya secepatnya!"
Aku mengangkat bahu. "Kalau itu sih pasti." Balasku enteng. Hmph! Aku juga ingin cepat melakukan itu kalau bisa! Aku benci padanya, dan benar-benar muak kalau dia terus-terusan mencariku sambil berharap-harap aku bisa kembali padanya!
"Jangan sampai kau gagal lagi."
Dengan begitu, T'an Mo pergi.
"HUH! SIAAAAAAAL!"
Aku berteriak karena stress! Frustasi! T'an Mo itu bisanya cuma main perintah saja! Tapi herannya, selalu aku melakukan perintahnya itu! Dan aneh, selalu saja aku tidak bisa membunuh Lu Xun! Kalau sudah begitu, pasti aku akan dimarahi oleh T'an Mo. Sesudah itu pun, lagi-lagi aku tetap ingin membunuh Lu Xun, selalu begitu terus! Sial! Sial! Sial! SIAAAAAAL!
Sekali lagi, seseorang menghampiriku.
"Zuan Mi! Ni hao!"
"WHOAAAAAAA!"
BRUK!
... aku benar-benar sial.
Sesudah T'an Mo, sekarang aku jatuh dari atas pohon! Dan itu semua gara-gara diriku yang seorang lagi! Yah, sejujur-jujurnya dia masih jauh lebih baik daripada T'an Mo itu. Tapi cara munculnya yang selalu mengagetkan itu membuatku sampai terjatuh dari dahan pohon tempat aku mengintai. Dan jadilah sekarang aku mendarat di atas tanah dengan kepala duluan. AAAAARRRRGGGHHHH! Kenapa aku benar-benar sial begini, sih!
"TAAAAIIII YIIIIIN!"
Diriku yang satu lagi mengerjap-ngerjapkan mata, sebelum melompat turun dari pohon itu dengan langkah ringan. "Kenapa kau marah-marah begitu, Zuan Mi? Kalau marah-marah begitu, kau yang jelek akan semakin jelek, tahu!" Katanya dengan nada mengejek sambil menyibakkan rambut panjangnya yang tidak lagi berwarna perak itu. Pikir-pikir, rambutku juga tidak berwarna perak lagi.
Aku menyilangkan lengan dengan gaya ponggah. "Asal tahu saja, Tai Yin. Kau juga jelek." Aku terdiam sejenak. Baru saja aku teringat lagi. Aku dan Tai Yin punya wajah yang sama persis. Mata kami sekarang sama-sama berwarna merah. Rambut juga sama-sama hitam meski rambutku pendek sementara rambutnya panjang. Di tubuh kami juga ada banyak corak-corak tidak jelas. Kalau aku bilang dia jelek, berarti sama juga dengan mengatakan diriku jelek! Begitu juga sebaliknya!
"Ah! Sudahlah! Kita sama-sama jelek! Jadi sebaiknya kita tidak perlu banyak cing-cong lagi!" Aku kemudian menunjuk ke kejauhan, jari telunjukku teracung ke arah sebuah rumah yang sebentar lagi akan segera menjadi gelap karena penghuninya yang akan tidur. "Lebih baik kau membantuku!"
"Membantu apa?" Tanyanya.
"Kali ini kita akan membunuh Perdana Mentri Shu!"
Mata Tai Yin melebar karena terkejut bercampur kegembiraan. "Membunuh Perdana Mentri Shu? Wah, kau memang jenius, Zuan Mi!" Serunya sambil bertepuk tangan riang. "Kau memang tidak pernah salah memilih target! Dulu Permaisuri Shu! Sekarang Perdana Mentri! Kau memang hebat!"
"Tentu saja!" Aku tertawa bangga.
"Tapi..." Tai Yin menambahkan. "Kulihat kau tidak pernah berhasil mengalahkan Zuan Jin..."
Senyumku langsung pudar seketika. Yah, Zuan Jin adalah panggilan untuk si makhluk-rendahan-yang-tak-pantas-ada itu. Heran. Kenapa Lu Xun bisa dipanggil seperti itu? Tai Yin memanggilnya begitu, tentu sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging memanggilnya seperti itu. Terserah mau mendengar Lu Xun kek, Zuan Jin kek, makhluk-rendahan-yang-tak-pantas-ada kek, pokoknya pasti emosiku meluap-luap kalau mendengar kata-kata seperti itu! Rasanya terus-menerus mengingatkanku pada kekalahanku yang berulang-ulang itu!
"Kau sendiri?" Tanyaku balik sambil menudingnya. "Sampai saat ini, kau tidak bisa melakukan apapun pada Tai Yang! Ya kan? Ya kan? Ya kan?" Sama sepertiku yang memiliki seorang lagi dalam diriku, Lu Xun juga, dan kupanggil Tai Yang. Kenapa memanggilnya begitu, aku juga tidak tahu. Mungkin karena Lu Xun pun memanggilnya seperti itu. Ah, sudahlah. Apalah arti sebuah nama...
Tai Yin mendengus kesal sambil memandang ke arah lain. "Kau jangan bodoh, Zuan Mi! Orang-orang seperti kita yang sudah jatuh dalam kegelapan ini, jangankan melawannya, melihatnya saja tidak bisa!" Serunya penuh kekesalan dan kedongkolan. Aku tahu. Tai Yin benci pada Tai Yang sama sepertiku benci pada Lu Xun. Heh, rasanya senang menemukan orang yang bernasib sama denganku. Bagaimana tidak? Dia kan diriku yang seorang lagi? "Sekarang yang bisa kita lakukan cuma memusnahkan Zuan Jin saja!"
"Justru karena itulah!" Sahutku. "Kau harus membantuku, Tai Yin! Kita pikir sama-sama agar kali ini tidak gagal lagi!"
"Hmmm..." Tai Yin kelihatan sedang berpikir dalam-dalam. "Kau menyerang dengan cara apa lagi sekarang?"
Aku mengangkat bahu, kelihatan sedang menggampangkan. "Tentu saja dengan api hitam itu, kan? Mudah sekali menggunakannya dan pasti berhasil!"
"Jangan!" Tai Yin menggeleng kuat-kuat. Hah? Tapi kenapa? Ini membuatku makin bingung! "Kau tidak dengar? Mereka semua yakin bukan Zuan Jin yang melakukan pembunuhan itu karena api yang kau gunakan berwarna hitam! Mereka tahu benar api yang dikeluarkan oleh Zuan Jin tentunya bukan api kegelapan seperti itu!"
Oh iya... benar juga. Aku jadi ingat sekarang. "Jadi bagaimana? Aku sudah tidak bisa lagi mengeluarkan api seperti yang dimiliki Lu Xun!" Hufff! Sebal juga rasanya! Tapi mau bagaimana lagi? HAHHHH! Susah sekali, sih!
"Bagaimana kalau kau membunuh dengan cara biasa saja?" Usul Tai Yin. "Kalau tidak salah, Zuan Jin selama ini bertarung menggunakan pedang, bukan? Kalau kau bisa membunuh Perdana Mentri Shu itu bersama dengan istrinya menggunakan pedang, tentu orang-orang Shu akan langsung bisa menebak siapa pelakunya!"
Wah! Benar juga! Kenapa tidak terpikir sejak awal, ya? "Ide bagus! Luar biasa, Tai Yin!" Seruku kegirangan sambil bertepuk tangan kuat-kuat. Senang sekali rasanya punya diriku seorang lagi yang bisa membantu seperti ini! "Baiklah! Sekarang tinggal pedangnya saja!"
Aku memusatkan seluruh kekuatanku di kedua belah tanganku. Dari tubuhku, aku merasakan energi kegelapan yang langsung membentuk bola di antara kedua telapak tanganku yang terbuka. Tai Yin melihatnya dengan penuh kekaguman sementara perlahan bola kegelapan itu membentuk sesuatu. Semakin lama semakin terbentuk sebuah pedang berkilat-kilat yang berwarna hitam. Panjang dan bentuknya menyerupai pedang milik Lu Xun.
"Selesai!" Ujarku bangga sambil memamerkan pedang itu pada Tai Yin. "Keren sekali, bukan?"
Tai Yin dengan matanya yang melebar mengamati pedang itu, sebelum kemudian menerjang ke arahku sampai aku nyaris jatuh! "Zuan Mi! Keren sekali!" Serunya berulang-ulang sambil memeluk aku luar biasa erat! Aiya! "Keren! Keren! Keren! Keren!"
"Tai Yin!" Seruku sambil menghirup nafas. "Aku tidak bisa bernafas...!"
Untungnya, Tai Yin langsung tahu diri dan melepaskan tubuhku. Tak ayal lagi aku segera menghirup udara sebanyak-banyaknya mengisi paru-paruku yang kosong. "Baiklah! Baiklah! Tidak perlu berlebihan begitu!" Ujarku sebal, sementara Tai Yin hanya menyengir malu-malu saja. "Lihat saja, Tai Yin! Hari ini, aku akan membunuh Perdana Mentri Shu itu! Lalu Lu Xun juga akan kubunuh sekalian!"
"Horeeee! Kau benar-benar hebat, Zuan Mi!" Tai Yin menyemangatiku. Wahahaha...! Tentu saja aku hebat! "Ngomong-ngomong, kelihatannya mereka semua sudah tidur." Katanya sambil menunjuk ke rumah itu lagi. Kupalingkan wajahku, ternyata memang benar tempat itu sudah gelap seluruhnya. Cuma beberapa buah lentera saja yang dibiarkan menyala. Tentulah di tengah malam begini semua orang sudah tidur.
Nah, ini saatnya aku beraksi!
"Baiklah kalau begitu!" Tukasku penuh semangat sambil mengacungkan tinju tinggi-tinggi. "Aku akan pergi sekarang!"
"Berjuang, Zuan Mi!"
Dan dengan begitu, tubuh Tai Yin perlahan mengabur, sebelum kemudian masuk lagi ke dalam tubuhku. Sekarang, waktunya untuk menunjukkan kebolehanku! Hehehe... Kalau berhasil membunuh Perdana Mentri Shu, tentu asyik sekali! Kalau bisa membunuh Lu Xun, akan lebih asyik lagi! Tetapi seandainya tidak berhasil membunuh Lu Xun pun, aku sudah akan cukup menikmati melihat orang-orang Shu yang bodoh dan lamban itu menuduhnya sebagai pelaku!
Dengan ilmu meringankan tubuh yang kumiliki, aku melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Kediaman Perdana Mentri terletak di luar sebelah selatan ibukota Cheng Du, dibangun di daerah dataran tinggi yang cukup dekat dengan bukit tempat aku berada sekarang. Di bukit ini sendiri tumbuh banyaaaaaaak sekali pohon wujiu(7) yang mulai membentuk sebuah hutan yang cukup besar. Seperti namanya, pohon yang tingginya lebih dari delapan belas meter dan diameternya nyaris satu meter ini batangnya berwarna hitam pekat, terutama pada malam hari. Hebat, bahkan di musim dingin seperti ini pohon-pohon itu masih berdaun. Tetapi daunnya tidak lagi berwarna hijau melainkan berwarna ungu tua.
Akhirnya, aku keluar dari hutan pohon wujiu itu yang luar biasa lebat itu. Dari sebuah pohon terdekat, aku melompat ke tembok pagar gerbang rumah setinggi dua meter itu, baru sesudah itu melompat ke bawah. Wah, memang kediaman Perdana Mentri luar biasa luasnya! Rumahnya sendiri yang terletak di tengah tidak begitu besar, tetapi taman pohon Dao itulah yang sangat amat luas.
Aku cepat-cepat berlari ke dalam rumah itu. Pada rumah itu sendiri terdiri dari banyak bangunan yang menyatu membentuk persegi, dengan sisi bagian depan adalah ruang tamu, sisi belakang adalah ruang makan, sebelah kiri adalah kamar tidur tamu yang ditempati Lu Xun dan seorang jendral muda dari Shu. Jadi, kamar Perdana Mentri pasti ada di sebelah kanan. Rupanya dugaanku tepat! Melalui sebuah jedela, aku bisa melihat Perdana Mentri dan istrinya yang sedang tertidur pulas.
Pedang hitam yang berkilat-kilat di tanganku kugenggam erat-erat. Aku melompat ke atas atap, kemudian terjun ke bawah dan mendarat tepat di depan pintu masuk. Perlahan, dengan suara yang sangat pelan, kubuka pintu itu dengan hati-hati. Bagus. Rupanya tempat ini memang tidak dijaga siapapun!
Dengan mengendap-endap, kaki berjinjit-jinjit, aku mendekati tempat pembaringan sepasang petinggi Shu itu. Benar juga. Keduanya benar-benar tidur pulas sampai tidak menyadari kedatanganku.
Kuangkat pedang hitam itu tinggi-tinggi.
MATILAH KAU, ZHUGE LIANG DARI SHU!
Aku kira, pedang itu akan tepat membunuh si Perdana Mentri detik itu juga.
Tetapi rupanya aku salah.
Sekali lagi, seperti saat aku akan membunuh si putri Shu, mereka rupanya dilindungi oleh kekuatan cahaya yang kuat! Kekuatan cahaya itu berbentuk seperti sayap api yang bersinar terang bagai matahari! Sial! Ini... lagi-lagi ini kekuatan Lu Xun!
Ahhhh! Bagaimana aku bisa lupa? Lu Xun itu bisa melindungi orang lain dari kekuatan kegelapan dengan kekuatan cahayanya! Waktu itu si putri Shu itu dilindunginya dengan cara yang sama seperti ini! Sangking kuatnya cahaya itu, bahkan pedang hitamku langsung hancur berkeping-keping saat bertumbukan dengan perisai sayap api itu!
"YA TIAN!"
Dan karena itu, baik Perdana Mentri maupun istrinya terbangun. Keduanya menatapku dengan mata dipenuhi ketakutan dan keterkejutan. Si Perdana Mentri yang mulai awas segera mengambil kipas senjatanya sementara istrinya mengambil panah tembaknya.
"Mau apa kau, Yaoguai!" Perdana Mentri mengarahkan kipasnya padaku. Meski dalam keadaan kalut seperti itu, dia masih bisa tenang. "Jangan-jangan, kau juga yang membunuh Permaisuri!"
Ugh...! Ketahuan! "Dan sekarang saatnya aku membunuhmu!" Baru saja aku akan menembakkan kekuatan kegelapanku, kekuatan cahaya itu muncul kembali melindungi mereka! Sial! SIALAN! Ini semua pasti perbuatan Lu Xun itu!
BRAK!
Tiba-tiba saja pintu dibuka, menampakkan dua orang pemuda yang sedang berdiri di ambang pintu. Yang satu adalah jendral muda dengan rambut diikat itu sementara yang seorang lagi, siapa lagi kalau bukan Lu Xun si pengacau itu?
"Jiang Wei! Lu Xun!"
"Perdana Mentri!"
Jendral bernama Jiang Wei itu segera mengeluarkan tombaknya dan mengarahkannya padaku. "Berhenti kau, Yaoguai!" Serunya dengan suara keras dan lantang penuh dengan ancaman. "Kalau tidak mau mati!"
Huh! Menyebalkan! Ini benar-benar mengacaukan kesenanganku! Dengan gesit dan sekali berputar, aku menembakkan kekuatan kegelapan lain ke sebuah jendela terdekat sampai kacanya hancur berkeping-keping. Sesudah itu baru melarikan diri. Sebelumnya, tak lupa aku menjatuhkan sesuatu dari balik bajuku.
Mau tahu apa yang kujatuhkan? Setangkai mawar hitam.
"Kejar Yaoguai itu!" Terdengar suara si jendral muda memerintahkan pembantu-pembantu lainnya yang mulai berbondong-bondong datang mendengar keributan yang mengancurkan ketenangan malam itu. Kudengar langhkah derap kaki yang menunjukkan bahwa mereka semua pasti sedang mengejarku sekarang.
Tetapi kemudian, aku mendengar suara lain. "Jiang Wei, dia bukan Yaoguai." Sudah tentu itu suara Lu Xun. "Lihat mawar ini..."
"Yaoguai atau bukan, dia harus ditangkap!" Sergah jendral itu. "Lu Xun! Kau kejar ke sebelah selatan, aku kejar ke sebelah utara!"
Hooo... jadi Lu Xun akan mengejarku ke sebelah selatan? Menarik. Kalau begitu aku juga akan pergi ke selatan, dan juga akan memancingnya! Sekarang, kulihat sosoknya yang sudah berlari dalam kegelapan, masuk ke dalam taman pohon Dao tempat aku bersembunyi di balik sebuah pohon. Aku sengaja menampakkan diri dan kemudian berlari lagi, membuatnya langsung mengejarku tanpa keraguan sedikitpun.
"Tunggu! Meimei!"
Huh! Panggilan itu lagi! Aku tidak mau dipanggil seperti itu olehnya!
Lihat saja, malam ini juga aku akan membunuhnya!
Aku tahu pasti dia mengejarku, terus-menerus mengikutiku sementara aku sudah melompat melewati tembok pagar, kemudian masuk ke hutan wujiu di luar kediaman. Hmph... dia tidak tahu kalau sebenarnya dia sedang masuk dalam jebakanku. Yang dia lakukan cuma menoleh ke kiri dan kekanan memanggil 'meimei' tanpa tahu kalau aku sedang mengawasinya dari atas dahan tertinggi sebuah pohon wujiu.
Hihihi... sekarang saatnya!
Aku memang sudah menanamkan kekuatan kegelapanku pada pohon-pohon wujiu ini. Mengerikan sekali, bukan? Lu Xun pasti tidak menyangka dia akan diserang oleh berpuluh-puluh sulur tumbuhan yang ganas seperti macan yang menyerbu mangsanya! Sulur-sulur yang keluar dari batang-batang dan dahan-dahan pohon itu memanjang dengan cepat, berusaha mengejar dan menangkapnya. Tetapi aku memang tidak boleh meremehkan Lu Xun! Kecepatannya dapat mengimbangi kecepat sulur-sulur itu!
Menariknya, aku baru sadar Lu Xun tidak membawa pedangnya bersamanya.
"Ugh..." Kesepuluh ujung jarinya sekarang masing-masing memunculkan bola api kecil yang bercahaya hebat, yang semuanya makin membesar! Rupanya, Lu Xun menggunakan kekuatan api miliknya!
"Jing zhi fei dan!"
Kesepuluh bola api itu sekarang meluncur terbang mengikuti gerakan sulur-sulur tumbuhan yang mengejarnya, semakin lama semakin membesar, dan mengenai sulur-sulur itu! Tak ayal lagi, tumbuhan yang berasal dari kekuatan kegelapanku yang terkena api itu putus, jatuh, dan mati!
"Ahhh...!"
S-sial! Yang aku tidak menyangka adalah... rupanya serangan Lu Xun tidak hanya membuat benda-benda itu semua putus, tetapi juga membuatku kesakitan seolah seragan itu mengenaiku sendiri! Oh iya! Bagaimana aku bisa lupa? Sulur-sulur tumbuhan itu kan kekuatanku juga? Seperti tubuhku sendiri!
Kesepuluh bola api Lu Xun itu semuanya mengenai telak sulur-sulur yang mengejarnya, dengan begitu mengurangi sepuluh sulur! Tetapi bukan hanya itu, aku juga seperti terkena kesepuluh serangannya! Akhirnya, tangannku pun terlepas dari batang pohon ini dan tubuhku jatuh dari pohon! Untung saja pada saat-saat terakhir aku berhasil menyeimbangkan diri!
"Sakit... ughhh..." Aku merintih sambil memegangi tubuhku. Sepertinya Lu Xun tidak menggunakan banyak energi untuk memunculkan kekuatan api itu, tetapi kenapa sakit sekali, ya? Apa Lu Xun makin kuat?
"Meimei!" Sialnya, Lu Xun melihatku dari kejauhan dan sekarang berlari menghampiriku.
Tidak akan kubiarkan!
Sekali lagi, berpuluh-puluh sulur tumbuhan dari pohon wujiu itu menyerangnya dengan membabi-buta, mencerminkan kemarahanku juga ketakutanku yang meluap-luap! Aku tidak mau dia sampai berhasil mendapatkanku! Tidak mau!
Keringat dingin mulai membasahi dahiku. Ya, aku benar-benar tegang sekali! Bagaimana kalau sampai Lu Xun berhasil menangkapku? Dia... dia tentu akan membunuhku, kan? Dia pasti akan menghukumku habis-habisan! Kata T'an Mo, dia itu cuma berpura-pura saja ingin mencariku dan membawaku kembali, padahal sebenarnya ingin menjebak dan membunuhku! T'an Mo bilang, Lu Xun akan menggunakan cara apapun, mau yang kelihatan baik atau buruk! Aku takut padanya, tetapi pada saat yang sama sangat sangat sangat benci padanya!
Kulihat dia mulai kewalahan menghindari serangan-serangan itu. Kali ini tidak menggunakan kekuatan apapun. Mungkin, dia takut kalau kekuatan itu akan membuatku kesakitan juga.
Mata emasnya tiba-tiba mengarah padaku. "Meimei...!" Serunya. "Meimei, hentikan ini!"
"Tidak akan!" Seruku balik dengan suara yang lebih lantang. "Pokoknya, kau harus kubunuh hari ini juga!"
Dengan seruan itu, semua sulur yang mengejarnya makin bergerak menggila. Akhirnya, tengah melompat, salah satu kaki Lu Xun tersandung sebuah sulur dan dia pun jatuh. Tetapi sebelum itu sebuah sulur sudah membelit kedua tangannya.
Sekarang, dengan tubuh melayang di udara, kedua tangannya terlentang, kaki menggantung, dia seperti kupu-kupu yang terjebak dalam sarang laba-laba. Aku tersenyum gembira. Untung saja aku berhasil menangkapnya! Rencanaku berhasil! Akan kubunuh dia sekarang juga! Kali ini, aku memberanikan diriku untuk keluar.
"Meimei..." Tanyanya dengan suara bergetar. "Apa ini? Lepaskan aku!"
Aku tertawa licik berusaha menyembunyikan rasa takutku. "Melepaskanmu? Tidak akan!"
Kali ini, sebuah sulur lain mengikat kedua kakinya, kemudian membelitnya sampai ke pinggang. Kelihatan sekali kalau Lu Xun sedang berusaha mati-matian melepaskan diri. Yah, sebenarnya kalau mau dia bisa saja melepaskan diri dengan kekuatan apinya itu. Tetapi dia tidak melakukannya. Yang dia lakukan pada akhirnya cuma, seperti biasa, menghentikan perjuangannya dan pasrah. Selalu begitu. Yah, bukannya aku tidak senang sih.
Kalau melihat Lu Xun yang akhirnya cuma diam, dengan seluruh gerakan dibatasi, tangan dan kaki terikat, rasanya aku jadi tegang. Tetapi tegang karena bersemangat! Rasanya gembira sekali, aku sebentar lagi akan melakukan sesuatu yang mengasyikkan! Dan makin mengasyikkan jika dia cuma diam begitu menerima nasib tanpa memberontak.
Tapi pada saat yang sama... aku juga takut. Bagaimana kalau seandainya itu cuma caranya saja untuk menjebakku?
"Baiklah, akan kuturunkan kau." Kataku pada akhirnya. Lagipula, kalau aku di bawah dan dia di atas situ, bagaimana aku bisa menyerangnya? Sekarang, masih dengan kaki dan tangan terbelit begitu, dia dijatuhkan dan mendarat di depanku. Sebelum berhasil bangkit, sepasang sulur yang membelit kedua tangannya itu menarik tubuhnya ke atas, dengan begitu berada dalam posisi berlutut.
Nah... ini mulai menyenangkan...
Jantungku berdengup kencang karena kasyikan, perasaan senang yang sangat berbahaya yang bisa membuatku gila sangking gembiranya melihat kepalanya yang tertunduk dalam-dalam, tetapi juga perasaan takut yang makin menggunung saat aku makin mendekatinya. Nafasnya yang sedang berusaha diaturnya itu lambat dan berat, tetapi lembut seperti biasa. Kedua tangannya terkulai begitu saja, tidak menggenggam atau mengepal hingga mengizinkan sulur-sulur itu membelitnya makin erat dan kencang.
Wah... wah... wah... pikir-pikir, kalau aku jadi gembira sekali saat bisa menyiksa seseorang seperti ini, rasanya aku sudah tidak waras lagi. Aku sudah seperti pembunuh yang berdarah dingin dan haus mendengar rintihan kesakitannya. Padahal... pada saat yang sama aku juga sangat ketakutan...
"Lu Xun..." Kuangkat kepalanya dengan meletakkan satu jari di bawah dagunya. Mataku bertaut dengan mata emasnya, yang semakin indah dan bening saja karena sudah akan berair sebentar lagi. "Wah, sayang sekali. Ternyata perjuanganmu tidak selama yang kuharapkan..."
Dia tetap saja diam. Matanya kini tertutup setengah.
"Kenapa ragu menyerang tumbuhan itu, heh?" Tanyaku sambil menyibakkan rambut di keningnya, kini dapat melihat wajahnya dengan lebih jelas. Aneh sekali Lu Xun ini, entah perasaanku atau tidak, meski di malam seperti ini wajahnya masih terlihat bercahaya.
Perlahan, bibirnya yang bergetar itu terbuka dan menjawabku. "Mana bisa aku melakukannya?" Tanyanya dengan suara lemah. "Kau akan kesakitan, bukan, Meimei?" Suaranya itu... terdengar lembut sekali. Lebih lembut daripada desiran angin malam di musim dingin ini. Sementara aku masih terdiam, dia melanjutkan lagi, dengan satu kalimat yang paling tidak ingin kudengar di dunia ini! "Aku tidak mau kau kesakitan, Meimei... karena aku sayang padamu..."
Itu, kan? Selalu! Selalu itu! Kenapa? Kenapa aku selalu gagal membuatnya membenciku?
Dengan penuh kemarahan dan emosi yang meluap-luap, kutampar wajahnya sekeras yang aku bisa. Aku muak dengan semua ini! "Tidak mau! AKU TIDAK MAU KAU SAYANG PADAKU!" Jeritku memaksakan seluruh suara yang ada di tenggorokanku. Aku jengkel! Aku muak dan kesal! Bayangkan saja, entah apa saja yang sudah kulakukan selama ini, baik padanya atau pada orang lain, dia tidak bisa juga membenciku seperti aku membencinya! Aku cuma mau dia berhenti bilang sayang padaku! Aku tidak mau melihat wajahnya lagi!
"Aku tidak mau disayangi oleh orang sepertimu! Aku ingin hidup sendirian! Bebas!" Seruku penuh amarah yang tidak bisa dibendung lagi. "Aku benci padamu, tahu? Aku benci padamu dan semakin benci kalau kau sayang padaku! Kau tahu? Satu hal yang paling kuinginkan adalah kau lenyap! Kau mati saja! Sesudah itu biarkan aku sendiri menjalani kehidupan yang bebas!"
Rasanya... menumpahkan semua kata-kata sumpahan dan makian itu jauh lebih melelahkan daripada berlari sepanjang sepuluh mil. Tenggorokanku terasa parau dan sakit. Nafasku sampai tersenggal-senggal karena paru-paru yang kekurangan udara.
Tetapi, atas semua perkataanku itu, Lu Xun hanya membalas dengan suara lembutnya. "Aku tidak bisa meninggalkanmu, Meimei..." Ujarnya. "K-kalau tidak... kau akan..."
Suara Lu Xun pecah.
Ternyata, dia menangis. Airmata yang keluar dari matanya mengalir membasahi pipinya, kemudian jatuh ke tanah. Padahal, aku hanya menamparnya saja...
Kugenggam lagi dagunya, kali ini kuat-kuat sampai dia merintih kesakitan. "Kau menangis?" Tanyaku hampir membentak marah. "Waktu kau dipaksa menandatangani surat itu sampai dicambuki begitu rupa, kau tidak meneteskan airmata sedikitpun! Sekarang cuma seperti ini saja kau sudah menangis?"
Matanya menatap sayu memandangku. Tatapan inilah yang paling kubenci darinya! Tatapan yang seolah menyerukan kalau dia benar-benar sayang padaku tidak peduli apa yang kulakukan padanya! Bodoh! Benar-benar bodoh! Mana ada perasaan yang tidak bisa dipikirkan seperti itu? Aku lebih baik percaya kalau suatu saat matahari akan terbit dari sebelah barat daripada percaya ada perasaan yang absurd dan tidak masuk akal seperti itu!
"Yang membuatku menangis itu kau, Meimei..."
Ugh...! Lu Xun ini...!
"Tidak ada untungnya bagimu kalau aku kembali, kan?" Seruku kuat-kuat. "Biarkan saja aku sekarang menikmati kekuatan kegelapanku! Aku sekarang lebih suka bersama dengan T'an Mo!"
Untuk pertama kalinya matanya melebar dipenuhi ketakutan. "Jangan, Meimei...!" Dia berseru dengan suaranya yang pecah karena tangisan itu. Mata emasnya yang bening bercahaya itu menyembunyikan perasaan seperti terancam. "Meimei... kalau kau terus di dalam kegelapan seperti itu... kau akan..."
"Aku akan apa?" Balasku dengan nada menantang yang sangat sengit bukan main! Gigiku dengan sendirinya mengertak. "Aku akan mati? Baiklah! Aku akan semakin jatuh dalam kegelapan? Tidak apa-apa! Pokoknya aku ingin be...!"
"Kau jangan sembarangan bicara!" Aku terhenyak. Baru kali ini Lu Xun seserius ini. Biasanya dia cuma diam. Apakah... apakah kali ini perkataanku sudah kelewatan? Bahkan sampai membuatnya bisa berteriak seperti itu meski dalam posisi berlutut yang sangat tidak nyaman dan kedua tangan tertarik ke kiri dan kanan? "Kau tidak tahu apa-apa, Meimei! Kau tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kau terus-terusan dalam kegelapan!"
Apa yang menggerakkannya berkata seperti itu?
Dan tepatnya, sejak awal, apa yang menggerakannya untuk terus mencari dan berusaha menemukanku?
"T-tapi... tapi kan...?" Aku berusaha untuk berbicara, tetapi kenapa sepertinya suaraku sendiri bahkan membohongiku? "... kenapa?"
Suaranya melembut, kembali ke volume normal. "Aku tidak mau kau benar-benar jatuh dan tidak bisa kembali lagi..." Sementara aku terdiam, dia melanjutkan lagi. Dengan desahan yang sama. "Karena... karena aku benar-benar sayang padamu..."
Tidak tahan lagi, akhirnya tanganku ini mulai menyerangnya.
"AKU TIDAK MAU! POKOKNYA AKU TIDAK MAUUUUU!" Aku benar-benar marah sekali! Aku benci padanya sampai aku gila rasanya! Tetapi tetap saja dia sayang padaku! Entah sebenarnya di antara kami berdua, aku atau dia yang gila! "BENAR KATA T'AN MO! MAKHLUK SEPERTI KAU TIDAK PANTAS, TIDAK BOLEH ADA! KAU HARUSNYA MATI SAJA! KAU HARUSNYA LENYAP DARI DUNIA INI!" Cambukku ini kuayunkan sekuat dan secepat yang aku bisa lakukan, berkali-kali menyerangnya. Rasanya tanganku ini sudah bergerak seperti orang kesetanan, dan memang aku sedang kesetanan! Aku tidak tahu apa yang menggerakanku hingga bisa melakukan ini, tetapi memang aku ingin melakukannya!
Sambil terus mengumpat, memaki, dan melemparkan sumpah serapah, cambukku ini terus melecut di atas kulitnya yang tidak pernah lolos dari seranganku. Justru semakin melihat darah yang mengalir, semakin mendengar rintihannya, semakin menghitung berapa banyak tetes airmatanya yang keluar, aku justru makin tidak bisa berhenti! Aku semakin ingin melakukannya lagi dan lagi!
Sampai pada satu titik, tanganku mulai kehilangan kekuatannya...
Nafasku tersenggal-senggal, tidak teratur dan kacau sekali. Wajahku dibajiri oleh keringat yang bercucuran. Sial... kalau aku masih punya kekuatan, akan kuteruskan serangan ini, kalau bisa sampai dia benar-benar mati! Sampai nafasnya itu terputus! Tapi sayangnya kepalaku mulai berputar-putar, pandangan mataku sedikit mengabur karena kemarahanku yang membabi buta, darah mendidih yang membanjiri setiap pembuluh-pembuluh di tanganku. Wajahku tentu memanas dan memerah sekarang.
Kulihat hasil kerja kerasku itu. Nafasnya sama bahkan lebih kacau dariku. Dadanya kembang kempis, sepertinya untuk bernafas saja dia kesulitan bukan main. Bagaimana tidak? Dengan kedua tangannya yang tertarik ke atas itu, tentu sulit untuk menghirup udara. Tubuhnya lebih tidak bisa dikatakan lagi kacaunya. Bajunya yang sekarang robek sana sini itu sudah berubah warna menjadi merah oleh daranya. Tidak ada satupun bagian tubuhnya yang lolos dari serangan buas cambukku. Sekujurnya tubuhnya bergetar, tentu oleh karena rasa sakit yang luar biasa.
Tetapi aku tidak bisa berhenti. Aku belum puas sebelum membuat darahnya keluar habis dari tubuhnya!
Kali ini aku berjalan memutarinya, berhenti di belakang mengadap ke punggungnya. Tanpa mempedulikan suaranya lagi, aku menarik bajunya dan seketika itu juga kain indah bermotif dari Shu yang dipakainya hancur robek berserakan di tanah.
Heran. Bekas cambukan dari orang-orang Shu itu sudah hilang. Tetapi kenapa tanda 'li' itu masih belum hilang juga? Benar kata Zhang He saat memberitahukanku bahwa Sima Yi telah memberikan tanda yang begitu dalam dan tidak akan bisa hilang dari tubuhnya.
Jariku mengikuti goresan-goresan yang dalam itu. Tubuhnya bergetar lebih hebat lagi. Kali ini tentunya bukan bergetar karena sakit, tetapi oleh karena rasa malu. Tentu saja, dia tidak akan mau aku melihatnya memiliki tanda seperti itu. Tetapi aku juga sudah tahu ini. Waktu Zhang He memberitahukannya, aku melihat tanda itu sebagai keberanian dan pengorbanan yang besar dari seorang Lu Xun. Tetapi sekarang mataku yang sudah gelap ini melihatnya sebagai sesuatu yang menjijikkan, sesuatu yang membuatku tidak lagi menginginkannya.
Kuucapkan kalimat itu.
"Selama-lamanya..." Ujarku dengan suara dingin yang bergetar pula. Mungkin bergetar karena perasaan jijik bercampur kemarahan. "... aku tidak akan mau kembali kepada seseorang dengan tanda menjijikkan seperti ini."
Kucengkeram kulit punggungnya, menanamkan kelima kukuku yang panjang pada tubuhnya dan menariknya kuat-kuat. Dia memekik karena kesakitan dan terkejut. Aku benar-benar tidak peduli lagi. Memang sejak kapan aku peduli? Aku justru senang kalau dia mati! Dengan begitu, tidak perlu lagi ada orang yang perlu kubunuh, tidak ada lagi orang yang terus menggangguku dan memintaku untuk kembali! Kalau aku tidak bisa membunuh tubuhnya, maka aku akan membunuh perasaannya! Aku akan menginjak-injak hatinya yang murni dan bersih seperti anak kecil itu sampai hancur tak bersisa lagi! Kalau aku tidak bisa membuat tubuhnya tak bernyawa, maka aku akan membuat tubuhnya seperti boneka yang bisa bergerak tetapi tanpa perasaan!
Satu tanganku menggenggam erat dagunya dari belakang, sementara tangan yang lain makin menguatkan cengkeramanku. Rintihannya, jeritan kesakitannya, pekikannya, semua menjadi musik yang terus teralun di kepalaku, membuatku merasa ngeri tetapi pada saat yang sama membuatku senang sampai gila rasanya. "Tanda ini diukir di punggungmu karena kau ingin melindungiku, kan?" Bisikku dengan suara rendah di telinganya. Dari mulutnya tidak keluar jawaban apapun. Dia sedang menggigit bibirnya menahan sakit. Tapi sebenarnya tanpa bertanya pun aku sudah tahu jawabannya.
"Kau tahu, Lu Xun?" Bisikku lagi, dengan suara yang lebih tajam dan lebih dingin dari sebelumnya. "Kau pasti akan menyesal membelaku mati-matian. Kau tahu kenapa? Karena aku tidak peduli dengan segala hal bahwa kau mengorban dirimu sendiri untukku! Yang kupedulikan cuma bahwa kau punya tanda itu dan kau sekarang adalah makhluk yang menjijikkan dan tak ada harganya!"
Kata-kataku itu tentu jauh lebih menyakitinya ketimbang segala macam serangan atau siksaan yang sudah kuberikan padanya. Aku tidak bicara ngawur. Aku tahu itu. Bahunya tiba-tiba saja terangkat ke atas dengan cepat, seperti orang yang jantungnya telah dihujamkan pisau yang besar. Nafasnya tercekat, tidak bisa masuk maupun keluar dari tenggorokannya. Getaran di tubuhnya makin tidak bisa dikendalikan lagi, tentu kesakitan yang dideritanya luar biasa tidak terperikan lagi.
Sebaliknya, rasa gembira luar biasa, euforia di hatiku saat melihatnya seperti itu juga tidak bisa ditanggul lagi. "Cao Pi memang benar-benar luar biasa cerdik bisa merancang rencana seperti ini. Kau sebaliknya, luar biasa bodoh! Kau kira aku akan mau bersama denganmu yang sekarang punya tanda seperti ini? Jangankan aku, tidak ada seorang pun yang mau denganmu!" Teriakku lagi dan lagi dengan penuh penuh kemarahan dan kejijikkan. Rasanya kata-kata penuh kebencian yang tumpah ruah dari mulutku ini tidak pernah kuucapkan seumur hidup pada orang lain. "Apa kau tahu? Kalau di dunia ini ada satu manusia yang paling kubenci, satu makhluk yang paling ingin kumusnahkan, itu adalah kau!"
Desisan yang keluar dari sela-sela gigiku pasti lebih keras dan lebih mengerikan dari desisan ular manapun. Kata-kata yang tersembur keluar dari mulutku juga pastinya lebih mematikan dari bisa ular manapun baginya. Aku tidak menyangka, meski pada tubuh Lu Xun yang sudah mengalir obat Langit bernama Dan itu, dia masih bisa diracuni dengan kata-kataku.
Lalu aku teringat satu hal yang menyenangkan, yang sangat kutunggu ingin kulakukan. Aku tersenyum licik.
"Waktu kecil dulu, aku sangat-sangat ingin kau menciumku, Lu Xun. Kau juga tahu itu, kan?" Tanyaku. Lagi-lagi, dia tidak menjawab karena masih menggigit bibirnya. "Karena sekarang kita sudah dewasa, tapi kau belum memberikannya padaku juga, aku akan melakukannya sendiri. Terserah kau mau atau tidak."
Baru kali ini dia membuka mulutnya. "J-jangan...! Jangan, Meimei..."
Kuambil sebuah botol kecil yang terselip di pinggangku. Kudengar, Lu Xun tidak bisa dipengaruhi oleh racun Yaoguai sehebat apapun karena sudah pernah meminum Dan. Tetapi racun yang ada dalam botol ini racun manusia biasa. Kubuka tutup botol itu, kemudian meminumnya tanpa meneguknya. Baru sesudah itu kujambak rambutnya kuat-kuat hingga wajahnya terpaling ke belakang dengan paksa.
Dengan cepat, bibirku bertemu dengan bibirnya. Aku tahu, dia pasti tidak suka ini. Aku tahu betapa bencinya dia melakukan hal nista ini. Tetapi justru di situlah letak kesenangannya. Usahanya memberontak bukan ditunjukkan dengan meronta-ronta seperti orang tak waras. Sebaliknya, jeritannya yang bisu itu keluar dalam bentuk airmata.
Lidahku bergerak maju, memaksanya untuk membuka bibirnya yang terkatup rapat. Awalnya, tentu saja dia menolak. Tetapi jambakanku di rambutnya, juga kuku-kukuku yang masih tertancap dalam-dalam di dagingnya, makin kuat dan menyakitkan saja untuknya. Aku langsung mengambil kesempatan saat mulutnya terbuka sedikit akan memekik.
Saat itulah, racun di dalam mulutku masuk ke tubuhnya.
Pada saat yang sama, darah yang sudah mengumpul di mulutnya juga masuk ke dalam mulutku. Aku bisa mengecap cairan kehidupan itu dengan jelas.
Racun itu perlahan-lahan mengalir masuk ke kerongkongannya. Cairan berwarna hitam kebiruan itu sepertinya tidak bisa masuk semua ke mulutnya, hingga mengalir keluar dari sudut bibirnya.
Sesudah itu, baru ciuman itu kuhentikan.
Hehehe... aku akan membuatnya mengatakan semuanya... aku akan memaksanya mengeluarkan apapun yang ada di pikirannya!
Aku menyeka bibirku sambil meludah sisa-sisa racun yang masih di dalam mulutku. Yah, tetapi sebenarnya itu tidak perlu. Tubuhku tidak lagi terpengaruh oleh segala racun sejak menjadi seperti ini. Rasa darahnya masih tertinggal sedikit di liang mulutku.
Kupandangi sekarang dirinya. Kalau tidak ada sulur tumbuhan yang menarik tangannya itu, dia pasti akan tergeletak di atas tanah sekarang. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, seolah lehernya sudah patah dan tak dapat lagi berfungsi untuk menahannya tetap tegak. Dari belakang sini, aku tidak bisa melihat wajahnya. Jadi aku melangkah ke depan dan berdiri tepat di depannya. Sekarang jarak antara aku dan dia hanya terpisah tidak sampai selangkah. Senyum puas mulai mengembang di bibirku saat aku tahu racun itu mulai bekerja.
"Kali ini..." Ujarku. "... aku akan membunuhmu."
"Kau... tidak akan... bisa."
Mataku mendelik lebar mendengar hal ini. APA? TIDAK BISA? Lu Xun, dengan tubuh yang sudah tak berdaya, nafas terputus-putus seperti orang yang akan menemui ajalnya, suaranya yang pecah dan parau, mata nyaris tertutup dan sekarang, bisa mengatakan hal itu padaku? Kupandangi tubuhnya yang bermandikan darahnya sendiri, dengan genangan darah di bawah kakinya yang masih tertekuk. Sesudah semua ini, dia masih bisa mengatakan hal itu dengan begini yakin? Apakah ini perkataannya yang jujur, yang benar-benar ada di hatinya? Ataukah hanya gertakan?
"Aku tidak akan bisa?" Aku tertawa mengejek. "Apa kau tidak lihat bagaimana keadaanmu sekarang? Kalau aku mau, aku bisa mengambil nyawamu detik ini juga."
Dia masih dengan tenangnya menjawab, meskipun untuk setiap kata-kata dia harus menarik nafas panjang. Suaranya kali ini berbeda. Benar-benar tegas dan kaku, dan dingin... "Yang bisa mengambil nyawaku... cuma diriku sendiri..." Baru kali ini dia mengatakan kalimat seperti itu. Sekali lagi dia menarik nafas dalam-dalam. "Kau pikir... kau bisa? Kegelapan sepertimu... tidak akan bisa membunuhku..."
"APA?" Mataku mendelik lebar, semakin terkejut saja mendengarnya.
"Karena... aku akan menggunakannya sendiri... untuk menyelamatkanmu..."
"KAU...!"
Kenapa? Ada apa dengan Lu Xun sebenarnya? Aku sudah melukainya sedemikian rupa, menghancurkan perasaannya dan meminumkan racun ke mulutnya! Tetapi... perasaannya padaku tidak berubah! Apakah... apa mungkin... tidak peduli apapun yang aku lakukan, perasaannya padaku tidak akan berubah? Dia sayang padaku bukan karena ada sesuatu pada diriku, tetapi karena ada sesuatu pada dirinya sendiri...
Tapi... perasaan seperti itu... terlalu mustahil untuk bisa ada di dunia ini!
Karena itu, dia pun mustahil ada! T'an Mo memang benar! Perasaannya itu tidak ada! Maka dirinya pun tidak ada!
Dengan cepatnya, sebilah pedang kegelapan sekali lagi muncul di tanganku. Kali ini...! Kali ini aku akan membuatnya benar-benar tidak ada!
"MATI KAU!"
Tapi, serangan itu tidak pernah sampai padanya.
Sebab, dari belakangku sesuatu yang tajam sudah menusukku, tepat di jantungku.
Aku menatap ke bawah. Ya Tian... sebuah ujung tombak terlihat menembus dadaku, kemudian dari sana tersembur darah. Rasanya aneh sekali... melihat ini. Apalagi saat aku melihat Lu Xun yang kedua mata emasnya menatapku dengan ketakutan yang tak pernah kulihat sebelumnya, dengan teror yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata semata. Dia bergidik lebih ngeri lagi saat melihat tombak itu dicabut dari tubuhku. Otakku merintahkan kakiku untuk bergerak menjauh karena pasti akan terjadi sesuatu yang berbahaya kalau aku tetap di tempat.
Lalu, rasa sakit itu datang.
Kekuatanku rasanya lenyap seluruhnya. Aku benar-benar tidak kuat bahkan cuma untuk berdiri. Tubuhku terjatuh, dengan tangan satu bersandar di atas pohon sementara tangan yang lainnya di dadaku, dengan bodohnya berusaha menghentikan aliran darahku. Sayup-sayup, dengan kesadaranku yang mengambang ini, aku mendengar dari belakang.
"Ya Tian! Lu Xun!" Itu adalah suara jendral muda bernama Jiang Wei. "Kenapa kau bisa begini? Apa makhluk Yaoguai itu yang melakukannya padamu?" Tanyanya sambil melepaskan tubuh Lu Xun dari tanaman-tanaman itu.
Lalu aku mendengar suara Lu Xun. Suara yang sama dengan yang tadi. Tetap parau dan lemah, terputus-putus terutama oleh nafasnya yang tak karuan itu.
"Minggir...!" Suara perintahnya itu jelas terdengar di telingaku. Ya Tian... tidak... suara penuh kemarahan itu... Langkah kaki yang mendekat padaku itu...
Celaka... tubuhku terlalu lemah untuk digerakkan...
Ugh... sebentar lagi aku akan mati oleh serangan tombak itu. Kenapa... kenapa, ya? Kenapa sekarang aku jadi begitu takutnya untuk mati? Seolah-olah... kalau aku mati berarti aku akan jatuh tertidur dan masuk ke dalam sebuah mimpi buruk yang tidak akan pernah ada habisnya. Dan lagi... kalau aku tertidur, maka Lu Xun akan menangkapku... kalau dia menangkapku... dia akan...
Dia pasti akan menghukumku habis-habisan...
Celaka... aku tidak menyangka aku gagal membunuhnya... lagi. Aku tahu, setiap kali pertemuan dengannya adalah pertaruhan antara aku yang mati atau dia yang mati. Kali ini sepertinya aku akan tahu hasilnya. Kebencian yang bersarang dalam jiwaku masih sedalam dan sebesar yang biasanya, tetapi sekarang ketakutan yang menguasai diriku lebih besar lagi...
Ahhh...! Luka di dadaku ini rasanya benar-benar... sakit! Aku tidak percaya, rupanya inilah yang dirasakan Lu Xun... Ah, tidak. Dia menderita jauh lebih dari ini...
Mataku sendiri berlinang airmata. Memalukan... selalu begini... kenapa aku selalu kelihatan memalukan seperti ini? Aku melihat para Yaoguai yang mati di tangan Lu Xun. Mereka memang ketakutan, tetapi tidak ada yang begitu memalukannya seperti aku sampai kehilangan kata-kata begini. Kenapa Yaoguai-yaoguai itu bisa begitu kuat, juga begitu keras kepala, sampai kepada akhirnya, ya? Kalau aku, kenapa tidak bisa begitu...?
Bolehkah aku berharap... menjadi Yaoguai saja?
Sebelum mataku tertutup, sebelum perasaan ngantuk yang sangat berat ini membuatku jatuh tertidur, aku mendengar sesuatu. Sebuah suara yang memanggilku dengan sangat lembut.
"Meimei..."
Kedua tanganku kuletakkan di depan wajahku. Tetapi percuma saja. Tanganku terlalu lemah untuk digerakkan.
"Aku... mati... aku akan mati..." Bodoh... ayolah... kenapa aku selalu takut mati? Kenapa tidak bisa seperti Yaoguai-yaoguai itu? Yang menghadapi kematiannya dengan gagah? "... tidak mau... takut..."
Kemudian aku merasakan sebuah sentuhan di atas bahuku. Sentuhan yang sangat lembut seolah sehelai sutra terbaik dari Jian Ye, seolah sayap kupu-kupu, menyentuh tubuhku. Tangan yang bisa seperti itu hanya tangan Lu Xun saja. Aku tahu itu.
Tapi, akan ada saatnya tangan itu akan digunakan untuk menempelengku, menampar dan memukulku, sebagai hukuman dari semua yang sudah kulakukan bukan?
Ketakutan terus membayangi pikiranku sementara Lu Xun perlahan mendudukkan tubuhku di atas pangkuannya. Dia sendiri untuk menyangga tubuhku harus bertahan mati-matian, sampai-sampai punggungnya sendiri bersandar pada sebuah pohon wujiu.
Tiba-tiba tangannya terangkat. Ahhh...! Apakah ini saatnya dia akan mulai menghukumku?
Ternyata tidak...
Satu tetesan airmata jatuh membasahi wajahku. Airmatanya bercampur dengan airmataku.
Tangannya terangkat, hanya untuk mendarat di atas lukaku dengan lembut. Sepertinya dia ingin membisikkan sesuatu. Tetapi aku terlalu lemah, otakku sudah tidak bisa mencerna apa yang dikatakannya. Suaranya juga terdengar lemah sekali seperti bisikan.
Lalu kulihat tangannya bercahaya. Dan cahaya itu mengalir masuk ke dalam tubuhku. Ahhh... perasaan apa ini? Rasanya enak sekali... hangat sekali... Untuk sesaat, aku benar-benar lupa kalau yang memberikan sentuhan seperti ini adalah orang yang suatu saat akan menghukumku...
"Meimei..." Kali ini, suaranya baru terdengar di telingaku. Eh? Pengelihatanku kembali makin jelas. Pendengaranku pun juga. Kenapa seolah ada kekuatan masuk ke dalam tubuhku, ya? "Sudah... tidak sakit... kan?"
Sakit...
Sakit apa?
Oh iya. Tadi di dadaku kan ada tusukan yang besar sekali? Tapi, ketika kulihat lagi... luka itu makin lama makin mengecil. Sementara darah mulai berhenti mengalir dan luka itu tertutup, aku mulai awas dengan apa yang terjadi. Pandanganku mulai mengatakan bahwa aku belum mati, masih berada di tempat yang sama.
Kenapa... bisa begini?
Jangan-jangan... Lu Xun menyembuhkanku?
T-tapi... tidak mungkin bisa! Kalau dia, dengan tubuh yang selemah itu, menggunakan seluruh kekuatannya untuk menyembuhkanku, dia tidak akan bisa bertahan!
Dan ternyata, aku tidak salah.
Ketika lukaku sudah tertutup sepenuhnya, dengan sebuah kekuatan baru, aku berdiri dan langsung menoleh. Aku berbalik ke belakang dan kulihat dia benar-benar sudah tak sadarkan diri. Matanya tertutup sepenuhnya, dengan kedua tangan terkulai di sisi-sisi tubuhnya.
"Y-ya Tian..."
Itu bukan suaraku.
Aku menoleh ke belakang, dan menemukan jendral Shu itu sedari tadi melihat kejadian ini.
Celaka! Aku tahu ini pertanda tidak baik...! Aku panik, tidak tahu harus melakukan apa sekarang! Bagaimanapun, Lu Xun, atau kalau tidak jendral Shu temannya itu, pasti akan menangkapku kalau aku tetap berada di sini!
Segera aku lari masuk ke dalam hutan, tanpa mempedulikan raungan penuh marah jendral Shu itu yang menyuruhku untuk tidak lari. Aku menggunakan ilmu meringankan tubuh yang kumiliki untuk melompat dari satu dahan pohon ke dahan yang lain. Tidak! Tidak! Aku harus lari! Aku tidak mau mati! Aku masih sayang dengan nyawaku dan aku masih takut dengan yang namanya kematian! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau dihukum! Aku tidak mau tertangkap!
Entah sudah berapa lama aku berlari, akhirnya aku benar-benar capek. Tapi kurasa ini sudah cukup jauh. Sudah cukup aman, setidaknya untuk saat ini. Lain waktu, mungkin dia akan benar-benar menemukanku!
"Ahhh...!"
Diriku yang satu lagi!
"Tai Yin!" Aku berlari menghampiri Tai Yin yang tiba-tiba saja jatuh, keluar dari tubuhku. Aku berlutut dan memeluk diriku yang seorang lagi. Tubuhnya yang gemetar ketakutan persis sama sepertiku saat ini. "Tai Yin... Tai Yin... Bagaimana ini? Kita tidak berhasil..." Aku berusaha mengatur nafasku yang kacau balau. "Bahkan... Bahkan Lu Xun berkata... aku tidak mungkin bisa membunuhnya...!"
Dia mengangguk takut-takut. Kedua tangannya juga memelukku erat-erat. Astaga... rupanya sepertiku, dia juga sedang menangis ketakutan. "Celaka... celaka...! Kita tidak akan pernah berhasil... membunuh Zuan Jin..." Suaranya terbata-bata, juga tercampur dengan isakan. Sama saja, tidak berbeda dengan suaraku. "Kalau begini... kalau begini terus... Feng bisa-bisa akan..."
"A-apa...?" Tanyaku. Di otakku, berbagai pikiran buruk yang belum pernah terpikir sebelumnya muncul, membuat pelukanku pada diriku yang seorang lagi menjadi lebih erat. Airmataku sudah tumpah ruah sedari tadi seperti hujan. "Apa yang akan... dilakukan Tai Yang...?"
"Feng... sangat sayang pada dirinya yang seorang lagi..." Jawab Tai Yin. "Kita... kita akan mati, Zuan Mi!" Tangisnya pecah. Dia menangis menggerung-ngerung tanpa bisa mengontrol ketakutannya lagi. "Zuan Mi...! Kita harus lari! Kita harus lari ke tempat yang jauh...!"
Aku juga tahu... aku sudah tahu itu!
"Sekarang, Zuan Mi... ayo!" Katanya lagi. Kali ini pelukannya benar-benar erat, seolah akan meleburkan tubuhku dengan tubuhnya menjadi satu. Dan memang begitulah keadaannya, Tai Yin kembali masuk dalam tubuhku. "Sebelum terlambat!"
Iya... Tai Yin benar... Tak peduli selelah apapun aku, aku tidak pernah boleh berhenti berlari...!
-o-o-o-o-o-o-
Jiang Wei
Seluruh kejadian itu sudah usai. Tetapi kata-kata Lu Xun masih terngiang-ngiang di kepalaku.
"Jangan menyalahkan dia... aku sendiri yang menolak melawannya..."
Kukira Lu Xun bercanda. Kukira Lu Xun hanya ingin menutup-nutupi kekalahannya melawan makluk itu, makanya dia berkata begitu. Tetapi ternyata aku salah besar. Aku tahu itu saat aku melihat apa yang dilakukannya pada makhluk kegelapan itu sebelum dia pergi melarikan diri. Tahu apa yang dilakukan Lu Xun? Yang dilakukan Lu Xun adalah sesuatu yang luar biasa gila, luar biasa tidak bisa dipikirkan otak.
Dia... menyembuhkan gadis itu.
Kekuatan menyembuhkannya telah menutup luka tusukan yang kuberikan pada gadis setan itu. Aku tahu, untuk melakukan itu dia butuh tenaga yang sangat besar. Tetapi lebih dari itu, tindakan itu membutuhkan kasih sayang yang jauh lebih besar. Kenapa aku bisa yakin akan hal ini? Alasannya sangat sederhana. Dia tentu akan melakukannya pada orang-orang yang telah menolongnya, yang telah berbuat baik padanya. Atau setidaknya, kepada orang-orang yang belum bertemu dengannya juga tidak apa-apa.
Tetapi yang dia sembuhkan adalah...
Aku mendekati tubuhnya yang tak sadarkan diri dengan mata berlinang airmata bagai hujan.
Kenapa, Lu Xun? Kenapa! Gadis itu, makhluk itu, setan itu, dia telah menyebabkan Lu Xun seperti ini! Saat aku menemukannya, aku bahkan tidak bisa mengatakan dia itu siapa. Dengan wujudnya yang seperti ini, tidak akan ada orang yang bisa mengenalnya. Seluruh tubuhnya bermandikan darah segar. Luka-luka yang dia dapatkan pada saat dipaksa menandatangani surat itu masih jauh lebih baik daripada ini.
Gadis itu telah menyiksanya dan melukainya dengan kejam seperti ini. Tapi kenapa? Kenapa Lu Xun tadi menyembuhkannya? Dengan sisa kekuatan yang masih ada padanya? Apa dia tidak tahu kalau tindakan itu dapat membunuh dirinya sendiri? Kenapa? Apa gadis itu pantas?
"Lu Xun..." Aku mengepalkan tanganku. "Sebenarnya... apa yang ada di pikiranmu...?"
Aku tidak mendapatkan jawaban apapun.
Tetapi ada sesuatu yang menjawabku.
Kulihat sesuatu yang terselip di kain ikat pinggangnya. Setangkai bunga mawar. Kalau tidak salah mawar yang dijatuhkan oleh pembunuh itu, kan? Mawar itu berwarna hitam...
... tetapi kenapa sekarang berwarna putih?
Sayang sekali, sungguh aku tak mengerti maksudnya...
Perlahan, kuletakkan satu tanganku di bawah kepalanya, sementara yang lain di bawah lututnya. Sekali lagi aku menemukannya dalam keadaan seperti ini, dan sekali lagi akulah yang mengangkatnya! Bukan! Bukan aku menolak! Justru sebaliknya, aku senang setidaknya bisa sedikit berguna untuknya!
Aku hanya... merasa menyesal.
Dua kali aku tidak bisa menolongnya. Dua kali aku terlambat sehingga dia seperti ini!
Aku berjalan dengan langkah gontai sambil memandang tubuh yang terbaring di atas tanganku. Kalau aku tidak ingat sedang memondong seseorang, tentu aku sudah akan jatuh berlutut di tanah sambil menangisi kebodohan dan kelambananku.
Siapa gadis itu sebenarnya? Kenapa Lu Xun begitu menyayanginya sampai-sampai...
"Jiang Wei!"
Suara Perdana Mentri dan istrinya. Keduanya menghampiriku dengan langkah tergopoh-gopoh sementara aku masuk melalui pintu gerbang rumahnya. Beberapa orang masih pergi mencari pembunuh itu, membuat tempat ini masih sangat kosong. Seperti dugaanku, ketika mereka berdua melihat keadaan Lu Xun, keduanya langsung terpaku sampai tak dapat mengucapkan apapun dari mulut mereka. Zhuge Furen sampai menutup mulutnya dengan tangannya.
Perdana Mentri akhirnya berhasil menemukan kata-katanya.
"Ya Tian..." Dia menggeleng pelan saat melihat keadaan Lu Xun. "Kenapa bisa...?"
"Keadaannya sangat parah, Perdana Mentri." Balasku sambil menatap kosong ke depan, terus berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di tempat itu, kubaringkan dia di atas pembaringannya. Tak kusangka, dalam waktu tiga minggu aku harus melihatnya terluka parah seperti ini lagi. Sungguh tidak bisa kubayangkan, mengapa Lu Xun harus menerima semua ini? Apa salahnya? Sambil bertanya-tanya dalam hati, aku mulai membersihkan dan membalut luka-lukanya.
Perdana Mentri pun datang, kemudian mengecek keadaan Lu Xun. Dahinya mengernyit untuk beberapa saat sebelum memanggil istrinya. "Yue Ying, cepat ambilkan penawar racun itu. Cepat!"
Sementara Zhuge furen langsung berlari pergi, aku yang penasaran ini tak ayal lagi langsung bertanya. "Untuk apa, Perdana Mentri?"
"Dia diracuni." Jawabnya pendek.
"Diracuni?"
Perdana Mentri mengangguk. "Cairan hitam yang tersisa di mulutnya ini, itu racunnya."
"Apa efeknya?" Tanyaku sekali lagi dengan dahi berkerut.
Bahkan orang seperti Perdana Mentri pun bisa kelihatan ragu-ragu begitu untuk menjawab. "Sebenarnya tidak begitu berbahaya." Jawab Perdana Mentri. "Racun ini adalah racun dari kerajaan Wei, yang sepertinya ditemukan oleh seorang Penasihat Wei bernama Sima Yi. Racun ini biasanya digunakan jika..." Perdana Mentri terdiam sejenak. "... sedang mengtrograsi seseorang."
Astaga...
"Jangan katakan kalau itu..."
Perdana Mentri sekali lagi mengangguk.
"Racun yang merusak syaraf sehingga membuat seseorang mengatakan sebenarnya." Jawab Perdana Mentri. "Cara kerjanya hampir seperti arak yang membuat kita tidak sadar, namun ini jauh jauh lebih kuat dari itu. Mungkin dia sedang dipaksa mengatakan sesuatu..."
Aku kembali memgingat-ingat kejadian itu. Oh iya! Tadi aku melihat gadis itu tiba-tiba saja mencium Lu Xun! Tentu itulah saat dimana racun itu diminumkan! Sesudah itu, sementara aku mengendap-endap mendekatinya, aku mendengar Lu Xun mengatakan sesuatu seperti...
...hanya dia saja yang dapat mengambil nyawanya.
Apa maksudnya itu? Apa di sana tersimpan suatu maksud?
Kalau itu kalimat yang paling jujur, yang selalu disimpan Lu Xun dan tidak pernah dikatakannya pada gadis itu, tentu mengandung sebuah arti tersembunyi, bukan? Lalu melihat gadis itu yang marah bukan main, berarti kemungkinan besar Lu Xun belum pernah mengatakan hal itu sebelumnya! Tidak kepada gadis itu, tidak juga kepada orang lain!
Berarti... lagi-lagi hanya aku yang tahu rahasia Lu Xun.
Hanya aku satu-satunya yang melihat Lu Xun dan dirinya yang seorang lagi. Hanya aku yang tahu kalau Lu Xun mencintai seorang gadis pembunuh pengguna kegelapan seperti itu. Dan sekarang, hanya aku yang tahu bahwa Lu Xun seorang yang dapat mengambil nyawanya sendiri dan menggunakannya... untuk menyelamatkan gadis itu.
Tapi apa? Apa maksudnya itu? Rahasia itu... apakah semuanya saling berhubungan?
Sementara aku berpikir keras, Zhuge furen sudah datang membawakan sebuah botol kaca yang panjang. Segera Perdana Mentri mengambilnya dan meminumkannya pada Lu Xun. Sial... kenapa otakku buntu? Aku tidak bisa memikirkan apapun! Apa mungkin... aku boleh menanyakannya pada Perdana Mentri? Ah, sebaiknya tidak. Kalau ini sebuah rahasian yang Lu Xun tidak pernah katakan pada seorang pun, sebaiknya biarlah hanya aku dan gadis itu yang mengetahuinya.
Hmmm... kalau dengan pikiranku yang sangat kacau sekarang, aku hanya bisa memikirkan sesuatu yang kelewat gila. Hahaha... lucu sekali kan kalau Lu Xun benar-benar secara literal mengambil nyawanya sendiri untuk menyelamatkan gadis itu? Bagaimana dia bisa mengambil nyawanya kalau dia mati?
Tapi... Lu Xun kan punya dirinya yang seorang lagi?
Apa maksudnya...
AH! TIDAK MUNGKIN! Apa yang sedang kupikirkan? Lu Xun dan dirinya yang seorang lagi, seperti yang tadi kulihat, punya hubungan yang luar biasa dekat! Luar biasa indah sekali tidak dapat dilukiskan dengan apapun! Kalau dirinya yang seorang lagi yang mengambil nyawanya... hah! Itu gila! Bagaimana mungkin bisa terjadi hal demikian?
Aku menggeleng kuat-kuat, berusaha mengusir pikiran itu dari kepalaku. Tenang Jiang Wei... tenang! Lagipula, itu bukan urusanmu untuk kau pikirkan! Kenapa kau suka sekali mencampuri urusan orang lain! Begitu kataku pada diriku sendiri.
"Secepatnya..." Suara Perdana Mentri membuyarkan lamunanku. "... Lu Xun harus cepat keluar dari Cheng Du?"
Mataku terbelalak lebar. "Kenapa, Perdana Mentri?" Tanyaku heran.
"Kau tidak sadar, Jiang Wei?" Jawabnya dengan keseriusan yang sangat tidak main-main. Aku sampai bergidik kaget mendengarnya. "Sebenarnya pembunuh itu sedang mengincar Lu Xun. Bukan kita." Sebelum aku menyatakan keterkejutanku, Perdana Mentri sudah menjawab pertanyaanku. "Aku yakin pembunuh itu sudah memperkirakan Lu Xun akan dicurigai sebagai pembunuh Permaisuri. Kemudian, sekarang dia bermaksud membunuhku dan Yue Ying karena Lu Xun ada di tempat ini. Dan jika aku dan Yue Ying sampai terbunuh, maka Lu Xun-lah yang akan sekali lagi dicurigai."
Benar juga... pemikiran Perdana Mentri sangat tajam! Bagaimana bisa aku baru sadar! Ahhh... tapi... Memang benar sih ini demi keselamatan kami semua. Tapi bagaimana dengan Lu Xun? Maksudku... bagaimana kalau sampai makhluk itu datang lagi padanya? Bisa-bisa... Lu Xun...
"Ketika dia sembuh nanti, dia harus pergi dari Cheng Du." Kata Perdana Mentri. "Tidak boleh ada satupun yang dekat dengannya."
"Tapi...!"
"Ini demi kebaikannya sendiri, dan demi kita semua."
Satu kalimat Perdana Mentri yang tenang dan pelan, tetapi pada saat yang sama tajam dan langsung membuatku tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Keputusan sudah dibuat, tidak ada yang bisa membantahnya. Aku hanya bisa menelan ludah sambil tersenyum pahit melihat semua kejadian ini. Padahal, aku baru saja bertemu dengan Phoenix ini, tetapi sebentar lagi akan berpisah...
Aku duduk di sebelah ranjangnya sambil memandang wajahnya yang seperti menahan kesakitan itu. Tetapi anehnya, pada saat yang sama, dia bisa tersenyum. Wajah seperti itu... mengingatkanku dengan wajah seorang anak kecil yang sedih karena harus mengakhiri harinya untuk bermain, tetapi bagaimana pun tetap merasa senang karena tahu besok ia akan bisa melihat matahari pagi lagi, kemudian bermain lagi seperti biasanya...
Kenapa, ya...?
Apa mungkin... seperti yang Perdana Mentri pernah katakan...
... dia tahu semuanya akan baik-baik saja?
Jiang Wei
Penyembuhan Lu Xun tidak memakan waktu yang lama. Satu minggu sesudah kejadian itu, tubuhnya benar-benar pulih total. Ini semua berkat pertolongan Perdana Mentri dan Zhuge furen juga. Tak kusangka, rupanya mereka berdua juga memiliki kepandaian dalam ilmu ketabiban!
Hari ini, Perdana Mentri sudah mengatakan semuanya pada Lu Xun. Selama seminggu ini, Perdana Mentri juga mengurus masalah membebaskan Lu Xun. Pada akhirnya, sesudah mengemukakan seluruh teori dan pemikirannya, Yang Mulia Kaisar mengizinkan Perdana Mentri membebaskan Lu Xun. Ini kabar baik untuk kami semua, yah meski aku agak sedih harus berpisah dengannya. Lu Xun sendiri, begitu mendengar kabar ini langsung berterima kasih. Aku tahu dia pun senang. Bagaimanapun, Phoenix itu bukan burung yang dapat dikurung dalam suatu tempat saja, kan?
Jadi pagi ini, dia harus pergi. Aku mendapat kehormatan besar boleh membawanya mengantarkannya. Memang, lebih baik tidak banyak orang yang mengantarnya karena tentu akan menimbulkan keributan. Kami berdua keluar dari gerbang tempat kediaman Perdana Mentri sesudah memberikan ucapan selamat tinggal pada sepasang suami istri Zhuge itu. Lu Xun berterima kasih dengan sungguh-sungguh, sambil menjanjikan bahwa ia akan kembali lagi.
Sekarang, hanya tinggal aku dan dia seorang diri, berjalan menuju kota Cheng Du. Dia bilang, ada seorang teman yang bersama dengannya. Jadi, kami menjemputnya dahulu.
Sepanjang perjalanan ini, kulihat dia hanya diam saja.
"Lu Xun," Aku menepuk bahunya sambil memberikan seulas senyum. Dia membalas dengan sebuah senyum yang aneh, tidak menampakkan kesenangan tetapi juga bukan kesedihan. Tetapi penuh dengan perasaan. Hanya saja, perasaan apa itu, aku tidak tahu. "Maafkan pertemuan yang tidak mengenakkan ini. Suatu saat kau akan kembali, kan?"
Dia mengangguk sekali. "Pasti, Jiang Wei."
Aku menghela nafas. "Ngomong-ngomong, bolehkan aku tanya sesuatu?"
"Tentu!"
"Begini," Kulihat mata emasnya yang bening menatapku dengan wajah penasaran. Ekspresi anak kecil yang polos itu, siapa yang tidak senang melihatnya? "seandainya, pelaku yang membunuh Permaisuri itu tertangkap, apa kau akan senang?" Tanyaku. Sudah kuduga. Dia kelihatan benar-benar terperanjat sampai nafasnya terhenti untuk sesaat. "Yan Lu mengatakan padaku dia tidak akan mencari pembunuh ibunya lagi."
"Ohhh..." Lu Xun mangut-mangut mengerti. Dia ahli strategi yang hebat, bisa menipu dengan gayanya itu. Tetapi aku tahu kalau dia pasti tahu segala sesuatu tentang siapa pembunuh Permaisuri sebenarnya. Siapa lagi kalau bukan gadis pembunuh itu? Bahkan Perdana Mentri sudah tahu! Hanya saja, sesudah aku menceritakan apa yang Lu Xun lakukan demi gadis yang sangat disayanginya itu, Perdana Mentri bermaksud untuk bungkam sementara waktu. Aku juga. Di satu sisi, aku ingin mengatakannya pada Yan Lu. Tetapi di sisi lain, aku tidak ingin membuat Phoenix di sebelahku ini, yang sudah bersedih, makin bersedih lagi.
Aku memalingkan wajahku ke arahnya. "Menurutmu, apa yang harus kita lakukan, Lu Xun? Menegakkan keadilan seperti pada umumnya? Apa kau tidak marah karena pembunuh itu kau sampai dituduh yang bukan-bukan?"
Dia tidak menjawab apapun. Tahu apa yang dia lakukan? Dia hanya melambaikan tangannya sekali ke atas, kemudian muncullah angin yang lembut dan hangat bertiup dari arah timur. Hei, aneh. Kenapa di musim dingin seperti ini bisa muncul angin yang hangat? Selain itu, angin-angin itu juga menerbangkan kelopak bunga Luo Lan. Bunga kesukaan Yan Lu dan Permaisuri...
Matanya sekarang melihat ke atas. "Yang penting, Yan Lu sudah mendapatkan kedamaian yang dicarinya..."
Aku terhenyak.
Dia benar-benar Phoenix, yang akan membawa kedamaian di China ini...
Tak terasa, kami pun sampai di kota Cheng Du. Seperti yang sudah kuperkirakan, dia berjalan ke arah gedung perkumpulan Gaibang. Di sanalah aku melihat seorang gadis Gaibang lain berambut panjang sepinggang berwarna hitam menyambutnya dengan penuh kegembiraan dan kelegaan, sampai-sampai matanya berkaca-kaca.
"Lu Xun! Kau benar-benar kembali!"
"Tentu saja! Aku kan sudah berjanji akan kembali di akhir musim dingin!"
Dilihat dari logatnya, aku tahu gadis ini pasti juga adalah orang Wu sama seperti Lu Xun. Tapi ada satu hal yang aneh.
Kenapa... kenapa rasanya aku pernah melihat gadis ini, ya? Apa pernah suatu kali di dalam mimpi...? Di alam bawah sadarku...?
"Jiang Wei!" Seruan Lu Xun itu seketika langsung mengejutkanku, membuatku nyaris terlonjak. Dia menggandeng gadis Gaibang dari Wu itu dan memperkenalkannya. "Kenalkan! Ini Zhou Ying! Dia adik angkatku yang selama ini menemaniku!"
"Oh, huixia pasti Jendral Jiang Wei!" Gadis itu membungkuk dalam-dalam penuh sopan santun. "Terima kasih telah merawat Lu Xun selama ini dan mengantarkan dia kembali."
Aku tersenyum kecil. "Tolong panggil aku 'Jiang Wei' saja." Kataku padanya. "Senang dapat melakukannya, Zhou Ying. Lagipula..." Mataku kembali memandang Lu Xun. "... kakak angkatmu ini Phoenix. Siapa yang tidak senang dapat membantunya?"
Lu Xun tertawa. "Ah, Jiang Wei! Kau ini ada-ada saja!"
Kami bertiga pun berjalan ke arah gerbang kota. Tengah perjalanan, baru aku menyadari sesuatu. Zhou Ying mengenakan sebuah tusuk konde bunga Luo Lan! Wah, sungguh tusuk konde yang sangat indah sekali! Dan lagi, persis dengan bunga kesukaan Yan Lu. Hmmm... bagaimana kalau Yan Lu memakainya, ya? Wah, tentu cocok sekali untuknya!
Ah, tapi itu kan benda orang lain? Kenapa aku berpikir begitu, sih?
Akhirnya, kami tiba di pintu gerbang kota.
"Kurasa, sudah waktunya kita berpisah." Kata Lu Xun sambil tersenyum sedih.
Aku juga menyunggingkan senyum yang sama. Dari balik pakaianku, aku mengeluarkan sesuatu. Sebuah kantong berisi tiga lempeng emas. Aku mendekati Lu Xun sampai benar-benar dekat, kemudian meletakkannya di tangannya, berusaha agar tidak terlihat oleh siapapun. "Ambillah. Ini pemberian istimewa dari Kaisar."
"Apa ini?" Tanyanya curiga.
"Kau jangan meremehkan ketiga benda ini." Jawabku dengan suara berbisik. "Benda ini dapat membebaskanmu dari segala hukuman di Shu ini. Bahkan jika Yang Mulia Kaisar Liu Bei sendiri yang menjatuhkan hukuman apapun padamu, dari yang teringan sampai yang terberat, hukuman itu dianggap tidak ada jika kau menunjukkan lempengan emas ini (8)." Jelasku seraya menyerahkan lempengan emas berbentuk kotak yang bergambar naga itu.
Lu Xun menerimanya dengan wajah serius, dan begitu tahu betapa berharganya benda itu, cepat-cepat menyimpannya dengan baik. Tentu saja. Jika sampai benda itu diambil oleh orang yang salah, maka dampaknya bisa buruk sekali.
"Terima kasih banyak, Jiang Wei. Sampaikan juga rasa terima kasihku pada Yang Mulia." Katanya sambil bersoja dalam-dalam.
Sesaat lamanya, kami hanya bisa berdiam-diaman.
Dia menepuk bahuku. "Tenang saja. Kita akan bertemu lagi, Jiang Wei. Aku janji."
Aku mengangguk mantap. "Aku tahu, Lu Xun." Jawabku. "Aku tidak akan bilang selamat tinggal."
"Baiklah." Dengan begitu, dia pun membantu Zhou Ying naik ke punggung kudanya, sebelum berbalik sebentar dan melambaikan tangan padaku. "Kita akan bertemu lagi!"
Aku membalas lambaiannya. "Tentu saja!"
Semakin lama kulihat kedua orang itu semakin jauh... semakin jauh... hingga hilang di balik kabut salju putih yang menutupi pemandangan. Ya. Aku yakin benar akan bertemu lagi dengan Phoenix itu. Kalau semua masalahnya sudah terselesaikan, dia akan kembali dan kita akan bersama-sama lagi.
Jadi aku berbalik lagi, masuk ke dalam kota dengan senyum penuh keyakinan, mata yang kering dan menatap lurus kedepan.
(1) Catur China. Cara mainnya hampir sama kayak catur biasa, cuma bidaknya agak sedikit berbeda. Pionnya juga bukan pake pion biasa tapi kayak keping2 kayu yang adatu tulisannya di atasnya... (Kalo sodara mau, silahkan cari infonya di inet karena selain itu di chap2 berikutnya xiangqi ini juga bakal masuk~)
(2) Zhao jiang: Kalau di catur, sama artinya dengan "SKAK" atao bahasa inggrisnya "CHECK"
(3) Jiang shi: Kalau di catur, sama artinya dengan "SKAKMAT" atao bahasa inggrisnya "CHECKMATE"
(4) SAYA MENGAKU. Kata-kata ini bukan original buatan saya. Kata-kata ini saya kutip dari salah satu perkataan Lu Xun. Jadi ceritanya pas di Battle of Yi Ling itu banyak jendral yang nggak nurut sama Lu Xun cuma gara2 dia masih muda. Nah, Sun Quan nanya kenapa kok Lu Xun nggak ngelaporin aja jendral2 itu. Lu Xun jawab dengan jawaban "I receive great kindness from the country and have been given a position beyond my abilities. Moreover, out of the generals in question, some were the heart and spirit of the state, some fought as her teeth and claws; others were responsible in the building of the country's foundation in some other way. They were all important and talented people of the country on whom the country relies. Although I have only mediocre qualities, I seek to imitate Xiangru and Kou Xun's putting up with and working with their colleagues, for the well-being of the state." (Yang digaris bawahi yang saya kutip) Sumber: Kongmin (dot) net
(5) Udahlah anda nggak perlu pura2 bodoh... pasti tau ini siapa... *dinuklir gara2 nggak penting*
(6) Dalam bahasa arsitek, tempat yang lantai satunya terbuka sampe lantai 2 itu disebut VOID *dinuklir gara2 sok arsitek*
(7) Chinese Tallow Tree 烏桕樹
(8) Sungguhan saya lupa barang ini namanya apa... Yang jelas ya seperti yang Jiang Wei katakan, benda ini cuma bisa diberikan oleh Kaisar aja dan fungsinya bisa untuk menghilangkan hukuman apapun yang dijatuhkan, dari hukuman yang paling ringan ampe hukuman mati sekalipun~
Wokey~~~ That's all for today's chap~~~ Berikutnya, kita akan masuk ke arc baru lagi (berhubung Lu Xun n Zhou Ying udah keluar dari Cheng Du)~~~
Review?
