Eyke balik~ #PLAK
Balas review dulu ya~
Ashura Holis682 wuaah~ m-makasih~ jadi maloe /u/ #HOY
Ivana jiwamu bergetar? apakah sudah diuji di I*B? #GAK #KORBANIKLAN #DIBAKAR Berarti Lu Bu juga macem mo-
Lu Bu: *deathglare*
... Uhuhu :')
cllylngz wah... jadi... selama ini...? *zoom in kamera* #NAK
Zhu Yuan: a-a-apaan sih?! /u/
Lu Xun: ...?
makasih review-nyah~ :3
.3 emm... si Guan Xing murid sekaligus jadi yang bawa mobil buat mereka ke sekolah gitu. Masalah si Xing, Suo, dan Yinping, sebenarnya ada rahasianya www #plok jadi, Yinping kan udah naik kelas 11 tuh (awalnya 'kan kelas 10) si Suo kubuat sama kayak Yinping (yah, saya sengaja, berarti mereka kelas 11) lalu Xing masuk kelas 12 karena dia murid pintar gitu, jadi naik tingkatnya lebih sendiri (semacam anak akselerasi?) A-Agak aneh emang... Tapi, aku lebih merasa dengan wajah unyu Suo lebih baik dia sama Yinping dan Xing biarlah dia jadi anak aksel satu tingkat :"D #plak Nanti aku buatkan cerita tentang mereka kalau masih bingung wkwkwk :3 Huwehehehe iya nih, saya masuk-masuk langsung dapat tugas numpuk :"D semangat ya~ Makasih buat review~
EHEM! Sekian review-nya. Makasih banyak~
Oke, ternyata saya masih bisa ngetik. Maksudku... Diantara ratusan tugas yang saya terima #ALAYLO masih bisa kerjain fanfic X'D tapi, sepertinya tidak untuk akhir bulan februari...
Langsung deh! Silahkan~ Permasalahan akan diselesaikan di chapter ini juga~
Zhu Ran's POV
Langkahku terhenti, giliran lelah yang menghampiriku. Kami berdua kabur dari Lu Xun, kami berdua melakukan ini agar mereka berdua bisa mengerti bagaimana perasaan mereka yang sebenarnya. Aku menatap Cai Hua yang juga merasa kelelahan.
"Kita… Terlalu jauh!" kata Cai Hua terengah-engah.
"Mereka… Tidak akan… Bisa mengejar… Sudahlah…" aku terduduk di pinggiran toko yang saat itu sedang tutup.
"Semoga saja ini berhasil…"
"Hei, idemu aneh juga. Kau sudah berbeda sekarang, Cai Hua."
"E-Eh?!"
"Iya. Dulu kami hanya mengenalmu sebagai orang yang pendiam dan penakut. Tapi sekarang… Kau hebat! Kau memikirkan hal ini sendirian?"
"Eh… Umm… I-Iya…"
"Oh, iya. Dari dulu aku bertanya-tanya. Apakah kamu bisa melihat tanpa kacamata?"
(Iseng banget sih ini anak…?)
Cai Hua terdiam, kemudian kedua tangannya melepas kacamatanya.
"N-Nggak usah dipaksain—Aku cuma penasaran—"
"Bisa, kok."
"Eh? Lalu… Kenapa pakai kacamata?"
"Itu ada alasan tersendiri…"
"O-Oh…"
Dia lebih manis tanpa kacamata…
Eh? EH? EH?!
Aku ngomong apa, sih?! Aduh, Ran!
Tapi, aku hanya ingin memujinya. Bukan hal aneh-aneh lainnya, kok! Bukan berarti kalau aku bilang begitu, aku menyukainya, bukan!
Aku… Sudah ada Yinping…
(Playboy lo, Ran.)
NGGAK, AUTHOR JAHAT.
KEJAHATAN AWAL TAHUN.
(Bro, situ masih Christmas Eve, belom tahun baruan…)
"Umm… Kak Zhu Ran?"
"Eh?! U-Um… Ahahaha, maaf, aku sedang memikirkan sesuatu. Hehe—"
(Awas, ada playboy)
NGGAK, THOR.
"Lho? Ipeng dan gadis kacamata? KAMU KENCAN SAMA CEWEK LAIN, RAN?!"
"HAE—?!"
Muncul di hadapan kami berdua, dua orang yang sangat kukenal, orang yang sama-sama menyebalkan, sepasang pasangan bahagia yang bernama Zhao Yun dan Xing Cai.
"H-Hei! Gadis kacamata! Jangan mau sama Zhu Ran!"
"Iya. Dia bego." Kata Xing Cai mulai menghinaku.
"HEH. JANGAN ASAL SEMPROT. KAMI DI SINI SAMA LU XUN DAN YUAN."
"Lah, terus mana mereka?"
"Mereka? Mau tahu?" aku tersenyum jahat.
"… Ran, lo apain mereka…?"
"U-Umm… S-Sebenarnya ini rencanaku." Cai Hua mulai angkat bicara.
"Oh, si gadis kacamata kerja sama ya? Wah, kenapa harus sama landak mini ini?"
"NGGAK MINI WOY—"
"MINI—KAMU SAMA XUN LEBIH MINI KAMU—"
"H-HUEE— JANGAN MENGHINAKU—"
"Memangnya, kalian ngapain?" Xing Cai kepo.
"B-Begini—" Cai Hua langsung menjelaskan semuanya, apa yang kami lakukan pada dua orang yang perasaannya masih ragu-ragu itu.
"Jadi… Lu Xun suka sama Zhu Yuan?!" Zhao Yun kaget.
"Hoo… Jadi, Lu Xun akan melepas masa sendirinya?" Xing Cai mengangguk dengan wajah datar.
"S-Semoga saja begitu…"
"Lalu, hei, si gadis kacamata, apakah kamu yakin? Yuan sudah bilang nggak suka dengan Lu Xun, 'kan?"
"Dia punya nama, Yun. Cai Hua." Kataku mengoreksi.
"Oh… SEJAK KAPAN PUNYA NAMA?!"
"Perkenalkan, namaku Xing Cai." Xing Cai langsung main jabat tangan sama Cai Hua.
"Ehehehe—N-Namaku Cai Hua…"
"MALAH KENALAN—Jadi, kamu yakin?"
"Semoga… Semoga saja berhasil!"
"Tunggu, kamu fans Lu Xun, tapi kenapa malah membantu Lu Xun untuk bersama dengan Yuan? Biasanya, fans itu malah nggak suka lihat idolanya bersama gadis lain."
"Aku… Aku hanya ingin melihat idolaku bahagia, itu saja. Makanya, aku melakukan hal ini! Dilihat-lihat juga, Kak Lu Xun sepertinya lebih menyukainya daripada aku… Iya."
Zhao Yun dan Xing Cai mengangguk, kemudian menatap kearahku.
"He? A-Apa lihat-lihat?
"Ran. Jangan diembat ya."
"APAAN—BAHASAMU NYEBELIN, YUN."
Kemudian kami cakar-cakaran.
Ah, sudahlah…
"Hei, terus, kalo kalian pergi begitu, cara kalian mengawasi mereka berdua bagaimana?"
Aku terdiam, kemudian menatap Cai Hua.
"Eh? E-Ehh… Umm… Eeeh…?"
"Ternyata. Dia sudah terkena virus Ipeng." Xing Cai main tunjuk kearahku.
"HOY—"
"Gini, gini! Aku ada ide. Pertama, kita ke tempat mereka dulu. Pasti masih tidak jauh dari tempat semula kalian meninggalkannya, 'kan?" kata Zhao Yun dengan tenangnya.
"Oh, iya. Benar juga. Ya sudah! Ayo kita ke sana!"
"Tuh, 'kan. Ipeng bego. Jangan mau sama dia." Yah, kalian bisa tebak ini siapa yang ngomong.
"CEREWET—"
Zhu Yuan's POV
Jadi, kakak lagi sama Kak Zhao Yun dan Xing Cai?
(Umm… Yuan, ceritanya situ nggak tahu.)
Eh? Oh iya, lupa…
Saat ini, kami sedang saling terdiam. Ya, mungkin gara-gara aku menanyakan hal itu. Aku ingin memastikan apakah kakak dan Cai Hua benar atau tidak. Siapa tahu, itu hanya untuk menyenangkanku saja.
Kak Lu tidak segera menjawab. Ia hanya menatap sekitarnya dengan bingung dan wajahnya memerah.
"Kak Lu…?"
"E-Eh? Oh? Umm…"
Bingung, ya?
Seharusnya aku tidak menanyakannya sekarang, sih. Tapi… Bagaimana…?
Aku sempat bilang kalau aku membencinya, tapi… Saat bersama dengan Kak Lu, aku…
"Kamu… Membenciku, 'kan?" Kak Lu menjawab dengan tersenyum paksa.
Aku terdiam, menatap Kak Lu yang tengah menggaruk belakang kepalanya.
Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan seperti itu?
"A-Aku hanya… Uhh…"
"Sudah, tidak apa-apa. Sebenarnya—"
"Eh, eh, itu Lu Xun, 'kan? Kyaaa~ Ganteng banget~"
Aku menatap kearah sekumpulan fangirl tidak jelas sedang menatap kami berdua. Ada yang menatap kami dengan senyum, tapi lebih banyak dengan tatapan tidak ramah.
"Eh, ada cewek tuh. Jadi, itu yang dibilang sama ketua?"
"Oh, oh, adiknya Zhu Ran, 'kan?"
"Nyebelin banget, sok kenal. Masih SMP juga. Sok-sokan."
Aku menatap mereka dengan wajah agak takut. Ya, semenjak kejadian itu, aku jadi anti sama mereka, terkecuali Cai Hua. Dia baik, dia tidak seperti orang-orang menyebalkan dengan wajah tidak ramah mereka. Bahkan dia membantuku sampai sejauh ini.
"Yuan, ayo kita pergi." Tiba-tiba Kak Lu menggenggam tanganku dan membawaku pergi menyingkir dari mereka.
Aku dibawa sampai ke pusat perayaan, dimana pohon natal besar berdiri di tengah-tengahnya.
"Aku tahu kalau kamu masih belum bisa menerima kejadian beberapa hari yang lalu, iya?"
Aku mengangguk. Benar, tepat sekali.
"Lalu, untuk jawaban dari pertanyaanmu… Sejujurnya… Aku tidak tahu apa yang sedang merasuki diriku. Entahlah, perasaan hangat ini…"
Aku tersenyum kecil yang kemudian berujung menjadi tawa.
"A-Apa yang lucu?!"
"Nggak! Nggak apa-apa! Puitis aja, gitu, hehe!"
"U-Uhh…"
"Kak Lu, biar aku yang akan membuatmu menyadari perasaan apa itu."
"E-Eh?"
"Oh, iya! Mumpung di sini, kita foto-foto, yuk!"
Ya, aku harus bisa menemukan apa yang ada di hati Kak Lu, mengenai perasaanku.
Back To Normal
Setelah sekian lama tidak melakukan narasi. Maaf ya, kalau ganti-ganti sudut pandang. HAHAHAHA.
"Nggak boleh, Thor!" tiba-tiba Ipeng menjawab suara alam Author.
"Sudah! Malah sama Author! Ini dimana si Yuan?" Zhao Yun terus mencari keberadaan dua makhluk yang lagi kencan itu.
"Tadi di sini, kok…" Cai Hua juga ikut lirik kanan lirik kiri dengan Zhao Yun.
"Hei, bego. Dimana dia?" Xing Cai kumat nge-bully Zhu Ran.
"NJIR."
"Eh, ada Mas Landak!"
"SIAPA YANG MANGGIL GUE LANDAK?! SEDIH GUE SEDIH."
MAS LANDAK~ *tebar ciuman*
"HUSH! HUSH! PERGI KAMU CIUMAN MAUT!"
Author pundung.
"Oh, ada Cai Hua juga. Hai. Selamat Natal."
Cai Hua terdiam, menatap mereka yang datang bergerombol. Iya, fangirl-nya Xunnie yang tadi.
"Oy, Cai Hua! Kenapa kamu malah sama Mas Landak di sini?"
"MAS LANDAK LAGI—"
"Iya! Lihat, tuh! Senpai-mu sedang jalan dengan cewek! Iya, sama adiknya Mas Landak, 'kan?"
"JANGAN MAS LANDAK—Ya terus kenapa kalo sama adikku? Masalah?"
"Oh? Jadi, ini rencana kalian?" salah satu dari mereka melangkah maju mendekatkan wajahnya ke wajah Cai Hua.
"Aku hanya ingin melihatnya bahagia, kok. Itu saja. Ini kenyataan bahwa dia menyukai gadis itu." Cai Hua membela diri.
Mereka terdiam, kemudian saling menatap.
"Kalau kalian nggak suka ya sudah. Nggak usah dilihatin terus. Nggak usah aneh-aneh, kalian mau bernasib sama seperti ketua kalian?" kata Zhu Ran sambil melipat kedua tangannya.
"Ini nggak ada hubungannya dengan Mas Landak!"
"LANDAK LAGI—"
"Kak Zhu Ran benar. Kalau nggak suka, pergilah. Jangan membuat hal-hal aneh!" kata Cai Hua.
"Cai Hua… Kamu sudah berani rupanya…"
"Aku lebih senang kalau Kak Lu Xun bersama dengan Yuan. Itu saja!"
"KAMU—" tangan salah seorang fangirl nyaris menampar pipi Cai Hua, tapi dihentikan oleh Zhao Yun yang tiba-tiba nyelonong dengan Xing Cai.
"Oy, fangirl macam apa kalian? Inikah yang disebut dengan fans? Seharusnya seorang fans terlihat baik di hadapan yang diidolakan. Bukannya malah memperjelek. Ingat, kejadian kemarin-kemarin sudah membuat nama kalian tercoreng. Kalian mau mencorengnya lagi?"
"Zhao Yun benar. Bahkan kalian kalah dari udang yang nggak punya otak."
Xing Cai, perkataanmu…
Mari kita semua bilang…
SEMPOA!
Silahkan dilanjutkan.
Bisa terlihat dengan jelas (oh, lupa, di sini tulisan doang) wajah para fangirl yang marah dengan wajah memerah mereka. Kemudian mereka berlalu sambil mengomel sendiri.
"NICE, XING CAI!" Zhu Ran mengaacungkan jempol.
"Sudah biasa menghadapi cewek kurang ajar seperti itu…" Xing Cai kibas rambut(?).
"Kamu juga kurang ajar, kok." Zhu Ran masih pose mengacungkan jempol.
KRAK.
Bunyi tulang yang dipatahkan oleh Xing Cai.
"Sudah, sudah! Kita harus mencari mereka berdua…"
Kembali ke Zhu Yuan dan Lu Xun.
"H-Huee—"
Xun, kamu kenapa…?
"M-Malu."
Halah, biasanya juga foto-foto sama Zhu Ran aja. Sok malu kamu…
"T-Tapi ini sama Yuan…"
Kalian 'kan sesama cewek, jadi—
BWOOSH!
… Huh?
"SEKALI LAGI BILANG GUE CEWEK, GUE BAKAR LO."
AHAHAHHAHA AMPUN XUN, AMPUN.
"Hmm? Kak Lu?" Zhu Yuan menatap Lu Xun yang daritadi ngobrol sama Author.
"Eh? Oh, oh, nggak apa-apa. Hehe. Ini mau foto…?"
"Kalau bisa sih… Selfie." Zhu Yuan mengatakannya dengan wajah memerah.
"Y-Ya sudah kita selfie…" Lu Xun juga malu-malu.
APAAN SIH KALIAN BERDUA. GELI TAHU.
"A-Ayo kita mulai… Satu… Dua… Ti—"
CKREK!
"Bagaimana hasilnya?"
"Umm… Wah! Bagus! Ayo lagi! Tapi jangan di sini!"
"E-Eh?!"
"Ah! Ayo ke sana, Kak Lu!"
Zhu Yuan menarik tangan Lu Xun yang daritadi sok-sokan nge-blush nggak jelas ke suatu tempat dan kembali foto-foto dengan Yuan yang sudah mulai terbiasa foto dengan Xun.
Halah, Xun, kamu narsis kok. Lihat foto-fotomu deh. Apalagi yang tahun baruan, tuh! Ekspresi nggak nyantai.
"I-ITU GARA-GARA TUAN LU SU—KOK JADI BAHAS ITU?!"
Oh, iya. Di sini masih Christmas Eve.
Lama juga ya.
Oke, mari kita buat sudut pandang yang lain.
Lu Xun's POV
Sudah beberapa menit kami berjalan dan berfoto ria. Kami juga sudah berbincang seperti semula. Sampai pada akhirnya, kami tidak tahu harus melakukan apa lagi.
"Haah… Sudah semakin malam saja." Kata Yuan lalu duduk di sebuah bangku kosong karena lelah berfoto.
"Iya. Senang bisa melakukannya denganmu." Kataku sambil tersenyum.
Terlihat rona merah di pipinya.
Hahaha… Dia lucu sekali.
"Jadi… Bagaimana?"
"Hmm? Apanya?"
"Apakah aku berhasil…?"
Aku tidak mengerti apa yang dia maksud. Aku hanya memiringkan kepalaku dengan kebingungan.
"Haah… Sudah, tidak apa-apa… Maaf sudah membuatmu bingung."
"E-Eh? Nggak kok…"
"Oh, iya. Aku lapar, kita ke sana, yuk!" Zhu Yuan menunjuk sebuah café yang lumayan ramai.
Aku mengangguk setuju.
"Ahahaha! Kakakku dulu waktu kecil memang pemalu! Sekarang? Pede abis!"
"Ahahaha! Aku tidak menyangka kalau Zhu Ran seperti itu."
Zhu Ran : AHCHOO! SROOT!
Xing Cai : JOROK! *tampar*
Zhao Yun : HOI! KOK DIA DITAMPAR?!
EHEM!
"Lalu… Aku penasaran, bagaimana masa lalumu, Kak Lu? Menyenangkan?" tanya Zhu Yuan sambil menikmati coklat panasnya.
"… Lebih baik… Tidak usah dibahas, ya?"
"A-Ah… Maaf, maaf!"
Aku hanya bisa melontarkan senyum lalu menyeruput teh yang kupesan di café tersebut.
Melihatku berwajah lesu, Zhu Yuan spontan mengelus kepalaku, sama seperti saat aku tidak bisa tenang gara-gara memikirkan Yinping karena telah memberitahukan kepindahannya kepada Zhu Ran tanpa izin. Aku terdiam. Benar, itu bisa membuatku tenang kembali.
"Dulu pernah seperti ini 'kan?" Zhu Yuan tersenyum kearahku, masih mengelus kepalaku dengan lembut.
Aku mengangguk pelan, menatap Zhu Yuan sambil tersenyum.
"Kak Lu."
"Hmm?"
"Maaf, sudah bilang membencimu."
"Tidak apa-apa…"
"Sebenarnya... Aku menyukaimu."
Aku terdiam, menatap wajah Zhu Yuan yang memerah itu. Tangannya berhenti mengelus kepalaku, kembali duduk dengan manis.
"A-Ah! M-Maaf! A-Aku… Ahahahaha—"
"Yuan."
"E-Eh? Y-Ya?"
Aku menatap Zhu Yuan, rasanya… Seperti ada sesuatu yang hangat dari dalam diriku. Entahlah, sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Seperti ada yang mengendalikan diriku. Entah apa itu.
Mungkin, Zhu Ran dan Cai Hua benar…
Bahwa aku…
Menyukai Zhu Yuan.
Spontan aku mendekatkan wajahku padanya. Ya, sesuatu mengendalikanku. Aku tidak bisa menolaknya.
Wajah kami berdua sangat dekat. Mungkin kalian tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Sama seperti ucapan perpisahan Yinping kepada Zhu Ran saat itu…
Setelah itu, aku menatap wajah Zhu Yuan yang wajahnya semakin memerah dan seperti tidak percaya akan mendapatkan hal itu.
"K-Kak... U-Uhh…"
"Eh? EH…? EEEHHHH?!" pada akhirnya aku tersadar, aku telah menciumnya.
Seketika itu juga, aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Wajahku merah padam, hatiku berdegup kencang sekali, aku seperti tidak sadar saat melakukan hal itu.
"H-HUEE—M-Maafkan aku, Y-Yuan! A-Aku… Anu… Umm… H-Hue—"
Sekali lagi, Zhu Yuan mengelus kepalaku dengan lembut, membiarkan diriku tenang.
"Ahahahaha! Sudah, tidak apa-apa… Terima kasih." Zhu Yuan tersenyum.
Saat aku sudah merasa agak tenang, aku melepas kedua tanganku dari wajahku, menatap Zhu Yuan lalu tersenyum kecil.
"Akhirnya, aku bisa melihat apa yang kamu rasakan, hehe."
"U-Uhh… Oh, iya. Sudah malam, nih! Sebaiknya kita cari Zhu Ran dan yang lain. Kita harus pulang!" aku tersadar ketika melihat jam tanganku.
"Oh! Benar juga! A-Ayo kita cari kakak!"
Saat hendak keluar dari café, tiba-tiba, sebuah penampakan muncul dari kaca café yang lebar, tepat di sebelah kami duduk. Sosok landak dan seorang gadis yang kukenal menempel pada kaca itu.
"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA—"
"A-A-AKU MELIHATNYA! C-C-CIUMAN?!" Zhu Ran nyaris pingsan ketika melihatku melakukannya.
"Wow. Amazing. Sempoa." Xing Cai yang tadi ikutan nempel di kaca langsung tepuk tangan.
"L-L-LU XUN! K-KAMU… K-K-KAMU…"
"Kak! Tenang dulu, dong! Hah…" Zhu Yuan menghela nafas melihat kakaknya sekarat sampai harus dipegangin Zhao Yun.
"Xun. Selamat." Zhao Yun tersenyum kearahku.
Aku hanya bisa mengangguk malu.
"Sekarang saatnya pulang~" kata Xing Cai dengan penuh semangat.
"L-L-Lu Xun! A-A-Ap—HIEE—" kemudian Zhu Ran ambruk.
"HOY! MALAH PINGSAN?! INI GIMANA BAWA SI LANDAK SATU INI?!" Zhao Yun panik.
"Tenang, dia ringan kok."
Langsung saja, kubawa Zhu Ran. Tapi tidak dengan cara seperti menggendong putri. Kubawa dia di pundak kiriku. Agak kasihan sih, tapi kalau kugendong seperti putri, yang fujoshi salah fokus.
(TAHU AJA LO, XUN. AHAHAHHAA~)
"Buset, cantik-cantik berotot beneran, ya."
KREK!
Tulang Zhao Yun berhasil kupatahkan.
"Sudah, sudah! Kita berpisah, ya! Sampai jumpa event tahun baru! Senang bisa bersama kalian!" Cai Hua melambaikan kedua tangannya kepadaku dan Zhu Yuan.
Lalu aku dan Zhu Yuan, tentunya dengan Zhu Ran yang tengah pingsan, langsung pulang. Lebih tepatnya, aku harus menaruh barang ini ke rumahnya.
"AKU BUKAN BARANG—" Zhu Ran bangkit dari kubur.
KAMU BELUM SADAR, RAN.
Sesampainya di rumah, aku meletakkan barang tidak berguna ini ke tong sampah.
"HOY—"
Maksudku… Ke tempat tidurnya.
Jangan berpikiran aneh.
"Ah… Terima kasih sudah mengantar kakakku." Zhu Yuan membungkukkan badan.
"Oh, ya. Sama-sama… Kalau begitu, sampai jum—"
"Tunggu! Aku ingin bertanya sesuatu padamu, Kak Lu." Zhu Yuan tiba-tiba menghentikanku.
"Ada apa?"
"Umm… Temani aku ke event tahun baru."
Aku tersenyum kearahnya, "tentu saja. Kalau begitu, sampai bertemu di event tahun baru."
Zhu Yuan menatapku dengan senang, kemudian mengangguk sambil tertawa kecil.
Setelah keluar dari kediaman Zhu, aku berjalan pulang ke rumahku. Hari sudah sangat malam dan dingin. Bahkan jaket musim dinginku berasa tidak mempan sama sekali. Aku berjalan dengan langkah cepat menuju ke pertigaan, menunggu lampu hijau penyeberangan menyala. Di sanalah, aku bertemu dengan…
Cai Hua.
"Oh, halo Kak Lu Xun! Selamat, ya!" ia tersenyum kearahku.
"O-Oh… Makasih… Tunggu, kenapa kamu lewat jalan ini?"
"Hmm? Nggak apa-apa. Aku belum puas jalan-jalan malam ini. Jadi aku mau ke seberang."
"Oh. Kebetulan, perjalanan ke rumahku juga searah denganmu."
"Oh? Benarkah?"
Lampu hijau penyeberangan menyala. Kami berdua berjalan bersama. Menelusuri jalan-jalan yang lumayan ramai di sekitar kami.
"Apakah kamu senang? Yuan akhirnya mengatakan yang sebenarnya." Cai Hua mengajakku bicara terlebih dahulu.
"Oh, iya. Kamu benar. Aku sendiri… Tidak percaya, sih. Lihat, Zhu Ran saja sampai pingsan begitu! Hahaha!"
"Aah… Kalian ini benar-benar beruntung, ya? Kau mendapatkan cewek seperti Zhu Yuan, yang wajahnya imut, cantik, ramah pula. Lalu Zhu Yuan juga mendapatkan cowok populer dari SMA Wu yang pintar…"
"E-Eh? B-Bisa saja… Aku nggak seperti itu, kok! Ehehehe…"
"Ah, Kak Lu Xun kearah sana, 'kan?"
"Oh, iya. Sepertinya kita harus berpisah. Sampai jumpa, terima kasih atas semua yang kau lakukan…" aku melambaikan tanganku, kemudian berlari kearah lain untuk kembali ke rumah.
Sesekali aku melihat ke belakang. Aku terkejut, melihat Cai Hua tiba-tiba melambaikan tangannya, tersenyum kearahku, dengan air mata mengalir dan membasahi kedua pipinya. Ingin rasanya aku kembali ke sana. Tapi, jalanan sudah terlalu ramai, orang-orang seperti membawaku untuk tidak kembali ke belakang. Aku hanya menatap Cai Hua kebingungan sambil terus melangkah ke depan. Apa yang sudah terjadi? Apakah aku melakukan kesalahan?
Normal POV
Cai Hua segera menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir deras. Tapi, percuma, sekali ia menghapusnya, selalu saja keluar.
"Bodoh… Untuk apa aku menangis…? Toh aku yang melakukan semua ini… Demi mereka berdua…" ia terus mencoba menghapus air matanya dengan kedua tangannya.
Cai Hua tahu, Lu Xun pasti kebingungan melihatnya tiba-tiba menangis seperti itu.
"Sudah… Aku tidak boleh begini…" Cai Hua terus mencoba menghilangkan jejak air matanya, kemudian kembali berjalan menuju ke rumahnya.
Dengan ini, akhirnya Lu Xun melepas masa ngenesnya. Horee~ *tebar confetti*
EHEM! Mari kita lihat Zhu Yuan…
"Ngg…?"
"Kak? Sudah bangun?" Zhu Yuan segera menghampiri Zhu Ran yang baru saja sadar itu.
"Belum. Belum bangun kok."
"… Sepertinya aku salah tanya."
"Ah, untunglah, itu hanya mimpi, 'kan? Eheheh…" Zhu Ran menggaruk kepalanya.
"Hah? Mimpi? Apanya?"
"Aku bermimpi kamu dicium Lu Xun coba! Nggak mungkin Lu Xun kayak gitu, iya nggak? Ahahaha—"
"Itu bukan mimpi."
"He?"
"Iya. T-Tadi memang aku dicium… Kakak melihatnya dengan Kak Xing Cai yang nempel di kaca café, 'kan? Ingat?"
"J-Jadi… Itu bukan mimpi?" Zhu Ran keringat dingin.
Zhu Yuan menggeleng.
"Oh… Huee—"
"KAK?!"
Zhu Ran pingsan lagi, guys…
Christmas Eve sudah lewat, sekarang tinggal menunggu New Year Party yang akan diadakan oleh SMA Wei dan Jin (lagi-lagi mereka). Okelah, kali ini mari kita melihat keadaan SMA Wei dan Jin yang sedang rapat di suatu tempat.
"Kalau masalah kembang api, kita bisa mengandalkan Wu!" Sima Yi menyodorkan secarik kertas berisi rundown acara New Year Party kepada Cao Cao.
"Apa-apaan nih… SMA Wu dan Shu sama terus. Mereka sudah membuat acara semacam ini saat festival dulu itu!" Cao Cao menatap kertas yang disodorkan oleh Sima Yi.
"Tenang saja, anak-anak bertalenta milik J.E.P akan tampil, kok! Lalu akan kuhancurkan panggungnya! MWAHAHAHAHAHAHA!" Sima Yi tertawa nista.
"Gile lu ndro…" Xiahou Dun elus dada.
"Lalu, apa yang bisa kita lakukan, Dun?" Cao Cao menatap kearah Xiahou Dun yang duduk di sebelahnya.
"Hmm… Kita punya apa?"
"Kita punya Zhen Ji dan Cai Wenji."
"Itu doang?"
"Kita punya anakku yang bisa bekuin apa dan siapa saja."
"Nggak butuh, Cao."
"Terus apa?"
"Apakah kita punya sesuatu yang bisa menggetarkan panggung? Maksudku… Lihat Sima Yi! Dia punya J.E.P! Kita? Bahkan Cai Wenji dimintai tolong oleh Sima Yi jadi tukang ngatur jadwal manggung mereka! Kita harus lakukan sesuatu! Pertunjukan yang menarik!" Xiahou Dun berbisik kearah Cao Cao sambil lirik-lirik Sima Yi yang dari tadi senyum-senyum bangga.
"Hmm… Bagaimana kalau drama?"
"Mbahmu drama. Terlalu mainstream! Anti mainstream, dong!"
"EHEM! Lalu, apa acara sekolahmu, Cao Cao? Di jadwal acara tinggal ditambah dari sekolahmu saja, tuh!" Sima Yi senyum jahat.
"A-Akan kupikirkan lebih lanjut! Kita tutup dulu rapat untuk hari ini. Terima kasih."
Setelah rapat dibubarkan, Cao Cao dan Xiahou Dun duduk di kantor kepala sekolah, tentunya saat itu ada Xun Yu juga.
"Hei, ekstrak Jiang Wei! Ada ide untuk acara sekolah kita di New Year Party?"
"Maaf, saya bukan esktraknya Jiang Wei… Memangnya SMA lain mau apa?"
"Yang jelas, SMA Shu katanya akan urus masalah persediaan makan dan minum. Lalu SMA Wu spesialis kembang api, SMA Jin akan menggetarkan panggung dengan J.E.P-nya. Kita? Kita bisa apa?" Cao Cao udah hopeless sendiri.
"Tenang, Tuan Cao Cao. Bagaimana kalau… Kita adakan survey dengan anak-anak SMA Wei dan guru-gurunya? Itu mungkin akan lebih baik. Mereka tahu apa yang harus dilakukan SMA se-elit SMA Wei ini." Xun Yu berusaha menenangkan Cao Cao yang duduk di kursinya.
"Benar kata Xun Yu. Kita harus adakan survey. Kalau begitu, mulai besok, bisakah kamu melakukannya, Ekstrak-dono?" Xiahou Dun sepertinya menyetujui pendapat Xun Yu.
"SUDAH SAYA BILANG, SAYA BUKAN EKSTRAK. SIAPA PULA EKSTRAK-DONO? Akan saya coba sebisa saya…"
"Bagus, kita masih ada harapan, Cao Cao! Jangan menyerah!"
JANGAN MENYERAH~ JANGAN MENYERAH~ JANGAN MENYERAAAAAAHH~
"HUSH. AUTHOR-SAN!" Xun Yu sadar akan suara alam.
Oh, kamu bisa mendengar suara alam?!
Mulai besok, Xun Yu akan bekerja keras mengumpulkan survey untuk acara mereka di New Year Party. Akankah berjalan mulus? Mungkin semulus kulit perawatan? Atau tidak mulus sama sekali? Siapa tahu bersisik. Atau berbulu?
"BULU KAKI SIAPA DEH?!" tiba-tiba Zhu Ran nongol.
"Bulu kakimu, Ran." Lu Xun ikutan nongol.
"Jangan-jangan punyamu?" Zhu Ran meringis.
"H-HUE—AKU MULUS."
HOY, NGGAK ANEH-ANEH. PERGI SANA. MAU AKU TUTUP INI!
Mulai besok, Xun Yu akan bekerja keras mengumpulkan survey untuk acara mereka di New Year Party. Akankah berjalan mulus? Atau tidak mulus sama sekali?!
Tunggu di chapter berikutnya, ya~
"SOK IMUT. BLEH." Zhu Ran ngeludah.
KREK!
Terdengar sesuatu yang patah dari diri Zhu Ran.
Akhirnya...
SMA WEI SAMA JIN NONGOL LAGI SETELAH SEKIAN CHAPTER NGGAK NONGOL YA HAHAHAHA MAAFKAN AUTHOR YANG TERLALU FOKUS DENGAN WU.
Oke, hanya pemberitahuan. Di chapter ini dikatakan New Year Party, mungkin bakal bertanya-tanya, bukannya acara New Year udah di chapter lalu?
Yang kemarin-kemarin itu special chapter, jadi... Chapter iseng gitu untuk menyambut tahun baru! :3 Jadi, ini yang benerannya XD #plak
Oh iya, cuma mau bilang. Untuk masalah update, mungkin januari ini masih bisa update seperti biasa (asal tugas nggak numpuk aja) dan mulai februari, mungkin dalam sebulan maksimal update 2x sebulan ya. Khusus maret, karena saya harus ujian praktek segala macam, mungkin update 1x sebulan, lalu... April...
...
Setelah UN, ya.
Jadi, mohon dimaklumi ya kalau ada keterlambatan! :3
Oke, sekian dari saya dan sampai jumpa chapter depan! XD jangan lupa review ya!
