Kakashi beranjak dari tempat tidur Tenten. Matanya bertahan di wajah yang berpeluh karena mimpi buruk yang dialaminya beberapa saat lalu. Setelah puas memandangi gadis itu, ia menutup pintu kamar di belakangnya.

"You are one sick man."

Kau pria sinting.

Kakashi berjalan terus menuju ruang kerjanya, tidak menoleh pada pria berambut perak yang tengah bersender di koridor. Memperhatikan. Menghakimi.

"Kau menjadikan gadis Uchiha itu kelinci percobaanmu?"

Kakashi masih mengacuhkan cecaran yang ditujukan padanya. Perhatiannya terpusat pada buku tebal di meja kerjanya.

"Bahkan Orochimaru-sama tidak memakai manusia sebagai bahan eksperimennya. Kau gila."

"Kabuto."

Pria berkacamata itu mengangkat pandangannya.

"Kalau kau berniat menghakimi apa yang kulakukan di sini, kau berhak melakukannya sampai kau puas."

Kakashi berbalik, tangannya melipat di atas dada.

"Tapi jangan sekali-sekali kau berani mengatakan apa yang kulakukan pada Tenten eksperimen gila."

"And why is that?"

Kakashi melirik kalender yang tergantung di belakang Kabuto. Tiga belas kotak tercoret spidol warna merah. Waktu cepat berlalu, ia akui itu.

"Karena aku melakukan ini untuk kebaikannya."

"Oh? Sejak kapan mengubah memori orang dan membuatnya mendapatkan mimpi buruk tentang kenangan yang tidak pernah terjadi adalah demi kebaikan?"

Kakashi menautkan kedua alisnya kesal.

"Kau terlalu banyak bicara. Sejak kapan kau peduli tentang nasib orang lain?"

"Aku tidak peduli apa yang kau lakukan pada gadis itu; sama sekali tidak." jawab Kabuto, terkekeh.

"Yang aku pedulikan; dari mana kau dapatkan nyali besar untuk menculik anak pemilik perusahaan multinasional Jepang dan rahasia teknik hipnotismu."

Kakashi mengambil setumpuk uang dalam mata uang Swiss. Dengan gerakan penuh ketepatan uang itu terlempar ke arah Kabuto.

"Aku baru mempelajarinya selama dua tahun; teknikku tidak sempurna kelihatannya."

"I can see that. What with her having nightmares as drawbacks."

Aku bisa lihat. Efek sampingnya sudah terlihat; mimpi buruk terus menerus.

Giliran Kakashi menangkap paket yang dilempar oleh Kabuto. Bungkusnya yang erat menjaga bau getah ganja di dalamnya dari menguar ke mana-mana. Satu kilogram Swiss Cheese di musim dingin; kesulitan untuk mendapatkannya setara dengan keampuhannya.

"Indica Cannabis, Swiss Cheese. Jangan sampai mencampur lebih dari dua gram saat mencampur adonan kuenya. Kau ingin membuat gadis itu rileks saat kau menghipnotisnya; bukan membuatnya overdosis."

Kakashi memutar bola matanya. Ia seorang dokter; ia tahu aturan menggunakan marijuana untuk keperluan hipnotis.

"Bagaimana kau tahu aku membuatkan kue ganja dan bukannya menyuntikkannya?"

Kabuto menyimpan tumpukan uang ke dalam tas pinggangnya. "Satu. Kau menculik anak orang. Kue lebih meyakinkan daripada jarum suntik."

"Asal kau tahu, ia yang memintaku untuk membawanya."

Kabuto terlihat terkejut. Namun kemudian ia menggeleng, itu bukan urusannya.

"Dua. Seperti yang kau bilang, kemampuan hipnotismu masih belum apa-apa, jelas kau akan butuh obat-obatan untuk mempermudah proses hipnotismu."

"Well, sebenarnya..."

Kakashi menyimpan paket terlarang miliknya ke dalam kulkas mini di lemari buku.

"Gadis itu kesulitan mempercayaiku. Aku harus menggunakan obat untuk membuatnya lebih nyaman di dekatku."

"And here I thought you suddenly became a junkie out of nowhere."

Kukira kau mendadak jadi pecandu narkoba.

"You kidding me? I have no need for recreational drugs."

Kau bercanda ya? Aku tidak butuh obat-obatan pengisi waktu luang seperti itu.

Kabuto hanya mengedikkan bahu.

Kakashi menghela nafas. "Aku juga butuh penenang untuk meredakan mimpi buruknya. Aku benci harus membuatnya mengalami ini semua, tapi ini proses yang dibutuhkan untuk mengubah memorinya sepenuhnya."

Kabuto memperbaiki posisi kacamatanya yang merosot.

"Swiss Cheese punya kandungan THC 18%. Setara MK Ultra. Jadi karena itu kau memesannya."

"Kau pikir aku ini apa? CIA? Aku ini membantu pasien melupakan kenangan tidak menyenangkan, bukannya ingin menghapus total ingatan dan mengendalikannya."

"Kenangan buruk apa?" senyum sinis Kabuto muncul ke permukaan. Kakashi benci ekspresi kurir narkoba satu itu. Ekspresi tahu segalanya.

"Kakashi, aku tidak melihat perbedaan dari menghapus kenangan buruk dengan menghapus total ingatan seseorang; terlebih jika kau mencoba menggantinya dengan meyakinkan pasien kau adalah kakak barunya."

Pandangan setengah tiang mata onyx Kakashi bertambah dingin. Ia tidak bisa terlalu percaya atau berhati-hati di sekitar Kabuto. Rasa ingin tahunya sama hebatnya dengan kemampuan deduktif miliknya. Andai sikap ikut campurnya bisa dihilangkan, Kabuto akan jadi partner bisnis yang sempurna.

Kabuto mengayunkan tangannya acuh tak acuh. "Eh, tapi aku tidak peduli dengan itu. Orochimaru-sama senang berbisnis denganmu."

"...katakan aku juga sama."

Lelaki berkuncir kuda perak itu hampir hilang di balik pintu. Sesuatu membuatnya berhenti. Ia tersenyum kembali pada Kakashi.

"Say, Kakashi...her nightmares...are they really the side effect of your incompetence, or merely the result of your hypnosis?"

Katakan, Kakashi...mimpi buruk gadis itu...apakah mereka memang efek samping ketidakmapananmu, atau sekedar hasil dari hipnotismu?

Dua minggu ini adalah waktu yang berat, dan ia akhirnya perlahan berhasil meyakinkan Tenten kalau ia lari ke Kakashi karena kedua kakaknya abusif. Hipnotis memang bisa digunakan untuk mengubah ingatan seseorang, tapi ia membutuhkan alasan bagi Tenten untuk menurunkan dinding pertahanannya.

Maka ia menciptakan kenangan tidak menyenangkan. Dua kakak kandung yang menyimpang; abusif dan nyaris membunuh Tenten. Alasan untuk membenci dua sosok yang paling dicintainya. Alasan untuk terbangun di malam hari karena kilas balik kenangan buruk bersama mereka. Belum ada efek samping sejauh ini. Tapi Kakashi mencoba menghindari itu dengan melakukan sesi hipnotis selama 45 menit setiap tiga hari sekali. Frekuensi dibutuhkan, tapi hipnotis berlebihan memperbesar resiko efek samping. Kakashi memang bukan ahli, tapi ia cukup jenius melakukan teknik relaksasi yang beresiko mengubah kepribadian subjeknya. Marijuana hanyalah alat bantu untuk menambah rasa aman bagi Tenten di sekitar Kakashi. Untuk mengurangi trauma artifisial yang disugestikan olehnya.

"Face it, Kakashi. You're committing malpractice here."

Akuilah, Kakashi. Kau melakukan malpraktek di sini.

"Lalu?"

Kabuto terkekeh. "Heh. Kau lebih nekad dari yang kuduga. Not bad."

"Kau terlalu banyak bicara, Kabuto."

Kakashi merasakan tatapan Kabuto di punggungnya yang berjalan ke arah kamar Tenten.

"Good luck with that."

"...with what?"

"Menyembunyikan anak bungsu keturunan Uchiha."

Kakashi berbalik, melempar pandangan kepada Kabuto yang terlihat seperti sebuah usiran.

"Aku sudah melakukannya selama dua minggu."

"Well, selalu ada hari esok, kau tahu?"

Dan dengan kata-kata ambigu itu kurir barang terlarang itu beranjak pergi dari koridor mansion. Kakashi menggeleng, tidak habis pikir kenapa ia mau meladeni orang seperti Kabuto. Lain kali, ia akan meminta bodyguard untuk mengambil paketnya di gerbang.