One Piece © Eiichiro Oda

Two Schools, Two Worlds

Chapter VIII

Defense of the High School

Prologue – New Patch


Hari itu adalah hari yang indah di pertengahan musim semi.

Matahari bersinar cerah di langit biru, yang membuat burung-burung berkicau meriah menyambutnya. Angin berhembus sepoi-sepoi, angin musim semi yang hangat. Tidak lupa kelopak bunga sakura berguguran dengan elegan... ini benar-benar suasana yang biasa ada dalam puisi-puisi musim semi.

"MATI KAAAUUUU!"

Sungguh... hari yang indah...

"MINGGIRR!"

"OI, HATI-HATI! ADA CEWEK DI SINI!"

BUAGHH!

"T-TULANG PUNGGUNGKUUUU!"
"GYAAAA! PMR!"
"CEWEK APA YANG MEMUKUL SEKERAS ITU?!"

"HE HA HA HA! PERGILAH KALIAN KE NERAKA!"

"TERIAKAN ITU KURANG KEREN KALAU DALAM BAHASA JEPANG!"

"SAMPAI KAPAN PERCAKAPAN DENGAN CAPSLOCK INI BERLANGSUNG?!"

Teriakan-teriakan penuh amarah dan nafsu membunuh menyeruak dari arah SMU Seifu, sungguh tidak sesuai dengan suasana bak puisi tadi.

Tampak di lapangan utama sekolah, anak-anak berseragam berbeda bergumul. Mereka adalah murid baru tahun ajaran ini yang masih mengenakan seragam SMP masing-masing. Tapi meskipun baru, kebrutalan mereka tak kalah dengan para senior. Pukulan, tendangan, senjata, teknik beladiri, bahkan haki mewarnai pergumulan itu.

Kalau ada org asing yang berjalan melewati kompleks Seifu hari itu, pasti berpikir ini adalah tawuran antar siswa dan dia akan buru-buru memanggil polisi atau ambil langkah 10.000 (karena 1000 langkah tidak cukup jauh dari lokasi pertempuran). Keputusan yang bijak... tapi, tidak juga. Ini bukanlah tawuran antar kelas atau acara pembantaian masal, ini adalah...

"MOS, Masa Orientasi Siswa," seorang senior berambut oranye dan armband bertuliskan OSIS, Nami dari kelas XI-3 bergumam untuk yang kesekian kalinya pagi itu, berusaha meyakinkan diri atas apa yang disaksikannya saat itu. Dia masih tidak percaya ini benar-benar terjadi.

Serius, karena sudah bekerja bersama Luffy dan kawan-kawan sebagai anggota OSIS selama sekitar 2 semester, harusnya dia sudah hapal apa yang akan terjadi kalau Luffy dan Kid dijadikan penanggungjawab sebuah acara.

Petunjuk: jadi acara penuh kekerasan.

Yang disebut MOS tahun ini adalah acara yang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya (pastinya dong).

Jika pada tahun-tahun sebelumnya yang diutamakan adalah perkenalan lingkungan sekolah dan klub, tidak dengan tahun ini. Hal yang diutamakan adalah... kemampuan bertahan hidup.

"Anak-anak gila," Nami bergumam lagi. Kepalanya terasa pusing, bagaimana pertanggungjawaban OSIS nanti mengenai kerusakan fasilitas sekolah yang akan terjadi? Dana OSIS masih belum ada karena mereka baru liburan musim semi...!

Tapi dasar Nami, dia malah bingung memikirkan ganti rugi fasilitas sekolah bukannya keselamatan anak-anak baru.

"Hahaha, aku suka dengan acara yang seperti ini," Sanji yang berdiri di sampingnya, dengan nametag 'Klub Memasak' di saku kemejanya, berkomentar dengan wajah berseri-seri. "Menurutku ini sangat efektif dan menarik... oh! Ayo, juniorku yang cantik, kejar dia!"

Si pirang itu bersorak-sorak memberi semangat kelompok cewek yang mengejar seorang senior ber-nametag. Tak lama kemudian senior itu tertangkap dan dia tertawa puas.

"Uhh, dasar cowok," Nami meneteskan keringat dingin. Sanji, di balik sikapnya yang cenderung kalem (asal tidak berhubungan dengan cewek), ternyata diam-diam menyimpan keganasan. Dia hanya bsa menyalahkan lingkungan Seifu yang mengubah temannya itu...

Begini acara MOS yang diajukan Luffy dan Kid. Selain perkenalan lingkungan sekolah dan dewan guru, ada permainan yang dilakukan tiap harinya, selama 3 hari MOS. Permainan inilah yang jadi sumber kekhawatiran Nami...

Para murid baru mendapat tugas untuk mencari anak-anak terkenal Seifu dan minta tanda tangan mereka, tapi para target hanya boleh memberikan 50 per hari (biar mereka tidak cape juga). Dengan durasi MOS selama 3 hari, para murid baru minimal harus mendapatkan 15 tanda tangan para senior. Para senior yang dapat tugas ada 25 orang, sedangkan murid baru tahun ini ada 250, yang terbagi dalam 10 kelas. Sehingga, perhitungannya...

Luffy, waktu meramu ide ini bersama Kid dan kawan-kawan, berkata dengan amat bijak, "Peduli amat sama itu, yang penting tugas ini tidak mustahil untuk dikerjakan."

Sebenarnya Monet (dan Nami yang dipaksa Luffy ikutan) sudah menyelesaikan penghitungan kesempatan berhasil para murid baru, dan hasilnya kira-kira 80-90% akan berhasil menyelesaikan event. Dengan kata lain, yang gagal sekitar 25-50 anak. Bukan hal yang terlalu mustahil.

Luffy dan anggota OSIS lain, dibantu beberapa relawan dari klub, adalah panitia MOS tahun ini. Dalam kepanitiaan itu, anggota ceweknya hanya 3: Nami, Bonney, dan Monet. Sehingga tidak heran, mereka kalah suara. Apalagi Bonney dan Monet menyetujui ide gila dari para cowok seperti biasa.

Jadi ide acara itu pun disetujui Pak Odacchi dan Pak Ray dengan mudahnya.

Hari itu adalah hari terakhir MOS. Kebanyakan murid baru telah mendapat 10-an tanda tangan, ini adalah langkah terakhir mereka untuk menyelesaikan permainan. Tapi, para senior seolah menghilang, sulit ditemukan dan waktu yang tersisa semakin sedikit. Alhasil sekolah pun jadi luar biasa kacau.

"Shishishishi! Ayo kalian semua, waktu tinggal 20 menit!" sang ketua OSIS, Luffy berteriak memberi semangat, suaranya menggelegar di tengah keramaian permainan. "SEMANGAAAAT!"

"OUUUU!"

Di penjuru lapangan, beberapa senior dengan nametag melakukan hal yang sama. Mereka berasal dari OSIS dan para ketua klub, yang sudah menyelesaikan tugas mereka memberi tandatangan sebagai sukarelawan untuk permainan MOS.

"Yang masih punya jurus rahasia, saatnya digunakan sekarang!"

"Jangan lupa teriakkan nama jurusnya, agar kami bisa catat!"

"Buat yang kalah, hukumannya akan jauh lebih mengerikan dari medan perang tempat kalian berada sekarang! Jika perang adalah neraka, hukumannya adalah neraka dalam neraka!"

"Jika tidak bertarung, tidak akan bertahan hidup!"

Saat itu para guru, hampir semuanya, tengah mengikuti rapat besar di balai kota. Guru yang tersisa mendekam di ruang guru, tidak mau terlibat. Akibatnya, anak-anak kelas 2 dan 3 tidak bisa belajar. Tentu saja mereka tidak protes, mungkin masih malas setelah liburan musim semi.

Nami menghela napas panjang untuk yang kesekian kalinya. Segila apapun MOS ini, ke depannya akan ada acara yang lebih gila lagi. Dia merasa tidak bisa tenang.

Sanji menyadari mood teman cantiknya itu semakin turun dan senyumannya menipis. Dia pun bertanya, "Ada apa, Nami-swan?"

"Ah... aku teringat pada event yang dikatakan senior kapan hari," Nami menggaruk pipi, menjelaskan kekhawatirannya. "Kamu ingat kata-kata Sabo-senpai di pesta perpisahan kapan hari?"

Sanji menaikkan alis spiralnya.

"Berhati-hatilah untuk event yang akan datang, jangan sampai ada korban tewas, hahaha..."

"Oh, itu?" si cowok pirang itu mengangguk, teringat kata-kata absurd sang senior. Sabo saat itu tampak sangat santai, seolah itu hanya nasihat sehari-hari. Padahal, dia membicarakan 'korban tewas'! "Itu... cukup mengkhawatirkan."

"Iya. Aku... tidak bisa membayangkan acaranya akan seperti apa kalau senior setangguh Sabo-san sampai bicara begitu," tanpa sadar Nami bergidik.

Sanji mengelus jenggot tipisnya. "Soal itu, Nami-san. Aku menanyakannya pada senior di klub dan dia hanya memberikan nama, 'Defense of the High School'."

"Nama apaan itu?" Nami meneteskan keringat dingin. Sudah aneh, singkatannya jelek lagi!

"Makanya anak-anak lebih suka menyebutnya sebagai 'Defense'," Sanji mengangkat bahunya. "Senior tidak menjelaskan apapun setelahnya, tapi yang jelas event ini diadakan 3 tahun sekali. Tidak ada berita atau acara TV yang meliputnya, sepertinya event bawah tanah atau semacamnya."

"... itu seram sekali!"

...

Sementara itu, acara pencarian tandatangan sudah mencapai puncaknya. Waktu tinggal 5 menit, kebanyakan murid baru sudah menyelesaikan misi mereka dan terkapar kecapekan di tengah lapangan, menunggu komando OSIS yang selanjutnya. Luffy dan anggota OSIS lainnya pun menghentikan teriakan mereka dan bersantai. Memang, sangat mudah menemukan mereka dengan melihat armband OSIS, jadi harusnya para murid baru sudah mendapatkan tandatangan mereka.

Hampir semua, karena ada seseorang yang selama 3 hari ini berusaha menghindari Luffy dan kawan-kawan.

Dia kini berdiri di balik sebuah pohon, dengan mata memerah memelototi para senior. Badannya bergetar dahsyat berusaha menahan emosi, jari-jarinya menggenggam batang pohon itu sampai retak. Ia adalah seorang cowok berbadan besar dengan rambut hijau berjambul tinggi, berwajah sangar tanpa alis dan gigi-gigi tajam. Murid-murid baru yang melihat penampilannya langsung keder, itu benar-benar tampang seorang yang amat brutal.

Tapi jika mereka melihat wajahnya saat itu, pasti akan tertawa keras.

Matanya memerah karena air matanya mengalir deras, badannya bergetar karena dia grogi, tangan-tangannya mencengkeram pohon karena dia terlalu grogi.

"Luffy-senpaaaaiiiiiiii!"

-xXxXx-

"Hahahahahaha! Kerja bagus, kerja bagus! Hahahaha!" tawa kencang Pak Ray bergema di ruangan OSIS yang sepi itu, air matanya sampai mengalir. Anak-anak dibuatnya khawatir, apa pak tua itu akan baik-baik saja? Tapi dia bisa tertawa tanpa menarik napas selama 2 menit, pasti stamina dan kesehatannya masih prima. Rugi mengkhawatirkannya.

Saat itu pukul 3 sore, akhir kegiatan pembelajaran (kalau bisa disebut begitu) hari itu. Semua event MOS sudah selesai dan murid lain sudah pulang, hanya tersisa beberapa di sekolah. Para guru sudah kembali dari rapat akbar sejam lalu, dan tadi Pak Ray mengabari anak-anak OSIS untuk berkumpul di ruangan setelah kegiatan selesai.

Yang pertama dilakukan Nami setelah bertemu dengan sang guru penanggungjawab OSIS itu adalah memprotes event MOS, tapi pak Ray hanya tertawa menanggapinya. Tawanya makin kencang saat Nami membacakan laporan kerusakan fasilitas sekolah akibat kerusuhan event. Tidak parah sih, tapi tetap saja butuh dana untuk memperbaiki semua itu.

"Lihat, Nami-chan? Pak Ray sepertinya sangat senang atas rencana kita," kata Luffy dengan senyuman bangga.

"Apa tidak ada orang normal di sekolah ini?! Orang yang menyukai kedamaian?!" Nami meletakkan kepalanya di atas meja.

"Menurutku, yang nggak normal itu kau karena menentang event seperti ini," Kid berkomentar, kedua lengannya di belakang kepala. Bonney dan Monet di dekatnya mengangguk setuju.

"Standar normal kalian seperti apa?!"

Pak Ray semakin tertawa mendengar perbincangan singkat itu. Memang, acara MOS tahun ini benar-benar berbeda dari tahun sebelumnya, dan karena itu... jadi lebih menarik.

Permainan 'Signature Survival Game' (alias "Permainan Bertahan Hidup Berburu Tanda Tangan", nama ini ditolak Luffy karena terlalu panjang dan tidak keren) sebenarnya memiliki manfaat yang sangat bagus untuk murid baru. Dengan memaksa mereka berkeliling sekolah untuk mencari para senior, mereka secara tidak langsung dikenalkan dengan lingkungan sekolah. Lalu, mereka harus mengenali para senior ketua klub dan klubnya. Terakhir, dengan bertarung bersama maka akan muncul rasa persaudaraan (ini juga menurut Luffy).

Waktu pak Ray pertama mendengar ini, dia kaget. Pemikiran gila mereka bisa menciptakan permainan efektif seperti ini. Menurutnya ini sangat bagus, seperti perwujudan istilah 'rough love' (rasa cinta yang dibangun dalam ketegasan).

"Baiklah, ehem, maaf," Pak Ray mengakhiri tawanya, membuat Luffy dan kawan-kawan memperhatikannya dengan seksama, sepertinya inti dari pertemuan ini akan segera dibahas. Ia membenarkan posisi duduknya, meletakkan kedua lengannya ke atas meja. "Seperti yang kalian tahu, tadi saya dan bberapa guru mengikuti rapat akbar di gedung dewan kota. Di sana kita membicarakan event yang akan datang..."

"'Defense of the High School'," jawab anak-anak OSIS kompak.

"Benar. Apa kalian dengar soal ini dari para senior?" tanya Pak Ray, yang dijawab anggukan. "Tapi mereka tidak menjelaskan apapun selain itu?"

"Iya!" jawab Luffy.

"Itu karena mereka dilarang menceritakan hal ini. 'Defense' adalah event tersembunyi kota Raftel yang berita atau informasinya takkan bisa kalian temukan di manapun, kecuali kalau kalian datang menonton langsung. Ini adalah event 3 tahun sekali, jadi tiap angkatan hanya bisa merasakannya sekali."

Event tersembunyi... Nami menelan ludah. Sepertinya memang event yang sangat berbahaya! Dia ingin kabur dari ruangan dan tidak terlibat, tapi apa daya, dia punya kewajiban sebagai anggota OSIS.

"... tahun ini, 'Defense' akan diadakan di akhir Juni. Tanggal pastinya masih dirahasiakan, jadi kalian harus siap kapan saja."

"Ooooh!" Luffy dan kawan-kawan (kecuali Nami, tentunya) tidak bisa menyembunyikan antusiasme mereka. Penuh rahasia, misterius, ini sangat menarik!

Di tengah antusiasme kawan-kawannya, Nami mengangkat tangannya yang gemetaran karena ragu. Pak Ray menolehinya dan mengangguk, mempersilakan untuk bertanya.

Cewek berambut oranye itu bangkit dari kursinya, "'Defense'... event seperti apa itu? Dari namanya, ini event yang penuh kekerasan."

Pak Ray mengelus jenggot putihnya, sepertinya memikirkan sebuah jawaban yang singkat. "Hmm... mudahnya, 'perang angkatan'. Sebuah pertandingan jalanan untuk menentukan sekolah dengan murid terbaik, baik secara fisik, kerjasama, dan strategi."

Nami menjatuhkan kepalanya ke atas meja.

"'Perang angkatan'?! Aaaah, acara penuh kekerasan lagi!"

"A-apa bedanya dengan DBF?" tanya Bonney, suaranya bergetar tak bisa menahan antusiasme.

'Davy Back Fight', nama julukan untuk Olimpiade Antarsekolah Musim Dingin. Sesuai namanya, itu event yang berisikan berbagai macam pertandingan, dari olahraga, cerdas cermat, sampai e-sports. DBF dan Defense sama-sama mempertemukan sekolah-sekolah terbaik sekota Raftel, tapi apa bedanya?

"Hmm, menurut bapak... 'DBF' lebih teratur, lebih megah. Sedangkan 'Defense'... itu event yang brutal, tanpa aturan jelas selain 'dilarang membunuh'."

Nami membenturkan kepalanya ke atas meja. Badan Luffy, Kid, dan Bonney bergetar. Bolpen jatuh dari tangan kanan Monet.

"Jadi... ini tawuran?" Monet bertanya.

"Yah, bisa dibilang begitu."

"UWOOOOOOOOOO!" Luffy, Kid, dan Bonney meraung senang. Mereka tidak menyangka ada event segila itu di kota ini! Siapapun pencetusnya, dia adalah seorang jenius!

Nami membenturkan kepalanya ke atas meja lagi. Serius, memikirkan hal-hal seperti ini bisa mengurangi IQ-nya! "Apa tidak ada orang normal di kota ini?!"

"Mereka yang tidak punya nama dan peran dalam kisah ini, mungkin."

Mata semua orang di ruangan itu tertuju pada Monet, tapi yang bersangkutan hanya mengangkat bahunya.

"... mengabaikan Monet-kun yang menembus dinding dimensi keempat..." Pak Ray memulai pembicaraan lagi. Cahaya matahari sore membuat matanya tertutup kilauan kacamata bulatnya, menciptakan efek seorang yang sdengan merencanakan sesuatu yang jahat... untuk lawan mereka. "Mungkin tidak perlu bapak tekankan lagi, tapi kita harus menang."

Anak-anak OSIS mengangguk penuh percaya diri. Ya, tanpa sang sensei berkata seperti itu pun, memenangkan event ini sudah jadi tujuan mereka semua. Nafsu memburu kemenangan sudah tertanam dalam diri mereka sejak menjejakkan kaki di SMU Seifu.

"Sama seperti 'DBF', memenangkan 'Defense' sudah jadi tradisi sekolah kita. Sejak pertama kali event ini diadakan, kita mendominasi dengan 6 kemenangan. Yang terakhir, 3 tahun lalu di angkatan Hancock-kun dan kawan-kawan. Waktu itu mereka menang sangat telak. Saya tidak memaksa kalian melampaui target mereka dengan menang lebih telak lagi, tapi intinya kalian harus menang, tidak ada kompromi."

Pak Ray memandang anak-anak di depannya satu persatu. Luffy yang menyeringai penuh percaya diri, Kid yang mengangguk dengan wajah kejam, Bonney yang menggertakkan tangannya seperti cowok, Monet yang mencatat semua informasi itu dengan kecepatan yang tidak wajar, dan Nami yang sepertinya mau pingsan (Pak Ray menganggapnya terlalu antusias). Dia tersenyum puas, sudah bisa membayangkan sebuah trofi baru terpajang di ruang trofi sekolah.

"Kalau begitu saya jelaskan apa yang harus kalian persiapkan," pak Ray mengambil map yang terletak di depannya, dan membukanya. "'Defense' adalah event tim, yang terdiri dari murid-murid terbaik sekolah. Untuk pemain dibutuhkan 10 orang: 4 anak kelas 1, 3 anak kelas 2 dan 3 anak kelas 3. Lalu, sebagai pendukung, 1 ahli strategi dan 3 scout atau pengintai. Terakhir coach seorang guru, SMU Seifu saya yang bertanggungjawab."

"Dengan kata lain, 14 murid? Cukup banyak... tapi tidak sebanyak kontingen 'DBF' kemarin," Monet mengangkat kacamata tebalnya dan bertanya, "Aturan mainnya seperti apa?"

"Hm! Soal itu tidak usah saya jelaskan dulu, lebih baik saat semua anggota tim berkumpul, akan lebih efektif. Karena akan cukup panjang," pak Ray menjawab. "Oh ya, semua anggota OSIS harus ikut serta."

"EEEEHHHHH?!"

Nami bangkit dari posisi duduknya dan berteriak. Yang benar saja, dia tidak mau terlibat dalam event segila ini! Tapi lihat, peserta rapat yang lain tidak mempedulikan protesnya. Iapun kembali menyandarkan kepalanya ke atas meja.

"Hm... selain Bonney yang punya daya hancur-" Bonney memukul Kid, membuktikan daya hancurnya. Kid terpental, tapi sekejap kemudian bangkit, sepertinya sempat melindungi diri dengan Busoshoku. Bonney berdecak kesal, dan Kid menyeringai membalasnya. "Sepertinya Nami-chan dan Monet lebih cocok ada di grup pendukung."

Nami mengangkat wajahnya dari atas meja, matanya terbelalak mendengar itu. Kid... menolongnya?! Dia tidak mau memikirkan hal lain, dan menerima saja tugas itu. "S-setuju, setuju!"

"Karena aku tidak begitu kuat, aku juga setuju deh," kata Monet.

"Untuk tim pendukung, nggak ada batasan anak kelas berapa saja?" Kid menolehi Pak Ray.

"Tidak ada. Biasanya sekolah mempercayakan posisi itu pada anak senior sih."

"Yang ada kuota, hanya tim pemain, ya?" Bonney bertanya.

"Uhh... aku nggak mengerti," Luffy memiringkan kepalanya.

Nami menghela napas, dia tidak mau menjelaskan pada si bebal, akan sangat lama. Jadi dia langsung menuju inti. "Uhm, yang jelas kita harus cari anggota tim. Jumlahnya 10 orang..."

"Oh, kalau itu serahkan padaku!" Luffy menepuk dadanya dengan penuh semangat. "Kid, kau juga ikut!"

"Yosh," Kid mengangguk setuju. Memang, urusan ini hanya bisa dilakukan oleh ketua geng terkuat di sekolah, karena merekalah yang tau benar peta kekuatan di Seifu.

"Kalau begitu, tugas kalian selama 2 minggu ini sudah ditentukan," pak Ray menutup mapnya, wajahnya tampak senang karena anak-anak OSIS bekerja dengan cekatan tanpa perintahnya. "Mencari anggota tim. Selesaikan secepatnya, dan saya akan menjelaskan aturan bermain 'Defense' setelahnya."

"Osssu!"

-xXxXx-

Sementara itu, SMU Ryuugu juga tengah mengadakan MOS. Berbeda dengan Seifu, MOS di sana lebih... teratur walaupun juga cukup keras. Acara lebih banyak dilakukan di luar ruangan dengan fokus pada kemampuan fisik dan pengetahuan marinir. OSIS tahun ini bekerjasama dengan markas angkatan laut yang ada di dekat sekolah, untuk menanamkan kedisiplinan pada para murid baru.

Ini langkah yang aneh bagi ketua OSIS baru, Hody Jones, mengingat rekam jejaknya yang cenderung keras... tapi eh, event berlangsung dengan mulus.

Hari itu adalah hari terakhir MOS, sekarang para murid baru tengah berlatih tanding satu sama lain. Kenapa ada acara seperti ini, tujuannya adalah untuk melihat kemampuan bertarung para murid baru, sekaligus mencari anggota tim 'Defense'.

"Murid-murid baru tahun ini... cukup berpotensi," Zeo, cowok botak dengan wajah serius, berkomentar. Di tangannya terdapat selembar kertas berisikan sebuah tabel, dan sesekali dia menorehkan tanda cawang di sana. Entah kriteria penilaiannya apa, yang jelas dia tampak senang.

"Hm, aku percayakan ini padamu saja, ahli strategi, jaha," sang ketua OSIS yang berdiri di sampingnya tertawa penuh percaya diri, menampakkan gigi-gigi tajamnya.

"Tapi yang jago cuman anak-anak dari SMP swasta itu saja," temannya satu lagi, cowok tinggi berambut keriting, Decken, berkomentar. "Kuota murid kelas 1 dalam tim hanya 4 orang, sedangkan anak baru yang bagus cukup banyak. Pembagiannya nanti-"

"Kita lemparkan mereka ke tim pendukung, beres," Hody menjawab singkat. Zeo dan Decken pun mengangguk setuju.

Sambil berkonspirasi begitu, mereka berjalan mengamati proses latih tanding para murid baru. fokus mereka tertuju pada kelompok anak 'dari SMP swasta' yang dimaksud Decken. Mereka berasal dari yayasan sekolah yang sama... Akademi Donquixote.

Nama ini tak asing bagi seorang penggemar pertandingan kompetitif. Didirikan oleh seorang ambisius bernama Doflamingo dan adiknya Corazon, Akademi Donquixote adalah yayasan pendidikan yang sangat kompetitif, yang memfokuskan pendidikan pada kemampuan praktek dan ekstrakulikuler di samping akademisnya.

Sekarang, ada 7 murid baru dari perguruan itu yang berada di Ryuugu, 4 anak kelas 1 dan 3 anak di kelas 2. Entah apa tujuan mereka ada di sini, tapi Hody punya teori kalau sang pemilik perguruan ingin mengguncang status quo kota Raftel yang didominasi Seifu selama 6 tahun belakangan ini. Atau, sederhananya, ingin memanaskan persaingan.

Tentu saja Hody dan kawan-kawan tidak menolak. Mereka tidak mau mengakui ini, tapi mereka membutuhkan semua bantuan yang bisa didapat untuk menghancurkan Seifu. Mereka tak bisa mengandalkan geng 'Gyojin' yang dipimpin Hody saja, sekuat apapun mereka.

"TOYS!"

BWUSSHH!

Suara kecil yang berteriak itu mengalihkan perhatian Hody dan kawan-kawan dari diskusi. Mereka menoleh bersamaan untuk melihat... sebuah suasana yang tidak bisa dijelaskan.

Seorang gadis kecil berdiri di tengah kerumunan anak berperawakan lebih besar... yang kini terdiam membungkuk. Tidak lama kemudian, mereka semua bangkit dan bergerak... dengan kaku, seperti tarian robo.

Apa yang terjadi di sini?!

"Huh, ada loli di sini...?" Zeo bergumam, penasaran.

"Proporsi seperti itu saat dia sudah SMU... itu menyedihkan, bahoho," Decken bergumam. Yah, dia memang sukanya yang 'berisi', seperti pujaan hatinya Shirahoshi sih.

"Kata seorang bijak, 'flat is justice'," kata Zeo, filosofis.

"Eeeh, aku pilih yang 'ada' daripada yang 'tidak ada', menurutku," sambung Decken.

"... kalian membicarakan apa sih?" Hody menggeram. Mengabaikan omongan tidak penting 2 orang mesum itu, sang ketua OSIS menolehi gadis kecil itu lagi, penasaran apa yang telah dia lakukan. Mungkinkah... Haoshoku haki? Dia tidak terlalu mengerti haki , jadi dia tidak bisa memastikannya...

Para korban gadis itu pun mulai bertingkah aneh-aneh. Ada yang merangkak, ada yang menepuk-nepukkan kedua tangannya lebar-lebar, ada yang jungkir balik berjalan dengan tangan, ada yang berlari dengan mengeluarkan suara 'brrrmmmm', atau merentangkan kedua tangan dan berlari berputar-putar. Itu seperti...

"Seperti anak kecil... bukan," Hody mengamati gadis kecil itu lagi, yang kini tengah menghadapi anak kelas 1 lainnya yang tidak terima temannya dikalahkan. Gadis itu menghindari serangan sang lawan dengan mudah, lalu menyentuh lengannya. Tidak lama, sang lawan terdiam membungkuk... dan bangkit lagi dengan gerakan kaku, patah-patah. Gerakan itu... seperti boneka?

Menyadari itu, Hody membelalakkan matanya.

"Jahaha... jahahahahaha!" Hody tertawa, bukan tawa garing ala penjahat yang sedang merencanakan sesuatu, ini benar-benar tawa terhibur, tawa senang. Matanya terbuka lebar, pembuluh darah mewarnainya merah penuh rasa ketertarikan. "Ketemu."


A/N

Mana yang mengharap action?! (dua org angkat tangan) Okay...

Aku beri action! Chapter ini akan penuh action, perang jalanan ala Crow Zero dan teamfight brutal ala Dota! Dan unsur Dressrosa arc.

Chapter selanjutnya akan berisi aturan Defense yang cukup rumit, semoga nanti kalian mengerti...

Btw, fic Under the Crimson Moon sepertinya akan aku pindah ke AO3 (kalau diterima), rate nya kujadikan M... karena kekerasan (no lemon). Hoho.


Next in Two Schools, Two Worlds

Chapter VIII Part I

Captain's Mode

"Menggantungkan nasib sekolah ini pada seorang loli. Sejauh inikah SMU Ryuugu jatuh..."