Prolog:

Sabaku no Gaara, pewaris Sabaku corporation, karena deadline berumah tangga kakak perempuannya sudah dekat dan kenyataan kalau kakak lelakinya sama sekali tidak punya bakat memimpin perusahaan. Maka, mau tidak mau (walaupun Gaara benar-benar tidak mau), dia harus bersedia menerima pertunangannya dengan salah satu Hyuuga yang merubahnya jadi HOMO.


AU, OOC, Special for Mendy.d'LovelyLucifer.

Main pairing: NejiGaara

Slight pairing: SasuNaru, ShikaTema, SaiIno, KibaHina, LeeSaku, SasoDei, PeinKonan, KisaIta, dll.


Summary:

Sorry, I didn't mean to let you face this all alone. I took wrong way. I should stay beside you, no matter happened. Sorry. I love you so much. NejiGaara. Chapter 52


XxXxX


NARUTO © MASASHI KISHIMOTO SENSEI

CAN WE PRETEND TO LOVE, THEN WE'LL MARRY? © HELENA NEGA


XxXxX


Gaara menarik pintu darurat dengan sekuat tenaga. Gaara berlari keluar. Menuju ujung koridor yang lebih terang disinari cahaya bulan. Tapi begitu Gaara terduduk kehabisan nafas di lantai depan kaca, sepasang mata merah lain menatapnya.

Gaara nggak bisa teriak walaupun mulutnya terbuka ketakutan. Badannya juga lumpuh mendadak. Pasrah, bahkan Gaara nggak menangis.

Lalu sepasang mata merah itu mengedip diiringi dengkuran pelan. Awan yang tadi menutupi bulan menyingkir dan menerangi pemilik mata itu. Gaara bahkan lebih syock dari sebelumnya saking leganya. Seekor anak kucing hitam menatapnya. Sama ketakutan seperti Gaara.

"You've scared me," bisik Gaara sambil bersandar di dinding kaca, "Did your mom down there? You spared with her?"

Si kucing mendengkur lagi dan berlari ke arah emergency stairs yang terbuka sambil mengeong keras.

Gaara memandangi tangannya, dia gemetaran. Gaara nggak yakin kalo dia mau meneruskan turun walopun dia udah tau si pemilik mata merah cuma kucing. Gaara memutuskan sebaiknya dia istirahat dulu, menunggu debaran jantungnya reda. Lalu lampu mendadak menyala. Gaara berdiri dengan kaget dan berlari ke lift secara otomatis bahkan sebelum otaknya sempat berfikir. Gaara menekan angka 1 dengan panik tepat waktu pintu lift tertutup. Lift baru akan bergerak turun waktu lampu mendadak mati lagi dan lift berhenti.

Gelap gulita. Gaara benar-benar ketakutan. Dia terperangkap disini, pintu lift nggak bergerak walopun Gaara mendorong dan menggedornya. Kali ini Gaara nggak tahan lagi, dia menangis sambil memanggil nama Neji dan Temari. Dia nggak peduli kalopun dia menangis seperti anak kecil. Nggak peduli kalopun tenggorokannya sakit karena teriak-teriak.

Gaara nggak tau kapan tepatnya dia berhenti menangis. Entah karena kelelahan atau waktu menyadari kalo tangisannya terdengar menyeramkan di lift ini atau karena sekarang tangan kanannya sakit sekali seperti akan copot. Gaara duduk aja disudut lift sambil memeluk lutut bahkan dia nggak bergerak sewaktu ada suara gedoran dari pintu lift .

Nggak tau mimpi atau bukan, Gaara mendengar suara derak besi ketemu besi, lalu sorot lampu menembus celah pintu lift yang dibuka paksa, lalu suara teriakan Neji dan Temari.

"Gaara-chan, sayang, kamu nggak apa-apa?"

"Neji nggak bisa masuk. Ulurkan tanganmu kesini, sayang. Neji dan Shikamaru akan menarikmu ke atas,"

Lift udah sempat turun sebelum lampu mati, jadi sekarang celah pintu ada diatas box lift dan hanya berupa celah kecil yang pas untuk badan Gaara karena Neji udah nyoba masuk tapi nggak muat. Dari celah sanalah tangan dan setengah muka Neji dan Shikamaru muncul.

Gaara berdiri kayak orang linglung dan mengulurkan lengan kirinya ke atas, nggak sampe.

"Dua-duanya, sayang..." kata Neji dengan nada membujuk.

Rasanya kayak mimpi mendengar Neji memanggilnya sayang kayak dulu. Gaara mengulurkan kedua lengannya, nggak sadar kalo tangan kanannya udah mati rasa. Ada suara derakan lagi dari tangannya waktu Neji menarik Gaara keatas. Badan Gaara terlonjak dan wajahnya berkerut kesakitan. Tapi dia nggak berteriak juga nggak menangis.


XxXxX


"Kita ke rumah sakit dulu," kata Temari.

Neji memeluk Gaara waktu mereka berjalan. Gaara gemetar dari kepala sampe kaki.

"Aku ingin pulang," bisik Gaara.

Temari dan Neji saling tatap, tapi nggak berkomentar.

Gaara nggak terlalu perhatikan jalannya, dia bahkan baru sadar kalo mereka nggak naik mobilnya. Terlalu capek buat bertanya dan berfikir. Tapi Gaara tau dia hanya berdua dengan Neji, Temari dan Shikamaru di mobil yang lain.

Gaara menatap Neji. Bertanya-tanya apakah Neji udah nggak marah lagi. Tapi nggak ada satu katapun keluar dari mulutnya. Takut mereka bakal berantem lagi atau Neji akan mendiamkannya lagi. Gaara memejamkan matanya.

Nggak lama Gaara merasa mobil berhenti dan Neji menggendongnya. Gaara bisa merasakan tangan Neji di kepalanya dan yang satunya di belakang lututnya. Lalu terdengar suara Temari dan Ayame. Gaara nggak tau mereka bilang apa, suara mereka terdengar jauh. Gaara merasa dia dibawa menaiki tangga dan terdengar suara pintu tertutup. Lalu Gaara ditidurkan di tempat nyaman yang farmiliar. Dia bisa merasa tangan Neji di dahinya, di pipinya, di rambutnya. Lalu sesuatu yang lebih hangat dan lembut mengantikan tangan Neji, disertai bisikan, "Sorry, I didn't mean to let you face this all alone. I took wrong way. I should stay beside you, no matter happened. Sorry. I love you so much,"

Dan Gaara jatuh tertidur.


XxXxX


Gaara terbangun keesokan harinya. Kepalanya pusing, tangannya sakit sekali, dan perutnya mual.

Gaara mengambil tasnya dan mencari obatnya. Ketika menuang obatnya, Gaara baru sadar kalo tangannya gemetaran. Untunglah ada air mineral di meja, Gaara yakin dia nggak akan sanggup turun kebawah mengambil air minum.

Gaara baru sadar kalo dia udah memakai piyama walopun dia nggak tau kapan bajunya diganti. Tangan kanannya juga dibalut penyanggah yang beda dari yang Gaara ingat dipakenya kemaren.

Gaara bangun dan berganti seragam. Gaara bahkan nggak berani menatap bayangannya di cermin, khawatir dia ketakutan ngeliat wajahnya. Lalu Gaara membereskan bukunya dan menyandang tas sekolahnya, dia bahkan nggak menoleh dua kali ke arah HP-nya yang tetap ditinggalkan di meja belajar.

Gaara turun kebawah, agak bersukur nggak ada Temari di ruang makan. Tapi Ayame agak kaget melihatnya. Dan Ayame memaksanya sarapan.

"Sedikit aja. Roti, cereal, oatmeal, nasi goreng..."

Gaara menggeleng, dia yakin akan memuntahkan apapun yang dia makan. Tapi Gaara nggak bisa menolak ketika Ayame memasukkan bekal dan air ke tasnya, Gaara nggak punya tenaga buat berdebat.

Gaara menghampiri garasi dan tercengang, hanya ada mobil Temari dan Kankuro disana. Gaara baru ingat, dia naik mobil Neji tadi malam.

Gaara mengambil telpon wireless di meja dan menghubungi Ibiki.

"Ibiki-san, tolong kirim seseorang untuk mengambil mobilku di gedung baru,"

"Maaf, bocchan. Mobil anda sedang di bengkel. Tadi malam Kotetsu disuruh Neji-sama membawanya ke Sabaku manor. Tapi Kotetsu bahkan nggak bisa menghidupkannya. Jadi mobil anda diderek ke bengkel."

Gaara terdiam, memang udah lama dia merasa mesin mobilnya nggak beres. Tapi dengan banyaknya kejadian akhir-akhir ini, Gaara bener-bener lupa untuk mengeceknya.

Gaara menutup telponnya setelah mengucapkan terimakasih. Lalu Gaara berjalan keluar. Gaara nggak tau gimana dia harus berangkat sekolah. Tapi dia terus berjalan, melewati halaman dan keluar pagar. Gaara berjalan di trotoar, kakinya hanya otomatis melangkah. Lalu Gaara berhenti, di depannya ada taman tempat dia pernah diganggu anak nakal berpiercing dan diselametin Bee. Tapi waktu Gaara baru mau melanjutkan langkahnya, seseorang menangkap tangan kirinya.

"Gaara-chan, aku memanggilmu dari tadi,"

Neji berdiri disebelah Gaara, wajahnya cemas secemas Gaara yang sempat berfikir kalo si piercing menangkapnya lagi. Neji membawa Gaara ke mobilnya.

"Aku akan mengantar dan menjemput Gaara-chan seperti sebelumnya. Sekolah, les, pulang, Sabaku corporation... Where ever," kata Neji waktu mobil mereka mulai berjalan, "Agree?"

Gaara terdiam, lalu mengangguk pelan. Mobil Neji berhenti di depan gerbang. Neji menarik Gaara ke pelukannya dan tangan Neji berada di leher bagian belakang Gaara.

"As I thought, you have a fever. Your face is so pale," bisik Neji sambil mengelus pipi Gaara.

Gaara mengangkat bahu dan melepas pelukan Neji, "Thank you," katanya sambil keluar dari mobil Neji.

"Gaara-chan," panggil Neji.

Gaara berbalik.

"Kalo nggak enak badan, istirahat di UKS dan telpon aku. Akan kujemput,"

Gaara mengangguk.


XxXxX


"Ohayou, Gaara. Kau kelihatan nggak sehat," sapa Naruto.

Gaara meletakkan tasnya di meja dan ngeliat Sai dan Kiba sedang sibuk menulis.

"Kita ada PR?" tanya Gaara ke Naruto, mengabaikan ucapan selamat pagi Naruto yang malah dijawab Sasuke (Ohayou dobe, you look sexy).

Naruto menatap Gaara horor kayak tiba-tiba tumbuh kepala ekstra dari leher Gaara, "Kau ingin menyalin punyaku?" tanyanya panik.

Sasuke yang nggak setuju contoh-mencontoh PR dan nggak terima gombalannya diabaikan Naruto, langsung menaikkan alisnya.

"Nggak usah, aku akan minta maaf ke Kurenai-sensei," kata Gaara sambil berdiri lagi. Dia berlari ke kantor guru sambil ngeliat jam tangannya. 10 menit sebelum bel pertama.

Gaara mengetuk pintu dan ngeliat kalo Kurenai sedang di mejanya menyiapkan materi pelajaran. Diseberang Kurenai ada Anko dan Kakashi yang juga melakukan hal yang sama.

"Ada apa Gaara-kun?" tanya Kurenai waktu Gaara membungkuk di depannya, memberi salam sekaligus kehabisan nafas setelah berlari satu gedung.

Gaara menelan ludah.

"Duduklah," kata Kurenai cemas. Dia melirik pada Anko dan Kakashi.

Untunglah, karena Gaara merasa kepalanya berputar.

"Sensei saya minta maaf... Saya lupa membuat PR,"

Kurenai tercengang sebentar, mengedip beberapa kali, lalu wajahnya merileks. Kelihatannya dia akan ketawa saking leganya.

"Saya sangat menyesal, saya akan menyalin PR saya lima kali dan berjanji nggak akan mengulanginya lagi," lanjut Gaara cepat-cepat.

Kurenai berdiri, mengambil buku keramat yang berisi catatan muridnya yang melalaikan tugas, "Oke, karena ini yang pertama, jadi nggak masalah."

"Terima kasih sensei,"

Kurenai kelihatan menimbang-nimbang, dia beradu pandang dengan Anko dan Kakashi di meja mereka.

"Tapi sebagai guru, saya harus bertanya. Ini prosedur," kata Kurenai menegaskan sambil menunjuk buku keramatnya, "Ini yang pertama Gaara-kun nggak membuat PR. Jadi... Saya harus bertanya... Karena ini prosedur..."

Diujung sana Kakashi dan Anko memutar mata.

"Saya harus bertanya apa ada yang terjadi?"

Gaara mengedip beberapa kali, "Apa yang terjadi?" ulang Gaara.

"Ya apa yang terjadi. Some trouble or problem or..."

Gaara mendadak paham arah pembicaraan gurunya, "Tidak ada apa-apa, sensei,"

Lalu bel pertama berdering, Gaara buru-buru membungkuk dan pamit keluar.


XxXxX


"Sasuke, bisa kah kau mengajarkanku lagi materi tadi?" kata Gaara pelan.

Naruto tercengang memandang Gaara.

"Apa?" kata Gaara risih karena dipandangi gitu oleh Naruto.

"Kau baik-baik aja?"

"Memangnya aku nggak boleh nggak paham pelajaran?" gerutu Gaara.

"Oh bukan itu, mukamu udah kayak zombie dan kau nggak kosentrasi," bentak Naruto, "Ada apa? Kau sedang ada masalah lagi?" tanyanya lebih lembut dengan nada membujuk.

Gaara terdiam lalu menggeleng pelan, dia udah mau membalas (Kau emank nggak kayak zombie, tapi selalu nggak kosentrasi). Tapi nggak jadi, Gaara tau Naruto nggak bermaksud buruk dengan kalimatnya.

"Dobe..." tegur Sasuke pada Naruto yang udah siap mendebat, "Yang mana yang kau nggak paham?" lanjutnya pada Gaara.

Gaara mengulurkan catatannya dan melirik Naruto yang masih cemberut dengan khawatir.

"Tulisanmu jelek banget, lebih jelek dari punyaku," komentar Naruto masih marah, lalu dia membungkuk dan tertawa terbahak-bahak.

Gaara mengucutkan bibirnya dan memukul lengan Sasuke yang ikut ketawa. Mau gimana lagi, Gaara harus membiasakan menulis pake tangan kiri. Tapi Gaara ikut ketawa juga waktu Naruto menjerit karena kepalanya kepentok meja gara-gara ngetawain Gaara. Rasain, dosa tuh!


XxXxX


"Gaara-chan,"

Gaara mendongak dari catatannya waktu namanya dipanggil, "Ya?"

Neji berdiri di depan Gaara dengan cemas, "Aku nunggu di gerbang tapi Gaara-chan nggak keluar-keluar, dan HP-mu nggak aktif,"

Gaara meringis, "Eh, sorry. HP-ku ketinggalan. Aku lagi bikin PR lima kali," katanya sambil melirik jam tangannya, "Eh... Aku telat les!"

Jeritan Gaara mengejutkan Neji. Gaara cepat-cepat membereskan bukunya.

"PR lima kali?" tanya Neji sambil membantu membuka tas Gaara.

"Tadi malam aku lupa bikin PR,"

Neji nggak jadi memasukkan buku ke tas Gaara, dia menatap tangan kanan Gaara dan memegangnya, "Ingin kubantu, sayang?"

Gaara menggeleng, "Ini hukuman. Aku nggak bertanggung jawab atas kesalahanku kalo dibantu,"

Entah kenapa Neji merasa tertohok mendengarnya. Neji melanjutkan memasukkan buku Gaara dan ngeliat bekal makanan, Neji mengambilnya dan membukanya.

"Nggak dimakan, sayang?" tanya Neji karena ternyata bekalnya masih penuh.

Gaara mengangkat bahu, "Nggak sempat. Susah ngebiasain diri nulis pake tangan kiri. Aku selalu ketinggalan catatan."

"Nggak laper?"

Gaara meringis.

"Makan sekarang aja. Atau... Aku beli strawberry cake di mobil. Mau?"

Gaara melirik jam tangannya, "Liat nanti, Neji-san,"

Neji menyandang tas Gaara dan Gaara ikut berdiri. Tapi tiba-tiba Gaara oleng, untung Neji masih sempat menangkap tangan kirinya.

"Gaara-chan!" teriak Neji cemas.

"Sorry, agak pusing," kata Gaara sambil duduk lagi, "gimme one minute, please," lalu Gaara memejamkan matanya dan merebahkan kepalanya dimeja.

Neji bahkan nggak berani memegang Gaara.

Setelah beberapa menit, Gaara menarik nafas dalam-dalam, "Feel much better," katanya sambil berdiri tegak pelan-pelan.

Mereka berjalan keluar. Neji merapatkan diri ke arah Gaara, berjaga-jaga kalo dia pusing lagi.

"Tadi aku sempat nelpon Naruto. Tapi katanya Gaara-chan belum sampe di tempat les, makanya aku susulin ke kelas," kata Neji.

Gaara diam aja, dia hanya mengangguk sedikit.

Neji menyentuh leher Gaara. Dia nggak tau temperatur Gaara lebih panas dari tadi pagi atau nggak. Leher Gaara sama panasnya.

"Tangan Neji-san dingin," komentar Gaara sambil bergidik.

"That because you have a fever,"

Gaara diam aja. Mereka terus berjalan. Tapi nggak lama Gaara berhenti.

"Neji-san, waktu keluar kota kemaren..."

"Ya?" Neji bertanya karena Gaara nggak melanjutkan kalimatnya.

Gaara masih membuka mulutnya tapi nggak ada suara yang keluar.

"Waktu keluar kota kemaren kenapa?" ulang Neji.

Gaara menggeleng, dia melanjutkan berjalan, "Nggak jadi,"

Neji mengangkat bahu, dia udah bisa nebak apa yang ingin Gaara tanyain. Malah Neji heran kenapa Gaara baru nanya sekarang.

Mereka naik ke mobil Neji dan Neji langsung meletakkan strawberry cake di pangkuan Gaara.

"I'm okey," kata Gaara.

"What do you mean 'I'm okey'?"

"This is yours, I'm not hungry,"

Neji memutar mata, "Do I look like sweet fetist? Buying strawberry cake and sunday ice cream for myself?"

Gaara tersenyum, "How do I know,"

"Except you, I don't like sweet-things,"

Gaara mengangkat alis ala Sasuke.

Neji mendekatkan bibirnya ke bibir Gaara dan mengecupnya, "You are the only exception,"

Gaara balas merangkul Neji. Menempelkan jarinya ke sela-sela rambut Neji, merasakan nafasnya beradu di mulut Neji. Gaara udah nggak menyadari apapun. Udah berapa lama mereka nggak sedekat ini? Kapan Neji terakhir kali menciumnya?

"Sejak aku keluar kota, tambah sekarang pas lima chapter," bisik Neji di bibir Gaara seolah bisa membaca pikiran.

Mata Gaara membulat, lalu dia meledak tertawa.


XxXxX


To be continue


XxXxX


Harusnya chapter ini gue post bulan kemaren, tapi gegara 2x awal bulan jatuhnya pas weekend n libur, ditambah bulan ini cuma sampe 28 hari, bener2 bikin bawahan kayak gue pengen bunuh diri dikejer detlen. Aniway, Thanks for reading