A/N; Saya kembali! Sudah lama saya tidak mengetik, akhirnya jadi juga!

Maaf lama sekali, saya memang pemalas. Hehehehehe.

Yap, pokoknya sekarang sudah jadi dan semoga kalian menyukainya!

Omong-omong, ada poll baru di profile saya. Kalau sedang senggang, mohon di isi!

Terimakasih, dan selamat membaca!


AUTHOR'S POV

Siluet seseorang tampak samar di tengah kabut pagi. Di samping sungai, siluet itu menatap ke kedalaman air. Di atasnya langit menampakkan fajar dan awan yang bergumul menjadi kelabu. Bunyi yang terdengar di sekitarnya hanyalah aliran air yang berderak senada dengan pepohonan. Angin tidak cukup kencang untuk dapat meramaikan suasana. Binatang masih terlelap seperti para manusia yang tengah menyelami mimpi masing-masing.

Sosok itu tak melakukan apapun di pagi buta ini. Hanya diam. Dan merenung.

~OoOoO~

Pukul setengah delapan pagi, Souji dan Yosuke berjogging menggunakan jalur jogging. Keringat dingin membasahi kening mereka. Yosuke tampak segar dan santai dengan kaus, celana pendek, dan headphone kesayangannya. Souji tampak sibuk dengan pikirannya dengan mata berkabut, gurat kehitaman di bawah matanya, celana training, di tambah singlet. Dari mulut kedua sahabat karib itu, keluar uap akibat dinginnya udara pagi.

Yosuke yang tidak menyadari keadaan sulit Souji, bersenandung seirama dengan kakinya. Sementara Souji hanya menatap kosong pada jalan setapak. Saat mereka melewati sungai, mata Souji menangkap siluet seseorang. Tanpa berusaha menghilangkan perasaan penasarannya, ia keluar dari jalur jogging dan mendekati orang itu.

Orang yang Souji dekati tidak menoleh walaupun mendengar gemerisik tanaman yang Souji injak-injak. Sejak menatap rambut hitam panjangnya, Souji tahu siapa dia. Benaknya berputar-putar mencari jawaban akan kenapa gadis itu ada di sini.

Souji menyentuh pundak Yukiko, seketika Yukiko terlonjak dan memutar kepalanya menatap mata Souji. "Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Souji tanpa melepas tangannya dari pundak Yukiko.

Yukiko mengerjapkan mata agak bingung. Melihat tingkah laku aneh itu Souji mengerutkan kening. "Aku.. Aku hanya sedang berfikir." Jawab Yukiko pada akhirnya.

Wajah Souji berubah kelam ketika mendengar jawaban Yukiko. Souji tahu benar apa yang sedang menjadi masalah bagi Yukiko. Jelas saja, karena Souji masih ada di sisi Yukiko saat gadis itu menangis di pelukannya kemarin. Souji hanya bisa diam setelah Yukiko mengemukakan jawabannya.

Yukiko menatap Souji dari atas ke bawah, "Kau jogging? Sendirian?" Tanya Yukiko mengalihkan pembicaraan tiba-tiba.

Souji menggeleng. Ia menunjuk ke belakangnya dengan kepala, "Aku bersama Yosuke. Dia... Oh sial, aku meninggalkannya." Mata Souji membulat sempurna. Mungkin Yosuke keasyikan mendengarkan lagu hingga tak menyadari kepergian Souji. Souji merogoh kantungnya mencari handphone, tapi lalu segera mendecak kesal karena meninggalkan handphone-nya di kamar.

Karena tidak tahu harus melakukan apa lagi, Souji memutuskan untuk berada di sisi Yukiko. Setelah beberapa menit, mereka tenggelam dalam keheningan. Souji yang mengambang dalam kubangan perasaan bingung, mulai frustasi. "Hei, bagaimana kalau kau menemaniku memancing hari ini?" Tanya Souji.

Yukiko tampak berfikir sesaat. Pikirannya begitu kosong hingga ia sulit untuk memfokuskan pikirannya pada satu topik.

Souji menganggap kebisuan Yukiko sebagai tanda menolak, "Ayolah, kumohon. Aku benar-benar memintamu untuk menemaniku. Dan aku janji tidak akan ada masalah." Pinta Souji dengan tampang memelas.

Akhirnya Yukiko mengangguk pasrah. Souji tersenyum menawan, "Kalau begitu, tunggu sebentar ya. Aku yang berkeringat dan bau begini, mau mandi dulu!".

~OoOoO~

Semoga aku dapat membuatnya tersenyum lagi, doa Souji dalam hati.

Di sampingnya, Yukiko sedang memilih pancingan yang hendak mereka sewa dari gubuk kecil dekat tempat mereka hendak memancing. Souji sudah mengambil pancingan berwarna hitam dan kailnya, ia sekarang sedang membayar untuk cacing-cacing sebagai umpan.

Setelah mereka sudah siap, Souji dan Yukiko mencari tempat tinggi di sekitar sungai. Mereka bersiap dalam diam. Yukiko yang belum berpengalaman memancing, menelan ludah gugup pada cacing-cacing yang menggeliat di dalam baskom kecil. Souji terkikik melihatnya, dan membantunya memasangkan cacing itu.

Setelah melakukan banyak ini-itu untuk mempersiapkan acara memancing mereka, Yukiko tersenyum antusias saat melemparkan kailnya. Souji melakukan hal yang sama, lalu duduk bersebelahan di samping Yukiko. Sebelum mereka saling membuka topik pembicaraan, handphone Souji berbunyi nyaring.

"Yosuke? Ada apa?" Tanya Souji saat hubungan tersambung.

"Kemana saja kau? Aku baru sadar kau pergi saat aku sampai di depan kamar kita!" Bentak Yosuke.

"Maaf maaf, lagian bukan salahku juga. Kau sendiri yang tidak sadar aku pergi."

"Aku kan sedang mendengarkan musik. Mana aku sadar!"

"Yasudah yasudah, tidak usah teriak-teriak begitu dong. Sakit telingaku. Memangnya kau mendengarkan apa sih sampai segitu sibuknya dan tidak sadar aku pergi?" Tanya Souji penasaran.

"Huh? Oh, itu lagu Super Junior. Kau pasti tak tahu."

"Super Junior? Yang dari Korea itu?"

"Lha, kau tahu?"

Lima menit berjalan dengan Souji dan Yosuke bertukar cerita mengenai boy band super ganteng dari Korea itu.

"Tunggu tunggu tunggu, kau berencana menghabiskan pulsaku ya? Hey! Aku belum mandi pula!" Jerit Yosuke panik. Souji tersenyum mendengarnya.

"Kau menyalahkan aku terus ih. Yasudah sana mandi." Balas Souji sambil memencet tombol merah.

Ketika Souji mengkantungi handphone-nya, Yukiko bertanya, "Yosuke?". Sebagai jawabannya, Souji mengangguk dan tersenyum. Lalu Yukiko tenggelam dalam lamunannya di air. "Kalian sangat dekat ya setelah dua tahun ini." Ujar Yukiko setelah beberapa saat.

Souji tersenyum dan menatap Yukiko, "Begitu pula denganmu dan yang lain." Kata Souji. Yukiko tertawa kecil, "Yeah, tentu saja.". Lalu mereka terdiam sesaat.

"Berapa lama ya menunggu ikan-ikan ini?" Tanya Yukiko sambil menunduk menatap kedalaman air.

"Kita butuh kesabaran. Bisa kapan saja." Jawab Souji.

"Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan sambil menunggu?"

Mereka pun larut dalam pembicaraan ringan untuk waktu yang sangat lama.

~OoOoO~

"Kau akan pergi ke prom dengan siapa?" Tanya Souji tiba-tiba.

Pada hari ke enam nanti akan di gelar acara prom. Pihak-pihak yang mengurus acara tersebut sudah di pilih jauh-jauh hari agar mereka mempersiapkan acara dengan mantap. Aula menjadi tempat yang mereka gunakan. Dari lantai satu hingga lantai dua akan terjadi perubahan besar-besaran. Dari cafetaria menjadi lantai dansa. Banyak yang harus di kerjakan panitia-panitia prom, jadi sepertinya sehari sebelum acara itu di gelar, mereka akan butuh banyak bantuan tambahan dari para siswa.

Yukiko yang sedang minum air, tersedak dan batuk-batuk hebat. Souji menepuk-nepuk punggung Yukiko. Setelah batuknya mereda, Yukiko mengelap bibirnya yang basah dengan lengan bajunya. "Kenapa tiba-tiba bertanya?" Gantian Yukiko yang bertanya.

Souji mengangkat bahu, "Hanya penasaran.".

Yukiko salah tingkah sebelum bisa menjawab, "Aku belum tahu. Bagaimana denganmu?".

Souji menengadah menatap langit, "Aku di pilih jadi DJ, jadi aku tidak akan bisa turun ke lantai dansa.".

Yukiko membelalak, "Whoa, kau jadi DJ? Keren." Ucapnya antusias. Souji hanya tersenyum mendengar ucapan selamat dari Yukiko.

"Itu bukan apa-apa."

Tepat ketika Yukiko ingin membahas masalah DJ itu lebih lanjut, pancingan Yukiko bergerak. Kedua pasang mata mereka menangkap gerakan di air bersamaan. "Ikan." Kata mereka berdua berbarengan. Mereka bergegas berdiri. Yukiko berusaha keras mempertahankan pancingannya agar tidak tercebur.

Souji menyadari kesulitan Yukiko, dan membantunya. Souji melingkarkan kedua tangannya pada Yukiko lalu bersama dengan Yukiko, menggenggam pancingannya erat. "Saat kubilang tarik, tariklah." Ujar Souji pada Yukiko.

Dengan wajah merah, Yukiko mengangguk.

Souji menunggu saat yang tepat sebelum berkata, "Sekarang, tarik!". Mereka mengerahkan seluruh tenaga mereka dan menarik bersama-sama. Ikan itu pun tertaik keluar dari sungai. Souji dan Yukiko jatuh terduduk dengan Yukiko menimpa Souji. Ikan itu melayang di udara akibat tarikan Souji dan Yukiko yang terlalu kencang. Mata Souji dan Yukiko mengikuti gerakan ikan terbang itu, dan... Yea! Ikan itu masuk langsung ke dalam baskom kosong.

Souji dan Yukiko bertukar pandang.

Lalu mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal.

~OoOoO~

Kedua bintang Yasogami itu menghabiskan banyak waktu bersenang-senang. Hingga sore menjelang, mereka memutuskan untuk berpisah dan kembali ke kamar masing-masing. "Sampai ketemu malam nanti." Kata Souji. Yukiko mengerjapkan mata bingung, gadis itu tidak ingat telah membuat janji dengan Souji nanti malam.

"Makan malam, kau tahu? Aula?" Lanjut Souji sambil nyengir.

"O-oh, yeah tentu. Sampai nanti." Balas Yukiko sambil berjalan ke kiri sementara Souji ke kanan.

Yukiko sempat merasa sedikit senang karena dikiranya ia masih akan mendapat waktu lebih banyak dengan Souji, tapi lalu Yukiko memaki dirinya sendiri karena perasaannya itu. Yukiko berjalan anggun sebagaimana dirinya sejak dahulu. Tangannya memain-mainkan gelang persahabatan dari Chie yang dua hari lalu mereka beli.

Yukiko mengerti benar statusnya saat ini. Ia benar-benar tidak boleh menyukai Souji, terutama karena sekarang Souji milik Rise. Pikiran-pikiran baru menghantam kesadarannya. Kemarin Yukiko mungkin nampak begitu rapuh hingga Souji memeluknya. Yukiko terisak-isak di pelukan Souji, itu mungkin yang menyebabkan Souji mengecup Yukiko untuk menenangkannya.

Tapi...

Andaikan Rise tahu, apa yang harus Yukiko lakukan?

Kalut dalam perasaan bersalah pada Rise, juga cemburu, Yukiko tidak sadar telah sampai di depan kamarnya. Beberapa saat, Yukiko hanya duduk-duduk di teras. Hingga matahari telah terbenam sempurna, barulah Yukiko masuk ke kamarnya. Tatapan matanya yang kosong, menandakan pikirannya terbebani.

~OoOoO~

Souji melayangkan pandangannya ke sekeliling aula mencari Yukiko. Ia tidak memedulikan teman-temannya yang berceloteh berisik di dekat mereka. Aula gaduh seperti biasa. Suara sendok beradu, obrolan ringan dan gelak tawa memenuhi udara. Souji tidak bernapsu untuk makan di aula, karena ia tahu tempat untuk membakar ikan yang tadi siang di tangkapnya bersama Yukiko. Karena tidak ingin makan sendiri, maka Souji mencari Yukiko diluar aula.

Pikiran pertamanya adalah sungai, dan ia berharap dirinya salah. Hari sudah terlalu gelap dan berangin. Sungai bukan tempat yang cocok untuk nongkrong jam segini.

Saat Souji melangkahkan kakinya ke sekitar sungai, firasatnya terbukti benar. Souji merasa deja vu saat melihat Yukiko menatap menerawang air sungai lagi, seperti tadi pagi. Souji mendekati gadis yang sedang berjongkok itu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Yukiko terlonjak mendengar suara laki-laki di dekatnya. Yukiko menoleh dan kembali rileks setelah melihat Souji.

"Ummm.. Bukan apa-apa." Sahutnya sambil berdiri. "Dan apa yang kau lakukan di sini?".

Souji melangkah mendekati Yukiko. Selihatnya barusan, kabut terlihat di mata Yukiko. Souji mengenal Yukiko cukup lama hingga mengetahui kejujuran mata Yukiko. "Mencarimu." Desahnya.

"Untuk apa?" Telinga Yukiko memerah mendengar suara Souji yang lembut.

Souji tersenyum, "Makan malam. Mau ikut?" Suaranya berubah drastis menjadi santai.

Secepat datangnya, rona di telinga Yukiko menghilang. Yukiko tersenyum dan mengangguk, "Tentu. Di mana? Aula?". Souji pun menggeleng. "Ikut saja denganku." Sarannya sembari berjalan menjauh. Yukiko menyusul di belakangnya.

~OoOoO~

"Di mana ini?" Tanya Yukiko yang terkagum-kagum mengamati pemandangan di sekitarnya. Keadaan gelap, namun bulan purnama malam ini bersinar menyinari kedua pasangan serasi itu. Bunga-bunga berwarna putih bersih menambah suasana romantis di sekitar mereka. Di dekat aliran sungai, terdapat tiga kayu yang tampaknya sengaja di buat khusus untuk satu meja dan dua kursi yang saling berhadapan.

Tak jauh dari tempat makan itu, terdapat gubuk kecil. Saking kecilnya, mungkin hanya cukup untuk beberapa tong barang dan satu orang. Souji meminta Yukiko menunggu sambil duduk sementara Souji menggunakan senter kecil memasuki gubuk itu.

Semenit kemudian Souji kembali sambil membawa dua ikan yang mereka tangkap tadi siang di dalam ember berisi es batu. "Kau menyimpan ikan di sana?" Tanya Yukiko heran.

Souji mengangguk, "Di sana memang tempat menaruhnya. Ada pendingin, es, pengawet, pisau-pisau untuk membersihkan ikan, ember-ember, dan peralatan makan di sana. Termasuk korek api, kayu bakar, dan alat untuk membuat api unggun." Jelas Souji sambil menaruh ikan mentah di samping meja kayu. Souji bergerak kembali ke gubuk dan kali ini membawa potongan kayu, korek api dan pisau.

Saat Souji sibuk mempersiapkan api unggun, Yukiko berjongkok di dekatnya. "Kau tampak terbiasa dengan segalanya di sini." Ujar Yukiko.

Souji hanya tersenyum. Ketika hendak menjawab, api tersulut hingga membuat kobaran memesona di atas tumpukan kayu bakar. Yukiko di sebelahnya ikut tersenyum terpukau. "Ayo bantu aku membersihkan ikannya." Pinta Souji.

Berdua mereka membersihkan ikan di dekat sungai. Souji mengajarkan pada Yukiko cara membersihkannya pada Yukiko. Dengan wajah mengernyit, Yukiko mengikuti gerakan tangan Souji. Daging dan isi perut ikan yang kenyal, basah, dan lembek membuat jari Yukiko licin. Nyaris saja Yukiko menjatuhkan ikannya.

Setelah selesai mencuci ikan, mereka berdua segera membakarnya.

Yukiko baru menyadari bahwa sedari tadi Souji membawa bungkusan hitam. Setelah ia bertanya apa isinya pada Souji, Souji menjawabnya kalau isinya adalah nasi.

Sambil menunggu, mereka menyiapkan peralatan makan dalam diam. Ketika mereka selesai, mereka kembali ke dekat api dan mengobrol sedikit.

"Omong-omong, aku penasaran motor siapa yang kemarin kau pakai." Kata Yukiko.

"Hmm? Motor itu? Oh, milik Ayahku." Jawab Souji singkat.

Alis Yukiko terangkat, "Huh? Bagaimana bisa ada di sini?".

"Uh... Karena tempat ini.. Milik Ayahku." Suara Souji terdengar malu.

"B-bagaimana bisa?" Yukiko menuntut penjelasan.

Souji enggan memberitahu Yukiko karena hal ini tidak cukup penting baginya. Namun Yukiko memohon karena penasaran. Selepas perdebatan panjang mereka, dengan sedikit terpaksa Souji menjelaskan.

"Ayahku senang dengan tempat menginap luas seperti ini, jadi beliau membuatnya demi beberapa kepentingan. Beberapa minggu sekali, Ayahku akan membawa seluruh bawahannya dari masing-masing negara ke sini. Jumlah bawahannya di satu negara saja sudah ratusan, karena itu ia memanggil mereka secara bertahap setiap minggu." Souji berhenti sebentar karena ia harus mengecek ikan mereka.

"Tujuan Ayahku membawa mereka ke sini agar hubungan antara atasan dan bawahan tetap terjaga. Ayahku peduli pada pekerjannya, jadi dia ingin mengetahui bagaimana prilaku mereka, terlepas dari perkerjaan. Ayahku juga jadi bisa mengawasi kondisi pekerjaan mereka. Andai mereka setres, dengan menginap di sini mungkin mereka sekalian refreshing." Souji mengangkat dua ikan yang sudah matang itu ke meja. Yukiko mengikuti Souji dan duduk di kursi seberang Souji.

"Sejak jauh jauh hari, aku meminta tolong Ibuku untuk mengusulkan tempat ini pada pihak sekolah. Awalnya pihak sekolah bimbang, kemudian Ibuku meringankan pihak sekolah dengan membebaskan biaya penginapan dan lain-lain selama aku ada di sini. Karena itulah pihak sekolah akhirnya setuju." Souji menyudahi ceritanya sambil menyalakan lilin kecil berbentuk lingkaran di tengah-tengah meja mereka. Nyala api lilin memberikan kesan romantis yang tidak sengaja Yukiko sadari.

Yukiko terdiam sesaat. Ia mencoba menerka kenyataan bahwa kekayaan Souji benar-benar tidak dapat ia bayangkan.

"Ayo makan sebelum dingin." Kata Souji dengan tersenyum.

~OoOoO~

"Ups... Oh, god..!" Mata Yukiko membelalak melihat gelang persahabatan dari Chie terlepas dari genggamannya dan jatuh ringan ke dalam sungai dengan deburan kecil. Gelang itu melayang di kedalaman air mengikuti arus. Yukiko berlari kecil mengejarnya dari samping sungai.

Souji yang cukup jauh dari Yukiko, sedang sibuk mencuci peralatan makan mereka. Ia tidak mendengar Yukiko yang pergi karena ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Souji sedikit khawatir, persahabatan ini justru akan makin melukai Yukiko saat ia pergi nanti.

Yukiko telah berlari sangat jauh dari tempat Souji berada. Bahkan gumpalan asap api unggun yang tadi di buat Souji tak nampak. Yukiko masih mengikuti jalannya aliran air. Gadis itu terus berlari berlari dan berlari. Hingga akhirnya gelang itu tersangkut pada celah batu-batuan berbentuk pipih.

Yukiko mendesah lega dan mengusap keringat di keningnya. Tidak terasa sudah beratus-ratus meter di tempuhnya. Yukiko melompat-lompat melewati beberapa batuan kemudian menunduk mencari gelangnya. Saat tangannya terulur untuk mengambil gelang di celah batu, betisnya terserang kram dan membuat Yukiko limbung.

Kepala Yukiko yang pertama menghantam air. Segera saja seluruh tubuhnya basah. Kaki Yukiko menendang-nendang mencari tempat untuk menjejak, namun kram di kakinya belum hilang dan rasa sakitnya makin menjadi-jadi.

Kegelapan di sekitarnya juga sama sekali tidak membantu. Tidak ada sedikitpun cahaya. Kedalaman sungai itu ternyata jauh dari perkiraannya. Sebelum ia sempat keluar dan menghirup oksigen untuk memenuhi paru-parunya lagi, benaknya memikirkan Souji.

Mata Yukiko pun terpejam, dan gelembung yang tadinya keluar dari mulutnya perlahan menghilang.

~OoOoO~

Souji menatap ke sekeliling. "Yukiko...?" Panggilnya.

Souji meletakkan seluruh perlengkapan makan yang habis di cucinya dan berkeliling. "Yukiko..?" Tidak ada jawaban. Perasaan khawatir merayap liar di benaknya. Souji memeriksa pinggir sungai tempat terakhir ia melihat Yukiko. Jejak sepatu terlihat samar.

Dengan perasaan kacau, Souji mengikuti jejak sepatu itu. Makin lama, perasaannya makin hancur. Ia pun berlari dengan kecepatan maksimalnya.

2 menit kemudian Souji menemukan jejak itu berakhir. Pandangannya menyapu sekeliling. "Yukiko!" Teriaknya. Batu-batuan yang tertimpa cahaya bulan menarik perhatiannya. Dengan satu lompatan atletis, Souji sudah naik ke puncak batu-batu itu dan menatap sungai.

Matanya membelalak melihat sekelebat warna merah sweeter Yukiko. Souji melempar sepatu dan jaketnya, lalu terjun bebas ke dalam sungai.

Kulitnya memprotes akibat dinginnya air sungai malam hari itu. Bulu-bulu halus di tubuhnya meremang semua. Giginya nyaris menggigit putus lidahnya. Souji mengalahkan keinginannya sendiri dan berusaha sebaik mungkin menyambar tangan Yukiko.

Cukup sulit, karena tidak terlihat tanah untuk menjejakkan kaki. Hati Souji terasa lebih sakit daripada tangannya yang barusan tidak sengaja menggores krikil tajam dan menorehkan luka panjang di lengannya.

Butuh beberapa detik yang terasa setahun untuk Souji membawa Yukiko keluar. Begitu Souji menghempaskan dirinya dan menidurkan Yukiko dengan lembut di tanah, seluruh tubuh Souji gemetar oleh begitu banyak perasaan yang baru pertama kali ini di rasakannya.

Tidak terasa, air mata Souji mengalir jatuh ke dagunya. Tangan Souji menyentuh wajah Yukiko. Seketika, perasaannya membanjir keluar.

Jangan tinggalkan aku.

Souji menekankan tangan di dada Yukiko. Tidak terdengar detakan apapun.

Mungkin memang aku jahat, tapi jangan tinggalkan aku.

Air mata terus mengalir di pipi Souji. Dengan gerakan pasti, Souji melakukan pertolongan pertama bagi orang tenggelam yang pernah ia pelajari di SMP. Pernapasan buatan.

Kumohon, kamulah satu-satunya alasanku hidup. Bila kamu tidak ada, lalu aku apa?

Berulang-ulang Souji menempelkan mulutnya di mulut Yukiko. Kedua tangannya menekan dada Yukiko. Satu... Dua... Tiga... Satu...Dua.. Tiga..

Bernafaslah... Bernafaslah...

Souji berusaha mati-matian menghilangkan pemikiran bahwa Yukiko telah tenggelam sangat lama. Manusia yang tenggelam selama satu menit penuh saja cukup untuk mengalami pingsan dan butuh banyak pertolongan. Dampak sehabis tenggelam itu juga ada banyak, mulai dari trauma hingga beberapa penyakit tertentu.

Dan Yukiko?

Ia tenggelam di malam hari. Sudah lebih dari 2 menit di dalam air sungai yang dinginnya tak terbayangkan. Souji yang belum semenit di dalam air itu sudah menggigil kedinginan, apalagi Yukiko. Souji saja berlari 2 menit, sedangkan Yukiko telah jauh dari Souji bermenit-menit lamanya.

Keajaiban. Bilamana engkau ada, tunjukkanlah padaku sekarang.

Yukiko masih belum juga bernafas.

Aku mencintaimu. Kumohon, aku rela melepas apapun agar dirimu bahagia. Jadi tetaplah hidup dan bahagialah.

Cahaya bulan lebih terang dari sebelumnya. Wajah pucat Souji dan Yukiko nampak berkilauan. Souji masih berusaha memberikan pernafasan buatan pada Yukiko.

Yukiko... Aku takut pada kematian orang lain. Aku pernah merasakan bagaimana beratnya harus melepas Minato. Dan butuh lebih dari usaha biasa bagiku untuk terus menatap dunia tanpa merasa muak. Jika kamu meninggalkanku sekarang, aku tidak akan pernah bisa pulih sebagaimana setelah kematian Minato. Bila sekarang kau pergi, aku akan menyusulmu. Karena jiwaku adalah milikmu. Ragaku adalah milikmu. Diriku adalah untukmu.

Souji nyaris putus asa hingga akhirnya Yukiko terduduk tiba-tiba lalu terbatuk-batuk memuntahkan air.

Souji menjauhkan diri dari Yukiko dengan raut muka bersyukur. Tak dapat Souji menghentikan air matanya. Souji menepuk-nepuk punggung Yukiko hingga batuk itu mereda kemudian menengadah menatap langit dan membiarkan dirinya berdoa dalam diam.

Yukiko merasa berat. Pakaiannya, tubuhnya, dan pikirannya. Ia hanya tahu bahwa dirinya tenggelam dan barusan ada seseorang yang menempelkan bibirnya di bibir Yukiko. Yukiko menelengkan kepalanya sedikit untuk menghilangkan prasangka, lalu ia terdiam. Dilihatnya Souji menangis tanpa suara.

Seperti pada masa lampau. Di mana laki-laki berambut kelabu itu menangis karena adiknya meninggal.

Yukiko mengelap mulutnya dengan punggung tangan, hanya melihat Souji dengan perasaan bingung.

Setelah selesai bersyukur sepenuh hati, Souji menatap Yukiko. Di lihatnya seluruh tubuh Yukiko. Tidak ada luka, tidak ada darah, tidak ada noda. Hanya air. Wajahnya tetap cantik, tetap manis, dengan mata yang menyiratkan perasaan bingung dan sedih.

Souji mendekat, dan merangkup Yukiko dalam pelukannya. "Syukurlah... Syukurlah..." Desah Souji sambil memejamkan mata.

Yukiko berhenti bernafas. Wajahnya yang tadinya pucat, sedikit terisi dengan semburat merah muda. Harapan kecil yang nakal berbisik di hatinya, apakah Souji menangis karena khawatir padaku? Yukiko membalas pelukan Souji, "Terima kasih." Bisiknya parau. Tenggorokan Yukiko terasa kering. Mulutnya terasa asin. Badannya gemetar kedinginan.

Souji mengusap-usap rambut Yukiko yang basah sambil menggeleng. Mendengar ucapan terima kasih Yukiko, membuatnya merasa lebih ingin menangis.

Souji melepas pelukannya lalu segera mencari jaket yang tadi ia lemparkan. Setelah merogoh kantung jaket dan menekan nomor telepon Chie, ia kembali mendekati Yukiko yang masih duduk.

"Chie, kau tidak sedang dalam keadaan pentingkan?" Tanya Souji buru-buru.

"S-Souji? Kenapa dengan suaramu? Uh.., tidak. Aku sedang jalan-jalan di sekitar aula. Kenapa?"

Souji mengelak dari pertanyaan Chie mengenai suaranya yang sumbang dan memberitahu lokasi dirinya dan Yukiko berada.

"Cepatlah. Barusan Yukiko tenggelam dan sekarang kami basah kuyup. Hanya kau dan Yosuke yang bisa menolong kami. Itupun kalau saat ini kalian sedang berdua." Souji menyudahi.

"W-what! Siapa yang tenggelam? Bagaimana bisa? Hey! Segera ja-!"

Souji menaruh handphone miliknya di samping Yukiko. Lalu ia menyelimuti tubuh Yukiko yang mulai gemetar dengan jaket miliknya. Sepatu Souji di lemparkannya sembarangan.

"Chie akan datang sebentar lagi. Tahan ya. Maaf aku tidak bisa mengantarkanmu ke kamar, karena aku sama basahnya denganmu." Kata Souji sambil mempersilahkan Yukiko masuk dalam pelukannya.

Gengsi sama sekali harus menyingkir pada saat-saat seperti ini. Tanpa berfikir, Yukiko masuk dalam pelukan Souji.

Berdua mereka diam. Tubuh keduanya kedinginan. Perlahan-lahan mata Yukiko terpejam, ia merasa lemas dan hanya ingin tidur.

~OoOoO~

"Yosuke, gendong Yukiko. Kuharap kalian bisa secepatnya mengantarkan Yukiko ke kamarnya. Tubuhnya menggigil, dan aku berulang kali harus membuatnya tidak menggigit lidahnya." Jelas Souji sambil menatap kedua sahabatnya yang membelakkan mata lebar sekali.

Yosuke mencoba untuk bertanya apa yang di lakukan Souji agar Yukiko tidak menggigit lidahnya, tapi ia di sibukkan dengan tugas menggendong putri tidur yang basah.

Chie pun mengambil alih untuk bertanya, "Apa yang terjadi?" Kekhawatiran terdengar jelas dari suaranya.

Souji menggeleng dan mendorong mereka untuk pergi, "Kalau kalian tidak pergi sekarang, dia bisa sakit! Kalian pikir, enak kalau sedang trip begini sakit? Nanti saja kujelaskan! Pokoknya lari sekarang juga!" Pinta Souji sungguh-sungguh.

Yosuke dan Chie pun berlari dengan Yukiko di gendongan Yosuke.

"Lalu apa yang kamu lakukan di situ seorang diri? Kau juga basah! Dan tanganmu berdarah!" Teriak Chie dari kejauhan sambil berlari mundur.

Souji balas berteriak, "Tidak penting apa yang kulakukan. Pokoknya bergegaslah!". Souji baru menyadari dirinya terluka setelah Chie memberitahu. Tapi toh Souji tidak peduli. Souji larut dalam perasaan penasaran, karena itulah ia memutuskan untuk menjelajah sungai mencari tahu penyebab Yukiko jauh sekali dari pengawasannya.

Chie mengangguk dan meninggalkan Souji dengan perasaan tidak enak.

Begitu teman-teman Souji tak terlihat lagi, Souji menanggalkan kemeja putihnya yang basah dan melemparkannya ke tanah. Hanya bulan dan hutan yang dapat melihat apa yang di lakukan pemuda itu.

Souji kembali menceburkan diri ke dalam air dingin untuk mencari jawabannya.