Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Author teringat akan princess hours setelah membaca salah satu review reader, author akan mencoba membuat fic dengan tema film korea yang keren itu.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
Don't like Don't Read
.
.
~ To Be A Princess ~
[ Chapter 53 ]
.
.
Kafe D
Aku tidak tahu jika bertemu seperti ini suasananya jadi sangat-sangat aneh, seakan masih ada ketegangan di antara keduanya dan juga begitu canggung, sekarang di hadapanku pangeran Izuna dan sebelahku Sasuke.
"Terima kasih atas ajakanmu, putri." Ucap pangeran Izuna padaku.
"Apa yang kau katakan? Jelas-jelas aku yang mengirim pesan padamu." Ucap Sasuke, dan itu benar, aku meminta Sasuke untuk mengirim pesan pada Izuna.
Mereka masih belum bisa akur, apalagi pangeran Izuna suka memancing kemarahan Sasuke.
"Baiklah, jangan ada perang hari ini, sekarang aku ingin bertanya padamu lagi pangeran Izuna, kau belum mengatakan jawabanmu sebelumnya." Ucapku.
"Tentang perjodohan yaa, kau sudah menyuruhku untuk menikahi putri lain selain putri Seon, tapi bagaimana jika ini perintah ibu permaisuri? Dia itu sangat galak loh." Ucap pangeran Izuna.
Benar, dia galak dan punya banyak cara untuk membuat seseorang mendengar ucapannya, dia pun licik, aku sudah terlanjur mengatakan akan membantunya.
"Cukup menikah saja, tidak perlu membuatnya menjadi rumit, istriku, sebaikanya kau tidak perlu ikut campur." Ucap Sasuke.
"Aku hanya ingin membantu, apa salahnya saling membantu dan juga aku peduli pada pangeran Izuna, bukannya kita ini keluarga?" Ucapku.
Tatapan Sasuke tiba-tiba menajam dan mengarah padaku, apa? Apa aku salah bicara?
Ini menarik.
"Apa kau jadi lega mendengar jika pasangan putri Seon adalah aku?" Ucap pangeran Izuna, kali ini dia berbicara pada Sasuke, aku tidak mengerti apa yang ingin pangeran Izuna katakan, jika dia dan Seon menikah, aku pikir itu adalah hal buruk, jangan sampai kita akan memelihara rubah licik yang akan menjadi masalah besar, hal ini harus di hindari.
"Ya, lakukan saja apapun yang kau suka." Ucap Sasuke, dia menatap dingin pada pangeran Izuna.
"Bukannya kita ingin membantu pangeran Izuna?" Ucapku, kenapa Sasuke malah mengubah tujuan pembicaraan ini?
"Tidak perlu ikat campur lagi." Ucap Sasuke, dia membuat keputusan sendiri.
"Jangan galak begitu, aku senang putri Sakura peduli padaku." Ucap pangeran Izuna.
Rasanya aku ingin menonjok mereka, kenapa tidak ada yang bisa memiliki satu pikiran? Atau tidak perlu saling mencari masalah?
"Baiklah, sekarang kau bisa pergi suamiku, biar aku yang berbicara dengan pangeran Izuna, aku rasa tidak akan ada kesepakatan jika kau pun ada di sini." Ucapku, dan kini tatapan marah yang di perlihatkan Sasuke padaku.
"Apa hakmu untuk menghalangi perintah ibu permaisuri?" Ucapnya, sepertinya Sasuke benar-benar marah.
"A-aku hanya membantu." Ucapku, takut.
"Jika mereka menikah, itu urusan mereka, bukan urusanmu, sekarang kita pergi." Ucap Sasuke, dia tidak ingin ada pembicaraan lagi dan malah menarikku pergi dari kafe itu, beberapa orang menatap kami, sejak tadi tidak ada yang berani mendekat, tentu saja, di sekeliling kami di jaga para pengawal dengan begitu ketat.
Menghela napas, pertemuan yang sia-sia dan sekarang Sasuke sedang mengantarku kembali ke kampus.
"Aku bisa jalan saja." Ucapku, masih berdiri di depan pintu mobil.
"Putri mahkota tidak berjalan seperti itu, kau harus tetap di antar." Ucapnya, hari ini Sasuke menjadi orang yang menyebalkan lagi, padahal kita sudah sepakat untuk membantu pangeran Izuna keluar dari masalah perjodohan konyol ini.
"Jadi kau tetap akan membiarkan mereka menikah?" Tanyaku.
"Aku tidak peduli pada mereka." Ucap Sasuke dan dia kembali memasang wajah dinginnya.
Kembali menghela napas, aku yang tidak mau satu kediaman dengannya.
"Meskipun putri Seon gadis yang jahat? Kau akan tetap membiarkan keluargamu bersama orang jahat?" Ucapku.
"Pangeran Izuna bukan anggota keluarga lagi setelah mereka di usir, dia hanya mendapat kebijakan dari ayah."
"Kau ini benar-benar jahat yaa, kenapa kau jadi seperti ini?" Ucapku, aku sendiri benar-benar terkejut mendengar ucapan Sasuke,
"Dan apa perlu kau sepeduli ini padanya? Siapa dia? Kenapa kau harus sampai bersikap membangkang seperti ini?" Ucapnya.
Aku jadi kesal pada Sasuke, selalu saja, setelah mereka bertemu sikapnya akan seperti ini, aku pikir Sasuke sudah benar-benar berubah, ternyata tidak ada satu pun rasa pedulinya pada pangeran Izuna.
Memilih diam, aku sudah hapal akan cara bicara Sasuke, jika semakin aku membangkang, setannya akan kembali keluar dan marah-marah besar.
Saat tiba, aku bahkan tidak pamit dan cuek pada Sasuke saat turun dari mobil, kedua pengawalku berjalan di belakangku dan mereka akan berhenti dan berjalan ke arah lain setelah aku masuk ke gedung fakultas, mereka akan mengawasi di mana mereka bisa melihatku.
.
.
.
.
Normal Pov.
"Aku terlambat melihat mereka bertengkar." Ucap putri Seon.
Masih di kafe D, Izuna masih berada disana, dia menunggu Seon yang sudah menatap pesan darinya, rencananya Izuna akan membawa Seon dan turut ikut dalam pembicaraan mereka, sayangnya hanya sedikit pancingan dari Izuna, sikap Sasuke sudah berubah dan dia terlihat marah.
"Sasuke masih membenciku, aku pikir rencana putri Sakura akan berhasil, dia berusaha membuatku dan pangeran Sasuke kembali akrab, tapi usahanya benar-benar sia-sia."
"Aku sudah katakan padamu sejak awal, dia putri yang keras kepala. Sekarang apa lagi? Kau menjawab apa untuk pertanyaannya?"
"Aku masih belum menjawabnya dengan baik, pangeran Sasuke sudah naik darah duluan dan mengajak putri Sakura pergi." Ucap Izuna.
"Au tidak mengerti akan rencanamu ini."
"Kita akan bermain perlahan, ini harus berjalan dengan normal tanpa ada yang mengetahuinya, sekarang bagaimana jika anggap saja aku menerima dan kau pun menerimanya, sering-seringlah berkunjung ke istana, gunakan alasan kau ingin menemuiku atau ingin bertemu ibu permaisuri, dia akan begitu senang." Ucap Izuna.
"Baiklah, selama permainan ini tidak membuatku dalam bahaya, awas saja jika ini akan menjadi masalah besar untukku, kau pun harus terseret ke dalam lubang yang kau buat."
"Tenang saja putri, aku sudah katakan jika kerja sama ini tidak akan merugikanmu sama sekali." Ucap Izuna dan sebuah senyum di wajahnya.
.
.
Izuna menatap layar ponselnya, sebuah pesan dari Sakura, Haruno Sakura, Izuna tidak memberi nama putri Sakura atau Uchiha Sakura, dia masih merasakan jika Sakura, hanya seorang Haruno Sakura.
:: Haruno Sakura.
Aku rasa kita perlu berbicara berdua saja, Sasuke jadi benar-benar marah.
Tersenyum menatap layar ponselnya itu, dia tidak tahu jika hanya sedikit memberi bantuan pada Sakura, hasilnya akan di balas seperti ini, Sakura bahkan terang-terangan mengatakan peduli padanya tepat di hadapan Sasuke.
:: Pengaran Izuna
Baiklah, bagaimana dengan makan siang di kafe dekat kampusmu, aku yakin kau juga sibuk putri.
Sakura membaca pesan balasan dari Izuna, merasa lebih baik jika dia yang berbicara, Sasuke seperti tidak akan pernah mengibarkan bendara perdamaian dengan pangeran Izuna.
.
.
"Aku akan menerima perjodohan ini." Ucap Izuna, hari ini dia bisa bertemu dengan Sakura.
"Apa!" Sakura cukup terkejut mendengar ucapan Izuna. "Ta-tapi, pangeran sendiri tahu 'kan bagaimana sikap asli putri Seon? Dia itu sangat jahat, kenapa harus bersamanya?" Ucap Sakura.
"Iya, aku benar-benar tahu siapa dia, mungkin saja dia akan menjadi baik suatu hari nanti." Ucap Izuna, dia melihat raut aneh dari Sakura, gadis itu terlihat kecewa, ini semakin membuat Izuna tertarik, Sakura masih saja peduli padanya.
"Ya baiklah, aku pun tidak bisa memaksakan pangeran." Ucap Sakura, dia tidak akan mungkin membantu Izuna untuk protes jika dari pihak Izuna sendiri sudah menerima.
"Tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja bersamanya." Ucap Izuna.
Sakura mengangguk pasrah, masih tidak bisa menerima ucapan Izuna, dia sangat berharap jika Izuna menolak perjodohan ini.
"Aku hanya berpikir jika saja bisa membantu pangeran." Ucap Sakura.
"Mungkin ini akan lebih baik."
"Aku harap dia tidak berani macam-macam padamu."
Izuna tertawa mendengar ucapan Sakura, gadis di hadapannya masih saja tidak ingin akur dengan Seon, dia senang, Sakura mengkhawatirkannya, hanya saja hal ini akan membuatnya sedikit mendapat masalah.
Ending normal Pov.
.
.
TBC
.
.
updatee..!
author punya kesempatan untuk update malam, karena emang sekarang updatenya nggak beraturan dan tidak sesuai jadwal sebelumnya, tapi author sedang berusaha untuk update jika emang sedang senggang, beruntung karena sedang ada waktu kosong author sempatkan untuk update, jadi jangan terlalu kecewa akan jadwal updatenya yang mungkin nggak setiap hari atau setiap hari :)
semoga fic ini masih tetap di sukai walaupun alurnya mulai agar rumit dan berputar-putar pada satu titik, kalau kesal syukurlah itu yang author harapkan, tandanya author sukses bikin readeranya gregatan XD *dilempar sendal beramai-ramai* XD.
terima kasih untuk ucapan sambutannya, jadi terharu *hiks* masih ada ingat author padahal lama nggak update 2 minggu termasuk lama juga kan XD.
dan terima kasih tetap membaca fic ini, (akan selalu mengucapkan ini) :)
.
.
See you next chapter. ;)
