Hai~ Untungnya hari ini sampai senin saya bakalan free time~ Yup, sekolah author lagi ultah nih! XD Jadi acaranya macam-macam! Makanya author bisa update lebih cepat sehari dari jadwal aslinya lol (aslinya hari sabtu, ini jumat).
Oke, balas review dulu yuhu~
yuanita antariksa 3 yaay~ abang ekstrak mau keluar ya~ XD #HUSH anak-anak Wei yang jadi murid ya yang muda-muda dong~ nggak keren kalau yang tua jadi murid. *kebayang Xiahou Dun jadi murid* #NGGAKGITU wah makasih sudah bilang chapter sebelum ini lucu :3
Lu Xun: kayak aku~
Zhu Ran: *muntah darah*
Jiang Wei: M-MASA IYA JADI HUMU ADUH D: *lempar kulit manggis*
Xun Yu: ... *hanya bisa tersenyum*
wahaha untuk masalah panggilan Zhu Ran dan Lu Xun, itu buat unyu-unyuan aja kok XD #plak
Btw makasih sudah review~ :3
ivana *bersiul seakan-akan tidak terjadi apa-apa* #HOY wahahaha sini saya koleksi jiwanya :"3 *ambilin jiwa* #SEREMTHOR saya sengaja soal permasalahan cintanya Lu Xun dibeginikan tee-hee~ #PLAK UN... Asal kamu menguasai materi saja sih... Mungkin akan mudah mengerjakan XD wah, ternyata ada yang sama denganku :"3 #plok makasih udah review ya~ semangat~
cllylngz
Lu Xun: SEKALI LAGI BILANG GUE CEWEK. GUE BAKAR LO QAQ *bawa obor*
Zhu Ran: OBOR~ *mainan obornya Lu Xun*
Lu Xun: ... hue... :") *peluk Papa Meng*
Lu Meng: *sweatdrop part sekian*
waah makasih dukungannya~ sukses juga buatmu~ :3 makasih reviewnya~
Ashura Holis682 kasih piala dong~ *kibas rambut*#GAGITU
Zhu Ran: *bakar rambut Author*
HOY! QAQ
Btw, makasih sudah review~
Wah, review kalian cetar membahana ya XD #GAK
Langsung saja ya~ Silahkan dinikmati~
"Eh? Survey, ya…?"
Xun Yu, guru baru yang dibilang tampan dan disenangi oleh banyak anak-anak cewek termasuk Author sendiri. Guru sejarah yang nggak bisa move on dari masa lalu ini sedang melakukan survey lewat telepon dengan beberapa guru demi kepentingan New Year Party.
"Jadi, apakah Anda punya saran mengenai acara yang anti mainstream untuk kita tunjukkan pada dunia di New Year Party? Umm… Yah, semacam itu pokoknya. Apakah ada ide, Tuan Xiahou Yuan?" Xun Yu terus memainkan pensilnya sambil memegang handphone di tangan kirinya.
"Oh… Hmm… Biar aku pikir-pikir dulu… Bagaimana dengan SMA Jin dan yang lain? Mereka menampilkan apa?"
"Oh. SMA Shu bagian konsumsi, SMA Wu kembang api yang bakalan jadi penutupan, lalu SMA Jin dengan J.E.P yang mereka unggulkan. Bagaimana dengan Wei? Apa yang pantas? Kalau bisa, yang anti mainstream."
"Umm… Lomba marathon!"
Dasar kelakuan guru olahraga…
Xun Yu bentur-benturin kepala ke meja.
"E-Eh? Suara brak-bruk apa itu?"
"O-Oh… Nggak, nggak apa-apa. Selain itu? Acaranya malam, Tuan." Darah perlahan mengalir dari kepala Xun Yu yang masih bisa santai dengan ekspresi datar, darah yang mengalir bukanlah penghambat.
"Hmm… Susah juga, ya. Aku bingung…"
"Kira-kira saja, tapi masuk tema."
"Hmm… Ah, bagaimana kalau aku pikirkan dulu. Tanya yang lain, deh!"
"Ah, baik. Saya menanti jawaban Anda. Maaf mengganggu."
Telepon ke-2!
"Selamat siang, maaf mengganggu, Tuan Yu Jin."
"Hmm? Apa?"
"Begini, SMA Wei akan mengikuti acara New Year Party, tapi kami belum memutuskan kegiatannya. Apakah Anda punya ide?"
"… Makan soba."
"Makanan sudah jadi tanggung jawab SMA Shu."
"… Kembang api."
"SMA Wu akan melakukannya."
"… Kasih angpao."
"… Uang buat pembangunan mau dikemanain, Tuan?"
"… Berkunjung ke kuil."
"Anda terlalu religius."
"… Apa maumu?"
"Acara yang menarik, Tuan."
TUUT. TUUT. TUUT.
Sepertinya sambungan telepon terputus, atau sengaja diputus oleh Yu Jin?
"… Telepon berikutnya…"
Xun Yu, Yu Jin baru saja memutus sambungan teleponmu. Apakah kamu baik-baik saja?
"Aku baik-baik saja. Walaupun kau bisa mendengar suara kokoro yang hancur berkeping-keping."
… NGGAK GITU, MAS.
Telepon ke-3. Pang De.
"Halo? Oh, ada apa, Xun Yu?" Pang De terdengar sangat gembira.
"Begini, SMA Wei akan mengisi acara di New Year Party, ada ide untuk acaranya? Maaf sebelumnya, mengganggu, ya?"
"Hahaha! Nggak ganggu, kok! Aku lagi santai! Hmm… Kita adakan games saja!"
"Hmm? Games? Seperti apa?" Xun Yu mulai mencatat apa yang dikatakan Pang De.
"Memasang lampion sambil menutup mata? Jadi, saat hendak memasang lampion, kita harus melangkah menuju ke tempat yang sudah ditentukan harus dipasang dimana, dengan mata tertutup, kita harus memasangnya. Bagaimana? Lumayan 'kan buat seru-seruan?"
"Hmm… Boleh, boleh, jadi… Game lampion, ya?"
"Ya!"
"Terima kasih atas sarannya, Tuan Pang De."
"Sama-sama!"
PIP!
Dapat satu…
Telepon ke-4! Cao Pi.
"Heh. Apaan, Om?"
"Maaf, saya masih muda. Bisakah para murid berkumpul besok?"
"Pasti buat New Year Party ya, Om?"
"Saya bukan om-om, saya masih muda. Iya. Bisa?"
"Dimana, om?"
"Sudah kubilang saya bukan om-om. Di ruang rapat SMA Wei."
"Heh, jadi kami harus masuk saat liburan? Baiklah, baiklah… Akan kusebarkan, om."
"Terima kasih, Cao Pi, dan jangan panggil aku om."
PIP!
"Sepertinya ini akan lebih mudah…"
Para murid bersama dengan beberapa guru dan kepala sekolah berkumpul di ruang rapat SMA Wei yang amat luas luar biasa. Yang memimpin rapat kali ini adalah Xiahou Dun dan Xun Yu yang akan menulis semuanya alias jadi notulen.
"Ada saran?" Xiahou Dun mulai membuka masukan dari peserta rapat yang hadir.
"Bagaimana kalau kita dansa~" Zhang He mengemukakan pendapatnya sambil bergerak dnegan lemah gemulai.
Jijik gue.
"Boleh, boleh. Ada lagi?"
"Main billiard. Aku mau lihat apakah Xun Yu bisa mengalahkanku lewat billiard. Dia boleh menang cewek, tapi tidak untuk billiard!" Guo Jia senyum jahat ke Xun Yu.
Xun Yu tidak membalas apa-apa.
"Heh, yang benar! Ini acara bareng sama SMA lain! Kamu mau mempermalukan SMA Wei?!"
"A-Aku hanya menyarankan, Tuan Xiahou Dun~"
"Saran ditolak." Xun Yu langsung angkat bicara.
"Y-Yah…" Guo Jia sweatdrop, penonton kecewa.
"Ada lagi?"
Yu Jin angkat tangan!
"Ya, Tuan Yu Jin? Silahkan."
"… Pergi ke kuil."
Semua hening.
"… Umm… Xun Yu?"
"Anda sudah menyarankan itu sebelumnya. Anda terlalu religius."
"Alangkah baiknya kalau kita menyambut tahun baru dengan berdoa kepada—"
"Ada yang lain?"
Yu Jin bete.
Wang Yi angkat tangan.
"Ya, Saudari Wang Yi?"
"Ayo kita bunuh Ma Chao. Itu akan lebih asyik. Entah kita melempar dart dengan target Ma Chao, atau kita panahin Ma Chao, atau—"
"NEXT!"
Sepertinya Xiahou Dun sudah mulai lelah dengan anggota rapat yang notabene nggak bener ini…?
Cao Pi angkat tangan!
"Pertunjukan sihir. Heheh."
"Diterima." Xun Yu langsung menulis saran Cao Pi.
"Ada lagi?"
Xu Zhu angkat tangan.
"Lomba makan! Ya! Lomba makan!"
"… Umm… Apakah Shu sudah melakukannya?" Xiahou Dun bertanya kearah Cao Cao yang dari tadi sibuk menatap rundown acara.
"Di sini, sih tidak tertulis soal lomba makan. Ya sudah, masukkan saja."
"Baik, Tuan Cao Cao." Xun Yu kembali menulis.
"Ada lagi?"
Semuanya hening.
"Baiklah, Tuan Xun Yu, tolong bacakan nominasinya."
"Sesuai dengan saran yang masuk mengenai acara apa yang akan kita lakukan di New Year Party adalah… Game lampion dari Tuan Pang De, dansa dari Saudara Zhang He, pertunjukan sihir dari Saudara Cao Pi, dan lomba makan dari Saudara Xu Zhu. Baiklah, dari nominasi ini, mari kita musyawarahkan, acara apa yang akan terpilih untuk New Year Party."
Musyawarah…
"Baiklah, dari sekian nominasi, yang paling menarik untuk dijadikan acara oleh SMA kita apa?"
Semuanya saling berdiskusi.
"Dansa boleh, tuh! Sebelum kembang api kita dansa dulu!"
"Ya! Dansa boleh, tuh!"
"Permainan lampion sepertinya unik juga?"
"Pertunjukan sihir? Cao Pi, itu membosankan sekali."
"Heh. Apa? Aku bisa membekukan kalian. Itu asyik."
APANYA YANG ASYIK.
"Sudah kubilang, memenggal kepala Ma Chao itu lebih asyik."
Wang Yi, dia sudah jadi pacarmu, kenapa kamu tega…
"Pergi ke kuil lebih asyik lagi."
Om, Anda terlalu religius.
"Jadi… Bagaimana?" Xun Yu masih menunggu hasil.
"Sepertinya dansa masuk yang banyak, ya?" Xiahou Dun lirik kanan-kiri.
"Mau dansa saja?"
"Ya! Dansa yang faaaaabulooouus~" tahu siapa yang ngomong begini.
"Jadi, kita mau dansa? Perasaan berapa kali kita mengadakan dansa?"
"Terus apa? Permainan lampion?"
"Itu terdengar… Umm… Ya gitu, deh!"
"Apa dong? Lomba makan? Mungkin sama Shu sudah mengadakannya, karena mereka yang menyiapkan konsumsi, bukan?"
"Apa, nih?"
Semuanya masih ribut soal acara apa yang akan SMA Wei lakukan.
"Dansa itu menyenangkan!" Zhang He gebrak meja dengan nggak nyantai.
"Tapi kita sudah melakukannya berkali-kali!"
"Lihat SMA Wu! Mereka dari kemarin melakukan sesuatu yang berbau kembang api, kok!"
"Tapi mereka ahli dalam membuat kembang api yang beda jenis tiap tahunnya!"
BLA BLA BLA BLA!
Percekcokkan rumah tangga pun terjadi. Xun Yu, Xiahou Dun, dan Cao Cao langsung kewalahan menangani mereka yang nggak setuju dengan dansa dan setuju dengan dansa.
Tapi, kalian memang sudah mengadakan dansa terlalu sering. Setidaknya, adakan acara yang nggak mainstream. SMA Wu sih beda lagi, mereka bagus dalam hal kembang api karena bisa membuat penonton terpukau. SMA Jin, dengan orang-orang berbakat dari J.E.P, mereka bisa melakukan apa saja, mereka multi talenta. Lalu, apa yang akan dilakukan anak-anak SMA Wei?
Tiba-tiba saja, pundak Cao Cao ditepuk oleh Yu Jin.
"O-Oh? Tuan Yu Jin?" Cao Cao menoleh kearah Yu Jin.
"Sudahlah. Mau acara anti mainstream, 'kan?"
"I-Iya…"
"Pergi ke kuil. Itu sudah anti mainstream."
"Tapi—"
"Lebih pilih dansa kampungan atau pergi ke kuil memohon berkat untuk lebih baik di tahun depan?" kini Yu Jin pasang tampang horror yang membuat Cao Cao keringat dingin.
"DANSAKU NGGAK KAMPUNGAN, YU JIN!" Zhang He lempar meja kearah Yu Jin.
"SUDAH, KITA LAKUKAN PINATA KEPALA MA CHAO SAJA!" Wang Yi ikut lempar meja.
"BUKANNYA MA CHAO SUDAH JADI PACARMU YA, WANG YI?!" Guo Jia jantungan.
"KALIAN TERLALU BERISIK, MAU KUBEKUKAN, HEH?" Cao Pi siap-siap bekuin anggota rapat.
"SUDAH! KITA MAKAN SAJA SEKARANG! AKU LAPAR!" Xu Zhu main elus perut.
GYAA! GYAA! UGYAA!
Dibalik kemewahan SMA Wei yang terkenal dikalangan orang elit, ternyata isinya tidak jauh berbeda dengan… Mungkin sebanding dengan SMA Wu, iya, nggak kalah rusuh dari mereka-mereka.
Melihat kehancuran di mata Cao Cao, Cao Cao dengan cepat menggebrak mejanya.
"SAUDARA SEKALIAN! CUKUP!"
Semua hening menatap Cao Cao.
"Kalau musyawarah tidak bisa menyelesaikan permasalahan kita, kita gunakan voting!"
Tercantumlah nominasi acara di papan putih di hadapan mereka. Voting terbanyaklah yang menang.
Mereka dengan cepat melakukan voting dan hasilnya…
Dansa dan permainan lampion mendapat nilai yang sama.
"Sudah kubilang, dansa!" Zhang He masih bersikeras.
"Tidak! Itu membosankan!" yang lain tidak setuju dengan dansa.
"Paling seru itu memang memenggal kepala Ma Chao."
"Wang Yi, kamu kok nafsu banget penggal kepala pacar sendiri…?" Guo Jia elus dada.
"Itu tanda sayang, mungkin?" Jia Xu angkat bicara.
"YANDERE."
"Jadi… Diantara kedua ini, mana yang akan dipilih?" tanya Xiahou Dun sambil menyeka keringatnya yang bercucuran dengan deras.
"Dansa!"
"Jangan dansa!"
BLA BLA BLA BLA!
Om, kapan kelar, om…?
"Pergi ke kuil."
"YU JIN, NGGAK ADA PILIHANNYA!"
"Lama-lama pergi ke kuil beneran, nih." gumam Cao Cao mulai lelah.
Yu Jin nge-blush mendengar perkataan Cao Cao.
HOY, OM. SADARLAH.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruang rapat diketuk oleh seseorang.
Cao Cao langsung beranjak dari tempatnya dan membuka pintu ruang rapat yang tertutup itu.
"Oh, Sima Yi. Kenapa?"
"Bagaimana? Sudah menemukan sesuatu?" Sima Yi tersenyum licik.
"… Kami sedang rapat, jadi mohon jangan ganggu kami."
"Hari ini harus laporan, ya. Kalau begitu, saya permisi."
BLAM!
"Keputusan harus ada hari ini juga."
Semuanya mulai keringat dingin.
"Baiklah, kita voting ulang untuk kedua acara yang seri."
Voting pun dilakukan, dan mendapatkan hasil…
Dansa pemenangnya.
"YAAAAAAY! FAAAAABULOOOUUUSS~" Zhang He girang.
"Jadi, dansa, ya?"
"Tidak! Aku nggak mau dansa!"
"Baiklah, hasilnya adalah dansa. Rapat ditutup. Saya akan membicarakannya dengan Sima Yi. Terima kasih sudah hadir."
Setelah rapat ditutup, Cao Cao, Xiahou Dun, dan Xun Yu berjalan menuju ke SMA sebelah, iya, SMA Jin. Dalam perjalanan, mereka berbincang mengenai hasil rapat.
"Rapatnya rusuh sekali. Tapi untungnya ada hasil." Xiahou Dun masih sibuk menyeka keringatnya.
"Iya… Rasanya mau kubekukan semua." Cao Cao mulai geregetan.
"Apa-apaan juga Wang Yi tadi…? Apakah sebegitu terobsesinya dia dengan kepalanya Ma Chao dari Shu?!" Xiahou Dun kini elus dada.
"Entahlah, mungkin dia mabuk. Mana tadi si Yu Jin…"
"Entahlah, dia mungkin mau tobat."
"Umm… Tuan Cao Cao, aku ada ide gila, boleh?"
"Oh, silahkan, Xun Yu."
"Bagaimana kalau…"
"Dansa? Seperti biasanya, ya? Sudah kuduga tidak ada yang spesial dari kalian. MWAHAHAHAHAHA!" tebak siapa yang bicara.
"Tapi, dansa kami berbeda dari biasanya." Cao Cao senyum licik.
"Hah! Mau dansa apapun juga sama saja. Baiklah, kami cantumkan dansa mainstream kalian di sini!" Sima Yi langsung menuliskan acara SMA Wei dalam rundown acara.
"Terima kasih."
BLAM!
Pintu ruang kepala skeolah tertutup. Cao Cao, Xiahou Dun, dan Xun Yu tersenyum puas.
"Mereka belum tahu, apa yang ada di balik dansa itu." Xiahou Dun tersenyum licik.
"Ya… Mereka akan malu sendiri nantinya." Xun Yu ikut senyum licik.
"Hehehehe… Kita akan menang…" Cao Cao ikut senyum licik.
Ketiganya meninggalkan SMA Jin dengan tertawa nista bersama.
Aku punya firasat buruk dengan ide Xun Yu…
"Tunggu, Xun Yu. Kalau mereka semua dibegitukan, kita juga?" Xiahou Dun tiba-tiba kepikiran sesuatu.
"Iya. Tentu saja."
"O-OGAH GUE." Xiahou Dun merinding.
"H-HIH. XUN YU. YAH. KAMU GITU IH." Cao Cao ikutan merinding.
"Maafkan aku, Tuan. Tapi dengan ini, dansa kita tidak mainstream, bukan?"
"Y-Ya nggak mainstream emang. Tapi… Nggak gitu juga!"
"S-Sudah terlanjur… Sudahlah."
Mereka pulang dengan geli sendiri.
Memangnya, apa yang akan SMA Wei bawakan?
"Thor-san. Kami akan membawakan dansa yang berbeda. Dansa yang digabungkan dengan sihir. Jadi, ketika kita semua berdansa, kami akan meminta bantuan Zhang Jiao untuk melakukan sedikit sihir. Tenang, sudah kuhubungi dia." Xun Yu menjawab pertanyaan alam.
Memangnya, sihir apa…?
"Sihir pengganti gender."
…
APA MAKSUDMU?
"Ya, mereka akan disihir dan berubah. Cewek jadi cowok. Cowok jadi cewek. Anti mainstream, 'kan?" Xun Yu tersenyum ala malaikat.
…
Itu…
SEMPOA!
ITU TERLALU ANTI MAINSTREAM! HEBAT!
YES! AKHIRNYA AKU BISA LIHAT LU XUN JADI CEWEK LAGI!
Lu Xun : H-HUEEEEEEEEEEE- *peluk Zhu Ran*
Zhu Ran : *sesak nafas* O-OY!
HEH, SITU CERITANYA NGGAK TAHU!
Kenapa mereka berdua selalu ada dimana-mana, ya…?
AH, SUDAHLAH. POKOKNYA, TERIMA KASIH, EKSTRAK JIANG WEI!
"AKU BUKAN EKSTRAKNYA JIANG WEI."
Jiang Wei : AHCHOO—
Zhao Yun : MUNCRAT INI JENG~ JIJIK~
Jiang Wei : WAAAH—MAAF! MAAF! *elapin pakai baju Zhao Yun*
Zhao Yun : HOY!
Mereka semua belum tahu, yang tahu hanya Xiahou Dun dan Cao Cao saja. Akan jadi seperti apakah mereka di dansa nanti?
Event tahun baru, terlihat awal persiapan yang begitu sibuk sekali. Aku tahu, ada chapter dimana mereka mengadakan tahun baruan, mungkin kalian bertanya-tanya, untuk apa dibahas lagi? Begini, yang kemarin itu iseng untuk tambahan saja, yang asli ya di sini dan di chapter ke depannya.
"Wah. Luas juga tempat yang kita sewa." Zhao Yun sedang mengangkut barang-barang yang akan dipakai oleh SMA Shu nantinya.
"Kudengar, nanti ada pesta dansa juga sebelum kembang api!" Guan Ping ikut membantu Zhao Yun mengangkat barang.
Hai, amazing tiada akhir.
"JULUKAN ZAMAN KAPAN." Guan Ping elus dada.
"Hei, kamu dansa sama siapa?" Zhao Yun mulai kepo soal pasangan dansa Guan Ping.
"Oh, aku nggak akan ikut dansa, kayaknya. Aku mau jaga stand makanan saja."
"Ikut saja! Semuanya pada ikut, lho!"
"Ah, situ enak ada Xing Cai…"
"Sama siapa, gitu? Oh, aku lupa Yinping di Eropa."
"Kalau pun Yinping di sini, dia pasti sudah sama Zhu Ran. Nggak mungkin aku bisa menikmati dansa bersama adikku yang paling unyu…" Guan Ping memelas.
Zhao Yun hanya tertawa datar.
"Oh, iya. Apa benar, si Jiang Wei naksir Bai Jiaoju?"
Mendengar hal itu, Zhao Yun langsung muncrat, tersedak.
"H-HOY! K-Kamu ngak apa-apa?!" Guan Ping panik.
"Nggak apa-apa, kok. Jangan khawatirkan aku… Tadi, kamu bilang apa?"
"Jiang Wei naksir sama Bai Jiaoju."
"DEMI AP—"
"Hai." Tiba-tiba di belakang mereka muncul Jiang Wei dengan kardus yang ia bawa.
Zhao Yun dan Guan Ping yang saat itu sedang membicarakan Jiang Wei langsung melompat kaget.
"J-J-Jiang Wei! J-Jangan bikin kaget, dong!" Guan Ping gemetar.
"I-Iya, tuh! Hahahaa—" Zhao Yun ikut gemetar.
"Maaf, maaf. Tapi… Kenapa harus gemetaran begitu?"
"O-Oh… Aku mau ke—"
"TOOIILLEEETTT—" Guan Ping langsung ngacir ke toilet, tentunya dengan menyerahkan barang bawaannya kepada Zhao Yun.
"WOY! BARANG LO! HOY! GUE DULU YANG KE TOILET!" Zhao Yun langsung mengejar Guan Ping yang ngacir ke toilet dengan meninggalkan barang bawaannya di tanah.
Jiang Wei sweatdrop.
"Umm… Ada apa dengan kakakku…?"
"Oh, Guan Xing. Nggak tahu, tuh… Aku sendiri bingung, haha!"
"Sudahlah, biar aku yang bawa ini." Guan Xing langsung mengambil barang yang seharusnya dibawa oleh Zhao Yun dan Guan Ping.
"Ahahaha, maaf merepotkanmu, Xing."
"Nggak apa-apa. Oh, iya. Barangnya diserahkan ke anak-anak cewek, ya."
"Oke."
Sementara itu, anak-anak perempuan Shu…
"Nyaaaa~ Nggak ada Yinping nggak asyik~" Bao Sanniang boboan sambil main rumput.
"Bantuin, hoy." Xing Cai terlihat sedang membongkar isi dari kardus yang dibawa oleh anak laki-laki.
"Sanniang, jangan malas-malasan." Yueying tiba-tiba datang menegur Bao Sanniang yang santai-santai di rumput.
"Xing Cai~ Xing Cai~ Apa yang bisa kubantu?" Bai Jiaoju datang dengan girangnya, tingkat kegirangannya mungkin sama dengan Zhu Ran.
Zhu Ran : JANGAN DISAMAIN!
Ampun, maaf ya, Ran~
"Tidak usah, sudah hampir selesai, kok." Xing Cai masih terlihat sibuk dengan barang-barangnya.
"Hee… Ya sudah kalau nggak mau dibantu…"
"… Memang sudah hampir selesai, kok."
"Hee… Ya sudah, aku mau main sama Zhao Yun, ah~"
GREP!
Lengan Jiaoju dipegang erat oleh Xing Cai yang kini berwajah seram.
"Apa katamu…?"
"Aku mau main sama Zhao Yun, kenapa?"
"… DON'T YOU DARE—"
"KYAAA— XING CAI GIGIIIT!"
"SIFATMU JADI SAMA MENYEBALKAN DENGAN SI LANDAK YA."
"JANGAN SAMAIN AKU SAMA DIA, DONG! GYAAA—"
BUGH! BUGH! BUGH!
Xing Cai dan Bai Jiaoju terlihat sangat akrab. SANGAT.
"Hei! Hei! Malah berantem!" Jiang Wei segera menarik lengan Bai Jiaoju.
"ASTAGA, DIK. KAMU NGAPAIN MUKULIN ANAK ORANG?!" Zhang Bao yang mengetahui adiknya tercinta mukulin Jiaoju langsung menjauhkan Xing Cai dari Jiaoju.
"ORANG INI NYEBELIN. HUKUM DIA."
"A-Apaan, sih?! Aku hanya bilang mau main sama Zhao Yun!"
"NGGAK BOLEH."
"Heee… Cemburu, ya?" Jiaoju tersenyum licik.
Xing Cai mulai meronta-ronta hendak menghajar Jiaoju.
"XING CAI! KAMU NGAPAIN?!"
Mendengar suara menggelegar itu, Xing Cai dan Zhang Bao merinding disko. Ya, suara Zhang Fei, ayah mereka berdua.
"Xing Cai, kamu ngapain tadi?" tanya Zhang Fei sambil minum sake.
"Mau hajar Jiaoju."
"HAJAR JIAOJU?!"
Xing Cai mengangguk. Zhang Bao lemas.
"KAMU INI… ITU BARU ANAK BAPAK! HAHAHA! PBSK, PAPA BANGGA SAMA KAMU!"
"AYAH INI KENAPA?! TERLALU BANYAK MINUM, YA?!" Zhang Bao elus dada.
Semuanya yang melihat hal itu sweatdrop.
"HUEE—OM ZHANG FEI JAHAT—" Bai Jiaoju merengek seperti anak kecil.
"H-Hush, ah!" Jiang Wei malu sendiri.
Sudah cukup, kita ke… Wu!
"HAAAI THOOOR-SAAAN~" tebak siapa anak girang ini.
Kemudian Zhu Ran tersandung batu saking girangnya.
"BPPFTT—"
"APA XUN?! APA YANG LUCU?! JAHAT! QUAAN~ DIA JAHAT~"
LO RESE KALO LAGI MEWEK.
NIH, MAKAN STIKER!
GIMANA? MENDINGAN?
"Mendingan…" Zhu Ran kembali seperti semula sambil mengunyah stiker yang dia makan.
Stiker kok dimakan…
"BLEH! BLEH! APAAN, NIH?! JAHAT!" Zhu Ran kembali mewek.
"Mem-bo-san-kan! DOR!" Lu Xun ikutan nggak normal.
Sun Quan yang dari tadi melihat kelakuan bocah maniak api itu langsung facepalm.
"Udah sini, bantuin rakit kembang api, kek. Malah ngiklan…" Ling Tong facepalm.
"Pak tua, susah nggak punya anak didik macem mereka?" Gan Ning kepoin Lu Meng.
"… Mereka berdua aja udah susah, gimana tambah kalian berdua…?" Lu Meng facepalm.
"Itu Gan Ning duluan! Dia selalu saja duluan!"
"Heh, Tong! Cari masalah?!"
"Apa kamu, landak pirang?!"
"BUNTUT KUDA!"
"HOOOOOYYY—" Lu Meng makin lama makin stress menghadapi dua anak tukang berantem dan dua anak aneh di sana.
"HUEEEE—" Lu Xun mewek.
XUNNIE, LO RESE KALO LAGI MEWEK.
NIH, MAKAN STIKER!
MENDINGAN?
"HUEEEEEEEE— PAPA MENG—" Lu Xun ngacir peluk Lu Meng.
Lu Meng langsung sweatdrop.
"IH, ITU PAPA AKU…" Zhu Ran ikutan main peluk.
Melihat anaknya mengaku bahwa Lu Meng adalah papanya, Zhu Zhi yang saat itu diundang menjadi tamu undangan oleh Sun Jian, langsung nangis-nangis di pundak Han Dang.
"A-Akhirnya aku dinotice senpai!" Han Dang berkaca-kaca.
Merinding karena mendengar perkataan Han Dang, Zhu Zhi minggat ke Huang Gai.
"Pinjem bahu boleh?" tanya Zhu Zhi kepada Huang Gai yang saat itu sedang duduk ngobrol dengan Ding Feng.
"Hah? Apa maksud Anda…?"
"Sebentar saja."
"O-Oke."
Zhu Zhi galau.
"HUEEEEEEEE—NGGAK BERMAKSUD SEPERTI ITU PAMAN—MAKSUDKU AYAH—" Zhu Ran beralih memeluk Zhu Zhi yang lagi galau di pundak Huang Gai.
Huang Gai dan Ding Feng sweatdrop.
Ran, bisa-bisanya kamu lupa dia udah jadi bapak lo.
"Anak durhaka…"
"XUNNIE JAHAT—"
"HOY! YANG BENAR! DARI TADI NGGAK BERES! BANTUIN! DASAR *PIIP* *PIIIP* *PIIIIIIP*" kehabisan yang namanya sabar, Sun Quan langsung ngamuk kearah Zhu Ran dan Lu Xun yang dari tadi nggak beres.
Noh, Ran, teman kecilmu ngamuk.
Sudah, sudah! Nggak beres! Yang benar, Ran! Ini udah mau closing!
"O-Oh… Oke, oke. Maaf."
Terlihat semua murid dari keempat SMA sedang mempersiapkan diri untuk New Year Party yang akan dikunjungi oleh banyak orang. Dekorasi sudah terpampang rapi, bagian tiket sudah bersiap-siap di pintu masuk New Year Party, panggung sudah dibangun dengan sempurna, dan yang belum siap hanya stand makanan dan minuman dari Shu dan tempat yang akan digunakan untuk berdansa nantinya.
Di depan gerbang, sudah menanti pengunjung yang begitu antusias dengan acara tersebut.
Keempat kepala sekolah, berdiri dengan gagahnya di hadapan para pengunjung, siap membuka tempat itu. Kali ini, pembukaan tempat diadakannya New Year Eve adalah menggunting pita.
"Yang terhormat, tamu undangan New Year Party… Dan yang kami hormati para pengunjung acara kami, lalu murid kami yang sangat kami banggakan…" Cao Cao membuka acara dengan pidato, "Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah diperbolehkan berdiri di tempat ini dan melaksanakan acara besar kami di tahun baru, New Year Party."
"EHEM!" Sima Yi udah mulai nggak sabar menggunting pita.
Mengetahui kode yang diberikan oleh Sima Yi kepadanya, Cao Cao langsung menuju ke intinya. Ciee… Kode dari Sima Yi ciee…
Kemudian Author dijadiin patung es.
"Langsung saja kami buka tempat ini…" Cao Cao mengambil gunting yang dibawa-bawa oleh Guo Jia dan mengarahkan gunting itu kearah pita untuk segera mengguntingnya.
Tidak hanya menggunting sendiri, para kepala sekolah empat SMA itu memegang gunting secara bersama-sama. Bagaimana bisa? Gunting cuma ada dua yang bolong?
Ah, sudahlah…
CKRIK!
"Dengan diguntingnya pita ini, kami buka acara New Year Party pada sore hari ini!"
YAAY~ ACARA SUDAH DIMULAI~ *tepuk tangan*
Oke, mari kita tunggu apa yang terjadi jika rencana SMA Wei berhasil. Bukan dansa biasa, 'kan? XD
Xun Yu: ide anti mainstream ini namanya... *pose*
*jepret* kyaa~ ekstraknya Jiang Wei memang top~
Xun Yu: ... *pergi*
Untuk chapter selanjutnya... Ditunggu saja ya! Masalah hari, nggak berani janji hari.
Oke, selamat menanti dan jangan lupa review ya~ XD
