Author's note: Hai hai haiiii... maaf sekian lama hiatus, hehehe... kangen aku ya? #plak Syukurlah kalau aku ada yang ngangenin, tapi kalau nggak ya sudah, namanya juga manusia, pasti ada saja alasannya untuk melupakan sesuatu. Kalau dalam ilmu Psikologi, proses melupakan yang namanya forgetting itu diakibatkan beberapa hal dan... eh, kok aku malah bawa-bawa Psikologi ke sini? xD Maaf, mentang-mentang mahasiswa! #plak lagi

Seperti harapan pembaca setia, chapter terbaru telah keluar. Jangan salahkan aku karena nggak bisa mampir ke sini tepat waktu. Salahkan Ippo chan karena memblokir jaringanku. #hmpft Ya sudahlah, daripada banyak bicara nggak jelas, aku akan menyampaikan saja kalau aku senang bisa kembali ke sini.

Nah, masih ingat dengan OC-ku, si Bree? Si mata-mata Junior ini gimana kabarnya di Cambridge? Apakah yang sedang ia lakukan? Lanjut saja cekidot!

PART FIFTY

(BREE)

Jadi, apakah kalian ingin tahu bagaimana divisi London meyakinkan orangtuaku agar aku bisa pindah ke Cambridge? Aku akan menceritakannya dengan sesingkat mungkin. Tapi, tidak... sepertinya tidak akan seingkat itu, karena cerita ini sedikit berhubungan dengan alasan aku keluar dari klub anggar. Pada hari itu, anak-anak klub anggar mengirimiku SMS untuk memikirkan ulang keputusanku mengundurkan diri dari klub. Aku sudah memberitahu Brian bahwa aku tidak akan ikut turnamen musim dingin, dan dia marah besar.

"Kau ini bagaimana?!" dia membanting peralatan anggarnya di hadapanku. "Kau ketua klub! Aku tak mau dengar alasan murahan seperti itu!"

"Kalau aku ceritakan alasan sebenarnya, kau takkan percaya," ujarku. "Aku sudah mengurus surat kepindahanku."

"Kemarin Callan, sekarang kau!" Brian naik darah, dadanya kembang-kempis dengan cepat. "Semuanya saja menghilang dari sekolah ini!"

"Santai, oi, santai!" ujarku. "Aku sungguh menyesal memberitahumu bahwa aku akan pergi, tapi ini adalah kewajiban yang harus kutaati."

Brian berkacak pinggang. "Persetan dengan turnamen musim dingin! Bree, kau adalah salah satu harapan kami!"

"Kalau begitu, beralihlah pada harapan yang lain," kataku sembari menghela napas. "Aku minta maaf, Brian, sepertinya kali ini kau harus berjuang sendirian. Kuserahkan posisi ketua kepadamu."

Setelah itu, aku meninggalkan arena latihan serta Brian yang masih terpaku di tempatnya. Hatiku sakit karena harus berpisah dengan klub yang telah kugawangi selama hampir tiga tahun di Leaf High, dan sekarang aku tak punya kesempatan lagi untuk mengunjunginya, kecuali bila terpaksa. Turnamen musim dingin sudah di depan mata waktu itu, makanya saat aku memberitahu Robbie beberapa hari kemudian bahwa aku dipindahtugaskan, aku berharap Organisasi masih mengizinkanku ikut turnamen. Aku lalu mengayuh sepedaku menembus padatnya jalanan London, kembali ke rumah.

Saat aku tiba di halaman depan, seorang wanita berpakaian serba merah dan berkacamata kuning terang dengan rambut hitam pixie cut melangkah keluar dari pintu depan. Aku terkesiap.

"Asame!" aku memekik.

"Halo, Sayangku," kata Asame seraya membetulkan letak kacamata kuningnya. "Aku baru saja berbicara dengan orangtuamu."

"Ap—apa?" aku tergagap. "Kau bicara tentang apa?"

"Tentang kepindahanmu," sahut Asame. "Aku menjelaskan semuanya pada mereka."

Jantungku seolah berhenti berdetak. "Kau—membocorkan—rahasia—ku?"

"Celebrian!" suara Dad memanggil dari dalam rumah. "Apa itu kau? Kau sudah pulang?"

"Ya, Dad," sahutku takut-takut.

"Sebaiknya kau masuk ke dalam," kata Asame, mengangkat bahu dengan gaya santai. "Mereka ingin bicara padamu, kurasa."

Kedua kakiku sepertinya sudah dilem di trotoar, sehingga aku sama sekali tak bisa menggerakkan keduanya. Aku merasa pusing dan mual—demam panggung hebat waktu itu. Apa yang bakal dikatakan kedua orangtuaku mengenai hal yang mendadak ini?

Tapi, aku putuskan menjalaninya saja. Kusembulkan kepalaku dari pintu depan, menatap ruang tamu yang remang-remang, seolah tak terjadi apapun. Mum dan Dad duduk di sofa, tangan Dad memegang secarik kertas, sementara Mum tampak membenamkan wajah ke dalam tangannya. Aku otomatis duduk di sofa juga, berhadap-hadapan dengan mereka. Aku siap menerima apapun yang bakal mereka katakan.

"Jadi, Nona Muda, sebaiknya kau menjelaskannya pada kami," Dad menyilangkan kakinya seperti eksekutif perusahaan yang siap menginterogasi bawahannya. "Apa yang dimaksud oleh surat ini?"

Aku melirik surat di tangan Dad. Kubaca kopnya dengan seksama. Sebuah cap resmi dari Organisasi, berupa api merah yang menyala-nyala. Aku hanya menarik napas dengan kecut.

"Baiklah, aku akan mengaku," kataku.

"Tidak, tak apa-apa kalau kau mengaku," kata Mum, suaranya serak. Ia melepaskan tangan dari wajahnya yang pucat perlahan-lahan. "Kami takkan marah, Bree. Sungguh. Kami justru bangga padamu."

"Tapi, tidakkah kalian merasa kecewa?" kataku, mendadak emosiku terlepas. "Selama ini aku hidup dengan rahasia, ke mana-mana selalu kubawa rahasiaku bersama tas, buku, dan sepatu olahraga, bahkan peralatan anggarku. Kalian tak pernah mengenalku secara utuh. Mungkin aku Celebrian Hughes di mata kalian, tapi sesungguhnya aku bukan... bukan diriku." Aku memandang wajah Mum dan Dad. Mereka sama sekali tak berkedip.

"Maafkan aku, Mum, Dad," kataku. "Aku janji ini semua akan berakhir dengan baik. Organisasi merekrutku karena mereka pikir aku layak, dan aku tak bisa menolak mereka."

"Celebrian," Dad menyela, "masih ingat dengan kenangan masa kecilmu tidak?"

Aku menggeleng.

"Ya, sudah kuduga kau akan mengatakannya," kata Dad, senyumnya lemah. "Waktu itu kau masih bayi, jadi otakmu belum bisa mencerna memori jangka panjang. Saat kau lahir, kau bagaikan malaikat. Begitu kecil dan rapuh, tetapi juga menyenangkan hati semua orang. Kemudian, ibumu mengatakan padaku agar menamaimu Celebrian, yang artinya 'anugerah mahkota perak,' bukti bahwa harapannya adalah menjadikanmu mahkota kehidupan kami. Memang, kami sudah memiliki Teddy pada saat itu, namun kebahagiaan terbesar kami adalah saat melihat putri kecil kami yang cantik terlahir ke dunia. Meski demikian, tak pernah kubayangkan mahkota kecil kami akan begitu cepatnya lepas dari jemari kami."

Aku menundukkan kepala.

"Tapi kami tak keberatan, Bree," kata Mum lembut. "Justru karena itu, mahkota kami semakin bersinar terang. Kau telah mempersembahkan banyak medali anggar, ranking yang memuaskan, serta sifat ceria yang takkan tergantikan oleh siapapun. Kami bersumpah takkan menghalangimu dalam menjalani hidup, karena kami tahu kau sudah bisa melakukannya sendiri."

"Jadi, kalian sudah tahu bahwa aku takkan di sini lagi, bukan?" kataku pelan.

Mum dan Dad saling pandang, tapi kemudian tersenyum. "Tentu saja," ujar Dad. "Kenapa tidak memberi kesempatan?"

"Apapun yang terjadi, kami akan jaga rahasiamu baik-baik, Bree," kata Mum. "Kami sudah menjagamu selama bertahun-tahun, jadi bukan sesuatu yang berat kalau kami menjaga sekali lagi."

Kutatap mereka bergantian. Denyut jantungku kembali normal. Ketegangan menyusut dalam diriku, berganti dengan rasa lega. Aku merangkul kedua orangtuaku dengan mata berkaca-kaca.

"Terima kasih, Mum, Dad," kataku. "Terima kasih karena sudah mencintaiku apa adanya."

"Karena kau adalah mahkota kami," kata Dad, menggenggam tanganku erat-erat, "apa yang tak bisa kami lakukan?"

Kalimat itu masih menusuk-nusuk hatiku sampai sekarang. Bukti bahwa Mum dan Dad adalah orangtua teladan yang patut dihormati. Aku takkan pernah lagi mau mengecewakan mereka. Barang-barangku yang akan dibawa ke Cambridge sudah dipak dengan rapi. Aku tak membawa serta barang-barang yang membuatku mudah dikenali, seperti jersey sepakbola, sepatu lari, dan tentu saja sepeda kesayanganku. Tetapi, aku membawa serta peralatan anggarku. Kabar bahwa di Cambridge juga ada klub anggar lumayan menghiburku. Aku memasukkan kartu mahasiswa palsu, ijazah palsu, dan dokumen-dokumen penting palsu lainnya dengan rapi ke dalam map, lalu menjejalkannya ke dalam koper. Aku siap beraksi di universitas elit itu.

Itu sekedar flashback saja. Kembali pada inti cerita yang ingin kupaparkan. Memang rasanya cukup aneh kalau kau melaksanakan misi saat mengejar ujian tengah semester. Aku rasa aku sudah cukup mengerti soal perkuliahan sekarang, gara-gara diberi misi di Cambridge. Tapi, aku masih suka rindu saat-saat menjalankan misi di Leaf High.

Namaku sekarang Rain Toshiro. Aku kurang menyukainya. Apakah mereka tak punya nama lain yang lebih simpel diucapkan lidah Yorkshire-ku? Tapi, memang itulah hukum anak-anak didikan Organisasi. Memiliki nama kedua yang dipilihkan untuk identitas kedua mereka.

Bagaimana kabar Robbie di Jepang? Terakhir aku mengetahui kabarnya rasanya sudah lama, padahal hanya dua hari yang lalu. Aku membenamkan wajah ke dalam buku tebal beraroma fosil yang kupinjam dari perpustakaan Cambridge seraya memandang ke lapangan kriket yang terbentang luas. Kuliah bersama Profesor Erasmus sungguh menarik, karena dosen Fakultas Hukum itu selalu tertarik dengan politik luar negeri. Apalagi kalau membahas tentang misi perdamaian PBB yang omong kosong itu. Aku pernah menonton serial televisi yang menyindir soal itu, dan serial itu juga menyatakan hal yang mirip dengan yang dinyatakan Profesor Erasmus. Bahwa sesungguhnya perdamaian dunia hanya mitos, dan perdamaian takkan mungkin terjadi kecuali manusia mau mati satu per satu. Konflik dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan dunia. Seperti Yin dan Yang yang selalu berdampingan. Masuk akal kedengarannya, karena beliau memang seorang guru besar Filsafat Kenegaraan.

"Lalu, selama ini, misi yang dilaksanakan PBB sungguh tidak ada gunanya, dong!" aku memprotes padanya saat kuliah. Satu atau dua anak sudah mendengkur di belakangku. Hanya aku dan anak-anak yang duduk di barisan depan yang masih terjaga, mendengarkan ceraman sang profesor.

Kalian tahu jawaban sang profesor seperti apa? Dia bilang, "Dunia butuh perdamaian, tapi definisi dari perdamaian itulah yang sering disalah artikan orang. Damai berarti menjaga keutuhan, bukan berarti menyetarakan. Tetapi saat suatu kelompok dapat menjaga keutuhan dinamika kelompoknya, saat itulah perdamaian terjadi."

Diskusi berakhir saat waktu kuliah habis. Aku masih penasaran dengan pernyataan sang profesor, tapi tak ada gunanya membuang-buang waktu sehabis kelas berakhir. Aku segera menuju perpustakaan untuk meminjam Dasar-dasar Statisika dan Perilaku Politik Warga Britania yang disarankan sang profesor. Meski demikian, misi di Cambridge ini masih belum jelas arah juntrungannya.

Sampai pada hari Kamis siang, aku datang lebih awal ke kampus. Dari asrama, aku membawa ransel berisi binder yang sudah kutempeli dengan jadwal dari sticky notes dan lembar-lembar kertas lain yang bertujuan untuk membantu otakku mengingat mata kuliah. Belum ada seminggu, mukaku sudah seperti anak Hukum pada umumnya, penuh dengan pemikiran-pemikiran yang berkaitan dengan undang-undang.

Menunggu kuliah, aku pergi ke perpustakaan. Sambil duduk membuka-buka catatan binderku dengan harapan hari ini aku bakal mendapat kuliah yang asyik. Diskusi itu menyenangkan kalau kau suka berbicara, tapi aku pikir diskusi soal Hukum benar-benar butuh lebih dari sekedar bicara. Aku mendengar pintu perpustakaan terbuka dengan gaya berat. Tak kuduga-duga, Profesor Erasmus masuk. Dosen tua berambut mirip Einstein itu tampak kelelahan. Ia mengipas-ngipas kepalanya sambil menyandarkan tubuh di meja pustakawan. Tas hitam yang ditentengnya diletakkan di dekat kakinya. Ia lalu menilik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah dua belas.

"Syukurlah," ia bicara pada dirinya sendiri. Tentu saja, karena perpustakaan saat itu sepi. Hanya aku yang tadinya masih terpaku pada catatan binderku, kini mengintip melalui rak buku dengan penasaran. Gerak-gerik sang profesor kelihatannya mencurigakan. Apakah ia sedang menunggu seseorang? Siapa yang sedang ia tunggu di perpustakaan pada dekat jam makan siang begini?

Aku menutup binderku dengan hati-hati, masih mengintip melalui rak yang penuh buku dan jurnal kepustakaan. Pintu perpustakaan yang terbuat dari besi dan kaca kini terbuka lagi. Bunyinya membuat jantungku melompat. Aliran darahku semakin terpacu dengan kuat, entah mengapa, seperti mendapatkan firasat yang aneh. Orang yang membuka pintu melangkah masuk. Ia adalah seorang wanita, bertubuh jangkung dan berambut pendek. Di bawah bibirnya ada tindikan mutiara yang berkilau. Matanya yang diberi eyeshadow hitam memandang ke seluruh penjuru perpustakaan dengan tatapan yang tajam.

"Tepat waktu," kata sang profesor dengan suara agak pelan. "Perpustakaan sedang sepi, jadi kita bisa mulai membahas yang kau e-mail-kan semalam."

"Saya tak mau berbicara panjang lebar," kata wanita itu. "Saya kemari hanya untuk menyampaikan amanat pimpinan kami. Kau menjanjikan kami logam itu. Ada di mana?"

"Logam itu berada di tempat yang aman," ujar sang profesor. "Aku yang pegang kuncinya. Tugasmu sekarang adalah memberiku bayaran."

Namun, wanita itu terkekeh. "Bayaran? Ha! Kau mengharapkan bayaran dari kami, Orang Tua?"

"Apa lagi kalau bukan janji yang sudah kita buat sebelum ini," kata Profesor Erasmus seraya memilin-milin jenggot putihnya. "Aku sudah memberimu apa yang kau minta. Sekarang giliranmu membayar atas apa yang telah kulakukan."

"Kau tidak melakukannya untukku saja, Pak Tua," senyum si wanita yang kesannya mengejek semakin lebar. "Kau melakukannya untuk kami. Kita semua. Apabila kau masih meminta bayaran, kau tak pantas memberikan apapun untuk kami kecuali loyalitasmu yang seperti permen karet!"

"Cih!" Profesor Erasmus balas mencibir. "Memangnya apa yang akan kalian lakukan kalau aku berusaha menuntut hakku?"

"Mungkin," si wanita bergumam, "kami akan memberimu pilihan lain. Hm, bagaimana dengan kasus sabotase karya ilmiah yang terjadi setahun yang lalu, Profesor? Seharusnya kasus itu ditutup, tapi kau tahu bahwa tanpa kami, kau takkan pernah bisa lolos dari kejaran hukum, bukan? Ironis!"

Profesor tua itu bergidik. Ia tergagap saat bicara lagi, "A-a-aku rasa kalian sudah kelewatan!"

"Kelewatan?!" hardik perempuan itu. "Kelewatan seperti apa?! Kau membuat nama universitas elit ini tercemar—kau masih menganggap dirimu kurang kelewatan? Pikir! Tanpa kami, nama baikmu takkan ada lagi. Kau akan kehilangan hartamu, keluargamu, semua yang kau miliki! Pikir! Saat kami menawarkan padamu kehidupan yang layak, kami juga menawarkan padamu ketenaran! Dan tugasmu hanya bersikap loyal kepada kami, sampai waktunya tiba!"

"Waktu apa?" kekeh sang profesor. Image seorang dosen yang bijaksana dan cerdas telah luntur sepenuhnya dari dirinya. Secara mengejutkan, ia menarik selaras pistol dari dalam sakunya, lalu menodongkannya pada perempuan itu. Tapi, perempuan itu tidak gentar. Ia hanya tertawa.

"Perdamaian, Profesor," katanya. "Perdamaian akan segera terwujud."

"Perdamaian! Omong kosong!" teriak Profesor Erasmus, kegilaan memuncak di dalam matanya. "Kau bicara seperti pimpinanmu yang kolot itu! Memangnya kalian pikir kalian siapa? Selama keadilan ada di dunia ini, kalian bakal lenyap hanya dengan satu kali jentikan!"

Wanita itu lalu menyibakkan rambutnya dari dahi. Tatapan matanya masih terarah pada sang profesor. "Jadi, itu yang kau inginkan, Erasmus? Menantang kelompok rahasia paling berbahaya di muka bumi? Kau berani menyebut pimpinan kami seperti itu, maka kau akan mendapatkan sesuatu yang pantas kau dapatkan!"

Secara tak terduga pula, wanita itu menghunus sebilah belati dari balik jaketnya. Ia menaruh belati itu dengan posisi melintang pada leher Erasmus. Profesor tua itu sama sekali tidak bergeming. Matanya tetap kelihatan marah, tapi wajahnya pucat pasi.

"Kenapa? Kau takut, Pak Tua?" wanita itu berbisik.

"Kalau kau teruskan, kita akan mati bersama-sama di sini," kata Erasmus getir.

"Lebih baik aku mati karena memperjuangkan perdamaian," kata si wanita tenang, "daripada mencari pamrih dari orang lain. Kau sangat menyedihkan, Erasmus. Akatsuki sudah tahu hal ini akan terjadi. Kau akan mendapat balasan yang setimpal."

Suara dingin wanita itu membekukan air muka Erasmus. Pistolnya yang tadinya kokoh menjadi bergetar. Kemudian, wanita itu menarik lepas belati dari leher Erasmus. Ia membalik jaket hitamya menjadi di luar, menampakkan lambang awan merah di dadanya.

"Sampai jumpa lagi," katanya. Ia mengacungkan sebentuk kunci perak di hadapan muka Erasmus, lalu berjalan ke arah pintu tanpa menoleh lagi. Erasmus terhenyak ke kursi terdekat dan tampak sangat mual. Aku tak percaya yang kusaksikan barusan. Aku melihatnya secara langsung. Seorang anggota kelompok rahasia paling dibenci sekaligus ditakuti Organisasi—seorang Akatsuki!

Tanganku tak sengaja menyenggol sebuah kamus besar di ujung rak. Bunyinya gaduh mengagetkan si profesor. Aku buru-buru menyembunyikan kepalaku saat si profesor berdiri.

"Eddie, kau kah itu?"

Eddie adalah nama pustakawan yang suka berjaga di perpustakaan itu. Karena tak ada jawaban, profesor tua itu memutuskan bahwa ia harus segera pergi. Gerak-geriknya yang gelisah dan terburu-buru mengindikasikan bahwa sebentar lagi pasti ada kuliah yang harus ia hadiri. Begitu pula aku, sebetulnya. Akhirnya, setelah itu, Erasmus mengangkat bokongnya dari perpustakaan. Tinggallah aku sendirian, berpikir dalam sepi. Apa yang mesti kulakukan?

Satu-satunya ide yang terbesit di benakku adalah melaporkan kejadian ini pada orang yang tepat. Siapa lagi kalau bukan orang yang kupercaya selama ini—Kakashi.

Jadi, aku segera berlari ke luar perpustakaan, lalu masuk ke dalam toilet perempuan yang jarang dipakai di lantai dua, tepat sebelum kelasku berada. Kutekan nomor paling rahasia yang semestinya dimiliki oleh seorang agen rahasia, lalu kutunggu seseorang mengangkatnya.

Kuharap yang mengangkatnya kali ini sungguh-sungguh Kakashi, tapi ternyata...

"Nomor yang Anda hubungi tidak terdaftar. Silakan coba lagi."

Sial, jangan-jangan gara-gara disuruh mendampingi Robbie ke Jepang, dia harus buru-buru ganti nomor lagi! Kalau begini, aku harus telepon ke siapa lagi? Sudah berkali-kali keajadian seperti ini berulang, tapi anehnya aku masih tetap saja kaget. Satu-satunya cara adalah menghubungi kantor divisi tempat dia bertugas, tapi aku juga takut kejadian seperti di Somerset kembali terulang. Jadi, kuputuskan bahwa kali ini aku harus bertindak sendiri.

Baiklah, waktunya ke kelas! Aku baru ingat nanti ada kuis untuk mata kuliah Ilmu Negara. Beruntung aku selalu mencatat di dalam binder, jadi bisa ku-review lagi sebelum kuis dimulai. Namun baru satu langkah keluar toilet, aku terkesiap. Binderku! Tanganku merogoh-rogoh ransel, tapi yang kusentuh di dalamnya hanya ada kotak pensil dan ponsel, sisanya ruang kosong—hampa. Oh, sial, demi apa, aku pasti meninggalkannya di perpustakaan! Dengan perasaan dongkol, aku menuruni tangga, kembali ke perpustakaan. Sang pustakawan, Eddie, sudah ada di sana sekarang. Ia terkejut melihat diriku yang kalap, tergopoh-gopoh menuju rak tempat persembunyianku tadi. Tapi, tak kutemukan binderku di sana!

"Apa yang Anda cari, Miss?" tanya Eddie ramah.

"Eh, saya mencari binder saya, barusan ada di sini, ketinggalan," ujarku, terlalu panik sehingga tak bisa menyusun kalimat dengan benar.

"Binder?" Eddie mengerutkan dahi. "Wah, saya sedari tadi di sini, tidak saya temukan apa-apa di sebelah sana."

Aku mengeluh. "Kau yakin?" Binder itu adalah nyawaku, harapanku untuk lulus ujian tengah semester!

"Ya, saya berani sumpah. Tetapi Anda tenang saja, kalau seandainya orang yang menemukan itu baik hati, dia pasti akan melaporkannya ke bagian keamanan. Jangan khawatir, selalu ada hikmah di balik kejadian buruk," sahut Eddie, nadanya yang santai membuatku makin sebal.

"Oh, sial!" aku menyumpah. Ya, sial sekali! Betapa cerobohnya diriku! Sambil menyeret kaki, kupastikan aku tetap fokus pada ujian tengah semester—tanpa catatan sama sekali.

Saat kelas akan dimulai, dosenku memasuki kelas, diikuti seorang asistennya. Betapa terkejutnya diriku—sungguh kebetulan, yang jadi asisten dosen di kelasku adalah wanita itu! Ya, wanita anggota Akatsuki itu. Dan ia tampak sangat ceria, berbeda jauh dengan yang kutemui di perpustakaan beberapa waktu lalu. Suram, sendu, dan pirau. Sangat gothic sehingga siapapun akan jantungan melihatnya. Akan tetapi, sesungguhnya, aku bisa lebih jantungan begitu melihat tumpukan buku yang dibawanya. Diantara tumpukan buku itu ada satu buku yang sangat mudah kukenali. Bentuk tipisnya, hard cover bermotif hitam-putih, dan kertasnya yang berwarna-warni... apa lagi kalau bukan binderku! Dan wanita itu ternyata membawanya!

"Selamat siang, class," kata dosenku, Profesor Grimsby. Ia jauh lebih muda daripada Erasmus, namun penampilannya sama kunonya dengan ahli filsafat tua itu. Ia mengenakan kemeja tweed warna kenari. Rambutnya yang beruban diberi minyak sehingga licin, bergaya mirip James Bond-nya Sean Connery yang populer di zaman kakekku masih jadi pengantin baru.

"Nah, semuanya, hari ini saya minta maaf tidak bisa mengajar karena ada mandat universitas yang harus saya penuhi," Profesor Grimsby langsung bicara pada intinya. "Karena itu, kuis hari ini tetap berjalan, namun saya serahkan pada asisten baru saya, Miss Konan Heathcote, untuk mendampingi kalian. Setelah kuis, beliau-lah yang akan membagikan materi ujian tengah semester kepada kalian."

Anak-anak yang belum belajar mengeluh. Sementara sisanya diam karena cukup percaya diri. Aku berada diantara keduanya. Melihat binderku terselip di bawah buku besar di meja dosen membuat tanganku gatal ingin mengambilnya, tapi tatapan aneh di mata sang asisten dosen bikin aku jadi ragu. Apalagi sewaktu soal dibagikan. Aku mengakui senyum sang asisten dosen—namanya Konan—tampak ramah namun mematikan di saat bersamaan. Ini gila! Aku bersama seorang Akatsuki di kelasku! Susah payah kupasang ekspresi datar sewaktu ia membagikan kertas jawaban padaku.

"Semua sudah dapat soal dan lembar jawaban?" Konan bertanya pada kelas. Mereka mengiyakan. Saat itu, Profesor Grimsby sudah tidak ada di kelas.

"Bagus," senyumnya terkembang. Konan menyandarkan satu bahu di dinding sambil mencatat sesuatu di atas hardboard-nya. "Waktu kalian mengerjakan tiga puluh menit, dimulai dari sekarang."

Sambil mengerjakan soal, aku mengawasi Konan terus menerus. Sesekali aku menangkapnya sedang mengikir kuku, di satu kesempatan ia menulis-nulis. Tapi, tak kunjung ia menyentuh buku-buku di depan matanya. Ya, salah satunya adalah binderku. Waktu semakin berjalan dengan cepat. Aku sudah mengerjakan separuh soal ketika tersisa lima belas menit. Sepuluh menit terakhir, tersisa tiga dari empat puluh nomor. Konan akhirnya menyentuh buku besar yang dia bawa.

Oh, tidak, dia malah mengambil binderku. Dia lalu membaca-baca binderku dengan cepat namun cermat, seperti seorang fanboy saat menganalisis komik terbaru. Aneh. Catatanku yang amburadul tentu tidak menarik baginya. Mengapa dia kelihatan begitu asyik membolak-baliknya, seolah binderku adalah kumpulan dongeng Grimm bersaudara? Oh, apapun yang terjadi, aku harus mendapatkan catatanku kembali!

TENG! Waktu mengerjakan habis. Seluruh anak mengumpulkan jawaban mereka ke meja Konan satu per satu. Aku melirik sedikit binder kesayanganku saat maju ke depan, tapi keraguanku muncul lagi karena Konan mencengkeram permukaan binder itu, seolah menjaganya rapat-rapat.

"Baiklah, materi untuk ujian tengah semester akan saya bagikan lewat ketua kelas saja," Konan mengumumkan. "Apabila kalian ingin menanyakan hal lain berkenaan mata kuliah ini, silakan hubungi saya karena Profesor Grimsby akan sangat sibuk seminggu penuh. Saya akhiri kelas hari ini. Sampai jumpa."

Aku harus mendapatkan catatanku kembali! Jadi, aku menunggu sampai seluruh anak keluar kelas, lalu kumanfaatkan kesempatan untuk mencegat Konan.

"Eh, permisi..."

Konan menoleh ke arahku.

"Ada apa, Miss...?"

"Toshiro," aku buru-buru berkata. "Saya pikir, saya sebelumnya pernah melihat binder seperti yang Anda miliki."

"Ah, binder ini?" Konan memperlihatkannya padaku. "Apa benar? Binder ini saya temukan di perpustakaan. Saya pikir tak ada yang mencarinya, jadi rencananya saya akan berikan pada bagian keamanan. Tapi setelah ini, saya harus menghadiri acara, jadi ada kemungkinan binder ini saya bawa pulang."

"Kalau begitu, bagaimana kalau saya saja yang menyerahkannya pada bagian keamanan?" aku mengusulkan segera. "Malah, saya bisa mengantarkannya pada pemilik binder ini."

"Sungguh?" Konan mengangkat sebelah alisnya. "Wah, Anda baik sekali, Miss Toshiro! Pasti Anda berteman baik dengan pemilik binder ini, ya? Hmmm... namanya Celebrian Hughes, ya?"

"Oh, tentu saja!" kataku. Itu memang fakta, sebab siapa lagi 'Celebrian Hughes' kalau bukan diriku! Akatsuki bodoh. Dia tak tahu bahwa Rain Toshiro dan si pemilik binder itu satu orang.

"Baiklah, silakan bawa binder ini," kata Konan padaku. Dengan hati lega, kuterima binder itu, lalu aku mohon diri. Meski demikian, masih kuawasi langkahnya setelah itu. Sambil membuntuti, aku mengirim SMS kilat kepada Asame, berupa pesan warning. Konan tidak menoleh ke belakang barang sekali pun. Ia keluar fakultas, menuju ke parkiran, lalu masuk ke dalam mobil sedan yang sudah menunggunya. Mobil itu pergi tak lama kemudian, derunya merintangi aspal. Aku mengintip dari balik pintu fakultas yang diberi kaca bening. Tepat saat itu, SMS kembali masuk dari Asame. Katanya, 'Cari Erasmus. Buat dia mengaku soal logam itu.'

Kudekap binderku erat-erat. Soal anggota Akatsuki itu bisa dibereskan nanti. Yang penting, tak ada yang menghalangi urusanku dengan kelelawar tua bangka itu.

TO BE CONTINUED