Konohagakure, 1 Januari (Flashback)

Pagi cerah menyambangi Desa Konoha pada tanggal 1 Januari. Matahari terbit dengan cahaya kuningnya dibaluti embun pagi. Beberapa warga yang bekerja sebagai pedagang segera bangun dan menyiapkan tokonya. Terdengar suara besi berderak ketika di setiap jalanan utama desa para warga membuka garasi toko mereka maupun meletakkan alat-alat jualan mereka di lemari. Beberapa wanita menyapu toko suami mereka, beberapa bocah duduk bersama ayah mereka menunggu sarapan yang disiapkan oleh sang ibu di rumah. Di Akademi Ninja sendiri para guru yang terkena jadwal piket sudah membuka pintu tiap kelas untuk menyiapkan kegiatan pembelajaran.

"Lakukan!"

Satu kata perintah dari Hokage Danzo membuat atmosfir di desa itu berubah. 4 Anbu Ne melompat ke atas atap dan membuat formasi segi empat. Mereka menggerakkan segel tangan dan menapakkan kedua telapak tangan di lantai atap kantor Hokage. Muncul tulisan-tulisan khas formula jutsu Fuin yang menyatu di tengah formasi tersebut, lalu muncul-lah kepulan asap putih yang cukup tebal.

"Bagus…" Danzo yang berdiri memandang kerja Anbu Ne-nya di belakang formasi 4 Anbu Ne tersenyum puas. Ketika cermin Mira no Kami muncul di tengah-tengah kepulan asap itu, Danzo tahu rencana Koto Amatsukami skala besarnya akan berhasil.

"Oke," Midoru Shizukesa berpijak mulus di belakang ninja Anbu Ne yang berada di sudut kanan atas dalam formasi segi empat tersebut. Anbu Ne terbaik Danzo dengan paras ayu itu mengambil sesuatu dari kantong celananya. Tangan kanannya menggenggam sebuah toples kecil berisi air dan sebuah bola mata yang melayang di tengah toples. Toples itu diambil dari kantong celananya tadi. Shizukesa membuka tutup toples kecil yang berwarna merah dan mengambil bola mata tersebut. Danzo tidak tahan untuk tidak tersenyum dengan bibirnya.

"Mata Uchiha Shisui, yang dikenal sebagai Sharingan terhebat dalam hal Genjutsu…" Shizukesa memandang bola mata yang diawetkan dalam toples kecil miliknya. Dia meletakkan toples itu di bawah setelah mengambil bola mata Shisui, kemudian berjalan menuju cermin segi empat dengan ukiran-ukiran kuno. Ya, cermin dengan ukiran-ukiran kuno di pinggiran bingkainya adalah cermin Mira no Kami.

'Dengan memanfaatkan Mira no Kami, salah satu senjata Rikudo Sennin, maka aku dapat menggunakan Koto Amatsukami Uchiha Shisusi dalam skala besar tanpa memerlukan chakra yang besar. Khukhu, demi Konoha akan kulakukan apapun walaupun itu berpijak di lumpur kegelapan…' Danzo memandang Shizu yang menekan jari telunjuknya di bagian atas Mira no Kami dan bagian kaca cermin sudut kiri terbuka, membentuk lubang segi empat yang halus.

"Mira no Kami adalah satu-satunya senjata Rikudou Sennin yang hanya menghabiskan chakra penggunanya saat ingin mereflekkan jutsu mereka dalam skala besar," Shizukesa memasukkan bola mata Shisui ke dalam cermin tersebut lewat lubang segi empat tadi "Anda membuat saya menggunakan chakra untuk proses rencana ini, Danzo-sama…sungguh tidak adil."

"Protesmu boleh kau lakukan sepuasnya ketika rencana ini berhasil, Shizu…" Danzo memandang tajam Shizukesa yang tersenyum sangat manis. Tetapi di balik senyuman menawan itu tentu saja sang Midoru tak bisa diremehkan "…Dan juga ketika kita berhasil membunuh Yondaime Uzukage." Tambah Danzo dengan nada tajam.

"Yah melihat caramu berbicara, anda benar-benar bernafsu membunuh pemimpin Uzu itu…heh, untung cermin ini hanya menghabiskan chakra dalam satu kali pakai, yakni ketika jutsu direflekkan pada cermin." Setelah meletakkan bola mata Shisui di dalam cermin, Shizukesa menekan bagian atas Mira no Kami dan lubang segi empat di sudut kiri tertutup. Shizukesa menggerakkan 10 segel lalu menapakkan telapak tangan kanannya di tengah cermin.

"Pertahankan posisi kalian," perintah Danzo kepada 4 anak buahnya "Shizukesa akan menembakkan cahaya mata Mangenkyou Shisui sebesar Konoha ke langit!"

"Hai'!" jawab 4 Anbu Ne di formasi segi empat dengan nada patuh. Shizukesa tersenyum tipis, jika dia sedang bermain catur…ini namanya Fianchetto ketika permainan baru dimulai.

"Ketika bayangan mata ini ditembakkan ke langit," Shizukesa melirik tajam Danzo "Perintahkan orang-orang kita memeriksa Klan Uchiha dan Klan Hyuuga, biasanya pengguna atau klan Doujutsu lebih sulit terkena Genjutsu dibandingkan klan biasa…"

"Saran yang bagus." Gumam Danzo, yang membuat Shizu kembali tersenyum manis.

"Lagipula ketika Mira no Kami menembakkan proyektil cahaya mata Shisui ke langit Konoha, orang-orang yang mendukungku telah dibekali Fuin khusus untuk mengatur kembali aliran chakra menjadi stabil ketika aliran chakra dikacaukan oleh Genjutsu," Danzo sedikit membuka mulutnya, di pangkal lidahnya terdapat tanda Fuin tersebut. Tanda itu ada pada semua Anbu Ne dan orang-orang yang mendukung Danzo.

Iris mata sayu Shizukesa memandang kaca cermin Mira no Kami menembakkan cahaya berbentuk mata ke langit Konoha. Saatnya permainan masuk ke Middle Game, Shizukesa menajamkan matanya.

Di rumah Inuzuka Tsume,

Hana yang sedang memandikan anjing-anjing penjaga rumah mereka memandang kebingungan ke atas langit. Dia memanggil ibunya yang sedang memasak nasi kari untuk sarapan.

"Mama, coba kau keluar dan lihat ini…" Hana berdiri tegak sambil membenarkan gulungan lengan kaos panjang putihnya. Ibu Hana keluar dengan pakaian non-misi serta celemek masak. Jangan lupa ada sendok kari di tangan kanannya.

"Ada apa kau teriak-teriak tak jelas di pagi hari, Hana…kau bisa membangunkan Kiba yang sedang tidur di kamar, ya ampun!" Inuzuka Tsume berjalan cepat menuju anaknya "Apa hidungmu sedang…" perkataan Tsume berhenti ketika matanya memandang langit pagi Konoha yang dihiasi bayangan cahaya mata mengerikan dengan iris merah darah serta pupil aneh, pupil khas Mangenkyou Sharingan para Uchiha.

"Jangan-jangan…" terlambat, mata Tsume sudah terkena Genjutsu tersebut, begitu pula anaknya. Sendok kari di tangan Tsume terjatuh dan membuat anjing-anjing penjaga rumah Klan Inuzuka menyalak ketakutan.

Di rumah Yamanaka Inoichi,

"Istriku, Ino sedang menangis di kamarnya. Dia mungkin ingin digendong Ibu-nya…" kata Inoichi sambil membuka setiap lembaran Koran Hi no Kuni di kedua tangannya. Istrinya tak menjawab. Inoichi meletakkan Koran di atas meja dan menaikkan alisnya kebingungan. Tangisan Ino menjadi sedikit lebih kencang dan hanya istrinya yang bisa menenangkan tangisan tersebut.

"Ooi istriku…kau di mana?! Ada di belakang rumah kah?!"

Tidak ada jawaban.

Inoichi menyesap kopi paginya dan memakai cepat rompi Jounin Konoha yang berwarna hijau. Dia segera berdiri dari kursi makan dan berjalan menuju pintu belakang rumah. Pintu itu terbuka. Ketika Inoichi berada di depan pintu, istrinya sudah berdiri kaku sambil memandang ke langit dengan memegang gunting tanaman di tangan kanannya. Begitu aneh seseorang yang ingin menggunting tanaman malah asyik memandang ke langit, apa ada tanaman di langit yang bisa digunting?

"Hei, kenapa kau…" Inoichi berjalan ke arah istrinya dan penasaran apa yang sedang dipandang oleh sang istri sehingga terdiam seperti patung manekin. Inoichi mengangkat kepalanya lebih ke atas diikuti gerakan matanya yang memandang ke langit "…Memandang ke lang…"

Terlambat. Iris blue-green Inoichi juga melihat bayangan besar mata dengan iris merah darah dan pupil khas Mangenkyou Sharingan para Uchiha. Ino-bayi menangis di kamarnya tanpa tahu orang tuanya sedang berada dalam pengaruh Genjutsu terkuat Shisui.

Tidak perlu dijelaskan lebih detail bagaimana keadaan para warga Konoha pagi itu. Nara Shikaku yang sedang sarapan bersama istrinya, dikejutkan dengan perubahan cahaya matahari yang menyinari jendela ruang makan mereka. Shikaku berlari ke luar rumah diikuti oleh sang istri. Selanjutnya tidak perlu dijelaskan ketika mata mereka memandang ke langit. Anak mereka, Shikamaru-bayi sedang terlelap tidur di kamarnya menandakan bayi ini kelak akan menjadi bocah pemalas. Chouza dan istrinya berdiri di depan rumah mereka dengan mata yang menatap shock cahaya tersebut. Begitu pula orang-orang Aburame, Sarutobi, Kurama, dan semua ninja Konoha. Cahaya besar dari Mangenkyou Sharingan Shisui yang memencarkan Genjutsu Koto Amatsukami membuat semua orang secara tidak sadar telah terpengaruh Genjutsu tersebut sehingga membuat hati mereka memihak kepada Danzo.

Di depan halaman kantor, Uchiha Itachi memandang ke arah kantor dengan tatapan tajam. Dia tahu pola mata itu ketika perlahan-lahan cahaya berbayang Mangenkyou Shisui muncul di langit Konoha. Cahaya itu semakin jelas. Itachi segera berlari menuju komplek klan-nya ketika di semua jalanan Konoha semua orang menatap langit dengan wajah terkejut.

'Jadi ini alasan Danzo memberikanku misi kemarin, sialan…setelah mengambil mata Shisui dia juga berencana menjauhkanku dari rencananya!' Itachi menatap sesosok Hyuuga yang merupakan salah satu dari Tim Anbu yang dikirm Danzo kemarin. Anbu dari Klan Hyuuga itu telah melepas topengnya, namun Itachi mengenal identitas Anbu dari tato di lengan kanan Hyuuga tersebut.

"Permisi, kau adalah Anbu satu tim denganku saat menjalankan misi kemarin kan?!" Itachi langsung berlari mendekati Anbu klan Hyuuga tersebut. Dia tampaknya tahu sosok Itachi.

"Itachi-san ya? Iya…saya bersama anda, Dorune-san, Tataki-san dan Kakashi-Taicho sebagai tim pembantu Tsunade-sama dan Jiraiya-sama dalam misi penghancuran markas besar bandit kelas-S kemarin. Kita menghancurkan markas utama Don Hazel Kurara, bos bandit yang juga mempunyai anak buah Kriminal kelas-S seperti Hidan dan Kakuzu, tapi itu tidak penting…" Hyuuga itu menajamkan pandangannya ke arah Itachi "Anda melihat hal aneh di langit Konoha bukan?"

Itachi menganggukkan kepalanya "Jadi Byakugan juga tidak mudah terpengaruh?"

Pertanyaan Itachi dijawab Hyuuga itu dengan anggukan.

"Saya harus memberitahu Hiashi-sama tentang hal ini, pasti ulah Yondaime Hokage. Mata di langit itu, mata itu adalah Mangenkyou Sharingan klan Uchiha kan?"

Kini Itachi yang mengangguk.

"Byakugan memang tidak akan langsung terkena Genjutsu karena mata kami bisa melihat titik dan aliran chakra kami ketika terganggu sehingga kami bisa menormalkannya kembali, tetapi jika Genjutsu yang digunakan adalah sebuah Genjutsu kelas tinggi…" Hyuuga itu menelan ludahnya "…Kami lambat laun akan terpengaruh juga."

Berarti itu adalah berita buruk. Sayangnya Genjutsu Shisui adalah Genjutsu kelas super tinggi yang berbahaya, Koto Amatsukami bahkan dikatakan ayahnya sendiri sebagai Genjutsu terhebat sepanjang sejarah Uchiha. Tampaknya Klan Uchiha yang memiliki Sharingan bisa lebih tahan melawan Genjutsu itu, lebih tahan daripada Byakugan klan Hyuuga.

"Kakashi-san dan yang lainnya sudah sampai desa?!" tanya Itachi ketika teringat Ketua Anbu dan dua Sannin tersebut, juga dua rekan Anbu lainnya.

"Dorune-san dan Tataki-san sudah memasuki desa bersama saya tadi. Kakashi-Taicho, Jiraiya-sama dan Tsunade-sama kemungkinan masih di luar desa karena mereka bertiga mengurusi masalah akhir Don Hazel Kurara kepada pihak Hi no Kuni untuk dikirim ke penjara para penjahat kelas-S, jadi-"

"Baiklah!" Itachi menggerakkan dua segel dan dari punggungnya keluar seekor gagak hitam "Maaf memotong perkataanmu, tetapi kita harus cepat memberitahukan klan kita…" Itachi menatap tajam gagaknya dan menekan jari telunjuknya di kepala gagak tersebut, lalu mengaliri chakra dari jari telunjuknya ke kepala gagak. Suatu pemberian informasi yang Itachi pelajari sesuai standar Anbu.

"Bisa jadi hanya Hyuuga dan Uchiha yang bisa menangani Genjutsu skala besar ini!"

Hyuuga itu menganggukkan kepala. Itachi berlari meninggalkan Hyuuga tersebut sementara sang Hyuuga melompat ke atas atap untuk cepat sampai ke komplek klan-nya.

Cerita selanjutnya bagai berputar dengan cepat. Itachi bahkan melihat ayah dan ibunya bertarung dengan Anbu Ne untuk mempertahankan klan mereka. Sesuai perintah ayahnya, Itachi membawa Sasuke menuju perbatasan Hi no Kuni untuk memberikan sang adik kepada Ayumi-Baa, kenalan ayahnya.

Anbu Ne tidak tahu informasi bahwa Itachi berhasil lolos setelah terkena beberapa luka akibat pertarungan melawan puluhan Anbu di bawah perintah Danzo. Saat berada di depan gerbang Konoha, Kakashi, Jiraiya dan Tsunade sudah terlihat menyedihkan karena bertarung dengan sosok pria berwajah cantik dengan iris coklat keemasan, bulu mata lentik, tatapan sayu, hidung mungil, bibir tipis kemerahan dan surai coklat keemasan yang bersilau ditimpa cahaya matahari pagi. Ketika itulah Itachi ingin membantu ketiganya dan Midoru Shizukesa mengeluarkan empat puluh tombak cahayanya secara bersamaan.

"Check..mate!" kata Shizu dengan nada senang. Ledakan besar terjadi ketika empat puluh tombaknya menghantam keempat Shinobi Konoha itu secara bersamaan di depan gerbang Konoha. Saat Shizu ingin memastikan kematian keempatnya, dia mendapatkan laporan bahwa Hyuuga dan Uchiha memberikan perlawanan. Shizu pergi meninggalkan gerbang Konoha dengan asumsi bahwa keempatnya pasti mati dengan tubuh yang hancur, tanpa tahu keempat Shinobi Konoha itu selamat berkat Susano'o Uchiha Itachi.

Pagi itu bukanlah pagi yang indah.

Pagi itu-lah dimulainya mobilisasi kekuasaan Danzo secara paksa kepada warganya.

Danzo, Shizukesa dan pendukung-pendukungnya berhasil meredam semua perlawanan Uchiha tanggal 8 Januari di malam purnama yang kelam. Shizu memandang mayat Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto di jalanan komplek Uchiha bersama dengan setumpuk mayat Uchiha lainnya.

"Bagus Shizu," Danzo berjalan mendekati Anbu Ne terbaiknya dari belakang dan memandang tangan kanannya yang diperban "Semua mata itu akan menambah koleksi Sharingan-ku yang telah ada…"

"Jangan serakah, Danzo-sama. Kau telah memiliki banyak mata itu di tangan kananmu. Heh…lagipula mata Uchiha tidak ada apa-apanya dibandingkan kemampuan klan kami, para Supervisor…" perkataan Shizu membuat Danzo tersenyum miring. Dia mengelus tangan kanannya yang diperban menggunakan telapak tangan kirinya.

"Tetapi seseorang non-Uchiha sepertiku memiliki kekuatan mata ini, yah…itu adalah sebuah hadiah dari Kami-sama kepada Konoha juga, demi kekuatan desa tercinta kita."

Malam harinya di tanggal 9 Januari, Shizukesa bersama Anbu Ne-nya berhasil membunuh sebagian besar klan Hyuuga yang memberontak dan sebagian lainnya berada dalam pengaruh Koto Amatsukami. Yang dibunuh terutama dari golongan Bunke (golongan bawah Klan Hyuuga), contohnya Hizashi. Yang digenjutsu adalah golongan Soke (golongan atas Klan Hyuuga) bersama pimpinan Klan, Hyuuga Hiashi.

Danzo berdiri tegak di atas atap kantor Hokage sambil memandang suanana damai Konoha di malam 9 Januari tersebut. Hanya ada kepulan asap di daerah komplek Klan Hyuuga. Dengan latar belakang bulan purnama yang menyinari perak desa Konoha, di belakang Danzo ada Mira no Kami yang terus memancarkan cahaya mata Shisui ke langit Konoha menemani cahaya perak bulan. Di bagian belakang cermin bersandar Shizu sambil terkikik pelan melihat Orochimaru kalah tiga kali melawannya bermain catur.

"Kau kalah lagi Orochimaru, hihihi…" Shizu mengangkat bidak Menteri dan melemparnya ke atas, lalu menangkapnya lagi "…Tiga kali kalah, berarti kau harus menepati janjimu untuk membuatkan Danzo-sama bisa menguasai Mokuton walaupun dia bukan Senju."

"Heh…sel-sel Shodaime ada di tangan kanannya yang dipenuhi mata Uchiha, aku hanya perlu sedikit penelitian untuk membuktikan bahwa kejeniusan bisa mengalahkan darah murni dalam hal Jutsu, khukhukhu…" Orochimaru, salah satu Legenda Sannin berdiri dan memandang cermin Mira no Kami, lalu memandang Danzo yang berdiri di depannya dengan tubuh bergetar.

"Kau tertawa ya, Danzo?"

"Keh…" Danzo membuka mata kirinya dengan bengis dan menyeringai sedikit lebar.

"Untuk apa aku menahan emosiku sekarang Orochimaru ketika rencanaku berjalan sesuai dengan yang kuinginkan!"

(Terdengar musik Opera dengan suara gabungan wanita berteriak "Haaaa…" ala penyanyi Opera)

The Uzukage

Arc Konoha

"The Hardest Illusion from Evil Leader!"

Flashback End

.

.

.

"Yo…sudah sadar, para Ninja Konoha?"

Jiraiya yang sedang duduk di ranjang dan berbicara dengan Raikage memandang cepat ke arah sumber suara. Tsunade memajukan kepalanya melihat sosok yang berjalan penuh langkah tenang mendekati mereka. Itachi dan Kakashi jelas langsung menatap penuh kagum ke wajah pemimpin yang katanya dijuluki Uzukage terkuat dalam sejarah Uzu tersebut. Jelas saja, saat dikatakan sudah tewas dalam insiden penghancuran Uzu, Yondaime Uzukage muncul seperti hantu dan berhasil mengubah alur dunia Shinobi bersama sisa-sisa rakyatnya. Kini Konoha yang telah menghancurkan Uzushiogakure perlu meminta bantuan dari pemimpin desa tersebut.

"Aku mendengar soal Yahiko, kami turut berduka cita…" kata Jiraiya denga wajah sedih. Tsunade juga. Naruto mengangguk mengerti. Dia tidak boleh kembali larut dalam kesedihan yang mengoyak hatinya, dia adalah pemimpin Uzu yang seharusnya menguatkan hati-hati orang yang dipimpinnya.

"Terima kasih, Jiraiya-san. Jadi…apa oleh-oleh yang kalian bawa?"

"Maaf Uzukage-sama, bolehkah saya yang menyampaikan?"

Naruto melirik ke arah pemuda tampan dengan dua kerutan di dekat hidungnya tersebut. Sang Uzukage mengangguk pelan.

"Danzo berhasil menguasai Konoha setelah menggunakan Mira no Kami dan Sharingan Uchiha Shisui yang memiliki kemampuan menguasai pikiran seseorang. Semua klan Uchiha yang memberontak kemungkinan berhasil dibunuh oleh Danzo, juga pihak-pihak yang menentangnya berhasil ia lumpuhkan. Tetua Homura dan Koharu kemungkinan dikurung di suatu tempat, beberapa petinggi desa yang penting juga pasti di sana. Keadaan Konoha sangat kacau, Uzukage-sama."

Naruto mengangguk mengerti. Danzo sialan…dia sudah menyiapkan payung yang sangat rapat untuk rencananya. Mencuri Mira no Kami saat insiden Hachibi di Kumo, lalu menggunakan Sharingan seorang Uchiha. Naruto tahu kekuatan Mira no Kami sebagai salah satu peninggalan Rikudou Sennin selain Benihisago dan kawan-kawannya. Cermin itu bisa merefleksikan suatu jutsu dalam skala besar tanpa menguras chakra terlalu banyak karena keluasan efek jutsu dipancarkan oleh pantulan cermin tersebut. Naruto yang saat itu ingin mengambil cermin tersebut juga memiliki tujuan yang sama, ingin menguasai keadaan desa-desa lainnya menjadi lebih mudah agar saat penyelamatan Shion tidak memerlukan banyak waktu, strategi dan ninja-ninjanya. Tetapi sekali lagi, Danzo bergerak lebih cepat dan tangkas.

"Naruto-sama, memang ini tiba-tiba…tetapi kami pikir hanya anda yang bisa melakukannya. Bahkan gurumu, dan juga guruku, Sandaime Hokage pernah berpesan kepadaku…"

Naruto melirik ke arah Jiraiya yang berbicara kepadanya dengan suara tajam.

"Bahwa akan datang waktunya kau butuh mempelajari satu atau dua Ninjutsu agar menjadi Uzumaki yang kuat. Hanya menguasai Fuinjutsu juga tidak baik bagi Pemimpin sepertimu…"

Naruto mengerti alur atau arah pembicaraan Jiraiya selanjutnya.

"Aku ingin anda menguasai beberapa jutsu, agar anda bisa mengalahkan kekuatan Danzo yang semakin kuat."

Naruto tersenyum lalu memandang ramah Jiraiya.

"Aku tertarik, sensei…hm," Naruto memandang bertanya ke arah Jiraiya dengan senyuman kikuk "Boleh kupanggil anda begitu?"

The Uzukage

Story By Doni Ren, Main Idea By Icha Ren

Naruto By Masashi Kishimoto

The Uzukage Project

Storyline Part 2, The Rise of Uzushiogakure

The Last Arc-Konoha Arc!

Warning: OOC, Out of Canon, Imagination, Some Hard Languange and 18+ Languange, A Little Bit 18+ Scene (No Sex Scene), A Little Bit Gore and H-Author

Genre: Adventure-Romance-Drama

Pair: NaruShion

Have Fun!

.

.

.

The Rise of Uzushiogakure

Chapter 50

Kumogakure, 14 Januari

Jiraiya terkekeh mendengar nada bertanya Naruto yang dibuat polos. Salah satu Sannin itu tertawa renyah kemudian memegang perutnya karena masih merasakan sakit jika tubuhnya terguncang. Tsunade tersenyum sambil memejamkan matanya, lagipula Jiraiya memang orang tipe ceria. Saat desanya dalam keadaan yang sangat genting, pria bersurai putih panjang berduri itu masih sempat mengeluarkan emosi positif di hatinya.

"Boleh-boleh. Aku sangat senang mendengarnya," Jiraiya kembali memasang wajah serius "Kita tak punya banyak waktu lagi, Uzukage-sama. Aku hanya berhipotesis bahwa Danzo belum sepenuhnya menguasai orang-orang Konoha dengan gabungan Sharingan Uchiha Shisui dan Mira no Kami, tetapi jika dia sudah menguasai semua pikiran orang-orang Konoha, bukan tidak mungkin Danzo mempengaruhi Daimyo Negara Api agar mendukung Konoha mengadakan perang melawan desa yang melanggar perjanjian perdamaian 5 desa besar…"

"Danzo berani melakukannya sendiri?" tanya Naruto.

"Dia berani. Dia yakin akan kekuatannya, Uzukage-sama…" Kakashi memandang ke arah lantai, nampak berpikir "Dia punya seorang Shinobi Anbu Ne yang sangat mengerikan…aku yakin kau pasti mengetahuinya, Itachi…"

Itachi melirik sekilas Kakashi, pemuda tampan dengan mata tajam itu memandang ke depan, lalu memandang pemimpin Uzushiogakure. Uzumaki Naruto memiringkan kepalanya, Itachi menghela napas lalu mengangguk. Dia setuju dengan apa yang dikatakan Kakashi.

"Dia-lah yang mengalahkan Shisui dan mengambil mata kanannya. Padahal Shisui adalah salah satu Uchiha terbaik di Konoha. Danzo punya aset yang bagus." Naruto menggeram pelan. Danzo…nama orang itu benar-benar membangkitkan emosinya, tetapi ketenangan yang selalu dijaga membuat wajah Uzukage tetap tidak menampilkan ekspresi meluap-luap tersebut, Naruto hanya berpikir…

Danzo tidak mungkin berani melawan 4 desa besar lainnya, dia hanya sendiri. Mau sekuat apapun personil-personil Konoha, tanpa sekutu maka kekuatan itu bagai titik cahaya di ribuan cahaya Galaksi. Naruto berpikir sejenak. Surat ancaman…tidak, surat pelecahan Danzo terhadap 4 desa yang membuat Konoha seolah-olah minta diserang. Naruto sudah tahu strategi penyerangan balik dari belakang dan pertahanan Konoha yang sangat kuat, tetapi jika Danzo berani menyerang-ingat, bukan diserang-4 desa lainnya, maka Naruto tidak dapat membayangkan logika berpikir pemimpin tersebut. Mira no Kami…Sharingan Uchiha Shisui dengan kekuatan Genjutsu terkuatnya…

"HAH?!"

Semuanya memandang kebingungan kepada Naruto yang tiba-tiba tersentak kaget. Naruto berjalan mondar-mandir sambil memegang dagunya. Sesekali dielusnya dagu tersebut. Jiraiya menaikkan alis kanannya melihat perilaku dari pemimpin Uzu tersebut.

"Anda masih memikirkan tentang kemustahilan Konoha untuk menyerang 4 desa besar?"

Naruto menganggukkan kepala. Dia berhenti tepat di depan wajah Jiraiya dan memandang datar Sannin bersurai putih tersebut. Sang Uzukage melirik ke arah Tsunade lalu Itachi dan Kakashi.

"Ada apa, Uzukage-sama?" tanya Kakashi sopan.

"Aku memikirkan kemungkinan terburuk yang Danzo lakukan. Bukan hanya mengejek 4 desa besar dengan keyakinan atas pertahanan desanya…Danzo pasti mengirimi surat-surat bujukan kepada desa-desa dan Negara kecil untuk bergabung dengan Konoha, pasti juga menjanjikan sesuatu yang menarik jika aliansi mereka menang…"

"Maksud anda?" Tsunade menggantung pertanyaannya, karena dia agak mengerti dengan kata-kata hipotesis Naruto.

"Benar. Jika 4 desa besar tidak terbujuk ejekan surat tersebut dan tidak menyerang Konoha, maka Danzo mempunyai rencana kedua…" setetes keringat jatuh dari dagu Raikage. Dia teringat kata-kata Naruto saat rencana Tsuchikage dalam pernikahan Shion-sama tempo dulu, nada suaranya…setiap rangkaian katanya…entah kenapa Naruto dapat memperkirakan kemungkinan yang akan terjadi walaupun itu hanya sebuah kemungkinan.

"…Rencana keduanya adalah bersatu bersama desa-desa dan Negara kecil di Dunia Shinobi untuk menyerang 4 desa lainnya, yang akan membentuk Perang Dunia Shinobi Keempat. Ini bukan lagi sesi menculik Shion seperti masalah di Iwa, Danzo ingin mengobarkan api perang sehingga Daimyo-Daimyo kelima besar akan memikirkan tentang perjanjian 5 desa besar pasca penghancuran Uzu…"

"Lalu Daimyo 5 Negara besar akan memaksa para Kage untuk beraliansi kembali dengan Konoha agar kekacauan tidak terjadi lagi…kemudian," Itachi yang meneruskan kalimat Naruto menganggukkan kepalanya. Mata sayu Kakashi melebar. Sang Ketua Anbu Suna tersebut mengerti apa kesimpulan selanjutnya.

"Semuanya, mau 5 desa besar dan desa-desa kecil serta Negara kecil lainnya, mau terpaksa atau sukarela, semuanya akan menghabisi Uzushiogakure dan para Uzumaki tersisa di manapun mereka berada. Danzo akan melenyapkan entitas kami seluruhnya, tanpa sisa…" Naruto menghembuskan napas perlahan "Dia tahu bagaimana menggunakan wibawa Konoha dengan baik."

"Ini lebih berat dari yang kubayangkan, bahkan lebih berat melawan strategi Oonoki dan Sandaime Kazekage dalam perebutan istrimu di Iwa. Apa kita akan menghubungi 4 desa besar lalu membuat rencana untuk menyerang Konoha?" Raikage ketiga bertanya dengan nada menggeram berat "Seperti yang kau katakan, muridku…menyerangnya dengan pasukan besar akan membuat desa kita beresiko diserang dari belakang, apalagi pasca tragedi Iwa-Suna membuat ninja-ninja kita cukup berkurang kekuatannya untuk bertarung, apa kita akan membentuk tim kecil melawan Danzo untuk membebaskan Konoha?"

Naruto mengangguk setuju. Tim kecil sangat masuk akal saat ini, tetapi rencana penyusupan adalah salah satu kalimat yang sulit. Penyusupan adalah salah satu teknik dasar Ninja dan merupakan Ninja itu sendiri. Mengendap-endap, membunyikan keberadaan dan membunuh dalam diam. Itu-lah filosofi dari kata Ninja. Tetapi merencanakan akan semudah yang dipikirkan, tetapi melakukan rencana tersebut tidak akan mudah…

'Nyatanya saat penyelamatan Shion perhitunganku ada yang meleset, walaupun beberapa item aku yakini bisa menggeser kesalahan itu menuju kebenaran. Semoga…' Naruto membungkuk hormat dan berbicara dengan nada cukup nyaring. Raikage ingat kelakukan Naruto seperti itu muncul saat Yondaime Uzukage memaksanya adu kecepatan. Ya…tampaknya Uzumaki Naruto ingin menambah daftar gurunya lagi.

"Tolong ajari saya, Jiraiya-sensei…" Naruto membungkuk tegak, penuh gaya hormat "Sebelum akhir Januari, saya harus mendapatkan ilmu dari anda untuk bekal saya…dan akhir Januari,"

Safir biru Naruto menajam "Kita akan memaksa Danzo membebaskan Konoha!"

.

.

.

All Place In World, 15 Januari

Untuk pengamatan skala besar, bisa dikatakan Danzo telah mengirim sekitar 45 surat kepada desa-desa dan Negara yang ada di Dunia Shinobi terkecuali 4 desa besar. Semua surat itu berisi sama, bujukan dan rayuan untuk menjadi aliansi dengan Konoha plus tawaran yang cukup menggiurkan. Danzo berani mengambil keputusan tersebut karena ia yakin, beberapa klan-klan unik dari beberapa desa kecil yang tidak dimiliki Konoha dan tidak dimiliki 4 desa besar lainnya ada di sana. Desa-desa kecil punya potensi memenangkan perang bersama Konoha melawan 4 desa besar jika dipimpin olehnya. Apalagi dia punya pasukan tambahan dari semua percobaan Orochimaru, salah satu Legenda Sannin seperti Tsunade dan Jiraiya yang memihak kepadanya.

Konoha, 16 Januari

"Kau sudah memberitahukan 4 lokasi percobaanmu tentang rencana kita?"

Orochimaru, bersurai hitam panjang halus, berkulit putih pucat, memakai maskara aneh ungu di bagian mata dekat hidungnya, memiliki iris mata kuning dengan pupil vertikal ala mata ular. Jenius, kuat, punya banyak anak buah yang mengagungkan kekuatannya serta sangat suka melakukan percobaan dengan tubuh manusia. Legenda Sannin itu kini mengambil jalan yang berbeda dengan kedua temannya dan memilih mendukung Danzo dalam kekuatan kemiliteran Konoha saat ini. Dia terkekeh pelan mendengar pertanyaan Danzo yang terdengar mengkhawatirkan hal tersebut.

"Tentu saja sudah kuberitahukan, Hokage-sama khukhukhu…" Orochimaru mengeluarkan lidahnya yang panjang dan berlendir lalu menyapu bibir bawahnya perlahan "Kita sudah mengadakan perjanjian yang menyenangkan bukan?"

"Kau selalu bernafsu dengan penguasaan semua jutsu dan Jutsu abadi itu…" Danzo yang duduk di kursi Hokage memandang datar Orochimaru. Dia menutup mata kirinya yang tak diperban "Jika nafsumu membantu Konoha aku izinkan, walaupun itu jalan yang dipenuhi kegelapan. Tapi…"

Orochimaru menampilkan senyuman ularnya, licik dan keji.

"Tapi jika percobaanmu merugikan Konoha, aku tak segan membatalkan perjanjian kita dan membunuhmu, Orochimaru…"

"Ancaman yang terdengar menakutkan, Hokage-sama khukhukhu, baiklah…aku pergi dulu…" Orochi yang berdiri di hadapan Danzo langsung menghilang seperti asap ditiup angin. Kedua alis Danzo menaut ke bawah, tanda dia memikirkan sesuatu.

Danzo menunggu respon dari Naruto. Hokage keempat itu yakin bahwa Naruto pasti mengetahui rencana keduanya, dan jika Yondaime Uzukage mengetahui rencana keduanya…terpaksa sang Uzukage melakukan misi penyusupan ke Konoha.

'Di kala itu aku akan membunuhmu, Uzumaki Naruto…' Danzo mengelus kepala tongkatnya yang tersandar di meja Hokage, lalu dia membaca dokumen-dokumen yang bertumpukan di atas mejanya dengan pandangan dingin.

'Jika akhir Januari pihak Uzu tidak bergerak, maka Konoha yang akan bergerak…'

~TU~

Kumogakure, 16 Januari

Sudah dua hari sejak 4 Ninja Konoha sadar dari pingsan mereka. Kondisi keempatnya sudah membaik. Tsunade membantu penyembuhan ninja-ninja Uzu dan Kumo pasca operasi penyelamatan Shion-sama. Dengan kemampuan medis yang dikatakan terbaik di seluruh elemental Dunia Shinobi, Ninjutsu Medis Tsunade begitu membantu para ninja-ninja medis Kumo dalam merawat dan menangani para ninja yang masih cidera dengan luka-lukanya, mau yang luka berat maupun luka ringan. Tsunade juga mengunjungi Konan, Nagato dan Sara…untuk melihat luka ketiganya. Apalagi adik Yondaime Uzukage tersebut, menyembuhkan bagian tubuh yang putus agar tidak terkena infeksi adalah pekerjaan kesehatan yang cukup rumit.

Itachi sendiri sering diajak berbicara oleh Raikage ketiga, apalagi dengan kejujuran Itachi yang memberitahukan Raikage bahwa yang mencuri Mira no Kami dari gudang persenjataan Kumo adalah pacarnya, yakni Uchiha Izumi. Itachi sebagai salah satu orang yang pernah bekerja di bawah Danzo tentu saja mempunyai informasi yang bagus untuk persiapan-persiapan selanjutnya. Sementara di Training Ground Kumo ke-45, di lembah sebuah gunung yang memiliki tanah-tanah coklat dan sedikit rumput serta berudara sejuk, berdiri Yondaime Uzukage bersama Jiraiya dan Kakashi. Hari ini adalah pelatihan Naruto sebagai murid Legenda Sannin tersebut.

"Coba jelaskan, kenapa anda tidak mau belajar Ninjutsu sejak dulu, Uzukage-sama?" tanya Jiraiya dengan tangan terlipat di dada. Naruto menyengir sambil menggaruk belakang kepalanya sok menyesal.

"Bagiku Fuinjutsu saja sudah cukup, lagipula kebanyakan Ninjutsu bagi seorang ninja membuatnya tidak terlalu keren dalam bertarung. Ditambah aku punya Sumi-Kyo," Naruto memandang ke atas, berpikir "Ya ya, mungkin juga favorit Ninjutsu-ku juga tidak ada…"

"Beri alasan yang pasti, Uzukage-sama…" kata Jiraiya dengan wajah sedikit sweatdrop. Kakashi tersenyum di balik maskernya. Jiraiya melanjutkan dengan wajah yang kembali serius.

"Sebelum kita masuk ke inti penjelasan, apa kau-hmm, apa aku kurang sopan jika memanggil anda dengan "kau"?"

"Asal jangan panggil "Beibeh"…"

"Candaanmu jelek, Uzukage-sama,"

Kakashi tersenyum kembali di balik maskernya. Jiraiya kembali melanjutkan penjelasannya.

"Baiklah Uzukage-sama, sebelum kita masuk ke penjelasan inti, apa kau sudah mengetahui tipe chakramu?"

Naruto mengerutkan keningnya "Tipe chakra? Maksudnya elemen perubahan chakra kan? Dimana cara mengetahuinya adalah memegang sebuah kertas chakra lalu kita alirkan chakra tersebut ke kertas, maka kertas itu akan mendeteksi elemen chakra kita…"

Jiraiya mengangguk. Naruto menampilkan wajah semangat namun tidak terlalu berlebihan "Hooo, Sandaime Hokage-jiji pernah mengetes-nya kepadaku. Tipe elemenku adalah angin dan petir."

Mata Kakashi terbuka, Jiraiya juga langsung tertarik dengan tipe chakra Naruto. Angin dan petir, sebuah kombinasi elemen yang jarang bagi seorang Shinobi. Jiraiya tersenyum dan mengangguk pelan. Dia memandang Kakashi, entah tatapan jenis apa, tetapi nampaknya Kakashi mengerti dengan tatapan tersebut.

"Menarik, Uzukage-sama. Sangat menarik." Jiraiya menggerakkan segel tangan lalu menapakkan telapak tangan kanannya ke tanah, membuat lingkaran fuin kecil dan kumpulan asap putih muncul di tanah kecoklatan tersebut. Saat kumpulan asap putih itu menghilang, di hadapan Naruto berdiri tegak sebuah tong berukuran sedang berbahan kayu dicat putih. Di dalam tong tersebut ada puluhan bola air dengan warna-warni mencolok. Alis Naruto bertaut kebingungan.

"Uzumaki Naruto," Jiraiya menyengir lebar "Aku akan mengajarimu Jutsu ciptaan Abang iparmu,"

Naruto menyipitkan matanya "Rasengan ya…"

"Bukan hanya itu saja, jika anda cepat menguasainya…" Kakashi cepat menanggapi perkataan Naruto dan berjalan dua langkah mendekati sang Uzukage, dia memandang sopan pemimpin Uzu tersebut.

"…Saya akan mengajari anda Teknik Chidori, karena elemen chakra anda sama dengan elemen chakra saya."

Entah kenapa Naruto menjadi lebih bersemangat. Mungkin sesekali dia harus mendengarkan kata Hiruzen-jiji soal penguasaan Ninjutsu, satu Ninjutsu saja. Tetapi karena terlalu percaya diri dengan Fuinjutsu-Fuinjutsunya serta Sumi-Kyo yang ia miliki, Naruto selalu memikirkan bahwa kemampuannya sudah sangat cukup, lebih dari cukup.

Tetapi dengan menaksir kekuatan Danzo dan kepercayaan diri pemimpin Hokage tersebut, Naruto harus bisa menguasai setidaknya satu jutsu, dua jutsu merupakan tambahan kekuatan yang bagus. Yondaime Uzukage mengambil bola air tersebut dan mengangkatnya ke atas.

"Yosh, entah kenapa darah spiralku mendidih menjadi zig-zag," jujur saja, Jiraiya dan Kakashi tidak mengerti apa yang dikatakan Uzukage keempat tersebut, tetapi…

"Akan kukuasai Rasengan dan Chidori sebelum akhir dari bulan Januari!"

…Ya, Jiraiya dan Kakashi percaya pada pemimpin hebat Uzu tersebut. Baiklah…saatnya Yondaime Uzukage memasuki masa berlatih dirinya!

~The Uzukage: The Rise of Uzushiogakure~

3 Jam kemudian

SPLASH!

"SUSAH JUGAAA!" Naruto yang baru saja menghempaskan bola air-nya karena kesal, langsung duduk di tanah kecoklatan sambil mengusap keringat di dahi putihnya. Jiraiya dan Kakashi menghela napas pelan. Ternyata seorang jenius seperti Uzukage keempat masih harus belajar ketika menguasai suatu jutsu. Tentu saja dibutuhkan pengalaman informasi dan ketekunan saat menguasai Rasengan. Jutsu kelas A ini saja dibuat Namikaze Minato berdasarkan konsep pembuatan Bijuudama, dan suami Uzumaki Kushina itu harus membuat perubahan bentuk chakranya menjadi bola berputar selama kurang lebih 3 tahun.

"Aku hanya membocorkan airnya, tidak memecahkan bola airnya," Naruto mengetukkan jari telunjuk kanannya ke tanah, khas seorang Uzukage keempat ketika sedang berpikir keras 'Saat Jiraiya-sensei mencontohkan bagaimana ia memecahkannya dengan mudah, ledakan air seperti menekan kulit bola air dari berbagai arah…itu seperti pergerakan tekanan air yang acak-acakkan…'

Naruto memandang wajah Kakashi. Kenapa ninja berambut putih dengan gaya alay miring ke kanan itu memakai masker? Menyembunyikan wajah tampannya atau sindrom malu yang berlebihan? Kakashi yang dipandangi tajam oleh Naruto menjadi tidak nyaman. Naruto berdiri kembali lalu mengambil bola air itu dan melempar-lemparkannya ke atas.

"Punya pemikiran baru, Uzukage-sama?" tanya Jiraiya sambil tersenyum tipis. Naruto tidak menjawab. Dia memegang bola air itu dengan kedua tangannya, lalu menggoyangkannya ke kiri-kanan, ke atas-bawah, miring kanan-miring kiri dan berbagai arah. Pecahan, tekanan segala arah, chakra berputar….

Naruto menghentikan kegiatan tak pentingnya dan memandang Jiraiya sejenak. Kakashi melirik ke arah Sannin bersurai putih panjang tersebut dan tahu Jiraiya juga membuat wajah tak nyaman saat dipandang tajam oleh Uzukage keempat.

"Err, ada apa…ada apa Uzukage-sama?" tanya Jiraiya dengan wajah sedikit kikuk. Naruto memicingkan matanya.

"Coba perlihatkan lagi jutsu tersebut, Jiraiya-sensei…"

Jiraiya membuat Rasengan berukuran normal di tangan kanannya. Chakra bercahaya biru tersebut berputar indah di telapak tangan Jiraiya dengan suara desingan pelan. Naruto memandang aliran chakra di tangan Jiraiya. Matanya melebar.

"Hiruzen-jiji pernah mengatakan kepadaku bahwa menciptakan sebuah Jutsu kuat itu ada dua tahapan, yakni memanipulasi bentuk chakra dan memanipulasi elemen chakra…mungkinkah Rasengan ini adalah teknik dari manipulasi bentuk chakra?"

Kakashi mengangguk "Benar Uzukage-sama. Minato-sensei sebenarnya mengatakan bahwa Rasengan belum sepenuhnya sempurna. Beliau belum mampu memasukkan elemen chakra ke jutsu ini karena Rasengan adalah tingkat tertinggi dari manipulasi bentuk chakra," Kakashi menunjuk Rasengan di telapak tangan Jiraiya yang terus berputar kencang "Lihat, bagaimana aliran chakra yang teracak-acakkan itu mampu membentuk sebuah bola padat yang tetap tertahankan dalam bentuk tersebut dan tidak pecah…"

"Dibutuhkan konsentrasi dan daya tekan chakra yang tinggi ketika menggunakan Jutsu ini," Jiraiya melanjutkan penjelasan Kakashi "Aku tidak memaksamu untuk memanipulasi elemen chakra di jutsu ini, Uzukage-sama...tetapi menguasai Rasengan saja sudah cukup untuk menjadikanmu mempunyai senjata penyerangan terbaik."

"Ya…" Naruto memandang lekat aliran chakra di Rasengan. Memang sekilas terlihat berputar sehingga bola padat itu tetap utuh, tetapi…

Naruto melempar sekali lagi bola air di tangan kanannya dan menangkapnya dengan tangan kiri. Ayahnya, juga Oonoki pernah berkata soal kekuatan kontrol chakra telapak tangan kirinya-lah yang terbaik. Sang Uzukage mengkonsentrasikan chakra tersebut di telapak tangan kirinya dan mulai membentuk gerakan chakra sesuai konsep dari Rasengan.

'Tidak hanya berputar, aliran chakra di bola Rasengan bergerak secara acak. Ini berarti prinsip dasar jutsu ini adalah menggerakkan aliran chakra mengelilingi pusat chakra dengan gerakan tak terarah, namun tetap berputar pada porosnya sehingga bentuk bola tetap terlihat…' safir biru Naruto menajam '…Bukan Yondaime Uzukage jika tidak menyelesaikan ini sebelum batas waktu yang disediakan!'

SPLASH! Butuh 10 menit tambahan bagi Yondaime Uzukage untuk memecahkan bola air tersebut.

3 Jam lagi telah berlalu sejak Naruto berhasil memecahkan bola air tersebut. Sang Uzukage juga telah berhasil memecahkan bola angin setelah mengetahui prinsip kedua Rasengan. Kekuatan penekanan chakra sehingga bola karet tebal yang berisi angin bisa meledak. Saat itu matahari sudah terbenam. Naruto duduk bersandar di dinding batu sambil memandang tangan kirinya yang sedikit bergetar. Kakashi dan Jiraiya memandang takjub pemimpin Uzu tersebut. Tak salah sosok bersurai merah jabrik itu disebut-sebut sebagai Prodigy Uzumaki yang datang 1000 tahun sekali.

"Uzukage-sama," Jiraiya melempar sebotol air mineral kepada murid barunya. Naruto menangkapnya dengan senyuman penuh semangat.

"Arigatou sensei…"

Jiraiya terkekeh pelan, lalu melambaikan tangan kanannya sambil menghilang perlahan seperti ditiup angin, begitu pula dengan Kakashi.

"Kita lanjutkan besok pagi…"

Naruto menyemburkan air yang diteguknya dan berusaha memanggil dua orang tersebut, tetapi keduanya benar-benar meninggalkan lokasi latihan. Naruto mendesah pelan lalu menyandarkan kepalanya untuk memandang langit yang mulai gelap. Mata biru sang Uzukage menatap datar ke arah atas.

"Bagaimana latihan Utakata, berjalan lancar?"

Sebuah cermin es muncul di samping kanan Naruto dan Haku melompat pelan dari es tersebut dengan gaya anggun. Dia memakai kimono biru tua yang diikat obi berwarna kuning muda. Haku bahkan terlihat seperti wanita saat memakai kimono manis seperti itu. Rambut panjangnya disanggul lucu. Sang Last Hyouton menganggukkan kepala mendengar pertanyaan sang Uzukage.

"Sepertinya lancar. Anda sendiri?"

Naruto menyengir pelan "Sangat lancar…" ucap sang Uzukage sambil memandang tangan kirinya yang dipenuhi debu bekas latihan.

.

.

.

Kumogakure, 17 Januari

"KITA LANJUTKAN LATIHANNYA LAGI!"

Teriakan Jiraiya di pagi hari sukses membuat burung-burung yang bertengger di tebing-tebing gunung terbang ke langit. Naruto membuka jaket hitam berlengan panjangnya dan mulai membuat chakra berbentuk bola di sebuah balon kosong. Seperti instruksi Jiraiya, kali ini bukan hanya membuat gerakan chakra dan memberikan tekanan pada chakra tersebut, tetapi ia harus menahan tekanan tersebut sehingga kekuatan Rasengan tertahan pada chakra berbentuk bola. Jika Naruto meletuskan bola yang berada di tangan kirinya, maka ia belum mampu membentuk Rasengan.

'Ini lebih susah daripada dua latihan sebelumnya,' mata biru Naruto melebar. Balon di tangan kirinya meledak sehingga sang Uzukage terpental ke belakang cukup jauh. Chakranya meluber keluar dengan daya hentak yang cukup kuat. Kakashi yang sedang membaca Novel gratis pemberian Jiraiya memandang sekilas sang Uzukage, kemudian melanjutkan bacaannya di bawah sebuah gundukan batu yang mencekung ke dalam. Sementara Jiraiya berdiri tegak di hadapan sang Uzukage sambil melipat tangannya di depan dada.

"Kau sudah meledakkan 10 balon, Uzukage-sama…"

Mata Naruto menajam, agak kesal "Masih belum." Katanya dengan nada sedikit menggeram. Ia memegang balon kesebelas di tangan kirinya lalu mulai membuat chakra bola dengan gerakan teracak. Alis Naruto mengkerut.

'Beri tekanan pada chakra ini…' setetes keringat mengalir dari pipi Yondaime Uzukage menuju dagunya 'Lalu tahan tekanan itu se-'

BLAARHHH! Balon itu kembali pecah dengan luberan chakra yang bertekanan kuat. Tubuh Naruto terpental ke belakang lalu jatuh terseret pelan. Kaos abu-abunya nampak kotor. Naruto berdiri tegak sambil mengusap keringat di dagunya. Dia maju dengan langkah tegap dan mengambil balon ke-dua belas.

Blarh!

Blarrh!

Bluaarhhh!

Dhaarh!

Cdaaarhh!

"Boom!"

"JANGAN MENGEJEKKU DENGAN MEMBUAT SUARA LEDAKAN MENGGUNAKAN MULUTMU JIRAIYA-SENSEI!" Naruto menunjuk Jiraiya dengan wajah kesal. Jiraiya terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya pelan. Cukup lucu juga melihat tingkah konyol seorang Uzukage keempat yang katanya memiliki ketenangan dan wibawa yang baik. Tapi sekarang Uzumaki Naruto terlihat gusar karena jutsu yang dianggapnya mudah kini membuat seluruh tubuhnya kotor.

'Padahal tanpa segel tangan, tetapi tingkat kesulitan jutsu ini…Minato-nii memang hebat. Pantesan Kushina-nee mau menikahinya.' Naruto mengambil balon ke-tiga puluhnya dan mengkonsentrasikan seluruh chakranya di sana, lalu membuat arah gerak chakra, memberinya tekanan, dan tahap terakhir…

'Menahan seluruh kekuatan, tekanan dan gerak chakra itu dalam balon ini!' gigi Naruto bergelemetuk pelan. Bahkan butiran-butiran tanah di sekitar kaki Uzukage keempat terbang berputar, seperti terikut kekuatan chakra yang menguar dari seluruh tubuh sang Uzukage.

'Baiklah, rasanya…' Naruto menutup matanya 'Bayangkan bola…bayangkan bola…'

Kakashi yang sedang membaca Novel Icha-Icha Paradise langsung menghentikan kegiatan membacanya, apa Yondaime Uzukage berhasil? Pikirnya ketika merasakan aura chakra yang kuat namun stabil.

'Bayangkan bola…bayangkan bola…' alis Naruto berkerut 'Bayangkan bola…' Naruto pun terbayang 'bola'nya Mei Terumi…

BLARRHHH! Sang Uzukage terpental ke belakang hingga menghantam dinding tebing di belakangnya. Jiraiya yang merasa Naruto sudah berhasil melewati tahap ketiga langsung menghela napas, ternyata gagal. Kakashi kembali mengarahkan matanya ke halaman buku biadab tersebut.

"KENAPA YANG TERBAYANG 'BOLA'-NYA DIA! PADAHAL 'BOLA'-NYA ISTRIKU LEBIH BAGUS KARENA MUNGIL DAN IMUT-IMUT!" teriak Naruto gaje. Tiba-tiba terdengar suara Haku di belakang Naruto.

"Bola apa dan siapaaa, Naruto-samaaa? Kenapa membandingkan 'bola' Shion-sama dengan seseorang?" bagus, ternyata Haku sedang mengawasinya di sebuah gua yang ada di atas tebing. Untung saja Haku adalah pengawal yang sangat setia dan mementingkan keselamatannya, jika yang mendengar tadi adalah Utakata…

"Aku akan melapor pikiran kotormu ke Shion-sama, HUAHUAHUAHUAHAHAHAHA!"

Ya, kalimat di atas adalah kata-kata Utakata jika Jinchuuriki itu mendengar teriakanya tadi.

Hari itu Naruto telah menghabiskan 128 balon dan melanjutkan latihannya hingga tengah malam. Jiraiya dan Kakashi meminta izin untuk istirahat, sedangkan Naruto tetap melanjutkannya. Pukul 6 pagi tanggal 18 Januari, Naruto mampu menahan bentuk bola chakra itu selama 5 menit sebelum kedatangan tiba-tiba Shion ke arena latihannya sambil membawa sebuah kotak makanan yang dilapisi dengan kain berwana oranye. Karena terkejut melihat kedatangan Sang Ratu, konsentrasi Naruto pecah dan balonnya kembali meledak sehingga sang Uzukage terpental ke belakang beberapa meter. Haku muncul dari balik cekungan dinding tebing dan membantu Naruto berdiri.

"Anda tidak apa-apa, Naruto-sama?" tanya Haku khawatir. Pagi itu pengawal Uzukage keempat tersebut memakai kimono tanpa lengan berwarna putih dengan corak bunga sakura yang berwarna merah muda. Dia memakai obi berwarna merah dan pedang-nya terlampir di pinggang dalam posisi miring ke kanan. Pakaian Naruto sendiri sudah benar-benar lusuh. Sang Uzukage mengucapkan terima kasih dengan napas terengah-engah.

"Shion, kenapa kau ke sini? Apakah itu-"

"Jangan percaya diri dulu, Naruto." Shion memotong kata-kata Naruto dengan nada angkuh "Bekal makanan ini jelas untuk orang paling letih di sini…"

"Ya itu pasti aku…" kata Naruto dengan wajah santai.

"Ini untuk Haku." Shion memberikan bekal makanan itu untuk Haku. Haku menerimanya dengan wajah kebingungan. Untuk Haku toh…

"Yaikss!" jelas saja Naruto terkejut "T-tetapi aku kan yang terlihat paling letih-"

"Jaa nee…" Shion pergi melambaikan tangannya tanpa memberikan satu patah kata penyemangat untuk suaminya. Setetes keringat sweatdrop muncul di belakang kepala Naruto.

Saat Shion sudah benar-benar menghilang, Haku membuka kain pembungkus bekal tersebut dan bermaksud memberikan semua isi bekal itu kepada Naruto. Tentu saja sang Uzukage-lah yang terlihat lapar saat ini. Berlatih keras dari kemarin hingga pagi pasti benar-benar akan menguras tenaga sang Uzukage.

"Eh, ini…" saat Haku sudah membuka penutup kain tersebut, ternyata ada dua kotak bekal di dalamnya. Yang satu tertempel kertas dengan tulisan "Untuk Haku". Kotak bekal di bawahnya tertempel kertas dengan tulisan "Untuk Suami tercinta."

Naruto terdiam. Haku memberikan kotak bekal itu dengan senyuman yang dikulum. Sang Uzukage menerimanya dengan mata sedikit berbinar. Jika Utakata melihat ini, pasti dia mengatakan…

"SHION-SAMA TIDAK BERANI MEMBERIKANNYA LANGSUNG KEPADAMU NARUTO-SAN, DIA TAHU BAHWA MEMBERIKAN KOTAK BEKAL DENGAN TULISAN "UNTUK SUAMI TERCINTA" ADALAH PENURUNAN HARGA DIRINYA YANG TINGGI, TETAPI ISTRI ANDA BENAR-BENAR LUCU HUAHUAHUAHAHAHAHAHA!"

Stop! Naruto pusing membayangkan tawa lebay Utakata. Matanya sedikit menutup dan sang Uzukage tersenyum tulus.

"Dasar Tsundere…" gumam sang Uzukage dengan nada pelan, tetapi sangat senang.

.

.

.

Konoha, 18 Januari

Desa Konoha memiliki basement bawah rahasia yang cukup luas. Ketika serangan mendadak dari desa-desa lain terhadap desa dilakukan, maka warga sipil Konoha akan diungsikan di basement tersebut. Ruangan seluas 8 kali 10 meter kubik itu cukup menampung warga-warga Konoha ketika kondisi darurat terjadi. Basement tersebut terletak di dekat tebing gunung Konoha di mana wajah para Hokage terpahat di sana. Di pintu atas Basement pasti selalu dijaga Jounin-Jounin elit maupun beberapa Anbu pilihan. Tetapi siapa sangka tempat perlindungan Konoha itu menjadi sebuah penjara bawah tanah untuk Koharu dan Homura, dua tetua Konoha yang tidak menyetujui tindakan Danzo yang kelewatan batas.

Suara langkah tegap terdengar menggema di ruang Basement yang kosong. Homura mengangkat kepalanya dan memandang seseorang turun dari tangga basement yang terbuat dari besi bercat hitam. Saat penerangan bercahaya putih suram itu memperlihatkan wajah siapa yang mengunjungi mereka, Koharu dan Homura meneguk ludah perlahan. Wajah cantik dengan tatapan sayu tajam, rambut coklat keemasan, bibir tipis menggoda serta mata berwarna senada dengan warna rambut.

"Midoru Shizukesa ya…" kata Koharu pelan. Shizu tersenyum tipis, agak manis, lalu berjalan melalui kedua tetua Konoha yang duduk berdua di depan meja kayu setinggi dada mereka. Keduanya memang agak nyaman duduk di sofa berwarna merah tersebut, tetapi tentu saja diisolasi dari desa di atas permukaan Basement membuat keduanya khawatir, apa yang sedang Danzo lakukan di atas permukaan sana.

"Boleh aku bertanya?" Homura sedikit ragu dengan pertanyaannya, Shizu berhenti sejenak. Homura tahu bahwa Anbu Ne terkuat Danzo itu menunggu pertanyaannya.

"Apa yang Danzo lakukan terhadap Konoha? Apa yang ia lakukan?!"

"Tentu saja sesuatu yang membuat desa ini maju, Homura-sama,"

"Apa dia tidak melakukan hal ekstrim lainnya?!"

"Mungkin,"

"Apa maksudmu mungkin?!" tanya Koharu yang mulai tak sabar. Shizu menoleh sedikit ke belakang.

"Masih ada pertanyaan tambahan?"

Koharu dan Homura terdiam. Nada bertanya Shizukesa berubah. Suaranya sedikit meninggi dan sangat tajam. Tetapi yang lebih menakutkan adalah caranya bertanya dan aura mengerikan yang ia pancarkan. Tatapan itu seperti tatapan serigala yang memandang mangsanya dengan nafsu membunuh.

"Sankyuu kalau tidak ada pertanyaan." Kata Shizu dengan nada ceria seperti suara seorang gadis. Dia melangkahkan kakinya menuju bagian sudut kanan basement. Di sana ternyata ada sebuah pintu berwarna coklat tua. Shizukesa membuka gagang putar pintu tersebut dengan gerakan pelan. Suara decitan pintu membuat sosok wanita yang ada di dalam ruangan itu langsung menoleh dengan wajah terkejut.

"Sedang menyusui anakmu, Kushina-san?"

Uzumaki Kushina, dengan wajah cantik yang lusuh memandang tajam Midoru Shizukesa. Seperti yang dikatakan Shizu, kakak perempuan Naruto itu sedang menyusui anaknya di atas ranjang ruangan tersebut.

"Danzo-sama memberikanmu makanan." Shizu berjalan mendekati sebuah meja kecil di sudut kiri ruangan dan meletakkan sekotak bekal makanan di atas meja tersebut. Saat itu-lah mata Kushina menajam, dengan cepat…dari sudut kanan ruangan yang gelap di dekat pintu muncul Kushina lain dengan wajah tegang. Dia memeluk anaknya dengan erat.

Boof! Kushina yang sedang menyusui anaknya di ranjang ternyata adalah bunshin. Ekor mata Shizukesa melirik sayu.

Grep! Tiba-tiba dari kegelapan di luar ruangan muncul Shizukesa yang mencekik leher Kushina tanpa ampun. Mata kakak perempuan Naruto itu melebar. Tak disangka ternyata sang Midoru menggunakan Bunshin juga. Yang asli ternyata menunggu di luar ruangannya.

"Kau pikir bisa menipuku, Kushina-san?" sosok Shizu yang meletakkan makanan tadi berubah menjadi tombak cahaya dan menghilang perlahan dengan butiran-butiran cahaya yang melayang ke atas. Kushina meronta-ronta pelan.

"K-kau…"

"Heh," Shizu tersenyum tipis. Dia melempar tubuh Kushina ke belakang, hingga punggungnya menghantam kaki meja di mana kotak makanannya ada di atas sana. Kushina memeluk erat anaknya, melindunginya dari benturan. Namun karena posisi jatuh tersebut membuat sang anak agak terkejut lalu menangis. Mata Shizu menyipit tajam.

"Jangan sia-siakan kematian suamimu. Minato-san berjuang demi desa dan keluarganya…jika kau mati di sini," Shizukesa menutup matanya perlahan "Kematian Minato-san saat melawan 5 Kage beberapa waktu yang lalu akan menjadi sia-sia. Aku saja sangat menghormati kematian beliau,"

"Apa yang kau katakan?! Kau telah membunuh Sandaime-jiji dan membantu Danzo sialan itu menjadi Hokage! Kau tidak ada bedanya dengan para penjahat itu!"

Suara Kushina terdengar marah. Dia memandang anaknya yang menangis agak kencang. Wanita Uzumaki itu mengelus pelan pucuk kepala anaknya dengan wajah sedih. Shizukesa menutup pintu itu perlahan tanpa sepatah katapun, tetapi sebelum pintu itu benar-benar tertutup, telinga sang Midoru mendengar suara Kushina yang sedikit menggetarkan hatinya.

"Adikku, Uzumaki Naruto pasti akan mengalahkan kalian!"

Tep. Pintu itu tertutup sempurna. Shizukesa terdiam selama beberapa detik. Dia menundukkan kepalanya sehingga surai emasnya yang cantik menutupi wajahnya. Saat sang Shizukesa berbalik dari balik pintu, mata sayunya menajam dengan tatapan senang.

"Aku harap itu benar…" kata sang Midoru dengan nada senang.

Sementara di atas permukaan, Danzo sedang berada di Laboratorium Orochimaru yang terletak dekat dengan Hutan Kematian. Entah apa yang mereka kerjakan, tetapi Orochimaru seperti melakukan sesuatu terhadap tangan kanan Danzo yang selalu dibungkus perban putih tersebut.

"Kau bisa menambahkannya?" tanya Danzo pelan dengan mata tertutup.

"Khuhkhu, tentu saja. Tergantung darimu…" Orochimaru menatap Danzo dengan mata ularnya yang lick "Bisa-kah kau menggunakannya?"

Sebelum Danzo menjawab, Orochimaru memberikan 5 butir obat berbentuk seperti benih ke meja yang berada di sisi kanan Danzo. Hokage keempat itu menaikkan alisnya penasaran.

"Apa itu?"

"Gunakan ini saat kau terdesak, pil ini berisi zat murni air yang menstimulus sel-sel Hashirama-sama. Kau bisa mengendalikan sel-sel Hashirama-sama dan bisa menggunakan Mokuton selama 5 menit. Ingat, hanya boleh memakan 5 pil karena kau bukan seorang Senju,"

Mata ular Orochimaru terlihat bergetar pelan meneruskan perkataannya "Jika kau memakannya lebih dari 5, khukhukhu…kau akan mati!"

Mata kiri Danzo yang tak berperban sedikit terbuka. Orochimaru mendesis pelan yang membuatnya benar-benar seperti ularbertubuh manusia.

"Sa…kembali ke pertanyaan awal, bisa-kah kau menggunakannya?"

Danzo mendengus pelan. Orang tua bermarga Shimura itu sekilas tersenyum. Danzo melepas perban di mata kanannya kemudian membuka kedua matanya dengan cepat. Mata kanan yang selalu tertutup perban putih itu memiliki iris mata yang tak biasa.

"TENTU SAJA!"

Misteri kekuatan Danzo mulai menyambangi sesuatu, sang Uzukage tampaknya harus menguasai Rasengan dan Chidori secepatnya!

TBC

The Uzukage Chapter 50

"The Hardest Illusion from Evil Leader!"

And

"My Ability with Rasengan and Chidori!"

Pertarungan terakhir di arc terakhir mulai bertubrukan dengan gesekan tinggi, hanya yang kuat-lah yang pantas memegang bendera kemanangan!

AN:

Kejutaaaan. Seperti meniru ketawa Utakata "HUAHAHAHAHAHA" saya hanya bisa menepuk kening untuk chap ini. Yap, ini alasan kenapa ane menampilkan Flashback saat chap terakhir arc Iwa-Suna (Naruto Vs Kazekage ketiga) saat Naruto menggunakan Fuinjutsu: Neurotransmitter-nya. Ane menampilkan Flashback ketika Naruto berlatih bersama Sandaime Hokage dan memberikan spoiler kekuatan elemen Naruto adalah angin serta petir. Hal itu untuk mendukung cerita ke depannya salah satunya adalah membuka jalan bagi sang Uzukage untuk mempelajari Ninjutsu.

Kita tahu bahwa karakter Naruto di sini sangat puas dengan gelar Master Fuinjutsunya, tetapi melihat kepercayaan diri Danzo yang berani menantang 4 desa besar melalui surat, Naruto harus mengubah pandangannya dan berusaha mempelajari Ninjutsu, walaupun hanya satu jutsu. Rasengan dan Chidori merupakan dua jutsu yang dipelajari sang Uzukage untuk menghadapi lawan-lawannya di arc ini.

Mekanisme Mira no Kami dan Koto Amatsukami sudah dijelaskan di chapter ini. Beberapa adegan di chapter ini juga dibantu Icha *trims Icha* dan saya sangat suka dengan chapter ini karena mengingatkan saya sosok Naruto di Canon yang belajar Rasengan. Oh ya, soal status Kushina, Koharu, Homura dan Minato juga sudah jelas kan?

Kekuatan Danzo: Tangan kanannya yang dicurigai memiliki banyak Sharingan, sel-sel Hashirama, mata kanannya yang diperban (Sharingan kah?), 5 pil dari Orochimaru yang membuatnya dapat menggunaka Mokuton, Mira no Kami dan Koto Amatsukami sehingga semua rakyat Konoha memihak kepadanya, Kyuubi, Orochimaru serta The Strongest Anbu Ne-nya: Midoru Shizukesa.

Kekuatan Naruto: MasterFuinjutsu, 10 Sumi-Kyo dengan 2 kekuatan Sumi-Kyo yang belum didefinisikan, Rasengan dan Chidori in Progress, serta kekuatan 4 desa besar.

Siapa yang menang?

Q: 2 Sumi-Kyo terakhir mahluk mitologi?

A: Wohoo, belum bisa jawab iya atau tidak gan. Ditunggu next chap lah.

Q: Dibeberkan chapter sebelumnya Naruto menggunakan pedang kegelapan, apa itu senjata rahasia Naruto/Yondaime Uzukage?

A: Wah wah wah, pengamatan anda hebat gan! Anda sedikit dapat memprediksi jalan pikiran saya, tenang saja…Naruto akan membeberkannya secara dramatis di arc ini "HUAHAHAHAHA"*tawa ala Utakata*

Q: Jawaban untuk Brother Mangetsu Ringu

A: Status Kushina dan Minato sudah diketahui kan untuk chap ini gan? Kushina dikurung dan Minato dikatakan tewas oleh Shizukesa. Untuk Mbah Madara, saya belum bisa jawab. Hohoho, ane sudah berusaha pikir ide anda matang-matang, dan semoga twist-nya bisa memuaskan anda gan. Thanks.

Q: Bagaimana jika semua kekuatan Sumi-Kyo digabung, apa setara Juubi?

A: Saya belum memikirkan hal itu sih gan, tetapi Sumi-Kyo berbeda dengan Bijuu. Jika Bijuu adalah kumpulan chakra besar yang berbentuk hewan berekor atau monster berekor dan memberikan chakra besar kepada Jinchuurikinya, maka Sumi-Kyo adalah 10 hewan yang ter-Fuin dalam tubuh penggunanya dan dibuka Fuin tersebut melalui proses timbal-balik chakra, di mana pengguna memberika chakra kepada Sumi-Kyo yang digunakannya dan Sumi-Kyo memberikan kekuatannya kepada pengguna.

Singkatnya: Bijuu=menambah chakra Jinchuuriki serta kekuatannya, contoh Naruto di Anime memiliki chakra yang besar. Sumi-Kyo=mengurangi chakra pengguna namun memberikan kekuatannya kepada pengguna sebagai proses timbal-balik.

Q: Mengapa arc Iwa-Suna tidak memunculkan Jinchuuriki ekor 1?

A: Hanya saya beri sekilas saja gan, ketika Rasa dan Sandaime Kazekage berbicara di atap rumah sakit, saya lupa chapter berapa di arc Iwa-Suna, saat itu masih si Bunkupu Jinchuurikinya dan Kazekage ingin anak ketiga Rasa menjadi Jinchuuriki.

Q: Koto Amatsukami ada interval waktu penggunannya?

A: Ada gan, tergantung chakra penggunanya. Tetapi setelah mata Shisui dimasukkan ke Mira no Kami, maka akan terjadi efek penggunaan chakra skala besar plus waktu yang tak bisa ditentukan.

Q: Ada pertarungan Naruto Vs Kushina?Apa hanya 4 ninja Konoha yang lolos?

A: Itu ditunggu gan. Soal yang lolos, yap…sejauh ini hanya 4 ninja saja gan.

Q: Naruto punya Kuchiyose? Sehari bisa dapat berapa Words?

A: Naruto tidak mempunyai Kuchiyose gan, sang Uzukage hanya punya kekuatan Sumi-Kyo di tubuhnya. Untuk pertanyaan personalnya, ya jika ane ada waktu luang dan mengetik fic ini, sehari bisa dapat 2 sampai 3k words lah, tetapi tentu saja ada beberapa Typo.

Q: Klan Uchiha dibantai seperti Canon? Ke mana chara Konoha yang lain?

A: Yap, sudah jelas kan status klan Uchiha, soal cahara Konoha yang lain juga.

Q: Dari mana Midoru Shizukesa? Kenapa bisa sangat kuat?

A: Hehe*smirk* sebenarnya ane sudah lama menunggu pertanyaan seperti ini. Shizukesa di chapter ini sudah diketahui sedikit informasi tentangnya, pertama dia adalah Anbu Ne terkuat Konoha, kedua dia menamakan klan-nya sebagai klan Supervisor atau klan pengawas. Tetapi jangan terlalu dipusingkan gan, untuk Shizukesa dalam bagiannya di TU akan diungkap di fic ini juga.

Q: Mekanisme Koto Amatsukami dan chakra Danzo? Apa Sumi-Kyo dapat keluar dari tubuh pengguna? Rookie 12 ke mana?

A: Mekanisme, alasan dan lainnya soal Koto Amatsukami skala besar By Danzo sudah dibeberkan di awal chap ini gan, soal Sumi-Kyo untuk sekarang hanya bisa membuat penggunanya memiliki kekuatan saat digunakan, tetapi hewan-hewan itu tidak dapat keluar. Rookie 12 masih bayi gan, jadi tidak terlalu penting perannya di arc ini.

Terima kasih atas semua Reviewnya, mau itu semangat, pertanyaan dan kritikannya, saya senang menanggapi tanggapan kalian semua dan membuat saya lebih semangat menyelesaikan fic ini.

Please review for this chap, and see you in Chap 51

Tertanda. Doni Ren