FINAL FANTASY VERSUS
055
LUNAFREYA
07.09.756 M.E. | 00.22 PM
"Oh, ya, aku hampir saja lupa, sihir keren apa yang tadi kamu pakai, Nona Lunafreya?"
"Sebuah sihir bernama Holy," Lunafreya menjelaskan kepada Prompto dalam suara senyap, keheningan menakutkan dari terowongan membuat dia berhati-hati untuk tidak berbicara lebih keras dari sebuah bisikan. "Tembakan sihir Holy. Jauh sebelumnya aku belum pernah menggunakannya jadi aku tidak mampu memanfaatkan kemampuan mantra itu secara penuh."
"Tapi kau pernah menggunakannya sebelumnya," kata Noctis dari kirinya, matanya fokus kepadanya.
Lunafreya kesulitan untuk melontarkan balasannya. "Hanya ketika aku berlatih."
Semoga saja, Noctis akan menyudahi topik ini. Dia melakukannya, tetapi, ada keengganan dalam matanya ketika melakukan itu. Mereka maju terus, mengikuti belokan demi belokan terowongan sampai tiba di dalam ruangan yang tampak seperti fasilitas bawah tanah. Ignis berkata bahwa itu ruang perlindungan. Membuka jalan keluar, Cor menuntun mereka melalui ruangan terbuka yang besar, yang dipenuhi peti-peti kayu. Untuk hidup di dalam kegelapan seperti ini…
Jeritan dari atas mengejutkan mereka. Lunafreya menangkap penampakan dari atas, matanya melihat banyak sekali kaki-kaki daemon yang turun ke atas mereka. Noctis menjatuhkan tubuh kepadanya, menarik Lunafreya dari titik landasan Arachne. Tatapan daemon laba-laba itu yang penuh amarah terpaku kepada mereka.
Mereka yang hidup tanpa cahaya pada akhirnya akan menemukan dirinya ditelan oleh kegelapan.
"Tidak ada kata mundur!" teriak Gladiolus, sudah menarik greatsword-nya untuk disabetkan ke kaki daemon itu. Lunafreya menutup matanya ketika dia mendengar pukulan ke atas daging segar. Arachne itu berteriak.
"Menunduk, Luna," Noctis segera memeringatkan dia, merangkak sejenak dan segera berdiri untuk melawan musuh.
Berada di ruangan yang sempit dan tertutup membuat mereka sulit untuk kabur dari pertarungan. Sebaliknya, Lunafreya hanya bisa menonton ketika Arachne kewalahan oleh jumlah mereka yang banyak. Kegelapan menyulitkan Ignis untuk melempar pisaunya dan Noctis untuk berteleportasi terlalu jauh dari pertempuran. Kalau kegelapan menghalau mereka bertempur dengan kapasitas penuh, maka itulah tugas baginya untuk memanggil cahaya.
Dia memanggil trisulanya menggunakan sihir untuk menyinari kegelapan. Cahaya keemasan itu membuat daemon marah. Daemon itu berteriak, kepalanya menggeliat, rambut silver yang panjang berayun dengan setiap pergerakan. Arachne mencapai Lunafreya, kukunya yang tajam siap untuk mencakar sang Oracle.
"Jangan sentuh dia!" Lebih cepat dari daemon, Noctis melakukan warp-strike pada daemon itu, memanggil pedangnya, mengayunkannya ke bawah secara vertikal, dan memotong kaki daemon dari tubuhnya. Menghindar di udara, dia menghilang sekali lagi dan muncul kembali di atas Arachne dengan Ignis melompat di atasnya untuk bergabung dengannya, kedua pisaunya teracung.
Sebelum mereka bisa mengenai lawannya, Arachne itu pergi, berlari dengan cepat memanjat ke dinding, mengitari mereka dengan kecepatan yang memukau, membuat Lunafreya sulit untuk melacak pergerakan daemon itu. Lalu dia melihat kertakan energi violet dari tubuh Arachne.
"Semuanya! Berkumpul di sekitarku! Cepat!" dia berteriak, memanggil sihirnya tepat ketika gelombang kejut berupa cahaya keunguan yang dahsyat meledak di dalam ruangan. Peti-peti kayu di sekitar mereka hancur berkeping-keping, puing-puing kayu melayang dengan kecepatan sebuah peluru. Untunglah Gladiolus dan Noctis sempat membentuk lingkaran pelindung dengan pedang mereka, membelokkan sebagian besar peluru-peluru tajam itu.
Energi violet terus memorak-porandakan ruangan kecil itu, tapi tidak mampu menyentuh mereka berenam karena semuanya berkumpul di balik pelindung kebiruan yang diciptakan Lunafreya. Ketika serangan petir terakhir padam, mereka mulai menyerang sekali lagi, Noctis dan Cor memimpin serangan.
"Incar kaki dia! Lumpuhkan dia!" Ignis memerintah, masih menggenggam pisaunya. Dia memutar belatinya di tangan dengan lihai, memotong kaki lainnya dari Arachne.
Tetap saja daemon itu masih terlalu cepat. Arachne merayap di langit-langit, lalu meluncurkan serangan petir lainnya. Tetapi Lunafreya lebih cepat. Dia mengangkat trisulanya, meledakkan daemon dengan Holy. Serangan itu jauh lebih lemah daripada sihir yang dia panggil sebelumnya. Tetapi itu cukup untuk melukai mata Arachne hingga menjatuhkan daemon itu dari tenggerannya di langit-langit hingga terjembab ke lantai di bawah. Langit-langit bergetar ketika Noctis dan lainnya mengerumuni monster itu.
Jeritan sekarat Arachne mengejutkan Lunafreya ketika Noctis menusukkan Lance of the Wise ke jantung daemon itu. Dengan trisula di tangan, Lunafreya mendekati daemon yang sekarat itu, mata birunya bertemu dengan mata merah Arachne. Kamu dulunya manusia, bukan begitu? Setelah menghilangkan trisulanya, dia menangkupkan kedua tangannya untuk berdoa. Kumohon beristirahatlah sekarang. Arachne itu membuka mulutnya seolah dia ingin berbicara, namun dia tidak bergerak lagi, cahaya sirna dari kedua matanya.
"Kita berhasil!" Prompto berteriak sambil bersandar ke dinding di samping. "Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi pokoknya kita menang!"
"Mengagumkan," Cor mengakui. "Terutama kamu, Nona Lunafreya. Kemampuanmu sebagai Oracle bisa menandingi para anggota Kerajaan."
Lunafreya menggelengkan kepalanya. "Sihir yang bisa kupakai hanya sedikit. Dan tujuan sihir itu untuk mendukung dan melindungi."
"Tetap saja, melindungi kami dari serangan sihir tadi sungguh mengagumkan," Ignis memuji dia dengan sebuah senyuman.
"Aku lebih penasaran pada trisula itu. Apa kamu tahu cara menggunakannya?"
Lunafreya menggeleng sebagai jawab atas pertanyaan Gladiolus. "Ini adalah warisan keluarga yang diturunkan di dalam Kerajaan Nox Fleuret. Para Oracle di masa lalu telah menggunakannya. Walaupun bukan untuk kepentingan pertarungan."
"Hmph, mungkin setelah kita selesai di sini, aku bisa mengajarkanmu dasar-dasar bertarung."
"Yeah, tidak," Noctis menolak tawaran temannya. "Aku nyaris mati gara-gara berlatih denganmu. Ignis lebih cocok untuk melatih Luna daripada kamu."
"Ignis juga bisa menggunakan tombak, yang sangat dekat dengan trisula, kurasa," Prompto menepuk bahu Gladiolus. "Menyerahlah, pria besar. Hari-harimu sebagai instruktur sudah selesai."
"Ayo kita lanjutkan perjalanan ini," kata Cor, membersihkan jaketnya dari debu. "Seharusnya kita sudah tidak terlalu jauh lagi sekarang."
Aku benar-benar harus membangun stamina dan daya tahanku, pikir Lunafreya ketika mereka lanjut berjalan lebih dalam di terowongan, menyelip dan merangkak melalui celah-celah terbuka. Tidak sulit bagi sang Oracle untuk masuk ke celah kecil karena memiliki postur yang langsing. Mereka mengalami kesulitan dengan Gladiolus, yang pada satu titik harus ditarik melalui sebuah celah.
Ketika mereka sampai di Royal Tomb di titik terdalam dalam terowongan itu, semuanya diselimuti oleh debu dan kotoran.
"Kita sudah sampai," kata Noctis sambil memasukkan kunci ke dalam lubang kunci. Ketika terdengar suara klik, pintu batu itu terbuka, menampakkan sebuah ruangan di dalam. Satu-satunya yang berbeda dari Royal Tomb sebelumnya adalah senjata yang digenggam oleh patung di altar di pusat ruangan. Kali ini senjata itu adalah sebuah kapak, bukan tombak.
Tomb of the Conqueror. Dengan cahaya remang-remang dari senter para lelaki, dia harus menyipitkan mata untuk membaca inskripsi di altar. Seorang Raja membuat persenjataan perang yang hebat, memperluas wilayah kekuasaannya, dan menyejahterakan rakyatnya. Ini adalah kapak beliau. Dia mampu menghancurkan dengan tebasan lambat namun kuat sekali. Axe of the Conqueror.
Dan sama seperti Lance of the Wise, kapak itu melayang di udara, berkilauan dengan penampakan bagaikan kristal. Senjata itu mengambang di udara atas mereka untuk sesaat, lalu melesat kencang menuju Noctis. Lunafreya menyaksikan ketika senjata itu menusuk tepat ke dada Noctis, terurai menjadi pecahan-pecahan cahaya kebiruan, nyaris membuat keseimbangan sang Pangeran lengah. Gerutu dari Noctis mengindikasikan bahwa sang Pangeran menahan rasa sakit dari tusukan magis Royal Arm itu.
"Dengan jumlah Royal Arm yang cukup, kamu bisa melakukan kemampuan Armiger seperti yang pernah ayahmu lakukan di dalam pertempuran," Cor berkata, "kamu sudah pernah melihat tingkat kerusakan yang mampu dilakukan Armiger jika kamu menggunakannya dengan benar, Yang Mulia."
Armiger, kemampuan untuk memanggil semua Royal Arm. Lunafreya pernah melihat Raja Regis menggunakannya dua kali. Pertama adalah saat beliau bertarung dengan Jenderal Glauca di Tenebrae dua belas tahun yang lalu. Kedua adalah ketika beliau membantu Nyx mengalahkan gerombolan Glaive pengkhianat di Insomnia beberapa hari silam. Kalau Noctis menggunakannya, dia bisa meruntuhkan seluruh batalion MT semudah menjetikkan jari.
"Kurasa urusan kita sudah selesai di sini," sang Pangeran, yang kini adalah seorang Raja yang tidak sah, mengumumkan. Dia berpaling untuk pergi.
"Noctis," panggil Lunafreya. Noctis sekejap berhenti melangkah. Lunafreya merasakan jantungnya berdegup kencang. "Bisakah aku berbicara denganmu?"
"Tentu."
Lunafreya ragu-ragu, mengamati orang-orang lainnya. Walaupun mereka berhak untuk tahu mengenai cincin itu, dia ingin menyerahkan kepada Noctis jauh dari mata-mata yang mengintai. Tidak lama bagi Ignis untuk membaca gerak-gerik tubuhnya, menggiring Prompto dan Gladiolus keluar Royal Tomb dengan Cor mengekori tanpa berkata apa-apa lagi. Ketika tertinggal mereka berdua di sana, dia tidak dapat mencari kata untuk berbicara, keberaniannya hilang bersama dengan sisa teman-teman sang Pangeran.
"Ada apa?" Menyadari kurangnya kepercayaan diri sang Oracle, Noctis berjalan selangkah ke dekatnya. "Luna?"
Sudah saatnya ini dipindahtangankan.
Dia merogoh kantung celananya dan mengeluarkan cincin itu, berhati-hati menjepitnya di antara jempol dan telunjuknya. Ring of Lucii berkilau terkena cahaya senter Noctis ketika dia menyerahkannya kepada sang Pangeran. Jemarinya bergetar. "Permohonan terakhir Raja Regis adalah untuk menyerahkan Ring of Lucii kepadamu," kata Lunafreya dengan tenang, merasakan jarak di antara mereka melebar ketika mata Noctis terpaku ke warisan itu─benda yang ditakdirkan menjadi miliknya sejak dia kecil.
Begitu Noctis menerima Ring of Lucii, itu menandakan dia juga menerima posisinya sebagai Raja Sejati yang ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Aku yakin ibumu juga akan menginginkan hal yang sama. Menginginkan kamu dan Noctis hidup bahagia. Sekian tahun kau terkekang karena aku lemah. Sudah cukup. Pintu takdirmu tak akan lagi terkunci rapat. Lunafreya berkedip, mencoba untuk menahan tangisannya yang mulai menyeruak. Dia ingin memercayai kata-kata Raja Regis, tapi sulit sekali jikalau masa depan yang tidak pasti menunggu di depan mereka. Lalu walaupun dia tidak melihatnya langsung, dia bisa membayangkan kematian figur terdekat dari seorang pria yang paling mendekati sosok ayahnya, yang telah meninggalkannya semenjak kecil.
Pemikiran bahwa Noctis mengambil cincin itu, mengenakannya seperti Raja Regis, dan menggunakan kekuatan Lucii yang terlarang untuk mengambil kembali takhta Insomnia membuatnya takut. Harga untuk memperoleh kekuatan yang dahsyat…Sebulir air mata jatuh dari bulu matanya.
"Aku…" Suara Lunafreya bergetar. "Maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku hanya…"
Aku tidak ingin kamu mengorbankan segalanya demi kepentingan takdir, batinnya sambil menggigit bibirmya, mencoba untuk menstabilkan emosinya. Tetapi takdir itu kejam. Apalah harga diri mereka tanpa keberadaan takdir? Noctis mengangkat tangan kanannya, tangan yang tak dibungkus sarung tangan, untuk menyentuh cincin itu. Dia tidak mengambilnya, tapi melipat jemari Lunafreya untuk menyembunyikan cincin itu dari pandangannya.
"Simpan benda itu untukku," katanya, mendekati dia dan menepis sebulir air mata dari sudut mata Lunafreya dengan tangan kirinya.
"Noctis, apa yang kau─" Ekspresi lelaki itu menghentikan protesnya. Dia memiringkan kepalanya untuk menangkap tatapannya. Dia hanya bisa menanyakan satu kata, suaranya nyaris tak terdengar karena penuh oleh emosi. "Kenapa?"
Noctis melirik ke arah pintu yang terbuka, sejenak menonton Prompto bergurau hanya untuk terpeleset dan jatuh cukup keras di tulang ekornya. Tidak ada simpati dari rekan-rekannya, terutama Cor. Sang Marshal menggelengkan kepalanya ketika Prompto berguling-guling kesakitan sebelum memeriksa jalan terbuka lainnya yang menuju lebih dalam ke isi perut bumi. Noctis mengembalikan pandangannya kepada Lunafreya.
"Aku punya perasaan kalau aku menerima cincin ini darimu," Noctis bicara dengan gagap, matanya cerah tak natural, "kau akan menghilang."
Apakah tangan Noctis yang bergetar atau tangannya? Dia tidak bisa mengetahuinya. Menghapus tangisannya di saat bibirnya bergetar, Lunafreya menghirup napas yang berat. "Aku juga takut, Noctis," dia mengakui, kali ini mengambil langkah mendekati lelaki itu sampai tak ada jarak yang tersisa yang memisahkan mereka. "Tapi inilah takdir kita sebagai Oracle dan Raja Sejati. Apa kau ingat janjimu kepadamu beberapa tahun lalu?"
Tangan kiri Noctis merangkul dia, menahan tangan mereka yang bertautan. Cincin itu terjepit di antara tubuh mereka. Jantungnya yang tadi berdegup kencang sudah melambat, ditenangkan oleh keberadaan dan aroma familiar Noctis. Noctis menyandarkan dagunya di pundak Lunafreya, dan ketika dia berbicara, suaranya terdengar langsung di telinga Lunafreya.
"Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu dan kau berjanji untuk membantuku memenuhi takdirku," katanya, memeluk Lunafreya lebih erat kepadanya. Lunafreya memasrahkan diri, mengikuti lengkungan badan Noctis. Dia melilitkan tangannya yang bebas di sekitar tubuh Noctis dan meletakkan tangannya di punggung lelaki itu yang lebar.
"Kalau begitu kenapa kau memintaku untuk mengamankan cincin ini?"
"Aku tidak tahu apa yang kulakukan atau ke mana aku akan pergi lagi. Aku bukan Raja yang cukup layak untuk mengenakan cincin itu." Lunafreya ingin berkomentar bahwa tidak semua Raja dimulai dengan layak. Kelayakan dibangun melalui tindakan dan tindakan itu menghasilkan pencapaian. Tetapi Noctis terus berbicara dengan suara yang berat. "Sampai aku layak dipanggil sebagai seorang Raja, simpanlah cincin itu untukku. Dan ketika kamu merasa aku sudah siap, serahkan cincin itu lagi kepadaku dan aku akan mengenakannya."
"Noctis…"
"Berdirilah di sampingku, Luna."
Argumen apapun yang Lunafreya miliki untuk membalas Noctis terurai dengan kalimat terakhir itu. Dilanda emosi yang berkecamuk, Lunafreya tidak dapat berkata apa-apa. Dia mengangguk, memeluk Noctis dengan erat. Dan untuk waktu yang lama, mereka berdua berdiri bersama. Cincin itu menghubungkan mereka, begitu pula dengan perasaan mereka. Dia merasa nyaman berada dalam pelukan itu, namun siulan dari kejauhan mengganggu momen hangat dan intim mereka.
"Yohoo! Sebaiknya kita terus bergerak, Lovebirds!" panggil Prompto, menyadarkan mereka kembali ke kenyataan.
"Kalau kita biarkan lebih lama lagi, kalian berdua akan mulai dihujat," Ignis berkata, ikut menggodai mereka.
"Tinggalkan saja mereka berdua. Sepertinya mereka lupa kalau tempat terbesar berikutnya yang kita kunjungi adalah makam leluhur Noctis, bukannya Altissia," Gladiolus tertawa kecil. "Sepertinya mereka tidak sabar lagi untuk menikah."
Noctis menghela napas, melepaskan pelukan mereka, dan memberikan Lunafreya tatapan menyesal sebelum memasang wajah kesal kepada teman-temannya. "Kalian semua tidak diundang ke pernikahanku!" Dia berteriak balik, melepaskan Lunafreya untuk mengumpulkan pikiran dalam benaknya.
Menghapus tangisannya, Lunafreya menatap cincin dalam tangannya, memikirkan janjinya kepada Raja Regis. Tunggulah sebentar lagi, Raja Regis, batinnya, setelah Noctis siap, aku akan menyerahkan cincin ini kepadanya sekali lagi. Kumohon izinkan aku untuk berada di sisinya lebih lama lagi.
"Luna! Kita kembali ke perhentian!" Kembali ke dirinya yang normal, Noctis sudah menunggu di ambang pintu keluar untuknya.
"Aku datang!" Lunafreya memasukkan cincin itu ke dalam sakunya, lalu pergi untuk bergabung dengan yang lain.
Perjalanan pulang lebih sulit daripada pencarian untuk Royal Tomb karena mereka harus mencari jalan keluar dari terowongan yang berbelok-belok, mencoba untuk mengingat dari mana mereka masuk tadi. Untunglah kabel di lantai membantu mereka mencapai jalan keluar. Ketika mereka sudah di luar, mereka tampak seolah habis berguling di dalam kotoran. Noctis memutuskan bahwa mereka akan beristirahat di haven dekat perhentian. Dia bahkan meminta Cor untuk menghentikan rencana awalnya dan membantu mereka membuat tenda dengan yang lainnya.
Duduk di pojokan haven, Lunafreya mengambil waktu untuk mengagumi pemandangan. Walaupun alam luar tampak gersang, tetap saja terasa indah. Di bawahnya, tulisan kuno bersinar menangkal area haven dari para daemon ketika malam tiba. Setelah membantu Gladiolus dan yang lainnya untuk membangun tenda, tidak ada yang perlu dilakukan Lunafreya lagi selain duduk dan menikmati atmosfer dari hari yang indah.
Gladiolus, Noctis dan Prompto sudah pergi bersama Cor untuk bercakap dengan Monica. Mereka berjanji akan kembali membawakan tenda lainnya untuk digunakan Lunafreya. Alasannya karena tenda yang mereka siapkan untuk perjalanan hanya cukup digunakan empat orang. Ignis tinggal di sana, menyiapkan dapur portabel kecilnya untuk menyiapkan makan malam. Ketika dia mulai merasa nyaman, suara gonggongan menyita perhatiannya. Lalu tubuh besar yang diselimuti hitam dan putih mendekati sang Putri.
"Umbra! Pryna!" Lunafreya tertawa ketika anjingnya menghujani perhatian kepadanya. Umbra menjilat wajahnya setiap kali dia mendapat kesemaptan. Setelah mengelus-elus kepala mereka, dia tersenyum, lega mengetahui mereka berdua baik-baik saja. Dia telah mengirimkan mereka untuk tinggal bersama Gentiana selama dia berada dengan Noctis.
"Mereka pasti merindukan keberadaanmu," Ignis mengamati dari balik meja tempat dia menyiapkan sayur-mayur untuk makan malam hari ini.
"Aku akan mengajak mereka jalan-jalan sebentar," kata Lunafreya sambil berdiri.
"Berhati-hatilah, Putri. Malam akan segera tiba."
Lunafreya memberikan isyarat bagi kedua pengikut setianya untuk mengikuti dia menjauhi haven. Mereka bertiga berjalan sebentar mengikuti jalan yang mengarah ke perhentian. Ketika mereka sudah cukup jauh, Lunafreya berlutut untuk mengambil buku agenda yang diikatkan di tubuh Umbra. Dia sudah berencana untuk membacanya ketika dia menerimanya, namun kehadiran Noctis di hadapannya mencegahnya melakukan itu.
Dengan halus, Lunafreya membuka buku agenda tua itu, membulak-balik kertas sampai tiba di halaman berisi respon terbaru. Ada balasan dari Noctis dengan tulisan berantakan untuknya.
Dear Luna,
Aku baik-baik saja karena aku pergi bersama Ignis, Gladiolus dan Prompto. Tunggulah aku sebentar lagi. Tak sabar lagi bagiku untuk menemuimu setelah dua belas tahun lamanya. Aku mencintaimu dan akan selalu begitu selamanya.
Salam hangat,
Noctis
Di halaman itu ada stiker sebuah game yang dia dengar bernama Justice Monsters Five dan sebuah foto. Dia membalikkan foto itu untuk melihatnya. Itu adalah foto Noctis dan teman-temannya yang sedang berpose di sekitar Regalia. Ada satu kalimat di foto itu. Kami harus mendorongnya berkilometer jauhnya. Panas sekali…
Dia hanya bisa membayangkan seberapa panasnya waktu itu, terutama dengan pakaian mereka yang serba hitam. Untuk sesaat, Lunafreya memandang kalimat-kalimat itu dengan kosong. Keberadaan Noctis di sampingnya telah memberikan dia kenyamanan, berbeda ketika mereka hanya bisa berkomunikasi melalui buku itu. Lalu ingatannya tenggelam ke satu siang saat dia baru tiba di Insomnia dan menghadap Raja Regis di takhtanya.
Waktu itu Lunafreya merasa tidak nyaman jika perbincangan rahasia mereka didengar juga oleh Nyx belum akrab dikenalinya. Dengan permohonan kecil darinya, dia dan Raja Regis meninggalkan ruang takhta bersama menuju kamar tidur Noctis. Sesampainya di ruangan itu, Raja menggiring dia ke atas ranjang Noctis untuk duduk santai di sana.
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku, Luna?" tanya Raja, menutup pintu kamar dengan erat, lalu berjalan ke ranjang dan duduk di sebelah dia.
Menggigit bibir bawahnya, Lunafreya mengumpulkan segenap keberaniannya untuk melontarkan kalimat yang terperangkap di tenggorokannya sejak dia menerima surat dari Raja yang mengabarkan pernikahan dadakan dirinya dengan Noctis. Dia menangkupkan kedua tangannya dan meletakkannya di atas paha, jemarinya bergetar.
"Ini…mengenai perasaanku kepada Noctis, Raja Regis. Aku tahu di luar syarat perdamaian dari Niflheim, Yang Mulia juga menginginkan kami bersatu dengan melakukan pernikahan di Altissia. Aku…Aku harus jujur bahwa berita ini membuatku dilema dan aku takut tidak ada cara yang baik untuk mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya kepada Yang Mulia."
Tanpa menoleh, Lunafreya bisa melihat sang Raja sedang menatapnya dalam-dalam. Terlalu takut untuk bertemu mata dengan Raja, dia hanya bisa membuang pandangannya ke lantai kamar yang dilapisi karpet beludru seolah ada benda berharga yang terjatuh di sana. Sentuhan tangan Raja yang dingin membuatnya terkejut hingga bahunya terangkat. Kini memberanikan diri menatap Raja, dia terkesiap menemukan Raja memandangnya sambil tersenyum tulus seolah mengerti maksud dari perkataannya barusan.
"Aku mengerti persoalanmu, Luna. Sebelum aku menuliskan surat itu untukmu, aku telah memikirkan kemungkinan di mana kamu tidak mencintai putraku. Tidak perlu takut. Akulah yang seharusnya meminta maaf karena telah memaksakan perasaanmu untuk mencintai Noctis dengan menikahi kalian berdua dalam waktu yang pendek ini."
Dahi Lunafreya berkedut. Dia dapat melihat kesedihan terpancar dari mata hijau Raja yang lelah. Jadi Raja telah mengetahui perasaannya yang sesungguhnya tanpa perlu diberitahu, dan kenyataan itu membuatnya semakin menyesal. "Maafkan aku. Selama dua belas tahun ini aku telah mencoba semampuku untuk mencintai Noctis, tapi sulit sekali jika kami tidak dapat berkumpul bersama. Aku tahu persyaratan ini terdengar egois. Bahkan malu bagiku untuk mengakui bahwa aku telah gagal memenuhi tugas yang telah ditakdirkan untukku untuk bersatu dengan Noctis sebagai Oracle yang harus memandunya menjadi Raja Sejati. Bisakah Yang Mulia menangguhkan pernikahan ini sampai aku siap untuk mencintainya?"
Raja Regis memidahkan tangannya ke pundak Lunafreya, lalu menepuknya dengan lembut. "Pernikahan ini sengaja kulakukan di luar Insomnia semata-mata demi keselamatan kalian. Aku akan melakukan segala cara untuk mengeluarkan kamu keluar kota dan memastikan bahwa kamu bisa menemui Noctis di luar sana nanti. Jika kamu tidak siap menikah, maka kamu bisa mengatakannya langsung kepada putraku. Namun, bolehkah aku memberimu satu nasehat kecil?"
Lunafreya tidak tahu harus melakukan apa selain mengangguk lemas.
"Izinkan aku bercerita pendek tentang kisah cintaku bersama istriku, Aulea," Raja Regis berdehem sekali, lalu menghirup napas panjang sebelum bercerita. "Kondisi kami dulu bisa disamakan denganmu dan Noctis. Pertama kali aku bertemu Aulea ketika aku berusia tujuh tahun, di sebuah konferensi pers yang diadakan di dalam Citadel sini. Di usiaku yang masih kecil, aku tidak tahu apa-apa mengenai cinta sejati, namun aku bisa merasakan bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Aulea. Dia begitu cantik sebagai seorang perempuan muda, bahkan lebih cantik dari ibu kandungku. Berbeda dariku, Aulea tidak membalas cintaku; dia tak menyimpan perasaan yang sama denganku dan menganggapku sebagai seorang teman biasa, bahkan seorang bocah nakal yang berasal dari keluarga kaya raya. Tetapi kami terus menjalin hubungan dengan bertemu rutin setiap hari dan lama-kelamaan kulihat tawa Aulea semakin melebar dan dia semakin bersemangat untuk bertatap wajah denganku. Setelah menjalin hubungan intens selama tiga tahun, pada suatu hari, dengan takut-takut, aku bertanya kepada Aulea apakah dia mencintaiku. Dan dia menjawab dengan jujur bahwa pada awalnya dia tak merasakan romansa tumbuh di antara kami berdua. Tapi melihatku yang terus berupaya memikatnya, dia memutuskan untuk belajar mencintaiku setiap kali kami bertemu langsung. Dan terima kasih kepada para dewa, hasil pelajaran itu berakhir bahagia dan kami pun menjadi sepasang kekasih yang mencintai satu sama lain."
Berhenti berbicara, sang Raja tersenyum kepada Lunafreya, kembali ke realita. Sejenak ada kepedihan di balik nostalgia panjang itu. Lunafreya hanya bisa menebak sang Raja teringat akan kematian istrinya yang tragis di tangan daemon. Sentuhan dingin dari jemari Raja mengejutkannya sekali lagi, dan kini Raja membungkus kedua tangannya, mengisyaratkan bahwa dia sedang memohon dengan bersungguh-sungguh.
"Karena itu, aku pun percaya bahwa waktu akan menjawab keresahanmu, sama seperti Aulea. Setelah perjanjian ini selesai, kumohon pergilah dan temuilah Noctis. Habiskanlah waktu yang lama bersama putraku, jadi kamu bisa memanfaatkan waktu itu untuk memastikan perasaanmu yang sesungguhnya. Bisakah kamu melakukan itu untukku dan Noctis? Jika pada akhirnya kau benar-benar tidak mencintai Noctis, kau boleh membatalkan pernikahan ini."
Permohonan ini tidaklah terlalu sulit untuk dilakukan jika dibandingkan dengan kewajibannya untuk menikahi lelaki yang belum yakin dia cintai segenap hati. Dia membutuhkan lebih banyak waktu dan Raja telah memberinya kesempatan itu. Dengan satu anggukan dan senyum simpul, dia menyanggupi permohonan sang Raja.
Menutup buku agenda, perhatian Lunafreya kembali ke masa kini. Dia meletakkan buku itu erat di dadanya, mensyukuri halaman-halaman yang telah menunjukkan dunia luar kepadanya.
Suara langkah kaki di permukaan yang halus menyita perhatiannya. Mengangkat kepalanya, Lunafreya melihat penampakan seorang wanita cantik dengan rambut hitam yang panjang. Mata hijau wanita itu terpaku kepada sang Oracle dengan tatapan penuh kasih sayang. Nyaris seperti seorang ibu yang menatap anak yang dikasihinya. Dalam balutan kimono hitam dengan pola garis-garis emas, wanita itu tersenyum kepada Lunafreya.
"Nona Lunafreya," sapanya.
"Gentiana." Mengingat tujuannya, Lunafreya memegang buku agenda di satu tangan ketika dia merogoh sakunya untuk mengambil cincin itu dan menunjukkannya kepada sang Messenger.
Gentiana tersenyum simpul, tak berkata apa-apa. Tatapannya yang tidak pernah kehilangan senyuman tulus adalah dorongan yang dibutuhkan dia. Lunafreya tidak menjauh dari jalannya sebagai Oracle dengan menjaga cincin itu. Dengan penuh rahmat, Gentiana berpindah untuk berdiri di samping Lunafreya, sekali lagi berbicara. Kata-katanya tidak diucapkan dalam bahasa manusia, tetapi dalam bahasa yang hanya dimengerti Lunafreya dan Noctis. Dan kalimat yang dia ucapkan mengundang senyuman dari sang Putri.
"Raja yang dipilih oleh Kristal Agung bertambah kuat dengan Oracle di sisinya."
"Ya," gumam Lunafreya, menatap pada kedua tangannya di bawah. Di satu tangan dia menggenggam Ring of Lucii, dan di satunya lagi buku agenda yang dia bagi bersama Noctis. "Aku akan tinggal di sisinya selama yang aku mampu. Dan selama itu aku akan belajar untuk mencintainya dengan tulus."
Itu adalah janjinya kepada Raja Regis. Bukan sebagai Oracle, tetapi sebagai Lunafreya.
Author's Notes:
Pertama, saya minta maaf karena sudah hiatus selama seminggu. Setelah setiap hari merilis chapter baru, tidak aneh kalau saya akhirnya terkena writer's block. Saya kesulitan mencari motivasi untuk menulis, apalagi hype FF XV sekarang sudah meredup signifikan, sampai saya hampir tidak lagi merasakan serunya menulis fanfic di komunitas sini. Chapter ini menjawab pembicaraan kecil Luna dan Regis yang sempat tertinggal 19 chapter panjangnya. Sepertinya Nyx tinggal 1 hari in-universe lagi akan bangun. Itu berarti 2-3 chapter lagi. Jadi harap bersabar untuk kalian yang sudah rindu sama Nyx ya.
Terima kasih untuk review dari Jacob, danny, Latifun, Murasaki, dan Ageha.
Saya rasa semua pertanyaan kalian sudah dijawab pendek di atas, jadi tidak perlu saya balas satu per satu ya?
Saya tunggu review kalian untuk chapter ini. Sampai jumpa lagi di chapter berikutnya.
