Awwww! Apapun itu aku kembali lagi dengan ficku yang penuh absued ini dan juga penuh kegajean ini yah, salam kenal bagi kalian semua yang aku kenal dan kusayang yah halo saja dah gak usah banyak cingcong selain itu aku baru sadar yah atau istilahnya dah telat rupanya pengarang H.O.T.D (Highschool of the dead) telah pergi untuk selama-lamanya alasan matinya aku kurang tau jelas tapi, yang jadi ganjalanku saat ini siapakah yang akan meneruskan manganya? Apakah break di tengah jalan sama kayak Manga Doraemon? Atau ada yang meneruskan yah Asistennya gtu dan juga yang aku baca awal-awal manga itu kayak tema Survival Horror yah tema Zombie gtu kayak sebuah Game L4D Left4Dead yah temanya hampir sama bertahan hidup dari para Zombie yah, moga yang manganya masih lama tamatnya semoga di beri kesehatan dan umur panjang contoh One piece kan bisa bermasalah jika, belum tamat tapi, Sang Pembuat pupus yah ini benar-benar Bad ending yah syukur ada yang nerusin daripada benar-benar Break dan gak di trusin? Yah berharap saja ada yang meneruskan.

P.S : aku berharap Arc ini cepat selesai yah (padahal aku yang buat sendiri -_-) dan pindah satu Arc lagi yang berarti setelah ini berarti Arc terakhir yah masalah perang pastinya ada dan juga banyak sesuatu yang akan terbongkar disitu dan arc ini hanya pengantar dan akan masih terhubung dengan Arc selanjutnya rencana namatin ini fic sudah sebentar lagi tinggal Prosesnya yang masih kubuat matang walau agak pening mikirnya.

.

...

.

- Tempat Wendy

"Hei, hei, bukankah kau Gadis waktu itu?" Tanya Kageyama dia memasang senyum jahat "bagaimana serangan penutup itu? Apakah melukai tubuh kecilmu itu? Atau kau akan menangis seperti bayi?" untuk masalah memprovokasi seseorang dia Ahlinya walau Wendy tak tergerak atau terpancing sama sekali.

*Sshhhhh

"Orang ini terlalu banyak berbicara" Keluh Brandish menembakan busur Panah tapi, lelaki itu berhasil menangkisnya "aku, jadi sebal jika dia terus berbicara soal omong kosong itu"

"Hahahah! Kalian menarik! SHADOW MAZE!" Kageyama tertawa dia membuat kumpulan bayangan di belakangnya dan membentuk sebuah duri tajam dan menyerang mereka berdua "hahahaha rasakan! Ini bocah kecil!"

Wendy terbang ke sana kemari menghindarinya yah keahliannya bisa terbang adalah sesuatu yang di untungkan sementara Brandish memotongnya meski ada bagian tubuhnya terkena itu tak masalah selama ada Blut Veneu (Vena Blut) luka yang di terimanya mudah dan cepat di sembuhkan.

Kageyama membuat seisi kota menjadi gelap dan tentu saja dalam pandangan matanya ini sudah hal biasa dan jadi keahliannya dia menembakan bola-bola hitam ke arah targetnya.

"Gelap dan Hitam adalah karakteristiku" Kageyama menyeringai "hahaha! Mati kalian bocah-bocah sialan!" dia berteriak dan terus menembak tanpa henti.

"Oh,oh, orang bodoh itu lupa siapa kita lawan!" Komentar Brandish di sampingnya Wendy membuat pelindung mereka hanya menunggu serangan itu selesai.

Setelah di rasa cukup Kageyama menghentikan serangannya dia melihat kedua gadis kecil itu tak ada dia melirik ke kanan dan kiri tapi, dia tak sadar kedua gadis itu berdiribdi belakang mengayunkan pedang buatan mereka dan mengenai punggungnya.

*Slashhhh!

"Guh! Bocah keparat!" Umpat Kageyama merasakan nyeri di punggungnya dan langsung menjauh.

"Oh, kau memang ahli bergerak dalam gelap tapi, kau lupa kita ini juga Quincy" Ucap Brandish dengan nada ejekan "dalam gelap ini kita juga ahlinya karena, Quincy bergerak cepat dalam bayang" dia tau ini dari ibunya yang mengajarkannya.

Wendy dan Brandish meloncat ke udara mereka menembakan Busur panah dalam jumlah banyak dan bisa terlihat langit yang gelap menjadi indah karena, perpaduan Reisi dua gadis itu yang berbeda warna merah dan biru sementara Kageyama menggertakan Jarinya dia membuat seisi bagunan di sekitarnya menjadi bayangan jarum.

"SENKAGE ATAMA!" Kageyama langsung mengarahkannya ke objek sasaran dan menghancurkan serangan panah kedua gadis itu dan tentu saja tumpukan jarum itu masih banyak mengenai kedua Gadis itu

"Guh!"

"Ahhh!"

"GHEUKREZTE FHILE!" Brandish langsung bergerak lagi setelah terkena serangan tadi dia menyilangkan tangannya dan muncul Reisi besar di sekujur tubuh lalu mengayunkan tangan ke depan dan menembak pedang besar "terimalah ini!" dia berteriak dan Kageyama bersiap membuat tameng tapi, dia melihat bayangan di atasnya

"!"

Wendy terbang di langit dengan Aura Reiatsunya dia tampaknya membuat aksara di langit dan membentuk lambang lingkaran Quincy "LICHT SHAULE!" dia menghempaskan aksara itu dan meledak membentuk Pilar Api yang menjulang ke atas di saat yang sama Serangan Brandish tadi, menyerang lelaki itu dengan daya ledak yang besar.

*Jduarrrrr

"Berhasil," Ucap Brandish senang.

"Tidak, ini masih awal" Jawab Wendy dia sedikit mengetahui tehknik musuhnya karena, pernah berhadapan sekali "Brandish-san lihat sendiri" Wendy menunjuk bekas serangan tadi dan di dalam asap itu dan melihat bayangan seseorang yang berdiri.

"Apa!" Brandish berteriak shock melihat asap sudah menghilang "Ba-bagaimana bisa di-dia selamat da-dari serangan itu?" dia masih dalam shock ketika serangan tadi tak membuat luka serius di tubuh Kageyama.

"Bayangan dan Gelap" Balas Wendy dia tampaknya sudah menyadari kekuatan lawannya "dia membuat ruang gelap dan pekat seperti ini karena, dia adalah bayangan dan sumber kekuatannya adalah bayangan"

"Jadi, dia bisa beregenerasi dengan cepat tanpa luka karena, dia menghisap bayangan sebagai tenaganya?" Tanya Brandish sedikif mengerti pola rangka tehknik musuhnya.

"Benar intinya bayang gelap inilah yang membuatnya bisa menyembuhkan luka dengan cepat" Jawab Wendy mengangguk "kita harus cari cara agar bisa melukai orang ini tanpa bisa regenerasi"

"Yah, kurasa kita akan di sibukan di sini dengan waktu lama" Ucap Brandish dengan membuat busur panah lagi.

.

.

.

.

- Tempat Laxus

*Jduarrrr

"Kau lumayan juga huh?" Komentar Laxus pukulannya saat ini tengah di tahan orang itu dengan tombaknya "tapi, sayangnya tipemu tombakmu itu petir dan itu berarti takkan berpengaruh kepadaku karena, aku akan memakan apapun yang bersifat petir" Orang itu tak menjawab sama sekali dan tetap diam.

"Hei, apa ini tak apa jika diam disini saja tanpa membantu sedikitpun?" Tanya Bixlow agak sedikit cemas melihat pertarungan kedua orang itu yang di rasa masih imbang dari penglihatannya.

"Ini yang ucapkan Laxus sendiri kita tak bisa menganggunya" Jawab Freed menatap Fokus "selain itu kita harus terus mengamati kekuatan musuh bisa saja ada celah dan mungkin kita bisa membantunya" Temannya mengangguk.

Laxus melayangkan pukulannya orang itu menahannya dengan tombaknya Laxus memutar badannya dan menendang wajah orang itu namun, berhasil di tangkap Laxus berniat membeturkan kepalanya namun, orang itu sudah Membenturkan kepalanya terlebih dahulu.

'Refleks yang bagus untuk orang ini' Batin Laxus dia memegang jidatnya sekitar tubuhnya di lapisi Aura petir merah "hah! Rasakan ini! LIGHTNING GRAVERYARD!" Laxus melompat ke atas dia menembakan Petir merah berbentuk pedang kecil tapi, orang itu mengarahkan tongkatnya dan memghisap serangan tadi ke senjatanya.

"D-dia menghisapnya?" Freed terkejut

"Jika, dia bukan DragonSlayer atau GodSlayer bisa kemungkinan Tongkat itu juga yang menghisap kekuatan Laxus" Ucap Bixlow yang tengah mengamati pertarungan sembari mencari celah.

"Jadi, ini tak adil bagi kita huh, Laxus?" Orang itu akhirnya berbicara.

"Kau berbicara juga akhirnya huh?" Laxus menyeringai "tapi, ngomong-ngomong bagaimana kau tau dengan namaku?" Dia menyiapkan Kepalan petir di telapak tangan.

"Hah, teman-temanmu tadi menyebut nama itu jadi, tak masalah jika aku berbicara juga" Jawab Orang itu melepas penutup kepala dan topengnya dan tampak lelaki seumuran dengan mereka, dengan rambut putih, Hitam, dan Gaya rambut seperti kuncir pohon kelapa, dan Tatto garis di wajahnya "tampaknya aku harus perkenalkan diri namaku Totomaru aku dulu juga sama seperti kalian pernah bersekolah di tempat itu" dia memperkenalkan diri.

"Rasanya aku pernah mendengar nama itu?" Bixlow membuka lembaran buku tentang informasi murid-murid yang pernah bersekolah dari awal sampai sekarang dan lengkap "ahhh, ini dia Nama Totomaru pernah jadi Ketua di Kelas yang di Wakili oleh Ivan Dreyar ayah Laxus" dia menutup bukunya.

"Hmmm, apakah kau murid yang pernah di keluarkan dari Sekolah 5 tahun yang lalu? Atas sebuah kasus?" Tanya Freed dia juga sebagai Osis pernah melihat daftar Blacklist sekolah "sebab yang kucek kudengar kau di paksa keluar dan pernah di penjara?"

"Yah, itu aku" Jawab Totomaru tenang dia tampak biasa mengingat masa lalunya "aku, di tuduh sebagai Pengedar dan menjual Narkoba ke beberapa murid dan itu memang benar terbukti adanya"

"Tch, kau benar-benar rusak!" Komentar Laxus malas mendengar hal yang benar-benar membuatnya jijik.

"Kau tak tau asal-usulku jadi diam saja!" Bentak Totomaru memberi Deathglare "aku melakukan hal ini karena, biaya sekolahku dan untuk adikku sendiri!"

"Alasanmu masih belum di terima baik di sini!" Teriak Laxus dengan menghilang dia di depan Totomaru dan menghajarnya beruntung lelaki itu menangkapnya "jika, kau melakukan hal Haram seperti itu kau salah! Masih banyak pekerjaan di dunia ini jika, kau berusaha dan mencari!" dia membenturkan kepalanya.

"Kau yang tak tau hidupku takkan mengerti!" Totomaru memanjangkan tongkatnya yang di lapisi Aura petir.

"Yah, aku takkan mengerti" Laxus berhasil menahannya dengan satu tangannya meski itu menikbulkan luka baginya tapi, dia tak peduli "jadi, kau berbuat sesuatu berfikirlah dulu! KAMINARI SOMETSU!" dia menembakan semburan petir dalam sekala besar bahkan lebih mirip seperti Tsunami menghancurkan dam menerjang apapun yang di depannya.

"G-gila!" Mulut Bixlow menganga lebar melihat serangan dahsyat yang tak wajar itu.

'Laxus! Sudah banyak berkembang' batin Freed dia sama halnya dengan temannya tapi, reaksinya tak terlalu berlebihan.

'Aku berlebihan sekali rupanya tapi, untungnya orang-orang sudah pergi menjauh' Pikir Laxus Dia masih dalam posisinya raitu wajahnya masih ragu bahwa dia yang menang tapi, dia tetap waspada 'oh, bagus ini buruk rupanya' dia hanya menghela nafas.

"Kau pikir serangan itu sakit huh?!" Teriak Totomaru dia akhirnya bangkit dari serangan dahsyat tadi tapi, ada sesuatu hal yang membuat mereka bertiga terkejut.

"I-ini Mustahil!" Teriak Bixlow.

"Ya-yang be-benar saja" Freed sulit mempercayai apa yang dia lihat

"Sudah kuduga" Laxus memutar bola matanya.

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

Natsu sekarang sedang mengikuti orang yang sudah lama sekali di cari temannya Tsukusima dari awal sebenarnya dia sudah memilih untuk menyusul Wendy dan membantunya karena, dia sudah bisa merasakan Reaitsu Adiknya mulai membesar tapi, dia ingin tau apa yang di lakukan Gadis berambut Hazel itu dan memilih membuntuti.

'Ke arah mana ini?' Pikir Natsu telah lama mengikuti Gadis itu dan arahnya menuju Hutan Magnolia dan dia berada di tengah-tengah hutan 'tunggu dulu, berhenti?' dia menghentikan langkahnya dan sembunyi di dalam semak.

Natsu melihat Orihime juga berhenti di depan sebuah Bukit yang tak begitu besar tapi, dia terkejut melihat bagian bawahnya terbuka seperti ada Pintu dan Gadis itu langsung masuk ke dalam dan Di rasa Natsu sudah aman dia langsung mengikuti Gadis itu ke dalam.

"Apa, ini!?"

Natsu ketika masuk ke dalam dapat melihat isinya ini lebih mirip sebuah bagunan dengan Lorong panjang tak berujung dengan banyakanya Pintu di setiap sisi dan selain itu Orang yang dia ikuti telah menghilang entah kemana.

"Ahhh, coba sajalah"

Dia langsung masuk ke salah satu pintu karena, tadi dia mendengar suara desahan dan erangan yang cukup feminim di sebuah pintu itu dan juga suaranya lebih dari satu dan ketika dia masuk dia tak melihat apa-apa yang ada hanya ruangan kosong dan tak diisi.

"Aneh, juga" Guman Natsu bersandar tembok sambil berfikir dia padahal mendengar suara jelas dari ruangan sini "apakah ini whoa!-" ketika dia bersandar dia langsung tersungkur dan kini berada di ruangan lain.

Dia tau ini seperti di sebuah Game di mana harus mencari sesuatu petunjuk untuk membuka ke tempat yang selanjutnya dan memang benar dia sekarang mendengar suara dan hidungnya di tutup ketika dia mencium bau amis yang menyengat di hidung.

"To-Tolong!"

Natsu terus berjalan ke dalam dan memang benar ketika dia berhenti di ruangan itu banyak sekali bercak darah di lantai, dan tembok di mana yah seisi ruangan itu penuh dengan warna merah darah dan di tengahnya ada seseorang Gadis berambut panjang, berwarna Hijau muda duduk terikat di kursi dengan kondisi yang terlihat sangat buruk, lebih buruk dari orang yang tak makan seminggu lebih dan tentu saja penuh luka seperti di siksa.

"Oh, sial!" Natsu langsung menghampiri Gadis itu dia bisa melihat kondisinya penuh dengan luka dan banyak mengeluarkan darah "syukurlah, dia masih hidup" dia merasakan denyut nadi yang masih berdetak meski pelan dia buru-buru melepaskannya.

Dia buru-buru mengambil Handphone nya dan menghubungi seseorang namun, terlihat gagal "Gah, ini benar-benar menyebalkan!" dia melihat Handphone yang tak ada sinyal sama sekali tapi, dia mendengar erangan.

"Urghhh!"

Dia tak tau bagaimana cara mengatasinya jika, dia mencoba menelpon namun, sinyal Handphonenya benar-benar gak berfungsi yang satu-satunya cara hanyalah membawa Gadis itu keluar dari sini dia segera menggendongnya dan berlari menunju pintu di mana jalan tadi dia masuk tapi, ada yang janggal.

"Apa, ini?" Pikir Natsu dia seperti melihat halusinasi dan seperti Fatamorgana di mana dia melihat lorong itu sangat panjang dan jauh seperti tak ada ujungnya dan pandangannya agak linglung "rasanya hal seperti ini tak asing bagiku" dia mendengar langkah kaki dan tepukan tangan.

*plak *plak *Plak *Plak

"Bagus, sesuai yang di rencanakan" Suara yang sudah tak asing sekali di telinga Natsu "tapi, ini cukup beresiko karena, harus menunjukan lokasi sembuyi kita dengan satu umpan yang terlihat masih hidup"

"Kau lagi" Natsu hanya bersikap acuh dia tau orang ini yang pernah dia lumat waktu di Restaurant itu namun, berhasil lolos "hah, kau tak kapok kah untuk kupermalukan lagi atau perlukah kubunuh biar puas?" dia mendengar langkah kaki lain di ujung sana.

"Tidak bagus membiarkan lawanmu berbicara Rayure kau tau lebih baik bunuh saja karena, dia sudah mengetahui Markas kita"

"Diam kau Marin! Ucapanmu gak ada yang membantu!" Teriak Rayure "bagaimana kau bantu aku agar permasalahan ini bisa berakhir dengan cepat"

"Ya! Ya! Terserah kau saja saat ini aku malas berdebat" Orang yang di ketahui bernama Marin ini hanya membalasnya sangat cuek.

"Mereka benar-benar menyebalkan!" Komentar Natsu sudah memegang pedang peraknya di satu sisi dia harus menjaga dan sambil bertarung menghadapi dua orang ini yang salah satunya, belum di ketahui kekuatannya.

.

.

.

.

.

"Bagaimana berhasil kau hubungi?" Tanya Doranbolt

"Tidak, berhasil" Jawab Mest geleng-geleng "hasilnya masih tetap sama" dia sedari tadi mencoba menelpon Natsu namun, hasilnya hanya suara operator seluler yang berbicara di luar jangkauan sebenarnya tujuan dia menghubungi anak itu atas kerjasama untuk kasus ini

"Coba kau cek terakhir kali dia berada" Usul Doranbolt dia dan anggotanya sudah memasang alat pendeteksi keberadaan yang sudah di pasang di Handphone lelaki berambut pink itu tentu saja Natsu sudah tau "Hei! Kalian coba beritau lokasi detailnya!" Dia memerintahkan anak buahnya.

"Tuan! Dari data cepat yang kita ambil lokasi terakhir orang itu sedang menuju Hutan lindung Magnolia!" Jawab salah satu anak buahnya.

"Menuju Hutan Lindung?" Guman Mest yang dia pikirkan adalah apa yang di lakukan di tempat itu pastinya ada sesuatu yang mencurigakan "hei-hei, bukankah di tempat situ Sinyal atau radar takkan berfungsi atau mati total?" semenjak 4 tahun yang lalu sinyal atau jaringan yang berada di situ tak bisa berfungsi total

"Yah, kurasa kau benar ada yang tak beres di sana" Doranbolt melipat tangannya "kau yang ke sana mengeceknya atau aku yang pergi?" dia memilih langsung ke sana daripada harus menduga-duga tanpa kepastian yang jelas.

"Biar aku saja, lagipula ada yang ingin kubicarakan sesuatu dengannya" Jawab Mest mengambil kunci kotor dan berlalu keluar.

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

-lokasi yang tak di ketahui

"Bagaimana situasinya?" Tanya Doriate melihat kejadian sebenarnya yang terjadi lewat Lacrima kamera "ahh, tampaknya agak buruk juga" dia berkomentar tanpa rasa khawatir sedikitpun.

"Maaf, terkadang rencana tak semirip dengan situasi sekarang" Erigor hanya memohon maaf dia tak tau harus berbicara apa tentang hal ini

"Biarkan saja" Doriate tak begitu peduli "dan bagaimana dengan Tahanan yang lain? Kau sudah memasukannya" dia berfikir jika, diam di sini terus rencananya akan lenyap jikalau dia tak segera kabur.

"Yang lain tengah memasukannya ke dalam sebuah Kapal Selam" Jawab Erigor "kupikir lewat mana kita akan pergi? Biasa atau terowongan bawah Tanah yang kubuat?" dia tau waktunya kabur akan segera tiba.

"Di lihat dari situasi tampaknya lewat biasa" Jawab Doriate "tapi, bisakah kau mengecek jalan yang kita lalui untuk memastikan saja tak ada yang tau jika, tak bisa maka kita lewat jalur terowongan yang kita buat"

"Segera terlaksana" Erigor terbang keluar dan mengeceknya.

'Ini demi mimpi tuan BLAZE' Batin Doriate.

.

.

.

.

"Huh, ini sungguh terlalu!" Ur menghela nafas dia saat ini tengah merapihkan berkas yang tadi berantakan dia sekarang sendirian di Kantor dan Guru yang lain sudah terlebih pulang lebih dulu "hah, ini benar-benar merepotkan" dia melihat buah hati kesayangannya berdiri di depan pintu sambil mengetik Handphone.

"Perlukah aku bantu ibu?" Tawar Ultear melihat ibunya sediki dia sudah berbicara hal seperti ini lebih dari lima kali namun, selalu saja di tolak

"Sudah kubilang sebentar lagi selesai tinggal sedikit lagi" Jawab Ur Ultear hanya Sweatdrop mendengar jawabannya yang dia lihat kertas tumpukan yang masih banyak "ahhh, ngomong-ngomong kau tak pulang bareng pacarmu?" dia bertanya menggoda.

"Ibu! Sudah kubilang Natsu hanya teman!" Teriak Ultear blush dia menyangkal bahwa dirinya menyukai lelaki itu "dan lagipula dia tak masuk sekolah?" semenjak ledakan di rumah itu Natsu agak jarang sekali masuk dan itu cukup membuatnya khawatir.

"Ara, benarkah?" Ur mengangkat sebelah alisnya "jika, itu benar maka kau akan membiarkan dia jadi, milik Orang lain ahh dan juga kurasa kau harus cepat karena, dia populer"

Ultear sudah tau apa yang di maksud dan juga dia tak heran dan memaklumi jika Natsu cukup populer di kalangan para Gadis sekolahnya jika, di dalam hati dia sebenarnya bukan tipe orang yang sabar menunggu yah seperti menunggu seseorang yang akan menembaknya karena, dia tau Natsu bukan tipe hal yang romantis, dan menggoda, atau Gombal seperti trio Playboy cap obat nyamuk itu yah intinya dia tau Natsu tipe orang yang tak peka dia tak suka sifat itu tapi, terkadang Hatinya serasa berdetuk tak karuan ketika bersamanya yah di balik sifatnya seperti itu dia Orang yang mandiri, dan bertanggung jawab, plus Dia kuat dan wajahnya lumayan tampan juga menurutnya.

"Aku, tau ibu tapi, dia itu cuekan" Jawab Ultear menghela nafas.

"Terus? Kalau dia cuekan kau akan menunggu saja sampai beruban begitu?" Ur tentu saja menyamangatinya tentu saja Dia tau Sifat muridnya "dengar Ultear jika, kau menunggu dia akan diambil orang karena, Tipe Orang seperti Natsu adalah kaunya harus Agresif dan biar kuberitau satu hal tampaknya Wakil dan Ketua Osis akan mengambil inisiatif sendiri jika, kau tak sesegera mungkin dia akan dicuri" dia menyelesaikan Kertas dokumen itu.

"Yah, kurasa ibu benar aku akan mencobanya" Ucap Ultear bersemangat

Setelah selesai kedua ibu dan anak itu segera pergi meninggalkan sekolah langkah mereka terhenti ketika mereka melihat kejauhan sebuah perisai atau di sebut Jutsu Shiki yang besar dan mereka tau satu-satunya orang yang bisa menggunakannya dan mereka melihat ke arah lain ada sesuatu yanng gelap dengan gemerlap cahaya biru dan merah meski mereka tau itu bukan parade kembang api.

"Ibu, apa ada sesuatu yang terjadi di sana?" Tanya Ultear tentu saja ia tau ada sesuatu yang terjadi dia mencoba memantau Natsu lewat Via Orb Lacrima tapi, yang dia lihat pandangan gelap dan kabur 'uhhh, pasti ada sesuatu penghalang sehingga aku sulit melihatnya' dia berfikir khawatir.

"Tak tau aku rasa kita harus mengeceknya" Jawab Ur dia memilih ke tempat Arah Jutsu Shiki "hei, Ultear kau diam di sini atau hubungi yang lain" dia berlari tapi, Ultear tak mendengarkan.

'Jika, di sana Freed itu berarti di sana Natsu tengah terjadi sesuatu' Batin Ultear dia tau tehknik garis biru panjang dan banyak 'tapi, kurasa Wendy juga memilikinya ahh masa bodo dah!' dia memilih berlari ke arah itu tanpa menghiraukan perkataan ibunya.

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

- Arena Dingdong

"Ahhh, ini curang! Kau mainnya licik!" Teriak Gajeel kesal sedari tadi dia kalah terus dalam hal permainan Tembak pesawat dengan banyaknya jumlah skor "sial! Aku gak bisa terima!" Alasan dia cukup kesal tentu saja menggunakan taruhan Uang 1000 jewel dan parahnya dia belum menang sama sekali.

"Santai bung! Ini adalah game mungkin saat ini kau belum beruntung" Jawab Erik atau teman-temannya memanggil dia Cobra dia terlihat santai karena, dia sudah menang berkali-kali "yah mungkin Skillmu masih di bawah rata-rata"

"Hei, coba gantian aku lagi!" Protes Swayer atau Racer dia sedari tadi hanya memperhatikan kedua orang itu tanpa kebagian bermain sama sekali yah, namanya remaja masih masa ingin bermain dan bersenang-senang.

"Hei! Midnight coba kau permainkan ini!" Teriak Hoteye mengusulkan temannya menaiki permainan yang sudah tak pantas untuk ukuran tubuh dan umurnya "kau tau ini seperti naik mobil whoooo!" beberapa orang dewasa di sekitarnya hanya Pokerface dan anak-anak kecil hanya melongo dan heran.

"Serius!" Midnight hanya Sweatdrop melihat tingkah nyentrik temannya yang tak sesuai dengan umur dan terkesan menjijikan namun, dia memilih mengabaikan saja.

"Nah, siapa yang kau sedang telepon?' Tanya Erik melihat lelaki berambut hitam itu tengah menghubungi seseorang " apa, orang lain atau temanmu yang kau ajak kemari untuk memainkan ini?" dia dengan mudah membaca hati seseorang terkadang meski ia mengabaikannya tapi, yah namanya kekuatan alaminya dia lebih memilih diam.

"Nah, Salamander" Jawab Gajeel dia tau temannya ini maniak juga soal game bahkan koleksi console dan kaset jika diadu dia masih sangat kalah jauh darinya tapi, sekarang entah kenapa dia tak bisa dihubungi sama sekali.

"Tak bisa di hubungi?" Tanya Erik sudah mengetahuinya terkadang kekuatannya cukup berguna untuk hal lain selain dia mendengar dari jauh sebuah pertarungan di dua tempat "kau tau ada sesuatu yang tak beres di luar sana" dia saat ini ingin keluar tapi, tampaknya dia tak perlu menambah bantuan lagi

"Kau tau sesuatu?" Tanya Hoteye yang sudah berakhir dari senang-senangnya dan yang di tanya hanya menyeringai gak jelas "oh, begitu rupanya" dia malah sudah tak heran.

'Apapun itu kalian berusahalah dan maaf tak membantu' Batin Erik melamun.

.

.

.

.

"Hei! Hei! Hei! Kalian kerja yang benar!" Teriak Erigor "jika, barang itu sampai rusak, cacat maupun Hilang kalian sendiri yang akan membalasnya dan menggantinya dengan nyawa kalian! kukukuku!" dia menambahkan efek seram di wajahnya.

Semua pekerja langsung menggigil ketakutan dan langsung gesit melakukan yang di perintahkan tanpa melakukan satu kesalahan apapun.

'Hmm, memang benar tuan Doriate katakan kita harus kabur dari negeri ini secepat mungkin dan menjual orang-orang ini hingga kita bisa mendapatkan uang banyak dan bisa bersenang-senang kukukuku!' Batin Erigor dia bisa membayangkan jika rencana ini berhasil dan hadiah utamanya 'hmmmm? Seorang tikus datang untuk mengintip?' dia langsung melemparkan parangnya ke objek yang dia maksud.

*Duarrrrr

"Dugaan Mest benar tampaknya kau akal dari semua ini" Tsukusima muncul dari balik bangunan dia bisa tau kemari karena, Pelaku yang di interogasi menunjukan rencana mereka "hahaha, rupanya kalian ingin kabur tapi, sayang itu takkan terjadi" dia tetap tenang dan membaca buku.

"Wah, wah, kau lagi tapi, aku tak heran jika kau mengetahui ini" Erigor menyeringai sebenarnya jika salah satu Anggota mereka tak tertangkap maka mereka akan tetap seperti ini sampai waktu yang di tentukan namun, Rencana berubah drastis dan berganti alih "sungguh menyebalkan tapi, rencana ini akhirnya terkuak dan memang kita harus melarikan diri dari negeri ini tapi, rupamya ada sedikit nyamuk kecil yang menggangu"

"Banyak hal yang ingin kutanyakan tapi, tampaknya kau bukan tipe orang yang mudah mengeluarkan sesuatu dari mulut" Tsukusima bersiap dengan posisi bertarungnya "dan aku ingin tau mungkin, jika kau berkenan menjawab dan katakan di mana Orihime?"

"Hah, aku tak tau satu persatu nama Gadis yang telah kusiksa dan kuseret" Jawab Erigor tak peduli "jadi, jangan tanyakan aku tentang hal itu" Tsukusima mendengarnya memberi Deathglare dia tau jawaban tadi tak menyenangkan.

"Hahaha, kau ada benarnya juga" Tsukusima tertawa sarkastik.

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

"Hmmm, cukup aneh" Meredy berguman dengan mulut penuh kue dia tengah mengetik sesuatu di komputernya "aku baru tau ada lambang di situs ini" dia tengah menjelejah situs Gelap internet yang menurutnya agak sesuatu yang menarik di sini dan dia memegang Handphone dan menghubungi sesuatu.

*Tuttttttt

"Halo, Meldy-chan ada apa?!"

"Oh, maaf Ren-san apakah Hibiki-San ada di mana?"

"Ohh dia sedang buang air di kamar mandi ada sesuatu yang ingin di bicarakan?"

"Yah, tolong bicarakan dengannya jika tak lagi sibuk sekarang bisakah dia datang ke rumahku?"

"Oh, begitu tenang saja akan aku beritau"

"Yah, SmS saja jika dia bisa oke, dan sampai jumpa"

"Sampa jumpa"

*Tut

Klik!

"Dan ini dia tinggal beberapa langkah lagi dan berhasil" Meredy meretakan jarinya dia menghela nafas dan ada sesuatu yang dia ingin tuju tapi, di layar ada sedikit lambang yang tak terasa asing baginya 'hmmm, Rasanya aku pernah melihat ini hmmm? Ahh, bukankah ini sebuah lambang kalung yang pernah dipegang Natsu tapi, apa hubungannya?' dia berfikir nanti dan terus mencari tau kedalam.

.

.

.

.

.

.

TBC

Maaf untuk kalian yang nunggu aku Hiatus dan sibuk dalam waktu seminggu tadi dan ini aku baru Update lagi dan maaf jika, Garing yah namanya juga Author gak kenal dan mudah di lupakan whaksss!

Pm

.

RnR