Tenten, Tenten. Gadis paling beruntung di dunia. Begitu kakakku sering memanggilku. Dicintai oleh dua kakaknya, yang rela memberi apapun bahkan nyawa mereka. Sayang, mereka berdua tidak bisa berpikir jernih lagi, termakan obsesi. Cinta mereka berubah menyakiti hanya karena takut aku akan pergi. Atau setidaknya begitu yang dikatakan kakak angkatku pagi ini.

Gadis paling beruntung itu kini tidak sendiri lagi. Orang-orangan sawah menjaga dirinya dari hama pengganggu.

Tangannya yang besar dan hangat mengelus rambutku pelan ketika mengatakan itu, sebelum mencubit pipiku pelan.

"Kau tampak lebih baik sekarang."

Aku menoleh. Pantulan diriku di cermin menyambutku. Kantung mataku menghilang. Padahal mereka biasanya ada di sana untuk mengingatkanku akan malam hari penuh mimpi buruk. Tubuhku berisi. Berbeda dengan gambaran tengkorak berjalan berambut coklat beberapa waktu lalu. Rambutku acak-acak karena baru saja bangun; tapi ketipisannya tidak mengkhawatirkan seperti dua bulan silam. Saat itu rambutku akan rontok hanya dengan sentuhan terlembut, menunjukkan tingkat stress yang kualami.

Pria berambut silver mencium punggung kepalaku senang. "Kau tampak cantik dengan rambut barumu."

Aku menunduk. Cermin yang setinggi langit-langit mansion di hadapanku memantulkan seluruh tubuh kami. Tidak ada lagi tirai coklat gelap menyapu punggung betisku. Onii-chan bilang, dulu rambut panjangku sudah dalam keadaan tidak sehat karena perlakuan kasar kedua kakakku.

Kakashi-nii-chan.

Hanya dia satu-satunya yang memperlakukanku dengan baik.

Ujung rambutku terasa kasar di ujung jemari. Sekarang panjang rambutku hanya sedada. Aku tidak terlalu ingat detail rupa rambutku dulu, tapi aku hapal beberapa siksaan yang mereka berikan; aku tidak ingin mengingatnya. Jika Kakashi-nii-chan pikir rambutku sekarang terlihat cantik, aku tidak keberatan memotongnya sependek apapun. Bahkan jika ia ingin aku memangkas habis rambutku.

"Wah, wah, kenapa ini?" tanyanya mendapati diriku memeluknya erat.

Aku menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam. "Aku sayang nii-chan."

"I love you too."

"Bisakah kalian berdua tidak memamerkan kemesraan di depanku seperti itu?"

Kami berdua menoleh. Seorang pria berambut perak seperti Kakashi-nii berdiri di depan pintu mansion, rambutnya yang panjang terkuncir rapi. Di dahinya kerutan terbentuk, nyaris tertutupi gagang kacamata warna hitam miliknya. Tangannya berkacak pinggang, tangan satunya lagi memegang papan scanner.

"Kabuto-san."

Pria itu hanya menatapku sekilas, kemudian bergantian menatap Kakashi-nii serius. "Aku perlu bicara dengan kakakmu."

Kakashi-nii membalas tatapanku penuh bersalah, seolah tidak ingin membuatku merasa dinomorduakan. Aku menggeleng, Kabuto adalah mitra kerja nii-chan. Ini adalah hal yang biasa.

"Aku akan menunggu di kamar seperti biasa."

Kakashi-nii-chan tersenyum. "Anak pintar."

Aku hanya bisa tersenyum kembali di balik pintu kayu yang perlahan menutup. Lampu otomatis kamar menyala, temaramnya disinari konstelasi bintang langit utara; Kakashi-nii-chan yang memasangnya. Aku tidur terlentang di atas kasur, tanganku meraih ke langit-langit yang berkelap-kelip.

"Namaku...Tenten."

Suara bisikanku hilang di ruangan yang sejak tiga bulan terakhir menjadi tempatku memulihkan diri itu. Kini tubuhku bersih dari bekas gigitan dan cengkraman kedua kakakku. Kata Kakashi-nii-chan, sesi terapi hipnotis yang hampir setiap hari kami lakukan membantuku melewati masa sulit. Ia menyisakan sedikit kenangan buruk untuk membuatku terus mengingat apa yang sanggup mereka lakukan. Agar jika suatu saat aku bertemu mereka lagi, aku tahu aku harus menghindar.

"Hatake...Tenten."

Aku menurunkan lengan dan menutupi sebelah mataku dengannya. Di saat Kakashi-nii-chan kedatangan tamu seperti sekarang, aku akan menunggu dengan tenang di kamarku sendiri, dan melakukan asesmen identitas guna memeriksa apakah sesi hipnotis yang kami jalankan memiliki efek samping terhadap memoriku. Kakashi-nii-chan memperingatkanku akan kemungkinan ingatan yang muncul tiba-tiba atau hilang tanpa peringatan, atau bahkan perubahan mendadak dalam pembawaan diriku.

Aku mengernyitkan dahi. Mencoba mengingat nama kedua kakakku yang abusif.

"...kh. Aku tidak bisa mengingatnya."

Berikutnya aku mencoba mengingat penampakan mereka. Hasilnya sama.

"Kau akan tahu saat bertemu dengan mereka langsung; aku sudah menanamkan mekanisme pertahanan diri di setiap sesi hipnotismu."

Kakashi-nii-chan bilang begitu, tapi...apa memang bisa? Apa memang perlu mengunci ingatanku sampai sejauh itu?

Jika aku berusaha keras, aku bisa melihat sekelebatan berwarna hitam berdiri bersampingan. Mereka seperti mengatakan sesuatu, tapi semuanya akan menjadi gelap seketika sebelum mereka selesai berbicara.

Kalau Kakashi-nii-chan tahu soal ini, ia pasti akan khawatir dan mencoba untuk menyegel ingatanku lebih jauh lagi. Ingatanku sekarang adalah hasil buatan Kakashi-nii-chanーaku tahu ia bermaksud baik, tapi sekarang aku penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di masa laluku. Setidaknya wajah mereka...aku ingin tahu.

Setiap aku mengatakan ini, ekspresi Kakashi-nii-chan mengeras. Tapi ia memaksakan tersenyum.

"Seperti yang kubilangーkau akan tahu jika bertemu merekaーtapi kita tidak menginginkan itu terjadi, bukan?"

Itu terdengar seperti...ancaman.

Aku yakin itu cuma perasaanku saja, tapi...tatapan Kakashi-nii-chan saat itu sangatlah dingin.

Menggeleng, aku bangkit dari kasur dan berjalan menuju lemari buku di sudut ruangan. Hampir semuanya adalah buku teks; nyaris tidak ada gambar sama sekali. Tapi mereka semua dalam bahasa inggris dan jerman, membantuku yang 85% berbicara dalam bahasa jepang untuk belajar.

"Aku ingin baca buku tentang tanaman..." gumamku pada diri sendiri.

Semua buku punya Kakashi-nii-chan berisi tentang ilmu kesehatan dan kedokteranーitupun untuk level umum agar mudah kucerna. Tapi Kakashi-nii-chan baru saja membelikanku tanaman succulent dalam pot dan aku ingin mempelajari cara merawatnya.

Internet? Kakashi-nii-chan melarang hal berbau internet di mansion karena bisa membuatku terlacak. Yep, dia cukup protektif.

"...andai nii-chan membolehkanku keluar mansion sendiri."

Seminggu sekali, Kakashi-nii-chan akan membawaku serta ke perpustakaan umum. Aku akan meminjam buku sebanyak-banyaknya atas nama Kakashi-nii-chan, dan mengembalikannya lagi seminggu kemudian. Tapi ia mengontrol ketat buku apa yang boleh dan tidak boleh kubaca, khususnya tentang tanaman.

Apa ada hubungannya dengan kedua kakakku yang dulu?

"Guk!"

Aku menoleh. "Pakkun?"

Anjing pug peliharaan kami menghampiriku semangat, membuatku merunduk untuk mengelusnya gemas.

"Kau dari mana saja? Badanmu penuh rumput begini."

Pakkun menyalak tiga kali, seolah menjawab pertanyaanku. Aku yang tidak paham hanya menghela nafas dan menggendongnya ke atas kasur.

"Hei, seperti apa di luar sana? Selain taman besar di dekat perpustakaan kota, maksudku."

Pakkun memiringkan kepalanya bingung.

"Apa ada banyak serangga? Bunga?"

Pakkun yang menyadari aku menyebut bunga menyalak semangat, ekornya bergerak ke sana kemari.

"Banyak ya?" ucapku muram. "Di mansion juga banyak tanaman, tapi cuma topiary dan semak hias. Aku iri padamu, Pakkun."

"Guk!"

"Hm?"

Di tubuh pakkun yang terbalut pakaian untuk anjing terselip setangkai tanaman kecil. Awalnya kukira debu, tapi kepalanya yang berwarna putih kapas membuatku yakin kalau itu adalah bunga.

"Rasanya...familiar." ujarku sambil mengobservasinya di tangan.

Ah. Percuma saja. Aku tidak bisa mengingat namanya. Mungkin kalau ada efek samping dari sesi hipnotis kami, itu adalah terhapusnya ingatanku tentang nama-nama bunga. Mungkin aku harus memberitahu nii-chan.

Aku melirik pot-pot kecil succulent milikku. Masih ada ruang...aku akan mencoba menanamnya.