The Worst One
Desclaimer : Jelas bukan punya saya!...,
Warning : Gaje!, Au!, imajinasi Author!, OOC!, Bahasa gak baku!, Absolute Typo!, bikin sakit mata!, GAK SUKA JANGAN BACA!..., dan yang terpenting, Isekai!...,
Pairing: Naruto X Shaga
Summary : Reinkarnasi, jika diartikan maka menjadi ' kelahiran kembali ' Namikaze Naruto seorang pria baik, pintar dan Ramah namun sayang bujangan..., tewas tertusuk oleh pencuri saat menemani temannya kencan..., dan saat ia membuka matanya ia berada didalam tubuh seseorang yang sangat mirip dengan dirinya, dan disaat itulah ia hidup didunia yang penuh dengan hal Fantasy dan Supranatural...,
-Opening theme: Day of Story by Sadohara Kaori-
Chapter 50
Ophis... Buku yang mewakili ketidak terbatasan dari pengetahuan Solomon terhadap sihir itu tengah menatap layar proyeksi didepannya dengan pandangan sedih, khawatir, dan marah yang bercampur aduk.
Dilayar yang ia saksikan memperlihatkan gambar keadaan seorang pemuda bersurai pirang tengah terduduk dengan keadaan yang mengenaskan, tubuh yang dipenuhi luka yang bisa dimasukan kedalam kategori parah, seragam yang robek disana-sini menjadi bukti jika serangan yang diterima pemuda itu tidaklah main-main.
Ophis mengepal erat tangan mungilnya, wajahnya yang biasanya selalu tanpa ekspresi kini mengeras sampai suara gigi bergemeletuk bergema diruangan bernuansa putih disana terdapat rak buku yang tak terhitung jumlahnya tersusun diruangan itu.
"Uzumaki... Menma!?."
Ophis mengucapkan nama itu dengan penuh kebencian, iris hitam yang biasanya kosong kini menunjukan amarah yang terlihat jelas dimatanya, aura kelam ungu kehitaman menyelimuti seluruh tubuhnya. jika saja ini bukan karena perintah dari sang master yang memerintahkannya untuk tidak melakukan apapun, sudah pasti Ophis akan menembakan Magic Void kekepala pemuda heir Uzumaki itu...
Namikaze Naruto, Master dari Jeanne D'arc, Azi Dahaka, Uranus Queen, dan Dirinya tengah berada didalam kondisi yang tidak bagus, Naruto beberapa saat yang lalu baru saja mendapatkan serangan bertubi-tubi dari Heir Clan Uzumaki itu tanpa membalasnya sedikitpun!.
Ini semua terjadi sebab beberapa saat yang lalu sang Master mendapatkan sebuah surat yang berisi Ancaman untuknya yang memerintahkan Sang Master untuk tidak bergerak diarena sebab Tunangan dari Sang Master, Ayame [Alvarez] Shaga tengah diculik dan berada ditangan mereka. Jika Naruto berani menentang perintah itu maka tunangan Masternya akan langsung dibunuh oleh mereka.
Hal itu membuat Naruto mau tak mau harus menuruti keinginan penculik itu, dan lihatlah apa yang terjadi, sang Master kini tengah mengalami luka yang parah disetiap bagian tubuhnya, darah miliknya sendiri membasahi tubuhnya... Ophis mengepalkan erat tangannya mengingat setiap kepingan dimana sang Master dicambuk, dibenturkan kedinding Arena dan berbagai macam siksaan lainnya menggunakan Rantai Magic itu, dan yang menbuat emosi Ophis tak terkendali adalah sang Master tidak bisa melakukan apapun dan hanya menerima setiap serangan brutal itu dengan ikhlas.
Ekspresi marah Ophis perlahan menyeduh, ia memeluk dirinya sendiri rasa bersalah menyelimuti Ophis, disaat seperti ini, ia hanya bisa mengikuti keinginan sang Master, meskipun sangat menyakitkan menyaksikan orang yang begitu kau hormati disakiti seperti itu, tapi ini adalah keinginan Master, dan sebagai pelayan, Ophis hanya bisa mematuhi keinginan Tuannya.
"Ikuse Tobio... Cepatlah, jika tidak Master bisa..."
Ophis bergumam lirih menatap pemandangan menyedihkan Masternya...
.
.
.
-The Worst One: Last Arc-
.
.
.
Diruangan yang cukup sempit yang hanya berisi satu ranjang dan sebuah penerangan minim berupa Obor, terlihat tujuh orang tengah menatap shock pada sebuah bola air yang menampilkan keadaan Namikaze Naruto yang mengenaskan.
[Observation]
Sebuah Magic yang berfungsi untuk melakukan pengamatan pada target yang diinginkan, Magic ini akan memperlihatkan keadaan Target dijarak sejauh apapun, sebuah Magic yang hebat memang tapi sayangnya Magic hebat sekaliber ini yang bisa memantau siapapun memiliki kelemahan yang bisa dibilang cukup simpel, Magic ini tidak akan berguna untuk mengintip seseorang yang memiliki [Talisman] atau Magic penghalang tingkat rendah, jika pengguna Magic ini memaksakan keinginannya maka sebuah rasa nyeri yang amat sangat akan menyerang kepala penggunanya, Karena itulah Shaga tidak sering mengaktifkan [Magic] ini, dia hanya menggunakan Magic ini disaat-saat [Tertentu] saja... Ya saat-saat [Tertentu].
Shaga, Okita, dan Miya menutup mulut mereka dengan shock, mereka tidak menyangka jika saat ini mereka akan melihat keadaan mengenaskan dari Naruto.
"Tidak... Naruto-kun."
Shaga bergumam dengan lirih, melihat keadaan sang kekasih yang begitu mengenaskan membuat hati Shaga terasa sakit, sangat sakit. Tobio yang sebelumnya memasang wajah tanpa ekspresi kini wajah datar itu runtuh dan mengeras dalam amarah.
Tidak hanya Tobio, Cao Cao, Lee dan Bahkan Arthur juga memasang ekspresi marah yang mengerikan, mereka semua mengepalkan tangan mereka dengan sangat erat sampai tangan mereka memutih.
"Kita harus segera kembali keacademy atau Naruto akan mati."
"Mati... Naruto-kun..."
Mendengar perkataan dingin Tobio membuat Shaga bergetar ketakutan, sepertinya ia membayangkan jika Naruto mati karena kesalahannya, Shaga merasakan hatinya penuhi oleh rasa bersalah sebab bagaimanapun semua penyebab Naruto bisa seperti ini adalah karena dirinya...
"Hime-sama! Bertahanlah!."
Arthur menguncang bahu Shaga yang bergetar ketakutan karena memikirkan dunia dimana Naruto tidak ada, Tobio berdecih pelan melihat [Magic: Observation] lenyap sebelum ia mengalihkan pandangannya dan menatap Arthur serta Shaga.
"Arthur, bawa hime-sama! Satu-satunya cara agar Naruto tidak mati adalah dia..."
Arthur mengangguk atas perkataan dingin Tobio sebelum tanpa permisi dan ijin dari Shaga, Arthur menyelipkan tangannya diantara lutut Shaga dan dengan cepat ia mengendong Shaga ala Bridal.
Tobio, dan yang lain dengan cepat meninggalkan benteng itu, mereka saat ini berpacu dengan jarum pasir kematian, waktu mereka tidak banyak tersisa, mereka semua harus segera kembali keacademy dan menyelamatkan Naruto!.
"Hey! Itu mereka! Tangkap!."
Tobio dan yang lain menoleh kebelakang dan mereka semua melihat puluhan tidak ratusan orang berpakaian tertutup mengejar mereka dengan nafsu membunuh yang membara, Tobio berdecih dan berhenti membuat semua ikut berhenti.
"Arthur, Okita, Miya, Lee... Kalian pergilah, aku dan Cao Cao akan menahan mereka..."
"To-Tobio... Apa yang kau..."
"Miya!? Kita tidak punya banyak waktu lagi! Cepat pergi atau sih kuning idiot itu akan mati!."
Tobio berteriak dengan wajah mengeras sempurna membuat Miya terkejut dan sedikit takut disaat yang bersamaan, ia yang selalu melihat wajah dan tingkah laku bodoh dari Tobio tidak pernah menyangka jika Tobio akan membuat wajah seperti itu, dan yang lain juga berpikiran yang sama dengan Miya.
"Apa yang kalian lakukan!? Cepat pergi!?."
Semua tersentak sedikit sebelum mengangguk dan segera berlari meninggalkan Cao Cao yang menatap Tobio dalam diam, sebelum pergi Miya berkata dengan pelan namun masih dapat didengar oleh Tobio.
"Jangan Mati, Baka..."
"Ya, aku tidak akan mati..."
Tobio membalasnya dengan senyuman tipis tanpa mengalihkan pandangannya dan menatap gelombang musuh didepannya, Cao Cao yang ada dibelakangnya menghela nafas sebelum ia berjalan disebelah Tobio dan memasang fighting stance milliknya.
"Kau terkadang membuatku terkesan, Taichou."
"Aku akan senang mendengar itu tapi sayangnya ini bukan saat yang tepat untuk mendengar sebuah pujian."
"Yeah, kau benar..."
Kedua pemuda pemilik Longinus [Canis Lykaon] dan [True Longinus] itu tersenyum satu sama lain sebelum mereka menajamkan pandangannya pada musuh dan dengan cepat mereka melesat kegerombolan musuh... Pertarungan sengitpun terjadi, namun karena Dua melawan ratusan beberapa berhasil melewati Tobio dan Cao Cao yang hanya bisa berdecih melihat puluhan musuh berhasil Lolos.
'Aku harap kalian berhasil, teman-teman.'
Keduanya membatin sebelum mereka melanjutkan pertarungan mereka dua melawan puluhan orang.
.
.
.
"Hey! Kalian berhenti!."
"Sial mereka masih mengejar kita."
Lee mengatakan itu setelah ia menoleh kebelakang dan melihat puluhan orang berlari kearah mereka, saat ini mereka berlima telah keluar dari benteng dan tengah dalam perjalanan menuju ibukota kerajaan...
Lee melihat mereka melompati pepohonan dengan cepat, Lee menatap kedepan dimana Miya juga menatapnya, Miya tersenyum tipis membuat Lee mengangguk pelan, dengan cepat keduanya menghentikan laju mereka dan menghadao kearah musuh dengan fighting stance mereka.
"Teruslah berlari, kami akan menahan mereka."
"Benar, apa kata Miya-Fuku Taichou, serahkan pada kami, kami akan menghentikan mereka."
Okita dan Arthur menoleh kebelakang dan mereka melihat Miya dan Lee menoleh kearah mereka dengan senyuman tipis diwajah mereka, Arthur dan Okita mengangguk pelan dan mempercepat laju mereka meninggalkan Miya dan Lee yang menatap tajam musuh, Miya menarik nafas dan menyiapkan kuda-kuda bertarung,
"Lee-san, aku akan menyerang secara frontal, bisakah aku percayakan punggungku padamu?."
"Ya, serahkan padaku, Miya-san."
Lee menjawab dengan senyuman yakin sebelum ia membuka kuda-kudanya dan memposisikan tubuhnya dalam mode serang, keduanya melesat cepat dan pertarungan sengit dimulai.
.
.
.
Sementara itu Arthur, Okita dan Shaga telah sampai didepan gerbang Ibukota, penjaga ibukota yang tadinya berniat menghentikan Arthur, Okita dan Shaga langsung mempersilahkan mereka lewat ketika para penjaga melihat Arthur yang merupakan anak dari Keluarga Archduke, Pendragon.
Arthur dan Okita terus berlari menuju Academy, namun ksrena mereka tengah membawa sang Hime-sama yang seharusnya tengah berada diistana saat ini menghindari jalan utama dan memilih jalan sempit untuk menuju Academy, demi kerahasiaan Negara Shaga tidak boleh diketahui jika ia berada ditempat umum karena kita tidak tahu dimana mata musuh mengintai, Arthur menoleh kebelakang ketika sensor deteksinya merasakan jika ada beberapa orang mengikutinya, dari jaraknya mereka hanya beberapa puluh meter dibelakang mereka, Arthur menghentikan lajunya membuat Okita berhenti dan menatap bingung Arthur.
"Okita-san, keluarkan benda yang dititipkan Naruto-san padamu."
"E-Eh? Ke-kenapa tiba-tiba?."
"Sudah lakukan saja..."
Okita sedikit berjengit takut ketika Arthur menatapnya dengan tatapan dingin yang tidak biasanya diperlihatkan pada siapapun, dan itu cukup membuat Okita bergetar takut, ia dengan pelan mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan itu adalah sebuah cincin ruang tembaga yang berkilauan...
Okita dengan gugup menyentuh cincin itu dan seketika sebuah benda keluar dari sana, itu adalah kursi roda sederhana yang hampir sama seperti milik Shaga, Shaga menatap Kursi Roda itu dalam diam sebelum ia diletakan oleh Arthur diatas kursi roda itu, Arthur mengangguk pelan setelah memastikan posisi shaga telah nyaman, ia bangkit dan berbalik.
"Pergilah, bawa pergi Shaga-hime..."
"E-eh? A...Arthur-san apa yang kau katakan? Kita harus segera-,."
"Tidak, aku akan tinggal, sepertinya beberapa orang masih mengejar kita dan sebentar lagi mereka akan menuju kesini, jadi pergilah... Aku akan menahan mereka."
"Ta-Tapi kita harus..."
Okita terdiam merasakan cengkraman pelan ditangannya, pandangan Okita turun dan ia melihat Shaga mengeleng pelan padanya, Okita mengigit bibirnya sebelum ia mengangguk dan dengan cepat ia pergi meninggalkan Arthur yang langsung dikepung oleh beberapa orang berjubah...
"Yare, ini akan merepotkan."
Arthur mengucapkan itu dengan kalem selagi ia membenarkan letak kacamatanya dan menatap malas musuh yang ada didepannya.
.
.
.
Setelah berlari secepat yang ia bisa, akhirnya Okita berhasil sampai diacademy Hirozimon, nafas Okita mulai terasa berat, pandangannya juga mulai mengabur, berlari non stop dari benteng menuju keacademy memiliki jarak yang jauh dan itu benar-benar menguras staminanya, Okita merasakan jika ia bisa pingsan kapan saja...
Shaga menatap Okita yang kelelahan dengan tatapan bersalah, ia tidak pernah menyangka jika ia akan menjadi beban untuk semua orang yang dekat dengannya, mulai dari kekasihnya sampai teman-temannya dibebani olehnya... Shaga menundukkan kepalanya dengan sedih.
"Maaf... Aku minta maaf karena membebani kalian semua... Aku... Aku..."
Okita yang tengah mengatur nafasnya berhenti dan menatap Shaga yang bergumam lirih dan akan menangis kapan saja, Okita melihat itu terdiam sebelum ia menghela nafas.
"Shaga-san... Aku tahu apa yang ingin kau katakan, aku dan yang lain mungkin terlihat terbebani olehmu tapi kami merasa tidak seperti itu..."
"Ta-Tapi aku... Aku sudah..."
"Hime-sama... Kau adalah teman kami dan bukankah itu hal yang wajar jika kami menolong orang yang kami panggil teman?."
Shaga terdiam dengan mata melebar mendengar kata-kata itu, itu adalah kata-kata yang pernah didengar olehnya dari Naruto dan Lee pada waktu diruang pemulihan, Okita yang melihat Shaga terdiam tersenyum sebelum ia kembali mendorong kursi Shaga.
"Sepertinya kau sudah mengerti hal itu, Hime-sama... Sekarang saatnya kita menyelamatkan sang pangeran dari penderitaannya..."
Setelah mengatakan itu Okita mengalirkan [Mana] kekakinya dan dengan cepat ia melesat menuju Arena Byakko tempat dimana Naruto melangsungkan pertandingannya, kecepatan yang Okita miliki membuat mereka hampir sampai menuju Arena Byakko, namun ketika sedikit lagi mereka akan sampai tiba-tiba insting Okita menjerit, dengan cepat Okita menghentikan laju kursi roda Shaga lalu ia menarik Katana miliknya dan mengayunkannya kesamping...
Trank!
Bunyi dua buah logam berbenturan bergema dilorong, Okita menatap tajam seorang pria berjubah yang beradu senjata dengannya, Okita mementalkan senjata belati milik pria itu sebelum mengayunkan Katana Mithril miliknya membuat orang itu melompat mundur hingga ujung katana Okita hanya merobek pakaian orang itu, Okita menajamkan pandangannya.
Orang itu menatap Okita selagi tangannya bergerak masuk kedalam jubahnya dan dengan cepat ia melempar belati dengan kecepatan tinggi, melihat serangan datang Okita mengayunkan Katananya membuat belati itu membentur Katananya, namun tanpa disadari Okita orang itu menyeringai tipis...
Jleb!
"Okita-san!?..."
Shaga berteriak ketika ia melihat bahu kiri Okita tertusuk sebuah belati, Okita meringis merasakan rasa sakit dibahunya ia dengan cepat mencabut belati yang tertanam dibahunya, Okita membuang belati itu kesamping dan segera menekan luka dibahunya yang mengalirkan darah, iris golden miliknya menatap orang didepannya dengan waspada.
'Orang ini, bagaimana ia melakukannya? Aku yakin tadi seharusnya hanya ada satu belati yang ada tapi kenapa...'
Okita meringis merasakan nyeri pada lukannya, ia sepertinya tidak bisa mengerakan tangan kirinya sebab jika sedikit saja ia mengerakkan tangan kirinya maka rasa nyeri akan langsung menyerangnya... Orang itu menyeringai tipis, ia kembali menarik belati dari balik jubahnya melihat itu Insting Okita langsung bereaksi dengan cepat ia langsung berdiri didepan Shaga dan melindunginya.
Dengan cepat menukar pedang Katana ketangan kanannya dan Okita langsung menebas 3 belati yang langsung melayang dan menancap ditanah, Okita menatap tajam musuhnya didepannya, ini keadaan yang buruk, benar-benar buruk... Ia tidak bisa terus bertahan seperti ini, ia hanya akan berakhir menjadi sasaran empuk jika terus bertahan tanpa melakukan serangan, apa yang harus ia lakukan?. Okita mengeraskan wajahnya... Ia membuka gesture menyerang dengan katana mengarah pada orang didepannya.
"Shaga-hime, maaf tapi sepertinya dari sini saya tidak bisa menemani anda, anda harus pergi sendiri ketempat dimana Naruto-san berada."
Shaga yang menundukan kepalanya karena merasa bersalah telah menjadi beban mengangkat kepalanya dan menatap Okita dengan cepat, apa yang perempuan ini katakan? Pergi kearena Byakko sendirian? Shaga terdiam ketika ia memahami apa yang dikatakan oleh Okita...
Okita bermaksud untuk menyerang musuh dengan menyuruhnya pergi, karena bagaimanapun jika Okita terus melindunginya maka Okita akan berada dalam keadaan yang merugikan, juga kenyataan jika mereka tidak memiliki banyak waktu, dengan menyuruh Shaga pergi kearena Byakko sementara Okita fokus melawan musuhnya adalah pilihan terbaik disituasi seperti ini, Shaga mengangguk pelan.
"Baiklah, aku akan pergi, Okita-san jangan sampai kalah dari orang itu..."
"Tentu saja... Pergilah, hime... Buat Naruto-san bangkit diatas kakinya."
Okita mengatakan itu selagi ia menguatkan posisinya, Shaga mengangguk pelan dan berbalik, dan dengan cepat mendorong roda dikedua sisi, melihat sang target melarikan diri orang itu menarik belati dari jubahnya dan melemparnya pada Shaga, namun Okita yang melihatnya tidak membiarkan hal itu dengan cepat ia mengayunkan katanannya dan menepis semua belati itu, melihat serangannya berhasil ditahan orang berjubah itu berdecih...
"Maaf saja tapi aku tidak akan membiarkanmu menyakiti, Hime-sama..."
Okita mengatakan itu dengan nada dingin, mata yang sebelumnya lembut kini menjadi beku, Aura tak mengenakan menyeruak dari tubuh Okita... Dan detik selanjutnya, orang itu sadar jika ia memilih lawan yang salah, Okita dengan kecepatan diluar akal sehat, ia dalam sekejap memotong jarak dan mengayunkan pedangnya mencoba menggorok leher orang itu...
Trank!
Okita menatap dingin orang yang berhasil menahan ayunan Katana miliknya, Okita dengan cepat mengambil satu langkah mundur dan dalam sekejap menyabet katananya secara horizontal dan berhasil melukai leher orang itu...
Darah segar mengucur dari leher orang itu, menyadari jika ajalnya sudah didepan mata dengan nafas terakhir yang masih tersisa orang itu melempar belati miliknya sebagai serangan terakhir, Okita yang melihatnya hanya menatap datar dan memiringkan tubuhnya membuat belati itu melewati tubuhnya... Okita menatap datar orang itu.
"Serangan terakhir yang sia-sia..."
Deg!
"Eh?..."
Okita bergumam pelan ketika ia merasakan kekuatan meninggalkan tubuhnya, Okita terhuyung kedepan dan membentur lantai dengan keras.
'Apa yang terjadi pada tubuhku?!...'
Okita berusaha bangkit namun sia-sia sebab jangankan bangkit mengerakan bibirnya saja ia tidak mampu, Okita yang tengah berusaha untuk bangkit tiba-tiba menangkap sebuah benda yang terletak tak jauh darinya... Itu Belati milik orang dibelakangnya...
'...? Cairan apa itu?.'
Okita menajamkan pandangannya ketika ia melihat tepat pada bagian ujung belati itu terdapat cairan berwarna ungu, cairan itu, bukankah itu racun... Begitu rupanya, ia telah terkena racun saat ia bahunya berhasil dilukai oleh belati beracun ini, pasti racun inilah yang menyebabkan tubuhnya lumpuh seperti ini... Sial, ia tidak akan bisa bergerak untuk sementara waktu.
'Shaga-hime, maaf tapi sepertinya aku tidak bisa menyusul anda.'
.
.
.
Diruang kedisplinan tiga orang perempuan tengah menatap bola crystal yang tengah menampilkan gambar dimana Namikaze Naruto yang terduduk bersender pada dinding yang remuk, keadaan Namikaze Naruto sangatlah buruk, sementara sang lawan dari Naruto, Uzumaki Menma menyeringai melihat keadaan Naruto.
Arthuria mengepal tangannya dengan erat, bahkan buku-buku pada tangan itu telah memutih, Arthuria berusaha menahan gejolak amarah yang menyelimuti hatinya... Ia sebagai bangsawan besar didik untuk menekan perasaannya sendiri dan memikirkan Clannya, itu hal yang wajar dikalangan para bangsawan sebab menurut bangsawan perasaan diri sendiri itu tidaklah penting yang terpenting bagi mereka adalah kemakmuran dan kejayaan untuk Clan dan Wilayahnya...
'Tapi... Tapi... Bagaimana bisa aku menahan hal ini!?...'
Sudah cukup!? Ia tidak bisa menahan perasaan sakit dan amarah yang mengerogoti hatinya, bagaimana mungkin ia diam saja melihat pujaan hatinya disiksa sampai seperti itu!... Arthuria dengan cepat bangkit membuat Kyubi dan Kaguya yang ada didepannya menatap kearahnya.
"Pendragon-dono? Apa yang-, Hey! Anda mau kemana!?."
Kyubi berteriak memanggil Arthuria yang tanpa banyak waktu langsung berlari keluar ruangan meninggalkan Kaguya dan Kyubi yang menatap bingung kepergian Arthuria yang begitu mendadak...
"Nee... Kagu-chan."
"Hm?..."
"Apa kau pernah melihat iin-cho* menangis?."
"Huh?..."
Kaguya mengalihkan pandangannya dan menatap Kyubi yang terdiam menatap dirinya, sebelum ia mengeleng pelan.
"Tidak, aku tidak pernah melihatnya, lagipula tidak mungkin Iin-cho* akan menunjukan perasaannya didepan umum.. "
"Lalu, kenapa tadi aku melihatnya menangis?..."
Kaguya terdiam mendengar perkataan Kyubi, seorang Arthuria Pendragon menangis?... Itu terasa tidak mungkin, dan lagipula hal apa yang mampu membuat seorang Arthuria Pendragon yang bahkan tidak meneteskan matanya disaat pemakaman ibundanya dulu? Menangis... Ruangan itu diselimuti keheningan, keduanya tidak dapat menemukan penjelasan kenapa Arthuria Pendragon menangis seperti itu...
Sementara itu disisi Arthuria, ia berlari dengan lelehan air mata yang membasahi pipinya, jika ada yang melihat Arthuria dalam keadaan seperti ini maka orang yang melihatnya akan terkena shock berat sebab sosok Iin-cho* yang tegas hancur lebur dan digantikan oleh sosok perempuan normal yang menangis karena merasakan rasa sakit dihatinya.
Arthuria juga tidak mengerti kenapa ia bisa menjadi seperti ini, tapi melihat Naruto terluka seperti itu hatinya terasa sakit, seolah ada tangan yang mencengkram kuat hatinya, itu menyakitkan... Arthuria menghapus air matanya dan menambah kecepatannya, ia harus menghentikan pertandingan itu karena jika tidak, ia akan kehilangan pemuda yang selama ini mampu membuatnya merasakan perasaan dan emosi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya... Kehilangan pemuda yang mampu membuatnya merasakan itu hanya akan menjadi penyesalan seumur hidup, karena bagi Arthuria, Namikaze Naruto... Tidak ada yang bisa mengantikan pemuda itu, tidak seorangpun!.
Arthuria yang tidak fokus karena memikirkan Naruto tidak melihat seseorang didepannya dan akhirnya tabrakan tidak bisa dihindari, kedua orang itu jatuh menghantam lantai cukup keras.
"Ma-Maaf, aku buru-buru jadi..."
"A...Art-chan..."
Arthuria terdiam mendengar sebuah suara yang familiar ditelingannya, juga panggilan itu hanya satu orang yang akan memanggilnya dengan panggilan 'Art-chan' dan dia adalah...
"Shaga..."
Benar, Arthuria melihat Shaga tengah menatapnya dengan wajah gelisah dan khawatir yang terpatri diwajah cantik itu, tunggu? Bagaimana bisa Shaga ada disini? Tidak lupakan 'bagaimana' ia bisa ada disini, yang harus ditanyakan disaat seperti ini adalah 'kenapa' ia ada disini... Lamunan Arthuria terputus ketika Shaga merangka kearahnya dan meremas pakaiannya, Arthuria terdiam melihat Shaga menatapnya dengan pandangan berkaca-kaca...
"Art-chan... Tolong, Tolong bawa aku kearena Byakko... Alu harus sampai disana secepatnya... Jika tidak, dia... Dia akan..."
Arthuria tidak dapat mengingat kapan terakhir kali Shaga meminta tolong padanya dengan ekspresi seperti ini, tidak... Bukan ia tidak dapat mengingatnya tapi memang ia tidak pernah melihat Shaga memohon padanya dengan wajah seperti akan menangis kapan saja... Shaga... Kenapa ia ingin kearena Byakko? Dan siapa 'dia' yang dimaksud Shaga...
Entah kenapa Arthuria tiba-tiba merasakan firasat buruk tentang hal ini, ahh!? Ini bukan saatnya memikirkan hal yang gak perlu! Arthuria mengeleng pelan mengusir kegelisahan yang muncul dihatinya sebelum dengan cepat ia menyelipkan tangannya diantara lutut Shaga dan menggendongnya.
"kau harus menjelaskannya nanti padaku, Shaga..."
Arthuria mengatakan itu selagi ia berlari menbawa Shaga dalam gendongannya, Shaga mengangguk paham. Arthuria berlari dengan cepat menuju Arena Byakko, sesampainya disana, Arthuria langsung bergerak menuju ruang dimana peserta menunggu, sebagai ketua Komite Kedisplinan ia memiliki hak khusus untuk memantau gerakan para peserta agar tidak ada peserta turnamen yang berselisih...
Arthuria dengan cepat bergerak menuju pembatas Arena, baik Shaga dan Arthuria menyaksikan sebuah Arena yang hancur lebur, mata kedua perempuan cantik itu menangkap tiga orang yang berada diarena itu, seorang wasit, Hatake Kakashi... Uzumaki Menma dan Namikaze Naruto...
Menma menatap Naruto dengan seringai tipis, dibelakang Menma terdapat beberapa rantai sihir yang melambai-lambai dengan tenang.
"Sudahlah sepupu, dengan keadaanmu yang seperti itu kau tidak akan menang melawanku, menyerah saja..."
"..."
"Kenapa? Kau tidak bisa mengucapkan kata-kata itu? Hah~ aku tidak punya pilihan lain, jika kau tidak mau menyerah maka..."
Menma mempelebar seringainya dan sedetik kemudian ledakan gelombang Mana menyebar keseluruh Arena, itu adalah tekanan dari seseorang yang hampir sampai pada tingkat [Gold], Menma mengangkat tangannya membuat rantai-rantai yang sebelumnya melambai-lambai dibelakangnya menjadi kaku dan terarah pada Naruto...
"... Aku hanya harus membuatmu [Pingsan]..."
Menma dengan cepat menurunkan tangannya dan layaknya sebuah Komando, rantai-rantai itu bergerak dengan kecepatan tinggi kearah Naruto yang hanya diam ditempatnya, Ophis yang melihat serangan datang melebarkan matanya, jika... Jika masternya terkena serangan itu, sudah jelas Masternya akan benar-benar mati!?...
"Master!? Bergeraklah! Jika kau terkena serangan itu kau akan mati!..."
"..."
"Master!? Aku mohon padamu! Menghindarlah?!..."
Ophis berteriak dengan keras didalam kepala Naruto agar Sang Master menghindari serangan Menma namun Sang Master tidak menjawab sama sekali seakan peringatan Ophis hanyalah angin lalu.
semua yang ada diarena menahan mafas mereka menyaksikan serangan Menma yang terlihat diisi oleh kekuatan penuh dari Menma, itu terbukti dari besarnya aura yang menyelimuti rantai-rantai itu, jika kali Naruto tidak menghindari serangan itu maka kemenangan Menma sudah dapat ditentukan...
Arthuria mengigit bibirnya dengan panik, jika sampai Naruto terkena serangan itu maka sudah jelas Naruto akan benar-benar mati! Ia berharap Naruto sadar akan hal itu dan menghindarinya namun entah kenapa sejak awal pertandingan Naruto tidak melakukan gerakan apapun dan hanya diam menerima serangan dari Menma tanpa berniat mengelak... Ditengah kekhawatiran Arthuria, ia tidak menyadari jika Shaga yang berpegangan pada pagar pembatas arena disebelahnya tengah menarik nafas dalam dan...
"Naruto-kun!?..."
Blaaaaaaar!?
Suara benturan keras bergema diarena itu, serangan Menma menghantam tempat dimana Naruto berada dengan kekuatan penghancur yang sangat besar, debu membumbung tinggi menutupi pandangan semua orang... Semua penonton menatap kepulan debu untuk melihat hasil akhir dari pertandingan ini... Perlahan kepulan debu menghilang dan bayangan seseorang dapat terlihat disana...
"Ya ampun, sedikit saja aku terlambat bergerak maka aku tidak tahu apa yang akan terjadi..."
Menma, Kakashi, dan semua penonton melebarkan matanya melihat Naruto yang berdiri diatas kedua kakinya, Naruto... Dia berhasil selamat dari serangan Menma!?... Semua menatap kearah tangan Naruto dimana disana terdapat sebuah benda yang dibungkus kain dan diikat dengan seutas tali bersentuhan dengan rantai-rantai Menma... Tunggu! Jangan katakan jika Naruto menahan serangan penghancur Menma dengan benda itu!?
Menma menatap tak percaya pada Naruto yang mampu menahan serangan penghancur miliknya, serangan itu sudah diisi kekuatan penuhnya tapi Naruto dapat menahannya dengan mudah, perlahan Naruto menarik kakinya yang terbenam dilantai yang remuk akibat tekanan kuat dari rantai Menma... Iris shappire Naruto melirik ketempat dimana peserta menunggu dimana disana ia melihat dua orang perempuan tengah tersenyum penuh kebahagiaan... Naruto tersenyum pada kedua orang itu sebelum senyuman itu lenyap ketika ia mengalihkan pandangannya dan menatap Menma...
"A-Aku Akui kau hebat bisa menahan seranganku, tapi bagaimana kau akan melawanku dengan tubuh terluka parah seperti itu? Huh?..."
Menma mencoba menghilang rasa terkejutnya pada Naruto yang mampu menahan serangan penghancur miliknya dengan sikap arogan yang memuakkan, Naruto mengangkat tangannya tanpa mengalihkan pandangannya dan perlahan ia merobek seragamnya yang tak layak pakai...
"Menma, kau harus mendapat balasan karena telah berani meletakan tanganmu pada dia yang seharusnya tidak kau usik ..."
Naruto melempar seragamnya yang tak layak pakai itu dan terlihat tubuh berotot milik Naruto, dan hal itu membuat semua melebarkan mata mereka...
"H-Hey... Apa mataku tidak salah lihat, bu-bukankah itu..."
"Y-Ya... Matamu masih normal, aku juga melihat itu..."
"O-Orang macam apa dia, memasang itu sebanyak ini..."
Semua mengumamkan rasa tidak percayanya, tapi dari semua orang Menma-lah yang paling terkejut melihat 'itu' yang terpasang ditubuh Naruto...
"I-Itu... [Rune Magic: Gravity Seal]... Ka-Kau memasang itu ditubuhmu te-terlebih lima Rune..."
Sebagai seorang Uzumaki yang memahami [Rune Magic] Menma dapat mengetahui jika apa yang ada ditubuh Naruto merupakan sebuah [Rune Magic] hanya dalam satu kali lihat, Rune Gravity Seal, itu adalah sebuah Rune Magic yang biasa digunakan dalam latihan ekstrem dimana orang akan memasang Rune Magic ditubuh mereka untuk menambah berat beban pada tubuh mereka, satu Rune Magic Gravity Seal diperkirakan seberat 10 kg dan dilihat dari jumlah simbol Aksara ditubuh Naruto yang jika dihitung berjumlah lima maka beban ditubuh Naruto bertambah 50 kg...
Orang ini... Dia memasang beban seberat itu dan dapat bergerak dengan normal... Naruto mengabaikan perkataan Menma dan mengangkat tangannya membentuk sebuah gesture yang ibunya, Kushina sebut sebagai Segel Insou... Dan dengan suara pelan yang tak ada bedanya seperti sebuah bisikan, Naruto melepas segel ditubuhnya.
[Seal Release]
Perlahan Simbol Aksara sihir itu memudar dan lenyap seolah mereka tidak pernah ada, Naruto menatap simbol dilengannya yang menghilang, tubuhnya terasa lebih ringan dari sebelumnya, dengan begini ia bisa bergerak dengan lebih leluasa, Naruto mengalihkan pandangannya pada Menma...
"Saatnya kau membayar atas semua hal yang pernah kau lakukan... Menma."
Setelah mengatakan itu Naruto menekuk lututnya dan dalam satu kali hentakan Naruto melesat dengan kecepatan tinggi memangkas jarak dengan Menma, Menma tersentak ketika melihat Naruto sudah ada didepannya dan dalam sekejap, Menma merasakan rasa sakit pada bagian perutnya dimana benda yang dipegang Naruto menghantam perutnya dengan telak...
Wuuuuush!?
Blaaaaaar?!
Menma dikirim menuju dinding Arena dan membentur dinding dengan sangat keras, ia memuntahkan darah keudara alibat damage yang ia terima, tak sampai disana Menma kembali merasakan rasa sakit pada punggungnya ketika tubuhnya didorong oleh sebuah tangan yang mencengkram lehernya...
Blaaaaar!
Dentuman besar kembali bergema diseluruh Arena, para penonton hanya mampu diam karena untuk kesekian kalinya melihat hal mengejutkan yang dilakukan Naruto. mereka melihat tepat setelah Menma terkirim menuju dinding Arena Naruto ikut mengejar Menma dan akhirnya ia mencekik leher Menma dan menghantamkan tubuh Menma kedalam dinding...
"Chough!..."
Menma terbatuk darah merasakan rasa sakit pada punggungnya, iris Violet miliknya menatap kearah Naruto yang ada didepannya, Menma tidak dapat melihat ekspresi dari Naruto karena Naruto menundukan kepalanya.
"Biar aku tanyakan satu hal padamu, Menma..."
Menma merontah berusaha melepaskan diri dari cengkraman Naruto pada lehernya, cekikan Naruto semakin menguat membuat Menma kesulitan bernafas...
"Apa kau yang telah mengutus Kimimaro..."
Menma menegang mendengar nama Kimimaro, Naruto terdiam melihat reaksi dari Menma, sudah dapat dipastikan jika orang inilah yang mengutus Kimimaro untuk melukainya dengan cukup serius, tapi sayangnya Kimimaro berhasil takluk ditangan Naruto, Menma meronta semakin kuat ketika Naruto menguatkan cekikannya...
"Satu hal lagi... Apa kau juga yang merencanakan penculikan terhadap seseorang yang berada diruang pemulihan..."
Tubuh Menma Kembali Menegang, melihat hal itu Naruto dengan cepat langsung melempar Menma ketengah Arena, membuat Menma berguling-guling diatas batu paving outih sebelum berhenti, Menma melebarkan matanya ketika ia melihat Naruto sudah diatasnya dan dengan cepat mengayunkan benda yang ia bawa menghantam perutnya dengan keras!
Blaaaaaaar!
Retakan besar menyebar tepat dibawah Menma yang memuntahkan darah keudara, tak henti sampai disana Menma kembali merasakan rasa sakit pada wajahnya ketika Naruto menendang wajah Menma dengan kekuatan penuh...
Menma berguling-guling dilantai sebelum akhirnya menabrak dinding dengan keras, semua dibuat membisu menyaksikan Uzumaki Menma yang sebelumnya menyiksa Naruto kini malah disiksa balik oleh Naruto... Menma meringis merasakan rasa sakit yang luar biasa disetiap inchi tubuhnya...
Arthuria dan Shaga melihat pertarungan antara Menma dengan Naruto dalam diam, mereka tidak bisa mengatakan apapun dengan apa yang terjadi diarena dimana Naruto membalik keadaan dan menyerang Menma tanpa Ampun.
"Ah~ dia mulai mengamuk..."
Arthuria dan Shaga mengalihkan pandangannya mereka kebelakang dan mereka berdua melihat beberapa orang berjalan kearah mereka, Ikuse Tobio yang ada dibaris depan mengaruk belakang kepalanya dengan malas...
"Kalian, bukankah kalian sedang..."
"Tidak masalah, Hime-sama kami sudah menyelesaikan tugas dengan baik."
Miya menjawab dengan senyuman ramah seperti biasa, Shaga menatap Miya dalam diam, seperti Miya tidak menyadari jika bagian pipinya terdapat sedikit noda merah yang ia yakin itu adalah darah... Arthuria menatap orang-orang didepannya dengan pandangan bingung, mereka... Bukankah mereka adalah Knight berbakat yang memenangkan turnamen secara beruntun?.
"Ah, Nee-sama, kau juga ada disini?."
Arthuria mengalihkan pandangannya dan menatap sosok adik laki-lakinya yang tengah berjalan kearahnya dengan kalem seperti biasa. Pandangan Arthuria turun sedikit kebawah dimana ia melihat seorang perempuan yang berada digendongan Arthur, perempuan itu berusaha menutupi wajahnya yang merah karena malu.
"A-A-Arthur...san, tu-turunkan aku... I-ini memalukan..."
"Aku dengan tegas menolak..."
"Ke-Kenapa!..."
"Okita-san, sekarang kau tidak bisa mengerakan tubuhmu karena kelumpuhan sementara yang kau alami, juga sudah menjadi tugasku sebagai seorang Knight untuk menolong perempuan yang tengah kesulitan... Terlebih perempuan itu semanis dirimu, Okita-san..."
"Auuuuu..."
Arthuria menatap aneh Arthur yang tercelup kedalam suasana merah jambu, ia memutuskan mengabaikan sang adik yang tengah agak kurang waras itu... Dan mengalihkan pandangannya pada pemuda yang jika tidak salah bernama Ikuse Tobio yang tengah menatap kearah Arena dimana Naruto menatap dingin Menma yang terbatuk darah... Iris Pale-Grey menyipit ketika ia melihat Naruto membuka tali yang mengikat kain pada benda yang selalu ia bawa kemana-mana itu...
"Heh~ jadi akhirnya ia memutuskan untuk mengamuk ya..."
"Hm? Apa maksudmu..."
Arthuria mengerutkan dahinya mendengar perkataan Ambigu dari Tobio yang tersenyum dan meletakan sikunya diatas pembatas selagi ia menikmati hal apa yang akan terjadi.
"Lihat dan perhatikan Pendragon-sama, saat dimana Naruto menunjukan jati dirinya..."
Arthuria dan Shaga mengalihkan pandangannya dan menatap kearah Arena dimana Naruto tengah membuka ikatan pada benda yang selalu ia bawa-bawa kemana-mana... Dan terlihatlah sebuah benda berwarna transparan yang berkilauan diterpa sinar matahari.
Menma perlahan bangkit dan menatap bengis Naruto yang menatap dingin dirinya, Menma terbatuk sekali sebelum ia akhirnya berhasil berdiri diatas kedua kakinya yang bergetar.
"Sialan! Kau akan menerima balasan untuk ini, Naruto!?..."
Menma kembali mengeluarkan rantai magis miliknya dan memfokuskan mana miliknya pada rantai magis-nya yang dalam sekejap diselimuti aura tipis yang berbahaya... Menma dengan cepat menggerakan rantai miliknya kearah Naruto berniat memberikan luka serius pada Naruto yang hanya diam menatap serangan Menma, ketika jarak rantai dengan Naruto hanya tinggal sedikit lagi tiba-tiba...
Trank!
Trank!
Trank!
Tobio mengulas senyuman tipis ketika melihat rantai-rantai milik Menma terpental ketika sedikit lagi akan mengenai Naruto, Shaga dan Arthuria melebarkan matanya melihat hal itu, apa yang terjadi? Kenapa Rantai-Rantai itu terpental ketika sedikit lagi rantai-rantai itu menyentuh Naruto...
"Tu-Tunggu bu-bukankah itu..."
Okita berkomentar dengan mata melebar membuat semua mengalihkan pandangan mereka dan menatap Okita yang terlihat terkejut...
"Okita-san, apa kau tahu apa yang Naruto lakukan?."
Arthur bertanya pada Okita namun bukannya menjawab Okita malah mengalihkan pandangannya dan menatap Miya yang hanya bisa memasang senyuman ramah...
"Miya-san... Kenapa Naruto-san bisa menggunakan teknik [Iai] milikmu..."
"Ufufu, seperti yang diharapkan dari Okita-chan, ya itu benar teknik yang baru saja Naruto gunakan adalah Teknik pedang-kilat [Iai]... Itu adalah sebuah teknik One-Cut Killing dimana teknik ini mengandalkan kecepatan refleks otot dan jalur pernafasan yang terkontrol dengan baik untuk menghasilkan serangan yang tidak bisa diikuti oleh mata..."
"[Iai] milik Naruto memang tidaklah secepat milik Miya tapi itu sudah cukup menjadikannya sebagai Ahli [Iai] kedua dibawah Miya..."
Tobio menatap kearah Arena dimana Naruto yang menatap datar Menma yang mengeraskan wajahnya dengan marah...
"Kau pikir dengan itu kau sudah menang dariku!? Jangan bercan-,"
Krak!
Krak!
Krak!
Pyaaar!
Menma melebarkan matanya ketika ia melihat rantai Magis miliknya muncul retakan pada rantai magis miliknya, retakan itu dalam sekejap menyebar sebelum akhirnya hancur berkeping-keping, Naruto... Dia berhasil menghancurkan rantai Magis miliknya yang sudah ia perkeras dengan memasukan [Mana] didalamnya dan itu dihancurkan seperti melempar kaca tipis dengan batu kerikil...
"Apa yang terjadi... Naruto-kun tidak melakukan apapun tapi kenapa..."
"Biarkan aku menjelaskan pada kalian..."
Shaga mengalihkan pandangannya dan menatap Cao Cao yang tersenyum tipis sebelum Cao Cao mengalihkan pandangannya pada Naruto.
"Naruto-san, baru saja menyerang titik lemah dari rantai Magis Menma... Didunia ini semua memiliki kelebihan dan kelemahan, itu bersifat mutlak dan tak terbantahkan, Naruto mengetahui itu dan menganalisis kekurangan dari rantai Magis Menma dan ketika ia menemukan struktur yang menjadi titik lemahnya pada rantai itu tanpa ragu Naruto langsung menghancurkan titik terlemah itu dan akibatnya Rantai Magis Menma kehilangan kekuatannya dan hancur berkeping-keping..."
Semua terdiam mendengar penjelasan dari Cao Cao, simpelnya dalam struktur sebuah bangunan jika seseorang menghancurkan tiang utama yang menjadi penyanggang bangunan itu maka bangunan itu akan langsung runtuh, dan seperti itulah yang dilakukan Naruto ia menganalisis titik terlemah dari serangan Menma dan menghancurkannya tanpa ampun...
"Dalam kelompok penelitian Ilmu Alam, Cao Cao adalah seorang Ahli Taktik, kemampuan Analisisnya terhadap situasi sangatlah menakutkan... Naruto juga seperti itu, dia adalah ahli taktik dengan kemampuan Analisis yang satu tingkat dibawah Cao Cao, jika Cao Cao adalah ahli taktik nomer satu diacademy ini, maka Naruto adalah ahli taktik nomer dua diacademy ini..."
Semua menatap kearah Tobio yang berucap dengan nada santai dan terus menyaksikan pertarungan antara Menma dengan Naruto, Tobio menatap Naruto yang perlahan mengangkat benda transparan dengan bentuk yang menyerupai pedang namun tidak memiliki sisi yang disebut bilah, dengan katalain itu terlihat seperti tongkat yang menyerupai pedang.
Naruto mengalirkan Mana miliknya dan dengan cepat benda yang dipegang Naruto mengeluarkan sinar yang begitu indah, Naruto menatap Menma yang mengertakan giginya dengan kuat...
[Original Style: Great Wave]
Naruto dengan cepat menebas udara kosong dan diwaktu yang bersama sebuah pedar energi tipis meleaat dengan kecepatan tinggi, melihat serangan Datang Menma langsung mengaktifkan sihir pertahanan, Tobio tersenyum tipis...
"Pertahanan Menyedihkan..."
Booooom!
Ledakan hebat menguncang Arena ketika pedar energi Naruto bertabrakan dengan sihir pertahanan Menma, asap pekat menyelimuti tempat Menma berada, seluruh penonton distadion terdiam menyaksikan serangan mematikan dari Naruto, serangan itu terlihat simpel namun ternyata memiliki daya hancur yang sangat besar...
"Kalian tahu, Naruto memiliki julukan sebagai [The True Monster] dari Azazel-sensei..."
Tobio bergumam pelan membuat Arthuria dan Shaga menatap kearahnya dengan cepat, Naruto mendapatkan sebuah julukan dari seorang [Fallendown Knight] Azazel! Calon Archduke dan Calon Ratu itu tahu dengan jelas siapa Azazel, dia adalah satu-satunya Knight yang dikatakan setara dengan Jiraiya-sama, baik dari aspek fisik, kekuatan dan pengalaman mereka berdua dinyatakan seimbang...
Mungkin banyak yang tidak mengetahui jika julukan dari Lord termuda sepanjang sejarah, [Yellow Flash], Minato dan Rune Breaker [Red Hanabero], Kushina adalah julukan yang diberikan oleh Azazel dan Jiraiya sebagai bukti jika mereka berdua mengakui kemampuan dari kedua orang itu...
Dikatakan jika untuk mendapatkan pengakuan dari Jiraiya dan Azazel itu sangat sulit karena mereka memiliki kriteria sendiri sebelum mengakui seseorang, berbeda dengan Jiraiya yang hanya melihat seseorang dari talenta, maka Azazel-sensei melihat dari hal yang berbeda... Dan apa itu, orang itu sendiri tidak ingin memberitahunya pada siapapun...
Banyak orang yang ingin mendapatkan pengakuan dari dua Knight hebat ini karena konon siapa yang mendapatkan pengakuan dari Jiraiya dan Azazel maka mereka akan dilirik oleh para bangsawan bahkan tak jarang ada yang akan dibawa masuk kedalam kebangsawaan mereka... Dan Naruto, ia berhasil mendapatkan pengakuan dari Azazel bahkan sampai mendapatkan julukan [The True Monster] dari Azazel...
"Alasan kenapa Azazel-sensei memberikan julukan itu pada Naruto adalah karena kami semua unggul dalam satu aspek, tidak ada yang bisa mengalahkanku dari segi kekuatan, Cao Cao dari Segi strategi, Miya dari segi teknik berpedang, Okita dari segi kecepatan, Lee dari segi hand combat dan Arthur dari segi silent-killing... Kami semua ahli dalam bidang masing-masing tapi Naruto, ia berbeda... Ia tidak unggul hanya dalam satu aspek tapi ia meratakan kemampuannya hingga ia menempati posisi nomer dua diantara kami semua.."
Shaga dan Arthuria terdiam mendengar perkataan Tobio, nomer dua dalam semua aspek... Itu artinya, Naruto menyeimbangkan semua kemampuannya baik dalam kekuatan, Strategi, teknik berpedang, kecepatan, hand combat, dan Silent Killing, jika dia adalah yang nomer dua maka untuk mengalahkan Naruto dibutuhkan mereka berenam sekaligus untuk bisa mengalahkannya... Karena dilohat dari sisi manapun menjatuhkan Naruto yang memiliki setiap Aspek kemampuan dengan keunggulan satu aspek saja maka akan menjadi sangat sulit... Tobio tersenyum tipis melihat jika kedua calon Archduke dan Ratu itu dapat memahami apa yang ia katakan...
[The True Monster]
Julukan yang diberikan oleh Azazel karena kekuatan Naruto yang dapat mengantikan siapapun, ia adalah seorang Balancer, dimana ia akan menutup Aspek yang hilang dari sebuah komponen tim, perannya tidaklah berguna jika dipandang dari sudut seorang dengan satu aspek kemampuan saja tapi jika dilihat lebih luas maka mereka yang dapat menyeimbangkan seluruh Aspek kemampuan benar-benar seorang Monster sejati...
"Keparat!?..."
Naruto menatap kearah kepulan debu dimana ia melihat Menma dalam keadaan terluka parah, Naruto merasakan Menma meningkatkan kemampuannya hingga maksimal, rantai-rantai perlahan menyeruak dari bagian belakang Menma...
"Oi, Oi, Oi... Kau bercandakan..."
"I-itu banyak sekali..."
Arena Byakko mulai bising dengan suara yang ada disana sini, mereka tidak dapat mempercayai apa yang mereka lihat, Naruto menatap datar puluhan rantai yang melambai dibelakang Menma, untuk ukuran seorang Uzumaki menyebut Menma sebagai seorang jenius yang berbakat sepertinya tidak berlebihan jika mereka melihat puluhan rantai yang muncul dibelakang Menma...
"Naruto...!? Aku akan membunuhmu..."
Menma berteriak dengan emosi yang sudah mencapai puncaknya, Naruto dengan keadaan terluka parah seperti Menma hanya memejamkan matanya dan menarik nafas sebelum ia perlahan menyiapkan fighting stance... Dan sedetik kemudian dunia jatuh dalam kesunyian...
Semua yang orang yang ada diarena Byakko tanpa alasan yang jelas merasakan hawa tidak mengenakan memenuhi seluruh Arena Byakko, semua mengigil hebat merasakan hawa tidak enak ini, diruang tunggu Shaga bergetar ketakutan... Ini, hawa tidak mengenakan ini... tidak salah lagi ini adalah...
[Spirit Realization]
Ini adalah kemampuan untuk mewujudkan nafsu membunuh dalam wujud yang begitu nyata, mengumbar nafsu membunuh hingga melewati garis horizon hingga dapat dilihat dengan wujud nyata, dan saat ini semua dapat melihat dengan jelas wujud asli nafsu membunuh dari seorang Namikaze Naruto...
Tepat dibelakang, terlihat empat makhluk yang sangat menakutkan, seekor ular-naga yang terlihat memiliki panjang yang tak dapat diukur, seekor Burung Hitam yang memancarkan hawa mengerikan dari mata merah menusuknya, hewan buas berkepala tiga dengan enam pasang sayap, dan seekor Monster dengan sayap yang begitu besar... Itu adalah wujud dari Nafsu membunuh Naruto...
Tobio, Cao Cao, Miya, Lee, Arthur, Okita, dan Arthuria merasakan terror nyata dari Naruto, insting mereka mengatakan jika orang itu... Bukanlah lawan yang dapat mereka kalahkan, Menma bergetar dalam rasa takut ketika tubuhnya merasakan sensasi menakutkan yang dilepaskan Naruto... Dipandangannya saat ini, Naruto sudah menjadi seseorang yang disebut sebagai Monster.
Naruto merendahkan posture tubuhnya, benda ditangan Naruto perlahan mengeluarkan aura yang tidak mengenakan, lalu dalam sekejap Naruto menghilang dari tempatnya dan dalam sekejap ia sudah berada didepan Menma yang menjerit takut dengan kemunculan Naruto dan berusaha menyerang Naruto dengan putus asa.
Naruto mengabaikan tindakan Menma, lalu dengan cepat ia melakukan tebasan kekanan lalu membalik tubuhnya kekiri dan melakukan tebasan pada sisi kiri sebelum akhirnya ia menyerang dari atas... Tak berhenti sampai disana Naruto dengan cepat memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat dan berpindah kebelakang Menma...
Dengan kecepatan yang tak bisa diikuti oleh mata Naruto melakukan tusukan pada punggung Menma. 2... 4... 8... 16... 31... Naruto menghentikan tusukannya dan menarik senjatanya kebelakang lalu menguatkan kuda-kudanya... Dengan suara pelan yang tak ubahannya gumam-an Naruto menyebutkan nama tekniknya...
[Namikaze Style: Enma]
Jraaaash!?
Semua melebarkan matanya ketika mereka melihat Menma mengeluarkan darah dari sekujur tubuhnya, mereka tidak dapat melihat apa yang terjadi yang mereka lihat hanyalah Naruto yang melakukan sesuatu dengan kecepatan yang tak bisa dilihat mata telanjang, Menma memuntahkan darah sebelum akhirnya ia terhuyung jatuh membentur tanah dengan keras, perlahan kesadaran Menma mulai menjauh, Menma mengangkat wajahnya dan melihat punggung Naruto dimana ia melihat sebuah lambang aneh seperti sayap berwarna merah crimson dipunggung Naruto, Menma menatap lambang itu sebelum detik selanjutnya semua menjadi gelap gulita.
[Pemenangnya... Divisi Knight... Namikaze Naruto!?]
[Uwwwwwooooooo]
Ledakan kegembiraan bergema diarena Byakko, mereka semua baru saja menyaksikan pertarung yang sangat memacu adrenalin, dimana Naruto berhasil membalikan keadaan yang tidak menguntungkan menjadi kemenangannya, Naruto menatap tangannya yang bergetar menahan beban rasa nyeri ditubuhnya...
'Master... Jangan paksakan dirimu, kau masih dalam keadaan belum pulih sepenuhnya...'
"Hah~, aku mengerti... Maaf membuatmu khawatir, Ophis."
'Emm, akulah yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa membantu kesulitan yang Master alami, aku minta maaf master..."
"Maa, Maa, biar adil, kita saling meminta maaf dan memaafkan bagaimana?..."
'Uhm, setuju...'
Naruto tersenyum tipis mendengar jawaban Ophis, pasti sekarang Ophis tengah mengangguk dengan imutnya, Naruto menghela nafas dan melangkah meninggalkan arena dengan langkah Goyah, entah bagaimana tapi Naruto akhirnya sampai diruang tunggu sesaat sampai disana Naruto disambut wajah bengong dari teman-temannya...
"Minna-san? Kenapa kalian melihatku seperti itu?..."
Suara Naruto membuat semua tersadar dan tanpa banyak waktu lagi seseorang diantara mereka langsung berlari dan memeluk Naruto.
Grep
Naruto terdiam ketika melihat seseorang dengan cepat berlari kearahnya dan memeluknya, orang yang bereaksi pertama itu adalah Tunangan Naruto, Ayame [Alvarez] Shaga... Naruto terdiam mendengar suara isak tangis dari Shaga...
"Bodoh... Bodoh... Bodoh... Dasar kau bodoh! Kau membuatku hampir mati ketakutan, aku takut... Aku takut kau akan mati dan meninggalkanku..."
Naruto tersenyum mendengar perkataan dari tunangannya, dengan lembut Naruto membalas pelukan Shaga dan membawanya masuk kedalam dekapannya tidak memperdulikan jika Shaga akan terkena noda darah miliknya, Naruto mengeratkan pelukannya untuk meredakan rasa khawatir dari tunangannya ini.
"Maaf, aku membuatmu khawatir, Hime."
"Uhm... Aku yang seharusnya meminta maaf, karena aku, kau jadi seperti ini... Padahal aku adalah tunanganmu tapi aku malah selalu merepotkanmu."
Naruto tersenyum menatap Shaga yang sedikit lebih pendek darinya, ia dengan pelan menghapus lelehan air mata dipipi Shaga.
"Shaga dengarkan aku, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku, kesedihanmu adalah kesedihanku juga, selama kau bahagia maka aku tidak masalah direpotkan olehmu setiap hari, selama kau senang dengan itu maka repotkanlah aku."
"Naruto-kun..."
Ditengah keromantisan antara Shaga dan Naruto ada sebuah hati yang hancur berkeping-keping, Arthuria menatap kedua orang didepannya dengan mata bergetar... Naruto adalah tunangan dari Shaga... Itu artinya orang yang selama ini selalu diceritakan oleh Shaga dan dirinya adalah orang yang sama...
"Naruto... Kenapa..."
Naruto terdiam mendengar sebuah suara begitu yang lirih suara itu terdengar cukup familiar ditelingannya, dengan cepat Naruto menoleh kesamping dan membulatlah matanya ketika melihat diantara teman-temannya Arthuria tengah menatapnya dengan lelehan air mata...
"Arthuria... Tunggu, Arthuria!?..."
Arthuria tidak mengubris panggilan Naruto dan berlari dengan sekuat tenaga meninggalkan pemandangan yang menyayat hati itu, Naruto berusaha mengejar Arthuria namun tiba-tiba tubuhnya terasa sakit dan akhirnya terjatuh membentur lantai...
"Sial... Kenapa disaat seperti ini..."
Naruto berusaha bangkit namun kekuatannya telah habis saat bertarung dengan Menma, jangankan bangkit menggerakan jarinya saja ia tidak mampu, Naruto mengeraskan wajahnya, ia tidak pernah menyangka jika diantara para sahabatnya ada Arthuria disana... Dan ia melihat semuanya...
'Aku tidak tahu Master, tapi aku yakin itu sangat menyakitkan...'
Naruto mengertakan giginya hingga terdengar cukup nyaring, ia sadar jika sekarang Arthuria tengah tersayat sembilu yang menyakitkan, bayangkan saja orang yang telah kau pilih untuk menikah denganmu malah menjalin hubungan dengan orang lain yang merupakan sahabat dekatnya sendiri, itu menyakitkan, sangat menyakitkan...
"Arthuria!?..."
And Cut~
Ya, gayung bersambut beton, air susu dibales kopi sianida, mungkin dua kalimat ini bisa mengambarkan suasana hati dari seorang Arthuria Pendragon, rasanya menyakitkan dimana orang yang kau cintai ternyata menjalin hubungan dengan sahabatmu, menyakitkan... Sama seperti White Album, Aldnoah Zero, Erased, Otome dori, Boku Kanojo to demo... Padahal ini semua bukan anime balapan, tapi kenapa pada jago banget nikung... Why!?
Ya, lupakan itu yang jelas untuk saat ini Naruto telah berada dalam masalah serius dimana ia telah mematahkan hati dari seorang calon Archduke Pendragon, jika dibiarkan layaknya maka sama luka yang tidak diberi antiseptik, kuman akan masuk dan menyebabkan infeksi yang berakibat buruk pada seluruh tubuh, tadi hanya masalah kecil seukuran kutu membesar sampai seluruh tubuh... Maa, aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi marilah mulai dengan menduga-duga apa yang akan terjadi... Ufufufu, aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya so lihat saja Nanti...
Menma telah dihajar habis-habisan oleh Naruto dengan Sword skill: Enma, ini adalah skill gabungan antara [Turning Swallow Strike]+teknik dari Clan Hyuga yang apalah itu namanya ane lupa... Maa pokoknya itu memberikan dampak yang lumayan besar untuk tubuh Menma, ya sejauh ini aku rasa bunuh-membunuh akan sedikit, membunuh Menma akan menyenangkan tapi apa dengan begitu saja akan membuat puas? Jelas tidak...
Juga, yang menanyakan Apakah Menma dan uzumaki Clan ada hubungan dengan Serikat Balam, maka jawabannya jelas masih samar, aku belum tahu akan kah menjadikanbya seperti apa Uzumaki Clan ini, Juga ada yang menanyakan, apakah anggota Serikat Balam itu isinya Manusia semua? Tidak, Tidak, Tidak, Hexa-chan dan Lord H bukanlah Manusia, bisa dibilang Serikat Balam adalah perkumpulan para Monster...
Seekor Monster untuk membantai seekor monster... Bukankah dengan begitu akan menarik, ufufufu~ Duel para Monster akan menemani di Season dua, muuu~ entahlah jika aku memiliki waktu untuk itu...
Maa, Maa, Maa sampai jumpa dichapter depan, see You and jaa ne!?...
Next Chapter: Keputusan
Phantom Out~...
