*BEWARE! CHEAP SPOKEN (KAGAK USAH DIBACA KALO KAGAK NIAT!)*

Penyesalan terbesar dari kehidupan seorang PyroMystic *coret*untuk minggu ini*coret*:

Baru2 ini saya gentayangan di tumblr dan entah bagaimana menemukan yang namanya DW CONFESSION. Singkat cerita, saya menemukan sebuah Confession yang sangat menarik.

"I was playing WO2 the other day and while playing as Zhen Ji, I noticed something interesting. Her friendship with Lu Xun kinda makes me think of a one-sided older-sister/younger-brother relationship, its adorable but also kinda sad.
While chatting with him in the camp she says that he has a brigther future ahead of him due to his skills, and he thinks she referring to him sighting alongside Cao Pi. He then comments taht he will do his best not to fail her lord's expectation.
Then what happened next shocked me. Zhen Ji became hurt, saying "My, you really hate me, don't you? Am I not allowed to have high hopes for you?"
Despite her harsh nature she seems to genuinely care for Xun and wants the best for him, but he doesn't see that. It makes me feel so sad seeing her become hurt over this."

*le garuk tanah trus gantung diri di tiang jemuran*

DAT ONE CONFESSION.

Seriously, ini baru pertama kali dalam kehidupan seorang PyroMystic memikirkan relasi antara Lu Xun ama Zhen Ji, entah yang di DW ato di Phoenix FORM Series. Kalo semisalkan ini DW, saya masih bisa memaafkan diri sendiri. Pasalnya, mereka cuma pernah terlihat di cutscene satu kali, dan itu pun pas DW5. Dan itu pun Lu Xun nggak ngomong sepatah kata pun. TAPI kalo di Phoenix FORM series, jujur saya nggak bisa memaafkan diri saya sendiri... *lompat dari puncak Tugu Pahlawan*

Detik inilah saya baru nyadar bahwa asal mula konflik cerita ini adalah pas Cao Pi menginginkan Yangmei jadi selirnya, meski dia udah punya permaisuri sendiri yakni Zhen Ji. Yups... Meskipun nggak terlibat secara langsung, Zhen Ji harusnya punya sebuah role yang besar. Dan, dengan gobloknya saya bikin dia cuma muncul demi cat-fight ama Yangmei di Unbroken Thread.

Why? Why saya nggak memikirkan seperti yang penulis confession itu sebutkan? Kenapa kok saya bikin Yangmei sempat ketemuan ama Zhen Ji tapi Lu Xun kagak? Padahal saya bisa membuat berbagai macam relationship yang menarik antara Lu Xun ama Zhen Ji. Yang terpikir di kepala saya saat ini cuma, seperti yang penulis confession di atas sebutkan, hubungan seperti jiejie dan didi. Tiba-tiba bahkan saya kepikiran membuat Zhen Ji jadi unique character yang kalo di depan Yangmei jadi antagonist banget, sementara di depan Lu Xun jadi seperti 'team-mom' figure.

Dan saya lebih nggak bisa memaafkan diri saya sendiri sesudah apa yang saya lakukan terhadap Cao Pi. Benar-benar saya nggak adil banget.

Maksud saya, saya membuat character development yang luar biasa terhadap Cao Pi. Tapi Zhen Ji? Entah kapan saya nulis terakhir tentang Zhen Ji. Paling2 ya chapter2 awal dari Unbroken Thread...

*sigh* inilah penyesalan terbesar saya. Sumpah saya melupakan Zhen Ji... *bunuh diri*

Emang bener sih Zhen Ji termasuk character cewe yang nggak saya sukai (meski saya lebih nggak suka Bao Sanniang ama Xiao Qiao). Tapi Xiao Qiao muncul berkali-kali, dan Bao Sanniang sempat saya masukkan (meski sebagai filler). Sekarang, apapun yang saya lakukan untuk Zhen Ji udah terlambat. Pasti kelihatan maksa banget dan ngetwist.

Mungkin... kalo suatu saat saya me-rewrite kisah ini, ato menerjemahkan jadi Inggris, saya bakal mengubah ini. Sumpah...

Mohon maaf untuk para readers... maklum, penulis amatiran...

*END OF CHEAP SPOKEN*

Sekarang saatnya Reply Review~

Nakamura Aihara: Napa kesal? XDDDD Anda mau baca cerita cacad saya dan meminjamkan OC ke saya aja saya udah seneng banget :) Ehehehe... moga2 saya berhasil membuat Fei Tiao tetep in-character... saya takut dia jadi OOC... Oh, dan yups, itu OC baru yang akan direveal sesaat lagi. Tunggu tanggal mainnya... *dihajar*

aldaluxun: Fans Lu Xun juga? YEAAAAHHHH~ We're in the same boat *dihajar gara2 nggak penting* Makasih... :) ehehehe... Hmmm... mengenai Abang Zhao Yun, Abang Jiang Wei, dan Neng Yan Lu... errrr... sebenernya mereka masih baik2 aja, kok :) Zhao Yun kan bareng2 Lu Xun, sementara Jiang Wei ama Yan Lu berhasil lolos. Dan lagi itu alasannya gara2 Liu Bei nggak tau :) Coba baca di chap2 sebelumnya... XDDDD

zeyyens: Ehehehe... itu Guan Ping nggak jahat, kok :) Daripada jahat, saya lebih suka bilang dia 'diperalat'. Makanya jadinya kelihatan jahat... Wkwkwkw... Moto PyroMystic dalam membuat fanfic adalah: TIDAK PERNAH MENJADIKAN CANON CHARACTER SEBAGAI MAIN ANTAGONIST! Wkwkwkw...

Saika Tsuruhime: Yups~ saya juga mau lempar clurit~ Tapi Lao Zucong masih berguna untuk FF ini~ (lagian kalo nggak ada Lao Zucong, nggak ada konflik) Mengenai adegan tersebut... XDDDD pure itu idenya saya dapet dari Silvermoonarisato yang pemilik Ying Fang sekaligus Wei-ist paling setia yang pernah saya temui... XDDDD Emang bener, kok... Guan Ping dimanipulasi *pasang tampang serius abis itu dibacok* Dan dua OC itu... Yups... *ikutan ngakak ala Sima Yi abis itu dikubur hidup2*

Psycho Childish: Halo, Ru! :) Ada apa dengan Cao Pi? XDDD Dan 2 bocah itu mampang biar makin GREGET *dibantai* WOAH~ begitu, ya... Wkwkw... Berarti Fanfic saya ini berkhasiat banget, ya... XDDDD PRAKTEKKAN! PRAKTEKKAN, RUUUUU! *kibar bendera abis itu dihajar se-massa author FFn*

Mocca-Marocchi: Waduh... o.O nggak apa2 kah dengan UTSnya? Saya akan sabar menunggu, kok~ waduhsayanggaktegaOCsekerenAokidanHuangLingjadiday ang Dan... errr... emang sih rumah itu besar :) tapi kalo di China, rumah itu lumayan bisa untuk kalangan pedagang sukses~ Kalo mau cari tau lebih jauh, Mocca bisa google 'Si he yuan' (四和院) *dinuklir gara2 sok arsitek* Wah, saya seneng anda menyukai kemunculan Jing Ai~ Ehehehe... mengenai kedua OC baru tersebut, mereka adalah OCnya salah satu readers~ XDDD Wkwkwk...

Wokey! Di chap ini kita masih belum balik ke Lu Xun n co. Kita memunculkan chara2 yang udah lama nggak nongol, PLUS saya memunculkan seorang character baru dari DW8. Saya ingat ada seorang readers yang nanya di review apakah character ini muncul. Saat itu saya jawab nggak. Tapi toh akhirnya saya munculkan juga~ *dibacok*

Happy reading!


"Kau lihat dia, kan?"

"Iya... Die, siapa itu?"

"Dia adalah putri sulung Kaisar Liu Bei, gongzhu Liu Yan Lu. Dia adalah bunga kebanggan Shu. Tidak ada satupun putri di China ini yang bisa menyamainya."

"..."

"...? Kenapa kau memandanginya terus seperti itu?"

"Die?"

"Iya?"

"Gongzhu Liu Yan Lu itu... dewi dari langit, kah?"


Pagi itu terasa janggal. Matahari telah terbit di balik gunung-gunung yang tinggi di utara. Namun tidak hanya cahayanya tak nampak, tetapi juga kehangatannya. Apakah sang fajar lalai memberikan cahaya dan kehangatan itu? Mungkin tidak. Matahari tidak akan pernah lupa memcurahkan kedua sumber kehidupan itu dengan sia-sia.

Kabut musim dingin itulah yang menghalanginya. Ya, seolah pada hari ini semua orang telah menjadi buta dibalik ketercelikkan mereka. Selaput tipis berwarna abu-abu menutupi bola mata setiap orang, dan selaput tipis itu adalah kabut tebal hari ini.

Di hari yang janggal itulah, terlihat seorang gadis muda memacu kudanya membelah sang kabut. Bukan, hari ini bukanlah hari tak bernama. Bukan sebuah hari dimana para 'kebetulan' berhimpun. Gadis muda itu bukan muncul secara kebetulan. Ia tidak sedang asal memacu kudanya.

Ia punya sesuatu. Tujuan.

Jika ia tidak punya tujuan, mungkinkah ia nekat pergi ke Gunung Emei pada hari yang dingin dan berkabut ini? Bukankah istana yang hangat dan nyaman itu adalah rumahnya? Tidak, ia bukanlah seorang putri. Tetapi kedudukannya hampir setara dengan putri.

"Jiao Xiu(1)..." Gadis itu berujar sambil terus memacu kudanya. Kata-kata selanjutnya membuktikan bahwa ia bukanlah pemilik sah kuda itu. "Sabar, ya... Sebentar lagi kita akan bertemu majikanmu..."

Kuda putih yang gagah namun anggun itu bukanlah miliknya, namun entah sejak kapan ia menggantikan posisi sang pemilik yang sesunggunya. Sama pula dengan posisi putri. Ia bukan putri di istana. Namun entah bagaimana ia telah mengisi kekosongan yang ditinggalkan sang putri yang sesungguhnya.

Hari ini adalah hari dimana ia akan bertemu putri itu.

Sampailah ia di sebuah pondok sederhana di lereng Gunung Emei. Segera ia turun dari kuda putih itu, kemudian menghampiri pintu kayu milik pondok tersebut. Pondok yang sendirian berdiri di atas lereng gunung penuh hutan.

"Selamat pagi..." Ia mengetuk pintu. Dalam hati ia bimbang dan nyaris saja mengurungkan niatnya.

Sayang, ia tahu ia tidak dapat mundur lagi saat mendengar pintu kayu itu berderit akan terbuka. Gadis rupawan berambut hitam legam itu menatap seorang bocah yang berada di depan pintu.

Bocah berusia dua belas tahun itu mengerutkan alis tanda curiga. "Selamat pagi, guniang." Sapanya balik dengan suara datar. "Anda mencari seseorang?"

Sebelum gadis itu menjawab, ia mendengar suara dari dalam pondok. Suara yang jauh dan lama sekali tidak ia dengar. Suara familiar yang membawa nostalgia seribu satu kenangan masa kecilnya.

"Huiyue, siapa yang datang?"

Secara refleks gadis itu berseru, memanggil siapapun itu yang berada di dalam, mengabaikan pertanyaan bocah di depannya. "Gongzhu Liu Yan Lu!"

Seketika itu juga ia mendengar derap langkah kaki dari dalam pondok. Di hadapannya kini muncul seorang gadis lain, tiga tahun lebih tua darinya. Pakaian gadis itu hanya pakaian rakyat jelata biasa, sangat sederhana dibandingkan pakaiannya, meski seharusnya tidak demikian. Kenapa? Sebab dia inilah sang putri yang sesungguhnya.

Satu hal yang tak luput dari pandangannya, adalah bahwa mata putri itu dibebat oleh sebuah kain. Rupanya benar kata sang nenek angkat kepadanya. Putri itu, putri yang sesungguhnya, telah kehilangan tidak hanya posisi dan rumahnya, tetapi juga pengelihatannya. Mulut gadis itu ternganga, tidak percaya bahwa kenyataan sepahit ini akan menimpa seorang putri. Dan kalau masih kurang, ia adalah putri yang paling terpandang di seluruh pelosok China ini. Kesalahan apa yang membuatnya menerima hukuman seperti ini?

Gadis berambut panjang hitam itu berjalan mendekat. Matanya yang bulat melebar tak percaya.

"Kau...?" Sebaliknya, si putri buta di hadapannya berhenti dari langkahnya. "... Guan Yinping?"

Yan Lu tidak mendapatkan jawaban apapun. Yang ia terima adalah sebuah pelukan hangat dan tangisan pedih dari gadis bernama Guan Yinping itu. Nyaris saja Yan Lu jatuh sangking kaget.

Ya, gadis itu bernama Guan Yinping, anak bungsu sekaligus putri satu-satunya dari Guan Yu, salah satu Wu Hu Jiang-Lima Jendral Harimau. Gadis itu sendiri kini adalah salah satu jendral muda Shu. Namun ia tidak pernah menginjak medan pertempuran, karena alasan yang hanya ia sendiri yang mengetahuinya...

"Ya Tian...! Gongzhu Yan Lu, kenapa bisa begini...?" Tangis Guan Yinping, menumpahkan airmatanya di baju Yan Lu. Segala perasaan yang ada di batinnya tak dapat ia pendam lagi. "Kudengar kabar bahwa kau sudah dibunuh... Tetapi aku tidak percaya itu! Akhirnya aku menemukanmu di sini... tapi... tapi...!"

Putri Shu itu hanya bisa menepuk-nepuk punggung temannya sambil berusaha menghiburnya.

Tapi Guan Yinping tidak mau tahu. Ia serta merta melepaskan pelukannya. Kesedihannya itu dalam sekejap mata berubah menjadi kemarahan. Hanya saja, api kemarahan itu bagaikan lidah api kecil di atas lilin, yang bergoyang-goyang ditiup angin. Kemarahannya itu penuh dengan keraguan dan ketidaktahuan, Yan Lu tahu itu. Ia mungkin saja tidak dapat melihat ekspresi Guan Yinping, tetapi dari deru nafasnya yang kacau, isakannya yang terdengar janggal, ia tahu apa yang ada di dalam hatinya.

"GONGZHU LIU YAN LU!" Teriak Guan Yinping, nyaris menjerit. Suaranya terdengar begitu pecah memenuhi kekosongan pondok yang sederhana itu. "Apa kau pun tertipu oleh manusia rendahan dari Wu itu? Oleh penyeranah sialan yang mengaku dirinya Phoenix?! Kau... kau...!"

Yan Lu benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia hanya bisa mendengar setiap patah kata yang dilontarkan Guan Yinping.

"... KAU BUKAN GONGZHU LIU YAN LUUUUUUU...!"

Gadis yang tengah menangis itu menjerit, menumpahkan kekesalannya, kekecewaan dan kemarahan dan kebencian, semuanya itu dalam teriakannya yang memenuhi langit. Ia jatuh di atas kedua lututnya, dengan kedua telapak tangannya menahan tubuhnya yang gemetar karena terisak-isak. Kemanakah amarahnya ini harus mengalir? Ia tidak tahu. Kepada siapakah kebenciannya harus bermuara? Tidak ada yang bisa memberitahunya.

Tidak juga putri di depannya. Sebab putri inilah penyebab segala kebencian dan kemarahan yang berkecamuk di batinnya. Betapa inginnya ia menggandeng Yan Lu dengan tangannya, kemudian membawanya pulang ke Istana Shu. Tetapi tangannya yang lainnya ingin membunuhnya, mencabut nyawa putri itu dari tubuhnya yang sudah dekat sekali dengan debu tanah.

Namun Yan Lu seolah tidak peduli, seolah tidak mau tahu kalau gadis itu ingin membunuhnya atau membawanya pulang. Ia hanya tahu satu hal, bahwa Guan Yinping membutuhkan seseorang sekarang.

"Guan Yinping..."

"JANGAN SENTUH AKU...!" Ditepisnya tangan putri itu, sebelum ia sendiri bangkit berdiri dan menatap putri di depannya dengan tatapan seperti hewan terluka. Tangannya mengepal. "Aku tidak percaya...! Putri yang sejak kecil kukagumi, yang selalu kuidolakan dan selalu kujadikan panutan... rupanya adalah seorang pengkhianat! PENGKHIANAT BESAR!"

Yan Lu tertegun. Perlahan ia menggeleng, sebelum gelengan kepala itu menjadi kuat. "GUAN YINPING! Kau bicara apa?!"

Guan Yinping menghapus airmatanya kuat-kuat, menghentikan segala pertunjukkan kelemahannya di depan putri idolanya yang kini telah berkhianat, bukan hanya pada Shu tetapi kepada dirinya secara pribadi. Ini bukan saatnya untuk menangis!

"Gongzhu Liu Yan Lu, kau tidak mungkin tahu tentang ini..." Jawabnya dengan suara yang tertahan. "Ah, bahkan kau bisa mengingat namaku saja, aku sudah sangat senang."

Memang benar Yan Lu tidak dapat melihat, tetapi suara Guan Yinping menyampaikan segalanya pada mata hatinya, hingga ia bisa mengerti perasaan gadis itu.

Yan Lu diam. Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal. Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa. Ada waktu untuk berbicara, ada waktu untuk berdiam diri. Dan ia tahu bahwa ini adalah waktu untuknya berdiam diri sementara jendral muda itu berbicara.

"Gongzhu Liu Yan Lu, sejak kecil, aku sudah sering memandangimu dan mengagumimu dari kejauhan..." Ucap Guan Yinping. "Setiap hari, aku melihat orang-orang memujimu sekaligus menyayangkanmu. Orang-orang mengatakan 'seandainya saja gongzhu Yan Lu adalah laki-laki'. Kau adalah putri sulung Kaisar Liu Bei, gongzhu Liu Yan Lu. Kau adalah bunga kebanggan Shu. Tidak ada satupun putri di China ini yang bisa menyamaimu."

Ruangan itu mendadak menjadi sunyi dan hening sekali. Keheningan yang janggal dan tak semestinya. Seharusnya apa yang diucapkan Guan Yinping itu belum selesai. Jadi, Yan Lu tidak mengucapkan apapun meski ada banyak sekali kata-kata di kepalanya.

Jendral perempuan yang masih sangat muda belia itu menggenggam senjatanya erat-erat. "Kau tahu? Untukku, kau bukan manusia. Kau bukan putri. Untukku, kau adalah seorang dewi. Jika ada satu orang di dunia ini yang aku ingin menjadi sepertinya, itu adalah kau." Lanjutnya dengan suara yang sama datarnya, namun memendam berbagai perasaan yang berkecamuk. "Aku selalu melihatmu dari kejauhan dan berusaha menyamai segala kehebatanmu. Kau bijaksana, kau kuat, kau sangat terhormat dan anggun. Ya, aku melakukan segalanya untuk bisa menjadi sepertimu."

"Guan Yinping..."

"Karena itulah, aku bisa melebihi dua kakakku, Guan Ping dan Guan Suo!" Volume suara Guan Yinping meningkat tiba-tiba, menyiratkan pesan bahwa ia tidak ingin diinterupsi oleh kata-kata Yan Lu. "Ya, aku mempelajari ilmu berperang, bela diri, bahkan sampai literatur dan strategi sama seperti kakaku Guan Xing, hanya untuk menyamai dirimu! Hanya untuk menjadi sepertimu, gongzhu Yan Lu!"

"Hingga suatu saat, tujuh tahun lalu... kakakku Guan Xing dibawa ke FengHuang Xian-Kota FengHuang, untuk belajar lebih banyak lagi. Aku yang waktu itu hanya berusia sembilan tahun memaksa mati-matian ikut dengannya. Iya. Aku meninggalkan Istana Cheng Du dan pergi ke FengHuang Xian-Kota FengHuang, hanya demi bisa menyamaimu!" Lanjutnya.

Yan Lu tersentak, kaget mendengar hal ini. "Jadi... jadi kau selama ini pergi ke FengHuang Xian-Kota FengHuang bersama Guan Xing, Guan Yinping? Tapi... tapi... Guan Xing kembali tidak sampai dua tahun sesudah ia pergi!"

"TENTU SAJA!" Bentak Guan Yinping. "Kakakku Guan Xing sangat pandai! Dua tahun cukup untuknya! Sementara aku? Aku tetap di sana! Aku dididik langsung oleh Lao Zucong dan shifu-shifu FengHuang Xian-Kota FengHuang, belajar siang dan malam, hanya untuk bisa menjadi sepertimu!"

Tidak bisa tidak, nafas putri Shu itu tertahan. Sungguh, ia sama sekali tidak tahu tentang hal ini!

Tidak. Tepatnya bukan ia tidak tahu. Kalau boleh jujur, ia tidak begitu dekat dengan gadis di depannya ini. Detik inilah baru ia tahu perasaan si jendral muda padanya. Dan mengenai kepergian Guan Yinping ke FengHuang Xian-Kota FengHuang...

... dia tidak pernah peduli.

Katakanlah dia sombong, atau egois. Tetapi Yan Lu tidak pernah mengingat gadis kecil pemalu yang dulu hanya beberapa kali ditemuinya.

Sekarang, gadis itu berdiri di depan matanya. Jauh berbeda dengan saat itu.

"Aku..." Yan Lu menggeleng perlahan, menyesali masa lalunya ketika ia terlalu sibuk untuk mempedulikan gadis itu. "... sama sekali tidak tahu."

"Ya. Kenapa kau harus tahu?" Balas Guan Yinping cepat dan sinis. "Dibandingkan bunga Luo Lan kebanggan Shu sepertimu, aku hanyalah seperti bunga liar yang hari ini ada, dan besok sudah tidak ada. Aku sudah cukup puas bisa melihat dan mengagumimu dari kejauhan."

Yan Lu menelan sumpal yang seolah ada di tenggorokannya, membuat nafasnya tercekat.

Guan Yinping mendesis dalam kemarahannya. "Tapi, kau tahu apa yang membuatku kembali? Itu karena aku mendengar kabar bahwa kau telah dihukum mati karena mengkhianati Shu! Kau, putri yang selama ini kukagumi, adalah pengkhianat! PENGKHIANAT!"

Dengan satu kata itu, Guan Yinping berlari, dengan senjatanya yang berat dan besar itu terangkat!

Huiyue yang sedari tadi bersembunyi, berseru kuat-kuat. "LIU JIEJIEEEEEEE! AWAAAAASSSSS!"

Yan Lu tidak dapat melihatnya, mungkinkah ia sadar? Kejadian itu terjadi secepat kilat! Guan Yinping menerjang Yan Lu dengan senjata di tangannya, kemudian mengayunkannya ke arah putri Shu itu!

"KUBUNUH KAAAUUUUUUU!"

Waktu seolah terhenti untuk mereka.

"Liu jiejie?" Huiyue perlahan membuka matanya. "Liu jiejie?!"

Kesunyian itu tidak terlangsung lama. Senjata Guan Yinping sudah menghantam targetnya, tepat sasaran. Yan Lu tidak menghindar atau lari. Ia tetap berdiri di tempat.

Namun serangan itu berhenti di tangannya. Tangan Yan Lu yang kuat menahan senjata itu tepat di atas kepalanya. Kedua kakinya tidak berpindah barang satu langkah pun. Guan Yinping terbelalak kaget. Tidak peduli seberapapun banyaknya tenaga yang ia pakai dalam serangan itu, tangan Yan Lu tidak bergeming! Tidak mungkin! Tidak mungkin bukan serangannya dengan senjata yang besar itu ditahan hanya oleh sebuah tangan? Lebih-lebih lagi, oleh tangan seorang gadis? Lebih-lebih lagi, oleh seorang gadis buta?

Dan... lebih-lebih lagi, oleh seorang pengkhianat yang tidak pantas hidup sepertinya?

"Guan Yinping..." Terdengar suara yang rendah tetapi tajam dari Yan Lu. "Kalau kau tidak tahu apa yang kau katakan, lebih baik kau diam."

"A-APA?!"

Yan Lu tidak memberi jawaban apapun. Sebagai gantinya, dengan satu gerakan tangan yang sangat cepat, Yan Lu menarik gadis itu dari luar pondok. Gerakkan kakinya luar biasa secepat kilat, sampai-sampai Guan Yinping tidak sempat melawan! Tahu-tahu, tubuhnya sudah terhempas di atas tanah Gunung Emei yang lembab dan dingin di musim salju.

Guan Yinping, sambil merintih kesakitan, mendongkakkan kepala untuk memandang penyerangnya. Di hadapannya berdiri Yan Lu, masih gagah namun anggun seperti yang selalu ia lihat.

Meskipun kini telah buta, putri itu tidak kehilangan kekuatannya barang secuil pun.

Namun yang lebih penting dari itu, benarkah perempuan rendahan yang telah kehilangan kedudukannya ini... adalah seorang pengkhianat? Apa mungkin seorang pengkhianat dapat berdiri di hadapannya tanpa gentar sedikitpun?

"K-kau...!" Jendral muda itu berdiri. "Apa maksudmu berkata begitu?!"

"Apa maksudku? Aku memaksudkan apa yang kukatakan!" Balas Yan Lu dengan sengit. "Kau tidak punya ketetapan hati! Bahkan kata-katamu sendirimu mengkhianatimu!" Seruannya memenuhi gunung itu, bagaikan raungan singa gunung yang menggetarkan setiap yang hidup di dalamnya. "Dan sekarang, kau datang mengataiku pengkhianat?!"

Mendengar kalimat tersebut, amarah yang sudah tersulut kini membakarnya. "KURANG AJAAAARRRRR!"

Kali ini Yan Lu bersalto ke belakang. Meskipun ia tidak dapat melihat, namun telinganya kini menjadi sangat peka. Ia bisa tahu dari mana Guan Yinping akan menyerangnya. Ayunan buas senjata Guan Yinping dihindarinya, hingga akhirnya kakinya menginjak sesuatu di atas tanah. Kapak Bing Bing! Kapak itu adalah kapak yang kepunyaan tuan rumah tempat ia menginap, yang digunakannya untuk menebang pohon.

Dengan gerakan secepat kilat, Yan Lu menjatuhkan diri dan menyambar kapak itu(2). Memang benda itu bukan senjata, namun setidaknya masih lebih baik daripada harus melawan Guan Yinping dengan tangan kosong.

Sekali lagi Guan Yinping mengayunkan senjatanya, hanya untuk kemudian ditangkis oleh kapak di tangan Yan Lu. "Kau...! Kau...! Aku tahu apa yang aku katakan!" Teriak Guan Yinping, berusaha membela dirinya dari tuduhan Yan Lu. "Kau adalah pengkhianat! Kau harusnya mati, gongzhu Liu Yan Lu! Aku senang mendengar kabar bahwa kau telah dihukum mati. Tetapi ketika tahu bahwa kau ternyata masih hidup, aku langsung mencarimu untuk membunuhmu, dengan tanganku sendiri!"

Yan Lu tak lantas menjawab. Ia menahan serangan itu dengan kapaknya. Besi bertumbukan dengan besi, seketika menimbulkan suara desingan metalik yang menyakitkan telinga. Bunga-bunga api terpercik dari gesekan kedua senjata tersebut.

Namun tidak sampai di situ. Dengan sebuah gerakan sederhana dan mudah, Yan Lu memiringkan mata kapaknya, membuat senjata Guan Yinping terselip. Tentu gadis yang lebih muda itu akan jatuh terjembab ke atas tanah kalau ia tidak terlebih dahulu menyeimbangkan diri.

Sebaliknya, Yan Lu masih dengan gerakan yang ringan menghindar. Tahu-tahu ia sudah ada di belakang Guan Yinping.

"Melawanmu, Guan Yinping..." Ucap Yan Lu, cukup jelas untuk didengar. "... aku hanya perlu menggunakan separuh kekuatanku saja."

Seolah mengiyakan perkataannya sendiri, Yan Lu melepaskan genggaman tangan kirinya dari kapak itu, kemudian meletakkan tangannya yang bebas itu di balik punggung.

Guan Yinping menggeram. Bagaimana mungkin putri yang sudah jatuh dari tahtanya itu kini merendahkannya seperti ini? Ia tidak sudi! Ia tidak sudi seorang pengkhianat yang telah mengkhianati kepercayaannya dan respeknya, memandangnya dengan sebelah mata!

"Gongzhu Liu Yan Lu!" Teriaknya. "Dasar pengkhianat! Terimalah ini!"

Jendral muda itu menerjangnya, kemudian menyerangnya dar segala arah. Namun Yan Lu tidak kalah gesit. Untuk setiap gerakan, ditangkisnya senjata itu dengan mata kapaknya. Bagaimana kapak itu bisa bertahan, tidak mungkin karena kekuatan kapak itu sendiri. Kapak yang sudah tua dan berkarat sana-sini itu tentulah akan hancur begitu mengenai senjata Guan Yinping.

Jawabnnya adalah karena kapak itu jatuh di tangan yang tepat. Kelihaian Yan Lu-lah yang membuat benda tua itu dapat bertahan.

"Hahhh... haaahhhh..." Nafas Guan Yinping mulai tidak teratur, namun ia menolak kalau harus menyerah! "Kenapa kau tidak juga mati?!"

Sembari masih menahan serangan, Yan Lu menyunggingkan seulas senyum simpul. "Guan Yinping, kata-katamu mengkhianatimu."

Guan Yinping menahan nafas berikut serangannya, namun hanya untuk sepersekian detik saja. Bukannya mereda, serangannya malah makin membabi-buta! Ia mundur selangkah, kemudian memutar senjatanya! Seketika tubuhnya dilingkupi oleh angin yang tercipta dari gerakan itu! Angin yang begitu kuat, seolah membentuk tornado yang mengelilinginya dan menghancurkan siapapun yang berani mendekat!

"Gongzhu Liu Yan Lu!" Teriaknya kepada putri itu sambil menerjang, masih dengan sejatanya yang berputar luar biasa cepat itu. Yan Lu tak juga bergeming. "Kau tahu apa?! Kau membuat orang mengagumimu dan berharap padamu, hanya untuk akhirnya mengecewakan mereka!"

Hanya sepersekian detik sebelum senjata yang berputar itu menghantam Yan Lu, ia berujar. "Guan Yinping, tindakanmu mengkhianatimu."

"MATILAAAAAAHHHHHHH!"

Untuk kedua kalinya, ia akan merenggut nyawa sang putri idolanya! Kali ini, ia tidak akan gagal! Ia bersumpah pada langit dan bumi akan membunuh orang ini! Orang yang sama yang dulu dikaguminya bak seorang dewi, adalah orang yang sama yang mengkhianati seisi Shu dan mencemarkan seluruh keluarga kerajaan!

"Guan Yinping..."

Jantungnya serasa berhenti.

"... senjatamu mengkhianatimu."

Saat itulah, Guan Yinping memandang ke atas. Matanya melebar tatkala melihat Yan Lu, kini menerjangnya dari atas! Rupanya saat Guan Yinping menyerangnya, Yan Lu bersalto ke atas dengan ilmu meringankan tubuhnya untuk menghindar! Dan, seperti titik aman dari sebuah tornado adalah bagian tengahnya, kini Yan Lu menerjang Guan Yinping langsung ke tengah, dari atas!

Seketika itu juga, kedua senjata itu saling bertumbukkan, menimbulkan percikan api yang jauh lebih kuat dari sebelumnya!

"M-MUSTAHIL!" Jerit Guan Yinping, dengan senjatanya menahan serangan putri Shu itu. Kekuatannya benar-benar luar biasa, seperti sungai yang meluap-luap menghantam tubuhnya. Kapak itu berdesingan dengan senjatanya. Ya, kapak yang tua itu.

Pada akhirnya, senjata Guan Yinping retak. Terbelah menjadi dua. Tepat seperti apa yang telah dikatakan Yan Lu.

Senjatanya mengkhianatinya.

Serpihan-serpihan senjata itu berjatuhan, tertimpa sinar matahari yang membuatnya berkilau-kilauan. Untuk sesaat, waktu seperti berhenti untuknya. Di depan matanya, seperti senjatanya yang hancur, segala keangkuhan dan egonya juga hancur.

Guan Yinping terjatuh. Kedua tangannya terkulai di kedua sisi tubuhnya.

"U-uh... maaf... a-a-a-aku..."

"Eh? Kau siapa, ya? Baru kali ini aku melihatmu..."

"A-ah... m-maaf, gongzhu Liu Yan Lu... n-n-namaku... Guan Yinping...!"

"Oh, kau putri bungsu Jendral Guan Yu, ya? Hei, jangan panggil aku 'gongzhu'-'gongzhu', ya! Kita kan teman?"

Di tangannya sekarang adalah senjatanya yang sudah hancur. Ia dikalahkan dengan telak oleh seorang putri yang dulu dikaguminya, yang entah bagaimana sekarang telah menjadi seorang pengkhianat. Ia mendengar suara kaki Yan Lu menyentuh tanah, tetapi sudah tidak mempedulikan hal itu lagi. Tepatnya, untuk apa ia harus mempedulikan putri itu lagi? Ia benci padanya! Putri ini telah mengecewakannya!

"G-gongzhu Liu Yan Lu... telah tiada?! Baiklah kalau begitu...! Aku... aku akan pulang ke Cheng Du sekarang juga!"

"Jendral Guan Yinping, kami sangat menyesal harus memberitahukan hal ini. Tetapi gongzhu Liu Yan Lu dihukum mati atas pelanggaran yang begitu berat, yaitu berkhianat dan berkomplot dengan seorang mata-mata dari Wu!"

"A-APAAAA?! Tidak...! TIDAK MUNGKIIIIIIIINNNNNNN!"

Airmatanya mengalir deras bagai hujan. Segala perasaan yang berkecamuk di batinnya, apapun itu, adalah perasaan yang makin membuat dadanya sesak sampai tak bisa bernafas. Ia begitu membenci putri yang telah mengalahkannya ini, yang rupanya bagaimanapun tidak mungkin dapat ia lampaui. Seorang gongzhu, tetapi telah mengkhianati kerajaannya sendiri. Orang seperti inikah yang ia kagumi sejak dulu?

Seribu satu sumpahan yang bisu dan tak terucapkan tertumpah dari hatinya.

"Guan Yinping,"

Suara yang paling terakhir ingin didengarnya, kini berkumandang lagi memenuhi telinganya. Bersamaan dengan itu, bunyi kapak jatuh di tanah bagai gong yang berbunyi mengakhiri pertarungan mereka. Sekaligus, menyatakannya sebagai pecundang dari pertarungan ini.

"Kau membenciku karena kini aku tidak bisa menjadi sosok yang kauharapkan, bukan?" Suara Yan Lu terdengar jauh dan kaku. Bahkan nyaris tak terdengar dibalik isak tangisnya. Suara yang didengarnya seolah berasal dari puncak Gunung Emei, tidak, seolah berasal dari langit. Sementara ia seperti berada di lembah terdalam, jurang yang tak berdasar. "Baiklah. Bukankah dari pertarungan ini kau tahu kau tidak sedikitpun makin dekat denganku?"

Perlahan Guan Yinping berbalik, namun tidak berusaha untuk berdiri. Yan Lu berdiri tepat di depannya.

"SALAH! SALAH! Bukan begitu caranya mengayunkan pedang!"

"M-m-m-maaf, gongzhu Liu Yan Lu... A-a-a-aku memang... payah..."

"Jangan bilang begitu!"

"T-tapi... aku tidak bisa memakai pedang... tidak bisa memakai tombak dan panah...! A-a-aku... mungkin aku memang tidak berbakat...!"

"HEI! Guan Yinping! Jangan pergi! GUAN YINPIIIIIIIIIING!"

"Kau masih anak kecil, Guan Yinping! Kau hanya lari dan lari dan lari!" Jari telunjuk Yan Lu menuding. Tidak, itu bukan Yan Lu sedang merendahkan lawannya yang kalah. Ia lebih seperti seorang senior menegur bawahannya yang lalai, seperti seorang kakak yang memarahi adiknya yang cengeng dengan tegas. "Kau lihat? Bukan aku yang mengkhianatimu! Kata-katamu, tindakanmu, senjatamu, bahkan hatimu sendiri yang mengkhianatimu! Kau tahu kenapa?!"

Guan Yinping diam. Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari. Ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang. Ada waktu untuk berbicara, ada waktu untuk berdiam diri. Dan ia tahu bahwa ini adalah waktu untuknya berdiam diri sementara putri Shu itu berbicara.

"... karena kaulah pengkhianat yang sesungguhnya, Guan Yinping! Kau mengkhianati kenyataan! Karena itulah semuanya berbalik melawanmu!"

Jendral itu terpaku di tempat ia berada. Di hadapannya adalah sang putri Shu, figur yang selalu dikaguminya dari jauh dan yang tak akan bisa ia capai. Tidak hanya sekarang ia makin tak tercapai, namun sepertinya adalah mustahil untuk bisa mencapainya.

"Kau ingin mencariku karena kau tidak ingin kehilangan aku! Tetapi begitu melihatku, kau kecewa dan lantas membenciku. Kau cuma anak kecil yang tidak berani menerima kenyataan!" Seru Yan Lu, membuat jiwa Guan Yinping tergetar. "Kau ingin membunuhku bukan karena ingin menghukumku! Kau ingin membunuhku karena kecewa! Karena tidak mau melihat gongzhu yang kau kagumi menjadi seperti ini sekarang!"

Jari Yan Lu turun. Ditariknya nafas dalam-dalam sebelum berbalik pergi.

"Sampai seribu tahun pun, kalau kau masih seorang anak kecil, kau tidak akan bisa mengalahkanku." Itulah kata-kata terakhirnya sebelum berjalan meninggalkannya. "Seharusnya aku ingin memberitahumu tentang orang yang membuatku 'mengkhianati' Shu. Tapi anak kecil sepertimu, yang lebih suka khayalanmu daripada kenyataan, tidak akan siap mendengar tentang Sang Phoenix..."

Sampai di situlah, suara lain terdengar.

"Yan Lu?"

Yan Lu berbalik ke arah sumber suara tersebut. Ia mengenalnya dengan sangat dalam. Suara itu... suara Jiang Wei!

"Jiang Wei!" Seru Yan Lu sambil berlari-lari menghampirinya. "Kau sudah kembali?"

Jiang Wei memandanginya penuh kebingungan. Ia hanya menyaksikan sekilas pertarungan itu, kemudian segala yang kekasihnya ucapkan pada seorang asing. Ia tidak mengenali gadis yang tengah itu. "Siapa itu?"

Putri Shu itu mendesah. "Guan Yinping. Putri bungsu Jendral Guan Yu."

Tentu saja jawaban ini membuat Jiang Wei terperanjat. Bukan, tentu saja bukan karena takut atau karena ia ketahuan. Ia terperanjat karena Yan Lu begitu keras dan tegasnya pada gadis itu, Guan Yinping. Segera ia menghampiri Guan Yinping dan mengulurkan tangan hendak membantunya. "Jendral Guan Yinping, kau baik-baik saja?"

Namun uluran tangan itu tidak akan pernah diterima Guan Yinping.

"JANGAN DEKATI AKU, MANUSIA RENDAHAN!" Teriaknya sambil berdiri. Dalam sekejap, kakinya sudah kembali tegak di atas tanah. Matanya bergantian memandangi Jiang Wei dan Yan Lu, terus-menerus seperti itu. Makin lama, desisan dari mulutnya terdengar makin keras dan penuh amarah. Nafasnya memburu, sebagai peringatan kepada keduanya mengenai kemarahannya yang telah menggunung.

Jiang Wei mundur selangkah.

"Kau...! Kau pasti Jiang Wei, orang Tian Shui yang menjadi murid Perdana Mentri Zhuge Liang, bukan?!" Tudingnya. Matanya berkilat-kilat memandanginya penuh ancaman. Jiang Wei seperti terperangkap oleh tatapan yang tajam itu. "Orang Wei rendahan! Kaulah yang menyebabkan gongzhu Yan Lu seperti ini! Pasti kau! Ya, kau adalah pengkhianat yang melibatkan gongzhu Yan Lu dengan semua ini!" Tuduhan itu terlontar diiringi emosi yang meluap-luap.

Semisalkan bisa, Guan Yinping akan bertarung lagi dengan laki-laki ini. Namun senjatanya telah hancur. Ia telah dikalahkan telak. Tidak mungkin ia dapat merenggut nyawa pengkhianat ini.

Sebaliknya, Jiang Wei tetap tenang. Kata-kata seperti ini sudah biasa di telinganya. Tidak lagi ia digusarkan oleh perkataan seperti itu.

Dengan gerakan yang sangat cepat, Guan Yinping melompat ke atas kuda putih yang berlari ke arahnya. "Dengarkan aku baik-baik, Jiang Wei! Suatu saat, aku akan membunuhmu dan mengembalikan gongzhu Liu Yan Lu yang asli!"

Kalimat itu menggantikan salam perpisahan yang lazim diucapkan. Kini di tempat itu hanya ada dua orang saja. Jiang Wei dan Yan Lu.

Tak berapa lama, keduanya sudah berada di dalam pondok mereka lagi. Jiang Wei duduk di lantai yang beralaskan tikar, sementara Yan Lu membawakan teh untuknya. Meski keadaan sudah tenang, tetapi kebingungan Jiang Wei masih belum sirna barang sedikit pun.

"Guan Yinping..." Gumam Jiang Wei menyebut nama yang masih asing di lidahnya. "Siapa itu, Yan Lu? Kawanmu?"

Yan Lu mengangguk. "Ya, teman kecilku. Tapi tidak lebih dari itu." Jawabnya. "Dulu dia adalah seorang gadis pemalu dan pendiam. Aku sendiri bertemu dengannya hanya beberapa kali, sebab memang dia suka menyendiri dan takut berada di kerumunan banyak orang. Meski begitu, dia adalah anak yang baik hati dan manis. Yah... itu dulu." Untuk sesaat putri Shu itu terdiam. Matanya memandang langit-langit pondok tempat ia tinggal. "Rupanya selama ini dia belajar di FengHuang Xian-Kota FengHuang, bersama-sama dengan Lao Zucong. Mungkin karena itulah... ia memandangmu rendah karena kau bukan orang Shu."

Alih-alih mendengar 'Lao Zucong', Jiang Wei menembakkan tatapan matanya pada Yan Lu. "Maksudmu, sejak kecil Guan Yinping dididik di FengHuang Xian-Kota FengHuang, oleh Lao Zucong pula?"

Pertanyaan itu hanya dibalas oleh anggukan. "Bodohnya aku..." Gumam Yan Lu. "Rupanya, itu semua karena ia mengagumiku dan ingin sepertiku. Semisalkan... semisalkan aku tahu ini... tidak mungkin dia akan berakhir di FengHuang Xian-Kota FengHuang." Desahan panjang keluar dari mulutnya.

"Itu bukan salahmu..." Jiang Wei menjawab pelan.

Yan Lu memandangi jendela, memandang tepat terakhir ia melihat gadis itu. "Yang perlu dikembalikan bukanlah Liu Yan Lu yang asli, tetapi Guan Yinping yang asli..."


Apa yang sebenarnya terjadi dengan Shu, tidak ada yang bisa menjelaskan.

Tidak pula Perdana Mentri Shu yang luar biasa pandai dan bijak itu, Zhuge Liang. Ia hanya memandang taman Istana Cheng Du yang maha indah, yang entah kenapa terasa kosong sekali. Di kepalanya masih teringat jelas beberapa tahun terakhir ini, bagaimana tempat itu selalu ramai oleh muda-mudi yang berkumpul di sana. Zhao Yun, Jiang Wei, Zhou Ying, Yan Lu, Guan Ping, Guan Suo, Ma Dai... dimana mereka semua?

Begitu Sang Phoenix pergi, mereka semua juga pergi. Ya, Guan Suo dan Ma Dai memang masih ada di Istana Cheng Du. Namun hati mereka seolah tidak ada di tempat ini lagi. Tidak, ia tidak akan menyalahkan kenapa Sang Phoenix pergi meninggalkan mereka begitu saja. Sebaliknya, merekalah yang mengusirnya jauh-jauh, bahkan berusaha membunuh dan menghabisinya. Bagaimana Shu, kerajaan yang paling menanti-nantikan Phoenix itu, kini berbalik memusuhinya, perdana mentri itu sama sekali tidak tahu.

Semisalkan ia tidak mendapat undangan dari Kaisar Liu Bei, tentu ia tidak akan berada di tempat ini sekarang. Istana Cheng Du yang indah ini hanya akan membuatnya mengingat penyesalannya. Sebuah undangan datang kepadanya dan pejabat-pejabat besar lain. Seperti biasa, mereka semua diundang untuk bersantap malam, di Istana Cheng Du. Di Istana yang telah ditinggalkan Sang Phoenix...

Kenapa ia tidak bisa berbuat apa-apa saat segala malapetaka itu terjadi? Yang ia tahu, Lu Xun, Yangmei, dan Zhou Ying sudah melarikan diri dari Cheng Du. Beberapa saat kemudian, Zhao Yun pun meninggalkan istana. Tak lama, Jiang Wei dan Yan Lu dikabarkan telah dihukum mati. Baru-baru ini, Guan Ping diutus pergi ke Bai Di Cheng-Istana Bai Di. Semuanya terjadi tanpa sepengetahuannya.

Bahkan ia, seorang Perdana Mentri, tidak tahu menahu soal ini. Ah, jangankan perdana mentri. Bahkan Kaisar Liu Bei saja tidak dapat melakukan apa-apa.

Tiba-tiba, sebuah suara membangunkannya dari lamunan panjangnya.

"Perdana Mentri Zhuge Liang,"

Zhuge Liang berbalik, menemukan seorang gadis berambut hitam legam panjang di depannya. Sungguh tidak bisa dipercaya bahwa putri bungsu Guan Yu yang pemalu dan pendiam, sekarang telah tumbuh menjadi wanita muda yang kuat seperti ayahnya. Kemampuannya tidak kalah dengan kakak-kakaknya.

"Ada apa, Guan Yinping?" Tanyanya. Kipas bulu berwarna putih di genggamnya bergerak sedikit terkena angin malam.

Guan Yinping memandang Perdana Mentri Shu itu dengan ekspresi yang sama sekali tak terbaca. "Kakakku, Guan Ping, pergi ke Bai Di Cheng-Istana Bai Di untuk menangkap penyeranah itu. Apakah Perdana Mentri sudah memberitahukan padanya jalan untuk memecahkan istana yang penuh dengan labirin itu?"

Detik itulah Zhuge Liang mengetahui perasaan gadis muda di depannya. Tak peduli seberapa hebat Guan Yinping menyembunyikan perasaannya, seorang ahli siasat sepertinya mustahil tidak dapat membaca ekspresinya. Itu adalah rasa benci yang sudah tidak dapat terbendung lagi. Kebencian pada Sang Phoenix. Perdana Mentri itu menghela nafas, kemudian kembali memandangi pohon Dao yang tertutup salju. Bagaimanakah nasib Lu Xun dan yang lainnya sekarang? Apakah mereka kedinginan? Apakah mereka ada tempat tinggal di luar sana? Adakah Sang Phoenix itu harus menyusuri tanah Shu yang dingin dan kejam ini dengan memikul seluruh kebencian di atas bahunya?

Sampai kapan...?

"Aku sudah memberitahukan jalannya, tetapi hanya Sang Phoenix-lah yang dapat melewati istana itu." Jawabnya pendek.

Lalu terdengar suara hantaman di tembok. Zhuge Liang menoleh memandangi Guan Yinping. Tinjunya masih di dinding, masih hangat akibat pukulan yang ia layangkan. "Bahkan... bahkan Perdana Mentri Zhuge Liang pun tertipu oleh manusia terkutuk itu...!" Ia menggeram. "Kakakku berjuang mempertaruhkan nyawa untuk memusnahkan seorang penjahat, tetapi semuanya tidak peduli! Semua orang membela penipu Wu itu!"

Kemudian isak tangis. Tidak heran gadis ini begitu sedih. Tidak ada yang mempertanyakannya. Ia pulang sesudah tujuh tahun lamanya berada di FengHuang Xian-Kota FengHuang karena mendengar kabar kematian Yan Lu. Namun sesampainya di sini barulah ia mendapati kabar bahwa kakaknya, Guan Ping, sudah pergi ke Bai Di Cheng-Istana Bai Di, untuk membunuh orang yang telah mendatangkan segala kedukaan ini padanya. Ketika semuanya menjadi tidak dapat lebih buruk lagi, ia mendapati kakaknya yang lain, Guan Suo, rupanya adalah salah satu dari yang membela orang itu.

"Perdana Mentri!" Teriak Guan Yinping dengan emosi yang membara. "Bagaimana kau pun bisa percaya pada orang Wu itu? Pada orang Wu, orang-orang kasar dan rendahan dari timur yang hanya terdiri dari bajak laut dan nelayan? Bagaimana kau bisa percaya bahwa manusia yang bahkan tidak dapat membela dirinya sendiri itu adalah Phoenix?!"

Dari seluruh tuturannya, Zhuge Liang sudah bisa menebak bahwa ia mendengar semua hal ini dari ayahnya, Guan Yu.

"Phoenix yang kau katakan itu tidak menghancurkan Wu dan Wei! Ia bahkan lebih suka dengan orang-orang tidak terdidik di Wu, daripada bersama-sama dengan kita yang sudah menantikannya! Dan... dan kau masih percaya dia adalah Sang Phoenix itu, Perdana Mentri?!" Guan Yinping berseru.

Tanpa menoleh, Zhuge Liang menjawab. Bukan dengan pernyataan tetapi dengan pernyataan.

"Kau tahu apa seni apa yang paling ajaib dan tak ternilai harganya, Guan Yinping?"

Tidak ada jawaban, tentu saja. Gadis itu heran mendengar pertanyaan yang sepertinya tidak ada hubungannya dengan kemarahannya.

Keheningan itu mengisyaratkan Zhuge Liang untuk melanjutkan. "Itu adalah seni untuk merendahkan dirimu. Merendahkan diri sampai titik... bukan yang terkecil maupun yang terbesar. Namun titik dimana kau tidak memiliki ukuran sama sekali. Saat itulah segala sesuatu yang ada di dalam alam semesta akan berada di dalammu." Katanya. "Sesuatu yang... tidak dapat diukur."

Sekali lagi tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Guan Yinping. Zhuge Liang berbalik, memasuki Aula Wanyuandian tempat perjamuan malam itu diadakan. Ditepuknya sekali bahu Guan Yinping. "Begitulah ia merendahkan dirinya. Sampai-sampai kau tidak bisa lagi mengukurnya."

Itu adalah kalimat terakhir yang didengarnya sebelum pintu tertutup. Gadis muda itu masih terpaku di tempatnya.

Guan Yinping memandang dirinya sendiri. Yang membalut tubuhnya adalah sebuah gaun sutra panjang yang kainnya bergradasi, dari atas berwarna hijau muda dan semakin ke bawah semakin berwarna putih. Pada gaun itu terdapat bordiran dengan motif bunga Luo Lan. Baju ini, yang dikenakannya, adalah baju kepunyaan Yan Lu yang dulu dipakainya, setiap saat ia menghadiri perjamuan malam untuk memainkan guqin. Kali ini, dialah yang memakainya. Dia menduduki posisi Yan Lu.

Yan Lu...

Kata-kata Yan Lu tidak hilang juga dari kepalanya. Bahkan Perdana Mentri pun mengatakan hal yang padanya. Apakah itu benar? Apakah ia masih anak kecil yang tidak akan bisa mengerti dan menerima kenyataan? Apakah itu salah? Apakah tidak benar untuk bermimpi bahwa Sang Phoenix, pembawa kedamaian yang sudah dinantikan sejak lama, adalah seorang pahlawan yang gagah dan duduk di atas kuda putih, dan yang akan membuat semua orang gentar melihatnya?

Bagaimana mungkin ia bisa menerima bahwa Phoenix itu adalah orang yang sama yang telah membuat Yan Lu jatuh dari tahtanya sebagai putri? Bagaimana mungkin Phoenix itu adalah orang yang sama yang mengantar kakak tertuanya ke Bai Di Cheng-Istana Bai Di dan mempertaruhkan nyawa di sana? Dan adalah orang yang sama yang dibenci ayahnya, yang hendak dihabisi oleh entah berapa banyaknya orang yang ia kenal?

"Guan Yinping..."

Gadis itu berbalik. Melihat siapa yang memanggilnya, ia segera membungkuk dengan hormat. "L-lao Zucong...! M-maaf...!"

Wanita tua itu tersenyum dan mengajaknya masuk ke dalam. Bagi Guan Yinping, Lao Zucong adalah seperti neneknya sendiri. Ibu suri itulah yang selama ini mendidiknya segala hal. "Ayo masuk! Di luar sangat dingin! Nanti kau bisa masuk angin..." Ajaknya sambil menuntun gadis itu. "Sudah waktunya kau memainkan guqin..."

Mata Guan Yinping menjelajah aula yang bentuknya sangat tidak lazin itu. Lingkaran sempurna. Sementara aula-aula lain berbentuk persegi, aula dari Istana Shu di Cheng Du berbentuk lingkaran. Di tempat itulah ia melihat pejabat, jendral, serta petinggi-petinggi lainnya duduk. Ia mengenal beberapa, tetapi sebagian besar tidak dikenalnya. Bagaimanapun, tujuh tahun meninggalkan tempat ini, sudah banyak perubahan terjadi.

Guan Yinping berjalan mendekati guqin yang terletak di tengah ruangan. Tidak ada yang keheranan kenapa ia berada di sana. Semua orang sudah tahu kenapa. Yang mereka tahu adalah, gongzhu Liu Yan Lu telah dihukum mati karena telah berkhianat. Kini yang memainkan guqin sudah bukan bunga kebanggaan Shu itu lagi. Kaisar Liu Bei sendiri hanya memandanginya sekilas dan mendesah. Kesedihannya menggetarkan seisi hati manusia di dalam ruangan ini.

Gadis itu bersimpuh di depan sebuah guqin yang indah. Jari-jarinya mendekati senar-senar itu. Guqin ini... adalah guqin yang sama dengan yang selalu Yan Lu mainkan. Sepanjang hidupnya ia telah menantikan saat dimana ia bisa mencapai putri idolanya itu. Namun kali ini, ketika posisinya sudah sejajar dengannya, Guan Yinping tidak merasa bangga sedikitpun. Kalau ada perasaan yang memenuhi batinnya, itu adalah rasa malu dan kekecewaan.

Ia malu karena tidak bisa mengalahkan pengkhianat-pengkhianat itu. Ia kecewa karena kembali ke Istana Cheng Du, namun tidak menemukan siapapun di tempat ini. Dan terlebih dari itu... kesedihan. Ia sedih dan marah mengingat setiap orang yang tertipu oleh orang rendahan dari Wu itu. Dengan perasaan yang tulus ia meratapi mereka dalam hati, meski mustahil ia menunjukkannya.

Jari-jarinya yang lentik mulai menari-nari di atas senar, memainkan melodi yang indah namun sedih.

Di dalam permainan itu, ia sedang menuturkan kisah sedihnya, mencurahkan keluh-kesahnya yang bisu.

Alunan musik yang sedih itu menyentuh hati para pendengarnya, termasuk Kaisar sekalipun. Mereka memandang dan menunduk, entah mengapa. Sementara Kaisar Liu Bei sendiri terlihat makin tertekan.

Barulah sesudah menyelesaikan permainannya... Guan Yinping tahu kenapa.

"Guan Yinping, kemarilah..." Panggil sang Kaisar sesudah Guan Yinping membungkuk memberi hormat. Tidak ada yang tidak menahan napas dan berdecak kagum oleh permainan guqin-nya yang luar biasa, yang mungkin hanya dapat ditandingi oleh gongzhu Yan Lu sendiri.

Gadis muda itu menghampiri kaisarnya dan berkowtow. "Guan Yinping yang rendah ini menghadap Yang Mulia Kaisar. Apakah ada hal yang Kaisar ingin aku lakukan?"

Liu Bei terdiam sejenak sebelum menjawab. Dalam suara bernada sendu kaisar itu, Guan Yinping tahu Liu Bei sangat kehilangan putrinya. "Kau tahu? Lagu yang kau mainkan barusan persis seperti yang Yan Lu mainkan beberapa tahun lalu(3)."

Jadi, itulah alasannya mengapa Kaisar bersedih. Pikir Guan Yinping. Beliau teringat akan gongzhu Liu Yan Lu...

"Jika Yang Mulia mau, aku akan memainkannya kapanpun Yang Mulia mau." Katanya.

Liu Bei menghela nafas panjang. "Guan Yinping, kau gadis yang sangat baik. Melihatmu, aku seperti melihat putriku sendiri..." Harusnya, mendengar pujian seperti ini membuat Guan Yinping senang, bukan? Harusnya pernyataan ini mensahkan kebanggaannya. Ia sudah menyamai Yan Lu dalam segala hal, sampai-sampai Kaisar sendiri berkata begitu.

Namun entah kenapa... perkataan itu tidak membuatnya senang sedikit pun.

"Katakanlah apa saja yang kau mau, Guan Yinping." Kata Liu Bei. "Anggaplah ini sebagai ucapan terima kasih dariku."

APA?!

Guan Yinping menengadahkan kepala, seolah tak percaya dengan hal itu.

"Mintalah apa saja yang kau mau, Guan Yinping." Ulang sang Kaisar.

Detik itulah, ingatannya mengenai peristiwa hari ini terulang di kepalanya. Pemandangan pondok itu, pertemuannya dengan Yan Lu, pertengkaran mereka, kekalahannya...

... sampai pada wajah seorang laki-laki. Laki-laki yang ia yakin menyebabkan idolanya jatuh sampai sedalam ini.

Kalau ada satu hal yang patut disalahkan atas segala yang menimpa Yan Lu, itu adalah laki-laki rendahan itu! Jiang Wei! Ya, Jiang Wei! Orang Wei dari kota Tian Shui yang entah bagaimana bisa sampai ke Shu, dididik di bawah Perdana Mentri Zhuge Liang. Untuk seorang laki-laki Wei menjadi kekasih putri kebanggan Shu itu... yang benar saja! Jiang Wei, manusia rendahan itu, tidak pantas mendapatkan Yan Lu!

Guan Yinping mengepalkan tangannya. Sekarang ia tahu bagaimana cara memperbaiki segala kekacauan ini. Bagaimana cara mengembalikan Yan Lu ke tahtanya yang semula, bagaimana cara menyingkirkan Jiang Wei, bagaimana memerdekakan harga dirinya dari rasa malunya akibat kekalahan hari ini, dan terutama... bagaimana cara membalas dendam pada penipu dari Wu itu, yang berani-beraninya menginjakkan kakinya di tanah Shu dan mengacaukan kerajaan yang sangat dicintainya ini.

"Yang Mulia Kaisar, jika boleh, aku ingin meminta satu hal." Katanya dengan tangan bersoja. Matanya yang awalnya sayu, kini menjadi tajam dan berkilat-kilat. "Pinjamkanlah aku sepasukan prajurit berkuda. Dan juga, berikan aku sebuah maklumat."

Tentu saja ini membuat Liu Bei terkejut. Bukan hanya karena perubahan wajah dan suara Guan Yinping, tetapi juga perintah yang sangat tidak ia sangka-sangka itu. "Untuk apa, Guan Yinping?"

"Yang Mulia, akan kuberitahu satu hal. Jiang Wei, pengkhianat itu, masih hidup dan sekarang sedang menyembunyikan dirinya." Ucap Guan Yinping, yang kontan membuat semua orang terperanjat. Namun tidak begitu dengan Kaisar sendiri. Sebagai ayah, ia memiliki ikatan batin dengan putrinya yang meyakinkannya bahwa Yan Lu masih hidup. Dan itu berarti, Jiang Wei juga sama. "Kaisar, berikanlah aku sebuah maklumat dengan segel Kaisar sendiri yang isinya adalah untuk menghukum mati Jiang Wei. Dan pasukan berkuda di bawah pimpinanku untuk membantuku menangkapnya."

Jika ini adalah catur, maka ucapan jiang shi sudah pasti telah dikumandangkan.

Liu Bei terperanjat mendengar pernyataan ini. Perintah untuk menghukum mati Jiang Wei dengan segelnya sendiri? Jiang Wei, pemuda yang dicintai dan mencintai Yan Lu?

Mungkinkah untuk menarik kembali perkataan itu?

Tetapi semua orang di ruangan ini telah menjadi saksi kata-katanya.

Sang Kaisar sudah tidak mungkin lagi menarik kata-katanya.


(1) Nama kudanya Yan Lu. Pernah disebutkan dalam Phoenix FORM: Unbroken Thread

(2) BADASS PRINCESS STRIKES AGAIN! Astaganaga... saya membuat Yan Lu pake kapak. Well, say whatever you want... Pasalnya saya bener2 kepengen melihat Yan Lu tarung pake kapak, entah kenapa...

(3) Lagu yang dimainkan Guan Yinping ini sama dengan lagu yang pernah dimainkan Yan Lu di Phoenix FORM: Unbroken Thread chap 46 (Cry Through The Bliss)

*BEWARE! SPOILER STARTS HERE!*

Sebelum sodara ngeflame, menghajar, membacok, membunuh, dan mengubur saya hidup-hidup, biarkan saya jelaskan satu hal penting. Sama seperti Guan Ping, GUAN YINPING BUKAN ANATGONIST. Sekali lagi, dia cuma dimanipulasi, ditipu, diperalat, ato apapunlah bahasa anda. Supaya jelas, biar saya kasih tau background Guan siblings di Fanfic saya yang hancur ini:
1. Guan Ping, seperti dalam sejarah, adalah anak angkat. Tapi, nggak seperti di sejarah dimana Guan Ping diadopsi pas 18 taon, di sini dia diadopsi pas 10 taon. Dibandingkan adek2nya, Guan Ping emang yang paling jago tarung. Nah, getu2 dia juga gampang ketipu, makanya sekarang jadi jahat gemana getu...
2. Guan Xing, anak kandung pertama Guan Yu. Seperti yang anda udah lihat sendiri, dia emang super formal dan sopan tapi nggak jahat (tapi ya nggak baik juga. Netral, lah...) Trus dia tuh juga pinter (kalo ini mah berdasarkan sejarah, soalnya kepandaian Guan Xing bahkan diakui Zhuge Liang). Makanya pas umur 13 taon (that's it... 7 taon lalu), dia dikirim ke FengHuang Xian-Kota FengHuang buat belajar getu~ Sangking pinternya, dalam dua taon dia udah selesai belajar. Sesudah itu, nggak lama kemudian dia langsung dikirim ke Kota Perbatasan Kui buat bertugas di sana sebagai jendral~
3. Guan Suo. Well... kita udah liat sendiri bahwa dia termasuk yang paling ramah dan friendly dibanding sodara2nya yang lain. Dan seenggaknya dia yang kelihatan paling protagonis. Sayangnya, Guan Suo tarungnya nggak sehebat itu *lirik modelnya di DW7* Karena emang biasa-biasa aja, Guan Suo menetap di Cheng Du sampe detik ini. Sampe sekarang dia belum dikirim kemanapun untuk bertugas.
4. Guan Yinping. Sodara udah baca. Guan Yinping tuh sejak kecil terkagum2 ama Yan Lu. Makanya dia belajar tarung dan strategi (saya ngebayangin Guan Yinping pas kecil tuh pemalu dan penakut, tapi so sweet banget...) Tarungnya mungkin bisa dibilang setara ama Guan Suo. Tapi pinternya melebihi Guan Suo n Guan Ping (meski tetep nggak bisa mengalahkan Guan Xing). Pas 7 taon lalu saat Guan Xing dikirim ke FengHuang Xian-Kota FengHuang, Guan Yinping maksa ikut demi alasan yang udah sodara baca... Nggak kayak kakaknya yang jenius, dia tetep belajar di sana dan baru balik ke Cheng Du pas chap ini...

Sekarang sodara nangkep, kan? Di antara para Guan siblings, benernya nggak ada yang jahat. Cuma sangking baiknya mereka, sampe gampang ketipu. Sampe saat ini yang udah dimanipulasi adalah Guan Ping ama Guan Yinping... (kasihan dirimu, nak...)

Trus... kayaknya saya harus update info tentang umur2 para chara, ya... Apalagi sesudah time-skip...

Liu Bei, Zhuge Liang, Sun Quan, Yuan Shao, Sun Shang Xiang, Lü Meng, Yue Ying, Guan Yu, Zhang Fei, dsb, dst, dll: 30-50 (males mendetail satu2. Sodara tentukan sendiri *dihajar*)
Cao Pi, Guo Jia, Ma Chao, Li Dian:
25
Ma Dai:
22
Zhao Yun, Guan Ping:
21
Lu Xun, Guan Xing, Zhang Bao:
20
Guan Suo, Jiang Wei, Yan Lu:
19
Yangmei, Zhou Ying:
18
Guan Yinping:
16
Untuk para OC2 baru... saya tidak mencantumkan di sini karena toh kemunculan mereka sesudah time-skip dan saya udah ngasih tau... XDDDD Plus, ada beberapa OC juga yang saya nggak tau pasti usianya (Xiahou Long, Ying Fang, Xiahou Mei, Jing Ai, Yang Yuan Yu, Hongxue). Ada juga beberapa OC yang usianya unidentified seperti misalnya Fei Tiao dan Yin Long.

*SPOILER ENDS HERE*

Dan sekali lagi, Sekedar mengingatkan... Universe dari Coloured Glaze adalah Dynasty Warriors 7 (Gentle Flame ama Unbroken Thread pake universenya DW6, BTW). Jadi Canon chara2nya masih pake desain DW7. Character-character yang baru di DW8 seperti Guan Yinping, Guan Xing, ama Zhang Bao, adalah pengecualian dan mereka pake desain DW8 (ya iyalah). Sementara itu para Canon character yang lagi nyamar (Lu Xun, Zhao Yun, Jiang Wei, Cao Pi, Zhang He, Guo Jia, Li Dian, Sima Zhao, Xiahou Ba) bakal pake kostum mereka pas nyamar (yang saya bebaskan sodara untuk berimajinasi sendiri), tapi dengan karakteristik TETAP SAMA SEPERTI DW7 (kecuali Li Dian yang notabene baru keluar pas DW8). Jadi, misalnya kayak Lu Xun, rambutnya masih tetep di kepang kayak DW7. Sementara Zhao Yun, rambutnya masih rapi bin kinclonk kayak bintang iklan shampo kayak di DW7 juga. Meski kedua jomblo keren (di DW mereka jomblo, kan?) itu lagi nyamar jadi Gaibang. Understood?

Oh iya... saya mau menyatakan kekecewaan saya juga...

Jadi, saya liat Battle of Yi Ling DW8 yang Shu. Di sana saya ngeliat cutscene Zhang Bao ama Guan Xing ngelakuin semacam silat (soalnya mereka nggak pake senjata). Seriously, pas saya liat 'silat' tersebut, saya cuma nge-WTF?! Sumpah... bagi yang selama ini membayangkan pertarungan Gaibang dengan silat (khususnya Zhao Yun pas nyamar jadi Gaibang, karena dia tarung tangan kosong) TOLONG JANGAN MEMBAYANGKAN adegan silatnya seperti yang ada di cutscene DW8. Itu mah bukan silat. Itu anaraki dan brutal... Wewww... kalo sodara mau liat silat yang asli seali-aslinya, berseni, dan keren abis, saya sarankan sodara nonton 'Crouching Tiger Hidden Dragon' atau 'Jiu Liu Xiang' (pendekar harum). Itu yang saya sebut silat sesungguhnya.

Oh iya! Baru2 ini Silvermoonarisato membuat desain Ying Fang dan Guo Jia pas mereka nyamar :) bagi anda2 yang tertarik, bisa langsung dilihat di tumblr-nya Silvermoonarisato~ Hehehe... (dan apakah anda udah liat contoh desain Gaibang di link di profile page saya? Bukannya maksa, supaya socara gampang getu bacanya...)

That's it! Updatenya minggu depan! Zai jian! :)