Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya
Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .
Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance
Rate : M
Setting : AU (Alternate Universe)
Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.
Pair : Semua Pair Canon
Senin, 19 September 2016
Happy reading . . . . .
Sebelumnya. . . . . .
Telah dikonfirmasi, yang akan pergi ke Rumania adalah semua anggota Klub Penelitian Ilmu Ghaib termasuk Irina, Bennia, serta Rugal.
Azazel melihat ke arah semua orang untuk terkahir kalinya. "Aku akan berbicara hal yang lebih detail setelah kalian tiba disini. Baiklah, persiapkan diri kalian, satu jam lagi teleportlah ke sini. Aku yang akan mengurus lingkaran sihir teleportasi untuk kedatangan kalian ke kantor pusat Faksi Carmilla. Mulailah bergerak!"
"Ha'i, Sensei."
.
To The End of The World
Author: Si Hitam
Beta Reader: Papan Oujia (Trio Nica)
Chapter 55: Rumania's Disaster Part 1.
.
-7th Heaven-
Saat ini, di Surga Tingkatan Ketujuh yang merupakan Surga Tertinggi yang hanya dihuni oleh mereka para malaikat paling terhormat, sedang ada hal tidak biasa. Tempat yang biasanya tentram dan sunyi dari hingar bingar urusan duniawi kini sedikit lebih ramai dengan datangnya tamu-tamu dari luar Surga.
Sebagai tuan rumah, ada Michael dan Gabriel yang merupakan dua dari empat Seraph Surga. Ada pula Dewa Ketua Norse Odin, perwakilan Fraksi Fallen-Angel Shemhazai dan yang baru tiba Underworld, Sirzech Lucifer yang datang bersama Serafall Leviathan.
Semua orang penting sudah duduk melingkari meja bundar di kursi masing-masing. Tempat ini berada di salah satu sudut taman surga yang panoramanya indah luar biasa tiada tara dan tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
"Hanya kita berenam kah?" tanya Odin, memulai basa-basi.
Michael tersenyum dahulu lalu menanggapi, "Yah, mau bagaimana lagi? Yang lain sedang sibuk, Azazel-dono sedang di Rumania mengurus sesuatu di sana untuk digunakan pada tahap akhir kelahiran 1 juta malaikat kloning."
"Falbium sedang mengurus pencarian manusia-manusia pemilik Sacred Gear yang tersisa dari golongan pahlawan untuk direinkarnasi menjadi iblis, sedangkan Ajuka masih meneliti Evil Piece buatannya. Dia ingin memperkuat fitur reinkarnasi Evil Piece untuk memaksa pengeluaran potensi manusia pemilik Sacred Gear yang direinkarnasi. Mereka berdua sibuk dengan penguatan pasukan militer Fraksi Iblis." sambung Sirzech.
Odin membuat ekspresi santai, "Yayayaaa, aku mengerti. Sama saja dengan kami, Dewa-Dewa Norse yang lainpun sedang mengawasi perekrutan pasukan Valkyrie baru dan pelatihannya. Anakku, Thor, yang secara langsung menjadi penanggungjawabnya."
Enam malaikat pelayan surga datang, menyajikan segelas teh dan sajian dessert kepada setiap orang penting.
Malaikat perempuan tercantik di Surga, Gabriel, meneguk pelan air teh dengan anggun. Jemari lentiknya meletakkan kembali cangkir teh emas ke atas meja. "Akan lebih baik kalau kita langsung saja ke topik utama pertemuan. Kita di sini untuk membahas informasi baru dari Azazel-dono dan dari Anda kan, Odin-sama?"
"Yah, itu benar. Aku duluan, ini berita kurang menyenangkan. Negosiasi yang kulakukan dengan Zeus dari Olympus tidak membawa hasil. Sampai akhir, dia tak memberi tanggapan, bahkan ekspresinya tampak tak terlalu peduli. Kupikir Olympus tidak bisa ditundukkan dengan kata-kata, kita perlu kekuatan militer pada mereka."
Shemhazai menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, "Itu bukan masalah, sebentar lagi kita punya cukup pasukan untuk merobohkan Gunung itu meskipun ada beberapa Dewa Superior yang sangat kuat disana."
"Svargaloka dan Nirvana?" tanya Odin seraya mengusap janggut putihnya yang kelewat panjang.
Semua mata tertuju pada Sirzech untuk meminta jawaban.
"Tidak ada yang berubah. Seperti rencana awal, tindakan untuk mereka hanya dengan jalan peperangan. Reliji Hindu-Buddha yang masih memiliki cukup banyak pengikut manusia pasti tak mungkin diajak bernegosiasi."
"Bagaimana kalau begini saja. Kami Tiga Fraksi dari Reliji Injil yang akan mengurus Dewa-Dewa Reliji Hindu-Buddha, sedangkan Dewa-Dewa Olympus diurus oleh orang-orangmu, Odin-sama?"
"Aku sih tidak masalah, Dewa-Dewa Norse pasti sanggup menundukkan Olympus. Hanya tinggal masalah waktu saja." jawab Odin menanggapi usulan Michael dengan santai. "Tapi aku masih heran, kenapa kau masih tidak 'Jatuh' juga padahal sudah membuat niat jahat sejauh ini?"
Michael tersenyum lagi, menampilkan sosok terhormat dan mulia dari seorang malaikat tertinggi berpangkat Archangel. "Tidak sulit bagiku mengubah sedikit Sistem yang ditinggalkan oleh Ayah kami semenjak aku yang memegangnya."
"Whahahaaa. Baiklah, lupakan itu. Aku juga membawa hal bagus untuk kita."
"Hal bagus apa, Odin-sama?" tanya Gabriel.
"Seluruh wilayah Mitologi Irish yang pernah mendapat kepercayaan dari rakyat Irlandia dan Britania Raya sebelum Injil masuk ke sana sudah berada di genggamanku. Meski hampir semua dewa-dewa mitologi itu sudah punah, tapi masih ada pahlawan keturunan terakhir dari Dewa Chu Chulainn yang merupakan seorang demigod atau setengah manusia bernama bernama asli Satenta, namun lebih terkenal dengan nama leluhurnya yaitu Cu Chulainn. Kesatria kelas Lancer pengguna tombak sakti Gae Bolg. Dia tidak terlalu peduli dengan wilayahnya namun hal baiknya untuk kita adalah demi mencari kepuasan membunuh dan berperang, dengan senang hati dia bergabung dalam koalisi kita."
"Uhm, bagus. Itu artinya semakin banyak mitologi yang tunduk pada aliansi kita. Sampai sekarang sudah terhitung lebih dari 15 mitologi minor dari berbagai penjuru dunia yang kita taklukkan tanpa diketahui dunia luar. Kita bisa memaksa mereka untuk memberikan dukungan militernya pada kita jika diperlukan." ungkap Shemhazai.
"Di samping semua itu, jika 1 juta malaikat super kloning sudah siap, maka kita akan langsung melakukan tindakan nyata untuk segera mewujudkan Imperium of Bible dan mengembalikan kejayaan Mitologi Norse." sambung Michael.
Sebagai responnya, semua anggota pertemuan mengulas senyum optimis yang sarat akan kebanggaan masing-masing.
Hingga sesaat kemudian setelah rehat sejenak, Gabriel kembali membuka topik lain, "Ini tentang laporan dari Azazel-dono yang berada di Rumania. Eksistensi baru, Konoha, secara terang-terangan melakukan gerakan di sana. Tindakan apa yang akan kita lakukan terhadap mereka?"
Michael menyipitkan mata lalu mulai bicara lagi, "Hmmm, aku masih ingat jelas kalau pemimpin Konoha, Rokudaime Hokage Hatake Kakashi yang datang tak diundang saat pertemuan di Kuoh, menyatakan kalau mereka hanya akan diam kalau tidak diusik. Tapi perkataannya bertolak belakang dengan kenyataan sekarang. Jika mereka ingin mengambil dukungan bangsa Vampire dan menghalangi pekerjaan Azazel, artinya jelas kalau mereka sedang merencanakan sesuatu, mengambil tindakan padahal sampai saat ini tidak pernah terjadi apa-apa pada mereka. Kupikir mereka berusaha membuat persekutuan militer."
"Yah, peluang hal itu besar. Dan persekutuan militer itu pasti persiapan untuk perang, tidak mungkin untuk hal lain. Pilihannya hanya dua, mereka punya suatu tujuan atau..." Shemhazai menggantungkan ucapannya, memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain atas motif yang menjadi dasar pergerakan orang Konoha di Rumania.
"Atau Konoha telah mencium gerakan kita, bahkan lebih buruk lagi kalau mereka sudah mengetahui tentang Imperium of Bible."
Tidak ada yang tidak terdiam dengan pernyataan yang keluar dari mulut Sirzech. Imperium of Bible adalah sesuatu yang sangat mereka rahasiakan hingga saat ini, sangat tidak wajar kalau diketahui orang luar.
Semua mata tertuju pada Maou berambut merah bergelar Lucifer.
"Bagaimana mungkin kau bisa berkata seperti itu, Sirzech?" Odin bertanya dengan nada tegas.
"Ada yang ingat dengan kematian misterius Zefordoll satu setengah bulan lalu, dia kandidat utama pewaris tahta kepemimpinan Keluarga Iblis Glaysha-Labolas berikutnya?"
Shemhazai tak mampu menangkap ke mana maksud ucapan Sirzech, "Memang ada apa dengan kasus itu? Katanya pembunuh bocah sombong itu sama sekali tidak bisa diidentifiaksi, penelurusan TKP dan pemeriksaan forensik sama sekali tak membuahkan hasil. Tak ada barang yang rusak ataupun hilang di istana Glaysha-Labolas tempat kediaman Maou Falbium. Jadi bagaimana itu bisa dikaitkan dengan Konoha? Kita tak punya bukti menyalahkan mereka."
"Memang benar kalau penyebab kematiannya tak bisa diidentifikasi sama sekali, meski sudah dihubungkan dengan semua jenis pengetahuan sihir dan senjata yang ada di dunia ini. Tapi dua minggu lalu Falbium memberitahuku hal yang membuatku cukup terkejut, dia berasumsi kalau pelaku yang pembunuh keponakannya adalah orang Konoha. Kita semua tahu pasti kalau Konoha adalah eksistensi baru yang datang ke dunia ini dari dimensi lain? Tekhnik sihir mereka sama sekali tidak ada dalam kamus pengetahuan kita. Jadi, jika Konoha kita anggap sudah melakukan gerakan sejak lama dengan mengirimkan mata-mata ke semua tempat mitologis, maka salah satu orang Konoha berpeluang besar menjadi tersangka. Ditambah lagi, dokumen rahasia tentang Pakta Aliansi kita membentuk Imperium of Bible ada di Istana Glaysha-Labolas, itu informasi yang sangat krusial kalau sampai jatuh ke tangan Konoha. Ada kemungkinan kecil kalau Zefordoll dibunuh karena dia menangkap basah mata-mata Konoha yang menyusup dan mencuri informasi di istana itu. Apa ada yang bisa menyangkal asumsi Falbium?"
Respon berupa gelengan dari beberapa peserta pertemuan yang duduk mengelilingi meja bundar didapatkan secara spontan oleh Sirzech.
Michael berdehem sekali lalu berucap, "Kalau asumsi itu benar dan mereka sudah tahu informasi tentang Imperium of Bible, maka itu bisa dijadikan motif gerakan mereka untuk mengambil dukungan bangsa Vampire Rumania. Mereka pasti melakukan itu sebagai tindakan antisipasi akan ancaman perang dari kita."
"Ya, aku setuju. Kalau memang itu benar-benar terjadi, pasti Konoha saat ini sudah melakukan penguatan militer sama seperti kita. Lalu juga merekrut sekutu, seperti yang terjadi di Rumania." sambung Shemhazai.
Gabriel mengambil giliran mengeluarkan pendapat, "Kita harus lebih waspada. Jika benar Konoha membuat persekutuan, bisa jadi berbahaya. Kita sama sekali tidak tahu golongan mana saja yang memihak mereka."
Dewa Ketua Norse Odin terkekeh pelan lalu mendongakkan kepala. Dia mendesah panjang, "Huuuuuhhh. Kalau begini ceritanya, akan lebih baik kita putuskan sekarang. Konoha adalah eksistensi yang harus dibasmi secepatnya. Bagaimana?" tanyanya sambil kembali menatap setiap peserta pertemuan satu per satu.
Sirzech dan yang lainnya langsung mengangguk. Suasana sedikit lebih tegang karena eksistensi yang menghalangi terbentuknya dunia impian Imperium of Bible bertambah.
Odin bicara lagi untuk menurunkan ketegangan, "Tapi jangan khawatir, aku yakin Konoha hanyalah golongan kecil dibandingkan target utama kita, Gunung Olympus dan Nirvana. Walaupun pancaran energi empat bulan lalu saat kemunculan Konoha terasa sangat besar, namun itu pasti hanya berasal dari satu orang saja. Aku yakin kita bisa mengatasinya. Lagipula, Konoha ingin bekerja sama dengan Vampire? Kheh, yang benar saja? Bangsa Vampire hanyalah golongan kecil yang bisa dengan mudah kita lenyapkan dengan kekuatan yang kita miliki saat ini."
Odin tak segan menunjukkan watak buruknya dalam pertemuan formal ini. Walaupun sombong, dia cukup perhitungan dan tahu sampai mana batas lawannya. Seperti yang ia katakan, ia yakin kalau Konoha hanyalah eksistensi kecil meskipun Kakashi berani membuat pernyataan besar pada seluruh dunia. Bangsa vampire, baginya juga golongan kecil jika dibandingkan dengan Mitologi Norse.
"Tapi tetap saja kan Konoha harus diwaspadai? Bagaimana kalau mereka mengajak reliji atau mitologi besar sebagai sekutu?"
Michael langsung menjawab pertanyaan Shemhazai, "Menurutku, peluang untuk itu terlalu kecil. Golongan besar yang tersisa sebagai musuh kita hanyalah Olympus dan Hindu-Buddha. Dua golongan itu terlalu sombong untuk menerima tawaran dari eksistensi pendatang baru seperti Konoha."
"Apa disini hanya aku saja ya yang terpikir tentang kemungkinan Mitologi Olympus dan Reliji Hindu-Buddha juga membentuk persekutuan?" guman Gabriel.
Meski gumaman Gabriel pelan, tapi telinga Michael yang duduk bersisian dengannya cukup untuk mendengar suaranya, "Itu tak merubah apa-apa, Gabriel. Sejak awal dua golongan itu adalah musuh terberat, kita sudah mempersiapkan banyak hal untuk menghancurkan mereka, jadi tak akan jadi masalah kalau mereka berkerja sama atau tidak, benar kan?"
Odin dan Sirzech mengangguk setuju atas pendapat Michael.
Shemhazai angkat bicara, "Seperti kata Dewa Ketua Odin tadi, berarti Konoha harus diatasi secepatnya. Koordinat persembunyian mereka sudah kita temukan sejak beberapa minggu lalu, jadi siapa diantara kita yang melakukannya?"
"Aku berpendapat lain." kata Sirzech dengan tangan terangkat. "Kupikir sebaiknya mereka tidak perlu diatasi duluan. Konoha hanya eksistensi kecil, tak mungkin memberi pengaruh besar pada rencana kita. Lebih baik kalau menunggu mereka keluar sendiri dari tempat persembunyiannya, lalu kita habisi. Atau bisa jadi mereka akan menyerah tanpa syarat jika mengetahui kita berhasil menaklukkan dua golongan besar lebih dulu, iya kan? Dengan begitu, kita tidak perlu bersusah payah."
"Aku setuju dengan Sirzech." pungkas Michael. "Kalau mengambil pilihan itu, kita tidak perlu merombak rencana yang sudah susah payah kita buat dari dulu hanya untuk mengurus Konoha."
"Aku memilih opsi ini." tutur Gabriel.
"Baiklah, aku juga." sambung Odin.
"Kalau memang itu lebih baik, kenapa tidak?" ucap Shemhazai seraya mengulas senyum miring.
". . . . . . ."
". . . . . . ."
". . . . . . ."
Keheningan itu ada karena satu orang petinggi dalam pertemuan ini belum memberikan suaranya.
"Serafall!"
". . . . . ."
Panggilan Sirzech tidak mendapat respon dari rekannya. Dia coba sekali lagi, "Hei, Serafall!"
"Ah, Ha'i. Kalau aku,,,,, aku setuju dengan keputusan terakhir."
Sirzech menatap heran kearah rekan sesama Maou, "Ada apa denganmu? Kau bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun sejak pertemuan ini dimulai."
Ya memang, sedari awal Serafall tak sekalipun mengeluarkan kata-kata dari mulut cerewetnya.
"Tidak ada. Aku hanya kepikiran sesuatu tadi."
"Hei Nona Leviathan, urusan pribadi jangan sampai tercampur aduk dengan hal ini. Kau yang seorang Maou harusnya bisa profesional tentang itu. Ini demi golonganmu juga kan?" kata Odin dengan nada ketus.
Serafall menunduk, sindiran keras dari Odin cukup merendahkan martabatnya. Dalam hati, dia mengumpat, "Bicara saja semaumu, dasar Dewa tua bangka jenggotan gila kehormatan. Hanya karena namamu ingin kembali dikenal manusia, kau rela menjual harga dirimu sebagai Dewa Ketua Norse yang agung demi mencantumkan nama di dalam Kitab Injil. Cih, bodoh!"
"Atau kau merasa minder duduk satu meja denganku yang merupakan makhluk tercantik sedunia." Sang Seraph Malaikat satu-satunya berjenis perempuan tersenyum sinis pada Serafall.
"Cih!"
Serafall langsung mendengus kesal karena provokasi Gabriel. Ia memang dikenal banyak orang iri dengan kecantikan malaikat berpangkat Seraph itu. Tapi dalam situasi ini, ia menganggap itu hanya sebatas gurauan.
Namun jauh lebih dari itu, otak Serafall memang sama sekali tak bisa memikirkan tentang Imperium of Bible lagi, seluruh ruang otaknya tersita untuk memikirkan tentang adik yang sangat ia sayangi, Sona Sitri.
"Awas kau Hinata brengsek! Kalau saja Sona-chan tidak dalam segel aneh Juinjutsu buatanmu, aku tak akan sudi melakukan perintahmu dan mengikuti skenario yang kau buat!"
.
.
.
-Kastil Hades, Neraka-
"Bhuahahahaaaa...! Kasian sekali kau, Ares."
"Che! Jangan mengejekku Dewa Gundul sialan!"
Yang di tertawakan mendengus kesal dan balas mengejek.
Ada satu orang lagi, sosok makhluk berwujud tengkorak yang tampak lebih tenang dari dua rekannya.
Ya, Saat ini, tiga dewa yang mempunyai popularitas cukup tinggi dalam kalangan penganutnya sedang berkumpul. Ini bukan pertemuan resmi, hanya obrolan biasa, bertempat di ruang pribadi Hades di dalam kastilnya yang terkesan suram dan gelap.
Sakra atau yang lebih dikenal dengan nama Indra Sang Dewa Perang berdiri di tengah ruangan sambil tertawa terbahak-bahak. Pribadinya yang sombong namun cenderung humoris tampak natural saat ini. Ares duduk bersandar di sofa, masih dengan badan sakit-sakitan akibat duel maut melawan Monster Merah Konoha walau luka-lukanya sudah pulih. Si Dewa Tengkorak Hades setia duduk di kursi goyang di sudut ruangan dengan tangan kanan bertumpu pada sebilah sabit hitam.
Anggap saja ini adalah pertemuan tidak jelas dari tiga orang dewa berwajah suram. Sangat jauh berbeda suasananya dengan pertemuan lain di tempat yang jauh dari sini.
"Maaf mengganggu kesenanganmu, Sakra-dono. Kau ke sini tidak hanya untuk menertawakan Si Bodoh itu saja kan?" seru Hades dengan nada santai. Ekspresinya tak terbaca karena dia tidak berwajah, tak ada kulit yang membalut tengkoraknya, hanya saja cahaya merah yang berkilau dari dalam rongga mata itu tampak membawa kutukan bagi siapapun yang melihatnya.
"Tunggu dulu, sebelum ke topik utama. Aku penarasan, bagaimana mungkin Dewa Perang Olympus yang membawa pasukan gagah berani, tiba-tiba saja pulang dengan keadaan menggenaskan seperti ini?"
". . . . . ."
"Harga dirimu kau letakan di mana? Di pantat huh?."
". . . . . ."
"Kau sudah tak punya masa depan lagi, tahu?."
". . . . . ."
"Ya sudah kalau kau tak mau bercerita, Ares."
Ucapan ketus penuh sindiran dari mulut Sakra akhirnya membuat Ares muak.
"Baiklah, aku menyerah. Aku hanya tidak menduga kalau di sana ada manusia super yang membuatku terkejut."
"Apa dia juga yang membantai habis sendirian seluruh pasukan Sparta yang kau bangga-banggakan itu ha?"
Ares mengangguk sekali.
"Dia juga berhasil memojokkanmu dan membuatmu terluka parah?"
"Ya."
Kini Sakra yang dibuat kesal karena orang yang dia ejek hanya menanggapi singkat, "Bukannya tadi kau mengatakan kalau secara teknik dan power, kau masih lebih unggul darinya, bahkan dia sudah tak berdaya kehabisan tenaga diakhir duel. Kau bisa membunuhnya semudah menjentikkan jari, tapi kenapa kau malah pulang? Dasar bodoh!"
"Itu masalah lain." sahut Ares ketus.
Mana mungkin Ares yang sangat menjaga harga dirinya mau menceritakan kejadian memalukan itu. Diancam oleh orang idiot macam Maito Gai, Hell Yeah? Ares bersumpah dalam hati, kalau bertemu orang cacat aneh berpakaian serba hijau itu sekali lagi, maka akan dipastikan itu akan menjadi pertemuan terakhirnya.
"Itu akan jadi masalah kalau kau pulang tak membawa apa-apa tahu! Bahkan kau sudah menyia-nyiakan salah satu pasukan elit yang kita miliki."
"Yayayaaa,,, kau tidak perlu ngotot seperti itu, Gundul! Biar begini, aku tidak pulang dengan tangan kosong."
"Jadi apa hasil yang kau dapat, Ares?" tanya Hades dengan nada serius, berusaha mengurangi suasana saling ejek tidak mengenakkan antara Sakra dan Ares.
"Orang-orang Konoha ternyata punya hubungan militer dengan manusia-manusia di Amerika. Mereka memanfaatkan teknologi persenjataan dari Negara itu. Aku merasakan langsung senjata itu dengan tubuhku."
"Hah?" Sakra mengernyit heran tak percaya. "Kau mau bilang kalau manusia-manusia di negara yang menuhankan ilmu pengetahuan dan teknologi menjalin hubungan dengan makhluk supranatural macam Konoha?"
"Aku tidak bilang begitu, secara teknis makhluk dari Konoha memiliki tubuh manusia biasa, hanya saja memiliki penguasaan terhadap energi spiritual. Tapi karena mereka sama-sama ras manusia, jadi mungkin saja kan kalau mereka berkerja sama?"
Sakra saling menghantamkan kedua kepalan tinjunya. "Gh, apa orang Amerika itu harus kita beri pelajaran?"
Hades tidak suka Sakra tersulut emosi, "Itu urusan nanti, Sakra-dono. Kita cukup berasumsi kalau saat ini Konoha menjalin hubungan militer dengan eksistensi lain di dunia ini. Mereka kan dengan tegas mengatakan tidak takut berperang dengan siapapun saat mengacaukan pertemuan di Kuoh. Kurasan tindakan itu adalah bukti nyata perkataan pemimpin mereka. Mereka melakukan penguatan militer dengan teknologi milik ras manusia di dunia ini."
"Hm, ya sudah. Kita masukkan saja Konoha dalam daftar musuh yang harus dihancurkan, tidak masalah kan?"
Tidak ada tanggapan dari Hades dan Ares, Sakra mengartikan diam itu sebagai tanda setuju.
"Tapi dibanding Konoha, aku lebih tertarik dengan anak muda berambut pirang yang pernah kulawan. Aku sangat ingin bertarung dengannya sekali lagi."
Awalnya, tujuan Sakra menyuruh Ares menyerang Konoha beberapa saat lalu hanya untuk uji coba saja, bermain-main dengan situasi panas dunia serta untuk memancing orang bernama Naruto yang membuatnya penasaran. Namun nyatanya, hasil yang ia dapatkan diluar dugaan.
"Maksudmu anak muda bernama Naruto yang pernah kauceritakan itu, Pak Gundul?" tanya Ares.
"Ck, dasar muka tepung. Siapa lagi memangnya huh?"
Hades teringat suatu hal, "Cao Cao yang saat ini kusiksa di kedalaman Neraka Cocytus, mengaku padaku kalau rencana kita menangkap Ophis gagal karena munculnya orang bernama Naruto di Venesia."
Sakra mendudukkan dirinya di salah satu sofa, tepat di samping Ares yang sesekali masih meringis kesakitan. "Yah, itu benar Hades-dono. Cao Cao juga mengaku begitu padaku. Aku tidak bisa menebak apa motif si pirang itu, tapi karena dia pernah mengaku padaku kalau dia berasal dari Konoha, maka tidak salah kalau kita menjadikan dia dan Konoha sebagai musuh kita. Apalagi setelah tindakan si pirang itu yang sudah dua kali mengganggu apa yang kita lakukan."
"Terserah apa kata kalian, aku ikut saja." ungkap Ares. Tampak dia masih menyimpan kekesalan karena kejadian memalukan yang menimpanya.
Hades yang duduk di kursi goyang membuang nafas panjang, itu tampak dari hembusan angin yang keluar dari lubang hidung tengkoraknya yang menciptakan bunyi dengungan pelan seperti peluit. "Kesampingkan dulu tentang Konoha, kita ke topik utama. Bagaimana dengan impian besar kita bertiga?"
Tepat sesuai situasinya, karena pertemuan ini hanya ada tiga orang, anggap saja kalau hanya tiga orang ini yang memiliki impian.
"Ya ya ya,,, impian menciptakan dunia menyenangkan yang penuh perang dan derita kematian. Ghuahahahaaaaa,,, aku suka dengan motto itu."
Sakra tertawa senang setelah mengatakan mimpinya secara terang-terangan.
Ketiga orang ini sebenarnya tidak punya rencana khusus, cuma berbuat sesukanya sesuai kehendak hati, yang penting hidup membosankan selama ribuan ini segera berakhir. Semua orang tahu, semua makhluk supranatural dari semua mitologi dan reliji tahu benar bahwa Dewa-Dewa semakin tidak ada kerjaan semenjak peradaban umat manusia berkembang sangat maju, malah kebanyakan manusia sudah menuhankan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dewa hanya dongeng pengantar tidur dan agama cuma sebatas formalitas. Cara satu-satunya mengakhiri kebosanan itu adalah perang, tak peduli kalau dunia ini hancur, tak peduli kubu manapun yang berhasil menjadi pemenang dan lahir sebagai satu-satunya dominator umat manusia. Itulah pemikiran Sakra dan Ares yang notabene adalah dewa perang dari tempat asal masing-masing. Kalau Hades, dia mungkin juga sudah bosan karena selama hidup, kerjaannya hanya mengawasi dan menyiksa jiwa-jiwa jahat di Neraka-nya.
Kalau cuma mereka bertiga saja, pasti hanya akan jadi bualan. Jadi di kepala mereka sudah tertulis lengkap rencana licik untuk menyeret banyak orang dalam dunia perang impian.
"Oh iya, Gundul. Bagaimana dengan dewa-dewa dari Reliji-mu?" tanya Ares.
"Berhenti mengataiku, muka tepung sialan!" Sakra balas mengejek. "Seperti yang kukatakan sejak awal, mereka semua Dewa-Dewa membosankan yang cuma berdiam menonton. Tapi aku dapat respon positif dari Dewa Ganesha dan Dewa Yama, meski Dewa Trimurti Hindu si Brahma, Vishnu, dan Shiva tak nampak menunjukkan sedikitpun ketertarikan. Padahal sebagai Dewa Superior, kalau mereka ikut pasti nanti akan lebih ramai dan menyenangkan, Bhuahahahahaaaaa..."
"Ya, aku juga sama. Saat ini di Gunung Olympus, hanya Dewi Afrodit kekasih gelapku yang punya pemikiran ini. Dua Dewa Trinitas Olympus, Zeus dan Poseidon, juga tampak biasa-biasa saja. Padahal kalau mereka mau ikut, pasti akan jauh, jauh, jauh, dan jauh lebih menyenangkan."
"Tch, kalian berdua tabiatnya sama saja."
"Wajar kan? Kami ini sama-sama Dewa Perang. Tidak ada pekerjaan lain yang cocok untuk kami selain berperang." ucap Ares menyahut sindiran Hades. "Kau sendiri, termasuk Dewa Trinitas Olympus, tapi kekuatanmu tak cukup untuk melawan seorang Maou berambut merah dari Underworld."
Hades tak membuat ekspresi apapun menanggapi ejekan Ares, wajahnya saja tidak ada. Tak bisa dibantah kenyataan kalau dialah yang paling lemah diantara tiga dewa utama dalam Mitologi Olympus.
"Ghuhahahahaaaa..."
Sakra lagi-lagi tertawa congak, dia paling senang melihat orang lain direndahkan.
Meski tiga dewa ini saling ejek satu sama lain, tapi nyatanya mereka tetap akur. Itulah namanya teman satu impian, sahabat sepermainan.
Suasana hening cukup lama semenjak tawa Sakra selesai.
Ares mengupil sebentar, lalu menggaruk tengkuknya sambil berbicara, "Hmmm, sebenarnya aku membawa berita yang cukup bagus. Sebelum ke sini, anak buahku mengirimkan informasi tentang keberadaan si penunggang hewan legendaris, keturunan terakhir dari Alexander The Great dalam Epos Yunani Kuno yang menyebut dirinya Kesatria Rider. Selain kekuatannya sendiri, dia juga punya kemampuan untuk memanggil pasukan penunggang hewan yang sangat tangguh dari alam roh, itu bisa jadi pengganti yang lebih hebat dari Pasukan Sparta. Aku sendiri yang akan menariknya ke pihak kita."
Sakra tampaknya tak mau kalah, "Aku juga ada. Pelayanku Sun Wukong si monyet cebol itu juga membawa berita bagus. Satu-satunya demigod keturunan tersisa dari raja-raja Persia yang dalam Epos Babylonia berhasil dilacak keberadaannya. Gilgamesh The King of Heroes si pengguna Pedang Tak Terbatas yang menyebut dirinya Kesatria Archer. Tentu saja aku sudah punya rencana untuk menyeretnya ikut perang."
"Phuhahahahaaaaa..." Tiba-tiba Ares tertawa kencang, melupakan rasa sakit yang masih mendera tubuhnya, "Ini benar-benar menarik."
"Tentu saja. Aku sungguh ingin tertawa sampai meneteskan air mata. Kita tinggal menunggu waktu saja untuk dunia impian kita yang tak akan lagi membosankan. Para siluman pengintai yang kukirm ke Rumania sudah memastikan kalau bangsa Vampire akan dilanda kekacauan besar, tinggal menunggu waktu saja saat perang benar-benar terjadi. Ketika itu tiba, rencana kita menyeret paksa Para Dewa-Dewa Superior dalam perang akan dimulai, dan Ragnarok akan benar-benar terjadi. Aku tidak bisa lebih bahagia daripada saat memikirkan itu, Ghuhahahahahaaaaaa!"
Dahi Hades mengkerut dan alisnya tertaut, walau itu tak tampak karena hanya ada tengkorak di sana. Nyatanya dia kurang suka dengan tingkah dua sahabatnya yang berekspresi lepas, sama sekali tidak mencerminkan martabat seorang dewa.
"Lebih baik kalian segera pulang, telingaku sakit mendegar tawa kalian tahu."
"Cuih!"
"Bakayarou, tanpa dimintapun aku ingin pulang sejak tadi."
.
.
.
-Kuoh City-
Kelompok yang akan berangkat ke Rumania berkumpul di tengah lingkaran sihir yang terletak di lantai dasar kediaman Hyoudou. Lingkaran sihir itu dipersiapkan oleh Akeno. Seperti yang sudah dikonfirmasi, ada Kelompok Gremory lengkap ditambah Irina serta Bennia dan Rugal.
Ravel, Sona, Saji, Suster Griselda, dan Dulio Gesualdo datang ke ruangan ini untuk mengantar keberangkatan mereka.
Koordinat tujuan lingkaran sihir akan langsung menuju ke wilayah Carmilla. Azazel sudah mempersiapkan lingkaran sihir teleportasi di sana sehingga tidak perlu menggunakan rute yang rumit untuk masuk ke dalam wilayah Bangsa Vampire yang sudah ratusan tahun mengasingkan diri.
Setiap orang yang berangkat menggunakan pakaian hangat yang menutupi seragam. Rumania terletak pada garis lintang bumi lebih keutara dibandingkan Jepang, jadi disana pasti dingin, terlebih kota para vampire tersembunyi di antara pegunungan tinggi.
Saat ini di Jepang baru menjelang malam, perbedaan waktu dengan disana pasti mencolok mengingat garis bujur bumi yang berbeda sangat jauh. Di Rumania mungkin masih pagi.
"Kami akan segera berangkat." Ucap Akeno. Persiapan lingkaran sihir teleportasi yang ia kerjakan sudah sampai 90%.
Sona maju selangkah, menatap intens dua budaknya yang ikut ke Rumania bergantian. "Aku menunggu kabar baik dari kalian, Bennia-chan, Rugal-san. Aku mempercayakan tugas ini pada kalian berdua."
"Dimengerti."
"Tentu."
Bennia dan Rugal menjawab bergantian.
Meski nampak biasa saja, tapi bagi Griselda yang jeli, dia sedikit menangkap keanehan pada pesan yang dikatakan Sona. Penggunaan kata 'aku', bukan 'kami' bisa menunjukkan kalau Sona memiliki maksud tertentu atau merahasiakan sesuatu atau bisa juga ada tugas khusus pada Bennia dan Rugal di luar pengetahuan Azazel. Walaupun begitu, Griselda tak mau ambil pusing. Sejauh yang ia ingat, sepak terjang adik dari Maou Leviathan ini tidak mencolok, tidak ada hal lain selain sebagai iblis muda pewaris tahta yang menjalani takdirnya sebagaimana mestinya, tidak pernah berurusan dengan hal di luar tugasnya sebagai OSIS maupun iblis. Jadi kecurigaannya tak beralasan.
Ravel yang merupakan manajer Issei maju kedepan dan menunjukan muka khawatir.
"Ise-sama…."
"Ravel, jangan khawatir. Aku pasti akan kembali bersama yang lain."
Lalu Ravel menyerahkan sebuah parsel. "Ini adalah Air Mata Phoenix yang dikirimkan Raiser-niisama. Sepertinya ada tiga botol di dalamnya. Dia mengirim itu langsung ketika dia mendengar kalau kau akan pergi ke Rumania."
"Eh, ettooo. Dari Raiser-san, huh?"
Ravel merespon dengan anggukan.
"Ya, kalau begitu sampaikan terima kasihku padanya."
"Ha'i"
Griselda menyampaikan pesannya, "Kalian semua, hati-hati di sana."
Issei serta yang lainnya mengangguk optimis.
"Sudah saatnya, Kelompok Peneliti Ilmu Gaib berangkat menuju ke Romania!"
Lingkaran sihir yang dikendalikan Akeno bersinar terang dan proses teleportasi dimulai. Setelah kilatan cahaya, sepuluh orang itu dipastikan telah tiba di wilayah Faksi Vampir Carmilla, Rumania.
.
Masih berada dalam wilayah Kuoh. Tepatnya di dalam apartemen yang menjadi tempat sang pewaris tahta keluarga Sitri tinggal di kota ini.
Shiiinnggg...
Lingkaran sihir berwarna biru dengan aksen khas Keluarga Iblis Sitri muncul di tengah ruangan, diiringi kemunculan gadis berembut hitam sebahu berkacamata.
"Kelompok Gremory baru saja berangkat, apa yang di sini sudah siap?" tanya Sona.
Didalam apartemennya, tidak hanya ada dirinya. Ada tiga orang lain, Si Wakil Ketua OSIS Tsubaki Shinra, dan pasangan suami istri Naruto dan Hinata.
"Kami sudah siap sejak tadi, Sona-san." sahut Naruto.
Tampak ekspresinya seperti orang kesal, mungkin karena dibuat menunggu.
"Siap apanya ha?" balas Sona dengan nada jauh lebih kesal. "Kemarin sudah kukatakan kan kalau Rumania itu daerah bersalju yang sangat dingin? Tapi kenapa kau masih betah dengan celana panjang oranye dan jaket hitam tipis milikmu itu, Naruto-san!?"
Naruto langsung merubah ekpresinya menjadi tertawa cengengesan, sudah kebiasaan kalau sedang menjalankan misi ya begini lah setelan pakaian misinya. "Eheeee, wajar kan kalau manusia khilaf dan lupa."
"Huuuffftt... Sesukamu saja lah."
Ekspresi Sona memang tampak kesal, namun tubuhnya merespon dengan cara lain. Tanpa berkata apa-apa ataupun diperintah, Sona dengan gestur tubuh ikhlas berjalan kearah kamar tidurnya, membuka lemari pakaian, mengambil sesuatu lalu kembali lagi ke tempat semula.
"Ini untukmu, Hinata-san."
Sona menyerahkan satu mantel wol tebal yang bagian kerahnya berbulu lebat. Mantel itu berwarna indogo gelap, cukup mirip dengan warna rambut Hinata.
"Arigatou, Sona-san."
"Hu'um."
Yah, dibanding Naruto, Hinata jauh lebih membutuhkan mantel. Pakaian misi Hinata cukup terbuka, atasan berupa kimono pendek tanpa lengan yang diikat dengan obi, sedangkan bawahannya hanyalah hotpants setengah paha, dengan sepatu bots hampir mencapai lutut. Jika tidak menggunakan mantel, kemungkinan Hinata bisa mati akibat hipotermia sebelum 15 menit berada di Rumania.
Kepedulian Sona pada Hinata memang beralasan, semenjak mereka saling terbuka tanpa ada niat licik untuk saling memanfaatkan, hubungan mereka terbilang cukup baik, itupun jika mengesampingkan urusan perasaan. Sebenarnya Hinata sama sekali tidak membutuhkan mantel itu. Dia bisa saja mengaktifkan The True Tenseigan secara terbatas dalam jangka waktu lama dengan mode hemat chakra untuk melapisi seluruh permukaan kulitnya dengan barrier pengubah vektor, memantulkan kembali hawa dingin yang menusuk sehingga tubuhnya tetap selalu hangat. Namun Hinata adalah tipe orang yang pandai menjaga perasaan orang lain, jadi kemurahhatian Sona ia terima dengan senang hati.
Hanya saja...,
"Hoi, untukku mana?"
Yah, Naruto tidak kebagian mantel. Dia juga tidak ingin kedinginan.
"Aku tak punya mantel lelaki." kata Sona.
"Yang untuk perempuan juga tak apa. Paling-paling model mantel milikmu biasa saja dan tidak mencolok atau glamour. Jadi aku tak perlu malu."
Sona mengartikan ucapan Naruto padanya sebagai sindiran kalau dia sebagai gadis tidak memiliki sisi feminimitas. Dia jelas kurang suka itu.
"Tunggu di sini!"
Sona kembali lagi ke kamarnya. Untuk kali ini saja, dia sebagai putri mahkota Keluarga Iblis terhormat sekaligus Ketua OSIS yang sangat dipuja dan disegani, menjadi pelayan orang lain.
Tak berapa lama, Sona kembali lagi dengan sebuah mantel berwarna putih gading dengan motif garis jingga dibagian bawah.
"Whaaa, selera mantelmu membuatku bernostalgia, Sona-san. Hahahaaaa, Arigatou. Walau tampaknya ini sedikit kekecilan."
"Uhm, ya."
Kesannya Sona tak ingin mempedulikan bagaimana kegirangan Naruto walau hatinya dibuat penasaran.
Namun Hinata berbaik hati bercerita, "Model mantel ini sangat mirip dengan seragam mantel yang pernah kami gunakan di dunia kami dulu saat misi mencari seseorang sahabat dan membawanya pulang."
"Oh." Sona merespon singkat, namun bibirnya mengulas senyum. Yah, entah kenapa dia merasa hatinya sedang senang. Mungkin karena saat ini dia berhasil menyenangkan hati laki-laki yang masih ia harapkan walau nol peluang.
Sona tersenyum saat melihat Naruto yang tampak gagah ketika memakai mantel pemberiannya. Wajahnya merona bukti bahwa dia terpesona. Tapi itu tidak boleh, demi mengalihkan isi pikirannya, ia menatap ke arah Tsubaki yang sedang mengurus lingkaran sihir teleportasi khusus jarak jauh di tengah ruangan.
Lingkaran sihir itu tidak mencirikan simbol-simbol dan aksen formula sihir Keluarga Sitri, namun tipe sihir lain yang sangat berbeda. Apa yang akan dikerjakan Sona, Naruto, dan Hinata adalah misi sangat rahasia, dan mereka tidak ingin ada orang yang mencium apalagi melacak pergerakannya. Karena itulah persiapan seperti ini dibuat.
"Berapa lama lagi, Tsubaki?"
"30 detik lagi, Kaichou."
Sona melirikkan ekor matanya pada Naruto dan Hinata. "Ayo, kita harus berangkat sekarang. Ini sudah waktunya, sesuai kesepakatan kita dengan dia."
Pasangan suami istri itu mengangguk, lalu mengikuti Sona berjalan ke tengah lingkaran sihir.
Hanya tiga orang saja yang berangkat, sedangkan Tsubaki tetap tinggal di Kuoh.
"Tsubaki, kau bisa menghandle semua yang di sini kan?"
"Tentu saja. Serahkan padaku, Kaichou!" jawaban Tsubaki terdengar sangat meyakinkan. Ini bukan hal baru, sudah sering ia diserahi tugas seperti ini oleh Sona.
"Ehmmm, mungkin ini akan berguna."
Sesaat setelah mengucapkan itu, Naruto merangkai segel tangan.
Booffffttt...
Diluar lingkaran sihir, dari balik kepulan asap, muncul sosok gadis berkacamata, persis seperti Sona.
Sona sendiri tersenyum, "Yah, bisa saja nanti bunshin henge yang kau buat itu berguna untuk membantu Tsubaki kalau ada yang mencariku."
Tiruan yang dibuat oleh Naruto punya fitur yang lebih baik daripada hewan familia atau pet milik Sona. Bunshin itu punya akal sendiri, bisa berpikir dan menirukan sifat orang yang ditiru dengan baik. Lalu juga sulit diidentifikasi.
Di relung otak Sona timbul pikiran yang tidak-tidak, bagaimana bisa Naruto membuat tiruan yang sangat mirip dengan dirinya, sampai aura iblis yang terpancar pun intensitasnya sama. Apa jangan-jangan tubuh polosnya ditiru persis sama juga? Ah,,,, kalau memang begitu, kapan Naruto pernah melihat detail tubuh polosnya yang tanpa tertutup sehelai kain pun untuk ditiru?
Shiitttt...! Sona mengutuk pikiran yang baru saja melintas di otaknya. Itu lebih dari cukup untuk membuatnya malu sendiri dalam hati hingga menciptakan semburat merah dikedua pipinya.
Seketika, cahaya bersinar terang dan saat cahaya itu memudar, satu iblis muda berdarah murni serta dua manusia sudah dipastikan sampai di tempat tujuan.
.
.
.
-Rumania-
Tampak ini adalah ruangan dengan pencahayaan minim. Walau begitu, masih terlihat jelas ada seorang pria berumur empat puluhan dengan rambut perak yang mengenakan pakaian khas seorang Maou, sedang duduk di kursi dengan kaki diletakkan di atas meja.
Shiinnngggg...
Tepat sepuluh meter di depan pria itu, lingkaran sihir muncul tiba-tiba dalam kilauan cahaya yang membawa serta tiga orang anak muda.
Yang disebelah kiri dan kanan, si laki-laki berambut pirang dan perempuan berambut panjang dengan style poni rata menatap waspada kesekitar.
Sona yang berdiri di tengah, langsung pada intinya dengan tatapan lurus pada si pria paruh baya, lalu membuka mulutnya untuk mengucapkan sebait pertanyaan, "Ini benar di Rumania kan?"
Sona hanya ingin memastikan, karena tempat ini adalah ruangan tertutup tanpa ventilasi ataupun jendela, jadi dia tidak bisa memastikan lokasi ruangan ini.
"Ya, sesuai yang kau inginkan dalam pesan yang kau kirim padaku, Nona Sitri."
"Tampaknya kau bisa dipercaya, Tuan keturunan pertama Maou Lucifer sejati, Sang Putra Bintang Fajar Rizevim Livan Lucifer."
Kedua pasang mata itu saling menatap tajam, seolah ingin mendominasi, tak ada yang ingin di bawah. Mereka bukan teman, namun bukan pula musuh. Bagaimana hubungan selanjutnya akan terjalin, akan sangat ditentukan oleh apa yang terjadi saat ini.
Rizevim menurunkan kakinya dari atas meja, seraya menarik punggungnya dari sandaran kursi lalu menopang dagu dengan kedua tangan yang sikunya bertumpu di permukaan meja. Matanya tak teralih sedikitpun dari sang pewaris tahta Keluarga Sitri.
Tatapan mata Rizevim sarat akan ancaman, dia adalah Super Devil yang lama tak muncul ke permukaan semenjak Civil War antara Pendukung pemerintahan Maou lama dengan golongan Anti-Maou. Tidak ada yang tidak kenal namanya jika kau adalah orang penting, termasuk salah satunya Sona Sitri.
Sona jelas merasakan kalau ada aura iblis mengerikan yang tanpa dasar terpancar dari tubuh Rizevim. Namun Sona tak gentar, dia datang ke sini dengan persiapan penuh dan rencana yang terstruktur rapi. Sona yakin pada apa yang dia lakukan sekarang.
Sona balas menatap dengan wajah menantang.
Rizevim terkekeh, "Kheh, untuk ukuran iblis muda, kau terlalu berani muncul kehadapanku, Nona Sitri. Bertingkah sombong pula!"
"Kalau ada harga yang kudapat dari keberanian itu, kenapa tidak?"
"Hahaaaa... Jangan coba-coba menantangku!"
Shuu...!
Tanpa ada hembusan angin, Rizevim lenyap dari pandangan. Kecepatan berpindahnya luar biasa.
Yang nampak sekarang adalah sebilah petir tajam tercipta dari materialiasi energi sihir iblis yang keluar dari jari telunjuk tangan kanan Rizevim yang terangkat, terhunus tepat menuju dahi Sona. Jaraknya hanya 10 centimeter.
Rizevim secara tak terduga sudah berdiri di hadapan Sona dengan posisi mengancam.
Meski hampir saja terbunuh, Sona tak menunjukkan perubahan ekspresi sedikitpun.
"Menyerang orang yang paling lemah pertama kali, gerakanmu sudah jelas terbaca, Pak Iblis Tua!" kata Naruto dengan nada mengejek.
Sona mungkin akan benar-benar terbunuh kalau saja langkah itu tidak segera dihentikan. Naruto yang kini memancarkan aura kuning Kyubi Mode berhasil mencegat gerakan Rizevim.
Rizevim menyeringai, "Hahahaaa, jujur aku lebih tertarik dengan bodyguardmu daripada dirimu, Nona Sitri."
"Kami datang bertiga, pulang juga akan bertiga, Tuan Lucifer."
"Yayayaaa, baiklah. Jadi?"
"Apa?" tanya Sona balik.
"Apa aku yang akan dibunuh saat ini? Kalian pasti menganggapku sebagai orang jahat yang sudah seharusnya dieksekusi mati sejak dahulu, iya kan?"
Rizevim bertanya karena memang posisinya yang saat ini tidak bisa apa-apa. Dia tidak dalam posisi mengancam, tapi diancam.
Naruto tertawa kecil, "Itu tergantung padamu Pak Tua. Jika kau tidak segera menurunkan tanganmu dari wajah temanku, kunaiku bisa memastikan lehermu putus saat ini juga."
Saat ini, Naruto berdiri disebelah kanan Rizevim. Tangan kanan Naruto menghunuskan sebilah kunai tajam tepat dibatang leher iblis tua itu. Kunai hiraishin tajam bercabang tiga yang dialiri chakra angin hingga membuat bilahnya tiga kali lebih panjang, tampak seperti sebuah belati. Tentu saja dengan ketajaman meningkat puluhan kali lipat, bahkan hanya dengan tersentuh saja, kulit akan terluka walaupun tak perlu digoreskan.
"Kalau itu belum cukup, dari sini aku bisa menghentikan detak jantungmu juga, Tuan."
Hinata yang mengatakan itu masih berdiri diposisi awal, tepat disebelah kanan Sona. Namun tangan kanannya terangkat dengan dua jari terbuka, jari telunjuk dan jari tengahnya mengeluarkan jarum chakra panjang hingga mencapai dada kiri Rizevim. Doujutsu tertingginya telah aktif secara sempurna, iris dari mata The True Tenseigan berputar indah dikedua bola mata Hinata.
Sang Putra Bintang Fajar sadar kalau selain lehernya, jantungnya juga terancam. Tadi, selama beberapa sesaat dia sempat merasakan kalau detak jantungnya hilang. Walau saat ini sudah kembali, tapi kendali detak jantung itu ia yakini ada di tangan perempuan berambut indigo yang mengenakan mantel biru.
Ini posisi mengintimidasi paling spektakuler oleh Hinata. Sudah tiga kali dia melakukan ini, pertama pada Serafall, lalu Georg dan sekarang Rizevim. Semuanya tak ada yang bisa berkutik jika dia sudah melakukan ini. Dengan mengendalikan jaringan pembangkit impuls kelistrikan jantung yaitu Nodus SA, Hinata bisa menentukan hidup atau mati orang lain semudah menjentikkan jari.
"Oke oke, baiklah. Aku menyerah. Kurasa bercanda kita ini sudah terlalu berlebihan."
Rizevim mengangkat kedua tangannya, sihir petir yang terhunus pada Sona sudah ia lenyapkan.
Naruto maupun Hinata juga menurunkan kewaspadaan.
Ya, yang tadi hanya sebuah candaan. Masing-masing dari mereka punya kepentingan, jadi tak mungkin ada acara bunuh-bunuhan kalau apa yang diinginkan belum didapatkan.
Rizevim berjalan pelan lalu duduk kembali dikursinya seperti semula.
Naruto kembali ke samping kiri Sona. Tiga anak muda ini berdiri dengan rileks, tak sedikitpun merasa tegang walau di hadapan mereka adalah seorang iblis kelas super yang sangat ditakuti karena kekuatannya dan dibenci karena kekejamannya oleh setiap musuh-musuhnya. Malah saat ini Sona bersidekap dada dengan wajah angkuh pada Rizevim. Dia ingin antara dirinya dan lawan bicara berada pada level yang setara.
Jemari Rizevim mengetuk permukaan meja hingga terdengar suara kecil, "Kita mulai saja, apa benar kau mampu memberikan sesuatu yang kau janjikan dalam pesan yang kau kirimkan lewat Euclid?"
"Jangan pernah meragukan kami, Tuan. Jika kami sudah berada di depanmu, berarti kami benar-benar serius."
Sona yang menjawab. Dalam situasi ini, hanya Sona lah yang akan berbicara. Naruto maupun Hinata cukup melihat saja.
"Oke. Tapi sebelum itu, aku tak bisa memperkirakan apa motif kalian sebenarnya. Menginginkan kebangkitan kembali Ayat Pengkiamat, The Apocalypse Beast Trihexa [666], apa kalian sadar dengan yang kalian inginkan?"
"Tentu saja. Tapi aku tak bisa memberitahumu alasan kami, maaf saja."
"Che, lalu apa kau sudah tahu tujuanku membangkitkan Trihexa?"
"Aku tidak tahu, tidak mau tahu, dan sama sekali tidak peduli."
"Apa maksudmu ha?"
Sona membenarkan letak kacamataya, kebiasaannya yang sering ia lakukan setiap beberapa saat. Gerak geriknya nampak anggun dan manis, tapi itu bukan sesuatu yang perlu diperhatikan dalam situasi ini. Sona tersenyum tipis, "Lupakan tentang tujuan-tujuan itu. Kita sama-sama menginginkan Trihexa, daripada berebut akan lebih baik kalau kita bekerja sama, simpel kan?"
"Aaaaah~, aku mengerti. Kalian hanya ingin enaknya saja, 'kan? Aku yakin tidak satupun di antara kalian yang tahu prosedur panjang untuk membangkitkan Trihexa. Bantah pernyataanku kalau salah!"
"Aku tidak bisa menyangkal hal itu, tapi aku yakin kalau kau juga tak bisa menolak tawaran kami. Kau sudah membaca detail semua isi pesan yang kukirimkan padamu, 'kan?"
"Hooo, jadi kau mengakui kalau kegagalan operasi Cao Cao di Venesia itu akibat skenario kalian?"
"Benar. Itu rencana awal kami yang sudah berjalan, dan tentu saja masih ada lanjutannya."
"Kheh, sialan! bedebah! Akibat perbuatan kalian, rencanaku terhambat. Apa kalian sengaja melakukannya hanya untuk hari ini?"
"Mungkin saja iya."
"Tck.!"
"Kau tidak punya alasan menolak kesepakatan yang akan kita buat ini, Tuan Rizevim."
"Baiklah, kita sepakat. Sejak saat ini sampai Trihexa bangkit nanti, kita adalah sekutu. Lalu setelahnya, kita mengurus urusan kita masing-masing. Kalian cukup dengan itu?"
"Hu'um, sepakat. Lihat saja akhirnya nanti, siapa diantara kita yang akan mencapai tujuannya."
Rizevim berdiri dari duduknya, saatnya bagian terakhir dari pertemuan ini, sesuatu yang ia inginkan dan sangat ia butuhkan.
"Kita selesaikan pembicaraan kita sampai disini, aku ada urusan dengan beberapa orang bodoh. Jadi mana sesuatu yang kalian janjikan untukku?"
Menanggapi permintaan Rizevim, Sona menjentikkan jari tangan. Sebuah lingkaran sihir penyimpanan yang biasanya digunakan sebagai inventori barang-barang berharga muncul tepat satu meter didepan Sona.
Dari lingkaran sihir itulah, sebuah kepala dengan rambut panjang berwarna hitam terlihat, semakin banyak yang terlihat hingga akhirnya sesosok tubuh lengkap keluar sempurna. Dia tampak seperti gadis kecil seumuran anak kelas 1 SMP. Dia mengenakan pakaian hitam gothic lolita. Ekpresinya datar, bahkan lebih tepat dikatakan kalau dia tidak menampilkan ekspresi apapun. Sunyi, senyap, dan tanpa emosi.
Rizevim tidak bisa untuk tidak tersenyum senang ketika melihat itu. Ini salah satu barang yang ia butuhkan demi menjalankan rencananya.
"Gunakan dia sesukamu, Tuan Rizevim."
"Tentu saja, itu sudah pasti kan? Tapi aku tetap tidak bisa berterima kasih padamu, Nona Sitri."
"Terserahmu!" Sona melemaskan jari-jemarinya, dia berbalik badan memunggungi Rizevim yang menjemput gadis kecil tadi. "Urusan kita disini sudah selesai. Naruto-san, Hinata-san, ayo kita pergi!"
"Yoshh..." Naruto tampak bersemangat menanggapinya.
"Anooo Sona-san, kemana kita setelah ini?"
"Sesuai rencana, kita akan menetap disini sampai selesai. Aku yakin Bennia-chan yang lebih dulu tiba dari kita pasti sudah selesai dengan tugas khusus yang kuberikan padanya."
Hinata mengangguk pelan.
Tiga orang anak muda itu pun berjalan menuju pintu ruangan yang tampak tidak terkunci.
.
.
.
Beberapa saat sebelumnya, di negara yang sama namun pada kota yang berbeda.
Tempat di mana Kelompok Gremory tiba setelah cahaya teleportasi berhenti adalah ruangan luas yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
"Hei, kalian semua! Disini!"
Itu seruan Azazel yang ada diujung ruangan. Dia berjalan kearah Issei dan yang lainnya. Dia tidak sendiri, tapi ada seorang gadis blonde berkulit pucat yang mengikutinya.
"Meskipun kalian baru saja tiba disini, tapi kita harus segera bergerak. Aku akan menjelaskan detailnya selama perjalanan." Setelah menyapa anak asuhnya, Azazel menatap ke arah Vampire yang yang mengundangnya kemari. "Elmenhilde, Bisakah kau memandu kami?"
Tanpa mengangguk, Elmenhilde berjalan keluar ruangan. Walaupun tak ada isyarat, tapi Azazel dan anak-anak didiknya langsung mengikuti arah jalannya Elmenhilde.
Issei, Akeno, maupun lainnya merasa aneh dengan perubahan sikap Elmenhilde. Saat datang ke Kuoh, dia menunjukkan sikap sombong disertai ekspresi pembuat jengkel dengan lidah tajam. Namun saat ini, meski tanpa bicara dan melihat ke dalam mata merahnya, jelas-jelas kalau Elmenhilde memancarkan hawa kebencian yang sangat mendalam tanpa dasar pada mereka, terutama pada Azazel. Entah apa yang terjadi sebelum kelompok Gremory tiba di wilayah Bangsa Vampire. Issei atau siapapun tak bisa mengira apa yang terjadi, lebih baik menunggu Azazel saja yang menjelaskannya nanti.
Semuanya berjalan meninggalkan ruangan tempat tujuan teleportasi menuju tangga. Sepertinya ruangan tadi terletak di basement. Hawa dingin terasa menusuk kulit sesaat setelah mereka tiba, temperaturnya pasti sangat rendah. Mereka berjalan di dalam bangunan yang terbuat dari batu menuju pintu keluar.
Seperti perkiraan, saat ini di Rumania belum tengah hari. Saat diluar ruangan, yang terlihat adalah pemandangan yang seluruhnya tertutup salju. Wilayah kekuasaan Vampire terletak di pedalaman pegunungan yang sangat jauh dari pemukiman manusia. Sangat wajar kalau tempat seperti ini memiliki suhu yang sangat rendah.
Elmenhilde tidak mengeluarkan sedikitpun uap nafas berwarna putih. Mungkin dia tidak merasakan hawa dingin karena dia adalah seorang Vampire murni. Sebaliknya, hampir semua anggota kelompok Gremory nampak kedinginan, terlebih Asia.
Kota tempat tujuan ini adalah wilayah Faksi Carmilla. Pemandangan kota berkastil menjadi kekaguman tersendiri bagi kelompok Gremory ketika masuk lebih jauh ke dalam kota. Bangunan-bangunan berdiri mengelilingi kastil yang terlihat luar biasa yang terletak ditengah.
Ketika melewati penduduk kota, ada banyak Vampire yang menunjukkan tanda kebencian dan ketakutan. Lebih tepatnya itu diarahkan pada Rugal yang bersama kelompok Gremory.
Saat semua orang masuk ke mobil besar dan mewah untuk diantarkan ke tempat tujuan, tiba-tiba ada yang kurang.
Issei tampak cukup terkejut ketika menyadari kalau Bennia dan Rugal sudah tidak bersama mereka.
Akeno yang menyadari kebingungan Issei berbisik, "Mereka berdua bertindak terpisah. Kelihatannya mereka akan mengumpulkan informasi dengan cara mereka sendiri. Bagaimanapun kita perlu memiliki rute untuk melarikan diri. Itu yang dikatakan Kaichou padaku."
Hebat. Issei tak bisa untuk tidak kagum, dua anak buah Sona menghilang tanpa disadari dan tanpa menimbulkan suara.
Di dalam mobil, Kelompok Gremory dikejutkan oleh penuturan Azazel kalau pemimpin baru Tepes setelah menghilangnya Lord Tepes adalah Valerie. Terutama Gasper yang sangat panik. Dia tidak menyangka gadis setengah Vampire yang menyelamatkannya dahulu akan bernasib begini, mungkin tidak pernah terpikir olehnya akan seperti ini.
"Untuk pemimpin Faksi Tepes yang menganggap laki-laki itu di atas wanita, lalu menjadikan seorang setengah-vampir dan terlebih lagi adalah wanita sebagai pemimpin, ini jelas kalau sesuatu yang sangat dramatis sedang terjadi."
Tuturan itu keluar dari mulut Akeno. Pun lainnya juga berpikiran sama.
Azazel berbicara, "Satu-satunya yang paling mungkin adalah Khaos Brigade pasti menuntun mereka dari balik bayangan dan membuat situasi macam ini. Mereka yang bersekutu dengan Khaos Brigade adalah kelompok anti-pemerintahan Tepes. Mereka dibutakan oleh ketidakpuasan terhadap pemerintahan saat ini dan berkah yang mampu menghilangkan kelemahan mereka yaitu dengan menggunakan Holy Grail. Itulah kemungkinan alasan kenapa mereka terbujuk oleh kata-kata manis teroris. Orang yang mengirimkan Vampire yang telah diperkuat untuk menyerang wilayah Carmilla pasti ada bersama mereka juga. Bahkan pihak pemerintah Tepes juga tidak dapat menangani kelompok anti-pemerintah yang berkomplot dengan teroris sehingga membawa mereka meminta bantuan dari Faksi Carmilla."
Azazel melanjutkan setelah menghela nafas sambil menggaruk kepalanya. "Seperti yang sudah kukatakan, kita akan pergi bersama ke wilayah Tepes yang dikuasai para pengkudeta. Prioritas kita adalah mendapatkan Rias kembali."
"Ha'i!"
Semua anggota kelompok Gremory yakin kalau mereka pasti akan bertemu lagi dengang ketua mereka.
"Situasi sudah sangat kacau. Mungkin kita akan bertarung nanti. Sejak Faksi Carmilla tahu siapa dalangnya, mereka akhirnya bekerja sama dengan para Vampire yang pro pemerintah Tepes, mereka bergabung untuk mengepung kota Tepes yang kini sudah dikuasi pengkudeta anti-pemerintah."
"Jadi kita semua akan masuk kedalam wilayah konflik?"
Pertanyaan Rossweisse tak perlu dijawab karena semuanya sudah mengerti hal itu, dan pertarungan pasti akan terjadi.
Xenovia menatap lurus kearah Azazel dan bertanya, "Sensei mengatakan kalau Vali ada disini. Apa mereka yang menyebabkan kekacauan para Vampire."
"Kalau itu, aku yakin tidak. Meski dia berkhianat, tapi akulah yang membesarkannya. Aku cukup tahu apa yang dia inginkan dengan berada disini."
"Mak-..."
Azazel lansung memotong ucapan Akeno, "Kalian akan tahu dengan sendirinya nanti."
Mengerti kalau Azazel tidak mau membahas Vali lebih jauh, Issei mengungkit hal lain.
"Lalu dimana orang Konoha yang kau katakan itu, Sensei."
Issei menanyakannya dengan nada yang sarat kebencian.
"Aku sudah bertemu mereka sekali. Seperti yang kukatakan sebelum kalian tiba disini, mereka mencari keuntungan dari konflik yang terjadi. Si pemuda berambut merah itu mengatakan kalau ia ingin seluruh bangsa Vampire berada di pihak mereka."
"Appaaa!? Apa maksud mereka sebenarnya, Sensei?"
Xenovia tampak juga memendam kebencian pada orang Konoha, terbukti dari nada pertanyaannya yang seperti keluar dari mulut orang marah.
"Hanya itu yang dia katakan. Yang aku tahu, dalam konflik ini tidak hanya kita saja yang akan ikut dimintai bantuan, tapi juga orang Konoha. Aku tidak tahu bagaimana kronologisnya, mungkin ada salah satu vampire bangsawan yang bertindak seperti Elmenhilde pada kita, ada vampire yang menghubungi Konoha untuk minta bantuan. Mungkin dia berpendapat kalau Konoha yang merupakan pemain baru di dunia supranatural lebih baik dimintai bantuan daripada golongan lain dimana para vampire menjauhkan diri."
Azazel menceritakan semua itu dengan lancar, seolah hal itu memang yang benar-benar terjadi.
"Ya, meskipun begitu, apa maksud sebenarnya Konoha ingin para Vampire di sisi mereka. Apa itu sebuah ajakan perdamaian, hubungan kerjasama saling untung, atau bahkan persekutan militer untuk perang?"
Rossweisse bertanya begitu, karena hanya opsi-opsi itu yang muncul di kepalanya.
Azazel menatap intens semua anak didiknya, dia ingin menanamkan sesuatu dalam pikiran mereka, inilah saatnya. Bagi Azazel, Konoha adalah musuh, dan kelompok Gremory pun harus menganggap Konoha sebagai musuh yang harus dihabisi. Bagaimanapun, kelompok Gremory adalah tim tipe offensive berdaya serang luar biasa, terutama karena adanya Sekiryutei. Tim ini merupakan bidak penting yang sangat berguna demi melenyapkan semua orang yang menghalangi terwujudnya Imperium of Bible.
"Dengarkan aku!" Azazel membuat ekspres serius, ia ingin menanamkan sugesti mutlak pada otak Issei dan lainnya. "Situasi dunia saat ini cukup rumit, ada banyak golongan yang bermusuhan, pasti kalian sudah tahu itu. Masih ingat dengan ucapan pemimpin Konoha yang datang ke Kuoh saat pertemuan?"
Issei dan yang lain mengangguk, kecuali Rossweisse yang saat itu belum menjadi bagian kelompok Gremory.
"Pemimpin mereka mengatakan kalau dia tidak takut berperang dengan siapapun. Dia ingin damai. Selama tidak diusik, mereka tidak akan melakukan tindakan apapun. Tapi sekarang apa? Kenyataan saat ini sangat bertolak belakang. Tindakan si pemuda berambut merah disini, pasti tidak jauh dari keinginan membentuk persekutuan militer. Dan persekutuan semacam itu, tujuannya hanya satu, yaitu perang. Mereka mengingkari janji mereka sendiri. Camkan dalam hati kalian! Konoha adalah musuh. Jika mereka menyerang, kita akan membalas. Hal ini sudah diputuskan oleh petinggi-petinggi Aliansi, bahwa Konoha adalah golongan yang harus kita waspadai, tidak jauh beda dengan Teroris Khaos Brigade."
"Kami mengerti!"
Seolah terhipnotis, Issei dan lainnya menjawab secara serentak.
"Sekali lagi kutegaskan. Misi kita di sini adalah mendapatkan kembali Rias dan Kiba, dan jika bisa kita juga akan membawa Valerie bersama kita. Pemerintah Tepes saat ini dan sisi Carmilla yang akan menangani sisanya."
"Aku pasti akan menyelamatkan Valerie!" Gasper yang berada tepat di samping Issei berkata dengan menunjukan matanya yang penuh tekad kuat.
Mobil besar yang ditumpangi Kelompok Gremory melalui jembatan besar yang menghubungkan wilayah Tepes dan wilayah Carmilla.
Perjalanan menggunakan transportasi mobil berakhir dalam dua jam dan tiba di stasiun gondola yang terletak ditengah jalan di pegunungan.
Sebuah gondola muncul dari sisi lain bersalju setelah bebebapa waktu menunggu di stasiun.
Setelah memastikan pintu gondola terbuka, Azazel berkata pada semua orang, "Ini satu-satu rute menuju kota kastil Tepes yang fraksi Carmilla bisa sediakan untuk kita saat ini. Kota kastil Tepes berada di sisi lain, dan gondola ini merupakan sesuatu yang spesial yang Faksi Tepes siapkan dengan maksud melewati berlapis-lapis lapisan pelindung."
Secara bergiliran, semua orang masuk kedalam gondola.
Gondola itupun mulai bergerak dan mendaki pegunungan bersalju. Hanya ada pegunungan bersalju yang terlihat diluar jendela. Meskipun dengan mata Iblis yang lebih tajam, tapi tidak ada gunanya menggunakannya jika pemandangan tidak berubah sama sekali.
Ketika sampai di tempat tujuan, Azazel dan yang lainnya disambut oleh beberapa Vampire. Mereka mencerca dengan pertanyaan untuk memastikan kalau yang datang adalah orang yang di izinkan. Pada akhirnya, Azazel dan kelompok Gremory bertindak secara legal sesuai aturan.
Salah satu vampire yang tampak seperti pemandu membungkukkan badannya sedikit, "Tolong ikut aku. Rias Gremory-sama telah menunggu di kastil utama Tepes."
Dengan begini, mereka sudah masuk ke wilayah kudeta dengan begitu mudah.
Rias katanya ada di kediaman Keluarga Vladi. Seperti berita terakhir yang terdengar kalau Rias yang di dampingi Kiba sedang berbicara dengan pemimpin Keluarga Vampir Vladi demi Gasper.
Kembali menggunakan mobil besar dan mewah, semuanya diantarkan menuju tempat tujuan.
Bagi iblis muda, situasi Kota Tepes tampak aneh sepanjang perjalanan yang mereka lihat. Kudeta sedang terjadi namun kota ini sungguh biasa saja dan penduduk kota tampak beraktifitas normal. Tidak ada tempat yang hancur ataupun tanda-tanda kekerasan, seolah sedang tidak terjadi kudeta.
"Tidak usah bingung!" ucapan Azazel menarik atensi semua orang, "Mereka pasti berhasil melakukan kudeta dengan membuat pergerakan seminimal mungkin bahkan tanpa membuat penduduk menyadarinya. Ini bisa terjadi karena pada dasarnya ada orang dalam pemerintahan yang berkhianat, mereka pasti dijanjikan sesuatu dengan Holy Grail."
Mobil yang ditumpangi melewati gerbang besar Kastil Tepes lalu berhenti tepat di depan sebuah pintu berdaun dua yang luar biasa besar.
Saat Issei dan yang lainnya keluar, ternyata Rias dan Kiba sudah menunggu.
Mereka berkumpul kembali.
"Bagaimana keadaanmu, Rias. Kami cukup panik karena kehilangan kontak dengan kalian berdua."
Rias langsung menjawab pertanyaan Azazel, "Ya, sama. Aku juga risau karena tidak diizinkan menghubungi siapapun. Aku dikurung di kastil ini agar tidak melakukan tindakan apapun."
"Mungkin saja itu ulah para pengkudeta. Sudahlah, yang penting kalian berdua tidak apa-apa."
"Iya."
Setelah orbrolan singkat itu, seorang prajurit yang berdiri di sisi pintu dengan setelan armor dan pedang jaman kuno mengucapkan sesuatu.
"Silahkan masuk untuk melakukan pertemuanmu dengan Raja Baru."
Pintu besar itu terbuka.
Azazel dan Rias berjalan paling depan, yang lain mengikutinya.
Ruangan yang lebar. Ada karpet merah yang besar di lantai, di ujung karpet ada sebuah singgasana di tempat tertinggi di ruangan ini.
Orang yang duduk di singgasana itu adalah wanita muda. Ada juga laki-laki muda yang berdiri sedikit lebih jauh dari singgasana. Selain itu juga tampak beberapa prajurit dan vampire-vampire berpakaian bangsawan.
Wanita yang duduk di singgasana memiliki rambut pirang bergelombang. Dia mengenakan gaun biasa dan senyum yang anggun terpatri di wajahnya. Dia sungguh cantik. Akan tetapi kedua mata merahnya redup. Mata yang kehilangan cahayanya.
Dia menyapa, "Bagaimana kabar kalian. Namaku adalah Valerie Tepes."
Senyumnya membawa kekosongan dan kesedihan.
"Aku adalah kepala Keluarga Tepes saat ini dan juga seorang Raja. Senang berkenalan dengan kalian."
Valerie menjatuhkan tatapannya pada Gasper.
"Gasper, kau telah tumbuh besar."
"Valerie, Aku sudah sejak lama ingin bertemu denganmu."
"Aku juga. Aku sangat ingin bertemu denganmu. Ayo datanglah mendekat kepadaku."
Gasper berjalan kearah Valerie, lalu dia disambut dengan pelukan.
Valerie bergumam sambil memeluk Gasper. "Aku senang kau baik-baik saja."
Selama beberapa saat, Valerie dan Gasper berbicara sebagai orang yang sudah sangat lama tidak bertemu.
Sejenak kemudian, Valerie melihat ke arah yang berbeda. Dia berbicara dengan bahasa yang sama sekali tidak bisa dimengerti. Bicara pada tempat yang tak ada seorang pun disana.
Azazel berkata dengan sangat pelan. "Jangan melihat ke arah itu. Kau akan ditarik oleh Holy Grail. Terutama kalian Asia, Xenovia, dan Irina yang merupakan orang dari Gereja harus melihat kearah lain."
Merespon peringatan Azazel, Trio Gereja langsung melihat ke lantai.
Azazel melanjutkan ucapannya, "Itu adalah hasil dari seseorang yang dikuasai oleh Holy Grail. Kau akan melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat sama sekali. Aku akan menjelaskan detailnya setelah ini."
Membiarkan Valerie dan Gasper berbicara dan tertawa bersama seolah tak pernah ada masalah, seseorang yang tadi berdiri di dekat singasana berjalan kearah Azazel dan kelompok Gremory.
"Kau pasti pemimpin utama dari kejadian ini kan?"
Azazel langsung bertanya dengan apa yang ia pikirkan.
Laki-laki muda itu menunjukan seringai jahat diwajah bonekanya.
"Yah, agar lebih mudah, kalian boleh menganggapnya begitu. Oh, Aku masih belum memperkenalkan diriku. Aku berasal dari keluarga kerajaan Tepes dan penerus singgasana kelima, Marius Tepes. Aku adalah pemimpin tertinggi kedua dari pemerintahan sementara dan juga sebagai kepala penasehat dari Penelitian Sacred Gear. Meskipun yang terakhir itu adalah pekerjaanku, tapi aku sebenarnya diminta oleh pamanku. Aku juga saudara laki-laki Valerie dalam perihal silsilah dan aku ingin melihat bagaimana adik perempuanku yang manis ini, orang yang sedih terhadap masa depan Tepes, namun akan mengubah dunia Vampir di masa depan nanti."
Dia mengatakan dengan sopan santun yang halus. Namun jelas apa yang dikatakannya tentang Valerie adalah kebohongan, semua orang tahu itu dan mampu merasakan bagaimana besarnya niat jahat yang tersembunyi dibalik senyum dinginnya.
"Kenapa kau memulai kudeta? Apa ini ide orang itu?"
Marius menjawab pertanyaan Azazel biasa-biasa saja. "Aku ingin mempersiapkan sebuah lingkungan dimana aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan dengan Holy Grail. Holy Grail Valerie adalah sebuah karya besar yang membuatku tidak pernah bosan, jadi aku melakukan banyak sekali percobaan dengan itu. Ya, itu adalah satu-satunya alasan sebenarnya di balik ini. Untuk alasan itu, Raja sebelumnya yang tak lain adalah ayahku dan kakak laki-lakiku menjadi pengganggu, jadi aku membuat mereka pergi. Dan orang yang kau maksud barusan itu, anggap saja aku menjawab iya."
"Jadi kau tidak bisa melepaskan Valerie Tepes, begitu?"
Rias bertanya, tapi Marius dengan santainya menjawab kembali dengan mengatakan, "Tentu saja."
"Mencoba berbicara dengannya itu hal yang sia-sia, Buchou." Xenovia menunjukan ekspresi dingin yang tak pernah ia perlihatkan sebelumnya dan mencoba mengeluarkan Durandal dari dimensi lain. Dia marah. "Ayo segera lenyapkan orang ini dan pulang ke rumah. Vampir ini hanya akan menimbulkan kerusakan jika kita membiarkannya hidup."
"Kau membuatku takut, nona iblis dari Gereja. Kalau begitu, izinkan aku memperkenalkan kepada kalian pengawalku. Ia juga satu-satunya alasan kenapa aku bisa bertindak tak terkalahkan."
Marius menjentikan jarinya. Lalu perasaan merinding menjalar keseluruh tubuh semua orang
DEG...
Tekanan dari perasaan itu terasa amat mencekam.
Ketika sumbernya terlihat, ada seorang pria tinggi mengenakan mantel hitam yang bersender pada pilar bangunan. Rambutnya campuran hitam dan pirang. Iris matanya yang unik dimana mata kanannya berwarna emas dan mata kirinya berwarna hitam. Laki-laki yang serba hitam itu melihat ke bawah ke arah lantai setelah menatap ke arah mereka sekali.
"Kekuatannya sangat jauh berbeda. Dia pasti bukan seorang Vampir" Kiba berkata dengan tatapan kaku dan keringat berjatuhan.
Orang itu, jelas berbahaya.
Semuanya ketakutan hingga Ddraig didalam tubuh Issei berbicara.
"Dia berada di level yang berbeda dengan kita semua. Dia adalah seseorang yang tak seorangpun dari kalian saat ini sanggup menanganinya."
"Ddraig, kau mengenalnya?"
"Ya, Aku mengetahuinya sesaat setelah aku melihatnya meskipun dipikir ia dalam bentuk wujud manusianya. Dia tidak bukan pasti Naga Lingkaran Sabit, Crom Cruach. Naga yang dikatakan sebagai yang terkuat diantara semua Naga Jahat."
!?
"Naga jahat terkuat? melawan Grendel saja aku harus susah payah, bagaimana dengan dia?"
"Kalau begitu, jangan melawannya. Meskipun kita mengeluarkan kekuatan penuh, tapi melawan dia lain ceritanya"
Marius menepuk kedua tangannya, mengembalikan kesadaran Issei dari pembicaraanya dengan Ddraig.
"Biarkan hari ini sampai disini. Kami telah menyiapkan kamar kalian. Silahkan tinggal disini untuk sementara. Oh benar juga, Kepala Keluarga Vladi saat ini juga ada di kastil ini, jadi jika kalian semua ingin bertemu dengannya, minta saja pada pelayan untuk mengantarkan."
Pertemuan berakhir hanya dengan kata-katanya itu, Azazel dan kelompok Gremory tidak punya pilihan selain meninggalkan ruangan.
Setelah meninggalkan ruangan tempat singgasana Valerie berada, semuanya dibawa menuju kamar yang di telah dipersiapkan sebelumnya.
Sembari berjalan, Issei yang tampak bingung tentang Valerie yang berbicara ke arah tempat kosong yang tak ada seorangpun, akhirnya tidak tahan untuk bertanya.
"Sensei, dengan siapa dia berbicara?"
Azazel membuat ekspresi serius, "Orang mati dari dunia lain."
"Orang mati bagaimana? Jiwa manusia yang pergi ke neraka, alam kematian atau dunia bawah?"
"Cukupkan hanya dengan berpikir kalau dia berbicara pada sesuatu yang tidak bisa benar-benar kita pahami. Pikirannya telah banyak tercemar karena berlebihan menggunakan Holy Grail."
Itu benar. Nampak sekali kalau hati Valerie Tepes dan emosinya tidak normal.
"Apa yang terjadi pada Valerie?" Gasper bertanya dengan wajah yang terlihat sedih. Orang yang paling terpukul di antara semuanya pastilah dia.
"Itulah Holy Grail. Dengan bersentuhan pada prinsip kehidupan, dia dipaksa mengatakan tentang bagaimana kehidupan dan jiwa itu terbuat. Informasi tentang kehidupan itu sungguhlah besar sampai bisa dianggap tidak ada batasnya. Dia mengambil pemikiran dan konsep kematian, kehidupan, dan berbagai hal lain saat dia menggunakan Holy Grail. Di dalam hati dan jiwanya bergabung semua itu. Banyak pemikiran dari orang lain yang datang ke hatinya hingga dia mengalami kerusakan."
Pada intinya, ada banyak pemikiran orang lain yang berkumpul dan bersatu dalam otak Valerie. Pikirannya bisa saja meledak setiap saat.
"Dia tidak lagi dalam kondisi normal. Membuatnya berbicara dengan yang mati adalah satu-satunya sifat yang muncul. Berbicara pada mereka sambil menikmatinya adalah bukti bahwa pikirannya telah tercemar sampai level kritis. Marius pasti membuat Valerie cukup banyak menggunakan Holy Grail. Sampai ke level di mana dia bisa membangkitkan kembali Naga Jahat ke dunia ini seperti yang terjadi pada Grendel dan Crom Cruach. Agar dia bisa selamat, kita harus menghentikannya menggunakan Holy Grail itu sendiri dan...–"
Azazel berhenti bicara sampai disitu.
Itu karena dia merasakan seseorang berjalan didepannya.
Pria baya dengan rambut perak muncul diujung koridor.
DEG!?
Auranya tidak berbohong, semua orang bisa langsung tahu kalau dia adalah iblis. Iblis yang memancarkan aura menakutkan dan mengerikan yang tanpa dasar.
Azazel membuka kedua matanya lebar-lebar dan menghadapi laki-laki itu dengan ekspresi penuh kebencian.
Segera sesaat laki-laki itu melihat Azazel, dia menunjukan senyuman polos yang biasanya digunakan oleh orang yang lebih muda dari penampilannya. "Oh? Ya ampun, suatu kebetulan kita bertemu."
"Sudah kuduga kau orangnya!"
"Hohooooo... Lama tak jumpa, Paman Azazel. Sepertinya kau baik-baik saja, hmm?"
"Sensei, siapa dia?"
Rias tidak mengenalnya sama sekali, jadi dia bertanya.
"Rizevim. Meskipun kau masih muda, aku yakin kau telah mendengar nama ini dari orang tuamu. Itu adalah orang yang harus kau ketahui jika kau adalah seorang Gremory."
Mendengar nama itu, ekspresi Rias mengkaku.
"Kau pasti bercanda…..! Iya kan, Sensei?"
"Aku tidak akan lupa dengan nama orang ini, Rizevim Livan Lucifer."
Lucifer? Nama belakang itu membuat shock semua orang. Hanya ada satu yang memakai nama belakang itu, kakaknya Rias, Sirzech Gremory. Tapi ini..?
Rizevim tersenyum seperti dia sedang sangat senang, "Jangan menunjukan muka menakutkan seperti itu. Aku merasa sangat tua, tahu."
"Sensei, Lucifer yang kau maksud–?"
"Ya, tanpa diragukan lagi Issei. Dia adalah anak sebenarnya yang lahir dari Lucifer sebelumnya dan "Lilith" yang dikatakan sebagai Ibu dari awal mula seluruh Iblis. Orang yang terekam dalam Kitab sebagai "Lilin". Dan juga kakek sebenarnya dari Vali yang disebut sebagai Hakuryuukou terkuat sepanjang masa. Dan dia adalah boss Khaos Brigade saat ini. Jadi itulah sebutan "orang itu" yang terus kukatakan selama ini sampai kita tiba di sini."
!?
Semua anggota kelompok Gremory kehilangan kata-katanya. Itu jelas karena ini adalah pertemuan pertama mereka dengan Boss Khaos Brigade saat ini, organisasi yang ditakuti dan sangat dibenci karena perbuatan mereka yang telah membuat kekacauan di mana-mana.
Rias mengatakan apa yang ia tahu, "Di masa lampau ketika keturunan Maou sebelumnya menguasai Underworld, Rizevim Livan Lucifer terhitung sebagai satu di antara Iblis Super bersamaan dengan kakakku Sirzechs-niisama dan Ajuka Astaroth-sama. Namun setelah perang sipil di Underworld berakhir dengan kemenangan Maou Baru, dia menghilangkan keberadaan dirinya."
Iblis Super atau Super Devil adalah julukan bagi mereka yang memiliki kemampuan jauh diatas Iblis kelas ultimate, mereka merupakan eksistensi yang tidak biasa, yang banyak dipertanyakan apakah mereka itu adalah benar-benar seorang Iblis.
"Hei, jangan menatapku seperti itu. Aku tidak bertindak karena suatu dendam atau kebencian seperti Katerea yang telah mati atau semua keturunan lain dari Maou sebelumnya. Politik untuk Iblis sudah cukup dengan Sirzechs-kun dan yang lainnya, kau tau?. Aku hanya ingin melakukan sesuatu hal lain di mana itu tidak ada hubungannya pada hal-hal semacam politik. Dan aku melakukan hal itu dengan memanfaatkan organisasi ini. Heheheeeee..."
"Lalu apa maumu dengan bangsa Vampire hah?"
Rizevim tertawa menakutkan sebelum menjawab pertanyaan Azazel. "Uhyahahaaa. Aku adalah inverstor untuk penelitian dan revolusi Marius-kun. Jadi aku diperlakukan seperti tamu spesial dari pemerintahan sementara. Bukanlah pilihan yang bagus untuk meletakkan tanganmu pada tubuhku di tempat ini. Kau paham kan? Meskipun aku tidak bermaksud untuk kalah kalau kau benar-benar melakukannya."
Entah darimana, sebuah bayangan kecil muncul dibelakang Rizevim tanpa adanya sebuah hawa keberadaan.
Dia seorang gadis pendek seperti anak kelas 1 SMP. Dia mengenakan gaun gothic lolita hitam.
DEGGGG!
"Ini...!?"
Perasaan berat langsung menerpa, seolah gravitasi yang menarik tubuh meningkat lima puluh kali lipat lebih kuat. Itu terjadi saat si gadis kecil melepaskan hawa keberadaannya.
Siapapun menyadari tekanan ini luar biasa kuat. Ketika berjumpa dengan Crom Cruach saja sudah sangat berat, dan ini lebih berat lagi. Aura naga terpancar dari gadis itu, jauh melebihi level kekuatan asli seekor Naga dari kelas Surgawi maupun Naga Jahat Brutal.
Azazel, Issei, dan siapapun kini berpikir kalau kastil Tepes sudah menjadi sarang mosnter.
Rizevim meletakan tangannya diatas kepala gadis itu.
"Gadis ini adalah maskot dari organisasi kupimpin saat ini. Perkenalkan, namanya adalah . . . . . . . ."
.
.
.
TBC...
.
Note :Lumayan panjang chapter ini. Ga ada batle, tapi makin banyak yang terungkap.
Ada empat kubu yang jelas-jelas punya kepentingan sendiri-sendiri. Kubu Koalisi Reliji Injil dan Mitologi Norse makin menjadi dengan ideologinya. Sakra, Hades, dan Ares bermain-main dengan perang, berniat menyeret serta banyak dewa-dewa lainnya. Boss Khaos Brigade sudah keluar, dan Tim Naruto makin menunjukkan gerakannya. Sisa Konoha dan sekutunyadibahas chapter depan, mungkin. Eheeee.
Terus di chapter ini muncul tiga nama baru. Yang baca atau nonton Fate Series, tentu kenal dong. Memang fokus konflik hanya pada karakter-karakter dari Naruto dan DxD saja, kemunculan karakter dari anime lain hanya untuk meramaikan suasana. Ares pun sebenarnya bukan chara dari Dxd. Bahkan dari reliji Hindu-Buddha, yang benar-benar mendapat peran di LN DxD hanya Sakra, Shiva, dan Sun Wukong. Lalu dari Olympus cuma Hades saja kalau aku ga salah ingat. Dari Norse pun adanya cuma Odin. Kalau Loki udah mati. Nama-nama lain seperti Zeus, Poseidon, Thor, Brahma, Vishnu, dan banyak lagi dewa-dewa lainnya hanya sekedar lewat.
Intinya, pusat konflik cuma antara karakter-karakter yang nyata dari anime Naruto ataupun DxD. Karakter lain hanya akan berperan sebagai peserta perang Armageddon nanti. Kukatakan diawal begini agar nanti konflik tidak terlalu luas.
Selanjutnya, siapa yang bisa menebak sosok yang dibawa Rizevim?
Ulasan Review:
Chapter kemarin NaruHina emang ga keluar. Dan selama kerusuhan di Rumania, dua orang ini akan jarang muncul, chapter inipun hanya sedikit. Arc Rumania akan lebih fokus untuk Konoha yang dari awal emang jarang muncul, demi persiapan perang.
Yang nanyain Tim Vali, mereka punya tujuan sendiri, khususnya Vali, berhubungan dengan kakeknya.
Azazel?, Err katanya dia jahat. Ya memang begitulah. Tidak jahat juga sih sebenarnya, dia bersama Petinggi Tiga Fraksi yang lain punya ideologi yang ingin diwujudkan. Itu saja alasannya.
Kapan NaruHina gabung lagi bersama Konoha? Hmmmm, tunggu saja ya.
Kalau ditanya siapa dan siapa lagi yang lebih kuat, itu relatif sih. Mau Zeus atau Sakra atau yang manapun, jangan terlalu dipikirkan. Sampai disini, aku cuma sebutkan kalau mereka berdua dan beberapa dewa superior lain termasuk dalam Top 10 Being Strongest in The World, begitu saja.
Sekutu Konoha yang sudah pasti baru Kaum Youkai Kyoto saja, Bangsa Vampire masih dalam progress, dan sekutu lainnya akan sedikit ku ungkit di chapter depan. Ingat, Konoha masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan golongan superior. Jika dibandingkan dengan Fraksi malaikat yang punya 1 juta malaikat kloning plus pasukan asli, bayangkan saja Konoha paling banyak punya 10.000 shinobi dari jounin sampai genin. Kan Konoha cuma satu desa doang? Sisanya pun cuma warga sipil biasa. Jadi bisa membandingkan sendiri, 'kan?
Ras werewolf sudah disebutkan dichapter kemarin termasuk bagian dari Aliansi Tiga Fraksi - Mitologi Norse.
Zeus Vs Raikage A?, mana ada! Raikagenya udah jadi sejarah di dunia shinobi yang telah kiamat.
Nah tuh, Tim Naruto yang diotaki Sona semakin aktif bergerak, bahkan berhubungan langsung dengan pemimpin Khaos Brigade, Rizevim Livan Lucifer. Gimana reaksi Rias dkk kalau ketemu Sona yang begitu, hahaaaaa, bayangin aja sendiri kalau mau.
Lalu, Azazel udah mulai tuh meracuni pikiran Rias dkk. Aku pernah bilang deh kayaknya dahulu, kalau Kelompok Gremory bakal jadi boneka aliansi. Terutama Sekiryutei sebagai ujung tombak kekuatan mereka.
Orochimaru? serta Tim Taka. Aku buat kalau dia diluar Konoha saat kiamat terjadi. Jadi di FF ini dia udah mati.
Juubi?, tunggu saja nanti ya.
Pemilik dari masing-masing 13 SG longinus kah? Aku udah konsepin sesuai LN DxD sampai Vol 20. Dan disana, cuma ada 11 pengguna longinus yang dimunculkan. Jadi di FF ini hanya segitu juga, dan punya peran masing-masing tentunya.
Dari Suna yang masih hidup adalah Gaara. Kankuro juga, entar dia dapat peran kok. Bahkan di chapter 41 diceritakan kalau Temari dan Shikamaru sudah menikah dan sedang menjalankan program kehamilan.
Super Soldier Serum dan Adamantium yang kemarin digunakan Gai memang mengambil referensi milik Hero Marvell. Hanya saja di sini efeknya cuma sementara, tidak permanen. Kalau permanen, bisa-bisa Gai menggantikan peran Naruto sebagai Main Chara.
Thanks yang udah ngasih info nama-nama yang masuk Top 10. Aku dari kemarin cari itu, tapi ga ketemu. Dan berhubung udah terlanjur sampai sini, jadi daftar itu akan sedikit berubah menyesuaikan alur cerita.
Shinobi Konoha punya alat terbang? Heheeee, emang Gai ke Amerika cuma dapat adamantium sama serum super soldier doang?. Ada kok yang lain lagi.
Kalau pemetaan kekuatan, Konoha secara power akan dibawah jika dibanding kubu lain, tapi tetap saja punya potensi besar untuk memenangkan perang.
Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita dan review lainnya kubalas lewat PM. Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.
Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.
.
.
.
.
