Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
~ A DREAM ~
[ Chapter 49 ]
.
.
.
[Oto]
Meninggalkan pekerjaanku sebagai dokter dan kembali ke Konoha, Mitsuki sampai berpikir aku ingin kabur dari tanggung jawab setelah kepergian pelayan pribadi dokter Orochimaru, aku sudah mengatakan jika aku menemukan kembali seseorang yang bisa menjadi pasanganku, tapi tetap saja Mitsuki tidak percaya.
"Dia adalah belahan jiwaku." Ucapku.
"Aku yakin dia bukan belahan jiwamu." Ucap Mitsuki.
"Aku percaya takdirku."
"Kau hanya sedang membuat alasan, paman." Dia masih tidak menerimaku untuk pergi.
"Aku tidak kabur, tapi aku harus kembali, semoga ketika kita bertemu kembali, kau sudah menjadi orang yang sukses." Ucapku.
"Aku tetap tidak percaya pada paman."
"Sudah-sudah, Mitsuki biarkan dokter Sasuke pergi." Ucap dokter Orochimaru.
"Setelahnya ayah harus mencari pelayan baru." Ucap Mitsuki, aku yakin dia lelah mengurus rumah besar ini.
Perpisahan ini terasa aneh, seakan aku memberi beban pada anak muda itu, ucapannya ada benarnya, dokter Orochimaru harus mempekerjakan pelayan baru, Mitsuki akan mati muda mengurus rumah bak kastil kuno ini sendirian.
.
.
[Konoha]
"Kau kembali lagi?" Ucap Itachi padaku.
"Aku sudah katakan padamu, aku terima tawaranmu untuk mengelolah perusahaan."
"Beberapa waktu lalu kau menolaknya, tapi tak ada kursi ketua direktur padamu, kau hanya bisa jadi wakil direktur."
"Ya, itu tidak masalah."
"Kau ini sangat suka berkeliaran di luar kota dan tiba-tiba kembali, katakan apa tujuanmu untuk kembali lagi?"
"Hanya untuk pekerjaan."
"Aku pikir kau sangat senang menjadi seorang dokter. Baiklah, yang penting kau kembali dan jangan lupa berkunjung ke kediaman."
"Aku akan tinggal disana agar ibu tak repot mencariku lagi."
"Aku senang mendengarnya, dan juga, tolong rawat ibu, dia sudah semakin tua beberapa masalah dalam tubuhnya mulai bermunculan."
"Iya, kak, aku akan melakukannya. Oh iya, kak."
"Ada apa lagi?"
"Apa suka pada gadis di bawah umur itu salah?"
"Itu sangat salah! Kau bisa di penjara Sasuke, apa ini alasanmu untuk kembali? Kau ini aneh sekali, dari dulu kau terus mengejar Sakura, sekarang malah mengejar anak kecil, apa aku perlu membawamu ke psikiater lagi?"
"Tenanglah, aku hanya bertanya dan tidak serius akan ucapanku itu."
"Pokoknya jangan lakukan, ibu dan ayah akan sangat kecewa padamu, kau itu seorang dokter hebat dan pria jenius, bagaimana mungkin dari ribuan wanita kau malah memilih seorang anak kecil?"
Kakakku jadi mengoceh panjang lembar tentang apa yang aku katakan, aku tahu, itu salah, dia masih kecil, bahkan masih berumur 15 tahun, sekarang umurku sudah 42 tahun, aku rasa itu tidak akan masalah jika menunggunya dewasa, hanya beberapa tahun saja, aku bisa kembali bersama Sakura-ku dan sang malaikat maut sudah tidak ada lagi di sini, tapi apa benar jika pemikiranku tentang kemungkinan itu akan terjadi, apa Sakura akan baik-baik saja? Apa dia akan mendapat umur yang panjang meskipun telah bertemu denganku dan tidak bertemu sang malaikat maut? Aku tidak akan tahu jika tidak memastikannya.
.
.
.
.
[SMP K]
Aku bisa melihatnya pulang sekolah, murid kelas 3, Yuuki Sakura, aku tidak begitu tahu informasi tentangnya, dia hanya remaja biasa dengan kehidupan keluarga yang biasa. Tidak jauh dari gerbang, beberapa anak mengikutinya, aku mengingat mereka, mereka adalah teman-teman Haruki (anak Ino), mereka hanya berbicara dan tidak adanya kontak fisik, apa dia mendapat perlakukan yang berbeda? Mungkin hanya aku saja yang terlalu khawatir padanya.
Melajukan kendaraanku dan berhenti di sebuah halte, dia sedang menunggu bus, menurunkan kaca jendela mobil dan memanggilnya.
"Kau, masih kenal denganku?" Ucapku.
"Se-selamat siang paman." Ucapnya ramah padaku, anak yang sopan.
"Masuklah, aku akan mengantarmu."
"Eh? Me-mengantarku? Tapi-"
"-Tidak apa-apa, aku bukan orang yang jahat." Ucapku, dia terlihat cukup takut, tentu saja, kau seorang pria tua yang baru saja bertemu anak kecil dan sekarang mencoba akrab.
Suasananya begitu tenang, bukan tenang, murid SMP di sebelahku terlihat masih mewaspadai keadaan.
"Aku selalu berada di luar kota jadi jarang kembali ke Konoha, Haruki pasti akan jarang membicarakanku pada teman-temannya."
"Be-begitu ya. Tapi, kenapa paman repot-repot mengantarku? Aku bisa pulang sendiri."
"Aku hanya kebetulan lewat dan melihatmu menunggu, apa kau akan langsung pulang?"
"Iya."
"Bagaimana jika temani aku makan sebentar, aku baru saja kembali ke Konoha lagi setelah mengurus banyak hal."
"Apa tidak merepotkan?"
"Tidak, aku senang mengajakmu."
Hari ini mengajaknya makan di sebuah restoran, masih mewaspadai keadaan, dia hanya takut padaku, meskipun aku sudah berbicara lebih baik dan tidak membuatnya takut, mungkin karena pengaruh usia, hanya aku saja yang tidak bisa menahan diri saat melihatnya.
"Kau takut padaku?" Tanyaku, dan membuatnya berhenti memakan makanannya.
"Se-sedikit, maaf, bukannya aku tidak sopan pada paman, aku hanya tidak tahu tiba-tiba paman begitu baik padaku."
"Maaf jika membuatku takut, aku akan segera mengantarmu pulang." Ucapku.
Tatapannya mulai terlihat tenang, dia bahkan memakan makanannya dengan lahap.
"Terima kasih atas makanan dan mengantarnya hari ini paman." Ucapnya.
"Hn, sama-sama." Ucapku dan kembali melajukan mobilku, dia tidak ingin aku tahu rumahnya berada dimana, dia hanya memintaku berhenti di pinggir jalan, katanya sudah dekat dari sana.
Kami sudah bertemu, aku mengirim seseorang untuk mengawasinya dan melaporkan apapun yang terjadi padanya, aku ingin mencoba semua kemungkinan yang terjadi pada takdir permaisuri, sampai detik ini pun tidak ada tanda-tanda yang membuatnya dalam bahaya.
.
.
.
.
"Halo, sepertinya tuan harus datang kesini, sesuatu terjadi pada nona Yuuki."
Sebuah panggilan dari orang suruhanku, tidak mungkin jika Sakura tiba-tiba pergi lebih cepat, umurnya bahkan masih 15 tahun, bergegas mendatangi sebuah toko di dalam mall, melihatnya membuatku lega, masalah gawat apa sampai orang suruhanku menghubungiku?
"Masih tidak mengaku juga! Aku akan membawamu ke kantor polisi dan panggil orang tuamu sekarang!" Seorang pria sedang memarahinya.
Sebelumnya, Jugo, orang yang aku suruh untuk mengawasi Sakura mengatakan sesuatu padaku, jika gadis itu mencuri sebuah barang dari toko ini, aku cukup tidak percaya, anak polos dan ramah seperti dia?
"Aku yang bertanggung atas apa yang anak ini lakukan." Ucapku dan dia terkejut melihatku, aku harap kau bisa menjelaskannya nanti nona.
"Siapa anda?" Ucap galak pemilik toko itu, dia benar-benar marah, sampai berani memarahi anak kecil, aku bahkan bisa dengan mudah membeli toko kecilnya ini!
"Ini kartu namaku, jika ada barang yang perlu di ganti, katakan saja." Ucapku.
Setelah melihat kartu nama itu, pria pemilik toko ini menjadi canggung dan menatap takut-takut padaku, apa dia lupa jika mall ini juga di bangun atas kerja sama perusahaan Uchiha?
"Ma-maafkan saya tidak mengenal anda tuan Uchiha, a-anda baru saja kembali? Selama ini saya hanya melihat tuan Uchiha Itachi." Ucapnya, dan sepertinya dia berkeringat.
"Ah, aku sudah kembali untuk mengambil posisi wakil direktur di perusahaan, jadi apa anda mengalami kerugian? Aku akan menggantikannya." Ucapku.
"Ti-tidak tuan, tidak ada, lagi pula aku sudah mengambil barangnya, terima kasih sudah datang ke toko kecil ini." Ucapnya.
Gadis itu tak berbicara padaku hingga kami pergi, dia terus terdiam dan menundukkan wajahnya, ada apa dengannya? Apa aku baru saja melihat dia melakukan hal memalukan?
"Paman, sebenarnya kau ini siapa?" Tanyanya padaku.
"Aku, aku paman Haruki." Ucapku.
"Aku tahu itu, tapi hari ini kau tiba-tiba datang dan menolongku, bagaimana kau tahu akan sedang dalam masalah?"
Dia cukup pandai dan menyadari hal aneh ini.
"Aku hanya sedang mengecek toko-toko yang ada di mall ini dan tanpa sengaja melihatmu, aku pikir kau sedang dalam kesulitan." Bohongku, aku tidak mungkin mengatakan jika mengirim mata-mata untuknya dan akan mengawasinya setiap hari dan dimana pun.
"Aku jadi harus terlihat memalukan di depan kenalan teman sekolahku, aku harap paman tidak menceritakan ini pada mereka, aku yakin mereka akan mulai memikirkan cara memusuhiku." Ucapnya.
"Kenapa kau melakukan hal itu?" Tanyaku.
Gadis itu terdiam, kembali menundukkan wajahnya, lagi-lagi sikapnya tak bisa aku tebak, bagaimana kehidupan sang permaisuri di kehidupan ini? Dia bahkan tak seperti Sakura, Sakura akan melakukan apapun untuk bisa bertahan hidup dengan bekerja, kenapa dia harus mencuri seperti itu? Apa dia tak punya cukup uang atau keluarganya termasuk keluarga miskin? Dari data yang aku dapat, dia tidak termasuk keluarga miskin.
"Aku harus pulang." Ucapnya.
"Aku akan mengantarmu." Cegatku.
"Tidak usah paman, terima kasih, aku tidak ingin merepotkanmu lagi."
"Aku tidak akan repot."
"Aku tidak apa-apa jika pulang sendiri."
"Aku akan memaksamu jika tidak mengikuti ucapanku." Ucapku, aku sedikit kesal dengan gadis yang masih beranjak remaja ini, keras kepala dan sangat sulit mendengar ucapanku, ya, aku rasa sikap itu memang tak pernah berubah.
"Hentikan paman! Aku, aku sungguh malu." Ucapnya dan bergegas berlari.
Apa yang terjadi? Dia sangat marah bahkan hampir terlihat menangis di hadapanku, anak remaja jauh lebih sulit untuk di tebak.
"Ikuti saja dia." Ucapku saat berpapasan dengan Jugo, aku harus lebih ekstra sabar saat menghadapinya.
.
.
.
.
2 hari berlalu.
"Nona Yuuki tak keluar dari rumahnya dan ini sudah terhitung dua hari." Ucap Jugo.
Pagi ini Jugo menghubungiku, gadis itu tak ke sekolah dan terus berada di rumahnya, apa yang terjadi? Apa dia benar memikirkan jika aku akan membeberkan kejadian memalukannya itu pada Haruki? Aku tak pernah menceritakan apapun, kenapa dia harus tidak pergi ke sekolah?
Jika aku datang ke rumahnya, apa ini tidak akan menjadi masalah? Lagi-lagi aku akan selalu ikut campur dalam setiap masalahnya, ini sama persis pada apa yang terjadi pada Sakura sebelumnya.
Mendatangi sebuah rumah sederhana, memencet bel dan tak kunjung ada yang membuka pintu, area rumahnya begitu sunyi dan seperti tak ada penghuni, kembali memencet bel dan seorang wanita keluar, wajahnya yang terlihat tak senang dan tubuh yang kurus itu.
"Anda siapa dan sedang mencari siapa?" Tanyanya, dia hanya berdiri di depan pintu.
"Aku mencari Sakura, Yuuki Sakura."
"Tidak ada yang namanya Yuuki Sakura disini, anda salah alamat." Ucapnya dan bergegas masuk.
Wanita galak yang cukup aneh, Jugo yang memberikan informasi ini padaku, tidak mungkin dia salah alamat jika setiap hari dia mengawasi Sakura pulang dan dia akan tahu Sakura akan tinggal di mana, aku hanya bisa pasrah dan tak bisa masuk seenaknya, aku ingin menghancurkan pagar ini jika saja aku tahu Sakura berada di dalam, tapi bagaimana jika ucapan wanita itu benar? Atau Jugo sedang keliru dan salah melihat dimana Sakura pulang? Aku akan kembali lagi jika mendapatkan bukti jika Sakura tinggal disini.
Ending Sasuke Pov.
.
.
Yuuki Pov.
Mengintipnya lewat jendela, padahal aku tidak memberi tahu alamatku tapi paman itu mengetahuinya begitu saja, paman ini sangat aneh, meskipun di umurnya yang sudah tua, dia masih tetap saja tampan, tiba-tiba dia ada mana-mana, selalu punya alasan menjawab setiap pertanyaanku, aku sedikit curiga padanya.
Saat pertemuan pertama kami, aku merasakan perasaan aneh padanya, aku hampir saja ingin menangis dan memeluknya, serasa kami pernah bertemu dan aku sangat merindukannya, aku mungkin sudah gila memikirkan hal itu, Haruki bahkan menatap aneh padaku, aku tidak boleh memperlihatkan sikap aneh ini padanya.
Beberapa hari yang lalu, dia bahkan membuat pemilik toko itu sampai tak berani bicara, aku tahu Haruki memiliki latar belakang keluarga yang sangat kaya raya, tapi Haruki tak pernah menyombongkan apapun miliknya, kedua orang tuanya bahkan punya profesi yang sangat bagus, kakeknya orang yang sangat terkenal dan berpengaruh, dia punya banyak teman dan mereka menyukai Haruki yang baik dan ramah pada siapapun.
"Siapa pria itu?" Ucap ibu, tiba-tiba datang dan masuk begitu saja ke kamarku.
"Paman dari teman di sekolah."
"Kenapa dia sampai mencarimu? Apa yang sudah kau lakukan? Apa tak cukup dengan mencuri di mall? Selalu saja membuat ibu malu!"
"Aku tidak membuat ibu malu!"
"Masih membantah juga! Ada apa denganmu!"
Ibuku, dia sudah seperti ini saat ayah meninggal, ibu jadi sulit untuk bersikap baik padaku, setiap harinya akan marah dan menegurku, aku sudah bosan di tegur olehnya, dia hanya melampiaskan amarahnya padaku di saat ibu stress pada pekerjaannya sebagai pegawai biasa di sebuah kantor, hidup ini cukup rumit dan sulit, aku selalu iri pada Haruki yang punya latar belakang keluarga yang sangat-sangat bagus, tapi aku tahu posisiku seperti apa.
"Kenapa masih saja membuat ibu susah!"
Dia tahu keadaanku saat di mall, mulut para tetangga dan kenalan ibu tak bisa mengunci mulutnya hingga membicarakanku, saat ini aku tidak bisa ke sekolah, ibu merasa sangat malu dan mengurungku di dalam rumah.
"Ibu, hentikan."
"Berani membantah ibu!"
Tangan itu mulai mengayung ke arahku, tapi selalu saja tertahan, ibu tak pernah memukulku, aku tahu itu, ibu selalu menahan diri.
"Renungkan semua yang sudah kau lakukan dan ibu akan membuatmu kembali bersekolah."
"Tidak perlu, sekolah hanya buang-buang uang, aku bisa bekerja jika ibu mau."
"Jangan berbicara konyol, kau masih anak di bawah umur, apa kau mau menambah masalah untuk ibu? Kau ingin ibu di tahan karena membuatmu bekerja?"
"Aku tidak berpikir seperti itu, bu."
"Jangan memikirkan hal konyol lainnya lagi!"
Braaak!
Pintu itu akan segera rusak jika terus di banting, ibu tak akan pernah mendengar ucapanku jika terus menutup telinganya, sebenarnya apa dia berharap punya anak dulunya? Kenapa aku harus hidup seperti ini?
.
.
Malam harinya.
Berjalan keluar, ibu sudah tertidur, dia cukup lelah dengan pekerjaannya dan cukup jauh dari rumah, tapi mau bagaimana lagi, hanya itu yang ibu bisa lakukan, dia akan istirahat dalam waktu yang cukup lama dan aku bisa keluar diam-diam.
Malam hari yang cukup dingin, sebentar lagi akan memasuki musim dingin, mengambil sebatang rokok dari sakuku, aku harus menyembunyikan hal ini juga, aku mencobanya dari teman-temanku, aku akan menggunakannya di saat stressku sungguh memuncak, aku lelah di perlakukan seperti anak orang lain, jika ibu tidak menginginkan seorang anak dan lebih cinta pada ayah, kenapa tidak membiarkanku mendonorkan jantungku saja?
Ah, aku lupa, saat itu aku masih anak kecil dan jantung anak kecil tak cocok untuk ayah.
"Merokok dapat merusak paru-paru sejak dini."
Terkejut, tiba-tiba seseorang mengambil rokok yang sedangku hisap dan di buang begitu saja ke tanah, dia bahkan menginjaknya hingga tak berbentuk lagi.
Lagi-lagi, paman ini sungguh muncul secara tiba-tiba, mengabaikannya dan bergegas kembali masuk ke dalam rumah.
"Mau kemana? Kita belum selesai nona?" Ucapnya dan menarik lenganku.
"Ada apa?" Ucapku, cuek, aku tak suka padanya, dia seperti orang yang sok ingin mengaturku, padahal kami tak punya hubungan apapun.
"Apa orang tuamu tahu kau melakukan ini? Aku pikir kau ini anak yang baik dan polos, selain mencuri, merokok apalagi?"
"Aku juga jual diri, apa kau sudah puas paman?" Ucapku
Dan sesuatu membuatku sangat takut, tatapan itu menajam, dia sampai mencengkeram kerahku dan membuatku harus berjinjit, aku sungguh takut melihat tatapannya.
"Kau gadis yang sangat nakal, aku akan membuat orang tuamu melihat hasil perbuatan anaknya."
"Ji-jika kau katakan, aku harus segera buat surat wasiat, ibuku akan membunuhku sekarang juga." Ucapku dan tangan itu akhirnya terlepas dari kerahku, sesak, aku sampai terbatuk karenanya.
"Kau sungguh melakukan hal itu?" Tanyanya, kali ini bukan tatapan marah, tapi dia terlihat khawatir.
"Aku masih perawan, paman, aku tak berani melakukan hal itu." Ucapku, meskipun kehidupanku cukup kacau, aku masih takut untuk hal itu.
Deg.
Sebuah pelukan erat, paman ini sangat besar dan sangat tinggi, kenapa dia memelukku? Terlalu erat hingga membuatku sesak napas.
"Lepaskan paman! Aku akan teriak jika seorang pria tua melecehkan anak di bawah umur!" Tegasku.
Pelukannya terlepas dan dia menatapku.
.
.
TBC
.
.
update...~
maaf jika karekater Sasu akan sangat tua dan Sakura di chap ini amat sangat muda, ini adalah bagian alur yang di buat author, jadi nikmati aja kisah unik XD.
hari ini, author balas review saja.
Nan Uru La D' Ima : uhk, sorry juga buat kamu kecewa dengan alur seperti ini, author jadi harus ubah karakternya, sebelumnya dia pun memiliki sosok yang berbeda di kehidupan dulu, permaisuri itu tak mirip Sakura, anak yang gantung diri dan pacar idol itu juga tak mirip Sakura, mereka hanya terlihat mirip saat di lihat dari sudut lucid dream masing-masing sakura dan sasuke, karena author memulai kisahnya di masa sekarang, saat dia sudah menjadi Sakura dan Sasuke, hanya agar lebih mudah membuat kalian paham, author tetap menjadikan Sasuke dan 'Sakura' (tokoh utama) mau di kehidupan mana pun, itu hanya agar tahu jika dia itu Sakura, lalu karena ini udah kehidupan baru Sakura, dia sudah berenkarnasi tapi memiliki penampilan yang berbeda dan nama yang berbeda, jika bingung, author udah membuatnya lebih mudah sih, di chap ini author memunculkan nama panjang Yuuki, yaa, kalau masih kecewa tak apa, XD auhtor hargai apapun masukanmu, terima kasih. :)
sina : yaa, author juga pikir akan seru ketika Sasuke yang sudah sangat tua bersama anak gadis yang cukup muda. pemikiran yang dewasa dan labil, cukup seru sih, ehhee, semoga tetap nikmati alur ini.
sitilafifah989 : yaa, author sudah bersiapkan MItsuki untuk hal ini, dan bagaimana MItsuki bisa membantu Sasuke? kita lihat saja nanti, pengen kasih kejutan di chap-chap berikutnya hehehe.
babiru : terima kasih...~ semoga tetap baca meskipun tokohnya mulai sedikit OC, tapi dia tetap Sakura kok.
Nica-Kun : udah updatenya...~
.
.
terima kasih untuk review kalian,.
See You next Chap!
