Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Author teringat akan princess hours setelah membaca salah satu review reader, author akan mencoba membuat fic dengan tema film korea yang keren itu.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
Don't like Don't Read
.
.
~ To Be A Princess ~
[ Chapter 54 ]
.
.
Akhirnya...! Hari kebebasan! Ah, tidak juga, tapi ibu permaisuri hari ini meliburkan kegiatan mengajarnya untukku, ada apa? Suasana di kediamannya juga sedang ramai, aku cukup penasaran dengan hari ini, apa jangan-jangan hari ini beliau akan pulang? Itu akan menjadi berita yang menggembirakan.
Melongo tidak percaya, aku melihat putri Seon keluar dari kediamannya, what! Apa yang putri licik itu lakukan di sini! Apa karena perjodohan ini akhirnya berjalan, dia akan jadi sering datang ke sini? Ini sangat buruk, segera menyuruh kedua dayangku untuk mengintip dan melihat ke arah putri Seon, dia berjalan menuju kediamanku, eh? Untuk apa di datang ke tempatku?
"Kita kembali, ayo cepat! Cepat!" Ucapku dan menarik kedua dayangku yang sampai kebingungan, berhenti di depan pintu. "Kalian berdua, bersembunyi di sana, lihat bagaimana putri Seon dan ketuk pintu saat dia benar-benar memilih untuk pergi." Ucapku pada mereka.
"Ba-baik Yang mulia." Ucap mereka.
Aku pun segera masuk dan kedua dayangku bersembunyi, Sasuke sedang sibuk, seperti biasa, kertas-kertas dan laptopnya, hari ini dia memilih kerja di rumah, katanya dia ingin menemaniku yang sedang tidak ke kampus.
"Suamiku, punggungku sangat pegal, bisakah kau memijatnya?" Ucapku.
"Tidak sekarang, aku sedang sibuk." Tolak Sasuke dan tetap fokus pada laptopnya.
"Suamiku...~" Rengekku.
Sasuke menatapku dan hanya terdiam. "Panggil para dayang, mereka akan melakukannya untukmu." Ucapnya.
"Tidak mau, aku mau kau yang melakukannya." Ucapku.
"Kau memerintahku?"
"Tidak, tapi aku ingin suamiku yang memijatku, yah-yah-yah." Ucapku dan memasang wajah memohon. Cepatlah Sasuke putri Seon akan datang sebentar lagi dan rencana kecilku ini tidak akan berjalan jika kau tidak cepat melakukannya. "Hanya hari ini saja, kau selalu sibuk, aku berharap bisa di manjakan olehmu sebentar saja." Ucapku dan berwajah cemberut.
"Baiklah." Ucap Sasuke. dia jadi luluh padaku.
Sasuke mulai menghentikan kegiatannya, kami sedang berada di sofa dan aku duduk membelakanginya, Sasuke mulai memijat meskipun punggung sedang tidak sakit.
.
.
Normal pov.
"Aku senang bisa mengunjungi Yang mulia permaisuri di sini." Ucap putri Seon.
"Sering-seringlah kemari, meskipun pangeran Izuna sedang sibuk bekerja, lain kalian aku ingin kalian datang bersama ." Ucap permaisuri, senang.
"Tentu saja Yang mulia, aku akan pamit pulang, tapi apa pangeran Sasuke sedang berada di kediamannya?"
"Iya, dia sedang ada di kediaman, kau boleh mengunjunginya, bukannya kalian itu sangat akrab dulunya."
"Benar Yang mulia, kami sudah berteman cukup lama dan sangat akrab, aku hanya ingin bertemu dan menyapanya sejenak."
"Silahkan, para dayangku akan mengantarmu ke sana."
"Tidak perlu Yang mulia, aku bisa sendiri dan hanya sebentar saja, aku akan segera pulang."
"Begitu ya, hati-hatilah saat pulang."
"Baik, terima kasih Yang mulia." Ucap Seon.
Gadis ini pun berjalan sendirian menuju kediaman Sasuke, dia masih sangat hapal akan area istana, meskipun sudah cukup lama tidak datang berkunjung, sementara itu, kedua dayang Sakura segera bersembunyi setelah melihat putri Seon berada tepat di depan pintu masuk area kediaman pangeran Sasuke, kedua dayang ini sempat bingung maksud dari perintah Sakura, masih mengawasi gadis itu dan sesuatu menahannya untuk tidak mengetuk, wajah kedua dayang itu merona begitu juga Seon, suara Sakura cukup keras, bukan sebuah teriakan atau sedang berbicara dengan nada keras, suara desahan seorang wanita, Sakura terdengar seperti sedang mendesah dan mereka pun beranggapan jika Sasuke dan Sakura sedang melakukannya.
Wajah Seon menjadi kesal, berhenti untuk ingin bertemu dengan Sasuke, pikirnya Sasuke hanya seorang diri di kediamannya, nyatanya gadis softpink itu pun berada di kediamannya, memilih untuk pergi. Hingga cukup jauh dari depan pintu, kedua dayang milik Sakura keluar dari tempat bersembunyi mereka dan mengetuk sesuai perintah Sakura.
"Yang mulia." Panggil mereka.
Sakura mendengar kode itu dan membuka pintu. "Bagaimana? Bagaimana?" Tanya Sakura, penasaran.
"Putri Seon terlihat marah dan kesal, dia pergi begitu saja." Ucap salah satu dari mereka.
Sakura terkekeh dan merasa rencananya berhasil, dia sudah sengaja meminta Sasuke memijatnya dan sengaja bersuara seperti itu agar Seon tidak lagi memiliki niat untuk bertemu Sasuke.
"Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya." Ucap Sakura.
"Ide Yang mulia unik sekali."
"Apa yang sedang kalian rencanakan?" Ucap Sasuke, berdiri di tepat di belakang Sakura dan menatap horror ke arah kedua dayang dan Sakura.
"Ma-maafkan kami Yang mulia, kami mohon pamit." Ucap mereka dan segera kabur.
Sakura berbalik dan melihat tatapan aneh Sasuke, dia sempat mendapat teguran akibat suaranya yang hanya di pijat dan terdengar ambigu.
"Re-rencana? A-aku tidak membuat rencana apa-apa." Ucap Sakura, bahkan menghindari tatapan Sasuke.
"Kau menyembunyikan sesuatu?" Ucap Sasuke, masih dengan tatapan yang sama hingga istrinya berbicara jujur.
Ending normal Pov.
.
.
Terbangun tepat jam 1 pagi, uhk, badanku terasa pegal-pegal, aku hanya menceritakan apa yang sedang aku lakukan saat sore hari bersama para dayangku, aku hanya mengusir putri Seon dengan cara yang memang terdengar sedikit aneh, pada akhirnya aku kena getahnya dan Sasuke meminta 'jatah'nya, aku hanya ingin membuatnya sadar, kenapa putri licik itu masih tetap saja ingin mengganggu Sasuke dan lagi yang aku dengar, dia akan sering mengunjungi istana, aku tidak suka padanya, apa jika aku berbicara pada ayah raja dan ibu ratu mereka akan membantuku? Tapi tetap saja ini akan menjadi rumit, mereka pasti ingin tahu alasan aku begitu menentang perjodohan putri Seon dan pangeran Izuna, bukannya aku iri pada mereka tapi aku hanya ingin melindungi pangeran Izuna, haa..~ memikirkannya lagi dan aku yang sakit kepala.
Aku jadi penasaran dengan ucapan pangeran Izuna, apa dia mendapat sebuah ancaman hingga mau saja menerima putri licik itu? Aku masih tidak percaya akan ucapannya, aku yakin jika putri Seon sudah mengatakan sesuatu hingga pangeran izuna menjadi tunduk padanya, mungkin aku harus menghajarnya lagi agar sadar akan tindakan jahatnya.
.
.
.
.
Hari ini Sasuke mengantarku ke kampus, suami yang sedang peduli ternyata.
"Kau jadi rajin akhir-akhir ini." Ucapku.
"Aku rasa kau tipe yang sangat ingin mendapat perhatian lebih, aku sedang memanjakanmu, istriku." Ucapnya.
Apa dia masih mempermasalahkan hal beberapa hari yang lalu tentang rencanaku itu? Aku hanya ingin menegaskan hubunganku dengan Sasuke yang begitu harmonis hingga tak ada yang boleh mengganggu kami.
"Aku masih tidak percaya jika putri Seon akan bersikap baik." Ucapku.
"Kau tetap saja mempermasalahkannya, beri dia kesempatan kedua."
"Kau pikir orang jahat akan menjadi baik?"
"Uhm, mungkin saja."
Cih, aku akan berhenti membicarakan topik ini, aku rasa akan berujung kami saling menyalahkan kembali.
"Jangan temui putri Seon lagi." Ucapku.
"Hn." Gumam Sasuke.
Menatap ke arahnya, dia mendengarkanku?
"Jika tidak bertemu putri Seon akan membuatmu lega, aku akan melakukannya." Ucap Sasuke, namun tatapan dingin itu tetap saja sulit terbaca.
"Aku juga tidak percaya padamu." Singgungku.
"Bagaimana dengan ucapanmu sebelumnya yang mengatakan kau percaya padaku?" Singgungnya, dia menyinggungku balik.
"Pikiran laki-laki sangat sulit terbaca, bisa saja mereka berubah pikiran."
Cup...~
"Bagaimana bisa aku mengkhianati istriku sendiri? Jika aku sungguh mencintainya." Ucap Sasuke.
"A-apa yang kau katakan! Para pengawal mendengarmu!" Ucapku, dan wajahku sudah sangat merona malu, melirik ke depan, kedua pengawal itu terlihat tenang, mereka pasti menahan diri untuk tetap bersikap biasa saja, setelah kelakuan Sasuke.
Mobil menepih, ini sangat-sangat tepat, aku melihat putri Seon juga baru saja turun dari mobilnya.
"Antar aku keluar." Ucapku pada Sasuke.
"Pengawal yang akan mengantarmu." Ucapnya.
"Hanya membuka pintu saja." Ucapku dan memohon.
"Akhir-akhir kau benar-benar aneh, apa ini alasan untuk memanjakan istri lagi?" Sasuke benar-benar pandai menebak.
"Ayolah." Bujukku.
Sasuke jadi terlihat ogah-ogahan tapi dia tetap saja melakukannya, dia membuka pintu untukku, sontak saja para mahasiswa lain terfokus pada Sasuke, aku kadang sampai lupa saat dimana pria ini masih berstatus lajang dan seluruh mata wanita akan mengarah padanya, bisik-bisik itu pun masih tetap saja terdengar.
"Hey, itu pangeran Sasuke."
"Wah, benar, baru kali aku melihatnya secara langsung,"
"Lebih tampan dari pada saat di tv."
"Tampan dan tinggi, dia seperti model yaa."
Pujian itu seakan tidak pernah luntur darinya, tangan Sasuke terulur padaku, dia memintaku untuk keluar, melirik ke arah Seon, dia melihat ke arah kami, keluar dari mobil, dan mengecup sejenak bibir Sasuke, dia suamiku jadi aku berhak melakukannya.
"Terima kasih, suamiku." Ucapku.
Sasuke begitu pandai menyembunyikan perasaan terkejutnya.
"Kau lebih berani di depan umum dan mengamuk saat hanya ada dua pengawal di dalam mobil." Dia sedang menyindirku.
"Bu-bukan apa-apa." Ucapku, malu, aku sendiri yang sedang membuat diriku malu, suara riuh sempat terdengar karena aku mencium Sasuke.
.
.
TBC
.
.
update...~
lambat update yaa..., tapi author updatenya tidak akan lama jadi santai saja. :)
.
.
See you next chapter...~
