Fanfiction

Title : Kehidupan Baru Boruto

Chapter : 53

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T+

Genre : Romance & Drama

Pairing : Uzumaki Boruto & Uchiha Sarada

Warning : OOC Yang Berlebihan, TYPO, EYD dan bahasa yang hancur, AU.

Author "Taufiq879"

::==::==::

:

:

:

(Kencan Di Hari Istimewa)

:

:

:

"Boruto, kau bilang mau mencairkan semua uangmu. Untuk apa?" tanya Hinata lagi karena sebelumnya di potong oleh Naruto.

"Aku mau beli sesuatu untuk Sarada," ucap Boruto.

"Kalo kau mau pergi nanti siang, sebaiknya sekarang kau mandi dan segera istirahat," ucap Hinata.

"Baik, bu," ucap Boruto lalu memasuki rumah deluan.

:

:

:

Siang itu, seperti yang sudah ia rencanakan. Boruto keluar dari rumahnya dengan memakai sebuah tas di punggungnya. Ia berjalan menuju garasi untuk memakai kendaraan, yaitu motornya. Setibanya di sana, ia sangat menyayangkan kondisi motornya. Kotor karena tidak pernah di cuci semenjak ia meninggalkan Konoha. Bensinnya pun masih penuh seperti jarang di pakai atau bahkan di panasi.

Ia merogoh kunci yang ada di tasnya dan kemudian mencoba menyalakan motornya. Namun apa yang ia duga tidak terjadi, motor itu bisa menyala dengan normal. Ia pun menjadi sedikit bingung akan hal itu apalagi kondisi ban dan bagian bawah yang kotor seperti sering di pakai. Namun ia berusaha melupakannya dahulu karena ada hal yang lebih penting yang harus ia kerjakan. Namun begitu ia menaiki motor itu ia merasa ada sesuatu yang ia lupakan. Tiba-tiba Himawari datang sambil membawa helm.

"Kak, apa kakak tidak mau memakai helm?" tanya Himawari.

"Helm? Ah ya benar. Kakak lupa mengambilnya. Terima kasih, Himawari."

"Oh kak, bisa buka jok motornya sebentar?" tanya Himawari. (Catatan: motor itu punya bagasi kecil di bawah jok paling belakang)

"Ada apa?"

"Aku mau mengambil dompetku. Kemarin aku lupa mengambilnya."

"Oh, sekarang aku mengerti kenapa motorku seperti ini. Bensinnya penuh tapi motor kotor sekali. Apa kau memakainya dan tidak pernah mencucinya?"

"Maaf kak. Aku terlalu sibuk untuk mencuci motor kakak. Tapi setiap 2 bulan aku sering mencucinya sendiri kok. Ayah juga kadang mencucinya karena ayah juga sering memakainya."

"Kau tega sekali Himawari. Setiap 2 bulan baru di cuci. Bisa rusak motor kakak ini."

"Aku juga jarang memakai motor. Aku pakai kalau ayah tidak bisa mengantarku dengan mobil atau kalau aku mau buru-buru."

"Sudahlah. Ambil dompetmu. Kakak mau pergi sekarang sebelum banknya tutup."

Setelah Himawari mengambil dompetnya, ia pun segera pergi menuju bank terdekat di Konoha untuk mencairkan uang yang baru di terimanya dari Hagoromo.

Setibanya di bank, ia pun langsung menemui teler bank karena kebetulan saat itu tidak ada nasabah. Melalui beberapa proses yang lama, akhirnya Boruto keluar dengan membawa uang sekitar 160 juta yang merupakan gajinya selama satu setengah tahun bekerja untuk Sakhuri. Namun itu tentu bukan gaji murni karena sudah bercampur dengan bonus-bonus dan sudah di pakai untuk menunjang kehidupannya selama bekerja untuk Sakhuri.

Setelah semua uang telah ia ambil dan simpan dalam tas, ia pun langsung keluar dan menaiki motornya untuk pergi ke suatu tempat, tepatnya toko perhiasan. Tentu saja membawa tas berisi uang yang sangat banyak akan sangat berbahaya. Kapan saja akan muncul sekelompok perampok. Namun apa yang bisa di lakukan sekelompok perampok jika mereka memutuskan untuk merampok Boruto. Lagi pula Boruto membawa sepucuk senjata di dalam tasnya dan ia memakai kaos spesialnya sebagai dalaman.

Setibanya di toko perhiasan, Boruto pun langsung memasuki toko seraya memperhatikan sekitar karena ia merasa bahaya bisa datang kapan saja dan oleh siapa saja. Tentu ia punya tujuan sehingga berani memasuki toko perhiasan dengan membawa bertumpuk-tumpuk uang yang memenuhi tasnya.

Dalam setengah jam, ia pun keluar tanpa membawa apapun di tangannya karena barang yang baru ia beli tentu berada di tasnya. Ia tak membuang waktu lagi untuk segera pulang ke rumah dan menunggu malam datang.

::==::==::

Tentu saja kepulangan Boruto dengan membawa tas berisi uang yang cukup banyak membuat seisi rumah bertanya-tanya. Hinata, Himawari, dan Naruto yang kala itu sedang menyeruput minuman dingin kala siang hari yang terik pun hanya bisa kaget ketika Boruto masuk dan menaruh tas itu di hadapan mereka sambil berkata "gaji dan bonus yang kudapatkan setelah 1,6 tahun berada di Indonesia."

"Wah, jadi itu bayaran kakak yang di berikan oleh paman Sasuke? Banyak sekali? Ada berapa itu?" ucap Himawari.

"Yang menggaji ayah bukanlah paman..Hmph...Hmph..." ucapan Boruto terputus karena Naruto dengan senang hati menyekap mulut sang putra.

"Ingatlah, Himawari belum tahu tentang semua ini," ucap Naruto lalu perlahan melepas sekapan tangannya dari mulut Boruto.

"Apa-apaan sih ayah! Tadi kak Boruto belum menyelesaikan kalimatnya. Jadi tadi kakak bilang paman... apa bukan paman Sasuke yang membayar kakak? Terus siapa?" tanya Himawari bertubi-tubi.

"Maksud kakak bukan paman Sasuke yang mengaji kakak secara langsung. Tapi ketua tim observasi itu. Walau uangnya berasal dari khas Techconnec yang di berikan pada kami atas izin paman Sasuke," ucap Boruto.

"Oh gitu. Kakak ini kalau bicara jangan di bikin rumit," ucap Himawari.

"Uangmu ini akan kau apakan, Boruto?" tanya Hinata.

"Tadi aku sudah memakai beberapa untuk membeli sebuah barang. Kemudian besok aku berencana untuk memodif motorku. Kemudian kupikir sisanya akan aku simpan di rekening ibu atau ayah," ucap Boruto.

"Rekening aku saja kak!" seru Himawari.

"Enak saja. Yang ada uang kakak habis karena kau pakai jajan tiap hari," kata Boruto yang yang langsung membuat Himawari cemberut.

"Ayah pikir sisanya nanti kau pakai untuk tambahan resepsi pernikahan kau dan Sarada. Tidak enak kalau semua biaya di tanggung keluarga mempelai wanita. Ayah juga punya beberapa simpanan yang ayah simpan khusus untuk membiayai pernikahan kalian," kata Naruto.

"Tunggu, bukankah kau ada nomor rekening?" tanya Hinata.

"Ya, memang ada tapi...," ucap Boruto sambil memberi kode kepada Hinata untuk melihat ke arah Himawari. Dan syukurlah Hinata lebih cepat tanggap ketimbang Naruto sebab dengan melihat tingkah Boruto ia sudah yakin ada hal penting dan rahasia yang ingin ia bicarakan.

"Himawari sayang, lihatlah kakakmu kan baru pulang. Bukankah lebih baik kau membuatkan kakakmu ini minuman dingin seperti kami," ucap Hinata.

"Ah iya. Maaf ya kak. Tunggu sebentar," kata Himawari seraya lari ke arah dapur.

Dan begitu di rasa keadaan aman. "Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Hinata.

"Soal rekening itu bu. Aku harus melenyapkannya. Aku akan membuat rekening baru. Jadi sementara aku menyimpannya di rekening ibu dulu," ucap Boruto.

"Kenapa harus di lenyapkan?" tanya Naruto.

"Entahlah. Perintah dari komandan Hagoromo. Aku harus mengambil semua uangku lalu menghapus rekening itu hingga tak tersisa apapun," ucap Boruto.

"Kalau begitu besok ibu akan ke bank dan menyimpan semua uangmu itu di rekening ibu," ucap Hinata.

"Terima kasih bu," kata Boruto.

Tak lama kemudian Himawari datang membawa minuman es yang menyegarkan untuk Boruto. Ia pun langsung meminumnya hingga tinggal gelas.

"Ehh kak, bagaimana rencana nanti malam. Apa kakak sudah siap?" tanya Himawari.

"Siap atau tidak, kakak harus siap. Meskipun tidak berpengalaman dalam berkencan, tapi setidaknya aku bisa membuatnya bahagia malam ini. Untungnya tadi kakak sudah membeli sesuatu yang mungkin akan membuatnya senang," ucap Boruto.

"Apa itu kak?" tanya Himawari penasaran.

"Rahasia, kakak tidak mau memberi tahu sekarang," ujar Boruto.

Namun tiba-tiba, Naruto memasukan tangannya ke dalam tas lalu merogoh sesuatu berbentuk kotak. Ia pun mengeluarkannya dan menunjukan benda itu pada Hinata dan Himawari serta Boruto. "Oh, kau membelikannya cincin berlian ini," ucap Naruto sambil menunjukan benda yang di letakan dalam benda berwarna merah dan berbentuk kotak itu.

"Ahhh! Ayah ini, apa-apaan sih. Kenapa mengambilnya dari dalam tasku. Padahal aku sudah bilang rahasia?" ucap Boruto sedikit kecewa karena kejutannya untuk Sarada sudah di ketahui keluarganya.

"Wah, Boruto. kau memilih benda yang bagus. Sarada pasti akan menyukainya. Tapi ingat itu benda mahal, jangan sampai hilang," kata Hinata.

"Uang yang kakak dapat pasti banyak sekali ya, sampai kakak bisa membeli benda seperti ini," ucap Hinata.

"Ini gajiku selama 6 bulan bekerja," ucap Boruto.

"Sebaiknya kau istirahat Boruto. malam adalah hari yang penting bagimu. Makanlah lalu tidur. Ayah tidak mau sampai kau mengantuk di malam penting ini," kata Naruto.

"Makanan semua ada di dapur. Ibu sudah memasak makanan istimewa untukmu," ucap Hinata.

Boruto pun memutuskan untuk makan dan setelah itu ia beristirahat.

::==::==::

Sore itu, Hinata dan Naruto sedang menimun segelas teh panas sambil menonton televisi. Keadaan rumah yang sunyi membuat mereka berdua rileks dan serasa ingin tidur. Tapi keadaan itu pun langsung berubah kala putri dan putranya yang kini telah memasuki usia dewasa datang.

Himawari datang menemui kedua orang tuanya dengan memakai gaun. Sementara Boruto datang hanya dengan kaos dan celana pendek.

"Kau mau kemana Himawari?" tanya Boruto dan Naruto bersamaan.

"Temanku berulang tahun. ia mengundang kami. Tapi ia meminta semua orang memakai pakaian formal. Makanya aku pakai gaun. Nanti yang laki-laki di harapkan pakai jas," jawab Himawari.

"Jas? Umm... Oh ya! Aku lupa, aku tidak punya jas untuk nanti malam! Bagaimana ini, tidak mungkin aku pakai jas kerja," kata Boruto sedikit panik.

"Kau kan ada jas yang waktu itu di berikan Sasuke?" ucap Naruto.

"Jas itu sudah rusak," ucap Boruto.

"Tidak ada waktu lagi jika kau mau membeli jas. Ayah, kau punya jas kan?" tanya Hinata.

"Umm, ada sih. Jas yang di buatkan Sasuke khusus untukku. Tapi aku tidak tahu jas itu muat atau tidak untuk Boruto," jawab Naruto.

"Ayah, boleh aku pinjam untuk malam ini?" tanya Boruto lalu membatin "Sial, kenapa aku bisa lupa."

"Tentu, ayah akan siapkan dahulu. Sebaiknya kau bersiap-siap," ucap Naruto.

"Selain jas, kau butuh sentuhan make-up dari ibu agar kau lebih terlihat tampan, Boruto. setelah memakai jasmu, datanglah ke kamar ibu," ucap Hinata.

"Tapi aku bukan perempuan, buat apa berdandan?" tanya Boruto ragu.

"Kau kira berdandan hanya di lakukan perempuan. Setidaknya rambutmu harus rapi, nanti ibu rapikan," ucap Hinata.

::==::==::

Di kamar, Hinata sedang sibuk merapikan rambut Boruto. Sementara Boruto sendiri duduk sambil menatap dirinya sendiri pada cermin di hadapannya. Dan setelah selesai, Hinata mengambil bedak dan siap menaburnya di wajah Boruto.

"Tunggu ibu, aku tidak mau pakai bedak. Aku bukan perempuan," ucap Boruto.

"Ini bedak biasa Boruto. kukira hal yang lumrah jika seorang laki-laki pakai bedak. Hal itu bisa mencegah wajahmu terlihat berminyak," ucap Hinata.

Boruto pun pasrah dan membiarkan sang ibu mendandani dirinya. Namun ketika selesai, tentu Boruto tidak terlihat cantik melainkan tampan seperti yang di harapkan.

"Bagaimana Boruto?" tanya Hinata meminta pendapat atas hasil kerjanya.

"Sebenarnya aku lebih suka penampilan yang natural. Tapi begini juga bagus kok," ucap Boruto.

"Sekali-kali terlihat rapi kan bagus. Ibu jadi ingat sewaktu keluarga kita bertemu dengan keluarga Uchiha. Kau saat itu juga memakai jas dan terlihat sangat tampan seperti sekarang," ucap Hinata.

"Aku tampan ya, aku tampan begini kan berkat kerja keras ibu dan ayah," ucap Boruto.

"Kau bicara apa Boruto?" dengan sedikit nada marah, "kau tampan karena ayahmu juga tampan. Makanya sifat genetiknya pun menurun padamu. Bukan karena kerja keras ibu dan ayah," ucap Hinata yang sepertinya salah paham akan perkataan Boruto tadi karena ia terlalu peka dan akhirnya salah menganalisis kata-kata Boruto.

"Ehh, bukan...bukan itu maksudku ibu. Maksudku itu kerja keras ibu dan ayah untuk mempersiapkan semua ini. Ayah memberiku jas miliknya kemudian ibu merapikan diriku sehingga aku terlihat tampan," kata Boruto meluruskan kata-katanya yang sebelumnya telah membuat Hinata salah paham.

"Oh... begitu ya. Ibu salah paham," ujar Hinata yang seketika langsung merasa malu dan di tandani dengan wajahnya yang memerah seperit dahulu ketika pertama berinteraksi dengan Naruto.

Dan ketika Boruto berdiri, Hinata pun langsung merapikan jas Boruto dan membersihkan bedak-bedak yang menempel pada Jasnya. "Sudah selesai. Kau sudah bisa menemui Sarada," ucap Hinata.

Tak lama kemudian Naruto pun masuk dan mendekati Boruto. "Ini Boruto. Jangan sampai ketinggalan. Kudengar dari ibu bahwa tadi pagi kau sudah melamar Sarada saat di bandara. Apa malam ini akan kau lamar dia kembali sambil memberi cincin itu?" tanya Naruto.

"Iya, aku membeli 2 cincin yang akan menjadi tanda bahwa kami adalah calon suami istri," ucap Boruto.

"Berjuanglah nak. Kau sudah sejauh ini menaklukan hati Sarada. Ini momen penting untuk kau dan Sarada dapat memasuki jenjang yang lebih jauh lagi. Ayah dan ibu akan menunggumu di rumah," ucap Hinata.

"Ayah sudah menyiapkan mobil di depan teras. Cuaca juga sedang bagus. Oh dan ini," kata Naruto lalu memberi sepucuk kertas.

"Apa ini ayah?" tanya Boruto menerima lalu membawa kertas itu.

"Tadi paman Sasuke memberikannya padaku. Sarada bilang kencannya bukan di kediamannya. Tapi di sebuah restoran yang namanya tertulis dalam kertas itu. Tunjukan saja kertas itu pada pegawainya, maka kau akan segera di bawa keruang VIP yang akan kau gunakan bersama Sarada untuk makan malam," ucap Naruto.

"Terima kasih ayah... ibu... Aku jalan dulu. Aku tidak mau membuat Sarada menunggu."

::==::==::

Lalu lintas kendaraan di sepanjang jalan kota Konoha saat itu teratur. Mobil-mobil bisa melaju dengan kecepatan tinggi tanpa takut menabrak mobil yang lain. Boruto adalah salah satu pengemudi mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi memakai mobil milik ayahnya menuju sebuah restoran paling terkenal di Konoha. Restoran yang sudah memperkenalkan kedua keluarga itu.

Setelah mobilnya ia parkir, Boruto langsung mendatangi pintu masuk. Baru saja memasuki restoran itu, ia sudah di sambut oleh seorang pramusaji. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya pramusaji itu.

"Aku membawa sebuah catatan. Katanya di suruh tunjukan saja pada pramusaji di sini," ucap Boruto sambil menyodorkan surat itu pada pramusaji itu.

"Oh, anda pelanggan VIP. Mari ikut saya, akan saya antar anda ke ruangan anda," ucap pramusaji itu sambil mengeluarkan ponselnya.

Setibanya di depan pintu ruangan yang di maksud dalam kertas dalam kertas itu Boruto langsung mengetuk pintu dan menunggu perintah masuk. Pramusaji itu berkata, "menurut data yang ada di ponselku ini, ruang ini di pesan oleh tuan Uchiha Sasuke khusus untuk putrinya dan seseorang. Jika memang anda seseorang itu, silakan masuk. Putri Uchiha itu sudah ada di dalam."

"Terima kasih," ucap Boruto lalu kembali membuka pintu tersebut. Namun karena tak kunjung dapat jawaban, ia pun membukanya tanpa izin.

Dan ternyata, Sarada memang berada di sana. Namun ia sedang berbaring di Sofa yang di sediakan di ruangan itu sambil mendengarkan lagu melalui headset sehingga tidak mendengar suara ketukan pintu. Dan begitu Sarada menyadari seseorang membuka pintu, ia pun segera berdiri dan melepas headset dari telinganya dan merapikan gaun yang ia kenakan sambil tersenyum malu pada Boruto yang sudah berada di hadapannya.

"Pantas aku mengetuk pintu dari tadi tidak ada jawaban," batin Boruto.

"Boruto, kau sudah datang. Duduklah, aku akan pesan makanan," ucap Sarada lalu mendekati meja makan bersamaan dengan Boruto.

Mereka berdua duduk sambil memandangi penampilan satu sama lain. "Kau lebih cantik ya kalau pakai gaun," ucap Boruto. "Kau juga Boruto. Ehh, maksudnya kau tampan bukan cantik," kata Sarada.

"Apa kau sudah menungguku dari tadi?" tanya Boruto.

"Hn, aku tadi melakukan beberapa persiapan makanya aku memutuskan untuk datang lebih dulu," jawab Sarada.

Boruto menggaruk kepala belakangnya, "Harusnya aku yang melakukan semua persiapan ini," ucap Boruto sambil memandangi setiap sudut dari ruang VIP yang sudah di hias sebagus mungkin agar suasananya terasa romantis.

"Tidak apa-apa Boruto. lagi pula aku tahu kalau kau masih lelah karena baru pulang," ucap Sarada.

Tak lama kemudian, pramusaji-pramusaji restoran pun memasuki ruang VIP yang di pesan Sasuke itu sambil membawa makanan dan minuman yang sebelumnya telah di pesan Sasuke. Boruto dan Sarada di buat kaget kala melihat jenis, jumlah, dan porsi makanan itu. Sangat banyak adalah kata yang pas untuk mendeskripsikannya.

"Selamat menikmati," ucap pramusaji yang paling terakhir meletakan makanan.

"Ayah pasti bercanda. Mana mungkin aku dan kau bisa makan semua ini," ucap Sarada.

"Ayahmu berniat membunuh rasa lapar kita dengan makanan atau membunuh kita dengan makanan," kata Boruto.

"Sebaiknya tadi aku mengajak Chocho supaya dia bisa menghabiskan ini semua," ucap Sarada.

"Sebaiknya kita makan sekarang. Usahakan jangan ada yang tersisa. Ayahmu membeli ini semua dengan uang, jadi harus kita habiskan agar tidak mubazir," kata Boruto.

Satu jam kemudian, beberapa piring sudah terlihat tak berisi apapun. Mereka berdua pun sudah nampak menyerah. "Aku sudah tidak kuat, Boruto," kata Sarada.

"Aku juga. ini sudah batas penampungan maksimal dari perutku," kata Boruto.

"Sebaiknya aku panggil pramusaji untuk segera membereskan piring-piring ini," ucap Sarada lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

Beberapa menit kemudian meja pun telah kosong. Hanya tersisa 2 buah minuman yang masih ingin di minum kedua orang tersebut. Sedari tadi Boruto memegang sesuatu yang berada di kantungnya sambil menunggu saat yang tepat untuk memberikannya pada Sarada.

Sarada saat itu bercerita mengenai kejadian-kejadian yang terjadi sewaktu Boruto tidak berada di Konoha. Boruto hanya mendengar sambil berharap saat yang tepat akan datang tepat waktu. Namun beberapa kali ia kehilangan kesadaran kala menatap wajah Sarada yang sedang bercerita dengannya.

Kemudian suasana hening ketika Sarada kehabisan cerita untuk di ceritakan pada Boruto. "Ini kesempatanku," ucap Boruto sambil hendak mengeluarkan cincin itu dari kantungnya.

Namun tiba-tiba, "Oh ya Boruto. apa yang kau inginkan untuk merayakan hari ini? Sampanye? Atau soda biasa? atau minuman lain?" tanya Sarada.

Mendengar Sarada bertanya, Boruto mengurungi niatnya untuk memberikan cincin itu pada Sarada dan bertanya, "Merayakan? Merayakan apa?" tanya Boruto.

"Hari di mana kita sekeluarga bertemu. Kau ingatkan, sejak saat itu kehidupan kita berubah secara drastis. Kau yang miskin sekarang sudah menjadi kaya berkat pertemuan itu. Mungkin saja jika kedua orang tua kita tidak mengajak kita ke restoran ini, mungkin sekarang kita masih menjadi musuh," ucap Sarada.

"Benar juga, ehh... tapi kau tahu dari mana kalau ini harinya?" tanya Boruto.

"Kau ingat kertas ujian yang pernah di berikan ayahku untuk kita kerjakan. Kemarin aku menemukannya dan melihat tanggalnya yang jatuh tepat pada hari ini," jawab Sarada.

"Jadi makan malam ini untuk merayakan hari itu? Kenapa tidak ajak keluarga kita untuk bersama-sama merayakannya?" tanya Boruto.

"Itu karena...Anu...ehhh...umm...aku...ingin...makan berduaan...denganmu," jawab Sarada sedikit malu-malu sehingga kesulitan untuk menjawab.

"Biasa saja Sarada. Kita ini sudah kenal lama. Dan makan bersama pun sudah sangat sering. Meskipun mungkin malam malam kali ini bisa di sebut kencan pertama kita," ucap Boruto.

"Maaf, hanya saja malam ini terasa begitu istimewa. Apalagi mengingat tadi pagi," ucap Sarada.

"Aku mengerti. Aku juga merasakan keistimewaan malam ini berkat dirimu, Sarada. Tapi apa yang kulakukan tadi pagi itu masihlah kurang dan bisa di bilang tidak romantis layaknya lamaran yang di inginkan perempuan manapun," ucap Boruto.

"Tidak Boruto. itu romantis menurutku. Hanya saja di lihat banyak orang pasti membuatmu canggung. Andai saja saat itu aku tidak di makan kerinduan, mungkin aku tidak akan berani memelukmu di hadapan semua orang," kata Sarada.

"Rindu ya? Padahal kita baru saja bertemu beberapa hari yang lalu. Walau aku nyaris mati saat itu jika bukan karena darahmu, darah Sarah, dan darah ayahku yang telah menyelamatkan hidupku." ujar Boruto.

"Aku terlalu khawatir. Rasa kekhawatiranku kuubah menjadi rindu. Selain rindu, aku bahagia karena kau pulang tepat waktu untuk bisa merayakan malam ini bersama," kata Sarada sambil mengambil sesuatu dalam tasnya lalu berkata, "dan aku punya sesuatu untukmu agar kau selalu ingat malam ini," ucapnya sambil mengeluarkan sebuah kunci mobil dan memberikannya pada Boruto.

"Kunci mobil? Ahh, jangan-jangan kau mau menjadikanku supir untuk mengantarmu pulang," ujar Boruto kecewa.

"Bodoh! Dasar tidak peka! Aku mau memberimu mobil. Bukan kusuruh jadi supir mobilku," kata Sarada.

"Ohh, tapi aku kan sudah ada motor dari ayahmu," kata Boruto.

"Aku memberikannya padamu. Itu mobil sport lamaku. Aku cat ulang dan minta Inojin dan Shikadai memodifikasi mobil itu dengan gaya mereka yang serasa cocok untukmu. Aku memakai 90% uangku sendiri untuk memodifikasi mobil lamaku itu. Jadi mohon di terima," ucap Sarada.

"Baiklah, aku akan menerimanya dan pastinya akan selalu kuingat," ucap Boruto lalu meletakan kunci mobil itu di meja lalu merogoh Sakunya, "dan aku juga punya sesuatu untukmu, ini dia," ucap Boruto sambil menunjukan cincin berlian itu pada Sarada. Mata Sarada langsung berbinar-binar kala melihat cincin yang hendak di berikan oleh Boruto itu. Walau sebenarnya dengan penghasilannya sendiri saja, Sarada bisa membeli cincin berlian itu. Tapi cincin berlian itu istimewa karena akan di berikan oleh kekasihnya.

"B...Boruto, kau membelikanku cincin indah ini? Kau baik sekali, apalagi ini asli, pasti mahal," kata Sarada sambil menerima cincin yang di serahkan Boruto padanya.

"Ini belum seberapa. Jika di bandingkan dengan yang kau berikan padaku, mobil itu pasti lebih mahal," ucap Boruto.

"Kau bercanda ya Boruto, ini lebih mahal. Cincin sebagus ini pasti mahal. Apalagi ini berlian asli. Aku hanya menghabiskan sekitar 15 juta untuk memodifikasi mobil itu. Dan kau pasti menghabiskan lebih dari 30 jutaan untuk membeli cincin ini," ucap Sarada melihati cincin tersebut.

"Tidak apakan sedikit berkorban demi dirimu. Lagi pula gaji yang selama ini aku kumpulkan selama bekerja di Sakhuri lebih dari cukup untuk membeli cincin ini," ucap Boruto.

Tak lama kemudian, Boruto mengambil cincin yang sebelumnya telah ia berikan pada Sarada. "Sarada, aku pinjam sebentar cincinmu," kata Boruto. Sarada dengan senang hati pun memberikannya pada Boruto.

Setelah menerima cincin itu, Boruto langsung memegang telapak tangan kanan Sarada lalu berkata, "semoga saja cincin ini muat di salah satu jarimu." Satu persatu jari Sarada pun ia perhatikan dan coba pakaikan cincin itu dan akhirnya terpasang di jari manis Sarada.

"Terimalah pemberianku Sarada, walau ini tidak seberapa jika di bandingkan hartamu yang melimpah itu," ucap Boruto.

"Cintaku tidak dilihat dari harta yang di berikan. Tapi cintaku dilihat dari ketulusan yang diberikan. Berapapun harga cincin ini, entah asli atau palsu tetap akan aku terima asal kau tulus mencintaiku," kata Sarada.

"Tentu aku tulus mencintaimu. Cincin ini adalah buktinya. Dan juga Kepergian selama ini untuk menjauhkan kau dari mara bahaya adalah bukti ketulusanku. Selama satu setengah tahun ku meninggalkan Konoha dan tidak pernah lupa padamu adalah bukti ketulusanku. Kuyakin kau juga tulus padaku," ucap Boruto.

Sarada mengusap matanya yang telah meneteskan beberapa tetes air mata kebahagiaan, "Ya Boruto, aku juga tulus mecintaimu. Meskipun dulu kita bermusuhan, dan pertemuan pertama kita bersama keluarga kita di tempat ini telah merubah segalanya," kata Sarada.

"Aku bahagia bisa mengenalmu sedekat ini, dan aku mau berterima kasih atas semua ejekan yang pernah kau lontarkan padaku. Hal itu telah membuatku semakin dekat mengenal dirimu," berhenti sejenak melihati cincin yang kini telah Sarada kenakan lalu berkata, "Cincin itu juga adalah bukti bahwa kita siap melanjutkan jenjang berikutnya."

"Terima kasih, Boruto," kata Sarada sambil memegang telapak tangan Boruto yang berada di atas meja.

:

:

:

Bersambung

:

:
:

Wah, kayaknya lama sekali ya chapter ini muncul. Beberapa hari terakhir author lagi ketagihan main game soalnya. Maklum liburan ini author manfaatkan untuk bersantai. Tapi author tidak pernah melupakan fanfiksi yang satu ini karena author percaya ada yang sedang menunggu.

Tidak usah berlama-lama lagi mungkin. Author akan segera mengupload cerita ini. Tapi sebelumnya author ada pemberitahuan, kemungkinan chapter depan sudah memasuki tahap pernikahan. Tapi mungkin ada sebuah chapter spesial yang bercerita mengenai masa-masa SMA Boruto dan Sarada dan tentunya jalan ceritanya sebelum cerita SI Miskin Boruto. perlu di perhatikan bahwa chapter spesial itu akan panjang sehingga memerlukan waktu tambahan.

Bolehkan author curhat sedikit. Jika tidak mau membaca lagi silakan back, atau kalau chapter selanjutnya sudah ada silakan next.

Begini, author belakangan ini selalu kepikiran membuat cerita-cerita baru. mulai dari Chara Boruto dan kawan-kawan serta Chara Naruto dan kawan-kawannya. Tapi author tidak bisa membuatnya karena cerita ini masihlah belum selesai. Dan jika author menulisnya takutnya cerita ini bakal lebih lama di update. Tapi konsep untuk cerita ini kedepannya sudah ada sih. Jadi jika ada niat dan waktu bakal di lanjutkan dan bisa selesai kapan saja asal author serius. Terutama untuk chapter spesial karena seluruh konsepnya sudah ada.

Jadi ada yang punya saran.

Oh dan tambahan, cerita yang auhtor mau buat itu juga merupakan multi chapter yang mungkin bakal panjang ceritanya.

Dan satu lagi, author ada tugas pembuatan karya ilmiah bertema pengemis cilik. Kelompok sih, tapi rasanya kayak malas mengerjakannya walau author ketuanya. Ada yang punya saran agar author bisa bersemangat mengerjakan tugas itu.

Oke sekian untuk chapter 53