Disclaimer: Dota adalah ciptaan Icefrog. ALL HAIL THE FROG!


One Piece © Eiichiro Oda

Two Schools, Two Worlds

Chapter VIII

Defense of the High School

Part 1 – Captain's Mode


Keesokan harinya saat istirahat makan siang, anak-anak OSIS langsung membagi tugas. Luffy dan Kid, kemudian Nami dan Bonney. Monet standby di ruangan OSIS untuk mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk pendaftaran (seperti profil siswa dan sebagainya). Mereka bergerak cepat karena ingin segera mengetahui peraturan Defense.

Sebelum mereka berpencar, Kid memberi pesan singkat. "Cukup cari anak kuat."

Itu sangat membantu. Jika mendengar kata "anak kuat" di SMU Seifu, maka anak-anak dengan kompak menyebut beberapa nama tertentu yang tidak asing.

Roronoa Zoro.

Mungkin tidak ada yang tidak mengenal anak berambut hijau satu ini. Wakil ketua kelompok SH dan kapten Klub Kendo, kekuatan (dan pesonanya) amat tersohor. Mungkin sekilas dia terlihat seram dengan wajah selalu seriusnya, tapi jika kau sudah kenal baik, sebenarnya dia anak yang baik. Sedikit tsundere, mungkin.

"Haaah?!"

Bukan, Zoro tidak menghardik narator, dia hanya kaget karena tiba-tiba didatangi Luffy dan Kid. Padahal saat itu dia sedang enak-enaknya ada dalam batas antara bangun dan tidur di tempat favoritnya, pojok barat daya atap sekolah di bawah pohon oak. Memang, di musim semi seperti ini, saat pohon itu sedang rindang-rindangnya, sangatlah nyaman berada di bawahnya.

"Event bawah tanah, Defense? Mencurigakan," komentar Zoro, singkat.

Reaksi si kepala marimo tidak sesuai dengan perkiraan Luffy dan Kid.

"Mencurigakan atau apa, event itu bisa jadi ajang latihan, karena akan ada pertarungan sungguhan," kata Kid kemudian.

Zoro memutar bola matanya. "Meh. Nggak tertarik."

Jawaban itu sungguh mengejutkan Kid. Dari data yang didapatkan Usopp sang informan SH, Zoro adalah cowok yang gila latihan. Setiap ada waktu luang, dia akan memanfaatkan benda-benda di sekitarnya untuk berlatih fisik. Di balik wajah mengantuknya, sebenarnya dia selalu latihan fisik tiap subuh... sulit dipercaya memang. Tapi setelah Kid menawarkan kalau Zoro bisa berlatih langsung di medan perang... dia menolaknya begitu saja?

"Ini perang tahu, perang! Kapan lagi kau bisa membuat Shuusui milikmu minum darah?"

"Kau anggap pedangku ini apa?!" Zoro menghunus Shuusui, memaparkannya ke sinar matahari musim semi, membuatnya mengeluarkan kilauan ungu yang cantik. "Mata pedang Shuusui memang berwarna hitam, tapi ini bukan pedang terkutuk."

Zoro kembali memasukkan Shuusui ke dalam sarungnya.

"Mau latihan seperti apapun, percuma. Nggak ada kesempatan buatku untuk benar-benar serius."

Oooh, itu benar-benar sombong.

Muncul guratan otot di dahi Kid. Padahal waktu pesta perpisahan kapan hari, Kid bisa mengimbanginya! Saat itu dia menyandera Shuusui dengan sarung tangan magnetnya sih. Kid hendak membalas pernyataan sok itu, tapi Luffy yang dari tadi diam, menghalanginya.

Luffy merangkul Kid dan mereka berjalan sampai ke sudut lain, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu yang tidak boleh didengar Zoro.

Benar perkiraan Kid, karena Luffy berbisik, tindakan yang di luar karakter cowok berisik itu. "Psst... akhir-akhir ini Zoro jadi agak aneh, jadi serahkan saja padaku."

"Haah?" Kid mengangkat sebelah alis tipisnya, lalu menolehi Zoro yang kembali memejamkan mata seolah-olah kehadiran mereka hanya mimpi, menyebalkan.

Tapi itu sikapnya yang biasa kan? Apanya yang aneh darinya?

Sementara Kid berpikir begitu, Luffy meninggalkannya dan menghampiri Zoro. Ia merasakan kehadiran sang ketua dan membuka matanya, "Apa?"

Luffy menyeringai dan menuding Zoro, "Kau harus ikut."

Zoro balas menyeringai, "Kalau kau berpikir itu adalah sebuah bujukan-"

"Ini perintah."

Skak mat. Kid di sudut lain menaikkan kembali dagunya yang jatuh. Semudah itu?! Bagaimana cara Luffy mengontrol hewan buas pemberontak seperti Zoro?!

Zoro menggeram. Dia sudah mengira Luffy akan memaksanya, tapi apa-apaan dengan itu? Perintah? Luffy tidak pernah memberi perintah yang sembarangan!

"Apa maumu?"

"Kau bukan Zoro yang biasanya," sang kapten menyilangkan lengan, ia menatap Zoro dengan penuh wibawa, seperti seorang yang memiliki jabatan lebih tinggi darinya, efek dari Haoshoku.

Zoro merasakan bulu kuduknya merinding. Walaupun dia sudah lama mengenal Luffy dan tahu soal haki itu, dia tetap tidak biasa menghadapi aura raja yang begitu menekan.

"Nami dan yang lain mengkhawatirkanmu, tahu. Kata mereka, kau nggak bersikap seperti biasa. Jadi, dia ingin kau ikut biar kembali."

"Heh, 'nggak biasa'? Aku yang biasa juga begini," Zoro mengangkat bahunya.

"Nggak," Luffy menggelengkan kepalanya. "Kau... berubah sejak perpisahan kemarin. Ke mana semangatmu yang biasa kalau berhadapan dengan tantangan?!"

Tidak sesuai dengan tampang cueknya, Luffy memang perhatian kalau sudah berurusan dengan teman-temannya. Biasanya dia yang pertama tahu kalau seseorang mengalami masalah...

Jadi, percuma menyangkal. "Tch," Zoro mendecak.

Kid yang menguping pembicaraan mereka tahu bahwa apa yang dikatakan Luffy itu tepat sasaran, bahwa sikap Zoro berubah karena suatu sebab... dan dia tau apa itu.

Sang wakil ketua OSIS menyeringai karena mendapat senjata baru, lalu ia berjalan mendekati mereka. Menyandarkan tangan kanannya di bahu Luffy, dia berkata dengan senyuman lebar, "Aku tahu penyebabnya, mugiwara. Roronoa Zoro, kapten Klub Kendo yang nggak tersentuh itu... murung gara-gara merindukan seseorang-"

"Maksudmu merindukan Robin?"

Beberapa helai rambut merah dan hitam terbang, terpotong dari atas kepala Luffy dan Kid. Mereka berdua bersiul kagum, walaupun selisih beberapa milimeter saja kepala mereka akan terpotong seperti tomat.

"Lanjutkan, dan aku menjadikan kalian sebagai target hidup latihanku," geram Zoro, matanya memancarkan aura pembunuh yang luar biasa. Shuusui tampak meliuk-liuk karena auranya, seperti pedang terkutuk yang mengincar leher kedua orang itu untuk membuka tingkat kekuatan selanjutnya.

Bagus, dia sudah kembali, pikir Kid. Tapi dia tidak mau kawan setim membunuhnya sebelum event dimulai, terimakasih. Jadi, dia mengangkat kedua tangannya, "... aku diam saja deh."

Zoro menyarungkan kembali Shuusui, tapi nafsu membunuhnya belum juga padam. Seringai Luffy semakin melebar. "Jadi, bagaimana?"

"Oke... aku ikut. Akan kulampiaskan amarah ini di medan perang."

"Kuharap sasarannya bukan aku," gumam Kid.

...

Luffy kemudian menyeret Zoro untuk merekrut anggota lain. Selain untuk jaga-jaga kalau suasana memanas seperti tadi, Zoro punya mata yang bagus untuk menilai seseorang. Perselisihan Zoro dan Kid juga memudar, mereka sudah bisa saling sindir sepanjang perjalanan.

Target selanjutnya adalah Trafalgar Law.

Mantan anggota Supernova (kabarnya sebagai 'tangan kiri' Kid), kini ia tergabung dalam kelompok Shichibukai yang tak terlalu menonjol. Ketua klub PMR dan seorang jenius dalam bidang biologi, sekilas dia tidak terlalu kuat karena jarang bertarung, tapi Kid punya visi lain untuknya.

"Torao!"

Sang target sedang bersantai di kelas dengan topi bintik menutup wajahnya, mengisi waktu istirahat siang. Law menaikkan topinya, wajahnya tampak malas begitu melihat Luffy, Kid, dan Zoro menghampirinya.

"... nggak."

"Aku belum ngomong apapun!" protes Luffy. Dengan seringai masih menghiasi wajahnya, ia mengambil kursi di depan Law dan duduk menghadapnya. Kid dan Zoro berdiri di samping kiri-kanannya dengan sikap sempurna layaknya bodyguard profesional.

"Melihat tingkah kalian sepertinya ini akan merepotkan buatku."

"Ini demi sekolah, tahu," Kid memotong.

"Kalau begitu, aku jadi semakin malas."

"Paling nggak dengarkan dulu penjelasannya, oi," Zoro angkat bicara.

Law menghela napas dan membetulkan posisi duduknya. Dia berpikir untuk meladeni mereka saja daripada wajah-wajah menyebalkan itu terus ada di depannya. "Silakan."

Kid pun menjelaskan tentang event. Selama itu, Law tidak bereaksi sedikitpun, tapi Luffy tahu kalau cowok berjenggot itu tengah berpikir.

"Bagaimana, tertarik?" tanya Kid setelah selesai menjelaskan.

Meskipun matanya berbinar-binar, suatu kejadian yang amat langka, Law menjawab dengan dingin, "Nggak juga."

Luffy menolehi Kid dan Zoro mendengar jawaban itu, mengira sudah gagal merekrutnya. Tapi Kid tidak tampak khawatir, dia tetap menyeringai penuh percaya diri... suatu pertanda buruk buat Law.

"Jangan bilang begitu, Trafalgar..." Kid berkata dengan pelan. Dia menyentuh logo OSIS di lengan kanan kemejanya, "OSIS diwajibkan ikut serta dalam event ini, yang berarti Monet juga. Apa kau tega melepasnya di medan perang?"

"... cih."

Law mendecak dengan wajah yang sama dengan Zoro tadi, menunjukkan ekspresi orang yang menyerah. Diapun mengangguk pelan setelahnya.

"Yosh!" Luffy mengangkat kedua tangannya, senang.

"Menggunakan sandera, huh. Caramu kotor seperti biasa, Eustass-ya," komentar Law.

"Heh, aku nggak akan segan-segan kali ini," Kid menjawab singkat.

"... kamu benar-benar pacaran dengan dia, ya?" tanya Zoro. Biasanya dia tidak tertarik pada gosip-gosip seperti itu, tapi sebelum masuk kelas Kid membocorkan rencananya untuk mendesak Law dengan membawa nama Monet. Dia jadi sedikit tertarik.

"Nggak! Dia hanya... memegang kunci biar aku bisa masuk Jurusan Kedokteran, itu saja."

"Tapi kau tampak sangat menikmatinya?" tanya Kid kemudian.

"Berisik."

...

Luffy dan yang lain meninggalkan Law karena dia mau langsung menyusun basis strategi. Dasar tryhard, menurut Kid. Tapi mereka masih ada urusan yang lebih penting dibanding menunggu Law menyelesaikan strategi... merekrut orang lagi.

Target selanjutnya adalah Sanji.

Yang ini namanya tersohor bukan hanya karena kemampuan bertarungnya sebagai "Monster Trio SH" bersama Luffy dan Zoro, atau jabatannya sebagai ketua Klub Memasak... tapi juga keeksentrikannya. Seorang pengejar wanita yang cenderung mesum, tapi herannya bisa tetap populer.

Seperti biasa, mereka menemukannya sedang makan siang bersama para penggemarnya (yang terang-terangan dia sebut sebagai harem... herannya para cewek tidak menyangkalnya).

Melihat 3 cowok populer Seifu muncul berbarengan (terutama Luffy), para penggemar Sanji langsung histeris. Mereka berebut mendekati sang ketua OSIS, sehingga Kid dan Zoro terpaksa membuka jalan buatnya. Para cewek tambah senang karena mereka bisa berdekatan dengan kedua orang itu sih.

"Hei. Ada apa, Luffy?" tanya Sanji. Dia bisa mentolerir Luffy yang mengganggu momennya, karena banyak cewek di dekat dia.

"Ada event menarik..." si ketua menjawab dengan seringai lebar yang sukses membuat para cewek berteriak histeris lagi. "Dan kami butuh bantuanmu."

"Menarik, aku ikut."

Ia menerimanya begitu saja, Luffy, Kid, dan Zoro sampai tidak bisa berkomentar.

"Hoh? Mudah sekali... aku mencium ada udang di balik tempura," komentar Kid.

"Jangan bilang begitu," kata Luffy dengan wajah serius.

Kid menggaruk pipinya. "Oh, sori. Tentu kau sebagai ketua ingin percaya padanya, kan?"

"Bukan, aku jadi lapar."

Anak-anak terjungkal berjamaah. Serahkan pada Luffy untuk mengartikan peribahasa secara literal.

"Hahaha! Aku sudah tahu garis besar event-nya," Sanji berkata kemudian, setelah anak-anak sudah kembali berdiri. "Berita sudah menyebar, tahu."

Ooh, Kid mengangguk. Beda dengan Trio Monster lain, si rambut pirang ini memang punya otak. Sebenarnya, kalau Law benar-benar tidak mau waktu direkrut tadi, dia ingin mengajukan Sanji di posisi ahli strategi.

"Selain itu... Nami-swan, Monet-chan, dan Bonney-chwan dipaksa ikut sebagai anggota OSIS. Maka sudah jadi tugasku untuk melindungi mereka!" Sanji naik ke atas meja dan menyingsingkan lengannya, aura mirip api berkobar di sekelilingnya. Para cewek jatuh pingsan saking panasnya.

"...idiot."

"Apa katamu, marimo?! Mau menerima coup de grace* dariku di medan perang hah?!"

...

"Selanjutnya... siapa?" tanya Sanji.

Dia meninggalkan harem-nya dengan berat hati untuk menemani Luffy mencari anggota tim baru. Tapi dari perkiraan Sanji, sudah tidak ada lagi yang cukup kuat untuk direkrut.

"Hmmm," Kid mengelus dagu lancipnya. "Kira (Killer) sudah aku undang kemarin, dia pasti ikut. Coby dan Helmeppo dari kelas 2 tidak bisa ikut karena mereka ada camp pelatihan di Akademi Polisi. Shichibukai menolak terlibat permainan dengan kekerasan. Siapa lagi yang pantas..."

Kini mereka berada di halaman samping sekolah, tempat yang populer untuk makan siang dan berpacaran. Kemunculan mereka berempat membuat tempat itu lengang sih.

"Oh ya Luffy, bagaimana ceritanya Usopp dan Chopper?" tanya Zoro. Dia khawatir pada kedua anak itu, karena mereka direkrut Nami. Dia tahu sendiri bagaimana seramnya Nami kalau sudah memaksa orang lain mengikuti kemauannya.

"Kata Nami, mereka sampai menangis waktu direkrut! Mungkin terharu karena dipilih mewakili sekolah dl event sebesar ini!"

"Itu air mata ketakutan..." pikir Kid, Zoro, dan Sanji.

Sementara mereka berbincang, tak ada yang menyadari kehadiran orang kelima di tempat itu. Bunyi desingan di udara menjadi satu-satunya peringatan... sebelum Luffy terpental.

"Guh?!"

Para bodyguard hanya bisa melongo, serangan itu melampaui kecepatan reaksi mereka!

Badan Luffy terbang menabrak kursi taman, menghancurkannya seketika dl kepulan debu. "Guah!" ia mengerang. Memegang bahunya yang terasa nyeri, ia melihat darah di sana, sepertinya luka cukup dalam. "Apa yang-"

Luffy belum sempat memulihkan postur, serangan cepat itu datang lagi, sebuah kilatan kuning. Nafsu membunuh terasa sekali dari sana, itu akan berakibat fatal...!

Bunyi logam beradu bergema di lapangan, Shuusui menemui serangan itu.

Dalam sekejap Zoro sudah ada di depan Luffy, dalam posisi menangkis. "Cih," ia berdecak karena nyaris terlambat, hanya bisa menangkis dengan ujung katana. Kecepatan si penyerang itu benar-benar nyata!

Berkat jeda itu, mereka bisa memastikan posisi si penyerang.

Tanpa aba-aba, Kid dan Sanji segera mengepungnya. Kid menodongkan sarung tangan Magnetizer mengunci pedang yang digenggam, sedangkan sepatu Sanji menempel di tenggorokan, siap menghancurkannya kalau ada gerakan tiba-tiba.

"Cih!" si penyerang mendecak kesal. Dia tidak menyangka anggota dua kelompok berbeda itu bisa bekerjasama secepat itu! Padahal dari risetnya, SH dan Supernova adalah rival...

"Mau apa kau?!" Zoro berteriak.

Saat itulah mereka bisa melihat sosok si penyerang dengan jelas. Seorang cowok berbadan ramping, dengan rambut pirang yang tertata rapi... dan wajah ikemen, yang saat itu terdistorsi kemarahan. Di tangan kanannya ada sebuah cutlass yang berkilauan dengan sedikit bercak darah di ujungnya.

Zoro merasakan suatu aura dari pedang itu. "Haki? Bukan... perasaannya beda."

"Bah! Inilah 'Generasi Terburuk', beraninya keroyokan!" cowok itu berteriak kesal. "Minggir! Akan kuladeni kalian satu persatu setelah mengubur mugiwara!"

"Kau pikir kami menuruti permintaan klise itu, hah?!" balas Sanji.

"Kalau kau begitu percaya diri bisa mengalahkan ketua, kau nggak akan protes kalau 'hanya' kami yang mengepungmu," kata Kid.

Luffy menepuk-nepuk seragamnya yang kotor dan mengelap lelehan darah di bahunya, lalu berjalan menghampiri si penyerang. "Siapa kau?" dia bertanya dengan santainya.

Mendengar pertanyaan kalem itu, ia tampak semakin marah.

"Haaah!? Bertanya siapa aku?! Kau tidak pernah dengar nama Cavendish dari SMU Ibara, hah?!"

Luffy, Zoro, Sanji, dan Kid dengan kompak memiringkan kepala. Kemudian muncul tanda tanya imajiner, besar sekali, di atas mereka.

"DASAR SOK!" Cavendish (?) berteriak marah, cutlass-nya sudah terhunus lagi dan siap menyerang. Tapi Shuusui milik Zoro lebih cepat bersandar di lehernya. Cowok itu menggeram, dan Zoro menekan pedangnya sampai cukup mengalirkan darah. Ia menggeram kesal. Dia tidak takut mati, tapi dia tidak mau mati begitu saja tanpa menyelesaikan urusannya di sekolah ini!

"Ah!" Sanji menepuk tangannya, kemudian. "Aku ingat. Cavendish, kalau nggak salah, adalah ketua OSIS Ibara dalam generasi terbaik mereka selama 10 tahun terakhir, yang dijuluki 'Generasi Versailles'!"

Mendengar itu, amarah Cavendish tampak sedikit berkurang. Dia memandang Sanji dengan wajah kagum. "Bon ami, monsieur. Kau tahu tentangku?"

"Hmm," Sanji mengangguk. "Generasi itu kalah pamor dari kita dan SMU Ryuugu."

"Cih! Aku tidak mau mengakuinya, tapi kau benar!" tangan Cavendish bergerak, tapi parai pengepung bisa melihat kalau dia hanya ingin menyarungkan pedangnya, jadi Luffy menghentikan mereka. Zoro dan yang lain pun menurunkan kuda-kuda mereka.

Cavendish menatap mereka satu persatu, alisnya berkerut. "Berkat kalian, yang dijuluki 'Generasi Terburuk', nama kami jadi tenggelam! Yang dibicarakan di kota hanya nama-nama Luffy, Zoro, Sanji, Kid, Law... bahkan para kroco sok kuat dari Ryuugu, Hody dan Decken. Nama kami menghilang! Padahal kita seusia, tapi kenapa popularitas kita bisa amat berbeda?!"

Menanggapi omelan panjang penuh amarah Cavendish itu, para cowok berkomentar dengan amat bijak.

"Heee..."

"SOK BANGET KALIAN!" Cavendish berteriak dengan gigi setajam T-Rex (karena hiu sudah terlalu mainstream). Tapi dia tidak melakukan apapun, sepertinya menyadari kalau dia benar-benar kalah jumlah.

"Lalu, mau apa kau di Seifu?" tanya Kid.

"Aku pindah ke sini untuk menghancurkan kalian!" ia menudingkan telunjuk tangan kanannya ke Luffy, yang menunjuk dirinya sendiri dengan wajah kaget. Cavendish memang mengenakan seragam musim semi Seifu, rompi coklat dan kemeja putih lengan panjang dipadu celana krem.

Di latar belakang, angin berhembus kencang dan tiba-tiba cuaca jadi berawan. Bukan, bukan karena deklarasi Cavendish. Ramalan cuaca memang menyebutkan akan turun hujan sih.

"Dengan kata lain..." Sanji berkata, mengakhiri suasana hening. "Kau nggak naik kelas di Ibara karena stres kalah pamor, dan memutuskan untuk pindah kemari?"

"BERISIK!" Cavendish berteriak kesal, pedangnya kembali terhunus.

Tepat sasaran.

Luffy dan yang tidak mengambil kuda-kuda siap bertarung, karena menyadari kalau dia hanya kesal, tapi tidak ada niat membunuh lagi.

"Wah, ada idiot di sini..."

"Kau nggak pantas menyebut orang lain idiot, marimo idiot."

"APA KATAMU?!"

"Kenapa kalian bisa berantem gara-gara komentar dalam hati?!"

Sementara ketiga orang itu bertarung dalam telepati, Luffy menghampiri Cavendish. Sepertinya sudah melupakan penyerangannya tadi, tidak ada perasaan dendam sedikitpun di wajahnya.

"Oi, ajak dia yuk," kata Luffy.

Mendengar itu, Zoro dan yang lain menghentikan perkelahian mereka dan mengamati Cavendish dari atas sampai bawah. Mereka saling memandang, lalu mengangguk setuju.

"Yosh!"

"Apa?!" Cavendish yang tidak tahu apa-apa, akhirnya bertanya.

"Kami ingin memberimu... kesempatan untuk meraih kejayaan," kata Sanji.

Sementara itu, dalam bayangan, sesosok siluet berjambul tinggi bergegas meninggalkan lokasi...

-xXxXx-

"... maaf."

Lapangan baseball Seifu terletak di sisi selatan kompleks, di tengah lapangan olahraga lain. Kompleks SMU Seifu memang sangat luas, sehingga tiap klub olahraga di sana bebas memiliki lapangan sendiri. Dari lapangan baseball, trek lari, sampai lapangan sepakbola.

Tapi sekarang, lapangan itu layaknya jadi arena eksekusi.

Bukan apa-apa, hanya karena ada Nami yang sedang marah saja. Nami yang marah berarti pertumpahan darah, bahkan orang-orang tangguh seperti Luffy dan Kid pun tahu ini.

Siapa korban malang kali ini?

"Tiada maaf bagimu."

Mendengar kata-kata yang seperti putusan eksekusi hakim itu, mestinya orang normal akan langsung pingsan di tempat. Tapi si tersangka, seorang cowok berambut hijau dengan jambul lebay mirip pantat ayam, tidak tampak gemetar sedikitpun.

"S-senpai sekalian, waktu itu suasananya begitu serius, aku nggak bisa mendekat!"

Bonney yang duduk di belakang Nami, di bench pemain, memutar bola matanya. "Kau... grogi lagi kan?"

Si pemilik suara berat itu merona pipinya, suatu pemandangan yang... jelek tapi imut, kombinasi dua hal yang jadi favorit para cowok akhir-akhir ini. Usopp dan Chopper yang berdiri di belakang Nami tertawa kecil.

"Ini bukan hal yang bisa ditertawakan!"

Dihardik Nami, kedua orang itu langsung menciut. Ia mendengus, lalu menatap kembali si tersangka dengan penuh amarah, seolah pupilnya menjadi merah... tapi si tersangka masih bisa tersenyum malu.

...

Namanya Bartolomeo, kelas 1-5.

Dia ditangkap Nami dan Bonney kemarin sore, setelah ketahuan menguping rapat OSIS dengan Pak Ray. Awalnya Nami begitu agresif, tapi setelah melihat wujud cowok yang ditangkap... dia langsung keder. Badannya tinggi besar dengan gigi tajam, tindik di hidung dan telinga, wajahnya benar-benar bukan wajah orang baik-baik. Mirip wajah ras troll kalau di game fantasi. Nami heran, kenapa anak seperti itu diperbolehkan bersekolah di sini... tapi dia ingat kalau Kid punya wajah yang lebih seram dengan luka-lukanya itu.

"Khu-"

Cowok itu menggeram, suaranya berat dan membuat bulu kuduk merinding. Bonney langsung ambil kuda-kuda, dia siap melindungi Nami dari serangan si troll... yang menjatuhkan dirinya di kaki Nami.

"Sudah lama aku ingin bertemu dengannmu, Nami-senpaaaaiiiiii!"

Eh?

Hanya kata itu yang terngiang dalam pikiran Nami dan Bonney.

Apa yang terjadi saat itu sungguh aneh. Seorang bertampang seram bersujud... menyembah Nami? Apa anak ini menyukainya? Bukan... kalau suka, apalagi pada seorang senpai, pastinya grogi. Tapi dia... bertingkah seperti bertemu seorang nabi.

Nami pun memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. "Uhm... siapa kamu? Aku tidak ingat pernah mengenalmu."

"Gu-gue... bukan, ak-saya adalah Bartolomeo, penggemar terberat anda!"

Kenapa pakai bahasa baku?

Setelah Barto (mereka memanggilnya begitu, Bartolomeo terlalu panjang) bisa menenangkan diri, kira-kira setengah jam kemudian, Nami dan Bonney menyeretnya ke kantin sekolah untuk mengobrol.

Baru sepuluh menit, Nami dan Bonney sudah bisa menyimpulkan satu hal tentang Barto.

Dia adalah seorang fanboy.

"Waktu itu aku adalah anak yang sangat nakal. Bisa dibilang ketua geng anak-anak nakal di distrik selatan kota," Barto memandangi langit-langit kantin, mencoba mengingat. Wajah sok seriusnya itu benar-benar aneh, Bonney menahan tawanya kuat-kuat. Meskipun begitu, Barto tidak tampak tersinggung. "Aku benar-benar nakal sampai suatu hari, terpaksa ditahan polisi setelah menjarah toko permen..."

Apa dia anak setan? Nakalnya sudah keterlaluan!

Waktu di kantor polisi, dia melihat Inspektur Morgan disringkus karena indikasi korupsi. Diapun mendengar bahwa yang membongkar ini semua adalah seorang anak SD yang seumuran dengannya... yang bernama Monkey D. Luffy.

Barto yang hanya mengenal kerusakan dan kesenangan waktu itu, seolah mendapat tamparan amat keras dari almarhum ayahnya. Saat dia membuang masa kecilnya di sini, Luffy sudah mencatatkan namanya ke dalam sejarah.

Sejak saat itulah dia mengidolakan Luffy... dan kemudian menjadi fans SH secara keseluruhan.

Itulah kenapa dia memilih Seifu untuk melanjutkan sekolah, walaupun tempat tinggalnya lebih dekat dengan Ryuugu.

Kebetulan, pikir Nami. "Kalau kamu begitu mengidolakan Luffy, aku ada tes buatmu."

...

Keesokan harinya, Nami dan Bonney mengajak Barto untuk merekrut anggota tim. Berkat ingatannya yang tajam soal kebiasaan Usopp dan Chopper, Nami bisa menemukan mereka dengan cepat dan memaksa mereka ikut dalam tim. Kemudian, dia yang khawatir atas proses perekrutan Luffy dan Kid, meminta Barto mengikuti kedua orang itu...

Dia gagal total karena sibuk mengagumi ke Luffy.

"Waktu dia merekrut Cabbage, itu keren banget... padahal sudah diserang, tapi dia tidak menganggapnya! Luffy-senpai terlalu kerennnn!"

Waktu Nami memintanya memberitahu hasil observasinya, Barto malah menceritakan apa saja yang dilakukan Luffy. Dia mengingatnya begitu detail, dengan wajah memerah.

Akhirnya, Nami tidak tahan lagi.

"Uh, maaf kalau ini terlalu frontal..." dia berkata dengan ragu, mengakhiri penceritaan ulang Barto yang kesekian kalinya. Cowok berambut ayam itu tampak tidak keberatan sih. Dia menghela napas, dan, "Tapi... kamu gay, ya? Kok, sikapmu seperti itu di dekat Luffy."

Bonney, Usopp, dan Chopper mengangkat alis mereka mendengar pertanyaan itu. Itu... terlalu ofensif!

Tapi, Barto tidak tersinggung. Dia malah menyeringai, sepertinya menyadari sesuatu. "... Nami-senpai, kamu cemburu?"

Tak sampai 3 detik, Barto terkapar dengan 2 benjolan di kiri dan kanan kepalanya.

"NGGAK! JAWAB SAJA!"

Chopper bergerak cepat dan membebat kepala anak itu dengan perban daripada memorinya hilang dan dia tidak bisa menjawab pertanyaan.

"Itu jahat sekali, Nami-senpai. Aku ini selurus anak panah," jawab Barto.

Semua orang di sana memiringkan kepala mereka, tidak mengerti perumpamaan itu.

"Hmm... bagaimana menjelaskannya, ya," Barto menyentuh dagunya dengan jari telunjuk dan memasang wajah berpikir serius, dia tampak amat filosofis (dan itu sangat tidak cocok). Tidak lama, dia menolehi para seniornya. "Ah. Begini, apa senpai sekalian punya orang yang sangat dikagumi, entah artis atau apa, yang sejenis kelamin?"

Mereka yang ditanyai saling menoleh.

"JK Rowling, mungkin..." jawab Nami.

"Kalau aku, EE-sama," kata Usopp.

"Gregory House!" pilih Chopper.

"Yuki Kajiura," Bonney menambahkan.

Barto mengangguk mantap, dan bertanya lagi, "Kalau begitu, apa yang akan senpai lakukan... kalau tiba-tiba bertemu mereka?"

"... langsung berteriak histeris dan minta tandatangan di kaus?" jawab Nami, tidak yakin. Dia tidak bisa membayangkan bertemu author terkenal itu sih.

"Kalau aku, akan menjabat tangannya! Siapa tahu kemampuan dan keberuntungannya menurun padaku!" kata Usopp.

"Sama, sama!"

"Minta beliau menyanyikan lagu pengantar tidur..." jawab Bonney, dengan tatapan dreamy.

Barto menudingkan kedua telunjuknya pada mereka.

"Nah! Itulah yang terjadi padaku! Luffy-senpai adalah panutanku sejak kecil, ibarat artis buatku! Aku mungkin adalah penggemar terberatnya di kota ini-" ia berhenti sejenak dan memandang Nami. "Oh, aku tidak bermaksud menyinggung, Nami-senpai."

"A-apa maksudmu?"

Bonney, Usopp, dan Chopper menyeringai. Mereka tahu apa maksud Barto.

"Intinya, aku bertingkah begitu karena beliau ada di depan mataku!"

"Oooh..." ketiga senior membulatkan mulut mereka.

"M-maaf kalau begitu..." kata Nami.

"Eh, nggak apa-apa, senpai! Hehahaha!" Barto tertawa ceria. Tapi kemudian wajahnya memerah. "L-lagipula, kalau boleh jujur, aku lebih menyukai Na-"

"Um... kalau Sanji tahu bisa gawat loh," Usopp sudah siap saja dengan alat perekam dan telpon, untuk melaporkan anak ini pada Sanji.

"M-maaf! Aku hanya bercanda, Usopp-sama!" Barto langsung membungkuk 90°.

Bonney menghela napas panjang, "Oi Usopp, jangan membunuh anggota yang berpotensial dong."

Usopp dan Chopper tertawa. Ah, mereka menyukai anak ini. Dia tahu benar apa yang terjadi di dalam SH... sepertinya mereka bisa berteman baik.

"Oke, Barto-kun," Nami berkata kemudian. Dengan pertanyaan tadi, dia sudah yakin bahwa anak berambut ayam ini tidak berbahaya, dan akan berguna nanti. "Kamu lulus tes."

Barto hanya memiringkan kepalanya.

"Hah? Kau yakin, Nami?" tanya Usopp.

"Insting," Nami menjawabnya begitu.

Untuk sepersekian detik, mereka bertiga bisa melihat ekspresi khas Luffy di wajah Nami. Ah, cinta memang membuat seseorang berubah, ya. Tapi tentu saja mereka tidakmengatakan ini, mereka masih sayang nyawa...

...

Kembali ke tim Luffy yang semakin ramai dengan ikutnya Cavendish berkeliling sekolah, ponsel milik Luffy berdering di sakunya. "Dari Nami... katanya dia sudah merekrut 1 orang lagi, dari kelas 1," sang ketua OSIS membaca isi e-mail yang masuk itu.

"Bagus!" Kid memompa tangannya. Dengan ini tugas mereka sedikit berkurang... karena kepalanya sakit mendengar guyonan Luffy dan kawan-kawannya.

"Lalu, dia menyerahkan sisanya pada kita."

Atau tidak, Kid menghela napas. Sepertinya dia akan terjebak bersama anak-anak SH dan murid pindahan ini lebih lama. Tapi tetap saja, "Apapun itu, kerja bagus buat mereka."

"Nami-swan, gitu loh!" Sanji membusungkan dadanya, seolah Kid memuji putri pertamanya saja.

Sekarang mereka sedang menyusuri koridor lantai 2, di mana ruangan anak-anak kelas 1 berada. Jatah posisi tim untuk anak senior sudah lengkap, tinggal mencari anak kelas I.

Ini akan merepotkan. Bagaimana mengetes kemampuan mereka?

Untuk para senior, mereka sudah saling mengenal jadi tahu kekuatan dan kelemahan masing-masing. Tapi, anak kelas I benar-benar baru. Mereka seperti melangkah ke acara kencan buta, tidak tahu seperti apa pasangan yang akan ditemui.

"Ingat-ingat saja performa mereka di MOS kemarin," Zoro mengajukan ide, kejadian yang cukup langka.

Bagus sih, tapi... "Mengingat apa saja yang dilakukan 400 murid baru dalam event sekacau itu... kau gila?!" kata Kid.

"Bahkan aku saja hanya bisa mengamati 60-an murid baru cewek!"

"Oi, ada jawaban yang aneh di sana," Cavendish meneteskan keringat dingin. Sepertinya dia sudah terintegrasi sepenuhnya pada guyonan Luffy dan yang lain.

Dasar mesum, pikir Kid... tapi, dia bisa memanfaatkan ini. "Kalau begitu, aku bisa mempercayakan rekrutmen anggota tim cewek padamu, Sanji?"

"Ou, serahkan padaku!"

"Jangan, itu akan membuat mereka ketakutan," komentar Zoro.

"Mending aku daripada kau."

Kedua orang itu langsung saling melotot, percikan listrik tersulut di antara arah pandangan mereka. Kid menepuk dahinya. Bagaimana mau bekerjasama kalau sebentar-sebentar berantem seperti itu? Dia menolehi Luffy, tapi sang ketua OSIS hanya cengar-cengir. Ini kejadian ini wajar di SH, sih.

Munculnya 4 senior di kompleks kelas 1 itu membuat anak-anak baru grogi. Bagaimana tidak? Empat murid cowok paling terkenal Seifu berkumpul di sana! Mereka tidak berani mendekat, hanya menonton perbincangan para senior dari jauh.

Tapi ada seorang yang berani. Ia menerobos gerombolan penonton, dan berteriak, "Luffy-saaaan!"

Suara manis itu membuat Sanji mengabaikan Zoro dan mencari-cari sumbernya menggunakan haki (penggunaan haki untuk hal remeh lagi). Tak lama, dia menemukannya. Itu adalah seorang gadis berambut coklat pendek dengan mata bulat besar yang manis.

"Ah, Koala!"

Dan tentu saja, Luffy mengenali gadis itu. Belum selesai, Kid dan yang lain menyembur kaget saat mereka saling merangkul, layaknya itu hal yang normal antara cowok dan cewek usia SMU.

"Luffy-saaan!"

"Shishishi! Akhirnya kita bertemu lagi!"

"Iya, 'senpai' sibuk banget sih!" Koala memberi tanda kutip pada kata senpai, sepertinya mereka biasa memanggil nama saja.

Para penonton di sekitar menyipitkan mata mereka.

"Cewek baru lagi," gumam Zoro.

"Anak ini memang punya potensi harem," sambung Kid.

"Dasar, apanya sih yang menarik darinya?" Sanji menggigit sapu tangan yang entah muncul dari mana.

"Koala, nama yang aneh," komentar Cavendish.

"... namamu 'kan nama jenis pisang."

"Bukan! Kau tahu Thomas Cavendish?!"

Sementara mereka berdebat seperti itu, Luffy menyeret Koala (mereka bergandengan tangan dengan santainya), dan berkata, "Kenalkan! Dia ini Koala."

Koala tersenyum lebar, sepertinya dia anak yang penuh semangat. "Halo, senpai sekalian!"

"Halo," jawab Kid, Zoro, dan Cavendish kompak, monoton. Kenapa Cavendish tiba-tiba sudah bisa kompak dengan mereka, tidak ada yang tahu. Pengaruh SH memang menyeramkan...

"Haaaaiii, Koala-chwaaannnn!" beda dengan ketiga temannya, Sanji berputar-putar dan berlutut di depan Koala, lalu mencium telapak tangannya.

Koala hanya tertawa kecil, tidak grogi atau panik menerima perlakuan berlebihan begitu.

"Oh ya, dia ini... pacarnya Sabo."

Kid dan yang lain memelototi Luffy. Koala memandang Luffy seolah dia punya dua kepala. Hanya anak-anak kelas 1 yang menonton (dan Cavendish), yang tidak mengerti. Setelah kesunyian beberapa saat...

"HAAAAH?!" teriakan Kid, Zoro, dan Sanji yang kompak, menyebabkan lantai 2 bergetar saking presisinya resonansi suara yang mereka keluarkan.

Sabo... yang itu... punya pacar?! Selanjutnya apa? Luffy tiba-tiba merangkul sifat harem-nya?!

Koala langsung panik, dia mengangkat kedua tangan dan menggelengkan kepalanya amat kencang, "B-bukan! Aku hanya rekan kerja dia di partai, kami tidak punya hubungan khusus! Kita ini aktivis profesional, tahu."

"Eeeh, benarkah... ?" Luffy memiringkan kepalanya.

Pada awalnya, kenapa Luffy bisa mencurigai orang lain berpacaran itu sudah di luar nalar. Pasti (lagi-lagi) pengaruh kedua kakaknya itu.

"Mou, Luffy-san," Koala memprotes sang senpai, kedua pipinya menggembung manis sekali.

"Kaget aku, sungguh," Kid berbisik pada Zoro, Sanji, dan Cavendish di dekatnya. "Kupikir dunia benar-benar akan kiamat kalau troll yang satu itu bisa punya pacar."

"Eh, paling nggak pilihannya bukan loli kayak Ace," sambung Zoro.

Ace, di belahan dunia lain, bersin. Padahal dia berada di tempat yang panas...

"Kamu rekan kerjanya Sabo, Koala-chan?" tanya Sanji dengan ramah.

"Umu! Aku tidak bisa mengatakan apa pekerjaan kami, sih," Koala menyingsingkan kemejanya. Tampak lengan atas yang cukup berisi, dia anak yang sangat fit.

Sanji tampak puas mendengar jawabannya. "Hee, berarti kamu... cukup kuat dong?"

"Ya...?"

...

Dengan bergabungnya Koala, mereka hanya tinggal mencari 1 anggota lagi. Tapi, biasanya yang terakhir ini yang paling susah.

Benar saja, baru beberapa langkah meninggalkan kompleks kelas 1, bel berbunyi nyaring di seluruh penjuru sekolah, menandakan waktu istirahat siang sudah habis. Anak-anak yang berada di luar kelas pun memasuki kelas masing-masing, membuat pencarian mereka semakin sulit. Lagipula, mereka juga harus masuk kelas kan...

Kid menggaruk kepalanya. "Sebaiknya kita teruskan nanti sepulang sekolah."

"Ou, kalian dengar dia. Nanti kumpul lagi di ruang OSIS ya!" kata Luffy.

Zoro, Sanji, dan Cavendish mengangguk patuh. Kemudian kdua anggota SH itu menatap si bishounen sambil menghitung dalam hati...

"Hah!" Cavendish terhenyak. "Kenapa aku harus mematuhi perintahmu?!"

"Oh, reaksi yang bagus. Lima detik."

"Sejak tadi kau sudah begitu," komentar Kid.

Cavendish terhenyak. Benar juga, tanpa sadar dia sudah terseret tempo anak-anak ini! Padahal beberapa saat lalu mereka masih rival! "Guuuu-"

Pintu geser di dekat mereka terbuka perlahan, dan dari dalamnya muncul wanita berambut hitam bergelombang. Seorang guru, dilihat dari pakaian resminya. Rupanya mereka berada di depan ruang guru. Mereka pasti akan disuruh segera kembali ke kelas...

Kid sudah siap kembali karena tidak mau mendengar perintah guru, tapi Luffy dan Zoro berhenti bergerak. Begitu juga Sanji.

"Robin...?" Luffy dan Zoro bergumam, mata mereka terbelalak.

Wajar mereka kaget. Guru itu... sangat mirip dengan Robin! Gaya rambut, bentuk mata, hidungnya yang tinggi, dan proporsinya... itu seperti Robin, yang lebih tua 10 tahun.

Sang guru menolehi anak-anak itu, dan berkata dengan aksen Spanyol yang kental, "Sedang apa kalian di sini? Bukannya bel sudah berbunyi?"

"Viola-sensweiiiii!"

Sanji melayang ke arah sang guru dengan mata berbentuk hati.

"Eh, Sanji-kun?" wanita yang bernama Viola itu menolehi Sanji, dan mengerutkan dahinya. "No, no. Sudah kubilang panggil saya 'Riku-sensei' kalau ada di dalam sekolah."

"Haaaiiii~"

Mendengar itu, Luffy dan Zoro mengucek mata mereka. Bukan Robin toh... tapi mereka sangat mirip!

"Guru baru?" Kid berkomentar.

"Benar," Sanji memandang kawan-kawannya dan berkata dengan ekspresi sangat bangga. "Viola Riku-sensei, berasal dari Spanyol, kalau aksen bicaranya tidak jelas. Dia kenalan pak tua Zeff yang diberi kesempatan mengajar di Seifu sebagai guru bahasa Spanyol."

"Huh, kenapa ada pelajaran seperti itu di sini...?" gumam Cavendish. Biasanya di SMU pelajaran asing yang diberikan adalah Inggris, kadang-kadang Jerman. Tapi, Spanyol...?

"Selain itu dia juga bertindak penanggungjawab klub flamenco dan ketua Madridista distrik Seifu yang baru," sambung Sanji.

"Itu terlalu Spanyol!" komentar Kid.

"Ah iya, saya belum masuk kelas kalian, ya? Dan lagi, kalau tidak salah aku hanya masuk di kelas 1 dan 2..." kata Viola.

"Kelasku belum berarti!" kata Luffy.

Sementara itu, pintu ruang guru terbuka lebih lebar, dan para cowok melihat sesuatu berwarna pink di balik punggung Viola. "Oba-sama, ada apa?"

Terdengar suara gadis dari sana, dan tak lama muncullah seorang cewek berambut pink. Luffy dan Zoro mengucek mata mereka lagi... ia mirip sekali dengan Nami! Bedanya hanya di rambut pink dan postur badan yang lebih tegap. Sementara itu, Sanji menggila lagi.

"Rebecca-chwaaaannnn!"

"Oh, Sanji-san?" Rebecca tidak tampak kaget menghadapi tingkah lebay Sanji itu, sepertinya dia sudah terbiasa. "Dan... ah, Luffy!"

"Yo, Rebecca!" Luffy menyapanya balik.

"... kenalanmu?" tanya Zoro. Tentu saja Luffy mengangguk.

Anak-anak meneteskan keringat dingin. Kenapa tiap ada cewek baru yang muncul, Luffy selalu mengenalinya?

"Ah, aku ingat dia," Kid menuding gadis itu. Rebecca menaikkan alisnya. "Waktu MOS hari kedua, di game perebutan tanda tangan, ada peserta yang benar-benar menonjol karena bisa menghindari perseteruan dan mengakhiri hari tanpa terluka sedikitapiun. Itu kau?"

"Dia menganggap kita anak OSIS sebagai musuh dan terus menghindar sampai susah menilai skornya. Aku sampai terpaksa menindihnya, shishishi."

Wajah Rebecca meledak, menimbulkan warna yang sama dengan rambutnya (mungkin lebih merah lagi). Ia menghampiri sang senior. "J-jangan katakan itu, Luffy!"

"Itu benar kan? Kau sangat tangguh, aku memujimu, tau!"

"T-tapi, itu memalukan!"

Kid, Zoro, dan Sanji mengamati pembicaraan itu dengan mata menyipit.

"Satu lagi?"

Sanji menghela napas panjang. "Satu lagi."

"Rambut pink... kalau nggak salah, di Ryuugu juga ada yang seperti ini," komentar Zoro.

"EH?!"

"Waktu DBF kapan hari, di event renang... saat itu kau pingsan kehabisan darah. Ada cewek Ryuugu yang menghampiri Luffy, sepertinya mereka saling kenal. Aku nggak kaget sih."

"Tapi aku kaget! Ada apa dengan Luffy, tiba-tiba mengumpulkan harem seperti ini?!"

"Mungkin nalurinya bangkit seiring kesuksesannya di OSIS?"

"... kalian membicarakan apa?"

Kembali ke Luffy dan Rebecca, si cewek berusaha membungkam mulut Luffy yang menceritakan hal-hal yang dia lakukan waktu sedang menindihnya (yang menimbulkan persepsi agak kotor), tapi si ketua OSIS menghindarinya dengan amat mudah.

Viola, yang dari tadi hanya bisa geleng-geleng, akhirnya bertindak sebagai seorang guru. Dia memegang pundak kedua anak yang sedang berkelahi itu dan berkata, "Sudah, sudah. Bel berbunyi, lebih baik kalian segera kembali ke kelas masing-masing."

"Tunggu dulu," Sanji berkomentar. "Luffy bilang Rebecca-chan cukup merepotkannya... aku tidak mau mengatakan ini, tapi kupikir kita mendapatkan anggota terakhir."

-xXxXx-

"Jadi, kalian sudah mengumpulkan semua anggota tim," komentar Pak Ray, setelah membaca profil 14 anak anggota tim Defense SMU Seifu.

Tim petarung: Barto, Koala, Rebecca (kelas 1), Luffy, Usopp, Kira, Cavendish (kelas 2), Kid, Zoro, Sanji, Bonney (kelas 3).

Tim scout: Nami, Chopper (kelas 2), Monet (kelas 3)

Ahli strategi: Law (kelas 3)

"Ya, ya. Menurut saya ini tim terbaik yang bisa kalian kumpulkan," sang penanggungjawab OSIS mengusap jenggot putihnya. Menurutnya, OSIS melakukan kerja bagus, mereka menggabungkan tiga kekuatan besar Seifu (SH, Supernova, dan Shichibukai), menciptakan formasi yang dapat mewakili seisi sekolah. Dia tidak tahu kemampuan ketiga murid kelas 1, tapi dia percaya, karena yang memilih adalah dua orang terkuat di Seifu pastinya mereka cukup berpotensi.

Ia memandang ke depan... dan melihat ruangan OSIS yang padat oleh para anggota tim.

Luffy yang duduk di tengah dengan gagahnya, kalau mengabaikan beberapa kotak bento menumpuk di kanan-kirinya. Kid yang berdiskusi dengan Law, Monet, dan Kira, jelas-jelas merencanakan sesuatu. Zoro yang berdebat dengan Bonney. Cavendish yang... terang-terangan mencoba merayu Nami, sementara di belakangnya Sanji yang mulai terbakar api cemburu gerakannya ditahan Usopp dan Chopper yang tertawa-tawa, Rebecca yang tampak seperti ikan di luar air di tengah keributan ini, dan nun jauh di pojok ruangan sana... Barto yang menangis tersedu-sedu entah karena apa.

Pak Ray khawatir apa mereka bisa bekerjasama.

Tapi dia tetap yakin, Luffy bisa memimpin pasukan ini dengan baik. Ia berdeham, memasukkan sedikit Haoshoku di sana agar anak-anak memperhatikannya.

Itu berhasil, mereka langsung diam dan memusatkan perhatian padanya.

"Sekarang saya akan menjelaskan aturan main 'Defense'," pak Ray menaikkan kacamatanya. Dia lalu berjalan ke arah whiteboard dan menggesernya maju. "Ini akan cukup panjang, jadi perhatikan baik-baik. Monet-kun, bisa tolong dicatat."

Monet memasang kacamata tebalnya dan mulai mencatat. Pak Ray lalu menulis kata 'Defense of the High School' di papan dengan huruf kapital, mengetukkan spidolnya di kata 'Defense'.

"Defense. Artinya melindungi, mempertahankan. Defense of the High School disingkat demikian karena ini adalah permainan untuk mempertahankan harga diri sebuah sekolah."

Selain DBF, Defense adalah permainan yang diciptakan untuk mengakhiri era Sengoku di kota Raftel. Unsur kekerasan masih ada di sini, tapi itu lebih baik daripada tawuran terbuka.

"Inti permainan Defense... adalah merebut bendera sekolah lawan."

Suara 'oooh' bergema di ruangan. Perebutan bendera... sepertinya cukup simpel.

Pak Ray menggambar sebuah bangunan persegi dengan atap bergerigi, di puncaknya ia tambahkan sebuah bendera berbentuk segitiga. Ia melingkari bendera itu dan menuliskan 'target utama' di dekatnya.

"Tapi, permainan sesungguhnya jauh lebih rumit dari itu."

Pak Ray menggambar sebuah persegi mengelilingi kastil dengan bendera itu.

"Ini adalah teritori sekolah. Bentuknya persegi dengan luas kira-kira 1 km, dengan bangunan sekolah terletak di salah satu sudutnya."

Dalam teritori akan ditentukan 3 jalan utama menuju sekolah, yang disebut lane. Jalur tengah atau mid, jalur bawah atau bottom dan jalur atas atau top. Pada tiap lane akan dibangun sebuah menara pengawas atau tower yang bertugas mendeteksi dan menyerang lawan yang mendekat (jadi butuh kemampuan teknik dan robotik juga). Tiap lane membutuhkan 3 tower, lalu 2 tower berukuran lebih besar di dekat bendera sekolah sebagai garis pertahanan terakhir.

"Tunggu, aku tahu aturan seperti ini..." Kid bergumam.

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, tim sekolah untuk Defense dibagi jadi tiga. Tim petarung, tim scout atau mata-mata, dan seorang ahli strategi.

Tim petarung berjumlah sepuluh orang, dengan dua peran; penyerang dan bertahan. Jumlah pemain untuk tiap peran tidak dibatasi, tergantung strategi yang ditetapkan ahli strategi tim.

"Seifu pada tiga tahun lalu misalnya, menggunakan formasi tiga bertahan dan tujuh penyerang, formasi ultra agresif yang membuat mereka menang dengan sangat brutal. Strategi facerush, kalau saya tidak salah ingat," kata Pak Ray.

"Itu terlalu nekat... siapa ahli strategi saat itu?" tanya Sanji.

"Wiper-kun."

"Bah, si Berserker, pantas..."

Penyerang bertugas maju ke teritori lawan, mengalahkan para pemain bertahan atau para penyerang tim lawan, menghancurkan tower, dan tentunya merebut bendera. Sedangkan tim bertahan, tentu saja bertahan dari serangan lawan, juga melindungi tower dan bendera sekolah.

Sekuat apapun kemampuan individu tiap peserta, ia takkan bisa bermain sendirian. Kerjasama, strategi, dan komunikasi sangat diperlukan di sini. Tidak ada yang bisa bermain solo, semua saling membutuhkan.

"Apa gunanya menghancurkan tower dan mengalahkan pemain lawan kalau tujuan permainannya hanya merebut bendera?" tanya Usopp. Dia tahu jenis permainan seperti ini, istilahnya adalah objective-based, permainan yang tidak bertujuan mengalahkan pemain lawan tetapi mencapai tujuan lain. Dia pikir Defense juga seperti itu...

"Pertanyaan bagus," Pak Ray menaikkan kacamatanya. "Kalau kalian pintar, kalian bisa menyusun strategi untuk menghindari pemain lawan dan tower, lalu merebut bendera tanpa perlawanan..."

Rebecca mengangguk-angguk setuju. Apa gunanya kekerasan kalau permainan bisa dimenangkan dengan cara 'damai' seperti itu?

"Membosankan," para cowok (dan Bonney) berkomentar dengan kompak.

"Benar. Dengan area bermain seluas itu dan anak-anak terbaik dari seluruh sekolah yang berlaga, tidak ada kontak fisik? Tidak ada yang mau menonton itu!" Pak Ray menjelaskan dengan penuh semangat. Dia paham benar pemikiran anak-anak didiknya. "... atau setidaknya itu yang dipikirkan pencipta permainan ini. Jadi, selanjutnya dikembangkan sistem 'poin'."

Pak Ray menggambar tumpukan koin di papan tulis.

"Poin, di sini disebut dengan gold. Dengan mengalahkan lawan, menghancurkan tower, dan merebut bendera, kalian akan mendapatkan gold. Sistem ini mencegah permainan yang terlalu pasif... ini adalah unsur terpenting di Defense."

"Ah, seperti di dunia nyata saja, ujung-ujungnya uang," komentar Zoro, dahinya berkerut.

"Eh, memangnya kenapa? Semua orang suka uang," komentar Nami.

Tertawa kecil mendengar perbincangan itu, Pak Ray melanjutkan penjelasannya.

"Ada tiga fungsi dari gold. Pertama, untuk menempatkan unit scout atau mata-mata."

Dalam kontingen Defense, ada 3 murid yang menjadi scout. Tugas mereka adalah menjelajahi teritori lawan untuk mendapatkan informasi... misalnya letak tower, lokasi pemain lawan, bahkan lokasi bendera. Tapi scout tidak diperbolehkan bertarung. Kalau bertemu pemain lawan, mereka langsung dinyatakan 'tewas'. Pemain lawan yang menemukan mereka akan mendapat gold.

"... tapi kita nggak benar-benar mati, 'kan?" tanya Chopper.

"Yah... pemain yang menangkapmu bisa memilih untuk tidak membunuhmu..."

Nami dan Chopper berteriak histeris. Padahal mereka kira jadi scout itu aman!

"Kedua, gold bisa digunakan untuk membeli perbekalan. Durasi Defense adalah 24 jam penuh. Orang dulu bilang, 'prajurit tidak bisa bertarung kalau perut kosong', kan?"

Luffy dan Bonney mengangguk dengan penuh semangat. Mereka menerima wejangan itu dengan sepenuh hati. Sungguh kata-kata yang amat bijak.

Sementara, anak-anak lain menggeram. Gold digunakan untuk beli perbekalan? Mereka sudah memperkirakan gold mereka akan habis hanya untuk makan kedua orang rakus itu. Belum-belum, mereka sudah berpikir kalau bergabungnya Luffy dan Bonney adalah sebuah blunder...

"Juga, obat-obatan. Bertarung terus menerus akan menghasilkan banyak luka... dengan gold kalian bisa membeli perban dan sebagainya untuk merawat luka di medan perang."

"Apa tidak ada tim medis atau semacamnya?" Law bertanya.

"Ada. Tapi ini berhubungan dengan fungsi gold yang paling penting."

Pak Ray menggambar sebuah... nisan? Ini membuat Nami, Usopp, dan Chopper merinding berjamaah. Firasat mereka tidak enak!

"Fungsi terpenting gold... membangkitkan anggota tim yang 'tewas'."

'Tewas' dalam Defense adalah jika seorang pemain dianggap tidak bisa bertarung lagi, misalnya kalau pingsan atau menderita pendarahan. Mereka yang tewas akan dirawat di posko perawatan terdekat oleh tim medis, tapi setelah pulih mereka tidak bisa kembali bermain.

Untuk bisa kembali ke dalam permainan, mereka harus membayar dengan gold. Jumlahnya berbanding lurus dengan pencapaian pemain itu; semakin jauh dia ada di teritori lawan, semakin banyak lawan yang dia kalahkan dan tower yang dia hancurkan, maka akan semakin banyak gold yang diperlukan untuk membangkitkannya. Scout juga bisa dibangkitkan dengan cara ini.

"Membangkitkan kawan yang sudah kalah, dalam kondisi tidak prima... menurutku itu nggak terlalu berguna," komentar Kid. Misalnya ada yang kalah dengan luka parah di kepala dan dipaksa bangkit, pasti cedera kepalanya akan sangat mempengaruhi performanya. 'Kebangkitannya' sia-sia karena dia bisa segera kalah. Itu yang jadi dasar pernyataannya.

"Yah, ada beberapa anak yang kehadirannya saja sudah sangat bermanfaat buat tim kan?" kata Pak Ray. Luffy, Kid, Zoro, dan Sanji misalnya. Mereka adalah empat murid terkuat Seifu, kehadiran mereka di medan perang bisa meningkatkan moral anggota tim lain.

"T-tapi, Ray-sensei! Bagaimana kalau... tewas sungguhan?!" tanya Usopp.

Sang guru mengelus jenggotnya. "Hmm. Biasanya itu takkan terjadi, tapi yah, aku tidak bisa bilang kalau kejadian seperti itu tidak pernah terjadi."

"GYEEEEH! APA YANG AKAN TERJADI PADA KAMI?!"

Kali ini bahkan Rebecca ikutan panik bersama Nami, Usopp, dan Chopper. Sementara anggota lain tampak biasa saja, mereka tidak takut mati rupanya. Atau, adrenalin menghalangi rasa takut mereka...? Dasar idiot.

Pak Ray tersenyum dan melanjutkan penjelasannya, "Jumlah gold yang didapatkan berbeda-beda tergantung apa yang kalian lakukan. Paling banyak didapatkan kalau kamu merebut bendera sekolah lawan, mengalahkan kapten tim alias ketua OSIS lawan, mengalahkan ahli strategi... dan coach lawan."

Seisi ruangan melongo. Coach berarti guru penanggungjawab, kan?

"... kita boleh bertarung dengan guru?!"

"Ya. Dan gold dari mengalahkan coach sangatlah tinggi, sehingga ada sekolah yang menggunakan taktik memburu coach."

"Di mana rasa hormat terhadap para guru?!" teriak Rebecca.

"Dalam peperangan, rasa hormat membuatmu terbunuh cepat," sambung Law.

Rebecca langsung memelototi Law, tidak terima atas pendapatnya. Muncul percikan kilat di mata mereka berdua, dan Pak Ray bersiul. Rebecca sudah berani menentang seniornya. Itu pertanda bagus... atau tidak. "Oh, dan ngomong-ngomong, ahli strategi dan coach tidak bisa dibangkitkan lagi kalau mereka kalah. Jadi jagalah saya baik-baik, hahaha."

Memangnya ada yang bisa mengalahkanmu, anak-anak berpikir.

Mereka tidak pernah melihat Pak Ray beraksi, tapi aura yang dipancarkannya sangatlah kuat. Sama dengan Pak Newgate sang guru geografi, atau Pak Odacchi sang kepsek mesum... kenapa orang-orang tua di sekolah ini begitu kuat?!

...

"Apa ada pertanyaan?" mengakhiri penjelasannya, Pak Ray bertanya demikian.

Tapi, tidak ada yang bertanya.

Dia melihat sekeliling ruangan, wajah-wajah para anggota tim. Ada yang tampak bersemangat sekali, ada yang khawatir, ada yang ketakutan, ada yang geleng-geleng tidak percaya, dan ada yang masih menangis (Barto). Pak Ray pun menghela napas panjang dan kembali duduk ke kursinya. Membuka penutup cangkir, ia menyesap tehnya yang mulai dingin itu.

"... ini gila."

Setelah keheningan sesaat yang terasa seperti sejam, adalah Law yang memecahnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Anak-anak lain mengangguk setuju, ini benar-benar gila.

"Menarik gila-gilaan, maksudku," Law membuka matanya dan menyeringai. Ooh, dia terlihat benar-benar jahat. Sepertinya dia sudah memikirkan rencana yang sesuai untuk ini.

"Ya, siapapun pencipta permainan ini adalah seorang jenius," sambung Zoro.

"Gabungan 'Dota' dan 'Crows Zero'..." gumam Sanji.

"Apa... aku pantas bermain di event sekeren ini..." kata Luffy. Air mata kebahagiaan mengaliri pipinya.

"Aku hidup selama 17 tahun... hanya untuk ini," sambung Bonney.

"Kalian terlalu berlebihan!"

-xXxXx-

"Apa kau gila?"

"Nggak. Aku yakin banget... bahwa sentuhannya bersifat hipnotik."

Zeo, sang ahli strategi tim Ryuugu berkomentar.

Sama seperti Seifu, tim Ryuugu juga tengah melakukan seleksi anggota tim untuk berpartisipasi dalam Defense. Sekarang mereka ada di tahap terakhir, seleksi kemampuan untuk anak baru. Tahun ini SMU Ryuugu mendapat sekitar 300 murid baru, dan beberapa murid pindahan.

Ada beberapa yang menonjol, kesemuanya adalah anak-anak dari Akademi Donquixote. Buffalo dan Gladius di kelas 2, lalu Baby dan Dellinger di kelas 1. Juga Senor di kelas 3. Baru seminggu di Ryuugu, mereka sudah memposisikan diri sebagai blok kekuatan baru. Untungnya, mereka tidak mau cari gara-gara dengan geng Gyojin pimpinan Hody...

Tapi di antara anak-anak baru itu ada seorang yang sangat menonjol.

Seorang loli bernama Sugar. Perawakannya mirip anak SD, dengan wajah bulat dan dimensi yang rata seperti horizon. Berapa umur anak itu sebenarnya dan kenapa dia boleh masuk SMU, tidak ada yang tahu... yang diketahui Hody dan yang lain hanya satu hal: dia punya kemampuan aneh.

Dia kini tengah menghadapi anak-anak kelas 1 yang badannya lebih besar darinya. Situasi yang sama dengan waktu MOS kemarin, saat ia pertama memamerkan kemampuannya itu.

"Hipnotik?" Hody bertanya.

"Ini masih hipotesis awal, tapi... perhatikan dia baik-baik," Zeo menunjuk ke depannya.

Sugar menghindari sergapan para lawan dengan badannya yang kecil itu, dan menyentuh kaki mereka. Tak lama, kejadian yang sama seperti waktu MOS terjadi. Si lawan langsung terdiam, dan waktu ia bergerak lagi, gerakannya menjadi kaku dan patah-patah.

"Siapapun yang terkena sentuhannya, akan berubah jadi seperti itu," Zeo berkata. "'Itu'nya apa, aku belum tahu sih..."

"Hipotesa yang bagus, menurutku," Decken menggaruk-garuk pipinya, tak mengerti. Itu tidak menjawab apapun!

"Heh, kalian lumayan juga bisa menebak sejauh itu hanya setelah dua kali melihat," komentar seseorang. Mereka menolehinya, dan melihat salah satu murid pindahan dari Akademi Donquixote, cowok yang memakai kacamata selam dan helm bulat SNI. Penampilan yang aneh... tapi kebanyakan murid Ryuugu juga aneh sih.

"Gladius... kan? Apa maksudmu?" tanya Hody.

Cowok yang dimaksud menaikkan kacamatanya. "Kemampuan Sugar memang semacam hipnotis... apa yang dia sentuh akan menjadi boneka."

Hody dan yang lain menaikkan alis mereka.

"Lebih tepatnya, Sugar mengirimkan sugesti ke otakmu kalau kau adalah sebuah bisa bergerak bebas, tidak merasa hidup, tidak merasa sakit. Melupakan siapa kau sebenarnya," Gladius menjelaskan. "Mereka akan 'hidup' di bawah komando Sugar sampai dia menghentikan hipnotisnya. Semua itu hanya dengan menyentuh target."

Hody dan yang lain merasa jantung mereka berhenti berdetak sesaat.

Seram. Itu kemampuan yang sangat menyeramkan.

"Semudah itukah...?" Zeo akhirnya berkomentar. Kemampuan seperti itu pasti memerlukan syarat penggunaan yang rumit, atau hanya bisa dipakai sekali per beberapa jam.

"Ya," Gladius menyilangkan lengannya. "Hanya dengan menyentuh. Tapi pertama-tama dia harus tahu profil lengkap targetnya, agar sugestinya bisa masuk."

"Woah. Itu benar-benar curang, menurutku," Decken, yang kehilangan senyumannya, berkomentar. Dia lalu menolehi Hody, "Bagaimana pendapatmu, gan?"

Hody menundukkan kepalanya, sepertinya tengah berpikir keras. Tak lama, badannya gemetar, dan...

"JAHA!" ia mendongakkan kepala, ekspresi wajahnya amat gembira. Mulutnya terbuka lebar, dan dia tertawa kencang sekali, mengagetkan seisi aula. "JAHAHAHAHAHA! WE F**KING WIN!"

Ia mendeklarasikan kemenangannya.

Bagaimana tidak? Sugar memiliki kemampuan yang amat sempurna untuk Defense ini.

"Oi, jelaskan padaku, apanya yang pasti menang?" Decken menggoyang-goyangkan badan besar Hody, meminta penjelasan. Biasanya Hody akan menampiknya, tapi dia sedang terlarut dalam euforia...

"... tunggu," Zeo menahan tangan Decken... dan tanpa sadar mencengkeramnya. "A-aku mengerti."

Jika Sugar menyentuh target, ia akan jadi boneka yang hanya menurut padanya. Mereka masih dianggap 'hidup' karena tidak dikalahkan, bukan? Berarti...

"Kita tidak perlu mengalahkan lawan, membuat mereka 'tewas'. Cukup sentuhkan pada Sugar... mereka tidak akan bisa dibangkitkan dengan gold."

Decken membelalakkan kedua matanya.

"Tak peduli sekuat apa musuhnya, kemampuan hipnotis Sugar sangat efektif," Zeo menambahkan. Tampak wajahnya yang biasa tanpa ekspresi, saat itu tersenyum lebar. "Jadi, yah. Kita menang... kita MENANG!"

Decken pun ikut tertawa kencang. Menang. Mereka pasti akan menang. Peduli amat dengan kekuatan lawan, Sugar menyentuh mereka dan mereka akan jadi boneka! Itu sungguh curang!

...

"Tapi, menggantungkan nasib pada seorang loli... apa Ryuugu sudah jatuh sejauh itu?" komentar Decken setelah tawanya reda.


A/N

Jadi, itulah aturan Defense, yang memang sedikit banyak terinspirasi dari Dota (it's a guilty pleasure :p). Bedanya, Defense adalah royal rumble, 8 sekolah bertarung sekaligus untuk 1 pemenang.

So, mulai chapter depan akan full action.

Dengan ini karakter-karakter baru dari Dressrosa arc sudah diperkenalkan! Sugar sebagai senjata rahasia Ryuugu dan Bartrollomeo si fanboy, mereka berdua akan memegang peranan penting di permainan.

Notes:

Coup de grace: istilah perang. Mengakhiri penderitaan kawan/lawan yang terluka parah dan tidak bisa diselamatkan lagi. Istilah lainnya, mercy kill. Di Dota disebut dengan deny.


Next in Two Schools, Two Worlds

Chapter VIII Part 2

Good Luck, Have Fun

"Mitakihara, Homurahara, Mahora, Seirin, Shohoku, Suzuran?! Itu nama sekolah-sekolah legendaris!"

"Tidak ada cameo dari sana sih."