~~~Reply Review~~~
IXA Cross: Nah itu silahkan anda cari tau sendiri~ yang pasti saya nggak mau ngasih SPOILER~~~~ *dinuklir seketika*
Fei Qi: Yahhh... kalo tentang Zhao Yun, silahkan anda cari tau di chap ini~~~ Wkwkwkw... *dinuklir*
Putri: Ahahaha~ Penasaran? Penasaran? Penasaran? Horeeee~~~ saya berhasil bikin readers penasaran~ *dinuklir seketika*
Fang2: Wah~ Ternyata sekarang anda suka Jiang Wei, toh~ XDDDD Hohoho~~~
Mocca-Marocchi: Yups tepat sekali~ Hohohoho~~~ itu emang saya sengaja supaya kesan yang udah MENGERIKAN nggak makin MENGERIKAAAANNN~~~ *dinuklir*
Bos: Wokey~ Makasih~~~
Fansy Fan: Hohoho~ Glad you like it... ^^ And about Yangmei... errr... she will appear soon~~~
Wokey~~~ Jadi sodara, kita masuk sebuah arc lagi yaitu... wewww... sejujurnya saya belum menentukan nama arc ini... Yang pasti, arc kali ini terdiri dari 3 chapter. Sesudah itu kita akan masuk ke arc yang baru lagi~~~ yang baru lagi~~~ dan yang baru lagi~~~~~~
Oh, iya... Mumpung inget, saya mau memberikan penjelasan tentang chap 50 yang judulnya "Bringing Home a Tender Phoenix". Tender di sini bukan maksud saya tender yang perjanjian itu loh, ya~ Dan tender di sini juga bukan maksudnya lembut... Tender di sini maksudnya terluka... getu~~~
Trus, ehm, sejujurnya saya harus mengaku bahwa *BEWARE! SPOILER STARTS HERE!* chapter yang ini, meski SAMA SEKALI tidak mengandung yang namanya violence apalagi guro, saya merasa chap ini chap yang cukup... erm... kejam. Yah, pokoknya saya udah ngasih tau anda loh ya~ *SPOILER ENDS HERE*
Hmmm... wokey sementara ini saya tidak ada hal lain yang disampaikan~ Selamat membaca~~~
Lu Xun
S-sa... sakit...!
Kenapa...? Kenapa perasaan yang begitu menyakitkan ini bisa ada di dunia...?
Dan... dan kenapa aku...? Kenapa aku... yang harus mengalaminya...?
Memang kakiku sedikit berdarah, begitu juga dengan tanganku. Ujung lengan serta bagian bawah bajuku yang berwarna putih terkena darahku sendiri. Tetapi bukan ini yang membuatku kesakitan! Sungguh! Kalau cuma sakit seperti ini, tidak ada apa-apanya untukku. Aku pernah menjalani yang jauh lebih parah dari ini.
Tapi, ada perasaan sakit yang lain. Bukan di tubuhku tetapi jauh di dalam hatiku. Ya Tian... sungguh aku tidak menduga bahwa perasaan sakit seperti ini rupanya diizinkan untuk bisa hadir di dunia ini. Semoga... aku berharap dengan sangat... kalau memang aku yang harus mengalaminya, biarlah hanya aku saja... jangan sampai orang lain pun merasakan perasaan ini. Siapapun, bahkan orang yang paling kuat, paling tangguh, dan paling pemberani sekalipun akan merinding ketakutan dan ngeri pada perasaan seperti ini.
Perasaan seperti apa yang ada di hatiku? Aku sendiri tidak bisa mengatakannya.
Aku merasa jijik. Bukan jijik kepada seseorang tetapi kepada diriku sendiri. Kenapa... kenapa aku bisa seperti ini? Aku memiliki kekuatan cahaya, kan? Aku punya kekuatan cahaya yang sangat kuat, itu memang benar! Tetapi... kenapa sekarang kekuatan itu tidak ada lagi? Malah sebaliknya, yang memenuhi hati dan pikiranku, cuma kegelapan saja... cuma kegelapan yang pekat... Dan kegelapan ini begitu hebatnya sampai seolah-olah benar-benar dapat memiliki wujud! Bajuku yang berwarna putih kini berubah perlahan-lahan menjadi hitam. Dan bukan hanya itu. Aku mencium bau yang busuk luar biasa, bukan di hidungku melainkan di hatiku. Ya, perlahan aku mulai merasakan kegelapan yang meraih, menggapai-gapai ke atas ingin menenggelamkanku.
Aku merasa takut. Ketakutan yang luar biasa! Belum pernah sekalipun dalam hidup ini aku merasa begini ketakutan! Aku teringat ketika kecil dulu pernah dibawa kepada orang-orang Wei yang akan menyakitku, juga ketika aku berada di istana Wei itu sendiri. Ya, saat itu aku memang takut. Tetapi perasaan takut kali ini jauh berbeda. Aku... aku akan berada di sebuah tempat yang lain! Aku seperti akan dibawa ke sebuah tempat yang sangat mengerikan! Bukan kamar penyiksaan, bukan penjara, bukan ruang intrograsi maupun benteng musuh! T-tempat ini... tempat... tempat dimana tidak akan ada seorangpun... yang bahkan sedetik saja tidak ingin berada...
Aku merasa sendirian. Iya... sendirian. Biasanya aku tahu akan ada banyak orang disekelilingku yang akan mendukungku, baik secara terang-terangan atau tidak. Bahkan jika semisalkan aku benar-benar sendirian pun, aku punya diriku yang seorang lagi yang selalu membuatku kuat bertahan. Tetapi saat ini... dia tidak ada...
Aku merasa malu. Ingin rasanya kedua belah tanganku menutupi wajahku. Tetapi tidak bisa... tak lama lagi, semua orang akan melihatku seperti ini...! Orang-orang sayang padaku... orang-orang yang benci padaku... semuanya!
Aku merasa bersalah. Meski perasaan bersalah karena apa, aku juga tidak tahu.
Entah perasaan apa lagi yang ada. Aku tidak bisa menyebutkannya satu persatu.
Tapi... kenapa? Kenapa, ya?
Apa mungkin... ini karena hal yang baru saja kulakukan?
Aku menoleh ke belakang, melihat gadis itu. Gadis yang sangat-sangat aku sayangi dengan sepenuh hatiku. Dia hilang di dalam lembah gelap yang penuh dengan duri. Aku menolongnya. Tetapi, betapa kagetnya aku ketika menemukan bahwa di dalam dirinya cuma terisi kegelapan! Kegelapan yang benar-benar pekat!
Maka, aku melakukan satu hal. Aku menukarkan cahayaku dengan kegelapannya.
Dan inilah yang terjadi padaku.
Aku tahu benar ketika aku menerima kegelapan itu, perasaan seperti ini akan muncul. Tetapi tak kusangka akan lebih menyakitkan daripada yang kukira! Pantas saja tadi kulihat keadaan gadis itu benar-benar menyedihkan, hanya bisa menangis bisu sementara tubuhnya dililit oleh segala jenis duri yang menyakitkan. Tubuhnya seperti lumpuh. Matanya kehilangan cahaya dan sepertinya di otaknya tidak ada secuil pun perasaan senang.
Sekarang, saat aku melihatnya, keadaannya jauh berubah. Wajahnya sekarang berseri-seri. Matanya yang indah dengan sorotan penuh cahaya. Tubuhnya benar-benar bersih dan tidak lagi lumpuh. Tetapi yang lebih penting daripada itu semua adalah, dia dipenuhi dengan kekuatan cahaya. Kekuatan yang membuatnya begitu indah, cantik, dan bersinar seperti ini sekarang, tidak lagi berada dalam kegelapan yang menjijikkan dan memuakkan itu.
Tapi... aku...
Bahkan aku sendiri tidak bisa mengatakan bagaimana keadaanku sekarang. Aku... takut...
Wajahku kupalingkan lagi ke depan. Untuk sepersekian detik lamanya, aku merasa benar-benar takut. Karena aku tahu siapa yang berada di depanku sekarang. Tidak... tidak mau...! Aku tidak mau dia melihatku seperti ini!
Sebelum mataku berhasil bertemu dengan matanya, kembali lagi perasaan-perasaan yang menyiksa itu muncul.
C-celaka... Apa... apa ini...?
Pandanganku terjatuh ke bawah, dimana aku melihat tanah dibawah berubah menjadi hitam, seolah ada bayangan yang jatuh di atasnya! Dan bukan hanya itu, kegelapan itu pekat sekali! Entah nyata atau tidak, kegelapan di bawah kakiku itu seolah mengeluarkan tali-tali yang kemudian berusaha menggapaiku! Aku tidak bisa lari lagi! Mulai dari kakiku, pinggang, tangan, bahkan sampai leherku diikat oleh tali-tali berwarna hitam itu!
Kenapa...? Kenapa bisa begini?
Inikah... yang terjadi saat aku menjadi kegelapan untuk gadis itu?
Aku tidak bisa lagi menutup-nutupinya. Aku benar-benar takut...!
Bukan aku yang menginginkan kekuatan kegelapan itu! Sampai kapanpun tidak akan! Tetapi... karena aku begitu ingin menyelamatkan gadis pemilik kekuatan kegelapan, kegelapan itu yang sekarang menuntutku untuk menjadi tempatnya bersarang...
Sampai di sini, aku hanya bisa menutup mataku erat-erat. Percuma saja aku berseru, aku toh tidak akan minta tolong. Dan percuma saja aku merintih kesakitan, aku sudah tahu kesakitan ini tidak akan bisa dihindari lagi. Ah, tapi ini bukan hanya sekedar perasaan sakit di tubuhku saja...
Kegelapan...
Kegelapan hebat yang terus-menerus memasuki tubuhku ini... bahkan kurasa lebih baik mati daripada harus merasakan ini...
Sampai kapan lagi semua ini berakhir...?
...
Perlahan, kedua mataku kubuka.
Ah, rupanya aku tidak berada di tempat itu lagi. Aku bukan sedang berada di sebuah taman dengan gadis itu dibelakangku dan aku melindunginya. Yah, kurasa semuanya sudah berakhir bukan? Ya kan? Hanya sampai di sini saja, kan?
Namun, semakin aku menyadari dimana aku sekarang, aku sadar semua itu hanyalah permulaan saja...
Tempat dimana aku berada sekarang mirip sekali dengan sebuah tempat yang pernah kulihat sebelumnya. Bahkan bukan hanya itu, keadaanku sekarang persis dengan saat ketika aku berada di tempat itu. Tempat ini, menyerupai sebuah aula yang besar, dengan banyak orang di sekelilingku, semua mata memandang ke arahku yang berada tepat di tengah-tengah. Seumur hidupku, tempat inilah yang paling mencoreng luka paling dalam di pikiranku, sedalam luka yang sengaja diberikan di atas punggungku.
Tempat ini... Taihe dian-Aula Taihe!
K-kenapa...? Kenapa aku kembali lagi... di tempat mengerikan ini?
Apa aku akan menjalani lagi hal seperti itu? Ketika aku dipermalukan dihadapan semua pembesar Wei?
Tapi... hei...
Ini... ini bukan tubuhku!
Kalau ini memang tubuhku, seharusnya luka-luka yang tadi kuterima saat menyelamatkan gadis itu dari duri-duri yang mengikatnya masih ada! Anehnya, di tangan dan kakiku tidak ada luka sedikitpun. Astaga... aku baru sadar, yang berada di tempat ini sekarang, yang ditelanjangi dan diperhadapkan dengan sebegini banyak orang bukan tubuhku tetapi jiwaku, hatiku!
Hanya untuk sedetik lamanya, aku merasakan sedikit kelegaan. Ah, kalau begitu aku tidak perlu takut akan apapun. Aku punya kekuatan cahaya, dan tidak pernah sekalipun aku menggunakan kekuatan kegelapan.
Tapi... apa benar begitu?
Kalau begitu, kenapa seluruh perasaan menyiksa yang sedari tadi kurasakan semakin kuat saja?
Oh... aku ingat...
Jiwaku sudah menjadi gelap... karena kekuatan kegelapan gadis itu berpindah padaku!
Sementara tubuhku semakin bergetar karena takut, aku menyadari sesuatu. Ada yang berbeda di tempat ini dengan yang pertama kali kulihat. Kalau yang kulihat waktu itu adalah para pembesar Wei, sekarang yang kulihat adalah orang-orang yang lain juga, bahkan orang Wu dan Shu! Dan juga, kalau dulu mereka kulihat sedang memandangku dengan tatapan merendahkan dan perasaan puas karena berhasil mendapatkanku, sekarang mereka memandangku dengan tatapan yang lain. Wajah mereka merah padam karena amarah, tatapan tajam terarah langsung ke arahku.
Dan hebatnya, sesuai dengan tatapan mereka itu, aku sekarang hanya bisa tertunduk oleh rasa bersalah.
Padahal, kesalahan apa yang kulakukan pada mereka, aku tidak tahu!
Tiba-tiba, dari arah sebelah kiri, aku mendengar sebuah langkah kaki. Saat kupalingkan wajahku, rupanya terdapat dua orang Shu, teman baik yang baru saja kutemui. Jiang Wei dan Yan Lu! Tapi, kenapa mereka menatapku seperti itu? Yan Lu yang dipenuhi dengan rasa keadilan itu matanya berkobar-kobar oleh kemarahan seperti melihat seorang pelanggar hukum. Sementara Jiang Wei sendiri tidak berbeda darinya.
Aku cuma bisa memandang mereka saja, tetapi tidak berani melakukan apa-apa. Ahhh... bahkan sekarang bertatap muka dengan mereka pun aku tidak berani. Aku hanya bisa tetap di sini, berlutut dan membungkuk rendah-rendah dengan kepalaku tertunduk begitu dalam.
Kulihat dua pasang kaki kini berada tidak jauh dari tempatku.
Lalu sebuah suara.
"Kau pembunuh!"
Mendengar tuduhan keras dari purtri Shu itu, aku begitu inginnya memalingkan wajahku, berdiri tegap, kemudian bertanya dengan suara sama kerasnya 'apa yang aku lakukan?'. Tapi... aku tidak bisa... dan tidak akan pernah bisa melakukannya...
Karena yang dia katakan itu... benar.
Jadi, aku cuma bisa diam sementara tuduhan itu dilanujutkan.
"Makhluk tak berhati seperti kau tak pantas ada di dunia ini!" Kali ini Jiang Wei pun ikut melontarkan amarahnya. "Kau sudah membunuh Permaisuri Gan! Lalu kau nyaris membunuh Perdana Mentri!"
I-itu...!
Aku memalingkan wajahku ke arah mereka dengan mataku yang melebar.
Gadis itu yang melakukannya!
Tetapi perkataan itu tidak akan pernah keluar dari mulutku. Yang keluar hanya air mata yang entah bagaimana bisa mengalir begitu saja. Ya, aku tahu. Kekuatan kegelapan yang dipakai gadis itu untuk membunuh, sekarang ada padaku...
Aku... yang melakukannya...
"Kau...!"
Yan Lu melayangkan tangannya, seolah siap menampar atau memukulku! Aku tidak mengelak, hanya menutup mata saja karena takut! Ugh... ini hanya akan jadi yang pertama saja...
Tetapi... anehnya serangan itu tidak pernah datang.
Saat kubuka mataku, keduanya memang masih menatapku dengan tatapan yang sama. Tetapi tidak ada tamparan, tidak ada pukulan atau hukuman atau apapun. Aneh. Aku tidak merasa sakit sedikitpun... sampai aku menyadari sesuatu. Tadi Yan Lu bukan mengangkat tangannya untuk sia-sia. Baru aku sadar sekarang, di bahu kiriku tertempel sebuah kertas. Kertas itu... betapa kagetnya aku saat kubaca rupanya terdapat tuduhan-tudahan itu! Yang mereka serukan padaku!
Celaka...! Benar-benar aku tidak bisa mencabut kertas ini dari bahuku!
Sementara aku masih berkutat dengan kertas ini, Jiang Wei dan Yan Lu sudah tidak ada. Tahu-tahu, di depanku terdapat beberapa orang, sepertinya mereka rakyat biasa bahkan ada pula yang Gaibang! Mereka semua kukenal sebagai orang-orang dari kota Zhou Zhi. Bahkan di anatara mereka aku juga mengenal seseorang yang sempat untuk beberapa jam menjadi rekan seperjalananku, Min An.
"Oh, jadi kau pembunuhnya!" Seru Gaibang itu penuh kemarahan. "Kau yang telah membinasakan semua orang-orang tak bersalah malam itu, bukan?"
Mataku dengan cepat berpindah kepada mereka. Kenapa... kenapa bisa begini? Kenapa semuanya menatapku dengan tatapan seperti itu...? Aku tidak mau... aku tidak mau seorang pun melihatku! Iya, benar yang mereka katakan! Aku telah membunuh semua orang yang tidak bersalah itu!
Wajahku kubenamkan dalam-dalam ke kedua belah telapak tanganku. Aku tidak mau melihat mereka lagi...!
Tapi, meski tidak melihat, aku tetap saja bisa mendengarkan suara-suara itu. Suara-suara yang terus-menerus menuduhku lagi dan lagi! Tidak akan pernah berhenti! Betapa... betapa inginnya aku berteriak pada mereka semua untuk diam! Berteriak kalau semua itu bukan aku yang melakukannya! Bahkan... bahkan... bahkan aku hampir saja menjadi salah satu dari orang-orang yang dibunuh itu!
Entah sudah berapa banyak orang yang mengelilingiku sekarang... Samar-samar aku bisa mendengar suara orang-orang, baik yang kukenal atau tidak.
"Jadi ini penjahat yang membunuh Kaisar Xian dan Putri Mingzhu!" Suara Jendral Zhu Jun bersahutan dengan Jendral Huangfu Song. Bentakan yang penuh angkara murka dan kebencian itu membuatku bergidik ketakutan...! "Setan rendahan seperti ini harusnya dihukum seberat-beratnya, kemudian dipertontonkan agar semua orang bisa tahu kebusukannya!"
Tidak! Itu bukan aku! Satu sisi diriku menjerit kuat-kuat di dalam hati, tetapi aku mati-matian menahan jeritan itu. Aku tidak boleh mengatakannya... tidak boleh... dan tidak bisa...
Yang bisa kulakukan cuma satu. Sementara semua tuduhan, bentakkan, dan hinaan itu keluar dari mulut mereka, aku hanya bisa menutupi wajahku dengan kedua tanganku. Aku tidak ingin melihat mereka semua... dan tidak ingin wajahku dilihat oleh mereka.
"Aku tidak percaya orang seperti ini rupanya salah satu dari kita!"
Suara itu...
Suara itu kalau tidak salah suara Jendral Ling Tong bukan? Dia... seorang teman yang sudah lama sekali tidak kulihat!
Akhirnya, dengan memberanikan diriku, aku menangadahkan wajahku menatapnya. Baru saja aku akan berseru meminta tolong padanya, aku sudah disambut oleh air mukanya yang tidak jauh berbeda dengan semua orang-orang ini. Di sebelahnya, aku juga bisa melihat Jendral Gan Ning dan Jendral Lü Meng.
"Bisa-bisanya melakukan semua itu!" Suara Jendral Lü Meng yang menggelegar membuat sekujur tubuhku bergetar. "Jika tidak ada dia, tidak mungkin kita kalah di He Fei! Manusia rendah seperti ini apa bedanya dengan pengkhianat?"
Belum selesai keterkejutanku, kudengar lagi suara lain. "Bahkan gara-gara dia sampai Kaisar dan Permaisuri tewas!" Suara itu... suara Penasihat Zhou! "Anjing dan babi saja tahu untuk tidak menyebabkan kematian orangtua sendiri! Dia bukan manusia! Dia ini lebih rendah dari segala anjing dan babi!"
Ya Tian... dua orang mentor yang selama ini mengajariku, memberikanku ilmu mereka... yang memberiku pujian jika aku berhasil. Kenapa mereka sekarang bisa mengata-ngataiku seperti itu? Sungguh... yang melakukan semua itu bukan aku... bukan aku...
Yang melakukannya adalah...
Ahhh...
Tidak, mereka tidak salah... yang melakukannya memang aku...
Semua yang dilakukan gadis itu... gadis yang kutolong itu, semuanya ditujukan padaku sekarang...
Samar-samar, ingatanku seolah meninggalkanku. Masa laluku, bahwa aku sebelumnya pernah berbuat baik dan menolong mereka, semuanya hilang bagai kabut yang tertiup angin. Yang memenuhi pikiranku malah segala pemandangan yang mengerikan... Istana Chang An dengan Putri Mingzhu serta beratus-ratus dayang dan kasim tidak bersalah yang mati bergelimang darah, kota Zhou Zhi dengan orang-orangnya yang juga tewas mengerikan, lalu Istana Cheng Du, tepatnya luolangong yang terbakar menghanguskan orang-orang yang tak terhitung banyaknya, ditambah Permaisuri Gan...
Ahhh... jadi... semua kesalahan gadis itu... dilimpakan padaku sekarang...?
Tangan mereka memang hanya menudingku, sama sekali sedikitpun tidak menyentuhku. Tapi... ucapan mereka semua... apa bedanya semua itu dengan ribuan pisau yang dihujamkan padaku? Atau dengan anak-anak panah yang semuanya menusukku? Dan... perasaan malu dan bersalah ini...
Tak terasa, airmataku sudah membasahi seluruh wajahku.
Tak heran gadis itu hanya menunduk, tidak mengatakan apapun dan menangis saat aku menolongnya. Rupanya inilah perasaan yang dirasakannya saat itu...
Oh iya... gadis itu... aku menjalani semua itu deminya, bukan? Ahhh... syukurlah perasaan ini tidak perlu ditanggungnya lebih lama lagi. Yang membanjiri hatinya pasti bukan perasaan seperti ini lagi.
Hanya gadis itu... satu-satunya cara untuk mengurangi kesakitan ini hanya dengan mengingatnya di dalam pikiranku...
Gadis itu...
Gadis bermata dan berambut perak itu... yang dulu senang sekali memanjat pohon yangmei dan makan buahnya... yang begitu nakalnya hingga membuat siapapun menyerah mengajarinya... yang suka melakukan segala sesuatu seenaknya, sekehendak hatinya, yang pada akhirnya sampai menyebabkan dia jatuh ke dalam kegelapan seperti itu...
Yangmei... Meimei...
Meimei... apa saat memilih kegelapan, kau tahu kalau keputusanmu itu kelak akan mendatangkan hukuman seperti ini sekarang...?
... dan... apa kau tahu kalau aku yang akan menjalaninya untukmu?
Pasti tidak, kan?
Aku duduk di tempatmu sekarang...
Ahhh...
Rupanya, semuanya sudah berakhir...
Suara orang-orang itu makin melemah dan melemah, hingga tidak ada siapapun di tempat ini. Orang-orang itu sepertinya sudah pergi, dan barulah aku memberanikan diri mengedarkan pandangan di sekelilingku. Ya, tempat itu benar-benar kosong sekarang. Hanya aku sendirian yang masih tersisa di tempat ini.
Tapi...
Kepergian mereka bukannya menghilangkan bukti bahwa sebelumnya mereka memang berada di sini.
Pada bahuku, kiri dan kanan, lengan, kaki, semua bagian tubuhku, entah berapa banyaknya kertas-kertas berisikan tuduhan itu ditempelkan! Kertas-kertas yang mengerikan itu semua berisi tuduhan yang lebih mengerikan lagi...! Dan aku... aku tidak bisa melepaskannya!
Takut... panik... gelisah... malu... sedih... semua itu bercampur menjadi satu ketika tahu tidak ada yang bisa kulakukan untuk menghilangkan semua itu...
Sampai tiba-tiba... sekali lagi aku mendengar langkah kaki dari jauh. Tepatnya, dari sekelilingku. Di depanku, di belakangku, di samping kiri dan kananku. Empat pasang kaki mendekatiku dari segala arah. Samar-samar dalam remang aku melihat empat orang yang mengenakan baju merah, biru, hitam, dan putih berjalan ke arahku. Ah! Aku tahu! Mereka pasti Si Xiang!
Mereka datang... untuk menolongku, bukan?
... Ataukah mereka datang dengan tujuan yang sama seperti orang-orang itu...?
Pasti aku akan berteriak, 'teman-teman! Tolonglah aku!'. Namun aku urung melakukannya, saat melihat mereka tidak datang dengan ekspresi yang kuharapkan. Si Xiang berambut merah itu, Ling Guang, baru kali ini dia menatapku seperti itu. Dia menatapku... dengan kemarahan dan kejijikan, seolah aku ini adalah sampah yang tidak ada harganya, yang hanya merusak pemandangannya saja...! Jian Bing yang biasanya tersenyum dan tertawa lebar, kini yang tampak di wajahnya adalah airmata, nafas yang memburu, dan gigi yang menggertak. Tangan Zhi Ming mengepal erat, sampai tinjunya memutih. Dan Meng Zhang... jika seandainya tatapan matanya bisa membunuh, aku pasti akan mati sekarang...
Pada akhirnya, yang keluar dari mulutku bukan sebaris permohonan 'teman-teman! Tolonglah aku!'. Melainkan sebuah permohonan lain. Permohonan... yang cuma akan keluar dari mulut seorang bersalah dan yang sudah tersingkap kejahatannya... yang sebentar lagi akan dihukum...
"J-jangan...!" Pintaku sambil meringkuk makin rapat. Aku tahu apa yang akan mereka lakukan... dan aku takut...! "... jangan mendekat... Jangan... Jangan hukum aku..."
Barulah sekarang aku menyadari, betapa miripnya keadaanku sekarang dengan Yangmei. Sekarang aku benar-benar tahu apa yang dirasakannya kalau dia sudah terdesak. Meski aku mendekat justru untuk menyembuhkannya, untuk menolongnya, untuk menyelamatkannya, dia tetap saja ketakutan. Barulah saat ini aku merasakan hal yang sama...
Tapi, kali ini aku tidak salah kalau memohon seperti itu. Aku tahu pasti mereka benar-benar menghukumku...!
Keempat pasang kaki itu akhirnya berhenti saat terpisah sekitar dua meter dariku. Tidak terlalu jauh, tetapi juga tidak terlalu dekat. Mungkin... mungkin mereka tidak ingin terlalu dekat sangking jijiknya mereka padaku...
Mula-mula, kulihat Meng Zhang membuka bukunya. "Menyebabkan kematian orangtua sendiri... Membuat kerajaan sendiri kalah..." Gumamnya sambil membalik halaman buka itu. Gumamannya itu kurang lebih sama dengan apa yang sudah orang-orang itu katakan padaku...
Dan aku... aku tidak mau mendengarnya lagi...!
'B-bukan...' Mulutku terbuka sedikit, sambil aku menggeleng. Percuma saja... dia tidak mendengarku!
"... Membuang kekuatan cahaya... Memilih kekuatan kegelapan..."
Tapi... mana boleh aku berkata begini? Kedua tanganku sekarang berada di depan mulut, berusaha membungkam diriku sendiri. Memang benar, aku tidak melakukan apa yang dikatakannya. Tetapi dia... gadis itu... dia yang melakukannya, dan sekarang... aku...
"Benar-benar mahluk tidak tahu diri!" Teriakan Ling Guang membuyarkan rentetan pikiranku. Masih saja aku mati-matian berjuang untuk tidak membela diri sendiri. "Makhluk seperti ini harusnya dimusnahkan saja, tidak usah lagi keberadaannya disebut-sebut!"
"Kau itu menjijikkan!" Kali ini, suara Jian Bing. "Dengan anjing yang ada di depan gerbang kota saja kau lebih rendah! Kami semua benci padamu! Benci sampai ingin mati rasanya!"
Aku terperanjat. Ahhh... Ling Guang... Jian Bing... kedua Si Xiang yang biasanya begitu bersahabat dan ramah... Ling Guang yang selalu menunjukkan perhatian padaku... Jian Bing yang tingkahnya selalu membuat siapapun tertawa... Kenapa mereka bisa berkata begitu?
Kenapa...?
"... AAAAHHHH!"
S-sakit sekali! Apa itu? Rasanya... rasanya sesuatu seperti dicabut dariku...!
Aku menoleh ke belakang. Rupanya Zhi Ming... Di tangan kanannya terdapat sesuatu yang dipandanginya dengan mata menyipit dan dahi mengernyit. Sesuatu yang membuatnya, dan juga ketiga Si Xiang yang lain, benar-benar jijik...
Dan tentunya... sesuatu itu adalah sesuatu yang dicabut dariku...
"Jadi, inilah hatinya..." Zhi Ming berujar, sambil memamerkan di tangannya, suatu bola hitam kelam yang terus-menerus mengeluarkan asap, yang seolah berusaha menarik-narik apapun untuk masuk kedalam kegelapan itu. Bola itu sendiri diselubungi dengan duri-duri lain berwarna hitam pula. Kegelapan... yang membuat siapapun yang melihatnya merasa seolah merasa tenggelam di dalamnya...
Mataku melebar, bergidik kaget sekaligus ketakutan melihatnya. Jadi... kegelapan seperti itukah yang masuk ke dalam tubuhku...?
Yang lebih menyakitkan daripada saat tangan Zhi Ming mencabut paksa benda itu adalah adalah perasaan malu ketika dia memamerkannya kepada ketiga Si Xiang yang lain. Ahhh... Kegelapan itu sekarang dapat dilihat oleh semuanya...
"Itu bukan cuma hati yang berisi kekuatan kegelapan..." Meng Zhang bergumam, dengan matanya masih tertuju pada buku di tangannya. "Tetapi adalah kegelapan itu sendiri..."
Ling Guang dan Jiang Bing, saat melihat dan mendengar hal itu, seketika langsung memalingkan wajah.
"Sepatutnya..." Suara Zhi Ming yang berat dan rendah, namun tegas, memenuhi tempat itu lagi. "... mahkluk ini dihukum!"
Bersamaan dengan itu, kali ini bukan hanya selembar kertas, tetapi sebuah rantai yang begitu panjang dan besar...! Entah bagaimana seorlah rantai itu bergerak dengan sendirinya melilit leher, tangan, pinggang, dan sampai ke kakiku! Memang benar lilitan itu tidak begitu kencang, tetapi berat rantai itu membuatku nyaris tidak bisa bergerak!
... ohhh... aku mengerti sekarang...
Orang-orang yang tadi berdatangan satu demi satu itu datang untuk meluncurkan segala kesalahanku. Dan baru saja keempat Si Xiang itu datang untuk memutuskan bahwa aku memang akan dihukum. Jadi, tadi semuanya itu bukan sebuah hukuman...
Sekaranglah hukuman yang sebenarnya akan dimulai...
Celaka...! Aku... aku tidak mau...! Kalau hanya pengadilannya saja seperti ini, lalu bagaimana dengan hukumannya? T-tidak! Ini bukan salahku! Ini semua gila! Aku tidak bersalah apa-apa, dan aku tidak mau dihukum untuk sesuatu yang bukan kesalahanku!
Aku menolah ke kiri-kanan. Orang-orang itu, Si Xiang, dan semuanya sudah tidak ada lagi. Benar-benar hanya aku seorang diri di sini. Dan bukan hanya itu, rantai ini tidak seberat yang tadi, semakin lama semakin ringan saja. Semakin aku menghimpun kekuatanku, semakin aku yakin aku bisa keluar dari tempat ini, dari mimpi buruk ini, dari segala kegilaan yang tidak masuk akal ini!
Kupaksakan diri untuk menegakkan lututku.
Tapi... belum sampai niatku itu kesampaian, aku melihat sesuatu di lantai di bawah kakiku.
Tangan.
Entah berapa banyaknya tangan yang sedang menggapai-gapai ke atas untuk menangkapku! Lantai di bawahku berubah menjadi lantai yang seolah terbuat dari kaca tembus pandang, dimana aku bisa melihat langsung apa yang ada di balik lantai itu. Yang kulihat cuma kegelapan, dengan berapa banyaknya pasang tangan hitam yang menembus lantai kaca. Tangan-tangan kegelapan, mencoba untuk menahanku tetap berada di sini.
Tetapi, bagaimanapun semua tangan-tangan itu berjuang, mereka tidak bisa menangkapku! Karena aku sudah membulatkan tekad untuk lari! Aku akan lari sejauh-jauhnya dari tempat ini!
Sampai akhirnya... pada satu titik, seluruh niatku untuk lari dari tempat ini benar-benar sirna, tidak berbekas barang setitik pun.
Aku melihat sebuah tangan yang lain. Kali ini tangan itu tidak sedang menggapai ke atas. Tangan itu terkulai lemah di dasar kegelapan, benar-benar seperti lumpuh. Tangan itu sedikit berbeda, tidak sepenuhnya berwarna hitam tetapi dinodai oleh corak-corak berwarna hitam.
Tangan itu... aku tahu siapa pemiliknya!
"Meimei!"
Aku harus... menyelamatkannya!
Tanpa mempedulikan apapun lagi, kuulurkan tangan kananku ke bawah. Ajaib! Tanganku bahkan bisa menembus lantai kaca itu dan bahkan bisa menyentuhnya! Segera kugenggam tangan itu, tangan yang dingin, kaku, mati, dan tidak bisa bergerak barang sedikitpun.
Ahhh... celaka... kalau aku menyelamatkannya sekarang, aku tidak akan bisa melarikan diri lagi. Niscaya hukuman yang paling ingin kuhindari itu harus benar-benar kujalani kalau aku menolong gadis ini. Lihat saja, sekarang seluruh tangan-tangan mudah itu bisa dengan mudahnya menggapaiku, menggenggam rantai yang melingkar di tubuhku ini.
Tapi, aku sudah tidak peduli lagi.
Asal aku bisa menyelamatkannya, aku tidak takut pada hukuman apapun.
"Meimei..." Kali ini, tangan kiriku juga kugunakan untuk menggenggam kuat-kuat tangannya. Dengan sekuat tenaga aku berusaha menariknya ke atas. Aku takut dengan semua tangan-tangan hitam yang semakin berhasil menarikku ini! Tapi... aku lebih takut lagi kalau gadis ini tidak bisa selamat dari kegelapan itu!
Aku tidak mau dia berada di sana!
"Meimei...! Meimei, bertahanlah!" Seruku mati-matian dengan putus asa. Tangannya perlahan sudah melewati kaca, dan sebentar lagi aku pasti akan bisa menyelamatkannya! Aku sudah tidak peduli lagi kalau tangan-tangan hitam ini menangkapku!
Tangannya yang dingin dan kaku itu makin kugenggam erat. Perlahan-lahan, aku merasakan kekuatanku meninggalkan tubuhku, kemudian berpindah ke tangannya. Dan aku tahu dengan pasti, ketika aku menyalurkan kekuatanku untukya, aku bukan hanya tidak bisa lari. Justru karena aku memberikan kekuatanku padanya inilah, maka tangan-tangan itu bisa menangkapku...
Betapa bencinya aku pada kegelapan... kegelapan yang hanya bisa menakuti seseorang... kegelapan yang membuat siapapun kehilangan kecantikannya... kegelapan yang kejam dan dingin, yang membutakan...
Aku tidak mau dia berada di kegelapan seperti itu...
"Meimei... kau harus selamat..."
Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Aku tidak peduli. Yang pasti, sekarang gadis itu bersama denganku sekarang. Dia terbaring di pangkuanku.
Ahhh... Yangmei... Rasanya seperti mimpi aku bisa melihatnya seperti ini. Wajahnya yang cantik dan polos itu kembali lagi seperti semula, rambutnya berwarna perak berkilau jika ditimpa cahaya. Tetapi yang paling penting dan di atas segalanya, dia tidak lagi berada di dalam kegelapan. Dia punya cahaya...
"Meimei..."
Baru saja aku akan memeluknya, tiba-tiba gadis itu terbangun! Dia membuka matanya lebar-lebar, kemudian menatapku. Hanya dalam waktu sepersekian detik, dia langsung berdiri, dan tatapannya padaku berubah...
"Kau..." Jarinya teracung ke arahku. "... kegelapan, bukan?"
Hah? Apa maksudnya pertanyaannya itu? Aku... aku tidak bisa menjawabnya...
Dia menatapku dengan tatapan merendahkan. "Memangnya kenapa kok kau bisa sampai seperti ini? Menyedihkan sekali keadaanmu!" Dia mendengus kesal. Aku pun hanya bisa menundukkan kepalaku. "Oh, aku tahu! Kau pasti bermain-main dengan kegelapan. Ya, kan? Benar, kan? Hei, asal kau tahu saja, ya? Yang namanya kegelapan itu sangat-sangat-sangat-sangat- sangat-sangat-sangat-sangat berbahaya, mengerikan, dan tidak boleh disentuh!"
Aku tahu itu...
Tapi...
Dia menyilangkan lengannya. "Sekarang aku tahu kenapa kau bisa seperti ini! Karena kau pasti memilih kegelapan, kan? Yah, memang ini pantas menjadi hukuman untukmu!"
A-apa?
Saat dia berkata begitu, aku merasa seperti... seperti merasa kehilangan sebagian dari diriku...
Aku melakukan ini untuknya! Kenapa dia bisa berkata begitu? Kalau ada seseorang yang pantas berada di tempatku sekarang, itu adalah dia! Tapi, kenapa sekarang dia menuduhku seperti itu? Pantaskah gadis yang tidak tahu terima kasih seperti ini kutolong? Bohong! Aku tidak percaya kalau orang yang berusaha mati-matian kutolong dengan mengorbankan apapun, ternyata gadis seperti ini!
Kali ini, sekali lagi airmataku mengalir. Tetapi bukan airmata kesedihan. Ini air mata kekecewaan.
Ahhh... tapi...
Kenapa...? Kenapa meskipun dia membuatku kecewa seperti ini, kenapa aku tidak pernah bisa membencinya? Saat aku menengadahkan kepalaku menatapnya, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Persetan bahwa dia menatapku dengan jijik seolah aku sampah, persetan bahwa dia baru saja menuduhku yang bukan-bukan dengan mulutnya sendiri, persetan kalau di wajahnya tidak menyatakan secuil pun ucapan terima kasih. Yang kulihat hanya dia. Itu saja. Aku sayang padanya, dan itu yang paling penting. Dan melihatnya sekarang membuatku lega...
Untuk pertama kalinya, sesudah masa yang seperti keabadian aku tidak mengeluarkan suara sama sekali, aku membuka mulutku, bertanya padanya. "Apakah kau sekarang..." Tanyaku dengan suara yang lemah, bahkan mungkin nyaris seperti bisikan. "... suka pada cahaya?"
Dia mengerjap-ngerjapkan mataku, seolah pertanyaanku itu adalah pertanyaan yang kelewat bodoh. "Tentu saja. Aku kan tidak sepertimu yang begitu sayang dengan kegelapan sampai seperti ini."
Jadi, itu jawabannya.
Aku hanya mendengar dua kata 'tentu saja' yang diucapkannya itu. Kata-kata yang lainnya tidak kupikirkan lagi. Yang paling penting hanya 'tentu saja' itulah. Yang penting, dia tidak lagi menyukai kegelapan...
"Hati-hati, lho." Gadis itu berujar lagi. "Dengan kegelapan seperti itu, kau pasti akan dihukum!"
Ah!
Oh iya...
Aku... kehilangan kesempatan untuk melarikan diri!
Celaka... aku tidak bisa lari. Aku sudah menggunakan kesempatanku lari untuk menyelamatkan gadis itu. Memang benar aku tidak menyesali keputusanku. Tapi, bagaimanapun, rasa takut yang demikian hebat mulai memenuhi hatiku, seiring dengan aura yang luar biasa kuat ini makin mendekat.
Sesuatu... bukan, seseorang mendekat. Cahaya yang terang, tetapi begitu panas! Ahhh...! Kenapa tubuhku rasanya seperti terbakar? Apa yang terjadi sebenarnya? Cahaya ini... aku mengenal dengan baik cahaya ini. Tetapi panas yang menyiksa ini... perasaan yang sangat baru untukku...
Astaga...
Inikah yang terjadi jika kegelapan didekati oleh cahaya...?
Yang bisa kulakukan sekarang hanya menunduk sambil menutup wajahku dengan kedua belah tanganku. Aku takut... benar-benar takut...! Tubuhku bergetar tak hentinya, keringat dingin mulai membasahi wajahku. Ketakutan ini... sangking kuatnya mungkin bisa membunuhku saat ini juga! Betapa menjijikkannya aku sekarang...
D-dan... aku harus bertemu dengannya seperti ini...!
Langkah kaki yang mendekat itu akhirnya berhenti, dan aku tahu tepat di depanku. Rasa sakit yang ditimbulkan karena panasnya cahaya ini sudah tidak terasa lagi sangking lebih besarnya perasaan takutku...
Tiba-tiba, suaranya menyambar segala lamunanku.
Kalau selama ini aku selalu mendengar suaranya yang lembut dan memanggilku, tangannya yang hangat akan memelukku, kali ini semuanya berubah. Semuanya tidak ada lagi. Aku bergidik, belum pernah sekalipun aku merasakan hembusan nafasnya yang sepanas ini, atau suaranya yang seperti gemuruh petir. Belum pernah sekalipun aku melihatnya seperti ini!
"Apa yang kau lakukan?" Sebuah pertanyaan yang sederhana. Tetapi aku tahu tidak perlu dijawab. Aku sedikitpun tidak berani menatapnya. Pertanyaan itu diucapkan dengan nada yang rendah, tetapi penuh dengan kemarahan yang berapi-api, yang siap menghanguskanku kapan saja...
"Kau telah membuang cahayamu, lalu memilih kegelapan! Entah sudah berapa orang kau bunuh! Dari rakyat jelata hingga Kaisar, semua sudah menjadi sasaran kebuasanmu! Apa kau sadar itu?"
Tidak...! Aku tidak mau mendengar itu...!
"Berapa orang yang hidupnya sudah kau hancurkan karena ulahmu? Apa kau begitu butanya hingga tidak bisa melihat semua itu?"
B-bukan...! Itu bukan aku!
"Iya... aku mengerti. Kau memang buta. Kau adalah kegelapan." Suara itu merendah hanya untuk beberapa saat saja, tetapi sesudah itu mengeras lagi. Kali ini menumpahkan semua kemarahannya... padaku...!
"Aku membenci apapun itu padamu! Kegelapanmu, perbuatanmu, keberadaanmu, semuanya! Rasa jijik padamu benar-benar memenuhiku sekarang!"
Ahhh...!
Ini tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi! Bagimana... Bagaimana dia bisa mengatakan hal seperti itu padaku? Bukankah aku adalah dirinya sendiri? Dan... dan bukankah dia sayang padaku seperti dia sayang pada dirinya sendiri? Tapi... tapi kenapa...? Kenapa?
"Tai Yang...!"
Seruanku itu keluar bersamaan dengan saat tangannya itu mencengkrang lengan atasku, kemudian memaksaku untuk berdiri. Ya Tian...! Kenapa bisa terasa panas seperti ini? Panas ini... panas yang bisa membunuh...! Tetapi bukan itu yang paling menyakitkan. Sekarang aku baru sadar sesuatu. Aku...
... aku tidak bisa melihatnya.
Ada apa dengan mataku? Bagaimana bisa? Aku tidak bisa melihat wajahnya, atau cahayanya. Yang kulihat hanyalah kegelapan saja. Cuma itu... Tidak ada cahaya yang masuk ke dalam mataku. Dia tidak membiarkan aku yang kegelapan ini untuk melihatnya...
Suaranya terdengar lagi. "Apakah makhluk sepertimu pantas ada?" Sebuah pertanyaan lagi. "Kau, bersama dengan kegelapanmu itu, harus musnah..."
... benar.
Saat kata-kata itu diucapkan, sekali lagi tempat ini berubah. Bukan aula Taihe lagi. Hanya dalam sepersekian detik, tempat ini kembali menjadi padang rumput hijau itu lagi. Tempat yang indah, dimana langit berwarna merah darah. Dimana di belakangku ada seorang gadis yang bersembunyi sambil menutupi wajahnya.
Kupandangi dia sesaat.
Meimei... aku tidak pernah menyesal menyelamatkanmu...
Dan sesudah itu, rasa sakit yang luar biasa mulai terasa di dadaku. Sebilah pedang di tangan Tai Yang menembus jantungku, dan dari situlah aku melihat darah mengalir. Darah yang warnanya persis dengan langit senja ini...
Kekuatanku sepenuhnya menginggalkanku.
Tangan yang mencengkram lenganku itu kini melemparkanku seperti boneka yang sudah rusak. Seperti sampah. Tubuhku terhempas di atas tanah.
Tapi, tentunya menyenangkan jika aku benar-benar sebuah boneka saja, bukan? Aku tidak perlu merasakan sakit seperti ini. Tidak perlu merasa sedih seperti ini. Seandainya aku boneka, aku tidak perlu merasakan apapun.
Namun, karena aku bukan boneka, aku bisa merasakan semua ini.
Aku menangis.
Yah, memang benar aku tidak bisa melihat mataku yang berkaca-kaca, atau melihat airmataku berjatuhan. Bagaimana bisa? Mataku benar-benar tidak bisa melihat apapun. Benar-benar gelap. Benar-benar buta. Tapi, aku masih bisa merasakan pipiku yang makin basah oleh karena airmata yang mengalir seperti hujan.
Meimei...
Setelah ini kita akan bermain bersama lagi. Ya, kan?
Gunung Ding Jun...
"Hmmm?"
Zhao Yun menolehkan kepalanya ke arah penasihat yang duduk di sebelahnya melingkari perapian. Sejak tadi dilihatnya Pang Tong terus menerawang ke langit. Awalnya dikiranya penasihat itu sedang memuaskan mata melihat pemandangan langit malam. Tetapi, apa setelah dilihat-lihat lagi, apa yang bisa dilihat pada malam ini? Langit gelap, tidak ada bulan, tidak ada satupun bintang.
Yahhh... kecuali bintang istimewa berwarna emas yang katanya bintang Phoenix itu. Tapi, bintang itupun sekarang sudah sangat amat redup.
"Ada apa, Penasihat Pang?" Tanya Zhao Yun penasaran.
Pang Tong mengangkat tangannya, menunjuk ke arah satu-satunya bintang yang menggantung di langit itu. Nampaknya langit malam yang gelap begitu bernafsu melahap semua cahaya yang menjadi penerang mereka. "Bintang Phoenix itu..." Gumamnya. "Apa kau tidak merasa sesuatu yang berbeda?"
Jendral Shu itu mengerjap-ngerjapkan mata sebelum menatap bintang itu sekali lagi. Bintang yang dulunya indah sekali, dengan cahayanya yang selalu menjadi pusat perhatian, sekarang kelihatan begitu redup, begitu lemah. Bintang itu sesekali berkelip mengeluarkan cahaya kecil, tetapi kadang meredup sampai tidak terlihat sama sekali.
Saat melihat bintang itu, Zhao Yun selalu teringat akan sepasang mata emas... Sepasang mata emas anak laki-laki yang muncul dalam mimpinya itu. Yang datang ke tempatnya berada sambil membawa sebuah lentera, yang mengetuk pintunya dan menunggu sampai ia mengajaknya masuk...
Seingatnya, mata emas itu bersinar begitu cemerlang, sama seperti bintang itu. Tetapi sekarang, jika bintang itu meredup... Zhao Yun dapat membayangkan apa yang terjadi dengan kedua mata itu sekarang. Kehilangan cahayanya. Kehilangan pengelihatan...
"Penasihat Pang?"
"Ya, Zhao Yun?"
Zhao Yun mulai merasakah kekhawatiran dan kesedihan yang tidak ia mengerti kenapa tiba-tiba merasuki pikirannya. "Apakah... Phoenix itu... baik-baik saja?" Tentunya jendral muda itu berharap akan mendengar jawaban 'tentu'.
Penasihat Pang Tong tak lantas menjawab. Pandangannya kembali ke bintang itu lagi, mengamat-amatinya beberapa saat. Zhao Yun mungkin harus makin sedih dan kecewa saat mendengar jawaban dari Pang Tong.
"Bintang itu menjawab, kalau ada satu waktu Phoenix itu paling sedih, paling menderita, paling tidak baik-baik saja..." Suaranya makin pelan. "... waktu itu adalah sekarang."
Lu Xun
Ahhh...!
"Ya Tian...!"
Kedua tanganku meremas kepala kuat-kuat. Apa itu tadi? Cuma mimpi... cuma mimpi, kan? Iya... hanya mimpi...
Meskipun hanya mimpi, mengapa bisa begitu nyata sekali rasanya? Mengapa begitu mengerikan? Dan mengapa aku merasa itu akan benar-benar terjadi? Celaka... gara-gara mimpi itu, aku benar-benar bangun dan tidak dapat tidur lagi sekarang. Aku benar-benar takut aku akan mengalami mimpi itu lagi...! Aku tidak mau...!
"Hihihi..."
H-hah...?
Suara itu...
Aku menoleh ke kiri dan kanan. Perasaan yang tidak enak ini, keberadaan yang sama sekali tidak kuharapkan, suara itu... Semuanya pasti milik Yaoguai! Dengan awas, segera aku mengambil pedang yang tergeletak di sebelah kasur tempat aku tidur.
"Keluar kalian!" Seruku kuat-kuat. Untung saja di kamar ini hanya ada aku sendirian hingga tidak membangunkan seorang pun. "Berani-beraninya masuk ke tempat ini!"
"Hihihi... rupanya si Phoenix ini masih bisa menggertak meskipun sudah ketakutan begini, ya?" Suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih licik dari sebelumnya! "Kau kira kau bisa membunuh kami, hah?"
Genggaman tanganku makin kuat pada pedangku. "Cepat keluar!"
Mereka benar-benar mengikuti perkataanku. Namun betapa kagetnya aku saat melihat Yaoguai-yaoguai itu! Kalau tidak salah... mereka itu Yaoguai yang harusnya sudah berhasil kukalahkan saat aku berada di sebuah bola kegelapan sesaat sesudah melihat masa laluku di Yi Leng Jing-Prisma Ingatan! Bagaimana mereka bisa ada lagi sekarang?
Jadi, inikah yang dimaksudkan Tai Yang di Kota Perbatasan Kui dulu saat dia berkata akan membiarkan Yaoguai-yaoguai ini terlepas kembali?
"Hehehe... masih ingat kami?" Tanya mereka. Bentuk mereka yang hanya seperti asap hitam panjang melayang-layang di udara ini membuatku tegang juga... Apalagi suara mereka yang seperti itu...
Bagaimanapun, aku tidak boleh menunjukkan perasaanku yang sekarang sedang kacau balau ini pada mereka. "Satu-satunya yang kuingat adalah bahwa aku pernah mengalahkan kalian sebelumnya." Jawabku sambil tersenyum mengejek. "Dan aku harap, kalian tidak keberatan jika aku mengalahkan kalian lagi..."
Dengan begitu, secepat kilat aku berlari, kemudian mengayunkan pedangku dan menebas mereka. Asap-asap itu seketika terbelah dan bercampur dengan udara.
"Hihihi... kau kira bisa mengalahkan kami sekarang?"
APA?
Saat aku menoleh, kulihat lagi asap-asap hitam itu saling berkumpul, kemudian membentuk wujud awal mereka yang semua. Kenapa... kenapa pedangku ini sama sekali tidak bisa mengalahkan mereka? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Selama ini kau tidak sadar, ya, Phoenix?" Jawab mereka sambil tertawa terkekeh-kekeh. "Kau ingin menyelamatkan gadis itu, bukan? Jadi selama ini yang kau lakukan adalah menanggung sedikit demi sedikit kegelapannya dalam tubuhmu..."
Kalau itu aku tahu...
Tapi aku tidak menyangka kalau kegelapan yang kutanggung sekarang sudah sebegitu besarnya hingga tidak ada sedikit pun kekuatan cahaya untuk bisa mengalahkan mereka!
Suara pedang yang jatuh memenuhi keheningan yang mengerikan itu.
Jadi... inikah saatnya? Sebentar lagi kah? Pantas saja malam ini aku bermimpi seperti itu...
"A-ahhhh...!"
Sial...! S-sakit sekali! Salah satu Yaoguai tadi tiba-tiba saja menerjang masuk ke dalam tubuhku, persis seperti yang mereka lakukan saat itu! Aku jatuh berlutut, tangan menggenggam erat dadaku yang terasa bukan main sesaknya. Celaka...! Aku semakin kesulitan bernafas! Jantungku berdengup sepertinya tiga kali lebih cepat dari biasanya. Dan aku sadar sepenuhnya tubuhku gemetaran.
"Wah... wah... wah... kasihan sekali kau, Phoenix..." Mereka tertawa mengejek. "Berusaha menolong orang-orang yang kau sayangi. Tetapi sekarang, saat kau sendiri kesulitan, kau tidak bisa menolong dirimu sendiri."
"T-tidak...!" Perlahan, sepasang tanganku naik dan meremas kepalaku. Sial! Kepalaku terasa sakit sekali! Segala perasaan takut, khawatir, sedih, marah, panik, semuanya bercampur dalam kepalaku! "Hentikan! Hentikan semua ini! HENTIKAAAAAN!"
BRAK!
Tiba-tiba saja pintu terbuka. Zhou Ying ada di depan pintu dan menatapku dengan wajah prihatin.
"Lu Xun?" Dia tentunya makin panik saat melihat bibirku yang bergetar, tidak bisa menjawabnya. Mataku hanya bisa melebar menatapnya dengan ketakutan luar biasa. "Apa yang terjadi? Kenapa kau?"
"Hooo..." Salah satu Yaoguai itu menyahut. "Wah, aku penasaran. Jika sekarang kondisimu seperti ini, apa kau bisa menyelamatkan orang-orang yang kau sayangi ini kalau kami menyerang mereka?"
Pertanyaan yang mengerikan itu bagaikan air yang menyirami ketakutan yang makin menjalar di hatiku. Tidak boleh...! Tidak boleh! Mereka tidak boleh menyerang Zhou Ying! Mereka tidak boleh menyerang orang-orang di desa ini! Bahkan... bahkan untuk menampakkan diri di depan mereka saja tidak boleh!
"J-jangan!" Seruku kuat-kuat, memohon dengan sepenuh hatiku. "Kalau ingin menyerang, kumohon serang aku saja! Jangan libatkan mereka!"
"Lu Xun? Kau bicara pada siapa?" Tanya Zhou Ying sambil mengusap matanya yang masih mengantuk, kemudian perlahan berjalan mendekatiku. "Ada apa? Apa kau sedang bermimpi buruk?"
Aku hanya bisa menggeleng, tetapi tidak kuasa menjawab apapun. Mimpi? Ini bukan mimpi! Ini sungguhan! Ini keadaan yang sangat gawat dan berbahaya! Dan aku... aku tidak mau Zhou Ying juga masuk ke dalamnya! Cukup aku saja!
"Zhou Ying! Jangan mendekat!" Seruku. "Tinggalkan aku sendiri! Pergilah!"
"Hah? Apa kau bilang?" Tanya Zhou Ying sambil mengerutkan dahi. Celaka... dia semakin mendekat! Aku tidak mau dia melihatku dan Yaoguai-yaoguai ini! Aku tidak mau dia diserang oleh Yaoguai-yaoguai ini!
Maka pada akhirnya, dengan nekat aku langsung berlari melewatinya, tidak sengaja menabrak dan mendorongnya hingga jatuh. Tetapi aku sudah tidak berbalik untuk menolongnya berdiri lagi. Aku langsung pergi! Aku harus berlari sejauh-jauhnya! Jangan sampai mereka menyerang orang-orang ini!
Sepasang suami-istri muda pemilik rumah ini melihatku yang tengah berlari sekencang-kencangnya keluar dari rumah ini. "Xiansheng? Ada apa malam-malam begini berlari keluar seperti sedang dikejar setan begitu?"
Kalau mereka berkata aku berlari seperti dikejar setan, mereka memang benar. Itulah kenyataannya. Aku terhenti sejenak memandang mereka untuk waktu tak sampai sedetik. Pasangan muda baik hati yang menerima aku dan Zhou Ying di rumah mereka untuk tinggal semalam di desa kecil Lue Yang ini. Desa kecil yang tidak memiliki tempat Gaibang yang membuatku dan Zhou Ying terpaksa tidur beratapkan langit beralaskan tanah, rupanya di sini ada pasangan muda yang ramah seperti ini menerimaku dan Zhou Ying.
Dan aku... aku tidak mau mereka terlibat dalam masalah ini juga!
"Xiansheng?"
"Maaf..." Seruku sambil kembali berlari dan membanting pintu. "Aku harus pergi!"
Aku berlari secepat yang kakiku bisa, sementara dadaku makin terasa sesak dan kepalaku makin berat. Yaoguai-yaoguai itu tetap mengerumuniku! Kegelapan mereka membuat pandanganku perlahan-lahan kabur, tidak bisa melihat sekelilingku dengan baik! Yang pasti aku, tahu aku harus terus belari, meninggalkan besa Lue Yang ini sejauh-jauhnya! Orang-orang desa ini pasti menyangka aku sudah gila di tengah malam begini berlari-lari sambil merintih dan menjerit kesakitan.
"Hihihi... Memangnya tidak apa kami menyerang kau terus, hmmm?" Tanya mereka. "Kau bisa mati kalau begini terus!"
Ketakutan yang tidak terbayangkan lagi mulai memenuhi benakku. Ya Tian...! Aku bisa mati kalau terus-terusan seperti ini! Tidak adakah yang bisa melepaskan aku?
Yang penting, jangan menyerang mereka! Seranglah aku saja!
Kudengar tawa Yaoguai-yaoguai itu makin keras, makin membuat kepalaku sakit! "Hihihi...! Rupanya beban di pundakmu bukan cuma gadis itu, ya? Tapi semua orang yang kau sayangi ini juga!"
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Yang bisa aku tahu hanyalah berlari dan berlari. Karena aku tidak bisa melihat dengan jelas, kadang kala aku menabrak orang dan membuat mereka menyumpahiku. Tapi bukan sumpahan mereka yang aku takutkan. Yang aku takutkan adalah kalau sampai Yaoguai-yaoguai ini lantas menyerang mereka juga!
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Akhirnya, akhirnya aku keluar dari desa ini! Tapi... masih belum cukup jauh! Aku masih harus berlari...!
"Sudahlah... menyerah saja..." Yaoguai-yaoguai itu berbicara lagi. "Bagaimanapun, kau cuma manusia lemah yang tidak ada apa-apanya..."
Meskipun aku tahu itu salah, karena aku ini juga Phoenix, tetapi ada satu sisi dalam perkataan mereka itu yang benar! Iya, di satu sisi aku memang Phoenix! Tapi di sisi lain aku juga manusia, dan karena itu aku bisa membawa kegelapan ini dalam tubuhku. Dan karena itu jugalah sekarang aku tidak bisa memusnahkan mereka!
Semakin lama, kesakitanku makin menjadi-jadi. Aku sampai-sampai tidak bisa membedakan mana yang kesakitan fisik, dan mana yang kesakitan batin. Yang aku tahu hanya aku merasakan perasaan menyiksa yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Perasaan yang membuat airmataku mengalir tanpa henti. Perasaan yang seolah memisahkan tubuh dan jiwaku.
Perasaan yang... membunuh salah satu bagian dariku...
Kotaraja Cheng Du...
Jiang Wei menatap apa yang dilihat Perdana Mentri Shu yang sekaligus adalah gurunya itu juga. Sebuah bintang berwarna emas. Bintang Phoenix yang makin lama makin redup. Jendral muda itu juga memperhatikan, tatapan Zhuge Liang terlihat sedih saat melihatnya.
"Perdana Mentri..."
"Bintang itu sedang menyampaikan pesan..." Gumamnya. "... dia menyampaikan rintihan dan jeritan kesakitan Lu Xun..."
Saat mendengar nama Phoenix itu disebut, Jiang Wei tidak bisa tidak ikut panik juga. "Perdana Mentri?"
Tetapi kali ini, ia tidak menerima jawaban apapun. Sepertinya, keheningan dari gurunya itu memberinya kesempatan untuk dapat membohongi perasaannya sendiri. "Tidak mungkin, kan?" Gumamnya pada dirinya sendiri. "Aku tidak mengerti... Phoenix itu kan matahari yang bersinar dengan terangnya? Yang cahayanya menyilaukan? Bagaimana dia bisa menjadi bintang yang begitu kecil, yang sekarang nyaris meredup kehilangan cahayanya?"
Zhuge Liang menemukan pertanyaan ini menggelitik pikirannya. "Ketika kau melihat matahari, Jiang Wei, bukankah kau melihat kemegahan yang sangat besar? Cahaya yang panas dan membakar? Yang membuat benda penerang apapun di langit tidak ada yang berani menandingi cahayanya?" Jiang Wei hanya membalas dengan sebuah anggukan. "Tetapi bintang itu... bukankah terlihat kecil sekali? Keindahannya memang mencolok, tetapi sama sekali tidak menunjukkan kemegahan. Hanya kesederhanaan saja..."
"Itulah cara satu-satunya untuk mencari bulan." Jiang Wei melanjutkan. "Bukan begitu, Perdana Mentri?"
Perdana Mentri itu mengangguk. "Tetapi suatu saat bintang itu akan kembali lagi menjadi matahari." Lanjutnya. "Sama seperti kau melihat Lu Xun. Suatu saat kau akan melihat burung layang-layang kecil yang jinak itu akan kembali lagi menjadi Phoenix..."
Meng Zhang
Tidak bisa jadi...
Kalau boleh ada suatu masa dimana aku dilarang keras melakukan apa yang ingin kulakukan, waktu itu adalah sekarang.
Sekarang aku mengerti alasan mengapa aku ditempatkan sebagai pelindung Shu. Ling Guang, Jian Bing, dan Zhi Ming, ketiganya tidak mungkin bisa mengendalikan diri saat melihat ini. Dan karena kejadian ini akan mengambil tempat di Shu, maka akulah, Si Xiang yang dipercaya paling dapat mengendalikan diri, yang ditempatkan di sini.
Memang benar aku kelihatan yang paling dingin dan tidak peduli pada apapun. Tetapi bukan berarti aku tidak sayang padanya.
Saat melihat laki-laki muda itu, saat melihatnya berlari menjauhi semua orang demi menjamin Yaoguai-yaoguai yang menyerangnya tidak menyerang mereka juga, saat melihatnya beberapa kali berpegangan pada batang pohon yang kasar dan keras untuk mengatur nafasnya, saat melihatnya dengan susah payah mengatur nafas dan dekatk jantungnya dengan sia-sia, siapa yang tidak ingin menolongnya?
Mungkin agak berbeda ceritanya kalau dia adalah seorang laki-laki biasa yang kerjaannya merampok barang orang, dan kalau yang mengejarnya adalah... katakanlah, penjaga kota. Atau mungkin sedikit berbeda juga kalau dia adalah seorang jendral yang dikejar-kejar oleh musuh-musuhnya yang haus darah.
Tapi masalahnya, dia bukan sekedar manusia. Dia adalah Phoenix. Dan alasan kenapa dia dikejar seperti itu bukan karena dia bersalah, atau karena para Yaoguai musuhnya ingin mendapatkan sesuatu darinya. Dia sebenarnya sedang dituntun ke tempat pembunuhan. Tempat pembunuhan yang lebih kejam daripada pembunuhan fisik.
Tempat untuk... membunuh kemauannya.
"Linggongzi... bertahanlah..."
Aku berusaha untuk mengeraskan hatiku saat melihatnya jatuh ke tanah ketika tersandung sebuah batu, memberikan kesempatan pada para Yaoguai itu untuk menyerangnya lagi dan lagi. Mungkin tidak terlalu menyakitkan jika yang mereka siksa itu adalah tubuhnya. Tetapi yang sedang mereka siksa sekarang itu adalah hatinya.
"Lu Xun...?"
Hmmm?
Mataku kembali ke pemandangan di depanku itu. Linggongzi yang sekarang benar-benar lemah, baik tubuh dan jiwanya. Di depannya yang terjembab di tanah itu, berdiri seorang anak laki-laki. Dari belakang sini, aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Yang pasti rambut berwarna hitam yang panjang sepinggang itu diikat satu.
Mencurigakan...
Linggongzi menengadahkan kepalanya menatap anak itu. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Dia terlalu lemah untuk berdiri atau bahkan hanya sekedar untuk duduk saja.
"Ngg...?" Linggongzi membiarkan wajahnya yang basah itu terlihat dengan jelas. "Maaf... Didi ini siapa, ya?"
Dari balik pepohonan ini, kulihat anak kecil itu berlutut, kemudian menggenggam kedua tangan linggongzi yang lunglai dan bergetar. Dia membantunya untuk duduk bersandar pada batang sebuah pohon. Linggongzi, seperti biasa, selalu berterima kasih atas bantuan sekecil apapun yang ia terima. Senyumannya yang lemah dan seperti dipaksakan itu terlihat sangat menyatu dengan matanya yang berair.
"Terima kasih, didi..." Ujarnya lemah. "Siapa namamu?"
Anak itu tak lantas menjawab. "Anggaplah aku seorang Abdi Langit, Lu Xun."
Tentu saja, ini membuat bukan hanya linggongzi tetapi aku juga merasa kaget bukan buatan! Anak laki-laki itu... Abdi langit? Tetapi... kalau tidak salah setahuku...
"Abdi Langit?" Linggongzi menatapnya dengan mata berbinar. Kemudian ia menghela nafas lega. "Syukurlah... kukira semuanya meninggalkan aku sendirian di malam seperti ini..."
Sebenarnya, perkataan linggongzi itu benar sekali. Dia memang seharusnya sendirian di tempat ini. Kecuali jika dia benar-benar akan mati, tidak boleh ada satupun yang berada bersamanya. Malam ini, malam sebelum malam terakhir tahun baru, kemauan dirinya itu harus dibunuh, dan itu hanya bisa terjadi jika ia benar-benar seorang diri.
Jadi... kenapa?
"Lu Xun, aku datang untuk memberitahukan sesuatu..." Anak itu menyahut.
"Apa itu?"
Sepasang tangan anak kecil itu kini berada di kedua belah pipi linggongzi yang basah. Perlahan tangan itu mengangkat wajahnya untuk menatapnya lurus-lurus. "Lu Xun..." Kudengar suara yang bergetar itu. Anak itu, sama seperti linggongzi, sedang menangis. "Kenapa... ini harus terjadi padamu? Ini tidak adil... Tidak adil, kan? Iya, kan?"
Anak itu kini menjatuhkan dirinya di atas kedua lututnya, kemudian memeluk linggongzi kuat-kuat. "Lu Xun... kau akan kuberitahu sesuatu, ya?" Sambil menyeka airmatanya, anak itu pun mulai menyampaikan sesuatu. Penasaran, aku mencoba mempertajam pendengaranku untuk mendengarkan anak itu. Tapi aku yakin, sesudah mendengar perkataan itu, aku justru akan menyesal dengan segenap keberadaanku.
"Lu Xun, kau bukan Phoenix itu..."
A-apa?
Linggongzi... bukan Phoenix? Laki-laki itu... bukan yang selama ini aku tahu?
Ini tidak mungkin, kan?
"A-apa kau bilang?" Linggongzi menatapnya dengan mata lebar, tidak percaya.
Anak itu mengangguk perlahan. "Iya. Kau bukan Phoenix. Kau hanya manusia biasa saja. Sama seperti yang lainnya." Jawab anak itu dengan suara pelan. "Kau memang hanya manusia biasa. Tetapi kau orang yang sangat amat baik, Lu Xun. Dan karena kau adalah orang yang sangat baik itulah, kau tidak pantas menderita seperti ini..."
Aku tidak bisa menggambarkan perasaan yang ada di dalam hati linggongzi sekarang.
Tetapi, sedikit banyak, aku bisa tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Yah, itulah keistimewaan kami keempat Si Xiang. Ling Guang bisa menunjukkan perhatian penuh padanya. Zhi Ming bisa menjalankan mandat yang diberikan olehnya dengan sempurna. Jian Bing bisa menyayangi orang-orang yang disayanginya persis seperti bagaimana ia sayang pada mereka. Dan aku... aku bisa mengetahui pikirannya.
"Begitu..." Ujar linggongzi. "Jadi, apa yang akan terjadi padaku sekarang?"
"Seorang yang baik, tentunya harus mendapat balasan yang baik pula." Jawab anak itu sambil berdiri, kemudian mengulurkan tangannya. "Ayo, Lu Xun. Kita pergi dari tempat ini. Kau seharusnya mendapatkan kehidupan yang menyenangkan dan bahagia bukan?"
Linggongzi menutup matanya untuk sesaat. Sebuah senyum tersungging di bibirnya. Tetapi itu bukan senyuman lemah lagi. "Terima kasih..." Tangannya pun maju terulur ke arah tangan anak itu.
Tetapi bukannya untuk menerima uluran tangannya, melainkan untuk menepisnya.
"... tetapi aku tidak akan tertipu, T'an Mo!"
Seketika itu juga, wujud anak laki-laki itu berubah menjadi musuh besar linggongzi, musuh besar xun-jue, musuh besarku dan Si Xiang yang lain. Siapa lagi kalau bukan T'an Mo? Tapi, wujudnya itu selalu berubah-ubah. T'an Mo yang sekarang dengan yang dulu tidak pernah sama.
Yah, dia bisa mengubah wujud seperti apapun yang dia mau, dan dengan hebatnya bisa mengecoh siapapun. Bukankah dulu dia pun pernah menipu nü-shi dengan wujudnya itu?
Tapi linggongzi memang hebat. Dia tidak bisa ditipu oleh T'an Mo semudah itu.
"... Kau!" T'an Mo mengepalkan tangannya sambil menahan marah. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Mudah saja!" Jawab linggongzi lantang. Salah satu tangannya tiba-tiba berpindah dan meremas dadanya, seolah menahan kesakitan saat berseru. "Tidak ada satupun Abdi Langit yang akan memanggilku 'Lu Xun' kalau aku tidak meminta terlebih dahulu! Dan yang paling penting adalah..." Dia menghirup nafas dalam-dalam, berusaha menahan rasa sakit yang sekali lagi menyerangnya itu. "... satu-satunya makhluk yang mengatakan bahwa aku hanyalah manusia biasa dan bukan Phoenix itu... cuma Yaoguai saja..."
Dengan cepatnya tiba-tiba kedua tangan linggongzi berpindah ke mulutnya. Ia terbatuk-batuk sangat keras, dan tahu-tahu saat sudah selesai, aku melihatnya memuntahkan darah sambil berusaha mengatur nafasnya yang kacau balau.
Linggongzi...
Aku hanya bisa terheran-heran. Linggongzi selemah ini. Bahkan sekarang ia hanya bisa duduk, membutuhkan dukungan dari batang pohon tempatnya menyandarkan punggung. Nafasnya seolah bisa terputus kapan saja. Namun, dalam keadaan seperti ini, T'an Mo hanya bisa melihatnya, mengejeknya, atau menyuruh Yaoguai-yaoguai rendahannya untuk menyerangnya. Tapi dia sendiri tidak berani menyakitinya dengan tangannya sendiri.
T'an Mo rupanya takut pada linggongzi...
"Ughhh..." Linggongzi kembali meremas dadanya kuat-kuat, sama sekali tidak peduli bahwa musuh besarnya ada di sana. Benar-benar dia sama sekali tidak ambil pusing dengan keberadaan T'an Mo. Airmatanya mengalir, membasahi bibirnya yang kotor oleh darahnya sendiri. Tekanan yang dirasakan linggongzi sekarang... aku sama sekali tidak mengerti...
"Hanya untuk menyelamatkan gadis itu saja, kau sampai seperti ini." Ujar T'an Mo tiba-tiba. "Apa kau tidak menyesal? Menyelamatkan seseorang yang sama sekali tidak tahu terima kasih?" Dia berjalan dengan langkah perlahan, mengamati linggongzi yang terduduk lemah di bawah pohon dari segala arah. "Kau tidak usah menyelamatkannya. Dia itu tidak ada harganya sedikitpun."
Oh, betapa aku setuju dengan perkataan T'an Mo. Aku sama sekali tidak mengerti mengapa linggongzi harus seperti ini sekarang. Ling'ai benar-benar sudah keterlaluan. Bahkan aku tidak mengerti mengapa aku masih memanggilnya 'ling'ai'. Nü-shi juga begitu. Sama sekali tidak ada bedanya.
Tapi, linggongzi pasti berpikir lain dariku. "Bukan urusanmu kalau aku ingin menyelamatkannya, kan?" Tanyanya sengit. "Kenapa? Apa kau iri karena aku menyelamatkan dia tetapi kau tidak?"
Seperti yang sudah kuduga, T'an Mo, semarah apapun dia, tidak berani menyerang linggongzi dengan tangannya sendiri.
"Kau juga selalu mengubah wujudmu seperti itu. Aku tahu itu bukan wujud aslimu." Lanjut linggongzi. Matanya masih tajam menatap T'an Mo. "Kau selalu datang dengan wujud wanita seperti itu, persis seperti Yangmei dan Tai Yin. Atau kalau tidak, kau akan datang dengan wujud anak kecil. Kedua-duanya adalah yang paling aku dan Tai Yang sayangi..." Dia terhening sejenak. "Apa kau begitu irinya pada mereka, sampai selalu menggunakan wujud itu?"
"K-KAU...! BERANI BENAR KAU...!"
"T'AN MO!"
Tiba-tiba saja suara linggongzi, meskipun terdengar parau dan lemah, aku bisa merasakan ada kekuatan yang luar biasa, yang membuat Tan Mo terkejut bukan buatan. Tentu saja, melihat ini dia makin gentar. Hmph. Betapa ironisnya. Padahal linggongzi masih tetap terduduk lemah, tidak berdiri.
"Sudah cukup dengan wujud tipuanmu itu!" Seru linggongzi. "Kembalilah ke wujud aslimu!"
Entah bagaimana, sebuah pagar lingkaran yang berbentuk api mulai timbul dari tanah dan menyelimuti T'an Mo! Hanya dalam sekejap mata, ketika api itu menghilang, aku sudah melihat wujud T'an Mo yang sebenarnya! Ya, persis seperti ketika dulu pertama kali dia bermusuhan dengan kami semua.
"SIALAN KAU!" Serunya kuat-kuat. Linggongzi masih tetap tidak bergeming sedikit pun. T'an Mo langsung menuding laki-laki itu, yang katanya adalah manusia lemah, tetapi yang ia sendiri tidak berani serang. "Serang dia! Jangan biarkan dia selamat!"
Mendengar perintah itu, Yaoguai-yaoguai rendahan berbentuk asap yang sedari tadi menyerang linggongzi itu kembali lagi menyerangnya. Kali ini lebih gencar dan membabi buta.
Tapi... kali ini linggongzi tidak melakukan apapun untuk melawan.
Mungkin... dia tahu bahwa... yang ingin membunuh keinginannya di tempat ini bukanlah Yaoguai-yaoguai itu, bukan juga T'an Mo. Tetapi...
"AHHHHHH!"
Suara erangan kesakitan linggongzi sepertinya sampai ke langit...
"Hahaha!" Tawa T'an Mo terdengar kontras sekali dengan rintihan linggongzi. Sungguh, aku tidak bisa mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. "Inilah akibatnya kalau kau begitu inginnya menyelamatkan gadis yang tidak ada harganya itu! Kau menanggung kegelapan dirinya, sama saja dengan menanggung hukumannya! Kau tidak mau itu, kan?"
Kedua tangan linggongzi memeluk tubuhnya erat-erat. Dia berusaha menggelengkan kepalanya. "Tidak boleh... tidak...! Aku harus... menyelamatkan Meimei...!"
"Bodoh! Kau tidak mungkin sanggup melakukannya!" Balas T'an Mo sambil tertawa. "Apa kau kira cahaya sepertimu sanggup berubah menjadi kegelapan?"
Aku tahu apa yang sedang nampak dalam pandangan linggongzi sekarang. Dia sedang melihat dirinya diselubungi kegelapan yang pekat itu... ah, tidak. Bukan hanya diselubungi kegelapan. Dia sedang melihat cahayanya tercabut dari tubuhnya, dan sebaliknya menerima kegelapan itu. Linggongzi tidak pernah bermain-main dengan yang namanya kegelapan, selalu berusaha menghancurkan atau menjauhinya. Kalau dia akhirnya harus membawa kegelapan seperti itu, betapa beratnya...
Tubuh linggongzi terbaring lagi di tanah, dengan kedua tangan di depan mulutnya. Sekali lagi aku melihatnya terbatuk-batuk dan kemudian memuntahkan darah. Rupanya, tekanan yang diberikan Yaoguai-yaoguai itu sehebat ini.
T'an Mo melihat keadaannya seperti itu langsung tersenyum puas. "Hmph. Kau tidak akan bisa bertahan." Ejeknya sebelum berbalik. "Hei, kalian semua, jangan biarkan dia keluar dari hutan ini hidup-hidup! Habisi dia di sini!"
Yaoguai-yaoguai yang menerima mandat itu langsung tertawa gembira. Sementara T'an Mo pergi dan menghilang dalam kegelapan, kulihat linggongzi berpegangan erat-erat pada batang pohon, berusaha untuk menopang tubuhnya dengan kedua tangannya itu.
"Phoenix... Hihihi..." Dari balik pepohonan yang rapat ini, aku bisa mendengar dengan jelas suara mereka yang seperti gema-gema mengerikan, yang tentu saja bisa membuat bulu kudung siapapun berdiri. "Suatu kehormatan besar kalau kita boleh melakukan ini pada Phoenix, kan?"
"Benar..." Jawab Yaoguai yang lain sembari mengitari linggongzi lagi. "Hei, Phoenix, apa mimpimu belum cukup menggambarkan apa yang terjadi padamu kalau kau benar-benar akan menyelamatkan gadis itu?"
Linggongzi hanya menggeleng kuat-kuat sambil mengatur nafasnya, seolah dia berusaha menulikan telinganya agar tidak perlu mendengar apapun lagi.
"Hihihi..." Seekor yang lain mendekat. Kulihat dia benar-benar dekat sekali dengannya hingga menyentuhnya. Kurang ajar. "Menarik sekali... Phoenix... cahaya yang terang seperti matahari akan berubah menjadi kegelapan..."
"TIDAAAAK!" Seru linggongzi kuat-kuat. Dalam suara yang bergetar dan pecah itu, aku bisa mendengar keputusasaannya. Airmatanya mengalir seperti sungai Chang Jiang, tidak ada yang bisa membendungnya. "Aku tidak mau...! Tidak mau...!"
"Wah... wah... wah... tidak bisa!" Jawab Yaoguai-yaoguai itu sambil tertawa terkekeh-kekeh. "Kalau kau mau menyelamatkan gadis itu, kau harus mengalaminya. Ya, kan?"
Semua tahu perkataan itu benar. Tapi, di tempat ini barulah aku mengerti.
Xun-jue dan linggongzi, keduanya tidak mungkin semudah itu membuat keputusan untuk menyelamatkan nü-shi dan ling'ai. Sungguh, sama sekali di luar pikiranku bagaimana jadinya jika sampai linggongzi menjadi kegelapan. Pantas saja dia berkata menjerit 'tidak mau' seperti itu. Bahkan jika seandainya dia bisu pun, hutan ini yang akan menuturkan keengganannya.
"Kau tidak lihat? Mengerikan sekali, bukan? Jangan katakan kau mau mengalaminya!"
Linggongzi tidak menjawab apapun. Bibirnya bergetar dengan hebat tetapi tidak ada suara apapun yang keluar.
"Berkali-kali kau lolos dari kematian. Tapi kali ini kau tidak akan lolos lagi!" Seekor yang lain menyahut. "Coba kulihat... kau lolos saat Pasukan Sorban Kuning membuat huru-hara di Wu. Kau lolos saat Kaisar Cao Cao dari Wei menangkapmu dan kemudian membumihanguskan Wujun. Kau lolos lagi saat pertempuran di He Fei dan saat berada di Istana Wei di Luo Yang. Wah, banyak sekali..."
"Pikir-pikir tentang semua itu, apa kau tidak merasa lebih baik tidak dilahirkan saja?"
Linggongzi berbalik dan menatap mereka dengan mata lebar penuh pandangan bertanya. Aku juga. Betapa kagetnya aku mendengar pertanyaan Yaoguai itu!
"Apa... maksudmu...?"
"Hihihi... kau masih bisa bertanya?" Yaoguai itu balik bertanya. "Apa kau tidak tahu bahwa alasan Pasukan Sorban Kuning masuk ke Wu adalah karena untuk 'memburu Phoenix'? Atau bahwa kota Wujun yang dibakar oleh Kaisar Cao Cao dari Wei adalah gara-gara kau juga? Segala huru-hara yang terjadi itu sebenarnya gara-gara kau!"
"Benar juga! Kalau begitu, bagaimana mungkin Phoenix bisa dikatakan membawa kedamaian? Yang benar saja! Kau pasti bukan Phoenix!"
Aku menggertakkan gigi karena marah. Hebat sekali mereka bisa mengatakan hal seperti itu! Linggongzi hanya menunduk dalam-dalam, kedua tangannya diletakkan di depan dadanya. Tidak perlu orang pintar untuk mengatakan bahwa perkataan itu tentunya sangat mengguncang perasaan linggongzi. Yah, mungkin ada satu bagian dalam dirinya yang menyalahkan dirinya sendiri. Tetapi aku tahu pasti, linggongzi pasti tidak mungkin meragukan apakah dia Phoenix atau bukan.
"Pergilah...! Jangan ganggu aku...!" Berbeda dengan suara linggongzi yang biasanya akan menyentak mereka hingga pergi, kali ini hal itu tidak terjadi. Suara linggongzi bukan bentakkan atau perintah, itu adalah tangisan. Di saat seperti ini, tentunya dia sangat membutuhkan seorang teman. Namun, bukan hanya tidak ada seorang teman pun yang ada bersamanya, malah musuh yang sekarang mengepungnya dengan hebat.
Linggongzi... Seandainya saja...
Eh?
Lho? Kenapa ini? Kenapa... mataku berair?
Kenapa aku menangis? Apakah aku menangis karena bisa merasakan kesakitan linggongzi? Atau jangan-jangan, aku merasakan perasaan sentimen yang biasa dirasakan oleh Ling Guang? Atau mungkin... ini tangisan karena marah...?
Tanganku terkepal erat, kemudian memukul batang pohon tempat aku bersembunyi. Sial...! Kenapa? Kenapa aku bisa menangis seperti ini? Bukankah aku sudah tahu kalau suatu saat nanti aku akan melihat ini? Tapi... kenapa?
"Hei, kau serius ingin menyelamatkan seseorang yang tidak tahu berterima kasih sepertinya? Rasanya kau benar-benar sudah gila, ya?"
Linggongzi sekarang kembali melihat masa lalunya saat masih bersama ling'ai. Sejak mereka masih kecil sampai sekarang, aku tahu bagaimana sikap ling'ai itu padanya. Dia tidak pernah berterima kasih, selalu sukanya melakukan kesalahan lagi dan lagi. Sampai pada akhirnya, dia melakukan kesalahan terbesar yaitu membuang cahaya dan memilih kegelapan... dengan sengaja pula! Apakah demi orang seperti ini, linggongzi harus mati-matian menyelamatkannya? Siapa tahu dia tetap akan melakukan kesalahan terus-menerus?
Aku yakin benar pikiran ini bukan hanya ada di kepalaku. Linggongzi pun pasti memikirkan semua hal ini.
"Bohong...!" Linggongzi menggeleng kuat-kuat. "Yangmei... bukan orang seperti itu...!"
"Wah, masih membohongi diri sendiri rupanya!" Salah satu Yaoguai menyahut, diikuti dengan tawa lainnya. "Sudahlah! Makhluk seperti dia itu tidak ada harganya lagi! Tidak perlu orang seperti itu ditolong lagi! "
"Kalau tidak salah, aku pernah mendengar sebuah perkataan xue zu shi lü-mengubah bentuk kaki supaya bisa masuk ke sepatu baru, mengorbankan hal besar untuk hal-hal tidak penting." Yang lain melanjutkan. "Kau kan juga seorang ahli strategi, harusnya sudah tahu tentang ini! Untuk apa mengorbankan diri sendiri untuk sesuatu yang tidak berharga macam gadis itu?"
"Sudahlah! Menyerah saja! Gadis itu memang sejak awal ditakdirkan untuk menjadi kegelapan!"
Aku tahu pikiran linggongzi. Dia ingin menyelamatkan ling'ai, tetapi tidak mau kalau harus menjadi kegelapan untuk menyelamatkannya. Tapi, sekedar tahu saja tidak cukup. Aku harus mengerti. Hanya saja, aku tidak bisa...
Melihat linggongzi yang masih berjuang untuk bertahan, Yaoguai-yaoguai itu makin tidak sabaran. Mulailah mereka mendekatinya, kemudian salah satu dari mereka melesat bagaikan anak panah yang langsung menembus jantung linggongzi!
"AHHHH!"
Aku tidak sanggup melihatnya. Yaoguai-yaoguai itu memang tidak menyakiti tubuhnya. Tetapi mereka menyiksa jiwanya dengan ketakutan dan kengerian. Linggongzi... mungkin sangking sakitnya perasaannya sekarang, tubuhnya pun ikut merasakannya...
Serangan itu tidak berhenti hanya sampai di sana saja. Yaoguai-yaoguai yang lain juga menyerang dengan kekuatan penuh mereka. Di dalam pikiran linggongzi sekarang, tentunya dia merasakan segala perasaan buruk yang belum pernah sehebat ini ia rasakan sebelumnya. Ketakutan, kesedihan, kesendirian, kemarahan, kekecewaan, penyesalan, kekhawatiran, kepanikan, semuanya itu bercampur aduk menjadi satu.
Dia terbatuk lagi dan memuntahkan darah, kali ini jauh lebih hebat dari sebelumnya.
Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan. Kalau tadi ia berusaha menjauh dari orang-orang agar tidak ada yang diserang oleh Yaoguai-yaoguai ini, sekarang ia sedang memohon bantuan.
"Siapapun... tolong...!" Tetapi ia tahu orang biasa tidak mungkin bisa menolongnya. Jadi, ia menengadah ke atas, ke langit malam yang benar-benar hitam pekat, yang tidak bersedia meneranginya malam itu. "Teman-teman...! Tolong aku...!" Isaknya dengan sebuah harapan yang paling sia-sia. Teman-teman yang dipanggilnya itu, salah satunya pasti dia pun meminta pertolongan padaku.
Linggongzi... aku ada di sini... tapi, aku tidak bisa menolongmu...
"Kasihan sekali... tidak ada yang menjawab, ya?" Yaoguai-yaoguai itu tertawa menghina.
Kalau seandainya Ling Guang, Jian Bing, atau bahkan Zhi Ming sekalipun ada di tempat ini, aku yakin benar mereka akan menangis. Atau mungkin... mereka tahu apa yang sedang terjadi sekarang, dan mereka memang sedang menangis sebenarnya.
Kejam sekali... Linggongzi hanya memohon agar seseorang berada di tempat itu bersamanya. Tetapi permintaan itu pun tidak dijawab. Selama ini, linggongzi tidak pernah merasa benar-benar sendirian. Baru kali ini dia benar-benar merasa seorang diri, jadi pantaslah ia menangis seperti anak kecil yang hilang begitu.
Benar-benar sendirian...
"Tai Yang..." Itulah yang menjadi alasan kesendirannya. Linggongzi rupanya sadar dirinya yang seorang lagi sudah tidak bersamanya lagi. "Dimana kau...? Kenapa... aku sendirian...?"
Yaoguai-yaoguai itu tertawa gembira melihat linggongzi seperti itu. Bagi mereka, membuatnya menangis seperti anak kecil seperti itu sangat menyenangkan, bukan? Tetapi, aku justru merasakan hal yang sebaliknya. Linggongzi yang seperti anak kecil itu... rupanya dari sekarang dan dulu tidak berbeda.
"Tai Yang... aku tidak mau berada di sini..." Pintanya setengah berbisik. Kedua tangannya digunakannya untuk menutupi wajahnya yang basah. "Kau bisa menolongku, kan...? Bawa aku pergi.. kumohon...!"
Iya. Dia kembali menjadi anak kecil seperti yang terjadi empat belas tahun lalu. Dia seperti anak yang kedua tangan dan kakinya diikat, kemudian dilemparkan ke dalam api yang berkobar-kobar oleh orang-orang yang kejam. Dengan berderai airmata, tangannya terulur berusaha mencari perolongan orangtuanya. Tetapi mereka hanya menatapnya dari kejauhan...
Linggongzi yang dulu dan yang sekarang sedikitpun tidak ada bedanya.
Apa yang dia minta dari xun-jue tentunya bukan hanya agar Yaoguai-yaoguai yang menghantuinya sekarang dimusnahkan. Tetapi yang dia minta sebenarnya adalah supaya kegelapan yang harus ditangguhkan padanya itu dihilangkan saja. Sayangnya, xun-jue juga tidak melakukan apapun untuknya. Mungkin ini satu-satunya waktu dimana apa yang diinginkan linggongzi tidak dipenuhi oleh xun-jue.
Membayangkan perasaan linggongzi saja sudah membuatku begini sedih. Bagaimana kalau harus membayangkan lagi apa yang dirasakan xun-jue sekarang? Xun-jue sekarang sedang menyembunyikan diri dari dirinya yang seorang lagi sambil menangis pula. Dia harus mengeraskan hati dan menulikan telinganya pada jeritan linggongzi. Dan yang lebih ironis, xun-jue sendiri yang membiarkan makhluk-makhluk kegelapan ini... memang untuk menghancurkan keinginan dirinya yang seorang lagi.
"Hahaha...! Bahkan dirimu yang seorang lagi tidak mau menjawabmu, ya?"
"Wah, berarti kau sudah dibuang! Sudahlah, lupakan saja segala hal bodoh ini!"
Tubuhnya meringkuk di tanah. Matanya memerah dan terpejam separuh. Orang yang melihat ini mungkin akan melihatnya seperti seseorang yang tersesat di hutan, kemudian berusaha untuk tidur sambil menahan hawa dingin yang menusuk tulang. Tetapi aku bisa melihat sesuatu yang lebih dari itu.
Dadanya kembang-kempis karena nafas yang tak beraturan. Dengup jantungnya kacau balau. Keringat dingin dan airmata membasahi wajahnya dan mengalir turun hingga teresap dalam tanah. Dari sudut bibirnya masih ada sedikit bekas darah. Bagiku, ini bukan seseorang yang sekedar menahan hawa dingin. Ini adalah pemandangan seseorang yang sebentar lagi akan mati.
Linggongzi mulai mati di tempat ini...
"Meimei... Meimei..." Nama itu keluar dari bibir linggongzi. "Meimei... apakah mungkin ada cara lain untuk menyelamatkanmu? Walau hanya satu saja?"
Yang dipanggil itu tidak ada di sini sekarang. Tidak ada yang memberinya jawaban selain dirinya sendiri.
Dan ketika tahu jawabannya adalah 'tidak', tangisnya makin pecah.
Menjerit pilu, menangis seperti anak kecil, keberanian yang digantikan dengan ketakutan yang dasyat, hati yang berulang kali mengatakan tidak mau, belum pernah sekalipun kulihat linggongzi seperti ini. Saat akan mengalami sesuatu yang buruk, dia tidak pernah ketakutan. Menangis? Ya, mungkin dia pernah menangis. Tapi merasa begitu ketakutan dan ngeri sampai merengek seperti anak kecil begini, baru kali ini aku melihat linggongzi melakukannya.
"Cih! Percuma saja! Dia tidak akan mati kalau seperti ini!"
APA?
"Sudahlah, kita bunuh saja langsung! Mumpung dia sedang lemah!"
Ini yang tidak boleh dibiarkan. Linggongzi tidak boleh mati sekarang! Yang harus mati adalah keinginannya! Bukan tubuhnya!
"Aku..." Linggongzi mengeluh sebelum matanya terpejam. "... tidak kuat lagi..."
TIDAK!
"Yü Zhao Shen Long!"
Kalau keadaannya seperti ini, aku terpaksa bertindak! Para Yaoguai itu boleh menyentuhnya, menyiksanya sampai seperti ini! Tetapi membunuhnya? Itu sudah kelewat batas! Akhirnya, sesudah lama hanya bisa duduk diam saja dan menonton, aku keluar dari tempatku berdiri, menggunakan kekuatanku untuk menghentikan serangan mereka yang brutal itu pada linggongzi. Sesosok naga air yang besar muncul, kemudian menerjang Yaoguai-yaoguai itu dan membuat mereka tercerai berai.
"Kurang ajar! Siapa itu?"
Sekarang aku berdiri tegap di depan linggongzi, dengan tatapan tajam memandang mereka. Yah, tentu saja kali ini aku tidak akan muncul dengan wujud anak kecil lagi. Kalau muncul dengan wujud seperti itu, bagaimana bisa menguatkan linggongzi?
"Kalian tidak kenal aku?" Tanyaku sambil menyeringai ke arah Yaoguai-yaoguai itu.
Mereka semua langsung panik bukan buatan. "K-kau...! Naga Biru pelindung Shu...!"
Kudengar suara yang lemah dari belakangku. Suara linggongzi. "Meng Zhang...?"
Aku menoleh. "Ya. Aku di sini, linggongzi."
Pandanganku kembali ke arah selusin makhluk kegelapan yang sekarang akan melarikan diri itu. Sekali lagi aku memusatkan kekuatanku pada kedua tanganku, kemudian mengibaskannya ke arah mereka.
"Zui huo bao hong!"
Kali ini, aliran air yang luar biasa kuatnya bagai air bah menghempaskan mereka, menyapu kumpulan asap-asap hitam itu sampai tidak bersisa sama sekali. Aku masih bisa mendengar sumpahan mereka baik padaku maupun pada linggongzi. Hmph. Inilah akibatnya kalau mereka bertindak terlalu jauh dari apa yang diizinkan.
Aku tersentak kaget saat mendengar suara batuk-batuk dari belakangku. Linggongzi!
"Linggongzi!" Aku berlutut di sebelahnya, kemudian menyandarkan kepalanya pada lenganku. Ya Tian... rupanya hanya dalam jarak sedekat ini saja aku bisa menyadari apa yang sebenarnya dialaminya. "Linggongzi, kau baik-baik saja?"
Pertanyaan bodoh. Sudah tentu dia tidak sedang baik-baik saja.
Dia menggeleng lemah. Aneh, tubuh linggongzi terasa sangat ringan sekali, seperti tubuh seorang anak kecil. "Entahlah, Meng Zhang... aku tidak tahu..." Jawabnya dengan suara terputus-putus. Salah satu tangannya menggenggam tanganku erat-erat. "Aku rasa... aku akan mati..."
Memang tidak salah. Tubuh linggongzi bergetar hebat seperti sehelai daun yang tertiup angin badai musim dingin yang kejam. Nafasnya berat sekali, seolah setiap kali menghirup nafas, dia harus berjuang antara hidup dan mati. Tetapi mungkin yang paling menyedihkan adalah sepasang mata emasnya.
Mata emas yang dulu bercahaya itu, sekarang sudah mulai kehilangan cahayanya.
Dia memang akan mati. Sesaat lagi keinginan untuk bebas dari tanggungan kegelapan itu, keinginan untuk melarikan diri dan meninggalkan segala kegilaan ini akan benar-benar mati. Yang tersisa dari tubuhnya hanyalah kepatuhan dan kepasrahan belaka. Hanya orang bodoh yang akan mengatakan linggongzi santai-santai saja jika harus membawa-bawa kegelapan yang sebegitu hebatnya dalam tubuhnya, dan kemudian menghancurkannya beserta dengan tubuhnya juga. Linggongzi tidak mau itu. Tetapi kepatuhan dan kepasrahannya itu sangat kentara sekali ketika dia bersedia melakukan hal yang paling tidak ingin dilakukannya di dunia ini.
Tubuhnya makin merapat padaku. "Meng Zhang..." Ujarnya lemah. "Aku takut..."
Celaka... aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk menguatkannya. Seandainya saja aku Ling Guang, aku bisa menangis bersamanya dan mengucapkan beribu-ribu kata untuk menghiburnya.
Pada akhirnya, yang bisa kulakukan hanyalah hal bodoh dan sia-sia saja. Dengan lengan bajuku yang panjang, aku menyeka airmatanya. "Linggongzi, jangan menangis. Aku tahu kau bukan orang yang lemah seperti ini..." Linggongzi hanya bisa mengangguk pelan sambil membiarkanku membersihkan wajahnya. Ahhh... seperti ini, bukankah linggongzi makin terlihat seperti anak kecil? Malam ini, sepertinya perasaannya kembali seperti empat belas tahun yang lalu.
"Ughhhh..."
Aku tersentak saat mendengar rintihannya. "Linggongzi! Ada apa?"
Saat mengangkat tanganku dari wajahnya, aku baru sadar, rupanya tak sengaja kukuku menggores pipinya. Tidak, bukan itu yang membuatku terkejut bukan buatan. Yang membuatku terkejut adalah saat melihat dari pipinya itu terbentuk sebuah garis merah tipis yang kemudian mengeluarkan darah. Padahal... padahal hanya kukuku saja yang menggores wajahnya, bukan sebilah pisau! Dan aku yakin goresan itu tidak terlalu kuat! Bagaimana bisa dia kesakitan dan wajahnya terluka hanya karena goresan pelan seperti itu?
Jangan-jangan...
"Linggongzi..." Aku menatapnya tidak percaya. "Apakah kegelapan itu yang melemahkan tubuhmu seperti ini?"
Dia hanya bisa menggeleng sambil menutupi wajahnya saja. "Aku... tidak tahu, Meng Zhang..." Sekali lagi tangisnya pecah. "Aku tidak tahu... aku takut..."
Iya... Tubuhnya memiliki unsur cahaya yang kuat! Tidak, bahkan dia sendiri adalah cahaya. Sekarang, jika dia memikul kegelapan itu juga dalam dirinya, tidak heran jika tubuhnya itu perlahan-lahan mulai melemah seperti ini. Selain itu, dengan segala tekanan jiwa dan pikiran yang begitu beratnya, tentu saja tubuhnya sendiri akan ikut terpengaruh, menjadi makin lemah.
Aku hanya bisa menutup mataku rapat-rapat, rasanya benar-benar tidak bisa lagi melihat pemandangan ini. Linggongzi... Padahal dia itu cahaya! Dan setitik pun tidak pernah tersentuh oleh kegelapan! Namun sekarang dia harus membawa-bawa kekuatan kegelapan yang begitu besar, bahkan perlahan dia akan menjadi kegelapan juga!
Tanganku mengambil sesuatu yang terselip di pinggangku. Sebuah botol kaca berisi cairan di dalamnya. Kubuka tutup botol itu, kemudian mendekatkannya pada mulut linggongzi. "Minum ini."
"Apa... ini?"
"Kau sudah pernah meminumnya, bukan? Taigong Wang pernah sekali memberikannya padamu." Jawabku berusaha menguatkan diri sendiri. Sial. Padahal aku datang bermaksud untuk menguatkannya, tetapi sekarang malah aku justru harus berjuang untuk menguatkan diri sendiri! "Obat ini adalah Dan. Sesudah meminumnya, tubuhmu akan menjadi lebih kuat."
Anehnya, linggongzi hanya menggeleng dan menjauhkan botol itu dari bibirnya. "Maaf. Aku tidak bisa meminumnya."
"Mengapa?" Tanyaku setengah terkejut.
Linggongzi menghirup nafas banyak-banyak sebelum menjawab. Suaranya yang keluar sesudah itu, meski diucapkan dalam kelemahan dan kesakitan, aku masih bisa merasakan kekuatan di sana. "Karena aku menanggung kegelapan Meimei. Semisalkan kalau dia yang mengalami hal ini, tidak mungkin ada Dan yang diberikan untuknya, bukan?" Jawabnya tegas. "Karena itu, ketika aku menggantikan Meimei, aku tidak mau tubuhku diberi obat macam-macam. Aku akan menjalaninya sebagai seorang Yangmei, bukan sebagai seorang Lu Xun."
Rasanya tenggorokanku tercekat saat itu juga. Linggongzi... Berpikiran seperti ini? Bahkan ketika dia benar-benar butuh pertolongan seperti ini, dia masih memikirkan penderitaan orang lain?
"Baiklah kalau begitu." Jawabku sambil menyimpan botol itu lagi. "Tengah malam ini udara semakin dingin. Kau harus beristirahat. Pulanglah. Yaoguai-yaoguai itu tidak akan mengganggumu lagi."
Sekali lagi dia menggeleng. "Aku masih ingin berada di sini." Ujarnya. "Dalam keadaan seperti ini, bagaimana aku bisa tidur?"
Jadi pada akhirnya yang bisa kulakukan hanyalah menggendong linggongzi di atas kedua tanganku, kemudian membawahnya ke bawah sebuah pohon. Linggongzi... benar-benar tubuhnya ringan sekali seperti bulu saja. Dan tubuhnya yang gemetaran itu bukannya berhenti malah semakin parah. Dengan tubuh yang lemah dan kulit serapuh itu, aku berusaha sehati-hati mungkin mendudukkannya bersandar pada sebuah pohon. Seperti biasa, linggongzi akan selalu berterima kasih atas bantuan sekecil apapun yang ia terima.
Mulailah keheningan mengisi relung-relung udaha di antara kami. Linggongzi tidak mengatakan apapun. Aku juga tidak. Aku hanya duduk di depannya, mengamati kepalanya yang terus tertunduk dengan tatapan kosong tidak jelas melihat apa. Kedua tangannya terkulai lemah di pangkuannya.
Langit malam ini... benar-benar luar biasa gelapnya...
"AAAAAHHHHHH!"
"Linggongzi!"
Astaga! Apa lagi yang terjadi pada linggongzi? Apa belum cukup dia kesakitan seperti ini? Saat aku menghambur ke arahnya, kulihat satu tangannya yang basah oleh darah yang ia muntahkan dari mulutnya. Tangannya yang lain meremas dadanya kuat-kuat.
"Linggongzi! Ada apa?" Tanyaku panik. Sial...! Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana sekarang!
"Meng Zhang...! Dadaku sakit sekali...!" Rintihnya menahan kesakitan yang tidak terbayangkan. "Rasanya seolah... jantungku diremas sampai hancur oleh sesuatu!" Akhirnya, hanya ada satu hal yang bisa kulakukan. Aku memeluknya erat-erat, seolah ingin menguatkannya. Celaka... tubuhnya panas sekali! "Meng Zhang! Kumohon katakan padaku! Apa yang terjadi sebenarnya? Apa ada seseorang yang mencoba membunuhku?"
"Membunuh...?" Aku pura-pura tidak tahu. "Membunuh... apa?"
Dia menggeleng kuat-kuat sambil sesekali merintih. "Bukan membunuh tubuhku, Meng Zhang! Aku merasa... ada satu bagian dari diriku yang sebentar lagi akan mati...!" Tangisannya semakin keras, airmatanya membuat bajuku langsung basah. "Yaoguai-yaoguai itu sudah pergi, tetapi perasaan ini masih tetap ada...! Sebenarnya, apa yang terjadi...?"
Akhirnya, pertanyaan itu keluar juga dari mulut linggongzi...
Dan pertanyaan inilah yang paling takut untuk kujawab.
"Linggongzi... perasaanmu itu memang tidak salah..." Jawabku dengan nada rendah, berusaha menyembunyikan kesedihanku. Syukurlah, aku cukup berhasil. "Kau memang sedang dibunuh perlahan. Tetapi yang dibunuh bukan tubuhmu... melainkan segala keinginannmu."
Mata linggongzi terbelalak lebar-lebar oleh keterkejutan. Dia menatapku tidak percaya. Sial...! Aku tahu dengan pasti bahwa sekarang baik tubuh dan hatinya sudah rapuh, tetapi aku masih mengatakan hal yang akan menghancurkan hatinya!
"Berarti... jangan-jangan..."
Aku mengangguk. "Iya. Karena itulah, meskipun Yaoguai-yaoguai itu tidak ada di sini, pembunuhan itu masih berlanjut..." Suaraku makin melemah, rasanya hampir aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri. "... karena yang melakukannya adalah xun-jue..."
"BOHONG!"
Satu tangannya terkepal, kemudian memukul-mukulkannya padaku, persis seperti seorang anak kecil yang sedang marah. Tentu saja, pukulan itu sama sekali tidak bertenaga. "Bohong! Meng Zhang, kau bohong! Kenapa Tai Yang melakukannya? Tidak mungkin! Tidak mungkin!"
"Linggongzi! Dengarkan aku!"
Kedua tanganku langsung mencengkram bahunya, memaksanya menatapku lurus.
Saat dia mulai tenang, aku baru berani berbicara. "Linggongzi, kau harus tahu bahwa xun-jue tidak pernah sekalipun mengharapkan penderitaanmu. Bagaimanapun, kau dan dia adalah satu. Kalau kau kesakitan, dia juga mengalaminya." Tuturku dengan suara perlahan, membiarkannya mencerna satu persatu kata-kataku. "Tapi, kalau keinginanmu itu tidak dibunuh, kau tidak akan pernah bisa menyelamatkan nü-shi dan ling'ai..."
"Hah?" Tanyanya bingung. "Tapi... kenapa?"
"Kekuatan kegelapan yang mereka bawa, dan yang mencengkram mereka, luar biasa besarnya." Jawabku perlahan. Sesudah dia mengangguk, baru aku melanjutkannya. "Kau tahu bahwa sejak zaman kuno, sering sekali ada acara-acara mengorbankan anak-anak yang polos dan gadis perawan yang masih suci untuk mendapatkan kekuatan? Tetapi kekuatan yang didapatkan dari pengorbanan itu sangat amat terbatas dan tidak sempurna, tidak peduli berapa banyak pun korban tersedia. Kau tahu kenapa, linggongzi?"
Dia menggeleng.
"Karena hal kedua, yang sama pentingnya dengan kesucian dan kepolosan korban, adalah keinginan korban itu sendiri untuk dikorbankan."
Akhirnya kesadaranpun sampai ke kepalanya.
"Linggongzi, kau adalah cahaya, sama sekali belum pernah tersentuh kegelapan. Kau memenuhi syarat pertama untuk menyelamatkan ling'ai." Lanjutku. "Tetapi untuk memenuhi syarat kedua, agar kau bersedia sepenuh hati, keinginanmu untuk melarikan diri dan untuk bebas dari beban ini harus dibunuh terlebih dahulu. Dengan kedua syarat ini dipenuhi, kekuatan yang dihasilkan akan begitu besar hingga lantas kekuatan kegelapan yang mencengkram mereka pasti akan kalah..."
Sesudah penjelasanku itu, linggongzi hanya mengangguk lemah. Benar-benar dia terlihat rapuh. Hatinya pasti sudah hancur tak beraturan sekarang. Kegelapan yang dibebankannya begitu berat sampai-sampai untuk berdiri saja dia tidak mampu. Betapa menyedihkannya keadaan Linggongzi. Aku tahu, dalam hatinya pasti ada keinginan untuk memberontak, untuk pergi sejauh-jauhnya dan meninggalkan semua penderitaan yang gila, absurd, dan serba tidak masuk akal ini. Dia bisa, tetapi tidak mau...
"Begitu, ya..." Linggongzi menanggapi sambil menyeka airmatanya.
Matanya memandang ke atas, tidak jelas melihat apa. "Seandainya saja ada cara lain untuk menyelamatkan Meimei..."
"Sayangnya tidak ada." Jawabku pendek.
Helaan nafas keluar dari mulutnya dalam wujud uap berwarna putih di musim dingin ini. Ah, tapi musim dingin ini akan segera berlalu. Besok adalah malam terakhir musim dingin.
"Apa aku akan sanggup melakukannya...?" Tanya linggongzi, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepadaku. "Aku benar-benar takut..." Sekarang tangan kanannya menyentuh dahinya, tentunya ia bisa merasakan betapa panas tubuhnya sekarang. Airmata itu mengalir lagi. Linggongzi yang ketakutan dan tidak percaya pada kekuatannya sendiri seperti ini, rasanya bukan seperti linggongzi saja...
Bodohnya aku, aku justru malah mengatakan sesuatu yang membuat perasaan takutnya itu bukannya hilang, malah perasaan kecewa dan marah di dalam hatinya makin bergejolak.
"Kau ini kenapa? Kau kan Phoenix, linggongzi. Tentu saja kau bisa." Aku sedikit terkejut saat melihat tatapannya yang berubah. "Ketakutanmu itu berlebihan sekali tahu..."
Sebelum kata-kataku selesai, tiba-tiba linggongzi sudah menarik kerah bajuku!
"APA KAU BILANG!"
Aku terkejut melihat emosinya yang tak terbendung itu. Di dalam kata-kata itu bukan hanya ada kemarahan dan kekecewaan, tetapi juga kesedihan dan tangisannya yang tidak bisa keluar dari mulutnya. Matanya yang mulai meredup itu menatapku dengan tajam, tetapi juga dengan tatapan yang memohon. Aku benar-benar tidak bisa mengatakan apapun sangking kagetnya.
"Selalu! Selalu begitu! Aku muak dengan semua ini!" Emosinya tumpah seiring dengan kata-katanya. Rasanya ia sudah tidak peduli sedikit pun bahwa dia sedang menangis, sama sekali tidak berusaha menutup-nutupinya dan persetan dengan itu semua. Seolah dia memang sengaja menunjukkan kelemahannya. "Sementara Yaoguai-yaoguai itu mengatakan aku hanyalah manusia lemah, kalian para Abdi Langit selalu mengatakan aku Phoenix yang bisa ini-itu! Sama sekali tidak ada bedanya!"
Linggongzi sedang menumpahkan semua perasaannya. Dan aku tahu benar untuk tidak memotongnya sekarang.
"Meng Zhang!" Tangannya mencengkram kerah bajuku makin kuat. "Apa kau tidak bisa melihatnya? Aku ini memang Phoenix! Tetapi aku kan juga manusia! Aku punya hati yang sepenuhnya hati manusia, yang bisa merasakan ketakutan, kelemahan, dan keengganan kalau harus melakukan sesuatu!"
"Linggongzi..."
Akhirnya tangannya melepaskanku. Kembali tubuhnya bersandar pada pohon itu. Tangannya memeluk kakinya erat-erat, wajahnya dibenamkannya di lututnya. "Aku bukan sepertimu yang tidak bisa dikuasai perasaan-perasaan seperti ini!" Serunya untuk terakhir kalinya.
Benar.
Aku tidak akan pernah bisa mengerti apa yang dirasakan linggongzi.
Tubuhnya yang meringkuk lemah seperti itu, sangat amat kentara sekali kalau dia memang manusia.
Ahhh...
Linggongzi memang manusia, dan pada saat yang sama juga Phoenix. Kalau tidak keduanya, maka tidak mungkin dia bisa merasakan hal ini. Kalau dia bukan manusia, dia tidak mungkin ketakutan dan merasa lemah seperti ini. Tetapi kalau dia bukan Phoenix, tidak mungkin sejak awal dia sayang pada ling'ai sampai-sampai sanggup menanggung beban ini.
Dan aku... aku bukan keduanya.
Sampai kapanpun, aku tidak akan mengerti dirinya.
Aku bangkit berdiri dan berbalik.
"Meng Zhang...?" Kudengar suara linggongzi memanggilku. "Meng Zhang? Kau akan kemana?"
Aku hanya menatapnya sekilas. "Seharusnya kau berada di tempat ini sendirian, linggongzi." Jawabku kemudian langsung membuang muka. Aku terlalu takut untuk melihat ekspresinya sesudah aku mengatakan hal ini. "Maaf. Aku tidak bisa lama-lama di sini."
Panggilannya dan permohonannya sudah tidak kudengar lagi. Aku langsung menghilangkan wujudku di balik pepohonan. Sudah kuduga. Linggongzi pasti benar-benar akan merasa kesepian sekarang. Inilah alasannya aku tidak mau keluar tadi. Aku takut jika sekali mendapatkan seseorang bersamanya, linggongzi tidak akan bisa tahan untuk sendirian.
Tapi aku masih menyempatkan diri untuk melihat apa yang dilakukannya sesudah ini.
Linggongzi masih ada di situ. Masih terdiam untuk beberapa saat, masih membiarkan airmatanya mengalir dan isak tangisnya memenuhi udara malam yang hening itu. Rasanya seperti keabadian saja melihatnya tidak melakukan apapun, hanya menengadahkan kepalanya menatap langit seperti itu.
Seperti anak kecil yang ketakutan dengan mimpi buruk di malam hari. Hanya saja, ini bukan mimpi. Ini kenyataan.
"Tai Yang..."
Untuk suatu alasan misterius yang aku sendiri juga tidak mengerti kenapa, aku selalu senang sekali mendengar linggongzi memanggil xun-jue seperti itu. Tai Yang... Artinya matahari, bukan? Tai Yang-matahari... bukan sebuah kata-kata puitis yang indah ataupun bahasa ilimiah yang hanya bisa diucapkan oleh orang berpendidikan. Mulai dari anak kecil sampai orang tua, mulai dari rakyat jelata hingga Kaisar, laki-laki atau perempuan, semuanya menyebut matahari dengan Tai Yang. Dan linggongzi juga.
Tapi sekarang matahari itu tidak sedang menggantung di langit. Yang ada di atas sana hanya kegelapan saja. Tai Yang tidak sedang ada bersamanya...
Tetap saja, seulas senyum kecil, meskipun lemah, tersungging di bibir linggongzi. Matanya perlahan terpejam.
"Tai Yang... sebenarnya aku takut, aku tidak ingin mengalami semua ini..."
Dia sudah mati. Keinginannya sudah tidak bernafas lagi.
"... tapi aku akan melakukan apapun yang kau inginkan..."
Zhou Ying
Hari ini, pagi-pagi benar aku dan Lu Xun sudah melanjutkan perjalanan kami. Sejujurnya aku masih penasaran dengan tingkahnya kemarin malam. Tetapi melihat keadaannya seperti ini, aku tidak berani membuka mulutku untuk bertanya.
Iya, Lu Xun kelihatan lemah sekali hari ini. Hmmm... mungkin kemarin dia tidak tidur semalaman. Sejujurnya, aku sangat mengkhawatirkan keadaannya. Bayangkan saja, matanya merah dan berair. Wajahnya panas seolah dia demam. Tubuhnya yang gemetaran itu membuatnya tak terhitung berapa kali ia sudah kehilangan keseimbangan dan jatuh. Aku sudah menyarankan padanya agar sebaiknya dia beristirahat dulu saja, apalagi perjalanan kami sesudah ini sangat berat, yaitu mendaki Gunung Ding Jun. Tetapi dia mati-matian menolak usulku dan mengatakan dia harus ke tempat itu secepatnya.
Dan aku menyadari sesuatu yang lain dari biasanya. Hari ini dia tidak tersenyum sedikitpun. Wajahnya terus kelihatan seperti menanggung beban dan kesedihan yang sangat berat.
"Lu Xun?"
Dia tidak menjawab.
"Lu Xun? Kau mendengarku?"
"Hah?" Dia langsung menatapku. "Oh, maaf... aku sedang melamun..."
Aku hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mata saat melihatnya. "Kau yakin kau masih kuat? Apa tidak sebaiknya kau saja yang menunggangi Huo Li?"
Lu Xun hanya menggeleng lemah. "Tidak apa-apa, Zhou Ying..."
Sekali lagi aku menghela nafas. Nah, kalau ini baru masalah. Kalau seseorang dilanda masalah, dan dia mau menceritakannya, maka tidak ada masalah sama sekali. Tetapi jika ada seseorang yang dilanda masalah sampai separah Lu Xun begini, tetapi dia menyimpannya untuk dirinya sendiri, ini yang baru gawat.
Perjalanan kami berlanjut, begitu pula kesunyian yang memenuhi udara musim dingin ini. Oh iya. Ngomong-ngomong ini adalah hari terakhir musim dingin. Besok adalah tahun baru, awal musim semi. Tetapi kurasa kami tidak bisa datang ke Chun jie-festival musim semi. Sayang sekali...
"Aduh...!"
Aku lekas turun dari punggung Huo Li. "Ya Tian! Lu Xun, kau tidak apa-apa?" Sudah kuduga. Lagi-lagi Lu Xun tidak hati-hati dan jatuh.
"T-tidak apa-apa... Zhou Ying..." Jawabnya sambil memegang lengan kirinya.
Di tanah tempat Lu Xun jatuh, aku melihat ada sesuatu yang aneh. Ada bercak-bercak berwarna merah yang mewarnai tanah tersebut. Pasti... darah. "Lu Xun, kemarikan tanganmu!"
Sepertinya dia menolak untuk menunjukkannya, tetapi aku bisa dengan mudah mencekal tangannya dan menariknya, tentu saja karena hari ini tubuhnya benar-benar lemah dan rapuh sekali. Hmmm... apa karena selama ini kami terus-terusan hidup mengembara? Ah, tapi aku yakin Lu Xun bukan laki-laki lemah seperti itu yang bisanya hanya tinggal di istana saja.
"Ya Tian...!"
Begitu kulihat lengan kirinya, aku terkejut bukan buatan.
Lengan kiri Lu Xun berdarah. Padahal ia hanya jatuh begitu saja! Dan tanah tempatnya jatuh bukan tanah keras yang berbatu-batu tajam! Tapi... kenapa luka di tangannya bisa separah ini, ya? Sampai mengeluarkan darah sebanyak ini?
Aneh... ini benar-benar aneh!
"Lu Xun... kenapa bisa...?" Aku hanya bisa menggeleng pelan, kedua tanganku sekarang menutup mulutku. "Apa yang terjadi padamu...?"
Dia hanya diam.
"Apa kau sakit? Atau ada seseorang yang meracunimu?" Tetap saja dia tidak menjawab. Frustasi, aku akhirnya menggenggam pundaknya dan mengguncang-guncangkan tubuhnya. "Lu Xun! Katakan sesuatu! Jangan hanya diam saja!" Aku ini adik angkatnya! Tetapi kenapa dia tidak mau mengatakan padaku apapun? Mengapa dia menganggapku seperti orang asing?
Sampai aku mulai agak tenang, perlahan tangan Lu Xun mulai melingkari tubuhku. Di musim salju yang dingin seperti ini, pelukannya tetap saja terasa hangat. Tetapi pelukannya agak berbeda dari biasanya. Kalau biasanya pelukannya bisa memberikan kekuatan, kali ini... entah kenapa aku tidak merasakan kekuatan apapun... Tubuhnya tidak henti-hentinya gemetaran, entah sebenarnya dia sedang menahan sakit atau menggigil kedinginan, atau mungkin ada alasan lain...
"Zhou Ying, maafkan aku..." Bisiknya pelan. "Aku tahu, aku bukan kakak yang baik... aku tidak pernah mengizinkanmu tahu apapun." Suara Lu Xun lemah sekali... Tidak biasanya dia seperti ini. "Tapi percayalah, Zhou Ying. Suatu saat kau akan tahu. Yang pasti saat itu bukan sekarang."
Aku hanya bisa mengangguk sementara ia perlahan melepaskan pelukannya. "Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Zhou Ying..." Ujarnya. "Sekarang sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanan kita."
Perjalanan yang serasa tidak pernah berakhir ini dilanjutkan lagi. Gunung Ding Jun kelihatannya tidak akan pernah bisa terdaki, terutama dengan keadaan Lu Xun seperti ini. Tapi, aku percaya padanya. Aku tahu jika dia berkata aku tidak perlu mengkhawatirkannya, maka sebaiknya aku tidak membantahnya dan melakukan apapun yang dia inginkan.
Tidak jelas apakah sekarang masih pagi, siang, atau sudah sore. Heran, hari langit benar-benar mendung. Aku tidak bisa melihat matahari ada dimana sekarang. Cuaca yang seperti ini makin tidak baik untuk kesehatan Lu Xun...
Hmmm?
Nggg... setelah lama waktu berlalu, kenapa awan-awan itu bisa berubah warna, ya? Berarti kemungkinan besar sekarang sudah menjelang sore. Kami sekarang sudah berada cukup tinggi di atas Gunung Ding Jun. Dari atas sini, aku bisa melihat jalan yang sudah kami lalui. Di sebelah barat, kulihat sebuah tebing yang menjulang begitu tinggi! Yang ada dibawahnya hanya hutan yang dipenuhi pepohonan saja. Tebing yang mengerikan seperti itu, daripada sebuah tebing, lebih tepat dikatakan jurang.
Pemandangan yang menghiasi tebing itu entah bisa dikatakan mengerikan atau indah. Matahari senja memancarkan sinarnya. Tetapi entah apakah karena efek dari awan atau bukan, cahaya itu berwarna merah... merah seperti darah.
Lu Xun berhenti berjalan, kemudian menatap ke arah barat. Dia melepaskan tali kekang Huo Li yang digenggamnya, kemudian berjalan ke arah ujung tebing itu sambil melihat pemandangan yang terpampang di depan matanya. Sayang sekali, aku sama sekali tidak bisa melihat wajahnya. Biasanya, kalau dia melihat pemandangan yang indah-indah begini di Shu, dia pasti akan tersenyum lebar.
Namun ternyata... aku tidak perlu melihat wajahnya untuk tahu bahwa dia bukannya sedang senang, malah sedang bersedih sekarang.
"Jadi, ini tempatnya..." Gumamnya. "Di sebelah barat, tebing dimana senja paling jelas terlihat sedang membunuh matahari. Dimana langit berwarna merah darah, darah matahari. Dimana matahari akan merelakan cahayanya untuk bulan..."
"Hah?" Aku mengernyitkan dahi mendengar gumamannya. Apa maksudnya senja membunuh matahari dan langit berwarna merah darah, darah matahari? "Lu Xun?"
Lu Xun berbalik. Matanya yang sayu dan lembut itu sama sekali tidak bisa kubaca! Aku tidak tahu ada perasaan apa di baliknya.
"Zhou Ying..." Dia memanggilku. "Kita berpisah di sini, ya?"
Apa?
Berpisah?
Aku terperanjat kaget.
"Berpisah? Kenapa...?" Tanyaku, masih tidak bisa mengendalikan keterkejutanku.
Dia tersenyum lagi. "Hanya sebentar saja, kok. Aku janji." Jawabnya. "Besok kita akan bertemu lagi."
Besok, ya? Besok... berarti hanya beberapa jam saja dari sekarang. Seharusnya tidak apa-apa. Toh, di Cheng Du dia meninggalkanku lebih dari satu bulan dan aku baik-baik saja. Dia juga baik-baik saja. Seharusnya, tidak masalah jika kami berselisih jalan hanya untuk beberapa jam saja, bukan?
Tapi, kali ini keadaannya jauh berbeda! Aku tidak tahu kenapa, tetapi rasanya ada sesuatu yang jahat di sini! Lu Xun sendiri keadaannya sangat tidak baik, bagaimana mungkin aku tidak khawatir padanya kalau kami sampai berpisah?
"Tapi... kenapa?" Tanyaku lagi. "Aku tidak mau! Bawa aku pergi bersamamu saja!"
"Jangan!" Serunya sekali lagi. "Zhou Ying, kumohon mengertilah! Hanya sekali ini saja!"
"Aku sudah berusaha berkali-kali untuk mengerti dirimu! Tetapi aku tidak mengerti apapun, bahkan sedikit saja tidak aku tahu!" Balasku dengan sengit. Kemarahan mulai meluap-luap dari batinku. "Kau selalu begini, menyembunyikan apapun untuk dirimu sendiri!"
Aku membuang muka. Rasanya malu sekali sudah membiarkan emosi mengendalikan diriku. Tapi dia memang keterlaluan, bukan? Dia tahu banyak sekali tentang aku! Tetapi aku sedikitpun tidak tahu apa-apa tentang dia! Ini tidak adil!
Keheningan panjang itu terpecahkan saat aku mendengar suaranya. "Baiklah kalau kau ingin tahu." Katanya.
"Katakan semuanya." Tuntutku dengan nada yang dingin.
Dia hanya menunduk sejenak sebelum menjawab. Matanya akhirnya kembali lagi bersirobok dengan mataku. Suaranya tetap saja lembut dan penuh perasaan, jauh berbeda dari suaraku yang dingin. Saat mendengarnya, perasaan bersalah berkali-kali menghujam batinku. "Zhou Ying, kau pasti tidak percaya. Aku bersikeras untuk mendaki tempat ini... karena ini adalah satu-satunya kesempatan aku bisa menyelamatkan Meimei."
Rasanya tubuhku akan oleng dari punggung Huo Li.
Aku bisa mulai mengerti apa yang sebenarnya ingin ia katakan.
"Kau bercanda, kan?"
Dia menggeleng. "Aku harus menyelamatkan Meimei dengan cara seperti ini..." Jawabnya. "Harusnya kau sudah tahu itu, kan, Zhou Ying?"
Ahhhh...!
Jadi... jadi itukah alasannya? Itukah sebabnya mawar hitam yang digunakan Yangmei untuk menyerang Lu Xun akan berubah menjadi putih jika terkena darahnya? Itukah sebabnya Yangmei bisa melakukan hal-hal kejam, tetapi masih juga belum menerima ganjarannya? Itukah sebabnya Lu Xun tidak pernah melawan jika Yangmei menyakitinya?
Dan itukah alasannya... kami berada di sini sekarang?
"Zhou Ying,"
Aku tidak mau dengar... Aku tidak mau dengar apapun lagi...!
"pergilah... kumohon..."
Suaranya pecah. Lu Xun menangis.
Wajahku pun tidak bisa tidak dibanjiri oleh airmata.
Ini tidak adil... ini keterlaluan! Tidak masuk akal! Kenapa dia tidak mengatakan padaku dari awal? Apakah dia tidak percaya padaku? Aku sudah percaya padanya sepenuhnya! Tetapi dia tidak pernah mempercayaiku! Kenapa? KENAPA?
"Wah... ada apa ini? Kok kelihatannya menarik sekali?"
Suara itu...
Tiba-tiba saja di antara aku dan Lu Xun, sesosok gadis mendarat di atas kedua kakinya. Gadis itu tentu saja Yangmei. Yangmei...
Gara-gara gadis ini! Gara-gara gadis yang sedarah denganku dan yang kuakui sebagai kakak sepupuku ini sampai-sampai Lu Xun harus menderita! Gadis yang luar biasa jahat dan bejatnya, yang tidak tahu diri dan yang bisanya hanya mendatangkan kesusahan bagi orang-orang di sekelilingnya saja! Seorang pembunuh dan penjahat yang kejam berkedok putri Wu!
Aku tidak akan pernah mengakuinya! Aku tidak mengakuinya baik sebagai kakak sepupuku maupun sebagai putri Wu!
Kutarik sebuah anak panah dari tempat panahku, kemudian secepat kilat menariknya di busurku.
"Kau mati saja!" Seruku. "Kalau Lu Xun tidak bisa membunuhmu, aku yang akan membunuhmu, Yangmei!"
"Zhou Ying, jangan!"
Panah itu akhirnya meluncur.
Tetapi barulah aku ingat. Kemampuan memanahku sangat pas-pasan. Lagipula, sejak dulu aku tahu bahwa gerakan Yangmei cepat sekali. Hanya dalam waktu satu kedipan mata, Yangmei sudah mengeluarkan cambuk sulur berdurinya, dan kemudian dengan cepatnya menangkap anak panahku yang melesat itu.
"Hahaha! Kau pikir tembakan anak kecil seperti itu akan mengenaiku?" Tanya dengan tawa mengejek. Tubuhku mulai kaku karena tegang, tidak bisa bergerak sangking takutnya! "Baiklah kalau begitu! Sebelum menghabisi Lu Xun, aku akan menghabisimu terlebih dahulu!"
Cambuk berduri yang mengerikan itu berayun-ayun, sebelum kemudian dengan satu tebasan di arahkannya kepadaku!
"TIDAAAAAK!" Ya Tian! Akan matikah aku sekarang?
"Ou ruo la qiang!"
Aku sama sekali tidak merasakan kesakitan apapun! Ajaib!
Serangan itu tidak pernah mengenaiku karena... karena rupanya Lu Xun menggunakan kekuatannya untuk melindungiku!
Tapi... bukankah Lu Xun lemah sekali? Tidak mungkin dia bisa bertahan sesudah menggunakan kekuatan itu!
"Ahhh...!"
Ternyata aku tidak salah. Lu Xun langsung terjatuh sesudah menggunakan kekuatannya itu. Tembok berwarna pelangi yang harusnya bisa bertahan lebih lama itu kini langsung menghilang begitu saja. Ya Tian...! Lu Xun... walaupun dalam keadaan seperti itu, masih bisa memikirkan keselamatan orang lain?
"Kau...!" Yangmei mendesis kesal. Celaka...! Apa lagi yang akan dilakukannya pada Lu Xun? "Berani-beraninya mengacaukan kesenanganku!"
Kali ini, cambuk itu melayang ke arah Lu Xun. Mataku tidak bisa mengikutinya, tetapi tahu-tahu Lu Xun sudah mengeluarkan pedangnya dan menangkal serangan itu! Tentu saja, ini membuat baik aku dan Yangmei kaget bukan buatan!
Baru kali ini Lu Xun melawan!
"Oh, jadi kau sekarang sudah bersedia bertarung melawanku, Lu Xun?" Tanya Yangmei sambil tertawa mengejek. Matanya menatap sombong ke arah Lu Xun yang berusaha berdiri sambil mengatur nafasnya. "Akhirnya kulihat kau bersedia mengeluarkan pedangmu!"
Sesudah benar-benar berdiri tegak, Lu Xun tersenyum. Tapi senyum itu bukan senyuman lemah seperti tadi. Senyuman itu adalah senyum keyakinan penuh rasa percaya diri. Pedang di tangannya itu terlihat makin mendukung keyakinannya. Astaga... baru kali ini kulihat Lu Xun seperti itu di depan Yangmei! Bukankah biasanya dia tidak akan melakukan apa-apa?
Suara Lu Xun terdengar terengah-engah dan putus-putus, tetapi aku bisa merasakan kepercayaan diri.
Seolah-olah, dia tahu dia akan menang.
"Benar. Kali ini kita akan bertarung, Meimei!" Pedang itu sekarang digenggamnya dengan kedua belah tangannya, teracung ke arah Yangmei. Gadis itu terlihat kaget sekali saat melihatnya. "Kita akan bertaruh. Kalau kau menang, silahkan saja lakukan apa yang kau mau padaku."
Yangmei kelihatannya merasa sangat tertantang. "Dan jika kau yang menang?"
Lu Xun hanya tersenyum sambil tertawa pelan. "Tidak perlu tahu sekarang."
Cambuk itu digenggam kuat-kuat. "Baiklah! Aku terima tantanganmu!"
Kulihat kedua petarung itu mulai mengayunkan senjata mereka masing-masing. Sungguh, aku sama sekali tidak tahu apa yang dipikirkan Lu Xun! Biasanya dia akan diam saja, kan? Dia tidak akan melawan kalau Yangmei melakukan apapun padanya, kan? Tapi, kenapa sekarang, justru saat dia berkata dia akan menyelamatkan Yangmei, dia baru berani bertarung?
Area tebing itu kosong, tidak ada satu batangpun pohon yang tumbuh. Dan lebih berbahaya lagi, siapapun yang jatuh ke tebing itu akan langsung mati.
"Kau yakin akan bertarung dengan keadaan seperti itu, Lu Xun?" Tanya Yangmei sambil tertawa mengejek. Dia melompat ke atas begitu tingginya menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dan mengayunkan cambuknya. "Kelihatannya kau sudah tidak bisa menggunakan kekuatan cahayamu lagi! Kau akan kalah dari kekuatan kegelapanku!"
Benar juga! Lu Xun, apakah bisa melakukan sesuatu?
Tapi, senyumnya itu, dia seolah yakin akan menang...
Mungkinkah... ada sesuatu yang terjadi kemarin malam yang memastikan kemenangannya hari ini? Mungkinkah saat dia keluar dengan wajah panik penuh ketakutan seperti itu, kemenangannya pada pertarungan ini sudah bisa dipastikan?
Mungkinkah... pertarungan itu bukan hari ini tetapi kemarin?
Dan... mungkinkah... musuh yang dihadapi Lu Xun sebenarnya bukan Yangmei?
"Kalau kau bisa, coba saja gunakan kekuatan kegelapanmu itu." Balasnya dengan senyum yakin.
Yangmei, merasa tertantang seperti biasanya, langsung mengikuti kata-kata itu. "Huh! Baiklah!" Di tangannya, kekuatan kegelapan berkumpul dalam wujud asap-asap hitam yang mengerikan! "Rasakan in.. AHHHHH!"
Asap itu tiba-tiba saja tidak ada lagi!
Tapi... kenapa?
Sementara melayang di atas udara begitu, dia lengah dan seketika kehilangan konsentrasinya. Yangmei jatuh! Yangmei akan jatuh dari tebing yang tinggi ini! Ya Tian! Aku tidak berani melihatnya! Yang bisa kulakukan hanya menutup mataku saja!
"MEIMEI!"
Astaga...
Lu Xun...
Tubuh Lu Xun sudah tertelungkup di ujung tebing. Tangan kanannya menggenggam tangan Yangmei. Gadis itu sendiri sekarang sedang menggelantung di tebing.
Aku segera berlari tanpa membuang waktu lagi, kuharap tidak terlambat untuk menolong mereka!
"Sial..." Kudengar samar-samar suara Yangmei. "Kenapa...? Kenapa aku bisa kalah...?" Gadis itu menangis kesal. "Kenapa kekuatan kegelapanku...?"
"Meimei... bertahanlah..." Ujar Lu Xun setengah merintih. "Jangan sekali-sekali melepaskan tanganmu..."
Yangmei hanya bisa mendesah panjang. "Sudahlah... aku menyerah."
Tidak ada jawaban.
"Lu Xun, aku berkali-kali mencoba untuk membunuhmu..." Suara Yangmei terdengar lagi. "... karena aku takut... kau akan menghukumku suatu saat..."
Suara itu diselingi isak tangis. Yangmei menangis. Tapi bukan hanya Yangmei saja. Lu Xun juga.
Keduanya sekarang sudah selamat berada di atas tanah. Yangmei masih menangis keras, sambil tangannya memukul-mukul tanah. "Aku gagal! Percuma saja! Tidak peduli apa yang kulakukan, aku pasti akan dihukum!" Yangmei menengadahkan kepalanya. "Lu Xun, kau pasti akan menghukumku, kan?"
Tetapi Lu Xun tidak ada di depannya.
Lu Xun tidak sedang menghapus airmata atau menghiburnya, tidak sedang menyembuhkan atau memeluknya.
Lu Xun berdiri di ujung tebing itu.
"Kurasa, aku yang menang, Meimei." Hanya itu yang dikatakan sebagai jawaban. Lalu kulihat, wajahnya kembali menampakkan wajah sedih. Sebelum ia bertarung, dia kelihatan yakin. Namun sesudah menang, entah kenapa barulah dia menunjukkan wajah sedih yang penuh kelemahan seperti itu.
Aku sama sekali tidak mengerti dirinya...
"Aku punya satu permintaan. Kau sudah janji kan akan memenuhinya?" Tanyanya.
Yangmei hanya mengerjap-ngerjapkan mata, tidak bisa mengatakan apapun.
"Permintaanku mudah sekali, kok." Lanjutnya, dengan suara yang lebih pelan, lebih terdengar berbisik-bisik. Sekarang, baik aku maupun Yangmei dapat melihat airmata di wajahnya. Aku tidak tahu airmata apa itu.
"Permintaanku adalah..." Katanya. "... kumohon, percayalah padaku bahwa aku tidak akan pernah menghukummu..."
Eh?
Tunggu...
Ada apa dengan Lu Xun?
Apakah hanya aku... ataukah benar Lu Xun memang memancarkan aura-aura kegelapan dari tubuhnya?
Lu Xun... bukannya memancarkan cahaya tetapi justru memancarkan kegelapan? Tunggu. Memang benar kadang kala aku melihat Lu Xun bisa masuk ke dalam kegelapan, tetapi dia masuk dan membawa cahaya sehingga kegelapan itu tidak ada!
Tetapi sekarang... justru kegelapan itu yang keluar dari tubuhnya?
"Apa...?" Yangmei menatap tidak percaya.
"Karena..." Lanjutnya, dengan suara yang pecah, yang nyaris tidak terdengar. "... aku yang akan dihukum menggantikanmu..."
Jadi... itukah alasannya Yangmei tidak bisa menggunakan kekuatan kegelapan itu lagi?
Sebelum aku sadar akan apapun, aku mendengar seruan Yangmei yang begitu keras menulikan langit. Dan aku pun ikut menambah kerasnya suaranya.
Lu Xun menjatuhkan dirinya dari tebing itu.
"LU XUUUUUUUUUUUUNNNNN!"
Dia menjatuhkan dirinya dengan membawa serta kegelapan Yangmei. Pantas saja tadi aku melihat aura kegelapan memancar dari tubuhnya... Itu adalah kegelapan Yangmei. Kegelapannya yang dibawanya di atas bahunya...
"Dia... mati?"
Aku menoleh menatap gadis di sebelahku.
"Lu Xun... sudah mati?" Tanyanya sekali lagi. "Tidak mungkin! Dia pasti masih hidup!"
Kukira kalimat itu adalah kalimat yang menyatakan bahwa Yangmei begitu ingin melihatnya, begitu ingin bertemu dengan Lu Xun lagi. Namun aku harus kecewa. Aku harus kecewa dan benar-benar putus asa saat dia berdiri, mengembalikan senjatanya dalam bentuk bunga mawar berwarna hitam, kemudian berbalik pergi.
"Aku harus memastikannya benar-benar sudah mati!"
Yangmei...
Makhluk seperti ini... apakah masih bisa dikatakan manusia?
"Yangmei!" Tahu-tahu aku sudah mencekal tangannya. "Apa maksudmu? Kau tidak dengar apa yang dikatakan Lu Xun? Dia sudah menang dan memintamu untuk percaya dia tidak mungkin menghukummu! Kau tidak perlu membunuhnya!"
Dengan kuat Yangmei langsung menepis tanganku. "Bodoh!" Serunya. "Aku ingin membunuhnya bukan hanya karena takut hukuman itu!" Jawaban itu membuat mataku melebar seketika. "Tapi karena aku memang membencinya!"
Sekali lagi, sebelum dia beranjak pergi, aku mencekal lagi tangannya. "Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi!"
"Lepaskan aku!"
"Tidak akan!"
Kali ini, gadis itu tidak main-main lagi. Dia berbalik, kemudian tangannya melayang, menamparku keras-keras hingga aku terhempas ke tanah!
"Ahhh...!"
Tangannya menudingku. "Kau tidak perlu ikut campur lagi!"
Sesudah itu dia pergi.
Pergi, meninggalkanku sendirian.
Lu Xun tidak ada, Yangmei pun tidak ada.
Apakah... tidak ada harapan bagiku? Lu Xun, mungkinkah dia selamat sesudah jatuh dari tebing setinggi ini? Dan Yangmei, apakah ada kemungkinan dia benar-benar bisa kembali?
Yangmei tetap saja jahat seperti itu... karena meskipun kegelapan itu sudah dibawa seluruhnya oleh Lu Xun, dia masih belum menerima cahaya. Begitu, kan?
Tapi... bagaimana kalau cahaya itu sendiri sudah berubah menjadi kegelapan? Sudah mati?
Aku tidak tahu...
Aku selalu hanya bisa seperti ini. Menangis pasrah entah menangisi nasibku sendiri atau nasib orang lain. Airmataku mengalir seperti hujan. Kenapa? Kenapa semua ini bisa terjadi? Kenapa aku harus jauh-jauh keluar dari istana Wu, pergi jauh dari kedua orangtuaku dan kehidupan sebagai putri, hanya untuk melihat hal ini? Hanya untuk melihat Lu Xun terbunuh dan melihat Yangmei tidak akan pernah kembali?
Tapi... apa benar itu?
Apa benar Lu Xun sudah mati?
Tidak mungkin! Mana mungkin Lu Xun dengan begitu tidak bertanggung jawabnya meninggalkan dunia ini padahal tahu tugasnya masih belum selesai? Tidak mungkin, kan?
Iya... dia pasti masih hidup!
Aku cepat-cepat mengusap airmataku, kemudian berlari ke arah Huo Li. Segera kunaiki punggung kuda itu.
"Huo Li! Kita lanjutkan perjalanan!" Seruku. "Kita harus cepat, Huo Li! Ayo!"
Kuda itu, entah dia melihat kejadian tadi atau tidak, sepertinya kebingungan karena tidak ada tuannya. Hmmm... kalau begini aku terpaksa melakukan sesuatu untuk membuatnya mau bergerak cepat. Tapi apa, ya? Oh iya, aku tahu.
"Lu Xun tidak ada karena dia sudah berlari duluan! Dia bilang kau tidak akan pernah bisa menandingi kecepatan larinya dan sekarang menantangmu untuk adu cepat!" Huo Li ternyata bereaksi! Dia mendengus sambil meringkik. "Ayo, dia sudah mulai duluan! Kau jangan sampai teruusul!"
Belum habis aku mengucapkan kalimat itu, Huo Li sudah langsung berlari secepat kilat!
Bagus... aku harus mencari seseorang untuk menolongku...
Lu Xun... bertahanlah...
-o-o-o-o-o-o-
Zhao Yun
Aneh sekali. Sesudah kemarin malam langit sangat gelap, ditambah bintang Phoenix itu kehilangan cahayanya, hari ini keanehan itu berlanjut. Langit siang ini gelap sekali. Dan sore hari ini... baru kali ini langit berwarna merah seperti ini. Warna merahnya seperti warna darah. Hmmm... padahal hari ini adalah hari terakhir musim dingin. Besok adalah tahun baru. Tapi, langit sepertinya tidak ikut gembira menyambut tahun baru. Yah, bukan masalah untukku juga sih.
Sial... di malam tahun baru seperti ini, aku tidak akan berkesempatan untuk melihat Chun jie-festival musim semi.
Hmmm...?
Kutolehkan kepalaku ke arah selatan. Sepertinya aku mendengar suara derap kaki kuda.
Siapa itu?
"Jendral Huang Zhong, Penasihat Pang Tong, aku akan berkeliling sebentar." Aku meminta izin sambil bersoja pada mereka. Sesudah mendapat izin, barulah aku berani melangkahkan kaki keluar dari tempat penjagaan kami ini.
Suara derap kaki kuda itu terdengar semakin dekat.
Sampai akhirnya aku bisa melihat siapa yang datang.
Seorang gadis berpakaian Gaibang di atas punggung kuda! Jarang sekali ada pendatang seperti ini! Apa yang diinginkannya? Kulihat gadis itu memasang wajah panik... dan apakah itu airmata? Kelihatannya dia benar-benar kalut, keadaannya sangat kacau balau!
Ketika hampir sampai di depanku, dia menghentikan kudanya yang berwarna coklat muda, kemudian turun dengan secepat kilat hingga terjatuh. Tetapi kelihatannya itu disengaja, sebab sesudah itu dia ber-kowtow padaku.
"Huixia! Huixia!" Panggilnya berkali-kali sambil tetap ber-kowtow. Tingkahnya ini membuatku kaget bukan kepalang. "Huixia! Tolonglah bei!"
Aku segera membantu gadis itu berdiri. Hmmm... dari logatnya, aku tahu dia bukan orang Shu. Dia sepertinya berlogat timur. Orang dari kerajaan Wu yang jauh. Untuk apa orang Wu berada di tempat ini. "Tenanglah, guniang! Ada apa?"
"Tolong... Huixia!" Dalam kepanikan dan nafasnya yang kacau balau itu, dia berusaha berbicara. "Huixia, bei mempunyai seorang kakak angkat! Dalam perjalanan ke tempat ini, dia terjatuh dari tebing! Kumohon huixia membantu bei! Bei bersedia melakukan apapun sebagai balas budi atas kebaikan huixia!"
Entah cerita ini harus kupercayai atau tidak! Seorang Gaibang? Seorang Gaibang jatuh dari tebing? Bagaimana mungkin? Gaibang macam apa yang begitu cerobohnya sampai bisa jatuh? Tapi, dari wajahnya, aku bisa tahu gadis ini tidak berbohong.
"Jangan panik, guniang." Sahutku berusaha menenangkannya. Aku pun menuntunnya pergi ke perkemahan kami, dimana Jendral Huang Zhong dan Penasihat Pang Tong menunggu. "Guniang, kau tunggulah di sini sebentar. Aku akan secepatnya menolong kakak angkatmu itu."
"Terima kasih, huixia!" Gadis itu berseru penuh rasa terima kasih. Sekali lagi dia membungkuk dalam-dalam. "Bei tidak tahu harus melakukan apa untuk mengucapkan terima kasih!"
Aku menggeleng sambil tersenyum. "Tidak perlu dipikirkan, guniang. Kita memang harus saling membantu." Sesudah memastikan dia cukup tenang, aku membawanya ke kemahku dan mengistirahatkannya di sana. "Sekarang guniang tenang dulu. Aku akan segera menolong kakak angkatmu itu."
Sesudah itu, baru aku berani keluar.
Tetapi, meski berkata begitu, rasanya aku masih benar-benar curiga pada gadis itu! Bagaimana kalau dia sebenarnya mata-mata dari Wu yang menyamar? Ah, tapi bukankah Shu dan Wu sedang dalam gencatan senjata? Kami tidak sedang bertikai dengan Wu, jadi tidak mungkin mereka mengirimkan mata-mata. Dan lagi, kepanikannya yang sangat nyata itu... sepertinya dia tidak berbohong sedikitpun.
"Zhao Yun!"
Aku menoleh saat melihat Penasihat Pang Tong memanggilku. Aku bersoja ke arahnya. "Ada apa, Penasihat Pang?"
"Siapa gadis itu?"
Kugelengkan kepalaku. "Aku tidak tahu."
"Hmmm..." Penasihat Pang mangut-mangut. "Tadi aku sempat mendengar dia meminta tolong padamu untuk menyelamatkan kakak angkatnya yang jatuh dari tebing bukan, Zhao Yun?"
"Iya." Jawabku. "Tetapi aku tidak tahu apakah gadis itu serius atau sebenarnya dia bermaksud jahat pada kita..."
Penasihat Pang mengedarkan pandangannya sekilas ke arah langit yang berwarna merah darah itu. "Zhao Yun, kau harus melakukan apa yang dia minta." Jawabnya. Aku terhenyak kaget. "Kurasa, kita akan melihat sesuatu yang luar biasa sesudah ini..."
Aku mengerutkan dahi. "Apa itu?"
"Aku tidak akan mengatakannya." Jawabnya. "Kau harus pergi dan melihat sendiri."
Dengan begitu, Penasihat Pang meninggalkanku dalam kebingungan.
Apa maksudnya itu?
Tanpa menunggu waktu lagi, aku segera berbalik, kemudian menunggang kuda putihku, dan pergi ke arah tebing di Gunung Ding Jun ini.
Akhirnya Zhao Yun muncul, ya~~~ Seneng? Seneng? Seneng?
Ehm, dan daripada sodara menyumpahi saya yang bukan-bukan ato protes ato nge-flame ato apalah, saya akan memberi tahu sesuatu bahwa *BEWARE SPOILER STARTS HERE* cerita ini belum tamat dan seperti yang saya bilang sejak awal: saya nggak suka cerita sad-ending... jadinya nggak mungkin cerita ini berakhir dengan gaje seperti ini~ *SPOILER ENDS HERE*
Masih ada lanjutannya, sodara~
Wokey~ Sekian dolo~ Ada yang nggak jelas ato bingung *coret*ato mau ngajak ketemuan untuk jumpa fans sama saya*coret* *seketika langsungd dinuklir gara2 narsis* silahkan disampaikan melalui review~~~
Zia Jian~~~
