MUUP SODARAAAAAAHHHHH~~~ saya telat update... soalnya saya bener2 lupa-pa-pa-pa-pa-pa kalo saya ada camp dan baru pulang hari ini... T-T

...

... Wait.

Setau saya di chap sebelumnya saya udah bilang bahwa Guan Yinping tuh, sama seperti Guan Ping, jahat karena dimanipulasi. Napa masih juga ada yang review nggak enak tentang itu? *garuk tanah* Seriously sodara, semua chara baik CC maupun OC yang mampang di sini tuh semuanya punya role masing2, dan nggak ada yang cuma manggung dan tanpa sebab dan tujuan (kecuali mungkin Liu Chan ama Xing Cai di Unbroken Thread kayaknya...) So, kalo Guan Yinping jadi 'jahat', itu udah saya planning dan seperti yang saya bilang: PYROMYSTIC NGGAK AKAN MENJADIKAN SEORANG CANON CHARACTER SEBAGAI MAIN ANTAGONIST! Bukalah mata anda, sodara... Guan Yinping itu cuma di-manipulasi~

Plus, Guan Yinping dan Guan Ping tuh menurut saya chara2 yang mudah dimanipulasi, bukan karena mereka jahat, TAPI KARENA SANGKING BAIKNYA MEREKA! Liat aja Guan Ping yang di DW5 dideskripsikan sebagai anak muda yang tulus/'sincere' (well, meski saya kurang suka dia di RoTK gara2 dia sombong banget kayak bapaknya). Guan Yinping? Nggak usah ditanya. Sangking polos dan innocentnya dia, makanya saya bikin dia dimanipulasi (karena chara2 polos dan baik hati seperti itulah yang paling mudah dimanipulasi ama Big Bad).

End of discussion. Kalo anda mau cari cerita dimana Guan Yinping diportray sebagai orang baik dari awal sampe akhir, ato bahkan Guan Yinping sebagai heroine... then, sorry. This story is not for you...

*BEWARE! SPOILER STARTS HERE!*Tenang aja. Guan Yinping akan dapet moment of Heel Face Turn...*SPOILER ENDS HERE*

Reply Review~

zeyyens: BADASS PRINCESS STRIKES AGAIN! Yups... karena seorang princess pake tombak/pedang/chackram/dsb udah terlalu mainstream... *dibakar*

aldaluxun: Makasih~ hohohoho~ *kowtow* Mengenai Guan Yinping, saya bikin battle scenenya berdasarkan gampelaynya dari DW8 (yang lumayan nggak masuk akal gara2 ada angin topannya, dsb~) Twitter, ya... Muup saya nggak punya *kowtow 10000x* add di FB aja... XDDDD ada di profile saya... wkwkwkw...

SkyArc: Yahhh... as I said, Guan Yinping will have her Crowining Moment of Heartbreaking AKA tobat. Nggak masalaaaahhh~ berhubung saya authornya, tenang aja... ntar saya yang golok satu2 wkwkwkwk... Anyway, salam kenal, ya! :)

Psycho Childish Semi Hiatus: Sebelum saya reply, saya mau nanya... Ru bener2 mau hiatus? TIDDDOOOOOAAAAAAKKKK! *gantung diri* *dihajar* Nggak apa ngarep. Ntar Guan Yinping bakal jadi baek, kok... Dan yups, Jiang Wei is gona be executed kalo dia nggak cepet2 lari... Hohoho~

Akhirnya kita kembali pada Lu Xun n co! And so... kita akan memulai Arc baru~ Di arc baru ini... well... saya akan memulai dengan 2 chap ringan (chap ini dan chap sesudah ini), dan baru sesudah itu kita akan memasuki runtutan chap2 berat dan rada2 dark (so, prepare yourself). Arc ini menceritakan mengenai petualangan ke 4 Gaibang jejadian ini di sebuah istana yang disebut Bai Di Cheng-Istana Bai Di. DAN tentunya bukan Bai Di Cheng-Istana Bai Di versi DW. Untuk Bai Di Cheng-Istana Bai Di versi Phoenix FORM, ntar saya bakal publish 3D modelingnya minggu depan, soalnya sekalian minggu depan dijelaskan mengenai istana tsb...

Wokey! Happy reading!


Yangmei

Tahu apa pasangan yang paling kejam di dunia ini?

Ya, musim dingin dan rasa lapar. Keduanya jika bergabung akan menjadi pasangan yang tidak berbelas kasihan.

Waktu terasa begitu lama berlalu. Atau cepat? Aku sudah tidak tahu lagi. Kami berempat meninggalkan kota Xiang Ke dua minggu lalu. Nggg... atau tiga? Ah, aku sudah tidak bisa menghitungnya lagi. Aku bahkan merasa perjalanan ini tak ada habisnya. Dataran rendah Wu Xi begitu luas tanpa batas. Tidak ada kota besar apapun selain beberapa desa kecil yang penduduknya sangat jarang. Atau kemah para Gaibang berkumpul.

Namun tidak peduli bagaimanapun sepinya tempat ini, kami tidak akan pernah bisa mendekat sedikitpun ke perbatasan. Mendekat sedikit saja sampai salah satu dari prajurit itu dapat melihat kami, dan kami akan mati detik itu juga. Bahkan kadang, tanpa mendekat pun, beberapa dari antara para prajurit itu mengejar kami. Kalau sudah begitu, kami hanya punya dua pilihan. Lari, atau menunggu Lu Xun menggunakan kekuatannya untuk menghalau mereka.

Tidak mungkin kami bisa bertarung dalam keadaan seperti ini. Baju yang kami pakai terasa makin tipis dan berserabut, tidak dapat menahan dinginnya hawa musim dingin yang kejam. Sebentar lagi kami akan memasuki bulan kedua dari musim dingin. Makanan? Uang yang ada pada kami benar-benar sedikit sekali jumlahnya, tidak cukup untuk membeli makan. Ah, tapi seandainya kami punya ratusan keping emas pun, bagaimana kami bisa mendapat makanan melimpah di tempat ini? Satu-satunya kesempatan kami mendapat makanan adalah kalau kami sampai di desa, atau kemah para Gaibang. Di sana mereka akan memberikan kami ransum dengan cuma-cuma.

Sungguh, aku tidak mengerti bagaimana aku bisa tetap hidup sesudah semua ini...

Ngomong-ngomong, malam ini kami tidak menemukan tempat bermalam. Jadi kami akan tidur di sembarang tempat di alam terbuka ini.

Aku dan Zhou Ying beristirahat di bawah sebuah pohon yang dahan-dahannya sudah diliputi salju. Zhao Yun sedang menyalakan api unggun. Lu Xun? Yahhh... Lu Xun sedang tidur, seperti biasa. Heran sekali, akhir-akhir ini Lu Xun jadi sering sekali tidur. Jelas aku dan Zhou Ying khawatir. Tapi kalau kami bertanya pada Zhao Yun, dia malah santai dan bilang agar kami membiarkan saja dia tidur.

Zhou Ying berdiri dengan kaki gemetaran, kemudian mengambil sebuah buntalan dari atas punggung kudanya. "Kakak pertama, kakak ketiga, ransum kita masih tersisa banyak. Tidak perlu khawatir kita akan kehabisan makanan." Katanya sambil tersenyum. Dalam keadaan seperti ini, Zhou Ying terlihat begitu ringkih. Memang benar 'adik' kami ini adalah yang paling lemah dari kami bertiga. "Lagipula, besok kita sudah sampai di Kota Yong An, kan?"

"Tentu saja!" Jawabku dan Zhao Yun serempak seperti paduan suara.

Sesudah aku membangunkan Lu Xun, barulah kami mulai makan. Tidak banyak yang kami lakukan sesudah itu karena memang sudah hampir tengah malam, dan kami sudah lelah bukan main. Akhirnya, tanpa banyak membuang waktu lagi, kami tidur.

Aku berbaring di atas tanah yang dingin dan lembab. Ya Tian, mana bisa tidur di tempat seperti ini? Tangan, kaki, leher, dan kepalaku bersentuhan langsung dengan tanah. Aku gemetar kedinginan, tapi tidak berani komplain karena toh kami semua mengalami nasib yang sama. Meskipun sudah ada api unggun, namun tetap saja hawa dingin yang menusuk tulang itu tak tergantikan. Semilir angin sepoi-sepoi cukup untuk membuatku menggigil.

Kupejamkan mataku, namun tak pernah berhasil mendarat di alam mimpi. Aku tetap terjaga. Malam ini... apakah aku akan melewati malam ini tanpa beristirahat sedetikpun? Mungkin iya.

Tapi aku tidak mau itu! Besok pasti akan menjadi perjalanan yang sangat berat untuk kami. Besok kami tiba di Kota Yong An. Dan dari apa yang kudengar dari Zhao Yun, katanya kota itu memiliki sebuah istana bernama Bai Di Cheng-Istana Bai Di yang adalah istana yang cukup mengerikan dimana orang yang masuk tidak akan pernah bisa keluar kalau sampai ia tersesat. Dan bukan cuma itu. Bai Di Cheng-Istana Bai Di berbentuk seperti menara pagoda yang tinggi berbentuk segi delapan. Pasti akan sangat melelahkan sekali perjalanan besok.

Dan bagaimana kalau kami harus bertarung? Yah, aku yakin tidak mungkin ada prajurit Shu di sana, mengingat informasi yang kami dapatkan adalah penjagaan di Kota Yong An sekitar Bai Di Cheng-Istana Bai Di dikendorkan. Tapi bagaimana kalau ternyata lawan kami bukan prajurit? Bisa saja perampok atau apa saja.

Aduuuhhh... merasa khawatir begini, aku malah makin tak bisa tidur.

Tidak! Tidak! TIDAK! Pokoknya aku mau berhenti berpikir sekarang juga! Baiklah, aku akan memikirkan mengenai hal-hal yang menyenangkan supaya otakku bisa tenang dan rileks.

Bagaimana kalau akhirnya kami sampai di Wu? Ahhh... menyenangkan sekali! Kalau kami akhirnya tiba, maka berakhirlah kehidupan kami yang luntang-luntung melarikan diri seperti buronan ini. Dan itu berarti, tidak ada lagi penyihir jahat yang namanya Lao Zucong! Sebaliknya, aku bisa bertemu dengan Bibi Shang Xiang, Bos Besar alias Jendral Lü Meng, Tuan Bajak Laut alias Jendral Gan Ning, dan manusia tidak penting yang namanya Ling Tong itu! Ah, aku juga bisa bertemu dengan Paman Zhou Yu dan Bibi Xiao, meski aku tahu Paman Zhou akan mengomeliku karena sekarang penampilanku jadi makin tidak seperti perempuan.

Menyenangkan sekali di Istana Wu. Entah bagaimana aku bisa sampai di neraka dunia ini. Di Wu, udaranya hangat dan bersahabat. Musim salju memang dingin, tetapi tidak sekejam ini. Ikan-ikan dan hasil laut di sana sangat enak, berbeda dengan makanan di Shu yang pedasnya sampai-sampai mendapat julukan ma la-rasa pedas yang membuat lidah jadi mati rasa. Kemudian, aku tidak perlu pakai baju gembel seperti ini. Bagaimanapun, sutra dari Jian Ye memiliki kualitas nomor satu di seluruh penjuru China!

Yahhh... tidak heran kalau aku tidak bisa tidur di tempat seperti ini, dan dengan keadaan seperti ini pula. Dulunya aku kan putri! Dan sampai sekarang pun juga! Dulu, setiap hari aku selalu tidur di ranjang yang empuk dan hangat. Baju tidur yang kupakai juga dari sutra yang sangat halus. Oh iya! Coba kalau seandainya selimutku yang berwarna merah terang itu ada di sini sekarang. Aiyaaa... aku akan membayar berapapun untuk selimut yang tebal dan hangat itu!

Astaga... kalau membayangkan kamar tidurku, aku makin tidak bisa tidur!

Celaka... aku mau tidur! Pokoknya aku ingin tidur! Besok adalah perjalanan yang berat dan aku sama sekali tidak mau menjadi penghambat! Aku ingin besok bangun dengan keadaan yang sehat dan masuk ke Bai Di Cheng-Istana Bai Di dengan kekuatan penuh! Jadi, aku harus bisa tidur!

Langit... bumi... tolong aku! Beri aku waktu tidur sedikit saja! Sebentar saja! Satu jam pun cukup. Ah, tidak! Setengah jam pun tak mengapa!

Benar-benar... tubuhku sakit semua! Capek dan lelah sekali sampai rasanya ingin mati. Kepalaku juga penat dan mataku terasa perih dan berat. Aku benar-benar mengantuk! Tapi, aku tidak bisa tidur!

Kupeluk tubuhku erat-erat dengan kedua tangan. Sama saja, ini tidak membuatku hangat barang sedikit pun! Kuhisap jari-jariku dalam mulutku, berharap jari-jariku ini berhenti gemetar. Masalahnya, begitu kukeluarkan dari mulutku dalam keadaan basah, tanganku menjadi lebih dingin lagi dari sebelumnya!

Ya Tian... apa yang harus kulakukan sekarang? Bagaimana dengan yang lain? Apakah mereka sama sepertiku, tidak bisa tertidur juga?

Perlahan aku membuka mataku. Berat sekali. Ya, aku benar-benar mengantuk tapi tak bisa tidur. Anehnya, kulihat Zhou Ying dan Zhao Yun yang sudah tertidur pulas. Dan Lu Xun? Jangan ditanya... sekarang di antara kami berempat, dialah yang paling jago tidur.

Perlahan aku bangkit berdiri. Apa yang harus kulakukan sekarang?

Cuma satu keinginanku. Aku ingin bisa tidur. Aku capek dan aku ingin melupakan segala kejadian buruk yang terjadi selama ini. Kalau aku bisa tidur, aku akan punya kekuatan untuk besok bisa melewati Bai Di Cheng-Istana Bai Di.

Kalau aku tidak beristirahat, besok aku pasti tidak maksimal, dan aku akan menjadi pengacau saja! Bagaimana kalau besok kami gagal melewati Bai Di Cheng-Istana Bai Di? Ini kesempatan pertama dan terakhir kami untuk bisa keluar dari Shu! Aku tidak mau selamanya berada di tempat yang seperti neraka ini, menjalani hidup seperti Gaibang yang malang-melintang melarikan diri dari kejaran orang-orang yang memfitnah kami!

Karena itu, aku harus berhasil besok! Dan supaya berhasil, aku harus bisa tidur!

Entah bagaimana... mataku terasa berat. Dan maksudku... kali ini bukan berat karena ngantuk, tapi ada sesuatu yang mengganjal. Airmata.

Ya Tian... kenapa aku menangis? Parah sekali aku ini! Hanya karena aku tidak bisa tidur, lantas aku menangis? Cepat-cepat aku berlari meninggalkan kelompokku dan masuk ke dalam hutan. Aku tidak mau sampai membangunkan mereka dan membuat mereka khawatir! Apalagi kalau sampai gara-gara aku, mereka juga jadi tidak bisa tertidur sepanjang malam...

Sembari aku berlari, tanganku dengan kasar menyeka airmata yang mengaliri wajahku. Aku sama sekali tidak melihat sebuah batang pohon kayu yang menghalangi jalanku.

BRUK!

Ya, aku tersandung dan jatuh.

Untung aku jatuh di atas tanah yang lembut dan sedikit bersalju. Tidak ada luka atau lecet yang kudapat. Tapi... dengan ini maka habislah seluruh kekuatan yang ada di tubuhku. Aku tidak bisa berdiri lagi sangking capeknya.

Mungkin aku bisa tidur di sini?

Kubaringkan tubuhku di tanah, dengan kepalaku di atas batang pohon itu. Kuharap kali ini aku akan benar-benar bisa memejamkan mata.

...

Sama saja. Rupanya gagal.

Lagipula, tidak perlu seorang jenius untuk bisa memperkirakan kegagalanku, kan? Maksudku, di tempat ini malah tidak ada api unggun yang menghangatkan. Hanya ada udara dingin yang terus menerus mengusikku. Apalagi... hutan ini gelap dan mengerikan, meski salju-salju yang menutupinya terlihat sangat indah. Kurasa, kabut-kabut itulah yang membentuk bayangan-bayangan mengerikan di depan mataku.

Astaga... bagaimana ini? Aku kedinginan dan sangat ingin kembali ke api unggun. Tapi, tubuhku terasa kaku dan berat, sampai-sampai tidak bisa digerakkan lagi. Celaka... Airmataku makin meleleh dan meleleh.

Sekarang yang bisa kulakukan cuma merutuki nasibku sambil menangis sejadi-jadinya. Kenapa semua hal ini harus terjadi padaku? Dan yang paling menakutkan adalah, bagaimana kalau besok aku terlalu lemah untuk melanjutkan perjalanan? Atau demam? Atau aku pingsan di tengah jalan? Bagaimana kalau besok kami gagal?

Dan yang lebih parah... bagaimana kalau besok kami tertangkap?

Sumpah... hidupku seperti di ujung tanduk. Kenapa bisa begini...?

Sementara aku cuma bisa menangis dan mengasihani diri sendiri, sayup-sayup kudengar suara dari kejauhan. Awalnya hanya terdengar seperti desahan angin saja, namun makin lama makin terdengar jelas.

"...Mei... Meimei..."

Suara Lu Xun!

Mataku langsung terbuka lebar. Suaranya terasa hangat sekali di tengah dinginnya hawa musim dingin yang tak kenal ampun. Seandainya aku bisa, aku pasti akan bangkit berdiri dan berlari mencarinya. Tapi yang bisa kulakukan hanya duduk dan menyandarkan punggung pada batang pohon yang tumbang ini. Dengan suara yang sumbang dan lemah kujawab. "Lu Xun...! Aku di sini...!"

Tapi... kenapa Lu Xun bisa kemari? Maksudku, dia sedang tidur pulas, kan? Bagaimana mungkin dia bisa bangun dengan mudah? Tadi saat kami akan makan saja, dia sangat sulit dibangunkan.

Kemunculan sosoknya segera menghentikan hujan pertanyaan dalam benakku.

Itu Lu Xun. Mata emasnya melebar saat berhasil menemukanku. Ia tersenyum lebar dan berlari-lari menghampiriku. "Oh, Meimei! Di sini kau rupanya!" Ia berhenti tepat di depanku. "Kenapa kau bisa ada di sini?"

"Yahhh... karena..." Baru saja aku akan menjawab, sesuatu terlintas di kepalaku. "Ngomong-ngomong, kau harusnya memanggilku 'You Ma'! Dan aku memanggilmu 'kakak kedua'! Ya, kan?"

Dia cuma tersenyum dan mengelus rambutku. "Sudahlah... di sini kan tidak ada orang? Kali ini saja aku akan memanggilmu 'Meimei', dan kau panggil aku 'Lu Xun', ya?" Sebagai jawaban, aku mengangguk. "Dan kau belum jawab pertanyaanku. Kenapa kau bisa ada di sini? Apa kau ingin pergi ke suatu tempat dan tersesat?" Tanyanya tulus, kemudian mengambil duduk di sebelahku. Saat itulah ia bisa melihat mataku yang merah dan sembab habis menangis.

"Aku..." Benar-benar malu sekali rasanya! Secengeng-cengengnya orang, tidak akan pernah ada orang yang menangis cuma gara-gara tidak bisa tidur!

"Tidak apa-apa... katakan saja. Aku tidak akan menertawakanmu, kok..." Katanya dengan lembut dan sabar. Disandarkannya kepalaku ke bahunya.

Baru aku sadar satu hal. Lu Xun juga kedinginan, sama sepertiku. Tubuhnya menggigil dan bibirnya sedikit membiru. Hanya saja, dia tidak menunjukkannya padaku.

Aku menelan ludah sebelum menjelaskan. Kupeluk erat-erat lengannya. "Aku tidak bisa tidur, dan aku sedih sekali." Aku menunggu Lu Xun tertawa, kaget, memarahiku, atau apa saja. Tapi tidak ada reaksi apapun. Dia tetap menungguku melanjutkan. "Padahal... aku benar-benar capek dan ngantuk. Aku takut kalau besok aku sampai sakit, maka kita tidak akan bisa melewati Bai Di Cheng-Istana Bai Di dan melarikan diri dari Shu..." Suaraku mulai sesenggukan. Sekali lagi tangisku pecah. "Aku takut..."

Airmataku tumpah, begitu juga dengan perasaanku. Aku menjatuhkan diriku dan berbaring menelungkup, membenamkan wajahku di pangkuan Lu Xun. Sembari tangannya membelai rambutku berulang-ulang, aku menangis sejadi-jadinya. Konyol dan tidak beralasan sekali, kan?

"Begitu..." Jawab Lu Xun. Aku tidak bisa melihat seperti apa wajahnya sekarang. Yang pasti, suaranya tetap lembut dan penuh kesabaran. "Kenapa kau tidak membangunkanku dan malah pergi ke sini seorang diri?"

"Karena... karena kau tertidur begitu pulas. Suaraku pasti tidak akan sampai padamu." Jelasku. Ah, kurasa aku hanya cari-cari alasan saja. "Dan lagi, ini hanya masalah sepele. Cuma masalah aku tidak bisa tidur saja. Kau tidak perlu mempedulikanku untuk hal-hal sekecil ini. Dan kalaupun ini bukan hal kecil... yahhh... kau pasti tidak akan peduli." Ya, kan? Aku jahat sekali. Bisa-bisanya aku menuduh Lu Xun tidak peduli padaku.

Lu Xun tidak menjawab apapun. Yang kudengar hanya helaan nafas panjang.

Dan sekarang, aku terlalu malu untuk menengadah dan menatapnya.

"Meimei..." Panggilnya. "Kau tahu kenapa aku bisa terbangun?"

Hah? Kenapa tiba-tiba Lu Xun bertanya begitu? Ahhh... mungkin dia ingin bilang kalau aku sedang sedih, makanya dia sampai terbangun dan susah-susah kemari untuk mencariku. Perlahan kuangkat wajahku dengan tatapan bertanya. "Tidak..." Jawabku. "Memangnya kenapa?"

Dia tersenyum sekilas. "Karena tadi..." Ucapnya. "... ada badai salju."

A-APAAAAAAA? BADAI SALJU?!

"Badai salju?! Kapan? Dimana? Kau bercanda kan, Lu Xun!" Aku langsung berdiri, kemudian mengguncang-guncang tubuhnya. WAAAAAAA! Jangan sampai betulan ada badai salju! Bukan cuma itu berarti udara semakin dingin, tetapi bisa saja itu berarti kami tidak bisa melanjutkan perjalanan kami! Dan anehnya Lu Xun, ada badai salju, dia malah kelihatan tenang begitu!

"Aku tidak bercanda!" Katanya sambil masih tertawa. "Tadi, beberapa saat sesudah kau pergi, ada badai salju yang sangat hebat yang melanda. Pokoknya kacau sekali, sampai-sampai Zhao Yun dan Zhou Ying terseret angin yang kencang! Kuda-kuda kita semua juga sudah tidak ada sama sekali! Waktu aku sadar, tahu-tahu aku sendirian. Untung saja aku menemukanmu di sini..."

Tidak! Tidak! TIDAK! Itu pasti tidak benar! Aku tahu gelagatnya seorang Lu Xun! Lihat, dia masih saja tertawa seperti itu, kelihatan sekali kalau dia sedang mengerjaiku. Huh!

Langsung kucekik lehernya. Main-main, sih... tapi aku akan memberinya pelajaran! "Bohong! Bohong! Bohong! Huh, kau tidak akan pernah bisa menipuku, Lu Xun! Dasar payah! Kalau tidak becus mengerjai orang, ya jangan mengerjai!" Seruku dongkol bukan buatan, tapi Lu Xun yang bodoh ini tetap saja masih tertawa!

"Iya! Iya! Iya! Hahaha... ampun, gongzhu Sun Yangmei...!" Sahutnya, masih saja tetap tertawa. Akhirnya, kulepaskan si bodoh ini dengan bibir cemberut.

"Maksudmu apa pakai acara mengerjaiku pula?" Aku mendengus kesal. Kulipatkan lenganku dan membuang muka.

Lu Xun tersenyum kecil. "Tapi, aku tidak bohong saat bilang bahwa ada badai salju..."

Kutolehkan kepalaku, memandangnya dengan bingung. Apa maksudnya? Masih belum kapok mengerjaiku?

"Dengar, Meimei... kalau misalkan memang benar toh ada badai salju sungguhan, aku pasti tetap tidak akan terbangun." Katanya sambil menatap lurus kedua mataku. Kilauan kristal-kristal salju di sekeliling kami tidak dapat dibandingkan lagi dengan kilauan dalam sorot mata emasnya. "Tapi, ada badai salju lain yang bisa membangunkanku. Dan itu adalah ketakutanmu..."

Aku tertegun. Perlahan tatapanku jatuh pada tanah bersalju di bawah kami. Aku tidak bisa lagi memandangnya kalau seperti ini...

Perlahan tangannya menggenggam tanganku. Aneh... tangan Lu Xun benar-benar dingin. Namun saat menyentuh tanganku, entah kenapa aku merasa kehangatan aneh yang mengalir dari tangannya menuju tanganku, kemudian memenuhi tubuhku.

"Aku memang sulit bangun saat waktunya makan, melanjutkan perjalanan, bertemu dengan orang lain, apa saja itu." Ucapnya dengan perlahan dan lembut. "Tapi kalau kau, Zhao Yun, Zhou Ying, atau bahkan teman-teman yang lain sedang membutuhkanku, aku akan langsung terbangun. Bahkan meskipun kau tidak membangunkanku..."

Kuanggukkan kepalaku, sama perlahannya dengan kata-katanya. Kulihat Lu Xun bangkit berdiri, kemudian mengulurkan tangannya untuk membantuku.

"Lu Xun..."

"Ayo kita kembali, Meimei."

Aku pun berdiri. Dan... tanpa perlu aku meminta, Lu Xun menawarkan diri untuk menggendongku kembali ke tempat kami tadi. Tentu saja aku tidak akan menolak. Dan karena ini Lu Xun, dia tidak menggendongku di atas punggungnya. Dia menggendongku di depan.

Tanganku memeluk lehernya erat-erat. Kakiku melingkari pinggangnya. "Lu Xun..." Panggilku. "Kenapa kau menggendongku seperti ini? Kan biasanya orang-orang menggendong kekasihnya di punggung? Menggendong seperti ini, aku jadi seperti anakmu saja..."

Lu Xun tertawa ringan. Suaranya berpadu harmonis sekali dengan semilir angin musim dingin. "Soalnya, kalau aku menggendongmu di punggung dan ada bahaya dari belakang, kita sama-sama tidak bisa melihat, kan? Dan itu berarti, kau duluan yang akan celaka..." Jelasnya dengan suara setengah berbisik. Dia pasti benar-benar kelelahan.

Tapi... masih saja sabar mencari dan meladeniku.

"Lagipula, kalau seperti ini, kau jadi lebih hangat, kan?"

Aku mengangguk perlahan. Memang benar. Kedua tangannya yang memelukku dengan kuat ada di balik punggungku. Tubuh kami berdua sangat dekat sekali. Dan, meskipun dia menggigil kedinginan, begitu pula denganku, kami tetap bisa mendapatkan kehangatan satu sama lain.

Iya... aku punya Lu Xun yang baik hati begini. Kenapa aku harus takut mengatakan padanya semua kekhawatiranku? Atau mengomel tentang dinginnya cuaca hari ini dan betapa aku berharap bisa merasakan kehangatan kamarku di Istana Wu? Dan lebih bodoh lagi, kenapa aku takut cuma gara-gara tidak bisa tidur? Kalaupun seandainya besok aku sakit... pasti Lu Xun tidak mungkin akan memaksakan kami semua harus masuk Bai Di Cheng-Istana Bai Di besok, kan?

Kutarik nafas dalam-dalam. Rasanya... aku bisa lebih sedikit tenang, meski udara di sekitarku tetap saja dingin. Perlahan salah satu tanganku bergerak. Kumasukkan jari-jariku ke mulutku agar hangat. Memang benar, jari adalah bagian dari tubuh yang paling mudah kehilangan panas. Sesudah selesai dengan satu tangan, gantian dengan tangan yang lainnya.

Ahhhh... harusnya aku sadar kalau sedari tadi Lu Xun terus memperhatikanku. Heran, bagaimana dia bisa memperhatikan jalan sekaligus memperhatikanku dalam waktu bersamaan, ya?

"Meimei? Kau sedang apa?"

Aku menjawab sekenanya saja. Cuma memandangnya sambil mengeluh. "Dingin..." Tanganku yang tidak berada di mulutku menarik-narik bajunya perlahan.

Lu Xun pasti sudah tahu maksudku. Sayangnya, dia tidak punya sarung tangan. Dan kurasa, dia berhak kalau bilang 'tahan saja, Meimei. Sebentar lagi kita sampai, kok. Dan lihat, tanganku yang sedari tadi menggendongmu juga kedinginan sekali, bahkan rasanya sekarang sudah membeku jadi es!'

Orang yang manja sepertiku... benar-benar menyebalkan, ya?

Dan bagaimana Lu Xun tidak sebal padaku, aku juga heran.

"Sini, kemarikan tanganmu." Katanya. Mataku melebar, aku tahu apa maksudnya. Di udara yang dingin seperti ini, aku bisa melihat setiap kali kami berbicara, uap hangat selalu keluar dari multu kami. "Mulutku kosong, kok..."

"A-ahhh... t-t-tapi...!" Hei! Kenapa sekarang aku malah menolak? Aiya... tapi bagaimana bisa tidak menolak pula? Maksudku, aku tidak ingat pernah memasukkan jari-jariku ke mulut seseorang. Eh, sebenarnya pernah sekali, sih... Beberapa bulan yang lalu saat di Istana Shu, aku melakukannya juga pada Lu Xun(1). Tapi, ah, itu adalah ingatan yang tidak pernah mau kumunculkan lagi dalam kepalaku...

Aku menengadah, dan menemukan kalau Lu Xun tidak sedang bercanda. Dia memang benar-benar ingin menolongku.

"B-baiklah..." Perlahan tanganku menggapai bahunya, kemudian pipinya, dan baru sesudah itu jariku satu per satu melewati bibirnya. Kedua tanganku terasa hangat seketika. Satu di mulutku, dan satu di mulutnya.

Kalau kupikir-pikir, dari antara kami berempat, siapa yang paling manja? Aku. Siapa yang paling suka mengomel kalau terjadi hal-hal yang tidak menggenakkan? Aku. Siapa yang paling sering jadi biang kerok dan selalu cari gara-gara? Aku. Siapa yang selalu menghambat perjalanan? Aku. Siapa yang paling sembrono dan ceroboh? Aku.

Tapi heran. Kenapa Lu Xun tidak pernah mengeluh menghadapiku, ya? Seperti sekarang ini, lihat, dia diam saja. Dan bukan maksudnya memendam kekesalan. Kelihatan sekali kalau dia sama sekali tidak keberatan dan tidak pernah menganggapku seperti beban. Nah, kalau aku bertanya padanya, pasti dia akan menjawab aku ben de hao xiang yi zhi zhu-bodoh seperti babi dan kemudian bilang bahwa jawabannya pasti adalah karena dia sayang padaku.

Setelah kupikir-pikir lagi... tak apalah dengan musim dingin ini. Lebih baik selamanya mengalami musim dingin bersama Lu Xun, daripada musim semi tanpanya.

Akhirnya, kami sampai juga di tempat semula. Zhao Yun dan Zhou Ying masih tertidur pulas, begitu pula dengan keempat ekor kuda kami. Aku sudah pasti akan kembali berbaring di tempatku tadi tidur kalau Lu Xun tidak terlebih dahulu menyuruhku menunggu dan duduk di atas sebuah batang pohon kayu yang tumbang. Api unggun masih menyala, menyebarkan kehangatan di tempat ini. Yang bisa kulakukan hanya menyaksikan Lu Xun mendekat ke api unggun tersebut dan...

... memasukkan tangannya ke sana.

"Lu Xun...!" Pekikku terkejut bukan main. Tapi tentu saja dengan suara rendah supaya Zhao Yun dan Zhou Ying tidak terbangun. Tapi Lu Xun cuma berbalik dan mengisyaratkan padaku bahwa dia tidak apa-apa dan tetap menyuruhku menunggu saja.

Hei, dia bukan sedang 'tidak apa-apa'. Kalau wajahnya seperti menahan sakit begitu, apanya yang 'tidak apa-apa'? Memang benar tangannya tidak akan melepuh meski dibakar begitu, karena dia Phoenix. Tapi kan tetap sakit?

Sebelum aku protes untuk kedua kalinya, Lu Xun sudah menghampiriku lebih dahulu. Dan tanpa mengatakan apa-apa, diletakkannya sepasang tangannya di kedua belah pipiku. Hangat...! Benar-benar hangat sekali! Dengan cepat tanganku berpindah ke atas kedua tangannya, meremasnya kuat-kuat untuk merasakan kehangatan itu juga. Jadi, untuk ini Lu Xun membakar tangannya sendiri?

Sesudah memastikan tangan dan wajahku hangat, Lu Xun berlutut dan melepaskan alas kakiku yang sepertinya sudah diselubungi es. Kurasa inilah salah satu penyebab kenapa aku tidak bisa berjalan. Masih dengan tangannya yang hangat, ia menggenggam telapak kakiku, meremas dengan lembut jari-jari kakiku, sampai akhirnya benar-benar tidak ada rasa kaku dan dingin lagi.

"Sudah tidak sakit, kan?" Tanya Lu Xun.

Aku menggeleng. "Kenapa kau melakukan ini, Lu Xun? Kau... kau sampai membakar tanganmu sendiri begitu..."

Sambil tersenyum ia menjawab. "Aku senang kalau bisa menyayangimu. Itu saja alasannya..."

Apa dia tidak tahu? Semua yang dia lakukan malam ini sudah sangat-sangat cukup. Ah, tidak... yang dia lakukan selama ini sudah melebihi apa yang bisa aku harapkan.

Lu Xun berdiri, menggandeng tanganku mendekati api unggun. Begitu saja. Kemudian ia berbaring terlentang dekat dengan api itu. Menurutku sih tidak apa-apa kalau dia memang ingin tidur di tempat yang hangat, tapi kalau jaraknya sedekat itu kan tidak baik? Nah, sebelum aku bertanya, tiba-tiba Lu Xun memanggilku.

"Ayo, Meimei!" Serunya sambil merentangkan tangan lebar-lebar. "Tidurlah di atasku! Dengan begini, kau tidak akan perlu tidur di atas tanah yang lembab dan dingin, kan?"

Kontan aku kaget! Lagipula, siapa yang tidak kaget jika mendapat ajakan seperti itu? Dengan suara yang masih terbata-bata aku menjawabnya. "Y-y-yang benar saja, Lu Xun!" Pekikku, nyaris berteriak kalau tidak ingat bahwa ada dua orang yang sedang tertidur pulas di sini.

"Lho? Kenapa?" Tanyanya dengan mata melebar karena bingung. "Tenang saja, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu, kok."

"BUKAN ITU!" Lagi-lagi aku nyaris berteriak sangking kesalnya. Lu Xun ini apa-apaan, sih?! Tentu saja aku tidak takut pada hal-hal yang mustahil akan Lu Xun lakukan! Dia ini sebenarnya bodoh atau pura-pura tidak tahu kalau aku juga khawatir padanya? "Kau berbaring seperti itu, tentu dingin dan tidak enak sekali! Di tambah lagi, kalau aku tidur di atasmu, berarti kau sama sekali tidak bisa bergerak, kan? Pasti tidak nyaman sekali! Kalau sudah begitu, kau tidak akan bisa tidur!" Omelku panjang lebar sambil menatap sepasang mata emas Lu Xun yang bulat lebar. "Dan kalaupun bisa, besok badanmu pasti sakit semua karena tertimpa badanku yang berat seperti babi!"

Sebagai balasan atas omelanku yang panjang lebar, dia cuma tertawa kecil. "Ah, Meimei... kenapa kau sampai memikirkan hal-hal seperti itu? Sudahlah... Tidak masalah..." Aku terdiam mendengar jawabannya. "Lagipula, justru kalau tidak begini, aku tidak akan bisa tidur. Pasti semalaman aku memikirkan kau yang tidak bisa tidur."

Iya juga, sih...

Aku terdiam, mengalihkan pandangan mataku sesaat ke atas tanah. Lu Xun tidak perlu menunggu lama, sebab sesudah itu aku pun membulatkan keputusan. Kutetuk lututku perlahan, sebelum menelungkupkan badanku di atasnya.

"Ya Tian... kau memang berat sekali..."

"Sudah! Jangan cerewet! Kau sendiri yang menawariku, kan?"

Yah, aku tidak bisa bilang aku tidak suka tidur di atasnya begini. Maksudku, ini jauh-jauh-jauh lebih baik daripada kalau aku tidur beralaskan tanah langsung. Kalau di atas tanah, badanku akan sakit semua karena keras, dan basah karena lembab. Belum lagi sepanjang malam aku akan menggigil dan besoknya bisa sakit. Sekarang aku berbaring di atas tubuh Lu Xun yang hangat, dan entah kenapa terasa lebih hangat daripada selimut merahku!

Belum lagi, api unggun itu membuat udara makin hangat. Kalau sampai benar-benar terbakar, bisa-bisa Lu Xun yang akan kena duluan karena dia yang di bawah. Kalau sudah begitu, sudah pasti dia akan membangunkanku dengan cepat. Apapun yang terjadi, aku berada dalam posisi paling aman.

Ternyata beginilah seorang Lu Xun. Kalau teman-temannya belum baik-baik saja, dia tidak akan bisa tidur. Sebaliknya, kalau kami baik-baik saja, dibangunkan seperti apapun dia tidak akan bangun!

"Lu Xun..."

"Iya?"

Kedua tangannya memelukku erat-erat. Aku benar-benar merasa aman sekarang, bahkan kalau prajurit-prajurit Shu itu datang pun, aku tidak akan takut.

"Terima kasih banyak, ya..." Gumamku kikuk dan bingung. Pasti aku terdengar konyol sekali. "A-a-a-anu... maksudku... aku cuma mau bilang, 'selamat tidur'!" Dengan satu kalimat itu, kubenamkan kepalaku dalam-dalam di dadanya.

Aku tidak tahu seperti apa wajahnya sekarang. Yang pasti, dari suaranya aku yakin dia mengantuk sekali. Tapi juga senang. "Selamat tidur juga, Meimei..."

Dan sesudah mendengar satu kalimat itu, aku langsung jatuh tertidur. Benar-benar tidak pulas dan tidak bangun-bangun sampai pagi...


Lu Xun

"... Kak..."

"... Kakak...!"

"HOI! BANGUN, DASAR KERBAUUUU!"

WHOOOAAA! Rasanya baru saja tidur beberapa menit, bagaimana bisa sekarang sudah pagi?

Dan saat aku melompat bangun, ternyata memang bukan pagi. INI SUDAH SIANG!

Di depan mataku tampak tiga wajah yang kusut, kacau, dan kotor sekali gara-gara belum mandi. Oh, dan satu hal lagi. Wajah mereka yang kelihatan jelek, makin jelek saja gara-gara memasang tampang marah seperti itu.

"Selamat siang, kakak pertama... Selamat siang, You Ma... Selamat siang, You Niang..." Sapaku sambil menggosok mataku yang masih mengantuk.

Zhao Yun yang paling pertama bereaksi. Seenak perut saja dia menjitak kepalaku! "Kau ini sudah tahu siang, dan masih berani-beraninya menyapa segampang itu?" Ujarnya dongkol bukan buatan. "Lihat, kami semua sudah bersiap dari tadi!"

"Kakak kedua, sekarang sudah jam sembilan. Kalau begini, kita baru bisa tiba di Kota Yong Anlewat tengah hari..." Imbuh Zhou Ying.

"Kakak ini benar-benar pemalas sekali! Cih! Kami sampai-sampai berpikir akan meninggalkan kakak di sini!" Dengus Yangmei kesal.

"Wah, You Ma... Kau pengkhianat..." Gumamku setengah bercanda sambil bangun dan merapikan pakaianku. Jujur, aku juga tahu benar bahwa tampangku pasti sejelek, sekusut, dan sekotor mereka sekarang. "Kenapa kau memarahiku begitu? Kau sendiri kan tahu alasannya kenapa aku bisa bangun terlambat? Semalaman aku tidur tengah malam, belum lagi gara-gara tertimpa..."

"TIDAK! TIDAK! TIDAK!" Cepat-cepat Yangmei menggeleng kuat-kuat sambil memotong ucapanku, kelihatan sekali kalau tidak mau Zhao Yun dan Zhou Ying tahu apa yang terjadi semalaman. Wajahnya sampai memerah, benar-benar lucu sekali! "Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kemarin malam! Ini adalah karena aku memprihatinkan masa depan kakak kalau kakak terus-menerus mempertahankan kebiasaan tidur sesuka hati itu!"

Hahaha... ada-ada saja Yangmei ini. Padahal dulu kalau aku yang memarahinya karena suka bangun telat, pasti ada saja caranya untuk membantah.

Ya sudahlah... aku diam saja.

Tak berapa lama, kami sudah menunggangi kuda kami masing-masing dan melanjutkan perjalanan. Daripada aku tertidur lagi, kemudian jatuh dari atas kuda, lebih baik aku menikmati pemandangan. Musim salju memang dingin dan kejam, tetapi pemandangannya sangat indah. Hampir seluruh daratan tertutup salju yang putih bersih, berkilau-kilau ketika tertimpa cahaya matahari. Mata kami kadang terhalangi kabut tipis. Pohon-pohon wujiu yang pada saat musim panas dan gugur berwarna merah dan jingga, kini sudah tidak meninggalkan sehelaipun daun. Ranting-rantingnya berguna untuk tempat mendaratnya salju dan es yang menggantung.

Memang dingin, sih... Tapi musim salju di daerah selatan seperti Wu dan Shu jauh lebih baik daripada di daerah utara seperti Wei. Bagaimanapun, karena suhu udara di Wu paling tinggi, maka musim dinginnya paling bersahabat. Ya, itu karena letak Wu yang dikelilingi lautan.

"Sesudah sampai, jangan langsung ke Bai Di Cheng-Istana Bai Di nanti, kita akan beristirahat di Kota Yong An dulu." Zhao Yun menjelaskan rencana kami hari ini. Tangannya masih memegang tali kekang kuda dan tatapannya lurus ke depan. "Kita cari tempat perkumpulan Gaibang. Sesudah itu, acara bebas." Katanya.

Yangmei langsung protes, sudah kuduga. "Lho? Kenapa tidak langsung masuk ke Bai Di Cheng-Istana Bai Di?"

"Bodoh! Kalau kita masuk ke Bai Di Cheng-Istana Bai Di siang hari seperti ini, akan makin mudah ketahuan!" Balasnya sengit bukan buatan. "Kita akan masuk Bai Di Cheng-Istana Bai Di tengah malam."

"Cih! Sial!" Yangmei mendengus. "Tahu begini, aku tidak perlu khawatir tidak bisa tidur! Toh ada jam bebas untuk tidur sesampainya di kota nanti!" Tentu saja Yangmei mengatakannya setengah berbisik. Kan malu kalau sampai Zhao Yun dan Zhou Ying tahu?

Tak berapa lama kemudian, sampailah kami diKota Yong An. Dari gerbang kota yang rendah, bisa kulihat Bai Di Cheng-Istana Bai Di yang tingginya mencapai enam puluh meter, menjulang sendirian di antara bangunan rumah-rumah lain yang sederhana dan tidak mewah. Istana yang terdiri dari tiga belas lantai itu terlihat makin indah diselimuti dengan salju putih pada atapnya. Siapapun yang melihat ini, termasuk aku, tentu akan menahan napas melihat keindahannya.

Sayangnya, kadang-kadang akan melupakan yang ada di bawahnya.

Aku tidak tahu bagaimana kalau di musim lain. Namun di musim dingin seperti ini, penduduknya kelihatan kekurangan sekali. Baju mereka hanya sedikit lebih baik dari kami. Apakah dengan pakaian seperti itu, mereka bisa melindungi diri dari hawa dingin? Ditambah lagi, tempat ini sama sekali berbeda dari Kota Xiang Ke yang ramai dan makmur. Di sini tidak ada bangunan seperti penginapan, restoran, dan sebagainya.

Akhirnya kami tiba di perkumpulan Gaibang. Para Gaibang yang baik hati menawari kami makan siang untuk musim dingin berupa baizhou-bubur putih, dengan zhacai dan youtiao sebagai tambahan. Meskipun sangat amat sederhana, tetapi ini sudah sangat membantu kami sekali. Entah sudah berapa hari kami melewati musim dingin tanpa makan makanan yang hangat seperti ini.

"Ugh... mana bisa kenyang makan seperti ini?" Kudengar Yangmei yang duduk di sebelahku tengah mengomel. "Ternyata di dunia ini ada juga makanan yang lebih menyedihkan dari cai fan-nasi sayur."

Begitu kata Yangmei. Dan sejujurnya, aku tidak mengerti kenapa dia bilang cai fan-nasi sayur adalah makanan menyedihkan. Memang benar makanan itu seluruhnya adalah sayur. Tapi sayurnya adalah sayur-sayuran yang mahal dan bergizi dari Jian Ye seperti baicai dan jamur hitam. Dan begitu dimasak dengan nasi, rasanya jadi luar biasa enak. Hanya gara-gara Yangmei tidak suka makan sayur, dia bilang makanan itu menyedihkan? Yang benar saja...

"Makanya, kau sudah tahu kan kalau makanan yang kau buang-buang dulu itu ternyata sangat sulit didapat? Lain kali kau harus menghabiskan makananmu dan tidak mengomel, ya?" Kataku sambil menepuk kepalanya. "Dan kalau kau masih lapar, kenapa tidak minta tambah saja?"

"Iya, iya, 'pak guru'..." Jawab Yangmei asal sangking kesal. "Dan memang aku akan minta tambah, kok!" Dia berdiri, kemudian minta tambah. Nah, sekarang aku mengerti kenapa Yangmei bisa seberat itu. Sementara aku, Zhao Yun, dan Zhou Ying cukup dengan satu mangkuk, Yangmei butuh dua. Tidak heran dia seberat itu...

Tak lama kemudian, berakhirlah acara makan kami yang sangat sederhana. Sesudah menimbang-nimbang apa yang akan kami lakukan, kami berempat memutuskan untuk mengelilingi kota, sekedar untuk melihat-lihat saja...

Sampai di satu tempat...

"Xiansheng, guniang, permisi...!"

Dari kejauhan, kami mendengar suara seorang gadis. Suaranya riang sekali, benar-benar kontras dengan orang-orang kota yang diam. Seolah-olah ada angin musim panas yang hangat di tengah-tengah musim dingin. Bagian depan rambutnya panjang melebihi bahu, sementara bagian belakangnya pendek. Ia berjalan ke sana kemari, dari satu orang ke orang lainnya. Di tangannya terdapat sebuah keranjang yang aku juga tidak tahu apa isinya.

"Lihat!" Zhou Ying menunjuk. "Gadis itu menunjukkan keranjang itu setiap kali bertemu orang!"

"Dan... apa itu yang dikeluarkannya?" Gumam Zhao Yun penasaran ketika si gadis mengambil sesuatu yang berkilau dari keranjangnya, kemudian memberikan benda tersebut pada orang yang diajaknya bicara. Sebagai gantinya, orang itu memberikan beberapa keping uang perunggu. Ohhh... rupanya gadis itu sedang berjualan, dan barang dagangannya adalah benda berkilau itu...

"WAUUUWWWW!"

Gawat...

"Kelihatannya bagus sekali! Ayo! Ayo! Ayo kita ke sana!"

Tuh, kan? Celaka... Yangmei tertarik sekali dengan benda itu, sampai-sampai berlari secepat kilat ke arah si gadis. Jelas ini adalah gelagat tidak baik! Uang kami sudah habis, dan Yangmei tertarik pada suatu barang dagangan. Kalau sampai dia mau membelinya, harus bayar pakai apa kami? Pakai daun?

"Aiya..." Zhou Ying hanya bisa menepuk jidat. "Gawat... Kalau kakak ketiga sudah melihat barang bagus, pasti langsung dibelinya..."

Zhao Yun melipat lengan. "Kita juga tidak punya uang sedikit pun. Lihat, kalau nanti tidak dapat barang itu, dia pasti akan marah-marah, mogok makan, mengunci diri di kamar, dan bunuh diri..."

"Hus! Kakak pertama! Jangan bicara begitu!" Sergahku cepat sebelum berlari menyusul Yangmei yang sekarang sudah bercakap-cakap dengan si gadis. "Sebaiknya kita lihat saja. Siapa tahu You Ma tidak tertarik..."

Tapi kurasa harapanku meleset jauh sekali. Yang terjadi malah sebaliknya. Yangmei sedang melihat benda apapun itu yang ada di dalam keranjang si gadis dengan mata berbinar-binar. Dari mulutnya terdengar suara 'waaauuuwww', 'wooooaaahhhh', begitu terus-menerus. Bahkan, sebelum aku sampai padanya, dia sudah menarik lenganku dulu!

"Kakak kedua! Kakak kedua! Lihat ini! Ada barang-barang yang sangat bagus!" Serunya girang sambil menunjuk ke dalam keranjang tersebut. Zhao Yun dan Zhou Ying yang baru sampai juga melihat apa yang ada di dalam keranjang tersebut.

Dan tidak bisa tidak, kami semua melebarkan mata sangking kagum.

Di dalam keranjang tersebut ada puluhan bahkan mungkin ratusan batu. Batu-batu yang berukuran kecil sampai yang sangat besar, semua ada di situ. Tapi, tentu saja bukan sembarang batu. Batu-batu itu adalah batu-batu transparan aneka warna yang sangat indah sekali! Bukan batu mulia seperti berlian, sih. Tapi batu-batu itu memiliki corak yang sangat beragam. Ada yang bergelombang, ada yang seperti kabut, ada pula yang membentuk serat-serat seperti pohon.

"Wuah! Guniang, cantik sekali batu-batu ini!" Tak bisa tidak, aku pun memuji. "Apa kau yang menggosoknya hingga sekilap ini?" Tanyaku sambil mengambil sebuah batu dari dalam keranjang tersebut.

Gadis itu menjawabnya dengan senyuman manis. Senyuman itu membuat parasnya yang rupawan makin bertambah cantik saja. "Tentu saja tidak, xiansheng! Aku hanya mengambilnya saja."

"Mengambil?" Aku, Zhou Ying, dan Yangmei melebarkan mata sangking terkejut.

"Yahhh... kalian dari Wu memang tidak mengerti apa-apa..." Celetuk Zhao Yun tiba-tiba. Dia juga mengambil sebuah batu dan mengamat-amatinya. "Batu-batu ini disebut Yuhua Shi-Batu Hujan Bunga(2). Kudengar batu-batu yang sangat indah ini adalah hasil alam yang sangat mudah didapatkan di sekitar pesisir sungai Chang Jiang. Hanya saja, batu-batu ini hanya ada di daerah delta Sungai Chang Jiang di dekat Bai Di Cheng-Istana Bai Di, makanya tidak bisa ditemukan di Wu. Delta sungai Chang Jiang terbentuk karena adanya penyempitan sungai di Kota Perbatasan Kui." Zhao Yun menjelaskan bak guru besar.

Gadis itu mengangguk kuat-kuat. "Hebat, xiansheng! Tepat sekali! Sepertinya, dari anda berempat hanya xiansheng saja yang orang Shu, ya?" Pertanyaan itu segera dibalas dengan anggukan oleh Zhao Yun. "Nah, batu ini secara alami terkikis oleh arus sungai. Sehingga, dipungut dari sungai pun sudah indah! Tidak perlu digosok lagi! Silahkan lihat-lihat!"

Mata kami benar-benar dihujani keindahan batu yang warna-warni baik bunga itu. Benar-benar persis seperti namanya!

"Ngomong-ngomong, kenapa namanya Yuhua Shi-Batu Hujan Bunga, guniang?" Tanyaku.

"Itu ada kisahnya, xiansheng!" Jawab gadis itu, masih gembira. Mata kami berpaling dari batu ini dan menatapnya. "Menurut legenda, dahulu kala ada seorang rahib bernama Yunguang. Yunguang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajar orang-orang. Suatu kali, ia duduk dan memikirkan inti dari apa yang ia ajarkan. Sangking seriusnya, ia sampai tidak makan dan tidak minum tiga hari. Nah, dewa-dewi di langit sangat tersentuh oleh ketulusannya, dan oleh karena itu menjatuhkan hujan bunga. Begitu bunga-bunga tersebut jatuh di atas tanah, mereka berubah menjadi Yuhua Shi-Batu Hujan Bunga. Begitu kisahnya, xiansheng!"

"Cerita yang bagus..." Ujarku.

"Uwaaaahhh..." Yangmei berdecak kagum dan bertepuk tangan. "Batu yang bagus dengan cerita yang bagus! Aku makin tertarik!"

Uh-oh...

"Kakak kedua!" Seperti yang kudugua, ia berbalik, memandangku dengan matanya yang berbinar-binar dan lebar. Dari matanya saja aku sudah tahu apa yang akan ia katakan selanjutnya. "Belikan batu ini, dong! Lihat! Lihat! Lihat! Bagus sekali, kan?" Kulihat batu yang ada di tangannya, sebuah batu kecil berukuran koin perak yang bentuknya lingkaran sempurna. Batu itu berwarna merah darah transparan. Di dalamnya terdapat corak-corak bergelombang seperti api yang berkobar-kobar menjilat ke atas, berwarna jingga dan kuning. Di bagian tengahnya seperti terdapat pola burung yang sedang mengembangkan sayapnya dalam kobaran api tersebut. Seolah-olah, api yang berkobar-kobar itu tengah berusaha melahap si burung...

Eh? Sebentar... corak ini... kenapa bentuknya...

"BELIKAN, YAAAAA...?" Seketika itu juga lamunanku buyar. Yangmei memandangku layaknya anjing kecil yang minta makan. Dipandangi seperti itu oleh Yangmei, bagaimana aku bisa tahan? "Ya? Ya? Ya? Lagipula, kau ingatkan musim gugur barusan? Sangking sibuknya kita menyiapkan diri untuk kompetisi pertarungan Gaibang, semua sampai lupa ulang tahunku, bahkan termasuk aku sendiri! Kakak kedua, tolong belikan ini sebagai hadiah ulang tahunku, yaaaa..."

"Pilihan yang bagus!" Tanpa tahu keadaan keungan kami, gadis penjual Yuhua Shi-Batu Hujan Bunga tersebut bertepuk tangan. "Xiansheng, belikan saja untuk adikmu! Harganya murah sekali, hanya dua puluh lima keping perunggu!"

Iya, itu harga yang murah. Tapi kalau kami tidak punya uang sekeping pun, maka tidak peduli semurah apapun harganya, akan tetap terasa mahal, kan?

"Nggg..." Aku gugup sendiri. Saat aku memandang Zhao Yun dan Zhou Ying bergantian, keduanya menggeleng. Itu tandanya kami tidak punya uang, dan aku sudah tahu hal itu. Dengan berat hati, kugenggam bahu Yangmei dan kukatakan yang sebenarnya. "You Ma, aku bukannya tidak mau... tapi kau ingat kan kalau uang kita habis?"

Seperti yang kutakutkan. Yangmei kelihatan kecewa sekali. Tatapan matanya jatuh ke batu di atas telapak tangannya. "T-tapi... batu ini murah sekali..." Gumamnya. Suaranya sudah seperti menangis. Melihat wajahnya seperti itu, aku juga tidak tahan. Tapi...

"D-dan... dan lagi, apa kakak lupa? Dulu kita punya jimat yang selalu kita bawa kemana-mana, kan? Yang kita buat sewaktu masih kecil?" Iya, aku masih ingat dengan jelas. Pada saat kami masih anak-anak, aku menulis puisi untuknya dan dia menggambar untukku(3). Sesudah itu, kertas itu kami taruh masing-masing di kantung kan kecil dan selalu kami kalungkan sebagai jimat. Sayangnya, ketika di Wei, kedua jimat itu tidak ada lagi. Habis terbakar(4).

Ingatan itu terhenti di sana. Aku menjawab Yangmei dengan sebuah anggukan.

"Nah, kakak belikan ini saja! Pasti aku akan menjaganya baik-baik sekali, sebagai ganti dari jimat itu dulu!" Yangmei masih merengek-rengek. Kutatap mata peraknya yang sarat dengan permohonan. Astaga... benar-benar menyedihkan sekali aku ini. Hanya dua puluh lima keping perunggu untuk membuat Yangmei tersenyum, tetapi aku tidak tahu harus dapat darimana dua puluh lima keping perunggu itu...

"You Ma!"

Suara Zhao Yun mengagetkan kami.

"Kita sedang tidak ada uang! Dan tahukah kau kalau keadaan kita yang dikejar-kejar ini telah sangat genting? Tunggulah sejenak sampai masalah ini selesai! Kalau sudah begitu, kau meminta seribu Yuhua Shi-Batu Hujan Bunga pada You Xing pun, dia pasti akan bersedia membelikannya untukmu!" Tegur Zhao Yun. Aku tahu benar bahwa teguran itu tidak akan melembutkan hati Yangmei. Tapi, aku tidak tahu apakah sebaiknya aku menghentikan Zhao Yun atau tidak.

Zhou Ying, melihat Zhao Yun berbicara, langsung menimpali. "Kakak pertama benar!" Sahutnya. "Kakak ketiga, uang kita sangat terbatas! Hal-hal seperti Yuhua Shi-Batu Hujan Bunga sebaiknya ditunda dulu saja..."

Tabiat jelek Yangmei keluar lagi. Gadis itu, kalau ditegur, bukannya akan menurut tapi makin keras hati.

Yangmei menunduk dalam-dalam. Diletakkannya kembali batu itu sesudah menggenggamnya erat-erat, kepala masih tertunduk. Tapi itu menunduk bukan gara-gara patuh. Kulihat tangan Yangmei, meski batu itu sudah tidak ada lagi di tangannya, tetap mengepal erat-erat.

"..."

Kudengar gumaman-gumaman yang tidak jelas dari mulutnya keluar.

"You Ma?"

"P-padahal..." Akhirnya suaranya terdengar juga. "P-padahal... padahal batu itu... sangat murah sekali...! Dan aku sangat suka...!"

Kugenggam bahunya. Yangmei tidak bisa dikerasi. Jadi... apa dia mau mendengarku, meski aku berusaha selembut apapun? "You Ma, apa yang dikatakan kakak pertama benar. Kalau segala masalah ini selesai, seribu Yuhua Shi-Batu Hujan Bunga pun akan kubelikan untukmu...!"

"Tapi bagaimana Yuhua Shi-Batu Hujan Bunga yang aku inginkan itu sudah tidak ada?" Balas Yangmei cepat. Mukanya sudah merah karena sedih, marah, dan jengkel. "Bagaimana kalau sudah dibeli orang lain? Bagaimana kalau kita tidak kembali lagi ke sini?" Suaranya perlahan pecah, dan aku benar-benar tidak ingin melihat wajah sedih Yangmei...! Tapi...

Kuulurkan tanganku, hendak menghapus airmata di wajahnya.

Namun aku sungguh tidak menyangka. Yangmei tiba-tiba menepis tanganku.

"Ini salah kakak!" Serunya penuh kemarahan. Jari telunjuknya teracung ke arahku. "Ini semua gara-gara kakak! Kalau bukan karena kakak, kita pasti mendapatkan hadiah uang dari kompetisi Gaibang barusan! Padahal, aku sudah berjuang keras! Dan... dan sekarang aku cuma mau batu yang harganya dua puluh lima keping perunggu ini...! Tapi... tapi... tapi kakak tidak mau membelikan!"

Aku berusaha mendekat saat ia berteriak dan mengusap airmatanya dengan kasar begitu. Tuduhannya itu sudah tidak penting lagi untukku, tetapi bagaimana caranya menenangkannya. "You Ma..."

"Kakak tidak sayang padaku!"

Dengan satu kalimat itu, Yangmei berbalik pergi, kemudian lari sejauh-jauhnya dari kami.


(1) Baca "Phoenix FORM: Coloured Glaze" chapter 18 (Pristine Red Drops) kalo lupa~~~

(2) Seperti yang sudah dijelaskan, itulah Yuhua Shi-Batu Hujan Bunga. Dulu pas saya ke China, saya menemukan batu ini dan sumpah bagus banget. Apalagi murah (5 RMB dapet 3 biji! 5 RMB tuh dulu cuma lima ribu rupiah)! Ya udah deh... jadilah saya beli banyak trus saya jadikan oleh2. Saya juga beli buat saya sendiri yang warnanya merah buanget kayak darah getu. Bagus, tapi sayangnya udah hilang... *garuk tanah* Bagi yang nggak pernah liat dan nggak bisa membayangkan, silahkan Google dengan keyword '雨花石'/'Yuhua Stone'/ 'Rain Flower Stone'

(3) Baca "Phoenix FORM: Gentle Flame" chapter 11 (He Knows) kalo lupa~~~

(4) Baca "Phoenix FORM: Unbroken Thread" chapter 10 (Tui Chu Wu Men Zhan Shou) dan "Phoenix FORM: Unbroken Thread" chapter 18 (Maze of No Return) kalo lupa~~~

Manjanya si Yangmei kumat lagi...

CHEAP SPOKEN! KAGAK PERLU DIBACA KALO KAGAK NIAT!
Basically, yang Yangmei alami yakni nggak bisa tidur sangking kedinginan, itu berdasarkan pengalaman pribadi... Wkwkwkw... pas saya KKN di Kupang, saya juga nggak bisa tidur. Bedanya, kalo Yangmei gara2 kedinginan, saya gara2 kepanasan. Well... untung aja akhirnya saya bisa tidur... Hohoho~ Sumpah saya desperate setengah mati! Soalnya besok harus kerja berat. Well, sampe2 saya kayak Yangmei getu...

*baca ulang bagian awal* Kayaknya chapter ini cuma berfungsi untuk Crowing Moment of Heartwarming AKA unyu2annya Lu Xun ama Yangmei, deh... *sigh*

BTW, saya nggak bisa update hari Sabtu ini... Soalnya pas hari itu saya masih liburan ama keluarga (di Bali~ hohoho~). Jadi saya updatenya pas saya pulang aja, ya... That's it, hari Senin (jadi pas minggu depan). Kayaknya saya updatenya agak malem, deh... soalnya baru sampe rumah...

That's it for today's chap! Zai Jian!