AUTHOR'S POV
Sebuah tangan yang hangat mendarat di kening Souji.
Souji terbangun dan membuka matanya yang terasa sangat berat.
"Kau sakit." Tuntut Yosuke yang wajahnya berada tepat di atas wajah Souji yang pucat.
Tubuh Souji berkeringat, panas, dan gemetar. Nafasnya terasa hangat. Gejala flu sangat mudah terdeteksi. Yosuke segera mengambil obat-obatan dari koper miliknya.
Di luar kusen jendela, matahari sudah menampakkan diri. Awan menggantung rendah di kaki langit, melindungi bumi dari terik matahari yang menyengat. Angin sepoi-sepoi membuat pohon di luar bergoyang kesana kemari. Tidak terlihat sedikitpun tanda-tanda hujan.
"Kau ngapain sih kemarin? Setengah jam setelah aku dan Chie pergi meninggalkanmu, kenapa kamu baru kembali? Belum lagi, kau datang dengan rambut hingga kaki basah kuyup dan tangan bernoda darah. Tidak heran sekarang kau sakit." Yosuke mengambil air hangat untuk Souji.
Souji tidak menjawab, tenggorokannya yang kering juga mulutnya yang terasa kaku membuat dirinya malas membuka mulut. Souji hanya mengerjapkan mata menatap langit. Pikirannya melayang-layang, memikirkan bagaimana kondisi Yukiko.
Semoga ia tidak sakit, batin Souji.
Yosuke duduk di samping ranjang Souji dan menyuruh Souji meminum obat penurun panas. "Sebelum minum obat, makan roti ini." Kata Yosuke sambil memberikan roti sobek pada Souji.
"Aku tidak mood makan." Ucap Souji dengan suara serak.
Yosuke mendesah, "Itulah yang diucapkan orang sakit. Masa bodoh dengan mood mu. Kau harus makan." Yosuke kembali menyodorkan roti itu.
Dengan malas, Souji bangun dan melakukan apa yang di perintahkan Yosuke padanya.
Apapun rasa yang masuk ke mulut Souji, segalanya terasa pahit. Berulang kali Souji harus meneguk air agar bisa menelan roti itu. Souji hanya mampu menghabiskan separuh roti itu, lalu segera meminum obatnya.
"Sayang sekali kau sakit di saat-saat seperti ini. Padahal seharusnya kita ke sini untuk bersenang-senang dan mengabadikan masa SMA. Man, payah sekali dirimu." Gerutu Yosuke sambil menatap Souji prihatin.
Souji kembali menidurkan diri dan mencoba tersenyum, "Lain kali aku bisa ke sini kok.".
Yosuke mengerutkan kening, "Apa maksudmu?" Tanyanya bingung. Namun Souji sudah kembali tertidur.
~OoOoO~
Yosuke keluar kamar sepelan mungkin. Sekarang sudah waktunya makan siang dan ia kelaparan. Souji juga butuh makan, jadi Yosuke akan membelikannya di rest area nanti.
Di aula, Yosuke menemukan Chie dan Yukiko bersama cewek-cewek sekelasnya sedang sibuk mengobrol. Yukiko tampak seperti biasa, tidak ada yang berbeda. Tentunya selain sikapnya yang jadi suka terdiam memikirkan sesuatu. Dari pagi sudah begitu. Dan Chie juga tidak tahu harus bersikap bagaimana pada sikap aneh Yukiko.
Yosuke menepuk bahu Chie dan Yukiko, "Dia sakit." Katanya memberitahu.
Berpasang-pasang mata yang duduk di meja itu menatap Yosuke heran, kecuali Chie dan Yukiko yang menatap Yosuke dengan lesu.
"Parah tidak?" Tanya Yukiko mendahului Chie yang sudah membuka mulut.
Yosuke merunduk sambil menumpukan lengannya pada kursi kedua gadis itu, "Lumayan. Ia berkeringat banyak sekali dan hanya tidur sepanjang hari. Aku sudah mengkompresnya, tapi entah bisa bermanfaat atau tidak." Jawab Yosuke perlahan.
"Siapa yang sakit?" Celetuk salah satu cewek-cewek di meja mereka.
"Souji." Jawab Chie pada mereka. Yang di sambut dengan keluhan prihatin dari banyak cewek-cewek itu.
"Bagaimana bisa?" Tanya cewek yang rambutnya panjang bergelombang.
Serempak, Yosuke dan Chie menatap Yukiko. "Yeah, bagaimana bisa?" Tanya Chie.
Yukiko terdiam, tidak mampu menatap siapapun sementara banyak pasang mata menatapnya. Ternyata anak-anak yang sedang mengantri untuk jatah makan di dekat mereka ikut mendengarkan pembicaraan tersebut.
"Aku hanya tahu kalau kemarin aku tenggelam. Lalu entah bagaimana, Souji menyelamatkanku." Yukiko sama sekali tidak berani memberitahu mereka tentang kegiatannya seharian bersama Souji. Memancing, makan malam, nafas buatan, Souji yang menangis. Yang paling meresahkan Yukiko adalah air mata. Errr, juga nafas buatan.
"Huh?" Hanya itulah komentar dari yang mendengarkan.
Yukiko mendecak, "Pokoknya begitulah. Hari sudah malam saat itu, jadi air sungai juga dinginnya tidak kira-kira.".
"Lalu kenapa kau tidak sakit?" Tanya cewek di samping Chie.
"Itu karena.." Yukiko hendak menjawab, tapi kata-katanya mengantung di udara. Yukiko menatap Chie dan Yosuke. Seingat Yukiko, Yosuke mengendongnya dan Chie ada di samping Yosuke.
Chie mengerti maksud Yukiko yang meminta penjelasan tentang semalam, "Souji memintaku dan Yosuke segera mengantarkanmu ke kamar. Setibanya di kamar, aku menceburkanmu ke dalam bak penuh air hangat bahkan saat kau masih memakai pakaian lengkap dengan sepatumu." Lalu Chie menatap Yosuke.
"Sementara Souji tetap berada di sana." Lanjut Yosuke.
"Apa yang dilakukannya di sana?" Celetuk cewek lainnya.
Chie tersentak lalu buru-buru merogoh kantung jaketnya, ia mengeluarkan gelang persahabatan milik Yukiko, "Aku baru ingat! Kemarin malam, tepat setelah Yukiko tertidur, Souji datang dan memberikanku ini. Ia basah kuyup dan menenteng sepatu dengan sebelah tangan." Di taruhnya gelan itu di tangan Yukiko.
Yukiko membelalak mendengar perkataan Chie. Ia ingat, bahwa alasan kenapa dirinya tenggelam adalah karena mencoba mengambil gelang itu. "Aku.. Kakiku kram saat meraih gelang yang tercebur ke sungai ini. Karena ini satu-satunya gelang persahabatanku, aku tidak mau melepasnya. Lalu aku.. Tenggelam." Jelas Yukiko sambil menatap gelang itu tidak percaya.
Tunggu.. Bila Souji tidak segera kembali ke kamarnya justru tetap berada di sekitar sungai, lalu tiba-tiba menitipkan ini pada Chie beberapa saat kemudian. Apakah Souji mencari gelangku? Tapi aku tidak pernah mengungkit gelang ini pada Souji.
Yukiko sibuk dalam pikirannya sendiri sementara teman-temannya asyik membicarakan topik mengenai Souji yang sakit. Yukiko tiba-tiba berdiri, membuat Chie dan Yosuke menoleh. "Biar aku mengantikanmu merawat Souji. Bisa kupinjam kunci kamarmu?" Yukiko mengulurkan tangan pada Yosuke.
"Tentu. Terima kasih." Yosuke memberi Yukiko kunci kamarnya, "Souji belum makan siang, omong-omong. Tadi pagi aku hanya memberinya roti. Bisa aku menitipkan makan siang Souji padamu?".
~OoOoO~
Untunglah Yukiko tidak terpergok sedang memasuki kamar Souji. Saat pintu di belakang Yukiko menutup, yang membuatnya sendirian bersama Souji yang terlelap, detakan jantung Yukiko berpacu lebih cepat.
Yukiko menaruh bubur untuk Souji di meja, lalu mendekati ranjang Souji.
Souji bergeming. Nafasnya berat. Suhu tubuhnya belum menurun.
Yukiko melepas handuk kecil di kening Souji, berjalan ke kamar mandi untuk memerasnya dan mengantinya dengan handuk yang dingin. Saat di taruhnya kembali handuk itu di kening Souji, pelupuk mata Souji bergetar terbuka.
Yukiko duduk di tepi ranjang Souji.
"Yukiko..." Desah Souji sedikit senang.
Yukiko tersenyum kecil dan membalas tatapan hangat Souji, "Ya?".
"Apa.. Yang kau lakukan? Di sini?" Tanya Souji lambat-lambat.
Yukiko berdiri dan berbalik untuk mengambil bubur Souji. Ia menyiapkan air minum dan obat sebelum kembali ke sisi Souji. "Aku tidak akan membiarkanmu, yang telah menyelamatkanku dari maut, kelaparan bukan?" Ucapnya sambil membantu Souji duduk.
"Tapi.. Aku tidak lapar." Tolak Souji halus.
Yukiko menggeleng dan menyendok bubur Souji, "Kau tetap harus makan. Buka mulutmu." Pinta Yukiko.
Souji mengerang sebelum membiarkan Yukiko menyuapinya seperti anak kecil yang susah di suruh makan. Waktu berjalan lamban selama Yukiko memasukkan bubur ke dalam mulut Souji. Mereka tidak berbicara, tapi mereka selalu memandang satu sama lain.
Hingga bubur itu akhirnya habis, Souji minum kemudian kembali rebahan di kasur. Yukiko sibuk membereskan peralatan makan.
Setelah beres, Yukiko kembali duduk di dekat Souji. Kali ini Souji tidak memejamkan mata. Entah kenapa Souji jadi memiliki keinginan untuk tetap terjaga. Mungkin karena kehadiran Yukiko di dekatnya.
Yukiko menyentuh jemari Souji di atas selimut, "Terimakasih soal kemarin. Soal segalanya." Souji menatap Yukiko.
Yukiko menelan ludah karena merasa di pandangi Souji dengan tatapan yang berbeda dari biasanya, "Maaf kau jadi sakit karenaku." Lanjut Yukiko tanpa menatap mata Souji.
Souji menggenggam jemari kecil Yukiko, "Aduh, kepalaku sakit mendengarmu minta maaf. Simpanlah kata-katamu untuk kapan-kapan, jangan membuatku tersiksa dengan kalimat anehmu." Gurau Souji.
Yukiko tersenyum dan membalas genggaman Souji, "Dasar..".
Mereka kembali bertatapan.
Detik itu, Souji melepaskan perasaan cintanya dari sorotan mata kelabu miliknya. Sekali itu, Souji ingin sekali Yukiko mengetahui cintanya.
Yukiko pun membeku di tempat. Perasaan Souji tersampaikan padanya, namun ia mencoba mengenyahkannya. Yukiko takut dirinya salah dan pada akhirnya mengetahui bahwa dirinya berhalusinasi. Yukiko memutuskan untuk membungkam perasaan hangat di dadanya, dan tersenyum pada Souji.
"Istirahatlah." Kata Yukiko.
Souji menggeleng. Yukiko mengerutkan alis, "Kenapa?".
Souji menarik nafas sebelum bicara, "Aku tidak mau, jika nanti aku terbangun dan kau tidak lagi ada di sisiku.".
Kembali Yukiko terhenyak mendengarnya.
Jarinya yang di genggam Souji terasa nyaman dan tergelitik.
"Kalau begitu, aku akan ada di sini hingga nanti kau bangun. Jadi tidurlah." Jawab Yukiko.
"Berjanjilah padaku." Pinta Souji lemah.
"Aku berjanji, akulah orang pertama yang kau lihat saat kau terbangun.".
Souji menutup matanya sambil tersenyum.
~OoOoO~
Cahaya sore menerobos masuk dari kusen jendela. Semburat warna oranye dan merah terang menerangi kamar yang sepi itu. Sehebat apapun pendengaran, hanya suara desahan nafas yang terdengar. Hingga sesaat kemudian.
Souji membuka mata dan langsung turun dari kasur sambil melempar handuk di keningnya. Yukiko tersentak terbangun dari tidurnya. Souji berlari menuju kamar mandi dan membanting pintu. Suara orang muntah terdengar.
Yukiko bergegas mengambilkan air untuk Souji. Saat Yukiko berdiri di depan pintu kamar mandi dengan gelas di tangannya, kekhawatiran tersirat di wajah manis itu.
Sesaat kemudian pintu kamar mandi terbuka. Souji berkeringat, pandangannya bergoyang, handuk mandi yang sedikit basah tersampir di lehernya, dan wajah yang telah di basuh air melangkah keluar kamar mandi.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Yukiko.
Souji tidak mampu menjawab. Tubuhnya menolak melakukan lebih banyak gerakan, dan Souji jatuh ke dalam pelukan Yukiko. Kepala Souji menyentuh bahu Yukiko dan hidungnya mampu mencium aroma wangi rambut Yukiko. Tangannya mencoba untuk menahan beban dirinya dengan menekan tembok di belakang Yukiko.
"Hey.." Bisik Yukiko setelah terkejut menerima beban tubuh Souji.
Kulit Souji yang panas bersentuhan dengan kulitnya. Desahan nafas panas Souji terasa di lehernya. Wajah Yukiko berubah semerah tomat sementara dirinya membantu Souji kembali ke kasurnya.
Sebelum Souji kembali tiduran, Yukiko memberikan air pada Souji yang di teguknya hingga habis. "Tidurlah lagi." Pinta Yukiko. Souji menuruti perintah Yukiko tanpa pamrih.
~OoOoO~
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Yosuke yang masuk ke dalam kamar sepelan mungkin.
Yukiko menaruh novel miliknya sebelum menjawab Yosuke, "Begitulah. Tadi sempat muntah.".
Yosuke mengangguk mengerti lalu duduk di sebelah Yukiko, di lantai samping kasur Souji.
"Chie tidak datang?" Tanya Yukiko dengan suara pelan.
Yosuke menggeleng, "Ia mau ke sini, tapi para penjaga area sudah bekerja lagi. Mereka berpatroli jauh di sana, kau tahu? Kau beruntung mereka belum beraksi saat dirimu datang ke sini." Jawab Yosuke dengan suara yang sama pelannya.
"Oh.. Kapan mereka akan pergi?".
"Uh... Aku tidak tahu. Biasanya mereka berjaga semalaman suntuk.".
Yukiko membelalak, "Lalu bagaimana aku akan kembali ke kamarku?".
Yosuke mengernyit, "Aku tidak tahu.".
Yukiko menelan ludah.
"Tidak seburuk itu kok menginap di sini. Kamarnya sama saja. W-well, terlepas dari barang-barang kami yang berceceran." Ujar Yosuke setelah melihat raut wajah Yukiko.
Yukiko mendesah, "Bukan itu yang kukhawatirkan. Tapi... Yang benar saja! Sekamar dengan dua pria? Terlebih lagi, di mana aku tidur? Sekasur bersamamu? Bunuh aku dulu!" Yukiko memeluk lututnya dengan perasaan campur aduk.
Yosuke hendak menenangkan sahabatnya itu, "Heh, gila..! Aku tidak akan begitu kok. Aku sudah memikirkannya. Biar aku nanti malam pindah ke kamar Kou dan nginap di sana. Kau tidak apa-apa mengurus Souji untukku? Karena aku lebih tidak mau kau sekamar dengan Kou. Akan gempar nanti kalau ada yang tahu kau menyelinap ke kamar cowok." Jelas Yosuke panjang lebar.
Yukiko menatap Yosuke, "Jadi kau sudah memikirkannya? Kau tahu ini akan terjadi?" Suara Yukiko naik satu oktaf dengan nada mengancam.
Yosuke merasa aura membunuh dan segera melakukan gencatan senjata, "Hell! Ya tidak gitu juga. Aku hanya terpikir saat jalan tadi." Wajah Yukiko merileks, "Jadi gimana? Kau tetap di sinikan? Malam ini saja kok. Janji tidak akan ada apa-apa.".
Yukiko mendesah panjang sebelum akhirnya mengangguk.
~OoOoO~
Pukul 11 malam.
"Baik, aku pergi. Jika ada apa-apa, telepon HP ku saja. Jangan lupa kunci pintu. Dan tolong rawat Souji." Ucap Yosuke sebelum membuka pintu.
Yukiko tertawa kecil, "Yeah, Ibu.".
Yosuke nyengir kuda di panggil Ibu, lalu ia keluar.
Yukiko mengunci pintu seperti yang Yosuke katakan.
Yukiko berbalik dan menyelipkan tangan ke rambutnya. Sepertinya ia harus tidur di kasur Yosuke malam ini. Oh semoga Chie tidak murka, pintanya dalam hati.
Yukiko mengambil handphone miliknya lalu menaruh benda itu di meja kecil samping tempat tidur, agar bila ada keadaan gawat ia bisa segera menelepon Yosuke. Yukiko menghempaskan diri di kasur Yosuke, lalu memutar tubuh menghadap Souji.
Gadis itu menatap Souji lama sebelum akhirnya menyerah pada rasa kantuk.
~OoOoO~
Suara badai di luar membuat Souji terbangun.
Hal pertama yang terlintas di benak pemuda itu ialah gadis pujaannya, Yukiko. Ia berandai-andai, di manakah gadis itu berada saat ini.
Tubuh Souji terasa kaku dan berat. Penyakit flu yang di deritanya membuat Souji merasa tidak nyaman. Souji menelengkan kepalanya sedikit; ia terkejut.
Yukiko tertidur di kasur Yosuke dengan nyenyaknya. Mungkin gadis itu lelah setelah berjam-jam merawat Souji. Souji yang melihat Yukiko terlelap tanpa selimut, bangun hanya untuk memberikan selimutnya kepada Yukiko.
Beberapa waktu lalu, Yosuke tidak sengaja menumpahkan sirop pada selimutnya sendiri, sehingga sekarang selimut Yosuke berada di ruangan cuci para pengurus asrama.
Souji tertatih-tatih menuju kasur Yosuke. Kepalanya terasa ditusuk-tusuk dan pandangannya susah di fokuskan. Pusing. Dengan gerakan lemah, Souji membentangkan selimut di atas tubuh Yukiko. Souji berlutut di samping Yukiko lalu mengecup kening gadis itu perlahan.
Saat Souji kembali berdiri, pandangannya terpaku pada jendela. Tidak banyak yang bisa di lihat dari keadaan cuaca segelap itu, tapi sangat jelas terlihat pepohonan yang bergoyang, curah hujan menderu deras, dan langit gelap tanpa bintang.
Souji berbalik dari pemandangan suram itu untuk kembali tidur di kasurnya.
~OoOoO~
Dua puluh menit kemudian...
Yukiko terbangun perlahan. Di rasakannya gesekan selimut halus pada kulitnya. Yukiko tertegun sejenak, ia tidak ingat sempat memakai selimut sebelum tidur.
Dengan mata setengah terpejam, tertangkap sosok pemuda berwajah pucat di kasur seberang. Souji. Yukiko mengerjap sebelum teringat kenapa ia bisa ada di kamar laki-laki itu. Lalu gadis itu menangkap gerakan samar Souji.
Dia gemetaran... Batin Yukiko sambil turun dari ranjangnya.
Yukiko berjalan ke samping Souji; meletakkan tangannya di kening Souji yang panas. Yukiko bertanya-tanya kenapa Souji tidak memakai selimut, dan Yukiko mengambil selimut dari kasurnya.
Sekali lagi Yukiko tertegun di hari yang panjang ini. Apa Souji memakaikanku selimut..?
Sambil menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran tersebut, Yukiko menyelimuti Souji. Yukiko lalu duduk di tepi ranjang pemuda sakit itu.
Yukiko melamun sambil terus menatap Souji tidur... Tak lama, rasa kantuk kembali menyerangnya...
Tepat saat itu, mata Souji terbuka perlahan.
Selama sesaat, mereka hanya saling memandang satu sama lain.
Souji sadar Yukiko mengembalikan selimutnya.
Souji bergeser dari posisinya sambil menarik Yukiko hingga tubuh Yukiko tertidur di sampingnya. Yukiko tidak melawan ataupun berkomentar, toh ia mengantuk. Hujan di luar sana masih deras dan udara semakin dingin dengan berlalunya waktu. Namun fajar belum terlihat.
Yukiko memiliki dorongan kuat untuk mendekati Souji. Kantuknya memberikan keberanian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Yukiko merapat pada Souji, meletakkan sebelah tangannya di leher Souji, dan menyenderkan kepalanya di dada bidang Souji. Yukiko pun memejamkan mata.
Menyadari kedekatan mereka, Souji memeluk Yukiko seperti yang telah di lakukannya berkali-kali dahulu. Agar tidak tertular, Souji memosisikan dagunya berada di atas kepala Yukiko.
Andai aku memiliki satu permintaan yang pasti di kabulkan oleh Tuhan...
Aku pasti akan meminta dirimu.
