THE LEGENDIARY OF KORRA
Disclaimer: Based on Twilight Saga by Stephenie Meyer
.
.
44. Kabut (Kierra -6-)
Tuesday, May 27th, 2014
.
.
Kuhabiskan waktu cukup lama di hutan, berusaha melacak aroma manis yang tersisa. Sayangnya, baunya begitu tipis hingga indera penciumanku nyaris tak bisa mengendusnya. Penasaran, kembali aku merambah hutan. Namun dua kali, tiga kali, empat kali, hasilnya tetap saja nihil. Akhirnya, begitu hari sudah terlalu larut, terpaksa aku menyerah dan kembali ke desa.
Keanehan sudah kudapat bahkan sebelum aku melangkah melewati gerbang luar desa. Biasanya calon inangku menunggu di pos perbatasan, namun kali itu, kedatanganku hanya disambut seekor serigala biasa.
Meski agak mengernyit, kuserahkan juga belati berburuku dan mengambil lembar kain bersih yang ia angsurkan, lantas pergi ke balik pepohonan untuk berganti pakaian. Sementara aku melakukan ritual penyucian—menghapus borehan oker pada wajah dan tubuhku dan memercikkan air ke seluruh tubuh—, ia menunggu dengan patuh. Segera setelah aku melakukan gerak penutup dengan memohon izin masuk kepada Roh Penjaga Desa, masih menundukkan kepala, diikutinya aku memasuki desa.
*Apa ada yang terjadi selagi aku pergi?* tanyaku seraya menerima kembali belatiku begitu melewati gerbang dalam. Peraturan suku menegaskan bahwa tiada yang boleh memegang senjata, kala melalui daerah peralihan antara gerbang luar dan gerbang dalam desa. Peraturan ini berlaku bagi serigala maupun manusia. Senjata hanya boleh dibawa oleh para pelayan, itu pun dalam keadaan tersarung. Daerah peralihan adalah daerah suci, tempat bersemayamnya roh-roh nenek moyang pelindung suku. Menghunus senjata berarti menghina Roh Penjaga Desa.
Ia tak kunjung menjawab, dan seketika kutahu ada yang salah.
"Katakan!" Itu bukan cuma perintah, tetapi tuntutan.
Ia kelihatan ragu dan gemetar, namun lidahnya menjawab juga, *Seekor Makhluk Dingin datang, Paduka.*
Aneh sekali, aku tidak mendengar pertempuran apapun selama aku di hutan tadi. *Lalu? Apa kalian berhasil membunuhnya?*
*Tidak, Kepala Suku. Tuan Putri mengatakan bahwa beliau mengenalnya, dan menerimanya sebagai tamu.*
Itu hanya berarti satu.
*Di mana mereka sekarang?*
*Itu…,* ia kembali terlihat gugup.
Tak sabar, lekas aku membaui udara. Kudapati jejaknya mengarah ke kandang para budak, bercampur dengan bau busuk nanah dan ramuan obat. Emosi yang aneh melesat cepat—dan itu sama sekali bukan kegembiraan—membuatku menyentakkan pintu dengan kasar. Seketika ketakutan menyeruak. Bak batang gandum, mereka yang masih dapat bergerak buru-buru memaksakan diri menghaturkan sembah.
*Siapa yang memberi izin—*
Dan kata-kataku terhenti, pada detik ketika pandanganku terantuk pada satu sosok di antara tumpukan budak.
Oh, seakan dunia di sekelilingku berputar kala kulihat sosoknya. Tubuh pucat dengan rambut yang sama pucat itu. Kali ini rambut ikalnya terikat di tengkuk, sebagian helaian yang terlepas tampak menutupi wajahnya. Ia memakai atasan putih berlengan lebar yang biasa dipakai para budak, lengannya tergulung hingga siku. Noda darah mengotori lengan dan bagian depan bajunya. Satu tangannya memegang lap basah. Sementara di sisinya, tampak satu wadah besar berisi air yang sudah kotor oleh darah dan nanah, beserta satu wadah kecil berbau pekat yang jelas berisi obat.
Melihatku, tak ada satu kata pun keluar dari bibirnya. Ia hanya mengangguk kecil memberi hormat, lantas kembali menekuni pekerjaannya.
Para budak saling berpandangan, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Namun, sadar aku tak bicara atau melakukan apapun, takut-takut, satu per satu kembali bangkit.
Dan apa yang kulakukan, kala aku hanya terpaku di ambang pintu? Tidakkah seharusnya aku menerabas padang manusia? Menarik bagian depan bajunya, lantas melemparnya menembus tembok kayu, menendangnya keluar suku saat itu juga? Atau langsung membunuhnya di tempat karena tidak menghormatiku? Atau lebih tepat jika menyeretnya ke penjara bawah tanah, menyiksanya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ia inginkan di tanahku?
Sungguh itu hal yang ingin kulakukan. Sangat. Jadi apa yang menahanku?
Apakah karena aku sudah berjanji akan mengizinkannya datang? Karena calon inangku sangat mengharapkan kedatangannya? Atau…
Kuhalau kemungkinan terakhir jauh-jauh. Kualihkan pikiranku dengan mengedarkan pandangan ke dalam kandang.
Biasanya yang mengurus para budak adalah para prajuritku. Aku sendiri tak pernah peduli, sehingga aku baru kali itu kulihat seperti apa kandang mereka. Ketimbang barak pengobatan, tempat itu lebih seperti liang kematian. Gelap, pengap, kotor, lebih lagi dijejali budak-budak penyakitan. Baunya membuatku mual. Keberadaan satu jendela kecil yang terbuka sama sekali tidak membantu.
Namun di baliknya, kurasakan ada sedikit kehidupan. Di antara para pesakitan yang berjejer bak dendeng ikan yang tengah dijemur, tampak beberapa budak yang masih cukup sehat berjalan hilir mudik. Si anu membawakan air untuk si anu, obat untuk si anu, sementara yang lain memasang perban atau mengganti air kotor di wadah besar. Semua berpusat pada satu orang: si Makhluk Dingin. Dan mereka kelihatan melakukannya dengan sukarela.
Tak tahan lagi melihat semua itu, aku berbalik hendak kembali ke pondokku. Namun baru saja memutar tubuh, tahu-tahu aku bertabrakan dengan seseorang. Lebih parah lagi, ia membawa jolang logam besar berisi air. Segera saja air itu menyiramku hingga basah kuyup.
Terdengar suara air menyiprat keras. Bunyi gedebuk. Logam berkelontangan. Seseorang mengaduh.
*Bodoh! Kaukemanakan matamu?!* bentakku tanpa melihat siapa itu.
*Ka-Kakak?*
*Kau?* kerungku, bingung. Mengapa aku tak menyadari kehadiran calon inangku sendiri?
Keterpanaan yang sama juga tampak di matanya. Lekas kuulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Ia tak lantas menyambutnya, justru mengumpulkan barang-barang yang terjatuh. Baru saat itulah kusadari apa gerangan yang ia bawa: beberapa lembar kain bersih—yang beberapa sudah kotor terkena tanah—serta jolang yang sudah tak ada isinya.
*Sedang apa kau?* tanyaku, menarik tanganku kembali.
Ia bangkit. Matanya, anehnya, agak menantang kala ia menjawab mantap, *Melakukan tugasku.*
*Tugas?*
*Aku Wakil Kepala Suku. Jika Kakak tidak bisa melakukan tugas Kakak untuk melindungi dan menyelamatkan nyawa masyarakat suku ini, maka aku yang harus menggantikan.*
*Masyarakat suku?* aku menggeram. *Mereka budak!*
*Tetap saja. Ketika kita merampas kemerdekaan mereka, kita tak hanya berhak mengambil keuntungan. Kita juga mengambil tanggung jawab atas mereka.*
Tidak biasanya kekurangajaran seperti ini datang darinya. Ia, yang selama ini kurawat, kudidik, dan menjadi tangan kananku. Namun ketika aku kembali menyalak, tahu-tahu saja makhluk itu, yang sedari tadi diam-diam memperhatikan, meluncur ke arah kami. Tepat saat tinjuku nyaris menghantam rahang gadis itu, tangannya yang dingin menahanku.
Tidak pernah aku membiarkan siapapun menyentuhku tanpa persetujuan, terlebih bila ia adalah seekor mantan budak. Segera kurenggut bagian depan kemeja yang ia pakai, mendesis tepat di depan wajahnya. *Kau lintah busuk! Apa yang kaubisikkan pada Putri, hah?!*
*Harap sarungkan kemarahan Paduka. Hamba tidak melakukan apapun selain menolong,* ucapnya, dengan tenang melepaskan pakaiannya dari cengkeramanku. *Jika Kepala Suku ingin tinggal, hamba persilakan Anda untuk mengulurkan tangan.*
*Dengar! Aku belum memberi izin…*
*Hamba dan para pasien butuh ketenangan,* ia memotong sebelum kalimatku mencapai titik. *Mohon Kepala Suku tidak berbuat gaduh di tempat ini. Permisi.*
Begitu saja, ia kembali ke kandang sial itu. Meninggalkanku, yang membeku dengan mata membelalak dan mulut separuh terbuka. Calon inangku mengikutinya tanpa bicara apa-apa lagi. Matanya masih mengekorku rawan. Ada ketidakpercayaan sekaligus ketakutan, dan yang sangat kusesalkan, ada pula kekecewaan. Namun si Makhluk Dingin memberi senyum menenangkan padanya, dan ia membalasnya.
Tak lama ia sudah hanyut dalam mantra makhluk itu, melakukan apapun hal bodoh dan tak berguna yang dimintanya. Tangannya menyentuh tubuh para budak. Jemarinya membersihkan luka mereka. Bibirnya menyunggingkan senyum dan menggumamkan kata-kata pengharapan. Oh, ia bahkan berjanji akan memberi makanan tambahan dan pakaian bersih—makanan dan pakaian, demi Roh Semesta! Seolah suku tidak kekurangan saja belakangan! Belum cukup, sempat kutangkap bahwa ia akan mengusahakan pondok—brengsek, ia mengatakan 'pondok' alih-alih 'kandang'—yang lebih bersih dan layak bagi para budak.
Dan matanya … matanya terus melirik ke arah si Makhluk Dingin. Dan kulihat, sesaat kala si Makhluk Dingin menangkapnya, mereka bertukar senyum.
Oh, brengsek.
Aku tak tahan lagi. Menghantam dinding, lekas aku terbang meninggalkan tempat terkutuk itu.
.
.
Dia mata-mata.
Dia mata-mata, aku tahu.
Apa lagi memang? Ini bukan pertama kali ia menginjak tempat ini. Ia jelas mengenal tanah kami, mengetahui bahasa kami, tahu siapa kami… Dan kini ia ada di sana, di kandang para budak. Menunjukkan pada dunia bahwa aku tak bisa apa-apa, dan hadir sebagai dewa penolong.
Oh, bahkan ia menggaet calon inangku ke pihaknya.
Dia bukan cuma mata-mata. Ia ditanam untuk menghancurkanku dari dalam.
*Kakak bicara apa? Ini tidak seperti yang Kakak pikirkan! Oh, bahkan penyakit itu bukan wabah yang sengaja disebarkan oleh bangsa kulit pucat!* seru calon inangku, ketika aku berusaha membuka matanya.
Beberapa hari ia dan Bapa terus mengurung diri di kandang budak. Memang selama itu angka kematian budak menurun, tapi itu tetap saja melanggar harga diriku. Bagaimana mungkin aku bisa mempertahankan citra di hadapan semua orang, tatkala seekor Makhluk Dingin, dan calon inangku sendiri, terang-terangan mengabaikan kemarahanku? Akhirnya setelah aku mengancam akan membakar kandang, mau juga ia memenuhi panggilan ke pondokku.
*Dari mana kau tahu?* desisku.
*Gejala penyakit ini sama dengan cacar.*
*Cacar?*
*Ya. Penyakit ini memang sedang mewabah di luar sana. Tak hanya suku kita. Suku di selatan dan di barat sana … juga banyak orang-orang kulit pucat jadi korban.*
*Oh, kau sudah pintar sekarang. Coba kutebak: Bapa yang memberitahumu?*
*Ya, Kak. Dan menurutnya, penyebabnya bukan air beracun seperti yang kita sangka.*
*Sebelumnya tak pernah ada penyakit seperti ini!* gerutuku. *Setelah makhluk-makhluk pucat itu berseliweran, barulah ini terjadi. Sudah jelas mereka penyebabnya!*
*Tidak, Kak. Jika memang mereka meracuni air, sudah barang tentu tak hanya ternak, hewan-hewan liar di sekitar sini pun akan mati. Nyatanya, itu tidak terjadi, bukan? Dan mereka takkan melakukan itu, jika tahu ketimbang menghabisi kita, mereka akan lebih membahayakan bangsa mereka sendiri—para budak, yang berusaha mereka bebaskan.*
*Lalu apa?*
Ia tak langsung menjawab, tampak mempertimbangkan sesuatu. Ketika akhirnya ia membuka mulut, ia mengatakan, *Tikus,* tapi kutahu ia berbohong.
*Baik. Perintahkan Bapa ke sini. Aku ingin bicara langsung padanya,* titahku, tidak pada calon inangku, tetapi pada dua serigala yang berjaga di luar pondok.
Kekhawatiran tampak jelas tak hanya di mata gadis itu, tapi juga pada kedua serigala. Tapi melihat calon inangku mengangguk memberi persetujuan, dua serigala itu segera pergi, dan kembali beberapa waktu kemudian dengan menggiring si Bapa.
*Sang Putri mengatakan kau mencoba menangani wabah,* aku bersabda, begitu makhluk itu menghaturkan sembah di hadapanku.
*Benar, Kepala Suku.*
*Belum ada kemajuan berarti, kulihat…*
*Maafkan hamba, tapi obat untuk penyakit ini memang masih dicari. Saat ini yang bisa hamba lakukan hanyalah mencegah penularan dan mengurangi kecepatan perkembangan penyakit itu, guna memperpanjang jangka hidup si penderita.*
Dalam hati aku mendengus. Belum ada obatnya? Yang benar saja!
*Sebenarnya masih ada cara,* lemparku. *Kau bisa menggunakan ludahmu, atau menggigit mereka saja sekalian.*
Kelebatan pertimbangan—bukan karena ia separuh menyetujui, melainkan karena ia sedang memilih kata-kata yang tepat—bermain di wajahnya sebelum ia menjawab, pelan dan hati-hati, "Hamba tidak yakin. Ludah hamba hanya bisa mengobati luka luar. Dan Anda tentu tahu, tidak baik menambah jumlah Makhluk Dingin, jika persediaan makanan mereka tidak mencukupi."
*Ya sudah, kalau begitu jalan keluarnya mudah. Bunuh saja semua yang terjangkit. Bakar mayat serta barang kepunyaan mereka sebelum yang lain tertular. Dengan begitu kita bisa menekan kerugian hingga sepertiga. Sisanya harus segera kita jual murah.*
*Kakak!* seruan calon inangku tidak hanya bernada ketidaksetujuan, tetapi juga peringatan. Di sisinya, si Makhluk Dingin juga melontarkan pandangan sama. Tatkala ia bicara, lagi-lagi, ia tampak berhati-hati menyusun kalimat.
*Kepala Suku, Anda perlu memikirkan apa yang akan terjadi jika Anda membunuh para budak…*
*Mereka tawanan perang. Aku bisa saja membantai, tapi aku berbelas kasihan dan memberi kesempatan hidup. Adalah hakku untuk melakukan apapun yang kuinginkan, bahkan mencabut nyawa mereka.*
*Benar. Tapi bagaimana jika mereka melawan?*
*Huh. Memberontak, maksudmu? Mungkin dulu mereka prajurit, tapi mereka takkan bisa apa-apa tanpa senjata.* Terutama karena semua senjata mereka sudah kulucuti. Semua kapal, senapan, meriam, bahan peledak, serta bubuk mesiu telah kusita dan kumusnahkan ketika aku menghancurkan dermaga dan pemukiman.
*Bukan mereka, tapi bangsa kulit pucat, Kepala Suku. Bahkan kini pun mereka sudah memandang suku Quileute sebagai bangsa barbar… Jika Anda membantai para budak, hamba tak yakin mereka akan tinggal diam…*
Perkataan itu membuatku tertawa sinis. *Menurutmu aku akan mungkin kalah?*
Ia tidak menjawab, hanya menundukkan kepala. Dan itu sungguh membuatku murka.
*Kau menyangsikanku, begitu?!* bentakku. Dua serigala yang berjaga di pintu pondok gemetar mendengar amarahku, lekas-lekas menyembah. Tapi si Makhluk Dingin kurang ajar itu bergeming, meski wajahnya tetap menunduk. *Kau tidak lihat berapa yang sudah kumusnahkan?!*
Oh, begitu mudah tangan ini menghancurkan tubuh seekor Makhluk Dingin—mereka kokoh bak batu, tapi seperti batu pula, mereka begitu rapuh, mudah retak dan hancur jadi debu hanya dengan satu pukulan. Ingin betul aku menghantamnya, jika tak ingat apa yang bisa ia lakukan dalam situasi seperti ini. Bukan demiku, tapi demi suku. Dan tentu, yang membuatku geram, bagaimanapun aku berhutang budi—berhutang nyawa—atas kesembuhan calon inangku.
*Maaf,* sikapnya masih tenang, walau jelas-jelas aku nyaris di ambang batas. *Bukan hamba menyangsikan kekuatan Anda. Hanya saja, seperti Anda tahu, kekuatan tidak hanya dinilai dari kemampuan untuk berubah atau berapa yang bisa Anda hancurkan dalam sekali sepak. Anda tidak mengenal kekuatan lawan Anda yang sesungguhnya, apa yang bisa mereka lakukan… Mereka berasal dari tempat yang jauh, sangat jauh, dengan peradaban yang tak pernah Anda bayangkan…*
*Oh, kalau ini soal kano besar dan meriam-meriam itu, itu soal kecil…*
*Tidak, Kepala Suku. Yang mereka miliki jauh lebih dari itu.*
*Lebih?*
*Pernahkah Anda melihat bangunan dengan puncak-puncak runcing menusuk langit, berhiaskan sulur-sulur ukiran yang terbuat dari logam? Pernahkah Anda melihat gambar yang terbuat dari rangkaian benda keras tembus pandang bak lapisan es, tapi berwarna-warni, membentuk lukisan indah yang membiaskan cahaya matahari? Pernahkan Anda melihat patung-patung yang begitu mirip aslinya hingga seolah hidup? Pernahkah Anda melihat deretan rumah yang seakan dibangun di atas air? Pernahkah Anda melihat alat yang bisa membuat Anda melihat benda yang ada di langit—tidak seperti titik-titik bercahaya, tetapi sebagaimana adanya: 'planet', benda bulat aneka warna yang tak ubahnya seperti bumi tempat kita berpijak? Pernahkah Anda melihat ini?* ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. *Ini disebut kompas… Dengan ini mereka mengenali arah dan memetakan laut…*
*Aku sudah melihat benda-benda kecil yang dibawa orang-orang kulit pucat,* decihku, sama sekali tidak merasa kagum. *Jangan pikir aku bodoh. Aku tahu 'kompas' itu tidak diciptakan oleh bangsamu.*
Aku sudah berhubungan dengan mereka selama nyaris tiga dekade. Bukan hanya sekali mereka mengirim barang-barang aneh, baik sebagai upeti maupun sogokan. Selalu, para makhluk pucat itu punya satu penyakit: merasa diri mereka paling hebat, pencapaian mereka paling tinggi, benda-benda yang mereka buat sangat mengesankan… Sepertinya makhluk satu ini sama saja…
*Kau tahu bangsa di selatan? Mereka membangun kuil-kuil tinggi, membuat peta langit, meramalkan pergerakan bintang dan matahari… Kalau cuma soal 'kompas', sudah sejak dulu pelaut dari kepulauan di barat daya sana mengetahui hubungan antara bintang-bintang dan besi yang hanya menunjuk utara dan selatan. Mereka sudah mengarungi lautan, datang ke sini jauh sebelum bangsa kalian mendarat di pantaiku. Mereka juga membuat benda-benda bagus dari logam dan tanduk hewan besar yang tak pernah kalian punya,* Kutunjuk ukiran indah bersepuh emas yang tergantung di dinding pondokku. *Lihat, itu disebut 'cula badak'. Aku mendapatkannya duapuluh tahun lalu, sebelum kalian datang menunggangi kano besar kalian dan mengacaukan pasar!*
*Dan mereka, Kepala Suku, tunduk di bawah kekuatan bangsa yang menunggangi kano besar itu…*
*Dan bangsa yang menunggangi kano besar itu, Bapa, tunduk di bawah cakarku…*
*Anda tidak mengerti, Kepala Suku. Sekarang mereka baru bisa membuat benda-benda seperti ini. Meriam yang bisa Anda hancurkan, peluru yang bisa Anda tepis, kapal yang bisa Anda tenggelamkan… Tapi bagaimana limapuluh tahun lagi, seratus tahun lagi? Mereka bukan suku kecil… Dan mereka tertarik dengan tanah ini. Tak peduli berapa yang Anda hancurkan, mereka akan datang, lagi dan lagi… Kelak akan tiba saatnya mereka bisa menghancurkan Anda.*
Aku terperangah. Bukan karena aku gentar oleh isi kalimat itu, melainkan lebih pada cara ia menyampaikannya. Itu bukan ancaman, sama sekali bukan. Lebih seperti … peringatan.
Lekas kutepis perasaan itu. Tidak ada urusannya seekor Makhluk Dingin, yang jelas-jelas tadinya juga merupakan bagian dari bangsa kulit pucat, mau bersusah-payah berpikir demi suku. Yang ada ia berusaha mempengaruhiku, menakut-nakutiku, agar aku tunduk.
*Oh, dan menurutmu apa yang harus kulakukan, Bapa?* tanyaku sinis.
Menyebalkannya, ia melihat ini sebagai celah untuk mengutarakan pendapat. *Tak lain, Kepala Suku, para budak harus diungsikan, jauh dari suku… Adapun mengenai bangsa kulit pucat, dalam hemat hamba, Paduka perlu membuka diri dan menjalin kerjasama …"
*Tidak ada alasannya aku mau bekerjasama!* seruku geram. *Mereka membunuh dan memperbudak suku-suku selatan. Yang lebih parah lagi, mereka merusak hutan dan sungai! Membunuh hewan-hewan untuk kesenangan! Penghinaan terhadap Roh Bumi adalah bentuk kejahatan tertinggi!*
*Bukan hamba setuju, tapi hamba rasa tidak pantas jika Anda membenci mereka atas dasar itu. Pada dasarnya, Anda sejenis dengan mereka…*
*Apa katamu?!"
*Maaf jika hamba berkata lancang, Paduka. Mereka yang kuat berkuasa dan menindas yang lemah, sebagian orang memang memandangnya sebagai hukum alam. Tapi hamba tidak merasa itu patut dilihat sebagai kewajaran… Bangsa Anda dan bangsa kulit pucat, semua tetap manusia… Manusia tidak seharusnya memperbudak yang lain. Bagaimana jika takdir bergerak terbalik, dan bangsa Andalah yang dijajah? Anda sepantasnya menimbang…"
*Cukup!* aku menghentak bangkit dari dudukku. Ia tahu aku marah, dan seperti yang lain-lain, ia segera menunduk. *Kau berusaha mempengaruhiku, mengubah cara pandangku. Kaupikir aku bodoh, hah?! Kau lintah. Tentu saja kau berusaha menghisap darahku, menggerogoti kekuasaanku.*
*Hamba tidak berani…*
*Oh, tidak? Dan apa yang sekarang ini? Berapa kau dibayar oleh mereka, heh?!*
*Kakak!* seru calon inangku.
*Diam kau!* aku membungkamnya. Kukembalikan perhatian pada si Makhluk Dingin. *Jangan kaupikir karena suku berhutang budi padamu, dan Putri menghormatimu, aku akan mengendurkan penjagaan. Kau jelas hadir di sini karena suatu maksud. Jadi katakan, sebelum aku terpaksa menyiksamu lagi seperti dulu!*
Calon inangku melontarkan diri ke hadapannya, memasang posisi melindungi. *Aku takkan biarkan Kakak menyentuhnya.*
*Kisa, tenang...,* makhluk itu menyentuhkan tangannya di bahu calon inangku. Namun bukan sentuhan itu—yang pastinya sedingin es, dan aku heran ia tidak bergidik karenanya—yang membuatku menggemeretakkan gigi.
Kisa! Ia menyebutnya Kisa!
Nama adalah sesuatu yang terlarang bagi setiap putri yang memangku posisi sebagai calon inangku. Bahkan aku memanggil mereka dengan sebutan'Putri' atau 'Adik'. Mereka tidak memerlukan nama sejatinya. Tidak karena tak peduli siapa ia, siapa orangtuanya, apa darahnya, pada akhirnya jati diri mereka akan lebur, lenyap di balik nama Tupkuk. Segala ikatan, kehendak, bahkan jiwa mereka akan hilang, pada detik aku merasuki mereka. Jadi apalah guna sebuah nama? Tak hanya aku ingin membiasakan dan mempersiapkan mereka untuk masa depan yang sudah pasti, aku pun tak ingin siapapun mengingat, terlebih memandang mereka sebagai sesuatu selain calon Tupkuk selanjutnya.
Dan si Makhluk Dingin itu memanggilnya Kisa...
Tak perlu bertanya bagaimana nama sejati calon inangku bisa bocor. Permasalahannya adalah, mengapa? Mengapa ia memberitahu nama itu? Mengapa ia merasa perlu mengatakannya? Apa yang sedang bergejolak di balik permukaan tenang dan pasrah yang kukenal? Mengapa dari sekian orang, justru pada Makhluk Dingin ini ia membocorkannya? Dalam arti apa ia memandang makhluk ini? Dan akan ke manakah semua itu menuju?
*Kepala Suku,* si Makhluk Dingin angkat bicara. *Patut Paduka pahami, kehadiran hamba di sini tidak atas kepentingan siapapun, terutama musuh Anda. Jika hamba melakukan sesuatu, atau memberi pertimbangan, itu semata dilakukan demi suku Anda sendiri.*
*Dan aku harus percaya?*
*Tak bisa tidak, karena Anda tak punya pilihan. Saat ini rakyat Anda sekarat. Kiranya Paduka tahu, apa akibatnya jika masalah ini dibiarkan berlarut. Pada diri Anda, khususnya.*
*Ha! Kau mengancamku!*
*Tidak, Kepala Suku. Itu bukan ancaman. Hamba hanya memberi saran, yang sangat patut Anda pertimbangkan, jika hamba boleh tambahkan. *
*Kak, dengarkanlah ia...,* mohon calon inangku. *Ia tahu yang terbaik bagi suku...*
*Ia orang luar!*
*Tapi ia bisa membantu...*
*Tentu saja ia bisa! Racun itu dari mereka, sudah barang tentu ia punya penawarnya. Setelah ini, mereka pasti minta bayaran. Kaudengar apa idenya tadi. Ini hanya akal bulus untuk merampok tanahku!*
*Kakak! Tadi sudah kukatakan, tak ada racun.*
*Matamu terbutakan, Putri.*
*Kakak yang terbutakan oleh ketakutan dan kecurigaan, sehingga tak bisa melihat kebenaran. Kumohon, Kak, berilah kesempatan!*
*Maksudmu memberikan tanahku seperti yang ia minta?*
*Hamba tidak menginginkan tanah Anda, ataupun merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan Anda,* ucapnya. *Jika hamba ada di sini, itu adalah demi dua tujuan. Satu, kewajiban hamba untuk menolong siapapun yang membutuhkan. Dan dua, karena hamba memiliki ikatan dengan tanah ini.*
Aku terkekeh sinis. *Ikatan, hah? Siapa kau, memangnya? Tak perlu kau membusakan mulutmu dengan kebohongan…*
*Hamba bersedia mengucapkan sumpah setia, jika itu yang Anda butuhkan.*
*Sumpah dari makhluk yang tubuhnya sudah dingin dan jantungnya tidak berdetak tak bisa dipegang.*
*Hamba bersedia menjaminkan nyawa hamba.*
*Aku tidak butuh roh kotormu.*
*Sayangnya, hamba tak punya apapun lagi untuk dijaminkan. Tetapi Paduka, hambalah yang Anda butuhkan. Tak hanya dalam penanganan wabah. Hamba dapat menjembatani kepentingan Anda dengan yang lain; baik itu para budak, Makhluk Dingin, atau bahkan bangsa kulit pucat. *
*Cih. Untuk apa?*
*Kepala Suku, Anda tak bisa menggenggam air tanpa menampungnya dalam sebuah wadah. Mustahil mengikat siapapun untuk setia jika Anda tidak merengkuhnya. Hamba menawarkan bentuk kekuatan baru bagi Anda. Bukan dengan pemaksaan, tetapi dengan pengaruh dan kata-kata. Hamba bisa menjadi ujung tombak dalam perundingan.*
*Aku. Tidak. Berunding!*
*Sayangnya, Kepala Suku, itu yang harus Anda lakukan. Anda tahu betapa berbahayanya posisi Anda sekarang, tanpa ikatan yang tepat dengan orang-orang, kekuatan-kekuatan lain, di sekitar Anda. Hamba yakin Anda sudah menyadari, saat ini lawan-lawan Anda tengah berupaya menggalang kekuatan dan pengaruh. Tinggal tunggu waktu hingga bangsa asing melihat ini dan menawarkan bantuan, tentunya dengan harga yang tak bisa Anda bayangkan. Mereka punya tujuan sama, yakni menjatuhkan Anda. Benteng pertahanan Anda akan dengan mudah tertembus tanpa pengaruh pada kelompok-kelompok di bawah Anda, dan saat ini itulah yang kurang dari Anda. Anda membangun istana tanpa tiang pancang yang kuat,* bahkan walau isi kalimatnya berapi-api, ia mengucapkannya dengan tenang. *Hamba dapat memperkuat setiap tiang itu, Paduka. Hamba dapat memperkokoh kedudukan Anda.*
*Dan semua dengan harga apa? Kau ingin aku membiarkanmu menolong para budak? Begitu pentingkah mereka bagimu?*
*Hamba ingin menetap, itu harga hamba. Beri hamba izin untuk tinggal serta melakukan yang hamba rasa perlu, maka hamba akan mengabdikan diri sepenuhnya di bawah duli Paduka. Menolong para budak hanyalah satu tindakan yang—jika dilihat dari kepentingan Anda—bisa memperkuat nilai tawar Anda saat ini. Bisa Anda anggap itu sebagai bukti pengabdian hamba.*
Aku mengernyit. *Dulu kau ingin bebas, dan kini kau ingin menetap?*
*Paduka tak perlu curiga. Benar, hamba memiliki alasan pribadi yang tak bisa hamba katakan, tapi hamba bersumpah bahwa alasan tersebut bukanlah sesuatu yang merugikan Paduka atau suku ini.*
Ia meminta kepercayaan, dan ia masih menutupi diri? Apa ia kira aku bisa membuka hatiku semudah itu?
*Tapi kau termasuk bangsa kulit pucat,* ujarku curiga. *Mengapa kau malah mengkhianati mereka?*
*Jati diri hamba sudah tertanggalkan sejak hamba menjadi … seperti ini,* tak urung aku menangkap sirat kesedihan dalam kalimat itu. *Dan hamba memiliki beberapa ketidaksetujuan … pada cara pandang dan apa yang mereka lakukan.*
*Makhluk yang begitu mudah membuang jati dirinya, dan memihak lawan hanya karena tak puas, tidak bisa dipercaya.*
*Anda salah paham, Paduka. Seperti hamba katakan, hamba punya ikatan dengan tanah ini. Ini adalah keinginan dan pilihan hamba sendiri, bukan karena perintah atau ketidakpuasan.*
Aku masih ingin mendebat. Tetapi belum lagi aku mengangkat suara, calon inangku sudah menghampiriku, menyentuhkan tangannya di lenganku.
*Kak, sudahlah… Kakak tahu sendiri kemampuan pengobatannya. Ditambah ia cerdas dan berwawasan luas. Ia mungkin tak punya bakat khusus seperti Makhluk Dingin lain, tapi ia punya kata-kata, dan kata-kata jauh lebih tajam ketimbang seribu tombak.*
*Itu yang kutakutkan. Lepas penjagaan sedikit saja, tidak tahu kerusakan apa yang bisa ia sebabkan…*
*Justru karena itu, Kak. Bukankah lebih baik memelihara anak harimau, ketimbang menjadikannya musuh?*
*Ha! Pastinya kau tak tahu pepatah 'menggendangkan anak harimau'. Memelihara musuh, akhirnya celaka sendiri.*
*Kakak tak perlu percaya saat ini, tapi berilah ia kesempatan. Aku memiliki firasat bagus mengenainya. Jika ia berulah, tidakkah Kakak bukan tandingannya?*
*Benar, Kepala Suku,* ia menambahkan. *Jika hamba melanggar sumpah ini, Paduka dapat membunuh hamba, atau membiarkan jiwa hamba terkutuk selama keabadian.*
Atau membantai para budak, itu penawaran yang lebih masuk akal. Aku tidak heran tiada satupun dari mereka yang mengutarakannya.
*Baiklah kalau begitu,* aku menghembuskan napas. *Bukan karenamu, tapi karena permintaan Putri, aku akan memberimu kesempatan. Kuperkenankan kau memindahkan para budak ke percabangan sungai di timur, tetapi kau harus bertanggung jawab penuh atas mereka. Tidak ada satupun budak yang boleh lepas, kecuali jika ia ingin jadi santapan peliharaanku. Sumber air harus tetap bersih. Tidak ada penebangan pohon dan perburuan dengan alasan apapun tanpa seizinku. Aku akan memberlakukan pengawasan ketat. Satu bulan waktu yang kuberikan, dan jika dalam jangka waktu itu…*
*Satu bulan tak mungkin cukup, Kak! Berilah setidaknya setahun!*
*Setahun terlalu lama! Empat bulan, dan setidaknya setengah dari mereka harus sembuh. Sebut itu 'tantangan'. Terima atau kau hengkang dari tanahku!*
Calon inangku kelihatan ingin memberi penawaran lain, tetapi si Makhluk Dingin itu keburu menyetujui.
*Baik, Kepala Suku. Hamba menghaturkan terima kasih atas kemurahan hati Paduka.*
Geram mengguruh dalam dadaku melihat kepuasan pada matanya. *Tapi sekali saja kau berbuat mencurigakan, kau tahu apa yang bisa kulakukan,* ancamku. *Sekarang lekas pergi dari pondokku sebelum aku berubah pikiran!*
Tanpa diperintah dua kali, mereka menghaturkan sembah dan lekas meninggalkan pondok. Meninggalkanku, dengan kepala yang begitu penuh hingga nyaris pecah.
Rasanya aku tidak tahu apa-apa lagi.
.
.
Makhluk Dingin itu rupanya sungguh-sungguh dengan perkataannya. Empat bulan waktu yang kuberikan, dan baru saja tiga bulan, setengah dari mereka sudah menunjukkan kemajuan lebih dari yang kubayangkan. Namun, bukan berarti lantas aku mempercayainya begitu saja. Banyak sisi darinya yang tidak kutahu, banyak yang masih patut kupertanyakan, dan begitu banyak yang kupertaruhkan.
Seakan menguji batas pertahananku, Makhluk Dingin itu terus berupaya untuk melunakkan hatiku. Bermula dari urusan pengobatan, lama-kelamaan ia pun mulai menyentuhkan tangannya dalam urusan lain, mulai dari perkara para Makhluk Dingin hingga urusan perdagangan. Izin untuk itu tidak datang dariku, tentu, tetapi dari calon inangku—oh, ia sudah menaruh kepercayaan berlebih padanya. Meski keberatan, aku tak bisa menolak. Tak hanya mengerti bahasa para budak yang beragam serta bahasa Quileute dan Quid'dich'cha'at, ia juga memahami bahasa suku-suku selatan dan beberapa bangsa dari seberang lautan. Lebih dari itu, ia punya pesona tersendiri dalam menata bahasa. Tak ada alasannya aku tak memanfaatkan kemampuan itu untuk memperbaiki hubungan dengan para penukar dan mengembalikan pasar.
Kalau mau jujur, itu adalah kemampuan yang mengerikan, bahkan melebihi bakat Makhluk Dingin ataupun kekuatan serigala manapun. Mereka yang memiliki kekuatan sepertiku mampu menaklukkan dunia lewat perang dan darah, tapi mereka yang menguasai kemampuan merangkai kata-kata mampu menaklukkan dunia dengan cara yang lain. Tak hanya mampu menjalin kalimat yang indah, mereka pun dapat mempengaruhi orang dengan kata-kata itu. Mereka dapat memelintir apapun, menyuntikkan pikirannya ke otak dan hati seseorang, bahkan bukan tak mungkin mengubah pendirian seseorang—membuat siapapun menjadi bonekanya.
Kutahu beberapa Makhluk Dingin memiliki bakat unik, dan bakat mengendalikan pikiran atau mempengaruhi kehendak adalah satu di antaranya. Namun aku tak yakin demikianlah halnya dengan sang Bapa. Kemampuannya adalah murni dari keluasan pengetahuan dan pengalaman. Benar kata inangku, ia memiliki kekuatan di balik ketenangan dan kehalusannya. Kekuatan yang tak mungkin ditandingi oleh orang sepertiku. Dan itu yang membuatku tak bisa mempercayainya.
Selain itu, ada satu hal lagi yang membuatku ngeri. Tatapannya.
Itu sebetulnya bukan tatapan yang tajam atau mengancam. Oh, kami bahkan jarang bertatapan langsung. Ia lebih sering mengikuti calon inangku ke mana-mana, dan aku pun menjaga jarak darinya. Hanya sesekali tatkala kami berada dalam satu tempat, matanya yang lembut itu selalu mencuri pandang, kadang terlampau terang-terangan. Aku tak tahu bagaimana … ia seakan berupaya melihat menembus diriku, mencari sesuatu yang bahkan tidak kutahu.
Dan setiap kali melihat mata itu, tak urung satu bayangan kembali melintas. Tak lain: pria di seberang danau.
Astaga, sudah berapa lama waktu berlalu sejak kejadian itu? Sudah berapa kali tubuhku berganti? Jika entah bagaimana aku memiliki kesempatan bertemu dengannya, akankah ia mengenaliku?
Hah, ingin rasanya aku tertawa. Aku, Yang Maha Mulia Tupkuk, Yang Perkasa dan Tak Terkalahkan, terus saja hanyut dalam selintas bayangan masa lalu? Menyedihkan.
Tapi tak bisa tidak aku terus memikirkannya. Bahkan sejak aku menemukan kelebatan baunya di seberang danau, tanda tanya terus terbersit di hatiku. Namun aku tak bisa menunjuk pasti bahwa mereka adalah orang—makhluk—yang sama. Pertama, karena bau Makhluk Dingin nyaris sama—bau manis yang memabukkan—sehingga aku berani bertaruh sangat langka serigala yang mampu mengenali satu dari yang lain. Lagipula mereka sama saja artinya bagi kami: musuh atau budak, jadi untuk apa dibedakan? Kedua, kalaupun memang bau mereka berbeda, aku tak punya kenangan mengenai bau si Makhluk Dingin di masa lalu itu, sehingga tak mungkin memperbandingkan keduanya. Ketiga, jangka waktunya terlalu bersilangan, atau justru kelewat bertepatan. Aku melihatnya di pinggir danau, lantas begitu pulang, makhluk itu sudah ada di desa, bersama calon inangku? Tidakkah itu aneh?
Kepalaku selalu berdenyut-denyut setiap kali memikirkan hal ini. Rasanya ingin aku menenggelamkan diri ke dalam danau, hanya untuk melepaskan diri dari semua. Namun aku tak bisa.
Tidak karena keadaan sudah jauh berubah sekarang. Aku kepala suku, dan kewajibanku bukan hanya atas diriku sendiri, tetapi juga atas seluruh sukuku, suku-suku taklukan, dan bangsa-bangsa yang berhubungan dengan kami. Bukan pada tempatnya aku didera kenangan bak perawan yang sakit rindu. Itu tak hanya bodoh dan kekanakan, tetapi juga berbahaya.
Karena di balik semua pertanyaan, sesungguhnya ada satu yang paling penting. Jika mereka memang makhluk yang sama, apa artinya? Bahwa sejak lama ia sudah memata-matai kami? Jika ya, untuk siapa ia bekerja? Bangsa kulit pucat? Atau para Makhluk Dingin lain?
Kalimatnya sewaktu mengajukan permohonan untuk tinggal terus terngiang. Ia menginginkan sesuatu di tanah ini, itu sudah jelas. Pertanyaannya: apa?
.
.
Namun dibanding itu, ada satu yang lebih mengganggu pikiranku.
Kuperhatikan, calon inangku memberi perhatian besar pada makhluk ini. Tak ada waktu berlalu tanpa ia berusaha berada di dekatnya. Tak ada waktu mereka bersama tanpa tawa dan keceriaannya. Serta tak ada waktu mereka berjarak tanpa calon inangku menyebut namanya lagi dan lagi.
Oh, ia sudah bak ikan dalam air belakangan. Sejak aku memerintahkan pembukaan lahan di timur, bukan hanya Bapa, calon inangku pun begitu sering menghabiskan waktu di sana. Dan kurasa alasannya bukan semata karena kepentingan para budak.
Apa aku bisa mengatakan ia hanya peduli pada mereka, ketika ia mencetuskan ide untuk membuatkan pondok terpisah bagi si Bapa, lantas menghiasinya dengan peralatan emas dan gading, tenunan indah, serta ukir-ukiran berharga? Apa aku bisa mengatakan ia hanya ingin menolong mereka, ketika waktunya lebih banyak dihabiskan di hutan, menemani si Bapa mencari makanan—atau begitu yang dikatakan mata-mataku—dengan alasan ingin mengawasi jalannya peraturan pembatasan perburuan hewan?
Satu lagi masalah dengan sang Bapa. Makanannya.
Aku menerapkan aturan ketat dalam hal makanan para Makhluk Dingin. Mereka biasa kuumpani tiga hingga empat ekor manusia setiap dua minggu sekali. Memang tidak memuaskan, terlebih jika disantap beramai-ramai, tetapi cukup untuk mengendalikan rasa lapar.
Umumnya makanan mereka adalah para tahanan, entah budak atau anggota suku lain yang tertangkap berbuat kesalahan. Jika kebetulan penjara sedang kosong, aku mengundi para budak untuk dilempar ke kerangkeng. Mereka tak suka dengan cara ini, tentu, dan memutuskan sepihak untuk mengorbankan orang-orang yang nyaris sekarat. Sama saja bagiku.
Dari delapan mangsa per bulan, aku mengharuskan agar satu ekor diubah menjadi Makhluk Dingin. Satu, tidak kurang tidak lebih. Ia akan hidup sebagai pengganti satu ekor yang dijadikan santapanku. Dengan demikian, jumlah mereka tetap duabelas, dan aku tidak perlu repot-repot berburu atau melatih banyak peliharaan baru.
Namun Sang Bapa adalah perkara lain.
Setelah diberi hak berburu, tikus tak lagi menjadi makanan utamanya. Sebagai gantinya, ia menyatroni hutan, memangsa hewan-hewan malang. Lebih parah lagi, ia tidak cukup hanya memangsa satu. Empat manusia cukup untuk memberi makan duabelas Makhluk Dingin, tapi Bapa bisa memangsa dua atau tiga rusa dalam sekali perburuan, satu jika mangsanya adalah hewan besar seperti beruang. Mungkin itu karena darah binatang tidak memuaskan, atau memang pada dasarnya saja ia begitu rakus. Parahnya, ia meninggalkan mayat mereka begitu saja. Itu bukan tindakan baik, karena takkan ada hewan pemangsa lain yang mau memakan daging yang sudah ditandai. Aku jelas takkan mau.
Kupikir Makhluk Dingin tidak menyukai darah binatang. Aku pernah mengumpankan serigala yang tertangkap basah hendak membunuhku ke kerangkeng. Memang menyenangkan menonton serigala itu berusaha membela diri, walau akhirnya tak berdaya di bawah keroyokan para Makhluk Dingin. Namun aku harus kecewa karena di akhir pertunjukan, mereka enggan menyentuh darahnya. Kurasa bahkan walau aku tak memberlakukan peraturan untuk menjaga gigi mereka dari leher rakyatku, mereka takkan sukarela menghisap kami.
Tapi seekor pemangsa hewan seperti Bapa? Tidakkah itu berarti ancaman?
Dan calon inangku… Ia memang manusia, tetapi ia berdarah serigala. Apa yang bisa menjamin ia aman, tatkala ia sudah ada di bawah pengaruh mantra pemikat?
.
*Mengapa tidak?* gugatnya ketika aku melarangnya mengembangkan rasa yang ia pendam. Oh, aku salah. Mungkin itu bukan 'rasa terpendam' jika ia mengakuinya semudah dan seterus terang itu. *Ia lelaki yang baik. Ia telah menghindarkan suku dari nasib buruk, kalau Kakak lupa.*
Dan mengapa pula ia harus menyebutnya 'lelaki'? Ia hanya makhluk beku, demi Roh Semesta!
*Tidak mengubah kenyataan bahwa ia adalah Makhluk Dingin,* jawabku, tak yakin mengapa aku repot-repot mengatakannya. Bukankah itu sangat wajar? *Kau tidak tahu apa yang bisa ia lakukan padamu!*
Selama ini, aku memberlakukan peraturan ketat sehubungan dengan persandingan kedua makhluk. Tapi tetap saja, kadang ada pelanggaran, muncul tanpa terelakkan dan merusak tatanan yang berusaha kubangun. Belum lama suku digegerkan oleh kisah cinta antara seekor Makhluk Dingin dan seorang perempuan suku. Meski ditentang, mereka tetap bersikukuh, bahkan nekat kawin lari. Si Makhluk Dingin tak ketahuan rimbanya sejak saat itu, tapi beberapa anggota suku menemukan si perempuan beberapa hari setelahnya. Tepatnya, jasad si perempuan. Dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Ia bahkan tidak bisa melewati malam pertamanya.
*Kak, kita bicara tentang Bapa! Apa Kakak pikir ia sama seperti yang lain?*
*Tetap tidak aman!*
*Mana mungkin Kakak bisa begitu yakin jika Kakak tidak pernah mencobanya?*
*Tepat begitu. Mana mungkin kau bisa yakin ia aman jika…* aku terhenti. *Tunggu. Bagaimana kau bisa...* Aku makin menyipitkan mata. *Apa kau telah tidur dengannya?*
Ia kelihatan gelisah.
*Jawab aku! Apa kau telah tidur dengannya?*
*Tidak...* ujarnya pelan yang membuatku sedikit bernapas lega. *Tapi...*
*'Tapi'?*
*Kakak ada di sana, sewaktu ia menolongku... Dan setelah itu, beberapa kali ia...,* ia tidak meneruskan ucapannya. Wajahnya merah padam.
Kemarahan memuncak dalam dadaku hingga tanpa kusadari, aku mengeluarkan geraman dalam.
*Ti-tidak, Kak…," gelengnya buru-buru. "Maksudku … ia begitu lembut saat mengobatiku…"
*Itu berbeda!* tukasku.
*Astaga!" ia melempar kedua tangannya ke udara. *Mengapa Kakak harus berpura-pura peduli padaku? Aku tahu apa yang sebenarnya ada di pikiran Kakak. Ini bukan masalah karena ia Makhluk Dingin, 'kan? Jawaban Kakak akan tetap sama jika aku jatuh cinta pada serigala atau manusia manapun. Kakak ingin aku tidak disentuh siapapun sebelum kau merasukiku. Kakak ingin aku tak punya perasaan pada siapapun, yang bisa mencegahku menyerahkan jiwaku sepenuhnya padamu,* tuduhnya. *Tapi kau tahu? Pada akhirnya kau takkan menginginkanku, Kak... Aku nyaris 20 dan aku tidak akan awet muda seperti para serigala. Jika saatnya tiba, kau akan mencampakkanku dan mencari inang lain.*
*Dari mana kau bisa memiliki pikiran begitu? Kau tahu aku menyayangimu.*
*Kakak hanya menyayangi tubuhku.*
*Itu tidak benar.*
*Kalau begitu mengapa mengapa tak pernah ada calon inang, bahkan sebelum aku, yang Kakak perkenankan merasakan cinta?*
Melihatku yang tak memiliki kata untuk membalas, ia mendengus. Jejak kepahitan, dan kesedihan, tampak jelas kala ia meneruskan, begitu pelan dan lirih.
*Jangka hidup seorang inang begitu singkat… Seperti ulat, pada akhirnya benang-benang tebal akan mengikat, membalut kami bak kepompong. Begitu erat hingga tak hanya tak bisa bergerak, bahkan tak ada selintas bayang diri kami yang asli tampak di balik permukaannya. Dan ketika kepompong itu pecah, yang keluar darinya bukanlah diri kami lagi. Indah, ya … muda dan abadi, ya … kuat dan anggun, ya… Tapi itu bukan kami….*
Tanpa kusadari—mungkin karena masih tersisa sedikit naluri seorang kakak pada tubuh yang kutempati—tanganku bergerak hendak memeluknya. Tapi sebelum sempat tanganku menyentuh pundaknya, ia sudah menepisku.
Kupikir ia akan menggugat, menuntut, mempertanyakan kembali hakku untuk merampas kemerdekaan dari tubuhnya. Namun berkebalikan dari yang kusangka, sorot mata itu melunak. Dan bukan kemarahan, melainkan kasih sayang, yang keluar dari lisannya.
*Tapi aku tidak menyesal, Kak…,* ucapnya, menatap langsung ke kedalaman mataku. *Aku tahu kekuatan Kakak… Hanya Kakak yang bisa membawa suku melewati masa depan yang tak menentu, jika tak terantuk pada satu kendala bernama 'tubuh'. Dan jika akulah bisa memberikan tubuh itu, mengapa tidak? Aku tak peduli jika aku hanya menjadi satu dari sekian penopangmu, yang satu saat akan terlupakan… Jika itu demimu dan demi suku, aku tidak ragu untuk memberikan semua yang ada padaku. Namun mengapa Kakak tidak membiarkan aku merasakan sedikit saja, setetes saja kebahagiaan, sebelum jiwaku, jati diriku, kesadaranku menghilang?*
Rasanya aku tak bisa menjawab. Oh, bisakah aku menjawab?
Ia mendengus sinis melihatku membeku. Lantas sebelum berbalik keluar dari pondok, ia berucap, mantap. *Kakak boleh menghukum atau mengusirku, tapi aku akan berjuang demi kebahagiaanku sendiri.*
.
.
Kebahagiaan, apa artinya?
Burung yang bebas lepas mengarungi luas angkasa, bahkan ketika tahu bahwa suatu saat badai akan mematahkan sayapnya atau panah akan menembus jantungnya, apakah ia bahagia? Ikan yang berenang menyelami samudera, bahkan ketika tahu bahwa suatu saat ombak akan menyeretnya atau ikan besar menelannya, apakah ia bahagia?
Kebahagiaan itu fatamorgana. Satu detik kau bahagia, luapan rasa itu membuncah hingga rasanya dadamu terlalu kecil untuk dapat menampungnya. Seolah kau akan hidup selamanya, Tapi dunia terlalu kejam untuk menjadi tempat bersemayamnya kebahagiaan, dan juga begitu singkat untuk mencecap sedikit rasanya. Satu detik kau bahagia, dan detik berikutnya, kau tahu semua itu terenggut darimu.
Namun kebahagiaan itu candu. Tak hanya membuatmu menginginkannya lagi dan lagi, ia juga menutupi matamu dari kenyataan. Padahal kau tahu badai itu pasti akan datang, gelombang pasang itu pasti akan menghantam. Tapi kau terlupa, kau terlena… Pada saatnya, badai takkan mengetuk pintu rumahmu, meminta izin dan memberimu waktu bersiap-siap. Dan segalanya terlambat, ketika kausadari semua yang kaumiliki porak-poranda.
Aku pernah bahagia. Dulu sekali. Begitu lampau hingga bahkan aku tak bisa menghitung. Tapi kadang, ketika kenangan itu datang, aku masih bisa merasakannya. Ketika aku memeluknya dan kurasakan kehangatan. Ketika ia mengecupku dan kurasakan kedamaian. Ketika kami berani berharap…
Dan masih, sesal itu hadir, menghantuiku bak mimpi buruk. Tak pernah kusesalkan kehadirannya di sisiku, takdir yang mengikat kami…. Namun seandainya kami tak terlena oleh kebahagiaan kecil di gua kecil itu… Seandainya kami bisa menembus kabut fatamorgana dan melihat kenyataan… Seandainya kami mempersiapkan diri melawan apa yang ada di luar sana… Seandainya saja kami berani pergi, jauh, jauh … mengarungi kemungkinan yang bahkan tak pernah kami bayangkan…
Sudah kukatakan, kebahagiaan membutakanmu. Tak hanya menutup mata, ia juga menulikan telingamu. Menjeratmu.
Dan kini, ia menjerat calon inangku.
Tak mengindahkan laranganku, ia memilih pindah dan menetap dengan makhluk satu itu. Oh, atau patut kukatakan 'gundik', tepatnya. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan. Dengan terang-terangan menggantung kain kotor di muka pintu, ia tak hanya membahayakan dirinya, tetapi juga citraku di hadapan seluruh suku.
Tapi aku tak bisa menempuh keputusan yang seharusnya kuambil sejak awal: melenyapkan si biang masalah. Tidak ketika kusadari keberuntungan tidak berada di pihakku. Suku terbagi dua: mereka yang menentang keras kehadiran Bapa dan perubahan yang ia bawa bagi suku—terdiri dari para Tetua dan kebanyakan serigala—serta mereka yang mengaguminya—tak perlu kukatakan, mereka ini terdiri dari para budak, Makhluk Dingin, serta sangat kusesali, ada beberapa serigala pula di antaranya. Sayangnya, dari keduanya, tak ada yang benar-benar ada di pihakku.
Dan itu kian diperparah oleh satu hal. Siapa lagi kalau bukan bangsa kulit pucat? Mereka tahu saja kelemahanku, dan saat seperti ini, mereka berusaha menggoyahkanku. Bukan sekali aku menangkap usaha-usaha untuk menjalin hubungan dengan mereka yang tak sepaham denganku. Untung saja para serigala memiliki harga diri yang tinggi, sehingga apapun yang terjadi, takkan mereka mau menjalin kerjasama, terlebih bila dengan suatu harga. Tapi jika bujuk rayu mereka terus berlanjut, terlebih dalam keadaan seperti ini, siapa yang bisa menjamin?
*Ampuni hamba jika bicara lancang. Dalam hemat hamba, jika memang begitu halnya, Paduka perlu menjalin persekutuan dengan mereka.*
Tak perlu rasanya aku menjelaskan dari bibir siapa kalimat aneh itu keluar. Menggeram keras, kupalingkan kepala pada calon inangku.
*Sudah kukatakan, ajari budakmu tata krama! Tempat seekor gundik adalah di ranjang, bukan di rapat suku!*
Apa yang kukatakan 'rapat suku' sesungguhnya hanyalah pertemuan antara aku dan calon inangku. Hubungan kami memang tidak sedekat dahulu, tetapi tetap ada hal-hal yang membutuhkan urun rembuknya. Dan tentu saja, siapa lagi yang mengiringinya jika bukan si gundik hina itu?
Mungkin menyadari kedudukannya, atau mungkin tak ingin mencari ribut, si Makhluk Dingin itu menutup mulut. Tapi yang kelihatan tersinggung justru bukan dia, melainkan calon inangku. Bahkan walau Bapa sudah memberi sinyal agar ia membiarkan saja masalah ini, ia tetap menggugat.
*Kak, ia bukan budak. Ia punya nama…*
*Aku tidak peduli.*
*Kalau begitu setidaknya kuharap Kakak tidak menggunakan kata-kata merendahkan lagi padanya. Ia orang kepercayaanku sekarang.* Melihatku yang mendaratkan pandangan tajam, ia melanjutkan, *Dan ucapan Bapa benar. Kita memang harus membuka diri.*
*Apa kau gila? Mereka jelas ingin menggaet keturunan T'lo'pa untuk melawanku, dan kau ingin aku bersekutu dengan mereka?!*
*Melawan mereka takkan membuahkan hasil apapun, Kak, bahkan jika kita menang. Bisa saja kita mendapatkan budak dan harta, tetapi itu hanya berarti ancaman lain bagi suku di kemudian hari. Bapa banyak menceritakan padaku, seperti apa mereka di tempat aslinya. Kota-kota mereka, pengetahuan dan peradaban mereka… Seni dan budaya… Mungkin, jika kita bisa hidup berdampingan dalam damai, kita bisa memanfaatkan pencapaian mereka demi kemajuan suku.*
*'Pencapaian mereka'?* aku makin menggeram. *Kau kagum dengan mereka, begitu? Apa yang patut kaukagumi dari gerombolan orang tak beradab yang tak tahu cara menghargai Roh Bumi? Kota-kota yang kaukatakan itu, dibangun dengan membabat habis hutan dan memangkas gunung! Kau tahu seperti apa bangunan yang mereka buat di dermaga! Pikirmu kita butuh bangunan sebesar itu, jika itu berarti membunuh pohon lebih dari yang diperlukan? Ada roh dalam tiap benda, Putri… Kau pastinya sudah terlalu sering bergaul dengan para budak, sampai bisa-bisanya menganggap mereka beradab. Apapun yang mereka katakan 'kemajuan', cuma langkah menuju kehancuran bagiku.*
*Kakak berpandangan sempit.*
*Aku melindungi suku.*
*Melindungi siapa, Kak? Kakak tahu tak ada satu pun anggota suku, lebih lagi Tetua, yang mendukung Kakak.*
*Jaga bicaramu.*
*Itu kenyataan! Kapan mereka pernah tidak menggugat segala langkahmu, sekalipun itu baik?*
*Karena mata mereka tertutup. Jika aku terus membuktikan diriku, maka satu hari…*
*Itu takkan terjadi jika Kakak terus menempuh cara yang sama. Menekan, memaksakan kehendak… Batas antara terang dan gelap, baik dan buruk, hanya ada dalam tataran niskala, tapi dalam kehidupan nyata, batas itu sama sekali lenyap. Apa yang kita anggap terang, memiliki sisi gelap di dalamnya, demikian pula sebaliknya. Adalah pikiran, dan prasangka, yang memperjelas batas itu.*
*Oh, kau berani menguliahiku sekarang…*
*Karena itu kenyataan, Kak. Coba Kakak pikirkan kembali, bagaimana ketika pertama kali Kakak mengambil alih kendali atas suku ini? Dengan penaklukan, bukan? Dan setelah itu pun, Kakak berusaha memantapkan kekuasaan dengan cara yang sama. Namun itu tak ada artinya, Kak… Karena apa gunanya kekuasaan jika nyawa Kakak taruhannya? Kekuasaan apa, atas siapa, jika bahkan rakyatmu tak mencintaimu? Bahkan harta segunung dan tanah seluas mata memandang tidak bisa menandingi cinta rakyat…*
*Cinta! Cinta! Cinta! Tak cukup berbusa mulutmu mengatakan satu kata itu?*
*Tak perlu berpura-pura di hadapanku, Kak. Di depan yang lain, boleh Kakak mencitrakan diri kejam dan tanpa belas kasih. Tapi aku tahu, Kakak melakukannya untuk menjaga wibawa, agar tak satupun yang berpikir bahwa Kakak bisa dikalahkan. Kakak berpikir, hanya kepastianlah yang dibutuhkan di masa tidak menentu seperti ini. Tak mungkin tidak, karena kau mencintai suku. Mungkin dulu tidak, tapi seiring waktu, Kakak pun memiliki rasa kepemilikan dan tanggung jawab atas suku ini, bukan? Dan kau ingin suku ini mengakuimu, mencintaimu. Sayangnya, caramu salah. Jika begini terus, lagi dan lagi kau akan menghadapi penentangan. Suku mungkin aman di bawah pemimpin yang kuat, tetapi rakyat akan merasa lebih tenteram di bawah pemimpin yang welas asih…*
*Ha! Pemikiran macam apa itu! Bagaimana mungkin rakyat bisa hidup tenteram jika suku terancam?*
*Kita tidak hanya bicara tentang ancaman dari luar. Kita juga bicara tentang ancaman dari dalam. Ratusan ikan kecil mampu berenang melewati gelombang besar, hanya jika mereka mendayung ke arah yang sama. Tapi jika bergerak ke arah berlawanan, jangan kata gelombang, ombak kecil pun akan menghanyutkan mereka. Tak ada satu kekuatan asing pun yang bisa menghancurkan satu bangsa, jika bukan bangsa itu sendiri yang merusaknya dari dalam. Karena mereka lebih mengutamakan perbedaan dan pertentangan ketimbang kemajuan bangsanya. Seperti yang terjadi pada suku ini sekarang.*
*Berhenti bicara berputar-putar! Katakan apa maksudmu!*
*Tak lain, Kak, kau harus mengubah cara pandangmu. Jika kau bisa membuktikan dirimu bisa membawa sesuatu yang bermanfaat bagi suku, dan tidak menimbulkan dendam dan pertikaian, mungkin mereka akan memandangmu sebagai pemimpin yang layak dicintai. Bapa sudah mengatakannya tadi. Kerjasama dengan bangsa asing akan…*
*Dengan bangsa kulit pucat?! Ha! Tepat itu yang akan membuat seluruh suku menentangku!*
*Mereka akan melihat manfaatnya, tidak hanya saat ini, tetapi juga ke depan. Kudengar bangsa Spanyol ingin kembali membuka dermaga, di tempat yang dulu pernah kita hancurkan. Jika mereka kembali melirik tempat itu, tentu ada alasannya. Pasti akan sangat menguntungkan jika kita bisa bekerjasama…*
*Aku tidak tertarik. Tempat itu kering. Jauh lebih menguntungkan jika kita mengincar tanah di selatan…*
*Jika Kakak tidak bisa melihatnya, mungkin mereka akan menggaet pihak lain. Kudengar langkah-langkah perundingan dengan keturunan T'lo'pa sudah…*
Petir menyambar kepalaku. *Keturunan T'lo'pa?!*
*Ya, Kak. Jika kesepakatan itu dicapai, mungkin mereka akan memanfaatkan kekuatan asing ini untuk menjatuhkanmu. Karena itu, menurutku, daripada kita melawan macan dan singa sekaligus, akan lebih baik jika menjinakkan…*
*Mereka bukan hanya menentangku, tapi juga berkhianat pada suku?!*
Kegugupan, seolah ia telah menempuh langkah yang salah, tampak di wajah calon inangku, ketika ia berpandangan dengan si Makhluk Dingin.
*Selama ini aku sudah cukup berbaik hati, dengan masih membiarkan mereka hidup walau jelas-jelas menjadi duri dalam daging. Itu karena aku menghargai darah dan kekuatan mereka,* gerutuku. *Tapi hal seperti ini jelas tak bisa dibiarkan! Sebelum rencana mereka terlaksana, aku harus menghabisi mereka semua.*
*Tidak, Kak. Jangan salah paham. Aku sama sekali tidak menginginkan perang antara kau dan keturunan T'lo'pa. Mungkin mereka adalah musuhmu, tapi kau harus ingat, kau juga pernah merasuki putri T'lo'pa. Aku dan kakakku juga memiliki darahnya. Darah yang mengalir di nadimu, adalah darah yang sama dengan yang mengalir pada nadi mereka. Menghabisi mereka berarti memotong urat nadimu sendiri."
Sekilas keterperanjatan tampak di wajah si Makhluk Dingin, sebelum berganti menjadi pertanyaan. Tapi tak ada waktu bagiku untuk memedulikan, lebih lagi menjawabnya.
*Kaupikir aku peduli?* bentakku. *Aku tak punya ikatan darah dengan siapapun!*
Kata-kataku membuat mata gadis itu terbelalak. Ketidakpercayaan tampak, sebelum ia mengetatkan rahang dan berujar, perih, *Jika Kakak bersikeras, aku takkan ada di pihakmu. Aku lebih baik mati ketimbang membantai keluargaku sendiri.*
Dan ia pikir itu adalah sebuah ancaman?
*Baik.* Kuhapus sakit hatiku, dan seraya bangkit, aku berteriak pada serigala yang berjaga di luar pondok. *Tangkap si serigala merah beserta seluruh keluarganya! Bantai jika mereka melawan!*
.
.
Persidangan atas seluruh keluarga keturunan T'lo'pa berlangsung alot. Tidak hanya karena kejahatan mereka belum terbukti, tetapi juga karena calon inangku sungguh-sungguh dengan kata-katanya. Ia berusaha menghalang-halangi jalannya pemeriksaan—atau ia katakan 'penyiksaan'. Kusesalkan tindakanku yang terburu-buru menggulung komplotan mereka. Karena dengan demikian, aku tak bisa langsung menjatuhkan hukuman tanpa melalui persidangan dan persetujuan para Tetua. Dan sepanjang persidangan, bukan hanya memberi dukungan, calon inangku pun turun tangan membela mereka. Akhirnya, tak ada kata lain. Dengan kurangnya bukti, tak sampai dua bulan, hanya dengan tiga kali persidangan, mereka pun bebas.
Yang kusesalkan, perkara ini nyata menjadi titik balik yang merugikanku. Tak hanya aku membuat mereka makin mendendam, bahkan suku pun dapat meraba perpecahan yang terjadi antara aku dan calon pewarisku.
Tidak bisa tidak, aku merasa kehilangan. Kuakui atau tidak, gadis ini telah menjadi bagian yang penting dalam hidupku. Mungkin karena pengaruh alam bawah sadar inangku yang masih tersisa, atau karena terlalu terbiasa oleh kehadirannya, aku tak hanya memandangnya sebagai masa depanku atau perpanjangan tanganku. Selama ini kehadirannya selalu mengatasi kegundahanku, menenangkanku, menjadi penyeimbang dalam hidupku. Dan kini, dengan tak adanya ia, aku merasa kosong…
Tidak seperti biasanya, kali itu kutumpahkan kemarahanku, kekecewaanku, kehilanganku, segala rasa yang campur aduk dalam dadaku, lewat minuman. Aku tak pernah mabuk walau minum sebanyak apapun, tapi entah mengapa, setelah lewat guci kelimapuluh—atau keseratus limapuluh, aku tak menghitung—aku merasa dadaku panas dan kepalaku melayang.
Dengan pandangan berkabut, aku keluar dari pondok, mengikuti ke mana kakiku membawa. Aku hanya ingat deretan pepohonan beku dan semak-semak gelap di dekat makam putraku. Bulan tiada tampak di langit. Kabut masih menyaputi seluruh pandangan, kala kulangkahkan kakiku ke arah danau. Dibentengi deretan batang-batang pohon hitam tinggi menjulang, danau tampak seperti lubang hitam besar menganga yang siap menelan segala di sekitarnya. Kabut tipis menari-nari di atas permukaannya yang beriak, seakan memanggil-manggilku, mengundangku masuk ke ketiadaan tempatku seharusnya berada.
Kala kabut itu memudar, tampak sesosok samar di seberang danau. Apakah itu manusia? Atau roh penunggu danau? Kupikir ia akan menyeberangi danau, menyeretku ke neraka... Namun tidak. Ia hanya diam di sana. Tak bergerak. Mengawasiku...
Rasa dingin menjalari sumsum tulangku. Ingin aku berbalik, berlari pergi sebelum ia memerintahkan kabut itu untuk menjeratku, menyeretku ke dasar danau. Namun kakiku terpaku di tempat. Kurasakan teluh dari sang roh danau menggapaiku, merasuki tiap pori kulitku, merayapi tulang belulangku, menjalari setiap urat dalam tubuhku. Seiring kabut tipis yang melingkupi dunia sekitar, kepalaku berputar dan berputar. Mataku kian berat, tetapi tubuhku begitu ringan. Bak kapas, atau selembar bulu, aku melayang … melayang … melayang…
Dan dalam kesadaran yang kian tipis, mataku masih menangkap sekelebat bayangan melintas di atas air. Menembus kabut, bergerak ke arahku. Sebelum segalanya memudar…
Ketika lamat-lamat kesadaranku kembali, masih separuh siuman, kurasakan aroma setanggi yang tidak asing menyelimutiku. Jalinan ranting pepohonan yang saling bertaut bergerak mundur di atasku, nyaris hanya berupa kelebatan bayangan saking cepatnya aku bergerak. Namun kakiku serasa tak menapak bumi, melayang, seakan aku didukung oleh sesuatu ... atau seseorang. Permukaan tempat aku bersandar terasa keras dan dingin, tetapi anehnya, aku merasa hangat—atau mungkin itu karena pengaruh minuman keras. Kurebahkan kepalaku pada permukaan dingin itu. Rasanya menyengat.
Samar kudengar suara derit pintu kayu dibuka, lantas tubuhku berpindah. Rasa hangat dari permukaan keras dan dingin itu menghilang. Aku berusaha membuka mata, meski hanya buram dan sebersit bayangan putih yang bisa kutangkap. Namun sekilas, citra bayangan punggung seseorang—dari kenangan yang lampau, begitu lampau hingga rasanya aku tak pernah tahu bahwa aku memiliki keping kenangan itu—mendadak melintas. Kehilangan yang sangat, pilu yang menyesak, menekan dadaku. Membuatku mengulurkan tangan, menangkap apapun yang bisa kuraih.
*Jangan pergi…,* bisikku entah pada siapa, atau apa. *Jangan tinggalkan aku, kumohon… Aku takut sendiri… Di sini gelap… Banyak suara mengerikan… *
Sesuatu yang hangat mengalir di pipiku tanpa bisa kubendung. Hanya sedetik, sebelum lantas sesuatu yang lain, dingin, menyentuh dan menghapusnya. Lagi, rasa itu melingkupiku. Rasa yang anehnya, kurindukan…
*Ssssh, Tupkuk… Aku takkan pergi. Tidurlah…,*suara itu mengalun bak desau angin. Kurebahkan tubuhku, merasakan ketenangan itu membasuh dan menyelimutiku. Ingin aku membuka mata, menahan bayangan itu agar tetap di sana. Tetapi mataku begitu berat…
*Tetaplah bersamaku,* mohonku lagi, beringsut mendekat dan meletakkan pipiku di permukaan dingin itu, *Ibu… Ayah…*
.
.
Catatan:
Hyeeeeee… 2 bulan lebih… parah banget sih… Maaf ya Sodara-sodara… Kemaren lagi sibuk2nya ngurusin ngelamar kerja dan tes segala macem... udah gt malah g lulus lagi *hixxxxxx* Gpp, belum rejeki... Doakan saia segera dapet rejeki lain ya, yg halal hwehehehe...
Hmmm kayanya chapter ini nyaris ga ada adegan penting selain tumpukan kecurigaan dan ketidakpercayaan Tupkuk soal semua di sekitarnya, deh... *parah banget*. Tadinya aku bikin adegan akhirnya soal perundingan, trus ada sedikit adegan kekerasan rate M gt, tapi ga tau kenapa malah ga masuk2. Buat bikin langsung adegan yang udah direncanain juga susah banget, jadi deh begini…
Btw thx berat buat Skyesphantom yang sempet ngebetain pas chapter ini baru setengah jadi. Hyaaaahhhh maaf banget ternyata aku ga bisa-bisa nyingkat ceritanya dan tetep aja harus dibagi dua chapter. MAAAAAVVVVV...
Chapter depan identitas si makhluk misterius 'yang-ngga-misterius-sama-sekali-karena-semua-juga-tau' itu bakal terkuak… hahaha… Mampir ya…
R&R?
.
