Prolog:
Sabaku no Gaara, pewaris Sabaku corporation, karena deadline berumah tangga kakak perempuannya sudah dekat dan kenyataan kalau kakak lelakinya sama sekali tidak punya bakat memimpin perusahaan. Maka, mau tidak mau (walaupun Gaara benar-benar tidak mau), dia harus bersedia menerima pertunangannya dengan salah satu Hyuuga yang merubahnya jadi HOMO.
AU, OOC, Special for Mendy.d'LovelyLucifer.
Main pairing: NejiGaara
Slight pairing: SasuNaru, ShikaTema, SaiIno, KibaHina, LeeSaku, SasoDei, PeinKonan, KisaIta, dll.
Summary:
Last conflict with Temari. NejiGaara. Chapter 53
XxXxX
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO SENSEI
CAN WE PRETEND TO LOVE, THEN WE'LL MARRY? © HELENA NEGA
XxXxX
Gaara balas merangkul Neji. Menempelkan jarinya ke sela-sela rambut Neji, merasakan nafasnya beradu di mulut Neji. Gaara udah nggak menyadari apapun. Udah berapa lama mereka nggak sedekat ini? Kapan Neji terakhir kali menciumnya?
Neji menarik Gaara ke pangkuannya dan memundurkan seatnya sampai maksimum.
"I love you," bisik Neji ditelinga Gaara, menjilati leher Gaara dan menghisapnya keras-keras. Lalu Neji memulai lagi ciuman yang lebih dalam dan lebih lama.
Gaara merintih pelan, wajahnya udah berubah merah sekali.
Neji membuka kemeja Gaara nyaris nggak sabar, meraba-raba dada pacarnya dan mengecupnya.
"Are you ok? We can't do this ..." bisik Neji, "I'm afraid I can't hold back and broke you into pieces,"
Gaara merintih lagi, dia kembali mencari bibir Neji dan melanjutkan ciuman mereka lagi.
"Gaara-chan..." bisik Neji mencoba meminta jeda karena takut lepas kendali. Tapi lidah Gaara nggak mau diam, memaksa masuk ke mulut Neji.
Gaara merintih lagi, dia mulai memaju-mundurkan duduknya dan meraba dada Neji.
"Don't stop, please touch me more here," desah Gaara sambil menarik tangan Neji ke selangkangannya.
"You can't. What do I do if you collapse?" bisik Neji frustasi.
"No, just do me gently,"
Neji mengerang frustasi. Dia menurunkan resleting celananya dan Gaara, lalu mengeluarkan barang di dalamnya.
"I won't put in."
"No..." rengek Gaara, "please, do me..." sebutir air mata mengalir di pipi Gaara.
Neji memandang Gaara frustasi, nyaris kalap dan mendorong Gaara untuk digarap jika aja tangan Neji nggak bersentuhan langsung dengan leher Gaara yang panas banget.
"I will do it with my hands, ok?" kata Neji mencoba berdiplomasi.
"No..."
"Together," kata Neji sambil mulai menggerakkan tangannya.
"Not enough," rengek Gaara.
Neji mulai menciumi Gaara lagi agar berhenti memohon.
"I love you so much. I don't think I can survive in this world without you. So please, dont make the situation hard to handles for both of us,"
Sebutir air mata kembali bergulir di pipi Gaara, tapi dia mengangguk tanda mengerti. Untunglah Gaara menyerah kalah. Neji nggak yakin dia akan kuat bertahan kalo Gaara terus menyerangnya sambil menangis.
XxXxX
Neji melirik alrojinya. Udah 10 menit lewat dari jam pulang les Gaara. SasuNaru udah duluan tadi, gitu juga sama KibaHina, SaiIno, dan yang lainnya. Tapi Gaara nggak nongol-nongol juga di gerbang. Padahal tadi Naruto bilang Gaara masih di kelas.
"Sebaiknya aku cek kedalam, " kata Neji ke Temari dan Shikamaru yang ikut di mobil Neji dalam rangka makan malem bareng and rencana baikan GaaraTemari terselubung, "Gaara-chan nggak bawa hp dan tadi badannya agak panas,"
Neji berjalan cepat-cepat, nyaris berlari ke kelas Gaara di lantai dua. Langkahnya bergaung di gedung yang udah kosong. Malam hari jelas tempat ini spokie abis, heran juga Neji gimana Gaara bisa berani.
Dan begitu Neji masuk ke ruang kelas Gaara, dia bisa ngeliat pacarnya di kursi depan, sibuk mencatat dari whiteboard. Waktu ngedengar langkah Neji, Gaara keliatan kaget, tapi pas tau kalo itu cuma Neji, Gaara langsung lega.
"Masih banyak?" tanya Neji sambil mengecup puncak kepala Gaara.
Gaara menggeleng.
Neji tersenyum dan membereskan buku dan barang Gaara. Dia bisa ngeliat kotak kue Konoha Bakery yang tadi dibelinya. Neji membukanya dan terdiam. Strawberry cake di dalamnya masih utuh, nggak nampak dimakan secuilpun. Neji berusaha nggak komentar, walopun rasanya dia benar-benar mau mengomeli Gaara. Sebenarnya kapan Gaara makan? Bukannya bekalnya tadi juga utuh?
Perlu waktu sepuluh menit untuk Gaara menyelesaikan catatannya, itupun dia udah meringkasnya. Waktu mereka kembali ke mobil, tempat les Gaara udah benar-benar sepi. Tinggal seorang satpam yang menyapa Gaara kelewat antusias.
Neji menyandang tas Gaara yang berat banget dan tangannya yang lain merangkul pundak Gaara. Gaara nggak balas merangkul Neji tapi juga nggak menolak dipeluk.
"Ada Temari-nee dan Shikamaru di mobil. Ngajakin makan malem bareng," kata Neji waktu membuka pintu belakang untuk Gaara.
Gaara diam sebentar lalu mengangguk, tapi rona wajahnya menghilang sewaktu ngeliat Temari di seat belakang. Jelas Gaara nggak nyangka akan tepat duduk disebelah Temari. Gaara duduk sejauhnya dari Temari dan menatap jendela, Neji bisa ngeliat kalo Gaara benar-benar cemas.
"Lama banget," kata Temari sewaktu Neji masuk ke belakang kemudi dan menstater mobil.
"Gaara-chan ketinggalan mencatat,"
Temari langsung menoleh kearah adiknya. Gaara menegang, terlihat kalo dia berusaha nggak menatap Temari dan berpura-pura sibuk memakai seat belt. Tangan Gaara gemetaran sampe dia nggak bisa meluruskan seat belt yang tergulung.
"Kata Neji-kun, kamu demam," kata Temari sambil mendekat.
Gaara mengkeret disudut seat, dia menatap Temari satu detik dan langsung berpaling ketakutan begitu bertemu pandang. Mulut Gaara terbuka dan tertutup tanpa suara dan dia keliatan mau menangis saking paniknya.
Temari mengulurkan tangan ke dahi dan leher adiknya, Gaara otomatis langsung memejamkan matanya rapat-rapat dengan ketakutan.
"Kita pulang aja. Neji-kun, kau punya kompres kertas?" tanya Temari, mengabaikan kecemasan Gaara.
"Laci dashboard, ada kotak P3K,"
Shikamaru mengambilnya dan mengulurkan ke Temari di belakang, "Panasnya tinggi?"
Temari mengangguk, "Kalian delivery masakan China aja buat makan malam,"
Shikamaru mengangguk dan langsung menelpon restoran favoritnya.
Temari membuka kompres kertas dan menempelkannya ke dahi Gaara, "Pusing?" tanyanya.
Gaara menggeleng tanpa menatap Temari dan dia masih di sudut seat seolah siap melompat turun begitu mobil Neji berhenti.
"Sini, sayang," bujuk Temari sambil bergeser membuka seat belt dan menarik kepala Gaara ke pangkuannya.
Gaara terlonjak tapi nggak berani menolak. Temari bisa merasakan badan adiknya gemetaran dipangkuannya dan Temari berusaha nggak komentar. Dia bertekad bersikap setulusnya dan selembut mungkin, meyakinkan adiknya kalo Temari udah nggak marah lagi.
"Shika, pinjam hpmu," kata Temari begitu Shikamaru selesai mengorder makan malam mereka.
Temari mendial nomor dan menunggu nada panggil.
"Ayame, ini aku. Di kulkas masih ada bahan untuk sop daging? Iya, tolong buatkan. Kasih irisan bawang yang banyak. Sebentar lagi kami pulang,"
"Ini ada termometer," kata Shikamaru sambil berbalik dan menyerahkannya ke Temari. Temari mengibasnya lalu menyelipkannya ke lengan adiknya.
"Berapa?" tanya Neji lewat spion tengah waktu terdengar bip bip.
"39.2,"
Neji dan Shikamaru saling pandang waktu Temari membelai kepala merah Gaara di pangkuannya. Tapi nggak lama Gaara bangun dari pangkuan kakaknya dan duduk. Temari keliatan agak kaget.
"Neji-san, berhenti sebentar," kata Gaara serak.
Neji bisa melihat kalo warna diwajah Gaara berubah, dia pucat sekali. Neji menepikan mobil dan Gaara langsung berhambur keluar. Awalnya Neji menyangka Gaara nggak mau dipegang Temari. Tapi ternyata Gaara berjongkok di tepi jalan.
Neji ikut berlari keluar, nyaris lupa menutup pintu mobil.
"Sayang..." kata Neji cemas, memegang bahu Gaara yang gemetaran.
Lalu Neji melihat Gaara muntah. Nggak banyak yang dimuntahkan, karena mungkin Gaara nggak makan apa-apa dari pagi.
Temari ikut keluar dari mobil dan keliatan syock.
"Are you okey?" tanya Neji sambil ikut berjongkok dan mengusap mulut Gaara dengan tisu, "done?"
Gaara menggeleng, dia masih memegang perutnya dan masih sepucat tadi.
Temari mengambil minyak kayu putih dan dan Shikamaru turun membawa air mineral.
"Sayang..." kata Temari cemas, menggosok tengkuk Gaara.
Gaara terisak dan berbalik memeluk Temari, "Neechan, It's hurt,"
Temari kelihatan agak kaget, dia semula menyangka Gaara salah peluk. Pikirnya mungkin Gaara ingin memeluk Neji, tapi malah nyasar kepadanya. Tapi tadi Gaara jelas memanggil Neechan. Gaara memang ingin memeluknya. Temari nyaris tertawa saking leganya, lalu dia mengusap kepala adiknya.
"That because you have high fever. It's okey, you will be fine after you get rest and took some medicines," kata Temari.
Neji mengambil Gaara dari pelukan Temari dan menggendongnya ke mobil. Temari dan Shikamaru mengikuti. Wajah Temari kelihatan lega.
XxXxX
"40.1," kata Temari sambil mengibaskan termometer di tangannya, "padahal udah minum obat penurun panas tapi malah tambah tinggi,"
"Aku akan menelpon dokter Tsunade," kata Neji.
Temari mengangguk, "Abis itu makanlah dulu, ajak Shikamaru. Biar neechan yang menjaga Gaara,"
Neji meringis, gimana mau makan kalo kondisi Gaara masih gini. Gaara memang udah minum obat dan makan sedikit. Tapi panasnya nggak turun-turun dan dari tadi Gaara nggak tidur walaupun Neji dan Temari udah gantian membujuknya. Mata Gaara terpejam tapi langsung terbuka begitu Neji atau Temari bergerak sedikit.
"Atau gimana kalo kita ke rumah sakit ayah Naruto aja," usul Neji hopeless.
Temari menghela nafas, "Itu bukan ide yang baik."
"Kenapa?"
Temari menatap Gaara. Mata Gaara memantulkan cahaya lampu tidur. Tapi Temari nggak yakin Gaara menyimak karena Gaara nggak bereaksi apa-apa saat nama Naruto disebut.
"Gaara-chan nggak begitu suka rumah sakit."
Neji mengerutkan keningnya.
"Yah, aku dan Kankuro juga sebenarnya." kata Temari sambil membelai tangan adiknya, "Karena itulah neechan selalu milih perawatan di rumah kalo masih memungkinkan. Kayak waktu Gaara-chan demam dulu,"
Neji menunggu kelanjutannya.
"Kami masih kecil saat tousan sakit. Tapi waktu itu Gaara-chan baru berumur sepuluh tahun. Dia melihat badan tousan ditempel kabel, mulut dan hidung tousan dimasukkan selang. Dokter bilang itu akan membantu tousan bertahan, mungkin itu benar, neechan nggak tau. Kami masih kecil, paman Yashamaru bilang gitu dan kami percaya, siapa lagi yang bisa kami percaya?"
Temari menarik nafas, "Gaara-chan takut banget, dia nggak berani masuk ke kamar inap tousan. Gaara-chan mau selangnya dilepaskan. Tapi paman Yashamaru memberi pengertian, kalo itu bisa menolong tousan. Lama kelamaan Gaara-chan sepertinya berusaha mengerti. Tapi keadaan tousan terus memburuk, sampai akhirnya tousan meninggal."
Neji nggak tau harus berkomentar apa.
"Lalu Gaara-chan mulai masuk SMP, dia terjatuh di sekolah dan kakinya luka robek. Gurunya membawa Gaara-chan ke IGD rumah sakit agar kakinya bisa dijahit tapi Gaara-chan kabur waktu perawat mengambil alkohol. Kami mencarinya kemana-mana dan ternyata Gaara-chan ngumpet di lemari kamar tousan,"
"Gimana bisa ketemu?" kata Neji heran.
"Kakinya belum diobati. Darahnya berceceran di lantai. Paman Yashamaru ketakutan banget, jarak rumah sakit dan rumah kami lumayan jauh. Kami bahkan nggak bisa membayangkan gimana Gaara-chan bisa pulang. Tapi kalo dia bisa berjalan sejauh itu dengan kaki luka, Gaara-chan pasti lebih takut rumah sakit daripada kesakitan. Lalu kami memutuskan untuk punya dokter keluarga, lumayan membantu selama tiga tahun awal. Tapi ketakutan Gaara-chan belum hilang. Dan kami memutuskan meninggalkan Suna dan pindah ke Konoha tapi tetap mempertahankan kondisi yang sama untuk berjaga-jaga."
Neji mengangguk, dia memandangi pacarnya. Pastilah Gaara juga ketakutan waktu harus check-up sendiri pas tangannya sakit waktu itu.
XxXxX
Gaara harus istirahat total. Dokter Tsunade memberinya infus. Tapi panas Gaara naik turun terus dan dia nggak bisa tidur. Obat yang dikasih dokter cuma bikin demam Gaara turun sebentar abis keringatan, terus panasnya naik lagi. Muka Gaara juga udah pucat banget sampe keliatan transparan. Untunglah dia masih mau makan walaupun dikit.
"Extremely stress," kata Tsunade waktu itu.
Temari dan Neji meringis.
"Mungkin kita perlu ngomong dengan Gaara-chan," kata Neji.
Mereka berdua masuk ke kamar Gaara. Gaara lagi melamun mandangin kalung cincinnya dan langsung kaget waktu ngeliat Temari dan Neji.
Temari nggak berkomentar dan meraba dahi Gaara, panasnya naik lagi.
"Sayang, soal perusahaan kita. Neechan udah berfikir untuk kembali ke Sabaku corporation." kata Temari pelan.
Gaara langsung mendongak memandangi kakaknya, tatapannya yang selalu ketakutan berubah lebih cemas.
"Kecuali kalo kamu nggak mau neechan kembali..." kata Temari sambil meringis.
Gaara menggeleng dan langsung terisak-isak, "A...aku mau. A...aku bukan nggak mau neechan menikah d...dan tetap di Sabaku corporation. A...aku cuma nggak mau neechan pindah, ng...nggak mau pisah. A...aku mau selamanya sama neechan. Nee...neechan jangan pergi. A...aku minta maaf,"
Temari langsung memeluk adiknya, "Yeah, I know. Neechan juga nggak mau pisah sama kamu, sayang. Neechan juga mau selamanya bareng kamu. Neechan juga minta maaf ya,"
Gaara mengangguk-angguk, dia memeluk Temari kencang-kencang.
Neji tersenyum.
XxXxX
"Kudengar kamu menolak undangan dari University of Cambridge," kata Naruto sambil duduk di sebelah Gaara.
Gaara mengangguk.
"Kenapa?"
Gaara melirik Sasuke yang juga duduk di samping Naruto, "Karena aku pengen sekampus sama kamu aja,"
Naruto memutar mata, "Serius nih. Kenapa?"
"Aku nggak mungkin ninggalin Sabaku corporation, aku ini direkturnya. Nasib karyawan dan masa depan Sabaku corporation ada padaku. Masa aku tetep egois kuliah di luar negeri beberapa tahun."
"Tapikan bukan berarti kamu nggak bisa balik ke Jepang dan ngurusin perusahaan dari sana?"
"Ya justru itu, aku nggak mau setengah-setengah. Aku nggak yakin bisa fokus belajar di University of Cambridge sementara tanggung jawab dan pikiranku lebih banyak disini."
Naruto mengangkat alisnya ala Sasuke.
"Lagi pula aku nggak yakin bisa LDR. Nggak ketemu Neji-san satu hari aja rasanya mau mati, apalagi lama,"
Naruto langsung mandangin Sasuke.
"Yah, kita nggak jadi cinta lokasi donk, Gaar," kata Sasuke sambil mengedip ke arah Naruto.
"Bukan itu, Teme," bentak Naruto, "Kamu yakin bisa nggak ketemu aku?" katanya ke pacarnya dengan tampang horror.
Sasuke menggeleng, "Mana mungkin, dobe sayang. Aku bisa mati,"
"Terus kenapa kamu iyain aja undangan ke University of Cambridge? Seharusnya kamu mikir gimana kita LDR ntar..." teriak Naruto.
"Hei, siapa bilang kita LDR, dobe. Kamu ikut aku ke University of Cambridge,"
"What?"
"What apanya?"
"Kamu nggak nyimak, Teme. Aku mau sekolah politik. Lagian mana mungkin aku lulus ujian masuk University of Cambridge."
Sasuke membelai pipi Naruto, "Kenapa harus ujian masuk? Kamu udah diterima kok..."
Naruto melongo, Gaara ikut kaget.
"Maksudnya?"
"Dobe sayang, kamu satu-satunya calon isteri aku, nggak perlu ujian masuk segala,"
Gaara langsung gubrak dan Naruto reflek menampol kepala Sasuke.
"Malam ini kita adakan rapat keluarga. Ajak papa dan mamamu ke rumah,"
"Wah dobe, kamu nggak tahan mau dilamar?"
Naruto menampol kepala Sasuke lagi.
XxXxX
To be continue
XxXxX
Akhirnya konflik Temari done, capek gue nge'aganst mulu, mana susah n feelnya ga dapet (ngorek tanah). Next project chapter seneng2, chapter no meaning, chapter suka2. Thanks for reading
