EPS, Optimisasi Terbatas, Bg. 6

Sunyi, keadaan saat ini untungnya sunyi, pintu metal pada tingkat bawah selanjutnya. Entah tak ada siapapun di belakangnya, atau mereka tersiksa dalam diam, mungkin mereka menjerit tetapi suara mereka sudah terenggut, atau mereka hanya bergumam perlahan pada diri mereka sendiri dalam kegelapan … .

Aku tak yakin aku bisa melakukan ini, pikir Harry, dan dia tak bisa menyalahkan pikiran putus asa ini karena Dementor juga. Akan lebih baik untuk berada lebih rendah, lebih aman untuk berada lebih rendah, rencananya akan memerlukan waktu untuk dilaksanakan dan para Auror mungkin sudah mempersiapkan perjalanan turun mereka. Tapi jika Harry harus melewati pintu-pintu metal semacam tadi lagi sementara terus diam dan menjaga pernapasannya tetap biasa sempurna, dia mungkin akan jadi gila; jika dia harus meninggalkan sebagian dari dirinya di tiap pintu, suatu saat tidak akan ada yang tersisa atas dirinya—

Seekor kucing bercahaya bulan melompat muncul dan mendarat di hadapan Patronus Harry. Harry nyaris menjerit, yang tak akan membantu reputasinya dengan Bellatrix.

"Harry!" kata suara Profesor McGonagall, terdengar sekhawatir yang pernah Harry dengar darinya. "Di mana kau? Apa kau baik-baik saja? Ini Patronusku, jawab aku!"

Dengan suatu sentakan usaha, Harry mengosongkan pikirannya, merubah ulang tujuan pada tenggorokannya, memaksa diri tenang, menukar suatu kepribadian berbeda seperti suatu penghalang Occlumency. Itu membutuhkan beberapa detik dan dia mati-matian berharap bahwa Profesor McGonagall tidak memperhatikan adanya suatu masalah dengan itu karena jeda komunikasi, sama seperti dia mati-matian berharap bahwa Patronus tidak melaporkan lingkungan mereka.

Suatu suara bocah muda tak bersalah berkata, "Aku ada di Mary's Place, Profesor, di Diagon Alley. Sedang berjalan ke toilet sebenarnya. Ada apa?"

Si kucing melompat menghilang, dan Bellatrix mulai tergelak pelan, tawa menghargai berdebu, tapi dia memotong dirinya sendiri seketika pada desisan dari Harry.

Sesaat kemudian si kucing kembali, dan berkata dalam suara Profesor McGonagall, "Aku datang untuk menjemputmu sekarang. Jangan pergi ke mana pun, jika kamu tidak ada di dekat sang Profesor Pertahanan jangan kembali padanya, jangan mengatakan apa pun pada siapapun, aku akan tiba di sana secepat yang aku bisa!"

Dan si kucing cerah memburam maju dan menghilang.

Harry melihat ke bawah pada jam tangannya, memperhatikan waktunya, supaya setelah dia mengeluarkan semua orang dari sini, dan Profesor Quirrell menetapkan Time-Turner lagi, dia bisa kembali dan ada di toilet Mary's Place di saat yang tepat … .

Kau tahu, kata bagian pemecah-masalah dari otaknya, ada suatu batasan atas seberapa banyak batasan yang bisa kamu tambahkan pada suatu masalah sebelum hal itu benar-benarjadi mustahil, kau tahu itu?

Itu harusnya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan, dan hal itu memang benar tidak, itu tak sebanding dengan penderitaan dari seorang tahanan di Azkaban, dan tetap Harry menemukan dirinya merasa sangat menyadari bahwa jika rencananya tidak berakhir dengan dirinya dijemput dari Mary's Place seolah-olah dia tak pernah pergi, dan sang Profesor Pertahanan terlihat benar-benar tak bersalah dari seluruh perbuatan buruk, Profesor McGonagall akan membunuhnya.


Saat tim mereka menyiapkan diri untuk menyantap gigitan wilayah lain dari spiral C, membuat perisai dan memindai sebelum menghilangkan perisai sebelumnya di belakang mereka, Amelia mengetukkan jari-jarinya pada pinggangnya dan bertanya-tanya apakah dia harus berkonsultasi dengan si ahli itu. Jika saja dia tidak sebegitu—

Amelia mendengar letupan api yang dia kenali dan ketahui apa yang akan dia lihat saat dia berbalik.

Sepertiga dari Auror-Aurornya berputar dan mengarahkan tongkat sihir mereka pada si penyihir tua dengan kacamata setengah bulan dan jenggot perak panjang yang muncul tepat di antara mereka, seekor phoenix merah-emas terang di pundaknya.

"Tahan serangan kalian!" Polyjuice membuat mudah untuk memalsukan wajahnya, tapi memalsukan perjalanan phoenix bisa dibilang akan jadi lebih sukar—penghalang-penghalang mengizinkan itu sebagai salah satu dari beberapa jalan cepat masuk Azkaban, walau tak ada jalan cepat keluar.

Si penyihir tua dan si penyihir tua saling memandang satu sama lain untuk saat yang lama.

(Amelia bertanya-tanya, di belakang pikirannya, yang mana dari para Aurornya yang mengirimkan kabar, ada beberapa mantan anggota Orde Phoenix bersamanya; dia mencoba mengingat, di belakang kepalanya, jika dia tadi melihat burung pipit Emmeline atau kucing Andy hilang dari gerombolan makhluk terang tadi; tapi dia tahu kalau itu sia-sia. Bisa saja bukan karena salah satu dari orang-orangnya, karena si tukang ikut campur tua itu mengetahui hal-hal yang dia tak memiliki cara sama sekali untuk ketahui.)

Albus Dumbledore memiringkan kepalanya pada Amelia dalam suatu gerakan santun. "Aku harap aku tidak tak diharapkan untuk ada di sini," kata si penyihir dengan tenang. "Kita semua ada di pihak yang sama, bukan begitu?"

"Itu tergantung," kata Amelia dalam suatu suara keras. "Apakah kau ada di sini untuk membantu kami menangkap para kriminal, atau untuk melindungi mereka dari konsekuensi atas tindakan mereka?" Apakah kau akan mencoba untuk menghentikan si pembunuh saudaraku dari mendapatkan Kecupan yang layak perempuan itu dapatkan, tukang ikut campur tua? Dari apa yang didengar Amelia, Dumbledore sudah bertambah pintar menuju penghujung perang, sebagian besar karena omelan nonstop Mad-Eye; tapi kemudian kambuh lagi ke pengampunan-pengampunan bodohnya begitu mayat Voldemort ditemukan.

Belasan titik kecil putih dan perak, cerminan binatang-binatang bersinar, berkilauan di kacamata setengah bulan si penyihir tua saat dia berbicara. "Bahkan lebih darimu aku tak ingin melihat Bellatrix Black bebas," kata si penyihir tua. "Dia tidak boleh meninggalkan penjara ini hidup-hidup, Amelia."

Sebelum Amelia bisa berbicara lagi, bahkan untuk mengekspresikan keterkejutannya, si penyihir tua menggerakkan tongkat sihir hitam panjangnya dan seekor phoenix perak membara muncul, lebih terang mungkin dibandingkan semua Patronus lain digabungkan. Itu adalah kali pertama Amelia melihat mantra itu dilemparkan tanpa kata. "Perintahkan seluruh Aurormu untuk membatalkan Mantra-Mantra Patronus mereka selama sepuluh detik," kata si penyihir tua. "Apa yang kegelapan tak bisa temukan, cahaya bisa temukan."

Amelia menyambar perintah itu pada petugas komunikasi, yang akan memberi tahu seluruh Auror melalui kaca-kaca mereka, memerintahkan agar kehendak Dumbledore dilakukan.

Itu membutuhkan beberapa saat, dan itu menjadi suatu periode kesunyian pekat, tak satu pun dari para Auror berani bicara, selagi Amelia mencoba menimbang-nimbang gagasannya sendiri. Dia tidak boleh meninggalkan penjara ini hidup-hidup … . Albus Dumbledore tak akan berubah menjadi Bartemius Crouch tanpa sebuah alasan kuat. Jika dia memang bermaksud untuk memberi tahu alasannya, dia pasti sudah melakukannya; tapi itu jelas bukan sebuah tanda positif.

Tetap saja, adalah baik mengetahui mereka akan bisa bekerja bersama pada yang satu ini.

"Sekarang," kata suatu paduan suara cermin-cermin, dan seluruh Mantra Patronus berkedip menghilang kecuali phoenix perak membara itu.

"Apakah ada Patronus lain yang masih terasa?" kata si penyihir tua dengan jelas pada si makhluk terang itu.

Si makhluk terang menundukkan kepalanya dalam sebuah anggukan.

"Bisakah kau menemukannya?"

Si kepala perak mengangguk lagi.

"Bisakah kau mengingatnya, semisal dia pergi dan muncul lagi?"

Anggukan terakhir dari si phoenix membara.

"Sudah selesai," kata Dumbledore.

"Selesai," kata seluruh kaca sesaat kemudian, dan Amelia mengangkat tongkat sihirnya dan mulai melempar ulang Patronusnya sendiri. (Walau itu membutuhkan suatu konsentrasi ekstra, dengan senyuman menyeringai itu sudah ada di wajahnya, untuk memikirkan kali pertama Susan mencium pipinya, bukannya berkutat pada takdir Bellatrix Black yang membayangi. Kecupan yang lain itu memang benar adalah suatu pikiran bahagia, tapi bukan jenis yang tepat untuk Mantra Patronus.)


Mereka bahkan belum sampai ke ujung koridor itu sebelum Patronus Harry mengangkat tangannya, dengan sopan, seolah sedang di dalam ruang kelas.

Harry berpikir dengan cepat. Pertanyaannya adalah bagaimana—tidak, yang itu juga kentara.

"Sepertinya," kata Harry dalam suatu suara dingin yang terhibur, "seseorang sudah memerintahkan Patronus ini untuk mengatakan pesannya hanya untukku." Dia tertawa kecil. "Baiklah kalau begitu. Maafkan aku, Bella sayang. Quietus."

Seketika itu juga si humanoid perak itu berkata dalam suara Harry sendiri, "Ada Patronus lain yang mencari Patronus ini."

"Apa?" kata Harry. Dan kemudian, tanpa berhenti untuk memikirkan tentang apa yang terjadi, "Bisakah kau menghalanginya? Menghentikannya dari menemukanmu?"

Si humanoid perak menggelengkan kepalanya.


Tak lebih cepat Amelia dan para Auror lain selesai melempar ulang Mantra-Mantra Patronus mereka, ketika—

Si phoenik perak membara melayang, dan si phoenix merah-emas sejati mengikutinya, dan si penyihir tua dengan tenang melangkah di belakang mereka berdua dengan tongkat sihirnya digenggam rendah.

Perisai-perisai di sekitar wilayah mereka terbelah di sekeliling si penyihir tua itu seperti air, dan tertutup di belakangnya bahkan tanpa sedikit pun percikan.

"Albus!" teriak Amelia. "Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?"

Tapi Amelia sudah tahu.

"Jangan mengikutiku," kata suara si penyihir tua dengan ketat. "Aku bisa melindungi diriku sendiri, aku tak bisa melindungi yang lain."

Umpatan yang Amelia teriakan di belakangnya membuat bahkan para Aurornya sendiri tersentak.


Ini tak adil, ini tak adil, ini tak adil! Ada suatu batas atas seberapa banyak batasan yang bisa kau tambahkan pada sebuah masalah sebelum hal itu menjadi benar-benar mustahil!

Harry menghalangi pikiran-pikiran tak berguna itu, mengabaikan letih yang dia rasakan, dan memaksa pikirannya untuk menghadapi ketentuan-ketentuan baru tadi, dia harus berpikir dengan cepat, memakai adrenalinnya pada rantai logika berikut ini dengan cepat dan tanpa kebimbangan, dan bukannya menghabiskannya pada keputusasaan.

Supaya misi ini berhasil,

(1) Harry harus menghilangkan Patronusnya.

(2) Bellatrix perlu disembunyikan dari para Dementor setelah Patronusnya dihilangkan.

(3) Harry perlu melawan efek penguras si Dementor setelah Patronusnya dihilangkan.

... .

Jika aku memecahkan yang satu ini, kata otak Harry, aku ingin sebuah kue setelahnya, dan jika kamu membuat masalahnya lebih sulit lagi dari ini, maksudku sedikit saja lebih sulit, aku akan memanjat keluar dari tengkorakmu dan pergi ke Tahiti.

Harry dan otaknya mempertimbangkan masalah itu.

Azkaban sudah bertahan tak terkalahkan selama berabad-abad, mengandalkan ketidakmungkinan menghindar dari tatapan Dementor. Jadi jika Harry menemukan cara lain untuk menyembunyikan Bellatrix dari para Dementor, itu harus mengandalkan entah pengetahuan ilmiahnya atau pemahamannya bahwa para Dementor adalah Kematian.

Otak Harry menyarankan bahwa cara yang jelas untuk menghentikan para Dementor dari melihat Bellatrix adalah dengan membuatnya berhenti ada, yaitu, membunuhnya.

Harry mengucapkan selamat pada otaknya karena berpikir di luar kotak dan memerintahkannya untuk terus melanjutkan mencari.

Bunuh dia dan kemudian bangkitkan lagi, datang saran selanjutnya. Gunakan Frigideiro untuk mendinginkan Bellatrix ke titik di mana aktifitas otaknya berhenti, kemudian hangatkan dia setelahnya memakai Thermos, sama seperti orang-orang yang terjatuh ke dalam air yang sangat dingin bisa berhasil dibangkitkan lagi setengah jam kemudian tanpa kerusakan otak yang signifikan.

Harry mempertimbangkan ini. Bellatrix mungkin tidak akan selamat dalam keadaan lemahnya. Dan itu mungkin tidak menghentikan Kematian dari melihatnya. Dan dia akan memiliki masalah membawa Bellatrix dingin yang tak sadarkan diri sebegitu jauh. Dan Harry tak bisa mengingat penelitian atas berapa persisnya temperatur tubuh yang semestinya tidak mematikan tapi menghentikan-otak-temporer.

Itu juga ide di-luar-kotak yang baik lain, tapi Harry menyuruh otaknya untuk terus memikirkan ...

cara-cara bersembunyi dari Kematian … .

Sebuah kerutan dahi datang ke atas wajah Harry. Dia pernah mendengar sesuatu tentang itu, di suatu tempat.

Salah satu syarat untuk menjadi penyihir kuat adalah ingatan yang sempurna, Kata Profesor Quirrell. Kunci atas suatu teka-teki seringnya adalah sesuatu yang kau baca dua puluh tahun lalu di suatu gulungan perkamen tua, atau suatu cincin aneh yang kau lihat di jari satu orang yang hanya kau temui sekali … .

Harry berkonsentrasi sekeras yang dia bisa, tapi dia tak bisa mengingat, itu ada di ujung lidahnya tetapi dia tak bisa mengingat; jadi dia menyuruh bawah sadarnya untuk mencoba mencari tahu, dan memfokuskan ulang perhatiannya pada setengah lain masalah tadi.

Bagaimana aku bisa melindungi diriku sendiri dari para Dementor tanpa suatu Mantra Patronus?

Sang Kepala Sekolah sudah berulang kali terpapar pada Dementor dari jarak beberapa langkah, berulang-ulang di sepanjang hari penuh, dan atasnya hanya terlihat lelah belaka. Bagaimana Kepala Sekolah melakukan itu? Bisakah Harry melakukan itu juga?

Itu bisa jadi suatu hal genetika acak, yang dalam hal itu Harry jelas celaka. Tapi misalkan masalahnya memang bisa dipecahkan … .

Maka dari itu jawaban jelasnya adalah bahwa Dumbledore tidak takut pada kematian.

Dumbledore memang benar-benar tak takut pada kematian. Dumbledore benar-benar, sungguh percaya bahwa kematian adalah petualangan besar selanjutnya. Mempercayainya di dalam inti dirinya, bukan hanya kata-kata mudah yang dipakai untuk menekan disonansi kognitif, bukan hanya berpura-pura bijak. Dumbledore sudah memutuskan bahwa kematian adalah susunan alami dan baku, dan apa pun ketakutan kecil yang masih melekat di dalamnya, itu memerlukan waktu lama dan paparan berulang untuk si Dementor kuras melalui cela kecil itu.

Jalan itu tertutup bagi Harry.

Dan kemudian Harry memikirkan sisi sebaliknya, pertanyaan kebalikan yang kentara:

Kenapa aku sebegitu lebih rentan dibandingkan kebanyakan orang? Para murid lain tidak rubuh ketika mereka menghadapi Dementor.

Harry bermaksud untuk menghancurkan Kematian, untuk mengakhirinya jika dia bisa. Dia bermaksud untuk hidup selamanya, jika dia bisa; dia memiliki harapan atas hal itu, gagasan tentang Kematian tidak memberikannya perasaan putus asa atau rasa tak terhindarkan. Dia tidak mati-matian terpaku pada nyawanya sendiri; memang memerlukan suatu usaha untuk tidak membakar nyawanya sendiri untuk keinginannya melindungi yang lain dari Kematian. Kenapa bayang-bayang Kematian memiliki kekuatan sebegitu besar atas Harry? Dia tak akan pernah memikirkan dirinya sendiri menjadi sebegitu takut.

Apakah itu karena Harry, sepanjang waktu, yang merasionalisasi? Yang diam-diam sebegitu takut pada kematian hingga hal itu memelintir pikirannya sendiri, hingga karenanya Harry kemudian menuduh Dumbledore?

Harry mempertimbangkan ini, mencegah dirinya sendiri dari tersentak menjauh. Itu terasa tak nyaman, tapi … .

Tapi … .

Tapi pikiran-pikiran tak nyaman tak selalu benar, dan yang satu ini tak terdengar benar-benar tepat. Seolah ada sedikit kebenaran, tapi hal itu tak bersembunyi di tempat yang hipotesis tadi katakan—

Dan itulah saat Harry menyadarinya.

Oh.

Oh, aku mengerti sekarang.

Yang merasa takut, adalah ...

Harry bertanya pada sisi gelapnya apa pendapatnya tentang kematian.

Dan Patronus Harry bergetar, meredup, nyaris padam seketika, karena atas keputusasaan, isakan, jeritan kengerian, sebuah ketakutan tak terkatakan yang atasnya akan dilakukan apa pun untuk tidak mati, membuang semuanya untuk tidak mati, yang tidak bisa berpikir waras atau merasa waras di hadapan kengerian absolut itu, yang tak bisa melihat ke dalam jurang ketidakadaan lebih dari tidak mampu menatap langsung ke Matahari, suatu ketakutan buta dan hanya ingin menemukan sebuah sudut gelap dan bersembunyi dan tak perlu memikirkan tentangnya lagi—

Sosok perak itu berubah makin gelap sampai menjadi cahaya bulan, dan berkerlip seperti lilin yang nyaris padam—

Tidak apa-apa, pikir Harry, tidak apa-apa.

Membayangkan dirinya sendiri merangkul sisi gelapnya seperti bocah yang ketakutan dalam tangannya.

Memang benar dan tepat untuk menjadi takut, karena kematian itu menakutkan. Kamu tak perlu menyembunyikan ketakutanmu, kamu tak perlu merasa malu karenanya, kamu bisa mengenakannya sebagai lencana kehormatan, terang-terangan di hadapan Matahari.

Adalah aneh, merasa dirinya sendiri terbelah dua seperti ini, jalur pikirannya yang memberikan penenangan, jalur pikirannya yang mengikuti ketidakpahaman sisi gelapnya atas keasingan pikiran Harry biasa; atas seluruh hal yang sisi gelapnya kaitkan dengan ketakutannya sendiri atas kematian, satu hal yang tak pernah dia harapkan atau bayangkan akan dia temukan, adalah penerimaan dan pujian dan pertolongan … .

Kamu tak perlu bertarung sendiri, kata Harry dengan diam pada sisi gelapnya. Diriku yang lain akan membantumu mengatasi hal ini. Aku tak akan membiarkan diriku sendiri mati, dan aku tak akan membiarkan teman-temanku mati juga. Bukan kamu/aku, bukan Hermione, bukan Mum dan Dad, bukan Neville atau Draco atau siapapun, ini adalah kehendak untuk melindungi … . Membayangkan sayap-sayap matahari, seperti sayap-sayap Patronus yang dia bentangkan, untuk menaungi anak yang ketakutan tadi.

Patronus itu bertambah terang lagi, dunia berputar di sekeliling Harry atau memang pikirannya sendiri yang berputar?

Pegang tanganku, pikir Harry dan membayangkannya, berjalanlah denganku, dan kita akan melakukan hal ini bersama … .

Ada suatu sentakan di pikiran Harry, seolah otaknya mengambil satu langkah ke kiri, atau alam semesta mengambil satu langkah ke kanan.

Dan di dalam koridor yang disinari terang, lampu minyak jauh kalah terang dibandingkan cahaya stabil dan tak goyah dari Patronus berbentuk manusia, seorang bocah tak terlihat berdiri dengan sebuah senyuman kecil aneh di wajahnya, bergetar hanya sedikit.

Harry tahu, entah bagaimana, bahwa dia baru saja melakukan sesuatu yang penting, sesuatu yang jauh melampaui sekadar memperkuat pertahanannya atas Dementor.

Dan lebih daripada itu, dia ingat. Memikirkan Kematian sebagai suatu sosok anthropomorphic pada akhirnya yang melakukannya, cukup ironis. Sekarang Harry bisa mengingatnya, apa yang konon mampu menyembunyikan seseorang dari tatapan sang Kematian itu sendiri … .


Dalam sebuah koridor Azkaban, seorang penyihir yang melangkahkan kaki sampai pada perhentian seketika; karena benda perak terang yang adalah pemandunya, berhenti di udara, mengepakkan sayap-sayapnya dengan tertekan. Si phoenix putih cemerlang memiringkan kepalanya, melihat ke belakang dan ke depan seolah kebingungan; dan kemudian dia berbalik kepada tuannya dan menggelengkan kepala dalam permintaan maaf.

Tanpa perkataan lain, si penyihir tua berbalik dan melangkah kembali ke arahnya datang.


Harry berdiri lurus dan tegap, merasakan ketakutan menyapunya dan sekelilingnya. Beberapa bagian kecil dari dirinya mungkin sudah terkikis sedikit oleh gelombang kekosongan yang pecah terus menerus menabrak batu tak bergerak miliknya, tapi anggota tubuhnya tidak dingin, dan sihirnya tetap bersamanya. Seiring waktu gelombang-gelombang itu akan mengikisnya dan melahapnya, menyelinap melewati bagian kecil apa pun darinya yang masih menggigil ketakutan di hadapan Kematian dan bukannya memakai ketakutannya untuk memperkuat dirinya sendiri untuk pertempuran. Tapi kebinasaan itu akan memerlukan waktu, dengan bayang-bayang Kematian itu jauh dan tak memedulikan dirinya. Cacatnya, retaknya, garis celahnya yang memang di dalam dirinya sudah diperbaiki, dan bintang-bintang membara dengan terang di pikirannya, luas dan tak gentar, dan cemerlang di tengah-tengah kedinginan dan kegelapan.

Untuk mata mereka yang lain, akan terlihat bahwa si bocah berdiri sendirian di dalam koridor metal yang diisi cahaya redup, mengenakan senyuman aneh itu.

Karena Bellatrix Black dan si ular yang terhamparkan di bahunya ditutupi Jubah Gaib, salah satu dari tiga Relikui Kematian dan konon mampu menyembunyikan pemakainya dari tatapan sang Kematian itu sendiri. Teka-teki yang jawabannya sudah hilang, dan yang mana Harry sudah temukan lagi.

Dan Harry tahu, sekarang, bahwa penyembunyian Jubah itu lebih dari sekadar transparan Disillusionment, bahwa Jubah itu menjagamu tetap tersembunyi dan bukan hanya tak terlihat, sama tak terlihat seperti para Thestral bagi mereka yang tak mengetahui. Dan Harry juga tahu bahwa adalah darah Thestral yang membuat simbol Relikui Kematian di bagian dalam Jubah itu, mengikat ke dalam Jubah bagian itu dari kekuatan Kematian, memampukan si Jubah untuk menghadapi para Dementor pada tingkat mereka sendiri dan menghalangi mereka. Itu terasa seperti sebuah tebakan, dan juga sebuah tebakan yang pasti, pengetahuan datang padanya seketika saat memecahkan teka-tekinya.

Bellatrix masih transparan di dalam Jubah, tapi untuk Harry dia tak lagi tersembunyi, dia tahu bahwa Bellatrix di sana, sama jelasnya baginya seperti seekor Thestral. Karena Harry hanya meminjamkan Jubahnya, bukan memberikannya; dan dia sudah memahami dan menguasai Relikui Kematian yang sudah diwariskan melalui garis keturunan Potter.

Harry menatap tepat pada perempuan tak terlihat itu, dan berkata, "Bisakah para Dementor menjangkaumu, Bella?"

"Tidak," kata si perempuan dalam sebuah suara lembut, bertanya-tanya. Kemudian, "Tapi my Lord … kamu … ."

"Jika kamu mengatakan hal bodoh, itu akan menjengkelkanku," kata Harry dengan dingin. "Atau apakah kamu mengira kalau aku akan mengorbankan diriku sendiri untukmu?"

"Tidak, my Lord," si pelayan Pangeran Kegelapan menjawab, terdengar kebingungan, dan mungkin kagum.

"Ikuti aku," ucap bisikan dingin Harry.

Dan mereka melanjutkan perjalanan mereka turun, saat sang Pangeran Kegelapan meraih ke dalam kantongnya, dan mengambil sebuah kue, dan memakannya. Jika Bellatrix bertanya, Harry akan menyatakan bahwa itu adalah untuk cokelatnya, tapi dia tak bertanya.


Si penyihir tua melangkah kembali ke tengah-tengah para Auror, para phoenix perak dan merah-emas sekarang mengikuti di belakang.

"Kau—" Amelia mulai membentak.

"Mereka sudah menghilangkan Patronus mereka," kata Dumbledore. Si penyihir tua sepertinya tidak menaikkan suaranya tapi kata-kata tenangnya entah bagaimana seperti melampaui kata-kata Amelia sendiri. "Aku tak bisa menemukan mereka sekarang."

Amelia menggertakkan giginya, dan menempatkan sejumlah komentar yang teramat pedas dalam penundaan, dan berbalik kepada petugas komunikasinya. "Katakan pada ruang kerja untuk bertanya pada para Dementor lagi apakah mereka bisa merasakan Bellatrix Black."

Sang spesialis komunikasi berbicara pada kacanya untuk sesaat, dan beberapa detik kemudian, mengangkat wajah, terkejut. "Tidak—"

Amelia sudah mengumpat sengit di dalam pikirannya.

"—tapi mereka bisa melihat seseorang yang lain di tingkat-tingkat lebih bawah yang bukan seorang tahanan."

"Baiklah!" bentak Amelia. "Beri tahu Dementor itu bahwa belasan dari jenisnya diizinkan untuk memasuki Azkaban dan menangkap siapapun itu dan mereka yang menemani orang itu! Dan jika mereka melihat Bellatrix Black, mereka harus memberinya Kecupan secepatnya!"

Kemudian, Amelia berbalik dan menatap tajam ke arah Dumbledore, menantangnya untuk berdebat; tapi si penyihir tua hanya melihat ke arahnya dengan sedikit sedih, dan menjaga kedamaiannya.


Auror McCusker selesai berbicara pada mayat yang melayang di luar jendela, menyampaikan perintah sang Pemimpin.

Si mayat memberinya sebuah senyuman mematikan yang nyaris melepaskan anggota tubuhnya, dan kemudian melayang ke bawah.

Tak lama setelahnya, belasan Dementor bangkit dari tempat mereka melayang di lubang pusat Azkaban, dan menuju keluar, ke arah dinding-dinding struktur metal besar yang menjulang di atas mereka.

Memasuki melalui lubang-lubang yang ditempatkan di dasar Azkaban, yang tergelap dari seluruh makhluk memulai baris kengerian mereka.