#HUAAA~ MAAF LAMA NGGAK MUNCUL! H-Habis...

Try Out bertebaran...

Terlebih lagi, bulan Maret sudah mau Uprak dan Usek juga...

Lalu, bulan April... *sesak nafas* #HOY

Maaf ya, kalau update-nya jadi hancur begini www~

Sebelum ke cerita, seperti biasa deh, balas review~

Ashura Holis682 kuberikan (y) juga untukmu #GAK

yuanita antariksa 3 silahkan dilihat nanti di sini kekekeke~ *dilempar sandal* mungkin Xun Yu kenal lewat media sosial :") #GAK btw makasih sudah review~

kharismaaprilia ayo kita ke kuil bareng om Yu Jin #HEH #DITUSUK makasih sudah review~ XD

ivana hoho~ tau dong~ masa nggak tau sih *kedip* #HEH wah, semangat ya yang juga mau UN :'D #plak

Evil Meiyhan err... a-ada apa ini...? *elus dada*

Oke, selamat dinikmati! XD


"DIMANA ZHANG JIAO?!" Xiahou Dun terlihat tidak santai saat mendengar Zhang Jiao belum datang ke tempat event.

"Tenang! Tenang! Masih ada waktu, kok. Kita dapat jam sepuluh, 'kan?" Xiahou Yuan berusaha untuk menenangkan Xiahou Dun.

"YA TAPI—"

"Tenang, Tuan Xiahou Dun. Saya akan mencoba menghubunginya." Xun Yu terus berusaha menghubungi Zhang Jiao via telepon, SMS, L*NE, WHATSA*P, B*M, dan diberbagai media social lainnya juga.

"Kurang, Thor-san. Saya juga menanyakan keberadaannya di as*.fm, lho."

Xun Yu, plis…

Iya tanya sih tanya, tapi nggak di sana juga.

Ya sudahlah. Itu memang tempat buat kepo.

"Masih lebih mendingan, Thor-san. Anak itu, di Nistagram coba…" Xun Yu tunjuk-tunjuk Guo Jia yang lagi beberes.

… MANA BISA NISTAGRAM DIPAKAI BUAT TANYA?!

YANG ADA BUKAN DAPET JAWABAN, TAPI MALAH DAPET LIKE.

"Aku hanya posting foto Xun Yu yang lagi panik sambil mainan hape, kok. Terus aku bilang deh: Lihat! Xun Yu sedang mencari Zhang Jiao! Dimana dia?! Dimana?! Yang tahu bilang, ya!"

… Nggak gitu juga… Tapi, bisa sih, bisa…

Iyain aja, deh.

"Heh, fotoku jelek. Hapus, nggak?" Xun Yu yang tersadar bahwa foto dirinya yang dimasukin ke Nistagram oleh Guo Jia jelek, langsung main injak Guo Jia.

Oke, abaikan dua pasangan ini.

"PASANGAN APA?!"

Mari kita lihat yang lain, abaikan yang barusan…

Sementara itu, yang lainnya sedang bersiap merapihkan tempat yang mereka sewa sebagai tempat untuk pesta dansa nanti.

"Hei, sepertinya kita harus melakukan sedikit sihir di tempat ini nanti." Guo Jia saat itu sedang memasang taplak meja untuk menaruh minuman dan makanan manis, tentunya dengan babak belur gara-gara dihajar Xun Yu.

"Heh, tenang saja. Nanti akan kuberikan setelah aku selesai memahat patung es ini." Cao Pi menjawabnya sambil memahat patung es.

Kerja sambilan, ya?

Kemudian Author dibekuin.

"Jangan sampai esnya meleleh karena anak-anak Wu, ya. Terutama duo pyromaniac yang terkenal itu." Kata Jia Xu sambil membantu Guo Jia.

"Heh, mereka mah dibekuin aja selesai."

"Tapi mereka bisa melelehkannya, pasti."

"Bekuin lagi, dong."

"Cao Pi, itu membuang-buang waktu namanya. Mereka anti beku."

Nggak anti bocor, ya?

"Bochor~ Bochor~" lewatlah Zhang He dengan gerakan lemah gemulainya.

Cao Pi, Guo Jia, dan Jia Xu sweatdrop.

"Xun Yu! Bagaimana?" Cao Cao datang dengan berlari-lari kecil kearah Xun Yu yang masih sibuk menghubungi Zhang Jiao yang sedari tadi belum dijawab juga.

"T-Tunggu sebentar, Tuan…"

"Aku harap rencana kita tidak gagal."

"Tenang, Tuan Cao Cao, saya yakin rencana ini berhasil."

"Sudah kubilang kita ke kuil saja." Yu Jin masih tidak terima dengan hasil keputusan rapat.

Om, udah, om. Sini ke kuil sama aku.

Yu Jin langsung buang muka.

"Jadi, sekarang Author-san suka sama om-om, ya?" Guo Jia ngeledek sambil senyum-senyum jahil.

E-Enak saja…

"Tunggu sebentar, Tuan Cao Cao, saya harus memastikan dia tidak tersesat." Xun Yu berlari keluar dari tempat yang akan dijadikan tempat dansa, masih menggenggam handphone.

Jadi, SMA Wei sedang panik-paniknya gegara Zhang Jiao yang katanya mau bantu mereka buat pesta dansa belum juga datang. Masih ada waktu, pasti bisa terlaksana, deh!

Sementara itu, SMA Jin, mereka benar-benar sudah siap sedia. Bahkan anak-anak dari J.E.P itu sudah beraksi di panggung utama.

"Kudengar anak-anak Wei sedang kebingungan, seperti mencari sesuatu." Deng Ai melipat kedua tangannya sambil menonton pertunjukkan J.E.P dari tempat penonton, bersama dengan Wen Yang.

"Oh, benarkah? Orang siapa?" Wen Yang mulai kepo mendengar apa yang diceritakan Deng Ai.

"Nggak tahu, tadi aku tanya di Nistagram-nya Guo Jia, katanya sesuatu yang precious."

MY PRECIOUS…

"Ooh… Mungkin saja property buat menghias tempat yang akan mereka pakai untuk dansa nanti? Atau mungkin katering?"

"Untuk apa mereka pakai katering segala, toh ada SMA Shu, kenapa mereka tidak bekerja sama saja?"

"Entahlah… Mungkin juga karena mereka berpikir Shu akan kerepotan? Ini ramai, pasti pembeli di stand mereka juga ramai. Semua ada kemungkinannya."

Deng Ai menganggukkan kepala, kemudian kembali menyaksikan anak-anak J.E.P yang baru saja selesai membawakan satu lagu.

"Heh, tiang listrik."

Wen Yang dan Deng Ai yang mendengar suara itu langsung kebingungan.

"Di sini! Aku tahu aku pendek, tapi jangan gitu juga!"

"O-Oh… Xiahou Ba! Maaf, maaf…"

"Kalian ngapain di sini? Sima Zhao nyariin kalian, tuh!"

"Kamu juga ngapain di sini? Bukannya habis ini kamu tampil?" Wen Yang balik bertanya.

"Nggak seru di backstage terus! Sudahlah, dicari Sima Zhao!"

"O-Oke…"

Wen Yang dan Deng Ai langsug pergi menuju ke tempat Sima Zhao.

Kembali ke Xun Yu…

"Ah! Tuan Zhang Jiao!" Xun Yu berlari menghampiri Zhang Jiao yang sedang kebingungan.

"O-Oh! Kukira aku tersesat dimana! Hahaha! Maaf menunggu lama, aku agak tersesat!"

"Hmm, tidak apa-apa. Mari saya antar ke tempat kami."

"A-Anu… Tuan Xun Yu… Jadi…"

"Hmm? Ada apa, Tuan Zhang Jiao?"

"Anu… Tongkatku… Iya, tongkatku…"

Xun Yu memiringkan kepalanya dengan bingung.

"T-Tongkat untuk melakukan sihirnya nanti… Menghilang…"

"APAA?!" Xun Yu syok.

*Zoom in zoom out kamera*

"M-Maafkan saya, Tuan… Makanya, saya bingung hilang kemana…"

Xun Yu langsung melirik jam tangannya, pukul setengah sembilan.

"Setengah sembilan. Kita harus cepat mencarinya! Kita akan melakukannya jam sepuluh."

"Sekali lagi maafkan saya, Tuan."

"Tidak apa-apa, saya dan teman-teman akan berusaha mencari tongkat itu. Mari, saya antar ke tempat Wei."

###

"DOUBLE WHAT? WHAT? WHAT?! HIILAANG?!" Guo Jia alay mendadak.

"Heh. Alay." Cao Pi bekuin Guo Jia.

"Maafkan saya, saya seharusnya menjaga tongkat itu dengan hati-hati!"

"Ya sudah. Kita harus cepat menemukan tongkat itu sebelum jam sepuluh. Kalian yang sudah selesai, cepat cari dimana tongkat itu berada!" Cao Cao langsung memerintah untuk mencari tongkat itu.

Beberapa yang sudah selesai dengan pekerjaannya langsung berlari mencari dimana keberadaan tongkat tersebut.

"Aku harap bisa ketemu…" Cao Cao mulai agak pesimis.

"Kalau begitu, saya permisi untuk mencarinya juga, mari ikut saya, Tuan Zhang Jiao!"

"B-Baik! Saya permisi!"

Mereka terus mencari tongkat tersebut, laporan demi laporan mereka laporkan kepada Cao Cao, belum ditemukan, belum ditemukan, itulah laporan yang diterima Cao Cao sampai saat ini. Mendengar laporan yang sama terus menerus, Cao Cao berkeringat dingin, ada rasa pesimis yang muncul dalam benaknya. Terus berpikiran bagaimana kalau tongkat itu tidak ditemukan, pesta dansa tahun barunya akan menjadi pesta dansa biasa, sesuatu yang akan dianggap membosankan. Apa yang akan dikatakan Sima Yi nanti? Mungkin saja dia akan tertawa keras karena miliknya lebih menarik daripada dansa yang membosankan ini.

"Tuan Cao Cao? Anda tidak apa-apa?" salah satu orang Wei menyadarkan Cao Cao dari lamunannya.

"O-Oh… Aku hanya sedang berpikir… Bagaimana kalau…"

"Jangan bilang kalau kamu berpikir tongkat itu tidak akan ditemukan? Yang benar saja! Pasti ditemukan, kok!" Xiahou Dun yang dari tadi berada di sebelahnya itu mulai memotivasi Cao Cao.

"Tapi… Yang kita dapatkan hanyalah laporan belum ditemukan…"

"Nanti juga ditemukan!" Xiahou Yuan juga angkat bicara.

"Percayalah pada Xun Yu dan yang lain, mereka bisa diandalkan, kok!"

"Dun benar! Tenang saja!"

"Haah… Kalian benar… Aku akan menunggu…"

Mari kita lihat bagaimana keadaan para pencari tongkat emas—maksudku, tongkat. Ya, hanya tongkat.

Dikira film bioskop sebelah…

"Apakah kamu melihat tongkat?" Li Dian, tiba-tiba bertanya kepada penonton(?), semacam Dora The Explorah.

"Dimana?" Yue Jin juga ikutan.

"HOY! Cari yang bener!" Kemudian mereka berdua diamuk Zhang Liao.

"Heh. Dimana, ya? Ketemu nggak?" Cao Pi sibuk mencari di setiap sudut.

"Nggak, nih…" Zhen Ji menggeleng kuat.

"MA CHAO! APAKAH KAMU MELIHAT TONGKAT?!" Wang Yi yang saat itu kebetulan berpapasan dengan Ma Chao langsung bertanya dengan nafsu membunuh.

"A-A-APA?! T-TONGKAT? K-KAMU MAU N-NUDUH AKU, YA?!"

"NGGAK. CUMA TANYA. NGGAK DIJAWAB GUE PENGGAL KEPALA LOE."

"NGGAK! NGGAK! NGGAK LIHAT!" Ma Chao menggeleng kuat.

"YANG BENER? NGGAK USAH BOHONG!"

"A-APAAN SIH?! DARI TADI AKU CUMA DI SINI SAMA MA DAI."

"Kami tidak melihat tongkat, Nona~" Ma Dai membela Ma Chao.

"Oh. Maaf. Kalau lihat… HUBUNGI AKU. AKU AKAN LEBIH SENANG JIKA KAMU MENEMUIKU, MA CHAO." Wang Yi pergi berlalu dengan aura membunuh.

Ma Chao dan Ma Dai sweatdrop.

"Ah, Tuan Yu Jin, sudah mendapatkan sesuatu?" Cai Wenji bertanya dengan suara lembut.

Yu Jin menggeleng kuat sambil nge-blush.

Heh, om.

"Xu Zhu! Hoy! Xu Zhu! Duh, ini anak kemana, siih~ bikin rempong!" Zhang He malah sibuk cari Xu Zhu.

"Ah! Aku disini!"

Ternyata Xu Zhu sedang menikmati bermangkuk-mangkuk makanan dari stand milik keluarga Guan.

"Aduuh… Bukannya cari tongkat malah…" Zhang He langsung headwall.

"Permisi cewek cantik? Lihat tongkat aneh nggak—"

BUAGH!

"HUEEE.. SIAPA YANG CEWEK CANTIK?!"

"LHADALAH SI COWOK CANTIK TERNYATA," Guo Jia langsung mengusap pipinya yang kena tinju dari Lu Xun, "lihat tongkat aneh nggak?"

"Tongkat? Banyak tongkat di sini."

"Yaa… Tongkat yang punya kekuatan aneh?"

Lu Xun menggeleng dengan unyunya.

"Haah… Ya sudah, makasih, deh! Maaf yang tadi! Oh, iya. Mana pacarmu?"

"P-Pacar?" Lu Xun salah tingkah.

"Iya, pacar. Itu, si Zhu Ran—"

BUAGH!

"BUKAN HOMO—"

"Maaf! Maaf! Kalau gitu aku permisi—" Guo Jia langsung kabur dengan dua tinjuan.

###

"Belum ditemukan… Terakhir ditaruh mana?" Xun Yu terus memantau perkembangan chatting dari anak-anak Wei yang melaporkan temuannya.

"U-Uhh… Saya lupa…"

Saat itu juga, tak sengaja Xun Yu bertemu dengan Sima Zhao dan Sima Shi yang habis membeli meatbun segudang.

"Ah! Permisi, Tuan Zhao dan Tuan Shi! Boleh bertanya sesuatu?" Xun Yu langsung menghampiri keduanya.

"Oh, silahkan! Silahkan! Ada apa?" Sima Zhao menjawab dengan senang hati.

"Lihat tongkat misterius, nggak?"

"Hmm… Tongkat…? Seperti apa?"

"Bentuknya beda dari tongkat yang lain!" Zhang Jiao menjelaskan.

Kedua Sima itu saling menatap.

"Oh! Oh! Ayah tadi membawa benda nggak jelas, mungkin itu tongkat yang kalian maksud!" jawab Sima Zhao sambil mengunyah meatbun.

"Benarkah?! Dimana? Dimana?"

"Mungkin saat ini ayah sedang ada di dekat panggung utama? Mau ke sana? Biar kuantar."

"Boleh! Terima kasih!"

"Terima kasih, Tuan Zhao dan Tuan Shi." Xun Yu dengan formalnya langsung membungkuk tanda hormat.

-WEI Chatting Room ON-

XY : Sudah ditemukan! Di dekat panggung utama. Sepertinya dibawa oleh Sima Yi.

GJ : Wow! Hebat sekali! Kalau begitu ayo ke sana!

CC : Syukurlah kalau begitu. Cepatlah kembali, anak-anak!

CP : Heh. Baguslah.

CC : Semoga saja dia mau mengembalikannya…

GJ : He?!

XY : Maksud Anda…?

CC : Kalian tahu sendiri, Sima Yi itu orang yang seperti apa…

GJ : Baiklah, kami mengerti. Hey, XY, biarkan aku membantumu.

XY : Baik. Terima kasih atas pemberitahuan dan bantuannya.

ZJ : Ohoho. Ayo kita bantu juga, CP~

CP : Heh. Merepotkan. Tapi, ya sudah. Aku bantu dengan ZJ.

XY : Terima kasih banyak. Kalau begitu, pergilah ke panggung utama.

-WEI Chatting Room OFF-

Setibanya di dekat panggung, Sima Zhao dan Sima Shi masuk ke tenda untuk mendapatkan izin agar Xun Yu boleh menemui ayah mereka, Sima Yi.

"Anu, Xun Yu… Iya, 'kan?" Sima Zhao keluar dari tenda.

"Ya? Bagaimana?"

"Sepertinya ayah tidak mau ada yang mengganggunya… Maaf, ya!"

"Ah? Benarkah? Apakah tidak bisa dibujuk lagi?"

"Tidak, ayah memang orangnya seperti itu…"

Xun Yu menghela nafas, "Haah… Bagaimana ini…?"

"Maaf, ya!"

Xun Yu mengangguk, kemudian menatap Zhang Jiao dengan bingung. Zhang Jiao hanya mengangkat bahu.

"Tolong tanyakan pada beliau mengenai tongkat itu, bisa?"

"Ahh… Umm—"

"Oh, ada Sima Zhao! Hei, XY, aku datang, nih! Mana Sima Yi?" Guo Jia datang bersama dengan yang lain.

"Umm… Ada apa, ini?" Sima Zhao mulai waspada.

"Kau tidak memperbolehkan kami menemui ayahmu? Heh. Kalau begitu…" Cao Pi mendekati Sima Zhao, kemudian bersiul.

Muncul Yue Jin dan Li Dian yang dengan cepat langsung menahan Sima Zhao agar tidak bisa bergerak.

"H-Hei?! Ada apa ini?! Hei! Lepaskan!" Sima Zhao meronta.

Melihat Sima Zhao yang sudah ditahan oleh Li Dian dan Yue Jin, Cao Pi, Xun Yu, Guo Jia, dan Zhang Jiao langsung membuka paksa tenda yang ternyata kosong itu.

"Huh?! Dimana Sima Yi?!"

"Itu! Dia kabur membawa tongkatku!" Zhang Jiao menunjuk kearah pintu belakang tenda.

Dengan cepat, Cao Pi dan Xun Yu langsung berlari mengejar Sima Yi yang kabur membawa tongkat sihir itu.

"MWAHAHAHAHAHAHA! Kalian tidak akan bisa mendapatkannya!"

"Heh. Siapa bilang kami tidak bisa?!" Cao Pi mendadak menjadi Elsa di film Prozen (sensor cuy), mengeluarkan es dimana-mana.

Kejar-kejaran itu menjadi tontonan para pengunjung. Mereka terheran-heran dengan es yang dibuat oleh Cao Pi.

Karena sepanjang jalan kenangan menjadi es, Sima Yi langsung tergelincir, kemudian menjatuhkan tongkat sihir itu.

"Biar aku tangani Sima Yi. Kau ambil saja tongkat itu dan serahkan kepada Zhang Jiao!" Cao Pi langsung menangkap Sima Yi yang tergelincir.

Xun Yu mengangguk dan langsung mengambil tongkat yang tergeletak itu.

"Lepaskan aku!" Sima Yi meronta.

"Mengapa Anda mencurinya?" Xun Yu mendekati Sima Yi.

"Aku hanya menemukannya, kok… Memangnya, ada perlu apa kalian sampai mengincar tongkat itu?"

"Kau akan tahu nanti, om." Cao Pi tersenyum licik.

"Maksudmu… Dansa murahan itu? Hah! Yang benar saja…!"

"Dansa kami tidak murahan. Dansa kami akan menjadi dansa terbaik di penghujung tahun ini. Ingat itu baik-baik." Xun Yu langsung pergi meninggalkan Sima Yi dan menyerahkan tongkat itu kepada Zhang Jiao.

"Terima kasih, Tuan Xun Yu, semuanya! Terima kasih!"

"Mari kita kembali ke tempat Tuan Cao Cao. Beliau pasti sudah menunggu."

"Heh. Ini mau diapakan?" Cao Pi masih tidak membiarkan Sima Yi lepas.

"Lepas saja. Sudah, tidak apa-apa."

"Oke. Maaf membuatmu tergelincir, mungkin akan ada yang encok nantinya."

"AP—ADUDUDUDUH… ENCOK…"

Setelah Cao Pi melepaskan Sima Yi, tiba-tiba tepuk tangan meriah bersautan karena kagum dengan apa yang sudah dilakukan Cao Pi dengan memunculkan sesuatu yang berbau sihir es dari tangan kosongnya.

"…. A-Apaan…" wajah Cao Pi memerah.

Akhirnya, tongkat sihir Zhang Jiao sudah kembali! Tinggal pelaksanaannya saja!

###

"Maaf sudah membuat Anda bersabar lima menit. Mungkin kalian menganggap ini dansa yang biasanya dilakukan anak-anak Wei, bukan? Kalian salah besar! Ini adalah dansa yang akan kalian kenang seumur hidup! Anti mainstream! Kita langsung saja, dengan pasangan masing-masing, berdansalah seperti biasanya!" setelah Cao Cao membuka acara dansa anti mainstream itu, dansa pun dimulai.

Awalnya, dansa seperti biasa, suasananya juga seperti biasa. Terlihat Ma Chao yang kakinya diinjak-injak oleh Wang Yi, Zhao Yun yang berdansa seperti biasa dengan Xing Cai, Sun Quan dengan Lian Shi, Lu Xun juga sedang bersama Zhu Yuan, semua dengan pasangannya masing-masing. Oh, tunggu.

Bagaimana dengan…

"Hai."

Terlihat di pojokan tempat dansa, Zhu Ran pundung.

Oh, biarkan saja dia dansa dengan tiang.

"JAHAT."

Saat dansa berlangsung damai-damai saja, tiba-tiba…

JEGLEK!

Lampu padam.

Penonton kecewa.

Bubar! Bubar!

*Kemudian Author dilempar kaleng bekas*

Semuanya bertanya-tanya. Pasti ada kesalahan teknis dibalik ini semua…

Tak lama kemudian, lampu kembali menyala. Mereka akhirnya bisa berdansa dengan normal kemba—

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA—"

Semuanya menatap kearah sumber suara yang berasal dari Zhong Hui yang tiba-tiba nggak nyantai.

"G-G-GUE… KENAPA…?! JADI CEWEK?!"

Kemudian semua menatap kearah pasangan masing-masing. Teriak berjamaah pun terjadi.

"WOY. APAAN INI?! YANG BENAR SAJA?!" Ma Chao syok melihat Wang Yi yang tiba-tiba jadi cowok tulen.

"X-XING CAI?!" Zhao Yun syok, begitu juga dengan Xing Cai yang mendadak merinding disko melihat Zhao Yun jadi cewek.

"Kak Lu—"

"HUEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE—" Lu Xun mendadak jadi lebih imut lagi dari biasanya, sedangkan Zhu Yuan jadi tampan dan berani.

Bisa dibilang, mereka semua crossgender. Tenang, bukan transgender. Bukan hanya cewek jadi cowok dan cowok jadi cewek, tapi pakaiannya pun berubah.

*Kemudian Author digebukin*

"Sudah kami bilang, bukan? Dansa yang tidak biasa!" Cao Cao yang mendadak jadi cewek itu langsung tertawa keras.

"XUN YU! AKU MALU!" Xiahou Dun berhasil memecahkan gelas berisi anggur, tentunya dengan wujud cewek, cewek kuncir dua dengan eyepatch.

"M-Maafkan aku, Tuan! Tapi… Dansa begini bagus juga."

"Apanya yang bagus, Xun Yu? Ketampananku hilang…" Guo Jia pegang-pegang wajah sendiri.

"Anak cowok bisa merasakan susahnya pakai gaun dan sepatu yang seperti ini. Susah 'kan jalan pakai beginian…?" Xun Yu memamerkan pakaian dan sepatunya yang adalah sepatu hak tinggi.

"I-Iya juga sih… Hebat ya, mereka bisa betah…" Guo Jia juga mencoba menggerakkan kakinya.

Bukan hanya mereka berdua yang merasakannya, tetapi juga peserta dansa yang lain. Cowok yang menjadi cewek, susah bergerak. Sedangkan cewek yang menjadi cowok, mudah saja untuk bergerak.

"Hei! Cao Cao! Kapan ini akan berakhir?!" Liu Bei langsung main lempar piring.

"Tenang! Tenang! Nanti juga sebelum kembang api sudah balik lagi!" Cao Cao dengan senyum licik menghindari piring terbang dari Liu Bei.

UFO!

"Hah! Sendirinya juga nggak suka 'kan jadi cewek begitu!" Sun Jian teriak-teriak nggak nyantai.

"Y-Ya nikmati saja, dong! HAHAHAHA!" Cao Cao tertawa maksa.

"Ciee… Xunnie jadi imut ciee.." Zhu Ran godain Lu Xun yang lagi panik sendiri.

"D-DIEM SANA! KAMU JUGA APAAN, TUH?! MASIH MINI AJA."

"JAHAT KAMU—"

"CAO CAO! KEMBALIKAN DIRIKU!" Sun Jian langsung lempar cangkir ke lantai.

"SUN JIAN BENAR! KEMBALIKAN AKU! MAKSUDKU, KAMI!" Liu Bei masih lempar-lempar piring macam lempar frisbee.

Dansa yang penuh dengan kejutan ini berakhir dengan ricuh…

Susah juga, ya…?

###

"Tinggal tunggu kembang api, ya?" Xun Yu, yang sudah kembali normal itu sedang mengobati Cao Cao yang kena hantam Sun Jian dan Liu Bei.

"Huh. Idemu mengerikan! Sudah kubilang, bukan?!" kata Xiahou Dun yang juga sedang mengobati luka Cao Cao.

"Maafkan saya, gara-gara ide tidak brilian ini Anda jadi seperti ini, Tuan…"

"Sudah, tidak apa-apa… Ada tantangan tersendiri juga…"

"Hei! Hei! Kembang api sudah mau mulai, lho!" Guo Jia berlari dengan girang kearah Xun Yu.

"Oh? Lebih baik kita ke sana, aku tidak apa-apa dengan luka seperti ini."

"Ya sudah, mari kita ke sana!"

Keadaan Wu…

"Ran, jangan nafsuan gitu dong—" Sun Quan dari tadi harus berurusan dengan landak mini yang nggak sabaran buat nyalain kembang api.

"Ini anak, dari tadi nggak bisa diem, ya?" Ling Tong bete melihat kelakuan landak mini.

Ngomong-ngomong soal landak, tadi di soal Bahasa Inggris ada gambar landak mi—

Kemudian Author dibakar sampai jadi abu.

"Kok pada jahat sama aku…" Zhu Ran memelas.

"Karena kamu enak diapa-apain, Ran." Jawab Sun Quan tanpa merasa bersalah sedikitpun.

"HUE—"

"HUSH! UDAHAN! Bentar lagi, nih! Hitungan satu nyalain, ya! Yang bener, lho!"

Tadi itu suasana di backstage, bagaimana dengan barisan penonton? Ternyata Sun Jian sudah berada di atas panggung, tentunya bersama Liu Bei, Cao Cao, dan Sima Yi.

"Tunggu pembalasanku, Cao Cao…" Sima Yi masih dendam karena kasus pencurian tadi.

"Tenang. Aku akan membalasmu dengan kebaikan." Kata Cao Cao lalu tersenyum menang.

"EHEM! Pengunjung sekalian! Terima kasih karena sudah bersama dengan kami sampai akhir acara ini. Di akhir acara ini, kami dari Wu akan mempersembahkan kembang api yang tiada duanya sebagai awal yang baik untuk tahun yang baru!"

Semua pengunjung bersorak gembira.

"Sebentar lagi tiba waktunya, tahun akan berganti! Saya berharap, tahun baru nanti akan menjadi lebih indah! Baiklah, mari kita hitung mundur…

10…

9…

8…

7…

6…

5…

4…

3…

"Siap semuanya!" Sun Quan memberi aba-aba dari backstage untuk bersiap menyalakan kembang api.

2…

1,8...

1,7...

1,6...

1,5-

"AUTHOR!"

M-Maaf...

1…

"GO!"

PSYUUU~

CTAR! CTAR! TAR! TAR!

PSYUUU~ PSYUUU~

CTAR!

"SELAMAT TAHUN BARU~"

Semuanya menatap ke langit, kembang api yang benar-benar indah. Benar memang, anak-anak Wu tidak pernah kehabisan ide untuk membuat kembang api. Lihat, bahkan ada yang berbentuk meatbun.

"MEATBUN—" Sima Shi mulai rusuh sendiri.

"HEH. ITU CUMA KEMBANG API, KAK." Sima Zhao langsung menarik Sima Shi.

"Selamat tahun baru semuanya!" Sun Quan menatap kearah para kru kembang api.

"Selamat tahun baru juga!"

"Yo! Met tahun baru!"

Semuanya saling memberikan senyuman dan ucapan.

"Ran, selamat tahun baru." Sun Quan tersenyum kearah Zhu Ran.

"…"

"Hei? Kamu tidak apa-apa?"

"… Banyak sekali yang terjadi sebelumnya…"

"Hei, hei! Kamu ini bicara apa. Tentu saja! Kita akan memperbaikinya di tahun yang baru ini!"

"Ya, dan kita akan lulus tahun ini. Meninggalkan SMA Wu. Pergi ke tempat tujuan masing-masing." Zhu Ran langsung menghela nafas, kemudian berpaling dan melangkah pergi.

Sun Quan kebingungan melihat tingkah Zhu Ran yang seharusnya diprediksi akan girang selama kembang api itu saling bersautan.

"Ah..."


YAAAAAAAAAAAY~

Oke, masalah update, bulan-bulan ini agak random ya, jadi maafkan Author~ Tee-hee~

Kalau begitu, sampai jumpa minggu depan!

(Btw buat chapter depan, nih. Saya mau kasih chapter valentine~ Jadi, harap tunggu~)