Hahaha, aku kembali lagi dan ingin Update fic lagi bukan Publish yah karena, otakku lagi buntu buat Fic baru yah, sebenarnya ada rencana untuk fic kubuat dari Anime Tokyo Ghoul tapi, masih bingung alur cerita dan kegunaan kekuatannya yah, masih tahap rencana Tapi gak tau bakal terealisasi atau enggak yang jelas masih rencana dan aku sebenarnya curhat terkadang orang sering di kabarin dan di tanyain melulu membuatku pening dia lagi, dia lagi gak ada kerjaan yang lain apah nanyain terus terkadang ada waktu di mana orang akan bosan dengan tingkahmu seperti itu.
P.S : Bazengg! Gamenya udah lama keluar dan rilis tapi, aku baru kebeli sekarang yah, Itu Re7 nanti malam aku coba karena, kaset yang kubeli asli klo bajakan biasanya gak akan masuk untuk Xboxone yah terkadang masuk tapi, aku jamin Xbox langsung hang karena Data di kasetnya gak falid see ya!
.
...
.
- Tempat Natsu
*Boom *Jduarrr *Boom *Jduarrr
"Ugh, ugh ini menyebalkan rupanya!" Komentar Natsu kesal dia sedari tadi menghindar dan berlari dari ledakan yang dibuat oleh musuh barunya "kuharap orang itu masih bisa bertahan sebelum membawanya ke rumah sakit" Dia juga kepikiran tentang Gadis berambut hijau muda itu yang dia sembunyikan di tempat yang aman.
"Hei, Marin kau tau, berkatmu separuh markas kita hancur" Komentar Rayure melihat Kondisi tempat rahasia mereka yang sudah setengah hancur "aku, tau kita bertarung tapi, meminimalisir kerusakan yang ada"
"Hah? Yang benar saja melawan orang dengan kekuatan besar dan kuharus menahannya? Kau ini ngelawak yah!" Marin terlihat kesal dengan Ocehan temannya yang tak berguna "lagipula setelah ini kita takkan memakai markas tak berguna lagi FERFLECT DIMENSION!" dia menyatukan kedua tangannya dan mengompres udara membentuk Partikel Cahaya yang seperti Segitiga kecil dan melemparkannya
"Uhhh! Orang ini menyebalkan jika jarak jauh" Ucap Natsu Menghindari serangan tadi dan selam itu dia belum pernah menyerang balik "oh, bagus aku harus melawannya dari jauh juga" dia menembak beribu anak panah yang sayangnya masih bisa di tangkis oleh orang itu.
"Uh!, uh!, uh!, kau lihat sendiri? Kekuatannya juga bukan sekecil itu" Ucap Marin menunjukan kesalahan temannya sementara Rayure mengumpat gak jelas.
"RADUSZY PAMIERY!"
"ROTAZIO CORDA!"
Marin mencengkram tangannya membuat benda-benda di sekitarnya menjadi kecil, Natsu tau hal ini buruk jadi dia menghindar namun, benda-benda itu terus mengejar Natsu seolah seperti Magnet yang menarik benda besi kuat di satu sisi dia melihat pijakan lantai yang berubah menjadi Hitam dan memanjang seperti Tali dalam jumlah banyak.
"Oh, sial" Umpat Natsu dia mencoba memotong Tali itu dengan cekatan tapi, sama seperti Rambut jika, di potong akan tumbuh lagi sama seperti serangan Tali tadi semakin Natsu potong semakin pula tumbuh dengan cepat "guhh! Ini benar-benar menyebalkan!" tubuhnya sekarang terikat tali tapi, dia tau benda-benda itu mulai mendekatinya dan menghindarpun takkan sempat.
*boomm! *Jduarrr! *boom!
"Berhasil!" Ucap Rayure senang "hah! Makan itu bocah sialan!"
"Tidak, jangan terlalu berharap dulu" Ucap Marin matanya masih tetap Fokus.
*Wusshhh!
*cratttt!
Sebelum kedua orang itu bereaksi ada sebuah kilatan Cahaya yang menembus tubuh mereka tentu saja mengeluarkan Darah dari mulut dan ketika mereka melihat di sana Ulah Natsu yang terlihat baik-baik saja tanpa luka padahal serangan tadi seharusnya memberi Efek sama sekali.
"Urghh! Sialan kenapa kau di situ" Rayure menahan mulutnya yang mengeluarkan Darah segar.
"Sudah, kuduga orang ini bukan sembarangan" Marin memegang Dadanya yang berlubang.
"Berhentilah memgoceh atau perlu kuulangi cara tadi" Ucap Natsu membuat busur dia sekarang dalam mode Quincy karena, jika masuk dalam mode keduanya akan menguras tenaga apalagi yang di lawan adalah yang tak berat baginya "hmmmm, tampaknya akan kuaktifkan lagi Mode berikutnya" dia berfikir untuk mengakhiri pertarungan ini dengan cepat.
"Tapi, bagaimana bisa kau tak terluka sedikitpun berkat serangan tadi" Ucap Marin yang masih shock atas serangan dadakan tadi.
"Itu rahasia tehknikku" Jawab Natsu semenjak dia mengaktifkan Vollstanding Pertamanya waktu melawan Jellal kini dia semakin mengembangkan kekuatannya apalagi Kekuatannya ini seperti penyembuh dimana Natsu takkan bisa terluka atau terkena racun sedikitpun karena, metabolisme tubuhnya berkembang dan memperbaiki Sel tubuh yang rusak dengan cepat.
Berbeda dengan Vena Blut jika tehknik DeathDeling milik Natsu bisa menyembuhkan Fisik dan Saraf yang terluka dengan cepat dan berbeda dengan Vena Blut yang hanya menghilangkan rasa sakit tapi, tak memperbaiki tubuh yang rusak yah, memang Natsu juga Quincy hal pasti dia juga memiliki Vena Blut tapi, sekarang itu kefungsiaannya jarang tergunakan lagi.
"Sekarang kemarilah serang aku dan akan kuterima itu" Natsu menyeringai ekspresi wajahnya kini terlihat menyeramkan tapi, tak ada satupun yang bergerak "hah, baiklah ini berarti aku yang akan maju" dia membuat Pedang biru berapi.
*Slashhhh!
"Gahhhh! Sejak ka-kapan di-dia" Rayure terkejut melihat Natsu berdiri di depannya tentu saja tubuhnya sudah terkena sabetan pedang.
"Ck! Ck! Kau lengah juga" Natsu mendecik kesal gayanya sedikit terlihat seperti Karakter Villain yang menang melawan karakter Pahlawan.
"DIMENSION BREAFK!" Marin langsung mengambil mundur jauh mencengkram kedua tangannya membuat Lapisan Udara yang besar sehingga mengurung Natsu "kau takkan bisa pergi kemanapun setelah ini!" Dia mulai membuat lapisan udaranya mengecil dengan maksud menggencet pemuda berambut pink.
"Kalian, telah salah memilih lawan" Ucap Natsu mengeluarkan Kedua pedang Aslinya "tapi, yah semenjak kalian tak memberiku lewat makanya aku paksa kalian menyerah" Dia memutar Tubuhnya dan membuat Pusaran Udara besar sehingga menghancurkan lapisan tadi dengan Efek jangkauan jauh.
"Sial, orang ini tak bisa di serang dengan cara biasa" Marin langsung menghindar jauh dia tau jika tak bergerak kemungkinan akan terkena serangan tadi.
Natsu memutar badan dan dia melihat di belakangnya tali-tali Hitam yang membentuk sebuah Boneka Voodo raksasa Tapi, dia bertingkah biasa saja karena hal seperti itu malah jadi titik kelemahan apalagi jika bertubuh besar akan sangat mudah membaca pergerakannya.
"Wah, wah, wah, kau mengerikan juga rupanya" Komentar Natsu tampak tenang jika, saja Mahluk itu cepat akan jadi sedikit masalah "Tapi, itu bukan berarti aku tak bisa mengatasinya dengan mudah"
"Kau boleh berbicara setelah menghindari ini!" Teriak Rayure dia mengayunkan kedua cakarnya secara cepat "apa! Yang benar saja!" dia cukup terkejut melihat Natsu tak ada di sana.
!
"Kau lengah tuan!" Teriak Natsu dia ada di atas Reisinya ia pusutkan pada ujung busur panah dan membentuk Gelombang besar "oh, ya ini salam perpisahan dariku good bye!" Dia langsung menghempaskan tembakan itu dalam sekala besar lebih mirip sebuah Laser biru besar dan efeknya cukup dahsyat.
*Jduarrr!
"Satu, tumbang sekarang tinggal kau lagi" Natsu memberi Deathglare yang tak mengenakan "kau ingin kubuat lebih parah lagi dari temanmu itu" dia sedikit memberi Gertakan.
"Hah, ucapanmu itu seperti benar adanya hahah" Ucap Marin sarkastik dalam hati dia juga sedikit ketakutan melihat temannya di kalahkan dengan mudah apalagi dalam mode kekuatan yang di tingkatkan "silahkan saja jika, kau ingin mengalahkanku tapi, aku masih ragu akan hal itu"
"Kau ingin aku mencobanya?" Tanya Natsu dia menghilangkan pedang buatannya "baiklah, izinkan aku yang akan membuktikannya" dia membuat tempat di sekitarnya menjadi Reisi dan tangan kirinya bercahaya dan membentuk sesuatu
"Wah?" Marin cukup terkejut dengan sedikit perubahan yang agak berbeda dari tadi "tampaknya kau benar-benar serius sekarang"
"Sebaiknya kau persiapkan Peti kematianmu" Ucap Natsu kondisi Tubuhnya tak jauh beda hanya saja di tangan kirinya memegang senapan laras Panjang berwarna Putih tapi, senjata itu tampak menempel di tangan Natsu, sebuah Topi koboi putih, dan Scoope untuk mengukur jarak jauh yang tertempel di telinga kiri ( A/N : Scoope yang mirip dan sering di pake Mine di Akame Ga Kill )
"Mau main tembak-tembakan huh? Kurasa ini makin menarik saja" Marin menyeringai.
"Katakan, sesuatu padaku.." Natsu memejamkan sebelah mata dan mulai mengarahkan senapannya kedepan dan tak lama muncul sebuah cahaya diujung senapannya "apa, kau tau tentang... X-Sorcist?" dan tak lama dia langsung menembak.
*Boom!
.
.
.
.
.
"Hm?" Grammy berguman dia menatap ke arah sesuatu yang kuat "kurasa ada sesuatu yang terjadi di sana?" dia sehabis dari mall berbelanja kebutuhan makanan serta yang lainnya.
"Ada apa?" Tanya Irene melihat teman sepekerjaannya melamun "apa ada sesuatu yang kaupikirkan" dia bisa menebak jika, orang melamun dan mata kosong, Tatapan ke arah lain biasanya lagi memikirkan sesuatu.
"Ah, tidak hanya melamun saja" Balas Grammy tertawa dia sedari tadi dapat merasakan Reiatsu Anaknya yang meledak bersamaan pula dengan Reaitsu orang lain yang serasa tak asing 'Brandish? Tapi, ada Reaitsu lain dan tak terasa asing bagiku meski ini bukan milik Natsu'
"Tuh, kan kau melamun lagi" Irene Pokerface.
"Hahahaha! Maaf" Grammy tertawa kering "mungkin aku sering melamun disaat bekerja hahaha maaf kebiasaaan buruk"
"Yah, tak masalah tak perlu di bahas lagi" Ucap Irene sempat hening beberapa saat hingga akhirnya ada sesuatu yang dia ingin bicarakan "hei, jika kau berkenan bisakah aku bertanya sesuatu padamu" mungkin ini sedikit memalukan tapi, dia tak mempedulikan hal itu.
"Apapun itu akan kudengar" Balas Grammy dia malah ingin tau apa yang akan di tanyakan.
"Bisa kau beritau tentang Natsu serta ibunya dan hubungannya denganmu?" Tanya Irene agak malu-malu benar-benar di luar karakter aslinya.
"Tentang Natsu?" Grammy tersenyum jahil ketika melihat tingkah lucu temannya yang seperti gadis pada umumnya "hmm, kenapa kau ingin tau sekali? Adakah sesuatu yang menarik perhatianmu?" dia sesekali ingin menjahilinya.
"Itu, rahasia Perempuan kau tau" Balas Irene kembali dengan bicara normal "meski kita teman terkadang ada sesuatu Privasi yang tak bisa dipublikasikan dan diketahui" jawab dia mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah akan kuberitau" Ucap Grammy meski dia sedikit tau apa alasannya karena, dia pernah merasakannya juga jadi, hal wajar saja "ahhh, aku dan Gradine kita berteman semenjak Kecil, dan waktu Gradine sudah mendapatkan Jodohnya aku tak pernah dengar kabarmya selama itu namun, kita Reuni kembali tapi, di saat yang sama tepat di mana Natsu lahir" tentu saja dia tak menceritakan semua tentang keluarga dan kejadian itu karena, bersifat rahasia untuk di ceritakan.
"Ahh, begitu rupanya" Ucap Irene tau meski ada sesuatu yang tak temannya ceritakan semuanya "kalau ku memuji kurasa ibunya cantik" dia pernah sekali melihat Ibu Natsu waktu akhir dari Pertarungan dengan Espada waktu invasi kedua.
"Ahhh, tentu saja dia sangat cantik bahkan kecantikanku juga kalah" Grammy mengangguk setuju "ahh, bahkan waktu SMA dia jadi terkenal dan Primadona karena cantiknya" dia mengingat masa lalunya itu yah, temannya ini tipe tak peduli bahkan banyak Lelaki yang melamarnya namun, di tolak dan tak peduli sifatnya tak begitu jauh dengan anaknya Natsu.
"Fufufufu! Ahh sama seperti anaknya" Ucap Irene sifat dan turunan terkenal Natsu ternyata tak lepas jauh dari sifat ibunya yang diminati lawan jenisnya.
"Yah, ayo pergi" Ajak Grammy tapi, yang dia pikirkan adalah kondisi anaknya 'lakukan tugasmu dan pulanglah dengan selamat' dia berharap cemas.
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Tempat Brandish
"Hah! Hah! Hah! Ini benar-benar menyebalkan sama sekali" Komentar Brandish dengan nafas tersenggal tubuhnya agak terluka tapi, agak parahan "ini, menyebalkan dia benar-benar bisa menyembuhkan luka dengan dengan cepat kemampuannya hampir sama dengan Vena Blut"
"Kurasa bukan seperti itu" Guman Wendy yang tak terdengar Gadis berambut Hijau itu tampaknya dia sudah mengetahui tehknik kerja musuhnya "maaf, kau harus diobati dulu Brandish-San" dia sedari tadi belum menyerang karena, tugasnya hanya mengobati.
"Kau, menarik perhatianku dengan tehknik unikmu itu" Komentar Kageyama menyeka mulutnya "hehehe, kita mulai bersenang-senang SHADOW BLAZE!" dia membuat bola hitam kecil dan meninjunya hingga membuat ledakan Hitam
"Tunggu!" Wendy yang langsung ambil alih dia berada di depan Brandish dan menarik nafas panjang "FIRE SKY DRAGON ROAR!" dia menghembuskan angin dan api di padukan menjadi satu dan membuat pusaran berputar
"Heh, serangan itu lagi" Keluh Kageyama kesal dia langsung membuat Perisai Hitam untuk melindungi dirinya.
Tapi, Wendy tau hal ini terjadi jadi, dia membuat busur Panah dan menembakannya ke atas tentu saja Gerakan Panahnya cukup unik dan berbeda dari Quincy lainnya dan Panah itu bergerak ke belakang dan menyerang kaki lelaki itu dan membuatnya tersungkal.
"Guh!" Kageyama langsung duduk dan memegang kakinya yang terkena tapi, dia melupakan satu hal "ughh, sialan" dan dia tak sempat menghindar dan akhirnya terkenang serangan Wendy tadi.
"Guahhhh!"
"Sebaiknya kita coba serang secara beruntun" Ucap Brandish menyiapkan busur panahnya.
"Setuju, meski agak ragu jika ini membunuhnya" Sambung Wendy yang ikutan membuat Busur Panah dan mereka berdua melakukan serangan Sporadis dan tak memberi lelaki itu kesempatan bangun
*boommm! *boommmm! *boommmm!
Sebelum mereka beraksi lagi dan melihat bayangan berjalan di tanah dan langsung saja mereka menghentikan serangannya dan berpencar agak jauh.
"Sulit, di percaya aku sampai terdesak seperti ini" Ucap Kageyama merapihkan celanannya Kondisinya agak normal meski keadaan pakaiannya sudah compang-camping "kalian, akan membayar atas apa yang kalian lakukan"
!
"Ugh! Ini" Brandish merasakan tubuhnya tak bisa bergerak dan begitu melihat ke bawah bayangannya sudah terkunci "begitu rupanya kau mengincarku lebih dulu" dia memberi Deathglare dan lengah bahwa sekarang dia tak bisa berbuat apapun.
"Bisakah kalian mengejar bayangan kalian sendiri? Tentu saja tidak karena bayangan itu sudah ada dan menyatu dengan kalian" Kageyama menyeringai "dan sekarang kau lagi Gadis cilik" bayangannya langsung berpencar menjadi banyak dan mengejar Wendy.
Wendy bisa terbang, berlari, dan menghindar serangan itu dengan cepat bahkan lebih cepat dari serangan itu selain itu juga karakteristik kekuatannya yang bergerak cepat di dalam bayang.
"Kemana dia?" Pikir Kageyama celingak-celinguk mencari keberadaan Gadis berambut biru tua itu.
*Duagghhh
Entah datang darimana Wendy sudah berdiri di samping lelaki itu dan meninju di bagian wajah namun, Wendy belum selesai dia menendang perut lelaki itu dan membuatnya terhempas tapi, dia mendengar teriakan Brandish dan begitu melihat Gadis berambut Hijau itu memegang perut kesakitan.
"Hah, kau lupa yah Gadis kecil? Semakin kau menghajarku itu berarti rasa sakit yang kuderita akan sama yang di rasakan Gadis itu" Ucap Kageyama dia tertawa sarkastik "jadi, bisakah kau menyerangku lagi?" Wendy sekarang jaga jarak aman tak bertindak gegabah karena, serang sedikit pastinya akan berdampak ke Gadis berambut Hijau itu.
"Baiklah!" Wendy membuat Busur Panah yang lebih besar tapi, dengan corak yang berbeda dari Busur yang di buat Para Quincy umumnya "akan kukabulkan permintaanmu itu" dia sempat berfikir lebih dulu hingga akhirnya memilih menyerang.
"Wendy, kau tau apa yang kau lakukan?" Tanya Brandish sempat Khawatir dia juga memikirkan bagaimana caranya lepas dari cengkaraman ini "aku tak ada masalah jika, kau menyerangnya" Wendy mengangguk tapi ada sesuatu yang aneh.
*Crattttttt!
"Guhhhh!"
Untuk Wendy, terkejut karena melihat musuhnya tiba-tiba terluka banyak dan penuh darah, ketika dia melihat Brandish Gadis berambut Hijau itu hanya menyeringai dan terlihat dia sudah tak terikat lagi dengan bayangan musuh.
"Kau, kenapa!" Kageyama shock atas luka yang tiba-tiba muncup namun, yang membuatnya lebih shock ialah luka dia sekarang tak bisa di sembuhkan.
"Terkejut huh? Lukamu tak bisa di sembuhkan ahh aku sudah tau kok" Jawab Brandish tersenyum tampak tak terjadi apapun "lagipula tehknikmu itu hanya memudarkan tapak lukanya yang bersifat sementara karena bayanganmu itu terbatas penggunaannya karena, itulah sebabnya kau membuat Ruang gelap ini"
!
"Selain itu kekuatan penyembuhmu itu yang mengambil bayangan hanya berpusat pada satu titik tertentu" Ucap Brandish melanjutkan bicaranya "yah, sebagai contoh Kakimu itu bukankah tadi, Wendy menyerangnya dari situ? Tapi, yang kulihat kau tak menyembuhkannya Tapi, waktu Wendy menyerang tubuhmu kau dengan cepat menyembukannya itu dan di situ aku mengetahuinya"
*Slashhhh
Wendy langsung ambil alih dia langsung memutuskan kedua kaki lelaki itu untuk Brandish dia cukup terkejut atas tingkah brutal yang di lakukan Gadis kecil itu untuk seumuran dengannya yang tak pernah ia lakukan tapi, dia tak peduli.
"Oh, satu hal lagi Aku memiliki Scrift Antithesis di mana aku bisa membagi semua luka yang di deritaku dan di pindahkan padamu yah, hampir mirip denganmu yang harus perantara dengan bayangan terikat" Ucap Brandish dia sudah melihat kemenangannya "dan juga itu tak bisa di sembuhkan!"
Mereka berdua tau bahwa ini adalah kemenangan mereka dan keduanya membuat busur panah besar dan meningkatkan Reisi mereka di seluruh tangan mereka dan langsung menembakannya dalam Jumlah kekuatan yang besar perpaduan merah dan biru dan membuat ledakan dengan skal besar dari sebelumnya.
*Jduarrr!
"Huh, selesai juga yah!" Komentar Wendy yang tampak santai "apa, ini membunuhnya?" dia bertanya untuk memastikan.
"Tentu saja" Balas Brandish mengangguk dia melihat kondisi langit di sekitarnya mulai terang dan cerah "Tapi, meski ini tak membunuhnya setidaknya ini cukup untuk mengalahkannya"
"Hahaha sebaiknya kita pulang" Wendy Tertawa senang "bajuku kotor pasti, Nii-san khawatir jika, melihat Wendy seperti ini" Tapi, sebelum mereka berjalan terdengar suara feminim yang lain.
"Yah, tampaknya aku tak perlu khawatir lagi"
"Ahh, Ultear kau telat" Komentar Brandish melihat Gadis berambut Hitam ini "kalau dalam sebuah Film kau hanya dapat Narasi tentang semua Anggota film itu"
"Yah, mau bagaimana lagi kalian terlalu cepat mengalahkannya" Balas Ultear mengangkat bahunya "selain itu kupikir Natsu ada di sini karena, kulihat dari kejahuan tehknik itu hanya di miliki Natsu dan juga kau
"Ahh, aku lupa memberi taumu bahwa adiknya juga bisa" Ucap Brandish menunjuk Gadis kecil ini "ohh, ya ngomong-ngomong kau pulang sendiri? Bukankah seharusnya dengan ibumu?" dia tak melihat Guru itu.
"Sama halnya denganku dia melihat hal yang sama telah terjadi pada kalian" Jawab Ultear "kalau di lihat itu tampaknya Jutsu Shiki milik Freed tapi, dia membuatnya agak lebih besar lagi"
"Ohh, rupanya bukan hanya kita saja yang mengalami ini" Ucap Brandish agak shock "Tapi, yah biarkan saja bukan kita tak peduli hanya saja itu bukan berarti ibumu tak bisa mengatasinya hanya saja jika, kesana hanya dapat ending saja"
"Hahaha, ayo ke rumahku kita bicarakan sesuatu sambil minum" Ajak Ultear.
"Ayo!"
.
.
.
.
.
*Brakkkk
"Sial! Aku sudah menduganya bahwa ini ada hubungannya dengan orang yang di Hutan waktu itu" Hibiki menggebrak mejanya dengan kasar dan ekspresi marah besar "aku benar-benar teledor!" Dia tadi di beritau Oleh Meredy soal Pacarnya yang hilang dan di temukan hanya saja keadaanya sekarang parah atau lebih tepatnya di jual dengan Harga yang cukup Mahal di sebuah Situs Internet Gelap.
"Aku rasa dia belum mati atau sebagainya deh, Hibiki-San" Ucap Meredy dia tengah menenangkan lelaki itu yah, wajar saja orang telah lama hilang muncul lagi tapi, sekalinya muncul dalam keadaan tak menyenangkan "yah, biasanya jika mereka di jual seharusnya sudah tak di pasang Foto mereka jadi, kurasa pacarmu itu masih ada meski keberadaannya tak di ketahui"
"Yah, kau benar maaf, soal tadi" Balas Hibiki meredakan amarahnya "sebaiknya aku cari tau tentang semua ini selain itu Gadis-Gadis di Foto ini salah satu dari Sekolah kita dan akan kulacak lokasi waktu dia Transaksi" dia mulai mengetik Komputer.
"Tapi, bukankah itu harus jual beli dulu dan Transaksi di lakukan secara langsung?" Tanya Meredy.
"Memang ini yang akan kulakukan kita akan buat Transaksi Palsu dan melacak keberadaan mereka saat melakukan percakapan ini" Jawab Hibiki Tapi, wajahnya berubah pucat dan kesal.
"Ada, apa?" Tanya Meredy melihat wajah Lelaki itu berbeda.
"Uhh, parahnya mereka tak Online sekarang" Jawab Hibiki lesu "Tapi, tampaknya situs ini hanya di buat oleh satu orang saja makanya ketika aku hubungi Operator mereka tak ada jawaban dan juga selalu tak terhubung"
"Coba di ulang lagi"
"Hmmm"
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
*Trang *Duaghh *Baghh *Trang
"Ohh, perlukah kita bantu dia sekarang?" Tanya Bixlow melihat pertarungan Laxus dengan musuh saling adu Pukul dan Hantaman Tombak yang membuat suara nyaring "aku, dapat sasaran tentang kekuatan dia"
"Jika, Kondisi Laxus terlihat terdesak kita akan bantu" Jawab Freed dia tau waktu yang tepat jika ingin membantu namun, belum saatnya "Tapi, yang kita lihat Laxus belum serius sama sekali dari Gaya bertarungnya"
Totomaru langsung mundur menghindar serangan dekat Laxus namun, lelaki berambut Pirang ini sudah berdiri di depannya dengan kaki terangkat dia tak bisa menghindar hingga akhirnya terkena tendangan keras itu hingga membobol dua rumah itu.
"Bah,, orang ini benar-benar menyebalkan" Totomaru memutar tongkatnya tampak di belakangnya bola-bola listrik kecil menyatu dan membentuk lingkaran "aku, harus serius ELECTRO CHARGER!" dia menembakannya secara langsung dan membuat dentuman besar.
Namun, serangan itu di terima Laxus dengan begitu mudah dengan melewatinya meski tubuh masih terlihat terluka dia tak peduli dia langsung melayangkan tinjunya masih bisa di tahan dengan Tombak.
"Kau, nekat tuan!" Komentar Totomaru yang masih menahan tinju Laxus ini.
"Hah, serangan seperti ini enteng buatku" balas Laxus dia terus menekan Tinjunya namun, tak lama mereka melepaskan kontaknya "hah, Tapi lumayan juga untuk membuatku terluka" dia memang merasakan nyeri Tapi, sengaja dia tahan.
Totomaru menembakan laser petir dari tombaknya ukurannya cukup panjang dan membelokannya ke arah Laxus seperti Laser namun, lelaki itu mulai berlari dan menghindar dengan cepat.
"Gahh,, orang ini sungguh menyebalkan" Ucap Laxus Dia memilih berlari karena dia tau jika ditahan tangannya akan jadi korban "ugghh, aku harus cari cara dulu untuk membuka celah" dia melihat kedua temannya yang tampak mengamati keadaan musuh.
"DISTANCE BREAK!"
Laser panjang itu terpecah menjadi tombak kecil dan menyebar ke segala arah dan membentuk sesuatu Laxus menghentikan lajunya dan melihat sekeliling bahwa dirinya sudah dikeliling Tombak itu dan menyebar seperti petir membentuk Sangkar burung tapi, ukurannya di buat lebih kecil.
"Ah, begitu rupanya" Komentar Laxus dia tampaknya menyadari apa yang akan di lakukan musuhnya "kau ingin mengurungku supaya aku dan temanku takkan kabur ohh, tenang saja aku bukan tipe orang yang kabur tanpa menyelesaikan masalah"
"Oh, itu bagus Tapi, bukan hanya segitu saja kekuatanku" Totomaru Menyeringai dia mengangkat tombaknya ke Atas dan tak lama tampak percikan disegala arah dan langit "hahah, terima kasihlah padaku ini hadiahnya! THUNDER RINEGOU SHIMPOU!" dan tak lama percikan itu berkumpul di satu tempat dan membentuk Dua Hantaman Kilat dengan gelombang besar dan berbentuk melengkung langsung menghantam ketiga orang di sana tanpa bereaksi apapun lagi.
*Jduarrr!
Dan tentu saja serangan itu bukan sesuatu yang dianggap sepela bahkan sambaran Petir itu melebihi seperti Sambaran Petir biasa yang membuat kerusakan cukup fatal dan juga uni karena bisa melengkung seperti itu yah, hal yang mustahil jika orang itu masih hidup.
"Hmm, aku membuat percikan Petir itu untuk menambah daya seranganku" Ucap Totomaru melihat bekas tapak sambaran Petir yang besar "selain itu aku memanggil Petir dari langit untuk membuat Petir yang hebat, yah aku pernah baca dari buku bencana Alam lebih mengerikan dari buatan" Dia berjalan meninggalkan ketiga orang itu yang terlihat belum sadar.
!
"Hmm, apa ini?" Pikir Totomaru ketika berjalan namun, ada sesuatu yang menghalangi Jalannya tampak ada sebuah Tembok besar yang menghadang "perisaikah? Atau sebuah penghalangkah?" dia melirik kebelakang tapi, Ketiga orang itu masih tak bergerak dia mencoba menghancurkan dengan Tombak Tapi, Gagal.
*Clinggg
"Tunggu!, apa-apaan ini!" Totomaru shock rupanya dia dikurung suatu tehknik "Simbol macam apa ini!" Dia melihat corak dan motif sihir di tanah dan melingkarinya dan tak lama dia mendengar suara orang lain.
"Rencana Freed sukses" Ucap Laxus yang berdiri meski agak kepayahan karena serangan dahsyat tadi "hahaha, kau lengah di saat terakhir tuan" Dia Tertawa sarkastik tubuhnya benar-benar penuh luka.
"Ka-kau bagaimana bisa hidup!?" Totomaru tampak sangat Shock.
"Hmmm, aku ini DragonSlayer apalagi tipemu Petir jadi, mudah kumakan aw!" Jawab Laxus menggerakan kepala "dan juga, seranganmu tadi benar-benar Dahsyat tak heran jika, teman-temanku langsung tak sadar di tempat tapi, itu bukan masalah selama aku masih ada" disatu sisi dia khawatir namun, dia harus menyelesaikan ini.
"Sial!" Umpat Totomaru mencoba keluar tapi, tak bisa.
"Itu, Jutsu Shiki sembarangan karena, hanya dengan sebuah Mantra tertentu untuk keluar dari sana dan kuberi tau kau bisa keluar jika, kau pengendali Api" Laxus menyeringai Totomaru hanya shock "oh jangan cemas gitu itu salah kau sendiri yang lengah dan terlalu Fokus kepadaku sehingga kau tak sadar dia membuat Jutsu Shiki di tempat yang di rencanakan" dia tersenyum sangat bahagia
"Guhhh!"
"Oh, sekarang Giliranku lagi karena, Giliranmu habis" Laxus mengepal tangan dan melihat sayap kecil di tangannya dan ekspresi wajah senyum dia atas telapak tangan "hahaha, terima kasih transpartasinya Bixlow" dia tau Bixlow mentransfer kekuatannya dan tak lama cahaya Hijau menyinari tangannya.
"BAYRON GRAZE!"
Laxus langsung maju cepat dan mengumpulkan tenaga besar berwarna Hijau dia langsung mengayunkan tinjunya Totomaru menahannya dengan tongkat namun, terdengar suara retakan yang jelas dari tongkat itu.
Laxus tetap dalam tenaga penuhnya tak lama Tombak itu langsung terbelah menjadi Dua dan tentu saja pukulan tadi mengenai tepat di pipi orang itu dan menghempasnya jauh.
"Argghh! Tombakku!" Totomaru Shock sebelum dia bereaksi Laxus sudah ada di depannya menjegal kakinya dan menghempaskan kepalanya ke bawah.
*Jduarrr
"Hmm, karirmu sudah Tamat dan akan kuakhiri ini" Laxus menginjak kaki lelaki itu dia mengepalkan kedua tangannya dan mengarahkannya tepat ke wajah orang itu percikan petir merah mulai berkumpul di tangannya "RAI DAI RIN : RAITOUGAN!" dia langsung menghempaskan laser besar dari kedua tangannya dan menghancurkan wajah lelaki itu yang pastinya terkena serangan telak yang cukup besar.
*Cwinggg
*wusshhhhhh
Setelah Laxus mengakhiri serangannya dia memastikan keadaan lelaki itu sudah dirasa cukup dia beranjak dari tempat itu dan menghampiri temannya yang terluka dia tau mereka masih hidup hanya saja pastinya daya dahsyat serangan tadi cukup untuk membunuh mereka tapi, dewi keberuntungan masih berpihak pada mereka.
"Orang, itu benar-benar gila" Komentar Laxus menatap langit yang mulai kembali normal "Tapi, toh ini sudah selesai argghh aku ngantuk ingin tidur sebentar" dia memegang Hpnya dan menghubungi pihak rumah sakit karena, dia sendiri sudah kelelahan.
"Urgghh!"
Laxus langsung waspada dia tau orang itu kembali bangun namun, dia tau orang itu kepayahan karena, serangan tadi bukanlah hal biasa apalagi dalam jarak sedekat itu.
"Wah, wah, Bocah yang baru bangun tidur" Komentar Laxus Dengan Nada biasa
"Uhukkk! Urgh! Grrr! Sialan kau! Bisa-bisanya kau lakukan ini padaku uhukk!" Totomaru sangat marah wajahnya jelas penuh luka dan darah berkat tadi "akan kubalas apa yang telah kau lakukan!"
"Balas pakai apa? Kau tak berguna jika tanpa tombakmu itu bukan?" Laxus hanya bersikap masa bodo jika, dia menyerang pun dia akan mudah mengatasinya
"Kau, bajingan! Tengik aku-" Totomaru tak menyelesaikan bicaranya karena ada sesuatu yang membuatnya tak bisa bergerak dan tak lama Es mulai melahap tubuhnya.
Laxus melihat perlahan Lelaki itu mulai di bekukan dan dia merasakan Hawa dingin di sekitarnya dan melihat seorang Wanita berambut hitam pendek yang sudah kehilangan pakaian luarnya dan dia sudah tau siapa ini yah, seorang Guru.
"Kau telat Sensei!" Ucap Laxus dengan nada bosan.
"Aku tak telat mungkin kau terlalu cepat mengalahkannya" Balas Ur melihat lelaki yang di bekukan olehnya "selain itu kau terlihat buruk? Bagaimana kau hubungi pihak rumah sakit aku kasian melihat temanmu itu" dia menunjuk Freed dan juga Bixlow.
"Sedang kulakukan" Jawab Laxus sedang menghubungi Pihak Rumah Sakit "tapi, sebelum itu pakailah pakaianmu dulu" dia hanya bisa geleng-geleng melihat kebiasaan Guru antik.
"Opppsss! Kebiasaan burukku" Ur hanya menutup mulutnya dan mencari pakaiannya yang tertinggal entah dimana itu.
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Tempat Natsu
"Guhh! Sial kecepatan orang ini mulai bertambah" Umpat Marin kesal tubuhnya sekarang cukup luka berat dia sekarang mencari Natsu yang bersembunyi sembari menyerang "ahhh, aku harus cepat membunuhnya sebelum dia bertindak gegabah lebih jauh" dia mulai memperkecil ruangan dan benda-benda besar di sekitarnya.
*Cratttt
Namun, sayang sebuah tembakan berhasil mengenai kedua bahunya Namun, sebelum dia melakukan sesuatu lagi sebuah tembakan kini mengenai lututnya tapi, dia tak menyerah dia sekarang mengetahui lokasi Natsu dia mengompres udara dan melemparkannya dan langsung meledak seketika tapi,
*Crattt
Sebuah kesalahan fatal karena, serangan tadi tak berguna buktinya Marin terkena tembakan untuk spersekian kalinya tapi, kali ini Jantungnya yang jadi korban dan tak lama dia memuntahkan darah segar.
'Guhh! Bagaimana bisa aku sesial ini!' Batin Marin memegang dadanya yang berlubang dan tak lama dia ambruk di tempat dan tak bangun lagi dan tak lama Natsu muncul entah dari mana.
"Sulit di percaya kemampuan Scrift ini berbeda-beda dari yang kutau" Ucap Natsu berbicara sendiri dia pernah mengeluarkan Scrift waktu lawan Jellal tapi, waktu itu di barengi dengan dia mengaktifkan Vollstanding yah, saat itu dia terdesak jadi tak ada cara lain lagi "yah, tampaknya aku tak perlu mengeluarkan Vollstanding untuk menangani mereka"
Natsu melamun namun, tampaknya dia sadar bahwa bersama seseorang gadis berambut Hijau muda yang terluka buru-buru dia langsung membawa Gadis itu dan masuk dalam mode normal lagi dan tak lama datang teman kerjasamanya bersama seperempat pasukannya.
"Kau telat Mest!" Komentar Natsu menghela nafas.
"Yah, seperti biasa Pahlawan selalu datang terakhir" Jawab Mest tapi, dia emnyadari temannya itu tengah membawa seseorang "ngomong-ngomong siapa yang kau bawa itu?" dia bertanya
"Saksi sekaligus Korban" Jawab Natsu "dan juga aku telah mengurusi mereka semua" dia menunjuk dua musuhnya yang terkapar itu.
"Ah, begitu" Ucap Mest dia tak heran Natsu bisa dengan mudah mengatasinya "sebaiknya kau ke rumah sakit dulu dan sembuhkan gadis itu" dia agak iba melihatnya.
"Hmmm"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
Nyohh dan akhirnya selesai juga nih Chapter whahaha meski agak amsyong sih Tapi, i don't care suka atau tidak itu tergantung anda yang nilai saya mah oke sajalah
Pm
.
RnR
