FINAL FANTASY VERSUS
056
NOCTIS
07.09.756 M.E. | 07.48 PM
"Kami telah menerima laporan bahwa Kekaisaran sedang membangun markas baru, di sepanjang jalan barat ke Duscae," Cor bersandar ke satu-satunya meja di dalam gubuk kembali di perhentian, wajahnya muram sekali. Telunjuknya mengitari sebuah area di peta supaya Noctis memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai letak markas itu. "Kita harus menghentikan pelaksanaannya. Kalau kita membiarkannya, kita tidak dapat pergi ke barat─dan semua Royal Tomb yang berada di sana."
Setelah kembali ke Prairie Outpost, kelompok berisikan enam orang itu berpisah jalan dengan Ignis dan Lunafreya tinggal di tenda dan sisanya berdiskusi mengenai langkah selanjutnya yang perlu dilakukan setelah Insomnia hancur. Cor, Monica, Gladiolus, dan Noctis berdiri di pinggir meja untuk pertemuan strategis mereka. Atau begitulah yang sang Marshal anggap. Prompto pergi duluan untuk mencari sebuah tenda, kasur lipat, dan peralatan dasar kamping yang penting untuk Lunafreya.
"Kita masuk, hancurkan segala rintangan di sana, dan memastikan membuka jalan menuju Duscae," Noctis merangkum, kedua tangannya terlipat di depan dada. Dia memindahkan beban tubuhnya ke kaki kiri sambil merenung. "Seberapa besar kekuatan mereka?"
"Jumlah pastinya? Aku tidak tahu. Yang bisa kukatakan dengan yakin adalah kita kalah jumlah tanpa sedikit pun keraguan," kata Cor, sekali lagi mondar-mandir di meja untuk kesepuluh kalinya sejak pertemuan dimulai. Noctis menonton pria tua itu, merasa cemas membayangkan dirinya meluncurkan serangan kepada Niflheim meskipun itu hanyalah sebuah markas. "Aku sudah meminta Monica mengintai area itu besok, melihat apa saja yang bisa kita temukan. Masuk melalui gerbang depan sebaiknya menjadi langkah terakhir kita."
"Akan jauh lebih baik kalau kita bisa menemukan pintu belakang, sebagai sebuah tim, menyusup markas atau memecah operasi antara anggota pengalihan dan penyusup," tambah Monica. "Kita tidak bisa berlama-lama juga. Kemungkinan besar Kekaisaran dapat mengirimkan bala bantuan dari para tentara yang diletakkan di ibu kota."
"Dengan MT sebanyak itu, mereka tidak akan pernah kekurangan jumlah kekuatan," tambah Gladiolus, menggosok buku-buku jarinya ke kaos baru yang menutupi dadanya sebagai pengganti jaketnya.
"Ya, tapi itu topik untuk diskusi lainnya. Kalau kita terlalu bergantung pada kelebihan musuh, tidak akan ada bagusnya untuk semangat tempur," Cor berhenti melangkah, mengistirahatkan kakinya sejenak. "Para dewa tahu kalau kita membutuhkan itu setelah semua yang telah terjadi."
Melihat Cor untuk kedua kalinya, Noctis bisa melihat kantung mata gelap di bawah mata sang Marshal, seragamnya sobek di sana-sini dan keseluruhan sorot mata yang seolah angker pada kedalaman pupilnya. "Seberapa buruk Insomnia?" tanya Noctis, matanya berpindah dari Monica ke Cor. "Luna hanya memberitahuku sedikit tentang itu."
"Aku rasa itu jauh lebih buruk di sisinya daripada kami," keluh Cor.
Monica meletakkan tangannya untuk menenangkan bahu Cor, lalu dengan suara yang berat, dia menceritakan detail yang terjadi selama penandatangan pakta perdamaian yang gagal. "Itu dimulai dengan seorang Glaive bernama Nyx Ulric yang memohon menghadap Raja Regis, memberitakan bahwa Nona Lunafreya disandera oleh Kekaisaran. Yang Mulia menginstruksikan para Glaive untuk keluar dari Citadel dan menyelamatkan Nona Lunafreya, juga beberapa personil Crownsguard diposisikan di luar aula besar. Lalu selama acara penandatanganan, terdengar berita bahwa ada ledakan besar di dalam Citadel."
"Niff?" Gladiolus bertanya dengan senyap, bersandar ke tembok.
"Niff dan para Glaive yang berjaga di luar ruang isolasi Kristal Agung bekerja sama menghancurkan pengamanan para polisi dan meledakkan akses masuk ke dalam ruangan isolasi. Para Glaive tidak senang dengan persyaratan pakta jadi mereka membelot bersama Kekaisaran," kata Cor, posturnya tegap dan kaku seperti patung batu. Monica menggelengkan kepalanya dan Gladiolus mengumpat dalam napasnya. Noctis hanya bisa mendengar, agak mati rasa.
Semua informasi pengkhianatan ini membuat Noctis merasa sangat sulit untuk menjadi seorang Raja. Kalau saja mata-mata itu ketahuan jauh sebelum acara penandatanganan, ketika dia bertemu Glauca untuk pertama kalinya di Tenebrae, kemungkinan besar ayah masih hidup… Noctis menelan ludah, menarik napas gemetar. Beberapa hari terakhir ini emosinya naik-turun dengan gila baginya. Dia tidak boleh kehilangan ketenangannya lagi, tidak ketika ada tugas yang perlu diselesaikan.
"Apa yang terjadi setelah itu?" Noctis bertanya, ingin mendengar cerita dari sudut pandang Cor dan Monica.
"Tentara Niflheim yang menjaga Kaisar Ieolas mampu meledakkan brankas Kristal Agung dan mematikan inti sihir yang membentuk Dinding Baru. Dengan runtuhnya Dinding sihir, Dreadnought Kekaisaran datang. Para Crownsguard berusaha semaksimal mungkin untuk mengevakuasi penduduk ke area yang aman. Aku hanya bisa bilang bahwa area luar yang mampu menyelamatkan diri, sedangkan semua yang berada di Citadel…" Cor kehabisan kata-kata.
"Hari sudah malam." Monica menepuk tangannya untuk menghilangkan ketegangan dalam gubuk. "Sebaiknya kita semua beristirahat. Terutama Anda, Pangeran. Besok akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan."
Tetapi Noctis tidak bergerak. Mata birunya beralih kepada Cor. "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, Cor."
"Baiklah," Cor mengakui, sudah keluar dari gubuk menuju jalan yang kotor. "Jalanlah bersamaku, Pangeran."
Noctis melambaikan tangan kepada Monica dan Gladiolus. Kedua orang itu sedang mendiskusikan keberadaan dan keselamatan Iris. Noctis mengekori Cor, yang sudah berada sepuluh meter di depannya. Ketika mereka melewati haven tempat tenda didirikan, dia tidak bisa menahan diri untuk mencari Lunafreya. Tepat ketika mereka sudah kembali ke perhentian, Lunafreya tampak kelelahan meski berusaha tampil kuat. Untung saja, dia telah menitipkan perempuan itu ke tangan Ignis yang andal.
"Melihatmu dan teman-temanmu menggunakan Regalia memancing banyak kenangan bagiku," kata Cor. Suasananya sunyi di pinggiran perhentian, suara derap kaki yang ringan mengisi keheningan.
"Kenangan tentang Dad dan petualangannya?"
"Aku berusia lima belas pada waktu itu, tetapi aku dinilai mampu untuk melindungi ayahmu, yang masih berstatus sebagai Pangeran. Aku yakin kamu pasti telah mendengar cerita itu langsung. Pada suatu hari, sekelompok monster entah bagaimana menyusup dan menyerang ibu kota. Ayahmu dan teman-temannya mengejar musuh sepanjang jalan sampai ke daratan di Duscae."
"Aku sudah mendengar cerita itu beberapa kali," kata Noctis, mengingat bagaimana dia meminta ayah untuk menceritakan dongeng pengantar tidur dan bagaimana petualangannya selalu menjadi kisah favoritnya. "Premis yang sama untuk kami, bukan begitu? Niflheim datang dan menjajah ibu kota. Aku akan merebut kembali semuanya dari mereka."
"Ingatlah kalau kau tidak sendirian," kata Cor sambil menghentikan langkahnya, lalu berpaling untuk menghadap Noctis. Mereka berdiri di tiang lampu yang bersinar temaram, kemungkinan diletakkan oleh para Hunter untuk menyinari area dan mencegah kedatangan daemon.
Sang Pangeran menggaruk pipinya. "Kamu tidak perlu memberitahuku," gumam Noctis, yang sadar betul sejauh apa mereka mampu mencapai titik ini karena bantuan ketiga temannya dan Lunafreya, juga kontribusi dari orang-orang lainnya. "Mereka selalu mengingatkanku setiap kali ada kesempatan."
Cor menghargai Noctis dengan sesuatu yang tampak seperti sebuah senyuman. Sulit untuk menilainya karena Cor selalu tampak cemberut sampai itu menjadi ekspresi normal baginya. Lalu dia bertanya, "Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
Noctis berjuang untuk sesaat, tidak yakin apakah sebaiknya dia memberitahu Cor mengenai kematian dua teman dekatnya. Terutama karena besok mereka berencana akan menyerang markas Kekaisaran. Dia mengepal-ngepalkan jemarinya, lalu memaksa dirinya untuk menatap Cor.
"Clarus dibunuh," dia berkata dengan tajam. Rasanya seolah dia baru saja menelan asam. Kata-kata itu seperti meninggalkan lubang di tenggorokannya. Bahkan suaranya tidak terdengar seperti keluar dari mulutnya. Bagaimana Lunafreya bisa mengatakan itu? Semua yang Lunafreya lakukan sejak mereka menemukannya adalah mengingat kembali kejadian penyerangan Insomnia dan menyampaikan berita tragis. Namun Lunafreya tetap tegar. Ketabahan hatinya sungguh sesuatu yang patut disanjung.
Dahi Cor mengerut, ekspresinya lesu. "Aku sudah mencurigainya. Tameng harus jatuh lebih dulu sebelum Raja… Clarus tahu risikonya seperti kita semua. Dia adalah Royal Council yang berbagi darah dengan Yang Mulia. Jika Yang Mulia tewas, maka dia pun akan menanggung akhir yang serupa."
Memberitahu Cor mengenai kematian Clarus baru setengah dari keseluruhan berita yang ingin disampaikan Pangeran. Mengumpulkan keberanian untuk setengah berita yang tersisa, mata Noctis berkelana ke haven. Di dekat perkemahan, Noctis bisa melihat asap dari api unggun. Dia berharap dia berada di sana dengan yang lain, duduk mengelilingi api unggun dan menikmati kehangatannya, dikelilingi oleh orang-orang yang dia percayai dengan nyawanya. Tetapi dia tidak bisa melakukannya karena dia berhutang kepada Cor dan jasanya yang panjang kepada keluarga Kerajaan.
"Drautos adalah Jenderal Glauca."
Kali ini Noctis tidak mampu untuk melihat sang Marshal di matanya, menyampaikan tamparan terakhir kepada tentara veteran itu. Respon yang dia peroleh adalah keheningan yang mematikan. Setelah semenit berlalu, Noctis memaksa menatap Cor. Pria itu berdiri mematung, matanya melebar, terkejut sepenuhnya oleh berita itu. Satu tangan Cor diletakkan di pinggang, satunya lagi menutupi wajahnya, bahunya merosot seolah terbebani oleh beban yang berat.
"Aku melihat dia pucat selama penandatangan pakta. Tetapi Clarus dan aku berasumsi bahwa Drautos seperti itu karena persyaratan pakta dan stres mengurusi Kingsglaive… Demi para dewa… Drautos adalah Glauca? Komandan Tertinggi dari Tentara Kekaisaran?" Cor menggerutu, kemarahan dan pengkhianatan menghantam suaranya.
Menyaksikan Cor membuat Noctis berpikir mengenai perasaannya ketika Lunafreya memberitahu berita mengenai pembelotan dari Kingsglaive. Dulu dia merasakan amarahnya bergelora. Rasa sakit yang menusuk. Penolakan yang tegas. Dan lalu rasa percaya yang dikhianati. Cor menurunkan tangannya, lalu tak lazimnya seperti seorang Marshal, dengan lelah dia duduk di pinggir jalan, menyodok jaketnya untuk mengeluarkan sebuah botol perak. Dia meneguk dengan dalam cairan yang Noctis anggap sebagai alkohol.
"Sekarang masuk akal mengapa Kingsglaive diletakkan di sekitar Citadel dan Crownsguard di pinggir kota. Drautos… Dia sudah merencakan semuanya. Mengisolasikan Raja dan Royal Council, lalu menusuk semua orang dari belakang ketika semuanya tidak menyangka itu," kata Cor, kembali meneguk cairan dari botolnya.
Noctis duduk di samping Marshal, tidak yakin ingin berkata apa. Dia tidak pernah memandang Cor sebagai seseorang yang menyimpan botol berisi alkohol. Pria itu tampak lebih kuat dari sebuah gunung, tak mudah putus asa secara emosional terhadap apa saja. Kalau saja Gladio terbunuh dan Ignis mengkhianatiku, aku mungkin akan menenggelamkan diri dalam barel alkohol, pikir Noctis, tiba-tiba merasa bersyukur teman-temannya setia berada di sampingnya.
"Tiga orang terkuat dalam Kerajaan sekarang berkurang menjadi satu," Cor tergelak sedikit. "Aku menganggap Drautos sebagai sahabatku sepanjang tahun dan inilah yang kuterima." Dia meneguk alkohol dari botolnya sekali lagi.
"Jangan terburu-buru meneguk minuman keras itu," saran Noctis. Dia bisa mencium aroma cairan yang kuat dari tempat duduknya. "Kita punya sebuah markas untuk dihancurkan besok."
"Ini." Cor menyodorkan botolnya kepada Noctis.
Sang Pangeran mengamati botol logam itu. "Aku tidak bermaksud memintamu memberikan botol itu kepadaku jadi aku bisa meminumnya sedikit."
"Anggap saja begini. Kalau kau meminumnya beberapa, aku akan meminumnya lebih sedikit."
"Aku tidak bisa menyangkal perkataanmu."
Noctis berhati-hati mengambil botol itu dari tangan Cor dan mencoba menyicip sedikit. Pada detik berikutnya, paru-paru dan tenggorokannya terasa terbakar oleh setiap cairan berat yang dia teguk. Cor memukul punggung Noctis dengan keras.
"Rasanya sedikit terlalu keras untuk pemula," kata Cor, agak menyesal.
"Apa kau yakin kau tidak sengaja mencampur alkohol dengan racun?" Dengan mata yang berair, Noctis mengembalikan botol itu kepada Cor.
Sang Marshal menerimanya. "Apa? Sudah selesai lagi?"
"Aku tidak menyukainya."
Cor meneguk lagi, sama sekali tidak terpengaruh seperti Noctis yang masih berjuang untuk bernapas. Cor menatap langit malam, lalu menghela napas. "Maafkan keangkuhanku ketika aku mengatakan ini, Pangeran, tetapi aku iri kepadamu."
"Apa yang kau iri dariku? Dad dibunuh oleh orang yang sungguh dia percayai. Kerajaanku direbut. Dan aku disangka mati," kata Noctis, pahit. Dia memungut batang pohon kurus di dekatnya, memutuskan untuk menggambar pola acak di pasir untuk mengalihkan perhatiannya dari situasi suram di antara mereka.
"Kamu memiliki teman-teman yang bersumpah untuk menemanimu di sampingmu, mereka yang bisa kamu percayai, sedangkan aku kehilangan teman-temanku." Cor menutup matanya, lalu membukanya sekali lagi, menyandarkan kepalanya untuk menatap bulan sabit di langit. "Drautos, Clarus, dan aku… kami semua memiliki perbedaan, tetapi aku selalu berpikir kekuatan kami berada dalam kesetiaan atas tanggung jawab kami. Para putra Lucian bangga atas kehormatan menjaga keluarga Kerajaan."
"Apa yang terhormat mengenai itu? Keluarga Kerajaan sama saja seperti keluarga-keluarga lainnya," tukas Noctis, keras kepala.
"Kamu akan menyadarinya ketika naik takhta. Ini sesuatu yang tidak bisa kuutarakan melalui kata-kata."
"Apa kau pikir kita bisa melakukannya? Merebut kembali Lucis?"
"Aku tidak akan beristirahat sampai aku melihat kau duduk di kursi takhtamu," Cor bersumpah. "Suatu hari nanti, kau akan menjadi seorang Raja dan Nona Lunafreya menjadi Ratu… Sebuah kehendak yang diinginkan Yang Mulia ketika persyaratan gencatan senjata diajukan. Itu adalah impiannya untuk melihatmu dan Nona Lunafreya hidup bahagia."
Dad… Menyeka matanya, Noctis membersihkan tenggorokannya. "Bagaimana denganmu, Cor?" Noctis memalingkan topik pernikahan dia dan Lunafreya. Dia masih tidak yakin di mana mereka berada terkait pernikahan mereka yang dirancang ini. "Kamu tidak muda lagi. Bukankah sudah waktunya bagimu untuk pensiun?"
"Usiaku 45, Pangeran. Umur yang dicap tidak beruntung. Aku percaya sudah lewat waktunya untukku berpikir mengenai pensiun dan menjalani hidup yang damai dan tenang. Lelaki sepertiku hanya memiliki tugas."
"Apalah hebatnya sebuah tugas?"
"Hebat ketika kau tidak memiliki apa-apa lagi." Bibir Noctis mengerucut. Tugas. Dia mulai muak mendengar kata itu. Memahami kekesalannya yang hening, sang Marshal memberikan tatapan masam. "Dan jangan sekalipun berpikir bahwa mengalihkan percakapan dariku bisa membuatmu kabur begitu mudah. Aku bukan Prompto, Pangeran."
"Tch." Noctis berhenti menggambar acak di pasir, batang pohon masih berada di tangannya. Cor memang terlalu keras kepada dirinya sendiri.
"Sudah berapa lama kau menjaga Puteri?"
"Nyaris sehari."
"Apa kalian berdua sempat berbicara mengenai pernikahan dan ke mana kalian akan pergi dari sini?"
"Sulit mendiskusikan itu ketika kita sibuk mengejarmu dan sekarang mengumpulkan Royal Arm."
Dan itu memang benar. Tidak ada waktu untuk mendiskusikan apapun mengenai pernikahan di antara mengamankan Lunafreya dan mengejar Cor di sepanjang Leide. Sang Marshal mengamati Noctis, lalu dia menawarkan botolnya sekali lagi kepada sang Pangeran. Noctis tidak yakin ke mana arah pertukaran ini, dia melempar batang pohon jauh-jauh, lalu mengambil botol untuk meneguk alkohol di dalamnya lagi. Sekali lagi, dia batuk dengan keras.
"Aku melangkah terlalu jauh dengan mengatakan ini, tapi mungkin kau sebaiknya menunjukkan lebih banyak kepercayaan diri," Cor menasehati, ekspresinya penuh sesal. "Menyaksikanmu tumbuh besar menyadarkanku akan satu hal yang pasti. Kau cenderung membiarkan orang lain membuat keputusan untukmu. Bahkan ketika di dalam Royal Tomb… Dan mungkin takdir bisa dipersalahkan karena memaksa dirimu untuk melangkah di jalan yang sukar."
Noctis meneguk lagi, merasakan matanya berair ketika cairan itu meledak di sepanjang tenggorokannya. "Apa yang bisa membuatku percaya diri? Aku tidak punya apa-apa selain mobil tua warisan Dad, perlengkapan kamping, dan senjata-senjata dari leluhurku yang sudah mati…Dan Luna…Dia adalah Oracle. Semua orang mencintainya. Selama dua belas tahun, dia sudah berkorban demi kepentingan dunia dan aku hanya hidup berlindung di balik Tembok. Apa yang bisa kuberikan kepada Luna sekarang?"
"Kalau kau berpikir kau tidak bisa memberikan dia apa-apa, maka kau tidak akan memberikan dia apa-apa. Kalau kau berpikir kau bisa memberikan dia sesuatu, maka kau akan memberikannya sesuatu. Semuanya dimulai di sini," Cor menekan satu pelipis di wajahnya untuk menekankan pernyataannya. "Pengelakan tidak selalu menjadi jawaban. Terutama untuk seorang Raja. Percayalah pada dirimu dan orang-orang di sekitarmu akan mengikutimu. Kalau kau ragu, mereka juga akan sama-sama ragu."
Aku tahu… Hanya saja… Noctis mengembalikan botol kepada Cor dalam diam. Selama sesaat tidak ada yang dikatakan di antara mereka berdua ketika mereka membiarkan keheningan malam hari menenangkan emosi mereka. Dia tahu tanpa ragu bahwa perkataan Cor memang tepat. Dia kurang percaya diri selagi bertumbuh sebagai Raja Sejati. Ayah selalu jauh dari jangkauannya. Ibu tewas ketika dia berusia delapan tahun karena melindunginya dari serangan daemon. Lalu ayah membawa dia ke Tenebrae untuk bertemu Lunafreya.
"Sebaiknya kita kembali," Cor menutup botolnya dan mengembalikannya ke dalam jaketnya. Sang Marshal berdiri dengan mantap, tak menunjukkan tanda-tanda mabuk. "Besok akan menjadi hari yang melelahkan bagi kita semua. Sebaiknya kau kembali lebih pagi dan beristirahat sepanjang malam, Pangeran."
Noctis berdiri sedikit terantuk, membiarkan kenangannya memudar dalam benaknya. "Sama juga untukmu. Ini titah Kerajaan dari Rajamu."
Cor mengangguk, tak tampak terbebani oleh pengungkapan nasib dari kedua temannya. Dengan segala persoalan hilang di antara mereka berdua, sang Raja dan Marshal kembali ke perhentian, berpisah ketika telah tiba di haven dengan Noctis bergabung bersama teman-temannya di api unggun dan Cor menghilang di sekitar gubuk.
"Anjing pintar, Ti─Pryna! Siapa anjing pintar itu? Ya, kamu!" Prompto mencurahi kasih sayangnya pada anjing putih itu, dengan bahagia mengelus-elus bulunya. Noctis mengerjap kaget ketika Pryna berdiri, ekornya mengibas sebelum nyaris menjatuhkan sang Pangeran ketika dia melompat ke atasnya. "Aww…Pryna! Ada apa?"
"Sepertinya dia menyukai Noctis daripada kamu, Prompto," kata Gladiolus dari tempat dia berjongkok, membangun tenda kedua untuk Lunafreya.
"Tunggu, Pryna!" Anjing putih itu bergabung dengan anjing kedua, kali ini berbulu hitam. Di kala terjepit di permukaan, Noctis tidak punya pilihan lain selain menunggu anjing-anjing itu pergi ketika mereka menjilati dan menyerodok dia. "Tidak kamu juga, Umbra!"
"Bagaimana denganku, Ti─maksudku, Pryna? Tidakkah kau ingat waktu-waktu yang kita lalui bersama?" Prompto mencibir ketika Noctis akhirnya berhasil berjongkok di tengah serangan kasih sayang dari sepasang anjing itu. Dia mengaitkan satu tangan lainnya kepada Umbra ketika mengelus kepala Pryna. "Setidaknya biarkan aku memiliki Pryna! Kau sudah punya Umbra, Noct!"
"Hei, ini bukan salahku mereka lebih menyukai aku daripada kamu," Noctis diam-diam senang karena kedua anjing itu langsung terikat kepadanya, lalu dia terus mendekati mereka. Dia adalah pecinta hewan. Semua orang di Kerajaan tahu itu, bahkan sampai menyiarkannya di radio. "Hei, aku juga merindukan kalian."
"Mereka benar-benar senang melihatmu."
Lunafreya berdiri di atas dia, tersenyum kepadanya, api unggun menciptakan cahaya yang memikat di sekitarnya. Dia merasa matanya sedikit melebar, lalu sebelum dia membodohi dirinya sendiri, Noctis mengangguk, mengalihkan tatapannya kembali pada dua anjing itu.
"Kau tahu kau bisa menunjukkan beberapa emosi, benar, Noct?" Prompto berkata sambil memotret Pangeran dan dua pengikut setia Lunafreya. Dia mengambil foto lainnya lagi.
Untung saja, Noctis mendapat kesempatan untuk kabur ketika Ignis mengumumkan dalan intonasi suara bangga, "Makan malam sudah siap! Semuanya berkumpul ke meja. Makanan ini akan kehilangan kelezatannya kalau dingin. Kau juga, Gladio. Pekerjaan tenda bisa ditunda sebentar."
Gladiolus memalu paku terakhir ke permukaan untuk memasang tenda, lalu berdiri tegap. "Baru saja selesai, Iggy."
Noctis berdiri, berhati-hati tidak menginjak Umbra dan Pryna, lalu berjalan ke meja untuk mengambil mangkuknya. Itu adalah satu dari banyak resep Ignis: rebusan daging panggang kering setengah matang. Setelah mengambil sendok, dia duduk di salah satu kursi Coleman yang dipasang di sekitar api unggun, menyadari adanya tambahan kursi kelima. Kursi itu lantas diduduki Lunafreya, yang duduk di antara Noctis dan Prompto.
"Dan tentu saja, beberapa potong daging untuk pengikut Nona," kata Ignis, mengambil irisan besar Garula Sirloin untuk dimakan kedua anjing itu. Umbra dan Pryna dengan girang mengitari pria berkacamata itu untuk menyantap makanan yang berlimpah. "Kalian semua makan duluan, aku ingin mengecek apakah Marshal dan anggota Crownsguard lainnya ingin ikut makan.
Setelah mengucapkan itu, Ignis berhati-hati membawa panci berisi rebusan sambil menuruni permukaan haven yang berbatu. Menyantap rebusan, Noctis menikmati rasa yang lezat bersamaan dengan Prompto yang menggeliat-geliut di kursi, mengumumkan mengenai betapa lezatnya makanan itu. Dia masih merasakan dengungan kecil dalam kepalanya dari beberapa seruput minuman alkohol Cor yang terlalu kuat, tetapi dengan rebusan mengisi perutnya, dia merasa lebih baik.
"Apa rencana perjalanan kita?" Akhirnya Ignis bertanya, setelah dia kembali dengan panci yang kosong untuk bergabung bersama mereka di sekitar api unggun.
"Monica berencana mengintai markas Kekaisaran di jalan sebelah barat ke Duscae. Tergantung pada apa yang dia temukan, kita akan saling bertukar rencana, tapi keseluruhan tujuan akhirnya sama: lumpuhkan markas dan semua tentara yang ada di dalam sana," Gladiolus menjelaskan kepada tiga orang yang tidak berada di pertemuan tadi. "Itu adalah satu-satunya jalan untuk kita pergi ke barat untuk mengunjungi Royal Tomb lainnya. Cor berpikir kalau kita menunggu, mereka akan memiliki blokade penuh yang menunggu untuk mencoba dan menangkap Noct dan Puteri."
"Terdengar masuk akal," kata Ignis setelah menelan satu sendok penuh rebusan. "Dan apa yang kita lakukan setelahnya?"
"Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Noct, tapi aku ingin pergi ke Lestallum dan mengecek Iris," Gladiolus mengaku tanpa ragu. "Untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja."
Noctis hanya terus menyendoki rebusan ke dalam mulutnya, Mereka bisa berhenti di Lestallum. Dia mencemaskan Iris juga. Dan mungkin mereka juga bisa memperoleh informasi dari para penduduk lokal mengenai Royal Tomb di dekat sana. Atau sesuatu lainnya yang lebih normal. Mungkin menyetok persediaan seperti baju ganti dan perlengkapan lainnya. Ketika mereka semua tengah berbicara, Noctis menyadari cara Lunafreya menatap mangkuk di tangannya, sendoknya kendor dalam genggamannya.
"Luna?" tanya Noctis, meninggalkan Ignis dan Gladiolus untuk merancang rencana tempur besok ketika Prompto sibuk menjaga Umbra dan Pryna, mengabaikan kursinya di sekitar api unggun seluruhnya.
Lunafreya memulai, hampir saja menjatuhkan mangkuk di tangannya. Untunglah, tidak ada rebusan yang tumpah. "Pikiranku berkelana," katanya, tersenyum lemah kepada Noctis. "Aku berpikir mengenai ke mana kita─aku─sebaiknya pergi."
"Ke mana?"
Dia ragu-ragu, bibirnya mengerucut, matanya menghindari mata Noctis. Reaksi dia terhadap pertanyaannya membuat Noctis cemas. Lunafreya tidak pernah berbasa-basi. Jika dia menghindar seperti sebuah perisai, dia selalu langsung ke intinya dan jujur.
"Ke Disc of Cauthess."
Tiba-tiba, Noctis tidak dapat merasakan kehangatan rebusan lagi, sebuah gejolak dingin merayap di dasar perutnya. Disc of Cauthess… Semua orang mengetahui legenda di balik landmark yang tenar itu, dipuja sebagian besar di wilayah Duscae.
Prompto, yang mendengar pembicaraan mereka ketika dia kembali ke kursinya, menyela ke dalam pembicaraan. Matanya lebar oleh kegirangan. "Maksudmu tempat di mana Titan berada?"
"Ya, aku juga ingin pergi melihat ke sana," tambah Ignis, wajahnya dipenuhi ekspresi berpikir. "Aku mendengar Disc itu diselimuti api sehingga membuat area sekitarnya lebih panas daripada area lainnya."
Hanya ada satu alasan mengapa Lunafreya ingin pergi ke Disc. Untuk bertemu Titan, sang Archaean, dan membangunkan sang Astral sehingga Noctis bisa memadu Perjanjian dengan dewa. Legenda berkata bahwa para Astral, melalui komuni dengan Oracle, akan membantu Raja Lucis untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran. Dan sekarang dia adalah Raja tersebut.
"Aku harus pergi untuk memenuhi janji yang kubuat kepada seorang temanku yang baik," kata Lunafreya ketika dia mengambil sendok perak untuk lanjut makan. Perkataannya yang tulus menyita perhatian Noctis secepat cahaya.
Dia membenci fakta bahwa mereka dipaksa oleh kekuatan bernama takdir setelah bertemu lagi untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun lamanya. Semuanya terjadi begitu cepat sampai Noctis merasa bahwa seluruh dunia berputar di sekitarnya. Bangun lebih banyak kepercayaan dalam dirimu. Itu lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Dia ingin meledak marah dan bertindak seperti seorang anak kecil, mengutuk para dewa yang menjatuhkan sebuah ramalan ke pundaknya untuk sesuatu yang diketahuinya sedikit sekali. Semua yang dia tahu adalah merupakan tujuannya untuk bangkit sebagai Raja Sejati dan menaklukkan Starscourge. Dan itu membuatnya frustasi.
Meski begitu, melihat ekspresi tegas Lunafreya membuat dia menemukan janjinya sendiri, segoyah apapun itu. Dia sudah membuat janji juga.
"Setelah kita mengurusi markas, kita akan menuju ke Disc dengan Luna," katanya, mencoba sebaik mungkin terlihat percaya diri walaupun barangkali tampak terpaksa dan tak seperti dirinya. Untuk sesaat, Noctis merasa seperti anak kecil yang menggerutu karena tidak tahu pilihan yang lebih baik. Tetapi ekspresi-ekspresi di wajah teman-temannya mengatakan sebaliknya.
"Kurasa kita semua sepakat," kata Gladiolus dengan tatapan menyetujui. "Iris bisa menjaga dirinya sendiri sampai kita melihat apa yang perlu dilakukan Nona Lunafreya di Disc."
"Denganmu sebagai kakaknya, aku yakin dia akan baik-baik saja. Lagipula Lestallum mungkin adalah tempat paling aman di Lucis sekarang ini," sokong Ignis, mendorong kacamatanya ke ujung hidungnya.
"Keren! Titan, tunggulah kedatangan kami!" Prompto berteriak riang.
Dalam cahaya api unggun, Noctis berpikir dia melihat senyuman sedih menghiasi wajah cantik Lunafreya, tetapi ketika dia melihat lagi, wanita itu sedang tersenyum karena kelakar Prompto. Ah, barangkali hanya imajinasiku. Aku baru saja minum alkohol, pikir Noctis, kembali ke rebusannya, menonton teman-temannya berbincang di sekitar api unggun. Lunafreya berpartisipasi atau ditarik ke dalam percakapan oleh Prompto. Dinamika di antara mereka agak canggung dan terlalu formal, tetapi seiring waktu semoga saja mereka akan memperlakukan Lunafreya seperti mereka memperlakukan Noctis. Yah, dengan sedikit sentuhan hormat, tetapi masih memperlakukan dia sebagai bagian dari mereka.
Makan malam berakhir tanpa kejadian yang spesial, namun lebih terasa hidup daripada kemarin malam. Ketika mereka semua selesai dan semuanya sudah dibersihkan, mereka beristirahat ke tenda yang terpisah. Ketika Lunafreya menunjukkan tendanya kepada Pryna dan Umbra, Noctis berkeliaran di depan tenda yang dia bagi dengan teman-temannya.
"Selamat malam, Luna."
"Selamat malam, Noct." Lunafreya memberikan senyuman terakhir kepada dia. Lalu wanita itu menghilang ke dalam tenda, ditandai oleh bunyi ritsleting yang menutup di belakangnya.
Noctis juga masuk ke dalam tendanya, tidak menghiraukan tampang-tampang penuh arti di wajah teman-temannya ketika dia bersiap untuk tidur. Pada malam itu ketika dia bersandar dalam kantung tidurnya seraya melihat ke langit-langit tenda, Noctis tidak bisa berhenti memikirkan semua yang telah terjadi hari ini. Mengumpulkan Royal Arm, meminta Lunafreya untuk menyimpan cincin baginya, dan berbicara dengan Cor mengenai Drautos. Dia berbalik dalam kantung tidurnya, menggoncangkan kepalanya ketika dia mendengar dengkuran Gladiolus.
Ring of Lucii.
Pikirannya berkelana kembali ke cincin hitam dengan serpihan Kristal Agung yang hampir saja diserahkan Lunafreya kepadanya, hanya untuk ditolak oleh Noctis. Mengenakan cincin itu sama saja berarti menerima bahwa ayah telah tiada. Dan walaupun hanya untuk sesaat, dia tidak ingin memuja perhiasan mistis itu sehingga dia bisa berduka atas kematian ayah dengan layak. Dia tahu dia bersikap egois untuk meminta Lunafreya menyimpannya, tetapi ketika wanita itu menyodorkan cincin itu kepadanya, dia merasakan kepanikan yang begitu intens. Baginya, itu terasa seolah Lunafreya sedang mengucapkan selamat tinggal.
"Psst, Noct," suara yang tidak terlalu senyap mengganggu pikirannya. Tidur di ujung area tenda, Noctis memutar kepalanya ke kiri, tempat Prompto seharusnya tidur dalam kantung tidurnya. "Apa kau masih bangun?"
"Yeah," jawab sang Pangeran, menguap pendek. "Ada apa?"
"Dengan semua yang sudah terjadi, aku hanya ingin memberi tahu bahwa aku lega Nona Lunafreya bersama kita," kata Prompto tulus, diikuti dengan gerakan kaki yang kasar, sampai membuat Noctis bertanya-tanya apa yang dilakukan temannya itu. Lalu penampakan sebuah wajah pucat dengan rambut pirang berantakan tampak di kirinya. Noctis terperanjat, hampir berteriak karena terkejut sampai dia menyadari bahwa itu hanyalah wajah Prompto yang diterangi cahaya temaram dari teleponnya.
"Nggak keren, Prompto," gerutu Noctis, merasakan nyawanya hampir meninggalkan raganya karena terkejut.
Sang penembak tampak menyesal. "Maafkan aku. Aku tidak dapat menahan gejolak bahagia bisa bertemu bahkan mengobrol panjang lebar dengan Nona Lunafreya. Kau sudah pernah mendengar ceritaku ketika aku bertemu Pryna kecil yang terluka. Berkat dorongan Nona Lunafreya, aku berusaha memperbaiki diriku agar bisa berteman denganmu. Dia benar-benar menjadi inspirasiku."
"Kau tidak bisa menikahi dia."
"Tidak pernah sekalipun terlintas dalam benakku, kawan. Lagipula, aku sudah menyerahkan seluruh hatiku kepada Cindy yang menawan," Prompto menyeringai. Dia berguling ke sisinya, menatap sang Pangeran yang terhibur. "Tetap saja, aku sebal kalian berdua tidak bisa menikah di Altissia. Kalian sangat menantikan momen itu, bukan?"
"Altissia tidak begitu cocok dengan gayaku lagipula," kata Noctis. Dia menangkap kekecewaan di wajah Prompto seolah lelaki pirang itu mengharapkan dia untuk melayangkan protes atas penundaan pernikahannya dengan Lunafreya. Mengembalikan tatapannya ke puncak tenda, untuk pertama kalinya sejak memulai perjalanan panjang, dia mengutarakan pemikirannya. "Ketika kami menikah, kami akan melakukannya di Tenebrae. Di sana jauh lebih indah daripada Altissia."
Pengakuan itu mengundang senyuman lebar dari Prompto. Noctis mengangkat alisnya, dengan senyap memberi tahu temannya untuk tidak membesar-besarkan pengakuan kecil ini. Prompto tidak berteriak seperti yang selalu dia lakukan, tapi dia melakukan hal yang terburuk. Dia berguling di dalam kantung tidurnya, kain nilon bergemerisik sampai menimbulkan suara seperti badai kecil.
"Bisakah kalian berdua menghentikan kebodohan di malam hari dan pergi tidur saja?" Suara tajam Ignis memarahi mereka dari belakang Prompto. Langsung saja, Prompto diam dalam kantung tidurnya.
Noctis bersendawa, kelelahan menguasai tubuhnya. "Dia yang datang kepadaku, Specs."
"Aku tidak! Kita hanya─tunggu, kenapa kamu menjauhi aku, Gladio? Tidak, sungguh, itu tidak─Ouch!"
Setelah terkekeh sendiri, Noctis bersendawa lagi, menutup matanya yang lelah ketika tidur menggapainya. Hal terakhir yang dia dengar adalah suara dalam Gladiolus yang memeringatkan Prompto untuk "berhenti berbuat aneh-aneh" dan pergi tidur sebelum dia memukulnya. Pada momen berikutnya, rasanya seperti Noctis baru saja tidur sebelum dia mendengar suara jepretan yang diikuti tawa redam dan sebuah suara lembut.
"Jangan khawatir," kata Prompto dalam suara kecil yang terdengar seperti bisikan. "Dia akan menikmatinya."
"Apa dia selalu kelelahan?" tanya sebuah suara feminim. Untuk sementara satu tangan yang lembut menyentuh rambutnya. "Noctis, sudah waktunya untuk bangun. Cor memanggil kita semua."
Berkedip dengan lelah, dia memfokuskan matanya kepada figur di atasnya. Lunafreya, dengan rambut yang diikat ke atas, bersandar di atasnya. Prompto meringkuk di sebelah Lunafreya dengan kamera di tangan. Cahaya matahari yang silau membanjiri tenda. Dengan pening, dia duduk tegak, masih dibungkus oleh kantung tidur.
Lunafreya menutupi mulutnya yang tertawa riang ketika melihat sang Pangeran meringkuk seperti kepompong dan tak habis-habisnya menguap. Rambut Noctis tampak lebih berantakan daripada biasanya. Melihat tawa Lunafreya membuat dia tersenyum, kekehan kecil terlontar dari mulutnya.
"Selamat pagi," sapa Lunafreya di antara tawanya.
"Selamat pagi," balasnya, akhirnya keluar dari kantung tidurnya, meregangkan otot-ototnya. "Apa sudah waktunya untuk bangun?"
"Benar. Monica baru saja kembali dari penyelidikan. Kita diharapkan untuk berkumpul di gubuk untuk merancang rencana pertarungan. Bangun! Bangun!" Prompto mendesak, menarik sang Pangeran keluar tenda untuk menyegarkan diri di pagi itu. Di belakang mereka, Lunafreya mengikuti. Setelah bertukar sapaan pagi dengan Ignis dan Gladiolus, Noctis berusaha menyegarkan tubuhnya agar tidak jatuh tidur lagi, bahkan sampai minum kopi Eboni yang pahit.
Ketika mereka berkumpul di dalam gubuk, Cor sudah tiba dengan Monica dan beberapa anggota Crownsguard lainnya. "Bagus," kata sang Marshal ketika melihat mereka semua berkumpul. Dia mengangguk penuh hormat kepada Lunafreya dan Noctis. "Kita bisa mulai mendiskusikan misi. Monica, kuserahkan tugas ini kepadamu."
"Baik. Dari pengintaianku, aku bisa memastikan bahwa markas itu memiliki sebuah pintu belakang. Celah kecil di antara bebatuan mengelilingi area itu. Sangat memungkinkan untuk mengutus seseorang memaksa masuk melalui celah itu dan menyusup ke dalam markas dengan cara ini tanpa menyiagakan para tentara. Tetapi, tidak akan cukup untuk mengirimkan sebuah tim melalui pintu belakang untuk melancarkan serangan dadakan. Karena jumlah kita sedikit, kita harus mencoba dan melakukannya dengan cara yang berbeda," Monica menjelaskan, menunjuk titik di peta beberapa meter menjauh dari tikungan di jalanan yang menuju pintu masuk blokade.
"Kita sudah memutuskan untuk memecah ke dalam dua kelompok. Tim penyusup berisikan dua orang dan tim pengalihan yang lebih besar. Tim pengalihan akan menyerbu pintu masuk ke blokade ketika tim penyusup akan menyelinap masuk ke dalam markas, melumpuhkan tentara apapun yang mereka temui, dan membuka gerbang dari dalam," lanjut Cor. "Kelompok ini sudah ditentukan: Pangeran dan aku akan menjadi bagian dari tim penyusup dan semua yang lain akan bergabung ke tim pengalihan. Nona Lunafreya, maafkan aku karena menempatkanmu di dalam tim pengalihan, tetapi aku punya firasat bahwa keberadaanmu saja bisa menarik perhatian semua tentara di gerbang depan."
"Tunggu, Luna bergabung dengan tim pengalihan?" Noctis menggerutu. "Terlalu berbahaya. Dia sebaiknya tinggal di sini─"
"Izinkan aku untuk bertarung bersama kalian semua," kata Lunafreya, memotong sebelum Noctis menyelesaikan perkataannya. Dia membuka mulutnya untuk protes, tetapi siku Gladiolus yang tajam menyenggolnya. "Aku tidak bisa bertempur sebaik orang-orang di sini dan kemungkinan besar aku membutuhkan perlindungan kalian, tetapi aku akan merasa terhormat untuk berdiri di medan perang bersama kalian semua."
"Jangan khawatir, Noct. Kita akan melindunginya," Gladiolus berjanji, ekspresinya yang mantap meyakinkan. "Dan dia akan baik-baik saja jika sehebat ketika bertarung kemarin."
Dia tidak ingin Lunafreya berada dalam bahaya, tetapi dengan ekspresi yang terpasang di wajahnya, pendiriannya tidak dapat lagi diubah. Tidak mampu melakukan apapun lagi, Noctis menonton Cor yang terus menjelaskan strategi. Dia meraba ke samping dan menemukan tangan kurus milik Lunafreya. Dia menggenggamnya dengan erat, mencoba untuk menyatakan bahwa seberapa berharganya keselamatan dia bagi dirinya.
Berhati-hatilah.
Lunafreya balik meremas genggamannya.
Jangan khawatir.
Dan itu adalah semua yang perlu dia tahu. Memercayai bahwa teman-temannya akan memegang janji mereka dan memastikan keselamatan Lunafreya, Noctis memalingkan perhatiannya kembali ke pengarahan. Mereka akan menerobos ke markas dan membuka jalan ke Duscae. Setelah mereka melakukannya, mereka akan mengunjungi Disc of Cauthess untuk memenuhi janji kanak-kanak yang dibuatnya bersama Lunafreya. Tidak ada lagi ruang untuk ragu-ragu. Berdiri di dalam gubuk, ketetapan hati semua orang memperkuat tekad bajanya. Dia menggenggam tangan Lunafreya lebih erat. Setelah dua belas tahun disebut pengecut karena bersembunyi di balik Dinding, setelah dua belas tahun mengharapkan keselamatan Lunafreya sebagai sandera Niflheim, setelah dua belas tahun menyaksikan ayahnya menderita dalam keheningan─sekarang adalah giliran mereka untuk bertindak.
Perang telah dimulai.
Author's Notes:
Halo para pembaca, apa kabar semuanya? Maaf atas hiatus panjang, saya butuh penyegaran otak sebelum lanjut menulis fanfic ini yang sudah setebal buku telepon dengan total kata 200.000 lebih.
Terima kasih atas review beruntun dari Marry Sykess, maaf saya gak bisa balas lewat PM karena kau tidak login. Beberapa typo yang kamu temukan sudah saya koreksi dan terutama penjelasan emblem di chapter 38 yang fatal banget. Untung saja kamu sadar jadi bisa segera saya perbaiki. Nyx memang salah satu karakter utama paling malang nasibnya di sini, tapi itu akan berguna bagi pengembangan karakter dia. Memang aslinya banyak tragedi di FF XV ini.
Chapter 057 akan saya rilis secepat yang saya bisa karena gawatnya ketertarikan saya dengan FF XV sudah memudar banyak dan saya teralihkan dengan game, film, TV series, dan novel lain, jadi writer's block semakin merajalela. Bantu saya untuk mengatasi WB dengan rajin mengirim review ya!
Btw, satu pertanyaan serius bagi kalian: Di fanfic ini akan ada cinta segitiga antara Noctis-Luna-Nyx. Seperti yang sudah dijelaskan dari beberapa chapter belakang, Noctis cinta mati dengan Luna, Luna sedang belajar mencintai Noctis dan dia punya perasaan khusus dengan Nyx, dan yang masih menjadi misteri adalah apakah Nyx suka dengan Luna atau tidak. Saya ingin tahu pendapat kalian mengenai jenis konflik cinta segitiga yang ingin ditampilkan di sini. Saya sangat anti kisah cinta ala Twilight atau sinetron Indonesia apalagi India. Tapi saya masih pemula dalam meracik kisah cinta yang menarik, jadi saya sendiri pun masih ragu untuk memunculkan konflik cinta di sini. Jadi menurut kalian sebaiknya bagaimana dinamika cinta segitiga antara mereka yang menarik?
Saya tunggu respon dari kalian dan sampai jumpa lagi di chapter 057.
