A/N: *menunduk sedalam-dalamnya hingga kepala nyaris menyentuh kaki*

maaf lama sekali saya mengupdate! rasanya enggak ada kata-kata yang mampu menyampaikan perasaan bersalah ini, yang jelas saya mohon maaf sekaliii! padahal tinggal sedikit lagi cerita ini tamat, semangat saya kembali berkobar! *mata menyala layaknya lampu jalan di tol* jika anda berkenan, mohon memaafkan saya. bila tidak, yah saya tetap bisa terjun ke sungai deket rumah kapanpun saya mau (?). baik, sekian dan terima kasih! *nunduk lagi*


Jam menunjukkan pukul 7.30 pagi.

Yukiko Amagi dan Souji Seta terbangun dari tidurnya.

Hal pertama yang mereka sadari adalah kehangatan. Kemudian mata mereka bertatapan, di susul oleh ingatan mengenai kejadian semalam. Keduanya menarik diri dalam perasaan malu dan gugup.

Keduanya langsung duduk di pinggir kasur yang berlawanan. Wajah Yukiko merah padam, tak henti-hentinya ia memaki dirinya sendiri. Sekali lagi, ia harus mengingatkan dirinya betapa aneh keadaan yang harus di laluinya bersama Souji. Jika ini terus di lanjutkan, bagaimana ia bisa melanjutkan hidup tanpa Souji?

Tidak jauh berbeda dengan Souji sendiri. Masih dapat dirasakan olehnya, nafas hangat Yukiko dan kenyamanan sentuhan gadis itu. Souji terdiam lama. Perlahan-lahan, dirinya mulai tenang kembali.

Jauh di luar sana, tampak cuaca pagi yang sempurna. Embun pagi lebih banyak di banding biasanya akibat hujan semalam. Jalanan tampak segar dan tidak becek. Angin pegunungan berhembus meniup dedaunan di pepohonan. Awan seputih kapas melayang ringan di cakrawala. Mentari pagi datang menyapa makhluk di bumi.

"Umm... Aku mandi duluan ya. Jika kau mau kembali ke kamarmu, tidak apa." Kata Souji sambil beranjak mengambil handuk dan pakaian.

"Tunggu. Bagaimana tubuhmu?" Yukiko berdiri tepat di hadapan Souji ketika Souji membalikkan badan, punggung tangannya menyentuh kening pemuda itu. Tidak panas, sedikit hangat. "Kau sudah sembuh?" Tanyanya tak percaya.

"Kau mengharapkan aku sakit lebih lama?" Tanya Souji bingung.

"B-bukan itu maksudku. Tapi kau baru istirahat satu hari. Panasmu kemarin sangat tinggi, tahu." Jawab Yukiko sambil setengah merengut melihat ketahanan tubuh Souji terhadap penyakit begitu tinggi. Yukiko sedikit berharap, dirinya bisa sedikit lebih lama melihat sisi rapuh Souji.

Souji hanya menjawab dengan gerakan bahu.

Yukiko mendesah, "Jangan memaksakan diri. Aku mau ke kamarku. Kalau nanti kau pusing, jangan berani-berani keluar kamar." Ancam gadis itu. Namun Souji bisa merasakan kekhawatiran murni terpancar dari kata-katanya, Souji pun tersenyum senang.

Di belakangnya, pintu berdebam tertutup.

"Manisnya..." Bisik Souji.

~OoOoO~

Aula, jam makan pagi.

"Yukikooo~~o!" Nada mendayu-dayu memuja membuat yang di panggil menoleh.

"Ya, Yosuke?" Tanya Yukiko bingung dengan tangan kanan yang memegang sendok terhenti di udara.

Yosuke mengambil kursi di samping Yukiko dan duduk di dekat gadis itu. Chie tidak ada di meja Yukiko, dapat di pastikan gadis tomboy itu masih mendengkur di kamarnya. Anak-anak yang ada di aula, hanya anak-anak yang terlihat begitu bersemangat untuk pergi ke kota hari ini. Makanya mereka bangun lebih pagi.

"Terima kasih untuk semalam." Yosuke tersenyum ceria, seakan ia baru di beri segerobak es krim magnum.

Yukiko tersedak supnya sendiri. Ia terbatuk-batuk. Teman semejanya langsung menoleh memandangnya.

"Uhuk.. Y-yeah.. Tentu saja." Jawab Yukiko sambil meneguk minuman miliknya, wajahnya memerah akibat batuk dan perasaannya mengenai kejadian semalam.

Yosuke mendecak melihat tingkah laku polos Yukiko, "Kau tidak bisa menyembunyikan apapun yah? Apa yang semalam kalian lakukan memangnya?" Tanya Yosuke setengah berbisik.

Wajah Yukiko tambah memerah, "Kenapa kau berpikir kami melakukan sesuatu?" Elaknya.

Yosuke menjentikan jari, "Wajahmu merah, kau batuk-batuk tanpa sebab, dan kau banyak menelan ludah sebelum menjawab pertanyaanku." Jelas Yosuke.

Yukiko mendesah, "Memangnya segitu kelihatan?" Bahu gadis itu merosot.

Yosuke tertawa kecil, "Ya, memang. Hey kau belum menjawab pertanyaanku!" Tuntut Yosuke.

"Apa aku harus menjawabnya?"

"Yeah!"

"Kenapa?"

"Karena aku mau tahu!"

"Kalau aku memutuskan untuk tidak memberi tahu? Mau apa kau?"

"A-aku.. Aku menebak!"

"Huh?"

"Apa kalian berciuman?"

Wajah gadis itu memerah, tapi ia menggeleng keras-keras.

"Berpelukan?"

Makin merah, tidak sanggup berbohong untuk menggeleng.

"Ummm.. Aku jadi teringat di vila Rise. Kalian..." Kalimatnya mengantung di udara.

Begitu nama Rise di sebut, perut Yukiko yang baru separuh terisi sarapan langsung terasa kenyang seakan baru ada orang yang membelah perutnya untuk menaruh batu di dalam lambung Yukiko. Napsu makannya hilang entah kemana, dan ia memutuskan untuk banyak-banyak minum ketimbang melanjutkan makannya.

Menyadari sikap Yukiko yang berubah tiba-tiba, Yosuke mengalihkan pembicaraan, "Souji bilang dirinya sudah sembuh. Ia juga mandi dan sempat membaca koran sambil minum teh di teras. Apa dia benar sudah sembuh?".

"Aku tidak tahu. Kenapa kau tidak tanya padanya?".

"Sudah, dia bilang sih sudah sembuh. Tapi memang secepat itu?"

"Aku tidak tahu."

"Kau mau membantuku lagi?"

"Ngapain?"

"Mau tidak kau jalan-jalan ke kota dengan Souji?" Melihat reaksi enggan Yukiko, ia buru-buru menambahkan, "Ayolah. Kujanji akan melakukan apapun untukmu setelah kau menemaninya hari ini."

"Memangnya kau sibuk?" Sahut Yukiko.

"Aku pengen kencan sama Chie. Ayolaaaaaah.." Yosuke merengek.

"Kau janji mau melakukan apapun untukku?"

"Ya! Janji!"

"Kalau begitu, kita punya kesepakatan."

~OoOoO~

"Kita mau ngapain?" Tanya Yukiko sambil celingak-celinguk memandang sekitar mereka. Di lepasnya helm pinjaman dari Souji agar Souji dapat menyimpannya di bagasi motor ayahnya.

Waktu menunjukkan pukul sebelas, dan mereka sedang berada di parkiran samping mall. Tampak banyak motor dan mobil berjejeran di sekitar mereka, mungkin mall sedang ramai oleh pengunjung.

"Belanja yuk." Ajak Souji yang menuntun Yukiko memasuki mall.

Begitu pintu otomatis terbuka, suara bising terdengar menggelegar. Orang-orang berlalu lalang dengan ribut, lagu yang berbeda-beda di putar untuk menghibur para pengunjung, suara orang-orang yang menawarkan segala macam produk barang mencoba menyaingi suara musik, dan begitu banyak suara lain layaknya mall besar.

Kedua orang tersebut masuk sambil mengedarkan pandangan mereka terhadap tempat baru itu. Ke manapun mata melihat, berbagai macam kegiatan dapat diketahui.

Pertama, Souji mengajak Yukiko menuju butik baju terkenal. Awalnya Yukiko menolak mentah-mentah tawaran Souji untuk membelikannya baju. Namun dengan paksaan lembut, Yukiko terpaksa mengenakan gaun pink muda selutut mode terbaru dengan renda putih. Yang di double sweeter merah sebagai atasannya.

Sebagai pembalasan dendam, Yukiko meminta Souji sekalian ikut membeli pakaian yang dipilihnya untuk Souji. Tuksedo hitam dengan dasi bergambar tweety sedang mengedipkan sebelah mata. Dasi itu cukup cocok, karena background tweety adalah langit hitam berbintang, sehitam warna tuksedo Souji.

Harga kedua baju itu cukup mahal, namun rekening Souji selalu mengalahkan harga belanjaannya.

Begitu mereka keluar dari butik itu, banyak mata menggerling pada mereka.

Mereka begitu mencolok. Tidak ada satupun orang yang memakai gaun atau tuksedo ke dalam mall, kecuali Souji dan Yukiko. Terlebih lagi, keduanya tampak menawan. Rambut panjang Yukiko tergerai hingga pinggulnya. Wajahnya yang cantik, menonjol dengan gaun yang ia kenakan. Segala yang ada di tubuhnya terlihat cocok dan indah. Tidak ada kekurangan yang ia tunjukkan.

Begitu pula dengan Souji. Walau sedikit sesak mengenakan dasi, pemuda itu pintar menyembunyikan perasaan tidak nyamannya. Jalannya tetap tegak, pandangannya tetap lurus, bahasa tubuhnya tetap santai. Wajahnya juga sama bagusnya dengan wajah Yukiko. Dan jujur saja, tuksedo sering membuat laki-laki terlihat mempesona.

Souji dan Yukiko berpandangan saat anak kecil berumur 4 tahunan melewati mereka sambil berteriak-teriak pada Ibunya, "Mama mama! Aku ingin ikut pesta kostum!". Serempak, Yukiko dan Souji melepas perasaan malu mereka karena mengenakan pakaian yang begitu mencolok dengan gelak tawa.

Sudah tidak penting lagi dengan penampilan mereka, mereka hanya ingin bersenang-senang.

Selanjutnya, Souji dan Yukiko memutuskan untuk bermain di area game center.

Pemandangan yang sungguh aneh bila kalian lihat, dua orang berpakaian seakan baru kabur dari pesta dansa tengah tertawa-tawa sambil memasukkan bola basket ke ringnya. Terlebih lagi, jumlah score mereka jauh di atas rata-rata orang biasanya bermain.

Lama, kedua sahabat itu melihat-lihat mall hingga mereka puas. Tiap pojokan mereka lewati, tiap toko bagus mereka masuki, tiap barang yang mereka sukai mereka beli.

Hingga waktu menunjukkan pukul dua siang, mereka kelaparan hingga memutuskan untuk makan.

Souji mengajak Yukiko untuk pergi ke sebuah restaurant favoritnya. Letaknya sekitar 3 km dari mall itu, Yukiko hanya mengangguk setuju untuk menanggapinya.

~OoOoO~

Sebuah bangunan bertingkat dua berwarna hijau dengan banyak dekorasi menarik, menjadi tempat tujuan Souji. Tempat itu sangat ramai oleh orang-orang yang sedang mengambil jam istirahat mereka dari pekerjaan masing-masing. Tampak juga mahasiswa-mahasiswi sedang asyik menikmati hidangan restaurant itu.

Yukiko tidak yakin mereka mampu mendapatkan tempat, namun Souji bersikeras agar Yukiko ikut masuk dengannya.

Rupanya, pemilik restaurant itu adalah saudara Souji. Dengan mudahnya, mereka mendapatkan tempat di lantai 2.

Lantai 2 terbagi menjadi beberapa tempat. Ada tempat untuk istirahat para pelayan, ada kantor boss, juga ada dapur kecil beserta meja makan yang special biasanya dipesan beberapa orang untuk melakukan pelamaran. Dapur kecil itu memiliki balkon yang menghadap ke pegunungan. Pohon-pohon sakura juga ada banyak di dekat restaurant itu, sehingga suasana sangat cocok untuk berduaan.

Setelah berterima kasih, saudara Souji kembali bekerja mengurus keramaian di bawah dan meninggalkan Souji dan Yukiko untuk masak sesuka mereka.

"Indah sekali." Kata Yukiko dari balkon. Angin sejuk masuk melewati pintu menuju balkon.

Souji membuka tuksedonya dan membiarkan kemejanya keluar berantakan dari celananya. Di taruhnya tuksedo itu di sofa, dan ia ikut bersantai menikmati keindahan pemandangan di balkon.

"Mm-hmm." Sahut Souji menyetujui.

Mereka berdua terdiam cukup lama. Keheningan menyelimuti dengan damai. Pikiran kedua orang tersebut dipenuhi oleh masalah masing-masing. Setelah berjam-jam yang baru saja mereka lalui bersama, membuat keduanya berharap keadaan tidak pernah berubah. Mereka ingin tetap berbahagia bersama.

"Umm.. Aku lapar." Yukiko mengalihkan pikirannya yang sudah mulai melantur dengan mencoba menyibukkan diri mencari-cari penggorengan.

Tidak sulit, karena dapur itu tertata rapih. Berbagai macam penggorengan, wajan, dan alat-alat memasak tergantung di bagian atas konter. Mangkuk, piring, sendok-garpu-pisau, ada di laci bawah konter. Sementara berbagai macam daging, sayur, dan buah ada di kulkas. Dan berbagai macam bumbu ada di rak pinggir ruangan.

"Mau makan apa?" Tanya Souji yang sedang melihat-lihat kulkas.

Setelah berfikir sejenak Yukiko menjawab, "Bagaimana kalau okonomiyaki?"

Souji mengangguk menyetujui. Diambilnya tepung terigu, kol, telur ayam, dan bahan-bahan lainnya.

~OoOoO~

"Lebih baik jika kau memotongnya secara vertikal dan pelan-pelan." Souji meletakkan tangan kanannya pada tangan kanan Yukiko yang memegang pisau, dan menempelkan tangan kirinya pada tangan kiri Yukiko yang memegangi bawang.

Secara bersamaan mereka memotong bawang itu dengan rapi.

Souji melihat perubahan dalam bahasa tubuh Yukiko. Gadis itu gugup dan risih. Souji buru-buru menjauhkan dirinya. Selalu saja Souji lupa, bahwa ia harus menjaga sikapnya dengan Yukiko. Kejadian seperti malam kemarin benar-benar tidak boleh terulang. Ataupun kejadian apapun yang menunjukkan dirinya masih menyayangi Yukiko seperti dahulu.

Souji kembali pada tugasnya. Mereka bekerja dalam diam.

Hingga beberapa waktu kemudian, sifat iseng Souji muncul entah dari mana. Ia melihat tepung terigu putih dan mengambilnya dalam genggamannya. Souji menoleh pada Yukiko yang memakai celemek dan kaus. Ia telah mengganti gaunnya.

Mula-mula Souji tersenyum, "Yukiko.." Panggilnya lembut sambil mendekat. Yukiko menoleh menatap Souji, terkesiap, dan menemukan pipinya di tempeli oleh tepung terigu. Wajah jenaka Souji adalah hal kedua yang di ketahuinya. Seketika, keterkejutan Yukiko hilang.

Yukiko mengambil botol saus tomat dan menyemprotkannya pada leher Souji, dirinya sendiri ikut tersenyum. Souji tidak memedulikan serangan Yukiko, ikut mengambil botol kecap dan menyemprotkannya pada pipi Yukiko. Yukiko tertawa lalu membalas Souji dengan melempari pemuda itu kuning telur mentah tepat di wajahnya. Di tambahkannya juga daun bawang pada kedua pipi Souji, yang membuatnya terlihat sangat konyol.

Mereka tertawa terbahak-bahak sambil terus saling melempari satu sama lain.

Terakhir, saat Yukiko ingin memeluk Souji dari belakang dan menempelkan krim di wajah Souji, Souji berbalik secara tiba-tiba dan dengan bersamaan mereka mengoleskan krim pada wajah satu sama lain. Mereka tertawa semakin dahsyat. Yukiko berbalik untuk mengambil selai, Souji menahannya dengan mengelitiki Yukiko dari belakang.

"Bhaha! B-berhenti.. Hahah-gyaaaa!" Yukiko menjerit ketika mereka berdua terjatuh karena terpeleset oleh cairan dari dalam telur yang masih mentah.

Nafas mereka tersengal-sengal, senyum nakal masih menghiasi wajah, lalu mereka duduk saling menyender sambil melihat ke sekeliling memperhatikan kekacauan yang mereka buat.

~OoOoO~

Setelah makan siang, membereskan dapur, membersihkan diri, mengobrol lama, juga memaksa membayar, Souji dan Yukiko telah sampai pada akhir hari mereka. Matahari sudah turun, burung-burung malam mulai berkicau, bulan mulai tampak menggantikan tempat matahari biasanya berada.

Di dekat motor, Souji berhenti untuk berbicara sebentar dengan Yukiko.

"Besok mungkin kita tidak akan bertemu lagi." Kata Souji. Yukiko sedikit terkejut, dirinya menemukan bahwa ia tak mampu menanggapi kalimat tersebut. Lidahnya terasa kelu seketika.

"Kau pasti sibuk dengan segala macam persiapan prom. Aku akan berlatih dengan tombol-tombol sebagai DJ. Panitia akan sibuk mengurusi aula, aku mungkin akan membantu juga di sana." Souji berhenti untuk mendesah, "Kuharap waktu kita lebih banyak." Gumamnya perlahan.

Yukiko masih tak mampu bersuara. Jauh di hatinya ia membisikkan permohonan yang sama.

Baru teringat oleh Souji hari keberangkatannya. Tepat sehari setelah wisuda. Dadanya terasa sesak seakan seseorang mencengkram paru-parunya erat. "Umm.. Aku.." Di tatapnya wajah Yukiko, "Aku hanya ingin membuatmu mengerti, bahwa dirimu adalah seseorang yang berarti bagiku."

Wajah Yukiko memerah.

"Setelah sekian lama waktu yang kuhabiskan bersamamu, menyadarkanku satu hal." Souji menyentuh puncuk kepala Yukiko. Di elusnya rambut Yukiko perlahan, "Aku tidak akan pernah bisa melupakanmu. Teman-temanku. Inaba." Ia memberi penekanan pada kata-kata tersebut.

Yukiko terenyak mendengarnya. Seumur-umur, ia tidak pernah membayangkan momen ini. Ia bertanya-tanya kenapa Souji mengutarakan hal-hal tersebut kepadanya? Sekarang? Kenapa Souji mengatakannya seakan ini adalah kesempatan terakhirnya untuk mengaku? Di terjang oleh kenyataan tersebut, Yukiko menggenggam tangan Souji. "Tidak perlu kau ucapkan, kami sudah mengerti." Ia memaksakan seulas senyum.

Souji ikut tersenyum walau bibirnya pedih.

Yukiko menurunkan pandangannya sedikit, "Tapi kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu?" Tanyanya berhati-hati.

Bukannya menjawab, Souji malah menarik Yukiko untuk naik ke motor, memakai helm, dan bersiap kembali ke tempat teman-teman angkatan mereka. "Lebih baik kita segera kembali. Seingatku akan ada rapat untuk besok." Kata Souji.

Percakapan barusan sudah cukup membuat Souji ingin menyobek tiket keberangkatannya. Juga ingin mengaku seterbuka mungkin bahwa ia ingin tetap di sisi Yukiko, untuk mencintainya. Tembok pertahanan Souji yang sulit di tembus orang lain, begitu mudah di tembus oleh Yukiko. Gadis tersebut satu-satunya orang yang mampu mengacaukan Souji.

Sekarang dan selamanya.

~OoOoO~

Mereka telah sampai. Yukiko turun pertama lalu di susul Souji. Di lepasnya helm mereka, di letakkannya pada bagasi motor.

Yukiko menarik lengan Souji, "Kau belum menjawab pertanyaan terakhirku." Ujarnya perlahan.

Souji menutup bagasinya dan tersenyum pada Yukiko, "Jika, entah bagaimana, aku akan menghilang dari kehidupanmu, apa yang akan kau lakukan?" Tanyanya setengah bercanda.

Di rasakannya wajah Yukiko memucat. "Apa maksudmu?" Bisiknya hampir tidak terdengar.

Souji menatap gadis itu sepenuh hati, "Jawab saja.".

Dengan gelagapan Yukiko menjawab, "Tentu saja aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Souji terenyak, "Maksudku, jika tidak ada alasan yang cukup memuaskan bagiku, aku tidak akan membiarkannya. Kuyakin kita semua seperti itu. Untuk apa kami membiarkanmu menghilang? Kenapa kamu ingin menghilang?" Suaranya meninggi satu oktaf, dirinya panik di jejali begitu banyak pertanyaan pada benaknya.

Tak mampu bersuara, Souji menarik Yukiko dalam pelukannya. Tidak pernah ia mengharapkan sesuatu sebesar gadis tersebut. Satu-satunya orang yang ingin ia miliki sepenuhnya. Ingin ia bahagiakan oleh jerih payahnya sendiri. Ingin ia sayang dan tak mau melepaskannya. Apa yang baru saja gadis itu utarakan, merupakan sesuatu bagi Souji.

Cinta, begitu memuakkan.

Cinta, begitu memabukkan.

Cinta, tidak kenal menyerah.

Cinta, sesungguhnya perasaan itu murni.

Setelah cukup lama, Souji melepas pelukannya. Ia dapat melihat wajah Yukiko yang tadinya memucat jadi bingung.

Tak tahu harus melakukan apa, Souji berjalan menjauh. "Selamat malam." Bisiknya parau sebelum berlari secepat mungkin meninggalkan Yukiko.