Un.K77
hide bio
PM . Follow . Favorite
Joined 01-31-16, id: 7507795, Profile Updated: 01-31-16

Half Gone, Love Remain
by : Un.K_77 (CCChi)


Prolog~
Swiss, tahun xxxx

Ada seorang anak yang sedang bersembunyi di sebuah lemari. Ia menutup erat matanya dengan kedua tangannya yang mungil. Keringat dingin terus membasahi wajah anak tersebut, tangannya gemetaran. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi diluar sana. Yang ia ketahui ialah dari pendengarannya ialah bahwa …

1… derap langkah kaki orang yang berlarian diluar sana
2… orang-orang tersebut membuka pintu dengan keras dan menyerbu masuk ke dalam rumah
3… orang-orang tersebut berjalan mendekati ruangan dimana anak tersebut bersembunyi
4… suara tembakan pertama terdengar nyaring
5… menyusul teriakan ibu yang menggema
6… erangan ayah terdengar pilu
7… tembakan kedua didengarkan kembali
8… suara erangan ayah pun lenyap disusul tangis dan isakan ibu
9… tembakan yang ketika kembali memecahkan kesunyian
10… suara ibu pun lenyap bersamaan dengan kepergian orang-orang tersebut

Anak tersebut lalu membuka lemari secelah. Ia melihat sekelilingnya dan berharap dapat menemukan kedua orangtuanya tersebut. Akan tetapi hal yang tidak diinginkan oleh anak tersebut ialah kenyataan bahwa ia telah kehilangan kedua orangtuanya. Anak tersebut mulai menangis didepan mayat kedua orangtuanya. Bau darah mulai tercium dimana-mana, anak itu berdiri, ia tidak tahu harus kemana lagi, satu-satunya harapan yang tersisa ialah mengunjungi kerabatnya yang berada di Jepang.

Tokyo, 10 tahun kemudian …

Ngiiingg…. *suara pesawat yang mendarat*
Sekarang akhir dari bulan November, musim dingin telah tiba cuaca yang dingin bagaikan menusuk kulit. Puluhan penumpang menuruni pesawat, puluhan orang juga datang dan menunggu untuk menjemput kerabat, kenalan, saudara, teman, maupun keluarga mereka. Diantara ratusan manusia yang hilirmudik tersebut ada seorang anak sekita umur 15 tahun berjalan keluar bandara sambil menenteng bawaannya. Anak tersebut memiliki postur yang lumayan tinggi dengan tubuh yang sedikit kurus. Matanya berwarna biru cerah dan jernih, secerah dan sejernih langit pada pagi itu, namun tatapan mata tersebut menatap sekelilingnya dengan tatapan dingin seolah-olah tidak ingin diganggu.
Chapter 1 : Perkenalantap…tap…tap… suara langkah kaki terdengar, tes…tes… butir per butir air hujan mulai membasahi jalanan. Suara langkah kaki tersebut berhenti pada sebuah bangunan bertinkat 3, mulai hari ini ia akan tinggal di apartemen tersebut. Orang tersebut mulai merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kunci. Ceklek! Suara kunci yang berputar disusul oleh suara dentuman pintu yang pelan. Orang tersebut lalu memasuki apartemennya dan beristirahat.
_

Cip…cip…cip…suara burung terdengar, kau membuka matamu perlahan-lahan, menatap ke langit-langit kamar untuk beberapa saat. Kaulalu bangun dari posisi tidurmu dan duduk sejenak sambil menatap keluar jendela disamping ranjang. Cahaya matahari memasuki kamarmu melalui celah diantara gorden-gorden yang tidak tertutup dengan rapat. Jam 6… pikirmu. Hari ini hari minggu, kau bermaksud membereskan barang-barangmu yang tersisa. Oleh karena itu kau beranjak dari ranjangmu dan berjalan menuju kamar mandi.

Setelah membersihkan diri, kau mulai kegiatanmu pagi itu mulai dari sarapan, membenahi baju-baju yang masih tersisa di kardus serta buku-bukumu. Sekitar jam 10 kau menyelesaikan semua tugasmu, sekarang kau ingin melihat-lihat daerah sekitar apatemen. “Huff~ akhirnya selesai juga, sekarang aku ingin jalan-jalan sebentar.” Katamu dalam hati yang lalu bersiap-siap.
_

Di sisi lain…
“Hei! Kau mau kemana?” Tanya orang pertama.
“Jalan-jalan.” Jawab orang kedua sambil mengikat tali sepatu.
“Hati-hati, diluar dingin.” Kata orang pertama tadi lagi sambil menyodorkan syal berwarna hitam.
Orang kedua tersebut mengambil syal tersebut sambil tersenyum dan berkata, “Arigato.”
_

Kau berjalan dan berguman pada diri sendiri, kemarin malam sepertinya turun salju… pikirmu sambil melihat sekelilingmu yang diselimuti oleh gumpalan-gumpalan es yang lembut tersebut. Kau merapatkan mantelmu dan menuju sebuah café yang klasik tidak jauh dari tempatmu. Kau lalu memasuki café tersebut dan duduk di sebuah meja yang menghadap ke jendela. Kau memesan segelas milkshake, minuman favoritmu tersebut. Sambil menunggu pesananmu, kau menatap keluar. Ada seseorang yang menarik perhatianmu, ia mengenakan mantel berwarna hitam dengan syal berwarna senada, ia memakai kacamata lalu orang tersebut masuk kedalam café. Srek… suara kursi yang digeser, seseorang duduk tepat didepanmu. Sepertinya ia tidak menyadari kehadiranmu. “Maaf menunggu, ini pesanan anda.” Kata pramusaji sambil menaruh milkshake pesananmu tersebut. Orang yang duduk didepanmu kaget dan baru menyadari keberadaanmu. Tapi dengan cepat ia menguasai dirinya dan memesan secangkir the hangat. Dan di situlah awal pertemuanmu dengannya.

“Ano… maaf. Aku tidak menyadari keberadaanmu tadi.” Kata orang tersebut yang tak lain adalah laki-laki yang kau lihat diluar tadi.
“ Tidak masalah.” Jawabmu pendek sambil menyeruout milkshakemu.
Suasana kembali hening. Tidak lama kemudian ia bertanya, “ Siapa namamu? “
Kau menatap lurus kedepan dan menjawab ,” (namamu), dank au sendiri? “ dan balik bertanya.
“Namaku Izuki Shun. Senang berkenalan denganmu, (namamu). “ jawab laki-laki tersebut sambil melemparkan sebuah senyuman.
kau lalu membalas senyumannya dan berkata, “ senang berkenalan juga.” Dan dimulailah percakapanmu dengannya.
Chapter 2 : Hari Pertama
“Kalo begitu saya permisi.” Katamu sambil beranjak menuju kasir untuk membayar milkshakemu.
“Hah.. J hati-hati, (namamu)-chan.” Kata Izuki kepadamu sambil tersenyum.
“Merci.” Katamu lalu pergi.
Izuki menatap kepergianmu dengan sebuah senyuman yang menghiasi wajahnya.
_

Sebelum mentari menampakan wajahnya, kau telah bangun. Kau membuka matamu lalu duduk sejenak sambil meneguk segelas air yang telah kau siapkan malam sebelumnya. Kau lalu berjalan menuju jendela dan membuka tirainya. “Yosh..! Kau harus semangat (namamu)!” katamu pada diri sendiri. Kau lalu meraih handukmu dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya kau menyiapkan sarapan serta bekalmu, lalu kau kenakan sepatumu, membuka pintu apartemenmu dan menguncinya. Ketika kau menuruni tangga, seberkas cahaya kemilau mengenai wajahmu. Matahari baru menampakan wajahnya pada pagi yang dingin tersebut. Kau tersenyum menyambut pagi yang cerah tersebut.Yosh!

Di sisi lain…

“Aku berangkat, okasan!” seru Izuki kepada ibunya.
“hati-hati.” Kata ibunya kepada Izuki.
Izuki lalu berjalan pelan menuju sekolahnya. Pagi itu ada latihan basket, dan cuacanya mendukung.
_

SEIRIN PRIVATE HIGH SCHOOL

Tidak terduga… kau bertemu dengan Izuki sekali lagi. “Kau yang kemarin kan?” Tanya Izuki kepadamu. Kau hanya mengangguk, keterkejutanmu belum hilang sepenuhnya. “Jadi kau bersekolah di sini juga?” Tanya Izuki lagi. “Ah, tidak… aku baru masuk…” katamu terbata-bata. “Eh?! Baru masuk?” kata Izuki dengan kaget. Kau hanya tersenyum menanggapi kekagetan Izuki. Sedangkan izuki hanya memndangmu sambila tersenyum sendiri. “kenapa kau tersenyum sendiri, izuki?” Tanya Seseorang berambut hitam dan berkacamata kepada Izuki. Izuki hanya menggeleng.
_

“Perkenalkan saya murid baru di sini. Namaku (namamu), salam kenal.” Katamu seraya memperkenalkan diri di depan kelas. Kau lalu berjalan menuju tempat dudukmu. Pelajaran pertama adalah Sejarah. Minggu depan aka nada ujian akhir, akan tetapi kau tidak begitu memerhatikan penjelasan guru didepan. Semua serius belajar, kecuali … “Kagami-kun, pelajaran sebentar lagi dimulai…, jangan tidur.” Bisik seseorang didepanmu. “HOI! KAGAMI TAIGA! Jangan tidur di kelas!” seru guru didepan kelas, semuanya langsung meliaht kearah orang yang bernama Kagami tersebut.

Sekarang waktunya istirahat. Ketika kau sedang berjalan keluar kelas kau menabrak seseorang.

“Ah maaf. “katamu spontan, “mari kubantu.” Katamu lagi.
“Terima Kasih.” Kata orang yang ditabrakmu tadi, lalu menatapmu.
“Kau murid baru itu bukan?” Tanya orang tersebut lagi.
“Eh? I..iya… “ jawabmu pelan.
“Perkenalkan aku pelatih tim basket sekolah kita, Aida Riko. Salam kenal.” Kata orang tersebut lagi.
“Namaku (namamu). Salam kenal.” Katamu memperkenalkan diri juga.
“Kau sudah tau menentukan mau ikut ekskul apa?” Tanya Riko lagi.
“Saya belum menentukan pilihan.” Jawabmu jujur.
“Apa kau suka basket?” Tanya Riko lagi sambil tersenyum.
“Mmm… lumayan.” Jawabmu dengan sedikit kegugupan.
“Yosh! Sudah kuputuskan! Jadilah manajer tim basket kami! “ kata riko dengan girang
“Manajer? Saya?” katamu tidak percaya. “apa yang harus kulakukan? Terima atau tidak? Tapi boleh juga.” Kau berpikir lalu menjawab, “ aku …. Akanku coba.”
“Benarkah terima kasih! Akan kuberitahu semua anggota tim. Akh?! Kau sekelas dengan Kagami dan Kuroko kan tolong beritahu mereka ya!” seru riko lalu berlari pergi.
“Tapi aku belum kenal siapa-siapa pun dikelas baruku ini…” teriak suara hatimu.
Chapter 3 : Anggota Time Basket, SEIRIN

“Hah!” kau menghela nafas lalu mulai berjalan lagi. Di sebuah tikungan ketika kau sedang berbelok, tiba-tiba seseorang menabrakmu. Kau pun jatuh ke lantai dan meringis pelan.

“Kau tidak apa-apa? Aku minta maaf telah menabrakmu.” Kata orang yang menabrakmu tersebut sambil mengulurkan tangannya.
Kau meraih tangannya dan berkata, “ tidak apa-apa, aku juga minta maaf tidak memerhatikan langkahku tadi.”
_

Hari pertama ujian….

“Nomor ujianku… 26…” katamu dalam hati.

Kau lalu berjalan menuju tempat dudukmu sesuai nomor tempat duduk. Kau menaroh tas dan duduk disana. Tempat duduk tersebut tepat disamping jendela. Didepanmu duduk seorang berambut merah, disamping kananmu duduk seorang laki-laki berambut biru muda. Yang duduk paling depan itu seorang perempuan berambut pendek dan berwarna coklat, itu Riko.

“Sepertinya yang lain lebih memilih belajar diluar…” katamu dalam hati.

Kau lalu mengambil sebuah light novel yang berjudul Always Be by Your Side. Ketika bela tanda masuk berbunyi, para peserta ujian memasuki kelas yang telah ditentukan.

“Baiklah! Ujian pertama adalah Bahasa Inggris! Siapkan alat tulis masing-masing! Dilarang meminjam dari teman sebelahmu! Waktu kalian 60 menit! Kerjakan dengan jujur, dan Tuhan memberkati.” Kata petugas yang menjaga ruangan ujianmu.

Kriiinnnnngggggggg……………..

Bel tanda ujian dimulai, semua mulai mengerjakannya dengan serius dan teliti. Suara pensil serta suara kertas yang dibalik terdengar jelas di ruangan yang hening tersebut. Kau mengerjakannya dengan santai, bahkan santai sekali. Setelah 35 menit, kau meletakkan alat tulismu dan membalikkan kertas soal serta kertas ujianmu. Kau lalu menatap keluar jendelan dan melihat bahwa diluar sedang turun salju.

“Pasti dingin sekali di luar…” katamu dalam hati.

Krrriiiiiinnnnggggg……….

Suara bel tanda ujian pertama telah berbunyi. Kertas ujian pun di oper kedepan. Setelah member salam kami keluar kelas dan beristirahat sebelum melanjutkan ujian yang kedua pada hari itu. Kau lalu berjalan pelan, tiba-tiba seseorang menyapamu.

“Hai!” kata orang tersebut.
“Izuki-senpai!” katamu ketika melihat bahwa orang yang menyapamu itu Izuki.
“Bagaimana ujiannya? Lancar?” Tanya Izuki.
“Ya, begitulah, bagaimana dengan kakak?” jawabmu lalu bertanya balik.
“Entalah. Aku tidak begitu mengerti pelajaran Inggris.” Jawabnya agak ragu.

Kalian lalu mengobrol, tiba-tiba Riko datang.

“Izuki! Kau melihat dimana Hyuga?” Tanya Riko sambil berjalan menuju ketempat kalian bersama seorang lelaki tinggi berambut coklat, seorang lelaki tinngi berambut hitam serta seorang lelaki berwajah mirip kucing (? :P ) Lalu Riko melihatmu.
“Ah, (namamu)! Jadi kau sudah putuskan?” Tanya Riko kepadamu.
“Ya… menurutku tidak ada salahnya mencoba. Jika nanti saya tidak cocok, saya berencana ingin masuk ekskul lukis.
“Tidak masalah.” Kata Riko sambil mengacungkan jempolnya tepat didepan hidungmu.
“Ada apa Riko? Siapa dia?” Tanya orang berambut coklat tersebut.
“Ah, dia manajer kita mulai sekarang. Namanya (namamu).” Jwab Riko kepada keempat oaring tersebut.
“Namaku (namamu), mohon bantuannya.” Katamu sambil membungkukkan badan sedikit.
“Aku Koganei Shinji, ini Mitobe Rinnosuke.” Kata orang yang berwajah mirip kucing.
“Kiyoshi Teppei.” Kata orang berambut coklat itu lagi.
“Jadi kau sudah kasih tahu Kuroko dan Kagami?” Tanya Riko kepadamu.
“Belum. Aku tidak tahu mereka yang mana.” jawabmu jujur
“Ah, tepat sekali waktunya. Kuroko, Kagami! Kemari sebentar.” Seru Izuki.
“Ada apa senpai?” Tanya Kagami
“Ini manajer kita, (namamu)” kata Izuki memperkenalkan.
“Namaku Kagami Taiga.” Kata orang berambut merah tersebut.
“Kuroko Tetsuya desu.” Kata orang berambut biru muda tersebut.
“(namamu), salam kenal.” Katamu sekali lagi.
“Lebih baik sekarang kita pergi makan. Aku sudah lapar!” kata Koganei lagi.

Di kantin….

“Ah Hyuga!” seru Riko memanggil.
“Oh, Riko ada apa?” Tanya Hyuga.

Mereka lalu memperkenalkanmu sebagai manajer tim basket. Kalian lalu mengobrol, Kagami dan Koganei sibuk makan, kakak-kakak kelas mengobrol kecuali Mitobe (seperti biasanya --), sedangkan kau dan Kuroko hanya mengobrol seputar hobi masing-masing. Bel tanda istirahat telah usai berbunyi kalian lalu menuju ruang ujian masing masing-masing, ujian kedua ialah pelajaran Modern Japan, waktu yang diberi 90 menit. Setelah ujian hari tersebut selesai, kalian langsung pulang ke rumah masing-masing.
Chapter 4 : Badai Salju
Ujian telah berlalu, latihan basket untuk sementara dihentikan terlebih dahulu. Malamnya, kau sedang nonton sambil tiduran ketika tiba-tiba saja kau mendengar bahwa kemungkinan besar akan ada badai salju.
“Badai salju…” gumammu sambil menatap keluar jendela.
Angin bertiup kencang, salju telah turun lagi. Triii…Triii… *suara ponsel berbunyi*

“Ya? Halo?” jawabmu.
“Halo, Aki ini Riko. Besok tidak ada latihan. Dan sepertinya kita tidak dapat pergi kesekolah keesokkan harinya. “ kata Riko dari seberang.
“Baiklah. Jadi besok tidak kesekolah kan?” tanyamu memastikan.
“Iya, jadi beristirahatlah dirumah.” Kata Riko.
“Oh ya tolong hubungi Kagami dan Kuroko ya, aku akan hubungi Izuki dan yang lainnya.” Kata Riko lagi.
“Baiklah Riko.” Katamu lagi sambil menutup ponselmu dan mulai menelfon Kagami serta Kuroko.

Setelah menyampaikan pesan Riko kepada mereka kau kembali menonton TV. “Huh tidak ada yang menarik..” gumammu pelan sambil membalik-balik channel TV. Kau lalu menutupnya dan beranjak menuju kamarmu. Kau meraih sebuah light novel yang berjudul SAO 5 – Phantom Bullet. Kau lalu melanjutkan bacaanmu sampai sekitar setengah sebelas.

Keesokan harinya, angin masih bertiup dengan kencang. “Sepertinya benar-benar ada badai salju..” pikirmu. Lalu beranjak menuju kamar mandi dan membersihkan diri.
--

Disisi lain….

Kuroko bangun dan memandang keluar jendela. Ia pergi menbersihkan diri lalu sarapan. Seperti biasanya, ia sendirian dirumah. Ia hanya ditemani oleh seekor anjing yang bernama Nigou. Kuroko menyantap sarapannya yang berupa roti, sambil menuangkan susu kepada Nigou.
--

Setelah kau selesai membersihkan diri, kau menyiapkan sarapan dan makan dengan perasaan hampa. Setelah selesai kau membereskan piring-piring bekas sarapan.

“Huh!” kau menghelah nafas.

Kau lalu berjalan menuju kamarmu kembali. Kau membuka laptopmu dan melanjutkan cerita yang sedang kau ketik. Ketika kau mengetik sampai chapter ke-5 kau menatap keluar jendela. Betapa kau terkejut. Badai bukannya lebih reda tapi lebih ganas dan dasyat dari pada tadi. “Bukan main! Badai salju kali ini…! Lebih dasyat daripada yang pernah terjadi di Swiss!” serumu pada dirimu sendiri.
Chapter 5 : Apa yang Terjadi?
Keesokan harinya, badai salju tersebut sedikit mereda. Ngingggg……….~

“Ukh!” tiba-tiba kepalamu terasa pusing dan secara reflek kau memegang kepalamu.
“Jangan…jangan….Kenapa justru sekarang?” gerutumu dalam hati.

Ya, sejak 3 tahun terakhir ini kau diberitahu bahwa kau menderita gegar otak.
Kau sering merasa pusing, dan yang berakhir dengan pingsan.
Dan belakangan ini kau sering merasa pusing.
Bahkan ketika UAS kau hampir setiap istirahat beristirahat di UKS.

“Mungkin aku harus tiduran sebentar…” katamu pada diri sendiri.

Tetapi sebelum kau sampai dikamarmu, kau tiba-tiba ambruk.
Kesadaranmu semakin lama semakin hilang.
Dan akhirnya kau tidak sadarkan diri, kau terkapar begitu saja di lantai.

Triii…..Triii… suara ponselmu berbunyi, akan tetapi kau tidak dapat mendengarnya. Suara ponselmu terus berdering selama 2 menit. Hushhh…….Di luar badai salju telah reda, angin masih bertiup kencang sesekali.
--

Keesokan harinya badai salju telah berhenti…

Triiiii……..Triiii……..

Ponsel orang tersebut berbunyi. Tut. Orang tersebut lalu mengangkatnya.

“Halo?” jawab orang tersebut.
“Kuroko!” seru seseorang dari seberang.
“Ada apa coach?” tanya orang tersebut yang ternyata adalah Kuroko.
“Apakah kau tahu dimana (namamu)? Dia sama sekali tidak menjawab ponselku walaupun ku telpon.” Kata Riko menjelaskan.
“Tidak, aku tidak tahu.” Jawab Kuroko.
“Kenapa coach tidak pergi ke rumah (namamu)?” tanyamu kemudian.
“Hah! Aku tidak tahu dimana ia tinggal.” Jawab Riko setelah menghela nafas. “Aku punya alamat tempat tinggalnya.” Kata Kuroko kemudian (o_o).
“KENAPA KAU TIDAK MENGATAKANNYA DARI TADI!!” seru Riko.
“…. o_o …….”
“Coach… sama sekali tidak menanyakannya.” Jawabmu.
“Baiklah tunggu aku di rumahmu, aku akan kerumahmu sekarang. Janagn lupa bawa serta alamat (namamu) juga. Itu penting!” kata Riko lagi sambil menekan pada kata ‘itu penting’ .

Riko dan Kuroko lalu berjalan menuju tempat tinggalmu selama kau menetap di Jepang. Sesampai diapartemennya, mereka mulai menjajaki tangga. Tangga demi tangga mereka lalui hingga tiba di lantai dimana tempatmu berada.

Nomor 207…” kata Kuroko seraya melihat ke kertas yang ia pegang setiba disitu.

Setelah menemukannya, Riko mengetuk pintumu.

“……….” Siiiiiinggggggg……………….

Tidak terdengar bunyi sama sekali…
Tidak ada suara juga…
Bahkan suaramu pun tak terdengar….
Seakan-akan tempat tersebut tidak berpenghuni.

Kuroko lalu mencoba membuka pintu.
Ternyata pintu sama sekali tidak terkunci! Kuroko dan riko pun masuk. Begitu masuk mereka melihat dirimu yang terkapar di lantai. Dengan segera mereka membawamu menuju kamarmu. Lalu Riko menekan beberapa angka dan menelfon rumah sakit.

“Halo? Permisi, teman saya sekarang tidak sadarkan diri bisa tolong siapkan ambulan menuju ke alamat …….., terima kasih.” Kata Riko sambil berbicara kepada resepsionisnya.

“Bagaimana keadaannya, Kuroko?” Tanya Riko setelah menutup ponselnya.
“….” Kuroko tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala tanda bahwa ia juga tidak tahu.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan (namamu)?” Tanya Riko pada dirinya sendiri.
“Semoga dia baik-baik saja, kita hanya bisa berdoa semoga ia cepat sadarkan diri.” Kata Kuroko.
“Kau benar.” Kata Riko sambil mengucapkan doa dalam hatinya.

Beberapa saat kemudian ambulans datang. Mereka membawamu menuju ambulans, Riko dan Kuroko juga ikut menuju rumah sakit.
--

Di rumah sakit…

izuki baru saja mau keluar ketika ia melihat Kuroko dan Riko sedang keluar dari ambulans. Dengan cepat ia berlari menghampiri mereka berdua.

“Coach! Kuroko! Kenapa kalian berdua ada disini?” Tanya Izuki

Begitu sampai ditempat mereka berdua ia melihat dirimu yang sedang dibawa kedalam dan diikuti oleh Kuroko, Riko dan Izuki.

“Ada apa dengan……(namamu)?” Tanya izuki terbata-bata.
Chapter 6 : Kenyataan Pahit

“Entalah. Kami tidak tahu, kami tadi menemukannya terkapar tidak sadarkan diri didepan pintu kamarnya.” Jawab Kuroko.
“Lalu aku memanggil ambulans.” Sambung Riko.
“Bagamana jika kita hubungi anggota keluarganya?” usul Izuki.
“Tapi…”Kuroko menghentikan kata-katanya.
“Ada apa, Kuroko?” Tanya Riko.
“(namamu) pernah bercerita bahwa kedua orangtuanya sudah meninggal…, dia bilang dia datang ke Jepang buat mencari saudara sepupunya.” Kata Kuroko lagi dengan nada sedih.
“A..apa? Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?” Tanya Izuki mengalihkan topic.

“Bagaimana jika kita mengecek contact hpnya?” tanya Riko member usul.
“Mungkin bagus juga ide tersebut. Siapa tahu ada kontak sepupunya itu.” Kata Izuki lagi.
“Benar juga. (namamu) pernah bercerita bahwa ia sepupunya juga seorang pemain basket seperti kita.” Kata Kuroko juga.
“Oh ya, benar juga! Aku ingat sekarang! (namamu) pernah bilang bahwa sepupunya itu bersekolah di Yosen.” Kata Riko ikut-ikutan.
“Siapa namanya?” tanya Izuki kepada Kuroko dan Riko.

“Aku tidak ingat.” Jawab Riko sambil berusaha mengingatnya.
“Ah! Tapi (namamu) pernah bilang bahwa ia termasuk pemain inti.” Kata Riko lagi.
“Itu sudah cukup.” Jawab Kuroko tiba-tiba.
“Maksudmu?” tanya Izuki
“Aku akan menelfon Murasakibara-kun. Kalian hubungi anggota tim Seirin lainnya.” Kata Kuroko sambil mengeluarkan ponselnya.

Kuroko lalu mencari nomor Murasakibara. Sedangkan Izuki dan Riko berusaha menelfon anggota tim Seirin. Ketika Kuroko menemukan kontak nama Murasakibara ia langsung menghubungi Murasakibara.

“Halo, Murasakibara-kun?” kata Kuroko mulai membuka pembicaraan.
“Oh, Kuro-chin~” jawab Murasakibara.
“Bisakah aku meminta bantuanmu?” tanya Kuroko.
“Apa itu?” tanya Murasakibara yang seperti biasanya selalu makan.
“Bisakah kau menanyakan teman setim basketmu apakah ada yang kenal dengan (namamu)?” jawab Kuroko sambil memberi tahu maksud ia menelfon.
“Baiklah tunggu sebentar Kuro-chin~.” Kata Murasakibara.
--

“Apakah diantara kalian ada yang kenal dengan (namamu)? Kuro-chin memintaku untuk menanyakannya kepada kalian semua.” Kata Murasakibara sambil menatap rekan-rekan setim basketnya.
“Siapa tadi kau bilang?” tanya Liu Wei lagi.
“(namamu).” Kata Murasakibara lagi
“Ya, aku kenal padanya. Apa… apa yang terjadi dengannya?” tanya Liu Wei dengan panik.
“Halo Kuro-chin, Liu Wei kenal dengan (namamu). Sebaiknya kau berbicara dengannya saja.” Kata Murasakibara lalu menyerahkan ponselnya kepada Liu.

“Halo disini Liu Wei.” Kata Liu kepada Kuroko diseberang telepon.
“Jadi kau sepupumya (namamu)?” tanya Kuroko.
“Iya kau benar. Apa yang terjadi dengan (namamu)?” tanya Liu tidak sabaran.
“Tadi pagi,kami… - maksudku aku dan coach menemukan (namamu) tidak sadarkan diri di apartemennya. Coach bilang sejak kemarin (namamu) sama sekali tidak dapat dihubungi. Jadi kumohon tolong segera datang ke RS X, kami..- maksudku tim Seirin menunggumu disini.” Kata Kuroko menjelaskan perkara yang sedang terjadi.

Liu mulai panic. Pikirannya kacau.

“Jangan-jangan dia pingsan lagi…” kata Liu dalam hati “Kau Kuroko kan? Aku akan segera kesana!” kata Liu lalu menutup telfon dan menyerahkan balik ponsel kepada Murasakibara.

“Maaf! Aku tidak bisa latihan hari ini, aku harus ke Tokyo sekarang.” Kata Liu sambil membereskan barang-barangnya.
“kami akan ikut.” Kata teman setim Liu.
--

Di rumah sakit X…

“Riko…, apa yang terjadi dengan (namamu)?” tanya Hyuga begitu sampai di rumah sakit.

Riko lalu menceritakan ulang apa yang sebenarnya terjadi kepadamu. Tiba-tiba dokter keluar, dan bertanya kepada tim Seirin.

“Siapakah diantara kalian keluarga atau sepupunya?” tanay dokter tersebut
“Ah sepupunya sedang dalam perjalanan dari Akita.” Jawab Kuroko kepada dokter.
“Kami teman sekolahnya, kakak kelas serta teman sekelasnya.” Jawab Riko kepada dokter.
Sedangkan izuki bertanya, “ sebenarnya apa yang terjadi dengan (namamu)?”
“Maaf, ini harus dibicarakan dengan anggota keluarganya terlebih dulu.” Jawab dokter.

Mereka lalu menunggu, cukup lama juga mereka menunggu. Begitu Liu sampai di Tokyo, ia langsung menuju rumah sakit X. Murasakibara lalu mengabari bahwa mereka sudah tiba di Tokyo.

“Kuro-chin, kami sudah tiba di Tokyo, dan sekarang sedang menuju rumah sakit X. Di lantai berada kau berada?” tanya Murasakibara.

Kuroko menyebutkan di lantai keberapa ia berada sekarang bersama anggota tim Seirin lainnya. Begitu sampai Liu langsung menuju lantai yang disebut oleh Kuroko tadi. Dan begit melihat Liu, Riko segera memanggil dokter tadi.

“Bagaimana keadaan (namamu) dok?” tanya Liu segera.
“Kau keluarganya?” tanya dokter balik.
“Saya sepupunya.” Kata Liu

Dokter tersebut lalu membawa Liu masuk kedalam dan membicarakan keadaanmu yang sedang kritis. Liu mendengarnya dengan tatapan tidak percaya. Ia merasa telinganya memanas, ia sudah tidak tahan lagi.

“Dia tak sadarkan diri sedari kemarin, dan keadaanya semakin parah. Selain itu dia sepertinya mengidap penyakit lain yang belum diketahui penyebabnya. Kami akan melakukan sebisa kami. Berdoalah yang terbaik baginya. Melihat keadaannya, hidupnya tidak akan lama lagi.” Kata dokter tersebut menjelaskan.

Hati Liu terasa remuk, ia tidak dapat menerima kenyataan tersebut. Padahal ia baru bertemu dengan sepupunya yang berasal dari Swiss tersebut. Lalu bagaimana menceritakannya kepada mereka yang menunggu di luar.

“Aku… aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya lagi…” bisik Liu pada dirinya sendiri.
Chapter 7 : Liu Mulai Bercerita

Setelah mendengar penjelasan dokter, Liu beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ia keluar dengan wajah yang amat sedih.Teman-teman telah menunggu dilura, begitu melihat liu keluar mereka segera menyerbu Liu.

“Apa yang dikatakan dokter?” tanya Riko dengan wajah cemas.
“ …..” Liu hanya diam.
“Sebelum memberitahu keadaan (namamu), ada yang harus kuceritakan kepada kalian.” Kata Liu sambil menahan nafas.
“Ini tentang (namamu).” Kata Liu lagi.

Mereka lalu menuju ruang tunggu dan duduk disana. Liu menghela nafas beberapa kali, lalu diam sejenak. Setelah menenagkan dirinya sendiri, ia pun mulai berkata.

“Ada hal yang harus kuberitahu kalian tentang keluarga (namamu), tapi sebelumnya apakah (namamu) pernah menceritakan tentang kedua orangtuanya?” Kata Liu memulai ceritanya tersebut.
“ Dia hanya bilang bahwa kedua orangtuanya telah meninggal ketika ia masih kecil.” Jawab Kuroko.
“ Iya itu memang benar, tapi…. Pada dasarnya kedua orangtua (namamu) meninggal bukan karena kecelakaan maupun karena sakit. Tapi… mereka…mereka dibunuh oleh seseorang, entah siapa.” Kata Liu dengan suara gemetaran serta wajah yang sepertinya menahan kesedihannya.

“Tung, tunggu dulu, kau tidak bercandakan…? Di…dibunuh..? Itu kejam!” kata Kensuke.
“Sebenarnya siapa yang tega melakukannya?” tanya Himuro dan Kagami.
“Tapi yang lebih tragisnya… kedua orangtua (namamu) dibunuh tepat didepan mata (namamu). Bahkan orang tersebut pernah hendak membunuh (namamu).” Kata Liu lagi dengan wajah yang semakin tidak keruan.

“Waktu itu……” kata Liu sambil mengingat apa yang dikatakan oleh (namamu).

FLASH BACK

“ Swiss, tahun xxxx

Waktu itu aku diminta oleh kedua orangtuaku untuk bersembunyi di sebuah lemari. Aku lalu mengikuti kata-kata kedua orangtuaku. Karena ketakutan aku menutup erat mataku dengan kedua tanganku yang mungil. Keringat dingin terus membasahi wajahku tersebut, tanganku gemetaran, entah kenapa tapi air mataku keluar dengan sendirinya. Waktu itu sebenarnya aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi diluar sana. Yang aku ketahui dari apa yang kudengaran ialah bahwa …

1… derap langkah kaki orang yang berlarian diluar sana
2… orang-orang tersebut membuka pintu dengan keras dan menyerbu masuk ke dalam rumah
3… orang-orang tersebut berjalan mendekati ruangan dimana anak tersebut bersembunyi
4… suara tembakan pertama terdengar nyaring
5… menyusul teriakan ibu yang menggema
6… erangan ayah terdengar pilu
7… tembakan kedua didengarkan kembali
8… suara erangan ayah pun lenyap disusul tangis dan isakan ibu
9… tembakan yang ketika kembali memecahkan kesunyian
10… suara ibu pun lenyap bersamaan dengan kepergian orang-orang tersebut

Aku lalu membuka lemari secelah untuk melihat keadaan. Aku melihat sekelilingku dan berharap dapat menemukan kedua orangtuaku tersebut. Akan tetapi hal yang tidak diinginkan dan tidak terduga olehku kenyataan bahwa ia telah kehilangan kedua orangtuanya. Aku lalu mulai menangis didepan mayat kedua orangtuaku. Bau darah mulai tercium dimana-mana, aku lalu berdiri, aku tidak tahu harus kemana lagi, satu-satunya harapan yang tersisa ialah mengunjungi kerabatku yang berada di Jepang, yaitu kau Liu. Waktu aku berteriak sekeras-kerasnya mengeluarkan emosiku serta kesedihanku yang menumpuk. “

Hening….. tidak ada yang dapat berkata-kata. Terlalu menyedihkan bagi seorang anak melihat kedua orangtuanya dibunuh tepat didepan matanya. Bahkan Riko menangis.Suasanya tidak mengenakan, semuanya suram.

“3 tahun yang lalu…” lanjut Liu sambil menahan air matanya.
“ (namamu) pernah mengunjungiku di Jepang. Ia menceritakan semua yang terjadi padanya, tentang orangtuanya. Aku memintanya untuk tinggal di rumah orangtuaku, tetapi dia bilang bahwa ia harus kembali untuk melanjutkan sekolahnya…” kata Liu lagi sambil mengingat ketika (namamu) mengunjunginya 3 tahun lalu.

FLASH BACK

“ Bagaimana jika kau tinggal ditempatku?” tanya Liu kepada (namamu).
“Aku sangat berterima kasih, tapi aku masih harus melanjutkan sekolahku di Swiss terlebih dahulu. Aku juga harus mengumpulkan uang terlebih dulu, memang susah mencari part time job untuk anak SMP sepertiku.Hahaha…” katamu lalu tertawa hambar.
“Tapi aku berjanji aku akan kembali ke Jepang setelah menyelesaikan sekolahku disana.” Katamu lagi sambil tersenyum kecil.
“Nee…. Kau tidak apa-apa?” tanya Liu kepadamu
“Mungkin… sebenarnya sebelum aku ke Jepang untuk mencari Liu, aku mengunjungi rumah sakit. Dokter disana bilang bahwa aku menderita gegar otak. Tapi…. Liu tidak usah cemas…, aku baik-baik saja.” Katamu pada Liu.
Liu hanya menatapmu saja dengan perasaan yang tidak menentu. Ia tidak dapat berkata-kata.

“ Walau dia bilang tidak apa-apa tapi tetap saja…” kata Liu sambil tetap menahan air matanya.

“Lalu? Apa yang dikatakan Dokter tadi?” tanya Izuki.
“Dokter bilang…. bahwa (namamu) menderita penyakit lain yang tidak diketahui penyebabnya. Tapi dokter bilang kemungkinan terbesar ialah tekanan batin. Dokter juga bilang bahwa…. Hidup (namamu) tidak lama lagi…” kata Liu.

Dan pada saat ia menyelesaikan kata-katanya, air matanya pun meluncur turun dan membasahi wajahnya. Yang lainnya hanya bisa diam setelah mendengar cerita Liu. Riko menangis dalam kesunyian tersebut. Kuroko, Kagami, Murasakibara, Izuki, Kensuke hanya bisa diam sambil menahan perasaan yang tidak keruan setelah mendengar cerita Liu yang lain hanya berusaha menahan air mata mereka.
Chapter 8 : Sayonara

Hari itu berakhir dengan cepat. Akan tetapi anggota tim basket Seirin dan Yosen tidak pulang, salju turun lagi malam itu. Kagami dan Himuro pergi membeli makanan serta minuman kepada mereka. Suasananya masih hening tidak ada yang berani berbicara, mereka masih syok dengan cerita yang diceritakan oleh Liu.

Setelah selesai makan, satu persatu dari mereka pulang. Himuro dan kensuke menumpang di tempat Kagami, Sedangkan Kenichi menumpang di tempat Teppei. Sisanya masih setia menunggu di ruang tunggu. Kau belum sadarkan diri. Malam semakin larut, di luar salju masih turun, malam itu dingin. Mereka mengeratkan mantel mereka.

Keesokan harinya, Kagami berserta Himuro dan Kensuke datang sambil membawa bekal untuk mereka semua. Liu dan Hyuga masih terjaga sedangkan Riko, Izuki, Kuroko dan Murasakibara masih terlelap ketika Kagami datang.

“ Kami datang membawa sarapan untuk kalian semua. “ Kata Kagami
“Kami juga membawa minuman hangat. “ kata Himuro juga

Sedangkan kensuke meletakkan kotak bekal di kursi, Hyuga membangunkan Riko dan Izuki. Sedangkan Liu membangunkan Murasakibara dan Kuroko. Mereka lalu sarapan di tempat. Setelah selesai, Kuroko, Izuki, Hyuga, Riko serta Murasakibara pamit untuk pulang dan membersihkan diri terlebih dulu. Mereka meminta Kagami, Himuro dan Kensuke untuk menjaga. Sedangkan Liu dipaksa ikut. Murasakibara dan Liu mengikuti Kuroko menuju rumahnya.

Keadaan rumah Kuroko sunyi seperti tidak ada yang menghuninya. Kuroko tinggal bersama kedua orangtuanya serta neneknya dan nigou.

“Nee, Kuro-chin, dimana orangtuamu?” tanya Murasakibara
“Eh? Ah, mereka sedang kerja di luar negeri. Aku hanya tinggal dengan nenekku dan nigou.” Kata Kuroko sambil masuk ke dalam.
“Nigou?” kata Liu bingung.
“Iya, nigou.” Kata Kuroko sambil mengangkat nigou didepan wajah Liu.

Mereka lalu membersihkan diri mereka. Di saat yang bersamaan, Teppei dan Kenichi bergabung dengan Kagami dan lainnya. Ia mengajak Mitobe serta Koganei.

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan (namamu) ? “ tanya Koganei begitu mereka sampai.

Kagami dan himuro pun saling begantian menceritakan, kadang Kensuke menambahkan begitu pun Teppei dan Kenichi.

Siang pun tiba Hyuga cs yang pulang tadi pagi pun kembali ke rumah sakit. Begitu melihat Riko dan kawan-kawan, Kagami lalu menyerbu mereka.

“Coach! Kapten! Keadaan (namamu) semakin kritis!” kata Kagami kepada mereka.

Begitu mendengar kabar tersebut, Liu langsung lari menuju kamar (namamu). Ia melihat Himuro, Kensuke, Teppei, Kenichi, Mitobe serta Koganei menangis. Liu lalu menanyakan apa yang terjadi kepadamu dengan suara gemetar.

“A…Apa… yang sebenarnya terjadi?” tanya liu dengan suara gemetaran.
“ (namamu)…., (namamu) sudah……” Himuro tidak melanjutkan kata-katanya.

Liu sama sekali tidak percaya. Tahu-tahu air matanya telah mengalir membasahi pipinya. Teman-temannya yang dibelakang pun menangis. Dokter dan suster yang menjagamu pun keluar dengan wajah yang sedih. Liu lalu berteriak histeris.

“ (NAMAMU)……!!!! “ seru Liu dengan suara lantang dan genetaran.

Terlalu cepat. Terlalu cepat bagi Liu untuk menerima kenyataan yang dihadapinya. Hari itu juga kau dimakamkan. Anggota tim Seirin dan Yosen berkumpul ada juga orangtua Liu disana. Begitu mendengar kabar tentang kematian (namamu) mereka langsung kembali ke Jepang. Liu masih tetap menangis. Satu per satu mulai kembali ke rumah masing-masing, hanya tinggal Kuroko dan Liu saja disana.

“Liu… “ panggil Kuroko.

Liu lalu beranjak berdiri. Lalu menatap Kuroko. Kuroko merogoh kantongnya dan mengeluarkan secarik kertas serta sebuah kunci.

“Ini… alamta serta kunci ampartemen tempat (namamu) selama ini tinggal.” Kata Kuroko sambil menyerahkan kedua benda tersebut.

Liu menerimanya dengan wajah yang masih basah oleh air mata.

“Terima kasih… Kuroko.” Kata Liu lagi.
“ Pergilah…” kata Kuroko.

Liu lalu pergi. Ia berlari menuju tempat tinggalmu selagi kau di Jepang. Sesampai disana kau menuju tangga dan menjajakinya.

“Nomor 207….” Bisikmu dalam hati.

Sesampai di depan pintumu, ia berhenti sejenak. Ia lalu mengeluarkan sebuah kunci. Ia memasukannya kedalam lubang kunci dengan hati-hati, memutarnya dengan pelan. Ia menelan ludah berkali-kali sebelum memasukinya. Keadaanya tetap sama seperti terakhir kali dikunjungi oleh Kuroko dan Riko. Liu memasuki ruang tamu dan melihat-lihat. Ia lalu berjalan menuju pintu yang menuju kamar tidur.

Ia lalu membukanya. Ia berjalan masuk ke dalam. Langkah demi langkah ia berjalan, ia lalu menemukan sepucuk surat dilantai serta ponsel milikmu yang tergeletak disana. Liu lalu memungut surat tersebut serta ponselnya. Surat tersebut dialamatkan kepadamu. Kau lalu membukanya dengan pelan dan mengeluarkan kertas dari amplop tersebut dan membacanya.

Untuk Liu,

Liu, apa kabar? Kondisi tubuhku semakin buruk, mungkin ketika kau membaca surat ini aku sudah tiada. Liu maafkan aku. Aku tidak menepati janji kita 8 tahun yang lalu. Liu apa kau masih ingat pertemuan serta janji kita saat itu? Orangtuakulah yang mengenalkanmu padaku.

Liu, walau hanya seminggu tapi kaulah yang pertama kalinya mengajariku cara bermain basket. Kau yang mengajariku cara tersenyum, aku tahu bahwa aku ini memiliki wajah yang persis sepert boneka. Tidak memiliki ekspresi, tidak bisa tersenyum maupun tertawa, tidak bisa merasakan sedih dan menangis. Hidupku waktu itu seakan-akan tidak berwarna, hanya kehampaan serta hitam-putih.

Tapi ketika berjumpa denganmu, kau memberi warna pada kehidupan dan membuatku tersenyum dan tertawa pada wajahku yang tidak berekspresi ini. Aku sangat berterima kasih karena dapat bertemu denganmu. Karena kaulah orang yang telah mencairkan hatiku yang beku ini.

Liu, walau hanya sedetik tapi aku berharap kau mengingatku walau hanya sedetik. Terima kasih atas semua yang telah kau beri kepadaku. Aishiteru yo… Liu, walaupun aku telah tiada tapi rasa sukaku padamu akan tetap ada. Jangan sedih ya..

(namamu)

Liu yang membacanya pun menangis. Ia lalu berjanji kepada dirinya, bahwa ia tidak akan sedih lagi.

END