Half Gone, Love Remain
1… derap langkah kaki orang yang berlarian diluar sana Anak tersebut lalu membuka lemari secelah. Ia melihat sekelilingnya dan berharap dapat menemukan kedua orangtuanya tersebut. Akan tetapi hal yang tidak diinginkan oleh anak tersebut ialah kenyataan bahwa ia telah kehilangan kedua orangtuanya. Anak tersebut mulai menangis didepan mayat kedua orangtuanya. Bau darah mulai tercium dimana-mana, anak itu berdiri, ia tidak tahu harus kemana lagi, satu-satunya harapan yang tersisa ialah mengunjungi kerabatnya yang berada di Jepang. Tokyo, 10 tahun kemudian … Ngiiingg…. *suara pesawat yang mendarat*Sekarang akhir dari bulan November, musim dingin telah tiba cuaca yang dingin bagaikan menusuk kulit. Puluhan penumpang menuruni pesawat, puluhan orang juga datang dan menunggu untuk menjemput kerabat, kenalan, saudara, teman, maupun keluarga mereka. Diantara ratusan manusia yang hilirmudik tersebut ada seorang anak sekita umur 15 tahun berjalan keluar bandara sambil menenteng bawaannya. Anak tersebut memiliki postur yang lumayan tinggi dengan tubuh yang sedikit kurus. Matanya berwarna biru cerah dan jernih, secerah dan sejernih langit pada pagi itu, namun tatapan mata tersebut menatap sekelilingnya dengan tatapan dingin seolah-olah tidak ingin diganggu. Chapter 1 : Perkenalantap…tap…tap… suara langkah kaki terdengar, tes…tes… butir per butir air hujan mulai membasahi jalanan. Suara langkah kaki tersebut berhenti pada sebuah bangunan bertinkat 3, mulai hari ini ia akan tinggal di apartemen tersebut. Orang tersebut mulai merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kunci. Ceklek! Suara kunci yang berputar disusul oleh suara dentuman pintu yang pelan. Orang tersebut lalu memasuki apartemennya dan beristirahat. _ Cip…cip…cip…suara burung terdengar, kau membuka matamu perlahan-lahan, menatap ke langit-langit kamar untuk beberapa saat. Kaulalu bangun dari posisi tidurmu dan duduk sejenak sambil menatap keluar jendela disamping ranjang. Cahaya matahari memasuki kamarmu melalui celah diantara gorden-gorden yang tidak tertutup dengan rapat. Jam 6… pikirmu. Hari ini hari minggu, kau bermaksud membereskan barang-barangmu yang tersisa. Oleh karena itu kau beranjak dari ranjangmu dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah membersihkan diri, kau mulai kegiatanmu pagi itu mulai dari sarapan, membenahi baju-baju yang masih tersisa di kardus serta buku-bukumu. Sekitar jam 10 kau menyelesaikan semua tugasmu, sekarang kau ingin melihat-lihat daerah sekitar apatemen. “Huff~ akhirnya selesai juga, sekarang aku ingin jalan-jalan sebentar.” Katamu dalam hati yang lalu bersiap-siap. Di sisi lain… Kau berjalan dan berguman pada diri sendiri, kemarin malam sepertinya turun salju… pikirmu sambil melihat sekelilingmu yang diselimuti oleh gumpalan-gumpalan es yang lembut tersebut. Kau merapatkan mantelmu dan menuju sebuah café yang klasik tidak jauh dari tempatmu. Kau lalu memasuki café tersebut dan duduk di sebuah meja yang menghadap ke jendela. Kau memesan segelas milkshake, minuman favoritmu tersebut. Sambil menunggu pesananmu, kau menatap keluar. Ada seseorang yang menarik perhatianmu, ia mengenakan mantel berwarna hitam dengan syal berwarna senada, ia memakai kacamata lalu orang tersebut masuk kedalam café. Srek… suara kursi yang digeser, seseorang duduk tepat didepanmu. Sepertinya ia tidak menyadari kehadiranmu. “Maaf menunggu, ini pesanan anda.” Kata pramusaji sambil menaruh milkshake pesananmu tersebut. Orang yang duduk didepanmu kaget dan baru menyadari keberadaanmu. Tapi dengan cepat ia menguasai dirinya dan memesan secangkir the hangat. Dan di situlah awal pertemuanmu dengannya. “Ano… maaf. Aku tidak menyadari keberadaanmu tadi.” Kata orang tersebut yang tak lain adalah laki-laki yang kau lihat diluar tadi. Sebelum mentari menampakan wajahnya, kau telah bangun. Kau membuka matamu lalu duduk sejenak sambil meneguk segelas air yang telah kau siapkan malam sebelumnya. Kau lalu berjalan menuju jendela dan membuka tirainya. “Yosh..! Kau harus semangat (namamu)!” katamu pada diri sendiri. Kau lalu meraih handukmu dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya kau menyiapkan sarapan serta bekalmu, lalu kau kenakan sepatumu, membuka pintu apartemenmu dan menguncinya. Ketika kau menuruni tangga, seberkas cahaya kemilau mengenai wajahmu. Matahari baru menampakan wajahnya pada pagi yang dingin tersebut. Kau tersenyum menyambut pagi yang cerah tersebut.Yosh! Di sisi lain… “Aku berangkat, okasan!” seru Izuki kepada ibunya. SEIRIN PRIVATE HIGH SCHOOL Tidak terduga… kau bertemu dengan Izuki sekali lagi. “Kau yang kemarin kan?” Tanya Izuki kepadamu. Kau hanya mengangguk, keterkejutanmu belum hilang sepenuhnya. “Jadi kau bersekolah di sini juga?” Tanya Izuki lagi. “Ah, tidak… aku baru masuk…” katamu terbata-bata. “Eh?! Baru masuk?” kata Izuki dengan kaget. Kau hanya tersenyum menanggapi kekagetan Izuki. Sedangkan izuki hanya memndangmu sambila tersenyum sendiri. “kenapa kau tersenyum sendiri, izuki?” Tanya Seseorang berambut hitam dan berkacamata kepada Izuki. Izuki hanya menggeleng. “Perkenalkan saya murid baru di sini. Namaku (namamu), salam kenal.” Katamu seraya memperkenalkan diri di depan kelas. Kau lalu berjalan menuju tempat dudukmu. Pelajaran pertama adalah Sejarah. Minggu depan aka nada ujian akhir, akan tetapi kau tidak begitu memerhatikan penjelasan guru didepan. Semua serius belajar, kecuali … “Kagami-kun, pelajaran sebentar lagi dimulai…, jangan tidur.” Bisik seseorang didepanmu. “HOI! KAGAMI TAIGA! Jangan tidur di kelas!” seru guru didepan kelas, semuanya langsung meliaht kearah orang yang bernama Kagami tersebut. Sekarang waktunya istirahat. Ketika kau sedang berjalan keluar kelas kau menabrak seseorang. “Ah maaf. “katamu spontan, “mari kubantu.” Katamu lagi. “Kau tidak apa-apa? Aku minta maaf telah menabrakmu.” Kata orang yang menabrakmu tersebut sambil mengulurkan tangannya. Hari pertama ujian…. “Nomor ujianku… 26…” katamu dalam hati. Kau lalu berjalan menuju tempat dudukmu sesuai nomor tempat duduk. Kau menaroh tas dan duduk disana. Tempat duduk tersebut tepat disamping jendela. Didepanmu duduk seorang berambut merah, disamping kananmu duduk seorang laki-laki berambut biru muda. Yang duduk paling depan itu seorang perempuan berambut pendek dan berwarna coklat, itu Riko. “Sepertinya yang lain lebih memilih belajar diluar…” katamu dalam hati. Kau lalu mengambil sebuah light novel yang berjudul Always Be by Your Side. Ketika bela tanda masuk berbunyi, para peserta ujian memasuki kelas yang telah ditentukan. “Baiklah! Ujian pertama adalah Bahasa Inggris! Siapkan alat tulis masing-masing! Dilarang meminjam dari teman sebelahmu! Waktu kalian 60 menit! Kerjakan dengan jujur, dan Tuhan memberkati.” Kata petugas yang menjaga ruangan ujianmu. Kriiinnnnngggggggg…………….. Bel tanda ujian dimulai, semua mulai mengerjakannya dengan serius dan teliti. Suara pensil serta suara kertas yang dibalik terdengar jelas di ruangan yang hening tersebut. Kau mengerjakannya dengan santai, bahkan santai sekali. Setelah 35 menit, kau meletakkan alat tulismu dan membalikkan kertas soal serta kertas ujianmu. Kau lalu menatap keluar jendelan dan melihat bahwa diluar sedang turun salju. “Pasti dingin sekali di luar…” katamu dalam hati. Krrriiiiiinnnnggggg………. Suara bel tanda ujian pertama telah berbunyi. Kertas ujian pun di oper kedepan. Setelah member salam kami keluar kelas dan beristirahat sebelum melanjutkan ujian yang kedua pada hari itu. Kau lalu berjalan pelan, tiba-tiba seseorang menyapamu. “Hai!” kata orang tersebut. Kalian lalu mengobrol, tiba-tiba Riko datang. “Izuki! Kau melihat dimana Hyuga?” Tanya Riko sambil berjalan menuju ketempat kalian bersama seorang lelaki tinggi berambut coklat, seorang lelaki tinngi berambut hitam serta seorang lelaki berwajah mirip kucing (? :P ) Lalu Riko melihatmu. Di kantin…. “Ah Hyuga!” seru Riko memanggil. Mereka lalu memperkenalkanmu sebagai manajer tim basket. Kalian lalu mengobrol, Kagami dan Koganei sibuk makan, kakak-kakak kelas mengobrol kecuali Mitobe (seperti biasanya --), sedangkan kau dan Kuroko hanya mengobrol seputar hobi masing-masing. Bel tanda istirahat telah usai berbunyi kalian lalu menuju ruang ujian masing masing-masing, ujian kedua ialah pelajaran Modern Japan, waktu yang diberi 90 menit. Setelah ujian hari tersebut selesai, kalian langsung pulang ke rumah masing-masing. “Ya? Halo?” jawabmu. Setelah menyampaikan pesan Riko kepada mereka kau kembali menonton TV. “Huh tidak ada yang menarik..” gumammu pelan sambil membalik-balik channel TV. Kau lalu menutupnya dan beranjak menuju kamarmu. Kau meraih sebuah light novel yang berjudul SAO 5 – Phantom Bullet. Kau lalu melanjutkan bacaanmu sampai sekitar setengah sebelas. Keesokan harinya, angin masih bertiup dengan kencang. “Sepertinya benar-benar ada badai salju..” pikirmu. Lalu beranjak menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Disisi lain…. Kuroko bangun dan memandang keluar jendela. Ia pergi menbersihkan diri lalu sarapan. Seperti biasanya, ia sendirian dirumah. Ia hanya ditemani oleh seekor anjing yang bernama Nigou. Kuroko menyantap sarapannya yang berupa roti, sambil menuangkan susu kepada Nigou. Setelah kau selesai membersihkan diri, kau menyiapkan sarapan dan makan dengan perasaan hampa. Setelah selesai kau membereskan piring-piring bekas sarapan. “Huh!” kau menghelah nafas. Kau lalu berjalan menuju kamarmu kembali. Kau membuka laptopmu dan melanjutkan cerita yang sedang kau ketik. Ketika kau mengetik sampai chapter ke-5 kau menatap keluar jendela. Betapa kau terkejut. Badai bukannya lebih reda tapi lebih ganas dan dasyat dari pada tadi. “Bukan main! Badai salju kali ini…! Lebih dasyat daripada yang pernah terjadi di Swiss!” serumu pada dirimu sendiri. “Ukh!” tiba-tiba kepalamu terasa pusing dan secara reflek kau memegang kepalamu. Ya, sejak 3 tahun terakhir ini kau diberitahu bahwa kau menderita gegar otak. “Mungkin aku harus tiduran sebentar…” katamu pada diri sendiri. Tetapi sebelum kau sampai dikamarmu, kau tiba-tiba ambruk. Triii…..Triii… suara ponselmu berbunyi, akan tetapi kau tidak dapat mendengarnya. Suara ponselmu terus berdering selama 2 menit. Hushhh…….Di luar badai salju telah reda, angin masih bertiup kencang sesekali. Keesokan harinya badai salju telah berhenti… Triiiii……..Triiii…….. Ponsel orang tersebut berbunyi. Tut. Orang tersebut lalu mengangkatnya. “Halo?” jawab orang tersebut. Riko dan Kuroko lalu berjalan menuju tempat tinggalmu selama kau menetap di Jepang. Sesampai diapartemennya, mereka mulai menjajaki tangga. Tangga demi tangga mereka lalui hingga tiba di lantai dimana tempatmu berada. “Nomor 207…” kata Kuroko seraya melihat ke kertas yang ia pegang setiba disitu. Setelah menemukannya, Riko mengetuk pintumu. “……….” Siiiiiinggggggg………………. Tidak terdengar bunyi sama sekali…Tidak ada suara juga… Bahkan suaramu pun tak terdengar…. Seakan-akan tempat tersebut tidak berpenghuni. Kuroko lalu mencoba membuka pintu. “Halo? Permisi, teman saya sekarang tidak sadarkan diri bisa tolong siapkan ambulan menuju ke alamat …….., terima kasih.” Kata Riko sambil berbicara kepada resepsionisnya. “Bagaimana keadaannya, Kuroko?” Tanya Riko setelah menutup ponselnya. Beberapa saat kemudian ambulans datang. Mereka membawamu menuju ambulans, Riko dan Kuroko juga ikut menuju rumah sakit. Di rumah sakit… izuki baru saja mau keluar ketika ia melihat Kuroko dan Riko sedang keluar dari ambulans. Dengan cepat ia berlari menghampiri mereka berdua. “Coach! Kuroko! Kenapa kalian berdua ada disini?” Tanya Izuki Begitu sampai ditempat mereka berdua ia melihat dirimu yang sedang dibawa kedalam dan diikuti oleh Kuroko, Riko dan Izuki. “Ada apa dengan……(namamu)?” Tanya izuki terbata-bata. “Bagaimana jika kita mengecek contact hpnya?” tanya Riko member usul. “Aku tidak ingat.” Jawab Riko sambil berusaha mengingatnya. Kuroko lalu mencari nomor Murasakibara. Sedangkan Izuki dan Riko berusaha menelfon anggota tim Seirin. Ketika Kuroko menemukan kontak nama Murasakibara ia langsung menghubungi Murasakibara. “Halo, Murasakibara-kun?” kata Kuroko mulai membuka pembicaraan. “Apakah diantara kalian ada yang kenal dengan (namamu)? Kuro-chin memintaku untuk menanyakannya kepada kalian semua.” Kata Murasakibara sambil menatap rekan-rekan setim basketnya. “Halo disini Liu Wei.” Kata Liu kepada Kuroko diseberang telepon. Liu mulai panic. Pikirannya kacau. “Jangan-jangan dia pingsan lagi…” kata Liu dalam hati “Kau Kuroko kan? Aku akan segera kesana!” kata Liu lalu menutup telfon dan menyerahkan balik ponsel kepada Murasakibara. “Maaf! Aku tidak bisa latihan hari ini, aku harus ke Tokyo sekarang.” Kata Liu sambil membereskan barang-barangnya. Di rumah sakit X… “Riko…, apa yang terjadi dengan (namamu)?” tanya Hyuga begitu sampai di rumah sakit. Riko lalu menceritakan ulang apa yang sebenarnya terjadi kepadamu. Tiba-tiba dokter keluar, dan bertanya kepada tim Seirin. “Siapakah diantara kalian keluarga atau sepupunya?” tanay dokter tersebut Mereka lalu menunggu, cukup lama juga mereka menunggu. Begitu Liu sampai di Tokyo, ia langsung menuju rumah sakit X. Murasakibara lalu mengabari bahwa mereka sudah tiba di Tokyo. “Kuro-chin, kami sudah tiba di Tokyo, dan sekarang sedang menuju rumah sakit X. Di lantai berada kau berada?” tanya Murasakibara. Kuroko menyebutkan di lantai keberapa ia berada sekarang bersama anggota tim Seirin lainnya. Begitu sampai Liu langsung menuju lantai yang disebut oleh Kuroko tadi. Dan begit melihat Liu, Riko segera memanggil dokter tadi. “Bagaimana keadaan (namamu) dok?” tanya Liu segera. Dokter tersebut lalu membawa Liu masuk kedalam dan membicarakan keadaanmu yang sedang kritis. Liu mendengarnya dengan tatapan tidak percaya. Ia merasa telinganya memanas, ia sudah tidak tahan lagi. “Dia tak sadarkan diri sedari kemarin, dan keadaanya semakin parah. Selain itu dia sepertinya mengidap penyakit lain yang belum diketahui penyebabnya. Kami akan melakukan sebisa kami. Berdoalah yang terbaik baginya. Melihat keadaannya, hidupnya tidak akan lama lagi.” Kata dokter tersebut menjelaskan. Hati Liu terasa remuk, ia tidak dapat menerima kenyataan tersebut. Padahal ia baru bertemu dengan sepupunya yang berasal dari Swiss tersebut. Lalu bagaimana menceritakannya kepada mereka yang menunggu di luar. “Aku… aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya lagi…” bisik Liu pada dirinya sendiri. “Apa yang dikatakan dokter?” tanya Riko dengan wajah cemas. Mereka lalu menuju ruang tunggu dan duduk disana. Liu menghela nafas beberapa kali, lalu diam sejenak. Setelah menenagkan dirinya sendiri, ia pun mulai berkata. “Ada hal yang harus kuberitahu kalian tentang keluarga (namamu), tapi sebelumnya apakah (namamu) pernah menceritakan tentang kedua orangtuanya?” Kata Liu memulai ceritanya tersebut. “Tung, tunggu dulu, kau tidak bercandakan…? Di…dibunuh..? Itu kejam!” kata Kensuke. “Waktu itu……” kata Liu sambil mengingat apa yang dikatakan oleh (namamu). FLASH BACK “ Swiss, tahun xxxx 1… derap langkah kaki orang yang berlarian diluar sana Aku lalu membuka lemari secelah untuk melihat keadaan. Aku melihat sekelilingku dan berharap dapat menemukan kedua orangtuaku tersebut. Akan tetapi hal yang tidak diinginkan dan tidak terduga olehku kenyataan bahwa ia telah kehilangan kedua orangtuanya. Aku lalu mulai menangis didepan mayat kedua orangtuaku. Bau darah mulai tercium dimana-mana, aku lalu berdiri, aku tidak tahu harus kemana lagi, satu-satunya harapan yang tersisa ialah mengunjungi kerabatku yang berada di Jepang, yaitu kau Liu. Waktu aku berteriak sekeras-kerasnya mengeluarkan emosiku serta kesedihanku yang menumpuk. “ Hening….. tidak ada yang dapat berkata-kata. Terlalu menyedihkan bagi seorang anak melihat kedua orangtuanya dibunuh tepat didepan matanya. Bahkan Riko menangis.Suasanya tidak mengenakan, semuanya suram. “3 tahun yang lalu…” lanjut Liu sambil menahan air matanya. FLASH BACK “ Bagaimana jika kau tinggal ditempatku?” tanya Liu kepada (namamu). “ Walau dia bilang tidak apa-apa tapi tetap saja…” kata Liu sambil tetap menahan air matanya. “Lalu? Apa yang dikatakan Dokter tadi?” tanya Izuki. Dan pada saat ia menyelesaikan kata-katanya, air matanya pun meluncur turun dan membasahi wajahnya. Yang lainnya hanya bisa diam setelah mendengar cerita Liu. Riko menangis dalam kesunyian tersebut. Kuroko, Kagami, Murasakibara, Izuki, Kensuke hanya bisa diam sambil menahan perasaan yang tidak keruan setelah mendengar cerita Liu yang lain hanya berusaha menahan air mata mereka. Setelah selesai makan, satu persatu dari mereka pulang. Himuro dan kensuke menumpang di tempat Kagami, Sedangkan Kenichi menumpang di tempat Teppei. Sisanya masih setia menunggu di ruang tunggu. Kau belum sadarkan diri. Malam semakin larut, di luar salju masih turun, malam itu dingin. Mereka mengeratkan mantel mereka. Keesokan harinya, Kagami berserta Himuro dan Kensuke datang sambil membawa bekal untuk mereka semua. Liu dan Hyuga masih terjaga sedangkan Riko, Izuki, Kuroko dan Murasakibara masih terlelap ketika Kagami datang. “ Kami datang membawa sarapan untuk kalian semua. “ Kata Kagami Sedangkan kensuke meletakkan kotak bekal di kursi, Hyuga membangunkan Riko dan Izuki. Sedangkan Liu membangunkan Murasakibara dan Kuroko. Mereka lalu sarapan di tempat. Setelah selesai, Kuroko, Izuki, Hyuga, Riko serta Murasakibara pamit untuk pulang dan membersihkan diri terlebih dulu. Mereka meminta Kagami, Himuro dan Kensuke untuk menjaga. Sedangkan Liu dipaksa ikut. Murasakibara dan Liu mengikuti Kuroko menuju rumahnya. Keadaan rumah Kuroko sunyi seperti tidak ada yang menghuninya. Kuroko tinggal bersama kedua orangtuanya serta neneknya dan nigou. “Nee, Kuro-chin, dimana orangtuamu?” tanya Murasakibara Mereka lalu membersihkan diri mereka. Di saat yang bersamaan, Teppei dan Kenichi bergabung dengan Kagami dan lainnya. Ia mengajak Mitobe serta Koganei. “Sebenarnya apa yang terjadi dengan (namamu) ? “ tanya Koganei begitu mereka sampai. Kagami dan himuro pun saling begantian menceritakan, kadang Kensuke menambahkan begitu pun Teppei dan Kenichi. Siang pun tiba Hyuga cs yang pulang tadi pagi pun kembali ke rumah sakit. Begitu melihat Riko dan kawan-kawan, Kagami lalu menyerbu mereka. “Coach! Kapten! Keadaan (namamu) semakin kritis!” kata Kagami kepada mereka. Begitu mendengar kabar tersebut, Liu langsung lari menuju kamar (namamu). Ia melihat Himuro, Kensuke, Teppei, Kenichi, Mitobe serta Koganei menangis. Liu lalu menanyakan apa yang terjadi kepadamu dengan suara gemetar. “A…Apa… yang sebenarnya terjadi?” tanya liu dengan suara gemetaran. Liu sama sekali tidak percaya. Tahu-tahu air matanya telah mengalir membasahi pipinya. Teman-temannya yang dibelakang pun menangis. Dokter dan suster yang menjagamu pun keluar dengan wajah yang sedih. Liu lalu berteriak histeris. “ (NAMAMU)……!!!! “ seru Liu dengan suara lantang dan genetaran. Terlalu cepat. Terlalu cepat bagi Liu untuk menerima kenyataan yang dihadapinya. Hari itu juga kau dimakamkan. Anggota tim Seirin dan Yosen berkumpul ada juga orangtua Liu disana. Begitu mendengar kabar tentang kematian (namamu) mereka langsung kembali ke Jepang. Liu masih tetap menangis. Satu per satu mulai kembali ke rumah masing-masing, hanya tinggal Kuroko dan Liu saja disana. “Liu… “ panggil Kuroko. Liu lalu beranjak berdiri. Lalu menatap Kuroko. Kuroko merogoh kantongnya dan mengeluarkan secarik kertas serta sebuah kunci. “Ini… alamta serta kunci ampartemen tempat (namamu) selama ini tinggal.” Kata Kuroko sambil menyerahkan kedua benda tersebut. Liu menerimanya dengan wajah yang masih basah oleh air mata. “Terima kasih… Kuroko.” Kata Liu lagi. Liu lalu pergi. Ia berlari menuju tempat tinggalmu selagi kau di Jepang. Sesampai disana kau menuju tangga dan menjajakinya. “Nomor 207….” Bisikmu dalam hati. Sesampai di depan pintumu, ia berhenti sejenak. Ia lalu mengeluarkan sebuah kunci. Ia memasukannya kedalam lubang kunci dengan hati-hati, memutarnya dengan pelan. Ia menelan ludah berkali-kali sebelum memasukinya. Keadaanya tetap sama seperti terakhir kali dikunjungi oleh Kuroko dan Riko. Liu memasuki ruang tamu dan melihat-lihat. Ia lalu berjalan menuju pintu yang menuju kamar tidur. Ia lalu membukanya. Ia berjalan masuk ke dalam. Langkah demi langkah ia berjalan, ia lalu menemukan sepucuk surat dilantai serta ponsel milikmu yang tergeletak disana. Liu lalu memungut surat tersebut serta ponselnya. Surat tersebut dialamatkan kepadamu. Kau lalu membukanya dengan pelan dan mengeluarkan kertas dari amplop tersebut dan membacanya. Untuk Liu, Liu, apa kabar? Kondisi tubuhku semakin buruk, mungkin ketika kau membaca surat ini aku sudah tiada. Liu maafkan aku. Aku tidak menepati janji kita 8 tahun yang lalu. Liu apa kau masih ingat pertemuan serta janji kita saat itu? Orangtuakulah yang mengenalkanmu padaku. Liu, walau hanya seminggu tapi kaulah yang pertama kalinya mengajariku cara bermain basket. Kau yang mengajariku cara tersenyum, aku tahu bahwa aku ini memiliki wajah yang persis sepert boneka. Tidak memiliki ekspresi, tidak bisa tersenyum maupun tertawa, tidak bisa merasakan sedih dan menangis. Hidupku waktu itu seakan-akan tidak berwarna, hanya kehampaan serta hitam-putih. Tapi ketika berjumpa denganmu, kau memberi warna pada kehidupan dan membuatku tersenyum dan tertawa pada wajahku yang tidak berekspresi ini. Aku sangat berterima kasih karena dapat bertemu denganmu. Karena kaulah orang yang telah mencairkan hatiku yang beku ini. Liu, walau hanya sedetik tapi aku berharap kau mengingatku walau hanya sedetik. Terima kasih atas semua yang telah kau beri kepadaku. Aishiteru yo… Liu, walaupun aku telah tiada tapi rasa sukaku padamu akan tetap ada. Jangan sedih ya.. (namamu) Liu yang membacanya pun menangis. Ia lalu berjanji kepada dirinya, bahwa ia tidak akan sedih lagi. END |