Enjoy!

Sorry for typo ^^

.

.

Because of You

Chapter 13

.

.

[Asrama Putra]

Sehun meraba sekitarnya dengan mata yang enggan terbuka, ia mencari ponselnya yang sedaritadi terus berbunyi. Setelah menemukan benda kotak sialan yang mengganggu tidurnya, perlahan Sehun membuka matanya, sedikit menyipit karena silau, dan dengan malas mendesah mengetahui sudah pukul 7 pagi.

Sehun turun dari ranjangnya dan menoleh ke ranjang milik Chanyeol yang sudah tak berpemilik. "Apa dia sudah berangkat?" gumam Sehun. Ia mencari teman sekamarnya itu yang sejak semalam tidak terlihat. "Atau tidak pulang?" gumam Sehun lagi, lalu ia menggeleng, "tidak mungkin."

Semenjak Sehun keluar dari rumah sakit, tidak, tepatnya sejak kecelakaan yang menimpa Sehun, Chanyeol tidak pernah terlihat. Sehun benar-benar tidak pernah melihat Chanyeol lagi, saat malam semakin larut, Chanyeol tidak juga kembali ke asrama. Pagi harinya pun, Sehun selalu terbangun sendirian. Padahal selama ini Chanyeol selalu berangkat bersama Sehun dan jika tidak pun, Chanyeol akan memberitahu atau mengirimkan pesan pada Sehun.

Sehun kembali mengecek ponselnya, tidak ada panggilan tak terjawab ataupun pesan dari Chanyeol. Aneh, pikir Sehun. Sehun masuk ke kamar mandi. Ia akan menemui Chanyeol di kelasnya saja nanti.

.

.

[Asrama Putri]

Tok tok tok… tok tok–

"Iya sebentar!"

Pemilik kamar yang terganggu karena ketukan pintu sepagi ini terlihat cukup terkejut dengan munculnya Baekhyun di sana. "Baekhyun? Ada apa?" tanya Minseok sambil membiarkan temannya itu masuk.

Baekhyun yang sudah berseragam rapi itu langsung duduk di sofa tanpa diminta, "Minseokkie, bantu aku…"

"Wae? Memangnya ada apa?" tanya Minseok mulai khawatir karena melihat wajah Baekhyun yang murung.

"Bisa kau minta Sehun untuk mengatakan bahwa kecelakaan yang terjadi pada Sehun bukanlah salah Chanyeol? Beberapa hari ini Chanyeol selalu menyalahkan dirinya, semuanya kacau. Ia jarang makan, sering membolos karena takut Sehun mencari ke kelasnya, dan ia juga jarang berbicara meski bersamaku." Jelas Baekhyun.

"Astaga Baek…" Minseok mendekat pada Baekhyun lalu menggenggam tangannya, "mereka kan satu kamar, memangnya tidak ada kesempatan untuk berbicara?"

Baekhyun menggeleng, "Chanyeol juga selalu kembali ke asrama tengah malam saat Sehun sudah tertidur dan pergi ke sekolah pagi sekali sebelum Sehun bangun. Aku tidak tahan melihatnya menderita seperti itu, hiks…" Baekhyun mulai terisak, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Kenapa Chanyeol bisa menyalahkan dirinya seperti itu… seharusnya semua dibicarakan," gumam Minseok sambil merengkuh tubuh mungil temannya yang bergetar.

"Hiks… Chanyeol juga menyalahkan dirinya kerena tidak menjaga Luhan dengan baik. Aku tidak suka Minseokkie, aku tidak suka Chanyeol menyalahkan dirinya seperti itu… eotteokhae..."

"Gwaenchanha… kalau begitu biarkan mereka bertemu. Masalah ini harus mereka bicarakan berdua, tidak bisa hanya disampaikan melalui perantara…" ucap Minseok.

"Baekhyun, apa maksudmu?" dua orang yang tengah berpelukan itu menoleh ke sumber suara, ternyata Luhan baru saja bangun.

"Lu-Luhan…" cicit Baekhyun.

Luhan mendekat pada Baekhyun dan Minseok, "apa yang terjadi pada Chanyeol?"

Baekhyun mengusap air matanya lalu menggeleng, "mianhae… bukan maksudku menyalahkanmu, Luhan. Tapi bisakah kau meminta maaf pada Chanyeol dan mengatakan bahwa kecelakaan Sehun bukanlah salahnya?" Baekhyun berdiri lalu memeluk Luhan, "aku mohon… maafkan aku karena berkata seperti itu."

"Baek… dalam kasus ini yang salah bukanlah Chanyeol. Jika ada yang patut disalahkan, itu adalah aku. Kalau begitu biarkan kami berbicara pada Chanyeol." Pinta Luhan.

Baekhyun melepas pelukkannya lalu menatap Luhan sambil mengangguk, "gomawo Lu…"

Luhan tersenyum kecil, "hm, maafkan aku juga karena membuat Chanyeol berpikir seperti itu…" ia tertunduk.

Baekhyun menggenggam kedua tangan Luhan, "gwaenchanha, jangan menyalahkan dirimu juga. Kau membuatku tambah sedih." Lalu Luhan mengangguk.

Minseok tersenyum melihatnya, ia mendekat pada kedua temannya itu lalu memeluk mereka dalam satu rangkulan, "ya ampun… mengapa hidup kalian rumit sekali," kekehnya.

"Aw!" Baekhyun menyikut perut Minseok, ketiganya pun tertawa. Sepertinya ketiga orang ini bertambah dekat, ya bukan?

.

.

Saat berangkat ke sekolah, Luhan tidak bersama Sehun seperti biasanya karena ia berangkat bersama Minseok dan Baekhyun. Sehun juga tidak berangkat cepat karena harus mencari Chanyeol terlebih dahulu ke kelasnya. Sesampainya di kelas Chanyeol, Sehun tak melihat siapapun di bangku Chanyeol. Hal itu membuat Sehun bingung karena Chanyeol tak ditemukan dimanapun. Ini aneh, karena Chanyeol tak mungkin membolos dan seharusnya pasti ada di kelas.

Sehun memutuskan kembali ke kelas, ia akan ke kelas Chanyeol sebelum beberapa menit bel masuk, sepertinya Chanyeol akan ada di kelas saat itu karena teman sekamarnya itu tidak akan pernah membolos.

"Sehun? Kau baru sampai? Bukankah kau berangkat terlebih dahulu?" tanya Luhan. Ternyata Luhan, Minseok, dan Baekhyun yang baru saja sampai di sekolah tak sengaja berpapasan dengan Sehun di depan kelas 3-1.

"Sebenarnya aku dari kelas Chanyeol, tetapi ia tidak ada. Baek, kau tahu dimana kekasihmu?"

"Ia masih di atap. Biasanya saat bel masuk, Chanyeol baru ke kelasnya" jawab Baekhyun.

"Kalau begitu aku akan ke sana–"

"Sehun! Aku ikut," Luhan menahan tangan Sehun membuat Sehun berbalik.

Sehun menautkan kedua alisnya, "ada apa?" tanyanya.

"Sebenarnya Chanyeol menghindari kita karena merasa bersalah. Baekhyun yang memberitahuku," Luhan menunduk, "karena itu aku harus meminta maaf padanya." Jelas Luhan.

"Kenapa kau harus melakukan itu, Luhan–"

"Sehun-ah, tolong katakan sesuatu pada Chanyeol agar ia bisa kembali seperti sebelumnya. Aku sangat sedih melihatnya seperti itu, bahkan aku tidak bisa melakukan apapun…" mohon Baekhyun sendu.

"Maka itu, aku tetap harus ikut." Pinta Luhan.

Sehun merasa semakin aneh, memang benar sepertinya terjadi sesuatu pada Chanyeol yang belakangan tidak pernah terlihat. Saat di rumah sakit, ia juga tidak melihat Chanyeol kecuali Kai yang memberitahu bahwa Chanyeol membawanya ke rumah sakit. "Baiklah, kkajja…" ucap Sehun akhirnya.

Sehun dan Luhan sampai di atap, mereka langsung menemukan Chanyeol yang duduk di tepian pagar sambil memainkan ponselnya.

"Akhirnya… sudah lama aku tidak melihatmu. Apa kabar?" tanya Sehun memecah konsentrasi Chanyeol pada ponselnya.

Chanyeol mengangkat kepalanya, matanya yang besar semakin terlihat besar. "Sehun… Luhan?"

"Kau tidak berniat loncat dari sini dan kau tidak sedang menulis wasiat di ponselmu kan?" Sehun bertanya enteng yang langsung mendapat sikutan dari Luhan.

Chanyeol menyimpan ponselnya ke saku, "haruskah aku melakukannya seperti itu?" tanyanya.

Sehun mengangguk, "jika kau berani, aku tidak mempermasalahkannya…"

"Sehun!" bentak Luhan. Ia tidak mengerti, apakah ini cara laki-laki saling berkomunikasi? Rasanya seperti mengajak untuk bertengkar.

Sehun memegang belakang kepala Luhan lalu mengusaknya lembut, "terima kasih, sudah menjaga Luhan." Ucap Sehun, setelahnya ia tersenyum.

Chanyeol mendengus, "kau mengejekku?"

"Tidak. Aku sungguh-sungguh." Jawab Sehun. "Aku memang keterlaluan karena memintaimu hal yang sulit, mian."

Chanyeol menatap Sehun dengan sedikit kilatan emosi di matanya, "Sehun… sudah kubilang permintaanmu itu bukan masalah–"

"Lalu apa masalahnya?"

"Kau. Kau adalah masalahnya Sehun!"

"Aku?"

Chanyeol mendekat pada Sehun lalu dengan tiba-tiba melayangkan tinjunya. Tidak terlalu keras, tetapi cukup membuat Sehun meringis.

Luhan terkejut, ia berdiri diantara keduanya, "Chanyeol? Kenapa kau seperti ini?!" bentak Luhan. "Sehun! Kau juga seharusnya jangan memancing amarah–"

"Kau juga Luhan, sudah kubilang untuk tidak melakukan apapun! Tapi memang salahku, kau kan keras kepala!" kesal Chanyeol. "Kau bisa mati Sehun! Aku tidak akan memaafkan diriku jika kau mati, kau tahu? Hanya aku teman dekatmu satu-satunya kan?!"

Sehun tersenyum, "mianhae… aku benar-benar minta maaf karena membuatmu khawatir. Aku sampai lupa aku memiliki teman... teman yang sudah seperti sudara laki-lakiku sendiri."

"Maka itu beritahu aku masalahmu! Jangan tiba-tiba masalahmu yang mendatangiku, aku terlalu lama memikirkan keberadaanmu sebelum akhirnya aku bisa memanggil Kai."

"Mianhae… sungguh," ucap Sehun lagi.

"A-aku juga… aku juga minta maaf karena menjadi beban untukmu, Chanyeol." Ucap Luhan.

Chanyeol mengusap dahinya, ia cukup kesal menghadapi dua orang ini. "Hahh… yang satu hanya bisa minta maaf, dan yang satu ini bodoh karena terus menganggap dirinya beban." Gerutunya. "Dengar ya Sehun! Kau hanya perlu lebih terbuka padaku, dan kau Luhan! Berhentilah meminta maaf, kau bukan bebanku, astaga… sulit sekali berbicara pada kalian."

Sehun menahan tawanya, ketika melihat wajah Chanyeol yang kesal membuatnya kelepasan tertawa. "Araseo, kau ini mengapa sampai menghindariku–"

"–kami" koreksi Luhan.

"jika hanya ingin mengatakan ini." lanjut Sehun.

"Kau ini tidak tahu kan rasanya aku ingin mati melihatmu tergeletak bersimbah darah." Kesal Chanyeol.

Sehun tertawa, setelahnya merangkul roommate-nya itu. "Tentu saja aku tidak tahu!"

"Chanyeol…" panggil Luhan.

Chanyeol menatap Luhan dengan malas, "wae? mengatakan maaf lagi? Tidak akan aku terima!"

Luhan menggeleng, "bukan. Gomawo…" ucap Luhan sambil tersenyum. "Gomawo sudah menjadi teman Sehun,"

Chanyeol tertawa, "tentu saja, dan seharusnya yang mengatakan itu si bodoh ini!" Chanyeol menjitak kepala Sehun.

"Siapa yang memintamu menjadi temanku?" ucap Sehun menatap Chanyeol dengan wajah jijiknya.

"Kau kan? 'Chanyeollie~ jadilah temanku~' begitu?" Chanyeol menggoda Sehun dengan suara yang dibuat-buat. "Ya! Aw!" kesal Chanyeol ketika Sehun mencekik lehernya dengan lengan Sehun yang masih merangkulnya.

"Luhan, kemari…" pinta Sehun yang langsung dituruti Luhan. Sehun merangkul Luhan dengan tangan lainnya. "Kkajja sayang-sayangku kita pergi, sebentar lagi masuk."

"Hoek…! Lepas!" maki Chanyeol, merasa merinding mendengar ucapan Sehun yang menjijikkan.

Begitulah persahabatan Sehun dan Chanyeol yang masih sama. Hanya saja, Sehun sudah memutuskan untuk mencoba terbuka pada temannya itu. Sementara itu, Luhan memandangi wajah Sehun yang tertawa, setidaknya ia tidak akan khawatir jika tidak lagi disamping Sehun. Chanyeol adalah teman yang baik, Sehun sudah memiliki Chanyeol.

.

.

"Jadi anak-anak, untuk menentukan reaksi pembatasnya kita harus mengujinya satu persatu dari dua pereaksi ini. Pertama, kita uji pada senyawa…"

Mata para siswa tertuju pada guru mereka yang sibuk menjelaskan materi kimia di papan tulis. Tangan mereka sibuk mencatat dan kepala mereka mengangguk-angguk paham. Dari semua siswa yang terlihat seperti Maneki Neko, ada satu siswa yang meletakkan kepalanya di meja, ya benar ia adalah Sehun. Bagi teman-teman dan gurunya, hal itu sudah biasa, tetapi sebenarnya yang Sehun alami tidaklah biasa. Sejak jam pelajaran dimulai 30 menit lalu, Sehun mulai merasakan punggungnya yang sedikit sakit. Lama-kelamaan rasanya seperti tertusuk jarum dan berdenyut perih. Ia bahkan merasakan seperti ada cairan yang mengalir dari rasa sakitnya.

Sehun juga sudah sempat meminta teman di belakangnya untuk melihat apakah punggungnya berdarah atau tidak, tetapi jawabannya tidak. Ia semakin meremat pena yang sedaritadi ia pegang. Rasa sakitnya terasa nyata. Tentu saja karena kau tertembak secara real, Sehun bodoh!

"A–" Sehun menggigit bibirnya, ia tidak boleh ketahuan jika merasa sakit. Luhan bisa khawatir secara berlebihan. Sehun menatap ke arah Luhan yang terlihat sangat fokus dengan pelajarannya.

'Sial!' umpat Sehun dalam hatinya ketika rasa sakitnya menjadi-jadi. Keringat dingin mulai keluar dari dahi dan lehernya, membuatnya menekan kuat kepalanya di meja berharap rasa sakitnya tergantikan sesaat oleh sakit di kepalanya. Dengan tangan gemetar, Sehun mengirimkan pesan kepada Chanyeol. Setelahnya, tidak lama kemudian, sakitnya agak mereda meski masih terasa perih.

Jam tambahan di kelas pun berakhir, para siswa satu per satu keluar dari kelas. Sehun masih duduk sambil memainkan ponselnya dan sesekali melirik pada Luhan, memastikan apa gadis itu akan berlari untuk mencari tempat belajar seperti biasanya. Luhan merapikan alat tulisnya dengan cepat, setelahnya Luhan menghapiri Sehun, "kau tidak masuk kelas selanjutnya?" tanya Luhan sambil berkacak pinggang.

Sehun mengangguk, "aku malas…"

"Kau ini–" Luhan akan mulai mengeluarkan ceramahnya, tetapi tiba-tiba seseorang berteriak dari pintu kelas mereka.

Seseorang yang memanggil Sehun dari depan pintu–orang tinggi tersebut melambaikan tangannya. "Yo Sehun! Apa kakimu ikut lumpuh hanya karena punggungmu–" Chanyeol menghentikan ucapannya ketika mata Sehun menyiratkan untuk diam dan akhirnya Chanyeol baru menyadari Luhan ada di sana. "Oh, h-hai Luhan…" sapa Chanyeol dengan cengiran bodoh biasanya.

Luhan menatap Sehun khawatir, apa benar Sehun terluka? Pikirnya. "Chanyeol, maksudmu?" tanya Luhan tiba-tiba.

Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "hmm… itu… yah, aku hanya bercanda," ia tertawa tiba-tiba tetapi tidak ada yang meresponnya. Ia tahu kebohongannya sangat jelas. "Ya kan Sehun-ah?" Chanyeol meminta pertolongan pada Sehun.

Sehun tidak menjawab, sepertinya ia sudah ketahuan. Luhan tak sebodoh itu, Sehun tahu. "Pergilah Chanyeol-ah, aku baik-baik saja." Ucap Sehun.

'Kau-ya-kin?' Chanyeol mengisyaratkan dengan bibirnya tanpa bersuara. Sehun mengangguk kecil sambil mengisyaratkan dengan matanya bahwa ia baik-baik saja dan akan mengurusnya.

"Baiklah aku pergi," ucap Chanyeol akhirnya. Ia tahu sepertinya Sehun tidak mau membuat Luhan khawatir, tetapi kini malah ia yang khawatir. Jadi Chanyeol memutuskan untuk menunggu sambil bersandar di dinding luar kelas 3-1 yang tak terlihat keduanya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Luhan khawatir.

Sehun mengangguk, "gwaenchanha, hanya sedikit nyeri di punggungku."

"Benarkah?" tanya Luhan tidak percaya.

"Benar– aw! Akhhh…" rintih Sehun saat Luhan menekan bagian agak ke bawah dari bahunya. Tidak dekat dengan lukanya, tetapi rasanya sudah menyakitkan.

"Apanya yang tidak apa-apa Sehun!" kesal Luhan. "Sejak kapan?" tanya Luhan lagi.

"Baru, baru saja…" Sehun menatap Luhan yang sepertinya masih tidak percaya, "kali ini benar Luhan, baru saja aku merasakan sakit." Ucap Sehun meyakini.

"Memangnya aku mengatakan apa?" tanya Luhan.

"Luhan–"

"Kau harus ke ruang kesehatan, kau tidak baik-baik saja." Nada bicara Luhan berubah dingin. Sehun menyadari itu, lalu ia hanya bisa mengangguk karena tidak lagi bisa meyakini Luhan.

"Chanyeol-ah! Kau masih di sana kan?!" pekik Luhan.

Chanyeol tersentak mengetahui Luhan yang meneriakkan namanya, lantas ia menolehkan kepalanya ke dalam kelas. "Ne?" tanyanya seperti orang bodoh.

"To-tolong bawa Sehun ke ruang kesehatan." Ucap Luhan yang suaranya bergetar, tanpa menoleh pada Sehun, Luhan keluar kelas meninggalkan Sehun.

"Lu…" Sehun mendesah sedih menatap punggung Luhan yang bergetar saat menjauh darinya. Luhan menangis, ia benci melihat yang seperti itu.

Baru sekitar 25 menit berada di ruangan, Luhan sudah tidak bisa berkonsentrasi dengan materinya. Telinganya memang memakai earphone untuk mendengar materi yang dijelaskan tutor, tetapi matanya fokus pada ponselnya. Ia mengirimkan banyak pesan pada Chanyeol tapi tak kunjung mendapat balasan. Ia tidak bisa bertanya pada Sehun karena jawabannya hanya 'aku baik-baik saja'. Luha tidak akan percaya itu.

"Wae? ada masalah?" bisik Minseok di sebelahnya.

"Apa aku bisa izin sebentar?" tanya Luhan berbisik.

"Wae? ada apa?"

"Aku mengkhawatirkan Sehun…"

"Luhan, Kim Minseok haksaeng, ada masalah?" tanya guru pengawas ruangan yang sudah tepat di antara mereka.

Luhan melepas earphone-nya dan mem-pause videonya. "Saem, boleh saya izin sebentar? Orangtua saya ada di depan…"

"Ya silakan. Waktu maksimal 15 menit," ucap sang guru.

"Ne, gamsahamnida Saem…"

Luhan bernapas lega setelah keluar dari ruangan. Ia tidak percaya bahwa ia sampai harus berbohong seperti itu untuk menemui Sehun. Masalahnya adalah, jika hanya izin ke toilet waktunya hanya 5 menit. Itu terlalu singkat mengingat ruang kesehatan ada di gedung sekolah.

Luhan melangkahkan kakinya masuk ke ruang kesehatan, tidak ada penjaganya, mungkin sedang pergi. Luhan menyibak tirai satu-satunya yang tertutup. Di sana, Sehun terbaring dengan mata tertutup. Napasnya yang teratur menandakan bahwa Sehun sedang tertidur.

Luhan mendekat perlahan, mencoba untuk tidak membuat suara. Ia mengamati Sehun dari kepala hingga kakinya. Sehun tidur miring ke arahnya, sehingga punggungnya tidak menempel pada kasur. 'Apa punggungnya baik-baik saja?' gumam Luhan khawatir. Ia menarik kursi perlahan lalu duduk di sana, mengamati wajah Sehun yang tenang.

Bibir Luhan tersenyum, tidak selaras dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. 'Nanti ada saatnya aku tidak bisa lagi melihatmu. Jadi… biarkan aku terus melihatmu selama yang aku bisa' ucap Luhan dalam hati. Luhan tertunduk, air matanya mulai jatuh membasahi roknya. "Hiks…" satu isakan lolos dari bibir bergetar Luhan. Kepalanya disinggahi sebuah tangan yang mengelusnya lembut.

"Kenapa kau menangis?" ternyata Sehun sudah membuka matanya.

Luhan menghapus cepat air matanya, "Sehun, gwaenchanha? Apa masih ada yang sakit?" tanyanya.

Sehun mengangguk sambil tersenyum, "berkat kau yang memarahiku untuk ke ruang kesehatan. Lihat, saat ini aku baik-baik saja. Jangan khawatir,"

Luhan menghela napas sedikit lega, "tapi benarkah kau baik-baik saja?"

Sehun mencoba bangun yang langsung dibantu Luhan. "Bagaimana caranya agar kau percaya aku baik-baik saja?"

Luhan menggeleng, "kau yang terluka selalu menghantuiku."

Sehun meraih kedua tangan Luhan dan menggenggamnya, ia menatap Luhan dengan lembut. "Aku baik-baik saja sekarang, Luhan." Luhan mengalihkan pandangannya, menengadahkan kepalanya, menahan air matanya.

"Kemari…" Sehun meminta Luhan untuk duduk di sampingnya kemudian tangan Sehun berpindah ke kedua sisi wajah Luhan. Ia menatap Luhan sambil tersenyum, air mata Luhan mulai mengalir dari kedua mata indah itu. Sambil tetap tersenyum, Sehun mengusap air mata yang terus keluar itu kemudian ia membawa Luhan dalam dekapannya. "Kau bisa memastikannya," ucap Sehun.

Luhan mengangkat kedua tangannya, menyatukannya di belakang punggung Sehun dengan pelan, khawatir itu akan menyakiti Sehun. "Itu lebih baik. Lihat, aku baik-baik saja kan?" tanya Sehun. Luhan mengangguk dalam dekapannya. "Bagus." Kekeh Sehun, kemudian ia mengeratkan dekapannya pada Luhan dan mengusap punggung Luhan dengan lembut. Luhan memejamkan matanya membuat air mata terakhirnya jatuh bebas. Merasakan sentuhan lembut Sehun, ia harus segera mengingatnya dan menyimpannya baik-baik dalam memorinya.

Sehun memegang kedua pundak Luhan lalu menatapnya dalam. "Jadi berhentilah menangis, ne?" Luhan tersenyum lalu mengangguk. Sehun mendekatkan wajahnya pada Luhan lalu mendaratkan bibirnya pada dahi Luhan, ia menciumnya cukup lama, memberikan segala ketenangan dan kehangatan. Luhan memejamkan matanya, kembali mencoba mengingat sentuhan Sehun dan menyimpannya dengan rapi dalam memorinya.

'Aku harap ingatan ini akan selamanya ada di memoriku, tapi aku harap ingatan ini hanya sementara dalam memorimu, Sehun' ucap Luhan dalam hati.

.

.

[Keesokkan harinya…]

"Sehun!" pekikkan Luhan sukses membuat Sehun yang asik dengan dunia gadget-nya hampir terjungkal.

Sehun menoleh pada Luhan, "kau ini, sengaja ya membuatku jantungan?" Luhan hanya tertawa lalu mulai berjalan yang langsung disusul oleh Sehun.

"Sebentar lagi liburan musim dingin, tapi udara sama sekali belum dingin." Komentar Sehun.

Luhan mengangguk, "hm, musim panas yang panjang." Ia berharap musim panas tidak akan berakhir agar tidak datang musim dingin yang berarti musim kelulusan juga tidak akan datang cepat.

"Apa yang kau lakukan selama liburan nanti?" tanya Sehun.

Luhan menoleh pada Sehun lalu kembali menatap lurus ke depan. "Belajar?" jawab Luhan yang malah terdengar seperti pertanyaan.

Sehun tertawa yang membuat Luhan menatapnya, "benar. Itu kegiatanmu, mengapa aku masih bertanya,"

"Kalau kau, apa yang kau lakukan?" tanya Luhan.

Sehun bergumam seperti sedang berpikir, "tidak tahu, jika memang diperlukan aku akan belajar, jika tidak, ya sudah aku akan berhibernasi."

Luhan mendengus, "sombong sekali!" Sehun tertawa dibuatnya.

"Lalu… kau akan melanjutkan ke universitas?" tanya Luhan lagi.

Sehun mendesah berat mengingat kenyataan yang satu itu, mereka masih harus melanjutkan pendidikan. "Tidak mungkin tidak,"

"Lalu, di mana? Sudah ada rencana?"

Sehun tertawa, "untuk apa merencanakannya. Aku hanya tinggal menerima keputusan kedua orangtuaku, meski aku tidak menginginkannya."

Luhan menoleh pada Sehun, mereka berdua berada di posisi yang sama. Mereka tidak di posisi yang bisa mengutarakan pendapat. "Memanya apa yang kau inginkan?"

"Aku ingin…" Sehun memindahkan posisinya ke depan Luhan lalu merunduk, menyejajarkan dirinya dengan Luhan. "…kau"

Mata Luhan membulat, pipinya memerah, "y-ya! Jangan bercanda, ish!" Luhan memukul pundak Sehun yang langsung membuat Sehun merintih. Luhan terkejut, "mi-mian, apa sakit?" wajahnya khawatir melihat Sehun kesakitan.

Tiba-tiba raut Sehun berubah, ia tertawa melihat betapa paniknya Luhan. "Gwaenchanha, sudah tidak sakit lagi."

"Ish! Jangan menakutiku!" kesal Luhan.

Sehun kembali ke samping Luhan lalu memaskkan kedua tangannya ke saku. "Aku ingin menjadi dosen,"

Luhan lebih terkejut dengan pernyataan Sehun barusan, ternyata Sehun memiliki impian yang benar-benar diluar ekspektasinya. Dosen, itu adalah impian yang hebat dan berkelas, menurut Luhan. "Wow, impianmu, kau pasti bisa melakukannya. Kau peringkat satu kan?"

Sehun tertawa setelahnya, "tidak akan mungkin bisa. Mau aku di peringkat manapun aku tidak akan pernah bisa."

"Orangtuamu?" tebak Luhan.

Sehun mengangguk, "mereka menginginkanku menggantikan Appa di perusahaan."

Luhan tidak merasa itu salah, "bukankah bagus? Dan juga lebih baik melakukannya dengan keluarga?"

'Keluarga?' Sehun tertawa miris dalam hati. "Ya karena impianku itu berada di perguruan tinggi, bukan di perusahaan, Momchongi!" kekeh Sehun.

Luhan menutup rapat-rapat bibirnya, benar, ia lupa mengenai keluarga Sehun. Sepertinya Sehun tidak suka berada di dekat keluarganya yang sekarang. Sehun belum mengetahui jika Luhan mengetahui situasi keluarga Sehun. Ditengah keluarga yang seperti itu Sehun masih memiliki impian yang sangat jelas, hanya saja tidak mungkin mewujudkannya. Setidaknya Sehun dapat merasakan memiliki sebuah impian, sedangkan Luhan tidak pernah tahu apa yang menjadi keinginannya. Ia seperti orang buta yang hanya bisa dituntun. "Sepertinya memiliki impian itu menyenangkan,"

"Lalu apa impianmu?" tanya Sehun.

"Aku tidak memilikinya,"

"Bukan tidak memiliki, hanya saja belum. Kau belum menemukan jawaban atas impianmu. Kalau begitu cukup pikirkan apa yang ingin kau lakukan saat ini, itu salah satu proses mencapai impianmu."

"Benarkah? Meski aku tidak tahu?"

Sehun mengangguk, "selama melakukannya sesuai apa yang kau sukai,"

"Kalau aku tidak menyukainya?"

"Pikirkan saja konsekuensi dari dua sisi. Yang terbaik bukan berarti yang kau sukai. Itu juga bukan penghalang impianmu, tetapi semacam rintangan mencapai impian yang terbaik?" Jawab Sehun.

Luhan tertawa, "benar juga, rintangan–"

Saat keduanya hendak memasuki gedung sekolah, langkah Sehun terhenti ketika Luhan tiba-tiba berhenti mendadak dengan tubuh yang menegang. Mata Sehun menangkap sosok di depan sana, sosok yang ia kenal. Sehun menoleh pada Luhan untuk melihat keadaan gadis disebelahnya.

"Ma…Mama…"

.

.

Luhan turun dari mobil dengan perasaan campur aduk. Ia kembali melihat amplop putih yang diberikan Mama-nya. Waktu seakan cepat berlalu dan sepertinya sebentar lagi ia harus mempertanggungjawabkan apa yang telah ia putuskan.

Luhan menghela napasnya dalam diam, kepalanya menengadah, menatap langit yang sama sekali tak mendukung hatinya. Burung-burung yang terbang bebas dengan kicauannya membuat Luhan tersenyum miris, bahkan burung membuatnya iri karena kebebasan yang mereka miliki. Ia kembali memikirkan ucapan Mama-nya…

..

"Bukalah…" Mama-nya memberikan amplop putih besar bertuliskan nama salah satu perguruan tinggi di Inggris. Luhan menerimanya dan dengan tenang mengeluarkan beberapa berkas dari sana. Rasanya ia ingin menangis saat ini melihat persiapan yang telah dilakukan sang ibu.

"Kau menyukainya?" tanya Mama-nya.

Luhan memasukkan kembali berkas tersebut lalu menatap Mama-nya, "Luhan sudah berjanji, jadi tidak masalah apapun itu, Ma…" ia memaksakan senyumnya.

Yuri memeluk anaknya, "geurae… terkadang kau harus merelakan sesuatu untuk hal yang besar dan lebih baik. Kau akan baik-baik saja Luhan."

Luhan mengigit bibir bawahnya sambil menahan air mata menyebalkan yang memberontak ingin bebas. Ia mengangguk lemah.

..

"Aku akan baik-baik saja kan?" gumam Luhan. Ia memejamkan matanya, angin berhembus mengacak tatanan rambutnya. 'Sehun, pilihanku sudah benar kan?' gumam Luhan dalam hati. Sembari meyakinkan dirinya, Luhan melangkahkan kakinya kembali ke sekolah.

Seseorang menarik tangannya lembut, ia dihadapkan dengan wajah seseorang yang baru saja ia pikirkan. Sepertinya pikirannya telah membuat sebuah halusinasi padanya. Itu yang dipikirkannya.

"Luhan…" yang disebut namanya tersenyum tipis mendengar bayangannya bisa memanggilnya dengan lembut. "Gwaenchanha?"

Seperti tersadar dari hipnotis, Luhan tersentak, ia mengerjapkan matanya, "Sehun!" pekik Luhan.

Sehun menggelengkan kepalanya, "sebenarnya apa yang kau pikirkan hingga seseorang menarikmu kau tidak sadar, eoh?" Ia melirik amplop putih yang Luhan pegang, "apa itu?–"

Luhan tersentak ketika menyadari amplop putih itu masih di tangannya, "bu-bukan apa-apa, tadi Mama memberikannya padaku," lalu dengan cepat Luhan membuka tasnya dan memasukkan amplop itu.

Sehun menatap Luhan penuh tanya, sepertinya Luhan menyembunyikan sesuatu darinya. "Apa yang dikatakan Mama-mu mengenaiku?" tanya Sehun.

"Tentu saja ia tidak suka, ia hanya memintaku untuk tidak terlalu dekat denganmu." Jawab Luhan, kemudian ia tanpa sadar mengigit kecil bibir bawahnya. Ia khawatir dengan respon Sehun.

Sehun mengangkat satu alisnya, merasa heran, "hanya itu?"

Luhan menatap kesal pada Sehun, "lalu kau mengharapkan apa Oh Sehun?"

Sehun menyunggingkan bibirnya tiba-tiba, ia menggeleng, "aniya, berarti tidak masalah. Jangan terlalu dekat denganku…" Luhan mengerutkan keningnya, merasa khawatir, "…biar aku saja yang dekat denganmu– aw!" Sehun mundur selangkah akibat pukulan Luhan. Setidaknya ucapan Sehun membuat Luhan bernapas lega karena ia sungguh takut jika Sehun menjauhinya dengan alasan lainnya.

"Kau ini senang sekali memukulku" kekeh Sehun.

Luhan mendelik pada Sehun, "kau yang memulai!" setelah mengatakannya, ia menghentakkan kakinya lalu mendahului Sehun yang masih tertawa. Luhan berhenti, berbalik menghadap Sehun. "Aku membencimu!"

"Oke, aku juga menyukai– hmppt!" Luhan dengan segera membekap mulut Sehun agar tidak berteriak hal yang memalukan seperti waktu itu.

"Kau mau kita dibicarakan lagi?!" bisik Luhan ketus.

Sehun menghirup udaranya dengan rakus saat tangan Luhan tidak lagi membekapnya, "kau ingin membuatku mati eoh?"

"Ya, kalau bisa sih…" balas Luhan lalu berlari meninggalkan Sehun. "Yang terakhir sampai di kelas harus meneraktir!" pekik Luhan lalu melanjutkan larinya.

"Ya! kau licik!" teriak Sehun lalu menyusul Luhan dengan kekuatan penuh.

Luhan tertawa saat berhasil mencurangi Sehun. Ia menoleh ke belakang, Sehun masih jauh di belakangnya. Jantungnya berdebar, sesuai langkahnya yang ringan. Ia sudah memutuskan untuk bahagia walau hanya seperkian detik, asal itu bersama Sehun.

.

.

to be continued-

.

.


Haaalloo semuaa~~ gimana nih sama chapter kali ini? hayoo... pada penasaran gak gimana kelanjutannya kkkk. Tunggu chapter selanjutnya yaa ^^

..

Balasan review

#LuVe94: ditunggu ya badainya? kkkk kangen nie sama mas pereman (?) hihi. Makasi ya udah setia menunggu mumumu ;) semangat nih! gomawo ^^

#Phe19920110: cieciee... ^^ gomawo udh setia baca dan review ^^

#AsaHunHan: eh, sependapat kita si Kai bukan lagi kerennya TT kkkk. Sepertinya gimana tuh nasib Luhan :( gomawo yaa udh setia selalu buat baca dan review ^^

..

Okehh sekian dari akuuu, maap ini bener-bener up disela" waktu hihi. Gamsahamnida semuaa, mohon reviewnya ^^

*loveforHUNHAN yeayy!