Naruto © Masahi Kishimoto

Pairing; Narusasu


Pukul lima sore hari ini, akhirnya Naruto memutuskan untuk kembali bekerja.

Di samping karena tangannya sudah hampir pulih, ia juga merasa harus mengawasi Sai dari jarak dekat. Sekretaris bos bilang bahwa kemarin saat ia absen, ternyata Sai masuk kerja dan melakukan pekerjaannya dengan baik sebagaimana biasanya.

Naruto menyayangkan, mungkin kalau Sai tidak 'sakit' pria itu akan dapat predikat ulet bekerja. Sai selalu rapi mengerjakan edit-mengedit surat kabar seperti seorang pro.

Jari Naruto sudah menempel di sensor presensi saat ia merasa bulu kuduknya berdiri. Ia melompat melihat Sai ada di belakangnya dengan senyum yang manis.

"Wah, akhirnya kau masuk kerja setelah bolos berhari-hari," kata Sai dengan polos.

Naruto bergeser ke samping, Sai melakukan scanning sidik jari sambil menyeringai ke arah pria blonde itu.

"Ada apa? Kau menungguku?" ia bertanya.

"Aku heran kau masih bisa tertawa."

Sai mengangkat bahu. "Karena suasana hatiku sedang bagus. Hei, bagaimana keadaan Sasuke?"

Dahi Naruto mengerut, berusaha untuk tidak terpengaruh.

"Aku diam-diam membuat janji dengannya, kau tahu tidak?"

Naruto tidak menjawab.

"Hm, tidak tahu ya? Aku tidak menyuruhnya bungkam sih, aku hanya berkata bahwa kami sekarang pacaran dan harus melakukan sex."

"Kau—"

"Hei, santai, Naruto-kun!" Sai menahan tinju Naruto dan menyingkir ke samping. "Sudah kubilang matamu itu menyeramkan kalau marah."

Setelah tangannya turun sembari menahan amarah, Naruto memikirkan kata-kata itu. Sebelum Sasuke melakukan perjalanan bisnis, ia sama sekali tidak melihat Sasuke pergi keluar. Apa perjalanan bisnis itu hanya alibi untuk berbohong dan Sasuke diam-diam menemui Sai?

"Jangan terlalu dipikirkan. Kau memang punya nyawa yang banyak, tapi Sasuke sangat takut kau mati."

"Apa maksudmu?"

"Maksudku? Tidak ada." Sai melontarkan jawaban tak acuh sambil berlalu pergi dari ruang presensi.

Naruto mengikutinya dengan murka. Ia menarik bahu Sai saat berhasil menyamai langkahnya.

"Aku sedang bicara padamu! Apa?! Apa yang kau lakukan pada Sasuke?"

"Kami hanya mengobrol untuk nostalgia. Lalu kami sepakat untuk menjalin hubungan." Sai berkata enteng. "Kalian sudah putus, bukan?"

Ruangan mereka bekerja telah dibuka dan keduanya masuk. Naruto membanting pintu di belakang mereka. Ia tahu tindakan itu pasti akan didengar semua orang di kantor, tapi ia sama sekali tak peduli.

Kesabaran Naruto sudah habis dan ia segera mencengkeram kerah kemeja Sai untuk kemudian mendorongnya menabrak tembok. Pria itu terlihat kesakitan, menatap Naruto dengan mata yang tertutup sebelah.

"Kau benar-benar kasar." Sai menyingkirkan tangan Naruto dengan mudah.

Pria itu dengan santai berjalan menuju kursi untuk duduk di sana, menikmati bagaimana keberhasilannya membuat Naruto kembang kempis.

"Bukankah menurutmu sayang sekali kalau Sasuke harus terjebak dengan orang kasar sepertimu? Kau harus berubah, Naruto-kun!"

Ini pasti pancingan lagi, Naruto tahu itu. tapi amarahnya tidak bisa ditahan ketika tinjunya melayang.

Sai jatuh ke bawah, dan kursi yang didudukinya bergeser jauh. Naruto meraih kerah bajunya lagi. Memukulnya berkali-kali sampai pipi Sai membiru. Beberapa benda jatuh saat Sai ditarik berdiri dan dilempar sembarang arah. Amarah Naruto nampaknya belum reda, sebab ia mendekati Sai dan terus saja memukulnya.

Tiba-tiba suara tawa menghentikan gerakannya. Naruto terheran-heran karena tawa itu berasal dari Sai, dari bibirnya yang sobek dan mengeluarkan darah. Naruto akhirnya bangun. Membereskan bajunya yang kusut seolah-olah tak terjadi apa pun.

"Semua pukulan itu aku hadiahkan padamu karena berani menyebut nama Sasuke," kata Naruto dingin.

Setengah tubuh Sai sudah babak belur, ia merangkak bersandar di tembok. "Heh, pukulanmu tidak sakit sama sekali, seperti pukulan wanita."

Pria itu bangun dengan tertatih.

Sementara Naruto berusaha untuk tidak tersulut emosi lagi, ia hampir lupa ruangan mereka terdapat CCTV di ujung dinding. Dengan tenang ia menarik kursinya yang terlempar jauh. Duduk.

Dari belakang rupanya Sai menerjang dan memutar arah roda sehingga mereka bertatapan. Naruto berniat mendorong, tapi sebelum itu terjadi, lehernya dicekik dan ujung pisau mengarah pada bola matanya.

Sial! Sejak kapan Sai mengeluarkan pisau?!

"Meskipun kau berusaha, Sasuke tidak akan pernah jadi milikmu," kata Sai jenaka. "Kau tahu kenapa? Karena masa lalunya masih bergantung padaku, dan dia tidak pernah bisa lepas. Aku mendukung hidupnya dari belakang semenjak kami berpacaran, tanpa aku, dia hanya raga kosong."

Pupil mata Naruto mengecil saat pisau dihunus makin dekat. Sedikit saja ujung benda itu bisa melubangi matanya.

Lalu Sai tertawa, lagi-lagi seperti pria yang tak waras yang puas. Kakinya mendorong kursi Naruto dengan kuat. Kemudian mundur tak peduli. Namun nampaknya ia tahu pergerakan Naruto karena saat pria itu murka dan bermaksud balik menerjang, Sai mengacungnya pisau dengan percaya diri dan menggoreskannya di lengan kiri Naruto.

"Ups, aku sengaja." Sai memainkan pisau di tangannya sehingga darah terciprat ke mana-mana, lalu menjilat darah itu dengan lidahnya. "Apa luka itu cukup untuk membungkammu?"

Auranya menjadi gelap seketika. Naruto didorong jatuh. Keadaan sekarang berbalik karena Sai duduk di atas perutnya dan Naruto dicekik kuat-kuat dengan kedua jempol Sai sampai wajahnya pucat.

Tubuh Sai sebenarnya kurus, Naruto tak menyangka pria itu punya tenaga besar seperti ini. Selain mengicar nadi di leher, Sai rupanya sengaja beberapa kali mencengkeram luka yang dibuatnya seghingga Naruto tak berkutik. Kedua titik yang diincar benar-benar pusat lemah saat ini.

Tiba-tiba Sai melepaskannya. Naruto terbatuk-batuk mangais udara. Namun ia belum bisa bernapas lega karena saat itu Sai mengangkat pisaunya tinggi-tinggi, seperti ingin menikamnya dari atas. Naruto secara refleks menendang dadanya dan Sai tersungkur ke samping.

Pada saat yang sama, pintu ruangan mereka terbuka dan beberapa orang menarik Sai saat pria itu kembali berusaha untuk menikam jantungnya.

"Lihat, kau akan mati dengan pisau ini?!" Sai terlihat tak memberontak saat ditarik mundur. Tertawa menghunus pisau dan terus meracau. "Kalau aku tak membunuhmu, aku akan membunuh Sasuke! Oh, tidak, tapi dia pacarku. Hahahaha!"

Pikiran Naruto langsung kacau detik itu juga. Ia bahkan hampir tidak peduli dengan luka di lengannya. Baru saat Shion menyentuhnya, ia merintih.

"Lukanya cukup parah," lapornya.

Naruto melirik. "Aku tidak apa-apa."

"Aku seharusnya tidak memberimu izin lagi, tapi lukamu harus dijahit."

"Apa? Tidak perlu. Tidak separah itu."

Ino melotot galak. "Kau harus pergi. Aku akan mengajukan izin. Tidak ada kata tapi, Naruto."

Shion membantunya berdiri. Ia melihat leher Naruto lebam seperti bekas cekikan. Gadis itu tak ingin banyak bertanya dan ia berkata cepat-cepat, "Kau pasti merasa pusing. Kalau kau memaksakan diri, kau tidak bisa bekerja dengan baik hari ini."

Akhirnya Naruto mengalah karena lukanya berdenyut. "Baiklah, Shion. Tolong buatkan izin untukku."

Sepertinya Ino tak akan melepaskannya meskipun Naruto menurutinya begitu saja. "Setelah itu, kau harus menghadap bos untuk memberi penjelasan! Keributan kalian sudah sampai di telinga bos, dan dia yang menyuruhku ke sini."

"Shit!"

"Dilarang mengumpat." Shion menjepit hidungnya. "Mobil kantor akan mengantarmu ke rumah sakit. Jangan mati sebelum lukamu diobati."

Lengan Naruto dipapah dan ia pasrah digiring oleh dua wanita blonde itu ke mobil perusahaan.


Tidak ada siapa-siapa saat Sasuke bangun.

Lukanya tidak sakit, dan dadanya terasa lega. Ia bangun untuk duduk. Meraih air minum di nakas dan minum beberapa teguk. Ia merasa segar bugar seperti di hari-hari sehatnya.

Kemudian, pintu kamarnya terbuka dan Neji masuk. Pria itu tersenyum.

"Kau tidur cukup nyenyak, kukira tak akan bangun sampai besok," pungkasnya. Ia menaruh buah apel yang dibelinya di luar.

Sasuke melihat pakaian Neji sudah berganti, ia merasa lega karena akhirnya Neji pulang ke rumah.

"Jam berapa ini?"

Neji tengah mengupas kulit apel saat menjawab, "Jam lima lewat dua puluh menit."

Kulit apel sudah tuntas dikupas dan Neji memberikannya pada Sasuke dalam bentuk potongan-potongan kecil di piring.

"Karena kau sering mual, jadi aku membelikanmu buah. Makanlah."

"Terima kasih."

"Bagaimana perasaanmu?"

"Lebih baik." Sasuke mengunyah satu potongan apel. Puas dengan rasa manisnya.

"Sudah kuduga membawamu ke dokter psikolog itu tindakan yang pas."

Dahi Sasuke mengerut, tapi tidak berkomentar.

"Aku terkejut karena kau pingsan setelah tiga jam lamanya di dalam sana." Neji angkat bahu. "Tapi dokter itu berkata bahwa kau tidur karena kelelahan."

"Tiga jam? Aku di sana hanya lima menit dan aku tidak suka dengan dokter itu."

Kali ini Neji yang mengerutkan dahi. "Apa maksudmu? Kau tiga jam di ruangan itu."

Sasuke berhenti mengunyah. Ia berusaha mengerti maksud Neji. Tak ada ingatan apa pun yang bisa diraih dalam kepalanya saat mengingat dokter itu. Ia berada di ruangan dokter itu selama tiga jam? Tidak mungkin.

Melihat respon itu, Neji menghela napas. "Tidak usah dipikirkan. Aku tidak akan memaksamu lagi, kalau kau tidak ingin ke sana."

Tak ada respon dari Sasuke. Apel yang sudah separuh dimakan pun tidak menarik minatnya lagi. Sekarang yang tersisa hanya rasa hampa karena kerinduannya pada Naruto. Sedang apa Naruto sekarang? Pria itu tak membalas pesannya sejak kemarin.

Apa Naruto baik-baik saja? Apa Sai melukainya?

Perasaannya tidak enak.

"Kenapa kau berhenti? Apa kau merasa mual?"

Namun, Sasuke tidak menjawab.

Sudah jelas banyak hal yang dipikirkan pria itu, tapi tidak ada yang mau diungkapkannya. Neji ingin memberinya pengertian bahwa menyembunyikan masalah tidak akan menyelesaikan apa pun. Ada banyak hal yang ingin Neji bincangkan jika seandainya Sasuke mau terbuka padanya.

Tentang hal perasaannya—Neji sudah pasrah. Dia hanya akan menyimpannya sendiri tanpa Sasuke tahu dan mengagumi pria itu secara diam-diam.

Neji memandangi Sasuke dan menyadari bahwa wajah pria itu tidaklah sepucat kemarin. "Dokter bilang kau pulih dengan cepat. Kau bisa keluar dari rumah sakit jika kau tidak menunda makanmu."

Sasuke memasukkan apel ke mulutnya.

"Jangan terlalu memikirkan banyak hal, itu juga bisa menghambat kesembuhanmu."

Kali ini Sasuke menatapnya. "Kau sangat mirip dengan, Itachi."

"Aku tidak bisa dibandingkan dengannya. Dia sukses di usia muda."

"Bukan itu ... tapi, kau sama cerewetnya dengan dia."

Neji mengamat-amati Sasuke dengan curiga. "Kalau wajahmu tidak mirip dengannya aku pasti mengira kalian bukan saudara kandung."

"Mungkin kau benar." Sasuke menyuap apel lagi. "Itachi terlalu sibuk memikirkanku sehingga dia menjadi sangat cerewet. Aku mungkin membuatnya menunda untuk punya istri."

Oh.

Memang tahap yang bagus kalau Sasuke mulai terbuka dengannya, tapi topik ini rasanya ... terlalu dalam untuk Neji ikut campur.

"Apa kau tidak pernah melihatnya menggandeng wanita?" tanya Neji, mengambil air dan membiarkan Sasuke minum karena sedikit tersedak.

Sasuke menggeleng.

"Kalau kau ingin yang terbaik untuk Itachi-san, bagaimana kalau kau melakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri?" Neji bertanya dengan nada seumpama tengah bernegosiasi. "Kau harus mulai dari dirimu sendiri. Kau harus tahu apa yang membuat Itachi-san selalu memikirkanmu. Apa kau sering membuat masalah?"

"Lucu sekali."

"Apanya yang lucu? Setiap adik selalu membuat masalah untuk kakaknya."

Neji mengambil kembali gelas di tangan Sasuke dan menaruhnya di nakas. Lalu ia mengambil tisu untuk mengusap bibir Sasuke yang basah.

"Aku pernah berkata bahwa kau itu orang yang tertutup, maksudku, cobalah untuk terbuka dengannya. Dengan kau menutupi masalah, bukankah siapa pun atau aku akan mengira bahwa kau tidak percaya dengan orang lain. Terlebih kakakmu?"

Jauh di dalam lubuk hati Sasuke, ia membenarkan hal itu. Seumpama ada tombol yang ditekan Neji untuk sebuah pengertian yang ditolak oleh dirinya sendiri, atau munculnya sebuah kenyataan yang selama ini dikuburnya dalam-dalam.

Neji sepertinya merasakan bahwa ucapannya entah bagaimana menohok Sasuke. "Oh, tapi semua itu butuh proses, kau tidak perlu terburu-buru."

"Aku mengerti maksudmu."

"Semua ingin kau pulih, Sasuke. Jangan merasa terbebani oleh apa pun." Neji menatapnya dengan penuh keyakinan.

Nampaknya Sasuke memikirkan perbincangan ini lebih dalam dari yang Neji kira—pasien psikiatri biasanya memang lebih peka terhadap banyak hal yang menyentuh hatinya. Semua yang dikatakan Neji bukan semata-mata disampaikan karena pengalaman banyak orang, tapi ia menyatakannya dengan penuh pertimbangan situasi Sasuke. Dia meyakini bahwa bicara akan membantunya.

"Kalau kau tidak keberatan, aku ingin bertanya padamu." Neji membiarkan Sasuke menatapnya terlebih dahulu sebelum ia melanjutkan, "Kenapa kau bisa terluka?"

Sasuke memutar peristiwa menyakitkan malam itu. Bagaimana saat Sai menghimpitnya dan menciumnya. Yang tertinggal hanya rasa jijik.

"Sai." Bibir Sasuke bergetar menyebut nama itu, dan ia tidak melanjutkannya.

"Aku tahu. Maaf."

Neji tidak tahu nama itu, tapi ia tahu kalau nama itu adalah penyebabnya, dan ia harus berhenti. Ia mengambil tangan Sasuke dan mendekapnya.

"Apa kau keberatan kalau aku memberitahu Itachi-san bahwa kau ada di sini?"

Kepala Sasuke bersandar penuh pada bantal di belakangnya. Ia berkata dengan pelan namun tegas, "Jangan katakan apa pun padanya. Jika ada orang yang harus memberitahunya, itu adalah aku."

Ekspresi Neji menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya percaya jika Sasuke akan melakukan itu, tapi Sasuke meyakinkannya dan berkata bahwa ia tidak ingin kakaknya atau Naruto tahu dari orang lain.

Akhirnya apel yang tersisa di piring dihabiskan oleh Neji. Ia memberi jeda untuk semua pertanyaan yang ingin diberikan pada Sasuke, ia takut Sasuke terlalu tertekan jika ia bicara banyak hal.

Melihat Sasuke tidak bergerak sesuai perkataannya, Neji berdeham. "Ponselmu ada di meja."

Sasuke hanya meliriknya. Neji berinisiatif mengambil dan menaruhnya di tangan Sasuke.

"Aku akan keluar untuk melihat apakah ada sesuatu yang bisa kumakan. Kau harus membuat panggilan, 'kan?"

Neji sengaja menekankan kalimat terakhir pada pria itu. Ia segera melintasi ranjang tanpa mendengar jawaban Sasuke dan menutup pintu.

"Sekarang biar dia membuat keputusan," gumamnya.

Akhirnya Neji memutuskan untuk mencari dokter Orochimaru dengan bertanya pada beberapa perawat di lorong dan hampir setiap perawat menyuruhnya untuk ke bagian informasi. Di sana akhirnya Neji mendapatkan jadwalnya. Hari ini dokter psikolog itu punya shift pagi dan jam kerjanya selesai jam lima. Sekarang sudah jam enam, jadi kemungkinan dokter itu sudah pulang.

Karena lapar, Neji menuju ke cafetaria rumah sakit. Sejak kemarin tempat inilah yang menjadi dapur makanan untuk perutnya. Makanannya punya rasa yang standar, tapi masih bisa diterima oleh lidahnya. Biasanya Neji terlalu pilih makanan, tapi ia tidak mungkin meninggalkan Sasuke sebab pria itu masih sendirian di sini.

Saat memesan makanan rupanya ia kebetulan melihat dokter Orochimaru sedang memesan juga.

"Dokter," tegurnya.

Dokter itu menoleh, tersenyum singkat. "Hai."

Sudah jelas itu senyum formalitas. Neji yakin dokter itu tidak mengingatnya. "Kau belum pulang? Apa kita bisa berbincang?"

Orochimaru terdiam sebentar, lalu berkata, "Tentu."

Mereka duduk berseberangan di satu meja. Menyantap makanan mereka terlebih dulu tanpa ada siapa pun yang memotong. Mereka makan dalam porsi sangat sedikit. Sampai Orochimaru berkata, "Ada yang kau butuhkan dariku?"

Neji berdeham. "Pertama-tama aku akan mengenalkan diriku. Aku Hyuuga Neji."

"Hyuuga-san."

"Apa kau ingat dengan temanku yang kemarin melakukan pemeriksaan? Namanya Uchiha Sasuke."

Seperti ada klik di kepala sang dokter. "Ah, aku ingat. Anak muda yang cukup tampan."

Neji tersenyum dengan komentar itu. "Bagaimana keadaan mentalnya? Apa itu buruk?"

"Uchiha-kun baik-baik saja. Ada tiga tahapan yang biasanya aku pakai untuk mengukur kondisi pasien. Dia berada di tingkat tengah." Dokter itu tersenyum. Matanya yang seperti ular berkilat. "Mengenai pemeriksaan kemarin, sebelumnya aku ingin minta maaf padamu. Aku melakukan hipnoterapi padanya."

"Hipnoterapi?"

"Dia sedang tidak dalam kondisi baik untuk melakukan konseling secara terbuka. Jadi aku tak bisa memaksanya. Jangan khawatir, hipnosis tidak berbahaya. Terapi ini merupakan permainan halus dan bisa membuka ingatan yang ditekan oleh alam bawah sadar tanpa memaksanya."

Neji ingat bahwa Sasuke berkata bahwa ia di ruangan periksa dengan dokter ini hanya selama lima menit, sedangkan kenyataannya Sasuke berada di sana selama berjam-jam. Apa itu artinya ia tidak sadar?

Neji menatap dokter itu. "Apa yang ... diceritakannya?"

Sang dokter terlihat hati-hati mengungkapkannya. "Tidak banyak. Pasien yang menjalani hipnoterapi tidak semua yang dikatakannya itu bisa diandalkan. Yang artinya pasien bisa mendapatkan ingatan palsu di otaknya. Jadi, tidak benar-benar akan akurat seperti konseling biasa."

Neji terdiam.

"Kondisi mentalnya lemah, tapi ada keinginan untuk sembuh pada dirinya. Sementara aku bisa menarik kesimpulan bahwa Uchiha-kun mengalami beberapa gangguan, seperti serangan panik, kecemasan dan kesulitan tidur."

Itachi juga pernah berkata bahwa Sasuke sering mengalami kepanikan jika ia terguncang. Bahkan Neji juga tahu bagaimana saat Sasuke cemas dan ia akan gemetar tiba-tiba.

"Meskipun begitu, kau tetap harus hati-hati." Orochimaru melanjutkan. "Umumnya pasien sepertinya tidak akan sembuh dengan mudah. Asal dia berkeinginan kuat, segala sesuatunya akan bisa diatasi. Sangat penting untuk menghindarinya mengingat kejadian traumatis di masa lalu. Bahkan jika kau ingin membantunya, kau bisa saja membuatnya memburuk jika tak mengerti penyakitnya. Aku tetap menyarankannya untuk terus melakukan pengobatan rutin ke psikolog. Hentikan pemakaian obat secara berkala padanya."

Seharusnya Itachi yang mendengarkan penjelasan dokter ini agar informasi tetap utuh dan akurat. Tapi Neji berusaha mencatat berbagai hal di kepalanya, agar tidak salah langkah.

Dokter itu memberikan kartu nama. "Hubungi aku jika ada pertanyaan. Kau tidak perlu terlalu khawatir karena keadaannya tidak separah apa yang kau bayangkan."

Ketuk sepatu menyadarkan Neji bahwa dokter itu telah pergi menjauh. Ia tidak sempat mengucapkan terima kasih karena terlalu bingung dan cemas.

Neji menuju mesin minuman untuk membeli kopi. Kepalanya agak sakit karena kurang tidur beberapa hari.

"Naruto-kun?" Neji terkejut dan tanpa sadar menegur seseorang yang familier di dekat mesin minuman yang ia sambangi.

"Huh? Siapa kau?"

Pria itu seperti biasa sangat tengil dan tak punya sifat menyenangkan. Neji menggelengkan kepala. Di sisi lain, ia merasa lega.

"Kau akhirnya datang," kata Neji. "Apa Sasuke menghubungimu?"

"Bukan urusanmu."

Dengan tak acuh, Naruto menenggak bir dan meninggalkan Neji, tapi kemudian pria itu menahan tangannya.

"Aku akan menjelaskan situasinya, tolong kau jangan marah," kata Neji.

Kulit di dahi Naruto berkerut. "Apa maksudmu? Situasi apa? Kau tidak perlu mengkhawatirkan Sasuke, dia pacarku."

Neji menghela napas. "Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja kondisinya sedang tidak baik jadi—"

"Tidak baik?"

"Ya, dia terluka dan—"

Kali ini ucapannya dipotong lagi, tapi kerahnya dicengkeram juga. "Apa yang kau katakan? Terluka? Sasuke?"

Sekarang giliran dahi Neji yang berkerut kebingungan. Apa barusan ada ucapannya yang salah?

Atau—situasinya yang salah?

Shit!

Wajah Naruto menggelap. "Di mana Sasuke?"

Neji menggaruk pelipisnya. "Ini bukan seperti yang kau pikirkan."

Sekarang Neji bingung karena ternyata situasinya salah. Naruto tidak datang karena panggilan Sasuke. Sialan. Lagi-lagi ...

"Katakan, di mana Sasuke!" Naruto berteriak tak sabar.

"Lepaskan dulu tanganmu." Neji mendesah saat cengkeraman di kerahnya mengendur. Ia merasa lelah luar biasa secara tiba-tiba. Di depannya, Naruto sudah kembang kempis marah menunggu jawaban. Maka Neji berkata dengan hati-hati, "Aku akan memberikan nomor kamarnya. Berjanjilah untuk menahan emosimu padanya."

Ketika tiba di nomor kamar yang diberitahu Neji, Naruto sangat ketakutan melihat Sasuke tertidur di ranjang. Tetapi saat Sasuke membuka matanya, ia diam-diam merasa lega. Naruto menatapnya dengan ekspresi tertekan, marah, menyesal dan khawatir. Semua emosi itu menyatu di dalam matanya dengan pedih.

Melihat ada seseorang lain di kamar itu, Sasuke membeku. Jari-jarinya gemetar begitu merasakan betapa buruknya situasi ini. Tak pernah terbayangkan apa yang harus ia lakukan jika Naruto datang hari ini.

Dan sekarang pria itu sedang marah.

Naruto tidak mengatakan sepatah kata pun, ia hanya menatap Sasuke. Bahkan Sasuke yang biasanya tegas sekalipun tidak bisa menahan perasaan gugup. Ia tidak hanya berbohong pada Naruto, tapi pria itu juga harus tahu kenyataannya dari orang lain.

Sasuke menunggu sebentar, tetapi ia tidak melihat Naruto akan mengatakan sesuatu dan membuatnya sangat cemas. Ia menggerakkan tubuhnya untuk duduk secara perlahan-lahan, sebuah tangan membantunya dengan lembut.

Setelah yakin Sasuke telah duduk, Naruto meninggikan kepala ranjang dengan remote, tapi kemudian benda itu ditaruh dengan agak terbanting di meja. Suara Naruto berkata dengan agak serak karena emosi kuat yang memenuhi dadanya, "Di mana kau terluka?"

Sasuke menyentuh punggung tangan Naruto lemah lembut. "Naruto, aku ..."

"Jawab pertanyaanku!" Naruto memotongnya dengan suara tidak stabil.

"Dadaku."

Sasuke merasa tidak berdaya dan sangat cemas, ia membiarkan tangan Naruto menyingkap sebagian pakaiannya untuk melihat bagian dadanya. Ia bisa merasakan bagaimana gemeretak gigi Naruto setelah melihat lilitan perban di sana.

"Lukanya tidak terlalu parah, jadi—"

"Aku tidak ingin bicara denganmu." Naruto memotong ucapannya lagi, suaranya benar-benar tegas dan dingin.

Pakaiannya telah ditutup lembut secara hati-hati. Sasuke merasa sedikit kehilangan saat tangan Naruto telah melepaskannya, tapi kemudian pria itu mengambil tisu untuk mengusap lehernya. Meskipun Naruto berkata tidak ingin bicara padanya, pria itu tetap memperlakukannya dengan lembut. Semua gerakannya begitu hati-hati dan penuh perhitungan.

"Di mana pakaian gantimu? Kau berkeringat."

Sasuke melihat Naruto mengobrak abrik nakas di sebelahnya. Ia memberitahu letak pakaian bersih yang disimpan Neji pada sebuah tas. Tiba-tiba Sasuke merasa harus ke toilet, jadi ia menurunkan kakinya ke lantai dan bermaksud berdiri.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Naruto dingin.

Sasuke menjawabnya dengan terbata-bata, "Aku ingin ke toilet."

"Apa kau bisu?"

Kalimat itu membuat Sasuke sedikit tersentak. Ia memang terbiasa dengan nada tinggi Naruto, dan kalau ia merasa sakit hati karena kalimat itu, rasanya sangat tidak pantas. Ia telah membohongi Naruto lagi, jadi ia merasa berhak menerima kemarahan pria itu.

Sebuah tangan menahan pingganggnya dan membantunya berdiri. "Aku bisa berjalan," kata Sasuke.

Selepas Naruto menarik tangannya kembali, Sasuke merasa sedikit kecewa, tapi rupanya pria itu hanya mengambil kantung infusnya dan kembali memapahnya menuju ke toilet. Naruto bahkan tidak keluar dan menemaninya untuk memegang kantung infus. Sasuke ingin protes karena ia merasa ini privasi, tapi ia tidak berani mengungkapkannya.

Sepanjang waktu, gerakan Naruto sangat ringan. Ia mengirim Sasuke kembali ke ranjangnya setelah berganti baju. Melihat piring makanan telah mendingin sedangkan isinya masih penuh, ia berinisiatif meminta makanan ganti. Lalu menyuapi Sasuke sendok demi sendok dalam keheningan.

Setelah membantu Sasuke minum obat, Naruto memerintahkannya untuk tidur.

"Naruto, maafkan aku."

Naruto masih mengabaikannya, dan itu membuat Sasuke tertekan. Dengan pasrah, ia merebahkan kepalanya mencoba untuk tidur. Mungkin karena efek obat yang diminumnya, tak lama kemudian matanya memberat dan ia terlelap. Dalam kegelapan, ia masih bisa merasakan selimutnya disingkap. Ada sentuhan lembut di dadanya, namun bukan untuk menyakiti. Ia juga merasakan sentuhan itu pindah ke kepalanya juga sebuah kecupan terasa di dahinya malam itu.

Karena pengaruh obat-obatan, Sasuke tidur nyenyak sepanjang malam, dan baru bangun keesokan paginya.

Naruto tidak ada di sekitarnya, itu membuat Sasuke berpikir bahwa kehadirannya kemarin hanya mimpi. Ia sedikit kecewa jika itu benar-benar mimpi, tapi kemudian pintu kamarnya terbuka dan pria blonde itu masuk dengan sebuah minuman kaleng di tangan. Pria itu berhenti dan membeku, mereka saling bertatapan.

"Pagi," sapa Sasuke.

Naruto melewatinya tanpa repot-repot menjawab. Ia mengambil gelas dan menuang air ke dalamnya lalu diberikan pada Sasuke.

Artinya sudah jelas, Naruto ingin Sasuke minum. Sasuke tersenyum tipus sebelum akhirnya menenggak air itu sampai habis tak bersisa.

Di saat yang sama petugas yang membawakan sarapan datang dan memberikan piring jatah makan untuk Sasuke. Naruto segera membuka penutup plastiknya untuk melihat menu makanan itu, lalu duduk di kursi plastik untuk menyuapinya. Kegiatan itu lagi-lagi berlangsung dalam keadaan beku. Karena tak tahan dengan keheningan itu, Sasuke kembali mencoba berbicara, ia menyentuh tangan Naruto pelan.

Secara refleks pria itu menarik tangannya kasar.

Sasuke terkejut, begitu juga dengan Naruto yang tak sadar sudah melakukan hal tersebut. Mendesah, ia menaruh baki makanan Sasuke ke nakas dan berdiri.

"Habiskan makananmu," suruhnya.

Sasuke hampir tak bisa mencegah Naruto pergi, sekarang ia merasa terluka. Ia mendesis pelan. "Naruto, kumohon jangan marah lagi."

Naruto tidak menolehkan kepala, ia membuka pintu dan ditutupnya dengan bantingan kuat.

Di luar, ia duduk di kursi tunggu dan memejamkan mata sejenak. Sejak kemarin, Naruto telah menemui dokter yang menangani Sasuke dan mendapatkan informasi terkait lukanya. Dokter itu mengatakan bahwa keadaannya tidak terlalu buruk dan Sasuke sembuh dengan cepat. Pada awal tiba di rumah sakit, pria itu memang datang dengan keadaan yang buruk. Ia mengalami luka sayatan memanjang di dadanya dan mengalami infeksi, tapi setelah dua hari perawatan, kondisinya berangsur membaik.

Jadi, kalau Naruto mengambil kesimpulan, Sasuke telah tiga hari berada di rumah sakit ini. Itu artinya tepat pada hari di mana pria itu pergi bekerja di hari pertama.

Apa yang terjadi saat itu? Apakah Sai menyerangnya saat di perjalanan?

Atau ia dihadang penjahat di jalan?

"Sial! Kepalaku sakit memikirkan ini," keluhnya.

Sudah jelas kenapa ia merasa sakit. Semalaman Naruto terpaksa tidak tidur karena Sasuke mengalami mimpi buruk setiap beberapa jam. Pria itu terlihat sangat menderita dalam tidurnya dan baru tenang begitu Naruto membisikkan kalimat lembut serta menggenggam tangannya. Karena hal ini juga Naruto sampai tak ingat untuk menghubungi Itachi dan memberitahu masalah ini, plus beberapa kali Ino menghubunginya untuk menghadap bos. Malam itu benar-benar kacau.

Sekarang Naruto merasa beruntung karena Sai melukainya. Kalau bukan karena luka itu, mungkin ia tidak akan ada di sini, dan entah kapan ia akan tahu bahwa Sasuke menderita sendirian.

"Dasar Sasuke bodoh," umpatnya.

"Naruto-kun."

Naruto mendongak dan melihat Neji di depannya. Rasa cemburu yang sudah memudar sejak kemarin timbul lagi. Inilah rival pengganggu yang sebenarnya. Mengingat bagaimana Neji begitu beruntung karena ia tahu keadaan Sasuke dan menjaganya sepanjang kemarin, membuat Naruto iri.

Neji duduk dan menaruh kantung kertas yang dibawanya ke kursi. "Kenapa kau ada di luar?"

"Untuk apa kau ke sini? Sudah ada aku yang menjaga Sasuke, kau tidak dibutuhkan lagi." Naruto membuang muka terang-terangan.

Terdengar tawa remeh dari bibir Neji. "Masih kasar seperti biasa," katanya.

"Diam kau!"

"Aku hanya ingin mampir sebentar. Sasuke memintaku membawakan buah, mungkin dia merasa mual." Neji memindahkan kantung plastik itu ke pangkuan Naruto, tapi pria itu diam saja. "Kau tidak ingin menanyakan sesuatu padaku?"

Naruto mengerutkan dahi.

Neji mengangkat alisnya, memberikan pandangan bertanya.

Setelah menurunkan harga dirinya, Naruto memutuskan untuk bertanya, "Siapa yang melukai Sasuke?"

"Aku tidak tahu. Sasuke sudah terluka saat aku menemukannya."

Naruto diam.

"Maafkan aku, tapi Sasuke menghubungiku dua hari yang lalu untuk menjemputnya. Saat aku tiba, dia sudah tak sadarkan diri di dekat mobilnya."

Penjelasan itu membuat Naruto menahan napas. "Apa kau melihat ada yang menyerangnya?"

"Tidak," jawab Neji. "Maksudku, aku tidak melihat sobekan di bajunya. Kemungkinan Sasuke mendapatkan luka itu di hari lain, bisa jadi sehari sebelumnya."

Sebelum hari itu artinya pada saat mereka melakukan sex pertama kali. Seingat Naruto, tidak ada luka apa pun, dan ia hampir tidak meninggalkan sisi Sasuke. Kecuali saat Naruto harus pergi ke onions menjemput Sakura.

Oh?

Jangan-jangan ... apa mungkin saat itu?

"Aku sudah berusaha membujuknya untuk menghubungimu saat itu, tapi ..."

"Aku tahu."

Mengingat bagaimana hal ini pernah terjadi di masa lalu, Naruto tidak heran jika kejadian seperti ini akan terulang. Inilah yang dibenci Naruto dari Sasuke saat ini. Pria itu selalu membiarkan dirinya terluka sendirian di kegelapan.

"Maafkan aku," kata Naruto kemudian, ia terdengar begitu menyesal saat mengatakannya.

Neji mengangkat bahu. "Aku juga minta maaf, seharusnya aku menghubungimu lebih cepat. Sampaikan maafku pada Itachi-san juga."

"Tentu."

Keduanya terdiam.

Kemudian Neji melirik Naruto yang tengah memejamkan mata dan melihat wajahnya sedikit kelelahan. "Bagaimana kau bisa secara kebetulan datang ke sini? Apa kau sedang sakit?"

Naruto menjawabnya dengan gumaman ringan, tidak membuka mata. Ia tidak perlu menjelaskan apa pun tentang keadaannya, karena itu tidak penting.

"Kau baik-baik saja?" tanya Neji, ia tak menyangka tebakannya benar.

"Tenang saja."

Neji mendesah. "Sayang sekali kau harus tahu dengan cara seperti ini."

Naruto membuka mata dan menerawang ke depan. "Biar aku yang memberinya pelajaran nanti."

Neji tahu itu bukan maksud yang buruk. "Jangan terlalu kasar padanya. Dia sangat mencintaimu. Aku bisa melihatnya."

Kalimat itu membuat Naruto menyeringai. Sedikit banyak fakta itu menghilangkan beban rasa cemburu yang sebelumnya mengakar di hatinya. Ternyata Neji tidak seburuk itu. Ia adalah pria yang baik.

Naruto berkata dengan tengil. "Mana mungkin dia tidak mencintai pria tampan sepertiku, bukan?"

"Aku menyesal mengatakannya," Neji mengerutkan kening, lalu melirik jam. "Aku harus pergi bekerja. Kau masuklah, aku tidak menyangka Sasuke memintaku untuk membawakan buah. Mungkin dia benar-benar ingin memakannya."

Memang benar. Orang apatis seperti Sasuke tidak akan repot-repot meminta tolong untuk hal sesepele ini.

Setelah Neji pergi, Naruto membuka kantung besar yang diberikan oleh pria itu. Isi di dalamnya membuat Naruto mengerutkan dahi dalam-dalam dan tertawa miring. Naruto tak habis pikir, karena buah yang diminta Sasuke adalah jeruk.

Lucu sekali, bukan? Itu buah kesukaan Naruto, omong-omong.

"Si bodoh itu."

Naruto akhirnya masuk ke kamar Sasuke setelah lewat jam satu siang. Senyum di bibirnya tak berhenti merekah saat ia membawa kantung buah itu ke mana-mana dengan perasaan lucu dan gembira. Sebelum membuka pintu, Naruto melunturkan senyumnya, ia tidak mau Sasuke menyadari bahwa ia senang karena perhatiannya. Saat ia membuka pintu, di dalam ternyata Sasuke sedang duduk dan melamun.

Kantung buah itu ditaruh di nakas.

"Neji membawakanmu buah. Perhatian sekali. Apa dia pacarmu?" sindir Naruto dengan sengaja.

Sasuke meraih kantung itu untuk melihat isinya. "Neji datang?"

"Kenapa? Kau kecewa karena tidak bertemu dengannya?"

"Apa kau sudah makan?" Sasuke mengalihkan topik, dikupasnya satu buah jeruk. "Aku akan mengupas satu buah untukmu."

Dengan terang-terang Naruto membuang wajah. Duduk di sofa dan memejamkan mata.

Awalnya Naruto hanya ingin pura-pura tidur, tapi tanpa ia sadari matanya memberat dan ia akhirnya tertidur lelap. Tidak tahu sudah berapa lama ia tidur, ketika ia bangun, Sasuke duduk di sofa bersamanya. Selimut membungkus tubuh mereka berdua dan kepala pria itu ada di bahunya. Naruto sedikit menggerakkan tubuh, tangannya terasa kebas. Bagian yang terluka sedikit nyeri dan membuatnya tak nyaman.

Sayangnya, pergerakan itu membuat Sasuke terbangun. Naruto terburu-buru bergerak untuk memeluk Sasuke dari belakang dan menyembunyikan wajahnya.

"Naruto?"

Pelukan Naruto mengencang, pipinya ia tempelnya di bahu Sasuke. "Aku sedang terluka."

Sasuke sangat ingin berbalik, tapi Naruto terus menahannya supaya ia tidak bisa bergerak. Bagian belakang bajunya terasa basah secara tiba-tiba, kemudian ia sadar, Naruto menangis.

"Dobe, kenapa kau—"

"Jangan lihat!" Naruto memotongnya, sengaja mengusap wajahnya yang basah di baju Sasuke.

Pria yang memeluknya itu tampak emosional, seolah-olah ia tengah mengeluarkan semua keluh kesah yang penuh di dadanya. Sasuke dipeluk sampai merasa sesak napas, getaran yang dibuat Naruto menyakitkan hatinya. Sasuke akhirnya mengangkat tangan dan menyentuh kepala pria itu. Ia membuka mulutnya, walaupun tahu bahwa kata-kata tidak akan berguna.

"Maafkan aku." Sasuke menutup matanya, mengusap kepala Naruto saat ia meminta maaf dengan tulus.

Naruto hanya mengencangkan tangannya, seolah ia tidak bisa menahan diri setelah bertahan sepanjang hari. Air matanya terus jatuh membasahi pipinya.

Hati Sasuke sedih mendengar isak tangis pelan itu. Ia mencoba berbalik dan kali ini Naruto mengizinkannya. Tangan Sasuke bergerak susah payah di tengah pelukan Naruto yang tidak lepas. "Maaf. Aku telah berbuat kesalahan. Aku salah. Aku akan memberitahumu jika sesuatu seperti ini terjadi lagi. Kau jangan marah padaku."

"Aku tidak marah padamu." Suara Naruto telah serak dan basah. Ia menenggelamkan kepalanya di leher Sasuke dan mendesah. "Aku sakit hati."

"Maaf."

Pelukannya kembali mengencang. Ia merasakan kepala Naruto mengangguk di bahunya.

Setelah tegang sepanjang hari Sasuke sebenarnya merasa lelah, ia tertidur tepat saat merasakan panas tubuh Naruto di sebelahnya. Awalnya Sasuke hanya ingin menghangatkan tubuh karena ia rindu pria itu. Ia tidak menyangka bahwa Naruto merasakan kelelahan yang sama dengannya.

"Apa kau ingin makan?" tanya Sasuke setelah beberapa saat mereka diam.

Lehernya terasa kebas dan ia ingin sedikit merubah posisi, tapi kemudian sesuatu yang basah mengecup area itu sehingga ia melenguh. Lalu gigitan kecil terjadi di sana, tidak begitu sakit, namun hisapan yang kemudian muncul di sana telah membutakan matanya.

"Dobe ..."

Setelah habis dua hisapan yang menimbulkan bekas seperti lebam, gerakan Naruto terhenti. Pelukannya juga mengendur dan membiarkan Sasuke melepaskan diri perlahan-lahan. Sasuke melihat pria itu menundukkan kepala, sepenuhnya menempel di kepala sofa. Matanya terpejam.

"Sasuke," Naruto membuka sebelah matanya, "tanganku sakit."

Sasuke melihat tangan Naruto mencengkeram lengan kirinya. Ia terlihat kesakitan dan setitik keringat meluncur dari dahi ke lehernya. Sasuke segera memeriksa tangan pria itu dan menarik lengan bajunya, ada perban melingkar di sana dengan cetakan darah yang merembes di sana.

Sasuke menahan napas. Ia segera berlari keluar dan memanggil seorang perawat di depan pintu kamarnya. Karena Sasuke terlihat sangat panik, perawat itu terburu-buru mengikutinya masuk.

Naruto tidak bersuara ketika menyadari ada tangan lain yang menyentuhnya. Setelah beberapa saat lukanya dibebat dengan perban baru. Ia habis diomeli oleh perawat yang menanganinya, katanya tidak seharusnya Naruto banyak bergerak setelah mendapat jahitan. Akhirnya ia terpaksa memakai arm sling untuk menahan gerakannya sementara waktu.

"Kenapa kau bisa terluka?" Sasuke gemetar saat menanyakan ini. Naruto menduga pria itu pasti menduga hal yang tidak-tidak.

"Aku kecelakaan kemarin."

"Bagaimana bisa? Siapa yang melakukannya?"

Sasuke terlihat sangat ketakutan dan panik. Naruto memegang tangannya yang gemetar, kulitnya begitu dingin dan lembab. Wajahnya juga menjadi pucat.

"Aku jatuh karena kesalahanku sendiri. Jangan khawatir." Naruto berbohong.

Rupanya Sasuke masih belum bisa tenang setelah mendengar alasan itu. Ia merasakan ada suatu kejanggalan. Tetapi ia tidak bisa protes karena kalau ia menyebut Naruto berbohong, lalu apa sebutan untuk dirinya sendiri? Bukankah ia juga telah berbohong?

"Kemari," suruh Naruto. "Mendekatlah."

Sasuke menggeser tubuhnya sehingga Naruto bisa menariknya ke dalam pelukan. Ia merasakan tangan Naruto mengusap bahunya dan ia merasakan rasa hangat menyebar ke seluruh tubuh. Mereka bertahan pada posisi itu sampai lelah dan tertidur.

Pintu kamar terbuka setelah beberapa saat dan Sasuke terjaga. Tangan Naruto masih ada di atas tangannya, ternyata mereka tertidur dengan saling berpelukan. Sasuke menyingkirkan tangan Naruto dan melihat seseorang masuk.

"Sasuke!"

Sasuke berdiri kaget melihat Itachi datang dengan napas terengah-engah.

Itachi memegang bahunya, memindai seluruh tubuhnya. "Apa yang terjadi padamu? Di mana kau terluka?"

Sasuke blank. "Kau seharusnya tidak di sini."

Iya, benar. Itachi seharusnya ada di Konoha sekarang, tapi ia tidak peduli lagi.

Melihat selang infus yang tersambung di tangan Sasuke, membuat Itachi berdecak. Ia juga akhirnya melihat Naruto dengan tangan tergantung dan tertidur lelap.

"Oh, Tuhan."

Pandangan mata Itachi begitu nanar, seolah-olah ia siap menghancurkan apa pun yang ada di hadapannya. Sasuke merasa agak tegang.

"Siapa yang melakukan ini, Sasuke?!" Suara Itachi meluncur tidak stabil dan emosional. "Katakan padaku! Siapa yang membuat kalian terluka? Aku akan membunuh orang itu!"


tbc.