Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Freezing: Lim Dall-Young and Kim Kwang Hyun
.
.
.
I Need You, Pandora!
By Hikasya
.
.
.
Chapter 13. Apa yang terjadi?
.
.
.
Arnett dan semua gadis memandang Cassie teliti. Cassie mengerutkan kening seraya tersenyum hambar. Ia berdiri di dekat pintu kamar.
"Kenapa kalian memandangku begitu?" tanya Cassie heran.
"Kenapa kau menerima tantangan Julia?" Arnett balik bertanya sambil mengguncang-guncang tubuh Cassie.
"Memangnya kenapa?"
"Dia itu Pandora terkuat di Jerman. Dijuluki The Maverick and Hero From Walburga."
"Oh, aku baru tahu soal itu."
"Kau tidak takut, Cassie?"
"Tidak. Untuk merebut Naruto, apa yang harus aku takutkan?"
Cassie tersenyum. Arnett menghelakan napas sembari memegang kedua tangan Cassie.
"Salahnya aku tidak ikut kebagian untuk menantangnya," ucap Arnett berwajah kusut, "aku, 'kan juga mau merebut Naruto dari kalian berdua."
"Ah, jangan ikut-ikutan!" seru Cassie berwajah garang sambil mengepalkan kedua tangan.
"Hei, kalian berdua itu sama-sama suka Naruto rupanya," sela Elizabeth.
"Aku baru soal itu," timpal Rana.
"Naruto memang populer, ya," sahut Chiffon.
"Berisik sekali," bisik Satellizer yang sedang terbaring di ranjang.
Gadis-gadis itu ribut sekali. Membuat para Limiter mereka yang berada di kamar bersebelahan, terganggu.
"Apa yang mereka ributkan, ya?" Sasori sedang membereskan pakaiannya.
"Entahlah." Andre, Limiter Elizabeth, menggeleng kuat.
"Sudahlah, aku mau mandi dulu." Kazuya menyandang handuk di bahu dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Semua orang sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Koridor yang semula sepi kedatangan tamu yang tak diundang. Naruto berjalan melewati koridor di lantai enam untuk mencari kamarnya. Ia sempat berpapasan dengan gadis berambut putih-merah yang berpakaian seragam. Mereka saling memandang sekilas saja. Naruto sempat melemparkan senyum padanya.
Naruto dan gadis itu saling menjauh. Laki-laki berpakaian pendeta itu menemukan kamarnya, lalu membuka pintu dengan kunci. Pintu ditutupnya dan menemukan ruangan mewah yang sangat luas. Perabotan lengkap tersedia di berbagai sudut ruangan itu.
"Ah, akhirnya sampai." Naruto langsung meletakkan tas ke dekat ranjang. Ia merebahkan diri di ranjang sembari memandang langit-langit yang bercat biru seperti warna matanya. "Cassie-senpai, apa dia juga sudah sampai di sini?"
Hati Naruto memang mengkhawatirkan Cassie. Sejujurnya selama Cassie selalu mengunjunginya di Gereja, perlahan-lahan menyembuhkan luka di hatinya. Apa lagi Cassie rajin berdoa, dan itu sangat menyentuh jiwanya yang telah jauh dari cinta manusia. Tuhan sudah menunjukkan jalan keluar padanya.
Walau pun awalnya Naruto memegang prinsip ingin mengabdikan diri sebagai pengikut Tuhan, tetapi sisi kemanusiaannya tidak tega melihat Cassie yang berusaha keras mendapatkan cintanya lagi. Ia merasa bersalah saat memandang Cassie yang menangis. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain tersenyum pada Cassie.
Naruto penasaran, lalu bangkit dari rebahan. Ia keluar untuk mencari keberadaan Cassie. Saat ia naik lift, tombol lantai lima menyala, menandakan ada seseorang yang akan masuk ke lift.
Lift berhenti. Naruto melihat ada gadis berambut biru gelap yang masuk bertepatan pintu tertutup. Gadis itu membelalakkan mata saat bertemu dengan Naruto.
"Naruto!" seru Julia terpaku. Ia memandang penampilan Naruto dari atas sampai bawah, "kau menjadi Pendeta sekarang?
Naruto tersenyum, tanpa mengangguk atau menggeleng. Julia hendak mendekatinya, tetapi Naruto mengatupkan jari-jari tangannya untuk menandakan tidak bisa didekati oleh siapa pun. Gadis itu terdiam selama lift berjalan sampai ke lantai satu.
Ketika tiba di lantai satu, Naruto dan Julia keluar dari lift. Mereka berpisah karena Julia dipanggil laki-laki berambut perak yang berdiri tak jauh darinya. Julia pun terpaksa mendekati Limiter yang menunggunya itu.
Di ruang lobi, Naruto berjalan santai di antara keramaian. Ia tidak menduga bertemu dengan Julia lagi. Hal itu tidak membuatnya terganggu karena tidak ada tempat lagi untuk Julia di hatinya. Mata biru Naruto menelusuri setiap sudut tempat untuk mencari keberadaan Cassie.
Banyak gadis berpakaian seragam sekolah yang berbeda. Mereka ditemani para Limiter, sempat memandang Naruto yang lewat. Naruto melemparkan senyum pada mereka sehingga ada beberapa gadis terpukau padanya. Tapi, sosok Cassie tidak ada di antara mereka.
Cassie-senpai ada di mana, ya? Semua Pandora dan Limiter dari seluruh dunia berkumpul di sini. Aku mendengar mereka akan menghadiri acara yang diselenggarakan oleh pihak Chevalier itu.
Naruto mengetahui ada acara perkenalan anggota-anggota E-Pandora dari resepsionis sewaktu melakukan check-up. Karena itu, kekhawatiran Naruto semakin menjadi-jadi saat mengingat perkataan Cassie, kemarin.
"Aku pergi bukan meninggalkanmu lagi, tetapi tugas dari Ibu Mei. Ada proyek E-Pandora yang dibentuk sebuah organisasi Chevalier. Semua gadis muda yang mengikuti proyek itu berakhir menjadi Nova, meninggal, dan bahkan mengalami cacat mental serta fisik. Kami Pandora dan Limiter yang diutus akan menyelidiki apa yang terjadi di sana. Jadi, aku mengatakan ini padamu agar kau tidak salah paham lagi padaku," lanjut Cassie memegang pergelangan tangan kirinya, "aku akan kembali ke sini lagi setelah urusan di sana selesai. Kuharap kau menjaga dirimu baik-baik di sini sebelum aku kembali. Naruto, percayalah, aku akan selalu mencintaimu."
Naruto berhenti berjalan di dekat pintu utama. Banyak orang yang keluar-masuk di sana. Wajah Naruto terlihat suram dengan sorot mata yang sayu.
Aku tidak bisa tenang sebelum mengetahui apa yang terjadi, batin Naruto lagi. Ia menunduk, membayangkan wajah Cassie setiap mengingat Tuhan. Hal itu terjadi ketika ia membaca novel karangan Cassie dan menemukan surat di dalamnya.
"Cassie! Tunggu! Kau mau kemana?" Sayup-sayup terdengar suara Arnett yang hinggap di gendang telinga Naruto. Membuat Naruto menoleh ke belakang dan menemukan dua sosok gadis yang berlarian di antara keramaian.
"Jangan kejar aku!" Cassie kalang kabut karena akan dihajar Arnett.
"Kau harus merelakan Naruto untukku!"
"Tidak mau!"
"Cassie! Aku tidak akan pernah berhenti mengejarmu sampai..."
Tiba-tiba, Arnett berhenti berlari karena melihat Naruto. Kedua matanya terbelalak dengan mulut yang terbuka. Cassie juga berhenti lari, nyaris menabrak Naruto. Semua orang memperhatikan mereka.
"Na ... Naruto!" ucap Cassie dan Arnett kompak. Naruto tersenyum menanggapi perkataan kedua gadis itu.
"Naruto, kamu." Arnett menunjuk Naruto dari atas sampai bawah. "Kenapa kau berpakaian seperti ini?"
"Naruto sudah menjadi Pendeta sekarang," ungkap Cassie tersenyum sambil mengerling Arnett yang berdiri tak jauh darinya, "kau tidak akan bisa mendekatinya, Arnett-senpai."
"Siapa bilang? Lihat saja, aku akan merebut Naruto darimu!"
"Aku tidak akan membiarkanmu!"
Cassie dan Arnett saling memandang tajam, tidak mempedulikan keadaan sekitar. Naruto tetap tersenyum, lalu bergegas melangkah meninggalkan mereka. Perasaannya sudah lega karena sudah mengetahui Cassie ada di sini.
Syukurlah, kau baik-baik saja, Cassie-senpai, batin Naruto lagi. Ia masuk lift yang terbuka karena ada beberapa orang yang keluar dari sana. Cassie dan Arnett tersentak karena menyadari Naruto tidak ada di dekat mereka lagi.
"Lho, Naruto mana, ya?" Cassie celangak-celinguk.
"Pasti Naruto naik lift." Arnett buru-buru berlari menerobos keramaian.
"Hei, tunggu! Aku ikut, Arnett-senpai!"
Cassie berlari mengejar Arnett. Mereka memilih jalan pintas melewati tangga agar bisa mendahului Naruto. Naruto sudah tiba di lantai enam tanpa bertemu siapa pun lagi. Langkahnya terayun santai sampai ke kamarnya.
Tiba di lantai lima, Cassie dan Arnett kehilangan jejak Naruto. Mereka berpikir di lantai berapa Naruto menginap. Hal itu membuat mereka saling pandang.
"Kamar Naruto di mana, ya?" tanya Arnett linglung.
"Aku tidak tahu," jawab Cassie menggeleng pelan, "kalau aku bertemu dengannya lagi, aku akan menanyakannya."
"Aku juga akan bertanya hal yang sama."
"Dasar, peniru!"
"Apa katamu?"
"Karenamu, hubunganku dengan Naruto retak! Aku membencimu, Arnett-senpai!"
Cassie menunjuk muka Arnett dengan muka yang menyeramkan. Sorot matanya menajam seperti silet. Cukup membuat Arnett terdiam dengan kedua netra yang membulat.
Cassie, batin Arnett. Cassie pergi meninggalkannya dengan perasaan yang dongkol.
.
.
.
Julia berpisah dengan Limiter-nya saat di koridor lantai lima. Limiter masuk ke kamar, sedangkan Julia masih bertahan di depan kamar rombongan Pandora Jerman. Gadis berambut biru gelap yang diikat satu itu, berpikir akan mencari Naruto sekarang juga. Jiwanya menuntun tubuh untuk melangkah pergi menuju lantai satu.
Tiba di lantai satu, Julia bertanya pada gadis resepsionis. Dari sana, ia mendapatkan informasi keberadaan kamar Naruto. Senyuman terukir di wajahnya ketika berterima kasih pada gadis resepsionis itu. Kemudian Julia melesat pergi naik lift ke lantai enam.
Julia menyusuri koridor lantai enam. Matanya menelisik setiap plat nomor yang tergantung di pintu kamar yang berjejeran di sisi-sisi koridor. Akhirnya menemukan nomor yang dicarinya hingga mengukir senyum di parasnya.
"Naruto, aku tidak sabar ingin berbicara denganmu," gumam Julia seraya berdiri di depan pintu kamar Naruto. Ia menghelakan napas beberapa kali, lalu mengetuk pintu dengan keras.
Naruto baru saja selesai berpakaian karena sehabis mandi, menyadari pintu kamarnya terbuka. Ia pun berjalan santai membuka pintu.
Julia terpaku saat memperhatikan penampilan Naruto. Rambut Naruto lusuh dan basah. Pakaian kasual membungkus tubuh Naruto. Senyuman terukir di wajah laki-laki itu.
"Naruto," ucap Julia dengan kedua pipi yang memerah karena terpesona, "kau sangat berbeda sekarang."
Hanya senyum yang tetap ditunjukkan Naruto. Menimbulkan pertanyaan di otak Julia. Terbersit perasaan bersalah di hati gadis itu. Menuntunnya untuk menunduk.
"Naruto, maafkan aku karena aku meninggalkanmu dan memilih Limiter lain. Setelah peninggalanmu, aku baru sadar aku tidak bisa kehilanganmu. Aku berharap kau menjadi Limiter-ku lagi karena aku ... mencintaimu," lanjut Julia dengan netra yang berkaca-kaca.
Senyuman tidak pernah hilang dari sang Pendeta. Tidak ada sepatah kata pun meluncur dari mulutnya. Walau pun Julia menunggunya lama sekali pun, tidak akan bisa mendengar suaranya.
"Naruto, kenapa kau diam? Apa kau marah padaku? Cepat katakan sesuatu!" Julia menggeram kesal. Wajahnya mengeras dengan sorot mata yang tajam. "Kau selalu tersenyum. Apa kau sudah tidak bisa berbicara lagi?"
Naruto tersenyum lagi. Julia semakin emosi melihat ekspresinya itu. Hatinya pun meledak marah bagaikan bom atom.
"Naruto, kau menyebalkan!" Julia berteriak keras.
"Julia-senpai, hentikan!" Tiba-tiba, muncul suara gadis yang lebih keras dari suara Julia.
Naruto dan Julia memandang ke asal suara. Gadis berambut hijau tosca datang mendekati mereka. Cassie mengetahui kamar Naruto karena bertanya pada gadis resepsionis, beberapa menit yang lalu. Naruto tersenyum sehingga membuat wajahnya memerah. Cassie pun tersenyum malu.
"Naruto tidak mau berbicara pada orang lain. Dia hanya mau berbicara pada Ayah angkatnya yang juga seorang Pendeta," jelas Cassie menatap Julia dengan tajam, "dia juga tidak bisa disentuh karena dia suci. Cintanya hanya untuk Tuhan, tidak ada cinta untuk manusia. Dia menjadi seperti ini karena aku yang meninggalkannya."
Julia terdiam, kemudian balik menatap Cassie dengan tajam. "Dari mana kau tahu tentang hal itu?"
"Aku mengunjunginya setiap hari di Gereja yang menjadi tempat tinggalnya sekarang. Dari sanalah, aku mengetahuinya."
"Oh, begitu. Kau sama saja denganku. Kita sama-sama telah meninggalkannya."
"Ya. Tapi, Naruto sudah memaafkan kita. Benar, 'kan, Naruto?"
Naruto tersenyum lagi. Itu sudah cukup menjadi jawaban yang dimengerti Cassie dan Julia. Kedua gadis itu terpaku saat melihat Naruto.
"Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya membuat Naruto mencintaiku lagi," kata Cassie dengan kedua alis yang melengkung ke atas, "padahal segala cara sudah kulakukan untuknya."
"Kau berusaha keras untuk mendapatkannya lagi, Cassie?" balas Julia mengerutkan kening.
"Iya. Tapi, dia tidak bisa ditaklukkan lagi."
Cassie menghelakan napas berat sambil meraih kalung yang tersembunyi di balik bajunya. Naruto memandang kalung salib yang dikeluarkan Cassie. Cassie mengurung salib kecil di dalam jari-jari tangannya yang mengatup. Kepalanya tertunduk seiring berdoa pada Tuhan untuk bisa menenangkan hatinya. Naruto dan Julia tertegun.
Cassie, apa yang dia lakukan? Batin Julia yang tidak mengerti. Usai itu, Cassie tersenyum pada Naruto. Wajahnya semringah tetapi matanya sayu.
"Tapi, aku senang karena kau datang ke sini, Naruto," ujar Cassie dengan nada riang, "aku permisi dulu. Sampai nanti."
Cassie beranjak pergi, tetapi Julia menangkap tangannya. Kepala dan badan Cassie berputar menghadap Julia.
"Ada apa lagi?" Dahi Cassie mengerut.
"Apa kau tidak mau berusaha mendapatkan Naruto lagi?" Julia juga mengerutkan jidat.
"Tentu. Aku masih berharap mendapatkannya, tetapi aku tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menghancurkan hatinya yang sekeras batu."
"Kalau begitu, kita bersaing sekarang untuk mendapatkan Naruto. Pertarungan di antara kita, tetap akan dilakukan nanti."
"Soal itu, aku sudah siap kapan saja."
Cassie tersenyum sembari menepis tangan Julia dari tangannya. Bertepatan Naruto menutup pintu sehingga kedua gadis itu tersentak.
"Naruto, aku belum selesai berbicara!" Julia menggedor-gedor pintu kamar Naruto, sementara Cassie menyelonong pergi. Naruto tidak mempedulikan kemarahan Julia, justru menyelimuti dirinya dengan kain saat merebahkan diri di ranjang. Ingin tidur karena merasa lelah.
.
.
.
Pintu kamar terbuka. Arnett yang baru saja habis mandi, melihat Cassie yang menutup pintu. Rambut Arnett ditutupi handuk, sementara tubuhnya sudah dibalut pakaian kasual.
"Hei, kau dari mana Cassie?" tanya Arnett penasaran.
"Itu bukan urusanmu, 'kan?" jawab Cassie sinis.
"Aku bertanya baik-baik padamu, tetapi kau malah menanggapinya dingin."
"Aku mau mandi."
Cassie segera mengambil handuk dari koper miliknya yang terletak di dekat ranjang. Arnett yang berdiri tak jauh darinya, memandangnya lirih. Cassie sempat menilik Arnett, sebelum masuk ke kamar mandi.
Arnett terpaku. Sementara semua gadis yang sudah mandi kecuali Elizabeth, memutuskan tidur sebelum malam tiba. Kemudian Arnett duduk di pinggir ranjang yang ditempati Sattelizer, Chiffon, dan Rana. Gadis berambut merah itu berpikir tentang apa yang dikatakan Cassie, beberapa waktu yang lalu.
"Karenamu, hubunganku dengan Naruto retak! Aku membencimu, Arnett-senpai!"
Hati Arnett terpukul karena ucapan Cassie. Ia tidak ingin ribut lagi dengan Cassie. Berharap bisa berteman baik dengan gadis berkebangsaan Amerika itu.
Cassie, maafkan aku, batin Arnett dengan muka yang sedih.
.
.
.
Malam pun tiba, di aula hotel yang sangat luas, dipenuhi semua Pandora dan Limiter sedunia yang berpakaian seragam sekolah. Mereka duduk mengelilingi meja panjang yang sudah disuguhi beraneka makanan dan minuman. Sekalian menghadiri acara yang digelar pihak Chevalier dalam rangka memperkenalkan anggota-anggota Evolution Pandora (E-Pandora) yang berhasil lulus dari berbagai pengujian.
Acara dimulai sejak pukul tujuh malam. Para anggota E-Pandora berkenalan dengan semua orang. Mereka bersalaman untuk mempererat hubungan persahabatan agar bisa bersatu menyelamatkan dunia. Serangkaian acara lain juga dibawa oleh host dan menghibur semua penonton yang ada di tempat itu.
Julia malah ikut bergabung dengan rombongan Jepang. Hal itu membuat Cassie agak kesal karena harus duduk di samping Julia. Arnett memperhatikan Cassie dan Julia yang berdebat soal Naruto. Semua orang yang ada di sekitar mereka, ternganga dan tidak jadi makan.
"Kenapa Naruto terus yang kalian bicarakan? Dia tidak ada di antara kalian berdua, Cassie-senpai, Julia-senpai," celetuk Kazuya yang duduk diapit Sattelizer dan Rana.
"Naruto ada di sini," sahut Cassie cepat.
"Benar," timpal Julia yang memakan makanan di garpu milik Cassie. Membuat Cassie meledak marah lagi.
"Jangan makan punyaku! Sana makan punyamu sendiri!" Cassie berwajah sewot.
"Kalau kau tidak mau kuganggu, serahkan Naruto padaku dulu." Julia menunjukkan muka jahil.
"Tidak akan!"
Cassie dan Julia tidak berhenti bertengkar. Semua orang menghelakan napas kompak, lalu melihat ada seorang gadis berambut putih-merah datang mendekati mereka.
"Permisi, maaf, mengganggu kalian. Aku diminta untuk berkenalan dengan kalian," pinta gadis berpakaian seragam sekolah, "namaku Amelia Evans. Anggota E-Pandora. Senang bertemu dengan kalian semua."
Kelompok utusan dari North Genetic, tersenyum menyambut Amelia. Elizabeth bangkit dari kursi karena di dekat Amelia, mengulurkan tangannya.
"Kenalkan, aku Elizabeth Mably. Aku dari North Genetic." Elizabeth tersenyum.
"Halo, Elizabeth." Amelia juga tersenyum seraya bersalaman dengan Elizabeth. Kemudian ia pun berkenalan dengan semua teman Elizabeth. Perasaannya senang sekali seperti melayang bebas ke langit.
Amelia pun duduk bersama kelompok North Genetic. Julia tetap bergabung di sana, tidak mempedulikan panggilan Limiter-nya yang duduk tak jauh darinya, ingin mendengarkan tentang E-Pandora lebih lanjut dari Amelia.
Suasana semarak menghiasi aula itu. Di luar jendela, ada Naruto yang memakai pakaian tertutup, bertindak sebagai The Knight of Sacred. Spear of Destiny terpasang di punggungnya - Spear of Destiny sempat tertinggal di Gereja dan bisa dipanggil oleh Naruto jika Naruto membutuhkannya. Laki-laki itu melayang dengan bantuan kekuatan bola-bola hitam yang mengelilingi tubuhnya. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang buruk terjadi di malam ini.
Para pengunjung lain yang bukan Pandora atau pun Limiter, juga turut menghadiri acara itu. Mereka bergabung untuk makan malam bersama. Lalu salah satu gadis yang termasuk anggota E-Pandora, tiba-tiba keluar dari ruangan itu karena merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Ia berlari cepat menuruni tangga hingga keluar hotel.
"Ada apa ini?" Gadis itu berhenti di pintu gerbang hotel yang terbuka lebar. Merasakan Stigmata yang memanas di tubuhnya. Perlahan kristal-kristal berbentuk duri tumbuh di sekujur tubuhnya. Tubuhnya bercahaya, mengalami perubahan signifikan yang membuatnya berteriak kesakitan. Suaranya yang keras menggelegar, menggema di keheningan malam.
Tubuh gadis itu membesar, membentuk robot aneh yang berbeda dari Nova-Nova sebelumnya. Kepala hingga bagian dada masih berbentuk manusia, tetapi tidak sempurna, lalu dari dada hingga kaki berbentuk lancip yang dipenuhi duri-duri. Ukuran tingginya tidak diketahui. Melayang di atas jalan di dekat hotel itu. Semua orang yang mengetahui kemunculannya, ribut dan berusaha menyelamatkan diri sebelum diserang olehnya.
"Lari!"
"Ada Nova di sini!"
"Tolong!"
"Cepat selamatkan diri kalian!"
"Tunggu!"
Semua warga biasa berlarian keluar dari hotel. Acara pihak Chevalier batal, semua Pandora dan Limiter kaget saat melihat half-form Nova lewat jendela. Mereka berdiri dengan wajah pucat.
"Nova!"
"Bentuknya aneh, berbeda dengan Nova-Nova yang kita hadapi selama ini."
"Ayo, kita lawan dia!"
"Ya!"
Semua Pandora bergegas keluar dari sana, tetapi tidak jadi karena mendengar salah satu Pandora berteriak sambil menunjuk ke jendela. "Lihat, The Knight of Sacred datang! Dia yang melawan Nova itu!"
Cassie yang mendengar itu, langsung menerobos keramaian agar bisa melihat lebih dekat ke jendela. Hanya ia yang mengetahui sosok sebenarnya The Knight of Sacred. Senyuman terukir di wajahnya sambil mengatupkan jari-jari tangannya.
Naruto, aku serahkan semuanya padamu, batin Cassie.
Naruto melayang berhadapan dengan Nova. Wajah yang tersembunyi di balik tudung jaket putih dan masker yang berwarna sama dengan jaket, menjadi serius. Salah satu bola hitam terpasang di kepala Spear of Destiny. Bertepatan Nova menembakkan laser yang keluar dari dada. Naruto mengacungkan tombaknya untuk menghalau serangan laser itu. Dari kepala tombak, muncul cahaya putih yang menyerupai pilar.
Dhuaaar! Dua serangan beradu, menimbulkan ledakan besar di udara. Naruto nyaris terlempar, tetapi bisa mengerem di udara. Naruto terbang maju bersama Spear of Destiny yang bergerak menusuk mengincar sumber senjata laser Nova. Serangan laser yang sama ditembakkan lagi ke arahnya.
Dwooong! Naruto menghindari serangan itu, dan menyadari hotel yang menjadi sasaran selanjutnya. Laki-laki berambut pirang itu sigap menggunakan bola yang lain, yaitu menghentikan waktu. Tombak dilempar ke bawah hingga menancap ke tanah. Aliran cahaya putih meluas ke seluruh dunia.
Serangan laser berhenti sebelum mengenai hotel. Waktu tidak berputar seiring Naruto mendarat di tanah. Naruto memegang tombak berbilahnya, sambil mengucapkan, "Tombak. Tombak suci sejati yang menembus Tuhan. Menghisap ambisi Raja dominasi yang tidur di diriku dan menembus celah berkat dan kehancuran. Kau. Umumkan kemauan, dan berubah menjadi cahaya."
Kepala Spear of Destiny bercahaya terang menuju Nova yang bergeming. Fokus Naruto adalah memberi berkat pada Nova. Cahaya putih murni menyelubungi sekujur tubuh Nova. Perlahan mengecil hingga membentuk tubuh seorang gadis berpakaian seragam sekolah. Stigmata yang ada pada dirinya, pecah berkeping-keping.
Saat Spear of Destiny dihentakkan sekali lagi ke tanah, waktu kembali berjalan. Gadis yang menjadi Nova tadi, sadar dan melihat Naruto datang mendekatinya.
"Ka ... kau siapa?" tanya gadis itu.
Naruto tersenyum di balik maskernya. Pakaiannya berkibar-kibar dimainkan angin malam. Salju mulai turun menimpa dirinya dan gadis itu. Kemudian Naruto menggunakan bola hitam yang lain untuk berteleportasi ke kamarnya. Terkesan ia menghilang dalam sekejap mata.
Hening.
Semua orang yang menonton pertarungan tadi, tersentak. Menyadari Nova tadi menghilang.
"Eh? Kemana Nova tadi?" Rana kebingungan saat melihat ke bawah lewat jendela terbuka lebar.
"Ada yang aneh." Elizabeth memegang dagu dengan tangannya. Perkataannya terdengar oleh Arnett.
"Benar, Elizabeth." Arnett mengangguk.
"Kenapa bisa ada Nova di tempat seperti ini?" Cassie juga menyadari keanehan itu saat memandang gadis yang menjadi Nova tadi, lewat jendela.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Terima kasih atas review kalian. Saya akan terus melanjutkan cerita ini sampai tamat.
Kamis, 30 Januari 2020
