Bad Girl Chapter 13
WARNING! 18+ ONLY
"-Park Chanyeol?!" Baekhyun benar-benar terkejut dengan wajah Chanyeol yang ada di depan Jennie. Wajahnya terlihat serius tetapi tidak mengurangi ketampanannya. 'Aish.. Apa yang kupikirkan?!' Baekhyun keluar dari mobil dan berjalan ke arah cafe dimana Chanyeol dan Jennie berduaan. Belum 30 menit Baekhyun keluar dari rumah karena marah, orang yang membuat dirinya marah sedang berdua dengan wanita jalang itu.
"Oh jadi setelah kau mengkhianatiku di sekolah sekarang kau berani kencan di hadapan public? Wow.. Chan.. Setelah aku merubahmu menjadi seperti ini, kau membuangku begitu saja." Chanyeol langsung berdiri melihat Baekhyun di hadapannya. Matanya penuh api kecemburuan yang sangat kentara berbanding terbalik dengan Jennie yang duduk santai menikmati americanonya. 'Sepertinya seru melihat perdebatan di pagi hari.'
"Baek...aku bisa jelaskan semua ini." Baekhyun menepis tangan Chanyeol dengan kasar. Tangannya langsung menampar pipi Chanyeol dengan keras. Meninggalkan bekas kemerahan di pipi Chanyeol.
"Aku kecewa padamu, Chan." Hanya untaian kalimat pendek terucap dari bibirnya. Baekhyun marah, benar-benar marah pada Chanyeol. Namun kekecewaan pada ingkarnya komitmen Chanyeol melebihi kemarahannya. Matanya menatap kecewa pada Chanyeol. Baekhyun memutuskan untuk meninggalkan cafe setelah tidak ada lagi yang perlu dibicarakannya.
Prok...prok..
Disana Jennie bertepuk tangan dengan bibir merekah penuh senyuman. Tidak percuma ia memoleskan lipstick tebal pada bibirnya karena hari ini ia bisa menunjukkan senyum terbaiknya.
"Kau..." Chanyeol menatap tajam ke arah Jennie dan pergi meninggalkan cafe tersebut. Jennie hanya tersenyum sembari mengikuti kemana perginya Chanyeol. Tangannya membawa americano hangatnya dalam genggaman sembari bibirnya masih memasang senyuman.
"Aku masih bisa sabar menunggumu, Chan. Tapi aku tidak tahu sampai kapan kesabaranku ini ada."
Flashback 25 minute ago...
Melihat Baekhyun pergi membuat Chanyeol tidak bisa berpikir jernih lagi. Chanyeol sangat takut jika Baekhyun melakukan hal yang nekat. Dengan pikiran yang masih kalut, ia berusaha mencari Baekhyun walaupun terus ditahan Luhan. Chanyeol memutari kota Seoul berulang kali, berusaha mencari dimana gerangan kekasihnya. Rentetan peristiwa yang bisa menyakiti kekasihnya terus berputar dalam kepalanya.
'Bagaimana jika dia tidak sengaja bertemu orang jahat?'
'Bagaimana jika dia kecelakaan?'
'Bagaimana jika dia frustasi dan memilih bunuh diri?'
Pikiran negatif terus menghampiri dirinya. Chanyeol hampir gila saat tidak menemukan keberadaan Baekhyun. Saat itu, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum mencari kembali Baekhyun. Chanyeol memutuskan untuk membeli kopi instan dan langsung pergi.
"Wah.. Sepertinya kita jodoh. Kita bertemu seperti ini." Chanyeol melihat Jennie sedang mengantri di sampingnya. 'Nasib sial apa ini?' pikirnya. Chanyeol berusaha secepat mungkin membayar kopinya dan hendak pergi meninggalkan Jennie.
"Kau tidak mau video itu dihapus ya?" tanya Jennie. Chanyeol langsung berhenti mendengar pertanyaan Jennie. Sebuah senyum licik terbit di bibir Jennie. Ia tahu video itu pasti akan membuat hubungan mereka retak. Menghapus video dan membuatnya seolah-olah tidak ada bisa saja membuat hubungan mereka kembali.
"Mari kita duduk dan membuat kesepakatan kecil. Kau tidak mau kembali dengan Baekhyun ya?" Jennie langsung duduk di dekat jendela cafe transparan yang dapat melihat orang berlalu lalang. Disesapnya americano hangatnya perlahan sambil menunggu keputusan Chanyeol yang masih berdiri.
"Okay... Aku tidak mau basa-basi. Apa kesepakatan itu?" Jennie tersenyum kegirangan melihat Chanyeol menarik kursi di depan Jennie. Jennie duduk semakin dekat dengan Chanyeol sambil menumpukan kepalanya. Bibir liciknya berucap seperti bisa.
"Putuskan Baekhyun lalu aku akan hapus video ini." Untuk sesaat, Chanyeol menyesali keputusannya meladeni wanita gila di depannya ini. Chanyeol langsung berdiri dan tangannya dicegat oleh Jennie.
"Ya! Aku hanya bercanda. Jangan emosi seperti itu sayang." Chanyeol menghempaskan tangan Jennie dengan kasar. Ia meraih dagu Jennie dengan kasar dan membisikkan beberapa kata menusuk.
"Hanya dalam mimpimu aku putus dengan Baekhyun. Selamanya hatiku hanya untuk Byun Baekhyun." desisnya tajam. Jennie melepas tangan kasar Chanyeol dan mendorongnya ke tempat duduknya kembali. Lalu Jennie kembali duduk ke posisi awal.
"Aku tidak akan berhenti mengganggu Baekhyun sebelum kau jadi milikku. Aku akan melakukan segala cara untuk menghancurkan Baekhyun."
"Kau-" Chanyeol benar-benar kehabisan kata melihat wanita murahan di depannya ini. Rahangnya mengatup rapat dengan tangan terkepal kuat.
Tepat saat itu, Baekhyun datang dan salah paham dengan kondisi ini.
Flashback end
Chanyeol rasanya mau gila melihat situasi yang dihadapinya saat ini. Rasanya bisa gila melihat Baekhyun yang terus salah paham padanya. Berapa kalipun Chanyeol menjelaskan sesuatu pada Baekhyun, Baekhyun menolaknya mentah-mentah. Melirik Chanyeol saja tidak dilakukan Baekhyun.
Saat Baekhyun di sekolah, Baekhyun benar-benar menghiraukan keberadaan Chanyeol. Baekhyun malah mengakrabkan dirinya pada fans-fansnya. Bersenda gurau, tertawa, dan terlihat bahagia bersama orang lain. Chanyeol tidak suka sebenarnya melihat Baekhyun tertawa bersama laki-laki lain. Hatinya terbakar cemburu melihat senyum Baekhyun saat tertawa bersama orang lain.
'Inikah yang dirasakan Baekhyun saat aku bersama wanita ular itu?' pikir Chanyeol.
"Baek... Kita perlu bicara." Chanyeol menarik lengan Baekhyun saat Baekhyun bersama Wooshin dan Jinhyuk. Baekhyun berusaha melepas tangan Chanyeol namun Chanyeol terlalu kuat. Baekhyun berakhir pasrah ditarik Chanyeol dan bibir cantiknya terus mengumpat tanpa henti. Chanyeol seolah-olah tuli mendengar umpatan Baekhyun yang menghinanya di belakang. Ia harus menghentikan kesalahpahaman ini sebelum berubah menjadi runyam.
Chanyeol membawa Baekhyun ke UKS dan menjatuhkan tubuh mungilnya di atas kasur. Ia langsung menutup tirai tanpa mempedulikan pasien lain yang sedang beristirahat di sampingnya. Chanyeol berusaha sekali mengontrol kemarahannya saat Baekhyun tadi digoda habis-habisan oleh laki-laki.
"Apa maumu hah? Bukankah sudah jelas kukatakan untuk saling merenungi diri masing-masing?" Chanyeol tersenyum miring mendengar perkataan sengit Baekhyun.
"Merenungi diri? Yang aku lihat kau bercanda dengan laki-laki lain dan digoda seperti itu. Lalu kau biasa saja mendengarnya begitu? Padahal kau sudah punya pacar?" Baekhyun melipat tangannya dan tersenyum tipis.
"Lalu kenapa jika aku punya pacar? Kau juga saling menggoda dengan Jennie. Lalu kenapa aku tidak boleh? Bukankah tidak adil jika kau boleh berselingkuh sedangkan aku tidak?" Chanyeol menutup matanya pelan, menahan amarah yang bergejolak dalam dirinya. Ia harus menjelaskan hal ini secara baik-baik pada Baekhyun.
"Baek.. Kau salah paham. Aku tidak pernah berselingkuh dengan wanita ular itu. Yang kau lihat itu hanyalah kesalahan. Tolong Baekk... Aku sangat merindukanmu." Chanyeol menghapus jarak antara mereka. Memegang tangannya dan menciumi tangan Baekhyun dengan lembut. Baekhyun bersikap acuh tak acuh namun hatinya sangat senang saat Chanyeol perhatian padanya.
"Baek... Aku merindukanmu." bisik Chanyeol dengan nada rendah. Chanyeol mulai memberanikan diri mendekatkan wajahnya pada Baekhyun. Semakin dekat...
Dekat...
Baekhyun mulai menutup matanya.
SREKKK...
"Tidak bisa diam hah?" Jennie datang dan menghancurkan momen indah Chanbaek. Baekhyun semakin kesal saat melihat senyum merekah pada bibir wanita sialan itu.
"Apa kau mengajakku kesini dengan kedok bertemu Jennie? Selamat Chan.. Kau berhasil menipuku lagi." Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol menjauh dan pergi meninggalkan UKS. Chanyeol benar-benar tidak bisa mengekspresikan bagaimana kemarahan menjalar ke seluruh tubuhnya. Matanya menatap dingin Jennie. Andaikan tatapan bisa membunuh seseorang, Jennie akan terkapar mati saat itu juga. Berbeda dengan Chanyeol yang marah setengah mati, senyum manis Jennie muncul di bibirnya.
"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Jennie dengan berlagak bodoh. Chanyeol berdiri dan mendekatkan wajahnya pada Jennie. Tubuhnya semakin terhimpit hingga di pinggiran kasur. Tatapan mengintimidasi Chanyeol membuat senyumnya hilang begitu saja. Jennie mulai merasa takut saat hanya ada tatapan kosong nan dingin di mata Chanyeol.
"Jangan... Menguji... Kesabaranku, Kim Jennie." ucap Chanyeol dengan nada rendah dan dingin. Jennie menelan ludahnya dan menatap lurus ke arah Chanyeol. Berusaha mengembalikan keberaniannya yang tadi terkumpul.
"K-kalau aku tidak mau bagaimana?" tanya Jennie dengan wajah menantang. Chanyeol menunjukkan senyum miring, senyum yang terasa mengerikan di mata Jennie. Ia semakin mendekatkan wajahnya tepat di belakang telinga Jennie.
"Aku.. Akan menghancurkanmu perlahan. Sedikit demi sedikit." bisik Chanyeol dengan nada semakin rendah dan pelan. Chanyeol menjauhkan wajahnya dan melangkah pergi keluar dari UKS. Disana Jennie masih duduk dan tangannya memegangi jantungnya yang berdebar keras. 'Sangat mengerikan' gumamnya. Ia tidak pernah tahu Chanyeol akan mengancamnya demikian.
"Okay. Aku ingin tahu seberapa lama kau bisa melindungi Baekhyunmu itu."
##################
"Baek... Kau kenapa lagi? Kau masih bertengkar dengan Chanyeol?" Baekhyun hanya memutar-mutar sedotan minumannya dengan pelan, malas menjawab semua pertanyaan dari Luhan. Padahal Luhan tahu jawabannya lalu mengapa dia harus bertanya lagi. Kyungsoo ikut bergabung setelah Luhan memintanya datang.
"Dia kenapa, Lu?" bisik Kyungsoo. Luhan hanya mengendikkan bahunya sebagai jawaban.
"Dia masih bertengkar sama Chanyeol. Mereka seperti anak kecil." jawab Luhan dengan bisikan pula. Baekhyun melirik tajam jawaban Luhan yang didengarnya. Namun ia tidak peduli dan lebih memilih fokus pada sedotannya.
Drrrt..
'Sayang, kuharap kau tidak lupa dengan janji kita minggu ini. Aku menunggumu.' Kyungsoo tersenyum kecil membaca pesan Taehyung. Membayangkan diri mereka berada pada hotel dan hanya berdua bersama membuatnya terbuai dan senang bukan kepalang. Luhan yang penasaran berusaha melihat ponsel Kyungsoo yang brightnessnya cukup gelap.
"Dari Kai ya?" Kyungsoo mengangguk dan menyembunyikan ponselnya. Luhan sedikit aneh saja melihat gelagat Kyungsoo. Kai adalah pacarnya lalu mengapa dia menyembunyikan pesannya padahal mereka berteman. Bukankah sudah biasa saling memperlihatkan pesan dari pacar ke teman?
"Maaf, Lu. Aku malu memperlihatkan pesan Kai." kata Kyungsoo melihat wajah curiga Luhan. Kyungsoo sudah menebak sekali jalan pikiran Luhan yang mudah curiga pada apapun. Luhan mengangguk dan tidak memusingkannya kembali. Toh, memang Kyungsoo orangnya sangat pemalu walaupun pada saat berpacaran Kyungsoo menjadi wanita yang sangat 'berani'.
Drrt...
Kyungsoo berusaha melihat lagi ponselnya namun mata elang Luhan terus menghujamnya dengan tatapan penasaran. Padahal Kyungsoo sudah memberikan alasannya. 'Merepotkan saja.' pikirnya.
"Aku ke toilet dulu ya.." Luhan mengangguk dan kembali fokus pada Baekhyun yang uring-uringan. Segala macam pertanyaan dan ajakan jalan sudah keluar sejak tadi namun tidak ada satupun yang ditanggapi dengan baik oleh Baekhyun.
Kyungsoo masuk ke salah satu bilik toilet dan membaca pesan yang dikirimkan secara terus menerus oleh Taehyung. Sikap posesif dan ingin tahu inilah yang disukai Kyungsoo. Membuatnya teringat pada kenangan lama yang berada di sudut hatinya.
'Kenapa kau tidak balas, Kyungie?'
'Apa kau sakit?'
'Atau kau bersama Baekhyun?'
'Kau kenapa, sayang?'
Kyungsoo berusaha membalasnya dengan singkat seperti ciri khasnya. Tidak boleh bersikap terlalu antusias dengan semua pesan ini. Tetap tenang dan kalem saja.
'Aku memang bersama Baekhyun dan Luhan. Maaf aku tidak bisa balas. Luhan terus melihat ponselku. Dia sangat penasaran jadi yah.. Aku harus menghindarinya dalam toilet seperti ini.'
Taehyung tersenyum singkat membaca pesan dari Kyungsoo. Artinya dia harus memberikan misi lain pada Kyunhsoo. Membuntuti Baekhyun adalah jalan satu-satunya yang membuatnya puas. Di sudut hatinya, ada rasa yang tidak bisa didefinisikan tentang Baekhyun. Bukan dendam atau obsesi membunuh. Hanya sebuah rasa yang aneh dan memicunya untuk terus melihat Baekhyun setiap hari.
'Kyungie, bisakah kau ikuti Baekhyun untuk hari ini? Atau ceritakan saja padaku apa yang dilakukan Baekhyun hari ini.'
Kyungsoo mengernyit membaca pesan Taehyung. Hatinya sedikit sakit saat Taehyung terus memintanya mengikuti Baekhyun. Rasanya Kyungsoo hanya sebuah barang yang dimanfaatkan. Namun Kyungsoo berusaha menepis semua kecurigaan itu dan terus mengikuti permintaan Taehyung. Ia berusaha menguatkan hatinya dan mempercayai Taehyung. Taehyung hanya mencintai Kyungsoo. Hanya kepercayaan itu yang berada di benaknya.
'Baiklah.. Hari ini Baekhyun sepertinya bertengkar lagi dengan Chanyeol. Sepertinya lebih intens dari sebelumnya. Baekhyun uring-uringan sepanjang hari. Apa cukup, Tae?'
Taehyung tersenyum senang membaca pesan Kyungsoo. Entah kenapa hatinya berbahagia dengan kabar menyenangkan ini.
'Gomawo, Kyungie. Aku mencintaimu.'
Taehyung melempar ponselnya setelah mengatakan hal yang jauh sekali dari kenyataan itu. Sedangkan Kyungsoo menahan teriakannya dan tersenyum sumringah.
'Aku mencintaimu juga, Tae.'
Kyungsoo sedikit kecewa saat tidak mendapatkan balasan apapun dari Taehyung. Ia keluar dan hendak mencuci tangan sebelum telinganya mendengar suara desahan wanita yang cukup keras. Tadi memang Kyungsoo mendengarnya namun volume suaranya tidak sekeras ini. Dengan berbekal rasa penasaran, Kyungsoo mendekati bilik terakhir yang ada. Pintunya tidak terlalu tertutup dan Kyungsoo masih bisa melihat siapa yang bercinta di dalamnya.
"Kai?" Kyungsoo tidak terkejut lagi melihat Kai bersama wanita lain. Mendengar namanya ada yang memanggil, Kai langsung keluar namun ia tidak menemukan siapapun. Kai hanya tidak peduli dan kembali melanjutkan aktivitasnya bersama wanita barunya itu. Di balik tembok, Kyungsoo berdiri dan menghela nafas panjang.
'Sudah berapa kali aku harus melihat yang seperti ini.'
Kyungsoo keluar toilet dan hendak menuju meja Baekhyun dan Luhan. Ternyata mejanya sudah kosong dan mereka berdua sudah pergi tanpa mengatakan sepatah kata. Kyungsoo hanya tersenyum miris. Rasanya dia diajak kemari sebagai patung. Bahkan untuk berpamitan saja mereka tidak ada waktu. Sebegitu buruknya Kyungsoo hingga mereka sulit berteman dengan dirinya.
'Aku kesepian sekali ya.'
#############
Luhan benar-benar kehabisan akal merayu Baekhyun untuk tertawa. Padahal dia sudah mengajaknya shopping, makan di restoran mewah ataupun pergi ke tempat bermain di mall. Tetapi Luhan masih belum bisa melihat senyum di bibir Baekhyun. Hanya ada tatapan cuek, dingin, dan kesal.
"Aish... Terserah kau saja, Baek. Aku mau pulang." Luhan langsung menelepon supirnya dan membiarkan Baekhyun tenggelam dalam dunianya. Dirinya sudah kehabisan akal untuk membujuk Baekhyun. Segala cara sudah dilakukan Luhan namun rasanya sia-sia saja.
Beberapa menit kemudian, supir Luhan datang dan membawa Luhan pergi. Luhan bukan sahabat yang jahat meninggalkan Baekhyun sendirian. Dia sudah menelepon Chanyeol untuk menjemput Baekhyun. Chanyeol sudah mengiyakannya dan Luhan bisa pergi dengan tenang.
Chanyeol sampai beberapa menit kemudian dengan motornya. Baekhyun sama sekali tidak menyadari kedatangannya. Ia masih berjalan tanpa arah dengan Chanyeol di belakang mengikutinya, tanpa bermaksud mengganggu Baekhyun.
Chanyeol hanya ingin menjaga Baekhyun dari jauh. Ia tidak mau Baekhyun malah semakin marah melihat Chanyeol. Ia sudah cukup lelah dengan semua pertengkaran ini. Rasanya ia mau menyudahi saja semua pertengkaran ini.
Chanyeol mengikuti Baekhyun hingga sampai ke rumahnya. Ia sama sekali tidak memanggil Baekhyun dan lebih memilih diam seribu bahasa. Ketika lampu kamar Baekhyun sudah mati, Chanyeol baru menyalakan motornya dan pergi. Chanyeol sangat mencintai gadis mungilnya dan tidak mau ia terluka. Cukup hatinya yang sakit mendengar penolakan berulang dari Baekhyun pada hari ini. Bibir manis yang biasa ia lumat menjadi sebuah senjata tak bertulang yang menyayat hatinya.
"Baek kuharap kau segera memaafkanku."
#########
"Oppa... Aku mau melakukan sesuatu yang gila. Kuharap kau bisa membantuku." Taehyung melirik Jennie dan tertarik dengan perkataan Jennie. Ia meletakkan ponselnya dan mendengarkan seksama perkataan Jennie. Mungkin ide gila Jennie akan selaras dengan ide gilanya.
"Aku ingin menjebak Chanyeol tidur bersamaku. Bagaimana?" Taehyung tersenyum singkat dan mengelus kepala adiknya dengan pelan.
"Aku setuju. Nanti aku bantu kau. Ide gilamu membuatku memikirkan ide manis juga pada Baekhyun." Jennie tersenyum licik bersamaan dengan mengembangnya senyum seringai di bibir Taehyung.
"Ehmm.. Aku mau menjebaknya besok. Kau bisa apakan saja Baekhyun aku tidak peduli. Aku hanya ingin mendapatkan Chanyeol seutuhnya."
"Okay.. Jadi aku sudah memikirkan rencananya. Sini..." Taehyung membisikkan sesuatu kepada Jennie dan bibir merahnya merekah.
'Kau akan kudapatkan Chan.'
#########
Jennie menjalankan rencananya sesuai rencana Taehyung. Hari ini ia tidak terlalu menempel pada Chanyeol dan malah cenderung tidak peduli. Semua ini termasuk bagian rencananya. Tidak terlalu mencolok dan tetap tenang seperti biasanya.
Taehyung sudah bersiap dengan segala rencananya di tangannya. Ia mengenakan masker dan topi hitam, menyamarkan wajahnya untuk masuk ke sekolah. Kenapa bukan Jennie? Taehyung berpikir akan runyam jika Jennie yang melakukan ini dan kemungkinan rencana gagal. Jennie sangat populer disini, setiap saat gerakannya diikuti dan dibuntuti. Taehyung berpikir untuk melakukannya sendiri. Ia mencari loker Baekhyun dan Chanyeol. Menyelipkan sebuah surat yang ditulis dengan darah hewan dan pergi begitu saja. Ia hanya perlu melihat bagaimana reaksi pasangan itu.
Awalnya, Baekhyun yang terlebih dahulu mendekati lokernya. Ia melihat sebuah suart putih dengan bercak-bercak merah diatasnya. Matanya membulat saat membaca rentetan hangul berantakan yang ditulis dengan darah.
'Chanyeol, kesayanganmu itu, sedang ada di hotel bersamaku. Aku tidak tahu senjata apa yang akan kupilih untuk membunuhnya. Palu, pisau, atau bor? Kau bisa datang kemari, sayang. Saksikan kematian pacarmu itu secara langsung. Hotel Camelia nomor 604. Kutunggu kau, sayang.'
Baekhyun sangat mengenali tulisan tangan Taehyung. Ia tidak mengira Taehyung ada di Korea, terakhir kabarnya dia sedang ada di China setelah dibawa penjual budak itu. Baekhyun memang ceroboh tidak memastikannya kembali dan percaya saja dengan kata-kata penjual budak itu kalau Taehyung sudah di China. Kekhawatirannya semakin menjadi saat ia tidak melihat Chanyeol sejak pagi. Baekhyun berlarian ke setiap kelas, UKS, perpustakaan, parkiran, dan tidak menemukan keberadaan Chanyeol. Ponselnya juga tidak aktif dan hal itu membuat otaknya terus berpikiran negatif tentang Chanyeol.
'Bagaimana jika memang Chanyeol dibius lalu dibunuh?'
Tanpa pikir panjang, Baekhyun mengambil kunci mobilnya dan melaju ke hotel Camelia. Taehyung yang memonitori GPS Baekhyun tersenyum saat mangsanya berhasil tertangkap. Taehyung langsung bergegas menyusul ke hotel Camelia, ia harus datang sebelum Baekhyun. Tak lupa, Taehyung segera menelepon Jennie untuk membukakan pintu gudang untuk Chanyeol.
"Sekarang jalankan rencanamu.. Aku sudah mendapatkan apa yang kumau. Semoga berhasil, Jennie." Jennie mengambil kunci gudang dan membukakan pintu gudang. Disana Chanyeol keluar dengan sumpah serapah di mulutnya.
Jennie yang sengaja menguncinya disana. Tadi pagi, Chanyeol dihukum telat dan diminta membersihkan gudang. Lalu Jennie langsung menguncinya setelah meminta kunci pada petugas kebersihan agar Baekhyun tidak tahu dia ada disana. Jennie juga menyuap guru yang menghukum Chanyeol untuk tidak memberitahukan keberadaan Chanyeol. Guru mata duitan itu langsung menerimanya begitu saja. Setelah mendapat konfirmasi dari Taehyung bahwa Baekhyun sudah pergi, Jennie langsung membukakan pintu gudang itu dan segera bersembunyi.
Jennie membuntuti Chanyeol kemanapun hingga Chanyeol sampai di lokernya. Bibirnya semakin tersenyum licik saat Chanyeol mengambil surat yang diberikan Taehyung. Tangannya membolak-balikkan surat tersebut dengan rasa penasaran. Setelah membukanya, tak jauh berbeda dengan reaksi Baekhyun, Chanyeol kaget bukan kepalang.
'Baekhyun ada di tanganku, bocah bodoh. Kau kira kau bisa melindungi pacarmu ini hah? Ckk.. Kau bodoh sekali nak. Kau hanya anak kacangan dalam dunia kriminal ini. Kau kira bisa membuangku ke China semudah itu? Lihat akibat dari yang kau lakukan ini, Baekhyun disini meronta minta tolong. Kau harus datang jika kau menyayanginya. Hotel Camelia nomor 605.'
Chanyeol membuang kasar surat itu dan berlari ke kelas Baekhyun. Ia menemui Luhan disana sedang mengobrol bersama teman-temannya.
"Maaf, noona. Apa noona melihat Baekhyun?"
"Baekhyun pergi terburu-buru tadi. Dia bahkan tidak memberitahuku kemana." Mendengar jawaban Luhan, Chanyeol langsung tancap gas ke hotel yang diberitahukan Taehyung. Jennie yang melihat Chanyeol pergi juga segera bergegas menyusul Chanyeol. Sama seperti Taehyung, ia harus berada disana sebelum Chanyeol.
########
Baekhyun sudah sampai di hotel. Ia langsung bertanya pada resepsionis dimana kamar 604. Setelah ditunjukkan, Baekhyun langsung berlari ke lift disana. Beberapa menit kemudian, Chanyeol sampai di hotel tersebut. Sama seperti Baekhyun, ia langsung bertanya pada resepsionis dimana kamar 605. Rupanya kamar 604 dan 605 bersebelahan dan memang Taehyung mengatur seperti itu. Jennie yang mengenal baik pemilik hotel ini diberikan akses penuh untuk masuk hotel lewat jalan belakang.
Baekhyun sampai di depan kamar duluan. Tangannya mengetuk panik pintu kamar itu dan setelahnya suara deritan pintu memecah keheningan. Disana Taehyung berdiri dengan senyum liciknya, menunggu kedatangan Baekhyun. Raut wajah Baekhyun berubah kesal saat melihat Taehyung yang menyambutnya. Ia baru sadar kalau dirinya dijebak lagi oleh Taehyung. Taehyung menarik kasar lengan Baekhyun dan mengunci pintu kamar. Beruntungnya kamar mewah itu kedap suara dan Taehyung semakin senang mengingat apa yang akan dilakukannya pada Baekhyun.
Setelah Baekhyun hilang dari koridor dan masuk ke kamar 604, Chanyeol baru sampai ke lantai itu. Matanya mencari kamar yang dimaksud. Setelah menemukannya, Chanyeol langsung menggedor pintu itu secara brutal. Mendengar suara ketukan pintu yang tidak sabar itu, Jennie tersenyum manis. Ia melihat dari lubang kecil yang menampilkan wajah Chanyeol. Wajah pujaan hatinya.
"Hai, sayang." ucap Jennie sambil membuka pintu kamarnya. Chanyeol terkejut sekali melihat Jennie ada di dalam kamar dengan pakaian yang sangat tipis. Hanya menggunakan BH hitam berenda dan sebuah celana pendek berwarna senada. Chanyeol menatap jijik ke arah Jennie, benar-benar penggoda yang gigih. Chanyeol langsung berbalik pergi dan menyadari kebodohannya dijebak oleh Taehyung. Taehyung mungkin tahu Jennie sangat mengejarnya dan bekerjasama untuk menjebaknya. Sial~
"Sial..." Jennie mengambil blazer sekolahnya dengan kilat dan tangannya merogoh sebuah suntikan di dalamnya. Dengan perlahan, ia mendekati Chanyeol dan menusukkan suntikan itu tepat di leher belakang Chanyeol. Hanya butuh waktu 1 detik sebelum Chanyeol tumbang dan pingsan, Jennie berusaha sangat keras membawa tubuh besar Chanyeol ke dalam kamar. Ia sempat-sempatnya mengumpat pada Taehyung yang tidak memperkirakan kalau Jennie sendiri yang akan mengangkat tubuh Chanyeol. Untungnya Jennie sempat berlatih Judo selama 3 bulan dan cukup membantu untuk situasi seperti ini.
Back to Baekhyun and Taehyung...
Baekhyun berusaha keras melempar benda apapun yang di dekatnya namun Taehyung tidak bergeming dan malah semakin memojokkannya. Tubuhnya bergetar ketakutan, tidak ada Chanyeol disini dan tidak ada yang tahu keberadaannya disini. Hal ini membuat Baekhyun semakin terpojok. Entah apa yang akan terjadi padanya, kemungkinan besar besok namanya akan ada di koran sebagai mayat yang ditemukan di hotel.
"Aku tidak akan membunuhmu, aku tidak mungkin secepat itu membiarkanmu mati. Aku harus menikmatimu dulu bukan?" ucap Taehyung. Perkataan Taehyung semakin membuat Baekhyun ketakutan. Ia tidak tahu lagi apa yang mesti dilakukannya. Taehyung berdiri tepat di depan Baekhyun, hanya berjarak 5 cm di depan wajah Baekhyun. Hembusan nafasnya terasa dekat dan terasa sangat memuakkan di hadapan Baekhyun.
"J-jangan.. Tolong, Tae." bisik Baekhyun.
"Apa? Coba katakan lagi. Aku ingin dengar." Taehyung semakin menghapus jarak antara mereka dan refleks Baekhyun mendorongnya. Tangannya bergetar setelah mendorong Taehyung ke atas kasur.
"Kau suka hal agresif ya?" Taehyung berdiri dan balik mendorong Baekhyun ke atas kasur. Tangannya mengunci pergerakan Baekhyun dan matanya langsung menatap lurus ke mata Baekhyun yang sangat ketakutan. Tangan kanannya mengelus pelan wajah Baekhyun dan bibirnya memberikan sebuah kecupan kecil. Awalnya sebuah kecupan namun Taehyung semakin meminta lebih. Bibirnya menyesap lebih dalam bibir manis Baekhyun dan tangannya semakin bergerilya membuka seragam Baekhyun.
"T-tolong..." teriak Baekhyun sambil berusaha menghindar dari sentuhan Taehyung. Melihat pemberontakan dari Baekhyun, Taehyung mengambil borgol yang ditaruhnya di saku celananya. Ia langsung memborgol tangan kiri Baekhyun ke pinggiran kasur. Bibirnya tersenyum licik saat Baekhyun semakin meronta. Suara gemerincing dari rantai Baekhyun membuat adrenalinnya semakin terpacu.
Taehyung mulai menjilati perpotongan leher Baekhyun. Rencana awalnya bukan seperti ini. Rencananya hanya menggoda Baekhyun hingga ia menerima aba-aba dari Jennie. Sayangnya wajah manis yang terus memohon belas kasihannya ini terlalu menggoda. Tangannya menelusup membuka tali bra merah muda yang menghalangi pemandangannya. Matanya berbinar melihat kedua gundukan sintal milik Baekhyun yang sangat menggoda. Pikirannya terus membayangkan betapa ukuran payudara Baekhyun akan terasa pas di tangannya. Baekhyun terus meronta minta tolong saat tangan Taehyung mulai bersentuhan pada nipplenya.
"Sepertinya kau harus menerima hukuman dariku, Baek." Taehyung meremas salah satu payudara Baekhyun. Tangannya yang lain bergerilya bebas memainkan nipple payudara yang lain. Baekhyun terus menggigit bibirnya hingga berdarah, berharap bibirnya tidak mengeluarkan desahan busuk yang akan membuat Taehyung semakin senang. Taehyung semakin melebarkan senyumnya dan meremas lebih kencang.
"H-henti-kan hhhh~~~ akh~" Baekhyun merutuki bibirnya yang mendesah seperti ini. Taehyung semakin tersenyum. Ia mulai membuat kissmark di sekujur tubuh Baekhyun hingga ke perut ratanya. Matanya terus menatap kedua mata Baekhyun yang basah oleh air mata. Gemerincing borgol seakan menjadi saksi bisu betapa kejinya Taehyung memperkosa Baekhyun.
"Bagaimana jika kutanamkan benihku ke dalam rahimmu? Bukankah hal itu akan menjadi sebuah aib untukmu?" Baekhyun terus memberontak dan berusaha melepaskan diri. Tangannya mulai berdarah setelah bergesekan berkali-kali dengan besi borgol. Sedangkan Taehyung hanya menatap Baekhyun dengan dingin dan nafsu yang sudah membumbung tinggi. Tidak lupa dengan senyum tipisnya yang menakutkan. Definisi pyscho sempurna.
Taehyung kembali meremas payudara Baekhyun dengan lebih kencang. Menggigit, memutar, dan memilin mainan barunya dengan agresif. Membuat Baekhyun kembali mendesah tak karuan sambil menangis. 'Mengapa nasibnya buruk seperti ini?' Air mata tak kunjung reda dari mata sipitnya.
Dengan kurang ajar, Taehyung merobek rok Baekhyun dan membuangnya ke lantai. Menyisakan celana dalam merah yang mulai basah karena ulahnya. Taehyung hanya menampilkan smirk singkat.
"Kau ternyata diam-diam menikmatinya ya. Akan kuberikan sebuah kenikmatan yang lebih, sayang." Taehyung merobek celana dalam tersebut hingga terkoyak tak terbentuk. Sebuah mahakarya Tuhan kembali ia lihat dan semakin membuat juniornya terasa sempit di dalam sana. Taehyung belum membuka bajunya satupun saat Baekhyun sudah telanjang bulat.
"Kumohon... Jangann..." Taehyung seolah menulikan kedua telinganya dan membelai klitoris merah muda yang terus menggodanya. Tubuh Baekhyun bergelinjang hebat merasakan sentuhan samar itu. Dengan tidak sabaran, Taehyung melepaskan sabuk dan celana yang mengekang juniornya. Sebuah kelegaan luar biasa ia desahkan saat juniornya berjumpa dengan udara. Baekhyun terus menutup matanya, tidak mau melihat alat vital laki-laki bejat di hadapannya.
Juniornya terus menggosok lubang merah muda yang mulai menggodanya. Baekhyun hanya berharap lebih baik ia mati dibandingkan diperkosa seperti ini. Bibirnya masih berusaha bertahan untuk tidak mendesah karena ia tahu Taehyung akan semakin mengacaukannya mendengar suara desahan Baekhyun.
"Buka matamu, Baek. Mendesahlah. Aku tau kau menikmati ini semua. Tubuhmu tidak bisa berkhianat." Baekhyun terus menggeleng namun saat tangan laknat itu mencubit klitorisnya, bibir mungilnya mendesah dan sekali lagi tubuhnya mengkhianati pikirannya. Mata Baekhyun masih terpejam erat membuat Taehyung geram. Ia menampar pipi Baekhyun dan memaksa Baekhyun untuk melihat apa yang sedang ia lakukan.
"Aku akan membuatmu hamil dan hancur, Byun Baekhyun." Tanpa cairan apapun, junior Taehyung langsung masuk ke dalam lubang Baekhyun. Membuat si empunya berteriak keras dan menjerit tertahan. Rasanya sakit dan ngilu. Darah mulai mengalir dan mengotori sprei. Beginikah keperawanan yang ia jaga bertahun-tahun direbut dengan cara busuk seperti ini? Baekhyun menangis lebih keras lagi saat Taehyung mulai menggerakkan juniornya dengan cara yang sangat kasar.
"akhhh~~~ ah.. J-jangan..akh~" Bibirnya terus mendesah dan Baekhyun merasa dirinya sudah seperti pelacur. Matanya sudah lelah menangis dan kekuatannya sudah terkuras habis. Ia tidak tahu berapa kali Taehyung orgasme dalam lubangnya. Yang Baekhyun tahu adalah dirinya sudah kotor dan menjijikkan.
Taehyung tumbang setelah sekian kali orgasme. Dengan tubuh remuk redam, tangan Baekhyun menggapai kantong baju Taehyung yang masih ia kenakan dan mencari kunci borgolnya. (Taehyung tidak naked dan hanya melepas celana). Ia melepaskan junior Taehyung dari dalam lubangnya dan membuka kunci borgolnya. Beberapa kali ia hampir limbung dan darah masih menetes dari organ vitalnya. Baekhyun layaknya mayat hidup memunguti baju seragamnya yang tak berbentuk dan memakai handuk hotel seadanya untuk menutupi organ vitalnya.
Baekhyun berjalan gontai menuju mobilnya. Ia sangat bersyukur dirinya tidak pingsan dan masih bisa mencapai mobil dengan selamat. Walaupun beberapa pasang mata melihatnya dengan tatapan aneh, Baekhyun tidak peduli. Memang saat ini, Baekhyun sangat pantas diberi tatapan seperti itu. Tubuhnya sudah tidak suci lagi dan hanya menunggu beberapa bulan dia bisa saja hamil. Kurang lengkap apa penderitaannya?
Baekhyun bahkan tidak bisa menangis lagi. Ia sudah lelah. Benar-benar lelah. Yang ada di otaknya adalah bagaimana ia bisa mengakhiri hidup konyolnya dan mati seperti keinginan Taehyung. Baekhyun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi dan membiarkan mobilnya berada pada sebuah jalan yang berlawanan arah. Bibirnya tersenyum tipis tatkala sebuah truk besar mendekati dirinya dan menabrak mobilnya dari depan.
"Chan... Aku mencintaimu.."
BRAKKKKKK...
TBC
Loh...loh.. Haha... Cerita ini masih berlanjut kok... Walaupun dengan frekuensi yang super duper lambat. Sepertinya aku gak bakal ngikutin spoiler yang aku kasih di awal dan nulis sesuai ide yang ada di kepalaku. I hope you still like it. Maybe next chapter I will more explain about what Jennie do to Chanyeol and Baekhyun condition.
Tolong bersabar untuk Chanbaek shipper karena kalian akan banyak cobaan di chapter-chapter mendatang.
Hmm... Sepertinya aku harus nambah genre married setelah ini. But I don't know karena cerita ini masih sangat panjang.
Thankyou
