Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. Di larang mengcopy tanpa seijin author.

.

.

Catatan : Author terinpirasi dari sebuah komik pendek tentang "mimpi buruk terakhir" dan komik pendek itu benar-benar keren!

.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

Don't like Don't Read

.

.

[ Gadis Mimpi]

~ Chapter 13 ~

.

.

.

Sakura pov.

"Aku yang akan merangkainya." Ucapku dan pelanggan yang baru datang hari ini cukup membuatku terkejut, mau bagaimana pun kami berusaha di pisahkan, sekali lagi kami di pertemukan seperti ini.

"Tolong bunga lilinya." Ucap pria itu dan sorot mata hitam itu sempat terus menatap ke arahku. Aku tidak tahu efek samping apa yang akan di alaminya setelah seluruh ingatannya di paksa terhapus, dia terlihat baik-baik saja dan tidak akan mengingatku bahkan Serra.

Dia akhirnya kembali lagi ke Konoha, sebelumnya aku sudah melihat segalanya, di saat Sasuke melihat masa lalunya, aku juga melihat masa lalu kami bersama.

Kesalahan pertama di lakukan oleh Sasuke, ini bukan salahnya, tapi Sasuke memang adalah takdirku, kami bertemu terlalu cepat hingga mengganggu tugasku sebagai gadis mimpi, ibuku tidak bisa memberi peringatan, di saat aku sudah menggantikannya menjadi gadis mimpi, ibu akan lupa semua yang pernah di alaminya selama menjadi gadis mimpi.

Aku tetap menjalankan tugasku, mengirim bola-bola mimpi itu untuk semua warga Konoha, aku tidak pernah berhenti melakukannya, namun seluruh emosiku harus aku kontrol, aku tidak tahu apa yang di lakukan ibu mimpi, aku merasa seperti kembali bertemu dengan Sasuke dan hal sebelumnya telah aku lupakan semua.

Aku masih sibuk mengarangkai bunga lili itu dan aku bisa merasakan jika onyx itu tak lepas dariku, dia terus menatapku, apa dia ingat padaku? Aku rasa itu tidak mungkin, dia akan sulit mengingatnya.

"Hey, apa-apaan itu? Kau terus menatap kakakku." Ucap Serra dan membuat kami jadi saling bertatapan, aku sungguh malu.

"Aku hanya sedang melihatnya merangkai bunga, sangat jarang menemukan gadis yang bisa merangkai bunga di jaman sekarang." Ucap Sasuke.

Ini sedikit membuatku kecewa, tapi inilah yang akan terjadi, aku rasa efek itu tidak terjadi pada Sasuke, tapi terjadi padaku, rasanya sesak ketika dia tidak akan mengingat apapun dan ini satu-satunya jalan terbaik untuk kami.

Walaupun ibu mimpi sudah mengatakan padaku jika pada akhirnya semua terserah padaku, aku bisa melakukan tugasku dan perlahan-lahan menerima takdirku. Mungkin itu akan terjadi jika Sasuke menyukaiku, tapi sekarang hal itu akan sangat mustahil, Sasuke telah menganggapku sebagai orang asing.

"Ini bunganya tuan." Ucapku dan memberikannya, lagi-lagi dia menatapku cukup lama.

"Ehem, tuan, bungamu." Tegur Serra, dia tidak berubah, bagaimana pun ingatan Serra di ubah dan di hapus, dia tetap tidak menyukai Sasuke.

"Hn, Terima kasih." Ucap Sasuke, membayarnya dan pergi.

"Ada apa denganmu? Dia terus menatapmu, tatapan yang aneh, aku akan terus menjagamu dari orang-orang yang berbahaya." Ucapnya.

"Jangan berbicara konyol, Sasuke adalah pria yang baik." Ucapku.

"Ha? Tunggu, dari mana kau tahu namanya Sasuke?" Ucap Serra dan memincingkan mata ke arahku.

Aku melupakannya, seharusnya aku tidak menyebutkan nama Sasuke.

"Kalian berbicara cukup keras, aku mendengarnya." Alasanku.

"Aku merasa tidak asing pada pria itu, apa kita pernah bertemu dengannya?" Tanya Serra padaku.

"Mungkin hanya wajah yang familiar saja." Ucapku.

"Mungkin saja, wajahnya terasa sangat menyebalkan, bagaimana pun aku melihatnya. Ah, tidak perlu di pikirkan lagi, sekarang kita harus keluar dan makan malam bersama, kau sudah janji padaku." Ucapnya.

Saat Serra berada di Konoha, dia menyelesaikan sekolahnya, bahkan tanpa sadar apa yang di lakukannya disini, setelah lulus, dia kembali ke kedua orang tuaku, tapi karena yang di lakukan Sasuke, semua ingatan Serra kembali, dia kembali mengingatku.

"Iya-iya." Ucapku dan tidak bisa menolaknya.

Perasaan ini kembali padaku, saudaraku dan semua yang aku rasakan, aku senang akan hal ini kecuali ingatan Sasuke yang tidak akan pernah kembali.

.

.

.

.

.

Aku hanya akan menjaga toko dan menjaul bunga, sedangkan Serra mengatakan ingin berlibur disini dan tidak akan mencari pekerjaan apapun, dia ingin menemaniku, Serra sempat mengulang hal yang pernah terjadi dulunya, dia ingin mengajakku pergi dari kota ini, tapi aku sudah katakan jika di sini adalah tempatku dan aku akan tetap di sini.

Sementara toko kue di sebelah kami, paman Asuma, bibi Kurenai dan juga anak mereka yang akhirnya kembali dan membantunya berjualan, katanya anak mereka mengambil jurusan tata boga dan dia terlihat seperti seorang pembuat kue yang hebat.

Paman Asuma dan yang lainnya hanya mengingatku sebagai tetangga dan aku memperkenalkan Serra sebagai saudara jauh, kita tidak mungkin tinggal bersama jika tidak ada yang mengetahui identitas Serra, ini sungguh sulit, tapi bagaimana pun juga aku harus menjelaskan pada mereka.

Hari ini Serra mengatakan akan keluar sebentar dan hari ini pun dia datang lagi dan membeli bunga yang sama.

"Dimana pria berisik itu?" Tanya Sasuke padaku.

Pria berisik? Apa mungkin itu Serra?

"Kau berbicara cukup kasar pada adikku tuan." Tegurku.

"Aku tidak tahu bagaimana dia bisa berbicara begitu banyak hal meskipun baru mengenal seseorang."

"Adikku adalah pria yang mudah bergaul, dia cukup ramah untuk semua orang bahkan orang yang baru di temuinya. Sekarang dia sedang keluar, katanya ingin jalan-jalan sebentar."

Sasuke terdiam dan lagi-lagi onyx itu mengarah padaku, apa yang di lihatnya? Apa cara aku merangkai lagi? Aku sedikit gugup jika terus di lihatnya, atau apa dia mengingatku?

"Apa caraku merangkai membuat anda takjub hingga tidak berhenti menatapku?" Ucapku dan menatapnya.

Tatapan itu teralihkan, dia memalingkan tatapannya.

"Maaf jika ini membuatmu tak nyaman."

"Tidak, bukan seperti itu, aku hanya jarang di tatap oleh seseorang dan cukup lama." Ucapku.

"Oh ya, namaku Uchiha Sasuke, aku tiggal beberapa meter dari sini, sekarang aku bekerja sebagai seorang guru matematika di SMA K." Ucapnya panjang lebar.

Apa-apaan itu? Apa dia tengah memperkenalkan dirinya?

"Kau sedang memberitahukan apa tuan?" Ucapku, sedikit bingung dengan tujuannya mengatakan semua itu.

"Aku rasa kita mungkin bisa lebih dekat, entah mengapa aku merasa tidak pernah asing melihatmu." Ucapnya.

"Apa ini bukan sebuah gombalan dari seorang pria?" Ucapku dan terkekeh, aku sudah bisa menguasai seluruh emosiku, walaupun ini bertolak belakang dari jati diri seorang gadis mimpi.

"Aku tidak memikirkan ini adalah gombalan. Apa kau bisa menyebutkan namamu? Dan tolong jangan memanggilku 'tuan', aku merasa jauh lebih tua darimu, aku pikir kita memiliki umur yang sama." Ucapnya.

"Bagaimana kau tahu kita memiliki umur yang sama?"

"Aku tidak bisa menjelaskannya, aku rasa kau mungkin pernah tinggal dekat denganku." Ucapnya dan hal ini membuatku sedikit terkejut, kenapa Sasuke bisa mengingat hal itu? Atau hanya kebetulan saja.

"Aku tidak pernah pindah dimana pun, rumahku selalu disini." Ucapku.

"Aku hanya merasa kau pernah tinggal di tempat yang berbeda, jadi apa kau tidak ingin menyebutkan namamu?" Tanyanya.

"Haruno Sakura." Ucapku dan aku bisa melihat tatapan terkejut darinya.

Ada apa?

Kenapa dia terkejut setelah mengetahui namaku?

Apa akhirnya Sasuke mengingatnya?

"Aku merasa kita pernah benar-benar bertemu, sebelumnya, bukan saat ini atau sebelumnya, jauh sebelum hari pertama kita bertemu." Ucapnya dan sorot tatapan itu berubah, tatapan lembut yang di perlihatkannya dan ada sedikit rasa sedih di sana.

Aku harus bertahan, walaupun sekarang aku bisa memilih segalanya, aku bisa memilih takdirku, aku bisa bersamanya, tapi rasa sesak ini semakin menyiksa, Sasuke berada di dalam ingatan yang palsu, semua menutupi kenyataan yang ada.

"Aku tidak tahu jika kau akan mengatakan seperti itu, tapi mungkin kita bisa memulai kedekatan ini dari awal, sebagai teman." Ucapku.

"Hn, teman, itu juga tidak masalah." Ucapnya dan tersenyum padaku.

Tiba-tiba Sasuke memegang dada kirinya, katanya terasa sangat sakit katanya seperti ada yang menusuknya, Sasuke merintih kesakitan hingga pingsan.

Apa yang terjadi?

Aku tidak mengerti, ada apa dengannya? Berusaha membangunkan Sasuke, namun dia sama sekali tidak bergerak, aku tidak tahu harus melakukan apa, saat ini aku hanya menyeretnya ke atas sofa dan membiarkannya berbaring di sana.

Apa aku harus menghubungi dokter?

Apa dia sakit?

Tapi melihatnya masih bernapas membuat sedikit lega, Sasuke sedang tidak sakit 'kan? Sejak tadi dia terlihat baik-baik saja, apa mungkin, apakah ini yang akan terjadi pada Sasuke saat mencoba dekat denganku? Bukannya keadaanku sekarang sudah bisa untuk menemui takdirku? Kenapa jadi seperti ini?

Aku terus menunggunya sadar dengan perasaan cemas, aku tidak ingin hal buruk terjadi padanya, menggenggam tangannya dan terus berharap dia akan segera sadar, air mata ini kembali menetes, kapan terakhir kalinya aku menangis? Apa ini yang pertama kalinya atau aku rasa, aku pernah menangis seperti ini, rasanya begitu memilukan, aku sungguh mencemaskan Sasuke.

Ending Sakura pov.

.

.

.

.

.

Normal Pov.

Sasuke terbangun dan hal yang di lihatnya adalah wajah pria pink berisik itu.

"Akhirnya kau sadar, aku hampir akan membawamu ke rumah sakit, kau baik-baik saja?" Tanya Serra pada Sasuke.

Saat Serra kembali, dia melihat Sakura menangis di hadapan pria yang tengah berbaring di sofa, Sakura menjelaskan jika pria bernama Sasuke ini tiba-tiba pingsan dan membuatnya bingung harus melakukan apa.

"Jika kau masih merasa tidak enak, aku akan mengantarmu pulang, kakakku sungguh mengkhawatirkanmu."

"Dimana Sakura?"

"Kau sudah tahu nama kakakku?"

"Sebelumya kami sudah berkenalan."

"Jangan temui dia, wajahnya begitu kacau, matanya sampai bengkak, apa dia mentangisimu sejak tadi? Aku juga tidak mengerti kenapa dia menangis di hadapanmu atau kau sudah melakukan hal buruk pada kakakku?" Ucap Serra dan menatap tidak senang pada Sasuke.

"Aku tidak pernah melakukan apapun padanya, kami hanya berkenalan dan tiba-tiba aku merasakan sakit pada dada kiriku, setelahnya aku tidak tahu apapun."

"Kau harus memeriksanya ke dokter, apa kau punya riwayat penyakit jantung?"

"Tidak."

"Ya itu bukan urusanku, sekarang aku akan mengantarmu." Ucap Serra.

"Tidak perlu, aku merasa baik-baik saja. Aku akan pulang sendiri, tapi sebelumnya biarkan aku menemui Sakura." Ucap Sasuke.

"Kakak tidak ada, dia sedang keluar." Ucap Serra.

"Ini sudah malam dan kau membiarkan kakakmu keluar?"

"Dia pergi tidak jauh dari sini, aku harap kau segera pulang dan jangan datang lagi ke toko kami." Ucap Serra dan bergegas pergi dari sana.

Sasuke telah keluar dari toko bunga itu, hari sudah gelap, dia tidak sadar jika dia pingsan dan cukup lama, gadis itu bahkan tidak ingin menemuinya, Serra mengatakan jika kakaknya terus menangis.

Tidak ingin memikirkan hal lain, Sasuke akan memeriksa keadaannya di rumah sakit.

Setelah Sasuke pergi, Serra hanya melipat kedua tangannya ke dada dan menatap kakaknya yang duduk tenang di sebuah kursi.

"Kenapa menyuruhku berbohong dan tidak ingin menemuinya?" Ucap Serra.

"Bukan apa-apa." Nada suara Sakura terdengar lesuh.

"Apa selama aku pergi dia melakukan sesuatu padamu?"

"Tidak." Ucap Sakura dan menggelengkan kepalanya.

Serra berjalan lebih cepat dan berdiri di hadapan Sakura, bahkan membuat gadis itu menatapnya.

"Aku sangat mengkhawatirkanmu, dia pria asing yang baru saja kita temui dan kenapa hari ini seakan kalian begitu dekat? Katakan padaku jika dia membuat masalah padamu."

"Sungguh, aku tidak berbohong, aku sudah mengatakan apa yang terjadi tadi, aku hanya merasa cemas, kenapa dia menjadi sakit seperti itu? Bukannya ini aneh?"

"Aneh apanya? Kenapa kakak seakan tahu pria itu seperti apa? Pria itu memiliki penyakit apa? Kalian bahkan baru bertemu dua kali."

Sakura terdiam, lagi-lagi ucapannya memancing masalah untuknya, hal itu akan terdengar aneh bagi Serra.

"Maafkan atas ucapanku yang tidak-tidak." Ucap Sakura dan menundukkan wajahnya.

"Apa ini yang namanya cinta pada pandangan pertama? Kakak menyukainya? Kakak menyukai orang seperti itu?" Ucap Serra.

"Eh? Su-suka? Bagaimana kau bisa tahu?" Panik Sakura, wajahnya pun merona.

"Aku tahu bagaimana seorang wanita yang berubah hanya karena seorang pria."

"Apa kau tidak menyukainya?" Tanya Sakura.

"Ya, aku tidak menyukai pria dengan tatapan seperti dia, kau bisa bersama pria lain selain dia." Tegas Serra.

"Jadi kau akan menghalangiku? Kau tidak akan membiarkanku bahagia?"

"Aku pikir kebahagiaan itu akan di dapat tanpa bersama pria yang pertama kali kau suka, lagi pula kenapa kau harus pria itu!"

Sakura hanya tersenyum melihat tingkah Serra, seperti adik yang begitu melindungi kakaknya.

"Apa kau percaya takdir?" Ucap Sakura.

"Aku tidak percaya." Tegas Serra.

"Kau harus percaya."

"Tidak, jangan katakan hal konyol jika pria itu adalah takdirmu, ayo lah, kau harus berpikir secara logika kakak, jangan memikirkan hal seperti itu."

"Baik-baik, jadi kau sungguh tidak ingin aku bersamanya?" Ucap Sakura dan menatap penuh harap pada Serra.

Serra masih terdiam dengan segala pikiran kesalnya, dia akan menolaknya, tapi Sakura terus menatapnya dengan tatapan dia harus setuju.

"Aku sungguh membencinya! Baiklah! Jika kau suka padanya! Lakukan! Aku harap dia tidak menyukaimu." Ucap Serra.

"Kau sungguh adik yang kejam."

"Dia hanya menatapmu dan kau sudah begitu ge-er."

"Aku akan berusaha agar dia menyukaiku." Ucap Sakura dan tersenyum.

"Jika saja aku melihatnya membuatmu menangis, aku yang akan memukulnya dengan sangat keras."

.

.

.

.

Sasuke datang kembali, dia hanya ingin berterima kasih dengan apa yang Sakura lakukan padanya, selain itu, di belakang Sakura ada sorot tatapan yang seperti ingin mengirisnya halus-halus.

"Jika tidak ingin membeli bunga tidak perlu datang lagi." Tegur Serra.

"Aku hanya berterima kasih pada kakakmu, apa itu salah?"

"Tidak perlu berterima kasih, sekarang pergilah tuan, kakakku sangat sibuk hari ini." Ucap Serra, namun masih cukup pagi dan belum ada pelanggan selain Sasuke.

"Serra." Tegur Sakura.

"Tidak apa-apa, aku rasa adik kecil manismu sedang kurang bersahabat, sekali lagi terima kasih dan aku akan pergi bekerja." Ucap Sasuke dan pamit pada Sakura.

"Apa yang kau katakan!" Protes Serra namun segera di cegat oleh Sakura, dia tidak ingin adiknya berkelahi dengan Sasuke di dalam toko bunganya.

"Bisakah kau bersikap lebih dewasa?" Ucap Sakura padanya.

"Dia yang tidak bisa menjaga mulutnya!" Kesal Serra.

Sasuke tidak tahu jika pria berambut softpink itu sangat-sangat tidak menyukainya, apalagi jika dia berbicara pada Sakura, Sasuke hanya merasa ingin menemuinya, dia sudah memeriksakan dirinya ke dokter dan tidak ada kelainan apa-apa pada jantungnya.

Dia sadar akan rasa sakit yang seakan menusuk jantungnya hingga sulit di tahannya, yang lebih memalukan adalah dia pingsan, selama ini Sasuke tidak pernah pingsan bahkan di hadapan seorang gadis, Sasuke masih tidak mengerti akan kejadian itu.

Menjalankan pekerjaan seperti biasanya, dia akan mengajar di SMA dan cukup membuatnya kesulitan jika para murid perempuan selalu menghampirinya, mereka akan sibuk bertanya dan Sasuke lebih bersikap tegas hingga mendapat julukan sebagai guru killer, namun tetap menjadi guru favorit seluruh murid-murid perempuan, tak luput dari guru-guru wanita yang cukup senang bertemu Sasuke.

.

.

.

.

.

Beberapa kali Sasuke datang dan terus membeli bunga lili untuk di makam ibunya, beberapa kali datang pun dia akan terus bertemu dengan Serra yang seakan ingin menghalangi Sasuke jika berbicara pada kakaknya.

Hingga.

"Bocah berisik itu tidak?" Ucap Sasuke, dia tidak menemukan Serra di toko.

"Aku menyuruhnya berbelanja." Ucap Sakura.

"Setidaknya dia tidak menatap kesal padaku lagi." Ucap Sasuke dan membuat Sakura tertawa pelan.

"Apa ingin membeli bunga lili lagi?"

"Tidak, aku hanya ingin menemuimu."

"Menemuiku? Aku rasa itu hanya akan membuang waktumu."

"Aku merasakan hal yang berbeda jika bersamamu."

"Apa itu? Kau jadi terdengar aneh."

"Aku rasa ini konyol, tapi aku harap kita jauh lebih akrab."

"Aku pikir kita sudah berteman."

"Hn, tentu, aku mengingatnya."

"Apa yang akan di lakukan seorang teman?"

"Mungkin kita bisa keluar, minum teh bersama jika kau tidak keberatan dan bocah berisik itu tidak menghalangimu."

Kembali tawa pelan dari Sakura, Sasuke terus menerus menyingung Serra.

Ending normal Pov.

.

.

.

.

.

.

Sakura pov.

Aku akan menutup toko lebih awal hari ini, Serra terlihat marah padaku, aku hanya menerima ajakan Sasuke untuk bertemu diluar.

"Biarkan aku ikut." Tegas Serra.

"Baiklah." Ucapku.

Mau bagaimana pun juga aku sulit untuk melarang Serra, dia pria yang sudah dewasa dan masih bersikap kekanak-kanakan seperti ini.

Saat bertemu Sasuke pun pria bernama onyx itu menatap risih pada Serra, aku merasa tidak enak, tapi Serra tetap keras kepala akan ikut.

Hingga.

Kami menghabiskan waktu bertiga, ini terlihat aneh, pasangan macam apa ini? Kedua pria itu berjalan di antaraku, aku harus memisahkan keduanya, Serra mungkin akan segera menyerang Sasuke jika aku tidak menegurnya.

Hari bersama akhirnya berakhir, aku menikmati kebersamaan ini, walaupun lebih banyak pertengkaran ucapan antara mereka.

"Serra masuklah." Ucapku.

"Aku akan menunggumu hingga pria ini pulang." Tegas Serra.

Menatapnya dalam diam.

"Ah baiklah! Jangan terlalu lama di luar." Kesalnya, aku tidak mengerti bagaimana mengatakan Serra untuk bersikap lebih baik di hadapan Sasuke.

"Maafkan dia." Ucapku, mewakili maaf untuk Serra.

"Aku tidak masalah, dia memang cukup berisik, tapi mungkin itulah sikap seorang adik untuk melindungi kakaknya, aku sebagai seorang adik yang memiliki posisi yang sama dengan Serra mungkin akan bersikap sedikit keterlaluan jika ada yang berani bersama kakakku, tapi selama ini aku berada di luar Konoha, aku jadi membiarkan mereka bersama." Jelas Sasuke, dia menceritakan sedikit kakak tertuanya dan sekarang telah menikah.

"Apa kau ingin menghalangi kakakmu menikah?" Ucapku, sedikit bercanda.

"Tidak juga, jika dia telah menemukan wanita yang di cintainya dan peduli padanya, aku tidak akan mencari masalah."

"Kau pun bisa menjadi adik yang sangat pengertian, aku harap Serra pun seperti itu. Terima kasih untuk hari ini." Ucapku.

Sasuke pamit padaku dan aku bergegas masuk, Serra masih berada di depan pintu dan menguping.

"Kau masih membencinya?" Tanyaku serius pada Serra.

"Aku tidak ingin membicarakannya." Ucap Serra dan berjalan masuk ke kamarnya,

Menghela napas, aku tidak tahu harus bagaimana membuat Serra mengerti.

Malam ini setelah Serra tertidur nyenyak, aku harus kembali melakukan tugasku, di sumur tua itu aku melihat bayangan Sasuke, hari ini dia akan bermimpi buruk, apa aku bisa melihat mimpinya? Tapi aku tidak ingin melihat sesuatu yang tidak ingin aku lihat.

Rasa penasaran itu kembali membesar, melompat ke dalam sumur tua itu dan aku terjatuh ke semak-semak, suasana hutan yang berada di sekitarnya, mencoba mencari Sasuke, dia ada dimana? Seharusnya ini menjadi sebuah mimpi buruk, tapi aku tidak melihat seperti bayangan hitam atau monster yang akan menyerangnya atau sesuatu yang buruk akan menimpahnya.

Akhirnya aku menemukan Sasuke, dia terdiam di depan dermaga dan menatap laut lepas, apa yang di lakukannya disana? Mimpi buruk apa yang sedang di alami Sasuke? Ada apa dengan laut dan dermaga?

Berjalan semakin mendekat ke arahnya, langkahku terhenti, Sasuke tidak sedang melihat laut lepas, tapi dia seperti sedang memeluk seseorang, angin berhebus perlahan dan aku melihat helaian rambut softpink yang terurai oleh angin.

"Sakuraa!" Teriak Sasuke, aku tidak melihat jelas siapa yang di peluk oleh Sasuke, saat dia berbalik dia hanya seorang diri dan bahkan meneriakan namaku, tatapannya bahkan terlihat sangat sedih, seakan habis kehilangan sesuatu.

Menjauh darinya dan keluar dari mimpinya, aku tidak mengerti akan mimpi buruk Sasuke.

.

.

.

.

.

Esok harinya,

Sasuke datang ke toko, tidak membeli bunga, tidak peduli pada omelan Serra dan hanya menatap ke arahku.

"Aku tahu ini terdengar konyol, tapi aku harap uhm-" Sasuke terdiam, dia menggantungkan kalimatnya, apa yang ingin dikatakan Sasuke? Mimpi buruknya itu mempengaruhinya.

"Hey, aku sudah katakan padamu berkali-kali, jangan mengganggunya." Ucap Serra, kali ini dia berdiri tepat di hadapanku, menghalangi padangan Sasuke.

Berusaha menatap wajah Sasuke, dia terlihat kebingungan, ada yang sangat ingin di katakannya tapi membuatnya tertahan.

"Serra." Panggilku lembut dan memegang punggunggnya, aku tahu Serra sangat tidak suka padanya.

"Aku hanya melindungimu." Ucap Serra dan nada suaranya melemah padaku.

"Tenang saja, aku akan baik-baik saja." Ucapku dan tersenyum padanya.

"Baiklah, aku akan membiarkan kalian berdua, tapi jika saja kau macam-macam pada kakakku, aku benar-benar akan menghajarmu." Tegas Serra, akhirnya dia keluar, aku bisa melihatnya ke toko kue paman Asuma, mungkin dia tetap ingin mengawasi di sekitar.

"Saat terbangun tadi pagi, aku hanya memikirkan untuk menemuimu." Ucap Sasuke, raut wajahnya berubah, dia terlihat khawatir.

"Terima kasih telah mengkhawatirkanku." Ucapku. "Lalu, bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanyaku, aku juga mengkhawatirkannya.

"Aku baik-baik saja, terima kasih juga telah mengkhawatirkanku. Dan aku belum menyelesaikan ucapanku, aku hanya ingin lebih dekat denganmu, meskipun adikmu cukup berisik, kedekatakan melebih seorang teman, aku hanya tidak ingin terlalu terburu-buru dan membuatmu kebingungan akan tindakanku." Ucap Sasuke dan membuatku tertawa pelan, jika Serra ada disini, mungkin dia akan kembali marah-marah dan protes padanya.

Menatap Sasuke, aku merasa cukup senang, meskipun seluruh ingatannya menghilang, Sasuke tetap kembali padaku, aku terus menahan rasa sesak ini dan perlahan-lahan akan terkikis oleh waktu kebersamaan kami.

"Tentu." Jawabku. Dan kali ini aku menerima takdirku, aku tidak akan membiarkanya lagi.

Kami di pertemukan kembali, bagiamana pun sulitnya kehidupan kami sebelumnya, takdir tidak akan pernah berbohong.

.

.

.

TAMAT

.

.

.


akhirnya bisa di update kembali =w= maaf-maaf.

ini chapter terakhir dan nggak akan ada epilog, sepertinya, =w= tidak! tidak! pokoknya nggak ada lanjutan apa-apa dari fic ini. meskipun itu sequel.

maaf jika banyak hal yang membingungkan di dalam fic ini =w= alurnya berputar-putar hingga melompati waktu dan kembali ke awal, author tahu jika kalian baca tidak dengan benar-benar teliti atau cuma baca sekali, pasti bingung, ya saya yang buat saja bingung, hahhahaa. *Di lempar sendal* sebenarnya author cukup gregetan karna sulitnya membuat tanpa emosi untuk si tokoh utama -Sakura, ah, gila, susah ternyatanya =_=" author cukup kapok buat tokoh utama yang tanpa emosional. =_=" mungkin fic seperti ini yang pertama dan terakhir kalinya =_="

kenapa endingnya seperti ini? berasa menggangantung?

sengaja, alasannya author mau buat ending yang berbeda dari fic-fic karya author yang lainnya, sebenarnya ini tidak menggantung, endingnya dah jelas, jelas banget, =w=. konfliknya telah meredah dan masalah yang di alami Sakura telah selesai, ini menurut sudut pandang author, dan di chapter ini di buat cukup panjang.

tidak bosan-bosannya, author mau berterima kasih pada para reader, senang sekali kalian masih baca meskipun bingung *terharu*

ini sudah tahun 2020 dan akhirnya fic ini selesai, *bersorak*

dan sekarang mari move on. move on!

author punya fic yang agak rumit tapi tetap mau di buat ringan, heheheh. promosi sekalian, judulnya "007" pasti bakalan ada yang ingat mungkin, judul fic author yang judulnya '002' sebaiknya di baca catatan kecil di akhir fic itu *kedip-kedip*

sekali lagi, terima kasih untuk semua reader...~ :*

oh ada yang mau kepoin author? Ngapain? nggak ada! hehehe. ya siapa tahu ada yang mau menyapa lewat ig author atau mau lihat apa aja sih yang author lakukan sampai kadang nggak update. XD

ig: ama_sakura (Ignya ala-ala bucinnya sakura) nggk! pernah coba ubah, cuma nggak di terima saja ig =_= jadi tetap saja pakai Sakura hingga sekarang, biar di tahu, suaminya Sasuke, alah! :D

.

.

~ Sasuke Fans ~

.

.