Di sebuah ruangan yang temaram, seseorang tengah menatap layar laptopnya dengan intens dan fokus. Sesekali jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Berbagai huruf dan angka yang terjejer rapih bagai semut itu terlihat sangat mudah baginya untuk memahami.
Dia menghentikan sejenak acara mengetiknya dan menghempaskan diri pada sandaran kursi.
Ia menghembuskan napas dengan kasar dan melirik sengit pada monitor.
"DOSEN SIALAN!!!" serunya frustrasi.
"YAYA JANGAN BERISIK!!" Ying membalas seruan itu dengan kesal.
Seketika Yaya membungkam mulutnya dan merengut. Ia mencibir pelan, "ini bukan salahku. Salahkan saja Dosen sialan itu! Ngasih tugas gak kira-kira. Dipikir robot kali ya?"
Tangannya terangkat untuk mengusap wajahnya menghilangkan raut banyak pikiran yang terlihat di sana. Sesekali Yaya kembali menghela napas karena bingung.
Ingatan Yaya melayang pada percakapannya dengan Halilintar tempo hari yang mana itu semua berdasarkan fakta. Ada rasa tidak percaya dalam benaknya akan fakta itu. Rasanya semua itu hanya mimpi buruknya. Namun, Halilintar semakin membuatnya yakin tidak bermimpi setelah menelusuri rekam jejak orang itu selama berjelajah di dunia deep web dan internet lainnya.
Jika ditilik dari sisi psikologi, biasanya orang yang berubah itu memiliki sesuatu yang membuatnya juga berubah.
"Rasa trauma?" tebak Yaya menggumam.
A BoBoiBoy Fanfiction proudly present
"Programmer of Love"
-- Halilintar x Yaya --
--Trauma--
Jika ditanya Yaya takut tidak dengan Kaizo, maka jawabannya tidak. Hanya awalnya saja Yaya merasa ketakutan dengan laki-laki berambut ungu seperti pantat ayam itu. Mungkin itu efek terkejut karena semua yang diketahuinya terlalu tiba-tiba.
Hari ini, akan ada pertandingan basket antar fakultas. Kebetulan sekali kalau fakultas Informatika akan bertanding, dan yang menjadi kaptennya adalah Huang Zi Kaizo.
Ying dan Yaya berjalan-jalan sembari membicarakan segala hal. Meski nyatanya hanya Ying saja yang banyak bicara, karena Yaya terlihat melamun.
"Yaya, kau mendengarkanku tidak?" tanya Ying agak sebal.
"Aa.. maafkan aku, Ying. Aku sedang banyak pikiran," sahut Yaya.
Ying memicingkan matanya yang sipit. "Apa ini ada hubungannya dengan kau yang datang ke rumah Pak Hali tempo hari?" tebak Ying tepat.
Kecurigaan Ying semakin menjadi saat melihat tubuh gadis berhijab merah muda itu menegang. Namun, yang membuatnya heran adalah kenapa wajah Yaya merona? Apa yang sebenarnya terjadi dengan keduanya saa di sana?
"Bu-bukan kok," sangkal Yaya cepat.
"Yakin?"
"I-Iya."
"Lalu kenapa wajahmu merona?" tanya Ying kepo.
"Apa?!" Yaya berseru panik dengan kedua tangan yang langsung menangkup kedua belah pipinya. Wajahnya terasa memanas.
Lalu, ingatan Yaya kembali pada kejadian di mana dirinya yang berada di pangkuan Halilintar dengan tangannya yang melingkari leher laki-laki itu. Wajahnya yang memerah karena tangis dibenamkan dalam dada bidangnya serta, Yaya merasakan usapan lembut di kepala dan punggungnya.
Mengingat semua itu kembali membuat Yaya merasa malu. Astaga..
Ia kembali melirik pada Ying yang menunggu jawabannya dengan mata memicing. Yaya meneguk ludahnya agak ragu.
"Efek pa-panas. Uh.. kenapa lapangan outdoor itu panas sekali?" ujarnya mengalihkan pembicaraan.
Ying masih terlihat belum percaya. Saat akan membuka suara lagi, terdengar dering ponselnya. Gadis berkacamata itu mengambil ponselnya dan melihat sebuah pesan chat.
Seketika wajahnya berubah sendu. Yaya mengernyit.
Ying menoleh pada Yaya, "Aku lupa memberitahu mu kalo aku sudah dipesankan tempat duduk oleh temanku. Kau ikut denganku ya?" ajak Ying.
Yaya terdiam sejenak, lalu ia tersenyum tipis. "Tidak perlu, Ying. Kalau tidak salah tadi aku melihat ada satu kursi kosong di sana," ujar Yaya menolak.
"Tapi..." Ying akan mengatakan sesuatu kala saja Yaya tidak menyuruhnya berhenti dengan mengangkat tangannya, membuat Ying bungkam. Hingga sebuah tarikan pada tangan Ying yang membuat gadis itu berjalan menjauh dari Yaya.
Sebelumnya, Ying menatap Yaya dengan pandangan bersalah. Namun, gadis itu hanya memberikan senyuman.
Setelah Ying menghilang, Yaya memasang wajah seriusnya. Kakinya membawa gadis itu ke salah satu bangku kosong dipaling atas. Saat akan duduk di kursi itu, Yaya melihat ada seseorang yang duduk juga di bangku paling atas namun agak jauh dari dirinya. Seluruh tubuhnya tertutup hoodie ungu gelap dan masker. Penampilan yang misterius.
Namun, Yaya seperti mengenali orang itu. Saat akan menyapa, suara para supporter yang menonton meredam suaranya. Terlebih, saat mereka berdiri Yaya jadi tidak bisa melihat orang itu.
Saat suasana kembali tenang, Yaya segera mencari keberadaan orang itu. Nihil. Dia menghilang.
Matanya mengedar ke segala arah guna mencari kemana perginya orang itu. Ia melihat ke bawah, dan orang itu berjalan menuju pintu keluar. Namun, saat akan mengejar, tangannya ada yang menahan.
"Ish! Siapa sih main tahan-tahan saja?! Orang lagi buru-buru gini!" omel Yaya sebal.
Gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati seorang laki-laki memakai hoodie hitam dan sebuah masker yang menutupi setengah wajahnya.
"Mau pergi kemana kamu?"
Memdengar suara itu, saraf sensorik keparat milik Yaya aktif. Gadis itu memicingkan matanya menatap intens manik ruby yang terlihat seperti menyala dibalik gelap. Surai hitam menghalangi dahinya.
"Bapak kenapa nahan saya sih? Saya ada perlu," omelnya.
"Jawab pertanyaan saya, tadi kamu mau pergi kemana? Seperti buru-buru begitu," ujar Halilintar datar.
"Iyalah buru-buru. Ada hal yang perlu saya tanyakan sama dia. Cuman, gagal karena Bapak malah nahan saya," ketus Yaya. Gadis itu duduk di kursi kosong. Sedangkan Halilintar di sampingnya.
Karena masih gondok dengan Halilintar dan rasa malu yang menderanya, Yaya berniat pergi. Namun, sebuah tangan kembali menahannya. Yaya kembali terududuk sambil berteriak keras di bawah teriakan supporter saat Kaizo mencetak skor setelah memasukan bola dari petak three point.
Tangan bebas Halilintar merogoh saku hoodie-nya dan mengambil sebuah sticky note dan pena. Tangannya mulai menari di atas sticky note itu.
Jangan pergi dulu. Ada yang perlu saya bicarakan dengan kamu. Jangan perdulikan adik dari Huang Kaizo.
Yaya agak terkejut bagaimana Halilintar tahu kalau orang tadi adalah Fang.
Saya sudah memperhatikannya sedari tadi. Dia itu termasuk komplotan Kaizo. Jadi, berhati-hati dengannya dan jangan tertipu dengan wajah datarnya.
Yaya mencibir. Jangan tertipu dengan wajah datar? Apa dosennya itu selama ini tidak sadar kakau wajahnya juga berekspresi sama datarnya dengan Huang bersaudara itu.
Jangan mencibir saya dalam hati. Katakan saja langsung di depan saya. Mumpung saya sedang berbaik hati.
Berbaik hati dengan memberinya segudang tugas yang entah kapan selesainya.
Yaya sudah jengah dengan tingkah Halilintar. Ia bernajak lagi. Namun, sama seperti tadi. Ditahan. Bedanya sekarang kakinya diinjak, membuat Yaya mati-matian menahan teriakannya.
"Degil," ucap Halilintar datar. Yaya melotot kesal.
Tangan Halilintar kembali bermain di atas sticky note.
Sudahlah jangan beranjak. Siapa juga yang mau duduk di samping mahasiswi serampangan seperti kamu? Jangan besar kepala. Kamu itu hanya mahasiswi kampret yang sering membikin saya eneg dan kesal.
Pelototan Yaya semakin menjadi. Ia memaki dosennya itu. "Heh! Kamu pikir aku nggak eneg sama kesal dengan segala tingkahmu!? Aku muak denganmu, asal kamu mau tahu?!"
Halilintar menatap Yaya dengan wajah datarnya. Lalu tangannya merogoh sesuatu dari kolong kursinya. Sebuah keresek hitam yang entah ada apa saja di dalamnya.
Laki-laki itu menyerahkannya pada Yaya yang hanya melongo. Sebuah sticky note kembali di berikannya pada gadis itu.
Makan. Jangan terlalu ikut memikirkan misi ini. Yang perlu kamu lalukan adalah memantau dan melaporkan hasilnya pada saya.
Setelahitu, Halilintar beranjak dari sana tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Tangannya dimasukan ke dalam saku hoodie-nya.
Setelah pergi, Yaya menunduk dan melihat berbagai jenis jajanan di dalam sana. Tangannya mengambil sebuah sticky note lagi. Ia membacanya dengan seksama. Seketika wajahnya merona.
Jaga kesehatan.
Hanya dua kata yang tidak berarti apa-apa sebenarnya. Tapi, entah kenapa dapat membuat Yaya terlena. Ia merasa senang.
"Makasih," bisiknya entah pada siapa.
OwO
Pertandingan basket telah selesai. Semua orang sudah berhamburan meninggalkan venue itu dan hanya menyisakan Yaya yang tampak merenung. Kepala yang tertutup topi dan hijab itu terlihat serius. Bahkan dia tidak menyadari ada seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya.
Puk!
"Astaga!" kaget Yaya.
Gadis itu menoleh cepat dan mendapati seorang laki-laki berambut ungu dengan kacata berframe ungu gelap yang menutupi mata sipitnya.
"Kaget?" tanya Fang setengah mengejek.
Yang ditanya begitu merengut. Ia mendelik kesal pada laki-laki berras Tionghoa itu.
Fang mendudukan dirinya di samping Yaya. Matanya menerawang ke depan. Seolah membayangkan sesuatu.
"Bang Kaizo itu adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ia merupakan anak yang kuat dan pekerja keras. Saat usianya delapan tahun, kami kehilangan kedua orang tua kami akibat sebuah pengeboman. Banyak korban yang selamat, namun hanya kedua orang tua kami yang meninggal dunia," ujar Fang tiba-tiba.
Yaya mengernyitkan dahinya. Namun, tak ada niatan untuk menyela.
"Lalu, para aparat kepolisian mencari penyebab dari pengeboman tersebut. Usut punya usut, ternyata yang melakukan pengeboman adalah dari salah satu oknum RIU. Terutama Fakultas Informtika. Mengetahui hal itu, membuat Bang Kaizo dendam dengan semua pihak di fakultas Informarika. Apalagi, dia memiliki trauma berat dengan yang namanya tindak pengeboman," sambungnya. Ia melirik pada Yaya dengan pandangan kosong namun menakutkan. "Kau tahu maksudku, bukan?"
Yaya meneguk ludahnya kasar. Dengan cepat dia beranjak dari sana. Jantungnya berdebar cepat. Keringat dingin menetes dari pelipisnya.
Dirasa cukup jauh, Yaya berhenti dan mengatur napasnya.
"Hosh... Hosh..."
"Anjir, dia biki takut saja. Kenapa juga dia membeberkan tentang Kak Kaizo tiba-tiba? Aneh," gumam Yaya heran.
Setelah kembali normal, Yaya menegakan tubuhnya. Saat akan melangkah. Tiba-tiba saja ada yang membekap mulut dan hidungnya dengan sebuah sapu tangan.
Yaya tahu bau di sapu tangan itu. Obat bius.
Maka dari itu, Yaya menahan napasnya dan berpura-pura pingsan. Tangannya bergerak mengirim pesan S.O.S pada seseorang. Setelah itu, dia memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Sebelumnya, dia mengaktifkan lokasi agar mudah dilacak.
Yaya dibawa menggunakan mobil sedan hitam. Solar dan Blaze yang melihat dari kejauhan terkejut.
"Bukannya itu Yaya?!" tanya Solar.
"Hooh! Mereka mau bawa Yaya kemana ya?" Blaze ikut bertanya.
"Jangan-jangan..."
Keduanya saling berpandangan dengan mata melotot. Lalu, sedetik kemudian keduanya berlari dengan cepat ke suatu tempat.
Sementara itu, Halilintar sedang mengoreksi semua hasil kuis para mahasiswanya. Ketika sedang seriusnya, tiba-tiba saja pintu ruangannya didobrak.
BRAK!
"PAK HALILINTAR!! YAYA DICULIK" seru Solar dan Blaze bersamaan.
Halilintar yang tadinya akan memarahi kedua komting itu seketika terdiam. Matanya meminta penjelasan keduanya.
"Tadi kami berdua melihat Yaya dibawa dengan sedan hitam. Dan keadaan Yaya saat itu kayak pingsan, Pak!" lapor Solar. Blaze mengangguk.
"Astaga... Berbahaya!"
Kring!!
From : ananda.
S.O.S
Halilintar melihat e-mail yang dikirim Yaya. Gadis itu memerlukan bantuannya.
Tangannya mengacak surai cokelatnya. Semuanya menjadi kacau. Halilintar bingung sebenarnya kenapa mereka mengincar Yaya. Apa karena Yaya itu adalah...
"Tidak mungkin!"
"Pak! Sebenanrnya apa yang terjadi?!" tanya Blaze cemas.
"Bukan urusan kalian! Kembali ke kelas!" titahnya dingin.
"Urusan yang ada sangkut pautnya dengan Yaya itu semuanya berhubungan dengan kami. Dan itu menjadi urusan kami. Kami adalah sahabat Yaya!" ujar Solar tegas.
Halilintar terdiam sejenak. Dia melihat kedua mahasiswanya itu tampak benar-benar serius. Seberapa besar sebenarnya pengaruh Yaya bagi mahasiswa angkatannya?
Laki-laki itu menghela napas dan mulai menceritakan semuanya pada keduanya. Entah kenapa Halilintar percaya pada Solar dan Blaze. Keduanya merupakan mahasiswa cerdas yang memiliki sifat sebelas dua belas dengan Yaya. Mungkin itu salah satu alasan kenapa dirinya mudah pada keduanya.
Solar dan Blaze yang sudah mendengarkan seketika memucat. Mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Halilintar.
"Bapak sedang bergurau ya?" tanya Blaze dengan kekehan miris.
"Untuk apa saya berbohong?"
"Jadi... Anda dan Yaya itu..." Solar menggantungkan ucapannya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Semua terlalu mengejutkan.
Halilintar mengulas senyum miring dengan kepala ditelengkan ke kanan. "So, apa kalian akan membantu saya?"
To be continued
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aloha!!
Akhirnya April bisa update lagi.. Maaf ya buat keterlambatannya. April lagi sibuk-sibuknya ini. Apa lagi April baru aja selesai long march mengelilingi tiga kabupaten di Jawa Barat. Kab. Bandung — Kab. Garut — Kab. Sumedang selama 7 hari 6 malam. Kebayangkan gimana April selama long march itu? Sakit badan semua.
Pokoknya, makasih buat yang selalu nungguin fic ini. April terharu banget karena banyak yang nunggu. Makasih juga buat yang udah review.
See you in next part
Love You
*RnR Please*
