Cerita ini berdasarkan novel Harry Potter dari J.K Rowling. Kesamaan karakter dan tempat hanya karena cerita ini sekedar Fanfiction.
A/N:
Liburan akhir tahun kalian milih main bareng teman atau dengan keluarga? Tahun ini akhirnya aku bisa pulang kampung dan menghabiskan waktu dengan keluarga besar, meski harus meninggalkan suami sendirian karena tidak bisa ikut cuti. Bila biasanya waktu berharga dibuat untuk liburan ke tempat istimewa nan jauh, kini aku merasa lebih menghargai waktu berkumpul dengan keluarga setelah sekian lama. Di sela-sela kumpul-kumpul itu, aku menyempatkan menyelesaikan draf chapter ini agar bisa selesai sebelum bulan Desember ini berakhir. Terima kasih yang masih sabar menunggu cerita ini update, mereview, favorit dan follow. Tanpa menunggu lagi, selamat membaca!
12
Takdir, peristiwa yang terjadi diluar kendali seseorang, ditentukan oleh kekuatan diluar batas manusia. Pada banyak bangsa, takdir bahkan dianggap memiliki wujud. Sang takdir, lady fate; Clotho, Lachesis dan Aisa atau Atropos, wanita-wanita takdir dari kaum Yunani Kuno. Tidak ada yang tahu kebenaran dari legenda-legenda itu. Tapi tiap manusia yang berjalan di muka bumi merasakan dampak sentuhan takdir. Entah percaya atau tidak, tiap orang punya bagiannya sendiri dalam puntalan nasib yang menjalin membentuk benang yang saling terhubung antar manusia satu dengan yang lain. Seperti yang dinyanyikan orang-orang kuno dalam penggalan pindar milik Plato;
Dengarkan Nasib, yang duduk dekat dewa-dewa di atas takhta, dan menenun dengan puntalan yang kukuh, alat mutlak rencana untuk segala makhluk yang tak terhitung jumlahnya. Aisa, Clotho dan Lachesis; anak-anak perempuan bersenjata malam, mendengarkan doa-doa kami, wahai sang dewi mengerikan dari langit dan bumi.
Harry memahami itu, bahkan bila orang lain menganggapnya hanya sekedar bait tua; tahu makna-nya, tapi tak memahaminya. Sebagai seorang anak takdir, yang matanya memandang lebih dari puluhan pilihan dari tiap langkah yang diambil. Bagai puntalan yang teruntai perlahan, menjadi rangkaian benang yang terjalin, memang kiasan yang cocok untuk menggambarkan takdir. Terkadang benang itu akan kusut dan putus. Terkadang ia menjalin dengan yang lain dan membentuk pola baru. Ada takdir yang memang tak bisa dihindari, tapi bukan berarti ia punya rupa yang sama. Bila diibaratkan, takdir macam itu seperti sebuah stasiun akhir, untuk menuju kesana ada banyak jalan dan cara.
Takdirnya dengan Marcus pun sama. Marcus adalah akhir untuk Harry, tapi makna dari akhir ada banyak. Marcus akan selalu bersamanya, tapi sebagai apa adalah pilihan. Sehingga, Harry tidak terburu-buru untuk menentukan apa arti melamar yang dikatakan Marcus. Jika ciuman itu sebuah tanda, mungkin ia bisa menebak ke arah mana hubungan mereka. Tapi waktu masih terlalu muda untuk memutuskan bahwa mereka akan benar-benar berakhir seperti itu. Anggap saja ia paranoid, tapi tidak ada orang yang melihat seperti apa yang ia lihat. Bisa saja perasaan dibelokkan, dan pada akhirnya mereka tidak yakin akan berada di akhir yang sama. bisa saja ia tak melihat akhir takdir yang tragis dan tak bisa menghindarinya.
Layaknya permintaan anehnya pada pangeran vampire, yang juga sebenarnya adalah taruhan untuk keluar dari takdir tragis masa depan, karena mungkin saja, jika ia kalah dalam bertaruh, apapun bentuk masa depannya dengan Marcus akan sirna seketika.
Disini ia berdiri, dalam usahanya yang lain untuk mengurai puntalan nasib. Di tengah lembar-lembar manuskrip penuh simbol-simbol kuno yang lama lenyap, terlupakan oleh manusia.
Tidak akan pernah terbayangkan, semua manuskrip yang berharga lebih dari segunung galeon ini akan jatuh ke tangan Harry, seandainya takdirnya tak bersinggungan dengan Pangeran Vampire. Ia akan tetap hanya menjadi Harry Si Anak Yang Bertahan Hidup, yang dimanipulasi dan memandang dunia dengan kenaifan hingga semuanya terlambat.
Buku-buku tua penuh simbol terlarang itu menjelaskan apa yang dicari Harry untuk memahami asal dari takdirnya yang berbelit. Necromancy, buku itu menyebutnya, sebagai praktik sihir yang memberikan jembatan komunikasi dengan mereka yang sudah mati—entah itu dengan cara pemanggilan arwah atau membangkitkan tubuh dari kematian. Kebanyakan dipakai dengan tujuan mengetahui masa depan, menemukan pengetahuan yang hilang atau menggunakan mayat sebagai senjata. Sihir ini juga sering disebut Death Magic. Ya, Death... Harry merasakan takdirnya selalu berkaitan dengannya, seperti jaring laba-laba kusut yang membuatnya tak bisa melepaskan diri. Tapi jika benar Death nyata, ia perlu tahu alasan mengapa ia berhubungan dengannya. Karena itu Harry mempelajari Necromancy.
Kata Necromancy diadopsi dari latin kuno necromantia, yang juga dipinjam dari awal Yunani Klasik νεκρομαντεία yang bercampur dengan Yunani Kuno νεκρός (nekrós), "mayat", dan μαντεία (manteía), "ramalan yang artinya". Karena itulah, Harry sekarang berada di tengah pentagram dengan rune-rune kuno, dengan simbol-simbol yang berhubungan dengan gerakan bulan, perpindahan matahari, hari dan waktu.
Nercormany menggunakan simbol-simbol waktu karena kedekatan mereka dengan ilmu Divination. Banyak Peramal kuno yang juga merupakan master Nercomacy pada abad-abad awal kehidupan penyihir, sebelum Nercomancy menjadi ilmu terlarang yang ditakuti oleh Kementrian. Simbol-simbol waktu itu menunjukkan sikap rendah hati pada Kematian yang tak terhalang atau lemah oleh waktu.
Ujung tajam pisau dagger ditangannya bersemburat merah darah yang dihasilkan dari luka yang ia ukir di bahunya. Luka berbentuk rune Yunani kuno ἡ yang dinamai νέκυια (nekyia). Simbol 'ritual yang mana arwah dipanggil untuk ditanyai tentang masa depan.' Istilah apa yang di masa depan disebut Necromancy. Harry tidak berniat bertindak sejauh seperti memanggil arwah, tapi rune ini hanya berfungsi sebagai jangkar yang bisa memberinya pondasi saat berhubungan dengan Death Magic, sebagai persiapannya untuk berkomunikasi dengan Kematian saat Samhain pada malam Halloween nanti.
Ia bisa merasakannya di udara, beban sihir hitam yang bergelung berat dan menyesakkan, tapi tidak tajam dan menyakiti seperti Voldemort. Sihir itu melingkupinya, hampir terasa posesif. Seolah selama ini sihir itu menunggu untuk dipanggil olehnya. Marcus yang berdiri di luar pentagram, menatap dengan lingkaran perak di retinanya yang bersinar terang. Memandang Harry yang duduk bak pertapa yang memasuki masa trans, menatap tapi tidak menatap; warna hijau emerald kelopaknya perlahan menjadi gelap dan lenyap, ternggelam dalam kegelapan. Lalu seperti senar yang diputus, energi itu tiba-tiba lenyap seketika, menyentak jatuh Marcus dan membuat lantai di ruang ritual itu bergetar.
Saat Marcus membuka mata, Harry berdiri di tengah pentagram-nya dengan kesadaran penuh, tersenyum padanya dan melangkah keluar dengan kaki mantap. "Kau baik-baik saja?" tanya Marcus.
Ia mengerdikkan bahu, "Tidak pernah lebih baik dari ini," ia menelengkan kepala, seolah mencari istilah yang tepat, "Sihirku terasa selaras, seolah apa yang semula membuatnya tidak seimbang kini telah lenyap."
"Kau tidak merasa perbedaan sama sekali?"
Harry mengerjap saat menyadari nada suara Marcus, "Kau merasakan sesuatu?"
"Sihirmu jauh lebih berat. Seperti saat aku berdiri di depan ayahku saat ia marah."
"Oh?" ia menatap tangannya dengan pandangan tertarik. Menyadari ada asap hitam yang perlahan hilang timbul dari jemarinya. Harry menutup mata, menahan sihirnya seperti sedang menangkupnya dan membawanya masuk ke dalam dirinya. "Sekarang bagaimana?"
Marcus mengangguk. "Kau berhasil mengendalikannya, sihirmu? Itu... teknik yang tidak mudah."
Harry menyengir, "Ini pertamakalinya aku melakukannya, tapi aku sudah sering melihat diriku melakukannya dimasa depan."
"Hm... itu berarti kau jauh lebih kuat dibandingkan alternatif dirimu yang lain." Marcus menjatuhkan jubah gelap di pundak Harry untuk menutupi kulit telanjangnya, sengaja memilih pakaian longgar itu karena tidak ingin bahannya bergesekan dengan luka berbentuk rune νέκυια di bahu Harry yang harus dibiarkan sembuh tanpa bantuan sihir.
"Tentu saja. Aku diberkahi untuk mengetahui semua potensiku... aku tidak akan masuk Slytherin jika tidak mencoba untuk memanfaatkannya," jawab Harry, menanggapi komentar Marcus, sementara mereka keluar dari ruang ritual di Kondo Slytherin.
Para anggota Knight of Walpurgis tampak terperanjat saat menyadari Harry keluar dari koridor misterius yang menghubungkan ke ruang terkunci. Tidak ada yang bertanya, tapi mereka semua seolah sudah menebak bahwa dengan keluarnya Harry dari sana, berarti ia mampu membuka ruang misterius itu. Tentu saja, ini tidak mengejutkan, mengingat Slytherin ada dalam darahnya. Para anak Pelahap Maut itu hanya berpikir, sungguh ironi bahwa Perang Sihir Kedua ini sesungguhnya bukan antara gelap dan terang, melainkan antar saudara sedarah.
Mereka berdiri dan merundukkan tubuh singkat. Harry menghentikan langkahnya dan berkata, "Malam ini kita akan merayakan Samhain. Aku tidak akan memaksa kalian ikut, jika kalian khawatir dengan Dumbledore dan tidak ingin meninggalkan makan malam di aula besar," jeda sejenak, "Tapi, jika ada diantara kalian yang tertarik dan ingin mengajak saudara atau teman dekat untuk melaksanakan ritual ini, silahkan." dan sebelum mereka sempat menjawab, Harry kembali melangkah, diikuti Marcus yang menatap mereka tanpa ekspresi.
Para anggota Knight of Walpurgis mendengar rumornya, bahwa Harry Potter menganut Pagan. Awalnya mereka tidak percaya bahwa anak yang dibesarkan pada lingkungan Muggle tahu apa arti Pagan untuk bisa mempraktekkannya. Tapi setelah melihatnya menghilang pada Halloween tahun lalu, spekulasi itu kembali muncul. Tampaknya Anak Yang Bertahan Hidup telah memeluk kepercayaan lama, kepercayaan nenek moyang mereka yang telah lama terlupakan bahkan diantara sesama penyihir sekalipun.
Malam itu mereka berkumpul di ruang Rekreasi Knight of Walpurgis yang letaknya berada jauh dan tersembunyi dalam Asrama Slytherin. Beberapa ada yang membawa saudara atau teman dekat yang tampak takjub karena bisa berdiri di tempat sakral organisasi tertua di Hogwarts. Semenjak Marcus menghapus kerahasiaan Knight of Walpurgis, mulai banyak orang yang tahu jika kelompok mereka bukan sekedar rumor. Tapi yang lebih mengejutkan mereka adalah keberadaan Profesor Snape.
Ya, mereka sadar bahwa pria itu mengetahui keberadaan Knight of Walpurgis, tapi melihat dengan mata kepala sendiri, sang Kepala Asrama berdiri diantara mereka? Bukanlah sesuatu yang menenangkan. Biasanya pria itu memilih tidak ikut campur dengan aktifitas mereka. Apa ia juga mendapat undangan dari Harry Potter? Pria itu tidak tampak ingin berkomentar atau bahkan mengatakan apapun. Tapi ia sama sekali tak tampak gelisah, berbanding terbalik dengan anak-anak yang menunggu disekitarnya.
Mereka tidak menunggu lama sampai Harry Potter dan Marcus Flint masuk dengan jubah hitam longgar yang jatuh menutupi seluruh tubuhnya. Pemandangan itu membuat mereka tertegun, karena dalam keluarga mereka, cukup hanya memakai pakaian sehari-hari saat melaksanakan ritual Samhain. Pakaian ritual itu menunjukkan jika mereka akan melakukan ritual lengkap, seperti jaman-jaman Kuno saat Penyihir masih hidup menyatu dan menggantungkan hidupnya sepenuhnya pada alam.
Suara lembut Harry Potter terdengar lantang dalam keheningan itu saat ia berkata, "Mungkin diantara kalian bertanya-tanya, mengapa Profesor Snape ada disini. Beliau datang sebagai tamu kehormatan mantan anggota Knight of Walpurgis," ia merundukkan sedikit kepalanya untuk memberi Hormat, yang dibalas dengan cara yang sama oleh Snape. "Mari, ikuti aku," katanya sebelum berbalik menuju koridor misterius yang membawa mereka ke ruangan terkunci.
Saat sihir membuat pintu terbuka dan memperlihatkan apa yang ada di dalamnya, bahkan Profesor Snape dibuat tercenggang oleh ruangan yang sarat akan sentuhan Salazar Slytherin. Orang bodoh pun tahu, milik siapa ruangan itu. Kepala mereka menoleh kesana kemari, walau kaki mereka tak berhenti mengikuti langkah Harry. Kedua penyihir muda itu membawa mereka melalui lorong sempit menuju ruang ritual. Ruang ritual itu berlantai batu obsidian dengan langit-langit tinggi dan luas. Cahaya temaram obor-obor meneranginya bersama lilin-lilin ritual yang sudah dinyalakan mengikuti garis pentagram yang digambar di tengah ruangan. Berbeda dengan altar untuk leluhur atau altar-altar lain yang umumnya digunakan pada ritual Samhain, pentagram itu disebut Altar Kematian.
Altar Kematian memiliki ciri khas rune Futhark kuno, proto-norse atau norse kuno, yang tertulis seperti;
Haidzruno runu, falahak haidera, ginnarunaz. Arageu haeramalausz uti az. Weladaude, sa'z þat barutz. Uþarba spa.
Yang apabila diterjemahkan secara kasar berarti; aku, master dari rune yang melingkupi disini rune dari kekuatan. Tak henti-hentinya (tersampar oleh) Kedengkian, (ditakdirkan untuk) Kematian yang membahayakan adalah ia yang menghancurkan (monument/pentagram) ini. Aku meramalkan kehancuran.
Kalimat itu berarti lebih dari sekedar tulisan, karena tiap katanya mengandung mantra. Rune perlindungan itu dipakai untuk menguatkan pondasi selama hubungan dengan Kematian. Terjalin dengan Rune yang ditulis dengan darah dan berpendar merah oleh sihir. Mereka semua duduk bersila dalam posisi dengan satu lilin menyala, saat itulah Harry berdiri di depan Pentangle dan menyayat telapaknya hingga darah menetes jatuh ke atas rune. Api berkobar, gerakannya membuat bayang-bayang menari dalam ruang temaram itu. Ia bisa merasakan sihir menguar.
Harry menelan ludah, dan berkata lirih, hampir seperti bisikan, tapi terdengar bergaung diantara mereka. "Malam ini aku membuka gerbang antara dunia hidup dan mati, pada malam dimana penghubung menjadi tipis. Malam ini adalah malam untuk memanggil mereka yang pergi sebelumnya....'
Sihir menguar di bawah kakinya, gelap dan bergelombang. Harry tahu, saat itu, setiap orang mendapat pengelihatannya sendiri tentang orang-orang yang mereka sayangi, yang jauh lebih dulu menyeberang. Terkadang leluhur mereka, terkadang orang tua atau bahkan kekasih. Semua itu terjadi karena, berbeda dengan ritual Samhain lain, rune dan pentagram yang digunakan Harry jauh lebih kuat. Atau mungkin karena darah Peverell-nya atau akibat rune yang terukir di bahunya yang masih merah dan baru. Apapun yang mendasari semua itu, tetap tak dipungkiri bahwa semua orang yang ada disana merasakan dampaknya.
Suara tangis dan teriakan terdengar disekitarnya, bahkan Snape meraung putus asa dengan air mata mengalir deras di pipinya, memanggil-manggil nama Lily penuh penyesalan. Tapi perhatiannya tidak pada semua itu, karena beberapa detik kemudian, ia kembali berdiri dalam kegelapan ruang familier penuh batu nisan. Berbeda dengan sebelumnya, Harry tahu siapa sosok yang berdiri di depannya. Namun, itu tak mengurangi degup jantungnya.
Sosok itu memakai jubah hitam yang menjuntai hingga menyentuh lantai. Tudungnya menutupi separuh kepalanya, tapi dari sela yang seharusnya terdapat wajahnya, hanya terlihat kegelapan tanpa batas. Harry menelan ludah, dan memberanikan diri bersuara, "Apa kau Death?"
"Satu dari banyak sebutan yang dibuat Mortal untuk menyebutku," jawab sosok itu, tidak benar-benar memberikan jawaban lebih dari sekedar asumsinya.
"Jika kau bukan hanya Death. Lalu apa sebenarnya dirimu?"
"Aku adalah aku. Sejak dunia pertamakali terbentuk. Aku tak bernama, pun tak membutuhkan nama. Nama hanya sesuatu yang dilakukan makhluk mortal. Tapi kau bisa memanggilku Death, Hardian James Peverell, sama seperti leluhurmu memanggilku."
Harry menelan ludah, "Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"
Sosok itu menelengkan kepala, seolah bingung dengan pertanyaan Harry. Pada akhirnya ia menjawab, "Aku tidak menginginkan apapun dari seorang mortal."
"Lalu kenapa kau selalu berhubungan denganku? Bukankah kau hanya berhubungan dengan mereka yang sudah mati?"
Sosok itu tiba-tiba tertawa. Suaranya lantang dan menggema di ruang kosong itu, saat ia kembali bisa menguasai diri, sosok itu berkata dengan nada humor di suaranya, "Apa kau sungguh belum mati?"
"Apa?"
Sosok itu berjalan mendekat, tapi Harry hanya mampu berdiri kaku di tempat sambil membelalakkan mata. Jemari tulang belulang menyentuh pipinya dan naik menyibak rambut yang menutupi dahinya, menunjukkan luka dari Killing Curse. "Tidak ada manusia yang bisa selamat dari Killing Curse. Kau menjadi Anak Yang Bertahan Hidup atas ijinku, Harry Potter..." telunjuk belulangnya meraba bekas luka di dahi Harry, "Ini bukan bekas luka biasa, kalian para mortal menyebutnya rune Furthark yang disebut sowilo (the sun). Rune kehidupan, kekuatan, kesuksesan..." jari itu turun menyentuh dada Harry, "Tinggal sedikit lagi..." ia mendorong Harry dengan telunjuknya, "Bila saatnya tiba saat warisanmu kembali ke tanganmu. Sampai saat itu, Harry..." tapi Harry seolah di dorong oleh tekanan yang sangat besar hingga membuat tubuhnya terlontar ke belakang.
Saat Harry membuka mata, ia masih berdiri di ruang ritual dengan tangan terjulur. Tapi luka ditelapaknya sudah lama hilang dan lilin yang mengelilingi mereka sudah padam. Perlahan teman-temannya berdiri mengikuti profesor Snape. Pria itu membungkuk rendah ke arahnya, sebelum berbalik meninggalkan ruangan dengan langkah cepat. Para anggota Knight of Walpurgis berdiri di sekitarnya dengan tatapan kagum, hampir menghamba.
Sudah terlalu lama para penyihir melupakan tradisi yang menjaga sihir tetap hidup. Banyak sudah yang tidak lagi merasakan pemberkatan sesungguhnya dari ritual yang sakral. Malam ini mereka semua diingatkan kembali pada lingkaran kehidupan dan kematian. Marcus mengulurkan tangannya, dan memandunya berjalan layaknya seorang Vasal pada tuannya. Disini, Harry bukanlah sekedar siswa Hogwarts atau Heir Potter. Disini ia adalah lord mereka, satu-satunya keturunan langsung dari bangsawan Merlin dan Peverell. Jika sebelumnya hanya para Makhluk Sihir yang mengingatnya, kini Knight of Walpurgis menyadari apa arti seorang lord dari Royal House of Britain.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Harry menoleh pada Marcus yang perhatiannya tidak lagi ke arena latihan quidditch. Beberapa siswa Hufflepuff berterbangan memperebutkan snicth. Semenjak keberadaan Dementor di Hogwarts, tim quidditch Slytherin memutuskan untuk membatalkan pertandingan mereka dengan alasan Chaser mereka cedera dalam latihan. Tidak ada orang di Slytherin yang mau mengambil resiko, bahkan tidak Harry. Gryffindor mungkin menganggap itu keputusan pengecut, tapi Slytherin menganggapnya sebagai pilihan bijak dalam menentukan prioritas. Tidak ada yang ingin mati hanya karena sebuah permainan. Hal ini membuat pertandingan selanjutnya menjadi Gryffindor vs Hufflepuff.
Beberapa detik Harry terdiam, sebelum akhirnya menjawab, "Hm... aku bertemu dengan Death." Seketika Marcus membeku. Harry tahu pemuda itu sudah penasaran semenjak malam Samhain, tapi ia tidak mendesak Harry untuk menceritakan pengalamannya. Tapi memang semenjak malam itu, mood Harry tidak begitu bagus. Terlalu banyak misteri yang harus ia pecahkan dengan hanya sedikit petunjuk. Tapi kini Harry akhirnya memutuskan bercerita dengan keinginannya sendiri, kesempatan yang tidak dilewatkan Marcus, sehingga ia mendengarkannya dengan seksama.
Saat Harry selesai, Marcus berkata, "Hanya kau Harry, yang dikunjungi oleh Death sendiri, alih-alih leluhurmu. Jika Death tidak menipu tentang arti dari bekas lukamu—dan aku yakin ia tidak menipu karena bukan sifat Death untuk melakukannya—artinya, ia punya agenda tersembunyi," Marcus bersedekap, "Warisan yang kembali ke tanganmu, apa itu Deathly Hallow?"
"Bisa jadi..." mata emerald Harry memandang jauh, pada sosok anjing hitam mirip Grim yang berjalan terseok dengan tubuh kurusnya. "Tapi mengapa? Ada banyak Potter sebelumnya yang berdarah Peverell, tapi mengapa harus aku?"
"Kau tahu, jika ketiga Deathly Hallow berada di tanganmu, itu berarti kau adalah Master of Death... yang membuatku merasa aneh, mengapa Death ingin tunduk dibawah seorang Master?" Hanya keheningan yang menjawab pertanyaan itu. Tidak ada yang mengetahui jawabannya, selain Death sendiri, dan Harry yakin masih akan dalam waktu lama, ia akan menemukan jawabannya.
Dua hari setelah pembicaraan itu, Hogwarts dipenuhi euforia karena pertandingan quidditch. Pertandingan itu tidak ditunda walau awan gelap yang tampak berat menggulung datang dengan kecepatan tinggi dan seketika memenuhi langit. Semua orang seakan mengabaikan angin dingin yang berhembus keras. Anak-anak itu tidak hanya bersemangat karena pertandingan itu sendiri, beberapa karena mengharapkan menang dalam taruhan, beberapa seperti si kembar Weasley karena kesempatan emas untuk menjajakan produk mereka kepada asrama lain tanpa ada profesor yang mengawasi. Hiruk pikuk itu memenuhi sepanjang koridor menuju ke lapangan. Yang berarti, kodidor lain sepi tanpa ada yang mengawasi.
Saat rombongan asrama Slytherin mencapai koridor pintu masuk, Harry menyelinap keluar dari barisan menuju lorong penghubung yang akan membawanya menuju bawah tanah. Ia berlari-lari kecil menyusuri lorong-lorong temaram yang kosong dan berhenti di depan pintu dengan plat Room 234-00, tempat penjaga Hogwarts, Argus Flich tinggal.
Ruangan itu sangat sederhana, dengan hanya satu lampu minyak yang mengantung di langit-langit. Baunya samar-samar seperti ikan kering dan disana ada lemari-lemari kecil dengan detail kenakalan siswa Hogwarts. Fred dan George Weasley punya satu laci sendiri yang penuh dengan laporan kenakalannya. Satu dari lemari kecil itu penuh dengan benda-benda sihir yang diberi tanda 'disita dan sangat berbahaya'. Pelan-pelan Harry membuka laci dengan tanda peringatan itu dan mengambil lipatan perkamen lama.
Tanpa sadar bibirnya tersenyum lebar. Di tangannya sekarang apa yang dikenal dengan nama Marauder's Map. Seperti yang sudah 'dilihatnya', Harry mengetuk sampulnya sambil berkata, "Aku sungguh bersumpah, aku berniat tidak baik." Perlahan kata demi kata muncul disampulnya;
Messrs. Moony, Wormtail, Padfoot, and Prongs
Purveyors of Aids to Magical Mischief-Makers are proud to present
THE MARAUDER'S MAP
Mata Harry menatap lama pada nama-nama yang tertera disana sebelum menggelengkkan kepala dan membuka lipatan petanya. Pada titik dimana ia berdiri, tertera Hardian James Peverell. Harry menghela napas lega karena ia berhasil menemukan benda ini sebelum si Kembar. Jika ia tidak melihat si Kembar bercerita padanya tentang peta ini, ia tidak yakin namanya akan masih menjadi rahasia. Ia menyelipkan peta itu dibalik jubahnya, sebelum kembali menyelinap menuju tribun tempat anggota asramanya menonton quidditch.
Hujan menetes deras saat ia sampai disana. Tribun itu sudah penuh saat ia berhasil mendaki naik. Suara-suara teriakan anak-anak memekakkan telinga saat ia mendesak maju untuk bisa menuju tempat duduk Marcus. Saat itulah, tiba-tiba terdengar teriakan bersahut-sahutan dari arah arena. Harry mendongak dan terbelalak saat melihat sosok-sosok hitam dengan jubah compang-campingnya berada diantara awan gelap dan para pemain. "DEMENTOR!" jerit anak-anak di dalam tribun, di sekitar Harry, yang mulai saling mendorong dan mendesak panik.
Harry terpaku di tempat dengan mata terbelalak. Rune di bahunya terasa membara. Sesosok Dementor melayang mendekat, tangan Harry bergerak mengayunkan tongkatnya. "EXPECTO PATRONUM!" Thestral perak melesat dari ujung tongkatnya. Tapi ia tahu itu tak kan cukup. Ia melompat keluar dari Tribun dan mendarat di lapangan berumput. Kepanikan membuatnya bergerak dengan insting. Ia merasakan sihir berat menguar dari dalam tubuhnya, tepat di pusat sihirnya, tempat ujung jari Death menyentuhnya. Harry mendekatkan ujung tongkat ke lehernya, dan berkata, "PERGI!"suaranya menggema diseluruh arena, tidak hanya membawa perintah, tapi juga membawa sihir. Dementor seolah terlempar karena tekanan yang luar biasa keras, tekanan yang bahkan membelah hujan. "PERGI, DISINI BUKAN TEMPAT KALIAN!" perintah dengan kekuatan sihir itu menghempas Dementor terakhir, bersamaan dengan gerombolan Auror yang berlari sambil melesatkan Portunus mereka ke udara. Harry berbalik dan mengacungkan tongkatnya pada seorang siswa yang melesat jatuh dari sapu terbang, "Aresto Momentum!"
Harry berdiri terengah-engah dengan tongkat masih teracung saat para auror, madam Pomfrey dan para profesor berlari menuju Harry. Beberapa dari mereka mengecek kondisi pemain quidditch dan sebagian lagi sibuk mengurusi Harry. Mereka memberinya susu cokelat dan mengeringkan jubahnya. Dumbledore tampak geram, berdiri sambil memandang ke arah pejabat Kementerian yang kebetulan berada disana. Setelah serangan di Hogwarts Express, kejadian ini sudah tidak bisa ditolerir lagi. Marcus meraihnya dalam gendongan, tak peduli dengan protes madam Pomfrey, dan membawanya pergi diikuti oleh pandangan semua orang. Beberapa menyentuh lengan dan bahunya untuk menunjukkan rasa terima kasih, beberapa bertepuk tangan dan sisanya menangis lega. Tapi Harry mengabaikan semua hal itu. Seandainya ia tidak memilih menyembunyikan wajahnya ke leher Marcus, Harry pasti tahu pandangan penuh syukur, kagum dan rasa terima kasih itu. Tapi benaknya hanya memikirkan bahwa kini semua orang tahu keanehan dirinya dan Harry merasa takut.
Saat Harry datang ke aula besar untuk sarapan esok harinya, banyak kepala mendongak dari balik surat kabar. Foto hitam putih yang bergerak itu menunjukkan saat Harry mengusir Dementor, layaknya seorang kesatria sejati yang menghadapi marabahaya. Tapi disini ia berdiri membeku oleh semua tatapan itu, merasa terasing dan aneh. Walau ia memang aneh, tapi hanya segelintir orang yang tahu soal bakatnya melihat masa depan. Selebihnya, ia hanya Harry Potter, siswa Hogwarts biasa. Tak ada yang istimewa selain nama panggilan yang diberikan karena selamat dari Killing Curse. Tapi kini, ia adalah anomali, dan Harry tidak menyukainya.
Profesor Snape memandangnya dengan cemas karena pria itu tahu ini berhubungan dengan kelebihannya dalam Necromancy. Hal itu membuat pria itu mengundangnya untuk makan siang di kantornya. "Bagaimana keadaanmu, Harry?" Harry sadar pertanyaan itu lebih dari pada soal ia mengusir Dementor.
"Aku pernah merasa lebih baik dari ini, Profesor," jawabnya lirih, lalu keheningan lama berada diantara mereka.
Pria itu menghela napas. "Apa teman Vampire-mu menemukan sesuatu yang bisa membantumu soal Necromancy?" Harry tidak kaget jika pria itu mengetahui hubungannya dengan Dewan Makhluk Sihir. Ia mata-mata, lagi pula. Ia tidak kaget jika Pelahap Maut, atau bahkan Voldemort mengetahui keberadaan mereka. Lagi pula, tidak sekali dark lord mengerahkan pasukan werewolf yang dipimpin oleh Fenrir Greyback. Harry mendengar ceritanya dari Marcus, bagaimana DMS berang mendengar kelompok werewolf Greyback terlibat dalam perang penyihir. Tapi mereka tidak terkejut karena Greyback memang sudah terkenal dengan sikap pemberontaknya. Jika diibaratkan DMS adalah orang tua, maka Greyback adalah anak yang membangkang.
"Em..." Harry mengangguk. "Mereka memberikanku petunjuk soal kekuatan anomali-ku..." bisik Harry, "dan aku mendapatkan kepastiannya saat malam Samhain."
Pria itu membelalakkan mata. Ia tidak bertanya, tapi rasa penasaran terpampang jelas pada ekspresinya. Mungkin pria itu membayangkan pengelihatan apa yang membuat Harry mendapat jawaban soal Necromancy? Mungkinkah ia bertemu leluhur Peverell-nya.
"Apa Dumbledore sudah melakukan sesuatu, Profesor?" melihat ekspresinya, Harry menambahkan, "Aku bertaruh ia penuh curiga dan rasa penasaran soal aku yang mampu mengusir Dementor?"
Pria itu mengangguk dan mulai bercerita bahwa Dumbledore menyuruhnya untuk mengorek apa yang terjadi kemarin. "Ia tidak mengintrogasi-mu sekarang karena aku berkata padanya bahwa wajar jika kau punya kelebihan yang berhubungan dengan Death Magic karena kau mempunyai darah Peverell. Bukan rahasia lagi bahwa mereka memiliki hubungan dengan Death, sekalipun kebanyakan menganggapnya hanya sebuah dongeng."
Harry terkekeh, "Itu bahkan bukan dongeng."
Pria itu menaikkan alis.
"Aku punya jubah menghilang, profesor. Jubah menghilang yang diturunkan generasi ke generasi tanpa memudar mantranya. Bahkan kita bisa menyebutnya relik."
Pria itu menarik napas singkat dan cepat, tampak terkejut, tapi juga dengan mudah menguasai diri.
Harry mengalihkan padangannya dengan ekspresi muram, "Satu-satunya yang bisa kita lakukan hanya bungkam dan membiarkan rumor itu menghilang dengan sendirinya. Karena tidak ada yang bisa aku lakukan dengan seluruh Hogwarts sudah melihatku mengusir Dementor hanya dengan ucapan. Kita hanya bisa membiarkan versi Daily Prophert menjadi pendapat umum, bahwa keluarga Peverell mempunyai bakat yang berhubungan dengan Death. Itu jauh lebih baik dari pada mereka mengetahui aku seorang Nercomancer," Harry mengusap wajahnya, "Walau ini membuat Dumbledore menjadi waspada padaku, paling tidak pria tua itu tidak melihat rahasia yang jauh lebih berbahaya dari itu."
"Hati-hati, Harry. Necromancy bukan cabang ilmu yang bisa dibuat mainan."
"Aku tahu, profesor."
Rumor bahwa Anak Yang Bertahan Hidup bisa mengendalikan Dementor menjadi gosip di dunia sihir. Terlebih dengan sejarahnya yang selamat dari Killing Curse. Banyak spekulasi bermunculan, ditambahkan oleh wawancara dari anak-anak yang mengaku melihat langsung kejadian itu, yang membuat semuanya jauh lebih ajaib dari yang sesungguhnya. Semakin santer gosip terdengar, semakin menyendiri Harry dibuatnya. Kini ia hanya mengijinkan segelintir orang berada di dekatnya. Bahkan tidak Hermione, Ron atau Draco. Mereka memang temannya, tapi mereka tidak terikat dengan sihir rahasia seperti layaknya Marcus, Luna atau Knight of Walpurgis. Sehingga, sebagian besar waktunya ia habiskan sendirian sambil melihat salju perlahan-lahan turun.
Semua orang menganggapnya ingin menyendiri untuk menghindari rumor itu, jadi tidak ada yang merasa heran saat Harry memutuskan untuk tidak ikut kunjungan ke Hogsmeade. Sendirian dalam kamarnya di Asrama Slytherin yang sepi, Harry berseru, "Dobby!"
Suara PUFF keras terdengar saat House-elf itu muncul di depannya. "Apa yang Dobby bisa lakukan untuk Master Harry Potter?"
"Kau bisa membawaku masuk ke asrama Gryffindor?"
Peri kecil itu mengerjap dengan matanya yang sebesar bola tenis sebelum mengangguk dengan wajah jahil, "Tentu saja, Master Harry Potter, sir! Tidak ada Ward yang bisa menghalangi sihir House-elf."
Harry mengangguk puas, tahu itu adalah kelemahan besar Penyihir yang selalu meremehkan Makhluk Sihir yang terlihat lemah seperti House-elf. Padahal beri ia se-peleton House-elf, ia bisa dengan mudah menduduki Kementrian. Syukurlah dark lord memiliki sentimen yang sama seperti para pureblood tentang House elf, jadi ia tak punya pikiran untuk menginvansi Kementerian dengan pasukan House-elf. Membayangkannya saja sudah membuat Harry merinding. Mungkin Tom menganggap House-elf tidak berguna karena cara bicara mereka yang seperti anak berumur lima tahun.
Harry muncul di tengah ruang rekreasi Gryffindor dengan suara PUFF keras, bersamaan dengan pria paruh baya berambut hitam awut-awutan bermata gila berlari mengejar seekor tikus sambil membawa pisau dapur. "Petrificus Totalus!" cahaya putih melesat dan membuat tikus itu terjatuh dengan keras di lantai. Dengan kecepatan seorang Seeker, ia menyahut tikus itu sebelum Sirius Black berhasil meraihnya.
Pria itu membeku saat ia menyadari siapa penyihir muda di depannya. Matanya tak bisa lepas dari wajah Harry, bahkan dengan tongkat sihir teracung padanya. "Harry..." bisiknya.
"Sirius Black."
Ia terkesiap, "Kau tahu aku?"
"Tidak ada yang tidak mengenalmu dengan wajah yang terpampang di poster buronan di seluruh Inggris."
Ia menyerngit. "Aku tidak bersalah," bisiknya. "Aku tidak pernah membunuh orang tuamu," pria itu menatap tikus yang membeku di tangan Harry, "dia yang melakukannya!" tunjuknya.
"Tikus?" ujung bibir Harry berkedut menahan tawa.
"Peter Pettigrew!"
"Ah..."
"Ku mohon, biarkan aku menjelaskannya!"
"Kau berniat membunuhnya?"
"Kau percaya padaku?" pria itu membelalakkan mata saat melihat Harry menstansfigurasi cangkir di meja menjadi kandang kecil dan memasukkan tikus membeku itu di dalamnya.
"Aku tidak bisa membiarkanmu membunuhnya."
"Dia orang yang membunuh orang tuamu!"
"Voldemort orang yang membunuh orang tuaku," jawabnya dingin. Pria itu mengernyit mendengarnya menyebut nama yang dulunya tabu. "Bila kau berhenti delusi, berpikir dengan jernih dan berhenti bersikap seperti Gryffindor, kita bisa mulai bicara," kata Harry sambil duduk di sofa.
Mata pria itu jatuh ke warna dasi Harry. "Kau Slytherin," bisiknya ngeri.
"Binggo."
"Tapi kenapa—" pria itu menggelengkkan kepala. "Itu tidak penting. Please, biarkan aku membalaskan dendamku," ia bergerak meraih kandang itu, tapi Dobby membuat seluruh tubuhnya membeku dalam sekejap. Harry memandang pria itu dengan tenang.
"Aku ingin mengajakmu bicara, apa kau sudah tenang?"
Pria itu hanya bisa berkedip.
"Aku tahu soal Peter, juga bahwa kau tidak bersalah. Tapi itu tetap tidak membuatku kagum padamu." Bola mata pria itu membesar terkejut, "Kau lebih memilih mengejar Peter dibandingkan tetap bersamaku dan membiarkan Dumbledore menaruhku dalam pengasuhan Petunia. Kelaparan, dipukuli, diperlakukan lebih rendah dari House-elf!" Tubuh pria itu bergetar keras, "Dumbledore, orang yang kau beri sumpah setia, tapi juga yang membiarkanmu terkurung di Azkaban tanpa pengadilan yang pantas. Dan dibandingkan mencoba membersihkan namamu, kau memilih untuk membalaskan dendam mu! Jika Peter mati, tidak ada bukti lain yang menyatakan kau tidak bersalah!" air mata sudah mengalir deras di pipi pria itu.
Harry bangkit dan berdiri di depan pria itu. "Tidak pernah kah kau bertanya-tanya, mengapa kau tidak pernah merasakan sihir 'ayah baptis dan anak baptisnya' denganku?" jeda sejenak, "Karena sejak aku lahir, kau tidak pernah melaksanakan kewajibanmu. Aku tidak pernah menjadi yang pertama, padahal aku seharusnya menjadi proritasmu. "Aku tidak memaafkanmu. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan orang tidak bersalah dikurung di Azkaban." Ia menoleh, "Dobby, tolong bawa dia ke Pondok keluarga Flint yang sudah kita siapkan. Lord Flint sudah tahu."
"Baik, Master Harry Potter, sir!" peri itu meraih lengan Sirius dan menghilang dengan ledakan keras.
Mata Harry jatuh ke tikus membeku di dalam kandang, "Sekarang giliranmu."
Harry keluar dari lukisan Fat Lady yang sudah dihiasi bekas cakaran dan menyelinap masuk ke lorong-lorong rahasia yang akan membawanya keluar Hogwarts. Marcus terkejut saat Harry muncul dari balik jubah menghilangnya dengan raut serius. "Antar aku ke Kementerian?" Marcus membelalakkan mata, tapi tidak berkomentar dan hanya meraih Harry dalam pusaran Apparated.
Berjalan menyusuri lobi Kementerian, Marcus bertanya, "Apa yang kau rencanakan?"
"Aku ingin menemui Madam Bones," kata Harry pada resepsionis. Marcus terkesiap karena mengetahui bahwa Madam Bones, atau Madam Amelia Susan Bones adalah Kepala Departement of Magical Law Enforcement. Hanya masalah-masalah yang berkaitan dengan hukum saja yang berurusan dengannya.
Wanita di meja itu menga-nga saat melihat Harry sebelum berdiri dengan sangat cepat dengan wajah merah padam. Ia merunduk rendah sambil berkata dengan suara bergetar, "Heir Potter!" setelah menunjukkan dimana letak kantor Madam Bones, wanita itu terduduk lemas sambil menatap dengan mata penuh kekaguman karena bisa melihat langsung Anak Yang Bertahan Hidup. Walau Harry benci dengan sisi Selebritis-nya, tapi tak dapat dipungkiri jika itu membantu pada hal-hal macam ini, karena ia yakin mereka hanya bisa bertemu Madam Bones bila sudah membuat janji. Pada saat yang sama orang akan selalu meremehkannya, melupakan dibalik pesona Selebritis itu, ia adalah satu-satunya pewaris Potter dengan banyak nama besar lain yang disandangnya.
DMLE adalah departemen terbesar di Kementerian, jadi tak heran jika ia juga memiliki kantor terbesar di tempat ini. Berada di level dua Kementerian Sihir, begitu kau keluar dari lift, kau akan menemukan dirimu berdiri di dalam koridor yang tiap sisinya dipenuhi pintu-pintu tertutup. Di sekitar ujungnya, berdiri pintu kayu Oak yang berat yang membawamu ke markas besar Auror. Di sanalah Harry menemukan pintu dengan plat nama Madam Bones dan mengetuknya tiga kali. "Masuk."
Madam Bones adalah wanita muda dengan tubuh kecil dan rambut pirang keabu-abuan yang dipotong pendek dengan gaya profesional. Seperti tipikal mereka yang bekerja di bidang hukum, wanita itu memiliki raut serius dan waspada. Harry sedikit merasa kagum dengan kelihaiannya menyembunyikan rasa terkejut saat melihat Harry dan Marcus di ambang pintunya.
"Mr. Potter. Apa yang bisa kubantu?"
"Madam Bones," sapa Harry sambil merunduk sopan. Penggunaan kata mister dan madam, alih-alih lord atau lady, menunjukkan hubungan profesional, tanpa memperdulikan status atau kedudukan dalam masyarakat bangsawan sihir. Tapi ini lah yang membuat Harry menyukai Madam Bones. Wanita itu punya kredibilitas unggul untuk masalah yang menyangkut hukum. Bahkan pendapat wanita itu tidak pernah bisa dibelokkan oleh Dumbledore sekalipun. "Aku ingin membuka kembali kasus Sirius Black dan membuat pengadilan terbuka untuk membuktikan bahwa Sirius Black tidak bersalah," ia meletakkan kandang kecil Peter Pettigrew ke atas meja.
Wanita itu duduk tegak, "Aku mendengarkan."
Marcus dan Harry muncul tiba-tiba, tanpa suara, di tengah hutan keluarga Flint. Jalanan setapak itu membawa mereka ke sebuah Pondok besar dengan teras yang dihiasi kursi-kursi lipat dan meja minum teh. Mereka mengetuk singkat sebelum masuk. Sirius Black berbalik dengan cepat, menatap Harry dengan mata terbelalak. Pria itu tampak jauh lebih baik, walau masih terlalu kurus untuk pria seumurannya, tapi kini pakaian kotornya digantikan tunik mahal dan rambutnya diikat rapi khas pureblood. Janggutnya yang liar sudah dipotong dengan rapi. Harry perlu berterima kasih para Dobby dan pikirannya yang kreatif. House-elf itu tahu apa yang perlu dilakukannya tanpa harus di suruh.
Harry mengamati, sama seperti Sirius mengamatinya. Bagaimana beberapa tumpukan buku dan koran-koran tertumpuk di dekat meja. Pada tiap lipatan korannya, tampak foto-foto Harry pada berbagai kesempatan berbeda, memasang tampang dingin dengan jubahnya, tampak regal dan penuh kuasa. Jika pria itu ingin mengikuti sepak terjangnya, tidak salah jika ia membaca Daily Prophert, karena Rita punya hobi untuk menuliskan apapun yang dilakukannya. Tidak sedikit siswa Hogwarts yang disuap untuk memberikan sesuatu pada wanita itu.
Sirius tampak seperti dirinya sendiri, tapi Harry tahu ia jauh dari kata sembuh, bahkan setelah 13 tahun bersembunyi dalam sosok animagusnya untuk menghindari Dementor. Tidak ada orang yang tidak bermimpi buruk jika harus tinggal di tempat seperti Azkaban. Karena itulah ia tidak bisa keluar dari pondok ini tanpa seijin Lord Gideon Flint, disamping karena statusnya sebagai buronan.
"Harry..."
"Seminggu lagi kau akan menghadiri persidanganmu. Aku sudah menghubungi pengacara terbaik untuk kasusmu. Tidak akan lama sampai namamu dibersihkan," Harry berkata dengan nada netral seolah ia hanya membicarakan cuaca hari ini, bukannya membuat Kementerian membuka kasus lama sekaligus kebobrokan sistem pada pemerintahan sihir.
"Harry..." nada suaranya membuat Harry berhenti. Pria itu tampak sedih.
"Begitu kau terbukti tidak bersalah, kau bisa keluar dari tempat ini dan kembali ke rumah keluarga Black. Aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan selanjutnya, tapi alangkah baiknya jika kau mau menjalani terapi dan memulai hidup baru dengan menjadi seorang Lord keluarga Black yang sesungguhnya. Sudah terlalu lama keluarga Black kehilangan pemimpin dan nama besarnya. Apa yang tersisa hanya para pesakitan Azkaban, Pelahap Maut atau bidak Dumbledore."
Pria itu menyerngit. "Harry... kau begitu mirip dengan James—"
Kali ini Harry yang menyerngit. Ia membalikkan badan, "Aku akan mengirimkan Potkey yang akan membawamu ke Kementerian. Sampai saat itu, selamat tinggal."
"Harry—"
Tapi sebelum pria itu selesai bicara, Harry sudah menghilang dalam pusaran Fire Travel.
Tentu saja kabar tentang ditemukannya Petter Pettigrew yang bersembunyi dalam sosok animagus tikus dan dibukanya pengadilan Sirius Black telah menggemparkan jagat raya dunia sihir. Daily Prophert tidak pernah selaris ini semenjak berita kejatuhan Dark Lord. Tidak ada yang tahu keterlibatan Harry Potter dalam penemuan bukti, tapi ini tidak mengurangi kegemparan di Wizengamot, terlebih saat kenyataan bahwa 13 tahun lalu Sirius Black tidak pernah diadili secara layak. Mengingat Sirius Black adalah Lord dari House of Black, hal ini merupakan kejahatan besar terhadap House of Lord.
Opini publik beserta sebagian besar pureblood menjadi begitu buruk pada Menteri Sihir Cornelius Fudge, karena dibawah pemerintahannya kekorupan sistem ini terjadi. Mereka menyerukan dan mendesak sidang terbuka digelar, dan Mentri Sihir tidak bisa berbuat apapun selain mengijinkannya.
Dumbledore memandang Harry dengan tatapan curiga. Tapi pria tua itu tidak punya apapun yang bisa memberitahunya bahwa ia terlibat, sekalipun ia punya intuisi bahwa campur tangan Harry tak lepas dari kejadian ini. Tapi Remus Lupin terus menerus memandangnya dengan takjub. Sesekali ia akan menghirup udara seolah bisa mencium bau Sirius menempel padanya. Sehingga ia tidak terkejut saat pria itu menahannya setelah kelas berakhir.
"Profesor Lupin?" Pria itu berdiri gelisah di depannya. Merasa kasihan, Harry akhirnya berkata, "Apa ini berhubungan dengan Pengadilan Sirius Black?"
Pria itu terkesiap, "Jadi benar ini ada hubungannya denganmu?" pria itu terduduk lemas di pinggiran meja, "Apa benar Peter Pettigrew masih hidup dan Sirius tidak bersalah?"
"Aku pun tidak tahu, Profesor. Kita semua baru akan mengetahuinya pada sidang terbuka yang diadakan beberapa hari lagi. Jika kau ingin mengetahuinya mengapa kau tidak datang langsung kesana?"
Pria itu menyerngit dan membuang muka.
Harry menatapnya dengan mata kosong yang tidak impresif. "Apa kau akan melarikan diri lagi?"
Pria itu mendongak dengan mata membesar.
"Apa kau akan melarikan diri lagi seperti tiga belas tahun yang lalu?"
"Harry..."
"Jika kau menyesal, maka seharusnya kau berubah dan melakukan sesuatu. Menyesal saja tidak akan menyelamatkan siapapun," bisik Harry sebelum ia bangkit dan berjalan meninggalkan kelas. Pada saat bersamaan, Severus Snape berdiri diambang pintu dengan tangan terangkat seperti akan mengetuk. Pria itu mengangguk pada Harry yang menyapanya.
Snape menatap garang ke arah Remus dan meletakkan botol berisi ramuan Wolfbane dengan suara tuk keras. Tapi pria itu menaikkan alis saat melihat ekspresi pria setengah serigala itu. Beberapa detik berlalu sampai pada akhirnya Remus berkata, "Apa yang sebenarnya terjadi pada Harry?"
Snape menghela napas dan duduk di depannya. "Mengapa kau bertanya begitu?"
"Aku merasa ada banyak yang ia sembunyikan. Ia memang tampak baik-baik saja, tapi aku tahu itu tidak benar. Keluarga Flint mengadopsinya bukan karena ia keturunan Merlin, kan?"
"Aku akan sedikit melaratmu. Keluarga Flint tidak mengadopsi mr. Potter. Mereka mengambil hak asuhnya sampai ia mampu berdiri sendiri sebagai seorang Lord. Namun, mereka melakukan itu sebelum mereka mengetahui bahwa mr. Potter adalah keturunan Merlin terakhir."
"Mengapa? Mengapa sampai mereka ingin mengambil hak asuhnya?"
"Tidak kah kau sudah bisa menebaknya? Dengan kau juga berteman dengan Lily dan juga mengenal siapa Petunia?"
Pria itu mengernyit. "Aku yakin Dumbledore punya pertimbangan—"
"Tentu saja Dumbledore punya pertimbangan. Tapi apa pernah ada dalam pikiranmu bahwa pertimbangannya sama sekali tidak menyentuh kebahagiaan Harry? Kehancuran Harry Potter tidak hanya bisa disebabkan oleh Voldemort. Siapapun bisa hancur bila dibesarkan pada keluarga yang selalu melakukan kekerasan dan membuatnya kelaparan."
Remus bergeming dengan mata terbelalak, wajahnya seketika pucat pasi. "Dumbledore mengetahuinya?"
"Apa ada bedanya? Ia tidak melakukan sesuatu. Tentu saja aku tidak berhak menyalahkanmu karena aku hanya mengetahuinya setelah menjadi Kepala Asarama-nya. Tapi kau adalah teman dekat James Potter. Setelah Sirius Black dipenjara, seharusnya kau pergi memastikan ia memang baik-baik saja!"
Remus terduduk lemas sambil menutupi wajahnya, "Pantas saja ia membenciku..."
"Ia tidak membencimu. Kecewa mungkin lebih tepat."
"Itu... jauh lebih buruk," ia tertawa sedih, "dan sekarang pun ia mencoba membebaskan Sirius..."
Snape mendengus, "Aku tidak pernah berharap ada sesuatu yang beres dikerjakan oleh seorang Gryffindor. Bersyukurlah Harry Potter masuk ke dalam Slytherin. Asrama kami terkenal tempat mereka yang selalu mampu bertahan hidup dan berakhir sebagai pemenang," sambil berkata begitu, pria itu keluar dari dalam kelas tanpa menoleh dua kali.
Harry tidak datang pada pengadilan terbuka itu. Ia bisa saja bila meminta ijin kepada Profesor karena Sirius Black adalah Ayah Baptisnya. Tapi tidak ada yang mengetahui itu, dan Harry tidak berniat untuk menunjukkannya ke muka umum. Baginya Sirius Black bukan apa-apa selain sahabat ayahnya. Ia tidak pernah melakukan sesuatu yang berarti untuknya. Bahkan hubungan yang mereka miliki hanya sekedar sentimen karena masa lalu orang tuanya. Hal ini juga karena Harry tahu, Sirius Black tidak bisa melihat Harry melewati sosok ayahnya.
Ia hanya mengikuti beritanya lewat Daily Prophert, mengangguk puas pada foto Rita yang menunjukkan sosok Sirius Black dengan pakaian lord-nya. Tidak ada kegilaan dimatanya Tapi ekspresinya kembali muram saat ia melihat sosok Dumbledore berdiri tidak jauh dari Sirius Black. "Aku yakin pria tua itu akan memanfaatkan ini untuk keuntungannya."
"Kau tidak akan melakukan sesuatu?"
Harry mendengus, "Aku sudah melihat dimana ini akan berakhir apapun usaha yang aku lakukan. Kehilangan dukungan Black bukan apa-apa dibandingkan kehilangan dukungan DMS."
Marcus menaikkan alis, "Apa maksudmu?"
"Setelah ini Sirius Black akan membuka lebar tangannya pada sahabatnya Remus Lupin. Membuatnya menjadi bagian dari pasukan Dumbledore," Harry mengiris dagingnya perlahan dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Ia tidak terburu-buru mengunyah, sebelum melanjutkan berkata, "Remus Lupin mempunyai tugas penting untuk membuat kelompok-kelompok Werewolf mendukung Dumbledore. Menciptakan peperangan internal pada kubu Makhluk Sihir yang membuat DMS tidak menyukainya."
"Tapi kau tidak berusaha menghentikannya?"
Ia mendengus, "Tidak akan ada pack werewolf yang bersedia bergabung karena tekanan DMS dan Fenrir Greyback. Lupin tidak pernah menyadari bahwa ia tidak pernah dianggap menjadi bagian dari mereka. Apa kau tahu Werewolf bisa membedakan mereka yang memiliki pack dan tidak mau menerima separuh bagian dari dirinya?" Harry menepuk ujung hidungnya, "Werewolf memiliki penciuman yang tajam."
"Apa itu tidak akan berbahaya untuknya?"
"Aku sudah mengirimkan surat pada DMS. Jika Remus tidak melakukannya dengan cara yang kasar dan merugikan, keselamatannya akan tetap terjamin. Tapi lain lagi jika pria itu bersinggungan dengan Fenrir Greyback."
"Bukankah ia orang yang menggigit Remus Lupin?" gumam Marcus sambil mengerutkan kening.
"Kau mengetahuinya?"
"Tidak ada pureblood yang tidak mengetahuinya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ia dibawah perlindungan Dumbledore," lalu tiba-tiba ekspresi Marcus berubah seperti mendapat pencerahan, "Karena itu kau tidak pernah berusaha menarik Remus Lupin untuk mendukungmu? Karena kau tahu ia punya hutang budi pada Dumbledore."
"Hm... satu dari banyak alasan," ia mengangguk. "Tapi siapa tahu seperti apa takdir yang akan bergulir."
Bersambung.
A/N:
Terima kasih bagi pembaca yang sudah mengikuti kisah ini sampai disini. Kabar gembira beberapa waktu lalu ku terima dari FB Indonesian Fanfiction Award 2019 yang menyatakan bahwa Courting Destiny berhasil masuk Polling untuk kategori Best Mature. Bagi yang berkenan memberikan polling, aku sungguh sangat berterima kasih sekali. Walau ini bukan sayembara berbayar, tapi sebuah kehormatan untuk bisa dipilih menjadi salah satu yang terbaik dalam kategorinya. Untuk pollingnya berakhir hingga tanggal 10 Januari 2020. Kalian bisa membuka link pollingnya dengan membuka FB Indonesia Fanfiction Award atau FB Hitsuzen (Flame of Dante). Sebelumnya terima kasih untuk partisipasinya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
