Helloo~
Happy reading chingu! ^^
Sorry for typo
.
.
Because of You
Chapter 14
.
.
Setelah liburan musim dingin berakhir, para siswa kembali ke sekolah. Beberapa minggu mereka lewatkan dengan banyak belajar karena tinggal menghitung hari menuju ujian kenaikan kelas dan kelulusan.
Ujian akhir pun dimulai, para siswa tidur terlambat dan bangun lebih awal untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Begitu juga dengan Luhan yang saat ini masih terlihat membuka bukunya meski 10 menit lagi ujian akan dimulai, sedangkan itu Sehun baru saja datang dan langsung duduk di tempatnya. Ia melihat pada Luhan yang begitu sibuk mencoret-coret bukunya.
"Luhan," panggil Sehun. Tidak ada sahutan, bahkan Luhan tak sedikit pun menggerakkan kepalanya.
"Luhan," panggil Sehun lagi. Ruang kelas yang hening tentu membuat suara Sehun terdengar jelas. Apa Luhan mengabaikannya? Pikir Sehun.
"Luhan–"
Salah satu teman sekelas mereka–sekretaris kelas memukul meja, "diamlah Oh Sehun! Mengapa tidak jalan saja ke meja Luhan! Kau mengganggu orang belajar dan juga…" perempuan itu melihat ke arah Luhan, "apa kau tuli, Luhan?" kesalnya membuat perhatian mengarah pada mereka.
Minseok yang ada di sebelah Luhan mengguncang tubuh Luhan, ketika Luhan menoleh, Minseok memberi isyarat untuk menoleh pada si sekretaris kelas.
Luhan melepas wireless earphone-nya tanpa ekspresi, "ada apa?" tanya Luhan.
Si sekretaris kelas menghembuskan napas kesalnya, "ya kau memang tuli." Geramnya dengan suara pelan, "suruh Oh Sehun itu diam! Dia mengganggu ketenangan,"
Luhan menoleh pada Sehun dengan wajah datar, kemudian kembali memasang earphone-nya membuat Sehun tercengang. Apa Luhan marah padanya? Tanya Sehun dalam hati. Ia berhenti memanggil Luhan, lalu menyandarkan kepalanya ke meja. Ia sungguh bingung saat ini.
"Selamat pagi!" guru mereka datang dengan membawa kertas berisi soal. Ujian pun dimulai.
Selama ujian berlangsung, Sehun tidak bisa berkosentrasi. Ia terus menoleh pada Luhan. "Oh Sehun, ada masalah?" tanya guru yang mengawas.
Sehun tersentak, "a-aniyo, Saem. Jeosonghamnida," jawab Sehun lalu ia kembali menelaah kertasnya. Ia sedikit melirik pada Luhan yang tidak bergerak sedikitpun. Sehun semakin bingung dibuatnya.
Saat jam istirahat, para murid keluar dari kelas mereka dengan membawa buku ditangannya, begitu juga dengan Luhan yang terlihat berjalan bersama Minseok tanpa berbicara apapun karena matanya tertuju pada buku di tangannya.
Niat Sehun ingin menghampiri Luhan, tetapi gagal karena gurunya meminta bantuannya untuk membawakan tumpukan buku ke perpustakaan. Sehun ingin menolak, tetapi entah mengapa tangannya sudah terdapat banyak buku yang harus diantar. Mau tidak mau, akhirnya Sehun mengantar buku tersebut ke perpustakaan. Setelahnya, ia berlari dengan kekuatan penuh ke kantin, matanya dengan cepat menelusuri isi kantin dan langsung berlari ke tujuannya ketika menemukan Luhan.
"Luhan…" panggil Sehun, segera saja ia duduk di hadapan Luhan. Minseok yang makan bersama Luhan hari ini–karena Baekhyun makan bersama Chanyeol– menatap keduanya dengan bingung. Apa Luhan sedang mendiamkan Sehun? Pikir Minseok.
Luhan menyendok suapan terakhirnya, "kau sudah selesai?" tanyanya pada Minseok.
"A-ah, ya tunggu…" jawab Minseok yang memakan sisa makan siangnya dengan cepat.
Sehun semakin dibuat frustasi, "Luhan, kau mengabaikanku?" tanya Sehun lagi.
"Kkajja…" ajak Luhan pada Minseok. Keduanya membawa nampan mereka, meninggalkan Sehun yang mengacak rambutnya kesal.
Pada saat pulang sekolah pun Luhan menghiraukan Sehun yang terus memanggilnya. Bahkan, ketika Sehun menghalangi jalannya, Luhan menghindari tatapan penuh tanda tanya Sehun dan bergeser ke kanan untuk menyingkirkan Sehun dari jalannya menuju asrama. Akhirnya Sehun menyerah mengejar Luhan di hari pertama ujian dan kembali ke kamarnya dengan perasaan bertanya-tanya.
Luhan sampai di kamarnya, setelah menutup pintu kamar, ia merosot, bersandar pada pintu. Ia menepuk-nepuk pipinya dan memegang dadanya, "aku hampir mati…" keluhnya. Pintu yang Luhan sandari seperti didorong seseorang, kemudian ketukan pintu terdengar. Luhan menghalangi pintu hingga si pengetuk tidak bisa membukanya. Menyadari hal itu, Luhan lantas berdiri dan membiarkan pintu terbuka, memperlihatkan teman sekamarnya.
"Luhan, kau sudah pulang?" tanya Minseok, biasanya Luhan akan pulang larut karena mendekam di perpustakaan. Ini musim ujian, ingat.
Luhan mengangguk, "hari yang melelahkan," ucapnya tiba-tiba.
Minseok menimbang-nimbang apakah ia harus bertanya atau tidak, tetapi setelahnya ia memutuskan untuk bertanya. "Apa terjadi sesuatu?"
Luhan menoleh pada Minseok, ia menimbang-nimbang apakah ia harus menjawab atau tidak, "Emm… sedikit," jawab Luhan.
Minseok bernapas lega saat Luhan menjawabnya, "apa karena Sehun?"
Luhan hampir bertepuk tangan karena Minseok peka sekali terhadap sekitarya, "apa terlihat jelas?" ia malah balik bertanya.
Minseok menyengir, "bahkan satu kelas tahu kau mendiamkan Sehun,"
Mata Luhan membola, "jinja? Astaga, bagaimana bisa?"
Minseok ingin sekali mencekik teman sekamarnya itu, ia tahu Luhan pintar, tetapi mengapa soal lingkungan Luhan payah sekali, "kau tidak sadar? Setiap Sehun memanggilmu kau selalu menghiraukannya, kau melihat Sehun tapi tidak mengatakan apa-apa Luhan. Sekelas memerhatikan,"
Luhan malu sekali sungguh, ia benar-benar tidak tahu. Ia hanya ingin menghindari Sehun, itu saja. Ia juga tidak tahu jika banyak yang memerhatikannya. "Habis sudah…" Luhan menutup wajahnya dengan kedua tanggannya.
"Mengapa kau mendiamkan Sehun?" tanya Minseok lagi.
Luhan kembali menimbang, apa ia harus menceritakannya? Luhan benar-benar tidak tahu bagaimana cara bercerita pada seseorang, apalagi ini masalah yang ia pikir sangat memalukan. Jika ia menceritakannya, apa Minseok akan menertawainya? Minseok tidak akan memberitahu siapapun kan? Banyak sekali pertimbangan di kepalanya saat ini.
"Luhan?" panggil Minseok.
"A-ah, i-itu… sebenarnya…" mata Luhan terlihat ragu, tetapi ia ingin melepas perasaan 'seakan bisa mati' ini, ia dengar jika berbagi cerita maka perasaan akan membaik.
Minseok tersenyum, "tidak apa jika kau tidak mau menceritakannya, maaf aku terlalu ikut campur"
"A-ani!– itu maksudku… hm… sebenarnya terjadi sesuatu padaku dan Sehun… emm… itu semacam–"
"Luhan berbicaralah yang benar, aku tidak mengerti" pinta Minseok.
Luhan memejamkan matanya, jantungnya terlalu cepat berdetak hingga membuatnya gelagapan. "Itu… sebenarnya aku tidak tahu bagaimana menghadapi Sehun karena kemarin ia menciumku dan aku meninggalkannya begitu saja. Eotteokhae? Apa Sehun menganggapku aneh?"
Ya Tuhan, situasi macam apa ini, pekik Minseok dalam hati. Minseok mengangguk, "super aneh… bagaimana bisa? Ceritakan!" todong Minseok sambil menatap Luhan penasaran.
"A-araseo…"
..
[Flashback hari sebelumnya…]
Sepulang sekolah, Sehun membuat Luhan panik karena tak sengaja melihat pelipis Sehun terluka. Sebenarnya Sehun sudah menceritakan bahwa lukanya didapatkan karena kejatuhan patung hiasan yang ia letakkan di dinding atas tempat tidurnya, tetapi Luhan tetap saja berlebihan. Jadilah Luhan menyeret Sehun ke ruang kesehatan.
Sesampainya di sana, petugas kesehatan rupanya sedang tidak ada, jadi Luhan memutuskan untuk mengobati Sehun sendiri. Setelah menemukan salep yang dicari, Luhan menghampiri Sehun di ranjang. "Kemari," perintah Luhan.
Sehun memajukan kepalanya mendekat pada Luhan, lalu Luhan dengan mudah meraih belakang kepala Sehun agar bisa mengobatinya. Luhan dengan serius mengobati, tetapi Sehun yang menyadari jarak mereka terlalu dekat merasa canggung. Luhan dalam jarak dekat adalah kelemahannya, apalagi… Sehun memejamkan matanya saat tidak bisa berhenti menatap bibir mungil Luhan.
"Selesai… aigoo, apa sakit?" Luhan malah menertawakan Sehun, ia salah menyangka. Jadi Luhan tolong selamatkan dirimu sekarang, atau… singa dalam mode awas bisa menerkammu.
Sehun membuka matanya, jantungnya berdebar melihat pipi kiri Luhan memerah karena tawa, Luhan begitu cantik jika dilihat dari jarak sangat dekat. Luhan duduk di depannya tetapi tidak menghadap padanya, sampai saat Luhan menoleh padanya, Luhan baru menyadari jika jarak mereka terlalu dekat.
Luhan terlihat membeku saat mata intens Sehun menatapnya. Dengan jantung yang mendadak berdebar, Luhan mencoba berdiri dari posisinya, tetapi tangannya ditahan oleh Sehun. "Kau akan pergi?" tanya Sehun.
Luhan mengangguk, "a-aku ha-harus belajar,"
"Tidak bisa nanti saja?" pinta Sehun.
"Ti-tidak," jawab Luhan singkat tanpa berani menatap Sehun.
Ketika Luhan ingin pergi, Sehun menarik tangan Luhan hingga gadis yang ditariknya kembali terududuk di hadapannya. Keduanya saling menatap dalam diam. Debaran jantung mereka terdengar seirama dengan tarikan napas yang semakin sulit dilakukan. Mereka saling terhanyut dalam pandangan mereka tanpa menyadari bahwa waktu sudah hampir mengikis jam istirahat mereka.
Perlahan Sehun memajukan wajahnya, ia dapat melihat bahwa gadis di depannya ini sedang panik tetapi tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya. Entah apa yang dipikirkan Luhan, matanya menutup dengan otomatis. Ia tidak merasakan apapun setelah itu, kecuali bisikkan Sehun yang membuatnya ingin mengubur dirinya hidup-hidup.
"Kenapa menutup matamu begitu? Apa yang kau pikirkan?" bisik Sehun.
Luhan membuka matanya, ia menatap jengkel pada Sehun. Sungguh ia sangat malu saat ini, "ti-tidak ada! Memangnya apa? Lalu, kau kenapa sih?!"
Sehun menunjukkan potongan kapas yang sebenarnya ia ambil dari belakang Luhan "ada potongan kapas di rambutmu..." bohongnya, ia hanya ingin menggoda Luhan yang menjadi hiburan tersendiri baginya.
"Ish aku membencimu!" Luhan meninju lengan Sehun lalu berdiri hendak pergi, tetapi Sehun lagi-lagi lebih dahulu menarik tangan Luhan dan mendaratkan bibirnya tepat pada bibir Luhan.
Mata Luhan membola, jantungnya berdetak seakan bisa meledak dalam waktu beberapa detik lagi. Ia mencoba menjauh dari Sehun tetapi tentu saja Sehun lebih kuat darinya hingga ia tak bisa pergi kemana pun. Sehun memiringkan kepalanya mencoba melumat lebih dalam bibir manis yang membuatnya kecanduan.
Luhan memukul bahu Sehun pertanda bahwa ia bisa mati jika Sehun tak memberikannya udara. Sehun melepaskan bibir Luhan dan langsung saja dengan rakus Luhan menghirup seluruh oksigen disekitarnya.
Sehun tersenyum sambil menatap Luhan lalu sekali lagi ia mendaratkan bibirnya pada Luhan, tetapi hanya kecupan singkat yang langsung membuat Luhan memakinya.
"Ya!" teriak Luhan.
"Wae?" tanya Sehun, ia tidak menanggapi serius wajah Luhan yang kesal karenanya.
"Kau menyebalkan!" kesal Luhan lalu ia menghentakkan kakinya dan keluar dari ruang kesehatan, meninggalkan Sehun.
[Flashback off]
..
Minseok tercengang, sungguh, ia tidak tahu hubungan Sehun dan Luhan sudah sejauh itu meski ia tahu mereka sangat dekat. "Luhan… bersikaplah biasa, sepertinya Sehun frustasi karena kau mendiamkannya tanpa tahu sebabnya."
"Aku sudah bersikap seperti biasa, tetapi Sehun terus mengejarku. Aku tidak tahu cara menghadapinya, jantungku serasa akan meledak," keluh Luhan.
Minseok tersenyum, "kau sedang jatuh cinta Luhan, nikmati saja apa yang terjadi pada dirimu. Ketika kau jatuh cinta, maka perasaan senang, sedih, dan kesal akan tertuju pada orang tersebut. Aku akui kau bukanlah orang yang mudah, kau sangat sulit didekati maka itu kau tidak memiliki teman sebelumnya kan?"
"Ya! Ya!" kesal Luhan, kenapa Minseok jadi membahas ia yang dahulu. Yang dahulu? Lalu yang sekarang? Luhan mulai memikirkannya bagaimana ia sekarang, ia memang pemikir yang menyebalkan.
"Kau yang sekarang sudah berubah Luhan, kau bahkan mau menceritakan masalahmu pada orang lain. Sehun benar-benar telah merubahmu. Bukan, maksudku kalian telah berubah satu sama lain, sadar atau tidak kalian menjadi lebih baik." Wajah Luhan bersemu mendengar perkataan teman sekamarnya itu, tiba-tiba sekelebat perdebatan, tawa, dan tangis bersama Sehun muncul dalam benaknya.
"Memikirkan Sehun?" tebak Minseok, Luhan tidak menjawab, tetapi ia tahu tabakannya benar.
Luhan terlihat panik, "ti-tidak tentu saja!" elaknya.
Minseok menggelengkan kepalanya, 'dia benar-benar pembohong yang bodoh' kekehnya dalam hati. Lalu ia berbaring di tempat tidurnya, "yang pasti, jangan hindari Sehun berlebihan atau kau akan kehilangannya. Aku ingin tidur, bangunkan aku jam 5 ya? aku ingin belajar,"
Luhan hanya mengangguk. Kepalanya memikirkan perkataan Minseok, ia tidak tahu apa akan baik-baik saja baginya seminggu ini karena ia belum tahu bagaimana menghadapi Sehun.
.
.
Di hari kedua dan ketiga ujian, Sehun terus mencoba berbicara dengan Luhan, tetapi tetap saja gagal. Disaat Luhan sendirian–tanpa Minseok, Sehun tetap tidak bisa bertanya pada Luhan apa kesalahannya hingga Luhan nghindarinya. Luhan selalu saja tersentak seperti orang yang melihat hantu jika Sehun mendekatinya.
Keesokannya, dihari keempat ujian, Sehun mengambil buku dari dalam tas Luhan. Ia nekat melakukannya karena tiga hari kemarin Luhan membuatnya seperti orang gila yang terus menerus membenturkan kepalanya ke dinding, berusaha mencari tahu apa kesalahannya. Benar saja, saat jam istirahat, Luhan terlihat mencari sesuatu di tasnya.
"Kemana buku itu?" gumam Luhan pada dirinya.
Sehun menuju bangku Luhan dan memberikan buku yang sebelumnya ia ambil. "Mencari ini?"
Luhan mengambil bukunya dengan cepat, "syukurlah, aku mencarinya kemana-mana. Terima–" ucapan Luhan terpotong ketika melihat siapa yang menemukan bukunya. Mendadak suhu tubuhnya meningkat dan wajahnya seperti terbakar.
Sehun berhasil menahan Luhan yang ingin pergi darinya, "Luhan, kita perlu bicara." Luhan tidak merespon, ia juga tidak menatap Sehun, ia hanya menunduk memerhatikan tangannya yang ditahan oleh Sehun. "Kau menghindariku? Kenapa? Atau… karena aku berbuat salah? Apa salahku?" tanya Sehun.
Luhan tidak menjawab, ia sungguh tidak tahu jika Sehun berpikir ia memiliki salah. Sehun hanya membuatnya merasa ngeri karena terus-terusan membuat Luhan serasa akan terbang, entahlah rasanya aneh.
"Berhentilah membuatku pusing, Oh Sehun. Sekarang ini musim ujian." Luhan mengkhawatirkan ucapannya barusan, apa ia terlalu jahat? Pikir Luhan. Sehun tidak merespon apapun, ia hanya melepaskan tangannya dari Luhan dan hanya melihat punggung Luhan yang berlari menjauh darinya. Sehun tersenyum pahit.
.
.
Tak terasa hari ini merupakan hari ke-5 ujian dan hari ini Luhan bisa bernapas lega karena Sehun tak lagi mengejarnya seperti sebelumnya. Sehun terlihat lebih tenang dan hampir tak melakukan apapun selain duduk di kursinya, mengerjakan ujiannya, keluar kelas saat istirahat yang entah kemana ia pergi karena tak terlihat di kantin, dan pulang tanpa jejak. Seharusnya Luhan merasa senang karena harinya menjadi tenang, tetapi sejak tadi kepala Luhan berkelana kesana-kemari mencari sosok Sehun yang tak terlihat di perjalanan pulang.
Luhan masuk ke kamarnya dengan wajah yang lesu. Minseok yang melihat Luhan seperti itu lantas bertanya-tanya, anggap saja teman sekamar Luhan itu menjadi saksi keajaiban seorang Luhan yang berubah drastis. "Terjadi sesuatu?" tanya Minseok yang langsung direspon anggukkan oleh Luhan.
"Wae?" tanya Minseok lagi.
Luhan menatap Minseok seperti anak kucing yang minta diadopsi, "Sehun… Ia tak menggangguku lagi,"
Minseok mengangguk-angguk, "itu bagus kan? Bukannya itu yang kau mau?"
Luhan mendesah, "molla… aku ingin belajar saja," jawab Luhan yang langsung membuat Minseok terkikik geli.
'Kemarin kau meminta Sehun berhenti mengejarmu, sekarang kau merindukannya, eoh?' Minseok meledek Luhan dalam hatinya. Ia tak cukup berani untuk membuat mood seorang Luhan semakin rusak.
Luhan membuka bukunya dan mencoba berkonsentrasi. Baru satu paragraf Luhan membaca, ia sudah menutup bukunya kembali, semua kalimat yang ia baca benar-benar terpantul tanpa ada yang meresap di otaknya. Luhan menumpukan dagunya pada tangan dan tangan lainnya mengetukkan pena ke mejanya. Ia mencoba berpikir:
'Mengapa rasanya sangat menjengkelkan?'
'Rasanya aku ingin menangis'
'Apa Sehun sudah lelah mengejarku?'
'Apa Sehun marah padaku?'
'Atau… tidak lagi menyukaiku?–' Luhan menggelengkan kepalanya ribut.
"Aku bisa gila…" desah Luhan frustasi.
..
..
Keesokan paginya, Luhan masuk ke kelas dengan lesu, tidak lagi serius seperti biasanya. Ia menoleh ke bangku Sehun yang masih tidak ada pemiliknya, Sehun belum datang. Luhan memukul kepalanya ringan, "fokuslah Luhan, kau harus mengerjakan ujian!" gumam Luhan pada dirinya.
Sedaritadi Luhan terus menoleh ke bangku Sehun yang tak juga ditempati pemiliknya, padahal 5 menit lagi ujian akan dimulai. Luhan dibuat cemas karenanya. Ketika guru pengawas masuk ke kelas, Luhan sekali lagi menoleh pada bangku Sehun. 'Kemana sih dia?'
"Bangku milik siapa di sana?" tanya guru pengawas menunjuk pada bangku Sehun.
"Oh Sehun, Saem…" jawab ketua kelas.
"Ada yang tahu ke mana Sehun?" tanya guru itu lagi.
Tidak ada yang menjawab, si ketua kelas mengacungkan tangannya, "mungkin Luhan tahu, Saem…" yang langsung membuat kelas riuh karena menggoda Luhan.
Luhan sedaritadi melihat bukunya–meski telinganya masih fokus mendengarkan percakapan dengan topik Sehun, ia mengangkat kepalanya, "a-aniyo… saya tidak tahu, Saem" jawab Luhan.
Sreekk.
Pintu belakang kelas terbuka membuat semua perhatian teralihkan ke sana. Ternyata Sehun yang datang, seragamnya terlihat berantakan, "Maaf Saem, saya terlambat," ucap Sehun.
"Ada apa dengan seragammu, Oh Sehun?" tanya gurunya.
"Saya terburu-buru Saem," jawab Sehun lalu berjalan ke bangkunya.
"Baiklah cepat duduk di bangkumu, Sehun! Tutup buku kalian, kita mulai ujiannya…"
Luhan terus memperhatikan Sehun dan sedikit khawatir ketika melihat Sehun berjalan pincang saat hampir mencapai ke bangkunya.
Saat ujian berlangsung, Luhan tidak dapat berkonsentrasi dengan baik. Matanya memang membaca soal yang terdapat di hadapannya, tetapi pikiranya terbagi dua. Ia memikirkan apa terjadi sesuatu pada Sehun dan memikirkan jawaban soal yang sulit diingatnya.
Setelah ujian berakhir, helaan kelegaan terdengar dari setiap siswa yang baru saja menyelesaikan rentetan ujian memuakkan. Kebanyakan siswa langsung keluar dari kelas mereka dan bergegas ke asrama, tetapi tidak dengan Sehun dan Luhan yang masih terlihat di bangku mereka masing-masing. Entah keduanya memang sengaja untuk saling menunggu atau saling menghindari. Sehun duduk sambil memainkan ponselnya dan sesekali melirik pada Luhan, memastikan apa gadis itu akan pergi. Sedangkan itu, Luhan merapikan alat tulisnya dengan lambat, ia juga sesekali menoleh pada Sehun yang masih tak berniat pergi. Ia mempertimbangkan untuk berbicara pada Sehun atau tidak.
"Kau…" Sehun bersuara yang langsung mendapat perhatian dari satu-satunya orang yang bisa diajaknya berbicara. Luhan menoleh pada Sehun dengan jantung yang berdetak tak karuan, ia menunggu Sehun melanjutkan ucapannya. "Kau tidak pulang?" lanjut Sehun.
"Sebentar lagi…" jawab Luhan, "kau tidak pulang?"
"Tentu saja aku pulang." Jawab Sehun sekenanya. Sebenarnya ia ingin cepat pulang karena kakinya terasa sangat nyeri.
"Oh…" Luhan meresponnya singkat disertai anggukkan. Situasi apa ini?! Luhan merutuki dirinya yang tak juga membuka suara. Padahal selama ujian ia meyakini dirinya untuk berbicara dengan Sehun.
"Ingin menanyakan sesuatu?" tanya Sehun pada Luhan yang tatapannya sulit diartikan.
Luhan tidak menjawab, ia membawa tasnya dan berjalan menuju bangku Sehun. "Apa kau–"
"Bukan begitu… aku terjatuh dari tangga asrama saat berlari tadi pagi," ia tak mau membuat Sehun berpikir macam-macam tentangnya.
"Memangnya aku mengatakan apa?" ucap Luhan dingin.
"Tapi sungguh Luhan, aku terjatuh–"
"Aku percaya Oh Sehun… lalu apa kau baik-baik saja?" tanya Luhan.
Sehun mengangguk, "aku baik-baik saja, hanya sedikit nyeri…"
Luhan secara tak terduga menggenggam tangan Sehun dan menariknya untuk berjalan. "Astaga!–" Sehun memekik saat kakinya terasa sangat sakit untuk berjalan. Luhan masih terus mencoba menarik Sehun, "Luhan– tunggu…"
Luhan berbalik, pipinya sudah dibasahi air mata yang membuat Sehun panik setengah mati. "Lu-Luhan… mengapa kau menangis?"
"Hiks… Kau– berhentilah membuatku ketakutan, Oh Sehun!" Luhan menghambur ke pelukan Sehun dan memukulkan tangan gemetarnya ke dada Sehun. "Aku pikir kau menghindariku karena terlibat sesuatu yang menakutkan lagi." Suara Luhan melemah, "berhenti membuatku serasa diambang kematian…"
Sehun merutuki dirinya, ia pikir Luhan memang butuh sendiri di saat ujian, tetapi ia butuh penjelasan juga mengapa Luhan menghindarinya. "Mianhae Lu, aku janji tidak akan membuatmu takut… mianhae…" ucap Sehun lalu mengecup puncak kepala Luhan. "Tetapi, bukankah kau yang terlebih dahulu menghindariku? Kau marah padaku? Aku minta maaf Lu…"
Luhan tidak merespon, ia semakin menyembunyikan wajahnya di dekapan Sehun, "aku tidak tahu harus bagaimana, bodoh! Kau membuatku malu!" kesal Luhan dengan isakannya.
Sehun akhirnya dapat melepas kegundahannya, ia tersenyum ternyata itu memang salahnya, "mianhae… tapi–" Sehun memegang kedua pundak Luhan lalu menyejajarkan wajahnya dengan wajah Luhan, "kau jelek saat menangis, Momchongi… berhentilah menangis. Aku baik-baik saja."
Luhan mempoutkan bibirnya lalu menghempas tangan Sehun dari pundaknya, "bodoh! Pulang saja sendiri! Kau baik-baik saja kan?!" kesal Luhan lalu menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan Sehun.
"Luuu…. Luhan-niee…" Sehun merajuk yang membuat Luhan bergidik ngeri. "Kakiku… aww…" keluh Sehun.
Luhan berbalik lalu menatap Sehun garang, "kau kan baik-baik saja!"
"Jahat sekali kekasihku meninggalkanku…" rajuk Sehun.
Luhan membolakan matanya, "ya!" kesalnya, "ini belum upacara kelulusan!"
Sehun tersenyum jahil, "waah kau mengingatnya, apa kau menghitung waktu sampai ujian selesai? Kau tak sabar ingin menjadi kekasihku kan?"
Luhan menghentakkan kakinya, wajahnya sudah memerah dengan jelas di mata Sehun saat Luhan mendekat padanya, "berhenti bodoh!" pekik Luhan sambil mencubit bibir Sehun dan menariknya bagai permen karet.
"Astaga! Kau galak sekali," protes Sehun.
"Diamlah atau aku akan meninggalkanmu!" Luhan masih tetap galak meski terlihat malu.
Sehun terkekeh, lalu merangkulkan tangannya pada pundak Luhan yang mungil, "bantu akuuu…"
"Ugh! Kau berat sekali!" keluh Luhan.
Sehun mengambil risiko hingga ia siap untuk berjalan sendiri ke asrama. Ia mengecup bibir Luhan sekilas yang langsung dihadiahi makian oleh Luhan.
"Berhentilah menggerutu Luhan, kau sangat lucu hingga aku ingin terus menciummu…"
Luhan menahan dirinya agar tidak tersipu meski jantungnya seakan ingin meledak, "diamlah bodoh!" Sehun menahan tawanya, ia tidak tahu jika kakinya terluka membuatnya berbaikan dengan Luhan. Atau… seharusnya ia meminta kakinya patah saja agar Luhan tidak galak seperti ini. Sepertinya Oh Sehun kita sudah gila karena Luhan.
..
..
"Jam berapa kau dijemput besok?" tanya Sehun. Kini keduanya duduk di pinggiran tangga asrama.
"Siang," jawab Luhan. "Wae?"
Sehun mengubah arah duduknya, ia menyilakan kakinya dan bertopang dagu. Luhan yang menyadarinya, menolehkan kepalanya. Mata mereka saling menatap, "mau berkencan denganku?"
Luhan membolakan matanya, "mwo? Sembuhkan dahulu kakimu, Oh Sehun!"
Sehun mengangguk, "itu bukan masalah. Nanti malam aku akan meminta Chanyeol mengantarku ke rumah sakit. Jadi bagaimana?"
"Mengapa tidak ke rumah sakit bersamaku saja?" tanya Luhan.
"Kau bisa mengendarai mobil?"
Luhan menggeleng membuat Sehun mengangguk, "ya sudah kalau begitu," ucap Sehun final.
"Aku ikut kalian?–" Luhan menatap Sehun memohon, tetapi Sehun sepertinya tidak menyetujuinya. "Tidak boleh?" tanya Luhan pasrah.
"Kau tahu hari terakhir di sekolah sangat sensitif, Momchongi. Jika ketahuan pergi dari sekolah, kau bisa dianggap membolos–"
"Kau juga tahu itu," Luhan menatap Sehun tak suka.
"Aku ini sudah handal, jadi, lupakan, oke?" mau tak mau Luhan pun mengangguk. "Bagaimana, kau mau kan berkencan denganku?" tanya Sehun.
"Biasanya juga kau selalu menyeretku kemanapun. Mengapa bertanya," cibir Luhan.
Sehun tertawa, "baguslah kalau begitu. Aku akan menyeretmu besok,"
"Lihat saja kalau berani!" kesal Luhan. Sehun tertawa dibuatnya.
.
.
to be continued
.
.
Yuhuuu... haii haiii
Gak kerasa udah di chapter 14 T.T sebetar lagi bakal selesai nih! fyi, cerita ini akan berakhir di chapter 16 ya ^^ hehehe. Jadiii tunggu kelanjutan kisah HUNHAN kita yaaa ;)
..
Balasan review
#Phe19920110: aamiin ^^
#LuVe94: ke manakah Namjoon? tunggu ajadeh sampe dia keluar lagi ya kkkk. Coba dulu bujuk Appa Oh biar anaknya ikutan sekolah di luar negeri TT hihihi. Makasi yaa atas dukungannya *hiks-terharuu~ yuppss! sama ih gak bisa lepas dari HUNHAN, gimana mereka tuh kek udh jodoh rasanya! kkkk
#AsaHunHan: hihihi cieee~
..
Yupss! Segitu dulu, makasi semua yang masih sempetin baca apalagi sampe review, kalian tuhhh muah muah deehh! hehehe. Tunggu Minggu depan dengan chapter 'menyenangkan' lainnya ^^ hehe. Tinggalkan review jangan lupa~
Gamsahamnida
*loveforHUNHAN yeayy!
