[ photos ]
liked by tjoooh and 6669 others
modelanmumirippeju kamu terlalu emas untuk aku yang cuma serbuk marimas. :'(
Begini sih konsekuensi jones, dari mulai sekolah menengah pertama sampai sekolah menengah atas terus-terusan gaul sama batang melulu. Di sana batang, di sini batang. Bosan! Akio menempuh pendidikan di sekolah khusus laki-laki, wajar dong dia solo. Tetapi Sakura masih tetap tidak habis pikir bagaimana bisa adiknya itu malah kepincut dengan Otan, seperti tidak ada cewek lain saja di muka bumi. Capek deh.
"Ngapain senyum-senyum, yang?"
Selaras dengan apa yang tengah Sakura lakukan, Sasuke yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk melirik istrinya itu yang tengah duduk bersandar di ranjang sembari memainkan tablet. Sudah selesai masak rupanya. "Lihatin postingan Kiki di Instagram bikin ketawa."
"Kenapa?"
"Ya kamu pasti tahulah gimana si Kiki."
"Galau tuh anak?" Cinta bertepuk sebelah tangan sendiri, sad boy. Sakura tersenyum singkat kemudian meletakkan tabletnya di atas nakas, beranjak dari sana demi bisa berada di jarak intim dengan Sasuke. "Anak-anak sudah pada bangun?"
"Lupa? Kan semalam aku sudah bilang." Lantaran siswa kelas enam melakukan ujian akhir, maka adik tingkatnya sementara diliburkan. "Mereka hari ini libur yang, jadi aku biarin bangun siang."
"Jangan gitu ah, nanti jadi kebiasaan."
Selama Uchiha Sasuke yang menjadi bapaknya, disiplin sudah pasti merupakan sesuatu yang wajib diterapkan di rumah ini. "Halah yang, sekali-kali saja doang juga."
"Sekalinya itu nanti jadi berkali-kali." Namanya juga Sakura, lah dia sih bodo amat apa kata Sasuke. "Oh iya yang, minggu depan Naruto mau main ke sini katanya."
"Sore apa paginya?"
Seingat Sasuke, Naruto tidak menjelaskan banyak. Cowok itu hanya mengatakan akan bertandang ke rumahnya minggu depan. "Nanti deh aku tanya lagi ke dia."
Apa pun alasannya, Sakura sungguh tidak bisa menerima jika Sasuke menjadi biro jodoh dadakan antara Naruto dan Hanabi. Eh tapi, bukannya jika Hanabi berhubungan dengan Naruto justru lebih bagus? Akio hempas. Diam-diam Sakura melirik suaminya yang membungkuk untuk mengenakan celana dalam. Lucu dong, pantatnya sangat seksi dipandang. Alhasil Sakura jadi gemas dan langsung menginjak kain berwarna biru tua di antara kedua kaki Sasuke. Ini cewek, serius mau ngerjain suami sendiri pagi-pagi?
Sasuke menoleh spontan dengan raut jengkel. "Apa nih? Jangan jahil deh yang, aku lagi pakai celana dalam."
"Biarin gitu aja bagus kok nggak usah pakai celana dalam."
Lah gimana sih?
Kalau tidak pakai celana dalam nanti anunya jadi gondal-gandul coeg! Nggak sekolah nih. Sakura memang seksi, tapi jika menyeringai begini justru membuat Sasuke ngeri. "Ini aku mau kerja yang, jangan gini. Kamu mau aku telat terus ditindak tegas atasanku. Kalau dipecat, mau makan dari apa kita? Batu?"
Sakura menghela napas lalu mengangkat satu kakinya, sedangkan Sasuke buru-buru mengenakan celana dalam. "Lebay!"
Sebodoh lah, suka-suka Sakura.
"Nanti aku sama kembar ke rumah Mamaku, kamu pulang nugas langsung jemput ke sana saja ya yang?"
"Iya deh." Kembali seperti semula, Sasuke sibuk mengenakan satu persatu seragam kepolisian. Tapi ia harus merasakan kejutan itu lagi saat Sakura tiba-tiba mencium bibirnya sebentar, kemudian langsung melangkah pergi keluar kamar. "Mau ke mana?"
"Aku mau bangunin anak-anak dulu."
Labil deh.
- 0 -
Mendekati pukul empat sore, cuaca sedang mendung. Sama persis seperti hati Akio dong? Jika diingat-ingat lagi, sepertinya ia telah salah bicara pada Hanabi. Cewek itu mengira jika Akio tidak memiliki perasaan apa pun padanya. Hanabi salah mengartikan, tidak peka dan seenaknya berasumsi. Akio memang tengah menyukai cewek, tapi itu jelas-jelas adalah Hanabi. Terus-menerus memikirkan membuat kepala Akio pening. Mahasiswi Fakultas Sains dan Teknologi itu sudah membuatnya mabuk kepayang. Asw!
"Om Kiki!!"
Waduh.
Akio baru pulang bekerja, baru selesai memarkirkan motornya di depan garasi. Tiba-tiba Mars muncul di teras depan dan menyambutnya. "Sama siapa ke sini?"
"Sama Mama."
"Nggak sama Papa juga?"
"Enggak."
Setiap kali memandang si kembar, wajah menyebalkan Sasuke selalu melintas di kepala Akio. "Ya sudah, ayo masuk."
Bocah tampan itu langsung mengangguk riang, dia menerima uluran tangan Akio dan mereka berdua melangkah bergandengan tangan memasuki rumah. Di jam seperti saat ini, Ibunya biasa bersantai di halaman belakang sembari memberi makan dua ekor ayam kate kesayangannya. Terlalu sering sendiri, akhirnya jadi kesepian begitu. Kasihan juga, makanya Akio cukup lega mengetahui Ayahnya akan pensiun beberapa bulan lagi. Tidak sepertinya dong, jones terosss! Omong-omong, Sasori sudah pergi sejak pagi buta dari rumah lantaran mendapat jadwal penerbangan pagi.
"Om Kiki pulanggg."
Ketika Akio menutup pintu depan, Mars langsung berlarian masuk ke dalam rumah. Dia berteriak nyaring, lalu yang Akio temukan di ruang keluarga adalah keberadaan kakak perempuannya. Sakura sedang rebahan di sana sembari menonton televisi, dan langsung duduk ketika Mars minta dipangku. "Mama mana Sakura-nee?"
"Di belakang, sama Yupi."
Doi manggut-manggut mengiyakan. Matanya tanpa sengaja mendapati sekotak martabak manis di meja. "Itu buat gue?"
"Iya, makan gih." Akio siap menghabiskan. Sehabis pulang bekerja memang paling enak buat jajan, seperti ini contohnya. Sore-sore makan martabak manis, sudah begitu cuaca mendung di luar semakin mendukung. Sakura memperhatikan adiknya sembari tetap memangku tubuh kecil Mars. "Eh, Ki."
"Hn."
"Lo sama Hanabi serius nggak sih?"
Serius? Akio langsung mengangkat satu alisnya heran. Dia menatap Sakura dengan mulut penuh martabat manis. "Serius gimana? Pacaran saja enggak."
"Maksudnya, lo serius suka nggak sama dia?"
"Kok lo goblok sih? Ya gue seriuslah suka dia, dipikir gue main-main."
Mars ada di tengah mereka, seharusnya Akio bisa menjaga mulut. Sakura memelototinya sinis sekaligus memberi kode untuk tidak bicara aneh-aneh di depan Mars. "Mending lo jangan suka tuh cewek deh."
"Lah ngapa?"
"Susunya kurang montok, cari yang lebih gedean dikitlah. Minimal seukuran gue."
Ini lebih vulgar lagi cok!
"Mohon maaf Bu. Gue suka cewek itu dari hatinya, bukan dari seksinya."
"Seksi itu apa ya?"
Doeng!
Mulut Akio benar-benar tidak bisa dijaga. Intonasi suara cowok itu terlalu keras, alhasil langsung dengan mudah didengar Mars. Sialnya, Sasuke tiba-tiba muncul di keadaan kurang tepat. Baik Sakura maupun Akio memilih bungkam, otomatis Mars langsung berlari memeluk kaki Sasuke yang masih mengenakan seragam kepolisian. Anak itu tersenyum sumringah, sedikit berbincang dengan Ayahnya membahas beberapa hal. Tetapi ujung-ujungnya tetap sama, Mars tetap menanyakan hal tadi. Cok! Jancok! Akio tidak bisa berhenti misuh dalam hati.
"Seksi itu artinya apa Pa?"
Tidak salah lagi, Sasuke melirik penuh selidik pada istri dan adik iparnya. "Seksi?"
"Ya."
"Seksi itu," Yang jelas jawabannya harus lebih logis. Terus terang Sakura gugup sendiri mendengar kelanjutan ucapan Sasuke. "Ya hampir mirip sama kayak taksi."
Asw!
Akio langsung menahan tawa, sedangkan Sakura hanya bisa menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Kalau gitu nanti Mars mau nyoba naik seksi ya Pa?"
Sekarep deh, Sasuke pasrah.
To be continue...
