We Love You, hyung..
.
Kim Tae Hyung-BTS,
Byun Baek Hyun-EXO (GS),
Park Chan Yeol-EXO,.
And other cast
(nama tokoh bisa berubah sebagaimana alur cerita)
.
.
EXO - BTS
Beberapa bulan berlalu dan Taehyung sukses menghadapi ujian sekolah bahkan ujian negara, walaupun dia tidak termasuk jejeran siswa terbaik yang penting ia mendapat surat dengan bertuliskan lulus.
Lagipula tanpa predikat siswa terbaik, Taehyung terus menerima karangan bunga dari beberapa siswi dari yang di kenal bahkan yang tidak pernah ia lihat sama sekali. Dan kini anak itu lebih sibuk membawa banyak bucket bunga untuk menuju ke tempat parkir dimana ayah dan ibunya berada.
Daehyun tersenyum bangga melihat perlakuan yang di dapatkan putranya. Harus ia akui putranya memang begitu terkenal di sekolah. Apalagi jika bukan karena paras tampan yang di wariskan olehnya?
Sedangkan Youngjae buru-buru membantu putranya membawa booket bunga itu. Wanita itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap suaminya yang aneh. Menyender pada pintu mobil lalu melipat kedua tangannya dan tersenyum bangga di saat putranya sibuk membawa banyak bucket bunga.
"Wuahhh Aku tidak tahu kalau hyung adalah artis di sekolah" gumam Bambam yang sudah menunggu Taehyung di dalam mobil. Ia juga membantu kakaknya memasukkan bunga-bunga pemberian dari penggemar Taehyung ke dalam mobil dan menatap kakaknya begitu bangga. "Ajarkan padaku supaya aku terkenal, hyung"
Taehyung melirik Bambam, sempat-sempatnya di saat seperti ini menanyakan hal tidak penting seperti itu. "Belajar dulu yang rajin, baru kau bisa terkenal"
Bambam yang masih duduk di sekolah dasar itu hanya mengangguk seperti mendengar sebuah pesan bijak padahal hanya sindiran belaka.
Beberapa bucket bunga itu sudah tersusun rapih di atas kursi belakang. Lalu Taehyung menyebarkan atensinya ke setiap tempat. Mencari seseorang yang cukup lama tidak ia temui.
"Kau mencari siapa nak? Jimin?" tanya Youngjae yang memperhatikan sikap Taehyung.
"Ibuku. Apakah ibuku ikut datang kesini?"
Youngjae terdiam, ia sempat memandang Taehyung lalu kemudian beralih pada tas putranya yang kemudian ia ambil dan memasukkannnya ke bagasi.
"Ibumu sibuk. Dia banyak menerima pesanan. Tapi dia menitip salam padamu" jawab Youngjae dengan tersenyum kecil.
Ada perasaan sedih ketika mendengar bahwa ibunya tidak datang di acara kelulusannya. Sebelumnya Taehyung selalu mengirim pesan pada ibunya agar bisa datang pada hari kelulusan agar mereka bisa berfoto sambil menikmati kebersamaan dan membuat suatu kenangan. Meskipun pesannya itu jarang sekali di balas.
Tapi meskipun begitu, Taehyung tetap tersenyum setidaknya ibunya menitipkan salam padanya meski harus lewat ibu tirinya.
Sementara itu Youngjae hanya melihat Taehyung dari kaca spion dengan wajah sendu. Youngjae membuka ponselnya dan membuka kotak pesan yang hanya terisi oleh pesan dari kawan-kawan dekat. Tidak ada pesan dari Baekhyun, sejak sebulan yang lalu.
'Maafkan ibu, Taehyung...'
...
Setelah merayakan pesta kecil atas kelulusan Taehyung dari sekolah menengah atas dengan makan di sebuah restoran, mereka kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Kecuali Daehyun karena harus kembali bekerja.
Youngjae mengumpulkan beberapa bunga dari bucket yang di berikan 'penggemar' Taehyung di sekolah yang sekiranya masih bisa di tanam untuk menghiasi rumah. Bambam sibuk bermain game sedangkan Taehyung langsung memilih merebahkan diri di kamarnya sambil membuka beberapa pesan dan sosial media.
Banyak pesan yang masuk dari beberapa ruang chat dan juga akun media sosialnya. Tapi Taehyung tidak begitu semangat untuk meresponnya karena pesan itu hanya berisi ucapan selamat dan juga ajakan untuk makan bersama. Dia juga hanya menjawab beberapa pesan dari kawan terdekat.
Dan yang paling sering Taehyung lalukan jika di saat santai dan bermain gadgetnya adalah melihat media sosial milik ibunya. Darisana lah Taehyung bisa tersenyum karena melihat gambar aktivitas pertumbuhan ketiga adik kecilnya terutama Jiwon yang saat ini sudah bisa berjalan dan berlari.
Selain itu setelah kepergian mendiang ayahnya, ibunya mencari penghasilan sendiri dengan cara membuka usaha online seperti membuka pesanan kue. Taehyung bangga karena tidak menemukan komentar-komentar negatif tentang usaha ibunya.
Kegiatan 'stalking' terhenti saat sebuah pesan muncul. Pesan dari orang yang sangat ia kenal, tentu saja. Dan Taehyung langsung sigap membalasnya sehingga membuat perhatiannya teralihkan.
Setelah saling membalas pesan, kini Taehyung duduk di sebuah kedai tempat dulu ketika pernah merasakan kerja sambilan. Kedai ayam yang selalu ramai di kunjungi pembeli dan pemilik kedai yang sudah sangat ia kenal dekat.
Tapi saat ini Taehyung berada disana bukan sebagai pelayan, dia sekarang menjadi seorang pembeli.
Taehyung juga tidak sendiri, di depannya sudah ada seorang gadis yang sekarang sedang menikmati sepotong ayam goreng. Seorang gadis yang pertama dekat dengannya. Ralat, mungkin kedua karena ada Yoongi yang berdiri tidak jauh disana. Dan gadis itu siapa lagi jika bukan Jungkook?
"kenapa tidak makan?" tanya Jungkook setelah melihat Taehyung hanya menikmati minuman yang di sediakan.
"aku masih kenyang, lagipula melihatmu makan sudah membuatku kenyang" sahut Taehyung sambil memasang senyuman lebar.
Jungkook tersenyum, ia tidak merasa tersinggung atau apapun jika orang menilainya seperti gadis kelaparan atau mungkin rakus. Karena potongan-potongan daging ayam itu membuat perasaannya kini di penuhi rasa bahagia.
Sedangkan Taehyung kembali tersenyum melihat ekspresi saat Jungkook menggigit potongan daging ayam itu. Mata bulatnya semakin terlihat dan itu benar-benar menggemaskan. Mirip seekor kelinci. Tapi entah kenapa tiba-tiba muncul perasaan sedih ketika melihat Jungkook memakan ayam goreng.
"Apa orang tuamu membatasi makananmu?" Tanya Taehyung mengingat kedua orang tua Jungkook berprofesi sebagai dokter.
Jungkook mengangguk "aku hanya di beri potongan daging kecil, mereka tidak mau aku terlihat gemuk"
"Tapi kau sangat imut jika pipimu bulat" sahut Taehyung dengan suara sedikit rendah, hingga memancing pendengaran Jungkook dan mengalihkan fokus gadis itu dari potongan daging ayam di tangannya.
"Apa? Pipiku bulat?"
"Tidak tidak! Maksudku matamu lucu karena terlihat bulat saat makan" Taehyung segera memperbaiki perkataannya lalu mulai fokus pada buku bergambar yang di buat Jungkook.
Sebelumnya, saat Taehyung menerima pesan dari Jungkook, Jungkook yang sudah tahu akan hari kelulusan Taehyung langsung memberikan ucapan selamat kepada Taehyung. Jungkook juga mengatakan ingin memberikan sesuatu sebagai ucapan selamat.
Karena Taehyung merasa mereka sudah cukup lama tidak bertemu, ia pun mengajak Jungkook untuk makan. Sayangnya Jungkook sedang berada di kediaman kakek neneknya di Busan. Bukan di tempat ibunya berada yang satu kota dengan Taehyung.
Beruntung Taehyung memiliki kenalan yang tempat nya satu kota dengan kota dimana Jungkook berada. Lalu dengan bekal seadanya ia pun langsung bergegas menuju stasiun dan pergi ke Busan dengan menaiki kereta. Dan akhirnya di sinilah mereka berada. Jungkook sibuk dengan makanannya sedangkan Taehyung lebih menyukai buku berisi lukisan-lukisan yang di buat oleh Jungkook sendiri.
"Lukisanmu sangat keren. Apakah orang tuamu bisa melukis juga?" Taehyung begitu takjub saat melihat lukisan yang Jungkook buat. Entah itu hanya coretan pensil atau yang di buat dengan cat berwarna.
Jungkook yang ingin menggigit potongan daging terakhir langsung terdiam, lalu ia menaruh potongan daging itu di atas piring dan membersihkan bibirnya dengan tisu lalu meneguk sedikit air.
"Ayahku...menyukai seni. Apapun" jawabnya dengan suara pelan.
"Waaahhh, ayahmu hebat. Selain dokter juga pintar melukis" puji Taehyung.
Namun Jungkook tidak menyahut, ia hanya memasang senyum kecil begitu melihat Taehyung yang antusias setiap membuka lembaran buku bergambar miliknya.
Taehyung seperti melihat sebuah komik, dia begitu tenang melihat coretan dari sebuah pensil. Padahal setiap lembar memiliki kisah dan cerita sendiri. Lalu setelah puas melihat satu buku bergambar itu, Taehyung melihat buku lain yang sengaja Jungkook bawa.
Taehyung membuka kembali lembaran buku melukis itu dan kembali menikmati gambar lukisan itu sampai beberapa saat kemudian dahinya sedikit mengerut.
Mulai dari lembar pertama hingga pertengahan atau mungkin sampai lembar terakhir jika Taehyung tidak sedikit merasa aneh lebih dulu, Taehyung hanya melihat gambar seorang wanita. Mulanya Taehyung mengira jika Jungkook hanya mengagumi wanita tersebut sehingga dia membuat lukisannya. Tapi sedikit aneh jika dalam satu buku ini berisi lukisan wanita tersebut dengan sangat apik di setiap lembarnya hingga lembar terakhir.
Lalu ia beralih mengahadap depan dan menatap Jungkook, namun Taehyung semakin keheranan karena tiba-tiba wajah Jungkook berubah sedikit murung.
"Ada apa?" tanya Taehyung curiga, namun gadis itu masih terdiam melamun "hey, Jungkook? Kau baik-baik saja?"
Suara berat itu lalu membuat Jungkook tersadar. Gadis itu langsung tersenyum dan duduk tegap. Kemudian ia melihat buku yang sedang di pegang Taehyung. Dan tanpa aba-aba Jungkook langsung merebut buku itu lalu segera memasukannya ke dalam tas. Taehyung yang melihat kejadian itu semakin merasa aneh.
"apakah tadi kau mengatakan sesuatu?" tanya Jungkook dengan wajah polos tanpa berdosa.
Sedangkan Taehyung yang semula curiga dengan sikap Jungkook akhirnya memilih mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang wanita yang di lukis Jungkook. Mungkin wanita itu berpengaruh dalam hidupnya sehingga Jungkook melukisnya dalam buku yang 'spesial'?
Jungkook kembali terdiam karena ia teringat sesuatu. Lalu dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang di masukkan ke dalam kotak yang terbuat dari plastik dan di beri pita di tengahnya.
"Aku punya lukisan spesial untukmu, bukalah"
Jungkook menaruh gulungan kertas itu di atas meja dan jaraknya tidak jauh dari Taehyung.
Taehyung sempat keheranan namun ia menerima dan mengambil gulungan kertas itu. Lalu ia membukanya perlahan dan mengeluarkan gulungan kertas yang berada di dalam kotak plastik.
Semula Taehyung menduga bahwa kertas itu berisi tulisan panjang, namun ketika kertas itu di buka, mata Taehyung membulat dan mulutnya terbuka lebar.
"Bagaimana kau bisa melukis mereka?" Tanya Taehyung membolak-balikan kertas itu untuk menunjukkan lukisan itu ke Jungkook. Lalu dia kembali menatapnya "apakah kau juga mengenali ibu dan adikku?"
"Tidak, tapi ibumu selalu datang ke klinik ibuku, jadi terkadang aku selalu melihatnya jika aku berada di tempat ibuku lalu-"
"Tunggu, ibuku selalu datang ke klinik ibumu? Apakah ibuku sakit?" tanya Taehyung lagi dengan wajah cemas.
Jungkook menggeleng dan tersenyum "tidak, dia selalu memeriksa pertumbuhan adikmu yang masih bayi, memberikan vitamin atau mengukur pertumbuhan adikmu. Ibu dan Adikmu tidak sakit"
Taehyung pun bernafas lega, lamanya ia tidak bertemu dengan ibu dan adiknya membuat Taehyung khawatir dengan kondisi mereka. Tapi beruntung jika selama ia berada di rumah ayahnya ternyata ibu dan adiknya baik-baik saja.
Lalu Taehyung melihat kembali lukisan itu, dimana lukisan itu memperlihatkan Jiwon sedang duduk di atas pangkuan ibunya yang sedang tersenyum. Kemungkinan saat itu kebetulan Jungkook berada disana saat ibunya memeriksa perkembangan Jiwon. Lalu Jungkook langsung melukisnya.
Tunggu!
Bagaimana Jungkook bisa tahu bahwa bayi dan wanita itu adalah ibu dan adik Taehyung?
Taehyung lalu menatap Jungkook dengan curiga "bagaimana kau tahu mereka ibu dan adikku?"
Jungkook sempat terkejut dengan tatapan curiga yang di tunjukkan oleh Taehyung. Tapi Jungkook langsung tersenyum kemudian "ibuku yang memberitahu, karena ketika aku melihatnya sekilas aku mengingatmu, dan ibuku menjawab dia adalah ibumu" dan Taehyung pun langsung tersenyum menanggapi penjelasan itu.
Tingkah dan sikap Taehyung melihat lukisan yang di buatkan oleh Jungkook benar-benar lucu dan membuat Jungkook tersenyum lebar. Ada perasaan bahagia yang tidak bisa ia ukur ketika melihat rasa bahagia karena pemberiannya.
Hingga suara ponsel mengalihkan perhatian mereka berdua. Sesuatu bergetar dari dalam tas Jungkook dan Jungkook langsung mencari ponselnya. Di lihat layar ponselnya yang menyala lalu Jungkook segera mengangkat telepon itu dan sedikit memberi jarak di antara mereka. Sedangkan Taehyung hanya melihat sikap Jungkook yang tidak tahu kenapa terlihat aneh.
Setelah menerima telepon itu, Jungkook kembali duduk dan tersenyum kecil. "Ibuku akan kembali ke Seoul malam ini, jadi aku harus bersiap-siap"
"Kau akan pergi?"
"ya, masa liburanku juga tinggal sedikit lagi"
Ada perasaan sedih ketika mendengar bahwa Jungkook akan pergi. Itu berarti dia akan berpisah dan tidak bertemu dengan Jungkook dalam waktu yang cukup lama.
Jungkook mulai merapikan barang-barang yang ia bawa, meski hanya buku tapi jumlahnya cukup banyak dan membuat tasnya terisi penuh. Tidak lupa ia menghabiskan potongan ayam yang masih tersisa.
"Jangan lupa kabari aku setelah tiba disana" pinta Taehyung dan Jungkook langsung mengangguk.
"Kalau kau ikut tes masuk perguruan tinggi, jangan lupa kabari aku juga" dan permintaan Jungkook itu langsung di sahut dengan anggukan Taehyung.
Akhirnya mereka berpisah setelah Jungkook berpamitan dengan Taehyung, gadis itu pun pergi bersama mobil yang sudah menjemputnya.
Taehyung masih belum beranjak dari mejanya. Ia masih betah duduk di sebelah jendela sambil melihat bayang mobil merci hitam yang membawa Jungkook pergi. Bahkan kedatangan seseorang di hadapannya pun tidak di sadari Taehyung.
"kau menyukai gadis itu?"
Taehyung tersentak dan segera menoleh ke hadapannya, paman Kim atau Jongin ternyata sudah duduk di kursi tempat Jungkook duduk sebelumnya.
"paman mengagetkanku" Taehyung tertawa kecil mencoba mencairkan rasa gugupnya.
"aku tidak membentakmu, kenapa kau terkejut?"
Jongin sebelumnya sudah memanggilnya dan meminta ijin untuk duduk di kursi bekas Jungkook tadi. Tapi Taehyung masih betah menatap keluar jendela dan mengabaikan kedatangan Jongin seolah suara Jongin tidak Taehyung dengar.
Pemuda itu akhirnya hanya menggaruk tengkuknya karena merasa canggung.
"apakah dia kekasihmu?" tanya Jongin lagi.
Taehyung menggeleng pelan "bukan, dia... hanya teman, lagipula...dia kan orang kaya, kedua orang tuanya dokter dan keluarganya punya rumah sakit, mana mungkin kami berpacaran" jawab Taehyung sambil tersenyum. Tersenyum miris, itu yang Jongin lihat hingga membuat pria itu tertawa meledek.
"hey nak. Yang kaya itu orang tuanya, bukan dia. Kenapa kau merendah?"
"Tta-pi..."
"tuan Park muda, dengar" Jongin menarik kursinya lebih dekat dan menatap Taehyung lebih serius "ayahmu dulu seorang calon manajer, dan ayah kandungmu adalah kepala divisi di kepolisian. Lalu ibumu keduanya seorang entrepeneur"
"tapi itu mereka, bukan aku" Taehyung menyanggah tapi langsung di beri sebuah jentikan yang membuat Taehyung sedikit berkedip terkejut.
"Lalu kau bilang orang tuanya adalah dokter, ya! itu orang tuanya, bukan dia. Lalu apa yang salah? Kalian sama-sama pelajar" sahut Jongin kemudian lalu melipat kedua tangannya dan menatap Taehyung "seseorang bisa di katakan memiliki uang jika dia bisa menghasilkan uang sendiri, bukan dari orang tuanya. Dan kau jangan cepat merendah seperti itu, kau justru membandingkan orang tuamu dengan orang tuanya"
Mendengar itu Taehyung segera menggeleng cepat, tapi Jongin masih belum mempersilahkan dirinya berbicara.
"Jawab pertanyaanku, kau menyukainya? Hm?"
Taehyung menunduk, lalu mengangguk pelan kemudian.
"Apa yang ada dalam dirinya sehingga kau bisa menyukainya?"
Taehyung melirik ke samping kiri untuk mencari jawaban "dia...cantik"
"Cantik? Hanya itu? Istriku lebih cantik, dia pandai memasak, dia juga bisa merawat kedua anak kami sekaligus"
Anak muda itu menggeleng "tidak, maksudku dia memang cantik dan lucu, tapi jika aku berbicara dengannya, aku merasa kami memiliki pemikiran yang sama dan perasaan yang sama. Ketika kami berbicara dan bercerita aku selalu merasa banyak kesamaan meski dia sedikit lebih tenang dariku, dia...membuatku nyaman dan aku merasa...bahagia saat bersamanya"
"Jika kau menyatakan cintamu, lalu bagaimana ternyata dia juga menyukaimu?"
Mendengar pertanyaan itu langsung membuat pipi Taehyung memerah dan bibir itu tertarik hingga membuat senyuman. "aku..."
"Dan Bagaimana jika dia tidak menyukaimu atau membencimu?" Sambung Jongin cepat dan langsung membuat senyuman itu menghilang seketika.
Melihat hal tersebut lantas membuat Jongin hampir tertawa, ia tahu bahwa anak muda di depannya memang sedang merasakan masa pubertas terutama dalam soal cinta pada seseorang tepat di usia menjelang dewasa.
"jangan dengar apa yang aku katakan barusan. Dengar, jika dia membuatmu nyaman maka kau adalah lelaki yang beruntung, tapi bukan berarti kau saja yang di buatnya nyaman. Kita tidak tahu kan jika ada lelaki yang juga dekat dengannya?"
"Tap—"
"Jika kau merasa nyaman karena nya maka buatlah dia nyaman karena mu. Dan jika dia lah yang membuatmu jatuh cinta, perjuangkan cintanya. Caranya? Bukan dengan bunga atau perhiasan. Buatlah dia menjadi orang yang berada di belakang kesuksesanmu di masa yang akan datang dan buktikan bahwa dia begitu istimewa bagi dirimu. Tapi jika itu terlalu sulit, kau bisa menunjukkan dengan pengorbananmu"
Taehyung termenung setelah mendengar petuah dari Jongin. Sebenarnya Taehyung belum mengerti apa itu cinta meski usianya yang sudah cukup matang. Taehyung pernah tertarik pada seorang anak perempuan, tapi hanya sebatas rasa suka.
Tapi jika yang di rasakan saat ini adalah cinta mungkin terlalu jauh, karena Taehyung hanya merasa nyaman jika ia berbincang dengan Jungkook. Ya, Taehyung hanya merasa nyaman, tidak lebih. Akhirnya anak itu hanya mengangguk.
Sedangkan Jongin tersenyum menanggapi Taehyung yang seolah mengerti dengan apa yang di ucapkannya. Lalu akhirnya pria itu bangun dari kursinya, kemudian ia menepuk bahu Taehyung dan kembali tersenyum.
"Semangat!" Ucap Jongin lalu beranjak dari kursinya.
Taehyung membalas dengan senyum dan mengangguk walau sebenarnya ia tak paham betul. Namun kesimpulan yang ia dapat adalah jika kita mencintai seseorang maka kita harus rela berkorban. Itu saja yang Taehyung tangkap.
Lalu anak muda itu kembali menatap lukisan yang di buat Jungkook untuknya. Lagi-lagi Taehyung tidak dapat menahan senyum nya hanya karena melihat lukisan yang terlihat begitu nyata. Senyum ibunya yang begitu menenangkan dirinya di tambah Jiwon yang ikut tertawa membuat perasaan gemas muncul dan Taehyung ingin menggendong adik bungsunya itu.
Namun karena lukisan itu rasa rindu dengan ibunya semakin menjadi, ia pun berusaha untuk bisa berbincang dengan ibunya, tapi meski ia mencoba untuk berkomunikasi dengan ibunya melalui media sosial, tidak banyak respon yang di berikan ibunya meski hanya membalas sapaan Taehyung.
Wajah yang semula terpasang senyum lebar yang begitu manis berubah redup seakan senyuman itu hilang. Munculnya perasaan dan pikiran aneh tentang ibunya yang membuat senyum manis itu hilang sehingga keadaan di sekitarnya berubah suram.
Dan keadaan seperti itu terlihat oleh Kyungsoo yang berdiri dekat meja kasir. Wanita itu penasaran saat melihat wajah Taehyung yang murung sambil menatap ponselnya sehingga Kyungsoo berjalan dan mendekati Taehyung yang masih belum beranjak dari tempatnya padahal temannya sudah pergi lebih dulu.
"Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Taehyung?" tanya Kyungsoo begitu lembut namun terdengar oleh Taehyung sehingga anak itu mendongak dan melihat Kyungsoo berdiri tepat di sampingnya.
Taehyung hanya menyahut dengan tersenyum dan saja Kyungsoo tidak percaya begitu saja. Ingat, Kyungsoo juga pernah merawat Taehyung dan setidaknya ia masih mengerti dengan sikap Taehyung.
Lalu Kyungsoo mengambil duduk di depan Taehyung, tempat dimana Jungkook dan Jongin duduk sebelumnya.
"Bicaralah, tidak usah malu" titah Kyungsoo sambil tersenyum, tidak lupa ia mengelus lengan Taehyung. "ada yang membuat kau sedih? Siapa? Apakah anak perempuan yang tadi?"
Taehyung segera menggeleng "tidak, bukan"
"oh, bibi pikir dia sudah menolak cintamu jadi kau terlihat murung." gumam Kyungsoo yang tertawa kecil "jadi, ada apa. Ceritalah" titah Kyungsoo yang masih di selimuti rasa penasaran.
Taehyung menatap Kyungsoo yang duduk di depannya. Kyungsoo adalah wanita yang sangat baik padanya dan begitu dekat dengan ibunya. Mungkin jika bercerita dengan Kyungsoo adalah pilihan yang baik mengingat Kyungsoo pernah merawatnya dan juga menganggap Taehyung seperti anaknya sendiri.
"bibi...emmmm apakah bibi sangat kenal dengan ibuku?"
"kau bertanya itu pada sahabat ibumu nak, ada apa hm? Ceritakan"
"Emmmmm..." Taehyung masih berpikir karena rasa segan nya. Tapi ini adalah pertanyaan yang mudah. Kenapa Taehyung tampak ragu? Lalu akhirnya Taehyung menghirup nafas dalam-dalam "apakah ibuku, menyayangiku?"
Pertanyaan itu lantas membuat Kyungsoo menyernyit. Benar ini adalah pertanyaan mudah, tapi jawabannya memiliki makna yang begitu dalam. Lalu kenapa Taehyung bertanya seperti itu? Apakah terjadi sesuatu antara Baekhyun dan Taehyung tanpa sepengetahuannya?
"Bibi?"
Kyungsoo berkedip mendengar panggilan Taehyung. Lalu wanita itu tersenyum dan melipat kedua lengannya di atas meja.
"tidak ada ibu yang tidak mencintai buah hatinya." Jawab Kyungsoo.
Namun pertanyaan itu tidak membuat Taehyung merasa puas. Ia juga tahu bagaimana besarnya cinta orang tua pada anaknya. Tapi Taehyung hanya ingin tahu apakah ibunya mencintai dan menyayangi dirinya?
"Aku tahu bi, tapi..."
"Tapi,,,?" Kyungsoo mengucap ulang.
"aku merasa...aku merasa ibu menjauhiku, apakah ibu marah padaku?"
Kyungsoo menarik nafas dalam dan menegakkan tubuhnya "kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Apa karena kau merasa di abaikan ibumu?" tanya Kyungsoo dan di sahut dengan Taehyung yang mengangguk pelan "Taehyung, pertanyaanmu sebenarnya sedikit menyinggungku kau tahu?"
Mendengar itu Taehyung langsung merasa bersalah, ia hendak meminta maaf namun di sela lebih cepat oleh Kyungsoo sendiri.
"Chanyeol sudah pergi dan meninggalkan ketiga adikmu, adikmu semua masih kecil dan harus melewati kehidupan yang panjang. Bukan berarti ibumu hanya mementingkan adik-adikmu, tidak seperti itu. Kau masih memiliki ayahmu jadi Baekhyun meminta tolong pada ayahmu untuk melanjutkan mimpimu, tapi dia tidak mungkin bisa seenaknya menitipkan ketiga adikmu juga. Karena itu dia harus bertanggung jawab dengan kehidupannya dan kehidupan adik-adikmu selanjutnya. Aku harap kau mengerti rasanya menjadi wanita karir dan juga single parent" terang Kyungsoo dengan wajah serius membuat Taehyung tidak berani mengelak.
Kyungsoo memang memiliki hati dan senyuman yang sangat lembut sehingga membuat orang yang melihat akan merasa nyaman, tapi tidak dengan sorot mata yang tajam saat ia sedang serius merubah pandangan seseorang menjadi segan.
"biar aku ceritakan sedikit padamu" lalu Kyungsoo menarik kursinya agar lebih dekat dengan meja dan juga jarak antar keduanya "kalau tidak salah, aku pernah bercerita padamu kalau aku pernah merawatmu kan?"
Taehyung mengangguk, ia masih ingat dengan cerita Kyungsoo ketika masih awal bekerja di kedai ini.
"Kami berdua sekolah cukup jauh terutama ibumu, dia tinggal di asrama sedangkan aku tinggal di rumah. Ibumu tidak melanjutkan sekolahnya dan memilih tinggal di rumahku sampai kau lahir. Setelah kau lahir dan setelah usiamu lebih 7 bulan, ibumu melanjutkan sekolahnya satu tahun dan selama ibumu sekolah, aku mengasuhmu sampai kau berusia hampir 2 tahun. Tepat saat ibumu selesai lulus sekolah.
"Sewaktu kecil kau sangat pemalu dan takut dekat dengan orang baru. Bahkan kau menolak untuk bertemu dengan ibumu waktu itu karena kau tidak mengingat wajahnya, aku ingat waktu ibumu menangis karena kau menangis ketika dia mendekati mu. Dan aku akan merasa bersalah jika memisahkan kalian berdua, jadi aku mencoba perlahan-lahan membantu ibumu menjaga mu saat itu agar kau terbiasa, dan itu pun waktunya tidak sebentar, hampir setengah tahun kau bisa memanggil ibumu dengan panggilan 'ibu'. Barulah setelah kalian dekat , aku pergi ke kota besar untuk mencari pekerjaan. Walau sebenarnya aku sangat sangat saaaangat merindukan ocehanmu waktu itu, aku berusaha menjaga jarak agar kau tidak menganggapku ibu, karena aku nanti sulit mencari jodoh karena orang akan menganggapku aku sudah beranak"
Taehyung tertawa renyah mendengarnya. Di lain itu juga ia merasakan perasaan sejuk dalam hatinya begitu mendengar cerita dari Kyungsoo semasa ia kecil dulu. Taehyung tidak tahu bahwa ibunya pernah menangis karena dia tidak ingin dekat dengan ibunya sendiri. Bukankah dia berarti anak durhaka? Untung saja tidak terjadi sampai saat ini.
"Jadi...hilanglah pikiran burukmu tentang ibumu. Tidak ada ibu yang membenci anaknya sendiri. Dia sangat sangat saaaangaaat Menyayangimu mungkin cara yang dia lakukan sangat berbeda"
.
...
.
Malam tiba dan Taehyung sudah berada di rumah ayahnya. Ia pun menghabiskan waktu malamnya di dalam kamar dengan mencoba belajar bahasa asing sendiri karena ia memiliki keinginan untuk meniti karir di luar negeri atau kalau tidak di perusahaan asing. Seperti yang di katakan paman Kim tadi sore.
Selain itu juga banyak buku tentang ilmu teknologi milik mendiang ayah tirinya. Berawal dari dia yang belum memiliki ponsel hingga kelas 3 SMA sehingga di sela waktu ia mencari informasi soal ponsel, di tambah ketertarikannya dengan dunia IT seperti pekerjaan yang di geluti Chanyeol semasa bekerja membuat Taehyung penasaran dengan informasi apapun salah satunya software.
Namun untuk saat ini Taehyung tidak memfokuskan akan jadi apa ia jika dewasa seperti kerabatnya yang lain yang sudah bersiap diri untuk mengawali langkah menggapai impiannya. Saat ini dia hanya ingin mencoba agar suatu saat nanti apa yang ia lakukan sangat di butuhkan orang lain.
Selama membaca buku milik ayahnya, sesekali Taehyung melihat lukisan ibu dan adiknya yang di buat oleh Jungkook. Setiap menatap lukisan itu selalu muncul sebuah senyuman dari bibir Taehyung. Sesekali juga Taehyung mengusap lukisan wajah ibu dan kepala Jiwon dengan ibu jarinya. Rasa rindu pada mereka pun datang.
Taehyung bangkit dari tempat tidurnya, di ambil dompet yang berada di dalam saku celana yang di gantung di balik pintu dan sebuah celengan yang di simpan di bawah tempat tidur. Dia mencoba membuka dan menghitung uang yang di simpan. Kemungkinan cukup untuk satu bulan.
.
we love you , hyung...
.
"Ibu, bolehkah aku pulang?"
Youngjae yang sedang sibuk mencuci piring langsung menoleh "pulang kemana? Kau pikir kau sedang berada dimana?" tanyanya lalu melanjutkan kegiatannya.
"Bukan, maksudku... aku rindu adik-adikku dan ibuku, bolehkah aku bertemu mereka?"
Youngjae terdiam sejenak. Menatap piring berbusa di tangannya dengan tatapan kosong, lalu melirik ke belakang tanpa menoleh.
"Tidak lama bu, mungkin sekitar satu bulan. Bolehkan? Hanya sebentar, aku akan segera kembali setelah dapat pengumuman tes masuk universitas" sambungnya.
"Bukankah sebulan terlalu lama?" tanya Youngjae kembali lagi pada kegiatannya. Kali ini untuk menghilangkan perasaan gugupnya.
"aku juga terlalu lama meninggalkan mereka bu...aku hanya rindu pada ibuku..." suara Taehyung terdengar merendah.
Youngjae tahu bahwa Taehyung sangat merindukan keluarganya disana. Ia tentu tidak bisa melarangnya. Hanya saja dia juga tidak bisa langsung memperbolehkannya mengingat dengan pesan yang Baekhyun berikan.
Flashback
"Bisa kah kau membawa Taehyung?"
Duka yang mendalam akibat sepeninggal suaminya membuat kondisi Baekhyun menurun drastis. Termasuk kesehatannya. Sudah beberapa hari ini ia berbaring di atas ranjang karena tubuh lemahnya yang di akibatkan oleh sedikitnya asupan makanan dan minuman yang masuk ke tubuhnya.
Youngjae yang duduk di samping ranjang Baekhyun menatap heran "kenapa?"
"Dia sudah besar. Aku...takut tidak bisa merawatnya" jawab Baekhyun seadanya. Dia, siapa lagi jika bukan Taehyung yang sedang Baekhyun bicarakan.
Namun Youngjae tidak merasa puas dan sedikit tidak mempercayainya. Setahu Youngjae, Taehyung sangat menyayangi ibunya. Hilangnya Taehyung beberapa pekan yang lalu juga di karenakan munculnya tekanan pada pikiran yang membuat Taehyung hampir stres karena mengira Baekhyun membencinya. Bagaimana jika nanti Taehyung berpikiran seperti itu lagi?
"Aku tidak bisa, maaf" sahut Youngjae "dia sangat menyayangimu, Baek. Aku tidak mau menjadi orang jahat karena memisahkan ibu dan anaknya" jelasnya.
Dan tak lama air mata itu lolos dari mata sayu Baekhyun. Wanita itu menutup wajahnya dengan satu tangan dan merintih dalam diam.
Sedangkan Youngjae tidak bisa berbuat banyak. Ia benar-benar tidak berani untuk memisahkan Taehyung yang begitu menyayangi ibu dan juga adik-adiknya. Wanita itu hanya menatap nanar sosok wanita yang berbaring lemah di hadapannya.
"Aku...aku takut membencinya. Aku takut...aku melukainya"
"Tidak ada orang tua yang membenci darah dagingnya sendiri" sanggah Youngjae cepat. Ia mengerti apa yang di rasakan Baekhyun sekarang.
"Tapi aku merasakannya, sekarang" lalu Baekhyun meraih tangan Youngjae dan menggenggam nya erat "ku mohon, lindungi dia dariku, aku tidak mau membencinya, aku tidak mau melukainya lagi"
Youngjae tidak dapat menjawab, tidak bisa menolak dan tidak dapat mengiyakan. Tapi Youngjae tahu apa yang kini sedang di rasakan Baekhyun. Baekhyun merasa psikisnya kini benar-benar buruk dan ia tidak mau hal itu terlampiaskan pada orang lain, termasuk putranya.
Kecelakaan yang merenggut nyawa Chanyeol terjadi karena saat itu Chanyeol sedang menjemput Taehyung. Tentu saja masalah ini tidak jauh dari Taehyung. Banyak hal yang bisa mempengaruhi pikiran Baekhyun yang sedang berada di dalam tekanan dan Baekhyun sudah merasakannya. Ia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada putranya karena perbuatannya lagi.
Akhirnya Youngjae menarik nafas dan melepaskannya, ia mengangguk pasrah. Mungkin memberikan jarak dan waktu tenang untuk Baekhyun adalah pilihan yang baik.
Flashback end.
"Nanti ibu katakan pada ayah, biar ayah nanti yang mengantarmu"
Mendengar itu Taehyung langsung bangkit dan memeluk Youngjae dari belakang, begitu erat. Semua persepsi yang mengatakan bahwa ibu tiri tidak pernah baik yang pernah terbesit dalam pikirannya telah hilang. Bagi Taehyung tidak ada orang yang jahat, selama ia menyayangi orang itu tanpa pamrih.
"Aku menyayangi ibu"
Youngjae tersenyum "ibu juga Menyayangimu"
.
...
.
Hari ini semua beraktivitas seperti biasa. Bambam sekolah sampai petang karena harus mengikuti les yang di sediakan di sekolahnya. Daehyun memberitahu akan pulang lebih larut karena ada beberapa kasus yang belum di tangani. Sedangkan Taehyung setelah kelulusan dia mengatakan akan menghabiskan waktu beberapa hari untuk menginap di rumah Kyungsoo sambil membantu bekerja di kedai.
Youngjae ingat dengan ucapan Taehyung yang mengatakan ingin kembali ke rumah ibunya semalam. Youngjae tidak bisa mempersilahkannya begitu saja. Youngjae juga tidak langsung bertanya pada Daehyun.
Sekedar informasi, Youngjae tidak memberitahu Daehyun mengenai pesan dari Baekhyun soal Taehyung jadi Daehyun juga tidak tahu apa yang terjadi. Youngjae takut jika Daehyun tahu maka Daehyun akan marah. Jadi Youngjae pun lebih memilih untuk memendamnya sendiri tanpa bercerita kepada siapapun.
Youngjae melihat layar ponselnya yang menunjukkan sebuah nomor ponsel disana. Wanita itu menatap ragu, sesekali ia ingin menyentuh tombol panggilan namun ia urungkan. Itu adalah nomor ponsel Baekhyun yang sudah di tatap lebih dari setengah jam.
Masih ragu, Youngjae meletakkan ponselnya dan memijit kepalanya sebentar, memikirkan kata-kata yang pas agar Baekhyun mau menerima permintaan putranya. Sangat lucu jika youngjae tidak memperbolehkan Taehyung pulang karena ibunya tidak ingin bertemu dengannya bukan?
Akhirnya setelah merasa yakin dengan kata-kata yang ia pilih, Youngjae mengambil ponselnya kembali lalu menghubungi Baekhyun.
Panggilan pertama terhubung, sudah beberapa kali terdengar suara dering namun tidak ada suara jawaban dari ujung sana. Youngjae membatalkan panggilan itu dan mengulangnya kembali. Ketika dering ke tujuh barulah panggilan itu di jawab.
"Baekhyun? Hai.."
"Ya? Ada apa?" sahut seseorang disana. Dari suaranya terdengar sedang mengerjakan sesuatu. Mungkin Baekhyun sedang sibuk.
"Bagaimana dengan kondisimu?"
"Aku? Baik-baik saja. Kau?"
Youngjae tersenyum namun tangannya masih sedikit tegang "aku? Baik. Emmmm...Baekhyun, maaf sebelumnya karena mendadak menghubungimu, ada yang ini aku bicarakan"
"Ya, katakan saja"
"Taehyung ingin pulang ke rumahmu" ucap Youngjae tanpa berbasa-basi.
Namun setelah itu tidak terdengar sahutan darisana, tapi saluran teleponnya masih tersambung.
"Hallo? Baekhyun?" panggil Youngjae lagi.
"Ah iya, maaf, aku sedang membuat kue jadi aku tidak bisa fokus. Tadi kau bilang apa? Taehyung ingin pulang? Pulanglah"
Mata Youngjae terbuka lebar, apakah ia salah dengar?
"Bagaimana?" tanya Youngjae lagi, ia masih belum percaya.
"Ya, katakan pulanglah kesini" Baekhyun mengucap ulang kalimatnya.
Ada perasaan lega dalam hati Youngjae, ini tidak seperti yang ia kira. Segala ekspektasi tentang apa yang akan di jawab Baekhyun dan mengira wanita itu akan menolak kepulangan putranya langsung hilang dalam sekejap.
Youngjae tersenyum kemudian ia mengangguk "baiklah, aku akan katakan pada Taehyung"
.
We love you, hyung...
.
Taehyung tidak dapat menahan senyum bahagianya saat berjalan melewati deretan rumah di pinggirnya . Hal itu di karenakan dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ibu dan adik-adiknya. Walaupun ayah atau ibu tirinya tidak dapat mengantarnya, itu tidak masalah. Taehyung masih ingat jalan pulang menuju rumahnya.
Setelah berjalan dari halte bus, akhirnya dia tiba pada sebuah pintu gerbang rumah yang ukurannya lebih besar dari gerbang rumah yang lain. Ia mencoba membukakan pintu gerbangnya lalu masuk ke dalamnya. Disana pemandangan rumahnya tidak berubah, masih sama seperti saat ia terakhir pamit untuk tinggal bersama ayahnya.
Taehyung kembali berjalan ke dalam menuju pintu masuk rumah. Ia menekan bell rumahnya sekali. Bisa saja ia membukanya sendiri, tapi sejak awal ia ingin memberi kejutan pada adik-adiknya.
Perasaan gugup itu kembali muncul. Jantungnya pun berdebar lebih cepat tidak ingin kalah. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan orang yang di sayang.
Lalu terdengar suara pintu terbuka. Taehyung melirik pada seseorang yang membukakan pintu untuknya. Lalu tampak seorang anak dengan tinggi kurang setengah dari tubuh Taehyung muncul dari balik pintu.
"Hyung!" Jesper, yang sudah lama merindukan kakaknya tidak bisa menahan diri atas kejutan yang di terima.
Anak itu langsung berhambur dan memeluk kakaknya menumpahkan segala emosi kerinduan yang terus memenuhi hatinya.
Taehyung pun tak kalah membalas pelukan itu dengan erat. Ia tidak bisa berbohong bahwa dia sangat merindukan adiknya. Meski tubuh adiknya sudah tidak bisa di katakan kecil, Taehyung mampu mengangkat tubuh adiknya dan memanjakannya layaknya koala.
"Kenapa lama sekali..." gumam Jesper dari balik bahu Taehyung yang kekar.
Taehyung tertawa kecil lalu mengelus kepala adiknya dengan sayang "maaf, hyung harus banyak belajar karena hyung harus lulus ujian"
Jesper mengangkat wajahnya dan menatap kakaknya "tapi sekarang hyung sudah lulus kan?" tanyanya lalu di balas dengan sebuah anggukan hingga membuat anak itu kegirangan.
Jesper langsung turun dari gendongan Taehyung, lalu dia menarik tangan hyungnya hingga sampai ke sebuah ruangan dimana adiknya yang lain berada.
Tidak perlu di bayangkan seberapa ramainya kedua adiknya menyambut kedatangannya. Jackson yang sudah mulai tumbuh semakin lincah tak sungkan menaiki dan mengantung di punggung kakaknya itu. Tidak hanya mereka, bahkan Jiwon yang sudah menginjak usia 13 bulan berjalan perlahan dengan kaki kecilnya mendekati kakak-kakaknya yang sedang berkumpul.
Taehyung tersenyum sumringah begitu melihat adik bungsu yang terakhir ia lihat baru bisa duduk dan merangkak kini sudah bisa berjalan meski sedikit tertatih.
Dia sedikit berlutut masih dengan kedua adiknya yang bergelayut manja di tubuhnya, lalu Taehyung membentangkan kedua tangannya menunggu untuk menyambut kedatangan Jiwon yang susah-susah berjalan ke arahnya.
Lalu akhirnya Jiwon sampai di hadapannya dan Taehyung langsung memeluk dan menggendongn adik kecilnya begitu erat.
"Kau masih mengenaliku, Jiwon" Taehyung mengecup pipi adik kecilnya itu berkali-kali karena rasa gemasnya.
"Aku selalu menceritakan hyung pada Jiwon, jadi Jiwon selalu ingat dengan Hyung juga" seru Jackson dengan semangatnya.
Taehyung tersenyum lebar mendengar hal itu. Lalu ia mencoba melepaskan pelukan adik-adiknya hingga ketiga adiknya kini berada di depannya dan Taehyung langsung memeluk mereka sekaligus begitu erat hingga membuat mereka tertawa meski sejujurnya mereka hampir kehilangan nafas karena kakaknya begitu erat saat memeluk.
Hingga kemunculan seseorang di hadapan mereka membuat ruangan yang sebelumnya terdengar riuh menjadi hening seketika. Karena suara bising dari mereka lah seseorang keluar dari kamarnya.
Anak laki-laki itu terdiam kecuali Jiwon yang masih mengoceh memanggil Taehyung. Sedangkan Taehyung terdiam menatap seseorang yang berdiri disana menghadap mereka. Lalu pemuda itu bangkit dan merapikan pakaiannya.
Dengan perlahan pemuda itu berjalan ke arahnya seraya menampilkan senyuman manisnya saat menatap lurus ke depan. Setelah jarak sudah mulai dekat, Taehyung langsung memeluknya begitu erat.
"Ibu, aku rindu ibu"
Taehyung menenggelamkan wajahnya pada rambut panjang yang terurai dengan aroma khas yang tidak pernah Taehyung lupakan. Ia begitu merindukan sosok yang selalu ada di dalam hatinya. Mungkin bagi orang lain hal tersebut terlalu berlebihan, tapi tidak dengan dirinya. Karena ibunya begitu istimewa bagi Taehyung.
Sampai ia merasakan sebuah sentuhan di punggung kekarnya dan mengusap punggungnya begitu lembut.
"Pasti sangat lelah, kan?" Baekhyun melepaskan pelukan putranya "makan lah, sudah ku siapkan, ayo"
Lalu Baekhyun mengajak putra-putranya ke ruang makan. Semenjak Taehyung tinggal bersama ayahnya, banyak letak barang-barang yang sedikit di ubah jadi Taehyung merasa agak aneh ketika melihat rumahnya sendiri.
Di meja makan sudah tersedia makanan yang sengaja Baekhyun hidangkan dan aroma makanan yang menyebar ke seluruh ruang makan membuat Jesper dan Jackson langsung duduk manis di atas kursi. Baekhyun menyiapkan makanan lain yang juga sudah di sediakan. Sedangkan Taehyung membantu Jiwon untuk duduk di kursinya.
Baekhyun menyiapkan makanan untuk putra-putranya. Meletakkan nasi dan lauk dengan porsi yang sama di hadapan mereka, kecuali Jiwon yang di sediakan nasi tim dengan sayur dan daging yang di potong dalam ukuran yang kecil.
Setelah merasa semua komplit, Taehyung kembali berdiri lalu menarik mundur kursi untuk ibunya membiarkan ibunya duduk lebih dulu.
Baekhyun tersenyum kecil menerima perlakuan itu, lalu setelah ia duduk barulah Taehyung menyusul kemudian.
Banyak percakapan yang terjadi di ruang makan, kedua adiknya terus bercerita pengalaman mereka selama hyungnya tidak ada. Baik di rumah dan di sekolah, mereka tidak habis untuk memberikan sederet laporan pada Taehyung.
Taehyung hanya menyimak dengan wajah antusias. Walau sebenarnya ia tidak paham betul tentang apa yang di ceritakan adik-adiknya padanya setidaknya mendengarkan mereka bercerita sudah cukup membuat adiknya bahagia.
Baekhyun hanya melihat kelakuan putra-putranya bagaimana putra sulungnya mendengarkan betul cerita adik-adiknya yang tidak henti berbicara. Jesper dan Jackson sangat antusias menceritakan pengalaman mereka yang tidak di ceritakan padanya. Wanita itu lebih memilih diam tanpa terlalu menanggapi dan membiarkan kehebohan terjadi di meja makan.
.
...
.
Ketika malam datang, Baekhyun sibuk di dapur untuk mengolah bahan adonan yang akan di jadikan kue sesuai permintaan pelanggannya. Kebetulan Jiwon dan Jesper sudah terlelap sedangkan Jackson ikut Taehyung untuk membeli sesuatu.
Baekhyun tidak melarang, selama Jackson memakai pakaian hangat dan dalam kondisi yang cukup baik. Untuk Taehyung, Baekhyun tidak begitu mengkhawatirkannya karena Baekhyun merasa Taehyung sudah besar. Dia bisa menjaga dirinya sendiri tanpa harus di beritahu.
Lalu tak lama terdengar suara pintu terbuka dan suara seorang anak kecil terdengar meski Baekhyun berada di dapur. Kemudian suara anak kecil itu semakin jelas dan ternyata Jackson datang sudah berada tepat di belakangnya.
"Ibu lihat aku bawa apa?" Jackson menunjukkan sebuah tas dengan gambar makanan di tengahnya.
Baekhyun langsung berjongkok menyamakan tingginya dengan Jackson lalu tersenyum lebar "wuaahhh apa ini? Kue? Untuk ibu?"
Jackson mengangguk "iya, yang satu untuk Jesper hyung, dan yang satu untuk Jiwon"
Baekhyun tersenyum dan mencium gemas pipi Jackson. Ia bangga karena di usia sekecil Jackson sudah menunjukkan rasa kepedulian untuk saudaranya. Lalu Baekhyun menerima kue itu dan menyimpannya di atas meja.
"Baiklah, kuenya ibu simpan untuk besok pagi. Sekarang Jackson ganti baju, cuci wajah, tangan dan kakimu, jangan lupa gosok gigi, lalu Jackson tidur karena besok harus sekolah. Okay?"
Jackson mengangguk lagi "siap kapten!"
Kemudian anak kecil itu berlari kecil menuju kamarnya sedangkan Baekhyun hanya tersenyum melihat kelakuan putra kecilnya sampai sosoknya hilang terhalang tembok. Lalu wanita itu kembali fokus pada pekerjaannya yang sempat tertunda.
"ibu"
Suara lain terdengar, Baekhyun baru menyadari masih ada putranya yang lain yang berada di dekatnya. Baekhyun lalu menoleh sebentar dan kembali fokus pada pekerjaannya.
"Kau tidak tidur?" tanyanya sambil mencampurkan marsmello leleh dengan permen yang di buat bubuk.
"apa masih banyak pekerjaan ibu? Perlu aku bantu?"
"Tidak. Kau tidurlah. Ini tidak lama. Mungkin jam 10 malam baru selesai" jawab Baekhyun seadanya.
"benarkah?" tanya Taehyung lagi mencoba memastikan.
"Ya"
Sahutan singkat itu langsung di tanggap cepat oleh Taehyung. Mungkin ibunya sangat sibuk dan dirinya tidak bisa banyak membantu mengingat Taehyung hanya memiliki skill yang sangat minim mengenai masak memasak.
Akhirnya ia pun mengikuti ke arah Jackson pergi untuk menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
.
We, Love you, hyung...
.
Tidak terasa Taehyung sudah menginap di rumah ibu kandungnya selama hampir tiga minggu. Selama itu pula tidak banyak aktifitas yang di lakukan Taehyung di rumah ibunya selain mengasuh adik-adiknya selama ibunya bekerja untuk membuat pesanan. Seperti mengantar dan menjemput adiknya, mengajari Jesper dan Jackson mengerjakan PR atau mengasuh Jiwon jika sedang rewel karena ibunya terlalu sibuk.
Tidak ada yang aneh atau yang baru, kegiatan ini sering dilakukan Taehyung saat Chanyeol masih ada jadi Taehyung sendiri tidak merasa kewalahan. Termasuk juga dengan komunikasi antara ia dan ibunya, Baekhyun.
Tidak banyak pembicaraan panjang yang terjadi selama keduanya berada dalam satu atap. Padahal dari cerita yang ia dengar saat ia tidak kembali ke rumah, Baekhyun sebagai ibu yang hampir kehilangan anaknya mengalami depresi berat dan berharap Taehyung segera kembali. Tapi setelah putranya kembali ke rumah, sikap Baekhyun justru seperti saat sebelumnya. Tidak banyak bicara.
Namun meski begitu Taehyung berusaha berpikir jernih. Tidak hanya ia saja yang 'sedikit' di abaikan. Ketiga adiknya juga sama. Ini karena kegiatan yang dilakukan Baekhyun demi menghidupi putra-putranya setelah suaminya pergi untuk selama-lamanya. Siapa yang akan menghidupi anak-anaknya selain dirinya?
Dan Taehyung pun hanya bisa membantu apa yang dapat ia lakukan. Seperti yang ia lakukan saat ini.
Dengan sepeda yang di berikan oleh ayah kandungnya, Taehyung bersama Jackson pergi untuk mengantar kue pesanan yang di buatkan oleh ibunya menuju tempat para pelanggan.
Sepeda yang di gunakan pun sengaja Taehyung modifikasi di bagian belakang agar bisa menyimpan barang cukup banyak dan juga kursi buatan di bagian depan untuk Jackson. Bersyukur Jackson bukan adik yang rewel karena harus mengikuti perjalanan dan menghabiskan waktu di luar rumah untuk menemani kakaknya. Justru adanya Jackson juga bisa menarik perhatian pelanggan kue ibunya karena paras Jackson yang menggemaskan dan tampan turunan dari mendiang ayahnya.
Waktu sudah menunjukkan jam 6 sore dan langit juga sudah menunjukkan senjanya. Kue-kue pesanan sudah di antar ke tempatnya dan kedua adik kakak itu sedang menikmati pergantian waktu dengan melihat mata hari terbenam dengan potongan roti isi di tangan mereka masing-masing.
"Apa nanti hyung kembali ke rumah paman Daehyun?" tanya Jackson di sela waktu menikmati kue tradisional yang di belikan dengan uang Taehyung sendiri.
"ya, hyung kembali ke rumah paman Daehyun setelah dapat kabar hyung lulus seleksi"
"apa Jackie boleh ikut tinggal disana?"
Taehyung menoleh dan melihat adiknya yang sudah lebih dulu menatapnya "kenapa? Nanti siapa yang menemani Jesper hyung dan Jiwon?"
"karena Jackie ingin bersama hyung" sahut anak kecil itu dengan suara pelan. Lalu ia kembali menatap semburat langit jingga yang perlahan memudar dan membuat langit menjadi gelap.
Taehyung tidak langsung menyahut, ia menatap wajah adiknya dari samping, melihat pipi berisi itu bergerak karena Jackson sedang mengunyah makanannya.
Jackson memang dekat dengan Taehyung, selain itu Jackson juga paling dekat dengan ayahnya. Setelah mengetahui ayahnya tidak akan kembali, maka Jackson hanya bisa bermanja dengan kakak tertuanya karena ibunya lebih mengurus Jiwon dan pekerjaannya saat ini.
"Kalau Jiwon sudah lancar berjalan, pandai bicara dan umurnya sudah lebih dari 3 tahun, Jackson boleh ikut hyung kemana saja"
"Itu terlalu lama"
"Daripada tidak sama sekali"
"Hyung tidak asik"
Taehyung hanya terkekeh mendengar jawaban Jackson yang seakan mulai kesal. Lalu ia hanya menarik bahu Jackson dari samping untuk menyender ke tubuhnya dan mengusap rambut lembut adiknya itu.
Dan dalam sekejap langit pun mulai gelap. Lampu-lampu kota sudah menyala menyinari jalanan di malam hari. Taehyung dan Jackson segera berbenah karena mereka tidak boleh terlalu lama di luar atau ibu akan mengkhawatirkan mereka.
Setelah keduanya sudah di posisi tempat duduk yang pas, Taehyung segera melajukan sepedanya dari tempat tersebut. Sesekali ia menutupi kepala Jackson dengan tudung jaketnya yang di pakai adiknya yang sesekali terbuka karena terhempas angin malam.
Di sebuah persimpangan jalan mereka berhenti sejenak karena lampu merah menyala. Jackson asik melihat mobil-mobil itu melaju di depannya, sedangkan Taehyung memilih fokus pada lampu lalu lintas menunggu lampu hijau menyala.
Namun perhatian pada lampu merah di atasnya teralih kan ketika ia melihat seseorang yang sedang berdiri di depan sebuah toko kue dan membuat Taehyung tanpa sadar tersenyum lembut.
Dia berdiri dengan mengenakan gaun putih dengan panjang hingga lutut, rambut hitamnya di biarkan terurai dan membiarkan angin malam menghembus menggerakkan ujung rambutnya. Mata bulat dan bibir tipis merah ranum itu selalu menyapa orang-orang yang lewat di hadapannya dan membuat senyum pada bibir Taehyung terus mengembang.
Namun senyum Taehyung perlahan memudar ketika Kemudian seorang wanita datang menghampirinya dan merangkul gadis tersebut, wanita yang Taehyung kenal sebagai dokter anak di kotanya, lalu mereka berjalan mendekati sebuah mobil hitam mewah yang terparkir disana. Taehyung terus memandang hingga sosok keduanya pergi bersama mobil mewah tersebut.
Sungguh perbedaan yang cukup kontras, ia yang berkeliling kota dengan sepeda menatap seorang gadis yang duduk manis di dalam sebuah mobil mewah.
Sampai sebuah cubitan keras pada tangannya menyadarkan Taehyung ke dunia nyata, Taehyung melihat tangannya yang memerah karena Jackson mencubit nya sangat keras.
"Hyung, sebentar lagi lampu merahnya menyala!" Ucap Jackson dengan suara meninggi.
Taehyung menoleh ke arah lampu lalu lintas, lampu hijau sudah menyala dan sebagian pengendara yang satu arah dengannya sudah kosong, Taehyung langsung menekan pedal sepedanya dan segera bergegas sebelum ia harus kembali menunggu karena lampu merah akan menyala kurang dari 5 detik.
"Maafkan hyung, Jackson. Hyung tadi kurang enak badan" ucap Taehyung di tengah perjalanan. Sesekali ia mengelus kepala adiknya.
"Ya" sahut Jackson singkat. Anak kecil itu masih kesal karena kakaknya mengabaikannya di persimpangan tadi.
Taehyung hanya tersenyum maklum. Ia mengerti adiknya sedikit merajuk, tapi mungkin tidak akan lama jika Taehyung memberikan cokelat setibanya di rumah.
.
...
.
Keesokan harinya seseorang mengetuk pintu dari luar, suara ketukan itu terdengar hingga ke ruang keluarga membuat Baekhyun yang sedang membungkus kue-kue kering bersama Jesper disana membuat perhatiannya teralih.
Baekhyun beranjak dan segera menuju ke pintu masuk. Wajahnya berbinar ketika mengetahui siapa yang berkunjung ke rumahnya.
"My Puppy!" Sapa seorang wanita dengan membentangkan satu tangannya, karena satunya sedang menggendong anak bungsunya.
"My Penguin!" Baekhyun langsung menyambut memeluk tamunya erat.
Sedangkan seorang pria di belakang hanya menatap wanita-wanita di depannya dengan pandangan heran "puppy? Penguin?"
"Ayo masuk, udara luar sedang dingin" Baekhyun memberi akses kepada keluarga sahabatnya untuk masuk ke dalam. Lalu segera menutup pintu ketika butiran salju hendak masuk ke dalam rumahnya.
"Aku tidak menyangka kalian datang ke rumahku saat salju sedang turun. Apakah selama perjalanan kalian tidak mengalami masalah?"
"Tidak. Jongin menyetir seperti kura-kura, seharusnya kami tiba sejam yang lalu. Lihat" wanita itu, Kyungsoo, segera menunjukkan sebuah bungkusan "masakanku dingin di jalan"
Sedangkan Jongin hanya menatap malas istrinya. Kenyataannya selama di perjalanan Kyungsoo terus mengeluh karena merasa Jongin melajukan mobilnya cukup kencang di saat jalanan licin sedangkan Jongin merasa ia mengendarai dengan kecepatan normal jika jalanan di tutupi salju. Dan siapa pula yang mengajak keluar di saat salju sedang turun selain istrinya? Jongin tidak bisa mengelak, ia ingat hukum dunia bahwa wanita selalu benar.
Baekhyun hanya tertawa kecil, ia membereskan bantal yang berada di sofa dan mempersilakan tamu istimewanya untuk duduk.
"Biar aku hangatkan makanannya. Dan kalian mau minum apa?"
"Biar aku bantu" Kyungsoo hendak berdiri namun Baekhyun segera mencegah.
"Tidak, kalian adalah tamu, tidak sopan jika tamu yang menyediakan makanan"
Kyungsoo langsung memegang kedua bahu Baekhyun, dan menghadapkan ke arahnya "sedetik yang lalu aku adalah tamu, tapi sekarang aku adalah saudaramu. Ayo" ucapnya dengan intonasi pelan namun sarat akan penekanan.
Kyungsoo memang lebih muda dari Baekhyun, tapi ingat Baekhyun tidak bisa mengelak perintah Kyungsoo.
Akhirnya kedua wanita itu beranjak ke dapur bersama, sedangkan Jongin masih sibuk membuka pakaian kedua putra putrinya.
...
"Apakah ini kue buatanmu? Rasanya enak" tanya Kyungsoo yang mengambil salah satu kue yang baru saja di keluarkan dari oven.
Baekhyun yang melihat itu menatap protes "Kenapa mengambil kue yang disitu? Aku tidak menanggung jika lidahmu terbakar"
"Kau bicara seperti itu pada seorang penjual masakan yang menjual makanannya dan mencicipinya saat masih panas-panas" balas Kyungsoo kembali mengambil kue di atas loyang.
"Aku mau pesan 3 toples. Aku akan mengambilnya hari minggu besok" sambung Kyungsoo setelah puas mencicipi kue kering itu.
"Singkat sekali. Tapi untuk saudaraku, baiklah"
Dan Kyungsoo pun tersenyum bangga.
Lalu tak lama seseorang muncul dari balik tembok yang menyambungkan dengan tangga yang menuju lantai 2. Kyungsoo tidak dapat menahan emosinya ketika orang itu balik menatapnya.
"Anakku..." Kyungsoo langsung berjalan cepat menghampiri dan memeluk erat remaja lelaki yang sekarang semakin tinggi darinya, Kyungsoo tidak menyadari itu padahal mereka terakhir bertemu kurang dari sebulan yang lalu.
Ya siapa lagi jika itu bukan Taehyung, Kyungsoo sudah menganggap Taehyung seperti putranya sendiri.
Baekhyun yang melihat itu hanya menatap datar tanpa ekspresi. Ia kembali fokus melakukan tugasnya untuk membuat kopi dan cokelat hangat.
"Bibi datang kesini sendiri?"
"Tidak, ada paman Jongin, Taeoh dan Jisoo. Bibi pikir kau sedang sakit, kau tidak datang ke kedai jadi kemarin bibi ke rumah ayahmu dan Youngjae bilang kau ada disini"
Taehyung menggeleng dan tersenyum lembut "aku mau menemani ibuku" sahutnya pelan namun terdengar oleh Kyungsoo. Tidak tahu jika Baekhyun, karena jarak mereka sedikit lebih jauh.
"Ya, jadilah anak yang baik" Kyungsoo mengelus kepala Taehyung dengan lembut. Kemudian Kyungsoo teringat sesuatu dan membuatnya beralih ke sebuah bingkisan yang ia simpan di atas menja "aku bawa makanan kesukaanmu, kau tidak suka pedas kan? Jadi bibi bawa yang rasa asin, tapi ada rasa sedikit pedas karena agak aneh jika tidak pedas"
Taehyung tersenyum, bibi Kyungsoo sangat lucu baginya. Walau sebenarnya dia lebih tenang dari wanita lain tapi akan berubah jika di hadapkan pada seseorang yang begitu dekat dengannya.
"Kyungsoo, aku bawakan minuman ini ya" Baekhyun hendak keluar dari dapur, tapi hal itu di cegah saat Taehyung segera berdiri di depannya.
"Biar aku yang bawa bu, aku mau bertemu paman" Taehyung menawarkan dirinya, lebih tepatnya Taehyung meminta karena ia segera mengambil nampan itu dari tangan Baekhyun.
Baekhyun tidak protes sama sekali, ia membiarkan minuman itu di bawa putranya sedangkan ia kembali ke makanan yang tergeletak di atas meja.
Kyungsoo yang melihat itu hanya diam tidak berkomentar atau bahkan tidak berpikiran yang macam-macam. Wanita itu ikut membantu apa yang dilakukan Baekhyun di dapur.
"Baekhyun, boleh nanti kuenya di beri banyak cokelat?" Tanya Kyungsoo sambil menunjukkan kue berbentuk pohon natal.
Baekhyun menoleh, "tentu, tapi harganya sedikit lebih tinggi" jawabnya, sambil menunjukkan senyum jahil.
"Heyyy, tapi kan kita sahabat"
"Sahabat tidak pernah menawar"
Dan ucapan itu langsung di balas dengan wajah masam Kyungsoo hingga membuat Baekhyun terkikik.
Dan beberapa menit terlewat, makanan sudah selesai di hangatkan, Kyungsoo langsung meletakkan makanan hangat itu di atas nampan. Lalu ia menoleh ke arah Baekhyun.
"Ayo, kita ke depan, mereka sudah menunggu"
"Tidak, kau duluan, nanti aku menyusul" sahut Baekhyun yang kemudian justru sibuk dengan pekerjaannya, menghias kue.
Tidak ada pikiran aneh di dalam kepala Kyungsoo, ia hanya mengangguk dan menuruti Baekhyun.
Di ruang tamu sana anak-anak kecil sudah berkumpul, kebanyakan duduk di atas karpet karena mereka merasa lebih nyaman ketimbang di atas kursi. Sedangkan pria dewasa dan yang akan menginjak dewasa memperhatikan dari atas kursi tempat mereka duduk.
"Ayo semuanya kita makan dulu"
Ucapan di sertai beberapa piring yang di letakkan di atas meja langsung menarik perhatian bocah-bocah yang sibuk bermain robot dan lego. Dengan sembarangnya mereka melempar mainan dan meraih potongan daging ayam dengan tangan kosong mereka.
"Aaaa tidak, tidak. Letakkan ayamnya, dan tunjukkan tangan kalian pada bibi lalu kalian boleh makan"
Seakan sudah di arah, anak-anak itu langsung meletakkan ayam yang mereka ambil lalu mereka berbaris rapih. Dan Kyungsoo sudah menyiapkan sebotol cairan seperti lotion bening dan sebuah tisu basah lalu mengoleskan pada tangan anak-anak.
Taehyung yang melihat itu menatap takjub. Padahal Kyungsoo tidak bicara dengan ucapan tinggi atau penuh penekanan, tapi anak-anak seolah ucapan Kyungsoo adalah mutlak dan tidak boleh terbantahkan.
Lalu semua orang yang berada di ruangan ini bisa menikmati makanan di sertai minuman hangat namun menyegarkan di saat salju turun. Sebentar lagi akan menuju perayaan hari besar dan juga menyambut pergantian tahun tidak aneh jika salju akan terus turun tapi banyak orang-orang di luar rumah. Tapi tidak sedikit juga yang memilih diam di dalam rumah sekedar menghangatkan diri di depan perapian sambil menikmati makan malam.
Namun sampai makanan yang tersisa di piring hanya beberapa, Kyungsoo tidak mendapati kemunculan Baekhyun. Wanita itu tanpa berbicara pada yang lain langsung menuju ke dapur dimana ia terakhir bertemu dengan Baekhyun. Dan benar saja wanita itu masih berada disana dengan adonan-adonan yang tergeletak tak tertata.
"Bukan kah tidak sopan jika pemilik rumah memilih menyibukan diri sedangkan ada tamu yang datang ke rumahnya?"
Ucapan kalimat itu langsung membuat Baekhyun teralihkan dari kesibukannya, wanita itu hanya tersenyum canggung mendapati sahabatnya sudah berdiri di sebelah meja tanpa sepengetahuannya.
"Maafkan aku Kyungsoo, tapi aku harus mengerjakan ini karena besok pelangganku memintanya" balas Baekhyun dengan tatapan bersalah tentunya.
Kyungsoo hanya menghela nafas, ia kemudian berjalan mendekati Baekhyun yang sedang mencetak adonan "mau aku bantu? Kau belum makan malam kan?"
"Tidak usah. Aku masih mampu. Ini hanya beberapa loyang lagi dan sebentar lagi kuenya matang. Ini tidak lama" timpalnya sambil tersenyum.
Kyungsoo tahu ada yang Baekhyun tutupi, entah apa tapi Kyungsoo merasakannya. Hanya saja ia tidak langsung bertanya melainkan terus memperhatikan sikap Baekhyun.
"Lagipula biasanya di waktu seperti ini, aku masih membuat adonan. Tapi sekarang kue ku sudah jadi dan tinggal di hias. Tapi bukan maksudku mengabaikan kalian, kau tahu anak-anak tidak bisa jika tidak ada yang memperhatikan, jadi..."
"Aku mengerti, lanjutkan saja. Jika sudah selesai bergabung lah, seorang ibu tidak boleh sakit karena terlambat makan" sergah Kyungsoo cepat, dan Baekhyun hanya menatapnya dan mengangangguk pelan.
Akhirnya ketika jam 8 malam tiba, Baekhyun baru bisa ikut bergabung setelah beberapa kue sudah di simpan di dalam toples, dan yang sudah di dalam toples sudah terbungkus rapih dan siap untuk di antarkan.
Hanya ada beberapa yang masih dalam keadaan terjaga, Jisoo sudah tenang di alam mimpinya, sedangkan Jackson sudah tertidur di kamarnya, bersama hyung tertua tentunya setelah Jackson berhasil menarik paksa Taehyung ke lantai dua untuk menemaninya.
Jesper masih betah menemani Taeoh bermain sedangkan Jiwon kini sudah dalam dekapan ibunya bersiap untuk berpindah ke alam mimpi.
"Apakah kalian akan menginap? Disini banyak kamar kosong. Lagipula sekarang sudah malam" tanya Baekhyun.
Langit memang sudah gelap, tapi tidak ada tanda bahwa salju akan berhenti turun. Baekhyun khawatir karena jarak rumahnya dengan rumah mereka cukup jauh.
"Kami tidak keberatan untuk menginap, tapi kedai kami harus buka besok pagi"
"Dan besok ada beberapa perusahaan yang menyewa tempat kami untuk acara kecil-kecilan" sambung Jongin kemudian.
Selain itu Jisoo sudah berpakaian lengkap, termasuk Taeoh hanya saja Taeoh masih ingin mengisi waktu keberangkatan dengan bermain sejenak.
"Tunggu sebentar" Baekhyun bangkit sambil menggendong Jiwon, ia beranjak sebentar menuju ke sebuah tempat dan kembali beberapa saat dengan sebuah paper bag di tangannya "ini bawalah, anggap saja hadiah kunjungan kalian kesini"
"Baekhyun, ini merepotkan mu.."
"Tidak, aku justru banyak terimakasih karena Pekerjaanku cepat selesai dari jam biasa, jadi besok aku bisa membuat kue pesananmu"
"Tidak di buat besok juga tidak apa, aku bisa langsung datang kesini lagi jika aku mau" ada perasaan bersalah juga tentunya bagi Kyungsoo karena membuat pekerjaan Baekhyun semakin bertambah.
Tapi Baekhyun tidak keberatan, ia justru senang karena bisa mengisi hari-harinya dengan membuat kue, sekaligus menambah pendapatan, syukur-syukur jika Baekhyun bisa membeli ruko dan membuka toko kue tengah di kota.
"Aku akan sangat dengan senang hati membuat apapun untuk sahabatku" ucap Baekhyun dengan tersenyum lembut.
Dan itu tentu membuat Kyungsoo tersentuh, ia pun langsung menarik bahu Baekhyun dan mengantar ke dalam pelukannya "jika ada sesuatu yang mengganjal dalam hatimu, Ceritalah. Jangan di pendam, oke?" Ucapnya sedikit berbisik. Lalu terasa sebuah gerakan di atas bahu Kyungsoo pertanda Baekhyun menerima tawarannya.
Pelukan mereka pun berakhir, saatnya berpamitan, terlalu lama di rumah orang lain bersama anak kecil tidak baik bukan? Belum lagi jika besok harus menjalani kegiatan seperti biasa di pagi hari.
Keluarga kecil itu akhirnya undur diri dari kediaman Baekhyun, mereka hanya bisa berpamitan kecuali pada Taehyung dan Jackson karena sudah beristirahat. Tentu saja Kyungsoo pergi setelah membantu membersihkan rumah Baekhyun. Kyungsoo mengerti apa yang di rasakan Baekhyun saat ini.
...
Selama di perjalanan tidak ada percakapan berarti, Kyungsoo sibuk menimang Jisoo di pelukannya, Jongin fokus berkendara, sedangkan Taeoh sudah berpindah ke alam mimpi dikursi tengah.
Ketika di persimpangan, menanti lampu merah berganti, Jongin melirik Kyungsoo sejenak dan berdeham pelan.
"Apa kau merasakan sesuatu?" Tanya Jongin tiba-tiba.
"Hmm?" Kyungsoo menoleh dan menyernyit tidak mengerti "kenapa? Cuacanya semakin dingin?"
Jongin menggeleng "bukan, tapi tadi, ketika di rumah Baekhyun"
Kyungsoo terdiam, lalu beralih menatap lurus ke arah jalan dimana mobil-mobil yang berada di seberang masih melaju di hadapannya.
"Aku merasa rumah itu sangat dingin" lanjut Jongin kemudian. "Bukan karena makhluk tak kasat mata, tapi..."
"Hubungan antara Baekhyun dan Taehyung, begitu?"
Jongin mengangguk pelan.
Kyungsoo menghela nafas, lalu membenarkan posisi duduknya "aku juga merasa begitu"
"Dan aku merasa sedikit aneh, tidak tahu kenapa dan apa. Tapi ketika aku duduk di sebelah Taehyung, aku merasa...entahlah, sedikit berbeda"
"Semoga itu hanya perasaanmu saja" Kyungsoo mengelak namun Jongin setuju, mungkin ini hanya perasaannya saja walau sebenarnya Kyungsoo pun merasakan hal yang sama dengan apa yang di rasakan Jongin.
Namun tampaknya perasaan aneh itu tidak pernah hilang dari dalam diri Kyungsoo. Meski nyatanya dia baru bertemu kembali dengan keduanya tidak lebih dari satu tahun, tapi Kyungsoo langsung begitu mengenali keduanya baik dari luar maupun dalam diri mereka.
Dan meski ia baru saja bertemu tidak lebih dari sehari, tapi perasaan yang aneh itu justru terus mengganggu seolah Kyungsoo merasakan hal tersebut cukup lama. Haruskah?
Drrrttt drrtttt...
Sebuah pesan masuk muncul dan membuat ponsel itu menyala hingga mendapati perhatian dari mata bulat Kyungsoo. Kyungsoo segera membuka layar ponselnya dan melihat sebuah pesan masuk dengan nama 'Baekhyun' di atasnya sebagai identitas.
'Kue mu sudah siap, kapan kita bertemu?'
Kyungsoo ingat, beberapa hari yang lalu ia mampir ke rumah Baekhyun dan meminta Baekhyun membuatkan kue untuknya. Mungkinkah ini waktunya?
...
Kyungsoo sudah tiba di salah satu cafe yang sudah di janjikan untuk bertemu dengan Baekhyun sebelumnya. Sambil menunggu, ia lebih memilih untuk menikmati secangkir kopi panas dan sepiring waffle.
Sebenarnya janji temu 20 menit lagi, tapi berhubung Kyungsoo lebih dulu kesini maka ia sedikit menghabiskan waktu untuk mengganjal perut dan mencari informasi mengenai resep baru untuk kedainya.
Kemudian sesuai janji Baekhyun tiba bersama anak bungsunya. Tak lupa Baekhyun membawa 3 toples kue pesanan Kyungsoo yang di letakkan di dalam paper bag.
Kyungsoo yang menyadari kedatangan Baekhyun segera melambaikan tangan dan Baekhyun yang melihat pun segera berjalan cepat ke arah dimana Kyungsoo duduk.
Kedua wanita itu tersenyum dan menyapa dengan saling berpelukan. Lalu Baekhyun pun mengambil duduk di kursi di depannya.
Tak lama dari kedatangan Baekhyun, seorang pelayan datang sambil membawa segelas minuman dan satu porsi kue yang sengaja di datangkan sebagai pesanan untuk Baekhyun.
"Aku tidak tau ingatanku masih baik atau tidak, semoga kau tidak kecewa dengan makanan yang aku pesan" ucap Kyungsoo setelah pelayan itu pergi.
Baekhyun tersenyum dan segera meminum kopi yang di sediakan "tidak, kau benar. Aku masih suka dengan makanan ini. Aku percaya dengan ingatanmu"
"Jangan percaya padaku, aku bukan Tuhan" sahut Kyungsoo lalu di sambut dengan senyuman lebar Baekhyun.
"Aku menyiapkan ini semalaman, aku tidak tahu apakah rasanya enak karena ini pertama kalinya aku membuat kue jenis ini" Baekhyun mengeluarkan toples berisi kue yang ia bawa. Masing-masing toples memiliki rasa yang berbeda.
Kyungsoo hanya tersenyum sambil melihat kue yang ia pesan tiga hari sebelumnya, tepatnya ketika ia mampir ke rumah Baekhyun.
"aku percaya dengan penjual kue terkenal sepertimu"
"Jangan percaya padaku, aku bukan Tuhan" sahut Baekhyun mengikuti apa yang di ucapkan Kyungsoo sebelumnya, dan mereka berdua pun akhirnya tertawa.
Lalu mereka memulai pembicaraan yang tidak jauh dari dunia usaha dan bisnis mengingat keduanya sama-sama memulai usaha dari nol.
Di sela pembicaraan, Kyungsoo teringat dengan sesuatu yang membuatnya mengajak Baekhyun untuk duduk bersama seperti saat ini. Sesuatu yang mengganjal dalam hatinya baru-baru ini.
"Baekhyun, maaf jika ini agak sensitif, tapi...boleh aku bertanya sesuatu?"
Baekhyun yang sedang menyuapi Jiwon dengan strawberry cake nya langsung terfokus pada Kyungsoo dan menatapnya heran.
"Ya? Ada apa?"
Kyungsoo mengambil nafas sejenak lalu kemudian berdeham, dalam hatinya berkata semoga Baekhyun tidak tersinggung dengan pertanyaannya.
"soal Taehyung" ucap Kyungsoo dan pergerakan Baekhyun pun langsung terhenti dan respon seperti itu tentu Kyungsoo menyadarinya lalu wanita itu langsung menggeleng "tidak jadi"
"tidak, lanjutkan saja" sahut Baekhyun meski kali ini tanggapannya sedikit lebih dingin.
Kyungsoo menatap Baekhyun tidak yakin, mungkinkah sahabatnya ini tersinggung? Tapi sungguh Kyungsoo begitu penasaran dengan apa yang ia lihat dan membuatnya mengganjal dalam benaknya. Tapi sekali lagi, Kyungsoo berharap Baekhyun tidak tersinggung dengan pertanyaan nya.
Kyungsoo pun kembali diam untuk menarik nafas "apakah...kau masih marah padanya?"
Baekhyun mengangkat satu alisnya saat mendengar pertanyaan itu, kemudian ia tersenyum simpul dan kembali menyuapi Jiwon. "hanya dugaanmu saja"
"sepertinya..." Kyungsoo mengangguk pelan dan sedikit menunduk lalu ia kembali menatap Baekhyun "tapi aku merasakannya, maksudnya...kau terlihat sedikit, dingin"
"Benarkah? Mungkin"
Kyungsoo menyernyit mendengar tanggapan Baekhyun "Baekhyun? Kau tidak membenci puteramu sendiri kan? Sejujurnya aku sedikit khawatir karena melihat sikapmu waktu itu yang seakan mengabaikannya. Dengar Baekhyun, aku tidak bermaksud mengguruimu, aku juga tidak bermaksud mengingatkan dan mengaitkan ini dengan kematian Chanyeol, aku harap kau mengerti bahwa itu adalah murni kecelakaan"
"Kecelakaan karena menjemputnya, kalau Chanyeol tidak kesana, dia pasti masih ada"
Jawaban itu tentu mengejutkan Kyungsoo, wanita itu terdiam dan menatap Baekhyun yang seolah enggan balik menatapnya.
"Kau menyesalkan kematian suamimu?" tanya Kyungsoo dan kali ini Baekhyun mengangkat wajahnya lalu menatap Kyungsoo.
"Biar aku tanya, bagaimana rasanya jika Jongin mati karena menolong puteramu yang kabur? Apa sampai saat ini kau bahagia? Apakah kau bahagia karena hidup sendiri tanpa orang yang kau cintai?"
"Jadi kau menuduh Taehyung? Kau menuduh puteramu sendiri atas kematian suamimu?"
"Aku tidak menuduhnya, aku hanya berbicara yang sebenarnya"
"Baekhyun" Kyungsoo sedikit menggenggam sendok waffle lebih erat, ia merasa terpancing dengan apa yang di katakan Baekhyun barusan "jika kau bicara seperti itu, kau seakan menuduh dan menyesali kembali nya Taehyung, apa kau tidak ingat saat kau mendengar bahwa dia menghilang? Kau begitu tertekan dan karena itu Chanyeol rela menjemputnya jauh-jauh ke ibu kota"
"Jika aku tahu, maka aku menyesal karena melakukan hal itu"
"Baekhyun!" sentak Kyungsoo dan membuat pengunjung sekitar menoleh ke arahnya. Kyungsoo kembali terdiam dan mencoba mengendalikan sikap juga menahan emosinya.
Setelah keadaan kembali membaik, barulah Kyungsoo menatap Baekhyun lagi.
"Tidak seharusnya kau bicara seperti itu, itu sama saja kau menyia-nyiakan pengorbanan Chanyeol, dan bagaimana jika Taehyung mendengar ini, pasti dia akan kecewa pada dirinya sendiri, dia akan menyalahkan dirinya"
"Aku harap begitu"
"Baekhyun!"
"Cukup!"
Baekhyun merasa telinganya memanas dan emosinya menaik. Sejujurnya ini membuat perasaannya risih dan tidak nyaman, dia datang kesini untuk berbicara hal lain, bukan membahas kematian Chanyeol yang masih belum Baekhyun terima.
Wanita itu menatap sahabatnya dengan pandangan tajam dan dalam yang belum pernah ia lakukan sebelumnya "kau bicara tidak bermaksud menggurui, tapi kau seakan menggurui ku. Aku tanya padamu, apakah kau pernah merasakan hidup terasingkan karena mengandung di saat kau masih menggunakan seragam SMA? Apakah kau pernah merasakan bagaimana kau bersembunyi dan hidup merana agar kau tidak di benci oleh keluargamu? Apakah kau merasakan sulitnya mencari pekerjaan karena di ketahui kau sudah memiliki anak di umur 20th lalu memalsukan identitasmu agar bisa mencari pekerjaan karena kau punya satu tanggungan? Apakah kau pernah merasakan sebuah tekanan karena harus kehilangan orang yang kau cintai dan bersusah-susah mencari uang agar anak-anakmu bisa terus merasakan duduk di bangku sekolah dan gizi mereka tercukupi sedangkan orang yang membuat orang yang kau cintai hidup lebih mudah dan tanpa beban sedikit pun karena masih memiliki ayahnya?"
"Kalau begitu kenapa waktu itu tidak kau gugurkan saja?!" balas Kyungsoo cepat dengan nafas yang memburu.
Baekhyun terdiam sejenak, kemudian ia tersenyum skeptis "ya seharusnya aku melakukannya jika aku tidak bertemu denganmu"
"Baekhyu—-"
'Brakk!'
"Bayar semua, kuemu gratis, tidak perlu membayar. Anggap saja sebagai tanda perpisahan" Baekhyun segera menggendong Jiwon dan mengambil tasnya lalu beranjak pergi setelah meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja.
Kyungsoo masih bergeming menatap lurus kursi di depannya, dadanya terlihat naik turun dan nafasnya sedikit tidak beraturan. Tangannya juga masih terkepal erat dan sesuatu muncul dari balik kelopak matanya.
Kyungsoo terpejam menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba sesuatu muncul dari dalam bayangnya, bayang seorang anak muda dengan wajah murungnya.
'bibi, apakah ibu masih menyayangiku?'
Pertanyaan itu kembali terngiang di telinganya, melihat raut wajah cemasnya membuat Kyungsoo langsung beranggapan bahwa Taehyung begitu mengkhawatirkan sikap ibunya. Anak muda itu takut di benci. Itu yang ia lihat saat itu.
Dan Kyungsoo pun dengan segala alasan mencoba meyakinkan agar Taehyung tetap meyakinkan bahwa ibunya menyayanginya seperti yang Kyungsoo ketahui. Namun setelah mendengar pernyataan tadi tentu membuat hati Kyungsoo hancur. Bukan karena masalah jika Baekhyun tidak ingin bertemu dengannya lagi, tapi bagaimana jika Taehyung tahu dan mendengar hal ini?
Kyungsoo segera menggelengkan kepalanya, ia berharap Daehyun dan Youngjae bisa menghiburnya dan mengalihkan perasaan cemas akan sikap Baekhyun padanya. Kyungsoo juga berharap Taehyung tidak mengetahui hal ini. Biarlah perasaannya yang hancur atas usainya pertemanan yang terjalin belasan tahun. Asal tidak dengan melihat bagaimana hancur nya perasaan seorang anak yang mengetahui bagaimana perasaan ibunya sesungguhnya.
Lalu Kyungsoo kembali menyeruput kopi terakhirnya. Sudah cukup dengan pertemuan tidak menyenangkan ini. Mungkin melihat wajah Taeoh dan Jisoo bisa membuat perasaannya kembali naik. Akhirnya ia segera mengambil tas dan beberapa barang di atas meja. Setelah itu ia segera beranjak keluar dari kafe menuju sebuah halte yang berada tidak jauh dari kafe itu.
Tidak menunggu lama, sebuah bis datang dan Kyungsoo masuk bersama penumpang yang lain. Ia mengambil kursi yang dekat dengan jendela.
Di dalam bis pun perasaannya masih tidak karuan, nafasnya masih belum normal dan air matanya juga tidak henti untuk keluar meski Kyungsoo berupaya mengusapnya cepat dan menahan ujung mata dengan menggunakan tisu.
"Maafkan bibi, Taehyung"
.
.
.
tbc
Apakah ceritanya terlalu bertele-tele?
atau terlalu kejam? atau terlalu basa basi?
maafkan saya yang otaknya mentok terus tiap bikin cerita T.T
.
See you next chapt...
and Happy V day
