Bangun, ngamuk, muntah, tidur lagi.

Selama tiga hari berturut-turut, kebanyakan itu yang dilakukan Kazuya. Terkadang dia mengigau dalam tidurnya, kadang merintih kesakitan, kadang menangis. Bahkan ketika bangun pun, pikiran Kazuya seperti berada di dunia lain. Semua orang bingung, Eijun panik. Berbagai pemeriksaan terpaksa di lalui lagi. Menurut dokter, sepertinya Kazuya mengalami semacam disorientasi. Ketika Kazuya sadar sepenuhnya dan bisa diajak berkomunikasi dengan normal, dokter sudah merencanakan konsultasi dengan psikiater untuknya.

Yang paling di khawatirkan Eijun, Kazuya hanya mendapat asupan nutrisi dari infus. Padahal Tetsuya juga memiliki cidera yang hampir sama, tapi dia kelihatan baik-baik saja. Walau Eijun tahu kondisi Tetsuya sangat jauh dari baik-baik saja. dan sekarang, Eijun berdiri di kamar Tetsuya yang sedang bersiap-siap meninggalkan rumah sakit.

Jun masih bersungut-sungut sambil membereskan semua barang Tetsuya. Telinga Eijun panas mendengar Jun berceloteh tentang 'kondisimu masih sama mengerikannya di banding kemarin, bajingan!' dan sebagainya. Dokter memang belum mengizinkan Tetsuya pulang, makanya Jun sudah seperti kebakaran jenggot begitu.

Sementara Tetsuya, dia hanya duduk manis di tempat tidur pasien. Ponsel menempel di telinga, sambil berbicara dengan seseorang di seberang sana tentang pekerjaan. "Persiapkan keberangkatan mereka ke Venice malam ini juga! Sebarkan juga beberapa personel untuk patroli di setiap sudut jalan, periksa wilayah sekitar, dan periksa setiap hal yang tampak mencurigakan. Berhati-hati dengan beberapa genk jalanan! Akhir-akhir ini banyak genk jalanan yang bekerja untuk Yakuza" Tetsuya tampak begitu serius. Seingat Eijun, saat ini mereka memang sedang bekerja mengawal seorang Mentri untuk mengikuti konferensi internasional dalam menyepakati kebijakan ekonomi yang akan merugikan para Mafia. Eijun tidak bisa membayangkan dirinya di masa depan melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan Tetsuya. Memikirkannya saja sudah membuat Eijun bergidik.

Eijun melirik kearah Jun. Sepertinya dia sudah selesai beres-beres. Sekarang Jun malah lagi memelototi Tetsuya yang masih santai mengoceh tentang pekerjaan. Lebih baik Eijun mengabaikannya dulu, dari pada Eijun di kunyah bulat-bulat kemudian di lepehin lagi.

Tetsuya bangkit dari tempat tidur dan melangkah untuk mengambil mantel yang di gantung di coat hanger. Dia sudah berganti pakaian dengan pakaian formal dari pakaian rumah sakit "bandara akan di netralkan dari aktifitas penerbangan selama dua jam sebelum keberangkatan, dan... aw" Eijun langsung membantu Tetsuya memakai mantelnya ketika laki-laki itu meringis karena kepayahan.

"Nah, lihatlah! Kamu sendiri masih kesakitan begitu.." Omelan Jun terhenti ketika Tetsuya membuka telapak tangannya, seolah memberi gesture 'tunggu dulu!' kepada Jun. Jun ngedumel sambil menendang kaki meja. Tetsuya cuek. Malah Eijun yang merinding

"Gak..gak! jangan ke hotel! Batalkan bookingan hotel! Zono sudah meyiapkan sebuah safe house. Suruh dia berjaga disana! Dan kirim juga beberapa personel yang telah berangkat sebelumnya untuk memeriksa lokasi konferensi. Kita memang hanya berkewajiban dengan pak Mentri, tapi kondisikan juga kepada petugas yang menjaga anggota konferensi lainnya tentang keselamatan masing-masing anggota. Jalin komunikasi dengan mereka, untuk berjaga-jaga!"

Whoaa.. Tetsuya yang ngomong, Eijun yang migrain.

"Tunggu! Ku hubungi dua puluh menit lagi. Aku sedang bersiap meninggalkan rumah sakit. Aku akan kesana dalam..."

"NOO!" Seruan Jun yang sekeras sambaran petir membuat Eijun jantungan. Tetsuya langsung terdiam dan menatap Jun dengan kening berkerut "PULANG! HABIS INI KAMU PULANG! GAK ADA CERITA!"

"Shirasu, bisa kamu kondisikan mereka dulu?.. Oke! Sampai nanti" Tetsuya memutuskan sambungan telepon, kemudian menatap Jun dengan ekspresi terganggu "Apa sih?" Keluhnya.

"Jangan harap aku akan membiarkanmu bekerja dengan keadaan seperti itu!"

Tetsuya menghela nafas "Ya udah, aku akan dikantor saja. Kamu yang tangani mereka"

"PULANG, TETSU! P-U-L-A-N-G! NGERTI KAMU?"

"Jun, please! Ini mentri lho. Gak mungkin aku santai-santai dirumah dan membiarkan kalian bekerja"

"Siapa yang nyuruh kamu santai? Aku nyuruh kamu istirahat"

"Apa bedanya?"

"Beda, lah! Masa gitu aja kamu gak ngerti?"

"Oke! Aku pulang. Dan berhentilah ngamuk-ngamuk kayak cewek PMS! Tapi kamu harus beri tahu aku setiap perkembangannya" Tetsuya akhirnya mengalah.

"Ya, terserah! dan aku hanya akan memberi tahukanmu kalau misi sudah beres agar kamu gak harus memikirkan apapun lagi" Jun menyeringai.

Tetsuya geleng-geleng kepala, kemudian dia menatap Eijun "Ada apa?"

"Gak papa" Jawab Eijun sambil menggeleng cepat "Cuma kamu kelihatan sibuk. Apa kamu selalu sesibuk itu?"

"Kurang lebih"

"Klienmu orang penting semua, ya. Yang kemaren dari Okinawa itu gimana?" Tanya Eijun. tiba-tiba saja dia kepo.

"Misi ringan, kok. Menangkap stalker seorang kepala chef di restauran Perancis"

"Ketangkep?"

"Ya! Cuma kerjaan pengagum rahasia ternyata"

Oh, ya. Ngomong-ngomong stalker-nya Eijun belum ketangkap. Apa dianya aja yang parno? Apa itu cuma kerjaan pengagum rahasianya doang? Kan Kazuya juga pernah bilang begitu.

"Jemputan kami datang. Kami harus pergi sekarang"

"Oh, ok!"

"Jaga dirimu, ya!" Tetsuya menepuk kepala Eijun. Bibirnya tersenyum lembut "Hubungi aku kalau ada apa-apa. Mau kamu hubungi aku kalau lagi gak ada apa-apa juga boleh, kok"

Eijun cekikikan "iya. Thanks a lot sekali lagi, Tetsu-san!"

"Hoy, bocah! Kami berangkat" Jun menepuk punggung Eijun

"Hati-hati! Semoga misi kalian sukses" Eijun mengacungkan jempol

"Heh?" Seringai Jun membuat Eijun merinding lagi "Kami gak butuh ucapan semoga beruntung darimu!"

"Aku gak bilang 'Semoga beruntung'. Aku bilang 'Semoga sukses'" Ralat Eijun

"Sama aja, bocah!"

"Beda lah! Masa itu aja kamu gak ngerti?" Kata Eijun mengulangi ucapan Jun tadi

"Minta ditendang pantatmu, ya!"

Jun baru saja hendak meraih kerah Eijun ketika Tetsuya menarik mantelnya "Udah! Kamu mau aku pulang, kan? ayo pergi sekarang!"

"Berisik!" Hardik Jun. Dia meraih tas yang berisikan barang-barang Tetsuya, lalu sebelum melangkah keluar pintu, Jun menyempatkan untuk menepuk pantat Eijun.

"ITTAI!"

"Makan, tuh!" Ledek Jun

"JUN-SAAAN!" Eijun merengek.

Tetsuya tertawa "Nanti deh ku jewer dia untukmu"

"Bener, ya!"

"Gak masalah" Tetsuya mengedipkan sebelah mata. Eijun terkikik geli sambil berjalan mengikuti Tetsuya keluar kamar "Sampai jumpa!"

"Bye, Tetsu-san!"

Tetsuya membalas lambaian tangan Eijun. Eijun tetap menatap mereka sampai punggung mereka menghilang dari pandangannya, kemudian Eijun berbalik. Dia memekik kaget ketika pandangannya bertemu dengan sepasang manik kebiruan. Bocah berambut pirang menatapnya dengan wajah lempeng, dan sekaleng soft drink di tangannya.

"O-oku-okuku.."

"Okumura" Ralat bocah itu cepat

Eijun tertawa keras. Sekilas Eijun melihat sedikit kernyitan yang di tujukan di garis wajah Koushu "Bikin kaget aja! ngapain kamu disini?"

"Beli minum" Jawab Koushu singkat. Dia mengangkat kaleng soft drink-nya

"Lho, minuman begituan banyak di kamar. Ngapain kamu beli lagi?"

"Si Hobbit sudah nyaris menghabiskan stok cemilan di pantry. Aku takutnya nanti tagihanmu menggunung" Jawab Koushu santai.

"Hobbit?"

"Siapa lagi yang mirip hobbit di dalam sana selain manusia yang warna rambutnya bikin sakit mata?"

"Oh, hahaha!" Eijun lagi-lagi tertawa. Walaupun kalem, mulut Koushu lumayan nyakitin juga ternyata "Santai aja kali. Gak perlu segitunya"

Eijun sudah bertemu semua orang –yang kata Youichi- teman-teman Kazuya. Mereka memang suka bergantian datang ke rumah sakit. Tapi dari tadi Haruichi ogah pergi. Dia keenakan ngemil coklat organik sepertinya, walau beralasan kamar Kazuya sangat kondusif untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Sedangkan Koushu lagi bolos kuliah. Ya, dia terang-terangan mengakuinya. Padahal sebentar lagi giliran Satoru dan Youichi yang datang. Nabe lagi keluar. Katanya dia menjemput sesuatu.

Mei dan Shunpei juga beberapa kali datang bersama istrinya. Tapi Mei gak kuat lama-lama, soalnya kalau melihat Kazuya, Reina sering nangis dan meluk-meluk Kazuya. Shunpei harus mengelus-elus punggung Mei agar dia tidak menelan botol infus kalau itu sudah terjadi. Dan kalau Reina sudah mulai nangis, Mahiro biasanya juga ikut-ikutan. Dan akhirnya bapak-bapak itu harus menyeret istri-istri mereka pulang karena kewalahan sendiri.

Papa Kazuya masih belum datang. Kata Shunpei, dia hanya mengurung diri dirumah dan bahkan gak pergi kerja selama tiga hari ini. Reina dan Mahiro rajin mengunjunginya untuk memastikan papa Kazuya baik-baik saja. tapi dia masih belum mau bicara kepada siapapun.

Eijun tidak mengerti apa yang ada dipikiran orang itu. Sepertinya dia merasa bersalah atau apa. Entahlah! Padahal, Eijun belum sempat minta maaf karena udah bikin salah paham.

"Kamu mau balik ke kamar?"

"Eh?" Eijun tersentak. Koushu masih menatapnya dengan wajah minim ekspresi "Ya, kamu juga?"

Koushu mengangguk pelan. Dia membiarkan Eijun memimpin langkah di depan. Mungkin perasaannya saja, tapi Eijun merasa tatapan bocah itu tak pernah lepas darinya. Ketika Eijun menoleh, benar saja! Koushu sedang menatap kearahnya.

"Kenapa kamu liatin aku begitu?"

"Kamu kan di depanku. Mau gak mau aku harus liatin kamu. Kalau gak mau kuliatin, jalan dibelakang sana!"

Yah, Eijun jadi merasa semakin bego sekarang. Eijun lagi-lagi hanya tertawa "Kamu benar"

"Ngapain kamu nyengir-nyengir terus?" Komentar Koushu tiba-tiba.

"Emang kenapa?"

"Kalau nyengir begitu, hidupmu seperti gak ada beban"

"Siapa bilang hidupku gak ada beban?" Balas Eijun. aApa-apaan bocah ini? Berkomentar seenaknya tentang dirinya seolah telah mengenalnya

"Yah, itu makanya aku heran"

"Sok tau. Nyebelin!" gerutunya "Ngapain tadi kamu berdiri di deket kamarnya Tetsu-san?"

"Suara teriakanmu terlalu keras. Aku kira kamu di cekik orang"

Tuh, kan! bocah ini sok tau banget. Anak siapa sih dia?

Di dalam kamar Kazuya, Haruichi sedang duduk di depan layar laptop sambil ngemil. Kepala merah jambu Haruichi menoleh kearah Eijun dan Koushu "Udah balik, Eijun-kun?" Sapanya dengan mulut belepotan coklat.

Eijun tergelak "Harucchi, mulutmu belepotan"

"Hua.. maaf! Aku gak sadar!" Haruichi langsung mengambil tissue untuk membersihkan mulutnya

"Makan aja gak becus" Komentar Koushu tiba-tiba

Haruichi mendelik, dan meraih kaleng soft drink kosong. Koushu berlindung di belakang Eijun ketika Haruichi hendak melemparnya dengan kaleng kosong itu. Haruichi mendengus kesal, kemudian melupakan rencananya untuk membalas Koushu dan kembali melanjutkan tugasnya.

Eijun mendengar Koushu berusaha menahan tawa "Kalian ribut terus, ya"

"Maaf, Eijun-kun. Apa aku ganggu?"

"Gak kok" Komentar Eijun, lalu dia duduk di sebelah tempat tidur Kazuya yang lagi-lagi tidur. Eijun mengusap rambut Kazuya. Kebiasaan yang akhir-akhir ini sering di lakukannya, karena Kazuya juga suka pegang-pegang kepalanya. Setiap kali Kazuya lakukannya, Eijun selalu merasa nyaman. Kemaren-kemaren ini dia cuma malu mengakuinya, sih "Kalian berdua ribut terus, tapi betah banget lama-lama berdua disini"

"Itu karena si cebol ini gak mau pergi dari tadi" Celetuk Koushu

Wajah Haruichi memerah "Bangsat! Dasar bocah kurang pendidikan! Makanya kuliah yang bener biar mulutmu juga terpelajar"

Koushu lagi-lagi menahan tawa "Lihat siapa yang bicara!"

Buku bertuliskan 'Bioinformatics' yang Eijun tidak mengerti apa artinya melayang di udara. Koushu menangkis buku itu dengan tangannya sebelum mendarat di wajahnya.

"OKUMURA!" Pekik Haruichi dan mulai melempar Koushu dengan hal-hal yang bisa diraihnya.

Dan adegan kejar-kejaran seperti di drama-drama pun terjadi. Eijun terkikik sendiri melihatnya. Dia takjub bagaimana mulut Haruichi bisa mengeluarkan seribu satu umpatan dalam kecepatan yang menyaingi shinkansen. Koushu cuma menyeringai.

"Temen-temenmu lucu, ya. Mereka heboh banget" Eijun bicara dengan Kazuya sambil cekikikan, kemudian menyentuh kening Kazuya. Dia masih demam, walau suhu tubuhnya sudah turun. Eijun tidak mengerti kenapa kadang Kazuya panas, kadang dingin. Semalam panas tubuhnya sempat mencapai empat puluh satu derajat celcius, yang membuat kondisi Kazuya mengalami penurunan lagi. Eijun tak bisa membayangkan se tersiksa apa rasanya ketika panas badannya setinggi itu.

Eijun merasakan Kazuya bergerak gelisah, tapi matanya masih terpejam. Mungkin karena ribut-ribut antara Koushu dan Haruichi. Menatap Kazuya yang tidur sudah seperti kegiatan wajib bagi Eijun. dan kali ini juga. Setiap perubahan kecil dari ekspresi Kazuya membuat Eijun bertanya-tanya apa yang sedang dilihatnya di dalam tidurnya.

Eijun merebahkan kepala di samping wajah Kazuya "Kamu masih mau tidur, ya?" bisiknya "Kamu padahal gak kemana-mana, dan aku berada disampingmu setiap saat. Tapi aku kangen kamu. aku pengen ngobrol" Eijun memainkan helaian rambut Kazuya dengan jarinya. Kelopak mata Eijun terasa berat. Nafasnya melambat. Suara ribut Haruichi dan Koushu tidak terdengar lagi. Ada kedamaian yang melingkupinya setiap kali Eijun berada terlalu dekat dengan Kazuya.

...


...

Kazuya pikir, dia tidak bisa lebih sekarat lagi dibanding ketika dia di gigit ular. Mati. Itu satu-satunya kemungkinan yang akan terjadi padanya saat itu. Seluruh otonya mengejang. Paru-parunya mati rasa dan jantungnya seolah meledak. Kazuya yakin dia sudah bergandengan tangan dengan malaikat maut yang akan mengantarnya ke akhirat. Tapi dia tidak pernah sampai kesana. Kazuya terbangun di kamar rumah sakit, dan seketika bayangan kematian lenyap begitu saja.

Kali ini berbeda. Tubuh Kazuya panas dan terbakar seolah di kubur di dalam gurun pasir tandus dengan sinar matahari menyengat. Paru-parunya masih bekerja, tapi setiap nafas yang diambilnya justru mencekiknya. Kazuya seperti berada di tengah-tengah ruangan kosong yang gelap, di dalam dunia mimpi tak berujung. Dia melihat seluruh dunia berputar di sebuah layar besar, dan Kazuya duduk meringkuk di depannya. Hanya menyaksikan. Tanpa ada niat untuk kembali.

Toh mereka tampak bahagia. Ada atau tidaknya Kazuya, memang apa bedanya?

Haruichi dan Koushu masih berkelahi seperti biasa, dengan Satoru yang sesekali menengahi antara niat dan gak niat. Nabe tetap kutu buku. Youichi tetap berisik. Shunpei dan Mei masih dengan young executive style mereka. Ngapain budak-budak kantor seperti mereka ngurusin dia?

Dan Eijun..

Dia masih disana. Menatapnya dengan tatapan kosong. Terkadang Eijun berbicara, terkadang dia hanya diam, atau terisak pelan.

Anak itu tidak punya siapa-siapa.

"Yaah.. kamu masih disini toh"

Kazuya terdiam. Membiarkan wanita cantik tapi berisik yang entah sejak kapan suka mengganggu kegiatannya mengamati kehidupan di sana mengoceh sesuka hatinya.

"Hoy..hoy.. anak sialan! Kok aku dicuekin lagi?" Wanita itu duduk di sebelah Kazuya dengan gaya yang gak feminim banget. Gak ada pantes-pantesnya dengan wajah cantiknya. Dia duduk bersila dengan satu kaki diangkat dan siku bertumpu di lutut. Gayanya udah mirip bos preman. Bagian rok gaun putihnya tersingkap menapakkan kaki mulusnya.

Kalau kata Kazuya, mungkin wanita ini adalah bidadari yang salah didikan.

"Diih.. anak siapa sih kamu?" Gerutunya lagi sambil.. engg really? Ngupil? "Oh ya, kamu anakku" Sekarang dia malah terbahak-bahak, bahkan sampai batuk-batuk saking kerasnya. Mampus! Biar mati sekalian. Berisik banget jadi orang! "Astaga, kok bisa aku lupa aku punya anak? Modelnya kayak begini lagi"

"BERISIK!" Bentak Kazuya. Akhirnya dia jengah juga mendengar suara kikikan dari wanita itu "Kalau kamu cuma mau menggangguku, kembali ke asalmu sana!"

Kepala Kazuya di jitak "itu juga karena kamu mengabaikanku terus, anak durhaka"

"Aku gak ingat kalau mamaku perempuan gak waras kayak kamu"

Wanita itu terbahak-bahak lagi, bahkan sampai guling-gulingan dilantai memegangi perutnya "Ya, gimana ya ngomongnya? Aku mau jujur tapi takutnya kamu tambah depresi" Dia berkata di tengah cekikikannya sambil mengusap air mata "Percayalah, aku juga pengennya anakku Shunpei atau Mei, tapi yang jadi malah kamu"

Kazuya menutup telinga dan memejamkan matanya erat-erat. Mungkin akan lebih mudah kalau wanita sableng itu adalah malaikat maut yang mau menjemputnya. Ya, dia tau Shunpei dan Mei itu anak impian semua orang tua dan menantu impian segala mertua, tapi mendengarnya dari mamanya sendiri, rasanya makin... pengen mati.

"Bercanda! Hei, jangan baper!" Wanita itu malah rebahan terlentang di depan Kazuya "Kamu itu anakku. Kamu pintar, baik dan kuat. Kamu berani hidup dengan jalanmu sendiri. Kamu gak membiarkan siapapun mengaturmu, bahkan papamu sendiri. Hehe, kamu mirip aku sih. Makanya tante-tantemu ngeliat kamu bawaannya pengen tebar fitnah aja.. mungkin" Katanya lagi sambil nyengir.

Kazuya tidak mengerti maksudnya, dan dia tidak ingin mendengarkan lebih banyak lagi.

"Aku yang slengean, susah diatur, ceplas-ceplos, gak suka dandan dan kadang suka malu-maluin kalo di bawa ke mana-mana. Tapi papamu bucin setengah mati padaku" Wanita itu tersenyum bangga.

Kazuya mendengus. Dia tidak tertarik menanggapi.

"Yah, hidup memang gitu. Ada yang seneng, ada yang enggak. Kamu gak bisa menyenangkan semua orang. Tapi cuma beberapa orang yang menganggap kamu berharga.." wanita itu menoleh kesamping, kearah layar besar di depan Kazuya. Kepala bertumpu pada telapak tangannya "seperti mereka"

Masa sih? Mereka menganggap Kazuya berharga?

"Untuk membuat keputusan yang bisa memuaskan orang lain, terkadang kamu harus mengorbankan kebahagiaanmu sendiri. Sama denganku, aku tahu kamu bukan orang yang sanggup melakukan itu. Gak masalah. Hidupmu memang bukan untuk menyenangkan orang lain. tapi mereka menunggumu. Mereka bisa saja menjalani kehidupan mereka masing-masing, tapi mereka memilih berada disampingmu, menunggumu kapanpun kamu siap kembali, dan berusaha untuk gak menampakkan wajah sedih di hadapanmu, karena mereka tahu itu justru semakin membuatmu terbebani" Setelah berkata begitu, dia menguap lebar "Yah, kecuali si bocah mellow itu" Kazuya tahu yang dimaksukannya adalah Eijun "Aku gak tahu hidupnya se bermasalah apa, tapi saat ini dia yang paling menunggumu. Dia menatapmu seolah kamu satu-satunya yang dimilikinya. Sayang banget, padahal aku suka matanya"

"Aku juga" Balas Kazuya

Wanita itu menyeringai "Karena kamu anakku?"

"Pergi sana!"

"Hey, kamu yang harusnya pergi. Ini bukan tempatmu"

"Ini juga bukan tempatmu"

Mama Kazuya menggaruk kepala "Iya sih, tapi aku kan udah bebas. Gak kayak kamu. dan kalau kamu lama-lama disini, gimana dengan papamu? "

"Buat apa mengkhawatirkannya? Dia juga gak percaya padaku lagi. Belum tentu dia mau menganggapku anaknya lagi setelah ini"

"Biar gimanapun, dia masih orang tuamu. Sebesar apapun kesalahanmu, selalu ada cela di hatinya untuk memaafkanmu. Apalagi kamu gak bikin salah sama sekali"

"Dia gak datang. aku gak melihatnya"

"Hmm" mulut mama Kazuya bergumam "Aku gak tahu apa yang ada dipikirannya sih. Tapi mungkin saat ini dia lagi pundung di kamarnya. Dia emang selalu begitu kalau ada masalah. Seolah masalahnya selesai begitu saja kalau dia gak ngelakuin apa-apa" Geramnya "Tapi percayalah! Dia pasti memikirkanmu. Mungkin dia sedang memikirkan bagaimana cara menghadapimu" Lanjutnya sambil tertawa lagi. sepertinya mama Kazuya mempunyai stok tawa yang gak pernah habis "Memikirkannya saja sudah membuatku sakit perut"

"Aku gak yakin"

"Aku yakin"

Kazuya berdecih

Mama Kazuya berkata lagi. Dia bangkit dan duduk di samping Kazuya "Hei, aku serius! Aku mengenalnya lebih lama di bandingkan kamu. Mungkin dia sedang berperang dengan pikirannya. Kasih dia waktu untuk berdamai dengan dirinya. tapi dia gak akan bisa memaafkan dirinya sendiri kalau kamu gak bangun-bangun. Atau kamu membencinya? Kamu ingin menghukumnya dengan cara ini?"

"Sok tahu"

"Hentikan itu! kamu cuma menyakiti dirimu sendiri"

Kazuya terdiam.

"Berada disini hanya membuatmu terjebak dalam kegelapan abadi. Disini gak ada apa-apa. ini bukan tempat pelarian yang bagus. Aku cuma ingin kamu bahagia. Dan siapa lagi yang bisa membahagiakanmu kalau bukan dirimu sendiri. Lihat bocah itu!" Kazuya menatap kearah Eijun "Dia berada disampingmu setiap saat. Apa dia gak punya rumah? apa dia dibuang keluarganya? Dia kelihatan lebih pengen mati di banding dirimu. Tolonglah dia!"

"Gimana caranya?"

"Mana ku tahu!"

"Kamu cuma nyuruh-nyuruh tanpa ngasih solusi, kamu beneran orang tua?" Ketus Kazuya

"Ayolah, cuma kamu yang tahu! Kamu bisa melewati segala hal, masa nolong bocah seperti dia aja kamu gak sanggup?" Wanita itu tersenyum meremehkan kearah Kazuya. Dia kemudian meninju bahunya "Jadilah kuat, nak! Jangan mau kalah sama orang yang meremehkanmu! Kamu tahu apa hukuman terbaik yang bisa kamu berikan kepada orang-orang itu? Dengan hidup dan menunjukkan kalau kamu bisa bahagia saja itu sudah jadi siksaan terberat buat mereka"

"Gimana caranya?"

"Kamu banyak tanya, ya!" Balasnya "Yang bisa membahagiakan dirimu cuma kamu. jangan tanya aku! Lagipula kamu selalu melakukan semuanya sendiri. jatuh cinta sendiri, patah hati sendiri, mengobati dirimu sendiri, pergi kemana-mana sendiri, mengatasi masalahmu sendiri. Tanpa sadar kamu membangun tembok yang gak bisa ditembus oleh siapapun. Kamu butuh banyak bicara lagi dengan mereka"

"Hei, tunggu! Maksudmu apa?"

"Pikirkan sendiri! masa aku terus yang harus kasih tahu. Dan sekarang saatnya kamu bangun" Lanjutnya lagi. Kazuya melihat percikan listrik yang keluar dari tangannya.

Apa-apaan itu? Chidori? Raikiri?

"Tapi aku.."

"Seratus ribu volt!" Teriaknya. Percikan listrik di tangan wanita terlihat semakin besar.

"Kamu mau apa.."

"Pikaaa"

"Hei, Stop!"

"CHUUUUUU!"

...


...

Seperti ada aliran listrik kuat yang menyengatnya, Kazuya dipaksa membuka mata, seluruh syarafnya terkejut. Tubuhnya tahu dia belum siap menerima seluruh dorongan itu. Kazuya berontak ketika seseorang memeganginya. Dia ingin teriak, ingin marah, ingin menangis. Ada yang berbisik pelan ke telinganya, menyebut namanya sambil terisak. Dia seperti di lempar menuju dunia lain yang menyilaukan.

Emosi di dalam tubuh Kazuya mengalir kedalam perutnya, terombang-ambing dan membuat seluruh selnya bergejolak tak karuan. Dalam satu tarikan nafas, semua tumpah ruah, mengalir melalui mulutnya. Rasanya pahit, bau, tidak enak.

Kazuya batuk. Anehnya, kini dia merasa lebih tenang. Keinginannya untuk mengamuk sudah menghilang.

"Kazuya.." Mata emas itu menatapnya khawatir. Kazuya mengerjap. Terlalu menyilaukan. Dia tidak ingin bangun dulu.

Tapi rasa sakit di tubuhnya memaksanya membuka mata.

"Pelan-pelan saja! Jangan di paksa, nanti badanmu tambah hancur"

Siapa itu? Youichi?

Dokter dan perawat datang. Semua yang mengelilingi Kazuya mundur perlahan.

Entah apa yang dilakukan dokter dan perawat itu, tapi yang jelas rasa sakitnya menghilang. Kazuya bisa bernafas dengan lebih baik. Tak seperti menghirup ribuan jarum dan memasukkannya ke paru-parunya lagi.

Dokter itu mengajaknya bicara, menanyakan satu dua hal yang Kazuya jawab sebisanya saja. Dia tersenyum lega dan mengatakan sesuatu lagi, kemudian pergi meninggalkan kamar setelah bicara dengan seseorang.

"Miyuki, kamu masih kenal kami, kan?" Kazuya yakin itu Youichi, tapi dengan menggunakan benda menyebalkan di lehernya ini, dia tidak bisa menoleh.

"Miyuki-san!" Haruichi menatapnya. Wajahnya basah dan memerah. Kenapa ni bocah? "Kamu gak mati"

"Hoy, idiot" Satoru mendesis sambil menjitaknya.

"Maaf!" Haruichi nyengir "Tadi kamu ngamuk-ngamuk, tapi bisa tenang sendiri. Biasanya harus dikasih obat penenang dulu sama dokter. Tapi kata Okumura, sebaiknya gak usah karena kesadaranmu udah meningkat. Dia bilang kamu pasti bisa menghadapinya tanpa obat penenang"

Yang namanya disebut Haruichi tadi berdiri di belakang sana masih dengan tampang lempengnya. Dia mengangkat bahu seolah tak acuh. Dan melihatnya berdiri disana adalah hal yang cukup aneh, untuk seseorang yang pernah mengaku 'bukan temannya'.

"Tapi tiba-tiba kamu kesakitan. Akhirnya terpaksa kami panggil dokter. untungnya mereka gak bikin kamu tidur lagi" Youichi duduk di sebelahnya "Nabe dan Sawamura lagi bicara dengan dokter tentang kondismu. Dan, papamu belum datang sampai sekarang" Youichi berkata lagi

"Guys.."Sejak kapan berbicara saja menjadi semenyakitkan ini?

"Apa? kamu butuh sesuatu?" Youichi mendekatinya. Kalau sampai Kazuya membuat Youichi berwajah khawatir begitu, pasti yang terjadi padanya sangat mengerikan.

Suara Kazuya menghilang. Padahal dia ingin mengatakan sesuatu, walau tak yakin. Tenggorokannya perih. Yang berhasil keluar hanya suara batuk.

"Butuh air?" Satoru menyodorkan botol air mineral dan sedotan plastik kepadanya.

"Tumben kamu pinter" Ledek Youichi

"Sama-sama" Jawab Satoru masih sekalem biasa.

Youichi mengambil botol air mineral dan sedotan dari tangan Satoru, kemudian mengarahkan sedotannya ke mulut Kazuya. Kazuya minum dengan rakus, mulutnya kering dan lidahnya terasa pahit. Dia juga bisa merasakan bau mulutnya yang aneh. Mungkin karena muntah tadi.

"Maaf" Kazuya berkata. Suaranya nyaris tak keluar

Hening.

Tatapan Youichi lurus kepada Kazuya. Pusing menyerangnya lagi. Kenapa semua terasa berputar? Apa otak Kazuya lagi main lompat tali?

"Buat apa?" Suara Youichi rendah dan datar.

Buat apa? gak tau juga buat apa dia minta maaf. Mungkin Kazuya masih belum waras sepenuhnya. Mungkin dia hanya sedang meracau saja.

"Ja-jangan mati!" Haruichi terisak dengan suara mirip tikus kejepit. Satoru mendelik kearahnya "A-aku gak akan mengumpatimu lagi. Aku gak akan mengumpat kepada siapapun lagi. Aku akan banyak senyum, gak akan teriak-teriak lagi. tapi tolong jangan mati"

Huh?

"Ja-nji, ya?"

Haruichi mengangguk.

"Ya udah, aku gak mati"

Tawa Youichi meledak. Satoru menutup mulut. Koushu mengusap-usap kening. Terdengar dia berusaha menahan tawa, tapi gagal juga.

Haruichi kebingungan.

"Dasar bego! Bisa-bisanya di kerjain orang sekarat" Ledek Koushu di tengah tawanya.

"SIALAN KALIAN!"


Fyuuh.. satu chapter lagi saya syikat! *Lap jidat

Makasih buat yang masih setia menyimak kerecehan saya. Dan maaf kalau emaknya Kazuya kelakuannya sableng plus geblek begitu. saya keracunan KonoSuba.. keracunan si Megami sableng. Uhuuk!

Sampai ketemu lagi!

Jangan lupa bahagia dan jangan lupa nafas! Kalo lupa nafas, yang ribet orang lain soalnya!

Bye!