Fiction

Chapter 14

Sasuke Uchiha

Sakura Haruno

Gaara

Karin Uzumaki

Hurt/confort, Drama, romance

WARNING! AU, TYPO, MAINSTREAM, OOC, DLDR!

Happy reading

o0o

Sakura menatap datar atasannya yang menunjukan wajah kesal, Kakashi memanggilnya dan ia tahu apa yang menjadi penyebab pria bersurai perak itu kesal.

"Kenapa kau menghindari Uchiha Sasuke?" Kakashi menatap tajam Sakura. Ia sangat kesal karna harus berurusan dengan Uchiha yang lebih menjengkelkan dari temannya.

"Aku rasa kau sudah tahu jawabannya." Sakura tidak peduli jika ia tidak sopan pada atasannya itu. Kesabarannya sudah habis saat tahu apa yang dilakukan pria dihadapannya dengan Sasuke dibelakangnya.

"Apa maksudmu?" Kakashi terlihat marah pada Sakura.

"Saat pertama kali aku masuk kerja di kantor ini aku merasa seperti pernah melihatmu. Dan aku mengingatnya semalam, kau menjadi best man saat pernikahan Obito jisan." Kakashi terkejut mendengar pernyataan Sakura, ia tidak menyangka gadis itu mengingatnya.

"Hn, kau benar aku teman Obito tapi bukan berarti aku tahu apa alasanmu menghindari Sasuke." Kakashi menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya. Ia tahu banyak staffnya yang mencuri pandang pada mereka.

"Kenapa kau melakukannya?" Sakura mencoba menahan amarahnya pada pria bermarga Hatake, Kakashi mengangkat alisnya bingung dengan ucapan Sakura.

"Mendekatkanku dengan Uchiha padahal kau tahu aku memiliki kekasih bahkan Gaara beberapa kali menyapamu saat dia menjemputku." Sakura menaikan nada bicaranya, ia sangat marah mengingat bagai mana pria dihadapannya memaksanya untuk makan siang bersama Sasuke.

Kakashi memejamkan matanya, ia benar-benar dalam masalah saat ini. Menghadapi gadis yang sedang marah bukanlah hal menyenangkan.

"Sakura, terkadang seseorang mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Sasuke ingin memperbaikinya." Kakashi mencoba berbicara selembut mungkin untuk menenangkan Sakura. Tapi ia salah kata-katanya justru membuat gadis didepannya meledak.

"Memperbaiki katamu. Apa kau tahu apa yang terjadi diantara kami dimasa lalu?" Sakura semakin meninggikan suaranya sehingga semua staff menatapnya. Mereka tertarik dengan masa lalu Sakura dan pria Uchiha yang selalu datang ke divisi mereka.

"Dia Uchiha Sasuke mencapakkanku satu hari sebelum hari pernikahan kami dan memilih menikah dengan mantan kekasihnya!" Sakura nyaris berteriak membuat semua orang terkejut. Bukan saja karna suaranya tapi kenyataan jika ia pernah hampir menikah dengan Uchiha Sasuke.

Kakashi terdiam mengetahui fakta hubungan Sasuke dan Sakura yang sebenarnya. Sasuke hanya mengatakan jika karna kesalahannya Sakura pergi meninggalkannya tanpa memberitahu apa kesalahan yang ia lakukan.

"Kau mendekatkan ku dengan Sasuke. Membuatku menjadi bahan gosip semua karyawan mereka menyebutku jalang yang menggoda pria beristri." Sakura menunjuk wajah Kakashi, ia sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.

"Kau membuatku menghianati kekasihku. Kau juga membuatku menyakiti hati Karin. Apa kau pernah memikirkan perasaan Gaara dan juga istri Uchiha itu." Tanpa sadar Sakura sudah menangis. Ia mengusap kasar air matanya.

"Aku mengundurkan diri." Sakura meletakan surat pengunduran dirinya dan membungkuk hormat pada Kakashi lalu kembali ke mejanya.

Kakshi menghela nafas lelah ia tidak menyangka akan berakhir sangat kacau seperti ini. Bahkan ia tidak tahu jika ada gosip yang beredar tentang Sakura, atau mungkin memang dirinya yang tidak pernah memperhatikan sekitar. Pria itu tidak tahu jika Sasuke sudah menikah karna tidak memakai cincin pernikahan. Seharusnya ia tidak mencampuri urusan mereka.

o0o

Gaara memutuskan untuk pulang ke Suna meskipun pekerjaannya belum selesai. Ia meminta pamannya untuk menggantikannya dan Yashamaru menyetujuinya. Ia tidak pulang kerumah melainkan ke apartemen pamannya. Gaara kembali ke Suna dengan pesawat pertama pagi ini.

"Jadi kau kembali karena foto yang kukirimkan?" Pakura duduk di sofa dihadapan Gaara setelah wanita itu meletakan secangkir kopi.

Gaara tidak pernah menyangka jika kekasih pamannyalah yang mengiriminya foto-foto itu.

"Aku melihatnya disana dengan bocah Uchiha. Kupikir itu hanya pertemuan tidak sengaja tapi mereka datang bersama setiap hari." Gaara menundukkan wajahnya. Ia tidak yakin jika Sakura menghianatinya tapi Pakura tidak mungkin berbohong terlebih lagi dengan bukti foto-foto itu.

"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu jika gadis itu hanya menjadikanmu pelarian dari rasa sakitnya karna Uchiha Sasuke."

"Aku tidak tahu, Sakura baru saja mengatakan jika dia mencintaiku." Suara Gaara terdengar gamang.

"Kau bisa membuktikannya sendiri. Pergilah saat jam makan siang, kau akan tahu kebenarannya." Pakura meninggalkan Gaara sendirian.

Ia sudah memutuskan akan pergi seperti yang disarankan Pakura. Sebuah topi base ball menutupi rambut merahnya, ia memilih duduk didekat jendela agar dapat melihat jika Sakura datang.

Dan benar Sakura datang bersama Sasuke. Mereka duduk di meja disebelah meja yang ia tempati. Ia tidak mendengar Sakura berbicara pada Sasuke dia hanya memanggil pelayan dan memesan makanan. Rasanya ia ingin menarik Sakura kepelukannya dan membawa gadis itu pulang tapi ia harus bersabar dan mencari tahu apa yang terjadi antara kekasihnya dan pria Uchiha itu.

"Kenapa kau menghindariku?" Sasuke memecahkan keheningan diantara ia dan Sakura. Gaara menyesap kopinya dan tetap menfokuskan pendengarannya pada percakapan dua orang disebelahnya.

"Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan." Sakura menjawab tak acuh pertanyaan pria yang duduk dihadapannya. Senyum tipis merekah dibibir Gaara, ia tahu jika Sakura telah menolak kehadiran pria Uchiha itu.

"Aku masih sangat mencintaimu, kembalilah padaku." Sasuke tidak menyerah dan menyatakan perasaannya. Pemuda berambut merah itu meremas cangkir kopi miliknya, pria Uchiha itu gila. Ia sudah memiliki istri tapi meminta kekasihnya untuk kembali padanya.

"Kau sudah gila Uchiha. Kau sudah memiliki istri." Sakura tidak lagi menyembunyikan amarahnya pada Sasuke nada suaranya meninggi. Rasanya pemuda berambut merah itu ingin bersorak melihat penolakan kekasihnya.

"Aku sudah bercerai." Ia melihat sakura terkejut mendengar pernyataan pria Uchiha itu. Ia mengerti kenapa pria itu kembali mendekati kekasihnya karna ia sudah tidak bersama Karin.

"Aku sudah bertunangan. Dan kami akan menikah." Gaara melihat Sakura mengangkat tangan kirinya menunjukan cincin bermata rubby yang ia berikan.

"Kau tahu aku sangat hancur ketika kau mencampakan ku. Bagaimana mungkin aku akan menghancurkan hati orang yang telah menyelematakan ku," Sakura menghela nafasnya.

"Aku sudah merelakanmu ketika kau memilih melangkah bersama Karin dan meninggalkan ku di belakang kalian." Gaara merasakan hatinya menghangat. Ia teringat saat Sakura meneleponnya dan memintanya untuk percaya pada gadis itu.

"Apa kau masih mencintaiku?" Gaara menajamkan pendengarannya, ia juga ingin tahu bagaimana perasaan Sakura pada pria itu.

"Tidak mudah bagiku menghapus perasaan itu tapi, perasaan itu telah ku letakan di sisi hatiku yang lain. Dan yang ku rasakan saat ini adalah aku sangat mencintai tunanganku." Gaara merasa sangat bahagia mendengar jawaban Sakura.

"Aku tidak akan lagi melukainya seperti yang ku lakukan dulu. Ataupun seperti yang kau lakukan padaku." Sakura meletakan garpunya dan meraih tas miliknya.

"Terimakasih makan siangnya." Gadisnya berlalu meninggalkan pria Uchiha itu. Dan Gaara ikut beranjak pergi dari mejanya mengikuti kekasihnya.

o0o

Buku jarinya memutih karna terlalu erat mengepal. Sasuke merasakan denyutan sakit dijantungnya. Nafasnya memberat karena rasa sesak seolah paru-parunya menyempit. Sakura menolaknya, gadis itu telah memilih Gaara bukan dirinya.

Ia menyesal telah melepaskan kekasihnya itu dulu. Dan ia terlalu angkuh berfikir jika Sakura akan selalu mencintainya seperti dirinya mencintai gadis itu.

Onyx miliknya menatap nanar kursi yang ditinggalkan Sakura menyisakan kekosongan yang juga dirasakan oleh hatinya. Mungkin inilah yang Sakura rasakan ketika ia mencampakannya atau bahkan jauh lebih sakit lagi ia sendiripun tidak tahu.

Sasuke menyesap kopi tanpa gula miliknya, ia mengernyitkan alisnya ketika cairan pekat itu mengaliri tenggorokannya. Rasanya lebih pahit dari biasanya dan ia tersenyum kecut saat menyadari inilah rasanya patah hati. Dulu dengan angkuh dan bodohnya ia telah mematahkan dua hati milik orang yang mencintainya dengan tulus.

Ia melihat seorang pria dengan topi base ball berdiri dan mengikuti Sakura, helaian merah terlihat keluar dari topi itu.

"Kau menguping pembicaraan kami huh." Sasuke berbicara pada dirinya sendiri. Ia sama sekali tidak menyadari keberadaan Gaara jika saja itu adalah dirinya ia pasti sudah menyeret Sakura saat tahu kekasihnya bertemu pria lain.

Mungkin ini adalah karma yang harus ia terima karena telah menyakiti Sakura. Ia harus merelakan gadis yang ia cintai bahagia bersama pemuda yang juga mencintainya. Sejak dulu ia selalu cemburu pada Gaara karena setiap kali ia dan Sakura bertengkar, gadis itu akan berlari kedalam pelukannya. Sasuke menyadari jika Gaara mencintai Sakura tapi pemuda itu tidak pernah sekalipun berniat merebut Sakura darinya.

Gaara selalu mendorong Sakura kembali padanya. Dan yang ia lakukan justru sebaliknya meminta pemuda itu untuk menjauhi kekasihnya, dia melakukannya dengan perlahan tanpa menyakiti Sakura pemuda itu mulai menjauh. Hingga Sakura merasa gelisah karena menyadari jika Gaara mulai menghindarinya dan memaksanya untuk menemani kekasihnya menemui sahabatnya itu di Suna.

Sakura dan Gaara mereka tumbuh bersama, Sasuke bertanya-tanya sejak kapan pemuda beraurai merah itu jatuh cinta pada Sakura. Berapa lama dia menyembunyikan perasaan itu pada sahabat sejak kecilnya? Dan ia tidak pernah berhenti mencintai Sakura meski gadis itu akan menikahinya. Sasuke memijat pangkal hidungnya membayangkan bagaimana perasaan Gaara selama ini.

Senyum kecut kembali menghiasi bibirnya, Sasuke sadar ia sudah kalah dari Gaara sejak ia melepaskan tangan Sakura. Ia lupa jika Gaara akan selalu ada untuk Sakura dan cinta pemuda itu lebih tulus dan murni dari cintanya. Jika ia pernah bimbang pada perasaannya karena kehadiran Karin maka Gaara tidak pernah melihat gadis lain selain Sakura.

Sasuke meletakan beberapa lembar uang dan meninggalkan mejanya. Ia memutuskan untuk kembali ke Konoha, ia bersyukur bisa menghabiskan sedikit waktu dengan Sakura meskipun terlihat jelas gadis bersurai pink itu enggan untuk berada didekatnya. Setidaknya rasa rindunya telah terobati meski ada rasa sakit yang kini bersemayam dalam hatinya

Seharusnya ia mendengarkan nasehat dari Ayahnya untuk tidak mengejar Sakura dan mencoba mendapatkan cintanya kembali. Melepaskan gadis itu adalah pilihan terbaik untuknya juga Sakura. Dia telah memulai lembaran hidupnya yang baru bersama Gaara meninggalkan kisah masa lalu yang terjalin bersamanya.

Ia teringat pesan yang dikirimkan sahabatnya Suigetsu. Pemuda itu mengatakan jika Karin tinggal bersamanya, ia merasa lega karena mantan istrinya telah melangkah maju. Ia selalu mendoakan kebahagiaan Karin.

o0o

Senyum tipis menghiasi bibir Sakura, ia merasa sangat lega setelah mengatakan semuanya pada Sasuke. Entah kenapa ia seperti merasakan kehadiran Gaara saat ia bersama Sasuke di restaurant itu.

"Mungkin aku terlalu merindukannya sampai berfikir jika Gaara ada disana." Sakura terkekeh geli.

Perutnya terasa sakit lagi, sejak bertengkar dengan Gaara ia tidak makan dengan teratur belum lagi pekerjaan yang membuatnya harus lembur hingga larut dan kedatangan Sasuke yang membuatnya semakin tertekan. Membuatnya sering merasakan perih pada perutnya, ada mini market disebrang kantornya ia akan membeli obat lambung disana.

Sebuah tangan meraih jemarinya dan meremasnya lembut. Jantungnya berdegup kencang, ia tahu siapa pemilik telapak tangan yang kini jari panjangnya beratautan dengan jari lentiknya tanpa harus melihat wajah pemuda yang berjalan di sisinya. Ia terlalu hafal dengan sentuhan dan rasa hangat yang tersalurkan dari tautan jari mereka.

Aroma cytrus dan sandalwood menguar dari tubuh pemuda itu, Sakura ingat ia yang memberikan parfum itu untuk Gaara ketika mereka memasuki usia pubertas sebagai hadiah ulang tahun dan hingga saat ini pemuda itu tidak pernah mengganti parfumnya.

"Okaeri Gaa chan." Sakura menoleh melihat wajah pemuda yang dirindukannya selama ini.

"Tadaima." Senyum tipis menggantung di bibir Gaara mengirimkan gelenyar hangat yang mengisi rongga dada Sakura.

Ia merasa sangat bahagia melihat senyum Gaara kembali rasanya sudah sangat lama sekali ia tidak melihat senyuman itu.

Sakura mengejapkan matanya saat pusing mendernya, perutnya terasa sangat sakit hingga tubuhnya gemetar.

"Daijobu ka?" Gaara menghentikan langkahnya saat Sakura meremas tangannya kuat.

"Itai yo Gaara." Sakura merengek tangan kirinya menyentuh perutnya. Pandangannya mengabur dan berubah gelap.

"Sakura!!" Ia mendengar Gaara berteriak memanggil namanya tapi tubuhnya terasa sangat lemas dan matanya tidak mau terbuka hingga kesadarannya benar-benar hilang.

Gaara menggendong Sakura yang tiba-tiba saja pingsan membuatnya sedikit panik, ia bedecak kesal karna memarkir mobilnya dia arah yang berlawanan dengan mereka berjalan tadi. Gaara tahu jika tadi Sakura ingin kembali ke tempat ia bekerja.

Satu hal yang Gaara sadari ketika ia menggendong tunangannya wajah gadis itu terlihat lebih tirus dibandingkan terakhir mereka bertemu sebelum dirinya pergi ke Kumo. Kantung mata Sakura terlihat sangat tebal.

Pemuda berambut merah itu mencoba menenangkan dirinya ia tidak boleh panik saat menyetir karna bisa membahayakan mereka mereka berdua. Tangan kirinya sesekali membelai kepala Sakura.

Ia mengehntikan mobilnya didepan pintu lobi IGD, dua orang perawat langsung mendorong brankar menuju ke arah Gaara yang menggendong Sakura.

"Apa yang terjadi dengan pasien?" Perawat yang memeriksa denyut nadi Sakura bertanya.

"Tunanganku tiba-tiba saja pingsan saat kami sedang berjalan." Gaara menatap Sakura yang terbaring lemah.

Kedua perawat itu mendorong Sakura memasuki sebuah ruangan tak lama Gaara melihat seorang wanita tua berjas putih masuk keruangan itu juga.

Tidak lama dokter itu kembali keluar. Gaara mendekatinya, mencoba tenang is bertanya.

"Bagaimana keadaan tunanganku sensei?" Nada panik masih terdengar dari suaranya.

Dokter itu tersenyum. "Ia baik-baik saja. Hanya mengalami malnutrition dan kelelahan."

Ia menghela nafas merasa sangat lega karna sakura baik-baik saja. Gaara teringat pembicaraannya dengan Temari, kakanya memberitahu jika Sakura tidak pernah sarapan dan selalu lembur.

"Aku akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut setelah dia sadar. Kau tak perlu hawatir."

"Arigatou Sensei." Gaara berojigi.

"Tuan kami akan membawa nona ini ke ruangan rawat inap. Silahkan anda mengisi data pasien di bagian admistrasi."

"Aa, baiklah." Gaara melihat kedua perawat itu mendorong brankar yang ditempati Sakura ke arah yg berlawanan dengannya.

Setelah selesai mengurus admistrasi untuk perawatan Sakura. Gaara memasuki kamar rawat tunangannya. Gadis musim itu terlihat lelap dalam tidurnya. Jika saja ia dalam keadaan sadar mungkin gadis itu akan berteriak histeris saat perawat memasang infus ditangannya, gadis itu takut dengan jarum suntik.

Gaara menyentuh tangan Sakura yang tidak diinfus, ia meremasnya lembut mencoba menyalurkan perasaannya pada gadis itu.

"Gomene." Dikecupnya tangan yg ada di genggamannya itu.

"Seharusnya aku menjaga mu tapi yang terjadi justru membuatmu sakit seperti ini." Gaara menatap sendu wajah pucat Sakura. Ia menyesali kebodohannya dan betapa pengecutnya ia karena tidak berani meminta penjelasan dari Sakura tentang foto itu membuatnya menyakiti gadis itu.

Gaara melihat Sakura tampak gelisah dalam tidurnya. Ia membelai lembut kepala Sakura dan berbisik.

"Aku disni, jangan takut." Dan nafas gadis itu kembali terartur dan menjadi tenang.

o0o

Sakura merasakan kehangatan ditelapak tangan kanannya. Seseorang menggenggam tangannya, tapi rasa sakit dikepalanya menahan dirinya untuk membuka mata. Ia mencoba memaksa untuk membuka matanya, hingga ia seperti mendengar suara kekasihnnya.

"Aku disini, jangan takut." Ia merasakan belaian lembut dikepalanya membuatnya lebih tenang. Ia dapat merasakan sentuhan Gaara tapi matanaya masih terasa berat untuk dibuka.

Setelah beberapa waktu akhirnya matanya terbuka perlahan. Dan warna merah adalah yang pertama kali ia tertangkap retinanya.

"Gaara." Pemuda yang sedang memainkan ponselnya itu menoleh saat mendengar suara Sakura.

"Hm, kau butuh sesuatu?" Gaara menyentuh pipi Sakura.

"Aku haus." Sakura semakin mendekatkan pipinya pada telapak tangan besar kekasihnya.

Gaara membantu Sakura duduk lalu meraih gelas berisi air dari nakas di sebelah ranjang Sakura. Dan membantu gadis itu minum dengan perlahan.

Sakura menatap sekelilingnya, ia sadar jika dirinya berada di kamar rumah sakit. Ia kembali merasakan nyeri diperutnya.

"Ughh." Sakura meremas perutnya yang terasa perih. "Perutku sakit."

"Tidak apa-apa dokter bilang kau mengalami malnutrition dan kelelahan." Gaara menyentuh perut Sakura dan mengelusnya lalu kembali membaringkan kekasihnya.

"Kenapa kau tidak makan teratur?" Dengan suara lembut Gaara bertanya pada Sakura.

"Memangnya salah siapa dia tidak nafsu makan dan tidak bisa tidur." Sebuah suara dari pintu kamar rawat menjawab pertanyaan Gaara dengan pernyataan yang menohok Gaara.

Tanpa harus melihat pemilik suara Gaara tahu siapa orang yang sedang melangkah mendekatinya.

"Bugh!"

"Ouch!" Gaara tidak menyangka Kakak perempuannya akan menghantamkan tas tangan yang ia bawa ke kepalanya.

Temari duduk di tepi ranjang Sakura. "Bagaimana keadaanmu?"

"Aku baik-baik saja nee-chan." Sakura tersenyum meyakinkan wanita dewasa yang duduk dihadapannya.

"Yokatane. Aku hanya datang mengantarkan pakaianmu. Gaara bilang kau akan menginap disini semalam untuk pemeriksaan." Temari memberikan tas yang ia bawa kepada Gaara.

"Aku terkejut dia meneleponku dan memberitahu jika kau tidak sadarkan diri dan dilarikan ke Rumah Sakit. Padahal selama dua bulan aku tidak bisa menghubunginya." Temari menatap tajam adiknya, Gaara hanya mengangkat bahu tak acuh pada sang kakak.

"Jadi apa yang membawamu kembali ke Suna Tuan Gaara?" Temari melipat tangannya dan berdiri, ia terlihat seperti seorang polisi angkuh yang sedang menginterogasi penjahat.

"Aku merindukan kekasihku, dan aku menemuinya. Dimana salahku?" Sakura merona mendengar alasan kekasihnya kembali ke Suna.

Temari langsung menarik telinga Gaara. "Manis sekali." Ucapnya dengan nada mengejek, "Kau tidak memberi kabar selama dua bulan lalu datang dan mengatakan rindu pada Sakura. Memangnya kau ini remaja puber? Cemburu lalu melarikan diri?"

Gaara meringis merasakan sakit ditelinganya tapi tidak memberontak. Sakura terkikik geli melihat Temari menjewer Gaara seperti seorang ibu yabg sedang memarahi anaknya karena menjahili temannya.

Sakura membelai lembut telinga Gaara yang memerah dengan ibu jarinya. Ia tersenyum pada kekasihnya yang hanya diam mendengarkan kaka perempuannya mengomel tentang bagaimana bersikap dewasa.

"Istirahatlah, aku pulang dulu." Temari mengecup pipi Sakura dan keluar dari ruang rawat gadis itu.

Seorang perawat mengantarkan makan malam untuk Sakura. Semangkuk bubur yang sedikit encer, perawat itu mengatakan jika Sakura itu untuk membiasakan sistem pencernaan Sakura karena mungkin ia mengalami peradangan lambung.

"Aku tidak mau." Sakura memunggungi Gaara. Ia memang suka makan bubur tapi tidak yang seperti itu, dirinya bukanlah bayi yang tidak punya gigi.

"Saki, kau harus makan. Perutmu akan semakin sakit kalau kau tak mau makan." Gaara mencoba membujuk kekasihnya.

Sakura menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. "Aku tidak mau, aku mau makan bubur telur."

"Aku akan buatkan saat kau pulang." Masih dengan sabar Gaara mencoba membujuk kekasihnya. Sakura yang sedang sakit akan lebih manja dibandingkan anak balita, sejak dulu dia selalu seperti itu.

"Aku akan menyuapimu." Ditariknya selimut yang menutupi tubuh mungil Sakura. Dan ia mendapati mata kekasihnya berkaca-kaca.

"Aku tidak mau, makanan rumah sakit rasanya tidak enak." Sakura merengek.

"Hanya malam ini, besok pagi aku akan minta Tema nee membawakan bubur untukmu." Gaara membafu Sakura duduk.

Gaara mulai menyuapi Sakura dan entah kenapa air matanya mulai mengalir di kedua pipinya.

"Tidak enak." Sakura kembali merengek tapi Gaara tidak menghentikan setiap suapan bubur yang ia masukan kedalam mulut Sakura dan gadis itu tetap membuka mulutnya meskipun sembari menangis tidak mencoba untuk menolak.

"Gaaraaa..." Sakura kembali merengek setelah menelan buburnya.

Tok... tok... tok.

Ketukan di pintu menghentikan tanganngnya yang sedang menyendok bubur. Gaara meletakan mangkuknya ketika dua orang muncul dari balik pintu, ia mengenal dua orang itu, mereka rekan kerja Sakura. Gaara membersihkan sisa makanan dibibir Sakura menggunakan tisu.

Pipi Shiho memerah melihat bagaimana Gaara memperlakukan Sakura. Ia melihat saat pemuda itu menyuapi Sakura dari kaca pintu ruang rawat Sakura dan gadis itu merengek manja. Dan ini adalah pertama kalinya ia melihat Gaara memakai pakaian kasual. Pemuda itu terlihat lebih tampan dan seperti anak kuliahan. Ia terlalu terbiasa melihat Gaara dengan pakaian formal ketika menjemput Sakura dan pemuda itu terlihat sangat dewasa.

"Shiho senpai." Sakura menyapa rekan kerjanya.

"Aku kemari mengantarkan tasmu." Shiho menyerahkan tas milik Sakura.

"Dan semoga kau lekas sembuh Sakura." Idate memberikan keranjang buah pada Gaara.

"Arigato." Gaara meletakan keranjang buah di nakas. Gaara merasakan kecanggungan diantara mereka, ia tahu ada yang ingin dikatan kedua orang itu pada Sakura.

"Sakura, aku akan menelepon Jii-san sebentar." Gaara mengangguk pada kedua teman Sakura dan keluar.

"Sakura, tentang Uchiha apa kekasihmu tahu?" Shiho bertanya begitu ia yakin jika Gaara sudah pergi.

"Maksud senpai?" Sakura mengernyitkan alisnya karena Shiho tiba-tiba bertanya tentang Sasuke.

"Maksudku, masa lalumu dengan Uchiha. Dan apa yang terjadi akhir-akhir ini, apakah ia tahu?" Shiho menatap lekat mata Sakura, gadia itu menunduk.

"Aku mengenalnya sejak kecil, ia tahu semuanya." Sakura berkata pelan. "Hanya saja, aku belum mengatakan jika aku bertemu Sasuke lagi."

"Sakura, Kakashi san memintaku mengembalikan ini." Shiho memberikan surat pengunduran dirinya yang siang tadi ia berikan kepada atasannya.

"Fikirkanlah kembali, Kakashi memberimu cuti hingga kau sembuh." Idate yang sejak tadi diam akhirnya buka suara.

"Keputusanku sudah bulat. Tolong sampaikan pada Kakashi san, keputusanku sudah bulat aku berhenti." Ujar Sakura penuh keyakinan.

"Baiklah kalau begitu kami permisi." Shiho memeluk Sakura. "Semoga kau lekas sembuh."

Shiho melihat Gaara duduk di kursi yang ada di koridor tidak terlalu jauh dari kamar Sakura sedang meminum sekaleng kopi. Gaara menghampirinya dan Idate yang berdiri di pintu kamar Sakura.

"Sabaku san apapun yang dikatakan Sakura percayalah. Dia tidak pernah menghianatimu." Ia tidak tahu apa yang mendorongnya mengatakan itu hanya saja ia khawatir jika nanti pemuda itu berfikir jika Sakura menghianatinya karena bersama Sasuke.

"Aa, aku mengenalnya lebih dari siapapun." Gaara tersenyum tipis membuat hati Shiho lega.

"Terimakasih sudah menjaganya di Kantor." Gaara membungkukkan badannya pada Shiho. "Sakura selalu bercerita tentang kalian."

Gaara berlalu masuk dan melihat Sakura menatapnya penasaran.

"Apa yang kau bicarakan dengan Shiho senpai?" Ia melihat kekasihnya berbicara dengan kedua seniornya dari kaca pintu.

"Bukan apa-apa." Gaara meraih surat yang dipegang Sakura. "Pengunduran diri?"

"Uhmm, aku berhenti." Sakura memainkan jarinya.

"Kenapa?" Gaara tau Sakura menyukai bekerja di tempat itu. Dan tiba-tiba kekasihnya memutuskan untuk berhenti bekerja.

"Aku ingin di rumah saja. Bagaimana jika kita menikah?" Gaara tersedak ludahnya sendiri mendengar perkataan Sakura.

"Apa kau sedang melamarku?" Gaara bertanya menggoda.

"Kau tidak mau? Ya sudah, aku akan mencari pria yang mau menikahiku saja." Sakura memanyunkan bibirnya merajuk.

"Musim semi." Ujar Gaara tegas.

"Apa?" Sakura bertanya bingung.

"Saat kau berulang tahun yang ke 22 musim semi nanti, kita akan menikah." Gaara tersenyum lembut dan memeluk kekasihnya. "Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu." Sakura mengecup sudut bibir Gaara.

TBC

Thanks for reading

Votte n comente please

With love

Lovely odapus

27122019