"KELUAR! atau aku akan melakukan hal lebih tak manusiawi dari ini..!"
"Chanyeol-sajangnim..."
"Kau dipecat. Ini pesangonmu bulan ini. Jika aku melihatmu ada di hadapanku, kau mati di tanganku!"
"Sajang—"
"KUBILANG KELUAR...!"
Bahu Sehun tak sengaja ditabrak seorang wanita yang baru saja keluar dari Ruang CEO XiLu Corporation. Wanita itu cantik dan pakaiannya sedikit terbuka. Dia menangis dan sekilas Sehun mendengar isakannya.
Sehun berbalik memandangi wanita tersebut. Alis kanannya naik penuh pemikiran. Ketika Sehun hendak masuk ke ruang CEO, beberapa karyawan dan karyawati yang berlalu lalang di lorong ini berbisik-bisik.
Sehun menguping. Hitung-hitung mengetahui kondisi perusaahan sang istri lewat kegiatan rumpi.
"Sekretaris Jeon baru saja dipecat?"
"Astaga! Dipecat dari perusahaan ini artinya tak ada masa depan untukmu!"
"Yup! Secara otomatis jika kau dipecat dari perusahaan ini, artinya perusahaan lain takkan mau menerimamu. Kalau aku, lebih baik minta resign daripada dipecat."
"Aku tak habis pikir. Bodoh sekali menggoda Chanyeol-sajangnim agar naik gaji."
"Heol! Gaji sekretaris Wakil Presdir itu sudah sangat tinggi, apalagi ini XiLu Corp, ya Tuhan! Memangnya keahliannya seistimewa apa sih sampai harus minta naik gaji?"
"Kan semua orang tahu. Keahlian istimewanya itu jadi jalang di ranjang. Karakternya bobrok begitu jelas baiknya dibuang saja."
"Sekarang aku mengagumi karakter pria seperti Chanyeol-sajangnim. Pria sepertinya seharusnya tergoda tapi Sekretaris Jeon malah dipecat. Rasakan!"
"Aku sependapat denganmu."
"Sst! Sst! Dia...?"
"Oh my God! Beliau suaminya Lady Luhan! Sehun-sajangnim!"
Sehun yang merasa namanya disebut menunjuk dadanya sendiri, "kalian memanggilku?"
Dua wanita di antara lima karyawan mengangguk. Keseluruhan karyawan di lorong terkesima pada senyum teduh Sehun.
Nyaris semua karyawan yang berjalan melewati Sehun bersikap segan padanya. Bahkan sudah jadi kebiasaan para karyawan XiLu Corporation untuk menghormati Sehun. Termasuk membungkuk hormat sambil menyapa, "pagi Sehun-sajangnim."
Seperti biasa, Sehun akan balas tersenyum tampan hingga mematangkan pipi tiap kaum hawa.
Para karyawan yang tadi bergosip memutuskan kembali ke tempat mereka masing-masing, tepat saat Chanyeol berjalan cepat keluar dari ruangan. Sehun awalnya ingin menyapa tapi urung karena Chanyeol tidak menyadari eksistensinya. Baru sekembalinya Chanyeol dari suatu tempat, sepertinya toilet, pria bertelinga lebar itu membulatkan mata belonya.
"Tuan Muda?"
Tangan Chanyeol masih basah. Punggung tangannya sibuk menggosok-gosok bibirnya sendiri seolah bibirnya baru dikenai kotoran.
"Ayo masuk, tuan Muda," pria itu memaksakan senyum. "Mengapa anda terus berdiri di luar ruangan?"
"Aku hanya tak ingin mengganggumu," ujar Sehun. Ekspresinya seakan tanpa dosa.
"Kalau begitu mari, Tuan Muda. Bagaimanapun juga Ruang CEO ini tetap milik istri anda, jadi anda bisa masuk tanpa seizin saya."
"Tapi itu tidak sopan, Chanyeol-hyung. Alangkah lebih baik aku mendapat izin darimu. Toh, untuk saat ini kau CEO-nya, kan?"
"Begitukah?" Chanyeol terkekeh canggung. Matanya tersirat rasa tak nyaman sembari tangannya terus menggosok bibirnya. Sehun mengerutkan kening penuh tanya.
Ketika kedua pria tampan itu duduk berhadapan, Chanyeol berulang kali mengusap bibirnya dengan berlembar-lembar tisu. Manik hitam pekat Sehun bergulir dari bibir Chanyeol lalu kotak tisu, terus seperti itu sampai akhirnya dia bersuara, "ini pemborosan, Hyung. Membuang-buang tisu sama saja menyia-nyiakan hutan."
"Baiklah, aku akan menghemat tisu mulai dari sekarang."
Sehun menyimpul senyum.
"Jadi... Ada keperluan apa Tuan Muda kemari?"
"Aku mau membicarakan beberapa hal. Dan ini, aku membawa beberapa proposal. Seminggu lalu kita sepakat menjalin kerja sama antara Oh Group dan XiLu Corp jadi—"
Sehun menghentikan ucapannya kala konsentrasi Chanyeol tidak pada tempatnya. Pria itu terus menggigiti tepi tangannya. Matanya menyorot amarah besar walau berusaha disembunyikan.
Sehun memicingkan mata. Tatapannya menyelidiki Chanyeol. "Kau jijik terhadap sentuhan intim wanita, hyung?"
Pertanyaan telak Sehun menghunus relung hati Chanyeol.
Bahu Chanyeol merosot. Punggungnya bersandar lelah ke sandaran kursi kebesaran seorang Xi Luhan.
"Wanita tadi, yang beberapa menit lalu berlari keluar dari ruanganmu, dia baru saja merayumu?" todong Sehun.
Muka Chanyeol memucat, "maaf apabila kejujuran saya menyakiti anda tapi... Saya hanya mau disentuh oleh dua wanita, dan anda pasti tahu siapa mereka."
Sehun sangat tahu siapa dua wanita itu.
Yaitu Luhan dan Baekhyun.
"Setiap saya disentuh atau menyentuh wanita lain secara intim, memori traumatis yang selama ini berusaha saya lupakan langsung tersaji begitu saja di kepala." Chanyeol akhirnya menumpahkan rasa menjijikkan yang dialaminya hari ini pada Sehun. "Andaikan saya tidak mengontrol emosi saya, mungkin wanita itu mati di tangan saya. Dia melumat bibir saya, menyodorkan payudara besarnya, dan mendesah seperti lehernya dijepit pintu," adik angkat Luhan itu menyugar lalu menjambak frustasi rambut hitamnya. "Benar-benar wanita sialan!"
"Chanyeol-hyung."
"Nde?"
"Menangislah. Aku dan Luhan akan selalu bersamamu. Begitupula Baekhyun. Kami takkan membiarkanmu merasakan hal semacam ini lagi. Jadi, kau boleh menangis jika kau butuh."
Tutur kalem Sehun langsung menderaskan air mata Chanyeol. Pria berbadan tegap nan besar itu menangkup wajahnya sendiri. Bahu lebarnya bergetar. Isakannya terendam tangkupan tangannya. Chanyeol bertanya, 'beginikah besarnya pengaruh positif dari seorang Psikolog Klinis bernama Oh Sehun?'
Interaksi dua pria tampan ini memang sederhana, namun ada ikatan persahabatan kental di dalamnya.
Sehun memang belum tahu masa lalu Chanyeol, atau pria dan gadis koleksi Luhan lainnya. Meski begitu Sehun paham satu hal...
...istrinya sudah banyak menyelamatkan dan mengubah hidup orang lain menjadi lebih baik.
Dirasa lega, Sehun menyodorkan saputangan untuk Chanyeol. Pria kesayangan Baekhyun itu tertawa kecil. Dia menggelengkan kepala tak habis pikir, "rasa-rasanya saya seperti gadis yang dihibur kekasih prianya."
Sehun meniup anak-anak rambut yang berjatuhan di depan dahi seksinya. "Jangan bicara begitu, itu menggelikan, Hyung."
Chanyeol menerima sapu tangan itu. Dia menghapus keringat dan air mata dari wajahnya.
"Hyung tahu, kan?"
Seusai Chanyeol melipat rapi saputangan Sehun, dia menatap suami majikannya itu penuh rasa penasaran. "Tahu apa?"
"Kalau saat aku kecil aku pernah dijual oleh aboji pada wanita yang usianya dua puluhan di atasku?"
Topik pembicaraan mulai berubah arah. Mata Sehun menyendu.
"Di masa lalu mungkin kita mengutuk kaum wanita, namun tak disangka di masa ini kita justru memuja seseorang yang satu kaum dengan sumber trauma kita."
"Setidaknya kita hanya mencintai satu wanita, Tuan Muda."
"Tentu. Sekelam apapun masa lalu kita, itu bukanlah halangan bagi kita untuk menciptakan pelangi di masa depan kita." Sehun memberi satu senyum teduhnya untuk Chanyeol. "Seseorang pernah mengatakan padaku, kalau sebagai pria aku boleh menangis namun aku harus tegar untuk menjaga wanitaku di masa depan. Apakah Hyung seperti itu juga pada Baekhyun? Tegar untuknya?"
"Ya, Tuan Muda!" Tekad Chanyeol. Tatapan menerawangnya dipenuhi cinta.
"Maka berjanjilah, di masa depan, jagalah adik gadisku."
Sebelumnya, Sehun berlaku layaknya ayah untuk Kyungsoo sewaktu dia mengantarkan gadis itu pada Jongin.
Sekarang?
Sehun berlaku layaknya kakak kandung Baekhyun yang berpesan pada calon adik iparnya untuk terus menjaga sang adik.
Ternyata insting Chanyeol benar mengenai Sehun. Pria biasa-biasa di depannya ini dapat mempengaruhi orang-orang di sekitar Luhan. Chanyeol diam-diam takjub. Dia senang majikannya bertemu Sehun.
Sehun mulai mengarahkan topik ke arah lainnya. Dia berkata,
"Sejam lalu aku menemui Hanbin. Xi Hanbin. Apa Chanyeol-hyung mengenalnya?"
"Hanbin-hyung?" Ulang Chanyeol. Dia mengangguk. "Dia wakil Kepala Mafia Xi. Apa itu berarti anda sudah menemui mafia Xi juga?"
"Ya." Sehun membasahi bibirnya, "apa Hyung mau membantuku? Jelaskan padaku mengenai Mafia Xi sesuai yang kau tahu. Aku sudah mendengarnya versi Hanbin dan aku cukup takjub mendengarnya."
Padahal saat ini Sehun juga mengepalai sekelompok Mafia, yaitu Mafia Oh. Namun dia berlagak tak tahu apapun.
Chanyeol mengerutkan kening, "saya tidak terlalu jauh mengurusi Mafia Xi. Namun karena saya sekretaris Lady Luhan, saya membantu mengurusi laporan serta administrasi bisnis Mafia Xi." Mukanya menjadi lebih cerah, "oke, saya akan menjelaskan sesuai yang saya tahu."
Sehun tersenyum misterius.
Dia berkata kalem,
"Terima kasih atas bantuannya, Chanyeol-hyung."
.
.
.
.
.
HUNHAN (GS)
GS FOR UKE, ABAL-ABAL, TYPO(S), RATE M
NOTE :
Jika ada yang membingungkan, katakan saja :)
WARNING :
Terlalu jebol, jadi chapternya kubagi dua :))
.
.
.
.
.
Eleven : Sehun's Love is War
"Kekagumanku pada Sehun-oppa dan Luhan-eonni bukanlah kedudukan mereka. Melainkan usaha mereka untuk menjadi kelebihan satu sama lain. Apakah ada romantisme yang seindah mereka?"
—Byun Baekhyun—
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, tepat sehari setelah Sehun menemui Hanbin, dan sehari setelah Luhan menemui keenam member EXO, sepasang suami istri ini menjalani aktivitas seperti biasa. Sehun masih memasuki masa cuti sebagai dosen—atas paksaan istrinya—jadi dia yang mengurusi segala kebutuhan Luhan. Lebih tepatnya, Sehun memperlakukan istrinya seperti bayi. Sedangkan Luhan menikmati hari tanpa terlalu memikirkan dua bisnis besarnya. Dia melayani Sehun selayaknya istri pada umumnya kecuali urusan dapur.
"Ini makananmu, sayang."
"Eh?"
Mata rusa Luhan mengerjap imut. Dia terpesona pada makanan di hadapannya. Biasanya Sehun memberinya makan berupa buah, sayur, kacang-kacangan, ikan laut, dan kentang. Jika daging sapi atau domba, pasti yang dipilih adalah bagian khas dalam tanpa lemak.
Jadi... Sekarang Sehun memasakkannya steak daging?
"Daging? Steak?!" Mata Luhan berbinar lucu. "Hunnieee...!" Pekiknya imut. Wanita hamil tiga anak itu merangkul leher Sehun dan mengecup pipi kanannya berkali-kali. "Hontouni arigatou, anata!" (Aku benar-benar berterimakasih, sayang)
"Sama-sama, sayangku." Sehun mengecup pucuk kepala istrinya, lalu memisahkan diri dan menghadap gadis di samping istrinya—Yuri.
Yuri adalah salah satu gadis koleksi Luhan, tepatnya diurutan keempat. Di mansion Xi, tugasnya yakni Kepala Pelayan. Gadis cantik itu berdiri menemani Luhan makan. Dia tepekur memperhatikan majikannya memakan steak daging masakan Sehun.
"Yuri."
Gadis itu lumayan gugup ketika didekati lawan jenis, entah siapapun itu. Dia menunduk dalam, menolak menatap Sehun. "Ne, Tuan Muda?"
Sehun berniat menepuk bahu Yuri, tapi melihat gadis itu refleks memundurkan diri, Sehun menahannya. "Tolong jaga dan awasi gerak-gerik istriku selama di mansion. Aku akan pergi sebentar. Mungkin jam tujuh malam aku akan pulang."
"Baik, Tuan Muda."
"Dan jika dia bepergian, pastikan untuk mengingatkan istriku agar izin dulu pada suaminya. Kau mengerti, Yuri?"
"Saya mengerti, Tuan Muda."
"Terima kasih, Yuri."
"Ne? Hm! Sama-sama, Tuan Muda..."
Luhan hanya mendengarkan tutur kata suaminya pada gadis koleksinya. Sedetik kemudian, dia kembali memekik merasakan lembutnya daging domba kesukaannya lumer di mulut.
Calon ibu itu tahu Sehun hendak pergi ke Mansion Oh. Karena Luhan sudah tahu banyak bagaimana rumitnya seorang Oh Sehun, dia tak was-was jika Sehun berbuat sesuatu di belakangnya. Dia yakin Sehun akan membicarakannya.
Ya, Luhan kembali mempercayai sang suami.
Termasuk mempercayai Sehun, bahwa suaminya bisa diandalkan oleh para bawahannya di mafia Xi.
Kemarin malam Luhan mendapat informasi dari Hanbin mengenai pengkhianatan pihak istana. Bukan masalah, Luhan sudah menduga ini akan terjadi. Maka dari itu dia gencatan senjata sejak lama.
Termasuk dengan menikahi Oh Sehun.
"Aku pergi dulu, istriku." Pamit Sehun setelah mencium kening Luhan. "Jangan nakal." Ucapnya.
"Hati-hati, suamiku."
Pandangan Yuri mengikuti arah Sehun pergi. Kepalanya kembali berpaling pada Luhan hingga dia terkejut ketika notebook putih di genggamannya bergetar. Yuri membaca nama kontak yang menghubungi majikannya.
'Mr. Lee.'
"My Lady, ada panggilan video untuk anda. Dari Mr. Lee."
"Angkat saja."
Yuri mengatur notebook agar berdiri di atas meja, tepat di hadapan Luhan. Tak lupa gadis itu memasangkan sebuah headset bluetooth putih di telinga kanan Luhan. Wanita itu masih memotong daging sebelum Mr Lee menyapa di sebrang,
["Selamat siang, My Lady."]
"Hm." Luhan menancapkan sepotong daging dan memakannya dengan cara elegan dan seksi.
Diseberang, Mr Lee tampak terpesona. Mungkin aura ibu hamil menguar liar dari Luhan. ["Maaf apabila saya menganggu waktu santai anda. Ekhem... Begini. Ada beberapa petinggi agensi yang kontra dengan keputusan anda. Termasuk comeback EXO yang menurut saya mendadak ini. Dalam waktu tiga bulan ke depan, banyak sekali yang diurus seperti prosedur musik, pengambilan sampel musik, dan koreo, serta masih banyak lagi. Sampai saat ini kami tidak mempersiapkan apapun untuk EXO kecuali tur konser."] Mr. Lee menarik nafas ketika Luhan melanjutkan makannya seakan tak minat mendengar bantahannya. ["My Lady, tidak bisakah schedule comeback ini diundur?"]
TAKK...!
Luhan menusuk salah satu potongan daging dengan pisau makan. Mr. Lee bergidik di seberang. Menelan ludah kelu.
"Mr. Lee."
["I...iya, My Lady?"]
Dari depan notebooknya, Luhan mengacungkan pisau yang menusuk sepotong daging steak.
"Kau mau steak daging ini?"
Mr. Lee menggeleng dua kali. Gerakannya persis robot.
Luhan tersenyum misterius nan kelam.
"Ini akan jadi dagingmu kalau kau terus membantah."
Sontak mata Mr. Lee melotot.
["Ma..maafkan saya. Saya akan—"]
"Kau pikir aku bodoh mengenai industri ini? Jangan membual di depanku dan bekerjalah secepat mungkin. Aku akan ke agensi untuk mengawasi kinerja berbagai pihak."
["Baik, My Lady."]
Luhan memutus komunikasi lebih dulu. Dia memilih menghabiskan steaknya, meminum jus campuran sayur dan jeruk buatan Sehun, kemudian memerintahkan Yuri agar mengikutinya ke kamar.
Di kamar Sehun dan Luhan ini, Yuri memperhatikan majikannya mengeluarkan map kertas coklat. Luhan memutar benang di map itu kemudian menyerahkan isinya pada Yuri.
"Baekhyun masih tidur?"
"Ya, My Lady. Nona Muda tengah melewati masa haidnya." Jawab Yuri. Kemudian kembali membaca kertas dari Luhan.
"Dia sudah meminum obatnya?"
"Ya, My Lady."
"Bagus," angguk Luhan. "Kau sudah membaca kertas-kertas itu?"
Yuri mematung. Anggukan kaku dia berikan. Wajahnya memucat pasi, "Tapi... Kenapa?"
Luhan mengendikkan bahu, "kau lulusan S1 Managemen Bisnis. Akan lebih baik kau lanjut S2 sambil me-manage kegiatanku. Akhir-akhir ini aku kewalahan mengatur jadwalku semenjak Chanyeol menggantikan posisiku di XiLu Corp." Luhan menyeringai, "gadisku harus berpendidikan dan beretika tinggi. Mereka tidak boleh mengandalkan visual saja."
Kertas di genggaman Yuri ini berisi pernyataan bahwa Yuri resmi menjadi seorang mahasiswi di salah satu universitas terkenal. Walaupun tidak melewati tes, Luhan bisa jamin universitas itu tidak menyesal menerima gadisnya. Yuri terharu bukan main. Dia ingin sekali memeluk majikannya.
"Peluk aku jika kau ingin, Yuri."
"My Lady... saya sangat berterimakasih pada anda..."
Yuri merangkul bahu Luhan cukup erat namun hangat. Luhan hanya mengelus lengannya khas seorang kakak pada adiknya.
"Masih ada kertas di dalam map ini," Luhan menyerahkan map coklat pada Yuri. Gadis itu memisahkan diri dan menerima map coklat itu. "Serahkan pada Baekhyun. Katakan padanya kalau dia akan sekolah di Exordium High School Minggu depan. Dia tak perlu lagi home schooling."
Yuri sudah mengenal Luhan cukup lama. Tabiatnya memang kejam tapi entah kenapa, bagi Yuri, wanita di depannya ini adalah malaikat bersayap hitam.
"Akan saya sampaikan pada Nona Muda Baekhyun."
.
.
.
.
.
Mendatangi Mansion Utama Oh adalah hal paling menjengkelkan bagi Sehun. Masa kecilnya terbentuk suram di sini. Tapi dia berusaha melupakannya karena keperluannya kali ini cukup penting.
Apalagi tempat ini adalah yang paling aman untuk menemui seorang 'Oh' lainnya yaitu...
...Oh Sejeong, sepupu Sehun dari pihak Keluarga Non Inti Oh.
Sejeong bekerja sebagai barista, tapi Sehun tahu sepupunya yang cerdas dan agak centil ini bekerja sebagai intel kerajaan. Karena keloyalan Sejeong pada instansi dan masyarakat, mungkin sulit bagi Sehun untuk mendapat informasi dari gadis itu.
"Hyung-nim, kau tahu aku merindukanmu...!" Pekik centil Sejeong. Dia memanggil Sehun 'hyung' karena jijik jika bibirnya memanggil seseorang 'oppa'. Dia memeluk erat leher Sehun. Pria itu hanya tersenyum manis seperti biasanya. "Kau sudah resmi jadi orang penting di keluarga. Aku senang mendengarnya!"
Sehun menekan dahi Sejeong agar menjauh darinya. Sejeong merengut sambil mengelus dahinya, "kau terlalu kasar pada gadis, hyung-nim."
"Kau sudah bertunangan, bagaimana bisa tingkahmu masih kekanakan?"
"Heol! Aku lahir sebagai bungsu di keseluruhan Keluarga Non Inti Oh," Sejeong mengibaskan rambutnya sok cantik. "Jadi maklumi saja tingkah kekanakanku ini."
Ketika Sehun menatapnya datar, Sejeong berdeham gugup, "oke, hyung-nim, kau menjengkelkan dan kaku seperti biasanya. Ma-mana janjimu untuk melindungiku hah?! Akrab padaku saja dipenuhi keterpaksaan." omelnya bersungut-sungut.
Sehun menyentil dahi Sejeong, "ikut aku ke ruang kerja Kepala Keluarga."
Sejeong mengelus dahinya akibat sentilan Sehun. Sambil berkacak pinggang, dia mengikuti langkah tegap sepupu tampannya itu.
Ruang kerja Kepala Keluarga Oh penuh barang-barang mahal dan antik. Interiornya modern khas bangsawan Eropa. Walaupun mereka berasal dari Korea, selera mereka mengikuti leluhur yang berdarah campuran Korea-Norwegia. Tak heran apabila wajah Sehun seperti blasteran.
"Ini daftar intel kepolisian yang ditugaskan untuk mengawasi secara tertutup di 25 distrik. Daftar ini didapat dari Yeonseok-hyung," Sejeong membanting kertas-kertas yang dirol ke atas meja. "Kau bilang mereka bekerja dengan menyamar kan? Kata Yeonseok-hyung, mereka adalah Intel Kepolisian. Sayangnya, mereka berbeda denganku. Aku adalah salah satu Intel Khusus Kerajaan. Keberadaannya bahkan tidak diketahui siapapun kecuali instansi terkait." Sejeong tersenyum penuh percaya diri menjurus congkak. "Untuk saat ini anggota Intel Kerajaan belum diketahui Raja Woo sendiri. Hanya Perdana Menteri sebagai Kepala Pemerintahan yang tahu, beserta petinggi Intel Kerajaan."
"Benarkah?" Sindir Sehun. "Aku saja sudah tahu. Aku menganalisa kedok aslimu dari seluruh laporan kegiatanmu tiga Minggu akhir ini."
Sebagai Kepala Keluarga Bangsawan, Sehun sudah biasa menerima laporan para anggota keluarga mengenai keseharian mereka. Laporan itu dikirim pada Sehun sebulan sekali. Ini dimaksudkan agar Sehun, sebagai Kepala Keluarga Bangsawan, mampu mengontrol tindak-tanduk anggota keluarganya.
"Ya ya ya... Kau kan cenayang."
Sehun menghela nafas. Dia mengacak rambut Sejeong hingga empunya mendengus kesal. "Kau masih belum berubah. Tetap kekanakan persis Baekhyun. Bedanya, dia tidak sebandel dan secentil dirimu."
Sejeong menepis tangan Sehun.
Sehun menimang buku yang terdiri dari berlembar-lembar kertas dirol. Di sana berisikan foto-foto, data diri di bawah foto, dan masih banyak lagi. Sehun menaikkan sebelah alis, "kau yakin ini yang kuminta? Kau yakin ini dari Yeonseok-hyung?"
"Yup! Kemarin malam dia memberikanku daftar nama itu secara langsung. Ketika aku menanyainya, kenapa tidak diberikan langsung pada Hyung-nim, Yeonseok-hyung bilang, 'situasi antara aku dan Sehun cukup rumit'. Begitu."
Terbesit kata-kata Yeonseok pada Sehun saat penobatan Raja Kris sudah selesai.
"Aku akan melakukan segala yang kubisa untuk Kerajaan dan Keluarga Oh. Seharusnya kau sadar kalau akhir dari kisah ini bergantung padamu. Jika kau teliti, kau akan mendapat bantuan cukup besar untuk menyelamatkan istrimu." [Chapter Ten]
Sehun menggumam penuh pemikiran. Dia mengulang sebagian ucapan Yeonseok waktu itu, "'jika kau teliti, kau akan mendapat bantuan cukup besar untuk menyelamatkan istrimu'?"
Dia mengusap dagu tajamnya sambil berkerut kening.
"'Jika kau teliti'?" monolognya.
Seakan matanya memunculkan kilat imajiner, Sehun tersenyum miring.
"Ini bukan jebakan, kan?" Sergah Sehun. "Kau tahu sendiri Yeonseok-hyung itu Perdana Menteri Korea Selatan. Raja Kris tahu Yeonseok-hyung berasal dari Keluarga Oh, jadi mungkin apa yang Yeonseok-hyung ketahui berbeda dengan apa yang Raja Kris tahu. Singkat kata, Raja Kris menipu Yeonseok-hyung."
"Jangan meremehkan Yeonseok-hyung, Hyung-nim!" Ngotot Sejeong. "Kau menyebalkan!"
"Atau mungkin Yeonseok-hyung dipaksa menipu pihak Keluarga Bangsawan Oh? Bisa saja Yeonseok-hyung menipumu walaupun dia tahu siapa saja Intel yang dipilih Raja Kris."
"Hyung-nim... Kumohon... Yeonseok-hyung tidak mungkin begitu."
"Kau ini Intel atau bukan? Di mana intuisimu bekerja? Lagipula posisi Kepala Keluarga di sini itu aku atau Yeonseok-hyung, hm?"
"Seharusnya sih sepupu tertua."
"Terserah," Sehun memutar bola matanya.
Sejeong mengenal Sehun dengan baik. Hyung-nim nya ini punya intuisi yang tajam. Tapi sepupu tertuanya tak mungkin mengkhianati Keluarga Oh. Itu isi pikiran Sejeong.
Gadis itu menunggu Sehun selesai membaca daftar-daftar nama itu. Dia memutuskan membuka stoples kue kering dan memakan butir demi butir kue.
"Sejeong."
Gadis itu nyaris tersedak. Dia meminum segelas air tiga tegukan. "Yyak! Hyung-nim! Kau mengejutkanku."
Sehun menyingsingkan lengan kemeja putihnya, memperlihatkan lengan berototnya. Tangan kekarnya menunjuk kertas-kertas di hadapannya, "aku yakin ini palsu atau tipuan. Aku yakin Raja Kris tak sebodoh itu membiarkan seorang Oh, dalam hal ini Yeonseok-hyung, tahu mengenai rencananya atau menyampaikan kebenarannya pada pihak siapapun. Maka dari itu aku bertanya padamu, Sejeong. Apakah Intel Khusus Kerajaan Korea Selatan berpihak pada kerajaan?"
Sejeong mengerutkan kening, "tidak. Instansi tempatku bekerja netral. Jika kami berpihak pada kerajaan, kami akan diperalat oleh politik. Apa Hyung-nim tahu? Kami cukup kesulitan menguak beberapa kebusukan gerbong kejahatan di Korea, karena orang-orang pemerintahan menghambat kerja gerilya kami." Sejeong menggeram, "mereka terdiri dari orang-orang busuk!"
•~Gerilya : perang sembunyi-sembunyi
"Bagus!" angguk Sehun. "Apa Intel Khusus Kerajaan punya data anggota Intel Kepolisian?"
Karena dia anggota Intel, Sejeong menyembunyikan identitasnya sebagai seorang 'Oh' dari lingkungan kerjanya. Pun sebaliknya, dia menyembunyikan pekerjaannya sebagai intel dari masyarakat. Sejeong sudah biasa hidup seperti ini. Sampai dia berpikir, dia ingin hidup normal. Termasuk menikahi seorang pria mapan non bangsawan. Dia lelah berpura-pura meskipun dia menyenangi pekerjaannya.
Jadi, melihat Sehun bekerja keras sebagai suami dari seorang Lady Luhan, serta Kepala Keluarga Bangsawan Oh, membuat Sejeong mengagumi sosok Hyung-nim nya. Sejeong menepuk bahu Sehun dan berkata penuh percaya diri, "aku akan menghubungi partner kerjaku."
Sejeong menekan salah satu kontak di ponselnya. Dia menghubungi seseorang di seberang. Senyum cantiknya merekah, "selamat siang, Eonni! Ne... Aku ingin kau mengirimkan data anggota para Intel Kepolisian. Aku tahu itu data paling rahasia, tapi aku butuh. Aku harus menyelesaikan kasus terakhirku sebelum aku resign. Dan ya... aku ingin bertemu mereka," Sejeong berusaha membuat suaranya seimut mungkin. Senyumnya langsung melebar mendapat respon positif dari seberang. "Aigooo... Eonni baik sekali... Thanks! Kirim ke emailku. Ne... akun email khusus instansi saja."
Sejeong meletakkan ponselnya di atas meja. Dia langsung membuka laptopnya. Sesekali tangannya mengambil sebutir kue kering lalu melahapnya rakus.
"Aku sudah dapat!" Seru Sejeong dihadiahi tepukan di kepala khas anak kecil dari Sehun. "Setelah ini apa, Hyung-nim?"
"Kau pasti bisa menebak isi pikiranku kan?"
"Maksudmu, kita akan memilah nama-nama Intel Kepolisian yang tertulis di buku ini?" Sejeong menunjuk tumpukan kertas dari satu rol. "Dengan nama-nama di daftar yang baru saja partnerku kirim?" Gadis itu menunjuk monitor laptopnya. Tampilan monitornya menunjukkan tabel nama beserta wajahnya.
Sehun mengangguk. Dia menambahkan,
"Pilah juga nama-nama dari Keluarga Oh. Aku yakin anggota keluarga kita ada yang bekerja di Intel Kepolisian."
"Aku paham."
"Setelah dipilah, akan tersisa nama-nama yang aku yakin... Adalah nama para Intel yang akan mengawasi distrik-distrik di Seoul lusa nanti."
"Hyung-nim."
"Ne?"
"Aku baru sadar kalau kaulah yang cocok jadi Intel Khusus Kerajaan."
Sehun hanya tersenyum geli, lalu memperhatikan kinerja Sejeong sembari memakan beberapa butir kue kering.
.
.
.
.
.
"Sangat cantik. Tapi saranku, Nona Wendy, lebih baik rambutmu disanggul dan diberi hiasan sedikit berlian. Beri sedikit sentuhan rambut yang terlepas dari ikatannya. Lalu dicat coklat karamel. Aku yakin itu cocok untukmu." ucap Luhan di depan gadis bercat rambut pirang. Gadis itu tengah memakai gaun merah. Melakukan semacam fitting baju di ruang rias.
"Sepertinya itu saran yang bagus, Lady Luhan. Saya sangat terhormat menerima saran dari seorang Lady bermartabat seperti anda."
Luhan bersedekap anggun, "kuharap itu pujian tulus, bukan bualan."
Wendy, salah satu anggota girlband Red Velvet, tertawa kecil. Kulit putih bersinarnya memberikan aura positif bagi siapapun di dekatnya. "Saya harap konser kali ini sukses."
Luhan menepuk bahu sempit Wendy sebagai penghiburan. "'La Rouge Concert' akan jadi konser penuh kecantikan, seksi, nan lembut dari para member Red Velvet. Kau dan member lain harus menunjukkan itu di hadapan para pengemar." Luhan melirik jam di dinding tepatnya di atas cermin rias. "Sebaiknya aku mengawasi hal lain. Sampai jumpa lagi, Nona Wendy."
Wendy pikir seorang Lady Xi hanyalah wanita jalang kaya dengan tabiat super brengsek dan bar-bar. Ternyata wanita itu anggun bak bangsawan pada umumnya. Pipinya sontak memerah penuh kekaguman, "Ne, semoga kita bisa mengobrol ringan lagi seperti ini dilain waktu."
Tak banyak artis yang akrab dengan petingginya. Para artis pun terkadang bentrok dengan partner kerjanya sendiri dalam satu panggung. Luhan tak mau berseteru dengan pekerjanya, dan itu termasuk artisnya. Sudah cukup skandal dating, Bullyan, depresi, atau war fandom menjadi makanan sehari-hari para artis.
Luhan berusaha memperlihatkan visual baik seorang Xi melalui tabiatnya.
Wanita hamil itu juga tak segan melihat audisi mingguan yang biasa diadakan agensi ini. Saking ketatnya Lu Ent, di antara ratusan calon trainee, mungkin hanya belasan yang diterima itupun dilatih dan dipilah lagi. Luhan diperbolehkan merekrut seseorang karena perannya sebagai pemilik saham tertinggi. Namun Luhan menyerahkan seluruhnya kepada manager artis dan beberapa ahli di bidangnya. Dia tidak bisa terlalu membebani dirinya sendiri.
Menjadi penonton terkadang lebih menyenangkan dibanding terlibat di suatu proses.
Di salah satu studio rekaman milik Lu Ent, Luhan memperhatikan para member EXO berdiskusi dengan salah seorang produser dan komposer. Sesekali mereka merekam suara mereka untuk sampling kecocokan.
Ketika Si Leader EXO bertatap mata dengan Luhan, pria itu langsung mengangguk hormat. Luhan hanya balas tersenyum.
Luhan memang tidak sepeka Sehun, tapi sepertinya beberapa artisnya ini terlihat lesu.
"Bisa kau jabarkan apa saja yang EXO alami selama agensi ini menjadi AA ent?" Luhan menoleh pada Shindong. "Aku juga menanyai hal sama pada manager artis lainnya."
"Selama tujuh tahun EXO debut, AA ent kurang memberikan treatment yang baik untuk mereka. Untuk boyband dengan sumber penghasilan terbesar bagi agensi, tidak selayaknya EXO diperlakukan demikian," Shindong tersenyum pahit pada Luhan. Wanita itu tidak merespon. Aura kebangsawanannya begitu dingin menggigit.
"Popularitas tak lagi mereka pegang saat ini, My Lady, namun keloyalan EXO-L membuat mereka bertahan. Member EXO sudah lama memberi kode-kode untuk berkomunikasi dengan fans mereka, bahwa mereka lelah pada beberapa kesulitan yang entah didapat dari antis, agensi, bahkan fandom sendiri. Mereka juga muak fandom mereka diperlakukan tidak baik oleh pihak-pihak tertentu." Shindong menghela nafas berat, "member EXO sangat tahu kekalutan fansnya. Namun di sisi lain, member EXO takut EXO-L mereka menghilang." Manager EXO itu tersenyum kecut. "Secara pribadipun, aku sangat menghormati EXO-L China dan non Asia. Beberapa tahun ini mereka jarang mendapat konten EXO seperti konser, promosi, dan semacamnya, tapi keloyalan mereka justru menakjubkan untukku."
Luhan menyampirkan rambutnya ke bahu. Tangannya bersedekap, menatap angkuh dunia, "Meski begitu, apalah gunanya kau punya fans jutaan manusia jika mereka hanya tahu idolanya bahagia?" Wanita itu tertawa sinis. Shindong menatapnya penuh tanya. Ucapan Luhan seakan beda dari topik pembicaraan.
Luhan pun meneruskan, "Jutaan manusia ini... yang mengaku-ngaku EXO-L... Apakah mereka berarti bagi EXO saat mereka tak punya semacam ikatan kuat dengan EXO selayaknya keluarga? Siapa lagi kita bisa loyal jika tidak pada orang yang sudah kita anggap keluarga sendiri? Singkat kata, apakah mereka memahami idol mereka bahkan tanpa bersitatap sekalipun?"
Keloyalan.
Secara personal, Luhan sangat memegang teguh keloyalan bawahannya atau siapapun yang berhubungan dengannya.
Karena tak banyak orang mau mengikutimu dengan mengetahui segala kelemahanmu, kecuali orang-orang yang loyal padamu.
Luhan memperhatikan si Leader EXO beserta kelima member. Mereka tengah rekaman. Beberapa di antara mereka saling menjahili satu sama lain. Tawa tampan mereka seakan tak dihiasi beban apapun. Luhan memicingkan mata.
Ternyata benar, keenam member EXO itu tampak kelelahan. Mata mereka membuktikannya.
"Mereka memang bukan lagi boyband yang populer, mengingat banyak pihak ingin meredupkan karir mereka. Merekapun sudah tak lagi mencetak prestasi sebanyak dulu," Luhan memalingkan muka pada manager-nim. Dia tersenyum dingin, "tapi seperti yang kau katakan, EXO punya keloyalan EXO-L. Hal itulah yang kubutuhkan untuk melawan 'seseorang'. Targetku pun bukanlah seluruh dunia, hanya tanah asalku, China."
Luhan melanjutkan, "di masa depan, ada kemungkinan aku 'membunuh' karir boyband satu ini. Maka sebelum mereka terbunuh oleh agensinya sendiri, biarkan aku sebagai EXO-L merawat mereka hingga kondisi di mana 'aku membunuh mereka'."
Ucapan Luhan sulit diterka maknanya. Shindong tak punya firasat buruk mengenai Luhan. Walaupun wanita di depannya ini seorang brengsek, tak bisa dipungkiri Luhan akan memperlakukan asetnya sebaik mungkin hingga tanpa sadar asetnya 'terbunuh'.
Pola perilaku Luhan ini persis seperti apa yang dia lakukan pada Baekhyun.
Baekhyun adalah gadis koleksinya yang paling berharga, namun ada saatnya Luhan memerintahkan Chanyeol membunuh gadis kesayangannya tersebut.
Sampai saat ini, pemikiran abstrak Luhan tak bisa didefinisikan siapapun kecuali Sehun.
"Aku akan pergi ke studio lainnya," telunjuk Luhan menekan dagunya. "Mungkin aku bisa menemui beberapa trainee baru hari ini. Atau mengawasi kinerja para artis solo."
Shindong membinarkan matanya, "anda berusaha berlaku adil?"
"Tentu," angguk Luhan. "Aku memang brengsek, tapi aku juga tahu rasanya dikucilkan... yaitu dari lingkungan bangsawan. Karena itulah sebisa mungkin aku berlaku adil. Ah.." Luhan menghela nafas. "akan sulit memindahkan minat EXO-L, dari EXO ke junior mereka, alias meregenerasi, tapi inilah tantangannya dan sebagai pebisnis, aku menyukai sensasi ini." Wanita hamil itu menepuk bahu Shindong, "Lu Entertainment berbeda dengan AA Entertainment. Ingat itu, manager-nim."
Ketika Luhan meninggalkan studio rekaman sembari mengelus perut buncitnya, Shindong memandang punggung cantik itu hingga hilang dari pandangan.
"Apa sebenarnya rencana anda, Lady Luhan? Anda benar-benar mencurigakan."
Shindong memandang ponselnya.
Dia merekam suara Lady Luhan apabila wanita itu membicarakan EXO.
Jika ada yang menanyainya, untuk apa?
Entahlah, Shindong tak tahu kecuali satu alasan...
...untuk berjaga-jaga.
.
.
.
.
.
"Kau tidak membantu sama sekali, Hyung-nim!"
Murka Sejeong tidak ditanggapi Sehun. Sebaliknya, Sehun menyeruput teh hitam dengan cara elegannya. Senyum tampan menghiasi di balik bibir cangkir. Sambil memutar-mutar cangkir, dia menawarkan, "mau teh?"
"Mati saja sana!"
Bukannya kesal, Sehun malah tertawa.
Sejeong mengusap keringat di pelipisnya. Tangan dan matanya lelah memilah ribuan nama Intel Kepolisian di Kota Seoul. Bolak-balik matanya bergulir dari kertas ke monitor laptop. Jarinya juga lelah memblok nama-nama yang bisa Sehun pastikan, tidak akan digunakan Raja Kris untuk mengawasi distrik-distrik di Kota Seoul.
Nama yang tidak diblok kuning pada word di laptop, adalah kemungkinan nama Intel Kepolisian yang dipilih Raja Kris. Sehun menuangkan teh di cangkir berbeda dan memberikannya untuk Sejeong. "Kerja bagus. Aku akan membawanya sementara kau nikmati waktu santaimu."
Sejeong menerima secangkir teh itu dalam hati dongkol.
Dirasa hasil kerja Sejeong memuaskan, Sehun mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Hanbin.
"Temui aku di cafe Oharsa. Aku juga ingin kau menemui seseorang. Jangan lupa, bawa bukti kalau kau sudah menarik 'orang dalam' milik 'Xi' dari semua instansi kerajaan."
Seusai Sehun bicara, pria itu melirik Sejeong. "Aku bawa laptopmu. Tidak apa, bukan?"
"Ehm!" Angguk Sejeong. "Hyung-nim, kau tahu anggota Keluarga Oh takkan ada yang mengkhianatimu. Setelah aku melihat kau berduel lalu membunuh Siwon-ahjussi, aku rasa... Kau memang pantas dihormati dan disegani. Walau begitu aku punya satu pesan untukmu." Sejeong mengacungkan telunjuk kanan di samping wajahnya.
Dia berpesan,
"Jangan khianati keluarga ini."
"Aku mengerti," Sehun mencium pucuk kepala Sejeong. "jaga dirimu baik-baik. Aku pergi."
"Ne."
Setelah membereskan diri, Sehun meninggalkan Sejeong.
Gadis itu tersenyum cantik sambil menggigit kecil sebutir kue kering.
"Lady Luhan beruntung memiliki Hyung-nim."
Beralih pada Sehun. Dia baru saja memarkirkan mobil Carrera abu-abunya ke parkiran cafe Oharsa. Ketika dia keluar dan membanting pintu, dia acuh pada beberapa orang di sekitar yang fokus memandangi ketampanannya serta pesona mobilnya. Sehun tahu menggunakan salah satu koleksi mobil istrinya pasti berakibat seperti ini.
Sehun risih dijadikan sumber perhatian. Dia memang tak cocok bekerja sebagai artis.
Bel bergemerincing setiap tamu membuka pintu cafe. Jika begitu, salah seorang pelayan akan menyambut tamu dan berkata, "selamat datang! Silahkan nikmati fantasi dari kebahagiaan Oharsa..."
Sehun membalas, "terima kasih."
Pelayan bername tag Jisoo itu menuntun Sehun ke meja kosong tepat di tengah-tengah. Tidak terlalu jauh dari kaca cafe dan meja barista. Jisoo mulai mencatat menu yang Sehun pilih.
"Pesanan anda?"
"coklat hangat saja satu."
Setelah dicatat, Jisoo pamit undur diri.
Beberapa menit terlewati akhirnya Hanbin datang. Pria itu menggaruk kepalanya, bingung atas segala interior bertema fantasi milik cafe Oharsa ini. Dari mulai pelayannya mengenakan kostum penyihir, banyaknya lukisan naturalisme, gantungan bintang-bintang, dan beberapa ornamen peri.
Kenapa suami majikannya memilih tempat ini?
Hanbin heran. Apa pria sejantan Sehun punya selera moe-moe macam cafe ini?
Itu kenyataan tak terduga.
Hanbin mencari-cari keberadaan Sehun. Dia melihat Sehun melambaikan tangan padanya dan pria itu langsung berlari kemudian duduk di depan Sehun. "Maaf, Tuan Muda. Aku terlambat. Haechan merengek ingin melakukan panggilan video dengan Lady Luhan tapi beliau selalu sibuk. Syukurlah aku berhasil menenangkannya."
Sehun hanya menggeleng, "bukan masalah. Kau boleh memesan apapun. Biar aku traktir."
"Baik."
Pesanan Sehun dan Hanbin sudah terhidang. Sehun hanya memperhatikan Hanbin yang lahap memakan waffle madu pesanannya. "Kau kelaparan?"
Hanbin terbatuk kecil. Dia menyedot jus mangga cepat-cepat. "Ah...? Tidak! Saya suka rasanya."
"Itulah alasanku memilih tempat ini."
"Hah?" Mata Hanbin membulat.
Alis kanan Sehun terangkat seksi. Senyum miringnya menakjubkan, "Kau pikir aku suka selera moe-moe?"
"Apakah anda ini cenayang, Tuan Muda? Darimana anda tahu saya berpikir... Anda suka moe-moe?"
"Aku bukan cenayang. Aku bisa menebak karena kau seperti buku yang terbuka di tiap lembarnya."
Sontak pipi Hanbin memerah.
Sehun baru saja menerima pesan dari KakaoTalk. Dia melirik ke pelupuk mata. "Sebentar lagi kita kedatangan seseorang."
Hanbin melanjutkan makannya. Mumpung gratis.
"Oppa!"
Terkejut, Hanbin menyemburkan kunyahan wafflenya.
Refleks Sehun menutup wajahnya dengan nampan, agar semburan kunyahan waffle Hanbin tidak mengotori wajahnya. Hanbin sangat terkejut, astaga! Dan itu karena...
...Sehun membiarkan seorang gadis cantik merangkul lehernya dari belakang.
"Jennie, lepaskan rangkulanmu."
"Enam tahun lebih Oppa tidak menghubungiku dan sekarang Oppa melarangku bermanja-manja denganmu?"
'bermanja-manja?!' pekik Hanbin kesal. 'kau mengkhianati Lady Luhan?!'
Percayalah ini bukan kisah perselingkuhan. Maka Sehun mengurai rangkulan gadis bernama Jennie dan menyuruhnya duduk di sampingnya.
"Jennie, ini Hanbin. Dia adalah partner kerjamu selain Ji—"
"Adik Jisung? Aih... aku bisa menghubunginya sekarang juga kalau oppa mau."
"Kebiasaanmu harus diubah, Jennie. Jangan menyela perkataan orang lain sebelum mereka selesai bicara." Jennie langsung menggembungkan pipi setelah diceramahi Sehun. "Hanbin, ini Jennie Kimberly. Dia dulunya pengawal pribadiku selama aku tinggal di Mansion Oh."
Langsung mata Hanbin melotot.
"Tu-tunggu! Pengawal?!"
"Ne~," angguk Jennie sambil tersenyum iblis.
"Jennie, kau manager cafe ini, kan?" Sehun memastikan.
"Pemiliknya." Koreksi Jennie.
"Ah ya, maaf atas ucapanku yang salah," Sehun mengeluarkan laptop Sejeong dari tas ranselnya. "Kita butuh ruangan private. Karena ini pembicaraan yang cukup..." Sehun memandang Hanbin penuh makna. "...genting."
"Kalian berdua ikut aku!"
Perintah Jennie disertai ekspresi tegasnya. Gadis itu nampak sangat berbeda saat pertama kali Hanbin melihatnya merangkul Sehun. Jennie memimpin Sehun dan Hanbin ke sebuah ruangan, meniti anak tangga, hingga sampai di ruang manager.
"Di sini bagaimana?"
Suasana ruangan ini penuh warna hitam dan merah muda. Girly sekaligus badas.
"Bagus!" Sehun mengangguk. Dia membuka laptop di atas meja kerja Jennie. Gadis itu tak bosannya bergelayut di lengan Sehun, sementara Hanbin duduk di sampingnya dan ikut memandangi monitor laptop.
Salah satu file berupa word terbuka. Di sana ada tabel berisi nama-nama. Sebagian besar nama itu diblok kuning.
"Yang diblok kuning tak usah dipedulikan. Fokusmu hanya nama yang tidak diblok."
"Apa ini adalah daftar nama anggota polisi yang dikerahkan kerajaan untuk mengawasi distrik?"
"Yup! Relasi sangat dibutuhkan untuk mendapat informasi ini," Sehun sekilas melihat Jennie keluar dari ruangan. "Mereka itu Intel kepolisian. Karena aku yakin Raja Kris pasti melindungi keluarga Intel ini, sebaiknya kau kirimkan setidaknya satu Mafioso di setiap alamat rumah milik para intel ini. Mafioso tersebut akan menyusup ke dalam rumah mereka."
Sehun mengambil secarik kertas dan sebuah bulpoin merah. Dia mencoret-coret keras sambil menjelaskan, "kirim satu Mafioso di tiap rumah Intel yang kemungkinan Kris kirim untuk mengawasi distrik. Dari sini paham?" Hanbin mengangguk. Sehun menggambar satu rumah dan satu orang-orangan. "Mafioso ini akan menyamar menjadi pelayan atau pembantu tuan rumah yang diawasi. Apapun harus dilakukan agar mafia Xi bisa menerobos masuk ke rumah para intel tanpa kekacauan. Hal ini harus dilakukan pada hari ini juga!" tekan Sehun.
"Ini serangkaian dari rencana anda?"
"Ini proses awalnya. Omong-omong, bagaimana caramu dan para mafia modern ini berkomunikasi tanpa meninggalkan jejak di database manapun?"
Hanbin menyeringai, "mafia Xi punya satu aplikasi serupa KakaoTalk. Setelah kami mengobrol, pastikan harus ada pembersihan diri. Penghapusan histori permanen. Dengan itu kita tidak akan bisa dilacak kepolisian atau Intel manapun melalui digital."
"Nama aplikasinya?"
"Aplikasi LuluTalk. Kami tidak bisa sembarangan menyebarluaskannya."
"'Lulu'? Luhan yang membuatnya?"
"Ya. Dibantu Jongin. Proteksi aplikasi sudah diuji oleh beberapa hacker hebat kenalan Jongin. Sampai saat ini yang tahu identitas mereka hanya Tuhan, Jongin, dan Lady Luhan."
Pantas saja Mafia Xi berani melawan musuh seekslusif Raja Kris. Luhan sudah mempersiapkan segalanya untuk gencatan senjata.
Jennie baru saja masuk dengan dua gelas milkshake dan dua piring waffle coklat. "Diskusilah sambil makan."
"Terima kasih," ucap Sehun. "Jennie. Kali ini aku butuh peranmu. Jangan lupa panggil Jisung. Suruh dia menemuiku sekarang juga."
"Apapun untukmu, Oppa."
"Lusa kita akan mulai melawan kerajaan. Kau siap?"
"Hei... Bukankah dulu kita, termasuk Jisung, biasa melakukannya? Berontak pada pihak istana hanya untuk kabur dari mereka adalah keseharian anda selama jadi Putra Mahkota. Ya Tuhan, aku jadi nostalgia."
Candaan Sehun dan Jennie tidak dipedulikan Hanbin. Pria itu lebih memilih menghubungi beberapa anggotanya dalam satu grup obrolan.
Lusa...
...mereka benar-benar ber'perang' dengan Oh Sehun sebagai Komandan Perang.
Dan Intel Kepolisian sebagai prajurit milik Raja Kris.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, Luhan mendapati suaminya bicara serius dengan Baekhyun. Mereka duduk berhadapan di meja makan, menikmati sarapan berupa roti selai coklat. Terbukti dari piring mereka yang kosong dan hanya tersisa remahan roti serta bercak selai coklat.
"Kau sudah sering mendandani Luhan termasuk membantunya menyamar jadi pria kan? Apa itu berarti kau bisa membantuku, Baekki?"
Baekhyun meragu. Tak sengaja arah pandangnya bertemu Luhan. Wanita itu menatapnya dingin. "Op-oppa... Ada Luhan-eonni."
Sehun menoleh.
Luhan mendengus sambil bersedekap, "kalian persis pasangan kepergok selingkuh." cibirnya.
"Kita sudah membicarakan ini kemarin malam," Sehun merentangkan tangan pada Luhan. "Kemari. Maaf aku tidak mengajakmu berdiskusi dengan Baekhyun karena tidurmu sangat pulas tadi."
"Setidaknya kau peduli. Suamiku menyediakan sepiring roti di atas nakas," Luhan mencium pipi suaminya lalu duduk di sampingnya. "Lanjutkan diskusi kalian, aku akan mendengarkan saja."
"Tapi ini mengenai Mafia Xi, Eonni." Sejujurnya Baekhyun tercengang. Beberapa hari lalu Luhan ngotot melarang suaminya mencampuri bisnis gelapnya, tapi sekarang? Luhan seakan mempercayakan segalanya pada sang suami.
"Lalu, kenapa? Rencana suamiku terbilang matang. Dia juga punya setidaknya dua rencana cadangan bila rencana awal gagal."
Ekspresi tercengang Baekhyun melunak. Dia tersenyum tipis. Perlahan-lahan Luhan mulai berlaku selayaknya istri yang akan selalu mengandalkan suaminya. Baekhyun bahagia melihat perubahan tersebut.
Ini pertama kalinya Baekhyun mencampuri urusan 'gelap' seorang Xi Luhan. Kali ini Sehun mengajaknya dan memberi satu penawaran yakni pengalaman baru. Sebenarnya Baekhyun tak pernah dididik menjadi pemimpin seperti Sehun dan Luhan. Keluarga Byun hanya menuntutnya menjadi dokter dan pemusik handal. Karena meskipun Keluarga Byun memiliki Byun Hospital dan cabang-cabangnya, mereka juga dikenal berdarah musisi.
Keahlian musik Keluarga Byun jelas diiringi kecantikan dan ketampanan mereka. Baekhyun pun sudah terbiasa mengenal dunia rias, sebagai tuntutan cantik sempurna saat tampil di atas panggung. Hal tersebut menjadi penyebab Luhan memilih Baekhyun menjadi 'penata rias'nya.
Sehun ingat insiden penyusupan Keluarga Xi di Mansion Emeline. Saat itu Luhan menyamar sebagai Tuan Xio dan Baekhyun yang membantu Luhan berdandan. [Kalau lupa, baca chapter Five].
Karena itulah Sehun butuh bantuan Baekhyun.
"Aku mau," jawab Baekhyun. Dia ingin memperlihatkan pada Luhan bahwa dirinya bukanlah gadis ingusan. Baekhyun kuat. Dia tegar. Dia juga pantas bersanding dengan Chanyeol dan takkan menyusahkan pria bertelinga lebar itu. "Eonni... Apa Chanyeol-oppa tahu aku akan membantu Sehun-oppa?" tanyanya nekat.
Luhan meraut muka dingin, "dia tahu atau tidak bukan urusanmu. Jika dia tahu aku yakin dia takkan setuju."
"Chanyeol-hyung sudah tahu," Sehun mengecup pipi Luhan saat istrinya memelototinya. Pria itu memalingkan muka ke arah Baekhyun. Gadis itu tersenyum antusias.
"Apa tanggapannya, oppa?"
"Dia harap kau tidak merepotkanku dan menjadi gadis yang bisa diandalkan."
Luhan berdecih melihat ekspresi senang Baekhyun. Tapi biarlah selama Baekhyun tidak menuntut Luhan mengenai romansanya dengan Chanyeol, Luhan tak ambil pusing.
"Jangan merepotkan suamiku, Baekhyun."
"Sayangku, aku yang mengajaknya dan membutuhkannya, bukan sebaliknya." tegur Sehun.
"Terserah!" Ketus Luhan. "Bersiap-siaplah. Kalian harus pergi ke Mapo-gu. Di sana ada pabrik es krim salah satu brand XiLu berproduksi. Seseorang menunggu kedatangan kalian di sana. Untuk pergi ke sana, bisa melalui jalur darat dengan mobil. atau kereta dan bus juga bisa."
•~Mapo adalah nama distrik. Penyebutan distrik diberi imbuhan -gu di belakang nama distrik tersebut. Contoh : Distrik Jongno = Jongno-gu
"Eng! Aku mengerti, eonni." Hati Baekhyun penuh semangat. Dia beranjak lalu pergi ke kamarnya untuk siap-siap.
Ketika Baekhyun dan Sehun sudah siap dengan koper masing-masing, Luhan menunjukkan muka murungnya. Ibu hamil itu terlalu mengkhawatirkan suaminya. Berbagai pertanyaan seperti apakah Sehun berhasil? Apakah Sehun akan dalam bahaya? Apakah Kris punya rencana diluar dugaan? Semua itu mengerubungi otaknya.
"Jangan terlalu dipikirkan. Hanya percaya pada suamimu ini, oke?" bisik Sehun sebelum mengecup tengkuk istrinya.
Luhan meremas kuat tangan Sehun, "pulanglah dengan selamat. Jika tidak... Kau akan melihat kami mati bunuh diri." Desisnya.
"Pikirkan Triple Twin. Mereka akan terganggu jika kau stress. Hanya doakan agar aku baik-baik saja." Sehun mencium pucuk hidung Luhan. "Kita masih ada di kota yang sama. Aku pun tidak berperang, sayang..."
"Melawan raja artinya berperang, Hunnie. Lebih tepatnya..." Luhan menggeleng lemah, "jika kita melawan seseorang itu berarti kita berdua memeranginya."
Sehun memeluk Luhan-nya erat.
Hanya ada satu kalimat yang bisa meredakan kekalutan sang istri.
Yaitu, "aku mencintaimu, Hannie."
"Aku dan anak-anak lebih mencintaimu. Aku mempercayaimu. Jika kau tidak baik-baik saja... Kau mencederai kepercayaanku padamu."
"Aku tahu, sayang..."
Untuk sampai ke Distrik Mapo, Sehun bisa melalui jalur darat. Dia memilih mengendarai mobil yang cukup murah dan biasa-biasa saja. Baekhyun duduk di sampingnya. Dia berkata, "aku sudah siap, oppa."
"Sabuk pengamanmu sudah kencang?"
"Hm."
"Baguslah," Sehun membuka kaca pintu mobil. Dia melambai pada Luhan, "sampai jumpa eommanya Triple Twin."
Walau agak murung, Luhan membalas sambil tersenyum paksa. Seperginya mobil Sehun, Luhan langsung memasuki mansion. Tak lama kemudian Yuri menghampirinya dengan notebook di pelukannya. Gerak-gerik Yuri persis Chanyeol sewaktu pria itu masih menjadi sekretaris Luhan.
"Hari ini adalah hari penandatanganan kontrak antara Member EXO dengan XiLu Foundation. Besok baru kita mulai syuting iklannya."
Luhan hanya mengangguk. Dia diam ketika beberapa maid memakaikannya salah satu koleksi mantel hangat mewahnya.
Sementara itu, Oh Sehun mengendarai mobilnya dengan tenang. Dia cukup percaya diri karena sudah mengenal Seoul terlalu akut. Sebab itulah dia tahu kalau tidak semua titik jalanan dipasangi cctv. Jika tidak demikian, pasti banyak kasus kejahatan di Korea Selatan yang bisa diungkap.
Sayangnya kenyataan tak sesuai harapan. Seringkali kasus kejahatan di berbagai Kerajaan berakhir tanpa jawaban. Untuk Korea Selatan, biasanya suatu kasus terhenti karena kasusnya melewati masa kadaluarsa (maksudnya, masa berlaku suatu kasus. Jika kasus sudah 15 tahun tanpa jawaban, maka penyelidikan kasus itu diberhentikan. Atau jika tersangkanya ditemukan lebih dari 15 tahun setelah kasus dilaporkan, tersangka itu tidak dipidana karena masa kadaluarsanya lewat).
Atau bila masa kasusnya masih belum melewati kadaluarsa, penyelesaian terhambat karena ketidakbecusan instansi kepolisian. Alhasil, sebagian besar masyarakat tidak mempercayai pihak kepolisian.
Kepolisian dinilai sebagai instansi yang mudah disuap dan paling sering meremehkan korban miskin. Hingga tanpa disadari, ketidakpercayaan itulah yang menjadi kelemahan pihak pemerintah. Selayaknya pebisnis gelap, mafia Xi mampu membaca kelemahan pemerintahan sebaik mungkin. Hal itulah yang menyebabkan Mafia Xi sulit dibongkar pihak lain, bahkan Kris.
"Oppa?"
"Ya, Baekhyun?"
"Kau baik-baik saja?"
"Lebih dari baik."
Baekhyun tahu oppa kesayangannya itu bohong. Raut muka Sehun nampak kelelahan.
Meski begitu, Baekhyun sangat mengagumi jalan pernikahan HunHan ini. Keduanya saling melengkapi disaat musuh seberkuasa Raja menyerang mereka.
'Kekagumanku pada Sehun-oppa dan Luhan-eonni bukanlah kedudukan mereka. Melainkan usaha mereka untuk menjadi kelebihan satu sama lain. Apakah ada romantisme yang seindah mereka?' — Baekhyun.
Gadis itu memejamkan mata sembari berdoa dalam hati agar semuanya berakhir baik.
Hari ini suasana jalanan tidak terlalu ramai. Bersyukurlah karena cuaca dingin tidak terlalu menganggu aktivitas Kota Seoul dan sekitarnya.
Tak lebih dari dua jam, akhirnya mereka sampai di Distrik Mapo.
Tepatnya di depan sebuah pabrik es krim.
.
.
.
Distrik Mapo.
Adalah salah satu distrik dari 25 distrik di Kota Seoul. Di tengah distrik Mapo dan distrik Jongno (pusat Kota Seoul sekaligus lokasi istana Korea), terdapat satu distrik bernama distrik Seodaemon. Bisa ditarik kesimpulan kalau distrik ini tidak terlalu jauh atau tidak juga dekat dari istana.
[Untuk lebih jelasnya lihat gambar peta di google ya].
Sehun tidak terlalu memperhatikan distrik ini. Dia berpendapat tak ada yang mencurigakan di distrik Mapo ini.
Ketika Sehun keluar dari mobil disusul Baekhyun, seorang nenek tiba-tiba meremas bahu Baekhyun dan menangis. "Nak... Kembalilah ke rumah, jangan berkeliaran. Apalagi di siang bolong dan malam hari. Pulang ke rumahmu, nak... Pulang..."
Tampilan nenek itu bersih, rapi, khas nenek di kota-kota pada umumnya. Hanya saja air mukanya suram.
Baekhyun tak menganggap nenek itu gila. Mungkin rupa Baekhyun mirip cucunya, jadi nenek itu merindu. Dengan tutur lembut nan imut, Baekhyun bertanya, "Halmeoni rumahnya di mana?"
Nenek itu menggelengkan kepala. "Sebaiknya kau pulang, nak... Gadis secantik dirimu tidak boleh ada di sini." Dia terus menangis lalu pergi menjauhi pabrik. Sehun terus memperhatikan nenek itu hingga menghilang karena si nenek melewati belokan.
Pekerjaan Sehun sebagai Psikolog bertahun-tahun membuatnya mudah menganalisa sikap seseorang, termasuk si nenek tadi. Nenek itu masih waras, hanya saja sulit menyampaikan sesuatu karena ketakutan dan kesedihan terlalu dalam. Sehun memandang wajah Baekhyun lamat-lamat penuh pemikiran. Yang ditatap mengerutkan kening, "oppa? Kau baik?"
"Sudah berapa kali kau bertanya begitu padaku?" senyum Sehun. "Aku baik, Baekki-ya..."
Sehun menepis kecurigaannya. Fokus kali ini adalah membantu Mafia Xi mengantarkan 'barang-barang' mereka.
"Maaf? Anda... Tuan Muda Sehun?"
Sehun menoleh pada seorang pria, cukup muda, sedikit lebih tinggi dari Sehun, dan tampan. Pria itu memakai seragam tukang es krim. Rambut hitamnya ditutupi topi baseball merah.
Karena tahu pria di depannya tidak berbahaya, mengundang senyum Sehun. "Ya."
Pria itu mengulurkan tangan, Sehun membalas jabatan tangannya.
"Nama saya Rowoon, Tuan Muda."
Seusai perkenalan singkat itu, Sehun menyuruh Rowoon dan Baekhyun bergegas memasuki mobilnya. Baekhyun duduk di jok tengah, sementara Sehun dan Rowoon duduk di depan. Kedua pria itu hanya sedikit bicara. Dari gelagat Rowoon, pria itu sungkan terhadap Sehun. Baekhyun tebak tingkah sungkan Rowoon tak jauh dari status Sehun sebagai suami Luhan.
"Kau ini salah satu Pria Koleksi Luhan?" tanya Sehun sambil fokus pada jalanan.
"Benar. Tepatnya di urutan kelima."
"Apa selama ini kau tinggal di Mapo-gu?"
"Ya. Saya tidak boleh memperkenalkan diri sebagai kenalan Lady Luhan, sama halnya dengan Daniel-hyung. Karena itulah saya tinggal di distrik ini sebulan setelah Lady Luhan memposisikan saya sebagai salah satu pemimpin kelompok Mafia Xi di Mapo-gu. Atau anda bisa mengatakan, saya adalah pemimpin Mapo-gu team."
"Kalau boleh tahu, berapa total Pria dan Gadis Koleksi Luhan?"
"Masing-masing empat belas."
Sudah Sehun duga, pria dan gadis koleksi terakhir istrinya adalah Kim Jongin dan Do Kyungsoo. Keduanya juga di urutan sama yakni ke-14.
"Banyaknya pelayan di Mansion Xi itu... Tidak semuanya dipilih sebagai pria dan gadis koleksinya ya?"
"Setengah dari jumlah pelayan adalah pelayan biasa, Tuan Muda."
Sehun menghela nafas. Dia merasa payah karena baru tahu jumlah pria dan gadis koleksi istrinya dari bibir orang lain.
Tak sampai lima belas menit, Sehun menghentikan laju mobilnya.
"Jadi ini rumahmu?"
"Benar, Tuan Muda."
Ketiga orang ini memasuki rumah sederhana milik Rowoon. Pria itu bilang, "rumah ini dibelikan Lady Luhan. Syukurlah beliau memilih yang minimalis jadi saya tidak kesulitan merawatnya. Jika saya sukses tanpa bantuan beliau, saya pasti akan membalas budi padanya."
Sehun heran, apa benar pria di sampingnya ini seorang mafia? Kenapa auranya tidak terasa kejam? Sehun tersenyum lirih. Dia rasa istrinya lebih suka pria kejam yang diam-diam menghanyutkan.
"Rumah ini punya dua kamar. Tuan Muda Sehun bisa tidur dengan saya atau kalau keberatan, saya bisa tidur di sofa ruang tamu. Sementara itu Nona Muda Baekhyun bisa tidur di kamar tamu." ujar Rowoon.
"Kau tidur saja denganku. Ranjangnya muat kan?" respon Sehun ramah. Rowoon mengangguk kaku. "Nah, Baekhyun. Kau rapikan barang-barangmu oke..."
"Ne, oppa." Baekhyun memasuki kamar tamu sambil menggeret kopernya.
Kini hanya Sehun dan Rowoon di ruang tamu ini.
"Hanbin sudah memberitahumu serangkaian rencananya?"
"Ya Tuan Muda."
"Menurutmu, apakah ada beberapa kelemahan?"
"Untuk saat ini, rencana anda sifatnya sama seperti rencana Lady Luhan. Kalian teliti dan cerdas menganalisa lawan sehingga rencana kalian terbilang nyaris sempurna." Rowoon melebarkan mata sipitnya. "Mungkin kelemahan di pihak kita hanya satu. Kita belum pernah melawan Raja Kris sebelum ini. Seingatku, yang pernah melawan orang itu hanya Lady Luhan."
"Aku sudah mendengar pendapat istriku. Dia hanya merespon, 'Kris punya ego terlalu tinggi. Jadikan itu celahnya. Semakin kau membuatnya marah, dia akan semakin ceroboh dalam mengambil keputusan.' kupikir membuat Kris marah adalah dengan keberhasilan rencana ini. Tapi ketika kutanya pada Luhan, istriku itu hanya tersenyum cantik namun penuh misteri."
Tatapan menerawang Sehun membuat Rowoon berpendapat suami majikannya ini begitu mencintai sang majikan. Rowoon terkekeh kecil, "beliau percaya anda pasti bisa memahaminya. Beliau juga ingin mengetes anda."
Baekhyun baru saja selesai menata barangnya. Gadis itu duduk di samping Sehun. "Jadi, apa yang harus kulakukan?"
"Bantu kami berdua agar bisa bertukar wajah," jawab telak Sehun.
Baekhyun mengetuk-ngetuk dagu, "bertukar wajah?" Kepalanya mengangguk-angguk kecil. "Aku sepertinya paham isi otakmu, Sehun-oppa. Mendekatlah, oppa... Biar kuraba wajah tampanmu itu."
Mata bereyeliner tipis Baekhyun terpejam anggun, sambil tangan berjari lentiknya meraba keseluruhan wajah Sehun. Baekhyun mengerutkan kening, kemudian tersenyum simpul. Dirasa puas memahami kontur wajah Sehun, Baekhyun membuka mata dan undur diri. "Ini akan sedikit sulit. Jarang aku menemui pria berahang tajam namun pas seperti Sehun-oppa."
Baekhyun kemudian beranjak ke arah Rowoon, "boleh aku meraba wajah Rowoon-oppa?"
Sontak pipi Rowoon memerah. Dia mungkin membatin kadar keimutan Baekhyun di luar batas kewajaran. Sehun berdeham, dia menyeringai jahil, "gadis itu sudah ada yang punya. Jangan sampai kau tertarik padanya, Rowoon-ssi."
Sehun jelas menggoda Rowoon. Pria itu hanya merespon, "n-ne...?"
"Sehun-oppa! Jangan membuat wajah Rowoon-oppa tegang begitu!" Protes Baekhyun. Sehun hanya mengendikkan bahu.
Seusai meraba ketampanan Rowoon, Baekhyun nyengir, "yossh! Karena rupa kalian ada sedikit kemiripan, ini akan lebih mudah. Hanya saja, karena iris mata Sehun-oppa terlalu langka, Rowoon-oppa harus memakai lensa kontak hitam pekat, untuk menyamarkan iris mata coklat Rowoon-oppa."
Iris mata hitam pekat hanya dimiliki 1% persen dari total populasi manusia di bumi. Uniknya, Keluarga Inti Oh secara turun temurun memilikinya.
"Kau memang bisa diandalkan Baekhyun," pujian Sehun mengundang cengiran imut Baekhyun. "Kalian lapar? Aku akan memasakkan sesuatu jika Rowoon punya bahan masakan."
Baekhyun memekik senang. Dia paling suka masakan dari gerak gesit tangan oppa kesayangannya. Rowoon hanya tersenyum. Dia menuntun Sehun ke dapur.
Ketiganya akan bekerja keras besok, sebagai usaha melawan pihak istana.
Dan mereka tahu ini tidak akan pernah jauh dari tujuan : yaitu Xi Luhan.
Besok, adalah hari perlawanan mereka.
.
.
.
Keesokan harinya,
.
.
.
Ruang bawah tanah flat tempat sebagian Mafia Xi menginap, adalah markas utama Mafia Xi. Tapi tidak semua Mafioso datang kemari. Hanya para pemimpin kelompok dan beberapa mafioso yang diperbolehkan datang, itupun atas seizin Luhan dan Hanbin.
Obrolan di grup LuluTalk sedikit ramai oleh ratusan Mafioso milik Keluarga Xi. Ratuaan Mafioso itu adalah yang Hanbin pilih untuk menyusup ke rumah-rumah para Intel Kepolisian. Alasan mereka dipilih karena mereka sudah berpengalaman di divisi pembunuhan. Skill mereka yakni penyusupan, penyamaran, dan pembunuhan tentunya. Mereka biasanya membunuh target atau lawan bisnis Luhan.
Ingat! Mafia adalah organisasi kejahatan terorganisir. Maka jangan heran keanggotaan mafia Xi dibagi atas beberapa divisi.
Hanbin baru saja mendandani dirinya sendiri sebagai pria berkumis. Hal itu membuat wajahnya sepuluh kali lebih tua. Dia memberi komando pada ratusan mafioso ini di grup obrolan LuluTalk.
GRUP OBROLAN : DIVISI PEMBUNUHAN
Komandan Hanbin : kalian sudah ada di rumah para Intel Kepolisian? kuingatkan sekali lagi! Satu rumah satu Mafioso. Lakukan pekerjaan kalian serapi mungkin.
Pembunuh 1 : kondisi di sini agak rumit. Saya yakin masing-masing rumah keluarga Intel Kepolisian diawasi pengawal kerajaan. Saya tak perlu memotret dua orang bersembunyi di semak-semak, kan?
Pembunuh 97 : Raja Kris mempersiapkan segalanya untuk melawan kita.
Pembunuh 56 : apa perlu kuingatkan, kalau seorang Intel harus menyembunyikan identitasnya 'sebagai intel' dari orang lain, termasuk dari keluarganya sendiri? Jika para pengawal itu terang-terangan menjaga rumah para Intel itu, yang ada identitas para intel ketahuan dong. Hahaha, apa aku nampak cerdas?
Pembunuh 94 : krik krik krik :0
Pembunuh 96 : di atasku sialan sekali :)
Pembunuh 4 : fyi, aku juga cukup kesulitan menyamar sebagai 'Minho'. Siapa orang itu? Seperti apa dia? Untung saja aku sudah mengamati tabiatnya. Bahkan membunuh si Minho itu dengan mensabotase mobilnya hingga masuk ke jurang. Jika tidak begitu, matilah aku! :"((
Pembunuh 16 : di atasku ini pembunuh atau tidak sih?! Berhentilah bercanda, jerk!
Komandan Hanbin : kalian bersiap melakukan 'pengancaman'. Jangan gunakan ponsel kalian. Gunakan telepon rumah itu.
Pembunuh 197 : kami tahu itu, tenang saja, komandan.
Komandan Hanbin : good luck, Killers...!
Hanbin mengakhiri obrolan. Dia memandang Jongin dan Kyungsoo yang duduk berdampingan. Jongin adalah pengacara dengan hacker sebagai keahlian tambahan. Sedangkan istrinya, Kyungsoo, adalah mahasiswa jurusan psikologi sekaligus mahasiswi Sehun. Wanita pinguin itu tengah hamil muda. Usia kandungannya beda beberapa hari dengan kandungan Luhan.
"Aku sudah biasa berinteraksi dengan segala jenis manusia. Itulah tuntutanku sebagai mahasiswi psikologi," ucap Kyungsoo ketika ditanyai Hanbin alasan Sehun memilihnya ikut membantu Jongin. "Apalagi aku dituntut mengamati mimik muka calon klienku kelak, agar aku sedikit tahu tentangnya dari pandangan pertama. Hal inilah yang membuatku atau Sehun-oppa tidak semudah itu melupakan atau ditipu oleh rupa atau gerak-gerik seseorang."
Hanbin takjub.
Sehun benar-benar pintar memilih partner kerja atau orang-orang yang ingin dilibatkan.
Jongin memasang headphone untuk mendengar sesuatu sewaktu meretas nanti. Dia sudah siap dengan lima laptop di hadapannya, apalagi kecepatan jarinya dalam meretas sungguh mempesona. Kyungsoo sendiri sesekali memperhatikan suaminya, lalu membuka-buka foto para Intel Kepolisian. Sementara Jennie, Jisung (dua kenalan Sehun), dan Haechan duduk manis di hadapan pasutri Kim tersebut.
Beberapa Mafioso lain juga terlibat. Sekitar sepuluh orang sama siapnya dengan Jennie dan Jisung karena sepuluh Mafioso itu punya tugas sama.
"Rute truk es krim kita melewati empat distrik. Yaitu Mapo-gu, Yongsan-gu, Seongdong-gu, dan Gwangjin-Gu." Hanbin berdiri di depan papan peta. Dia menunjuk tiga distrik berurutan. "Titik awal truk es krim adalah Mapo-gu. Perbatasan antara Mapo-gu dan Yongsan-gu akan diawasi oleh Jisung."
Jisung, mantan pengawal pribadi Sehun sekaligus mantan partner kerja Jennie, hanya tersenyum simpul sambil mengangguk-angguk. Pemuda berwajah remaja itu tak lupa mencatat beberapa hal penting dari komando Hanbin.
"Setelah sampai ke Yongsan-gu, truk es krim akan melewati perbatasan antara Yongsan-gu dan Seongdong-gu. Nah! Perbatasan ini diawasi oleh Jennie."
Jennie yang duduk di samping kiri Jisung hanya mengangguk malas. Baginya, mendengarkan ucapan orang lain membosankan. Dia hanya mau mendengar suara Sehun, majikan tersayangnya.
"Terakhir, adalah perbatasan Seongdong-gu dengan Gwangjin-Gu. Di sana aku yang mengawasi perbatasan." Hanbin bersedekap. "Untuk sepuluh distrik di sekitar empat distrik tersebut akan diawasi oleh Mafioso lainnya. Berjaga-jaga saja agar tidak terjadi hal tak diinginkan. Tugas kita hanya mengawasi. Pastikan intel-Intel di tiap distrik tidak mendekati truk es krim kita. Untuk menghilangkan kecurigaan, beberapa mobil akan Mafioso Xi kendarai. Mereka akan mengikuti truk es krim secara bergantian. Dari sini ada yang ditanyakan?"
"Tidak ada, komandan!" Jawab telak pada Mafioso.
Hanbin meniup anak rambutnya, "bagus!" Pandangannya beralih pada seorang remaja "Haechan. Hubungi Tuan Muda Sehun, jangan dimatikan kalau belum ada aba-aba dari beliau. Kau paham?"
"Ne, Hyung."
Haechan memasang headset bluetooth di telinga kirinya. Ponselnya mulai melakukan panggilan pada Sehun. Beberapa detik menunggu, akhirnya Haechan bisa mendengar suara Sehun.
Aplikasi yang dipakai untuk panggilan tentu Lulu-talk karena proteksi aplikasi ini lebih kuat daripada aplikasi komunikasi lainnya.
["Yeobseyo, Haechan. Hanbin dan lainnya sudah pergi?"]
Haechan melihat Hanbin, Jisung, Jennie, serta sepuluh Mafioso lainnya keluar dari ruang bawah tanah. Sementara itu, hanya tinggal Haechan, Jongin, dan Kyungsoo.
"Ne, Tuan Muda."
["Bagus. Bisa kau serahkan headsetnya pada Kyungsoo?"]
Haechan membantu Kyungsoo mengaitkan headset ke telinga kiri Kyungsoo. "Oppa...aku sudah siap."
["Kau dengar instruksi Hanbin, kan?"] Sehun bertanya dan Kyungsoo mengangguk yakin. ["Kau dan suamimu bertugas mengawasi aktivitas di puluhan distrik lewat cctv yang Jongin retas. Dalam cctv itu pasti menampilkan aktivitas pemeriksaan para Intel. Sewaktu truk-truk yang lewat, para Intel itu pasti mendekati truk target dan memeriksa isi angkutan truk-truk tersebut. Kemungkinan besar 'mereka yang mendekati dan memeriksa truk' adalah Intel Kepolisian. Ingat! Amati dan cermati wajah serta pergerakan mereka. Jangan tertipu dengan penyamaran mereka. Setelah itu cocokkan wajah mereka dengan yang ada di foto-foto. Setiap foto pasti punya nama dan identitas. Nah, jangan lupa lingkari nama-namanya. Kau paham, Kyungsoo?"]
"Ne, Oppa. Tapi... Cctv ini ada banyak." keluh Kyungsoo dengan nada datarnya.
["Sesanggup dirimu saja. Hanya pastikan truk es krimku lolos dari para Intel."]
"Baiklah..." ucap agak malas Kyungsoo.
Kim Jongin menyadap cctv di 25 distrik. Cctv yang disadap hanya yang berada di jalanan vital seperti jalan raya. Meski begitu, satu dari lima laptop memfokuskan empat distrik yang dilewati truk es krim. Laptop itulah yang terus diperhatikan Haechan.
"Truk es krimnya mulai melaju, Jongin-hyung." Tegur Haechan sambil menunjuk salah satu rekaman cctv.
Jongin bersama headphone di kepala tampannya hanya mengangguk.
Kyungsoo heran, bagaimana suaminya bisa seserius itu mengoperasikan lima laptop sekaligus? Bibir hatinya tersenyum. Dia sungguh mengagumi ketampanan suaminya dari profil samping.
Istri Jongin itu memutuskan berdiri di belakang punggung suaminya dan mata belonya jeli mengamati tiap CCTV.
Haechan ikut memperhatikan video berupa sadapan cctv. Sesekali dia membantu Kyungsoo melakukan tugasnya.
.
.
.
Mapo-gu.
Baekhyun mendandani wajah Rowoon dan Sehun dengan baik. Rowoon menyamar sebagai Sehun dan sebaliknya, Sehun menyamar menjadi Rowoon. Rowoon menggunakan mobil Sehun untuk pergi ke mansion Xi, sementara Sehun mengendarai truk es krim dengan Baekhyun di sampingnya.
Sehun bicara dengan Kyungsoo. Headset bluetooth di telinga kanannya menambah ketampanannya. Baekhyun sendiri mendengus. Dia menyamar sebagai pria tapi kenapa dia tidak bisa setampan Luhan saat menjadi Tuan Xio?
"Kau dengar aku, Kyungsoo?" Sehun menjilat bibirnya. Tangan kekarnya menyetir truk dengan konstan. "ada 25 distrik di kota Seoul. Telaah penyamaran para Intel Kepolisian yang mengawasi tujuh distrik termasuk Mapo-gu dan Yongsan-gu. Lima distrik sisanya pilih secara acak. Kau paham?" Sehun terdiam sejenak. "Bagus. Sekarang suruh Jongin fokus pada tujuh distrik tersebut. Kemudian perhatikan baik-baik pergerakan Intel Kepolisian di tujuh distrik tersebut. Lalu kau tandai nama-nama mereka." Sehun menggantung ucapannya. Beberapa truk berhenti di perbatasan antara Mapo-gu dan Yongsan-gu. Sekitar dua truk berbaris di depan truk es krim yang Sehun kendarai.
Ada pula truk yang dibiarkan berlalu begitu saja, termasuk truk es krim Sehun. Mungkin truk-truk itu akan diawasi di titik lain. Bisa saja di pusat Yongsan-gu, atau yang sedikit jauh dari perbatasan.
Tiap truk kemungkinan dihentikan orang asing kira-kira dua sampai tiga orang. Para orang asing ini akan menunjukkan kartu identitas sebagai polisi, lalu berkata, "kami menyamar untuk menjaga keamanan Kota Seoul. Boleh kami periksa isi truk anda?"
Aktivitas ini kalau dilihat masyarakat setempat, mungkin seperti ini : truk dihentikan oleh teman si supir truk. Kemudian supir truk dan temannya mengobrol.
Karena Intel Kepolisian ini bekerja dengan cerdas, Sehun mengumpat. Mereka tidak akan membiarkan truk-truk berbaris layaknya di pom bensin. Sebaliknya, Intel Kepolisian menyebar untuk menghentikan truk di titik lain selain perbatasan.
Kemudian mereka memeriksa isi truk tersebut.
.
.
.
Yongsan-gu
Truk es krim Sehun akhirnya menyusuri Yongsan-gu tepat di jalan raya super ramai. Dirasa tepat, Sehun menghubungi Kyungsoo. Matanya sesekali melirik CCTV. Dia berkata dalam hatinya, 'ini akan sedikit sulit.'
"Kyungsoo, kau sudah mengetahui identitas asli para Intel Kepolisian yang bertugas di di tujuh distrik termasuk Yongsan-gu dan Mapo-gu? Bagus! Hubungi para 'pembunuh' di rumah masing-masing Intel tersebut. Biarkan para pembunuh mengancam para Intel untuk pengalih perhatian."
Polanya 7-8-8.
Jadi, ketika Sehun melewati Yongsan-gu, maka Kyungsoo akan mengawasi tujuh distrik termasuk Yongsan-gu dan Mopa-gu.
Kemudian, ketika Sehun melewati Seongdong-gu, Kyungsoo akan mengawasi delapan distrik termasuk Seongdong-gu.
Terakhir, ketika Sehun melewati Gwangjin-gu, Kyungsoo akan mengawasi delapan distrik termasuk Gwangjin-gu itu sendiri.
'Mengawasi' di sini adalah, Jongin dan Kyungsoo akan memperhatikan cctv di distrik-distrik yang dipilih. Dengan cermat dan teliti, disertai kecerdasan, Kyungsoo akan mengamati mana wajah-wajah Intel Kepolisian yang berjaga distrik-distrik yang diawasi Kyungsoo dan Jongin tersebut. Setelah itu, wajah-wajah tersebut dicari tahu identitasnya, barulah Kyungsoo menghubungi para pembunuh lewat grup obrolan.
Ini dimaksudkan agar tak ada yang menduga kalau truk es krim bisa mengacaukan pengawasan Intel Kepolisian. Karena ancaman tak hanya untuk Intel di distrik-distrik yang dilewati truk es krim, tapi juga untuk Intel di distrik lainnya.
Baekhyun—yang sibuk mengawasi jalur tempuh Sehun—paham dengan baik rencana oppa-nya. Dia tak menyangka rencana ini terorganisir dengan baik.
Bahkan, nyaris sempurna tanpa cela.
.
.
.
Ruang Bawah Tanah Markas Mafia Xi.
Di hadapan Kyungsoo adalah buku tebal berisi tabel nama-nama para Intel Kepolisian yang mengawasi distrik-distrik di kota Seoul. Buku ini berjudul 'Nama Pengawas'. Ada foto-foto wajah ukuran 4x6 beserta nama, alamat rumah, nomor ponsel, pangkat, dan sebagainya.
Kyungsoo berhasil mengenali para Intel yang menyamar di tujuh distrik secara acak, termasuk Mapo-gu dan Yongsan-gu. Sekitar 73 daftar nama Kyungsoo lingkari. Setelah itu Kyungsoo memfoto nama-nama itu dan mengirimkan ke Grup obrolan : Divisi Pembunuhan.
Pororo : ini adalah foto nama-nama yang akan kalian ancam. Bagi yang nama targetnya tidak dilingkari, dimohon bersabar. Karena polanya bergiliran, tidak semua pembunuh mengancam dalam waktu bersamaan.
Pembunuh 74 : aku tebak, yang mengetik di atasku ini pasti wanita cantik. Baca saja ketikannya, rapi sekali persis ucapan pramugari.
Pengacara Jongin : jangan merayu istriku, sialan! Cepatlah bekerja!
Pembunuh 74 : oke-oke, Jongjong-hyung~ :"((((
Pembunuh 188 : RIP Pembunuh Newbie di atasku ini.
Pembunuh 74 : SIAPA YANG KAU BILANG NEWBIE, HAH?!
.
.
.
Di sisi lain, tempat tinggal para Intel.
Para pembunuh yang menyusup di rumah Intel (dengan nama yang Kyungsoo lingkari) siap melayangkan ancaman mereka. Mereka sudah biasa menyusup dan menyamar, termasuk membaca situasi dengan baik. Dirasa aman, mereka akan bicara pada para Intel yang ditargetkan lewat telepon rumah.
Ancaman mereka berbunyi, "halo. Aku ingin memberitahumu kalau aku mengawasi rumahmu. Para pengawal kerajaan berada di luar rumahmu. Sayangnya, aku ada di dalam rumahmu dan dalam satu tarikan saja... Satu dua orang keluargamu akan mati. Bagaimana? Kau mau? Percuma kau melapor pada kerajaan. Karena jika demikian, ada bom bunuh diri di dadaku dan boooam! Seluruh keluargamu mati. Maka dari itu, turuti perintahku. Ini cukup mudah kok. Jangan memeriksa truk manapun sampai aku berkata, 'kembalilah bertugas.' paham, Tuan Intel?"
Para Pembunuh—bawahan Xi ini—tersenyum penuh makna.
Kemudian mereka akan kembali 'bekerja' melayani keluarga intel seakan tak pernah melakukan apapun.
Di pihak lain tepatnya para Intel yang diancam, mereka tentu was-was. Data diri mereka bocor padahal yang tahu identitas para Intel adalah Raja Kris dan Perdana Menteri Yeonseok serta atasan mereka. Mereka sudah terlatih untuk mengantisipasi segala situasi genting, namun, saat mereka tahu Intel yang diancam lebih dari 70 intel dalam waktu bersamaan...
...para Intel ini mulai ketakutan.
Yang mengancam mereka bukan pembunuh sembarangan, tapi suatu gerbong kejahatan.
Tidak,
Melainkan mafia di era modern.
Intel-intel ini mulai cari aman. Mereka tidak memberhentikan atau mengecek truk, kecuali truk skala besar seperti truk yang mengangkut beban 10-12 ton.
Setelah ada kabar kalau Sehun berhasil melewati Yongsan-gu, para pembunuh itu kembali menghubungi para Intel dan mengatakan,
"Lanjutkan tugas kalian. Aku sudah berada di luar rumah yang jauh dari jangkauan pengawal kerajaan. Semoga berhasil menghadapi para truk. Oh iya lupa... Aku sudah memasang bom di rumahmu jadi jika kau melaporkan hal ini ke pemerintah, atau teman satu karir kalian, aku akan menekan remote dan bom itu meledakkan rumahmu."
Para pembunuh benar-benar 'licin' keluar rumah tanpa diketahui para pengawal kerajaan.
Mereka yang sudah mengancam kembali ke markas Mafia Xi untuk melapor.
Sesekali menyeringai setan di balik tuding hoodie mereka.
Para Intel tak bisa berkutik, karena kematian massal di tempat-tempat berbeda akan terjadi jika mereka gegabah.
Secara kebetulan mereka semua bertanya di titik dan distrik yang berbeda,
"Siapa yang kami lawan ini?"
.
.
.
Gwangjin-gu.
Jennie lalu Jisung. Keduanya mengawasi distrik Yongsan-gu dan Seongdong-gu sebagai supir taksi. Untuk mengecoh cctv atau tidak membuat siapapun curiga, Jennie dan Jisung tentu menaikturunkan penumpang yang berbeda di tiap mereka menepikan taksi. Padahal, penumpang mereka ternyata para mantan Yakuza Aihara. Mereka memiliki wajah yang awet muda, tato sebagai Yakuza pun sudah lama dihilangkan setelah keluar dari organisasi tersebut. Mantan Yakuza ini membantu Luhan sebagai utang budi.
Toh, mereka sudah menetap di Seoul.
Jennie dan Jisung sudah memastikan Sehun dan truk es krimnya melewati Mapo-gu, Yongsan-gu, dan Seongdong-gu. Kini Sehun melewati Gwangjin-gu tanpa hambatan.
Sehun tahu dirinya berhasil dengan mudah.
Namun Sehun membelalakkan matanya ketika dia melirik salah satu CCTV di perempatan jalan, tepat saat lampu merah menyala.
Sehun menundukkan topi baseballnya sambil menatap tajam ke depan.
"Sial!"
Insting buruk Sehun mengatakan kalau kemudahan ini pasti terselip jebakan dari Raja Kris.
.
.
.
"Truk es krim."
Gumam Chanwoo tepat di depan puluhan layar monitor dalam satu ruang CCTV. Ruangan ini adalah ruang pengawas. Berada di gedung Dinas Perhubungan kota Seoul. Chanwoo bisa masuk ke Ruang CCTV Kota Seoul ini karena koneksinya dengan Raja Korea Selatan.
Raja Woo Kris.
"Ada apa dengan truk es krimnya?"
"Truk es krim itu membawa stok eskrim yang merupakan salah satu brand produk XiLu Corporation," Chanwoo menunjuk truk es krim yang terekam dari cctv perempatan lampu merah. Tepatnya di Gwangjin-gu. "Truk itu selalu lolos dari penjagaan."
"Tak hanya truk itu kan? Beberapa truk yang membawa barang-barang dari produk XiLu Corporation juga sudah diperiksa para Intel. Isi truk itu biasa saja, bukan barang selundupan. Hei, Chanwoo. Apa kau berbohong padaku kalau Mafia Xi beraksi hari ini?"
Chanwoo membungkuk hormat, "tentu tidak, Pyeha..."
Ruangan ini hanya dihuni oleh Kris, Chanwoo, dan...
...salah satu gadis milik Raja Kris.
Gadis itu duduk di pangkuan Raja Kris. Tubuhnya telanjang. Dia sudah digerayangi Kris sedemikian rupa namun belum dimasuki juga.
"Ah... Baby Lu... Kau seksi sekali..." Desah Kris ketika gadis koleksinya mulai menggoyangkan pantatnya di selangkangannya. "Kau akan mendapatkan penismu baby Lu, tunggu saja."
Chanwoo melirik ke pelupuk mata, sekilas, sebelum akhirnya menekan tombol-tombol di bawah berbagai monitor cctv. Sembari fokus memperlihatkan cctv di Gwangjin-gu, Chanwoo menyindir sang Raja, "Sampai kapan anda berimajinasi kalau gadis-gadis anda adalah Lady Luhan, Pyeha?"
Kris masa bodoh. Dia hanya memperhatikan Chanwoo yang memunggunginya. Pria Koleksi Kedua Luhan itu memfokuskan target yakni pada satu truk es krim.
"Rowoon?" gumam Chanwoo tercengang, tepat ketika melihat wajah si supir truk es krim. Kemudian dia menyeringai, "gotcha! Truk itu pasti yang membawa 'barang-barang' milik Mafia Xi."
ZZRRTTT...!
Chanwoo dan Raja Kris membelalakkan mata mereka sewaktu CCTV di tujuh distrik secara acak, termasuk Gwangjin-gu, mati total. Chanwoo hanya melihat latar gelap. Dia tahu puluhan cctv mati bersamaan karena ulah satu orang,
Chanwoo menggeram penuh amarah, "JONGIN BRENGSEK!"
Dengan kesal dia menghubungi salah satu anggota Intel di Gwangjin-gu, "segeralah pergi ke daerah jalan A. Cari truk es krim berplat nomer XX. Kau dengar aku?! Bergeraklah cepat!"
Sementara itu, di tempat lain tepatnya markas Mafia Xi...
...Jongin tertawa jahat diiringi senyum tak habis pikir dari istrinya.
"Butuh ratusan tahun untuk menumbangkan Keluarga Bangsawan Xi, Raja bodoh!"
.
.
.
Selama perjalanan dari Mapo-gu ke Gwangjin-gu, Baekhyun terus memperhatikan Sehun dari jok mobil di samping Sehun. Gadis itu tak mau memecah konsentrasi Sehun, jadi dia diam saja.
Sehun menepikan truk es krimnya ke jalanan sepi yang tak terlalu banyak cctvnya. Dia juga baru mendapatkan informasi dari Kyungsoo kalau Jongin baru saja 'mematikan' cctv di tujuh distrik termasuk Gwangjin-gu. Sambil menekan headsetnya, Sehun berkata, "aku tinggal menunggu Rowoon bergerak, Kyungsoo. Ya. Setelah aku sampai ke tempat tujuan, maka kau dan suamimu selesai 'membantu'ku. Terima kasih untuk kalian berdua. Aku matikan sambungannya ya?"
Sehun melirik jalanan di sekitar. Dia dan Baekhyun masih ada di dalam kepala truk. "Baekhyun-ah... Tolong awasi lingkungan di sekitar sini." Baekhyun mengangguk. Sehun mulai menghubungi seseorang, "Ah! Rowoon. Aku berhenti sebentar. Jongin-hyung sudah mematikan cctv di Gwangjin-gu jadi kau bisa melewati jalanan raya. Pastikan jalanan itu ramai dan ada banyak cctv yang menyorot trukmu. Satu lagi kuingatkan. Pergilah ke Mall selain XiLu mall, tepatnya di I Scream Restaurant cabang Gwangjin-gu. Salah satu kenalan Hanbin ada di sana."
["Ne, Tuan Muda."]
"Oh ya satu lagi, pergilah melewati Jalan A." Sehun tersenyum tampan nan misterius. "Aku yakin, akan ada banyak Intel mengerubungimu di sana."
Di seberang sana, Rowoon dibuat takjub karena ucapan Sehun benar adanya. Baru saja truk Rowoon melewati Jalan A dan diberhentikan beberapa orang. 'Jika Tuan Muda Sehun seorang wanita, mungkin aku akan jatuh cinta padanya.' batin Rowoon terkesima.
["Ne."]
"Kau sudah menghapus makeup penyamaranmu?" tanya Sehun sambil dia menghapus make-up penyamarannya dengan tisu basah.
["Tentu."] Rowoon bersuara pelan di seberang. Postur tubuhnya tenang agar tak dicurigai siapapun. ["Jika 'sesuatu' belum dihapus, pekerja pabrik es krim di Gwangjin-gu tidak akan mengenali saya."]
Sehun terkekeh, "cobalah olahan es krim tema Halloween di I Scream Restaurant. Itu enak lho."
Di sebrang, Rowoon terkekeh kecil walau diselipi kecanggungan.
"Oke, aku tutup. Good luck dan sampai jumpa lagi, Rowoon."
Masih ingat I Scream Restaurant? Restoran itu merupakan tempat kerja Hanbin. Para karyawan sepenanggungan di sana begitu mengenal Hanbin. Kehidupan normal dan interaksi Hanbin dengan masyarakat terlalu baik, disaat statusnya masih sebagai Wakil Kepala Mafia Xi. Jelas itu keuntungan Hanbin. Karena kedoknya akan sulit diendus.
Sehun sudah menduga, kinerja Mafia Xi di bawah perintah Luhan memiliki sistem kerja persis intelegen kerajaan.
Mereka punya dua sisi kehidupan, dan tak membiarkan satu sisi diketahui khalayak umum.
Sehun kembali menghubungi Kyungsoo. Bersama gaya elegannya, dia menekan headset di telinga kirinya.
"Kyungsoo, katakan pada Jongin untuk nyalakan cctv-nya sebelum teknisi pemerintah kota Seoul datang."
Di tempat lain yakni Markas Mafia Xi, Jongin mengangguk pada istrinya. Dia segera menyalakan cctv yang sebelumnya mati. Setelah itu dia melakukan pemusnahan database di laptopnya. Jongin 'bunuh diri' untuk menghilangkan jejak apapun dari histori laptopnya.
"Aku tidak menyangka suamiku sekeren ini..."
Ketakjuban Kyungsoo pada Jongin bertambah berkali-kali lipat. Wanita itu memeluk bahu suaminya penuh sayang.
.
.
.
Raja Kris menghitung jumlah distrik di mana CCTV di sana sebelumnya mati.
Ada tujuh distrik.
Tujuh.
Angka kesukaan Xi Luhan.
Kris mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Luhan benar-benar mengejek Kris.
Amarah tak mampu lagi dibendungnya, "apa kita tidak memiliki bukti fisik, apapun itu, yang merujuk adanya Mafia Xi?!"
"Mereka bekerja terlalu rapi. Maaf, Pyeha... Saya pun tidak terlalu banyak tahu tentang Mafia Xi karena saya hanya 'kaki tangan' Lady Luhan."
Chanwoo sebenarnya bisa menunjukkannya. Hanya saja, dia masih memperdulikan Luhan. Dia tak mau Luhan hancur oleh pengkhianatannya. Chanwoo juga rela bekerja sama dengan raja ini karena Namjoon. Jika Namjoon belum memutuskan sesuatu maka Chanwoo dilarang bicara lebih.
Di dalam lubuk hatinya, Chanwoo masih punya keloyalan kental untuk Luhan. Hanya saja dia memilih menjadi 'pengkhianat' karena Chanwoo iri.
Hm, dia iri karena Luhan seakan mengistimewakan Chanyeol dibanding dirinya. Padahal mereka sama-sama Pria Koleksi Luhan.
'memang akan lebih baik kau mati, Chanyeol!' geram Chanwoo di hatinya.
Salah satu cctv di Gwangjin-gu menampilkan video beberapa Intel Kepolisian (yang menyamar) memeriksa isi truk es krim. Truk itu memang benar dikendarai Rowoon.
Chanwoo berharap setelah Intel Kepolisian membuka truk itu, maka ada 'barang-barang' gelap milik Mafia Xi. Barang itu bisa dijadikan bukti dan polisi dapat menindaklanjutinya. Sayangnya, setelah dibuka, pickup truk sekaligus pendingin itu hanya berisi es krim saja.
Tidak ada apapun. Itulah intinya.
"Bagaimana bisa?" gumam Chanwoo tak habis pikir. Dia tahu betul Rowoon adalah Mafioso yang menjabat sebagai Pemimpin Kelompok Mapo-gu. 'Rowoon seharusnya membawa barang-barang itu!' begitulah amarah Chanwoo.
Raja Kris menatap lamat tampilan Rowoon dalam seragam tukang es krim. Matanya melebar kemudian mengumpat ketika Rowoon melirik kamera CCTV, memberi smirk liciknya, sambil tangannya seolah membelai pipi sambil samar mengacungkan jari tengah untuk Raja Kris.
Ekspresi Rowoon seakan berkata,
'Kau kalah, fucking bastard...!'
.
.
.
Sementara itu...
.
.
.
Setelah berhasil, Sehun mengendarai truk es krim produk salah satu XiLu Corporation ke mall B. Dia berdalih mengirim stok es krim untuk salah satu cabang I Scream Restaurant di mall B tersebut. Ketika Sehun, dengan Baekhyun di sampingnya, sampai ke baseman, terlihat Hanbin berdiri menyandari truk pickup biasa. Yaitu truk pickup pengangkut barang elektronik.
Di baseman Mall B tersebut, Hanbin menunggu mereka. Baseman itu lumayan sepi dan tak ada yang menaruh curiga kalau truk es krim itu membawa barang-barang berbahaya. Sehun pun memarkirkan truk es krimnya di samping truk pickup biasa milik Hanbin. Setelahnya, Sehun dan Baekhyun menuruni truk.
"Jongin sudah menyadap beberapa CCTV basemen, dengan mengarahkan CCTV itu ke titik selain tempat kita ini," Hanbin merujuk pada tempatnya memarkir truknya. "Nona Muda Baekhyun, sebaiknya anda tidak melihat 'barang-barang' kami."
"Apa mak—"
Sehun memeluk Baekhyun dan menenggelamkan wajah gadis itu ke dada bidangnya. Mata tajamnya mengamati Hanbin dan beberapa anak buahnya membuka pintu pickup truk es krim tersebut. Uap dingin akibat pendingin dalam pickup truk membumbung keluar. Ketika Sehun melihat dua orang menggotong kantung hitam panjang, sepanjang manusia yang terbaring, Sehun pun paham wujud 'barang-barang' itu.
Sehun melirik Hanbin.
Tanpa suara Sehun berkata, "'barang-barang' kalian adalah mayat manusia. Tepatnya organ-organ tubuh mereka." Sehun memicingkan mata. "Akan di bawa ke mana mayat-mayat itu?"
Hanbin menjawab telak tanpa suara, sembari menatap punggung Baekhyun di pelukan Sehun.
"Byun Hospital."
Sehun mengelus kepala Baekhyun yang dipasangi wig rambut pendek. Suami Luhan itu menyimpulkan satu fakta lain.
Satu fakta yang mencengangkan mengenai istrinya.
Yaitu... selama ini, Xi Luhan tak sekedar 'membunuh dan membantai'.
.
.
.
TBC
.
.
.
NEXT CHAPTER :
Twelve : Luhan's Love is War
.
.
.
AUTHOR NOTE (PENTING!) :
jebol 12k :')
Distrik itu kalau di Indonesia sama aja kayak kecamatan :))
Kunci kalian ngikutin alur ff-ku adalah tidak melewatkan detail apapun. Tapi kalau bingung, tanya aja gpp. Bakal dijawab selama jawabannya udah dijabarin ke alur chap yang dah dipublish. Kalau jawabannya mengandung spoiler? Pending dulu jawabannya, hehehe.
Adakah yang berpikir Gadis atau Pria Koleksi Luhan cuma karakter pajangan?
Aku ketawain dah!
Lady Luhan kita ini, dalam ff MJW, punya karakter cerdas dan pemikiran agak nyeleneh (Two : You are Irrational). Dia juga punya insting dan pertimbangan milih gadis atau pria. Gak hanya visual, gadis atau prianya harus punya skill.
So, kalau ada dari kalian jengah karena sering bermunculan tokoh-tokoh baru, kalian mungkin harus diingatkan kalau Pria dan Gadis Koleksi Luhan sebanyak 14 orang. (Jadinya 14 x 2 = 28 orang).
Pria dan gadis koleksinya yang terakhir yaitu Kim Jongin dan Kim Kyungsoo. So, jangan kaget tokoh-tokoh baru terus bermunculan tiap chapter.
Mafia-AU seharusnya identik sama adegan tembak-menembak, adu pukul, dll. But... Mafia jaman dulu beda ama era industri 4.0 ini. Kalau modelannya kayak preman mah, mafioso-nya cepet ketangkep dong (khususnya untuk Raja Kris yang ngebet banget ngancurin Keluarga Xi). Inilah yang membikin chapter Eleven jadi chapter paling sulit di FF MJW.
Udah ah, udah cukup cuap-cuapnya.
Makasih udah setia baca...
Surabaya, 12 Desember 2019
