Kim Taehyung hanyalah bujang berusia dua puluh sembilan. Ialah sosok manusia taemvan, cerdas, berbudi pekerti luhur, juga gagah meski perut sedikit berwujud layaknya anpan.

Yeah… sebut saja ia sebagai the new generation, Anpanman! He's the new generation, Anpanman!

Kim Taehyung sejatinya merupakan sosok pria dewasa yang memiliki prinsip di dalam hidupnya, tak suka ingkar janji, memiliki tenggang rasa dan kepekaan sosial yang luar biasa.

Bagaimanapun jua, terkadang pria Kim hanyalah sosok manusia biasa yang suka kelepasan ketika bicara, dan sialnya, bibirnya yang suka kehilangan filter untuk menyaring frasa yang akan dilontarkan sungguh membuat Kim Taehyung, sang bujang taemvan, kudu menghempas prinsip yang telah dibangunnya kokoh bak Wall Maria.

Ahh… bujang Kim nampaknya lupa bahwa sesungguhnya Maria jebol akibat tendangan Colossal Titan yang datang tak dijemput dan pulang tak diantar. Armored Titan yang tiba-tiba menyusul juga langsung menyeruduk dan memporak-porandakan kehidupan damai semua-mua yang tinggal di dalamnya.

Dan disinilah ia… berjalan di atas reruntuhan prinsip yang berserakan di sepanjang jalan kenangan Hongdae, dimana dirinya diharuskan slalu bergandeng tangan dengan sesosok makhluk yang menginjak-injak harga diri yang dijunjungnya tinggi kala mengatakan bahwa perjodohan tak akan pernah ia setujui.

Well, jikalau diharuskan mengatakan sebwah kejujuran, sesungguhnya pria bernama samaran Reo adalah satu-satunya yang menginjak harga dirinya sendiri. Bukan apa-apa, ialah yang menawarkan sesi jalan-jalan kali ini. Parahnya, ucapan itu dilontarkannya dengan penuh kesadaran tanpa ada sedikitpun paksaan. Sang bujang juga tidak sedang berada di bawah tekanan alkohol, apalagi tekanan bokong sintal si dia. Ucapan ngawur pembawa petaka itu terlontar hanya karena rasa kesal yang timbul akibat makhluk yang masuk ke dalam kingdom: Animalia, filum: Chordata, classis: Mammalia, ordo: Artiodactyla, familia: Equidae, genus: Equus, species: Kim yugyeom, pernah menggondol sang calon istri dan membawanya bertamasya gembira ria ke Lotte World-nya Korea. Untung pulang-pulang tidak berbadan dua.

"Dompet…" gumamnya membayangkan dompet yang mulanya bak berisi hella trophy and hella thick, kini mulai langsing karena penghuninya satu per satu menghilang. Tangan kirinya mengusap penuh kasih pantat sebelah kiri, lebih tepatnya, dompet yang bersemayam di saku celana bagian belakang yang sebelah kiri.

"Nii-nii mengatakan sesuatu?"

Kim Taehyung tersenyum pilu, lalu menggeleng perlahan kelewat kaku. Ia mengeratkan gandengannya pada tangan lembut sosok Jeon Jungkook. Bukan demi tuk siapapun juga, apalagi biar terlihat makin mesra. Ia hanya tidak ingin si kelinci pemakan segala langsung berbelok ketika melihat makanan yang tampak seksi, atau menghampiri penjual jajanan saat indera penciuman menangkap aroma menggiurkan yang menggoda hati. Ancaman-ancaman yang kelewat berbahaya bagi kesejahteraan dompet milik pria anpan bukan hanya ada pada level pengganjal perut, tapi juga pernak-pernik, baju, dan skin care sekaligus make up products yang dijual di toko yang berjajar rapi di sepanjang jalan.

"Nii-nii ingin makan apa? Dari tadi aku terus yang memilih makanan, sekarang giliran nii-nii yang pilih."

Ya... Sedari tadi memang makhluk kelaparan yang tengah menjadi gandengannya memilih ini-itu untuk dibeli, menyeret kesana-kemari tanpa membawa alamat, untuk melihat-lihat sesuatu yang menarik di pinggir jalan. Bukannya Taehyung tidak menginginkan sesuatu di tengah siksaan batin yang dialaminya, ia hanya terlalu sayang kepada dompet dan isi di dalamnya. Namun apa daya, berbagai alasan yang berkecamuk di dalam kepala sukses membuatnya memilih makanan juga.

"Jeon saja." gumam Kim muda lelah. Ia melirik salah seorang penjual melalui sudut matanya yang tajam. Meski lirikan mata Kim menarik hati, oh senyumannya tak nampak manis karena ia terlihat grumpy.

Menurut Kim Taehyung sang ahli fotografi yang bisa dibilang pernah mencicipi segala jenis street food di seluruh sudut Korea Selatan, memakan jeon akan membuatnya yang sedari tadi hanya manikmati seporsi berdua dengan calon istrinya menjadi lebih kenyang dan bertenaga.

Semoga saja…

Sekali lagi, ini bukan karena alasan kemesraan yang diinginkannya supaya cepat berlalu karena dirinya sungguh tak ingin mengenang slalu. Taehyung hanya ingin menghemat sekaligus memberikan kesempatan yang lebih besar supaya kawan seranjangnya bisa menikmati lebih banyak macam pangan ala Korea. Jika satu orang menghabiskan satu porsi, akan cepat kenyang… dan boros tentu saja. Jadilah ia kudu rela terlihat mesra dengan pemuda yang mulanya ia kira merupakan sosok wanita.

"Jeon?" makhluk satunya membeo, mengerutkan dahi sambil memiringkan kepala saat telinga menangkap sebuah kata yang begitu familiar.

Kim Taehyung menghela napas lelah, lalu kepalanya mengangguk pasrah. Dirinya bahkan ogah meski hanya untuk sekedar menolehkan kepala demi menatap pemuda yang digandengnya.

"Jeon Jungkook?" yang lebih muda kembali bertanya, masih dengan memiringkan kepalanya yang tertutup beanie abu-abu gelap.

"Jeon Jungkook." sebuah konfirmasi.

"Nii-nii ingin memakanku?" dan pertanyaan yang datang dari lubuk hati.

Katakanlah Kim Taehyung adalah bujang paling konyol se-Galaksi Bima Sakti yang tengah kekurangan cairan tubuh sehingga otaknya yang gagal fokus lagi-lagi mengakibatkan keambiguan yang terpampang nyata.

Jeon Jungkook sungguh menyangka bahwa bujang mesum Kim Taehyung ingin memakan dirinya, dalam artian delapan belas plus, atau bahkan dua puluh satu plus.

.

Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung

Genre: Romance, Humor

Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Rated: Not sure about the rate, but let's say it's M for the language and some progress later

Warning:Ambigu, typo, lebay, mention of m-preg (?)

Hyperbolic sentences, and more (probably makes you wanna puke)
mention of some brands

.

.

"Sorry, Not Sorry"

Part XII: How to, Hongdae

Kim Taehyung, fotografer bujang pelaku kumpul kebo bersama cosplayer semok bernama beken Bunny Juiy langsung mematung kala menyadari betapa konyol kerja otak di dalam kepalanya. Padahal ia dijuluki the sexy brain oleh beberapa kenalan, tapi bisa-bisanya ia mengatakan sesuatu yang menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam jurang kesalahpahaman. Entah karena otaknya tiba-tiba membeku, atau karena jalan pikirannya tersumbat hal-hal pilu.

Ahh… bisa jadi karena dirinya belum sarapan. Meski sudah memakan tteokbokki, sundae dan, bungeoppang isi pasta kacang merah dan custard cream yang nikmat, tetap saja ia hanya memakan masing-masing satu atau dua suap karena Jeon Jungkook adalah tersangka utama yang memakan sebagian besar jajanan yang mereka beli.

Beginilah seporsi berdua versi kedua makhluk yang dipaksakan menjadi pasangan ini.

Makananmu adalah makananku, makananku adalah makananku.

Begitu kira-kira prinsip putra angkat keluarga Park yang hari ini, tumben sekali, sedang jinak.

Lupakan itu terlebih dahulu, kawan. Selapar-laparnya seorang Kim Reo, bagaimana bisa dirinya mendeklarasikan hasrat dan keinginan untuk memakan jeon?

Well... Jika sekedar jeon, atau banyak juga yang menganggapnya pancake tradisional Korea, tentu tidak masalah. Meskipun Taehyung memakannya rakus, atau bahkan jika penyandang marga Kim ingin menambahkan mayones ataupun lelehan keju, tidak akan terjadi yang namanya problem. Masalahnya, ia menyatakan bahwa dirinya ingin memakan Jeon Jungkook alias pemuda yang sedaritadi bergandengan dengannya alias calon istrinya alias kelinci pemakan segala alias Bunny Juiy sang pujaan hati.

Mati saja, Kim!

Dan benar, kecanggungan langsung melanda relung jiwa kedua insan manusia yang tengah dimabuk aroma sosis panggang di ujung jalan sana.

Keduanya terdiam tanpa kata, berdiri mematung di pinggiran jalan ramai kawasan Hongdae, mengabaikan sekian banyak manusia yang melewati keduanya tanpa peduli dengan apa yang terjadi di antara sang calon suami, juga si manis calon istri. Jika saja seorang paman berbadan gembul tidak menyenggol bahu pemuda bersurai tembaga dengan highlight pink yang sudah luntur, keduanya pasti bagaikan anak durhaka yang dikutuk menjadi batu sehingga diam tak bergerak selamanya. Beruntungnya, keduanya tidak berada di jalan utama sehingga resiko terbesar mereka hanyalah tertabrak manusia, bukan kendaraan roda dua, apalagi mobil dan kawan-kawannya.

Ucapkan terima kasih kepada si pejantan tambun yang sudah menyadarkan jika bujang dua sembilan dan pemuda pemakan segala masihlah berstatus sebagai manusia, bukan batu ataupun patung yang tak mampu bergerak dan berkata-kata, apalagi iblis mesum yang kekal di neraka.

Pria yang lebih tua berdehem dengan kerasnya, menarik atensi orang di sekitar hingga beberapa remaja tanggung melirik manja ke arahnya. Percuma saja usaha mereka, karena nyatanya, Kim Taehyung hanya menginginkan perhatian Jeon Jungkook.

"Maksudku, aku ingin memakan pancake tradisional Korea. Kami menyebutnya jeon."

Nampak santai dan apa adanya, padahal di dalam jiwa tengah panik luar biasa, itulah hal yang terjadi pada sang ahli fotografi yang usianya hampir menyentuh kepala tiga.

"O -ohh.. Itu." gumam penyandang marga Jeon terbata. Sesungguhnya ia merasa malu juga kala mengira calon suami menyebalkannya ingin memakan dirinya. Atau lebih tepatnya, memakan dirinya.

"Jeon itu seperti apa?" Jungkook coba memecah kecanggungan karena ia sungguh tak rela jika kudu berada di tengah lautan manusia sambil berbingung-bingung di antara para penjual makanan yang seakan melambai-lambai ke arahnya supaya dirinya membeli dagangannya, meski ia kudu menambahkan keterangan pada kalimatnya karena tak ingin menyebabkan kesalahpahaman. "Ma -maksudku, yang bisa dimakan."

Pria yang lebih tua mengalihkan pandangannya, mengabaikan fakta bahwa jeon yang bisa di makan bisa jadi merupakan Jeon Jungkook. Lihat saja pipinya yang berbentuk seperti baozi, juga sepasang bulatan bokong yang minta digigit dan terlihat mengenyangkan itu.

Kim Taehyung terus menerus memperingatkan diri sendiri supaya bertahan pada batas kewarasan. Bukan apa-apa, ia hanya tak ingin dirinya diliputi kabut ketololan yang kapan saja bisa menjerumuskan pikiran. Lebih mengerikan lagi, hatinya yang suci bisa saja ternoda oleh bisikan iblis sinting yang terkutuk yang sering disebut Lady Lucy.

Maka dengan mulut yang ditutupnya rapat supaya tak meloloskan kata-kata laknat, fotografer Kim menggiring tubuh Jungkook ke salah satu penjual makanan dengan penggorengan besar di hadapannya. Ada sejumlah kursi kecil dengan meja minimalis untuk pelanggan, menempel pada meja yang digunakan untuk menata twigim dan beberapa jajanan lainnya, termasuk kimbab dan jeon.

Mereka tinggal memilih berbagai macam gorengan khas Korea, juga camilan yang disajikan, lalu sang penjual akan menghangatkannya sebelum disajikan. Boleh juga jika ingin memakannya langsung.

"Bibi, aku pesan satu kimchi jeon dan satu yukjeon." Taehyung memesan layaknya seorang tukang jajan profesional. Tentu ia sudah ahli dalam hal memilih street food karena memang dirinya hobi jalan-jalan sambil hunting. Kadang ia melakukannya bersama Hoseok atau kenalannya yang lain, kadang juga sendirian karena memang ia tidak memiliki gandengan.

Menoleh ke arah Jeon manusia yang tepat berada di sampingnya, Taehyung bertanya. Bukannya sok perhatian, Kim Taehyung hanya bersikap selayaknya pria gentle yang menawan. "Kau ingin yang lain?"

Mata Jungkook membulat, kemudian berbinar. Setelahnya, ia tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya penuh semangat.

Alarm tanda bahaya untuk dompet langsing pria Kim.

Ia lalu menunjuk beberapa macam twigim, masing-masing satu, juga seporsi mayak kimbab.

Kim Taehyung menghela napas kasar.

Ia kudu tanamkan dalam hati dan terus mengingatnya sampai mati, jika porsi makan seekor kelinci peliharaannya setara dengan porsi makan tiga sapi betina di peternakan neneknya.

Terlepas dari penderitaan yang melanda satu-satunya putra keluarga Kim, hari itu, keduanya terlihat layaknya pasangan.

Bukan hanya karena gaya pakaian yang serupa, namun juga karena seharian keduanya bergandengan dengan mesra. Bahkan ketika memakan jeon dan para sahabatnya, Kim Taehyung rela menggunakan tangan kirinya hanya karena tangan kanannya sibukbertautan dengan tangan Jeon Jungkook, dan si montok lupa melepaskan.

Untung saja Taehyung mampu menggunakan kedua tangan dengan sama baiknya sehingga nanti jika ia ingin meremat sepasang bongkah pantat istrinya, atau meremas sepasang gundukan yang lain, bagian kiri dan kanan mendapatkan kenikmatan yang sama.

Sungguh makhluk visioner yang mesumnya menuju tak terbatas dan melampauinya.

"Setelah ini kita kemana?" Jeon Jungkook bertanya sembari mengunyah potongan jeon dengan campuran kimchi.

Pria Kim yang kala itu tengah memeriksa ponselnya mendapat sebuah suapan mesra segulung mayak kimbab dari sang calon istri yang, katanya, tidak ia cinta. Ia menengok di sudut atas layarnya, melihat jam yang menunjukkan pukul tiga sore.

Ia berpikir sejenak sebelum melirik sebuah kamera kecil yang dibawanya.

Setelahnya, pria bujang penggila Juiy bicara, "Kuat begadang?"

Jungkook mengangguk tanpa keraguan di matanya. Tentu saja, dirinya yang terindikasi sebagai seorang otaku sudah sering menghabiskan malam sambil menghangatkan ranjang dengan menonton anime.

"Ini hari Sabtu. Biasanya malam minggu akan sangat ramai dengan berbagai jajanan dan street performance. Maksudku, jauh lebih ramai dari pada ketika siang, atau pada malam di hari biasa. Jadi…" penyandang marga Kim menjeda kalimatnya. Ia menelan saliva di dalam mulutnya, lalu kembal bersuara. "Kurasa kita harus menginap di hotel."

Dan mata Jeon Jungkook membola.

Kim Taehyung, calon suaminya, yang jelas-jelas mendapat lampu hijau dari kedua orangtuanya untuk menjamah dirinya yang masih suci, mengajak dirinya yang belum lama menginjak usia legal, untuk menginap di hotel.

Berdua.

Sungguh Jeon Jungkook tak bisa menebak jalan pikiran seorang Kim Taehyung.

Bagaimaa bisa makhluk yang beberapa detik lalu menanyakan apakah dirinya kuat begadang, kini malah mengajaknya menginap di hotel?

Memangnya kegiatan apa yang akan mereka lakoni di hotel sehingga mengharuskan putra angkat keluarga Park begadang?

Apakah…

Apakah mungkin…. itu?

.

.

.

.

.

Sungguh pemuda yang separuh napasnya ada pada kegiatan cosplay merutuki dirinya sendiri yang mau-mau saja mengikuti ajakan sang calon suami untuk pergi ke hotel. Di dalam pikirannya, terbayang adegan-adegan tak senonoh yang dilakukan dua orang pria dengan wajah blur namun terasa familiar. Meski ia sudah mencoba untuk menampiknya berulang kali, namun pikiran kotor itu selalu datang lagi, lagi, lagi dan terus saja, terutama semenjak Kim Taehyung merangkul pundaknya mesra kala berbicara di hadapan resepsionis hotel. Jeon Jungkook hanya tersenyum kecil, lalu sesekali mengangguk ketika bujang Kim menanyainya sesuatu.

Lima menit berdiri di depan meja resepsionis, akhirnya kamar mereka telah siap.

Taehyung menolak tawaran pekerja hotel yang siap menuntunnya hingga ke dalam kamar. Ia lebih memilih untuk menggenggam tangan sang calon istri. Bibirnya mengerucut, begitu menggemaskan dengan siulan lolos dengan tampan.

Fiuuu fuu fuuu~~ fuu fuu fii fuuu fuuu.~~~

Deg. Deg. Deg. Deg. Deg.

Dilanjutkan dengan alunan familiar yang membuat Jungkookie tersenyum sendiri, merasa sedikit geli akibat aksi sang calon suami yang menyuarakan 'deg deg deg' dengan menggemaskan.

Jarang-jarang kan seorang Kim Taehyung terlihat menggemaskan?

Jujur saja, jika diperhatikan, hanya jika diperhatikan, Kim Taehyung sejujurnya sosok yang humoris, sedikit berkumis, dan manis, meski kadang memiliki aura mistis. Bukannya Jeon Jungkook jatuh cinta, tentu saja bukan. Ia hanya menyadari sisi lain dari makhluk yang diharapkan kaa-san dan tou-san untuk menjadi suaminya.

"Kenapa, hm?"

Dan suara lembut bernada rendah itu agaknya membuat Jungkook sedikit terperanjat. Sepasang mata bulatnya mengerjab, menyadari bahwa keduanya kini berada di dalam sebuah kamar yang cukup mewah. Menelan ludah gugup, Jungkook tersenyum canggung.

"Istirahat dulu. Nanti jam dua belas kita keluar untuk melanjutkan petualangan."

Terjawablah sudah segala kecurigaan penyandang marga Jeon mengenai alasan si bujang mengajaknya ngamar.

Jika dipikir-pikir, memang mulanya Taehyung membahas fakta bahwa Hongdae semakin hidup ketika langit malam memeluk dunia semakin mesra.

"Setelah selesai jalan-jalan, kita kembali ke sini untuk beristirahat sebelum waktunya check out."

Kim Taehyung tetap saja Kim Taehyung yang tidak mau menyia-nyiakan apa yang telah ia bayar.

"Ohh… jangan memakai bajumu sampai saatnya kita pergi nanti. Gantilah menggunakan piyama yang ada karena aku tidak mau membelikan baju apapun, termasuk celana dalam."

Ucapan pria Kim yang acuh tak acuh sembari masuk ke kamar mandi membuat Jungkook setengah tersedak.

Apa maksudnya ia kudu menghemat celana dalamnya sampai besok siang?

Bagaimana caranya?

Dan di tengah kegalauan yang kian melanda, Jeon Jungkook melihat Kim Taehyung keluar dari kamar mandi mengenakan piyama dari hotel. Sepasang netranya secara refleks memperhatikan arah selangkangan, dan terkejut ia terheran kala jawaban dari pertanyaan yang semula berkecamuk di kepala, kini terpampang nyata di depan mata.

Ya.

Kim Taehyung tidak memakai celana dalamnya.

Hal itu diyakini Jeon Jungkook lantaran gundukan di bagian selatan milik calon suaminya terlihat tidak sesesak biasanya. Lagi, ada semacam benda lonjong yang terlihat ingin memberontak, bergoyang menyapanya dari balik piyama, membuat bibirnya yang pernah menempel di sana berkedut tanpa aba-aba.

Lebih parahnya, piyama mereka berbentuk yukata sehingga keadaan sesungguhnya sangat bahaya.

.

.

.

.

Pukul dua belas yang dijanjikan hampir tiba, dan Bunny Juiy telah membuka matanya sejak setengah jam yang lalu. Meski itulah fakta yang ada, nyatanya sosok bermata bulat itu hanya bisa membatu di dalam erat dekapan makhluk Kim. Sejujurnya adegan ini tiada menegangkan akibat terlalu seringnya ia bangun dalam keadaan dipeluk sang ahli fotografi. Meski begitu adanya, yang saat ini terjadi sungguh memicu detak jantung lantaran piyama tidur milik Kim Taehyung tersingkap, menunjukkan mammoth miliknya yang setengah bangun.

Paha mereka berdua saling bertautan, dan Jungkook sungguh bertanya-tanya bagaimana bisa Taehyung memosisikan lututnya tepat di antara pahanya yang kencang.

Tepat sekali, wahai sahabat.

Sepasang paha Jeon Jungkook mengapit lutut Kim Taehyung.

Lebih menakjubkannya, lutut berbalut kulit eksotis itu menyentuh bagian selatan Jungkook yang tegang.

"Engghhh…"

Jantung Jeon Jungkook cenat-cenut saat Kim bisikkan erangan tepat di telinga. Tubuhnya yang setengah telanjang dipeluk makin erat. Bahkan, dengan sangat kurang ajar, meski Jungkook tahu hal itu dilakukan tanpa sadar, tangan sang calon suami menelusup dan meremat-remat gemas bongkah pantat Juiy yang sebelah kiri.

Pemuda Jeon sungguh berusaha mati-matian untuk tidak meloloskan suara nista meski pada akhirnya tindakan itu sia-sia ketika Taehyung dengan kurang ajarnya mengecup berkali-keli pipi Jungkookie dengan tubuhnya yang bergerak resah seakan keduanya adalah pasangan yang sedang kawin.

"Mnn.. ahh!" Jeon Jungkook memekik, tangan kanannya refleks meremat lengan calon suami, sementara yang kini menjambak rambut lebat Taehyung, rambut di kepala, bukan rambut milik mammoth di bawah sana. Sepasang pahanya pun kuat menghimpit lutut fotografer Kim dengan hangatnya.

Dan sang Singa terusik.

Ia mendecak pelan, dengan bibir yang masih menempel di pipi sang calon istri. Sepasang netranya yang tajam terbuka perlahan.

"Jangan berisik." gumamnya malas seraya, entah apa maksudnya, menampar main-main pantat berisi Jeon Jungkook.

Dan pemuda Jeon memejamkan matanya rapat-rapat.

Hatinya gundah,

Hatinya gelisah…. menghadapi keadaan yang begitu membingungkan baginya, karena sungguh, mengalami hal ini dengan seseorang yang tidak mencintainya terasa menyesakkan dada.

Entah mendapat bisikan ghoib dari mana, bibir Jungkook luwes meloloskan kata, "Tolong, berhenti.. nii-nii."

Putra angkat keluarga Park bahkan tidak menyadari getar pada suaranya, juga isak kecil yang membuat nafasnya tersengal.

Malahan, Kim Taehyung yang terkenal arogan dan semena-mena lah yang cepat tanggap akan apa yang dilakukan calon istrinya.

"Jungkookie… hei, ada apa?"

Tubuh kokoh itu melepaskan dekapannya, sedikit menyingkir dari Juiy, lalu memberikan usapan lembut di pipi.

Jeon Jungkook tidak menanggapi.

"Ma-maaf, nii-nii tidak tahu akan begini."

Suara bujang Kim terdengar gugup, dan Jungkook bisa merasakan pakaiannya yang berantakan dirapikan dengan gerakan kelewat hati-hati seolah pria Kim tengah menyentuh karya seni paling dikagumi di seluruh negeri.

Taehyung bahkan dengan telaten menyelimuti Jungkook, lalu kembali mengusap pipi, juga menyisir helai lembut surai si pemuda kelinci.

"Maaf, maafkan nii-nii." ucapnya lagi, dengan bonus pelukan penuh kehati-hatian dari luar selimut yang membungkus tubuh calon istri. "Apa nii-nii melakukan sesuatu yang menyakitimu?"

Baby Juiy hanya bisa menggelengkan kepala.

Mana berani ia memberitahu bahwa yukata mereka yang berantakan, juga rematan pelan di pantat berhasil membuat otaknya memikirkan hal-hal di luar batas kewajaran yang mengakibatkan datangnya ketakutan dalam relung dada?

"Istirahat di sini saja, ya? Kau butuh menenangkan dirimu."

Dan kali ini gelengan yang Kim Taehyung dapatkan.

Masih dengan mata terpejam dan kepala yang sedikit ditundukkan, Jeon Jungkook meremat kuat lengan Taehyung. Hampir saja penyandang marga Kim menjerit histeris, untuk otaknya masih kuat menjunjung tinggi gengsi.

Kim Taehyung coba untuk bertahan tenang supaya dirinya tetap nampak tampan dan berani.

Sungguh luar biasa bujang kita yang satu ini.

Nii-nii 'kan menanti,

Meski harus penantian panjang,

Nii-nii akan tetap setia menunggu Kook.

Sungguh setelahnya hanya kesunyian yang menyapa.

Jeon Jungkook masih berbungkus selimut dengan sepasang tangannya yang terulur meremat lengan pria Kim. Untungnya, kini sudah tak sekuat tadi.

Lima menit belalu tanpa suara, dan Jungkook memecah ketegangan pada akhirnya dengan sebuah tindakan yang membuat bujang Kim lega.

"Mau jalan-jalan…" gumamnya lirih seraya melepaskan remasan di lengan calon suami.

"Yakin sudah tidak apa-apa?"

Belaian lembut Jungkook rasakan di pipi sebelah kiri, membuatnya sedikit mendongakkan kepala hanya demi mendapati sepasang mata Nii-nii yang menatapnya seolah mengisyaratkan segalanya akan baik-baik saja.

"Aku mau jalan-jalan."

Dan ucapan bernada memohon dengan tatapan anak anjing itu menjadi komando bagi seorang Kim Taehyung untuk beranjak dari ranjang. Diambilkannya pakaian milik Jungkook yang sempat dilipat rapi. Ia letakkan di samping sang calon istri.

"Gantilah pakaianmu, Nii-nii akan mengganti pakaian di kamar mandi. Jika sudah selesai, panggil nii-nii agar nii-nii tidak keluar saat kau belum selesai berpakaian."

Agak ambigu ucapannya, memang.

Namun usapan lembut di puncak kepala penyandang marga Jeon membuatnya hanya bisa mengangguk dengan seulas senyum tipis yang menggemaskan.

.

.

.

Jeon Jungkook tidak mengira Hongdae akan menjelma menjadi lautan bercahaya ketika malam tiba.

Selama tinggal bersama pasangan Park yang mengadopsinya beberapa tahun silam, pukul sepuluh malam adalah batas waktu yang diberikan kaa-san dan tou-san kepada dirinya untuk pulan. Pernah beberapa kali dirinya pulang tengah malam, itupun karena ia ditemani oleh Yoongi dan dijemput oleh Park Jimin. Tanpa mereka, Jungkook selalu tiba di rumah sebelum pukul sepuluh.

Kali ini, bersama Kim Taehyung, ia bahkan baru keluar lewat tengah malam, dan benar apa yang dikatakan oleh calon suaminya, kawasan Hongdae di malam hari benar-benar ramai dengan jajanan, pertunjukan seni, dan hal-hal menyenangkan lainnya.

Jungkook tampak senang tak terkira.

Dan itu sungguh tak lepas dari peran seorang Kim Taehyung yang begitu cerdik membangun mood Jungkooknya.

Strawberry with chocolate adalah hal pertama yang ia pilihkan untuk Jungkook malam itu. Strawberries utuh yang disajikan dengan lelehan coklat membuat makanan manis itu terasa segar dan menyenangkan untuk disantap sembari menonton penampilan band musisi jalanan yang melantunkan lagu romantis.

Taehyungnya juga membelikan Jungkook sebuah strawberry mochi, dimana buah strawberry utuh dibalut dengan adonan mochi lembut nan kenyal.

Mengeluh haus setelah menonton musisi jalanan menyanyikan dua buah lagu, bujang berusia dua sembilan mengajak calon pendamping hidupnya untuk mendatangi fresh juiced fruits. Di sana, buah segar diekstaksi, lalu ditambahkan es jika ingin. Bisa juga langsung diminum tanpa ditambah apapun. Juiy memilih ekstrak delima, sementara Taehyung menginginkan ekstrak jeruk.

Tak masalah pilihan berbeda asal tujuan hidup dan harapan tetap sama.

Egg bread, honeycomb ice cream, japchae, mozzarella corndog, adalah sebagian kecil dari yang Jeon Jungkook makan.

Sungguh, sesi kencan malam kedua manusia yang sibuk menyangkal adanya perasaan untuk calon pasangannya sangat biasa-biasa, kecuali bagian Jeon Jungkook yang banyak makan, Kim Taehyung yang tak lagi menggandeng tangan Jungkook, melainkan merengkuh pinggang ramping pemilik nama Juiy sepanjang malam.

Entah disadari keduanya atau tidak, malam itu Jeon Jungkook banyak tertawa, dan Kim Taehyung sering kali terpesona.

Bahkan, Kim pelit Taehyung tak lagi melakukan kalkulasi terhadap pengeluarannya untuk kelinci Juiy.

Amazing.

Super.

Mantab jiwa raga.

Bahkan ketika kembali ke hotel pukul lima dini hari, lengan Kim bujang masih setia bertengger di pinggang yang, sepertinya, telah dianggap sebagai singgasana.

Ohh… jangan lupakan tentengan paper bag dan tas plastik berisi pakaian dan skin care yang dengan suka rela, tanpa paksaan, dan penuh kesadaran Taehyung belikan untuk sang calon istri. Well, sebenarnya pakaiannya untuk mereka berdua. Underwear tentu tidak berukuran sama, celana yang dibeli juga berbeda, namun sweater yang dipilih Kim muda jumlahnya ada dua.

Tepat sekali, kawan-kawan, Kim Taehyung membeli couple sweater berwarna abu-abu. Katanya, membeli sweater kembaran akan menghemat biaya, jadi Jungkook manut saja.

"Mandilah terlebih dahulu, kau pasti lelah."

Kim Taehyung bergumam, menguap lebar sebelum melepas lengannya dari pinggang Jungkook usai keduanya masuk ke kamar.

Seperti rencana awal, keduanya akan menghabiskan jatah stay mereka dengan tidur. Karena perut sudah sangat kenyang, kemungkinan Juiy dan Reo akan melewatkan breakfast.

Jujur saja, Jungkook ingin langsung meng-iya-kan apa yang sang calon suami perintahkan, namun melihat keadaan baby Reo-nya, nampaknya membuat Jeon Jung berubah pikiran.

Bukan apa-apa, hanya saja bujang Kim terlihat sangat mengantuk dan kelelahan, jikalau Jungkook mandi terlebih dahulu dan Taehyung menunggu, bisa-bisa makhluk itu ketiduran dalam keadaan tubuh kotor sementara dirinya tlah kembali suci.

Sebagai calon istri yang berbakti, mana tega Jeon Juiy melakukannya.

Maka dengan segala kebaikan hati yang ia miliki, Jeon Jungkook memberikan penawaran dengan senyum menghiasi dan rona merah di pipi.

"Nii-nii mandi bersamaku saja, ya?"

Apa Jeon Jungkook tidak tahu bahwa mammoth milik bujang Kim langsung berkedut begitu mendengarnya?

.

.

.

TBC

.

.

Masih pada inget ngga sih sama mereka?