"Aku, Lee Seokmin, menerimamu, Choi Jisoo menjadi satu-satunya pasanganku dalam pernikahan yang sah, untuk mencintai dan mengasihi, dalam suka mau pun duka, dalam miskin atau kaya, dalam sakit atau sehat, aku mengatakan sumpah kesetiaan padamu."
Tatapan haru diberikan oleh keluarga kedua mempelai.
Seokmin terlihat gagah dengan jas hitam dan boutonniere berhiaskan bunga mawar merah. Ia tersenyum penuh kelembutan ke arah namja di hadapannya yang mengenakan jas putih.
Sedangkan namja di hadapannya tersenyum dengan air mata yang menuruni wajah cantiknya.
"Aku, Choi Jisoo, menerimamu, Lee Seokmin menjadi satu-satunya pasanganku dalam pernikahan yang sah, untuk mencintai dan mengasihi, dalam suka mau pun duka, dalam miskin atau kaya, dalam sakit atau sehat, aku mengatakan sumpah kesetiaan padamu."
Sosok Mingyu yang menjadi bestman dan pembawa cincin maju ke depan dan membuka kotak cincin tersebut.
Seokmin memakaikan cincin ke jari manis Jisoo, begitu pula Jisoo yang memakaikan cincin ke jari manis Seokmin.
"Dengan ini, Anda dipersilakan mencium pasangan Anda."
Tanpa menunggu lama, Seokmin maju selangkah dan membawa Jisoo ke dalam ciuman hangat.
Suara tepuk tangan dan teriakan kebahagiaan berkumandang di gereja itu. Membuat suasana bahagia sangat kentara.
"Saranghae, Seokmin-ah." Bisik Jisoo di telinga Seokmin.
Seokmin tersenyum lebar.
"Aku tahu itu, hyung. Tak mungkin kau cemburu seperti itu jika tidak mencintaiku. Dan aku tak mungkin menjaga perasaanmu jika aku tidak mencintaimu. Saranghae."
Kedua mempelai menandatangani akta pernikahan disaksikan oleh seluruh tamu undangan.
Tamu undangan yang dimaksud tentu saja Quattuor Coronam beserta Jeonghan dan Myeongho.
"Entah kenapa aku yang bahagia, hyung." Ucap Chan kepada Jeonghan yang duduk di sampingnya.
Jeonghan tersenyum sambil menepuk bahu Chan.
Seungkwan yang berada di sisi kanan Chan ikut mengangguk. Ia juga merasa sangat bahagia atas pernikahan hyungnya yang bahkan baru ia ketahui malam kemarin.
"Aku benar-benar syock, hyung. Eomma benar-benar gila." Ucap Seungkwan sambil mengecilkan suaranya.
Tentu saja ia takut jika sang eomma mendengar ucapannya.
"Seungcheol hyungie juga hampir melepaskan gelas yang ia pegang sewaktu eomma membuat pengumuman." Lanjut Seungkwan.
"Aku hampir kemasukan lalat saking lamanya melongo seperti orang bodoh." Kata Chan.
"Stt.. Jangan bergosip dulu. Mereka akan menuju mobil." Kata Seungcheol menengahi para dongsaengnya.
Mereka berdiri dan menuju ke luar gereja.
"Setelah ini kemana hyung?" Tanya Myeongho.
"Kita akan menuju Red Moon Hotel. Resepsi." Jawab Seungcheol.
Jawaban itu menyebabkan yang lainnya terkejut.
"Langsung resepsi? Wow." Ucap Soonyoung yang berdiri di belakang Jihoon.
Jihoon berada di kursi roda karena ia masih belum bisa menyempurnakan kinerja otot kakinya.
Karena yang termasuk undangan adalah keluarga Jeon yang otomatis sang kepala keluarga ikut, keluarga Choi dan Lee tidak perlu memesan pengawal ektra untuk pernikahan ini karena Hansol pasti diikuti oleh pengawal-pengawal yang setia kepadanya.
Di luar gereja sudah terlihat deretan pengawal berpakaian hitam melingkari area gereja.
"Agenda selanjutnya adalah melakukan foto bersama." Ucap kepala pelaksana pernikahan.
Dengan senyuman lebar dan mata sembab Jisoo, mereka berfoto dengan hangat.
"Eomma dan appa akan ke hotel lebih dulu. Kalian cepatlah menyusul oke." Kata Kihyun yang langsung menarik lengan sang suami.
"Hyung, Seokmin! Selamat. Kalian akan tinggal dimana setelah ini?" Tanya Mingyu.
Jisoo mengangkat bahunya. Ia saja baru tahu akan menikah hari ini, mana mungkin ia sudah mempersiapkan ini itunya?
"Di rumah Lee. Eomma sudah menyewa orang untuk mengangkut barang-barang Jisoo hyung hari ini." Jawab Seokmin.
"Panggilannya sudah berubah. Aigoo…" Ungkap Seungkwan dengan wajah jahil.
"Tentu saja. Kalau kau ingin Hansol segera memanggil eomeoni dengan eomma, segeralah menikah." Ucap Jihoon dengan ucapan tajamnya.
Ucapan yang membuat Seungkwan malu dan memerah.
"Aish. Hyung, kau dan Seokmin hyung segeralah naik ke mobil. Kami akan menyusul." Ucap Seungkwan dengan cepat.
Seokmin mengenggam tangan Jisoo lalu menariknya ke mobil yang sudah terparkir di depan pagar.
"Kami duluan." Ucap Seokmin sambil tersenyum lebar.
Seokmin memilih mengendarai mobilnya sendiri dengan Jisoo yang duduk di sampingnya.
Lama mereka terdiam dalam perjalanan hingga Jisoo menolehkan kepalanya.
"Seokmin-ah… Bisa kau jelaskan padaku? Aku menahan diri untuk tidak bertanya, tapi kurasa aku sudah tidak bisa menahannya." Kata Jisoo.
Seokmin tersenyum lagi.
"Eomma benar-benar luar biasa."
"Eomma?"
"Kau harus tahu apa yang eomma lakukan kemarin saat aku mengunjungi rumahmu."
-o0o-
Kihyun mengambil sebuah dokumen dari bawah meja ruang keluarga lalu menyerahkannya ke sosok namja di depannya.
Tanpa bertanya lebih, Seokmin membuka dokumen itu.
"Ini?"
"Aku membantumu atas nama Jisoo. Kau tak boleh menolaknya, oke. Setidaknya itu bisa menutupi 7% sahammu yang hilang."
Dalam dokumen itu tertulis bahwa Jisoo membeli saham St. Carat Foundation sebanyak 17%.
"Eomeoni… A..aku… Bagaimana caraku berterimakasih padamu?"
Kihyun menaikan satu alisnya.
"Kau hanya perlu berani melawan samchonmu itu. Bayangkan semisal kau punya anak dan kepala rumah tangga senior Lee tetap dipegang oleh samchonmu, tak habis pikir aku tentang masa depan kalian. Dan…"
Seokmin menatap wajah imut yang menyeringai itu.
"Dan?"
"Menikahlah dengan Jisoo."
"Ne eomeoni?!"
Seokmin menatap Kihyun dengan tampang syock.
"Ta..tapi aku sudah bertunangan, eomeoni. Dan aku tidak bisa menolak permintaan Buseok samchon." Kata Seokmin masih dengan tampang kagetnya.
Kihyun kembali menaikan satu alisnya.
Ia mengeluarkan smartphonenya dan terlihat menelepon seseorang. Kihyun juga menyetel mode speaker di sambungan telepon itu.
Seokmin bisa melihat tulisan 'Hoseokie Hyungie' di nama kontak yang dihubungi Kihyun.
"Yeoboseyo hyungie. Kau tahu… Ada hal yang membuatku ingin menangis."
"Yeoboseyo Kihyunie. Eoh? Ada apa, kenapa kau ingin menangis?"
Kihyun mengeluarkan seringaiannya.
"Hyung kau tahu… Aku membaca berita yang mengatakan bahwa uri yeoppo Changkyunie bertunangan dengan Lee Seokmin. Apa benar hyung?"
Ketahuilah bahwa Kihyun menggunakan nada yang amat sangat dibuat-buat. Ia memang dipenuhi oleh keimutan dan Seokmin mengakuinya. Namun entah kenapa dengan wajah penuh seringai, nada itu tidak cocok digunakan.
Seperti hamster yang bertranformasi menjadi hiu.
"Ne, mian hyung tidak memberitahumu."
"Tapi hyung… Uri Jisoo mencintai Seokmin. Bukankah Changkyunie sudah memiliki Jooheonie? Kenapa hyung tega eoh merebut Seokmin?" Ucap Kihyun.
Seokmin berani bersumpah sosok di hadapannya ini benar-benar hiu berbulu hamster.
"Bahkan Changkyunie meneleponku dan curhat kepadaku tentang hubungannya dengan Jooheonie. Batalkan ne hyung pertunangan mereka. Yoo Company sudah besar kan dan tidak ada masalah dengan financial. Apa perlu RED Corporation menanam saham disana?"
"Bagaimana ya Kihyunie. Hyung jadi bingung."
"Hyung harus membatalkan pertunangan mereka! Kalau tidak, aku akan culik Changkyun dan kujadikan anakku saja! Masa appanya sendiri tidak mau mendengarkannya? Kasihan sekali keponakanku itu!" Kihyun menggunakan nada tinggi dalam ucapannya.
"Tapi Ki-"
"Hyung! Kau tahu seberapa sakitnya aku ketika aku dijodohkan oleh appa. Kau harusnya sadar yang kau lakukan itu salah!"
Baik Kihyun maupun sosok di seberang telepon tak ada yang berbicara. Seokmin dapat melihat kilatan tajam di mata Kihyun.
"Ne, ne. Hyung yang salah. Aigoo jangan berteriak di telepon. Hyung sudah bahagia tidak mendengar omelanmu di rumah sejak kau menikah tapi tetap saja kau suka berteriak."
Seokmin membelalakan matanya. Dari pembicaraan ini Seokmin mendapatkan banyak sekali fakta.
"Tapi bagaimana membicarakannya dengan keluarga Lee? Terlebih kepala rumah tangga seniornya itu. Jika aku melihat, Lee Seokmin sendiri tidak menginginkan pernikahan tapi Lee Buseok sangat bernafsu. Mungkin karena ia memiliki hubungan erat dengan appa."
"Cih. Hyung tahu dia pria ular tapi tetap saja hyung menyetujui. Sudah hyung tenang saja, nanti aku yang bilang ke brengsek itu. Untuk masalah berita yang sudah terlanjur menyebar, aku sudah bernegosiasi dengan Monteen Broadcasting untuk menyebarkan berita bahwa yang kemarin adalah kalian menjadi perwakilan kami untuk melamar Seokmin. Pai hyung, titip salamku untuk Changkyunie, katakan imo sangat mencintainya"
"Ne, ne. Jaga dirimu."
Pip.
Sambungan terputus.
"Jadi eomeonie itu…"
Kihyun terkikik kecil.
"Mungkin saking uring-uringannya dirimu dan juga Jisoo yang malah terlanjur ikut-ikutan kesal, kalian tidak menyadari bahwa keluarga Yoo adalah keluarga asalku. Hahaha…"
"Jadi Wonho-ssi adalah hyung eomeoni dan Changkyun adalah keponakan eomeoni yang otomatis sepupunya Jisoo hyung?"
Dengan tawanya, Kihyun mengangguk membenarkan.
"Seharusnya kau langsung sadar, Seokmin-ah. Yoo itu marga yang jarang. Hahaha…"
"Jadi eomeoni… Bagaimana dengan samchon?" Tanya Seokmin dengan ragu.
Kihyun menatap Seokmin dengan kesal.
"Kan sudah aku bilang untuk berani melawan. Maka dari itu aku meminta kau menikahi Jisoo esok hari agar tak ada kesempatan bagi si Buseok untuk membatalkan. Terlebih lagi, Seokmin-ah, jika nanti Buseok berulah, lapor padaku. Akan kuhancurkan kehidupannya."
Seokmin menatap Kihyun dengan tatapan berterimakasih.
Ia tak pernah bisa mengungkapkan perasaannya pada Jisoo karena takut Jisoo akan menolaknya karena status mereka yang bersahabat.
"Pemberkatan dan resepsi akan diadakan di hari yang sama yaitu esok hari. Aku sudah mengurus semuanya jadi yang perlu kau urusi adalah hatimu. Aku sudah memberitahu Quattuor Coronam serta Jeonghan dan Myeongho. Hanya tinggal anak-anak dan suamiku yang belum aku beri tahu. Tapi kuyakin Hyunwoo sudah mengetahuinya karena handphone ini dibajak olehnya. Hahahaha…"
Seokmin mengangguk-angguk seperti orang bodoh.
Benar-benar sosok yang mengerikan.
-o0o-
Jisoo membelalakan matanya.
"Uwwaahh… Daebak." Hanya ucapan itu yang bisa sosok cantik itu katakan.
"Ku ingin memeluk eomma." Lanjut Jisoo lagi.
Seokmin terkekeh kecil lalu mengusap surai belakang Jisoo dengan pelan. Tentu Seokmin tidak mau merusak tatanan rambut Jisoo yang terlihat cantik tersebur.
"Hyung, aku sangat bahagia. Benar-benar bahagia."
Tak ada di antara mereka yang sanggup untuk menahan senyuman sehingga kedua insan itu sama-sama menebarkan pancaran kebahagiaan.
"Aku juga Seokmin… Terimakasih untuk semuanya."
