Kalo ada kata2 yang ga kalian mengerti bilang di komen guys~ dan pastinya bakal ada typo, karna ngetiknya ngebut, tolong kerjasamanya 'ㅅ'
π
Chanyeol membukakan ku pintu penumpang, aku segera merangkak masuk ke mobil. Suasana didalam mobil sangat hening, Dia sama sekali tidak menyinggung mengenai kejadian didalam lift tadi. Haruskah aku yang mengungkitnya? Haruskah kita membicarakan tentang hal itu atau berpura-pura bahwa hal itu tak pernah terjadi?
Kejadian itu benar-benar terasa seperti mimpi. Ciuman pertamaku yang dilakukan dengan seorang pria. Itu benar-benar bukan mimpi kan?
Refleks, aku menyentuh bibirku yang membengkak karena ciuman panas tadi. Itu berarti ciuman itu jelas terjadi. Aku melirik kesamping. Chanyeol sedang dalam kondisi seperti biasanya, tenang dan dingin. Sungguh tidak adil. Mengapa hanya aku yang merasa seperti ini setelah kejadian tadi?
Chanyeol mulai menyalakan mobil dan mengendara keluar dari tempat parkir. Tangannya menyelusuri pemutar musik tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. Musik klasik menyapa telingaku, dan itu cukup enak didengar.
"Lagu apa ini?" Tanyaku.
"Ini the Flower Duet oleh Delibes, dari opera Lakmé. Apa kau menyukainya?"
"Ya, aku menyukainya. Kau suka musik klasik?" Kataku pelan.
"Seleraku tergantung pada suasana hatiku."
Aku mengangguk lalu kembali bertanya. "Bagaimana kalau.. Alat musik? Seperti piano misalnya, apa kau suka?" Aku memiringkan kepalaku kesamping, menatapnya.
"Piano bukan kesukaanku." Jawabnya singkat.
"A—ah." Aku mengangguk ragu. Sayang sekali dia tidak suka.
"Kau suka Piano?" Ia balik bertanya.
"Tidak juga— maksudku, aku suka melihat orang lain bermain Piano, mereka terlihat keren."
Dia menatap ke arahku sebentar sebelum matanya kembali terfokus pada jalanan. "Aku akan memainkan untukmu kapan-kapan."
Aku memiringkan kepalaku, menatapnya heran. Bukankah tadi ia bilang piano bukan kesukaannya?
Sebelum aku sempat bertanya kenapa, Suara musik berhenti, digantikan dengan suara dering telefon.
Chanyeol meraih handphonenya lalu mendesah malas saat melihat nama yang tertera disana.
"Ya, Sehun?"
"Hai Chanyeol, apa yang kau lakukan semalam? Melakukan Sex?"
Aku tercekat dengan wajah memerah saat mendengarnya. karena Hey! pertanyaan macam apa itu?
Chanyeol melirik ke arahku sebentar lalu mendengus. "Sehun, saat ini handphone ku terhubung pada speaker mobil, dan aku tidak sendirian disini." Ia menjawab dingin.
"Dengan siapa kau?"
Chanyeol memutar matanya. "Byun Baekhyun."
"Oh, Hai Baek!" Suara Sehun menyapa di ujung telefon.
"Hai, Sehun." Jawabku singkat.
"Aku sedang dijalan untuk mengantarnya pulang sekarang." Ucap Chanyeol cepat.
"Lalu?"
"Sampai bertemu nanti."
_
Kami sampai di rumahku ku tak lama kemudian. Dia tahu alamat rumahku tentu saja, karena dia pernah mengirimkan ku buku-buku itu.
Dia keluar dari mobil, berjalan dengan kaki panjangnya lalu membukakan pintu untukku. Memalukan memang, aku ini pria, tidak perlu diperlakukan seperti itu.
Aku berjalan mendahuluinya menuju pintu depan. Saat aku membuka pintu dan berjalan ke ruang tamu, Luhan dan Sehun sedang bertumpukan diatas sofa dengan Luhan tidak mengenakan apapun dan Sehun yang hanya memakai jeans tidak ter—sleting nya.
Chanyeol berdehem untuk menyadarkan dua orang yang sedang saling bertumpukan itu bahwa ada orang disana.
"Oh, hai." Sehun tersenyum konyol lalu segera menaikkan celananya dan memakai kaosnya. Luhan mengintip kearah kami lalu meraih baju kebesaran miliknya dan memakainya cepat.
"Hai Baek!" Dia melompat memelukku, kemudian sedikit menjauhkan tubuhnya dan menatapku dari atas sampai bawah. Ia mengerutkan kening lalu berbalik ke arah Chanyeol. "Selamat pagi, Richard." Sapanya dengan nada jengah.
"Pagi, Tuan Xi " Jawab Chanyeol dengan nada formalnya.
"Namanya Luhan." Omel Sehun.
"Well, pagi Luhan." Chanyeol memperbaiki sapaannya lalu melototi Sehun yang menyeringai jahil.
"Hai, Baek," Sehun mengalihkan tatapannya padaku. Aku bisa dengan jelas melihat mata birunya yang berkelap-kelip. Aku menyukai Sehun, dia jelas berbeda dengan Chanyeol.
"Hai, Sehun." aku tersenyum padanya.
"Sehun, kita harus pergi sekarang." Chanyeol berkata pelan.
"Tentu." Dia berbalik kearah Luhan dan menariknya ke dalam pelukan lalu memberinya ciuman panjang.
"Sampai nanti, sayang." Ucap Sehun setelah mengakhiri ciuman mereka. Luhan sepertinya terhipnotis oleh ucapan Sehun. Aku belum pernah melihat wajahnya seperti itu sebelumnya.
Chanyeol memutar matanya dan menatap ke arahku, ekspresinya tidak terbaca. Dia menyibak rambutku dan menyelipkannya pada belakang telingaku. Nafasku tercekat karena sentuhan tiba-tiba nya, aku beralih untuk menatap matanya. Dia kemudian membelai bibir bawahku dengan ibu jarinya. "Sampai nanti, sayang," bisiknya, dan aku merasa jantungku berhenti saat itu juga.
"Aku akan menjemputmu jam delapan." Dia kemudian berbalik, membuka pintu depan dan melangkah keluar. Sehun mengikuti dibelakangnya tapi sebelum ia benar-benar mencapai mobil, ia berbalik dan memberi Luhan ciuman selamat tinggal. Tak bisa dipungkiri aku iri dengan interaksi mereka.
"Jadi, apa kalian..?" Luhan bertanya saat mobil Chanyeol sudah pergi, rasa ingin tahu tergambar jelas dalam suaranya.
"Tidak," tukasku kesal, berharap dia akan menghentikan pertanyaan ini. Kami berjalan masuk kedalam dengan Luhan yang masih bersikeras. "Tapi dia memanggilmu 'Sayang' tadi."Ucapannya masih bersikeras.
Aku mengabaikan pertanyaannya dengan berbalik bertanya. "Bagaimana denganmu dan Sehun? Kalian berpacaran?"
"Ya, Dan aku akan bertemu dia lagi malam ini!" Dia bertepuk tangan dan melompat-lompat seperti anak kecil. Lihat, sangat mudah untuk mengalihkan perhatiannya.
"Omong-omong, Chanyeol mengajakku ke Seoul malam ini." Aku melirik kearah Luhan yang langsung menghentikan tarian anehnya dan mengerutkan keningnya.
"Seoul?" Tanyanya memperjelas. Masih dengan kerutan di keningnya.
"Ya." Jawabku tenang, berpura-pura tidak merasa terintimidasi oleh tatapan itu.
"Kalau begitu, mungkinkah kalian akan melakukan 'itu?" Ia mengubah nada bicaranya dan memberikan seringaian konyol.
Aku memutar mataku malas. "Mungkin."
"Kau menyukainya?"
"Ya." Ucapku enteng
Ia membulatkan matanya terkejut. "Wow, Byun Baekhyun. Akhirnya kau bertekuk lutut pada seorang pria, dan itu adalah Richard Park, seorang Billioner yang tampan dan dingin."
"Ya, semuanya karena uang." Aku menyeringai, dan kami berdua tertawa. (Baek bercanda ya guys)
"Omong-omong, apa dia sudah mencium mu?" Ia bertanya sambil mengaduk kopinya. Dan itu cukup untuk mengingatkan ku pada kejadian saat Chanyeol menciumku.
"Sekali." Jawabku singkat.
"Sekali?!"
Aku mengangguk. Dan Luhan memberikan wajah tidak percayanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dia pintar menahan diri rupanya."
"Aku harus bersiap, satu jam lagi shift ku dimulai." Aku mengalihkan pembicaraan.
π
Waktu terasa sangat lambat saat ini, aku disibukkan dengan pelanggan yang datang tiada henti. Dan ketika waktunya untuk pergantian shift, aku merasa sangat lega dan segera berjalan pulang.
Saat aku sampai dirumah, Luhan langsung menarikku ke kamarnya. Aku benar-benar berada di dalam kuasanya. Ia bahkan mencukur kaki ku dan mengoleskan lotion wangi pada seluruh tubuhku. Tak sampai disana, ia juga memilihkan pakaian untuk ku. Aku sempat protes dan mengatakan bahwa ini berlebihan, tapi kemudian dia mengatakan bahwa ini adalah apa yang diinginkan para pria.
Setelah semua sentuhan itu, Bel pintu berbunyi, Luhan pergi untuk membukanya, lalu berteriak 'Tuan putri, silahkan keluar!'
Penghinaan macam apa itu? Tuan putri katanya?! Wajahku memerah menahan malu karena Luhan memanggilku begitu didepan Chanyeol.
"Wow, kau terlihat sangat siap." Chanyeol menyeringai. Dan kufikir ia sedang menahan tawanya? Aku jadi merasa malu dan melirik Luhan yang memberikan tatapan pura-pura bodohnya.
"Tentu saja, ia sudah menunggumu sedari tadi, sekarang pergilah. Selamat bersenang-senang!" Ucap Luhan sambil mendorongku keluar lalu segera menutup pintu.
•
•
•
Suasana didalam mobil tidak canggung seperti terakhir kali. Chanyeol memulai obrolan kecil seperti 'Bagaimana harimu' dan sebagainya. Klasik memang, tapi setidaknya ada pembicaraan didalam mobil ini.
Handphone ku berbunyi dan pesan dari Luhan tertera disana. Ia bilang kabari dia jika aku sudah sampai di Seoul, Dan Jangan lupa pakai pengaman. Aku mendengus pelan membaca pesan di akhir.
Aku mengerutkan kening saat mobil Chanyeol berbelok melewati jalan yang seharusnya kita lewati untuk menuju Seoul. "Mengapa kau berbelok?" Tanyaku.
"Kita akan ke heleport karena Helikopternya ada disana." Ucapnya singkat.
"Kita akan ke Seoul menggunakan helikopter ingat?" Jelas Chanyeol saat melihat wajah kebingunganku.
Sungguh, sebenarnya se kaya apa Pria ini? Fikirku.
Perjalanan ke heliport terasa singkat. Taylor membukakan pintu untukku dan Chanyeol segera meraih tanganku dalam sekejap.
"Siap?" Tanyanya.
Aku mengangguk dan tidak ingin mengatakan apapun, karena sesungguhnya aku sedang sangat gugup saat ini.
Ia menarik ku menuju ke dalam gedung, dan menuju ke satu pintu lift.
Lift! Memori ciuman kami pagi ini datang kembali menghantuiku. Aku menelan ludahku kasar lalu mencoba untuk melirik Chanyeol diam-diam. Tapi ternyata dia sedang menatap ku terlebih dahulu.
"Hanya tiga lantai," katanya sambil menyeringai. Sial! Dia pasti menangkap maksud dari wajah gugupku.
Aku mencoba untuk tetap menunjukkan wajah tenang saat kita memasuki lift. Pintu tertutup, dan saat itu juga jantungku berdetak tak karuan. Aku menutup mata dan berusaha untuk mengabaikannya. Dan untungnya lima detik kemudian pintu lift terbuka, berhenti di atap gedung.
Itu dia, sebuah helikopter putih dengan nama Park Enterprises Holdings Inc. ditulis dengan warna biru dengan logo perusahaan di sampingnya. Ini adalah penyalahgunaan properti perusahaan jika orang lain yang menggunakannya, tapi ini Park Chanyeol, atau Richard Park, sang pemilik, jadi bukan masalah.
Aku dibawa ke sebuah kantor kecil di mana seorang pria tua duduk di belakang meja.
"Ini rencana penerbangan anda, Mr Park. Semua pemeriksaan eksternal telah dilakukan."
"Terima kasih." Chanyeol tersenyum hangat padanya.
Oh. Ternyata ada juga yang mendapatkan perlakuan sopan dari Chanyeol. Aku menatap pria tua itu kagum.
"Ayo berangkat." kata Chanyeol dan kami segera berjalan menuju helikopter. Saat dilihat lebih dekat, itu jauh lebih besar daripada yang kufikir. Tadinya kufikir hanya ada kursi untuk dua orang, tetapi saat aku masuk kedalam ada tujuh kursi disana.
"Duduklah— jangan menyentuh apa pun." perintahnya saat ia menduduki kursi kemudi.
Aku duduk di kursi yang ditunjuk, dan ia mencondongkan tubuhnya untuk memasang sabuk pengaman ke tubuhku. Sungguh, jarak kami terlalu dekat sekarang. Jika aku sedikit saja memajukan wajahku, hidungku akan bersentuhan dengan rambutnya. Dari jarak sekarang saja aku sudah bisa mencium wangi Pria—jantan yang menguar dari rambutnya.
Setelah selesai dengan sabuk pengamanku ia mendongak dan tersenyum. Jarak wajah kami sangat dekat, membuatku harus menahan nafas.
"Selesai, kau aman." Dia berbisik, "Tarik nafas Baekhyun." tambahnya. Tangannya terangkat, membelai pipiku. Menelusuri wajahku dengan jari panjangnya sampai ke dagu. Dia membungkuk ke depan, mengecup bibirku singkat, lalu segera menarik wajahnya dan memasang sabuk pengamannya sendiri, meninggalkan ku dengan wajah speechless karena perlakuannya.
Dia kemudian mulai melakukan hal-hal yang aku tidak tahu untuk apa, seperti memencet tombol-tombol maupun mengatur semacam saklar. Hingga saat ia memencet suatu tombol, seluruh mesin maupun lampu didalam helikopter ini menyala.
"Pasang headphonenya." katanya, sambil menunjuk satu set headphone di depanku. Aku memasangnya, dan baling-baling mulai berputar. Suaranya sangat memekakkan telinga. Dia memakai headphonenya setelah memastikan aku memakai headphone ku.
"Aku akan melalakukan pengecekan pra terbang." Suara Chanyeol terdengar di telingaku melalui headphone. Aku berbalik dan tersenyum padanya.
"Apakah kau tahu apa yang harus kau lakukan?" Aku bertanya. Dia berbalik dan tersenyum padaku.
"Aku sudah menjadi pilot yang memenuhi syarat selama empat tahun Baekhyun, kau aman bersamaku." Dia menyeringai. "Setidaknya ketika kita sedang terbang," tambahnya lalu mengedipkan matanya padaku. *Maksudnya Baek aman kalo lagi terbang sekarang, gatau nanti kalo udah nyampe rumah Chanyeol gituu
(͡ ͜ʖ ͡)
"Apakah kau siap?"
Aku mengangguk dengan mata terbuka lebar.
"Menara PDX, ini *Charlie Tango, siap untuk lepas landas. Harap konfirmasi, over." *Nama heli nya
Chanyeol melirik kearahku sebentar sebelum Helikopter naik perlahan-lahan ke udara dan berjalan menyusuri Ulsan.
Whoa! Semua lampu terang terlihat berkelap-kelil bawah kami. Setelahnya kami terbang lebih tinggi, tidak ada apa-apa lagi yang bisa dilihat. Ini gelap gulita, bahkan bulan tak menumpahkan cahayanya disini. Bagaimana dia bisa melihat di mana kita akan menuju?
"Menakutkan bukan?" Suara Chanyeol terdengar di telingaku.
"Bagaimana kau tahu kemana kau menuju?"
"Ini." Dia menunjuk salah satu alat, semacam kompas elektronik. "Ada helipad di atas gedung tempatku tinggal. Kita sedang menuju kesana." Jelasnya.
"Berapa lama penerbangannya?"
"Kurang dari satu jam, anginnya mendukung kita."
Hmm, kurang dari satu jam ke Seoul, itu tak terlalu lama. Aku memiliki kurang dari satu jam sebelum pengungkapan besarnya. Dan itu membuat ku tidak sabar, seluruh otot ku terasa mengencang dan perutku terasa mual.
"Kau baik-baik saja, Baekhyun?"
"Ya." Jawabku singkat, menghilangkan kegugupanku.
"PDX, ini Charlie Tango. Sekarang di salah satu empat ribu, over."
Dia bertukar informasi dengan pengatur lalu lintas udara. Semuanya terdengar sangat profesional untukku.
"Mengerti, stand by dan over."
"Lihat, di sana." Dia menunjuk ke sebuah titik kecil cahaya di kejauhan. "Itu Seoul."
"Apakah kau selalu mengesankan Wanita atau mungkin pria dengan cara seperti ini? Ikut dan terbang dalam helikoptermu?" Aku bertanya, penasaran.
Ia melirikku sekilas. "Aku tak pernah membawa satu orangpun, Baekhyun. Kau satu-satunya." Suaranya tenang.
Oh, itu jawaban yang tak terduga.
"Apakah kau terkesan?" Ia tersenyum menyebalkan.
"Aku terpesona, Chanyeol." Jawabku malas.
Dia tersenyum lagi, kali ini lebih lebar.
"Terpesona?"
Aku mengangguk.
Aku rasa dia senang dengan jawabanku, tapi aku tak yakin.
Kami terbang dalam malam yang gelap dengan diam untuk sementara waktu. Titik terang yang tadi disebut sebagai Seoul perlahan-lahan semakin besar.
"Aku sangat menikmati ini," bisikku.
"Menikmati apa?" Dia melirikku. Tampak bingung.
"Terbang," jawabku.
"Tentu saja, walau ini membutuhkan kontrol dan konsentrasi. Meskipun aku lebih suka mengendarai Glider."
"Glider?"
"Ya. Glider dan helikopter — aku bisa menerbangkan keduanya"
"Oh." Hobi mahalnya. Aku ingat dia mengatakan itu selama wawancara.
"Charlie Tango silahkan masuk, over." Suara kontrol lalu lintas udara menginterupsi lamunanku. Seoul semakin dekat. Kita berada di atasnya sekarang. Ini terlihat sangat menakjubkan, pemandangan Kota Seoul pada malam hari dari langit.
"Terlihat bagus, kan?" Gumam Chanyeol.
Aku mengangguk antusias. Tanpa disadari. Dan Chanyeol terkekeh melihatku, jujur saja itu adalah hal yang sangat langka didunia!
"Kita akan sampai di sana dalam beberapa menit." Gumamnya. Dia mulai berbicara dengan pengatur lalu lintas udara lagi, tapi aku tak mendengarkan.
Kita sekarang terbang di antara gedung-gedung, dan aku dapat melihat gedung pencakar langit tinggi dengan helipad di atasnya. Dan aku menjadi sangat gugup sekarang. Aku akan mengetahui beberapa rahasianya beberapa saat lagi. Aku mencengkeram kursiku erat saat pencakar langit berada dibawah kami.
Helikopter mulai melambat mendarat di helipad di atas gedung. Chanyeol mematikan mesin dan baling-baling berputar melambat dan tenang sampai hal yang bisa aku dengar adalah suara napasku sendiri yang tak beraturan.
Chanyeol melepas headphonenya, dan melepaskan punyaku juga.
"Kita sudah sampai," katanya lembut.
Dia melepas sabuk pengamannya dan mencondongkan tubuhnya untuk melepaskan milik ku.
Dia mengamati wajahku sejenak lalu membuka pintu dan keluar dari helikopter. Dia menunggu dan meraih tanganku saat aku merangkak turun ke helipad. Anginnya sangat kencang diatas sini dan aku menjadi gugup saat menyadari bahwa aku berdiri di ruang terbuka diatas setidaknya tiga puluh lantai. Melihat kegugupanku, Chanyeol meraih pinggangku dengan lengannya, memegangiku erat.
"Ayo." Ucapnya sambil menuntunku ke sebuah lift.
Beberapa saat kemudian, kami berada dalam sebuah ruang tunggu serba putih. Dia menekan pin dan membuka pintu, yang mana menunjukkan ruangan yang sangat-sangat besar, dan tidak bisa dijelaskan melalui kata-kata. Ada sebuah piano di dekat area ruangan yang kutebak merupakan dapur.
"Aku akan mengambil minum." Katanya sambil berlalu.
Aku mengangguk lalu berjalan kearah dinding kaca, aku bisa melihat gemerlap cahaya malam Seoul dari sini. Dan untuk sesaat, aku merasa tidak pantas berdiri disini, di ruangan ini.
"Kau minum wine?" Chanyeol bertanya dari arah dapur dengan sebuah botol yang terlihat mahal ditangannya.
Aku mengerutkan kening, lalu berjalan mendekatinya. "Wine?" Tanyaku memperjelas.
"Ya, Pouilly-Fume kau mau?"
Btw geez, klo aku search di google harga wine nya sekitar £13,000 which is sekitar Rp.201,305 juta :')))
"Emm, aku belum pernah minum wine sebelumnya. Mungkin aku akan mencobanya sekarang." Suaraku ragu.
"Ini." Dia mengulurkan segelas wine padaku. Aku meneguknya dengan ragu, dan rasanya tidak seburuk itu walaupun terasa asing di lidahku.
"Apa kau lapar?"
Aku menggeleng, lalu dia mengangguk dan lanjut meneguk wine nya.
"Apakah kau memainkannya?" Aku menunjuk piano di dekat dinding jendela.
"Ya, kadang." Jawabnya singkat. "Ingin duduk?" Lanjutnya.
Aku mengangguk, dan ia menuntunku kearah sofa. Ketika aku duduk, aku baru tersadar bahwa dia menggandeng tanganku tadi, yang mana membuatku tersenyum aneh.
"Apa ada yang lucu?" Dia menaikkan sebelah alisnya.
Aku langsung tersadar dari senyuman anehku dan menggeleng sambil berdehem untuk menghilangkan kecanggungan. "Omong-omong, mengapa kau memberikanku buku-buku itu?" Tanyaku. Chanyeol menatapku sejenak. Mungkin dia terkejut dengan pertanyaanku.
"Kau bilang kau menyukai Thomas Hardy."
"Hanya itu?"
"Ya, dan sepertinya buku Itu tepat untukmu." Ucapnya sambil menatapku intens. Hey, bisakah ia tidak melakukan itu? Aku menjadi sangat-sangat gugup sekarang!
Dia mengernyit. "Jangan gigit bibirmu Baekhyun. Itu sangat menggangguku." Well, tatapanmu juga sangat menggangguku Mr.Park. omelku dalam hati.
"Mengenai hal-hal yang akan kuberitahu—" ia menjeda. Tunggu sebentar disini." Katanya sambil bangkit. Dia pergi selama beberapa menit lalu kembali dengan sebuah dokumen ditangannya.
"Apa ini?" Tanyaku saat ia kembali duduk di sampingku."
Dia mengangkat bahunya "Ini adalah dokumen perjanjian rahasia yang tak boleh dibocorkan." Lalu menyerahkan dokumen itu padaku.
Aku mengernyitkan dahiku bingung. "Lalu, apa yang harus kulakukan dengan ini?" Tanyaku.
"Kau harus menandatanganinya."
"Dan jika aku menandatanganinya?"
"Kau berarti setuju untuk tidak mengatakan apapun tentang ini kepada siapa pun." Aku menatapnya tak percaya. Sebesar apa rahasianya sampai harus melakukan sesi tanda tangan seperti ini? Itu membuatku semakin penasaran.
"Oke. Aku akan menandatanganinya." Jawabku.
"Kau tak membacanya?"
"Tidak."
Dia mengernyit.
"Baekhyun, kau harus selalu membaca apa yang akan kau tandatangani." ia menasihatiku.
"Chanyeol, kau sudah menjelaskan apa yang ada didalam sini tadi." Jawabku malas.
Dia mengangguk lalu memberikan pena yang dipegangnya.
Aku segera menandatangani kertas perjanjian itu dan kertas salinannya. Lalu memberikan satu padanya dan menyimpan yang satunya. "Apa ini artinya kau akan bercinta denganku malam ini, Chanyeol?" Sial, apa yang baru saja kukatakan?!
Aku melihat Chanyeol sedikit terkejut, namun segera menetralkan wajahnya.
"Tidak Baekhyun, ada dua hal yang harus kau ketahui. Pertama, I do not making love, i fuck —hard." Aku melongo saat kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
"D—dan, yang kedua?" Tanyaku gugup.
"Kedua,—" dia menjeda ucapannya. "Dengar, kau masih bisa membatalkan perjanjiannya jika merasa tidak nyaman." Lanjutnya.
"Tidak, aku baik-baik saja. Katakan apa yang kedua?" Tanyaku bersikeras.
Ia menghela nafas panjang. "Baiklah, mari ku tunjukkan ruang bermainku." Tunggu, ruang bermainnya? Apa dia bercanda?
"Kau suka bermain Xbox atau semacamnya?"
Dia terkekeh pelan. "Tidak Baekhyun, tidak ada Xbox maupun Playstation disana. Ayo." Dia berdiri sambil mengulurkan tangannya. Ia membawaku naik ke lantai dua, lalu kami berhenti didepan sebuah pintu dan dia mengeluarkan kunci dari saku celananya, memasukkan kunci pada lubang lalu berhenti dan mengambil napas dalam-dalam.
"Kau bisa pergi meninggalkan tempat ini kapan saja. Helikopter selalu stand-by untuk membawamu kapanpun kau ingin pergi. Atau jika ingin, kau dapat menginap dan pulang di pagi hari. Apa pun yang kau putuskan, tidak masalah." Katanya serius.
"Buka saja pintu ini, Chanyeol." Aku menggeram tak sabaran. Sial, tak tahukah dia aku sudah sangat-sangat penasaran?!
Dia memberikan tatapan teduh sebentar, lalu memutar kunci dan membuka pintunya. Ia sedikit mundur untuk membiarkanku masuk.
Aku menatap kearahnya dan mengambil napas panjang lalu berjalan masuk.
Saat aku melangkahkan kakiku dan mengedarkan pandangan, rasanya aku seperti kembali pada abad keenam belas—pada zaman penyiksaan Spanyol.
TBC
Hi there~ ada yang masih baca/nungguin update? It's been almost 5 month since the last update, i'm so freakin confused about this story :(
Btw thx for ur support guys~
